Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum Fisiologi Pemeriksaan Fungsi Indera Pendengaran

Disusun oleh: Nama NIM Kelompok : ENGGIE CORVI BAHARI : 41110002 :4

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA YOGYAKARTA 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pendengaran adalah salah satu dari sistem indra yang dimiliki oleh manusia. Sistem pendengaran manusia memiliki fungsi yang vital bagi kehidupan manusia sendiri. Inisiasi belajar bicara dimulai dari kemampuan manusia untuk mendengar. Selain itu sistem pendengaran memiliki fungsi vital seperti menerima semua rangsangan dari luar tubuh yang bersifat audible, yang kemudian akan di transformasikan ke otak dalam bentuk informasi tertentu. Suara adalah sensasi yang timbul apabila getaran longitudinal molekul di lingkungan e ksternal, yaitu masa pemadatan dan pelonggaran molekul yang terjadi berselang seling me ngenai memberan timpani. Plot gerakan-gerakan ini sebagai perubahan tekanan di member an timpani persatuan waktu adalah satuan gelombang, dan gerakan semacam itu dalam lin gukangan secara umum disebut gelombang suara. Secara umum kekerasan suara berkaitan dengan amplitudo gelombang suara dan nada berkaitan dengan prekuensi (jumlah gelomb ang persatuan waktu). Semakin besar suara semakin besar amplitudo, semakin tinggi freku ensi dan semakin tinggi nada. Namun nada juga ditentukan oleh factor - faktor lain yang b elum sepenuhnya dipahami selain frekuensi dan frekuensi mempengaruhi kekerasan, karen a ambang pendengaran lebih rendah pada frekuensi dibandingkan dengan frekuensi lain. Gelombang suara memiliki pola berulang, walaupun masing - masing gelombang bersi fat kompleks, didengar sebagai suara musik, getaran apriodik yang tidak berulang menyeb abakan sensasi bising. Sebagian dari suara musik bersala dari gelombang dan frekuensi pri mer yang menentukan suara ditambah sejumla getaran harmonik yang menyebabkan suara memiliki timbre yang khas. Variasi timbre mempengaruhi mengetahhi suara berbagai alat musik walaupun alat tersebut memberikan nada yang sama. (Ganong, WF.1999. Fisiologi Kedokteran. Ed 14. Jonathan Oswari. Penerbit Buku Kedokt eran. EGC. Jakarta)

B. Tujuan 1. Mahasiswa mampu menguji kepekaan indra pendengar 2. Mahasiswa mampu mengetahui jenis- jenis ketulian

BAB II DASAR TEORI

Mendengar adalah kemampuan untuk mendeteksi vibrasi mekanis (getaran) yang kita sebut suara. Dalam keadaan biasa, getaran mencapai indera pendengar, yaitu telinga, melalui udara. Pendengaran adalah persepsi saraf mengenai energi suara. Gelombang suara adalah getaran udara yang merambat dan terdiri dari daerah-daerah bertekanan tinggi karena kompresi (pemampatan) molekul udara yang berselang-seling dengan daerah-daerah bertekanan rendah karena penjarangan molekul tersebut. Fungsi sistem auditori adalah mempersepsi bunyi atau persepsi tentang objek dan kejadian-kejadian melalui bunyi yang timbul. Bunyi adalah vibrasi molekul-molekul udara yang menstimulasi sistem auditori. Manusia hanya mendengar vibrasi molekuler antara sekitar 20 sampai 20.000 hertz. Tiap gelombang suara memiliki amplitudo dan frekuensi yang berbeda. Amplitudo adalah intensitas suara. Kompresi udara dengan intensitas tinggi menghasilkan gelombang suara dengan amplitudo yang besar. Kenyaringan adalah persepsi intensitas yang berkaitan dengan amplitudo, tetapi keduanya adalah hal yang berbeda. Ketika amplitudo meningkat dua kali lipat, maka kenyaringannya meningkat. Kenyaringan ditentukan oleh banyak faktor. Frekuensi suara adalah jumlah kompresi per detik, diukur dengan Hertz (Hz, siklus perdetik). Tinggi nada (pitch) adalah persepsi yang berkaitan erat dengan frekuensi. Oleh karena itu semakin tinggi suara semakin tinggi pula tinggi nada nya. Berdasarkan teori frekuensi, membran basilar bergetar secara sinkron dengan suara yang menyebabkan saraf auditori menghasilkan potensial aksi pada frekuensi yang sama. Berdasarkan teori tempat, setiap frekuensi akan mengaktivasi membran basilar pada sel-sel rambut yang ada dalam satu lokasi. Membran basilar bekerja layaknya dawai-dawai piano. Teori yang ada saat ini, merupakan gabungan dari teori frekuensi dan teori tempat. Sesuai dengan teori frekuensi, membran basilar memang bergetar secara sinkron dengan suara berfrekuensi rendah dan untuk tiap satu gelombang, akson saraf auditori akan menghasilkan satu potensial aksi. Suara pelan hanya mengaktivasi beberapa neuron, sedangkan suara yang kencang dapat mengaktivasi lebih banyak neuron. Adanya suatu suara akan menurunkan kemampuan seseorang mendengar suara lain. F enomena ini dikenal sebagai masking. Fenomena ini diperkirakan disebabkan oleh refrakter r elative atau absolute pada reseptor dan urat saraf pada saraf audiotik yang sebelumnya terans ang oleh ransangan lain. Tingkat suatu suara menutupi suara lain berkaitan dengan nadanya.

Kecuali pada lingkungan yang sangat kedap suara. Efek penyamaran suara akan meningkatan ambang pendengaran dengan besar yang tertentu dan dapat diukir. Penyaluran suara prosesn ya adalah telinga mengubah gelombang suara di lingkungan eksternal menjadi potensi aksi di saraf pendengaran. Gelombang diubah oleh gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran menjadi gerakan-gerakan lempeng kaki stapes. Gerakan ini menimbulkan gelombang dalam c airan telinga dalam. Efek gelombang pada organ Corti menimbulkan potensial aksi di serat-se rat saraf. (William F.Gannom,1998). Getaran suara ditangkap oleh telinga yang dialirkan ke telinga dan mengenai membra n timpani, sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang tulang pen dengaran yang berhubungan satu sama lain. Selanjutnya stapes menggerakan perilimfe dalam skala vestibuli kemudia getaran diteruskan melalui Reissner yang mendiring endolimfe dan memmbran basal ke arah bawah, kemudian perilimfe dalam skala timpani akna bergerak sehi ngga tingkap bundar (foramen rotundum) terdorong keluar. Rangsangan fiisk tadi diubah oleh adanya perbedan ion kalium dan ion natrium menjdi aliran listrik yang diteruskan ke cabang N VIII yang kemudian meneruskan rangsangan ke pusat sensori pendengaran di otak melalui saraf pusat yang ada di lobus temporalis. Untuk pengecekan terhadap suara, ada beberapa tes, antara lain: Tes Kepekaan Suara, Tes Rinne, Tes Weber, Tes Schwabach dan Tes Bing. Tes Rinne sendiri bertujuan untuk me mbandingkan antara hantara udara dengan hantaran tulang, pada Tes Rinne akan didapatkan 3 hasil, yaitu: Normal (tes rinne +), Tuli Konduksi (tes rinne -, getaran dapat didengar oleh tu lang lebih lama), Tuli Persepsi (penderita ragu ragu terhadap suara). Tes Weber bertujuan u ntuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga. Untuk hasilnya ada 2, yaitu: Bila terdengar lebih keras pada sisi kanan, disebut dengan lateralisasi kanan, disebut normal apabi la kiri dan kanan sama. Pada sisi lateralisasi kanan terdapat kemungkinan Tuli Konduksi kana n, Tuli Konduksi pada kedua telinga, Tuli Persepsi sebelah kiri, Tuli Persepsi pada kedua teli nga. Tes Schwabach bertujuan untuk membandingan kan daya hantar melalui tulang mastoid antara pemeriksa dan probandus. Hanya ada 2 hasil: mendengar suara atau tidak mendengar s uara. Tes Bing adalah efek oklusi, dimana garpu tala akan lebih keras bila telinga normal ditu tup. Jika lateralisasi ke telinga yang ditutup berarti normal, namun jika telinga yang ditutup ti dak bertambah keras, berarti menderita tuli konduktif.

BAB III METODOLOGI Alat: 1. Garpu Tala 341 Hz & 512 Hz 2. Jam Beker 3. Pita Ukur Cara Kerja 1. Pemeriksaan Kepekaan Indera Pendengaran

Ulangi 3x pada kedua probandus. Mata dan salah satu telinag ditutup kemudian dekatkan jam beker secara perlahan. 2. Pemeriksaan Jenis Ketulian a. Tes Rinne

Ulangi 3x Diletakkan pd procc.mastoideus naracoba didekatkan pada depan telinga b. Tes Weber Dengarkan suara di kiri dan kanan lateralisasi dimana.

c. Tes Schwabach

Didengarkan pd telinga kiri/kanan sampai suara hilang didengarkan pd orang normal d. Tes Bing Memperhatikan kerasnya suara.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Pemeriksaan Kepekaan Naracoba 1 Maria Aprilia Dini Nama 20 Umur (tahun) P Jenis Kelamin 165 Tinggi Badan (cm) 50 Berat Badan (kg)

Naracoba 2 Omegalia Prima 20 P 148 55

Naracoba 1

1. 2. 3.

Jam Beker diletakkan dari arah belakang kepala, suara mulai terdengar pada jarak (cm) Telinga Kiri (cm) Telinga Kanan (cm) 101 81 113 104 127 109

Naracoba 2

1. 2. 3.

Jam Beker diletakkan dari arah belakang kepala, suara mulai terdengar pada jarak (cm) Telinga Kiri (cm) Telinga Kanan (cm) 137 50 138 57 150 85

2. Pemeriksaan Jenis Ketulian Naracoba I dan Naracoba II Data naracoba Pertama I : Nama : Omegalia Prima Umur : 20 tahun Jenis Kelamin : P Tinggi Badan : 148 cm Berat Badan : 55 kg Percobaan Rinne Telinga Kiri Hantaran Udara: - Mendengar Tulang sudah - Tidak tak mendengar suara 1.+ 2.+ 3.+

Telinga Kanan Hantaran Tulang sudah tak Udara: - Mendengar mendengar suara - Tidak 1.+ 2.+ 3.+

Garpu tala dengan 512 Hz Percobaan Weber Telingan kanan & kiri Laterisasi ke telinga mendengar suara sama / Kiri Kanan tidak Sama Sama Sama Garpu tala dengan frekuensi 512 Hz Percobaan Schwabach Naracoba sudah tidak mendengar suara

Orang Pembanding Mendengar suara / tidak mendengar suara mendengar suara mendengar suara mendengar suara Garpu tala dengan frekuensi 512 Hz

Percobaan Bing Telinga Setelah liang telingan ditutup: - Mendengar lebih keras - Tidak ada perubahan 1. Lebih keras Kiri 2. Lebih keras 3. Lebih keras 1. Lebih keras Kanan 2. Lebih keras 3. Lebih keras Garpu Tala dengan frekuensi 512 Hz Data naracoba Kedua II : Nama : Enggie Corvie B Umur : 20 tahun Jenis Kelamin : L Tinggi Badan : 167 cm Berat Badan : 85 kg

Percobaan Rinne Telinga Kiri Hantaran Udara: - Mendengar Tulang sudah - Tidak tak mendengar suara 1.+ 2.+ 3.+ Garpu tala dengan 512 Hz

Telinga Kanan Hantaran Tulang sudah tak Udara: - Mendengar mendengar suara - Tidak 1.2.3.-

Percobaan Weber Telingan kanan & kiri Laterisasi ke telinga mendengar suara sama / Kiri Kanan tidak + Terdengar + Terdengar + Terdengar Garpu tala dengan frekuensi 512 Hz Percobaan Schwabach Naracoba sudah tidak mendengar suara

Orang Pembanding Mendengar suara / tidak mendengar suara Tidak mendengar suara Tidak mendengar suara Tidak mendengar suara Garpu tala dengan frekuensi 512 Hz

