Anda di halaman 1dari 45

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini. Selain itu, terima kasih kami ucapkan kepada Tim Dosen Blok DSP 2 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran yang telah memberikan arahan kepada kami dalam memperoleh data yang kami butuhkan. Makalah ini disusun untuk menambah pengetahuan khususnya tentang Pertumbuhan dan Perkembangan Gigi dan Oklusi. Selain itu makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah DSP 2 yang diberikan oleh Tim Dosen Blok DSP 2 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Tak ada gading yang tak retak. Oleh karena itu, kami mengharapakan kritik dan saran yang konstruktif mengenai makalah ini. Jatinangor, 16 Oktober 2013

Tutor 8

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ 1 BAB I .................................................................................................................................. 3 PENDAHULUAN .............................................................................................................. 3 BAB II................................................................................................................................. 4 KASUS : PASKALIS TEETH............................................................................................ 4 BAB III ............................................................................................................................... 5 PEMBAHASAN ................................................................................................................. 5 A. TUMBUH KEMBANG PRE ERUPSI ................................................................... 5 1. Pendahuluan Perkembangan dan Pertumbuhan Gigi ..................................... 5 2. Pembentukan Dentin ...................................................................................... 8 3. Pembentukan Emai......9 4. Pembentukan Akar ........................................Error! Bookmark not defined. B. 1. 2. 3. 4. 5. ERUPSI- OKLUSI .................................................Error! Bookmark not defined. Perubahan Jaringan di Sekitar Gigi pada Saat Erupsi ....................................... 16 Urutan Erupsi Gigi Sulung dan Gigi Permanen ................................................ 21 Oklusi ................................................................................................................ 23 Tahap Perkembangan Oklusi ............................................................................ 24 Maloklusi .......................................................................................................... 30

BAB IV ..............................................................................Error! Bookmark not defined. KESIMPULAN ..................................................................Error! Bookmark not defined. DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 45

BAB I PENDAHULUAN

Odontogenesis adalah proses terbentuknya jaringan gigi. Prosesini tidak terjadi pada yang bersamaan untuk semua gigi. Gigi dibentuk dari lapisan ektoderm, yaitu lapisan dari jaringan ektomesenkim.Ektomesenkim ini dibentuk dari neural crest cells. Sel ini terdapat disepanjang sisi lateral dari neural plate. Perkembangan gigi dimulai dengan pembentukan primary dental lamina yang menebal dan meluas sepanjang daerah yang akan menjadi tepi oklusal dari mandibula dan maksila dimana gigi akan erupsi. Dental lamina ini tumbuh dari permukaan ke mesenchyme di bawahnya. Bersamaan dengan perkembangan dari primary dental lamina, pada 10 tempat di dalam maxillary arch dan mandibular arch, beberapa sel dari dental lamina memperbanyak diri pada laju yanglebih cepat daripada yang lain, sehingga terbentuklah 10 tonjolan kecil dari sel-sel epithel terbentuk pada dental lamina dalam setiap rahang,yang merupakan calon benih gigi susu. Apabila terjadi beberapa gangguan pada proses pertumbuhan dan perkembangan gigi dan jaringan rongga mulut pendukung gigi, akan mengalami sejumlah kelainan yang akan mengakibatkan proses pertumbuhan dan perkembangan gigi dan jaringan rongga mulut pendukung gigi terganggu.

BAB II CASE: PASKALIS TEETH


During your circle in the Integration Clinic of RSGM, there was a patient, Paskalis, 11 years old. She came with her mother who was very concerned about her daughters teeth. She mentioned that most of her daughters friend at school were having appointments with their dentist to have their teeth removed and they had nice and white new teeth coming alongway. Paskaliss mother recalled the last time she saw a dentist for Paskaliss teeth was when she was about 8-8.5 years old. Dental history : her first baby teeth erupted when she was around 9 months old. Lower four anterior teeth were seen first, followed by upper anterior teeth. Next teeth in the row were lower back teeth. The mother could not remember at what age Paskalis hadall her baby teeth present in her mouth. Her permanent teeth started to erupt when she was around 7 years old. Some of her baby teeth came out by themselves, only a few needed a dentists help to have them taken out. Paskalis did not conume sweets or chocolates very often and she loved brushing her teeth. Extra oral examination: symmetrical, oval face. No anomalies can be observed. Intra oral examination: Permanent teeth present: 16,12,11,21,22,26,36,32,31,4,42,46 Deciduous teeth present: 55,54,53,63,64,65,75,74,73,83,84,85 16,46 and 26,36 have class I molar relationship; crossbite is existed in 11 and 41, overbite 25%, overjet is 1 mm in 21,41. Caries is found in 65, calculus can be seen in 26.

BAB III PEMBAHASAN

A. TUMBUH KEMBANG PRE ERUPSI 1. Pendahuluan Pertumbuhan dan Perkembangan Gigi Gigi tumbuh dari interaksi epitel-mesenkim antara epitel mulut di bagian atas dan mesenkim yang berasal dari krista neuralis dibawahnya. Mula-mula tampak sebagai penebalan epitil mulut pada waktu embrio berumur 6 minggu. Pada waktu itu lidah telah tumbuh dengan baik, tetapi bibir atas dan bawah masih belum terpisah. Penebalan tadi terjadi pada epitil ectoderm. Penebalan tadi kemudian masuk ke dalam jaringan mesenkim di bawahnya sepanjang rahang atas dan bawah. Penebalan tersebut disebut lamina dentalis. Di sebelah labial dan buccal dari penbalan tadi terjadi pula penebalan yang masuk ke dalam jaringan mesenkhim di bawahnya disebut lamina vestibularis yang nantinya akan menjadi vestibulum oris.

Setelah terbentuk lamina dentalis maka pada beberapa tempat di sebelah labial dan buccal secara berderet-deret terbentuk bangunan sebagai putik pada ujung lamina dentalis tersebut. Bangunan sebagai putik tadi disebut organ email. Tidak lama kemudian permukaan dalam tunas mengalami invaginasi, menghasilkan cap stage (stadium topi) pada pembentukan gigi. Topi ini terdiri dari satu lapisan luar, epitel gigi luar, satu lapisan dalam, epitel gigi dalam, dan bagian tengah berupa jaringan teranyam

longgar, retikulum selatum. Mesenkim yang berasal dari krista neuralis yang terletak di lekukan tersebut, membentuk papilla dentis. Seiring bertumbuhnya topi dan semakin dalamnya lekukan gigi mulai berbentuk seperti bel (stadium bel). Sel mesenkim papilla yang terletak dekat dengan lapisan gigi dalam berdiferensiasi menjadi odontoblas yang kemudian menghasilkan dentin. Dengan menebalnya lapisan dentin, odontoblas mundur ke dalam papilla gigi, menyisakan suatu tonjolan sitoplasma tipis (prosesus dentalis) di belakang dentin. Sementara itu, sel-sel epitel pada epitel gigi dalam berdiferensiasi menjadi ameloblas (pembentuk email). Sel-sel ini membentuk prisma-prisma email panjang yang diendapkan menutupi dentin. Selain itu, sekelompok dari sel-sel di epitel gigi dalam, membentuk simpul email (enamel knot) yang mengatur perkembangan gigi awal. Email pertama kali diletakan di apeks gigi lalu menyebar ke arah leher. Ketika email menebal, ameloblas mundur ke dalam reticulum stelatum. Di sini sel-sel ini mengalami regresi, untuk sementara menyisakan suatu membran tipis (kutikula dentis) di permukaan email. Setelah gigi tumbuh (erupsi), membran ini secara bertahap terkelupas. Pembentukan akar gigi dimulai ketika lapisan epitel gigi menembus ke dalam mesenkim di bawahnya dan membentuk selubung akar epitel. Sel-sel papilla dentis meletakan suatu lapisan dentin yang bersambungan dengan lapisan di mahkota gigi. Dengan semakin banyaknya dentin yang diendapkan, rongga pulpa menjadi sempit dan akhirnya membentuk suatu saluran yang mengandung pembuluh darah dan saraf gigi. Sel mesenkim yang terletak di luar gigi dan berkontak dengan dentin akar gigi berdiferensiasi menjadi sementoblas. Sel-sel ini menghasilkan suatu lapisan tipis tulang khusus, sementum. Di luar lapisan semen, mesenkim menghasilkan ligamentum periodontale yang menahan gigi secara kuat dalam posisinya dan berfungis sebagai peredam kejut. Tunas untuk gigi permanen yang terletak di aspek lingual gigi susu, dibentuk selama bulan ketiga perkembangan. Tunas ini tetap dorman sampai sekitar usia enam tahun. Kemudian tunas ini mulai tumbuh, menekan sisi bawah gigi susu dan membantu tanggalnya gigi-gigi susu

tersebut. Setelah gigi permanen tumbuh, akar gigi susu diresopsi oleh osteoklas. Ada kalanya akar gigi susu tidak mengalami resops sehingga gigi tetap tidak dapat erupsi.

