Anda di halaman 1dari 41

TUBERKULOSIS PARU PADA PASIEN LANJUT USIA DENGAN PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA DI PUSKESMAS KECAMATAN PENJARINGAN PERIODE 21 JANUARI

- 22 FEBRUARI 2013
Oleh : Yodi Ertandri 110.2007.299
Pembimbing : DR. Dr. Artha Budi Susila Duarsa, M. Kes

IDENTITAS PASIEN
Nama Jenis Kelamin Umur Agama Alamat Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan No. Rekam Medis Puskesmas Tanggal berobat : Tn. S : Laki-laki : 62 tahun : Islam : Teluk Intan Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara : Jawa : Sekolah Dasar : Tukang Becak : 2987 : Puskesmas Kecamatan Penjaringan : 29 Januari 2013

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke bagian poli umum Puskesmas Kecamatan Penjaringan dengan keluhan batuk batuk sejak 3 bulan sebelum masuk Puskesmas. Pasien juga merasakan nafas terasa sesak dan demam juga dirasakan. Pasien merasakan berat badannya turun dan setiap malam sering berkeringat dingin. Pasien mengatakan belum pernah berobat batuk dan baru kali ini merasakan keluhan seperti ini.

Pasien sebelumnya ingin sekali berobat tetapi tidak memiliki biaya dan belum memiliki KTP Jakarta. Pasien mengatakan di rumah tidak ada yang mengalami keluhan yang sama seperti pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu Diabetes Mellitus (-) Hipertensi (-) Penyakit Jantung (-) Riwayat Penyakit Keluarga (-)

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien bekerja setiap harinya sebagai tukang becak di daerah pasar teluk gong, sehariharinya pasien bisa mendapatkan Rp.30.000,00 50.000,00. Pasien tinggal di rumah sendiri bersama isteri dan anaknya. Isteri pasien tidak bekerja dan anak pasien bekerja sebagai kuli bangunan di pasar, seharinya bisa mendapatkan uang kurang lebih Rp.30.000,00. Pasien tinggal di rumah sendiri.

Riwayat Kebiasaan Pasien memiliki kebiasaan merokok, dalam seharinya pasien bisa menghabiskan 1 bungkus rokok. Pasien merokok di rumah dan di tempat kerjanya.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign Tekanan darah Respirasi Nadi Suhu

: tampak sakit sedang : compos mentis : 110/70 mmHg : 26 x/menit : 83 x/menit : 36,9oC

Status Gizi Berat badan Tinggi badan Status Gizi (IMT)

: 49 kg : 167 cm : 18, 256 (Gizi Kurang)

Status Generalis Kepala Bentuk : normocephal Rambut : hitam beruban, mudah dicabut Mata : konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-) pupil bulat, isokor, refleks cahaya (+/+) Telinga : bentuk normal, tidak terdapat serumen Hidung : septum tidak deviasi, tidak terdapat sekret Tenggorokan : tidak hiperemis Mulut : bibir tidak sianosis, lidah tidak kotor Leher : Pembesaran KGB (-), deviasi trachea (-)

Thorak Inspeksi

Palpasi

Perkusi
Auskultasi

: Kedua hemithoraks simetris saat statis dan dinamis : Fremitus taktil dan vokal simetris statis dan dinamis, ictus cordis tidak teraba. : Sonor seluruh lapangan paru, peranjakan paru (+) : Vesikuler seluruh lapangan paru, rhonki (-), wheezing (-), bunyi jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi

Ekstremitas

: perut datar, simetris : bising usus (+) : nyeri tekan epigastrium (-), hepar dan lien tidak teraba : timpani diseluruh lapang abdomen, shifting dullness (-) : akral hangat, edema (-), sianosis (-)

Berkas Keluarga Profil Keluarga Karakterisktik Keluarga Identitas Kepala Keluarga Nama : Tn. N Usia : 62 Tahun Identitas Istri Nama : Ny. E Usia : 60 tahun Identitas Anak Nama : Tn. A Usia : 38 tahun

Struktur komposisi keluarga

Kepemilikan barang-barang berharga Keluarga pasien memiliki kendaraan sepeda motor kredit yang di beli oleh anak pasien dan belum lunas. Pasien juga memiliki TV berukuran 10 inchi dan radio. Anak pasien memiliki telepon genggam.

