Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN KASUS: OTAK SEBAGAI SISTEM SARAF PUSAT

KELOMPOK III

030.09.031 Aryanto Krismandanu 030.09.032 Asih Kurnia 030.09.033 Athika Herni R. 030.09.034 Athika Rodhya 030.09.035 Ayu Paramitha 030.09.036 Ayu Prima Dewi 030.09.037 Ayu Putu Cikita 030.09.038 Ayu Rahmi Mutmainah

030.09.039 Ayu Rizkya 030.09.040 Ayunda Afdal 030.09.041 Ayunda Shinta N. 030.09.042 Azizah Chairiani 030.09.043 Azmi Ikhsan 030.09.044 B. Bonia S. 030.09.045 Bayu Permana

JAKARTA
07 Desember 2009

Pendahuluan
Cara manusia bertindak dan bereaksi bergantung pada pengolahan neuron yang tersendiri, terorganisasi dan kompleks. Sebagian perbedaan pada sistem saraf antarindividu ditentukan secara genetis. Namun, sisanya disebabkan oleh pengalaman dan perjumpaan

dalam lingkungan. Sistem saraf adalah sistem yang mengontrol tubuh melalui transmisi cepat implus listrik, secara umum mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas tubuh yang cepat, misalnya gerakan otot. Seperti yang telah dipelajari, sistem saraf pada manusia terbagi menjadi sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan korda spinalis. Sedangkan sistem saraf perifer terdiri dari serat-serat saraf di luar sistem saraf pusat. Otak merupakan organ yang paling rumit dan tidak seperti organ lain, otak manusia sedemikian uniknya sehingga tidak cukup semua model hewan percobaan untuk mempelajari fungsi-fungsi otak yang paling komplek dan canggih, misalnya bahasa dan kreativitas. Makalah kami akan membahas secara singkat otak dan saraf dan kaitannya dengan kasus yang ada.

Laporan kasus: Seorang laki-laki berusia 68 tahun, pedagang di pasar, dibawa ke IGD Rumah Sakit Kabupaten oleh anaknya karena pagi-pagi lumpuh tungkai dan lengan kanan disertai tidak mampu berbicara. Pada pemeriksaan IGD oleh dokter pasien tidak dapat menggerakan lengan dan tungkai kanannya dan tidak mampu berbicara. Pada pemeriksaan, pasien sukar menggerakan lengan dan tungkai kanan dan kulitnya terasa baal dan mati rasa, pasien sulit berbicara. Tensi darah 210/120 mmHg. CT scan otak memperlihatkan daerah infark di daerah subcortical.

Pembahasan
Otak manusia terbagi menjadi bagian utama otak dan rongga dalam otak. Bagian utama otak terdiri dari otak depan (cerebrum dan dienchepalon), otak tengah (mesenchepalon), dan otak belakang (pons, medula oblongata dan cerebrum). Sedangkan, bagian rongga dalam otak dibagi menjadi ventrikulus lateralis dextra dan sinistra, ventrikulus tertius, dan ventrikulus kuartus.1 Cerebrum adalah bagian yang terletak di depan dan terbesar dari otak yang terdiri dari dua hemisperium cerebri yang dihubungkan oleh masa substantia alba yang disebut corpus collosum. Setiap hemisper terbentang dari os frontale sampai ke os occipitale. Hemisper ini dipisahkan oleh sebuah celah dalam fissa longitudinal cerebri. Lapisan permukaan hemispherium cerebri disebut cortex dan disusun oleh substansia grissea. Cortex cerebri berlipat-lipat yang disebut gyrus yang dipisahkan oleh sulcus atau fissura. Dengan demikian permukaan cortex bertambah luas. Sejumlah sulcus yang besar membagi permukaan setiap hemispher dalam lobus-lobus. Cerebrum dibagi menjadi empat lobus yaitu, lobus frontalis, lobus parietalis, lobus occipitalis, dan lobus temporalis.1, 2 Lobus frontalis dan lobus parietalis dipisahkan oleh sulcus centralis Rolandi. Kemudian setiap lobus ini akan dibagi kembali menjadi beberapa gyrus menjadi gyrus superior, medianus, dan inferior. Bagian yang lebih anterior dari sulcus centralis Rolandi terdapat gyrus precentralis, sedangkan lebih posterior dari sulcus centralis Rolandi terdapat gyrus postcentralis. Pada lobus frontalis terdapat gyrus frontalis inferior yang memiliki tiga bagian (pars) yaitu, pars orbital, pars triangularis sebagai pusat bicara motorik, dan pars opercularis. Pada lobus parietalis terdapat gyrus supramarginalis, gyrus angularis, dan sulcus intraparietalis. Sedangkan pada lobus occipitalis terdapat sulcus lunatus dan sulcus calcaria. Lobus parietalis dan lobus occipitalis dipisahkan oleh sulcus parieto-occypitalis yang akan dipisahkan kembali dengan lobus temporalis oleh sulcus lateralis cerebri sylvii.2

Cerebrum dilindungi oleh os cranium bagian calvaria. Sebelum mencapai cerebrum, terdapat lapisan-lapisan yang melindungi cerebrum sala satunya adalah korteks cerebrum. Korteks cerebrum adalah bahan abu-abu (substansia grisea) di lapisan terluar yang membungkus bahan putih (substansia alba) di bagian tengah. Substansia Grisea terutama terdiri dari badan-badan sel yang terkemas rapat dengan dendrit-dendrit mereka dan sel-sel glia. Berkas atau tractus serat-serat saraf bermielin (akson) membentuk substansia alba. Penampakannya yang putih disebabkan oleh komposisi lemak mielin. Berikut ini adalah daerah fungsional di korteks Cerebrum:2 1. Pramotorik (koordinasi gerakan kompleks) 2. Asosiasi prafrontalis (pencernaan aktivitas volunter; pembuatan keputusan; sifat pribadi) 3. Auditorik primer (untuk pendengaran) 4. Asosiasi limbik (sebagian dasar ditemukan dalam dan bawah lobus temporalis; motivasi dan emosi; ingatan) 5. Penglihatan primer (untuk penglihatan) 6. Asosiasi parietalis, temporalis, occipitalis (integrasi semua masukan sensorik; penting dalam berbahasa) 7. Parietalis posterior (integrasi masukan somatosensorik dan penglihatan; penting untuk gerakan-gerakan kompleks) 8. Somatosensorik (sensasi somestetik dan propriosepsi) 9. Motorik primer (gerakan volunter)

Selain cerebrum, bagian otak depan lainnya adalah diencephalon. Diencephalon hampir seluruhnya tertutup oleh permukaan otak. Diencephalon terdiri atas thalamus di dorsal dan hypothalamus di ventral. Thalamus adalah massa substansia grisea besar, yang terletak di

dextra dan sinistra ventrikulus tertius. Thalamus merupakan stasiun perantara besar untuk sensoris aferen yang menuju korteks cerebrum. Hypothalamus membentuk bagian bawah dinding lateral dan dasar ventrikulus tertius. Struktur-struktur berikut ini terdapat di dasar ventriculus tertius, dari depan ke belakang: chiasma opticum, tuber cinereum dan infundibulum, corpora mammaria, dan substantia pervorata posterior.

Seperti yang telah disebutkan di atas, cerebrum terbagi atas 4 lobus. Berikut adalah fungsi dari masing-masing lobus:2 1. L. Occypitalis :alat penglihatan 2. L. Parrietalis :bertanggung jawab menerima/mengolah masukan sensor (sensasi somatik) 3. L. Frontalis :aktivitas motorik volunter, elaborasi pikiran, kemampuan bicara

4. L. Temporalis :pusat pendengaran, keseimbangan, emosi dan memori

Pada bagian korteks otak terdapat suatu pembagian daerah dengan menggunakan nomor yang dibedakan atas dasar sel-sel saraf penyusun jaringannya yang disebut Area Brodmann (gambar 1).3

(gambar 1). Brodmann area. Available at: http://www.umich.edu/~cogneuro/jpg/Brodmann.html

Cerebrum dibagi menjadi dua bagian, masing-masing bagian itu disebut hemisfer (dextra dan sinistra hemisfer). Sinistra hemisfer pada umumnya merupakan hemisfer dominan untuk kontrol motorik halus. Karenanya, sebagian besar orang bersifat dextra, karena sisi sinistra otak mengontrol sisi dextra tubuh. Sinistra hemisfer unggul dalam melaksanakan tugas logis, analitik, sekuensial, dan verbal misalnya, matematika, pembentukan bahasa, dan filsafat. Sebaliknya, dextra hemisfer unggul dalam keterampilan non-bahasa, terutama persepsi spasial, kemampuan artisitik, dan musik. Dalam keadaan normal, di antara dua hemisfer terjadi pertukaran informasi yang luas sehingga mereka saling melengkapi. Tetapi ada salah satu hemisfer yang dapat berkembang lebih kuat, inilah yang disebut hemisfer dominan. Dominasi ini berhubungan dengan kemampuan berbicara oleh karena sinistra hemisfer unggul dalam kemampuan berbicara. Maka, orang yang sinistra hemisfer-nya dominan, kemampuan bicaranya akan lebih bagus. Sebaliknya, orang yang dextra hemisfernya lebih berkembang, kemampuan bicaranya agak kurang.2 Sistem perdarahan otak disuplai oleh dua arteri carotis interna dan dua arteri vertebralis. Keempat arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior otak dan membentuk circulus Willisi (circulus arteriosus). Circulus Willisi ini, termasuk a. communicans anterior, a. cerebri anterior, a. carotis interna, a. communicans postrior, a. cerebri posterior, dan a. basilaris, memungkinkan darah masuk melalui a. carotis interna atau a. vertebralis untuk mendistribusikan nutrisi ke kedua hemispherium cerebri. Cabang-cabang cortical dan central dari circulus ini menyuplai substansi otak. Sedangkan jalur vena di otak keluar dari otak dan bermuara ke dalam sinus venosus cranialis. Selain itu, vena interna cerebri akan membentuk vena magna cerebri yang akan bermuara ke dalam sinus rectus.4 Ventrikel otak terdiri dari atas dua ventrikulus lateralis, ventrikulus tertius, ventrikulus quartus. Ventrikulus lateralis berhubungan dengan ventrikulus tertius melalui foramina interventrikularis tertius berhubungan dengan ventrikulus quartus melalui aquaeductus

cerebri. Ventrikulus berisikan liquor cerebrospinalis (LCS) yang dihasilkan oleh plexus coroidalis, kedua ventrikulus lateralis, ventrikulus tertius dan ventrikulus quartus. LCS tersebut dikeluarkan dari sistem ventrikel otak melalui tiga foramen pada atap ventrikulus quartus dan masuk ke dalam spatium subarachnoideum. Kemudian, cairan ini mengalir ke atas permukaan hemisferium cerebri dan ke bawah sekitar medula spinalis. Spatium subarachnoideum meluas ke bawah sampai setinggi vertebra sacralis kedua. Akhirnya LCS masuk ke dalam aliran darah melalui filli arachnoideales dengan berdifusi melalui

Otak

Sistem Saraf Pusat

Korda Spinalis

Divisi Aferen

Sistem Saraf Tepi

Divisi Eferen

R. Sensorik

R. Viseral

S.S. Somatik

S.S. Otonom

Neuron Motorik

S.S. Simpatis

S.S. Parasimpatis

Otot rangka

Otot polos Otot jantung Kelenjar

Organ-organ efektor (gambar 2). Mekanisme penyaluran impuls dindingnya. LCS berfungsi membawa yang berhubungan dengan aktivitas neuron. Mekanisme tersebut efektif untuk melindungi otak terhadap trauma (sebagai barrier).1 Terlihat begitu banyak lapisan dan cairan yang berguna untuk melindungi otak dikarenakan fungsi otak itu sendiri. Otak merupakan pusat sistem saraf manusia yang

berfungsi untuk mengatur seluruh kegiatan tubuh. Keotaklah, rangsangan yang diterima disampaikan dan dari otaklah respon akan diberikan yang nantinya akan diekspresikan oleh tubuh. Secara singkat, mekanisme penyaluran impuls dapat dilihat di (gambar -).5 (gambar 2) menggambarkan tentang hubungan antara susunan saraf pusat dengan susunan saraf tepi. Hubungan tersebut

tercipta saat rangsangan dari reseptor ke sistem saraf pusat dan dari sistem saraf pusat ke efektor terhantarkan oleh sistem saraf tepi.5 Pada gerakan normal, rangsangan ditangkap oleh reseptor (saraf aferen), kemudian dihantarkan ke sistem saraf pusat (otak dan medulla spinalis) melalui sistem saraf tepi pada bagian divisi aferen. Setelah itu, rangsangan akan dilanjutkan ke sistem saraf somatik melalui sistem saraf tepi pada divisi eferen. Sedangkan untuk gerakan refleks terjadi dalam keadaan darurat

(emergency) yang menyebabkan impuls saraf tidak sampai ke otak sehingga

rangsangan dihantar langsung ke otot rangka dengan hanya disampaikan ke medula spinalis.5
(gambar 3). Transmitting process. Available at: http://www.mun.ca/biology/desmid/brian/BIOL206 0/BIOL2060-13/CB13.html

Penghantaran ini tidak hanya melewati satu saraf (neuron) yang panjang, tetapi melewati banyak neuron hingga dapat ke sistem saraf pusat ataupun ke tulang belakang.

Setiap sel saraf memiliki celah yang dinamakan celah sinap (synapsis). Tetapi, penghantaran rangsang tidak terjadi begitu saja. Rangsang yang tubuh terima akan diterima oleh saraf aferen yang akan diubah menjadi hantaran listrik. Tetapi, hantaran listrik ini tidak dapat begitu saja melewati synapsis karena jarak yang terlalu lebar. Karena itu, dibutuhkan suatu pembawa (transmitter) dari neuron ke neuron yang lain yang disebut neurotransmitter.6 Neurotransmitter merupakan zat pembawa dari pre-sinaps ke post-sinaps. Pre-sinaps merupakan rangsang dari akson ke celah sinaptik sedangkan post-sinaps merupakan perambatan potensial aksi di neuron pre-sinaps (gambar 3).

(gambar 4). Elements of synaptic transmission. Available at: http://www.ece.umd.edu/class/enee719t.S2001/figs/neurons/syntran-basic.gif

Peranan neurotransmitter dalam penjalaran impuls saraf adalah sebagai alat transport impuls saraf antara pre-sinaps dan post-sinaps. Proses tersebut diawali dengan adanya potensial aksi di neuron pre-sinaptik yang merambat ke terminal akson sehingga membuka saluran-saluran Ca2+ voltage di kepala sinaps. Ion Ca2+ mengalir ke dalam sinaps karena

konsentrasi Ca2+ pada cairan ekstra sel jauh lebih tinggi. Melalui eksositosis, ion Ca 2+ menginduksi pelepasan neuro transmitter disebagian vesikel sinaps ke dalam celah sinaps. Neurotransmitter yang bebas akan berdifusi melalui celah dan berikatan dengan reseptor proton spesifik di membran subsinaps. Pengikatan ini memberikan efek terbukanya saluransaluran ion spesifik di membran subsinaps sehingga terjadi perubahan permeabilitas neuron pasca sinaps (gambar 4).6

Kesimpulan
Bagi makhluk hidup (terutama manusia), otak merupakan organ terpenting karena berfungsi sebagai mengatur seluruh kinerja tubuh. Tetapi, pengaturan tubuh ini pun tidak lengkap dengan ketiadaan persyarafan tubuh yang merupakan jalur penerimaan dan menyampaian dari dan ke luar sistem saraf pusat dan korda spinalis. Penyampaian suatu rangsangan dari impuls ke impuls lainnya pun memelukan suatu pembawa yang disebut neurotransmitter. Perdarahan di otak disuplai oleh circulus Willisi dan kembali ke jantung dengan sebelumnya bermuara ke sinus venosus cranialis dan sinus rectus.

DAFTAR PUSTAKA

1. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. In: Shugiharto L, editors. 6 st ed. Jakarta:EGC;2006;p.757-9. 2. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. In: Santoso BI, editors. 2nd ed. Jakarta:EGC;2001;p.116-8. 3. Meyer DE, Mueller ST, Seymour TL, Kieras DE. Brain loci of temporal coding and serial-order control for verbal working memory revealed by computational modeling and focal lesion analysis of memory-span performance. Cognitive Neuroscience 2000:p.147. 4. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. In: Shugiharto L, editors. 6 st ed. Jakarta:EGC;2006;p.761-2. 5. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. In: Santoso BI, editors. 2nd ed. Jakarta:EGC;2001;p.106-7. 6. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. In: Santoso BI, editors. 2nd ed. Jakarta:EGC;2001;p.90-1.