2. Pembentukan Dentin Perpanjangan odontoblas memperoleh protein untuk memproduksi sel. Proses perkembangan batas proksimal pada sel, berdekatan dengan dentino enamel junction. Secara berangsur-angsur sel bergerak ke ruang pulpa, dan sel berproses, dikenal dengan proses odontoblas. Odontoblas dalam pembentukan matriks dentinal sama pada osteoblas sewaktu bergerak ke arah lain dari spikula pada tulang. Pertambahan pada dentin dibentuk sepanjang dentinoenamel junction. Dentinal matriks adalah jalinan pertama serabut kolagen, dalam 24 jam akan terkalsifikasi, disebut predentin sebelum kalsifikasi dan dentin setelah terkalsifikasi. Suatu saat dental papila akan menjadi dental pulpa yang dikelilingi dentin. Odontoblas menopang proses perpanjangan di tubulus dentin. Sewaktu odontoblas berfungsi, odontoblas menempati lapisan yang paling dasar dari sel organ menjadi lebih jelas di sel sitoplasma. Penampilan dari glanular retikulum endoplasmik, kompleks golgi dan mitokondria menandakan protein-produksi alami dari sel ini. Odontoblas mengeluarkan protein secara ektrem melalui pembuluh pada ujung dari sel dan sepanjang proses sel. Matriks kolegen dentinal dikeluarkan dalam penambahan tulang atau enamel yang berfungsi setiap hari pada pembentukan jaringan keras. Dentinogenesis ada 2 phase, pertama pembentukan matriks kolagen, diikuti deposisi dari kristal kalsium phospate (hydroksiapatit) di dalam matriks. Kalsifikasi inisial muncul kristal dalam pembuluh kecil pada permukaan dan dalam serabut kolagen. Perkembangan kristal, menyebar dan bergabung sampai kalsifikasi matriks komplit. Hanya dengan cara yang baru pertumbuhan sekumpulan dari matriks dentinal sepanjang tepi pulpa tidak terkalsifikasi. Pembentukan matriks dan mineralisasi merupakan hubungan yang tertutup. Proses mineralisasi dengan peningkatan density mineral dentin. Suatu saat peningkatan pertumbuhan dentin terjadi sepanjang batas pulpa, berbatasan dengan perifer dari formasi predentin sebelum terkalsifikasi dan menjadi dentin

3. Pembentukan Email Perkembangan organ email dan amelogenesis Penamaan lapisan-lapisan sel pada organ email didasarkan pada bentuk, fungsi, dan lokasinya. Lapisan-lapisan sel tersebut dibedakan yaitu: Lamina externa, Sel-sel stelat, Stratum intermedium, Lamina interna, dan Cervikal loop atau lamina epithelial hertwig. 1. Lamina Eksterna Pada mulanya sel-sel epitel ini beerbentuk kuboid yang dipisahkan oleh membraa basalis yang tipis dengan jaringan sekitarnya. Dengan meningkatnya perkembanagn permukaan yang tadinya rata menjadi melipat-lipat yang disertai penambahan jaringan kapiler yang mendekati sel-sel stelat, terutama pada waktu terbentuknya lapisan email.

2. Sel-sel stelat Sel-sel yang terdapat dalam organ email akan berbentuk stelat denagn tonjolan-tonjolan yang saling berhubungan. Cairan interseluler bertambah hingga bagian dari organ email ini merupakann pelindung terhadap putik yang baru tumbuh. Setelah terjadinya dentin, maka nutrisi yang dibutuhkan berkurang hingga lapisan sel-sel stelat ini mulai menipis.

3. Stratum Intermedium Sel-sel pada lapisan ini terletak di antara lamina interna dan sel-sel stelat. Terdapat 2-3 lapisan sel-sel yang berbentuk kuboid sampai gepeng. Maising-masing sel dihuubungkan oleh desmosom. Fungsi lapisan ini belum jelas. Diduga lapisan ini ada hubungannya dengan pembentukan email. Walaupun sel-sel lamina interna sudah berhenti membelah diri, sel-sel stratum intermedium masih mampu membelah diri.

4. Lamina Interna Sel-sel lamina interna berasal dari sel-sel basal epitel mulut. Sebelum pembentukan email sel-sel basal tersebut berubah menjadi silindris dan kemudian menjadi ameloblast. Diferensiasi sel tersebut dimulai pada puncak organ email ke arah akar.

5. Cervical Loop Pada tepi batas organ email lamina externa dan lamina interna saling mendekat dan akhirnya saling bertemu. Apabila telah terbentuk corona dentis terjadilah lamina epithelium Hertwig.

Siklus Hidup Ameloblast Berdasarkan fungsi sel-sel pada lamina interna, maka hidupnya dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu: tahap mofogenik, tahap pengorganisasian, tahap pembentukan, tahap pendewasaan, tahap perlindungan, dan tahap desmolitik. 1. Tahap Morfogenik Sebelum ameloblast berdiferensiasi sempurna menghasilkan email, mereka akan mengadakan interaksi dengan jaringan mesenkhimal di dekatnya untuk menentukan bentuk batas dentin email dan corona dentis yang akan datang. Pada tahap ini bentuk sel silindris pendek dengan inti yang besar. Kompleks golgi dan sentriol terdapat di daerah proksimal (ke arah startum intermedium), sedangkan mitokondria tersebar di seluruh sitoplasma. Pada waktu tampak terminal bars pada ujung distal (ke arah dentin) mitokondria berkumpul di daerah proksimal sel. Sel-sel epitel silindris ini dipisahkan oleh membrane basalis yang tipis dengan jaringan mesenkhim di dekat membrane basalis dan yang tidak mengandung sel hanyalah serabut-serabut reticular halus dan tonjolan sitoplasma sel jaringan pengikat.

2. Tahap Pengorganisasian Sel epitel email dalam (ameloblast) akan mempengaruhi sel-sel mesenkim untuk berdiferensiasi menjadi odontoblast. Tahap ini ditandai dengan bentuk silindris panjang dengan inti yang terdapat di bagian proksimal. Di samping itu, terjadi juga perubahan polaritas sel dengan perpindahan kompleks golgi dan sentriol ke arah distal. Dengan bertambah panjangnya ameloblast maka daerah yang bebas sel akan terdesak hingga ameloblast akan berhubungan langsung dengan sel-sel mesenkimal untuk diinduksi menjadi odontoblast.

10

Pada akhir tahap pengorganisasian odontoblas mulai menghasilkan dentin yang merupakan periode kritis bagi siklus hidup ameloblast. Bahan nutrisi untuk ameloblast sudah tidak dapat melalui papilla dentis karena terhalang dentin, maka diperoleh dari kapilerkepiler darah yang berasal dari saccus dentis menembus email luar. Pulpa email yang menyusut akan mendekatkan jarak antara sumber nutrisi ameloblast.

3. Tahap Pembentukan Pada waktu terbentuknya dentin oleh odontoblas, mkaa ameloblast memasuki tahap formatif. Dalam hal ini, adanya dentin penting untuk tahap ini. Pada tahap ini, ameloblast mampu membentuk matriks email yang akan diuraikan secara tersendiri pada pasal amelogenesis.

4. Tahap Pendewasaan Maturasi atau mineralisasi sempurna matriks email terjadi setelah dicapai ketebalan yang cukup pada bidang kunyah gigi walaupun proses pembentukan matriks email di derah lain tetap berjalan. Pada tahap ini, ameloblast akan memendek disertai perubahan sel-sel stratum intermedium menjadi fusiform. Ameloblast memegang peranan penting dalam tahap maturasi.

5. Tahap Perlindungan Pada tahap ini ameloblast sudah tidak dapat dibedakan lagi bentuknya dan sel-sel stratum intermedium, karena fungsinya dalam pembentukan email sudah selesai. Sekaranng ameloblast yang menyusut tersebut berfungsi melindungi email yang terbentuk terhadap desakan jaringan pengikat dengan eail yang terbentuk, maka akan terjadi kelainan misalnya terjadi resorbsi email atau tertutup oleh lapisan sementum.

6. Tahap Desmolitik Epitel email yang telah menyusut akan berfroliferasi dan rupanya menginduksi terjadinya atrofi jaringan pengikat yang memisahkan organ email dengan epitel mulut. Hal tersebut terjadi karena epitel email menghasilkan enzim yang dapat melarutkan jaringan

11

pengikat secara desmolitik. Apabila terjadi kerusakan epitel email yang menyusut terlalu awal, maka akan menghambat terjadinya erupsi gigi.

Amelogenesis Terbentuknya email oleh ameloblast dimulai pada tahap pembentukan dari siklus hidup ameloblast. Pada tahap amelogenesis ini terdapat dua proses yang tidak terpisah, yaitu: pembentukan matriks organic, dan mineralisasi.

