Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM SIRUP INFLUENZA (DIAFLU)

Laporan ini di susun untuk memenuhi tuntutan tugas Praktikum Formulasi dan Teknologi Sediaan Semisolid dan Liquid

Disusun Oleh : Kelompok 4 Farmasi D 2010

Safitri Saptawardani / 3311101159 Dyah Nur Azizah / 3311101160 Ambar Pudjiarti / 3311101161 Ismi Muslimah / 3311101162 Tenny Aulia Ulhaq / 3311101163 R Dellique Dieratu / 3311101164 Meti Ismayanti Umar / 3311101165

LABORATORIUM FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGEATAHUAN ALAM UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI CIMAHI 2013

BAB I Pendahuluan
Dalam dunia farmasi terdapat berbagai macam sediaan yang berbentuk cair. Baik berupa larutan, suspensi, dan emulsi yang sengaja dibuat untuk mempermudah pasien dalam

meminum obat baik pada orang dewasa maupun pada anak-anak yang seringkali mendapatkan kesukaran dalam menelan obat berupa padatan ataupun sediaan tablet, pil, dan sebagainnya. Oleh karena itu jika berbicara mengenai obat-obatan tidak terlepas dari berbagai macam bentuk sediaannya yang kerap diperbincangkan, akan tetapi bagaimana

kenyamanannya untuk diminum bagi setiap pasien terutam bagi anak-anak yakni sediaan yang berupa larutan (solutio). Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia terlarut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Diantaranya solution dan mixtura tidak ada perbedaan yang pokok. Oleh karena itu molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata, maka penggunaan larutan dalam bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan kesenjangan dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan di encerkan atau dicampur. Proses pembuatan bentuk sediaan obat didasarkan atas sifat-sifat fisik dan kimia bahan obat. Sifat fisik bahan obat meliputi bentuk Kristal, hablur, bubuk, tablet, bahan kental misalnya ekstrak kental, atau bahan setangah padat misalnya lanolinum atau adeps lanae, higroskopik atau tidak, berwarna atau tidak, ( pada umumnya bahan obat berwarna putih). dan berat jenisnya. Sifat kimia bahan obat meliputi hal-hal sebagai berikut yaitu bahan menguap atau tidak, kestabilan dan kelarutan terutama untuk bentuk sediaan cair. Selain sifatsifat tersebut, jumlah bahan obat (dalam bobot/volum ) juga berpengaruh dalam urutan mencampur. Sediaan dalam bentuk cair harus memenuhi 2 persyaratan yaitu homogen dan stabil. Larutan atau sediaan cair dibuat dan digunakan karena efek tertentu dari zat obat yang ada. Dalam sediaan ini zat obat umumnya diharapkan memberikan efek sistemik. Kenyataan bahwa obat-obat itu diberikan dalam bentuk larutan, biasanya berati bahwa absorpsinya dalam sistem saluran cerna kedalam sirkulasi sistemik dapat diharapkan terjadi lebih cepat dari pada dalam bentuk sediaan suspensi atau padat dari zat obat yang sama. Dalam larutan yang diberikan secara oral biasanya terdapat zat-zat terlarut lain selain dari bahan obat. Bahan-bahan tambahan ini biasanya meliputi pemberi warna, pemberi rasa,

pemanis, atau penstabil larutan. Dalam penyusunan formula atau pencampuran suatu larutan farmasi, ahli-ahli farmasi harus memamfaatkan keterangan tentang kelarutan atau kestabilan dari masing-masing zat terlarut yang ada dengan memperhatikan pelarut atau sistem pelarut yang digunakan. Ahli farmasi harus berhati-hati menghadapi penggunaan kombinasi obat atau bahan-bahan farmasi yang akan menimbulkan interaksi kimia atau fisika yang akan mempengaruhi mutu terapeutik dan stabilitas farmasetik produk. Untuk larutan dengan zat terlarut tunggal dan terutama untuk larutan dengan zat terlarut yang banyak macamnya, ahli farmasi harus mengetahui sifat-sifat kelarutan yang khas dari zat terlarut dan ciri-ciri melarutkannya dari pelarut farmasi tertentu. Setiap bahan kimia mempunyai kelarutan sendiri-sendiri dalam pelarut yang digunakan seperti dalam buku referensi dicantumkan kelarutan yang tepat dari bahan obat dalam pelarut yang lazim. Pembuatan larutan ini juga bertujuan untuk memudahkan dalam penggunaanya khususnya pada pasien yang kesulitan menelan yablet dengan utuh, terutama pada anak-anak yang sukar menelan. Selain itu ada beberapa factor pembuatan sediaan larutan yaitu disolusi ,didefinisikan sebagai proses dimana sesuatu zat padat masuk kedalam pelarut menghasilkan suatu larutan. Secara sederhana, disolusi adalah proses dimana zat padat melarut. Secara prinsip dikendalikan oleh afinitas antara zat padat dengan pelarut. Dalam penentuan kecepatan disolusi dari berbagai bentuk sediaan padat terlibat berbagai proses disolusi yang melibatakan zat murni. Karakteristik fisik sediaan, proses pambahasan sediaan, kamampuan penetrasi media disolusi kedalam sediaan, proses pengembangangan, proses disentegrasi, dan degradasi sediaan, merupakan sebagian dari faktor yang mempengaruhi karakteristik disolusi obat dari sediaan. Lepasnya suatu obat dari sistem pemberian meliputi factor disolousi dan difusi. Laju disolusi adalah sebagai salah satu factor yang meliputi dan mempengaruhi pelepasan obat. Oleh karena itu, pembuatan larutan tidak hanya untuk oral tetapi lebih berkembang lagi sehingga memudahkan pasien dalam menggunakannya atau memilih misalnya : larutan topikal, injeksi, tetes mata, infusa dan gargarisma. Tetapi ada banyak hal yang harus diperhatikan dalam pembutan larutan, misalnya cara melarutkan, factor yang mempengaruhi kelarutan, dan perhitungan dosisnya maupun bahannya dan akan lebih diulas dalam landasan teori dalam laporan ini.

BAB II Tinjauan Pustaka


A. Pengertian Larutan Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu jenis obat atau lebih dalam pelarut air suling kecuali dinyatakan lain, dimaksudkan untuk pemakaian obat dalam, obat luar atau untuk dimasukkan dalam rongga tubuh. Menurut FI Edisi III hal 32, Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, kecuali dinyatakan lain, sebagai pelarut digunakan air suling. Menurut FI Edisi IV hal 15, Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia terlarut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Jadi, larutan adalah sediaan cair yang dibuat dengan melarutkan satu jenis obat atau lebih dalam pelarut, dimaksudkan untuk digunakan sebagai obat dalam, obat luar atau untuk dimasukkan ke dalam rongga tubuh.

Berdasarkan bentuk sediaan larutan dapat digolongkan menurut cara pemberiannya, yakni sebagai berikut : 1. Larutan oral adalah sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven-air. 2. Larutan topikal adalah larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali mengandung pelarut lain, seperti etanol dan poliol. 3. Larutan otik adalah larutan yang mengandung air atau gliserin atau pelarut lain dan bahan pendispersi, untuk penggunaan pada telinga luar. 4. Spiritus adalah larutan yang mengandung etanol atau hidroalkohol dari zat mudah menguap, umumnya merupakan larutan tunggal atau campuran bahan. 5. Tingtura adalah larutan yang mengandung etanol atau hidroalkohol dibuat dari bahan tumbuhan atau senyawa kimia. 6. Sirup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain dengan kadar tinggi. Larutan sukrosa hampir jenuh dalam air dikenal sebagai sirup simpleks.

Sediaan obat berbentuk larutan : Menurut kimia fisik banyak sediaan obat yang dapat digolongkan sebagai larutan tetapi di dalam farmasetika tidak di sebutkan sebagai sediaan larutan. Misalnya : sirup, spiritus, eliksir, air aromatic, tingtura, ekstrak encer, infusa, imunoserum. Biasanya bentuk sediaan diatas hanya disebut sebagai golongan sediaan bentuk cair.sedangkan istilah larutan untuk farmasetika hanya dibatasi pada : a. Solutiones : bila zat kimia terlarut hanya satu. Contohnya : Garamycin Ophtalmic 0,5% solution untuk mengobati permukaan mata yang terinfeksi mikroorganisme. b. Mixture yaitu bila zat kimia terlarutnya banyak. Contohnya : mixture brometorum yaitu mengandung natrium bromide,kalium bromida,dan ammonium bromide.

