Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL

KATA PENGANTAR Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang menjadikan bumi beserta isinya dengan begitu sempurna dserta hidayah Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan dengan mempersembahkan sebuah makalah yang berjudul PERKEMBANGAN TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL untuk memenuhi tugas mata kuliahILMU EKONOMI DASAR. Ucapan terima kasih dan rasa hormat Penulis kepada semua pihak yang telah membantu Penulis dalam menyelesaikan penyusunan makalah ini.Akhir kata, Penulis sampaikan bahwa tiada makalah yang sempurna tanpa uluran tangan pemerhatinya. Oleh karena itu, kritik serta saran sangat Penulis harapkan dari pembaca sekalian yang bersifat membangun, agar demi lebih baiknya kinerja kami yang akan mendatang. Semoga makalah ini dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan dan informasi yang bermanfaat bagi semua pihak. Makassar, 12 Oktober 2012 JUKRIADI

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Teori perdagangan internasional adalah teori yang menjelaskan arah dan komposisi perdagangan antar negara serta bagaimana efeknya terhadap perekonomian suatu negara. Disamping itu, teori perdagangan internasional juga dapat menunjukkan adanya keuntungan yang timbul dari adanya keuntungan perdagangan (gain from trade). Teori yang menjelaskan tentang perdagangan internasional pada dasarnya dibagi atas tiga kelompok besar, yaitu: teori praklasik merkantilis, Teori Klasik, dan teori modern. Negara-negara yang melakukan perdagangan internasional antara lain disebabkan dua alasan berikut. Pertama, negara-negara yang berdagang karena berbeda satu sama lain (berbeda dalam kepemilikan sumber daya, baik dalam jenis maupun kualitasnya), setiap negara dapat memperoleh keuntungan dari perbedaan mereka melalui pengaturan dimana setiap pihak melakukan sesuatu dengan relatif lebih baik. Kedua, negara-negara berdagang satu sama lain dengan tujuan mencapai skala ekonomi (economies of scale) dalam produksinya. Maksudnya, Jika setiap negara hanya menghasilkan sejumlah barang tertentu maka mereka dapat menghasilkan barang-barang tersebut dengan skala yang lebih besar dan karenanya lebih efisien dibandingkan mereka menghasilkan segala jenis barang. Secara lengkap perkembangan teori perdagangan internasional adalah sebagai berikut : 1. Teori pra-klasik merkantilisme 2. Teori klasik a) Keuntungan absolut (absolute advantage) oleh Adam Smith b) Keuntungan relatif (comparative advantage) oleh John Stuart Mill c) Biaya relatif (comparative cost) oleh David Ricardo

3. a) b) c)

B.

C. D.

1. 2. 3. 4. E. 1. 2. 3.

. Teori Modern Faktor proporsi oleh Hecksher-Ohlin Kesamaan harga faktor produksi (factor price equalizati-on) oleh Paul Samuelson Permintaan dan penawaran (teori parsial). Dari penjelasan tersebut maka kami akan mengkaji lebih dalam perkembangan teori perdagangan internasional yang penulis buat dalam format makalah. Pembatasan Masalah Agar tidak terjadi kesalah pahaman maka pembahasan masalah, kami membatasi dan menetapkan objeknya yaitu hanya mengenai tentang perkembangan teori perdagangan internasional mulai dari teori merkantilis, teori klasik sampai dengan teori modern.( heckscherohlin ) Rumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah diatas, kami merangkum beberapa rumusan masalah yang diangkat antara lain : Siapa sajakah yang mencetuskan beberapa teori mengenai perdagangan internasional? Bagaimanakah perkembangan teori perdagangan ? Bagaimanakah pendapat para ahli mengenai perdagangan internasional ? Tujuan Penulisan Penulisan makalah yang mengenai tentang perkembangan teori perdagangan internasional memiliki beberapa tujuan diantaranya adalah sebagai berikut : Membekali mahasiswa dalam mengetahui teori-teori yang dicetuskan oleh beberapa tokoh mengenai teori perdagangan internasional Untuk mengetahui perkembangan teori perdagangan internasional Untuk mengetahui tokoh-tokoh pencetus teori perdagangan internasional Untuk mengetahui aspek-aspek apa sajakah yang dibahas dalam setiap teori yang dikemukakan oleh para ahli. Manfaat Penulisan Memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai perkembangan teori internasional Memberikan referensi tambahan bagi mahasiswa selain literature yang dipakai dalam mengajar. Memberikan pengkajian yang lebih signifikan mengenai teori perdagangan internasional.

BAB II LANDASAN TEORI A. Teori Perdagangan Internasional Perdagangan Internasional dapat diartikan sebagai transaksi dagang antara subyek ekonomi negara yang satu dengan subyek ekonomi negara yang lain, baik mengenai barang ataupun jasa-jasa. Adapun subyek ekonomi yang dimaksud adalah penduduk yang terdiri dari warga negara biasa, perusahaan ekspor, perusahaan impor, perusahaan industri, perusahaan negara ataupun departemen pemerintah yang dapat dilihat dari neraca perdagangan (Sobri, 2000). Perdagangan atau pertukaran dapat diartikan sebagai proses tukar menukar yang didasarkan atas kehendak sukarela dari masing-masing pihak. Masing-masing pihak harus mempunyai kebebasan untuk menentukan untung rugi dari pertukaran tersebut, dari sudut

kepentingan masing-masing dan kemudian menetukan apakah ia mau melakukan pertukaran atau tidak (Boediono, 2000). Pada dasarnya ada dua teori yang menerangkan tentang timbulnya perdagangan internasional. a. Teori Klasik 1. Merkantilis Para penganut merkantilisme berpendapat bahwa satu-satunya cara bagi suatu negara untuk menjadi kaya dan kuat adalah dengan melakukan sebanyak mungkin ekspor dan sedikit mungkin impor. Surplus ekspor yang dihasilkannya selanjutnya akan dibentuk dalam aliran emas lantakan, atau logam-logam mulia, khususnya emas dan perak. Semakin banyak emas dan perak yang dimiliki oleh suatu negara maka semakin kaya dan kuatlah negara tersebut. Dengan demikian, pemerintah harus menggunakan seluruh kekuatannya untuk mendorong ekspor, dan mengurangi serta membatasi impor (khususnya impor barang-barang mewah). Namun, oleh karena setiap negara tidak secara simultan dapat menghasilkan surplus ekspor, juga karena jumlah emas dan perak adalah tetap pada satu saat tertentu, maka sebuah Negara hanya dapat memperoleh keuntungan dengan mengorbankan negara lain. Keinginan para merkantilis untuk mengakumulasi logam mulia ini sebetulnya cukup rasional, jika mengingat bahwa tujuan utama kaum merkantilis adalah untuk memperoleh sebanyak mungkin kekuasaan dan kekuatan negara. Dengan memiliki banyak emas dan kekuasaan maka akan dapat mempertahankan angkatan bersenjata yang lebih besar dan lebih baik sehingga dapat melakukan konsolidasi kekuatan di negaranya; peningkatan angkatan bersenjata dan angkatan laut juga memungkinkan sebuah negara untuk menaklukkan lebih banyak koloni. Selain itu, semakin banyak emas berarti semakin banyak uang dalam sirkulasi dan semakin besar aktivitas bisnis. Selanjutnya, dengan mendorong ekspor dan mengurangi impor, pemerintah akan dapat mendorong output dan kesempatan kerja nasional. 2. Adam Smith Adam Smith berpendapat bahwa sumber tunggal pendapatan adalah produksi hasil tenaga kerja serta sumber daya ekonomi. Dalam hal ini Adam Smith sependapat dengan doktrin merkantilis yang menyatakan bahwa kekayaan suatu negara dicapai dari surplus ekspor. Kekayaan akan bertambah sesuai dengan skill, serta efisiensi dengan tenaga kerja yang digunakan dan sesuai dengan persentase penduduk yang melakukan pekerjaan tersebut. Menurut Smith suatu negara akan mengekspor barang tertentu karena negara tersebut bisa menghasilkan barang dengan biaya yang secara mutlak lebih murah dari pada negara lain, yaitu karena memiliki keunggulan mutlak dalam produksi barang tersebut. Adapun keunggulan mutlak menurut Adam Smith merupakan kemampuan suatu negara untuk menghasilkan suatu barang dan jasa per unit dengan menggunakan sumber daya yang lebih sedikit dibanding kemampuan negara-negara lain. Teori Absolute Advantage lebih mendasarkan pada besaran/variabel riil bukan moneter sehingga sering dikenal dengan nama teori murni (pure theory) perdagangan internasional. Murni dalam arti bahwa teori ini memusatkan perhatiannya pada variabel riil seperti misalnya nilai suatu barang diukur dengan banyaknya tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang. Makin banyak tenaga kerja yang digunakan akan makin tinggi nilai barang tersebut (Labor Theory of value). Teori Absolute Advantage Adam Smith yang sederhana menggunakan teori nilai tenaga kerja. Teori nilai kerja ini bersifat sangat sederhana sebab menggunakan anggapan bahwa tenaga kerja itu sifatnya homogeny serta merupakan satu-satunya faktor produksi. Dalam