Penilaian Perilaku Kesehatan Keluarga Tempat Berobat : Puskesmas Kecamatan Penjaringan Asuransi/Jaminan Kesehatan : Kartu Jakarta Sehat

Pola Konsumsi Makanan Keluarga Kebiasaan makan Tn. S mempunyai pola makan yang tidak teratur. Tn. S dapat makan sebanyak satu sampai tiga kali sehari dengan menu makanan yang bervariasi. Istri pasien hanya memasak bila suami pasien ada dirumah. Bila suami diluar, maka istri membeli makan untuk dirinya sendiri di luar.

Menerapkan pola gizi seimbang Menu makanan Tn. S yang selalu ada setiap harinya ialah nasi dan jengkol. Disertai menu makanan lainnya seperti tahu, tempe,telur dan sayuran seperti kembang kol, kangkung dan toge.

Pola makan pasien tiga hari terakhir ialah : Tanggal 26 Januari 2013 Pagi : kopi hitam manis Siang : tidak makan siang Malam : nasi, tahu, tempe Tanggal 27 Januari 2013 Pagi : bubur ayam Siang : nasi, ayam, sayur Malam : nasi, telur, sayur Tanggal 28 Januari 2013 Pagi : kopi, roti Siang : nasi, tahu, tempe Malam : nasi, tahu, tempe

Pola Dukungan Keluarga Faktor pendukung terselesainya masalah dalam keluarga Pasien ingin sekali berobat, dan skarang bisa berobat semenjak pasien memiliki kartu sehat. Istri pasien selalu mendorong pasien untuk berobat. Faktor penghambat terselesainya masalah dalam keluarga Anak pasien tidak memperhatikan pasien dan tidak membantu pasien untuk berobat. Pasien yang pada awalnya belum memiliki kartu sehat takut akan biaya pengobatan yang mahal.

Genogram Bentuk Keluarga Bentuk keluarga ini adalah keluarga inti (nuclear family) dimana terdiri dari suami (Tn. S), istri (Ny. E) dan anak (Tn. A) yang tinggal dalam satu rumah.

Tahapan Siklus Keluarga Menurut Duvall (1977) dikutip dalam Friedman (1998), keluarga Tn. S berada pada tahapan siklus keluarga yang ke tujuh, yaitu keluarga orang tua usia pertengahan (middle-anged family).

Masalah dalam fungsi biologis Keluarga pasien tidak ada memiliki riwayat penyakit sebelumnya. Masalah dalam fungsi psikologi Pasien dan istri pasien tinggal dirumah sendiri dan daerah yang kumuh, sedangkan anak pasien sibuk dengan kesibukannya. Pasien merupakan pasangan suami istri yang sudah lansia, dan anak pasien tidak ada memperhatikan orang tuanya semenjak anak pasien bercerai dengan istrinya.

Masalah dalam fungsi ekonomi Pasien masih bisa bekerja dan dengan penghasilannya dalam sehari bisa mencukupi biaya kebutuhan sehari-hari. Sedangkan anak pasien bekerja penghasilannya untuk dia sendiri dan jarang membantu orang tuanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Masalah lingkungan Pasien tinggal di lingkungan yang padat dan kumuh. Pasien tinggal di tanah ilegal.

Masalah perilaku kesehatan Pasien memiliki kebiasaan merokok, dalam sehari pasien bisa menghabiskan 2 sampai 3 batang rokok. Tetapi semenjak keluhan batuk pasien tidak kunjung sembuh pasien mengurangi merokoknya dan ingin sekali berobat ke Puskesmas.

Diagnosis Holistik Aspek Personal Alasan kedatangan : Pasien datang berobat ke puskesmas dengan keinginan sendiri, karena pasien sudah memiliki kartu sehat dengan pembayaran yang gratis Harapan : Pasien memiliki harapan supaya penyakit batukbatuknya sembuh dan pasien bisa bekerja seperti biasa. Kekhawatiran : Pasien memiliki kekhawatiran batuknya tidak kunjung sembuh dan apabila ingin berobat pasien takut akan mengeluarkan biaya yang banyak.

