Anda di halaman 1dari 11

PEMBERDAYAAN SDM PENGRAJIN GUNA MENINGKATKAN MUTU SOUVENIR ACEH DALAM RANGKA PEMERATAAN PENDAPATAN MASYARAKAT

Oleh : Drs. Helmy Ali, MM Widyaiswara Madya BKPP Aceh

I. Pendahuluan Souvenir adalah barang-barang kerajinan tangan (handy crafts), yang merupakan hasil kreativitas para pengrajin yang mampu merubah benda-benda yang terbuang dan tidak berharga menjadi produk-produk kraft tangan yang menarik dan diminati banyak orang, terutama para wisatawan. Dalam kamus The Collins Cobuild Dictionary (2009), kata souvenir diartikan: Souvenir is usually small and relatively inexpensive article given, kept or purchased as a reminder of a place visited, an occasion, etc. (Souvenir adalah benda yang ukuranya relative kecil dan harganya tidak mahal; untuk dihadiahkan, disimpan atau dibeli sebagai kenang-kenangan kepada suatu tempat yang dikunjungi, suatu kejadian tertentu, dsb.). Sementara itu, dalam kamus Webster English Dictionary (2004), kata souvenir diartikan sebagai, an object a traveler brings home for the memories associated with it. (Souvenir adalah benda yang dibawa pulang oleh wisatawan sebagai kenang-kenangan bagi perjalanannya itu). Dalam Bahasa Indonesia souvenir sering disebut dengan cendera mata, oleholeh, atau buah tangan. Mungkin, dahulu jika seseorang melakukan perjalanan ke suatu tempat di luar tempat tinggalnya, keluarga, famili, atau rekan, sering mengatakan nanti kalau pulang, jangan lupa bawakan souvenir atau cenderamata, oleh-oleh, atau buah tangan. Dengan demikian, pengertian souvenir dalam bahasa Indonesia, walaupun disebut cenderamata, oleh-oleh, atau buah tangan, tetapi maknanya hampir sama dengan yang terdapat dalam The Collins Cobuild Dictionary atau Webster English Dictionary, yaitu benda yang ukuran kecil, harganya murah dan sebagai kenang-kenangan bagi suatu perjalan ke daerah tertentu.

Dengan demikian, souvenir berhubungan erat dengan kegiatan perjalanan seseorang, maka tidak mengherankan jika istilah souvenir melekat dengan kegiatan pariwisata; bahkan menjadi bagian dari produk wisata. Hal ini karena ada pengaruh souvenir terhadap motivasi perjalanan seseorang ke suatu Daerah Tujuan Wisata. Sebagai contoh, suatu hari seseorang memakai T-Shirt dengan salah satu logo, seperti: Thailand, Bangkok, Singapore, Danau Toba atau Sabang. Beberapa minggu kemudian muncul orang lain dengan hal yang sama, misalnya dengan T-shirt berlogo Sabang. Kejadian di atas, tentu ada hubungan pengaruh sebab dan akibat antara kejadian yang pertama dengan yang berikutnya. Oleh karena itu, ada anggapan bahwa souvenir dapat menjadi bagian dari aktivitas promosi pariwisata suatu daerah. Sebenarnya, hal yang paling penting dalam kaitannya dengan souvenir adalah terbukanya mata pencaharian bagi masyarakat. Makin besar volume penjualan souvenir, maka semakin besar pula income yang diperoleh oleh masyarakat. Hal ini karena aktivitas souvenir lebih banyak menyentuh rakyat kecil dibandingkan dengan pengusaha besar, selama pengusaha besar tidak menguasai usaha-usaha kecil itu. Masyarakat tidak perlu modal besar untuk menciptakan souvenir; hanya dengan kemauan, kreativitas dan keterampilan, masyarakat sudah dapat mengolah benda-benda yang tidak terpakai di lingkungannya seperti serat kayu, rotan, bambu, tempurung kelapa, kulit kerang, kulit siput, dll. menjadi barang-barang souvenir seperti gantungan kunci, hiasan dinding, asbak rokok, pot bunga, kap lampu, dll. Barang-barang itu dapat dijual yang pada akhirnya menjadi sumber penghasilan bagi mereka.