kenyataannya tenaga kerja itu tidak homogen, faktor produksi tidak hanya satu dan mobilitas tenaga kerja tidak bebas, dapat dijelaskan dengan contoh sebagai berikut: Misalnya hanya ada dua negara, Amerika dan Inggris memiliki faktor produksi tenaga kerja yang homogen menghasilkan dua barang yakni gandum dan pakaian. Untuk menghasilkan 1 unit gandum dan pakaian Amerika membutuhkan 8 unit tenaga kerja dan 4 unit tenaga kerja. Di Inggris setiap unit gandum dan pakaian masing-masing membutuhkan tenaga kerja sebanyak 10 unit dan 2 unit. Tabel 1.1 Banya knya Tenaga Kerja yang Diperlukan untuk Menghasilkan per UnitProduksi Amerika Inggris Produksi Amerika Inggris Gandum 8 10 Pakaian 4 2

Sumber: Salvatore (2006). Dari tabel di atas nampak bahwa Amerika lebih efisien dalam memproduksi gandum sedang Inggris dalam produksi pakaian. 1 unit gandum diperlukan 10 unit tenaga kerja di Inggris sedang di Amerika hanya 8 unit (10 > 8). 1 unit pakaian di Amerika memerlukan 4 unit tenaga kerja sedang di Inggris hanya 2 unit. Keadaan demikian ini dapat dikatakan bahwa Amerika memiliki absolute advantage pada produksi gandum dan Inggris memiliki absolute advantage pada produksi pakaian. Dikatakan absolute advantage karena masing-masing negara dapat menghasilkan satu macam barang dengan biaya yang secara absolut lebih rendah dari negara lain. Kelebihan dari teoriabsolute advantage yaitu terjadinya perdagangan bebas antara dua negara yang saling memiliki keunggulan absolut yang berbeda, dimana terjadi interaksi ekspor dan impor hal ini meningkatkan kemakmuran negara. Kelemahannya yaitu apabila hanya satu negara yang memiliki keunggulan absolut maka perdagangan internasional tidak akan terjadi karena tidak ada keuntungan. b. Teori Modern 1. John Stuart Mill dan David Ricardo Teori J.S.Mill menyatakan bahwa suatu negara akan menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu barang yang memiliki comparative advantage terbesar dan mengimpor barang yang dimiliki comparative disadvantage (suatu barang yang dapat dihasilkan dengan lebih murah dan mengimpor barang yang kalau dihasilkan sendiri memakan ongkos yang besar). Teori ini menyatakan bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut. Contoh: Produksi 10 orang dalam 1 minggu Produksi Gandum Pakaian Amerika 6 bakul 10 yard Inggris 2 bakul 6 yard

Sumber: Salvatore (2006). Menurut teori ini perdagangan antara Amerika dengan Inggris tidak akan

timbul karena absolute advantage untuk produksi gandum dan pakaian ada pada Amerika semua. Tetapi yang penting bukan absolute advantagenya tetapi comparative Advantagenya. Besarnya comparative advantage untuk Amerika, dalam produksi gandum 6 bakul dibanding 2 bakul dari Inggris atau = 3 : 1. Dalam produksi pakaian 10 yard dibanding 6 yard dari Inggris atau 5/3 : 1. Di sini Amerika memiliki comparative advantage pada produksi gandum yakni 3 : 1 lebih besar dari 5/3 : 1. Untuk Inggris, dalam produksi gandum 2 bakul dibanding 6 bakul dari Amerika atau 1/3 : 1. Dalam produksi pakaian 6 yard dari Amerika Serikat atau = 3/5: 1. Comparative advantage ada pada produksi pakaian yakni 3/5 : 1 lebih besar dari 1/3 : 1. Oleh karena itu perdagangan akan timbul antara Amerika dengan Inggris, dengan spesialisasi gandum untuk Amerika dan menukarkan sebagian gandumnya dengan pakaian dari Inggris. Dasar nilai pertukaran (term of trade) ditentukan dengan batas-batas nilai tukar masing-masing barang di dalam negeri. Kelebihan untuk teori comparative advantage ini adalah dapat menerangkan berapa nilai tukar dan berapa keuntungan karena pertukaran di mana kedua hal ini tidak dapat diterangkan oleh teori absolute advantage. David Ricardo (1772-1823) seorang tokoh aliran klasik menyatakan bahwa nilai penukaran ada jikalau barang tersebut memiliki nilai kegunaan. Dengan demikian sesuatu barang dapat ditukarkan bilamana barang tersebut dapat digunakan. Seseorang akan membuat sesuatu barang, karena barang itu memiliki nilai guna yang dibutuhkan oleh orang. Selanjutnya David Ricardo juga membuat perbedaan antara barang yang dapat dibuat dan atau diperbanyak sesuai dengan kemauan orang, di lain pihak ada barang yang sifatnya terbatas ataupun barang monopoli (misalnya lukisan dari pelukis ternama, barang kuno, hasil buah anggur yang hanya tumbuh di lereng gunung tertentu dan sebagainya). Dalam hal ini untuk barang yang sifatnya terbatas tersebut nilainya sangat subyektif dan relatif sesuai dengan kerelaan membayar dari para calon pembeli. Sedangkan untuk barang yang dapat ditambah produksinya sesuai dengan keinginan maka nilai penukarannya berdasarkan atas pengorbanan yang diperlukan. David Ricardo mengemukakan bahwa berbagai kesulitan yang timbul dari ajaran nilai kerja: Perlu diperhatikan adanya kualitas kerja, ada kualitas kerja terdidik dan tidakterdidik, kualitas kerja keahlian dan lain sebagainya. Aliran yang klasik dalam hal ini tidak memperhitungkan jam kerja yang dipergunakan untuk pembuatan barang, tetapi jumlah jam kerja yang biasa dan semestinya diperlukan untuk memproduksi barang. Dari situ maka Carey kemudian mengganti ajaran nilai kerja dengan .teori biaya reproduksi Kesulitan yang terdapat dalam nilai kerja itu bahwa selain kerja masih banyak lagi jasa produktif yang ikut membantu pembuatan barang itu, harus dihindarkan. Selanjutnya David Ricardo menyatakan bahwa perbandingan antara kerja dan modal yang dipergunakan dalam produksi boleh dikatakan tetap besarnya dan hanya sedikit sekali perubahan. Atas dasar nilai kerja, dibedakan di samping .harga alami. (natural price) ada pula .harga pasaran. (market price). Menurut aliran klasik (Adam Smith) .harga alami. akan terjadi bilamana masing-masing warga masyarakat memperoleh kebebasan pilihannya untuk membuat sesuatu produk tertentu yang menurutnya lebih menguntungkan dan menukarkannya bilamana dinilai baik olehnya. Hal ini sejalan dengan pandangan kaum physiokrat. Istilah .harga alami. (natural price) yang dikemukakan Smith adalah sama dengan istilah Cantillon .valeur intrinsique. (nilai intrinsik), Turgot .valeur fondamental. (harga pokok), Say .prix reel. (harga real), Ricardo primery/natural/necessary price. (harga pokok) dan Cairnes .normal price. (harga normal). .Harga pasaran. dapat berbeda dengan .harga alami. di mana akan menyesuaikan