Aspek Klinik Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang disimpulkan sebagai berikut : Diagnosis kerja : Tuberkulosis Paru Diagnosis banding :

Aspek Risiko Internal Genetik : Pasien tidak memiliki kelainan atau penyakit menurun dari orang tua pasien. Pola makan : Pola makan pasien cukup memenuhi pola gizi seimbang Kebiasaan : Pasien memiliki kebiasaan merokok sudah dari umur sekolah. Dalam sehari pasien bisa menghabiskan rokok sampai 3 batang dan semenjak keluhan batuk pasien tidak kunjung hilang, pasien berhenti merokok dan ingin berobat.

Spiritual : Pasien tahu dan percaya bahwa penyakit yang di alaminya adalah cobaan dari Allah SWT. Pasien selalu bersabar dan bertawakal. Dan sekarang pasien sering berusaha dan berdoa agar penyakitnya ini cepat sembuh.

Aspek Psikososial Keluarga Faktor pendukung kesehatan pasien yang berasal dari keluarga ialah adanya dukungan dari istri pasien dengan menjaga pola makan pasien. Pasien juga sekarang memiliki kartu sehat untuk pengobatan. Faktor penghambat kesehatan pasien yang berasal dari keluarga ialah kurangnya perhatian dari anak pasien terhadap penyakit pasien. Hal ini dikarenakan kurangnya komunikasi antara pasien dan anakya yang sibuk dengan urusannya.

Aspek Fungsional Menurut skala ECOG pasien termasuk derajat 1 dimana pasien mampu melakukan pekerjaan ringan sehari-hari seperti pekerjaan rumah.

Analisa Kasus Aspek Personal Keluhan yang dirasakan pasien semakin lama semakin hebat dan tidak kunjung sembuh. Pasien tidak bisa berobat karena takut biaya tidak mencukupi. Pasien juga takut penyakitnya ini menular ke istri dan anaknya. Pasien memiliki keinginan untuk berobat dan memiliki harapan untuk sembuh dan menjalankan hidupnya seperti biasa.

Dari kesehariannya pasien tidak memiliki penyakit dan bekerja sebagai tukang becak di pasar teluk gong. Istri pasien selalu mendukung pasien agar selalu berobat. Pasien setiap harinya bisa makan 2 sampai 3 kali sehari. Puskesmas menganjurkan pasien untuk memakai masker dan setiap batuk atau bersin pasien selalu menutup mulutnya.

Aspek Klinik Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang didapatkan keluhan batuk- batuk yang lama dan nafas terasa sesak. Pasien tidak pernah pengobatan batuk lama sebelumnya. Berat badan pasien semakin lama semakin menurun tanpa sebab, dan sering berkeringat dingin.

Pasien setelah berobat ke puskesmas dan dilakukan pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil tes BTA (+) pada pemeriksaan sewaktu pagi sewaktu. Maka rencana penatalaksanaan pada pasien ialah pengobatan tuberculosis paru kategori I dengan menggunakan Rifampicin 2x1 tablet, isoniazid 1x1 tablet, pirazinamid 1x1 tab, etambutol 1x1 tablet. Untuk batuk berdahak ambroxol 2x1 tablet dan demam paracetamol 3x1 tablet.

Aspek Risiko Internal Aspek risiko internal yang perlu diperhatikan adalah pola makan, genetic dan faktor kebiasaan. Maka rencana penatalaksanaan menjelaskan pola makan sehat dan memberi motivasi untuk berusaha menjaga kesehatan dengan rajin kontrol dan minum obat secara teratur. Dengan hasil yang diharapkan pasien ingin kontrol dan minum obat secara teratur.

Aspek Psikososial keluarga Kurangnya komunikasi antara pasien dan anaknya menyebabkan kurangnya perhatian dari anak pasien terhadap penyakit pasien.
Maka rencana pelaksanaan menjelaskan kepada anak pasien agar lebih memberikan dukungan dan perhatian dan menjelaskan kepada anak pasien mengenai penyakit pasien. Dengan hasil yang diharapkan anak pasien lebih memperhatikan dan memberikan dukungan kepada pasien.

Aspek Fungsional Menurut skala ECOG pasien termasuk derajat 1 dimana pasien mampu melakukan pekerjaan ringan sehari-hari seperti pekerjaan rumah. Dengan rencana pelaksanaan menyarankan pasien untuk tetap melakukan olahraga dan ativitas sehari-hari seperti biasa sesuai kemampuan. Dengan hasil yang diharapkan pasien dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Prognosis Ad vitam Ad sanasionam Ad fungsionam

: ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam