Anda di halaman 1dari 7

PRESBIKUSIS (hubungan DM,Hipertensi,Gangguan Keseimbangan & Pendengaran)

Posted by badrut tamam Minggu, 10 Maret 2013 0 comments

Hubungan Antara DM, Hipertensi, dan Usia Tua Pada Gangguan Pendengaran dan Keseimbangan Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit dimana kadar glukosa serum tinggi terkait defisiensi insulin relative maupun absolute. Diabetes mellitus sampai sekarang merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan manajemen pengobatannya difokuskan pada pencegahan terjadinya komplikasi kronik.1

Penebalan membran basal pada endotel vaskuler merupakan salah satu kelainan yang paling sering pada DM yang dikenal juga dengan diabetic microangiopathy. Selain itu juga ditemukan kelainan saraf sensoris dengan karakteristik berupa kerusakan pada sel schwann dan akson serta degenerasi myelin.2,3 Angiopathy bisa terjadi secara langsung terkait fungsi pendengaran berupa hambatan suplai pembuluh darah koklea dan mengurangi transpor nutrien terkait penebalan dinding kapiler darah sehingga menyebabkan iskemia koklea yang mengakibatkan degenerasi luas pada sel-sel ganglion stria vaskularis dan ligamen spiralis serta secara tidak langsung berupa degenerasi nervus kranial 8 terkait kekurangan pasokan darah yang terjadi.4,5 Melalui serangkaian penelitian lain juga ditemukan terjadinya patologi berupa penebalan dinding kapiler stria vaskularis dan mediolus hingga 10 sampai 20 kali pada penderita DM. Dengan penebalan dinding kapiler ini, maka secara otomatis akan terjadi pengurangan ukuran lumen pembuluh darah yang tentu saja akan mempengaruhi arteri internal auditory. Degenerasi saraf juga berperan dalam terjadinya proses gangguan pendengaran. Terjadi atrofi ganglion spiralis dan penurunan jumlah serat saraf pada lamina spiralis. Oleh karena itu, hasil dari penelitian tersebut ialah ditemukannya hubungan antara gangguan pendengaran yaitu berupa hilangnya pendengaran (tuli sensorineural) dengan DM.3 Berdasarkan data tadi, didapatkan pula bahwa 80% dari penderita tuli sensorineural menderita tinnitus terkait rusaknya sel saraf maupun sel rambut. Sementara keterkaitan antara hipertensi dengan gangguan pendengaran dan tinnitus juga terkait dengan vaskularisasi koklea. Pada hipertensi kronik dapat terjadi trombosis, emboli, vasospasme, yang tentunya dapat terjadi dengan adanya faktor lipid yang kurang baik pula. Reduksi dari oksigenasi pada koklea sangat berpengaruh pada hambatan vaskularisasi ini. Akibat adanya hambatan pada vaskularisasi koklea ini, dapat terjadi iskemia koklea yang pada akhirnya dapat mengakibatkan terjadinya kehilangan pendengaran tuli sensorineural dan tinnitus.6

Pada gangguan keseimbangan, sebagaimana organ lainnya, sistem vestibuler sangat sensitif terhadap perubahan konsentrasi oksigen dalam darah, oleh karena itu perubahan aliran darah yang mendadak biasanya akibat sumbatan dapat menimbulkan vertigo. Sklerosis seringkali terjadi pada salah satu cabang dari arteri auditiva interna terkait DM dan hipertensi. Dengan demikian bila ada perubahan konsentrasi oksigen, maka hanya satu sisi saja yang mengadakan penyesuaian, akibatnya terdapat perbedaan elektropotensial antara vestibuler kanan dan kiri. Akibatnya akan terjadi serangan vertigo5. Pada hilangnya pendengaran dan gangguan keseimbangan terkait DM dan hipertensi ini, tatalaksana yang biasanya diberikan ialah pemberian kortikosteroid, vasodilator (papaverine, procaine, niacin, dan carbogen). Adapun pada usia tua, kehilangan pendengaran paling sering akibat proses degenerasi. Kelainan ini disebut presbikusis yaitu tuli sensorineural yang umumnya terjadi mulai usia 65 tahun. Degenerasi ini diduga mempunyai hubungan dengan faktor-faktor herediter, pola makan, metabolisme, arteriosklerosis, infeksi, bising, gaya hidup, atau bersifat multifaktor. Menurunnya fungsi pendengaran secara berangsur merupakan efek kumulatif dari pengaruh-pengaruh faktor tersebut di atas. Progresifitas penurunan pendengaran dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin, pada laki-laki lebih cepat dibandingkan dengan perempuan.5 Patologi dari kelainan ini yaitu proses degenerasi yang menyebabkan perubahan struktur koklea dan N. VIII. Pada koklea perubahan yang mencolok ialah atrofi dan degenerasi sel-sel pada organ korti. Proses atrofi disertai dengan perubahan vaskuler juga terjadi pada stria vaskularis. Selain itu terdapat perubahan, berupa berkurangnya jumlah dan ukuran sel-sel ganglion dan saraf. Hal yang sama terjadi juga pada myelin akson saraf. Berdasarkan perubahan patologik yang terjadi, Schuknecht dkk menggolongkan presbikusis menjadi 4 jenis yaitu, (1) sensorik, (2) neural, (3) metabolik, dan (4) mekanik. Gejala klinis utama presbikusis berupa berkurangnya pendengaran secara perlahan-lahan dan progresif, simetris pada kedua telinga. Keluhan lainnya adalah telinga berdenging. Pasien dapat mendengar suara percakapan, tetapi sulit untuk memahaminya terutama bila diucapkan di tempat dengan latar belakang yang bising (cocktail party deafness). Bila intensitas suara ditinggikan akan timbul rasa nyeri di telinga, akibat faktor kelelahan saraf (recruitment) Pada pemeriksaan otoskopik, tampak membran timpani suram. Pada tes penala didapatkan tuli sensorineural. Pemeriksaan audiometri nada murni menunjukkan suatu tuli saraf nada tinggi, bilateral, dan simetris. Penatalaksanaan yang dilakukan yaitu dengan pemasangan alat bantu dengar dan dikombinasikan dengan latihan membaca ujaran serta latihan mendengar. Selain tuli sensorineural akibat degenerasi, dapat pula terjadi tuli konduktif terkait degenerasi, hanya saja prevalensinya sangat sedikit. Pada tuli konduktif degenerasi, bagian telinga luar dan tengah dapat terjadi perubahan berupa, (1) berkurangnya elastisitas dan bertambah besarnya ukuran pinna daun telinga, (2) atrofi dan bertambah kakunya liang telinga, (3 ) penumpukan serumen, (4) membran timpani bertambah tebal dan kaku, (5) kekakuan sendi tulang-tulang pendengaran.

Pada usia lanjut kelenjar-kelenjar serumen mengalami atrofi, sehingga produksi kelenjar serumen berkurang dan menyebaban serumen menjadi lebih kering, sehingga sering terjadi tumpukan serumen yang akan mengakibatkan tuli konduktif. Membran timpani yang bertambah tebal dan kaku juga akan menyebabkan gangguan konduksi, demikian pula halnya dengan kekakuan yang terjadi pada persendian tulang-tulang pendengaran.

Diabetes, Hipertensi, dan Gangguan Pendengaran


Ditulis oleh Administrator Dilihat: 158

Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik dan berpotensi menimbulkan angiopati dan neuropati. Neuropati atau kerusakan saraf ini, dapat mengenai saraf manapun, termasuk telinga. Bila neuropati ini terjadi di telinga maka akan menyebabkan penurunan pendengaran dengan ciri-ciri progresif lambat, bilateral simetrik, berjenis sensorineural terutama frekuensi tinggi. Hubungan hipertensi dan gangguan pendengaran masih dalam penelitian. DM dan hipertensi mempunyai efek sinergis dalam menimbulkan penurunan pendengaran sensorineural. Sebenarnya hubungan antara diabetes tipe dua dan penurunan pendengaran telah diketahui bertahun-tahun. Oleh karena itu, para penderita diabetes diharapkan melakukan tes pendengaran secara teratur.

Penurunan pendengaran sensorineural disebabkan oleh gangguan atau lesi pada telinga bagian dalam dan atau N.VIII. Sesuai dengan lokasi lesi, penurunan pendengaran sensorineural dibedakan menjadi tipe koklear dan retrokoklear. Apabila lesi ditemukan pada organ korti, maka disebut

penurunan pendengaran sensorineural tipe koklear, sedangkan apabila lesi terletak pada nervus koklearis (N.VIII), maka disebut penurunan pendengaran sensorineural tipe retrokoklear.1 Gangguan pendengaran tipe campuran juga dapat ditemukan pada penderita DM yaitu apabila ada kelainan pada telinga tengah atau telinga luar.

Insiden gangguan pendengaran pada DM dan hipertensi sangat bervariasi. Tahun 1962 ditemukan 45% kasus gangguan pendengaran pada penderita DM. Pada tahun 1975 dilaporkan 55% penderita diabetes dengan neuropati perifer memiliki gangguan pendengaran sensorik. Pada penelitian tahun 1988 menunjukan terdapat perbedaan signifikan gangguan pendengaran pada kelompok hipertensi dibandingkan yang tidak. Selain itu ditemukan insidens tinitus lebih tinggi pada kelompok hipertensi. Sementara itu penelitian pada tahun 1975 memperlihatkan hubungan sejumlah faktor resiko kardiovaskular termasuk tekanan darah, dan mendapatkan hubungan yang tidak signifikan dengan gangguan pendengaran.

Patofisiologi DM & Gangguan Pendengaran Teori mekanisme terjadinya gangguan pendengaran pada penderita diabetes mellitus adalah mikroangiopati, neuropati, atau kombinasi keduanya. Proses kejadian mikroangiopati diabetika adalah:

* Penebalan membrana basalis pembuluh darah kapiler yang mengakibatkan penyempitan lumen kapiler * Perubahan hemodinamik dari organ yang bersangkutan * Perubahan viskositas darah dan fungsi trombosit

Mikroangiopati juga dialami pembuluh darah di telinga dalam. Mikroangiopati pada labirin terutama mengenai stria vaskularis, arteri auditiva interna, dan pembuluh darah pada modiolus. Arteri-arteri ini merupaka end artery yang tidak mempunyai pembuluh darah anastomosis. Akibat dari mikroangiopati organ korti akan terjadi atrofi dan berkurangnya sel rambut. Sedangkan neuropati terjadi akibat mikroangiopati pada vasa nervosum nervus VIII dan vasa pada ligamentum spirale yang berakibat atrofi ganglion spirale dan demielinisasi serabut saraf VIII. Pada sumber lain dikatakan, sel-sel rambut mengalami atrofi akibat akumulasi bahan-bahan toksik hasil metabolisme pada endolimfe akibat terganggunya absorpsi oleh pembuluh darah sekitar sakus endolimfatikus.

Hubungan antara diabetes dan ketulian salah satunya adalah neuropati atau kerusakan saraf, yang merupakan komplikasi umum yang dialami penderita diabetes. Tingginya kadar gula darah dapat menyebabkan perubahan kimiawi pada nervus tubuh yang dapat merusak kemampuan untuk mentransmisikan sinyal. Ketika kerusakan saraf ini terjadi pada sistem persarafan telinga, seseorang dapat mengalami masalah pendengaran dan pemahaman dalam bicara.

Gangguan pendengaran pada DM terutama terjadi pada frekuensi tinggi. Hal ini berkaitan dengan kurangnya glikogen jaringan sebagai sumber energi pada penderita DM. Proses transduksi pada organ korti membutuhkan energi (ATP) yang bersumber dari glikogen. Patofisiologi Hipertensi & Gangguan Pendengaran

Adanya hipertensi akan mengakibatkan iskemia yang disebabkan spasme pembuluh darah atau karena proses arteriosklerosis sehingga lumen dari pembuluh darah menjadi sempit, dan otot dari lapisan media menjadi atrofi. Penyempitan lumen pembuluh darah ini menyebabkan penurunan perfusi jaringan dan penurunan kemampuan sel otot untuk beraktivitas, selanjutnya akan terjadi hipoksia jaringan yang menyebabkan kerusakan sel-sel rambut. Mekanisme inilah yang dianggap sebagai penyebab gangguan pendengaran sensorik pada hipertensi. Pada penelitian binatang dibuktikan terdapat peninggian rata-rata kehilangan sel rambut koklea pada tikus diabetik hipertensi jika dibandingkan dnegan tikus diabetik normotensi dan tikus non diabetik normotensi.1,3

Gangguan Vaskular & Tinitus

Tinitus dapat disebabkan oleh gangguan vaskuler di telinga tengah, seperti tumor karotis, maka aliran darah akan mengakibatkan tinitus juga. Pada hipertensi endolimfatik seperti pada penyakit meniere dapat terjadi tinitus pada nada rendah atau tinggi sehingga terdengar bergemuruh atau berdengung. Gangguan ini disertai dengan tuli sensorineural dan vertigo. Gangguan vaskuler koklea terminal yang terjadi pada pasien yang stres akibat gangguan keseimbangan endokrin, seperti menjelang menstruasi, hipometabolisme atau saat hamil, dapat timbul tinitus dan gangguan tersebut akan hilang bila keadaanya normal kembali.