Percobaan Bing Telinga Setelah liang telingan ditutup: - Mendengar lebih keras - Tidak ada perubahan 1. Lebih keras Kanan 2. Lebih keras 3. Lebih keras 1. Tidak ada perubahan Kiri 2. Tidak ada perubahan 3. Tidak ada perubahan Garpu Tala dengan frekuensi 512 Hz

B. Pembahasan 1. Pemeriksaan kepekaan indra pendengaran kami mendapati hasil pada kedua naracoba sangat bervariasi. Dimana pada naracoba pertama kami mendapati hasil telinga kiri dan kanan memiliki perbedaan pendengaran yang tidak signifikan (AS= +/- 113 cm ; AD= +/- 98 cm) dimana pada hasil ini tidak mengindikasikan adanya penurunan kepekaan pendengaran. Sedangkan pada naracoba kedua kami mendapati hasil yang cukup jauh berbeda antara telinga kanan dan kiri (AS= 141 cm ; AD= +/- 64 cm). dimana pada hasil naracoba ke-2 meng-indikasikan adanya penurunan kepekaan pendengaran pada telinga kanan (Auricula dextra). Suara yang dapat didengar oleh manusia memiliki frekuensi antara 20-18.000 Hz. Selain dipengaruhi oleh jarak, kepekaan pendengaran dipengaruhi oleh kondisi kebisingan lingkungan sekitarnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa variasi hasil kepekaan yang didapat juga bisa di sebabkan karena keadaan ruangan yang tidak cukup hening. 2. Pemeriksaan jenis ketulian : a. Naracoba Pertama : Rinne Test Rinne adalah test yang digunakan untuk membandingkan hantaran melalui udara dan hantaran melalui tulang. Dari hasil percobaan didapatkan bahwa AC/ hantaran udara lebih bagus daripada hantaran tulang/ BC. pada percobaan rinne kami mendapati hasil bahwa hantaran udara lebih baik di bandingkan hantaran tulang. Hal ini terbukti dimana pada saat garpu tala sudah tidak terdengar saat di tempelkan di mastoideus tetapi, masih terdengar pada saat di pindahkan ke depan telinga. Hal ini menunjukan bahwa naracoba normal. Pada orang normal AC lebih baik daripada BC karena suara yang digetarkan lewat udara menuju gendang telinga memiliki kekuatan lebih baik jika dibandingkan dengan BC. Pada test Rinne bisa terjadi BC lebih baik daripada AC karena adanya kelainan pada telinga eksterna, dan media yang bisa menimbulkan tuli konduktif. Akan tetapi pada kondisi tuli konduktif test ini juga masih bisa menunjukkan nilai positif (Rinne +) apabila frekuensi bunyi < 30 dB. Weber Test Weber pada umumnya merupakan test pendengaran yang digunakan untuk membandingkan hantaran tulang telinga kiri dengan telinga kanan. pada percobaan ini kami mendapati pendengaran naracoba normal. Hal ini terbukti karena pada saat garpu tala di tempelkan pada os frontalis, suara garpu tala terdengra sama pada kedua telinga. Hal ini menunjukan tidak adanya lateralisasi dari pendengaran naracoba dan naracoba normal. Pada tuli konduktif (CHL), suara akan terdengar lebih keras pada telinga yang sakit, dan pada tuli sensori neural (SNHL) suara akan terdengar lebih keras pada telinga yang sehat. Hal ini terjadi karena pada CHL, hantaran tulang

(BC) lebih baik daripada hantaran udara (AC), dan pada SNHL, AC lebih baik daripada BC. Swabach Test Scwabah digunakan untuk membandingkan hantaran tulang probandus dengan pemeriksa. pada percobaan ini kami mendapati hasil saat naracoba sudah tidak mendengar suara garpu tala yang di tempelkan pada mastoideus, tetapi penguji masih mendengar suara garpu tala yang di tempelkan pada mastoideus penguji. Hal ini membuktikan bahwa naracoba normal karena hantaran suara melalui mastoideus naracoba tidak lebih panjang dari penguji yang di anggap normal. Pada tuli konduksi (CHL) akan didapatkan hasil yang memanjang. Sedangkan pada penderita tuli sensori neural (SNHL) dan suara yang dihasilkan akan memendek. Kelemahan dari sistem ini bersifat subyektif karena menganggap pemeriksa dalam kondisi normal. Bing pada pemeriksaan bing kami mendapati hasil bahwa naracoba mendengar suara garpu tala lebih keras pada saat salah satu telinga di tutup. Hal ini terjadi karena pada saat salah satu telinga di tutup maka suara dari luar (suara hantaran udara dari luar) tidak mengganggu suara garpu tala yang di hantarkan dari tulang. Maka dapat di katakan naracoba normal.