II. Souvenir Sebagai Produk Wisata Seperti disebutkan terdahulu, souvenir identik dengan cenderamata terutama bagi para wisatawan, makanya wisatawan yang berkunjung ke suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW), pasti tidak akan pernah absen berkunjung ke pusat-pusat penjualan souvenir untuk mencari sesuatu yang menarik untuk dibawa pulang. Ketika pulang dari perjalanan, wisatawan membagi-bagikan souvenir kepada

famili, kerabat dan rekan-rekan sebagai kenang-kenangan. Penerima sangat senang

dengan pemberian itu dan ingin mengetahui lebih jauh tentang daerah penghasil souvenir tersebut. Akhirnya, merekapun berkunjung ke daerah penghasil souvenir itu. Oleh karena itulah souvenir dianggap sebagai media promosi pariwisata. Jika demikian, apakah souvenir boleh dimasukkan kedalam komponen produk wisata, seperti hotel, restoran, transportasi, dll. Salah satu indikasi bagi komponen produk wisata adalah mampu memberikan efek ganda (multiplier effects) bagi perkembangan perekonomian rakyat. Sebagai contoh, sebuah hotel dengan 200 kamar, yang dapat menampung 400 orang tamu. Ini berarti hotel itu memerlukan sejumlah barang untuk makanan tamunya, seperti beras, ikan, udang, daging, ayam, telur, sayuran, buahbuahan, bumbu masak, dll. Semua barang-barang itu tidak dihasilkan sendiri oleh pihak manajemen hotel melainkan dibeli dari pihak lain; dari pasar, nelayan, petani, orang kampung, dsb. Coba bayangkan berapa banyak orang yang terlibat untuk pengadaan barang-barang itu. Jika jumlah wisatawan yang berkunjung cukup banyak jumlahnya, maka volume jumlah kebutuhan barang seperti itupun cukup banyak pula dan akan melibatkan semakin banyak orang untuk pengadaan barang-barang itu. Pengertian efek ganda (multiplier effect) dalam dunia pariwisata adalah terjadinya mata rantai pemerataan pendapatan dari orang perorang, yang dimulai dari kegiatan menyediakan barang-barang kebutuhan untuk para wisatawan, seperti makanan, minuman, souvenir, dll. Sebagai contoh, hotel setiap hari membeli 20 kg beras, 50 ekor ayam, 20 kg udang, 30 kg ikan, dll. Penjual barang-barang itu tentu sudah ada uang dan kemudian membeli barang-barang keperluan mereka yang lain, seperti makanan ternak, beras, pakaian, dsb; begitulah seterusnya, sehingga masyarakat di sekitar hotel mendapat percikan pendapatan karena semua barang yang ada disitu laku terjual. Coba kita lihat souvenir kerajinan rotan, misalnya. Apakah souvenir itu memberikan effek ganda (multiplier effects) bagi perekonomian rakyat ? Pengrajin tidak mencari rotan ke hutan, tidak mengolah sendiri rotan itu, pembuatan souvenir juga tidak dilakukannya sendiri, bahkan pemasaranpun perlu melibatkan orang lain. Jika dihitunghitung banyak juga keterlibatan orang lain dalam usaha souvenir. Makin banyak souvenir

yng terjual, maka makin banyak pula masyarakat yang terlibat dengan usaha souvenir itu dan mendapatkan uang untuk membeli keperluan mereka yang lain. Hal ini menyebabkan terjadinya perputaran uang yang sangat besar di dalam komunitas masyarakat itu. Kalau begitu, bisnis souvenir juga memberikan efek ganda bagi perekonomian rakyat, dan dengan demikian usaha souvenir dapat dimasukkan dalam komponen produk pariwisata.

III. Souvenir Sebagai Komoditi Daerah Para ahli ekonomi menyebutkan bahwa pariwisata adalah bagian dari aktivitas ekonomi, karena hampir semua kegiatan pariwisata bertujuan mencari penghasilan (income), laba (profit) atau keuntungan. Oleh karena itu tidak mengherankan jika keberhasilan pariwisata diukur dari besar atau kecilnya dampak pariwisata terhadap perekonomian (Rukendi, C. 2004). Jika aktivitas pariwisata tidak memberikan dampak bagi perekonomian berarti pembangunan pariwisata gagal, jika memberikan dampak sedikit/kecil berarti keberhasilannya relatif kecil, tetapi jika dampaknya besar berarti pembangunan pariwisata berhasil ! Secara umum, produk pariwisata ada dua macam, yaitu produk barang dan produk jasa. Produk barang atau yang disebut dengan produk nyata (tangible product) yaitu berupa barang-barang yang dapat diraba, dipegang dan dibawa pulang oleh wisatawan seperti barang-barang souvenir. Sementara produk jasa atau yang disebut dengan produk tidak-nyata (intangible product), hanya bisa dilihat, dirasa, atau dinikmati oleh wisatawan seperti cuaca dingin, hawa segar, pemandangan indah, tarian yang menarik, pelayanan yang baik, dll. Kedua jenis produk pariwisata di atas dapat menjadi sumber pendapatan (income) bagi masyarakat (produsen), jika mereka memiliki kemampuan, kejelian dan kearifan dalam mengolah dan meramu produk-produk tersebut hingga menjadi komoditi yang dapat dijual kepada wisatawan. Meskipun demikian, keberadaan souvenir di Aceh belum memberikan manfaat yang maximal sebagai sumber pendapatan (income) bagi masyarakat. Coba kita ke tempat-tempat rekreasi di Aceh, seperti Ujong Batee, Pasir Putih (Lhok Me), Lhok Nga,

Lam Puuk, dll. Disana, belum ada kios-kios souvenir yang dibangun secara bersahaja seperti di daerah lain untuk tempat berjualan bermacam-macam barang souvenir. Kalau ditanya kepada masyarakat mengapa tidak menjual barang-barang souvenir. Mereka menjawab: Tidak ada yang beli !. Apa benar tidak ada yang mau membeli barang-barang souvenir disana, padahal pengunjung sering ramai di sana, terutama hari minggu. Apakah betul jawaban masyarakat yang menyatakan bahwa souvenir tidak laku dijual di obyek-obyek wisata di Aceh ?, Jika ya, kemungkinan hal itu disebabkan oleh hal-hal berikut: 1) souvenir yang ada di sana tidak menggambarkan identitas obyek wisata tersebut. 2) kualitas souvenir sangat rendah, tidak rapi dan tidak menarik. 3) harga souvenir terlalu mahal/tidak sesuai dengan mutunya. 4) ukuran souvenir terlalu besar dan sulit dibawa pulang. 5) souvenir yang ditawarkan, tidak ada yang berbentuk barangbarang sederhana (simple), seperti gantungan kunci, hiasan tas, hiasan rambut, T-shirt, celana renang, dsb. 6). souvenir yang dijual berupa benda-benda yang diambil dari alam yang berdampak pada kerusakan lingkungan, seperti: corals, binatang laut, kerang laut, siput, dsb. karena banyak orang serkarang yang sudah sadar lingkungan dan membenci tindakan pengambilan benda-benda alam yang menyebabkan terjadinya degradasi nilainilai alami. Sekarang banyak orang yang sudah sadar lingkungan dan sangat membenci pengambilan benda-benda alam yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan nilai-nilai alami suatu daerah lebih-lebih daerah konservasi seperti Pantai Pasir Putih Lhok Me (Krueng Raya). Jika demikian, pengrajin perlu mempertimbangkan nilai jual souvenir, jika tidak ada nilai jual, sebaiknya souvenir seperti itu tidak perlu diproduksi. Kriteria di atas mungkin dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi para pengrajin dalam membuat souvenir. Selanjutnya, yang tidak kalah penting adalah pertimbangan agar souvenir berakar pada sumber daya budaya masyarakat. Hal ini dapat dilakukan jika souvenir itu dibuat oleh pengrajin lokal, karena jiwa seni mereka tidak terlepas dari pengaruh budayanya yang dituangkan kedalam souvenir. Perlu diingat, souvenir yang tidak memiliki nafas budaya, juga sulit terjual !.

Jika produksi barang-barang souvenir sudah cukup banyak dan bervariasi, maka diperlukan out-let untuk tempat penjualan. Barang-barang souvenir tidak mungkin di jual seperti keripik pisang dengan menggunakan gerobak dorong yang diparkir di terminal, stasiun, airport, halte bus, dll. Akan tetapi, untuk penjualan barang-barang souvenir diperlukan outlet khusus meskipun keripik pisang juga ikut dijual disana. Outlet untuk penjualan barang-barang souvenir perlu direncanakan dengan baik dan matang mulai dari lokasi, bentuk bangunan, lay-out, dll. Setelah itu barulah diisi dengan barang-barang souvenir untuk dijual. Lokasi out let yang strategis dengan bangunan yang bagus dan menarik, lay out yang baik, penataan yang apik akan membuat barang-barang souvenir yang ada di dalamnya menjadi lebih menarik. Pembangunan out let untuk penjualan souvenir dilakukan oleh pemerintah, dan setelah siap, diserahkan kepada masyarakat untuk dimanfaatkan. Sistem pengelolaan out let juga perlu dipikirkan agar dana yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk investasi itu dapat kembali ke kas daerah dalam bentuk Pedapatan Asli Daerah (PAD).

IV. Existing Condition Souvenir Aceh 1. Kondisi Pengrajin Pengrajin memegang peranan penting bagi kelangsungan hidup usaha souvenir karena tanpa pengrajin souvenir tidak akan pernah ada dan berkembang. Begitu juga dengan mutu souvenir dan keaneka ragaman produknya, jika pengrajin tidak kreatif, inovatif dan terampil maka hal itu juga tidak akan pernah terwujud. Pengrajin souvenir Aceh terdiri dari: 1). Pengrajin yang memang menggantungkan hidupnya dari usaha kerajinan tangannya itu. Pengrajin ini biasanya menghasilkan kerajinan rotan, bamboo dan kayu. 2). Pengrajin yang merupakan anggota masyarakat yang berprofesi ganda, artinya tidak menggantungkan hidupnya dari kerajinan sematamata. Mereka terdiri dari ibu rumah tangga, remaja putri putus sekolah dan tamatan SLTA yang tidak lagi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pengrajin ini biasanya menghasilkan barang-barang sulaman, bordiran, rajutan dan jahitan seperti baju adat, aneka macam tas, dompet, hiasan dinding, kopiah, dll.