Tinitus yang disebabkan gangguan vaskular biasanya bersifat tinitus yang pulsatil. Akan didengar bunyi yang simetris dengan denyut nadi dan detak jantung. Kelainan vaskular yang dapat menyebabkan tinitus diantaranya:

a. Atherosklerosis Dengan bertambahnya usia, penumpukan kolesterol dan bentuk-bentuk deposit lemak lainnya, pembuluh darah mayor ke telinga tengah kehilangan sebagian elastisitasnya. Hal ini mengakibatkan aliran darah menjadi semakin sulit dan kadang-kadang mengalami turbulensi sehingga memudahkan telinga untuk mendeteksi iramanya.

b. Hipertensi Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan gangguan vaskuler pada pembuluh darah koklea terminal. Sementara keterkaitan antara hipertensi dengan gangguan pendengaran dan tinnitus juga terkait dengan vaskularisasi koklea. Pada hipertensi kronik dapat terjadi trombosis, emboli, vasospasme, yang tentunya dapat terjadi dengan adanya faktor lipid yang kurang baik pula. Reduksi dari oksigenasi pada koklea sangat berpengaruh pada hambatan vaskularisasi ini. Akibat adanya hambatan pada vaskularisasi koklea ini, dapat terjadi iskemia koklea yang pada akhirnya dapat mengakibatkan terjadinya kehilangan pendengaran tuli sensorineural dan tinnitus.5

c. Malformasi kapiler Sebuah kondisi yang disebut AV malformation yang terjadi antara koneksi arteri dan vena dapat menimbulkan tinitus. d. Tumor pembuluh darah Kelainan Metabolik dan Tinitus1 Kelainan metabolik juga dapat menyebabkan tinitus. Seperti keadaan hipertiroid dan anemia (keadaan dimana viskositas darah sangat rendah) dapat meningkatkan aliran darah dan terjadi turbulensi sehingga memudahkan telinga untuk mendeteksi irama, atau yang kita kenal dengan tinitus pulsatil. Kelainan metabolik lainnya yang bisa menyebabkan tinitus adalah defisiensi vitamin B12, begitu juga dengan kehamilan dan keadaan hiperlipidemia.

Diabetes dan Tinitus Telinga bagian dalam, seperti halnya otak, tidak memiliki energi cadangan. Metabolismenya bergantung secara langsung dari suplai oksigen dan glukosa yang berasal dari perdarahan. Oleh karena itu, gangguan metabolisme glukosa berpotensi tinggi menyebabkan gangguan kerja pada telinga bagian dalam. Pada penelitian menunjukan bahwa 84 hingga 92 % penderita tinnitus memiliki kelainan metabolik yang disebut hiperinsulin. Tinitus yang disebabkan oleh diabetes dapat dijaga dengan mempertahankan kadar glukosa.

Gangguan Vaskular dan Vertigo Sistem vestibuler sangat sensitif terhadap perubahan konsentrasi O2 dalam darah, oleh karena itu perubahan aliran darah yang mendadak dapat menimbulkan vertigo. Vertigo tidak akan timbul bila hanya ada perubahan konsentrasi O2 saja, tetapi harus ada faktor lain yang menyertainya, misalnya sklerosis pada salah satu auditiva interna, atau salah satu arteri tersebut terjepit. Dengan demikian bila ada perubahan konsentrasi O2, hanya satu sisi saja yang mengadakan penyesuaian, akibatnya terdapat perbedaan elektro potensial antara vestibuler kanan dan kiri akibatnya akan terjadi serangan vertigo. Perubahan konsentrasi O2 dapat terjadi misalnya pada hipertensi, hipotensi, spondiloartrosis servikal. Pada kelainan vasomotor mekanisme terjadinya vertigo disebabkan oleh karena perbedaan perilaku antara arteri auditiva interna kanan dan kiri, sehingga menimbulkan perbedaaan potensial antara vestibuler kanan dan kiri.

Daftar Pustaka 1. Prihantara YS. Kurnag Pendengaran Sensorineural Pada Penderita Diabetes Melitus. Semarang. 2002. Diunduh dari http://eprints.undip.ac.id/12246/ pada 7 Maret 2011. 2. Soepardi EA dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Edisi Keenam. Jakarta:Balai Penerbit FKUI. 2007. 3. Robbins SL, Cotran RS, Kumar V. Pathologic basis of disease. 3rd ed. Philadelphia:WB Sauders co;1991 4. Diniz TH, Huida HL. Hearing loss in patients with diabetes mellitus. Sao Paolo: Brazilian Journal of Otorhynolaringology.2009;75 (4):56-63 5. Mathur NN, Carr MM. Inner sudden hearing loss. E-medicine.medscape.com.2009