dengan keadaan penawaran dan permintaan atas barang yang bersangkutan. Demikian pula atas dasar pertimbangan tertentu, adanya peraturan pemerintah yang dapat menghalangi penyesuaian harga alami dengan harga pasaran. Tetapi bagaimanapun, harga alami akan menjadi acuan (pedoman) atas penetapan harga pasaran.Teori perdagangan internasional diketengahkan oleh David Ricardo yang mulai dengan anggapan bahwa lalu lintas pertukaran internasional hanya berlaku antara dua negara yang diantara mereka tidak ada tembok pabean, serta kedua Negara tersebut hanya beredar uang emas. Ricardo memanfaatkan hukum pemasaran bersama-sama dengan teori kuantitas uang untuk mengembangkan teori perdagangan internasional. Walaupun suatu negara memiliki keunggulan absolut, akan tetapi apabila dilakukan perdagangan tetap akan menguntungkan bagi kedua negara yang melakukan perdagangan. Teori perdagangan telah mengubah dunia menuju globalisasi dengan lebih cepat. Kalau dahulu negara yang memiliki keunggulan absolut enggan untuk melakukan perdagangan, berkat .law of comparative costs. dari Ricardo, Inggris mulai kembali membuka perdagangannya dengan negara lain. Pemikiran kaum klasik telah mendorong diadakannya perjanjian perdagangan bebas antara beberapa negara. Teori comparative advantage telah berkembang menjadi dynamic comparative advantage yang menyatakan bahwa keunggulan komparatif dapat diciptakan. Oleh karena itu penguasaan teknologi dan kerja keras menjadi faktor keberhasilan suatu negara. Bagi negara yang menguasai teknologi akan semakin diuntungkan dengan adanya perdagangan bebas ini, sedangkan negara yang hanya mengandalkan kepada kekayaan alam akan kalah dalam persaingan internasional. a. Cost Comparative Advantage (Labor efficiency) Menurut teori cost comparative advantage (labor efficiency), suatu Negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional jika melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang di mana Negara tersebut dapat berproduksi relative lebih efisien serta mengimpor barang di mana negara tersebut berproduksi relative kurang/tidak efisien. Berdasarkan contoh hipotesis di bawah ini maka dapat dikatakan bahwa teori comparative advantage dari David Ricardo adalah cost comparative advantage. Data Hipotesis Cost Comparative Produksi 1 kg gula 1 m kain Indonesia China 3 hari kerja 6 hari kerja 4 hari kerja 5 hari kerja

Sumber: Salvatore (2006). Indonesia memiliki keunggulan absolut dibanding Cina untuk kedua produk diatas, maka tetap dapat terjadi perdagangan internasional yang menguntungkan kedua negara melalui spesialisasi jika negara-negara tersebut memiliki cost comparative advantage atau labor efficiency. Berdasarkan perbandingan Cost Comparative Advantage Efficiency, dapat dilihat bahwa tenaga kerja Indonesia lebih efisien dibandingkan tenaga kerja Cina dalam produksi 1 Kg gula (atau hari kerja) daripada produksi 1 meter kain (hari bekerja) hal ini akan mendorong Indonesia melakukan spesialisasi produksi dan ekspor gula. Sebaliknya tenaga kerja Cina ternyata lebih efisien dibandingkan tenaga kerja Indonesia dalam produksi 1 m kain (hari kerja) daripada produksi 1 Kg gula (hari kerja) hal ini mendorong cina melakukan spesialisasi produksi dan ekspor kain. a. Production Comperative Advantage (Labor productifity) Suatu negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional jika

2.

a. b.

a. b. c.

d. e.

melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang di mana negara tersebut dapat berproduksi relatif lebih produktif serta mengimpor barang di mana negara tersebut berproduksi relatif kurang/tidak produktif. Walaupun Indonesia memiliki keunggulan absolut dibandingkan Cina untuk kedua produk, sebetulnya perdagangan internasional akan tetap dapat terjadi dan menguntungkan keduanya melalui spesialisasi di masing-masing negara yang memiliki labor productivity. Kelemahan teori klasik Comparative Advantage tidak dapat menjelaskan mengapa terdapat perbedaan fungsi produksi antara dua negara. Sedangkan kelebihannya adalah perdagangan internasional antara dua negara tetap dapat terjadi walaupun hanya satu negara yang memiliki keunggulan absolut asalkan masing-masing dari Negara tersebut memiliki perbedaan dalam Cost Comparative Advantage atau Production Comparative Advantage. Teori ini mencoba melihat kuntungan atau kerugian dalam perbandingan relatif. Teori ini berlandaskan pada asumsi: Labor Theory of Value, yaitu bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang tersebut, di mana nilai barang yang ditukar seimbang dengan jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk memproduksinya. Teori Heckscher-Ohlin (H-O) Teori Heckscher-Ohlin (H-O) menjelaskan beberapa pola perdagangan dengan baik, negaranegara cenderung untuk mengekspor barang-barang yang menggunakan faktor produksi yang relatif melimpah secara intensif. Menurut Heckscher-Ohlin, suatu negara akan melakukan perdagangan dengan negara lain disebabkan negara tersebut memiliki keunggulan komparatif yaitu keunggulan dalam teknologi dan keunggulan faktor produksi. Basis dari keunggulan komparatif adalah: Faktor endowment, yaitu kepemilikan faktor-faktor produksi di dalam suatu negara. Faktor intensity, yaitu teknologi yang digunakan di dalam proses produksi, apakah labor intensity atau capital intensity. Teori modern Heckescher-Ohlin atau teori H-O menggunakan dua kurva pertama adalah kurva isocost yaitu kurva yang menggambarkan total biaya produksi yang sama. Dan kurva isoquant yaitu kurva yang menggambarkan total kuantitas produk yang sama. Menurut teori ekonomi mikro kurva isocost akan bersinggungan dengan kurva isoquant pada suatu titik optimal. Jadi dengan biaya tertentu akan diperoleh produk yang maksimal atau dengan biaya minimal akan diperoleh sejumlah produk tertentu. Analisis hipotesis H-O dikatakan berikut: Harga atau biaya produksi suatu barang akan ditentukan oleh jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara. Comparative Advantage dari suatu jenis produk yang dimiliki masing-masing negara akan ditentukan oleh struktur dan proporsi faktor produksi yang dimilikinya. Masing-masing negara akan cenderung melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang tertentu karena negara tersebut memiliki faktor produksi yang relatif banyak dan murah untuk memproduksinya. Sebaliknya masing-masing negara akan mengimpor barang-barang tertentu karena negara tersebut memilki faktor produksi yang relatif sedikit dan mahal untuk memproduksinya. Kelemahan dari teori H-O yaitu jika jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masingmasing negara relatif sama maka harga barang yang sejenis akan sama pula sehingga perdagangan internasional tidak akan terjadi. Teori Perdagangan Internasional modern dimulai ketika ekonom Swedia yaitu Eli Hecskher (1919) dan Bertil Ohlin (1933) mengemukakan penjelasan mengenai