1. Pembentukan Matriks Organik Kegiatan sekresi matriks oleh ameloblast dimulai setelah terbentuknya dentin. Matriks pertama akan diletakkan ekstraseluler pada permukaan dentin. Matriks ini disebut sebagai membrane dentoemail. Permukaan ameloblast tidaklah halus, karena terdapat interdigitasi antara permukaan sel dengan batang-batang email yang terbentuk. Interdigitasi ini disebabakan karena sumbu panjang ameloblast tidak sejajar dengan sumbu panjang batang email. Proses pembentukan dan sekresi matriks oleh ameloblast tidak berbeda dengan proses yang terdapat pada sel-sel yang menghasilkan sekrit lainnya. Tonjolan sitoplasma ameloblast yang disebut proses Tomes walaupun dibatasi oleh sekat yang tidak sempurna tetap menunjukan kegiatan sekresi. Didasarkan pada bentuk batang-batang email, maka diduga bahwa tiap batang email dibentuk oleh 4 ameloblast. Pada tahap terbentuknya prosessus Tomes terjadilah terminal bars yang memisahkan dengan bagian ameloblast sebagai proksimal. Pada ameloblast yang terdapat pada matriks yang telah matang tampak lebih pendek dari yang lain. Dilihat dengan mikroskop electron, ujung-ujung ameloblast ini memiliki mikrovili yang merupakan ciri-ciri kegiatan absorpsi. Telah ditunjukkan bahwa ameloblast mengadakan transportasi zaat organic dan air yang terjadi pada stadium pendewasaan. Di sini letak perbedaan dengan proses mineralisasi pada jaringan lain. Kadar air dan zat organic email sangat sedikit jika dibandingkan dengan jaringan lain. Pembentuka prosessus Tomes beserta rangka organic dan pengapuran terjaid secara ritmis dengan selalu diikuti oleh pembentukan prosessus Tomes yang baru pada ujung distal,
12

sehingga nantinya terbentuklah email yang terdiri atas batang-batang (prisma) yang bersegmen-segmen setebal 4 mikron.

2. Mineralisasi Mineralisasi matriks email dilaksanakan dalam 2 tahap walaupun berbeda dalam waktu yang singkat.

1) Tahap pertama Tahap ini merupakan mineralisasi garam kalsium dalam segmen matriks dan substansi interprismatik segera setelah mereka terbentuk. Pada tahap ini baru 25-30% dari kadar mineral yang terdapat pada email sempurna. 2) Tahap kedua Tahap ini disebut pula dengan tahap pendewasaan atau maturasi. Tahap ini merupakan pengapuran yang berjalan gradual dari puncak gigi ke arah leher gigi. Pengamatan dengan mikroskop electron menunjukkan bahwa pendewasaan email sebenarnya merupakan penebalan kristal-kristal garam kapur yang telah ada disertai dengan pengurangan bahan-bahan organic.

4. Root Stage

Sama seperti pembentukan crown, proliferasi sel berlanjut pada daerah servikal atau dasar dari organ enamel dimana sel epitel enamel dalam dan luar bergabung membentuk akar. Ketika pembentukan korona lengkap, sel pada daerah enamel ini terus bertumbuh membentuk dua lapisan sel yang disebut epitel akar atau lapisan hertwigs. Lamina epitelaialis hertwig memegang peranan penting dalam pembentukan akar gigi. Lamina epitelialis ini terdiri atas epithel email luar dan dalam tanpa stratum intermedium dan sel-sel stelat. Sel-sel epitel lapisan dalam tetap pendek dan biasnya tidak menghasilkan email. Apabila sel-sel tersebut telah menginduksi sel-sel mesenkim untuk berubah menjadi odontoblas, maka hubungan dengan organ email di bagian atas akan terputus-putus, sisanya berada sebagai sisa epitel dari mallasez dalam ligamentum periodontium.

13

Lapisan dalam sel akar, dibentuk dari epitel enamel bagian dalam atau amelobas di korona dan enamel. Pada akar, sel membentuk odontoblas dari papilla dental, berdiferensiasi dan menbentuk dentin. Pembentukan akar berawal dari berkhirnya deposit enamel. Saat akar memanjang, terjadi pembentukan awal pada akar. Panjang, kelengkungan, ketebalan, dan jumlah akar semuanya tergantung dari sel-sel di dalam akar. Saat akar dentin dibentuk, sel-selluar pada akar berfungsi pada deposisi sementum intermediet, suatu lapisan tipis dari sementum aseluler yang menutupi tubulus dentin dan permukaan akar. Kemudian sel-sel luar akan terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan bergerak dari permukaan akar menjadi sisa-sisa epitel. Pada akhir proses proliferasi akar miring 45 derajat. Daerah ini dinamakan sekat epitel. Sekat epitel mengelilingi apeks yang terbuka pada pulpa gigi selama pembentukan akar. Ini adalah ploriferasi sel yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan akar. Pada saat odontoblas berdiferensiasi sepanjang batas pulpa, terjadi proses dentinogenesis pada akar dan akan memanjang. Pembentukan dentin berlanjut dari korona hingga ke akar. Dentin meruncing dari crown hingga ke akar sampai ke epikal batas epitel.Pada perbatasan pulpa dengan pusat epitel, terjadi proliferasi seluler. Hal ini dikenal dengan zona proliferas pulpa. Daerah ini memproduksi sel-sel baru yang dibutuhkan untuk proses pemanjangan akar. Akar semakin mengecil ke bagian apikal dan terbuka kira-kira 1-3 mm sehingga dapat mensyarafi dan menyuplai darah ke pulpa dan jaringan periodonsium. Bersamaan dengan memanjangnya akar, gigi mulai bergerak erupsi, yang akan menyediakan ruangan untuk proses pemanjangan akar. Akar memanjang sesuai dengan pergerakan erupsi gigi epitel. Sekat epitel mengelilingi apeks yang terbuka pada pulpa gigi selama pembentukan akar. Ini adalah ploriferasi sel yang

14

menyebabkan terjadinya pertumbuhan akar. Pada saat odontoblas berdiferensiasi sepanjang batas pulpa, terjadi proses dentinogenesis pada akar dan akan memanjang.

Epitelial Hertwig

pada akar gigi

a. Akar Tunggal

Lapisan akar dari gigi berakar tunggal adalah tumbuh memanjang pada sel epitel yang berasal dari organ-organ enamel, menutupi tubulus dentin dan perkembangan pulpa. Segera setelah sel akar membentuk sementum intermedium, akar mulai hancur dan membentuk sisa-sisa epitel. Sisa-sisa epitel bertahan dan bergerak dari daerah permukaan akar ke daerah folikular. Sel mesenkim dari folikel gigi bergerak di antara sisa-sisa epitel hingga dapat berkontak dengan permukaan akar. Di sini terjadi diferensiasi menjadi sementoblas dan mulaimensekresi sementoid pada permukaan sementum intermedium. Sementoid adalah sementum yang belum terkalsifikasi kemudian berkalsifikasi menjadi sementum yang matang. Lapisan akar tidak pernah terlihat sebagai struktur yang berkembang karena lapisan sel-selnya segerahancur setelah akar dentin terbentuk. Bagaimanapun, daerah dari sel epitel tetapdipertahankan sampai akar terbentuk sempurna dan kemudian hilang.

15

b. Akar Ganda

Gigi berakar ganda dibentuk dengan cara yang sama dengan gigi berakar tunggal hingga terbentuk daerah furkasi. Bagian dari akar mengambil tempat melalui perkembangan diferensial dari lapisan akar. Sel-sel dari sekat epitel bertumbuh secara berlebihan pada dua daerah atau lebih sampai berkontak dengan epitel memanjang. Perpanjangan ini menyatu dan menjadi pembukaan awal menjadi dua atau tiga tahap pembukaan. Sekat epitel mengelilingi daerah terbuka pada setiap pertumbuhan akar. Ketika perkembangan gigi molar dimulai, tahap-tahapnya dibagi berdasarkan pertumbuhan pada bagian tengah akar. Yang akan menunjukkan lapisan akar seperti pulau-pulau sel. Setelah akar ganda terbentuk, tiap-tiap akar dibentuk oleh unsur yang sama seperti pada gigi berakar tunggal. Setelah akar lengkap dan lapisannya hancur, sel epitel berpindah dari permukaan akar sama seperti pada gigi berakar tunggal. Sementum kemudian dibentuk pada permukaan sementum intermedial. Sementum biasanya mempunyai sel, sementum yang berada dekat semento enamel junction lebih sedikit sel daripada di apikal akar. Karena apikal sementum lebih tipis, maka lebih banyak terdapat sel-sel yang vital. Fungsi utama dari sementum adalah perlekatan dengan serat-serat ligamen periodontal