B. Monografi Bentuk Sediaan Larutan Larutan (solutio dan mixture) 1. Eliksir : sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap, selain obat mengandung juga zat tambahan seperti gula atau zat pemanis lain, zat warna, zat pewangi dan zat pengawet, dan digunakansebagai obat dalam. Sebagai pelarut utama eliksir adalah etanol. 2. Sirup :sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa, kecuali dikatakan lain. Kadar kadar sakarosa tidak kurang dari 64.0% dan tidak lebih dari 66,0%. 3. Infusa : sediaan cair yang dibuat dengan menyari simsplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat C selama 15 menit. 4. Air aromatic : sediaan cair yang mengandung bahan berbau harum (minyak atsiri)yang pelarutnya air. 5. Spiritus aromatik : sediaan cair yang mengandung minyak atsiri yang pelarutnya alkohol (spritus lavandel, spititus)

C. Komposisi Sediaan Larutan 1. Zat aktif / obat (solut) 2. Bahan pelarut (solvent) 3. Pada larutan oral biasanya diberi bahan tambahan

Pewarna (metilen blue), pemberi rasa (orange oil, menthol) pemanis (sorbitol, sukrosa). 4. Penstabil larutan 5. Kadang-kadang juga dimasukkan bahan pengawet (metal paraben, asam benzoat). Bahan pengawet tidak diberikan pada larutan untuk mata yang digunakan selama operasi atau mata trauma.

D. Pembagian Larutan Berdasarkan Jumlah Zat Terlarut 1. Larutan jenuh : suatu larutan dimana zat terlarut berada pada fase kesetimbangan (jumlah maksimum) yang dapat dilarutkan oleh zat pelarut. 2. Larutan tidak jenuh : suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi di bawah konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan sempurna pada temperature tertentu. Yang dapat dibagi lagi atas larutan encer dan larutan kental (dekat kejenuh) 3. Larutan lewat jenuh : suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi lebih banyak daripada yang seharusnya ada pada temperature tertentu. Terdapat juga zat terlarut yang tidak larut.

E. Pembagian larutan secara umum 1. Larutan sederhana : larutan yang hanya terdiri dari satu jenis zat terlarut 2. Larutan campuran : larutan yang terdiri dua jenis atau lebih zat terlarut 3. Larutan stok :larutan yang dibuat sebagai bahan/ pelarut pada pembuatan resep. Berdasarkan tujuan penggunaannya larutan dibagi menjadi : 1. Larutan Steril, meliputi larutan untuk pemakaian luar. Semua alat yang digunakan dalam pembuatan larutan steril, termasuk wadahnya, harus betul-betul bersih sebelum digunakan. Obat dilarutkan dalam pelarut yang tersedia dan larutan dijernihkan dengan menyaring, masukkan dalam wadah yang kemudian ditutup dan sterilkan dengan cara sterlisasi yang sesuai. Larutan steril yang digunakan sebagai obat luar harus memenuhi syarat yang tertera pada Injectiones. Wadah harus dapat dikosongkan dengan cepat. Kemasan boleh lebih dari 1 liter. Larutan steril harus memenuhi syarat uji sterilitas yang tertera pada Farmakope Indonesia.

2. Larutan nonsteril, meliputi larutan untuk obat dalam, baik obat larutan yang langsung diminum atau pun larutan yang harus diramu lebih dahulu. Selama pembuatan harus diperhatikan agar sedapat mungkin harus dihindarkan terjadinya kontaminasi jasad renik. 3. Larutan antiseptikum mudah sekali dicemari jasad renik yang telah resistan.

Karena itu dalam pembuatan larutan ini harus diperhatikan hal berikut : Larutan harus dibuat menggunakan air suling atau air yang baru saja dididihkan dan wadah yang digunakan harus betul-betul bersih, lebih baik disterilkan labih dahulu, tutup gabus jangan digunakan. Larutan ini tidak boleh digunakan lebih lama dari satu minggu sejak tutupnya telah dibuka pertama kali.

F. Istilah-Istilah Kelarutan Berikut adalah istilah-istilah kelarutan yang digunakan : Istilah kelarutan Sangat mudah larut Mudah larut Larut Agak sukar larut Sukar larut Sangat sukar larut Praktis tidak larut JumLah bagian pelarut yang diperlukan untuk melarutkan Kurang dari 1 1 10 10 30 30 100 100 1000 1000 10.000 Lebih dari 10.1000

G. Keuntungan Dan Kerugian Larutan Kerugian sediaan larutan : 1. Larutan bersifat voluminous, sehingga kurang menyenangkan untuk diangkut dan disimpan. Apabila kemasan rusak, keseluruhan sediaan tidak dapat digunakan. 2. Stabilitas dalam bentuk larutan biasanya kurang baik dibandingkan bentuk sediaan tablet atau kapsul, terutama jika bahan mudah terhidrolisis. 3. Larutan merupakan media ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme, oleh karena itu memerlukan penambahan pengawet.

4. Ketetapan dosis tergantung pada kemampuan pasien untuk menakar. 5. Rasa obat yang kurang menyenangkan akan lebih terasa jika diberikan dalam larutan dibandingkan dalam bentuk padat. Walaupun demikian, larutan dapat diberi pemanis dan perasa agar penggunaannya lebih nyaman. Keuntungan sediaan larutan : 1. Lebih mudah ditelan dibanding bentuk padat sehingga dapat digunakan utnuk bayi, anak-anak, dan usia lanjut. 2. Segera diabsorbsi karena sudah berada dalam bentuk larutan sehingga tidak mengalami proses disintegrasi dan pelarutan. 3. Obat secara homogen terdistribusi ke seluruh sediaan 4. Mengurangi resiko iritasi pada lambung oleh zat-zat iritan karena larutan akan segera diencerkan oleh isi lambung. 5. Untuk pemakaian luar, bentuk larutan mudah digunakan.

H. Sediaan Sirup Dalam Farmakope Indonesia edisi III,Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Kecuali dinyatakan lain,kadar sakarosa,C12H22O11,tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari 66,0%. Sirup adalah sediaan pekat dalam air dari gula atau perngganti gula dengan atau tanpa penambahan bahan pewangi dan zat obat (Ansel, 1989) Sirup adalah larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain yang berkadar tinggi (sirop simpleks adalah sirop yang hampir jenuh dengan sukrosa). Kadar sukrosa dalam sirop adalah 64-66% , kecuali dinyatakan lain (Syamsuni, 2007). Sirop adalah larutan pekat gula atau gula lain yang cocok yang di dalamnya ditambahkan obat atau zat wewangi, merupakan larutan jerni berasa manis. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol, atau polialkohol yang lain dalam jumlah sedikit, dengan maksud selain untuk menghalangi pembentukan hablur sakarosa, juga dapat meningkatkn kelarutan obat (Anonim, 1978).

Komponen sirup Sebagian besar sirup-sirup mengandung komponen-komponen berikut didamping air murni dan semua zat-zat obat yang ada:

1. Gula, biasanya sukrosa atau pengganti gula igunakan untuk memberi rasa manis dan kental 2. Pengawet anti mikroba. Diantara pengawet-penagawet yang umum digunakan sebagi sirup denga konsentrasi lasim yang efektif adalah : asam benzoat (0,1-0,2 %), natrium benzoat (0,1-0,2 %) dan berbagi campuran metil-,profil,dan butil paraben (total 0,1 %). Sering kali alkohol digunakan dalam pembuatan sirup untuk membantu kelarutan bahan-bahan yang larut dalam alkohol, tetapi secara normal alkohol tidak ada dalm produk akhir dalm jumlah yang dianggap cukup sebagai pengawet (15-20 %). 3. Pembau 4. Pewarna. Untuk menambah daya tarik sirup, umumnya digunakan zat pewarna yang berhubungan dengan pemberi rasa yang digunakan ( misalnya hijau untuk rasa permen, coklat untuk rasa coklat dan sebaginya). Pewarna yang digunakan umum larut dalam air, tidak bereaksi dengan komponen lain dari sirup, dan warna stabil pada kisaran pH dan dibawah cahaya yang intensif sirup tersebut mungkin menjadi enounter selama masa penyimpanan. 5. Perasa. Hampir semua sirup disedapkan dengan pemberi rasa buatan atau bahanbahan yang berasal dari alam seperti minyak-minyak menguap (contoh : minyak jeruk), vanili dan lain-lainnya. Untuk membuat sirup jamin yang sedap rasanya. Karena sirup adalah sediaan air, pemberi rasa ini harus mempunyai kelarutan dalam air yang cukup. Akan tetapi, kadang-kadang sejumlah kecill alkohol ditambahkan kesirup untuk menjamin kelangsungan kelarutan dari pemberi rasa yang kelarutannya dalam air buruk. 6. Biasanya untuk untuk sirup yang dibuat dalam perdagangan,mengandung pelarutpelarut khusus,pembantu kelarutan,kental,dan stabilisator. Jenis Jenis Sirup Ada 3 macam sirup, yaitu : 1. Sirop simpleks : mengandung 65% gula dengan larutan nipagin 0,25% b/v. 2. Sirop obat : mengandung 1 jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan dan digunakan untuk pengobatan. 3. Sirop pewangi : tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau zat penyedap lain. Tujuan pengembangan sirop ini adalah untuk menutupi rasa tidak enak dan bau obat yang tidak enak

Keuntungan 1. Sesuai untuk pasien yang sulit menelan (pasien usia lanjut, parkinson, anak - anak). 2. Dapat meningkatkan kepatuhan minum obat terutama pada anak - anak karena rasanya lebih enak dan warna lebih menarik. 3. Sesuai untuk yang bersifat sangat higroskopis dan deliquescent. Kerugian 1. Tidak semua obat ada di pasaran bentuk sediaan sirup. 2. Sediaan sirup jarang yang isinya zat tunggal, pada umumnya campuran/kombinasi beberapa zat berkhasiat yang kadang-kadang sebetulnya tidak dibutuhkan oleh pasien. Sehingga dokter anak lebih menyukai membuat resep puyer racikan individu untuk pasien. 3. Tidak sesuai untuk bahan obat yang rasanya tidak enak misalnya sangat pahit (sebaiknya dibuat kapsul), rasanya asin (biasanya dibentuk tablet effervescent). 4. Tidak bisa untuk sediaan yang sukar larut dalam air (biasanya dibuat suspense atau eliksir). Eliksir kurang disukai oleh dokter anak karena mengandung alcohol, suspense stabilitasnya lebih rendah tergaantung ormulasi dan suspending egent yang digunakan. 5. Tidak bisa untuk bahan obat yang berbentuk minyak (oily, biasanya dibentuk emulsi yang mana stabilitas emulsi lebih rendah dan tergantung formulasi serta emulsifying agent yang digunakan). 6. Tidak sesuai untuk bahan obat yang tidak stabil setelah dilarutkan (biasanya dibuat sirup kering yang memerlukan formulasi khusus, berbentuk granul, stabilitas setelah dilarutkan haInya beberapa hari). 7. Harga relatif mahal karena memerlukan formula khusus dan kemasan yang khusus pula.

I. Pengertian Influenza Demam, batuk dan pilek sering disebut dengan influenza. Influenza (flu) adalah suatu infeksi virus yang menyebabkan demam, hidung meler, sakit kepala, batuk, tidak enak badan (malaise) dan peradangan pada selaput lendir hidung dan saluran pernafasan. Penyebab Virus influenza tipe A atau B. Virus ditularkan melalui air liur terinfeksi yang keluar pada saat penderita batuk atau bersin; atau melalui kontak langsung dengan sekresi (ludah, air liur, ingus) penderita. Gejala Influenza berbeda dengan common cold. Gejalanya timbul dalam waktu 24-48 jam setelah terinfeksi dan bisa timbul secara tiba-tiba. Kedinginan biasanya merupakan petunjuk awal dari influenza. Pada beberapa hari pertama sering terjadi demam, bisa sampai 38,9-39,4?Celsius. Banyak penderita yang merasa sakit sehingga harus tinggal di tempat tidur; mereka merasakan sakit dan nyeri di seluruh tubuhnya, terutama di punggung dan tungkai. Sakit kepala seringkali bersifat berat, dengan sakit yang dirasakan di sekeliling dan di belakang mata. Cahaya terang bisa memperburuk sakit kepala. Pada awalnya gejala saluran pernafasan relatif ringan, berupa rasa gatal di tenggorokan, rasa panas di dada, batuk kering dan hidung berair. Kemudian batuk akan menghebat dan berdahak. Kulit teraba hangat dan kemerahan, terutama di daerah wajah. Mulut dan tenggorokan berwarna kemerahan, mata berair dan bagian putihnya mengalami peradangan ringan. Kadang-kadang bisa terjadi mual dan muntah, terutama pada anakanak. Setelah 2-3 hari sebagian besar gejala akan menghilang dengan segera dan demam biasanya mereda, meskipun kadang demam berlangsung sampai 5 hari. Bronkitis dan batuk bisa menetap sampai 10 hari atau lebih, dan diperlukan waktu 6-8 minggu ntuk terjadinya pemulihan total dari perubahan yang terjadi pada saluran pernafasan. Pengobatan flu yang utama adalah istirahat dan berbaring di tempat tidur, minum banyak cairan dan menghindari kelelahan. Tirah baring sebaiknya dilakukan segera setelah gejala timbul sampai 24-48 setelah suhu tubuh kembali normal. Untuk penyakit yang berat tetapi tanpa komplikasi, bisa diberikan asetaminofenn, aspirin, ibuprofen atau naproksen. Obat lainnya yang biasa diberikan adalah dekongestan hidung dan penghirupan uap.

J. Monografi a. Parasetamol / Asetaminofen Parasetamol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2 , dihitung terhadap zat anhidrat. Rumus kimia Pemerian Kelarutan : C8H9NO2 : Hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa pahit. : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol ( 95% ) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan alkali hidroksida. Stabilitas : Terhadap pelarut parasetamol sangat stabil dalam air, terhadap pH waktu paruh dalam larutan terdapat pada pH 6, diperkirakan selama 21,8 tahun penurunannya dikatalis oleh asam dan basa dan waktu paruhnya 0,73 tahunan pada pH 2,28 tahun pada pH 9. Sifat farmakologi: Paracetamol atau acetaminophen adalah obat yang mempunyai efek mengurangi nyeri (analgesik) dan menurunkan demam (antipiretik). Parasetamol mengurangi nyeri dengan cara menghambat

impuls/rangsang nyeri di perifer. Parasetamol menurunkan demam dengan cara menghambat pusat pengatur panas tubuh di hipotalamus. Paracetamol (parasetamol) sering digunakan untuk mengobati berbagai penyakit seperti sakit kepala, nyeri otot, radang sendi, sakit gigi, flu dan demam. Parasetamol mempunyai efek mengurangi nyeri pada radang sendi (arthritis) tapi tidak mempunyai efek mengobati penyebab peradangan dan pembengkakan sendi. Efek samping : reaksihipersensitivitas dan kelainan darah

Tempat absorpsi :di absorpsi dengan cepat dan sempurna di saluran cerna Waktu paruh : konsentrasi tertinggi dalam plasma antara 1 sampai 3 jam

Interaksi obat : Aspirin : konsentrasi tertinggi dalam plasma akan meningkat dengan adanya aspirin, Kloramfenikol: parasetamol meningkatkan waktu paruh kloramfenikol Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.

b. CTM (Klorfenilamin maleat) Rumus kimia : C16H19ClN2C4H4O4

Berat molekul : 390,87

Pemerian

: serbuk hablur putih, tidak berbau; larutan mempunyai pH antara 4 dan 5.

Kelarutan

: mudah larut dalam air; larut dalam etanol dan kloroform; sukar larut dalam eter dan benzene : antara 130o dan 135o C : mengalami peruraian pada suasana asam : inkompatibel dengan tartrat, Kalsium penobarbital klorida, sodium kanamisin dan sulfat,

Titik lebur Stabilitas OTT

noradrenalinaad adipiodone. Khasiat

meglumine

: antihistamin, sedative

c. Fenilpropanolamin Rumus molekul: C9H13NOHCl BM Pemerian Kelarutan Indikasi : 187,67 : serbuk hablur putih; bau aromatis lemah; dipengaruhi oleh cahaya mudah larut dalam air dan dalam etanol; tidak larut dalam eter : meringankan influenza yang disertai gejala demam, pilek, bersinbersin, sakit kepala dan batuk. Efek samping : kerusakan hati pada penggunaan dosis tinggi

d. Nipagin Metil paraben mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 100,5% C8H8O3 , dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Rumus molekul: C6H6O3 BM Pemerian : 152,15 : hablur kecil tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak berbau atau berbau khas lemah; mempunyai sedikit rasa terbakar Kelarutan : sukar larut dalam air, dalam benzene dan dalam karbon tetraklorida; mudah larut dalam etanol dan dalam eter. Efek farmakologis : Mekanisme kerja senyawa nipagin adalah dengan menghilangkan permebilitas membran sehingga isi sitoplasma keluar dan menghambat sistem transport elekrolit yang lebih efektif terhadap kapang dan khamir. Paraben terabsorpsi dalam saluran cerna.

Peranan di Bidang farmasi : Preservatif dan sebagai zat pengawet yang dirasa baik agar sediaan tidak menjadi tempat pertumbuhan bakteri.

e. Nipasol Mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 100,5% C5H10O3 , dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

Rumus molekul: C9H10O3 BM Pemerian Kelarutan : 166,18 : serbuk putih atau hablur kecil, tidak berwarna : sukar larut dalam air dan dalam gliserin; mudah larut dalam aseton, dalam methanol, dalam eter dan dalam propilenglikol.

f. Asam sitrat Sinonim Acidum citricum. Asam sitrat berbentuk anhidrat atau mengandung satu molekul air. Mengandung tidak kurang dari 99,5 % dan tidak lebih dari 100,5 % C H O, dihitung terhadap zat anhidrat. Rumus kimia Pemerian : CH2(COOH)C(OH) (COOH)CH2COOH.H2O : hablur bening tidak berwarna atau serbuk hablur granul sampai halus, putih, tidak berbau atau praktis tidak berbau, rasa sangat asam, bentuk hidrat mekar dalam udara kering. Kelarutan sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol, sukar larut dalam ester. Kegunaan dalam bidang farmasi : Sequistering agent 0,3-2,0 %; larutan buffer 0,1-2,0 %; penimbul rasa pada sediaan cair 0,3-2,0 %. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat.

g. Propilan Glikol Pemerian : Cairan kental, jernih tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak berbau, menyerap air pada udara lembab. Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dengan aseton, dan dengan kloroform, larut dalam eter dan dalam beberapa minyak esensial, tetapi tidak dapat bercampur dalam minyak lemak. Khasiat dan Kegunaan : Zat tambahan sebagai bahan pengawet

h. CMC- Na (Carboxymethylcellulosum Natricum) Bahan suspensi atau suspending agent ini merupakan bahan pensuspensi sintetis derivat selulosa. CMC atau karboksi metil selulosa dalam perdaganagan ada 3 macam kualitas CMC yang berbeda viskositasnya. Ada CMC HV, CMC MV, dan CMC LV. Pemerian Kelarutan : serbuk atau granul, putih sampai krem; higroskopik : mudah terdispersi dalam air membentuk larutan koloidal; tidak larut dalam etanol dan dalam pelarut organik lain. Kekentalan : tidak kurang dari 80% dan tiak lebih dari 120% dari yang tertera dalam etiket untuk kadar larutan 2%; tidak kurang dari 75% dan tidak lebih dari 140% dari yang tertera pada etiket untuk kadar larutan 1%. (FI IV, 1995:175)

BAB III Alat dan Bahan


3.1 Alat Percobaan Beaker glass Mortir dan stamper Batang pengaduk Botol 60 mL Spatula Kassa Kaki tiga Spiritus Tissue Lap tangan Piknometer pHmeter Viscometer Gelas ukur Pipet tetes 3.2 Bahan Percobaan Parasetamol Fenilprofanolamin Klorfeniramin maleat Propilenglikol Sukrosa Perisa botiegum Pewarna (FDC brilliant) Nipagin Nipasol CMC Na Asam sitrat Natrium sitrat Sakarin

(PA) (F) (K) (PR) (SK) (B1) (B2) (B3) (B4) (B5) (B6) (B7) (B8)

BAB IV Prosedur Percobaan


1. Disiapkan alat dan bahan. Botol 60 mL dikalibrasi dan beaker glass dikalibrasi 600 mL terlebih dahulu kemudian bahan-bahan ditimbang sesuai dengan yang dibutuhkan. 2. 0,6 gram B6 dikembangkan dengan menambahkan air panas 2,4 mL kemudian diaduk hingga mengembang. 3. Dimasukkan air sebanyak 100 mL dalam beaker glass 100 mL kemudian dipanaskan hingga suhu 80C, setelah itu dimasukkan SK 300 gram sedikit demi sedikit hingga melarut dan didiinginkan hingga suhu 40C. 4. Dimasukkan 14,4 gram PA kedalam beaker glass 500 mL, lalu ditambahkan B6 yang telah mengembang, kemudian diaduk hingga homogeny. Kemudian dimasukkan 60 mL PR diaduk kemudian ditambahkan 1080 mL B3 dan 120 mL B4 kemudian diaduk. 5. Ditambahkan sedikit air untuk melarutkan 0,6 gram F kemudian dimasukkan kedalam larutan PA. 6. Pembuatan larutan dapar sitrat Dimasukkan 100 mL kedalam beaker glass, kemudian ditambahkan B6 dan B7 sambil diaduk hingga larut/homogen kemudian dimasukkan di beaker glass 1 liter. 7. Dalam beaker glass 1 liter yang berisi SK ditambah larutan PA kemudian diaduk hingga homogen. Kemudian ditambahkan B2 dan B1 secukupnya kemudian dituang kedalam beaker glass 1 liter. 8. Setelah smua bahan masuk ke dalam beaker glass 1 liter semuanya diaduk homogen. Setelah itu di add hingga tanda batas. Kemudian diuji untuk evaluasi sirup yaitu uji pemerian, pemeriksaan pH, pemeriksaan bobot jenis (BJ) dan uji viskositas 9. Kemudian sediaan sirup dimasukkan kedalam botol yang sudah dikalibrasi setelah itu diberi etiket dan dimasukkan kedalam kemasan.

BAB V Hasil Percobaan


Dari hasil percobaan pembuatan sirup antiinfluenza, dilakukan evaluasi meliputi : 1. Uji pemerian (organoleptis) Sirup berwarna biru tosca, rasa bubblegum dengan rasa manis sedikit pahit paracetamol dan bau bubblegum 2. Pemeriksaan pH pH dari obat sirup antiinfluenza ini yaitu 4,638 3. Pemeriksaan bobot jenis (BJ) Piknometer kosong (W0) 22, 298 Piknometer kosong yang diisi larutan obat sirup (W1) 50,652 Bobot jenis (BJ) 1,1342 4. Uji viskositas Viskositas obat sirup antiinfluenza ini 33,5% dengan rpm 100 mpas 100 spindel L2

BAB VII Kesimpulan


1. Komponen-komponen dari pembuatan sirup anti influenza adalah : a. Gula, biasanya sukrosa/pengganti gula yang digunakan untuk memberi rasa manis dan kental b. Pengawet mikroba c. Pengaroma atau perasa d. Pengental e. Penyeimbang pH f. Pewarna (biasanya diberikan pada sediaan sirup untuk anak) 2. Untuk menjaga keamanan pembuatan sirup anti influenza harus dilakukan dalam gelas kimia atau gelas piala. 3. Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan, sirup anti influenza DIAFLU telah memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. Homogenitas, warna, bau dan rasa dinilai baik. b. Hasil pemeriksaan pH sebesar 4,638 yang menghasilkan hidrolisis minimum zat aktif pada sediaan. c. Bobot jenis sirup > 1 diukur memenuhi syarat sebesar 1,1342 d. Viskositas sirup adalah 33,5% dengan Rpm

DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh, 1995, Farmasetika, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Anonim, 1979, Farmakope Indonesia Ed III, Depkes RI, Jakarta. Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Ed IV, Depkes RI, Jakarta. Anonim, 2007, Kapita Selekta Dispensing I, Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta. Anief, Moh . 1997 . Ilmu Meracik Obat . Yogyakarta : Gadjah Mada Universitas Press Departemen Kesehatan Republik Indonesia . 1979 . Farmakope Indonesia Edisi III . Jakarta : Dirjen POM Departemen Kesehatan Republik Indonesia . 1995 . Farmakope Indonesia Edisi Jakarta : Dirjen POM ( ikatan sarjana farmasi ) Howard, ansel C 1982, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Jakarta. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1995, Farmakologi Dan Terapi, Edisi IV Jakarta. American hospital formulary services Drug Information, 1998. Kibbe, orthur H, 2000. Hand Book Of Pharmaceutical Excipient, edisi III. Penerbit: Pharmaceutical Press. USA. IV .