1. 2. 3. 4. 5.

a.

b.

c.

perdagangan internasional yang belum mampu dijelaskan dalam teori keunggulan komparatif. Sebelum masuk ke dalam pembahasan teori H-O, tulisan ini sedikit akan mengemukakan kelemahan teori klasik yang mendorong munculnya teori H-O. Teori KlasikComparative advantage menjelaskan bahwa perdagangan internasional dapat terjadi karena adanya perbedaan dalam productivity of labor (faktor produksi yang secara eksplisit dinyatakan) antarnegara (Salvatore, 2006). Namun teori ini tidak memberikan penjelasan mengenai penyebab perbedaan produktivitas tersebut. Teori H-O kemudian mencoba memberikan penjelasan mengenai penyebab terjadinya perbedaan produktivitas tersebut. Teori H-O menyatakan penyebab perbedaan produktivitas karena adanya jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki (endowment factors) oleh masing-masing negara, sehingga selanjutnya menyebabkan terjadinya perbedaan harga barang yang dihasilkan. Oleh karena itu teori modern H-O ini dikenal sebagai .The Proportional Factor Theory.. Selanjutnya negara-negara yang memiliki faktor produksi relatif banyak atau murah dalam memproduksinya akan melakukan spesialisasi produksi untuk kemudian mengekspor barangnya. Sebaliknya, masing-masing negara akan mengimpor barang tertentu jika negara tersebut memiliki faktor produksi yang relatif langka atau mahal dalam memproduksinya. Hipotesis Teori H-O Sebelum melakukan kritik terhadap teori H-O, di bawah ini akan dikemukakan hipotesis yang telah dihasilkan oleh Teori H-O, antara lain: Produksi barang ekspor di tiap negara naik, sedangkan produksi barang impor di tiap negara turun. Harga atau biaya produksi suatu barang akan ditentukan oleh jumlah atau proporsi faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara. Harga labor di kedua negara cenderung sama, harga barang A di kedua Negara cenderung sama demikian pula harga barang B di kedua negara cenderumg sama. Perdagangan akan terjadi antara negara yang kaya Kapital dengan Negara yang kaya Labor. Masing-masing negara akan cenderung melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang tertentu karena negara tersebut memiliki faktor produksi yang relatif banyak dan murah untuk melakukan produksi. Sehingga Negara yang kaya kapital maka ekspornya padat kapital dan impornya padat karya, sedangkan negara kaya labor ekspornya padat karya dan impornya padat kapital. Kelemahan Asumsi Teori H-O Untuk lebih memahami kelemahan teori H-O dalam menjelaskan perdagangan internasional akan dikemukan beberapa asumsi yang kurang valid: Asumsi bahwa kedua negara menggunakan teknologi yang sama dalam memproduksi adalah tidak valid. Fakta yang ada di lapangan negara sering menggunakan teknologi yang berbeda. Asumsi persaingan sempurna dalam semua pasar produk dan faktor produksi lebih menjadi masalah. Hal ini karena sebagian besar perdagangan adalah produk negara industri yang bertumpu pada diferensiasi produk dan skala ekonomi yang belum bisa dijelaskan dengan model faktor endowment H-O. Asumsi tidak ada mobilitas faktor internasional. Adanya mobilitas factor secara internasional mampu mensubstitusikan perdagangan internasional yang menghasilkan kesamaan relatif harga produk dan faktor antarnegara. Maknanya adalah hal ini merupakan modifikasi H-O tetapi tidak mengurangi validitas model H-O.

d.

Asumsi spesialisasi penuh suatu negara dalam memproduksi suatu komoditi jika melakukan perdagangan tidak sepenuhnya berlaku karena banyak Negara yang masih memproduksi komoditi yang sebagian besar adalah dari impor. 1.1 Produk Domestik Bruto (PDB) PDB diyakini sebagai indikator ekonomi terbaik dalam menilai perkembangan ekonomi suatu negara. Perhitungan pendapatan nasional ini mempunyai ukuran makro utama tentang kondisi suatu negara. Pada umumnya perbandingan kondisi antar negara dapat dilihat dari pendapatan nasionalnya sebagai gambaran, Bank Dunia menentukan apakah suatu negara berada dalam kelompok negara maju atau berkembang melalui pengelompokan besarnya PDB, dan PDB suatu negara sama dengan total pengeluaran atas barang dan jasa dalam perekonomian (Herlambang, 2001). Menurut Samuelson (2002), PDB adalah jumlah output total yang dihasilkan dalam batas wilayah suatu negara dalam satu tahun. PDB mengukur nilai barang dan jasa yang di produksi di wilayah suatu negara tanpa membedakan kewarganegaraan pada suatu periode waktu tertentu. Dengan demikian warga negara yang bekerja di negara lain, pendapatannya tidak dimasukkan ke dalam PDB. Sebagai gambaran PDB Indonesia baik oleh warga negara Indonesia (WNI) maupun warga negara asing (WNA) yang ada di Indonesia tetapi tidak diikuti sertakan produk WNI di luar negeri (Herlambang, 2001). Sukirno (2002) mendefinisikan PDB sebagai nilai barang dan jasa dalam suatu negara yang diproduksi oleh faktor-faktor produksi milik warga negara tersebut dan warga negara asing. Sedangkan Wijaya (1997) menyatakan bahwa PDB adalah nilai uang berdasarkan harga pasar dari semua barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksi oleh suatu perekonomian dalam suatu periode waktu tertentu biasanya satu tahun. Secara umum PDB dapat diartikan sebagai nilai akhir barang-barang dan jasa yang diproduksi di dalam suatu negara selama periode tertentu (biasanya satu tahun). 1.2 PDB Atas Harga Berlaku dan Harga Konstan Pendapatan nasional dapat dihitung berdasarkan dua harga yang telah ditetapkan pasar. 1) PDB Harga Berlaku. Pendapatan nasional pada harga berlaku adalah nilai barang-barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode tertentu menurut/berdasarkan harga yang berlaku pada periode tersebut. 2) PDB Harga Konstan. Pendapatan nasional pada harga konstan adalah nilai barang-barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode tertentu, berdasarkan harga yang berlaku pada suatu tahun tertentu yang dipakai dasar untuk dipergunakan seterusnya dalam menilai barang-barang dan jasa yang dihasilkan pada periode/tahun berikutnya. Pendapatan nasional pada harga konstan = Pendapatan Nasional riil. Menurut Mulyono dalam Hanton (2002), 1.3 Teori Konsumsi Konsumsi adalah pembelanjaan atas barang-barang dan jasa-jasa yang dilakukan oleh rumah tangga dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dari orang yang melakukan pembelanjaan tersebut. Pembelanjaan masyarakat atas makanan, pakaian, dan barang-barang kebutuhan mereka yang lain digolongkan pembelanjaan atau konsumsi. Barang-barang yang diproduksi untuk digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dinamakan barang konsumsi (Dumairy, 2004). Dalam teorinya Keynes mengandalkan analisis statistik, dan juga membuat dugaan-dugaan tentang konsumsi berdasarkan introspeksi dan observasi kasual. Pertama dan terpenting, Keynes menduga bahwa kecenderungan mengkonsumsi marginal (marginal propensity to consume) jumlah yang dikonsumsi dalam setiap

a.

b.

c.

d.

tambahan pendapatan adalah antara nol dan satu. Kecenderungan mengkonsumsi marginal merupakan rekomendasi kebijakan Keynes untuk menurunkan pengangguran yang kian meluas. Kekuatan kebijakan fiskal, untuk mempengaruhi perekonomian seperti ditunjukkan oleh pengganda kebijakan fiskal muncul dari umpan balik antara pendapatan dan konsumsi. Kedua, Keynes menyatakan bahwa rasio konsumsi terhadap pendapatan, yang disebut kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (avarage prospensity to consume), turun ketika pendapatan naik. Ia percaya bahwa tabungan adalah kemewahan, sehingga ia barharap orang kaya menabung dalam proporsi yang lebih tinggi dari pendapatan mereka ketimbang si miskin. Ketiga, Keynes berpendapat bahwa pendapatan merupakan determinan konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak memiliki peranan penting. Keynes menyatakan bahwa pengaruh tingkat bunga terhadap konsumsi hanya sebatas teori. Kesimpulannya bahwa pengaruh jangka pendek dari tingkat bunga terhadap pengeluaran individu dari pendapatannya bersifat sekunder dan relatif tidak penting. Berdasarkan tiga dugaan ini, persamaan konsumsi Keynes sering ditulis sebagai berikut (Mankiw, 2003): C = a + bY, a > 0, 0 < b < 1 ................................................................ (2.1) Keterangan: C = konsumsi Y = pendapatan disposebel a = konstanta b = kecenderungan mengkonsumsi marginal 1.4 Teori Pajak Teori klasik tentang sistem perpajakan yang baik dimulai sejak Adam Smith dalam bukunya .The Wealth of Nations. (Waluyo, 2006) yang menyatakan bahwa penungutan pajak hendaknya didasarkan pada: Equality Pemungutan pajak harus bersifat adil dan merata, yaitu dikenakan kepada orang pribadi yang harus sebanding dengan kemampuan membayar pajak atau ability to pay dan sesuai dengan manfaat yang diterima. Adil dimaksudkan bahwa setiap wajib pajak menyumbangkan uang untuk pengeluaran pemerintah sebanding dengan kepentingan dan manfaat yang diminta. Certainty Penetapan pajak itu tidak ditentukan sewenang-wenang. Oleh karena itu, wajib pajak harus mengetahui secara jelas dan pasti besarnya pajak yang terutang, kapan harus dibayar, serta batas waktu pembayaran. Convenience Kapan wajib pajak itu harus membayar pajak sebaiknya sesuai dengan saat-saat yang tidak menyulitkan wajib pajak sebagai contoh pada saat wajib pajak memperoleh penghasilan. Sistem pemungutan ini disebut pay as you earn. Economy Secara ekonomi biaya pemungutan dan biaya pemenuhan kewajiban bagi wajib pajak diharapkan seminimum mungkin, demikian pula beban yang dipikul wajib pajak. Azas keadilan dalam sistem perpajakan telah banyak didiskusikan secara luas, dan hal ini merupakan bagian terpenting dalam mengevaluasi setiap pengajuan dalam pembuatan kebijakan perpajakan. Musgrave Laksana (2001) memberikan pandangan yang adil tentang distribusi beban pajak, beban administrasi dan pengaruh insentif pajak terhadap penerimaan pajak. Diantara keempat

azas di atas, Musgrave juga menekankan pada tiga azas lainnya yaitu: azas netralitas ( neutrality), azas perbaikan (reformation), dan azas kestabilan dan pertumbuhan (growth and stability). Di negara-negara yang sedang berkembang sebagian besar penerimaan pajaknya berasal dari pajak langsung dan pajak tak langsung. Menurut Nafziger (1990) dalam Yuzrat and Makhfatih (Nasution, 2003) menyebutkan bahwa proporsi PDB terhadap pajak langsung pada negara sedang berkembang lebih rendah daripada pajak langsung dari negara-negara maju. Hal ini dikarenakan pada negara-negara yang sedang berkembang lebih rendah golongan berpenghasilan tingginya. Dalam perkembangannya akan terjadi proses pergeseran dari dominasi pajak tidak langsung menjadi pajak langsung sesuai dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi diiringi dengan peningkatan pendapatan perkapita penduduknya. Dalam jangka panjang peranan pajak langsung akan semakin penting seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat dan ditunjang pula dengan teknologi canggih menuju era globalisasi. Selain berfungsi sebagai pemerataan karena struktur tarifnya bersifat progresif, perkembangan hubungan internasional yang semakin maju kearah liberal dan global mengharuskan pemerintah untuk menurunkan tarif impornya dalam rangka peningkatan daya saing ekonomi domestic di ekonomi dunia. Konsekuensinya penerimaan pajak tidak langsung akan menjadi turun. Alternatifnya adalah memobilisasi penerimaan pajak yang bertumpu pada pajak langsung seperti pajak penghasilan.

BAB III KESIMPULAN


A. Kesimpulan Berdasarkan paparan diatas,maka kami dapat menyimpulkan bahwa: 1. Dalam perjalanannya pemikiran Adam Smith maupun David Ricardo sedikit banyak mempegaruhi teori perekonomian dunia. Teori Komparatif Ricardo bisa dikatakan menjadi sebuah titik awal ekspansi perusahaan-perusahaan untuk melakukan transaksi maupun perdagangan dengan dunia di luar negara asalnya. Jika dilihat dari perspektif hubungan internasional, semakin maraknya Multinational Corporations (MNCs) maupun Transnational Corporations (TNCs) berkembang di dunia ini, yang di dalam ilmu hubungan internasional merupakan sebuah kajian dalam diskurus Transnasionalisme sedikit banyak juga bisa dikatakan terpengaruh oleh pemikiran Ricardo maupun Smith.
2. Model Adam Smith ini memfokuskan pada keuntungan mutlak yang menyatakan bahwa suatu negara akan memperoleh keuntungan mutlak dikarenakan negara tersebut mampu memproduksi barang dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan negara lain. Menurut teori ini jika harga barang dengan jenis sama tidak memiliki perbedaan di berbagai negara maka tidak ada alasan untuk melakukan perdagangan internasional. 3. Model Ricardian memfokuskan pada kelebihan komparatif dan mungkin merupakan konsep paling penting dalam teori pedagangan internasional. Dalam Sebuah model Ricardian, negara mengkhususkan dalam memproduksi apa yang mereka paling baik produksi. Tidak seperti model lainnya, rangka kerja model ini memprediksi dimana negara-negara akan menjadi spesialis secara penuh dibandingkan memproduksi bermacam barang komoditas. Juga, model Ricardian tidak secara langsung memasukan faktor pendukung, seperti jumlah relatif dari buruh dan modal dalam negara. 4. Model Heckscgher-Ohlin dibuat sebagai alternatif dari model Ricardian dan dasar kelebihan komparatif. Mengesampingkan kompleksitasnya yang jauh lebih rumit model ini tidak membuktikan prediksi yang lebih akurat. Bagaimanapun, dari sebuah titik pandangan teoritis model tersebut tidak memberikan solusi yang elegan dengan memakai mekanisme harga neoklasikal kedalam teori perdagangan internasional.