B. ERUPSI-OKLUSI

1. Perubahan Jaringan Disekitar Gigi Pada Saat Erupsi a. Perubahan Jaringan Luar Gigi Perubahan awal jaringan luar gigi sebelum mahkota bererupsi adalah adanya perubahan jaringan ikat dental folikel menjadi bentuk suatu rongga atau jalan kecil untuk erupsi gigi. Secara histologi, bagian koronal dental folikel dipadati oleh banyak sekali monosit dengan osteoklas yang berperan dalam resorbsi tulang dan pembentukan jalan untuk erupsi. Jalur erupsi tampak sebagai zona dimana jaringan ikat tak terlihat, sel-selnya mengalami degenerasi dan penurunan jumlah, pembuluh darah menjadi lebih sedikit dan terminal nerves rusak dan terdegenerasi. Untuk keberhasilan erupsi gigi, harus terjadi banyak resorbsi pada overlying bony crypt yang dalam keadaan remodelling konstan, benih gigi dan wajah tumbuh ke arah depan dan
16

samping. Sel-sel osteoklas berdiferensiasi dan meresorbsi bagian bony crypt di luar gigi yang akan erupsi sehingga terjadi peningkatan dimensi jalur erupsi dan kebebasan gigi bergerak ke mukosa mulut. Foramina kecil pada mandibula dan maksila adalah bukti dari jalur erupsi gigi depan permanen. Pembukaan ini, gubermacular ditemukan pada arah lingual ke anterior gigi sulung dan merupakan tempat gubermacular cord. Resorbsi akar gigi utamanya diproses dengan cara yang sama seperti resorbsi tulang. Ketika akar teresorbsi, ikatan mahkota primer berkurang, kemudian mahkota tersebut tanggal dan hal ini membentuk jalan keluar erupsi gigi premolar. Sebagian besar akar teresorbsi sempurna dan pulpa primer sepenuhnya berdegenerasi.

b. Perubahan Jaringan Sekitar Gigi Dental folikel membentuk jaringan ikat yang baik sehingga secara bertahap mulai adanya pergerakan erupsi dan serabut kolagen menjadi berkembang di antara akar dan permukaan alveolaris. Pada periodontal serabut tampak nyata di area cervical akar dan meluas pada suatu sudut coronal untuk prosesus alveolaris.Tulang alveolar mengalami remodelling untuk akomodasi pembentukan akar dimana ketika mahkota yang besar bergerak oklusal, tulang

mengisi untuk dicocokkan dengan diameter akar yang lebih kecil. Ketika proses erupsi, serabut kolagen lain terlihat sepanjang pembentukan akar. Area ini menjadi dipenuhi oleh fibroblast tipe myofibroblast (mempunyai kemampuan kontraktil untuk ikatan sendi periodontal). Pada awal proses erupsi, lubang-lubang serat mengikat sementum pada permukaan akar dan tulang alveolar. Beberapa serat keluar saat pergerakan erupsi gigi, lalu masuk dan mengikat kembali untuk menstabilkan gigi. Remodelling tulang alveolar berlanjut selama erupsi ketika gigi bergerak ke arah oklusal. Alveolar mengalami peningkatan yang tinggi dan merubah bentuknya untuk mengakomodasi bagian mahkota. Mahkota gigi bergerak ke arah oklusal dan menghasilkan penyimpanan tulang baru di sekitar akar untuk mengurangi ukuran crypt. Pada bagian atas dan sekitar mahkota, sel-sel osteoblas dan osteoklas beraksi. Aksi ini terkoordinasi selama keseluruhan proses erupsi, sepanjang hidup.

17

c. Perubahan Jaringan di Bawah Gigi Perubahan juga terjadi di jaringan folikuler di awah perkembangan gigi. Perubahan ini berlangsung pada jaringan lunak dan fundic (tulang yang melingkupi ujung akar). Ketika gigi erupsi, ruang yang disediakan untuk memperpanjang akar karena mahkota bergerak oklusal dan meninggi pada tulang alveolar. Selama pre-erupsi dan fase awal erupsi, folikular fibroblast dan serat ditempatkan pada bidang yang paralel dengan dasar atau basis akar. Akar bergerak sangat cepat selama prefungsional erupsi daripada fase lain. Tulang trabeculla muncul di fundic area, mengkompensasi erupsi gigi dan menyediakan dukungan ke jaringan apokal. Beberapa penulis mendeskripsikan ini sebagai bony ladder. Ladder memadat sevagai lapisan alternatif dari lempeng tulang dan kemudian jaringan ikat diletakkan. Pada akhir fase erupsi prefunctional ketika gigi menuju oklusinya, sekitar 1/3 enamel tertutup oleh gingiva dan akarb tidak sempurna. Bony ladder diresorbsi secara bertahap, satu lapis pada setiap waktu, untuk membuat ruang bagu perkembangan ujung akar. Penyempurnaan akar berlanjut dalam waktu yang lama setelah gigi tersebut bekerja sesuai fungsinya. Proses ini terjadi selama 1-1,5 tahun pada gigi sulung dan 2-3 tahun pada gigi permanen. Pelepasan Gigi Sulung Manusia memiliki dua perangkat gigi, yaitu gigi sulung dan gigi permanen. Gigi sulung memiliki bentuk yang kecil dan lebih sedikit, cocok untung rahang bayi yang kecil.

18

Pelepasan atau gigi tanggal adalah lepasnya gigi sulung karena resorpsi fisiologis akarnya. Gigi sulung yang tanggal itu kemudian akan digantikan oleh gigi permanen.

Penyebab Tanggalnya Gigi Sulung Hilangnya Akar Tekanan dan pinduksi pertumbuhan dari gigi permanent menginduksi diferensiasi osteoklas yang meresopsi akar gigi sulung, pemendekan akar dan hilangnya ikatan serat dengan ligament periodontal. Hilangnya Tulang Lemahnya jaringan pendukung gigi sulung akibat reserpsi akar dan modifikasi tulang alveolar. Struktur pendukung melemah akibat pertumbuhan wajah dari tulang alveolar. Kenaikan Gaya Meningkatnya gaya mastikasi pada gigi yang lemah adalah hasil pertumbuhan otot: memperkeras tekanan ligament periodontal dan mempromosikan resorpsi gigi dan tulang alveolar. Pola Resorpsi Gigi Antrerior Dimulai sekitar 4-5 tahun untuk incisivus dan 6-8 tahun untuk gigi caninus, bergantung pada apakah ia gigi caninus maksila atau mandibula. Pada saat ini, mahkota dari gigi permanen telah sempurna dan berada pada lingual cryptnya ke 1/3 apikal akar dari gigi susu yang sesuai Dengan mulainya gerakan erupsi gigi permanen yang berlangsung dalam arah incisal dan labial, tekanan pertama-tama diarahkan pada pemisahan tulang crypt dari gigi permanen
19

pengganti dan alveolus gigi sulung. Dengan hilangnya pemisahan tulang, tekanan kemudian diarahkan ke akar gigi sulung. (Gambar 7.37 A) Resorpsi dari gigi sulung anterior pertama terjadi sepanjang permukaan lingual 1/3 apikal akar. Hal itu kemudian diproses ke arah labial hingga mahkota dari erupsi gigi permanen ditempatkan pada arah apical ke arah gigi sulung. (Gambar 7.37 B) Resorpsi kemudian mulai secara horizontal dalam arah incisal sehingga menyebabkan akar gigi sulung lepas dan kemudian ditempati oleh erupsi gigi permanen. (Gambar 7.37 C)

Pola Resorpsi Gigi posterior Pertumbuhan mahkota premolar pada awalnya berlokasi diantara akar gigi molar sulung. Tanda awal dari resorpsi sekitar mahkota ini terjadi pada tulang pendukung interradicular. Proses ini diikuti oleh resorpsi dari permukaan yang dekat dengan akar gigi sulung. Terjadi peninggian prosesus alveolaris untuk mengimbangi perpanjangan akar gigi permanen (premolar). Ketika hal ini terjadi, molar sulung mncul ke arah oklusal dan memposisikan mahkota lebih apical ke arah molar sulung. Premolar melanjutkan erupsi ketika akar molar sulung

20

kemudian teresorpsi, dan gigi ini kemudian lepas. Premolar lalu erupsi di tempat molar sulung.

2. Urutan Erupsi Gigi Sulung dan Gigi Permanen Erupsi gigi susu biasanya menurut urutan sebagai berikut : 1. Gigi I1 bawah 2. Gigi I2 bawah 3. Gigi I1 atas 4. Gigi I2 atas 5. Gigi M1 bawah 6. Gigi M1 atas 7. Gigi C bawah 8. Gigi C atas 9. Gigi M2 bawah 10. Gigi M2 atas Gigi Benih dibentuk I1 bawah 6 minggu iu Mulai kalsifikasi 4.5 bulan iu Email lengkap 4 bulan 6.5 bulan 1.5-2 tahun Erupsi Akar lengkap

21

I2 bawah I1 atas I2 atas M1 bawah M1 atas C bawah C atas M2 bawah M2 atas

7 minggu iu 6 minggu iu 7 minggu iu 8 minggu iu 8 minggu iu 10 minggu iu 10 minggu iu 8 minggu iu 10 minggu iu

4.5 bulan iu 3-4 bulan iu 4.5 bulan iu 5 bulan iu 5 bulan iu 5 bulan iu 5 bulan iu 6 bulan iu 10 bulan iu

4.5 bulan 4 bulan 5 bulan 6 bulan 6 bulan 9 bulan 9 bulan 10-12 bulan 10-12 bulan

7 bulan 7.5 bulan 8-9 bulan 12-16 bulan 12-16 bulan 16-20 bulan 16-20 bulan 21-30 bulan 24-30 bulan

1.5-2 tahun 1.5 tahun 1.5-2 tahun 2-2.5 tahun 2-2.5 tahun 2.5-3 tahun 3 tahun 3 tahun 3 tahun

Erupsi gigi permanen biasanya menurut urutan sebagai berikut: 1. Gigi M1 atas 2. Gigi M1 bawah dan I1 bawah 3. Gigi I1 atas dan I2 bawah 4. Gigi I2 atas 5. Gigi C bawah 6. Gigi P1 atas 7. Gigi P1 bawah dan P2 atas 8. Gigi C atas dan P2 bawah 9. Gigi M2 bawah 10. Gigi M2 atas 11. Gigi M3 atas dan bawah Gigi Mulai Kalsifikasi M1 atas M1 bawah I1 bawah I1 atas I2 bawah Saat lahir Saat lahir 3-4 bulan 3-4 bulan 3-4 bulan 3-4 tahun 2.5-3 tahun 4-5 tahun 4-5 tahun 4-5 tahun
22

Email Lengkap

Erupsi

Akar Lengkap

6 tahun 6-7 tahun 6-7 tahun 7-8 tahun 7-8 tahun

9-10 tahun 9-10 tahun 9 tahun 10 tahun 10 tahun

I2 atas C bawah P1 atas P1 bawah P2 atas C atas P2 bawah M2 bawah M2 atas M3 atas M3 bawah

1 tahun 4-5 bulan 18-21 bulan 21-24 bulan 24-27 bulan 4-5 bulan 27-30 bulan 30-36 bulan 30-36 bulan 7-9 tahun 8-10 tahun

4-5 tahun 6-7 tahun 5-6 tahun 5-6 tahun 6-7 tahun 6-7 tahun 6-7 tahun 7-8 tahun 7-8 tahun 12-15 tahun 12-16 tahun

8-9 tahun 9-10 tahun 10-11 tahun 10-12 tahun 10-12 tahun 11-12 tahun 11-12 tahun 11-13 tahun 12-13 tahun 17-21 tahun 17-21 tahun

11 tahun 12-14 tahun 12-13 tahun 12-13 tahun 12-14 tahun 13-15 tahun 13-14 tahun 14-15 tahun 12-13 tahun 17-21 tahun 18-25 tahun

Pergantian gigi sulung menjadi gigi permanen 1. Incisivus 1 sulung Incisivus 1 permanen 2. Incisivus 2 sulung Incisivus 2 permanen 3. Caninus sulung Caninus permanen 4. Molar 1 sulung Premolar 1 5. Molar 2 sulung Premolar 2

3. Oklusi Definisi Oklusi adalah cara gigi rahang maksila dan rahang mandibula berartikulasi. Pada kenyataanya, oklusi gigi adalah hubungan yang rumit karena di dalamnya mempelajari juga tentang gigi, morfologi gigi, angulasi atau sudut-sudut, otot-otot mastikasi, struktur skeletal atau tulang yang berpengaruh, TMJ dan pergerakan rahang. Oklusi juga memperllibatkan masalah sistem neuromuscular. Oklusi gigi-gigi dibicarakan dalam dua judul berikut :

23

1. Oklusi statis, yang mengacu pada posisi dimana gigi-gigi atas dan bawah saling berkontak 2. Oklusi fungsional, yang mengacu pada gerak fungsional dari mandibula dan karena itu, gigigeligi bawah berkontak dengan gigi geligi atas. Pola posisi gigi yang bervariasi ditentukan oleh ukuran, bentuk dan hubungan rahang dengan otot-otot bibir, pipi, dan lidah. Gigi-gigi berkembang dalam rahang dan sewaktu erupsi ke dalam rongga mulut, gigi diarahkan ke posisinya oleh otot wajah dan lidah, idealnya dengan lidah dan di bagian dalam lengkung gigi bibir serta pipi membentuk

tekanan penuntun perifer.

4. Tahapan Perkembangan Oklusi

1. Gum Pads Stage Gum pads stage dimulai dari lahir sampai erupsi gigi primer pertama, biasanya gigi insisivus sentralis yang lebih rendah, sekitar 6 sampai 7 bulan. Gum pads di rahang atas dan bawah menunjukkan ketinggian dan alur yang membatasi posisi berbagai gigi primer yang masih berkembang di alveolar ridges. Beberapa bayi dilahirkan dengan satu atau lebih gigi seri primer yang sudah erupsi, yang dapat menyebabkan situasi yang menyakitkan bagi ibu yang menyusui. Gum pads rahang atas dan bawah sering diilustrasikan untuk menggambarkan hubungan open bite anterior sedangkan bagian posterior saling bersentuhan. Seringkali, gum pads rahang atas
24

sedikit over-lap dengan gum pads rahang bawah secara horisontal dan vertikal. Dengan cara ini permukaan yang berlawanan dari gum pads menyediakan cara yang lebih efisien untuk memeras susu selama menyusui. 2. Primary Dentition Stage Primary dentition stage dimulai dari waktu erupsi gigi primer sampai erupsi gigi permanen pertama sekitar 6 tahun. Empat karakteristikdari primary dentition stage dibahas secara rinci, yaitu, overbite, overjet, spacing, dan hubungan molar kedua primer. Overbite

Overbite adalah jumlah tumpang tindih vertikal antara rahang atas dan bawah tengah incisal. Hubungan ini dapat digambarkan baik dalam millimeter atau lebih sering sebagai persentase dari berapa banyak gigi seri tengah atas tumpang tindih mahkota dari gigi seri bawah. Overbite dalam primary dentition stage normalnya bervariasi antara 10% dan 40%. When the incisal edges of the incisors are at the same level, the condition is described as "edge to edge or zero overbite." When there is a lack of overlap, the condition is described as open bite and quantified in millimeters. Ketika incisal edge gigi insisivus berada pada tingkat yang sama, kondisi ini digambarkan sebagai "ujung ke ujung atau nol overbite." Bila ada kekurangan tumpang tindih, kondisi ini digambarkan sebagai open bite dan diukur dalam milimeter. Overjet

Overjet adalah hubungan horizontal atau jarak antara yang paling menonjol maksilaris central insisivus dan pusat mandibular menentang incisor. Hubungan ini dinyatakan dalam milimeter. Jika gigi insisivus rahang atas yang lingual ke mandibula inci-ors, hubungan digambarkan sebagai underjet. Kisaran normal overjet di gigi primer bervariasi antara 0 dan 4,0 mm. Spacings

25

Pada tahap pertumbuhan gigi primer seorang anak mungkin memiliki generalized spaces between the teeth, localized spaces, no spaces, atau gigi crowded. Para presence dari jarak dalam tahap pertumbuhan gigi primer adalah kejadian yang umum. Molar Relationship

Pada tahap gigi utama hubungan molar anteroposterior dijelaskan dalam hal hubungan antara bidang terminasi. Bidang terminasi adalah permukaan distal molar primer kedua rahang atas dan bawah. Pada dasarnya dua bidang terminal dapat berhubungan satu sama lain dalam satu dari tiga cara. Dalam hubungan flush terminal plane, baik bidang rahang atas dan bawah berada pada tingkat yang sama anteroposterior (lihat Gambar A). Dalam hubungan langkah mesial, bidang terminal rahang relatif lebih posterior daripada terminal bidang mandibula (lihat Gambar B). Terakhir, dalam hubungan langkah distal, terminal bidang rahang relatif lebih anterior dari terminal bidang mandibula (lihat Gambar C). Menentukan hubungan bidang terminal dalam tahap pertumbuhan gigi primer sangat penting untuk dokter karena erupsi molar permanen pertama dipandu oleh permukaan distal molar primer kedua saat mereka erupsi menjadi oklusi. Selama tahap pertumbuhan gigi primer overbite, overjet, dan hubungan anteroposterior dari gigi tidak mengalami perubahan signifikan kecuali mereka dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti trauma, kebiasaan, atau karies.

26

A. Flush terminal planes. B. Mesial step with the mandibular plane mesial to the maxillary plane. C. Distal step with the mandibular plane distal to the maxillary plane.

3. Mixed Dentition Stage Tahap pertumbuhan gigi campuran dimulai dengan erupsi gigi permanen pertama, biasanya mandibula central insisivus, dan biasanya selesai pada saat gigi sulung terakhir tanggal. Mixed dentition stage ditandai dengan perubahan signifikan pada gigi sebagai akibat dari hilangnya 20 gigi primer dan erupsi gigi permanen. Pada tahap awal periode pertumbuhan gigi campuran mungkin ada open bite sementara, biasanya baik akibat erupsi masih lengkap dari gigi seri atau karena gangguan mekanik dari kebiasaan jari terus-menerus. Selama perkembangan normal ini open bite sering sementara di alam, open bite sampai gigi seri menyelesaikan proses erupsi mereka, kecuali kebiasaan normal berlanjut . Karena setiap gigi erupsi harus mengharapkan bahwa antimerenya (gigi yang sama pada sisi yang berlawanan [misalnya, gigi seri tengah kanan dan kiri ] ) akan meletus dalam waktu 6 bulan satu sama lain.