b. Naracoba kedua : Rinne pada pemeriksaan naracoba kedua kami mendapati bahwa naracoba mengalami gangguan pendengaran pada telinga kanan, hal ini terbukti ketika telinga sebelah kanan tidak dapat mendengar suara garpu tala saat garpu tala di pindah kan dari mastoideus ke depan telinga. Namun pada telinga sebelah kiri di dapati naracoba masih dapat mendengar suara garpu tala saat di pindahkan ke depan telinga. Sehingga dapat di katakan pasien mengalami CHL AD. Weber pada pemeriksaan weber kami mendapati naracoba ke-2 mengalami lateralisasi suara garpu tala pada telinga kanan. Hal ini membuktikan bahwa telinga kanan naracoba lebih peka terhadap hantaran suara melalui tulang dan dapat di katakan pasien mengalami CHL-AD. Swabach Pada pemeriksaan swabach naracoba 2 kami mendapati hasil bahwa setelah naracoba tidak lagi mendengar suara garpu tala dan di pindahkan ke mastoideus penguji, penguji tidak dapat mendengar suara garpu tala. Hal ini menunjukan bahwa hantaran suara melalui tulang naracoba lebih baik di banding penguji dan mengindikasikan naracoba mengalami CHL (conductive hearing loss) karena penguji di anggap normal.

Bing pada pemeriksaan bing telinga kiri naracoba di dapati bahwa naracoba mendengar suara yang sama / tidak berubah, baik pada saat sebelum maupun sesudah telinga kanan-nya di tutup. Hal ini membuktikan bahwa sejak awal pemeriksaan, suara garpu tala yang di dengar telinga kiri naracoba tidak terganggu oleh suara dari luar yang masuk melalui telinga kanan (suara hantaran udara) dengan kata lain sejak awal telinga kanan naracoba sudah mengalami gangguan hantaran udara (CHL-AD)

Bab V Kesimpulan 1. Uji kepekaan indra dapat di lakukan dengan melakukan test uji kepekaan jarak pendengaran, test Rinne, Weber, Bing, dan Schwabah. Interpretasi dalam test pendengaran : Test Rinne Positif Tidak lateralisasi Sama pemeriksa Negative Positif Lateralisasi ke telinga sakit Lateralisasi ke telinga sehat Memanjang memendek Tuli konduktif Tuli sensorineural dengan Normal Test Weber Test Schwabah Diagnosis

2. Pada pemeriksaan kepekaan indera pendengaran didapat hasil yang tidak signifikan antara kedua naracoba. Selain itu dikarenakan ruangan yang digunakan tidak hening, sehingga hasil yang didapat juga tidak dapat dipastikan. 3. Pada pemeriksaan jenis ketulian, di dapatkan bahwa naracoba 1 normal, sedangkan pada naracoba 2 di dapatkan telinga kanan mengalami gangguan pendengaran yaitu CHL-AD 4. Ada beberapa jenis ketulian diantaranya: a. Tuli konduktif b. Tuli sensori neural (perseptif) i. Tuli sensori neural koklea ii. Tuli sensori neural retro koklea iii. Tuli campuran

Daftar Pustaka 1. Ganong, WF.1999. Fisiologi Kedokteran. Ed 14. Jonathan Oswari. Penerbit Buku Ked okteran. EGC. Jakarta 2. Imron,Ali.1989.Pemeriksaan fungsi indera pendengaran, dalam Suwono(penyusun):Pe tunjuk Laboratorium Fisiologi Manusia,hal 84 99.PAU UNIVERSITAS GAJAH M ADA, Yogyakarta 3. Tuttle, W.Wdan Schottelius, Byron A. 1963. Physiology Laboratory Manual. The Mos by, SaintLouis.