Teori ini berpendapat bahwa pola dari perdagangan internasional ditentukan oleh perbedaan dalam faktor pendukung. Model ini memperkirakan kalau negara-negara akan mengekspor barang yang membuat penggunaan intensif dari faktor pemenuh kebutuhan dan akan mengimpor barang yang akan menggunakan faktor lokal yang langka secara intensif. Masalah empiris dengan model H-o, dikenal sebagai Pradoks Leotief, yang dibuka dalam uji empiris oleh Wassily Leontief yang menemukan bahwa Amerika Serikat lebih cenderung untuk mengekspor barang buruh intensif dibanding memiliki kecukupan modal dan sebagainya.

B. Saran Sebaiknya teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli diterapkan sebagai fundamen agar ekonomi Indonesia bias membaik. Pengelolaan dan tata cara serta penerapannya harus di aplikasikan kedalam system prekonomian Indonesia sehingga teori-teori ini tidak menjadi sekedar teori, akan tetapi dapat dipahami dan diterapkan secara maksimal mengingat ekonomi RI masih lemah.

DAFTAR PUSTAKA
Drs. Yanuar Ikbar, M.A, Ekonomi Politik Internasional 1 : Konsep dan Teori, Refika Aditama, Bandung, 2006, hal. 41 bid, hal. 41 Lia Amalia, Ekonomi Internasional, Yogyakarta, Graha Ilmu, 2007, hal. 10 Ir. Sahibul Munir, SE, M.Si, Pengantar Ekonomi Makro, Jakarta, Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana (UMB), 2008, hal. 1 http://murtiningsih.blog.uns.ac.id/2009/10/07/teori-perdagangan-internasional/ http://www.scribd.com/doc/46099191/Perkembangan-Perdagangan-Bilateral http://trionoakhmadmunib.blogspot.com/2011/02/teori-perdagangan-internasional-smith.html

TEORI BISNIS INTERNASIONAL


Arti penting teori ekonomi
Para manajer perusahaan harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai teori ekonomi agar dapat memahami strategi pembangunan suatu Negara. Perusahaan yang akan melebarkan sayapnya di dalam perdagangan internasional memilki kewajiban untuk mempelajari teori-teori ekonomi apa saja yang diterapkan oleh Negara-negara tersebut, kususnya Negara yang menjadi pangsa pasar atau tujuan dari lingkup bisnis perdagangan perusahaan.

Teori perdagangan internasional


1. Teori merkantilisme Merkantilisme merupakan suatu falsafah ekonomi berdasarkan keyakinan bahwa 1) kemakmuran sebuah negara bergantung pada harta yang terakumulasi, biasanya emas 2) bahwa untuk meningkatkan kemakmuran, kebijakan pemerintah hendaknya dapat meningkatkan ekspor dan mengurangi impor. 2. Teori keunggulan absolute Teori ini mengungkapkan bahwa suatu bangsa mampu memproduksi suatu barang melebihi Negara lain dengan input yang sama,. Adam smith menyatakan bahwa kekuatan pasar yang seharusnya menentukan arah, volume, dan komposisi perdagangan internasional. Teori keunggulan absolute biasanya dianut oleh negara-negara yang dianugerahi kekayaan alam yang melimpah. 3. Teori keunggulan komparatif Teori ini mengungkapkan bahwa sebuah bangsa yang memiliki kelemahan absolute dalam memproduksi 2 barang jika dilihat dari sudut pandang Negara lain, ternyata memiliki suatu keunggulan relative atau komparatif dalam memproduksi barang dalam memproduksi barang dimana kelemahan absolutnya kurang. 4. Teori endowment oleh heckscher-Ohlin Teori ini menyatakan bahwa perbedaan-perbedaan internasional dan interregional dalam biaya produksi muncul karena perbedaan dalam pasokan factor-faktor produksi. Jadi, suatu Negara akan mengekspor barang-barang yang memerlukan sejumlah factor produksi yang berlimpah, sedangkan akan mengimpor barang-baranga yang memerlukan factor-faktor produksi yang langka.

Paradoks Leontief
sebuah studi yang dilakukan oleh ahli ekonomi Wassily Leontief yang mempersoalkan manfaat teori Hackscher-Ohlin sebagai peramal perdagangan. Studi ini menemukan fakta lain dalam realita yang terjadi di Amerika Serikat. Salah satu negara paling padat penduduknya tetapi mengekspor barangbarang padat tenaga kerja.

Perbedaan selera
Hal yang tidak boleh diabaikan oleh para pelaku bisnis adalah masalah perbedaan selera. Perbedaan selera memungkinkan perdagangan mengalir berlawanan arah dengan apa yang diramalkan teori keunggulan komparatif.

Memperkenalkan uang
Untuk menentukan apakah terdapat keuntungan untuk membuat secara lokal atau mengimpor, para pedagang perlu mengetahui harga mata uang negaranya sendiri.

Kurs
Kurs adalah harga sebuah mata uang yang dinilai dengan mata uang lainnya. Kurs berpengaruh terhadap perdagangan internasional. Melemah dan menguatnya mata uang terhadap mata uang negara lain menjdai penentu penting apakah suatu negara harus mengimpor atau mengekspor.

Daur hidup produk internasional

1.

2.

3.

4.

Merupakan sebuah teori yang menjelaskan mengapa suatu produk yang mula-mula sebagai ekspor sebuah negara akhirnya menjadi impornya. Keempat tahap yang dilalui dalam IPLC di Amerika : Ekspor AS : AS merupakan negara berpenduduk dengan penghasilan tinggi tebesar di dunia. Persaingan mendorong para pelaku bisnis mencari cara untuk memuaskan konsumennya. Adanya keberadaan laboratorium penelitian dan pengembangan yang besar menyebabkan AS menjadi negara yang memimpin dalam memperkenalkan produk baru. Untuk sementara AS menjadi satu-satunya pabrikan dan pelanggan dari negara lain yang mengetahui produk tersebut harus membeli dari As, sehingga pasar ekspor AS berkembang Produksi luar negeri dimulai : para konsumen dari negar maju memiliki kebutuhan dan kemampuan untuk membeli produk yang sama. Volume ekspor tumbuh dan menjadi pendukung produk lokal. Adanya pengiriman anak perusahaan ke inovator produk maupun adanya lisensi untuk memproduksi menyebabkan ekspor AS berkurang. Persaingan pasar luar negeri dalam ekspor : seiring dengan adanya pengalaman dalam pemasaran dan produksi, pabrikan luar negriakan mampu menekan biaya atas keunggulan biaya tenaga kerja dan bahan baku. Sedangkan pasar lokal yang jenuh tentu akan melengkapi faktor pendorong parikan melakukan ekspor untuk mencari pasar yang baru. Pada tahap ini pasar ekspor AS akan mengalami kemrosotan. Persaingan impor di AS : pasar AS akan dilayani dengan impor saat produsen luar negeri mampu bersaing dalam kualitas dan harga.

Skala Ekonomi dan kurva pengalaman


Skala Ekonomi dan kurva pengalaman mempengaruhi perdagangan internasional karena memungkinkan industri-industri suatu negara menjadi produsen biaya rendha tanpa memiliki faktor-faktor produksi yang berlimpah

Teori penggerak pertama


Sebagian ahli teori manajemen menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang pertama menerobos pasar akan menjadi pendominasi pasar internasional.

Keunggulan kompetitif
Teori porter meyatakan bahwa empat jenis variabel akan mempunyai dampak atas kemampuan perusahaan-perusahaan lokal di suatu negara untuk menggunakan sumber-sumber negara guna memperoleh keunggulan komparatif. 4 faktor tersebut meliputi : Kondisi permintaan Kondisi faktor level dan komposisi faktor produksi Indutri terkait dan pendukungnya Strategi, struktur, dan persaigan perusahaan

1. 2. 3. 4.

Restriksi perdagangan
Alasan bagi restriksi perdagangan : 1. Pertahanan nasional : industri tertentu memerlukan proteksi dari impor karena vital bagi pertahanan nasional. Dalam masa perang, impor barang tertentu akan dihentikan, inilah yang menjadi alasan argumen pertahanan nasional. 2. Melindungi industri yang baru tumbuh : dalam jangka panjang, industri tersebut akan memiliki keunggulan komparatif namun tetap memerlukan proteksi terhadap impor. Sampai angkatan kerja terlatih, teknik produksi dikuasai, dan telah mencapai skala ekonomi. 3. Melindungi tenaga kerja domestik : upah per jam tenaga asing lebih murah dari yang dibayarkan di dalam negeri menyebabkan terjadinya banyak penangguran.

Jenis-jenis restriksi :

Hambatan tarif
1. 2. 3. 4. Hambatan tarif adalah pajak atas barang impor dengan tujuan menaikkan harganya untuk mengurangi persaingan bagi produsen lokal atau merangsang produksi lokal : Bea ad valorem : pajak impor yang dikenakan sebagai suatu persentase dari nilai faktur barang-barang yang diimpor. Bea spesifik : jumlah tetap yang dikenakan atas unit fisik barang yang diimpor. Bea kombinasi : kombinasi pajak-pajak spesifik dan ad valorem. Harga resmi harga ini termasuk dalam tarif bea cukai dari beberapa negara dan merupakan dasar untuk perhitungan pajak ad valorem jika harga faktur sebenarnya lebih rendah. Harga resmi menjamin bahwa pajak impor minimum tertentu akan dibayar tanpa memperhatikan harga faktur yang sebenarnya. Pajak variabel : pajak impor yang ditetapkan dengan perbedaan antara harga pasar dunia dengan hargaharga yang didukung oleh pemerintah lokal. Bea yang lebih rendah untuk masukan lokal yang lebih banyak

5. 6.

Hambatan-hambatan Nontarif
1. a. Hambatan-hambatan nontarif adalah semua bentuk diskriminasi terhadap impor selain pajak-pajak impor/bea masuk yang telah dibahas sebelumnya. Ada beberapa macam hambatan nontarif: Kuantitatif Kuota, sebuah bentuk hambatan kuantitatif, adalah pembatasan jumlah jenis barang tertentu yang akan diizinkan diimpor oleh sebuah negeri tanpa hambatan selama jangka waktu tertentu. Apabila kuota itu absolut, sekali jumlah tertentu telah diimpor, maka impor berikutnya selama sisa waktu itu (biasanya satu tahun) dilarang. Persetujuan Tertib Pemasaran, adalah VER yang terdiri atas persetujuan-persetujuan formal antara para pemerintah negara pengekspor dan pengimpor untuk membatasi persaingan internasional dan melindungi beberapa pasar nasional untuk produsen lokal. Biasanya persetujuan itu menyatakan besarnya kuota ekspor atau impor yang akan diperoleh tiap negara untuk barang tertentu. Non-kuantitatif Partisipasi pemerintah langsung dalam perdagangan. Bentuk yang paling lazim partisipasi pemerintah langsung adalah subsidi. Kebijakan pengadaan barang pemerintah juga merupakan hambatan perdagangan karena biasanya menguntungkan produsen domestik dan sangat menghambat pembelian barang-barang impor oleh instansi pemerintah. Prosedur kepabeanan dan administratif lainnya. Ini meliputi beraneka ragam kebijakan dan prosedur pemerintahan baik yang mengadakan diskriminasi terhadap impor maupun yang menguntungkan ekspor. Standar. Baik standar-standar pemerintah maupun swasta untuk melindungi kesehatan dan keselamatan warga negaranya tentu saja dikehendaki, tetapi selama bertahun-tahun perusahaanperusahaan ekspor telah diganggu oleh banyaknya standar yang rumit dan diskriminatif.

b.

2. a.

b.

c.

Biaya Hambatan Perdagangan


Biaya yang dibayar oleh konsumen karena adanya hambatan-hambatan perdagangan bisa menjadi sangat tinggi. Misalnya, karena sistem kuota AS untuk gula, para konsumen Amerika harus membayar dua kali lipat dari harga dunia. PEMBANGUNAN EKONOMI

Kategori Berdasarkan Tingkat Pembangunan Ekonomi


1. Negara maju (developed) adalah nama yang diberikan kepada negara-negara industri di Eropa Timur, Jepang, Australia, Selandia Baru, Kanada, Israel, dan Amerika Serikat. 2. Berkembang (developing) merupakan klasifikasi untuk negara-negara dengan pendapatan lebih rendah di dunia yang secara teknis kurang berkembang.

3. Negara-negara industri baru (newly industrializing countries) merupakan kategori yang meliputi empat macan Asia (Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan Korea Selatan), Brasil, Meksiko, dan tiga negara industri yang baru muncul (Malaysia, Thailand, dan Chili).

PNB/Kapita sebagai Indikator


1. Perekonomian Bawah Tanah (Underground Economy) Banyak yang telah ditulis mengenai bagian pendapatan nasional yang tidak terukur statistik resmi baik karena dilaporkan kurang atau tidak dilaporkan. Termasuk dalam perekonomian bawah tanah (gelap, paralel, informal, di bawah permukaan, bayangan) ini adalah produksi yang sah tetapi tidak diumumkan, produksi dan jasa-jasa ilegal, dan pendapatan dalam bentuk natura (barter) yang tersembunyi. 2. Konversi Mata Uang Permasalahan lain dalam memperkirakan PDB adalah untuk membandingkannya, PDB dalam mata uang lokal harus dikonversi ke suatu mata uang yang umum diterima, biasanya dolar, dengan menggunakan kurs. Apabila nilai relatif kedua mata uang itu secara akurat mencerminkan tenaga beli konsumen, maka konversi itu dapat diterima. Meskipun demikian, Bank Dunia menganggap konversi itu tidak dapat diterima. Meskipun demikian, Bank Dunia menganggap penggunaan kurs rsmi untuk mengkonversi angka-angka mata uang nasional ke dalam dolar AS tidak mencerminkan daya beli mata uang domestik. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Program Pembandingan Internasional PBB telah mengembangkan metode untuk membandingkan PDB berdasarkan paritas daya beli, bukannya berdasarkan permintaan internasional akan mata uang (kurs). Paritas daya beli adalah jumlah unit mata uang yang diperlukan untuk membeli jumlah barang-barang dan jasa-jasa yang sama di pasar domestic sebanyak yang dapat dibeli dengan $1 di Amerika Serikat. 3. Faktor Konversi Atlas Ketidakpuasan atas metode paritas daya beli dan konversi mata uang berdasarkan nilai tukar umum menyebabkan Bank dunia mengadopsi metode Atlas untuk mengestimasi GNI per kapita. Faktor konversi atlas adalah metode aritmatika yang menghitung rata-rata nilai tukar saat ini dengan nilai tukar dua tahun sebelumnya yang sudah disesuaikan dengan rasio antara inflasi domestik dan inflasi negara G5 (Perancis, Jerman, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat). Pendapatan yang dihitung dengan metode ini umumnya lebih stabil dan peringkat negara menurut pendapatan lebih dipengaruhi kinerja ekonomi daripada fluktuasi nilai tukar. 4. Karakteristik Negara Berkembang Kendati terdapat perbedaan besar di antara banyak negara berkembang sebagian besar sama-sama memiliki karakteristik umum sebagai berikut: a. PNB/kapita kurang dari $9.265. b. Distribusi pendapatan tidak merata, dengan kelas menengah yang sangat kecil. c. Dualisme teknologi-campuran perusahaan-perusahaan yang menggunakan teknologi mutakhir dan perusahaan-perusahaan yang memakai cara-cara yang sangat primitif. d. Dualisme regional-produktivitas dan pendapatan yang tinggi di beberapa wilayah dan pembangunan ekonomi yang sedikit di wilayah-wilayah yang lain. e. Sebagian besar (80-85%) penduduk memperoleh penghasilan dalma sektor pertanian yang relatif tidak produktif. f. Pengangguran tidak kentara atau setengah pengangguran, dua orang melakukan suatu pekerjaan yang dapat dilakukan oleh satu orang. g. Pertumbuhan penduduk yang tinggi (2,5 sampai 4 persen setahun). h. Tingkat buta huruf yang tinggi dan sarana pendidikan yang tidak mencukupi. i. Kekurangan gizi yang neluas dan banyak permasalahan di bidang kesehatan. j. Instabilitas politik.