27

Spacing

Sebuah diastema adalah ruang antara dua gigi yang bersebelahan. Selama tahap pertumbuhan gigi campuran kehadiran diastema garis-tengah antara gigi insisivus rahang atas sentralis adalah kejadian normal. Dalam kebanyakan kasus ukuran diastema dapat bervariasi antara 1,0 dan 3,0 mm. Diastemas ini biasanya dekat pada saat gigi taring rahang sepenuhnya erupsi dan tidak memerlukan intervensi ortodontik. Jika diastema tetap dalam tahap pertumbuhan gigi permanen dan jika pasien yang bersangkutan, dokter dapat mempertimbangkan menutupnya secara ortodontik atau dengan penumpukan komposit pada gigi. Molar Relationship

Seperti yang dinyatakan sebelumnya, bidang terminal dari molar primer kedua mempengaruhi jalur erupsi permanen molar pertama. Misalnya, ketika hubungan bidang terminal dalam tahap pertumbuhan gigi primer, molar permanen erupsi di "puncak-ke-puncak" atau "end-to-end" hubungan molar pertama permanen dalam tahap pertumbuhan gigi campuran. Kelas 1: Hubungan normal gigi (Gambar A). Kelas 2: Hubungan puncak mesiobuccal molar pertama permanen menutupi langit molar mesial ke alur bukal dari molar pertama rahang bawah (Gambar B). Kelas 3: Hubungan molar puncak mesiobuccal molar pertama permanen menutupi langit molar distal alur bukal dari molar pertama rahang bawah (Gambar C).

28

Leeway space dalah perbedaan ruang antara penggabungan dimensi mahkota mesial-distal dari caninus permanen yang belum erupsi, premolar pertama dan kedua, dan caninus primer dan molar primer pertama dan molar kedua. 4. Permanent Dentition Stage Tahap perkembangan gigi permanen dimulai setelah penanggalan gigi primer terakhir dan erupsi semua gigi permanen (molar tiga tidak termasuk). Beberapa karakteristik dari "normal" oklusi dalam tahap pertumbuhan gigi permanen adalah sebagai berikut: Overlap: Dalam gigi biasanya termasuk gigi rahang atas yang labial / bukal pada gigi mandibular. Angulasi: Pada tahap pertumbuhan gigi primer gigi, secara umum, vertikal diposisikan dalam tulang alveolar. Di sisi lain, dalam tahap pertumbuhan gigi permanen gigi memiliki angulasi buccolingual dan mesiodistal .

29

Oklusi: Dengan pengecualian dari gigi seri tengah rahang bawah dan molar kedua rahang atas, masing-masing gigi permanen menyumbat dengan dua gigi dari lengkungan berlawanan . Arch curvatures: The anteroposterior kelengkungan pada lengkung mandibula disebut kurva Spee. Yang sesuai kurva lengkung rahang atas disebut kurva kompensasi . The buccolingual kelengkungan dari satu sisi ke sisi lain disebut kurva Monson atau kurva Wilson . Hubungan posterior: rahang atas dan geraham mandibular berada dalam Kelas I oklusi (yaitu, titik puncak mesiobuccal satu rahang atas molar pertama adalah dalam alur bukal dari molar pertama rahang bawah ). Selain itu, seluruh segmen posterior perlu interdigitated dengan baik. Lebih khusus lagi, gigi taring rahang atas juga harus occluding dalam lubang di dinding antara gigi taring rahang bawah dan premolar pertama

5. Maloklusi Maloklusi adalah setiap keadaan yang menyimpang dari oklusi normal, malokusi juga dapat diartikan sebagai suatu kelainan susunan gigi geligi atas dan bawah yang berhubungan dengan bentuk rongga mulut serta fungsi. Faktor yang menyebabkan malokusi antara lain keturunan, dimana ada ketidaksesuaian besar rahang dengan besar gigi-gigi di dalam mulut; kelainan skeletal; dan kekurangan gizi. Maloklusi dibagi menjadi 3 : 1. Malokusi tipe dental, terjadi jika perkembangan rahang atas dan rahang bawah terhadap tulang kepala normal, tapi gigi-giginya mengalami penyimpangan 2. Maloklusi tipe skeletal, terjadi karena hubungan rahang atas dan rahang bawah terhadap tulang kepala tidak harmonis, karena ada ganggguan pertumbuan dan perkembangan rahang 3. Maloklusi fungsional, terjadi karena adanya kelainan otot-otot, sehingga timbul gangguan saat dipakai untuk mengunyah. Maloklusi terjadi pada kondisi-kondisi berikut : 1. Ketika ada kebutuhan bagi subyek untuk melakukan posisi postural adapftif dari mandibula
30

2. Jika ada gerak menutup translokasi dari mandibula, dari posisi istirahat atau dari posisi postural adaptif ke posisi interkuspal 3. Jika posisi gigi adalah sedemikian rupa sehingga terbentuk mekanisme refleks yang merugikan selama fungsi pengunyahan dari mandibula 4. Jika gigi-gigi menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak mulut 5. Jika ada gigi yang berjejal atau tidak teratur, yang bisa merupakan pemicu bagi terjadinya penyakit periodontal dan gigi 6. Jika ada penampilan pribadi yang kurang baik akibat posisi gigi 7. Jika ada posisi gigi-gigi yang menghalangi bicara yang normal Kondisi-kondisi ini merupakan dasar dilakukannya perawatan ortodonsi, yang ditujukan untuk mengubah posisi dan oklusi dari gigi geligi. Posisi interkuspal umumnya disebut sebagai oklusi gigi-gigi. Ada beberapa macam kondisi oklusi yang bisa atau tidak bisa dianggap sebagai maloklusi, dengan beberapa bariasi utama yang bisa diklasifikasikan.

Berikut beberapa istilah yang sering dipergunakan : Overjet Insisal

31

Overjet adalah jarak horizontal antara gigi-gigi insisivus atas dan bawah pada keadaan oklusi, diukur pada ujung insisivus atas. Overjet tergantung pada inklinasi dari gigi-gigi insisivus dan hubungan antero-posterior dari lengkung gigi. Pada sebagian besar individu, ada overjet positif, misalnya sewaktu insisivus atas terletak di depan insisisvus bawah pada keadaan oklusi, namun overjet juga bisa kebalikan, atau edge to edge.

Overbite

Insisal

Overbite adalah jarak vertikal antara ujung gigi-gigi insisivus atas dan bawah. Dipengaruhui oleh derajat perkembangan vertikal dari segmen dento-alveolar anterior. Idealnya, gigi-gigi insisivus bawah harus berkontak dengan sepertiga permukaan palatal dari insisivus atas, pada keadaan oklusi, namun bisa juga terjadi overbite yang berlebihan atau tidak ada kontak insisal. Pada keadaan ini overbite disebut tidak sempurna jika insisivus bawah di atas ketinggian edge insisal atas, atau gigitan terbuka anterior, jika insisivus bawah lebih pendek dari edge insisal atas pada oklusi.

32

Hubungan Transversal Overjet dan overbite mengacu pada hubungan di bidang sagital dan vertikal. Pada bidang transversal, gigi-gigi posterior juga mempunyai hubungan ideal yang bervariasi. Pada hubungan ideal, gigi-gigi atas harus menumuk pada gigi-gigi bawah pada kedua sisi. Variasi yang umum terjadi adalah perkembangan dari gigitan terbalik (crossbite) bukal dimana gigi-gigi posterior bawah terletak di bukal dalam hubungannya dengan gigi-gigi atas. Variasi yang jarang dijumpai adalah perkembangan gigitan terbalik lingual, di mana gigi-gigi bawah terletak di lingual dalam hubungannya dengan gigi-gigi atas. Kedua tipe gigitan terbalik ini mempunyai derajat yang bervariasi dan bisa unilateral maupun bilateral. Klasifikasi oklusi Klasifikasi berikut ini berdasarkan pada klasifikasi Edward Angle(1899) walaupun berbeda dalam beberapa aspek yang penting. Ini adalah klasifikasi dari hubungan antero-posterior lengkung gigi-gigi atas dan bawah dan tidak melibatkan hubungan lateral serta vertikal, gigi berjejal dan malposisi lokal dari gigi-gigi. Klas 1 Hubungan ideal yang bisa ditoleransi. Ini adalah hubungan antero-posterior yang sedemikian rupa dengan gigi-gigi berada pada posisi yang tepat di lengkung rahang, ujung gigi kaninus atau berada pada bidang vertikal yang sama seperti ujung distal gigi kaninus bawah. Gigi-gigi premolar atas berinterdigitasi dengan cara yang sama dengan gigi premolar bawah, dan tonjol antero-bukal dari molar pertama atas tetap beroklusi dengan alur (groove) bukal dari molar pertama bawah tetap. Jika gigi insisivus berada pada inklinasi yang tepat, overjet insisisal adalah sebesat 3 mm.

33

Klas 2 Pada hubungan klas 2, lengkung gigi bawah terletak lebih posterior daripada lengkung gigi atas dibandingkan pada hubungan klas 1. Karena itulah, keadaan ini kadang dijumpai sebagai hubungan postnormal. Ada dua tipe hubungan Klas 2 yang umum dijumpai, dan karena itu Klas 2 ini umumnya dikelompokkan menjadi dua divisi : 1. Klas 2 divisi 1 Lengkung gigi mempunyai hubungan Klas 2, dengan gigi-gigi insisisvus sentral atas proklinasi dan iverjet insisal lebih besar. gigi-gigi insisivus lateral atas juga proklinasi.

2.

Klas 2 divisi 2 Lengkung gigi mempunyai hubungan

Klas , dengan gigi-gigi insisivus sentral atas yang proklinasi dan overbite insisal yang besar. gigi-gigi insisivus lateral atas bisa proklinasi atai retroklinasi.

34

Tidaklah selalu dapat mengelompokkan hubungan oklusi Klas 2 ke dalam salah satu dari divisi ini, pada kasus semacam ini, oklusi bisa disebut sebagai Klas 2 tidak pasti.

Klas 3 Pada hubungan Klas 3, lengkung gigi bawah terletak lebih anterior terhadap lengkung gigi atas dibandingkan pada hubungan Klas 1. Oleh karena itu, hubungan ini kadang-kadang disebut juga sebagai hubungan prenormal. Ada dua tipe utama dari hubungan Klas 3. Yang pertama, biasanya disebut Klas 3 sejati, dimana rahang bawah berpindah dari posisi istirahat ke oklusi Klas 3 pada saat penutupan normal. Pada tipe yang edua, gigi-gigi insisivus terletak sedemikian rupa sehingga gerak menutup mandibula menyebabkan insisivus bawah berkontak dengan insisivus atas sebelum mencapai oklusi sentrik. Oleh karena itu, mandibula akan bergerak ke depan pada penutupan translokasi, menuju ke posisi interkuspal. Tipe hubungan semacam ini biasanya disebut Klas 3 postural atau Klas 3 dengan pergeseran.

Pada

masing-

masing tipe hubungan oklusal,

malposisi gigi setempat bisa mempengaruhi hubungan dasar dari kedua lengkung gigi. Jadi, rincian interkuspal dari gigi-gigi tidak sama dengan klasifikasi keseluruhan dari hubungan lengkung gigi. Jika banyak gigi yang malposisi, akan sulit bahkan tidak mungkin untuk menentukan klasifikasi oklusi. Di samping itu, asimetris bisa menyebabkan hubungan pada satu sisi rahang berbeda dari sisi yang lain.
35

Tahap-Tahap Perkembangan Oklusi Dari usia 6 tahun, gigi-geligi sulung mulai diganti oleh gigi geligi tetap. Insisivus, kaninus, dan molar sulung akan diganti oleh insisivus, kaninus, premolar tetap, ditambah molar tetap yang bererupsi sebagai gigi-gigi tambahan. Gigi geligi susu dengan gigi geligi tetap penggatinya berbeda ukuran, insisivus tetap dan kaninus biasanya lebih besar daripada gigi sulung yang digantinya, sedangkan premolar biasanya lebih kecil daripada molar sulung yang digantinya. Hasil penelitian yang dilaporkan oleh Van der Liden menunjukan bahwa perbedaan ukuran secara keseluruhan antara kedua gigi geligi ini tidaklah terlalu besar, rata-rata sekitar 3 mm pada gigi geligi RA dan kurang dari 1mm pada gigi geligi RB. Oklusi bersifat dinamis atau berubah-ubah sesuai perkembangan umur.

Periode sebelum erupsi gigi Gumpad rahang atas dan bawah berjarak 6-8mm disebut ruang interaalveolar. Gumpad rahang atas lebih ke anterior 2,7mm pada laki-laki dan 2,5mm pada perempuan

Bila rahang atas dan rahang bawah mengatup maka kontak terjadi didaerah molar pertama openb ite di anterior.

Periode gigi sulung Oklusi ditentukan setelah molar1 emergence. Pada usia 2,5 hingga 3 tahun: a. Gigi sulung lengap
36

b. Gigi anterior mengalami deep bite c. Hubungan molar2 rahang atas dan rahang bawah cusp to fossa Usia 5-5,5 tahun terjadi keausan gigi dan perkembangan rahang berlanjut a. Gigi anterior hubungannya edge to edge b. Hubungan gigi molar cusp to cusp c. Diastema di daerah anterior karena perkembangan rahang lateral

Periode gigi campuran Perkembangan oklusi gigi geligi campuran dianggap melalui 2 tahap, yaitu: a. Tahap I Berhubungan dengan penggantian gigi-gigi insisivus susu dan penambahan keempat molar pertama tetap pada susunan gigi geligi. Keadaan ini biasanya berlangsung pada usia6-8 tahun. Insisivus tetap akan bererupsi sedikit lebih proximal daripada insisivus sulung sehingga membentuk overbite insisial yang lebih kecil bila gigi geligi tersebut beroklusi. Proklinasi ini juga berperan dalam menambah ukuran lengkung rahang. Erupsi dari molar pertama tetap berlangsung cukup cepat, yaitu usia 6 tahun. Dengan tanggalnya gigi molar kedua sulung, gigi molar pertama RB akan tetap bergeser ke depan lebih jauh daripada molar pertama tetap RA, sehingga permukaan distal molar tetap RB sedikit lebih anterior dibanding RA, dan tonjolan antero bukal dari molar atas akan beroklusi dengan groove mesio-bukal gigi molar bawah.

Tahap II Berkaitan dengan pergantian molar sulung dan kaninus oleh premolar dan kaninus tetap, dan penambahan gigi molar kedua. Tahap ini biasanya berlangsung pada usia 10-13 tahun.

37

Gigi-gigi premolar pertama biasanya mengalami erupsi pertama kali pada tahap ini, dan beroklusi sedemikian rupa sehingga lereng distal dari permukaan oklusal premolar RB beroklusi dengan lereng mesial dari permukaan oklusi premolar RA. Jadi, ujung tonjol premolar atas akan berada bidang vertikal yang sama dengan permukaan distal premolar bawah.

Gigi premolar selanjutnya akan bereupsi ke hubungan yang sama, dan pada kira-kira waktuyang sama, gigi kaninus akan bererupsi ke hubungan oklusi sehingga ujung tonjolannya berbeda pada bidang vertikal yang sama dengan permukaan distal kaninus bawah.

Periode gigi dewasa muda Erupsi dari molar ketiga pada awal kehidupan dewasa melengkapi perkembangan oklusi dari gigi geligi tetap. Usai erupsi gigi molar ketiga yang umumnya adalah 18-25 tahun, meskipun gigi ini bisa saja bererupsi lebih cepat atau lebih lambat dari batas usia ini.

38

Periode gigi tetap a. Oklusi incisivus: incisivus atas menutup 1/3 bagian insial incisivus bawah (overbite)

b. Oklusi molar 1: pucak tonjol mesio-bukal molar1 RA terletak pada satu garis dengan bukal groove molar1 RB

Faktor yang mempengaruhi oklusi


39

Pada Perkembangan Yang ideal, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi oklusi : 1. Gigi Geligi susu bercelah Jika gigi-geligi susu bererupsi dengan insisivus yang tersusun renggang-renggang akan ada kemungkinan yang lebih baik bahwa gigi geligi tetap tidak akan berjejal ketimbang jika gigi-geligi sulung, bererupsi tanpa adanya celah di antara insisivus. Foster dan Grundy (1986) memperlihatkan bahwa tanpa adanya celah di antara gigi-geligi susu, 75% kemungkinan terjadinya gigi tetap berjejal. Meskipun demikian, tetap ada variasi individual pada kasus berjejalnya gigi tetap bahkan walauppun gigi-geligi sulungnya bercelah, dan khususnya jika gigi-geligi tetap jauh lebih besar dibandingkan gigi-gigi sulung yang tergantikan. 2. Perkembangan M3 M3 menunjukan lebih banyak variasi pada klasifikasi dan erupsi dari pada gigi lain. M3 menunjukan konsistensi tinggi dengan pola perkembangan sendiri. Karena M3 tidak mulai klasifikasinya sampai usia 14 tahun, diagnosis agenesis tidak bisa selalu dibuat pada mixed dentition stage. 3. Perubahan Dimensi Panjang dental arches dan perimeter berkurang secara signifikan. Fisk menemukan bahwa perimeter mandibula berkurang 5mm antara usia 9-15 tahun. Pada periode yang sama, lebar mandibula bertambah 1-2mm tapi penambahan ini lengkap pada tiap lengkung pada umur 12 tahun. Leeway space adalah perbedaan ukuran antara gigi posterior sulung (kaninus C molar pertama D dan molar kedua E) dengan gigi posterior permanen (kaninus I premolar pertama 2 dan premolar kedua 3). Biasanya jumlah dari lebar gigi sulung lebih besar daripada pengganti permanen mereka. Jadi ketika gigi sulung lepas, biasanya ada jumlah sedikit ruang (sekitar 2,5mm per sisi pada rahang bawah dan 1,5mm pada rahang atas). 4. Perubahan occlusal Dengan perubahan occlusal, baik overbite dan overjet dapat berkurang. Bjork menemukan jika perubahan hubungan sagital pada pertumbuhan gigi bisa berhubungan pada pertumbuhan rahang. 5. Rotasi gigi permanen

40

Kebanyakan orang menunjukan resopsi idiopatic dari satu atau lebih gigi. Massler dan Malone menemukan bahwa hampir 90% gigi menunjukan bukti yang sama dari resorpsi pada usia 19 tahun. Hampir 10% isinya menunjukan antar 2mm dan 4mm dari resorpsi akar. 6. Susunan gigi pada rahang Incicivus bawah dan akar molar mengarah miring ke bawah. Akar dari gigi di maksila, anterior sampai molar 2 mengarah ke posterior dan ke dalam. Akar dari maksila lebih vertical dari pada lawannya di rahang bawah. 7. Hubungan Molar Adanya oklusi dari permukaan distal bonjol disto-bukal molar 1 rahang atas dengan permukaan mesial bonjol mesio bukal molar 2 rahang bawah.

8. Kemiringan Mahkota atau mesio-distal tip ditentukan oleh sudut yang dibentuk oleh sumbu panjang mahkota dengan garis yang tegak lurus di bidang oklusal. Besarnya sudut dinyatakan dengan derajat minus atau plus. Minus bila bagian akar lebih ke distal dari bagian incisal, dan plus bila bagian akar terletak lebih ke mesial dari bagian incisal 9. Sumbu Panjang Mahkota (kecuali gigi molar) ditentukan oleh garis yang melalui middevelopmental ridge, yaitu bagian tengah yang paling menonjol pada permukaan labial atau bukal mahkota. 10. Tidak ada gigi yang rotasi 11. Memiliki kontak yang baik 12. Besar lengkung rahang atau gigi. Rahang atas memilliki ukuran yang lebih besar daripada rahang bawah. 13. Besar antara gigi dengan rahang harus seimbang. Jika rahang besar tapi gigi kecil disebut diastema, jika rahang kecil tapi gigi besar disebut crowding. 14. Rahang di sekitar lengkung gigi harus seimbang pada gigi anterior, pada gigi anterior dan daya dari dalam (lidah) dan dari luar (otot bibir) harus seimbang. Sedangkan pada gigi posterior daya dari dalam (lidah) dan luar (otot pipi) juga harus seimbang. 15. Fungsi temporomandibular joint harus normal agar didapat fungsi mengunyah dan bicara yang baik. 16. Hubungan incisivus didapat overjet 1-3mm dan overbite 1/3 tinggi makota gigi. 17. Bentuk lengkung gigi atau rahang sesuai dengan bentuk kepala
41

18. Hubungan caninus rahang atas menutup antara caninus dan premolar rahang bawah 19. Kontak antara gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah: Gigi Incisivus 1 atas menutupi incisivus 1 rahang bawah dan sebagian incisivus 2 rahang bawah. Setiap gigi rahang atas berkontak dengan dua gigi rahang bawah, kecuali molar 3. Setiap gigi rahang bawah berkontak dengan 2 gigi rahang atas kecuali incisivus 1. Pada gigi posterior mulai dari caninus terlihat setiap bidang mesio-bukal gigi rahang atas berkontrak dengan bidang disto-bukal gigi lawannya di rahang bawah Bonjol lingual dari gigi premolar dan molar atas terletak di antara bonjol lingual dan bukal gigi premolar dan molar rahang bawah. Dataran lingual dari bojol lingual gigi premolar dan molar rahang bawah dan dataran bukal dari bonjol bukan premolar dan molar rahang atas tidak berkontak dengan gigi lawannya 20. Dataran Oklusal dilihat dari lateral tampak suatu kurva yang dibentuk oleh garis oklusi yang disebut curve of spee. Kurva ini dimulai dari gigi molar 3 arahnya menurun sampai premolar 1 lalu naik lagi sampai region 1. 21. Perkembangan lengkung gigi (Dental Arch Development) a. Bentuk Arch Dental arch manusia pada masa postnatal pada umumnya berbentuk sebuah kurva catenary. Scott melaporkan bahwa pola catenary juga membentuk embryonic dental lamina dan susunan tooth germs. Ini sudah terlihat untuk menjadi suatu overgeneralisasi. Prenatal dental arch berubah bentuk secara progresif; pada umur 6-8 minggu, sisi anteroprosterior merata, tidak lagi berbentuk kurva catenary. Pada tahap penyusunan tooth germs, segmen anterior dari dental arch memanjang dan mencapai bentuk catenary pada awal bulan ke-4. Bilateral cleft lip dan palatum menahan pertumbuhan dan perkembangan ini; dengan operasi cleft dan kelanjutan dari pertumbuhan facial; dental arch maksila dapat kembali berkembang dan diharapkan mencapai berntuk catenary. b. Spasing Sudah banyak study untuk mempelajari tumbuh kembang spacing gigi pada masa postnatal, salah satunya adalah kontribusi klasi Lundstrom dan Moorrees, tetapi tentang periode prenatal hanya sedikit yang dilaporkan. Gigi susu anterior terutama incisive lateral, kadang terlihat penuh dan keluar dari garis dental arch sebelum lahir, tetapi biasanya erupsi
42

pada garis yang tepat. Diameter mesiodistal dari 5 gigi susu dalam tiap kuadran rahang bertambah samapi usia 23 minggu melebihi panjang dari dental arch. Interdental spacing (ruang antar gigi) relative konstan selama periode ini, hampir semua tooth germs menunjukan perubahan signifikan pada ukuran mesiodistal mahkota, berhubungan dengan fase linear pertumbuhan dari 11-14 dan 20-26 minggu, dengan tingkat fase pertumbuhan di antara periode pertumbuhan linear. Anterior arch hanya mengalami penambahan yang tipis dalam interdental spacing; dalam tiap rahang, spasi posterior arch menunjukan pengurangan selama periode ini. Oleh karena itu, walaupun rahang bertambah dalam ukuran yang sepenuhnya, jaringan interdental tidak ikut mengalami pertambahan dengan bertambahnya ukuran gigi posterior c. Bidang Tingkat paling besar pada penempatan bidang gigi oleh tooth germs adalah sekitar 80% untuk molar pertama gigi susu dan incisivus lateral gigi susu, terdapat adaptasi pada penempatan ini. Kurang lebih 16 minggu pada masa kehamilan. Tooth germs lateral menempati 100% atau lebih dari bidang gigi yang ada pada garis arch, tapi seiring dengan itu kadang terjadi rotasi dan lingual displacement untuk menyesuaikan dengan 80% penempatan tooth germs pada bidang gigi. Lingual displacement incisive lateral terjadi sekitar 4-10 minggu prenatal. Secara singkat, tidak lama setelah gigi melewati tahap tumbuh kembang cap, variasi tumbuh kembang dapat terlihat cukup beraturan, sebagai pola yang stabil atau polymorphisme termasuk hubungan structural atau spatial. Pembentukan gigi adalah suatu kembang yang serangkai dari 3 minggu embryo sampai anak berumur 5 tahun. Tidak heran jika terdapat hubungan antara prenatal odontogenesis dan pembentukan gigi dan penyusunannya

43

BAB IV KESIMPULAN
Dalam tahap pertumbuhan gigi dan perkembangan oklusi, khususnya periodetransisi pergantian gigi sulung ke gigi permanen, banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan lengkung gigi. Benih gigi permanen rahang atas berada di sebelah palatal. Sehingga gigi sulung yang belum tergantikan oleh gigi permanen pada waktu erupsi gigi permanen, akan terdorong oleh gigi permanen dan menyebabkan susunan gigi yang berjejal. Keadaan tersebut disebut maloklusi. Perawatan yang dapat diberikan adalah perawatan orthodonti. Namun, harus ditunggu sampai semua gigi permanen (kecuali M3) erupsi, dan gigi sulung tanggal.

44

DAFTAR PUSTAKA
Avery, James K. 1994. Oral Development and Histology. New York : Thieme Medical Publishers Foster, T.D.1993. Buku Ajar Ortodonsi Edisi III. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran. EGC. Profit, William R. 2007. Contemporary Orthodontics. Missouri : Mosby Elsevier. Subowo. 1981. Histologi Khusus I. Bandung: Universitas Padjadjaran. www.scribd.com/doc/44633814/Occlusi dilihat pada tanggal 10 oktober 2012 http://www.doktergigionline.com/2011/05/klasifikasi-oklusi-angle dilihat pada 10 oktober 2012 http://www.scribd.com/doc/56379168/ATRISI

45