k. Sangat bergantung pada beberapa produk ekspor, umumnya produk-produk pertanian atau pertambangan. l. Topografis yang tidak ramah, seperti gurun pasir, pegunungan, dan hutan tropis. m. Tingkat tabungan yang rendah dan fasilitas perbankan yang tidak memadai. 5. Pendekatan kebutuhan manusia pada pembangunan ekonomi Pendekatan kebutuhan manusia mendefinisikan pembangunan ekonomi sebagai pengurangan kemiskinan, pengangguran, dan ketidak merataan distribusi pendapatan. Batasan kemiskinan juga telah diperluas. Bukannya didefinisikan dalam artian pendapatan seperti lazimnya di negara-negara maju, pengurangan kemiskinan sekarang berarti berkurangnya buta huruf, menurunnya kekurangan gizi, berkurangnya penyakit dan kematian dini, serta peralihan dari produksi pertanian ke industri. 6. Tidak ada teori umum yang diterima Masuknya variabel nonekonomi telah membuat mustahil untuk merumuskan teori pembangunan umum yang diterima secara luas. Ketimbang mengupayakan teori umum, para ahli ekonomi pembangunan kini sedan memusatkan perhatian pada bidang-bidang permasalahan spesifik, seperti pertumbuhan penduduk, distribusi pendapatan, pengangguran, alih teknologi, peranan pemerintah dalam proses itu, serta investasi dalam sumber daya manusia dihadapkan dengan modal fisik.

TEORI INVESTASI INTERNASIONAL


Teori-teori Investasi Langsung Luar Negeri Kontemporer 1. Teori Keunggulan Monopolistik Teori ini berasal dari disertasi Stephen Hymer tahun 1960-an yang menunjukkan bahwa investasi langsung luar negeri lebih banyak terjadi dalam industri-industri oligopolistik daripada dalam industriindustri yang beroperasi dalam persaingan hampir sempurna. Ini berarti perusahaan-perusahaan dalam industri ini harus memiliki keunggulan yang tidak dapat diperoleh perusahaan-perusahaan lokal. 2. Ketidaksempurnaan Pasar Produk dan Faktor Produksi Caves, seorang ahli ekonomi Harvard memperluas karya Hymer untuk menunjukkan bahwa pengetahuan unggul memungkinkan perusahaan yang melakukan investasi untuk memproduksi berbagai produk yang lebih disukai konsumen daripada barang-barang yang sama buatan local, dan dengan demikian akan memberikan kepada perusahaan itu beberapa kendali untuk harga jual dan keunggulan atas perusahaan-perusahaan pribumi. 3. Daur Hidup Produk Internasional Konsep IPLC menjelaskan investasi langsung luar negeri sebagai tahap alamiah dalam kehidupan suatu produk. Untuk menghindari kehilangan pasar yang dilayaninya melalui ekspor, sebuah perusahaan dipaksa untuk menanamkan modal dalam sarana produksi di luar negeri ketika perusahaan-perusahaan lain mulai menawarkan produk-produk yang sama. 4. Teori-teori Lain a. Teori ikut sang pemimpin (follow-the-leader-theory) Sebuah teori lain dikembangkan oleh Knickerbocker yang mengemukakan bahwa apabila sebuah perusahaan khususnya yang memimpin dalam oligopolistik memasuki sebuah pasar, maka perusahaanperusahaan lain dalam industri itu mengikutinya. Teori ini dianggap defensif karena para pesaing melakukan investasi untuk menghindari kehilangan pasar yang dilayani dengan ekspor ketika investor pertama memulai produksi lokal. Mereka juga mungkin takut pemrakarsa itu akan mencapai beberapa keunggulan dengan melakukan diversifikasi risiko yang tidak ingin mereka derita kecuali mereka juga memasuki pasar itu. Selain itu, dengan menduga pemrakarsa itu mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui, mereka mungkin merasa lebih baik menyelamatkan diri daripada menyesal nantinya. b. Teori internalisasi

5.

a.

b.

c.

Teori internalisasi merupakan pengembangan teori ketidak-sempurnaan pasar. Sebuah perusahaan memiliki pengetahuan unggul, tetapi ia dapat memperoleh harga yang lebih tinggi untuk pengetahuan itu dengan cara menggunakannya daripada menjualnya di pasar terbuka. Dengan melakukan investasi di anak perusahaan luar negeri ketimbang memberikan lisensi, perusahaan itu mampu mengirim pengetahuannya melewati batas negara, sementara tetap mempertahankannya di dalam perusahaan dengan harapan dapat mewujudkan hasil yang lebih baik atas investasi yang dilakukan untuk memproduksinya. c. Teori Aliber Aliber percaya ketidaksempurnaan dalam pasar valuta asing munkin menyebabkan investasi asing. Perusahaan-perusahaan di negara-negara dengan mata uang yang nia\lainya terlalu tinggi (overvalued) tertarik untuk menanamkan modal di negara-negara yang mata uangnya nilainya terlalu rendah (undervalued). d. Teori Porto folio Teori ini menyatakan bahwa operasi-operasi internasional memungkinkan diversifikasi risiko dan karenanya cenderung memaksimalkan laba investasi yang diharapkan. Teori Eklektik Produksi Internasional dari Dunning Teori ini menggabungkan unsur-unsur dari beberapa teori yang telah kita bahas. Dunning menyatakan apabila sebuah perusahaan bermaksud melakukan investasi dalam sarana produksi luar negeri, ia harus memiliki tiga jenis keunggulan: Kepemilikan yang khas (ownership specific), yaitu sejauh mana sebuah perusahaan memiliki atau dapat memperoleh aset-aset yang kelihatan (tangible) dan tidak kelihatan (intangible) yang tidak dapat diperoleh perusahaan-perusahaan lain. Internalisasi (internalization) adalah dalam kepentingan terbaik perusahaan untuk menggunkana keunggulan kepemilikan khas (menginternalisasi) ketimbang melisensikannya kepada pemilik asing (mengeksternalisasi). Kekhasan lokasi (location-spesific), perusahaan akan memperoleh keuntungan dengan menempatkan sebagian fasilitas produksinya di luar negeri.

DAFTAR PUSTAKA Donald A. Ball, International Business, 9th edition (sudah diterjemahkan oleh PT. Salemba Empat)