Sebenarnya, keberadaan pengrajin dapat dilihat dari ada tidaknya stok produk souvenir di pasar. Jika di pasar terjadi pertumbuhan produksi souvenir berarti existensi pengrajin masih baik, tetapi jika produksi menurun maka existensi pengrajin terganggu, dan jika barang-barang souvenir sudah tidak ada lagi di pasar berarti pengrajin sudah tidak ada lagi. Kenyataannya, di lapangan masih ditemukan banyak stok produk barangbarang souvenir, maka dapat disimpulkan sementara bahwa pengrajin Aceh masih ada (exist). Sebelum tsunami menerpa Aceh tahun 2004, jumlah pengrajin di Aceh tergolong banyak; di Kota Banda Aceh saja jumlahnya mencapai puluhan orang, belum termasuk di kota-kota yang juga ikut hancur karena tsunami seperti Lam No, Calang, dan Meulaboh. Dengan demikian, pasca tsunami jumlah pengrajin menjadi berkurang. Untuk menjaga existensi pengrajin, banyak pihak yang telah ikut memberikan perhatian dan batuannya; disamping pemerintah, para NGO asing bekerja sama dengan NGO dalam negeri telah melaksanakan pelatihan-pelatihan bagi pengrajin mulai dari pelatihan untuk meningkatkan ketrampilan, pelatihan manajemen mengelolaan usaha souvenir dan pelatihan pemasaran barang-barang souvenir. Berdasarkan informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa dari segi kuantitatif jumlah pengrajin yang sudah dilatih melalui beberapa kali pelatihan sudah mencapai ratusan orang. Hal ini berarti sangat menggembirakan karena dengan adanya pelatihanpelatihan itu. Akan tetapi yang mencengangkan adalah dari segi kualitatif; realita di lapangan, disebutkan bahwa dari ratusan pengrajin yang telah berhasil dilatih dan dianggap sudah terdidik ternyata hampir tidak ada yang exist sebagai pengrajin ! Sesudah pelatihan, mereka terbang entah kemana dan mencari pekerjaan yang lain di luar usaha souvenir.

2. Barang-Barang Souvenir Di lapangan, memang dijumpai permasalahan menyangkut barang-barang souvenir Aceh yang ada di toko-toko souvenir. Menurut wisatawan (konsumen) yang dijumpai di toko souvenir menyebutkan bahwa: 1) souvenir Aceh kurang variasi atau tidak banyak

ragamnya sehingga pengunjung seolah-olah tidak diberi peluang untuk memilih souvenir yang diinginkan, 2) souvenir Aceh masih terfokus pada barang-barang souvenir yang harganya mahal dan ukuranya besar, sehingga kalau membeli banyak tidak sanggup dibawa pulang, membeli sedikit nanti tidak cukup untuk dibagi-bagikan ketika kembali ke rumah, 3). souvenir Aceh hampir tidak ada dalam bentuk miniature benda-benda budaya atau sejarah yang menarik, seperti: Mesjid Raya Baiturrahman, Gunongan, rumoh Aceh, dan museum tsunami. Jadi kalau tidak ada miniatur bagaimana membawa pulang benda aslinya ? nyelutuk salah seorang wisatawan. Disamping itu berdasarkan wawancara dengan seseorang dijelaskan bahwa cara produksi souvenir Aceh sekarang berbeda dengan sebelum tsunami. Jika sebelum tsunami, pedagang souvenir (toko souvenir) menyiapkan bahan baku dan memberikan kepada pengrajin untuk dikerjakan. Setelah barang-barang itu siap, pedagang mendatangi pengrajin dan setelah membayar ongkos kerja, pedagang membawa barang-barang itu ke tokonya untuk dijual. Hal seperti itu tidak terlihat lagi sekarang, katanya. Sekarang, pedagang souvenir menyiapkan beberapa macam barang souvenir sebagai sampel, atau menyiapkan design, ukuran, bentuk, dan warna souvenir yang akan diproduksikan. Kemudian pedagang souvenir menyerahkan sampel atau data tentang souvenir kepada pengrajin di luar daerah (Sumut, Sumbar, atau Jawa) untuk diproduksikan secara masal. Setelah selesai, souvenir itu dibawa pulang ke Aceh dan dimasukkan ke tokonya untuk dijual. Pembeli tidak menaruh keberatan, memang, dan juga tidak merasakan adanya pemalsuan barang-barang souvenir Aceh seperti itu. Akan tetapi, jika hal itu benarbenar terjadi, maka yang mendapat manfaat dari souvenir Aceh bukan pengrajin Aceh, tetapi pengrajin luar. Praktek seperti itu berarti sama sperti merampas hak pengrajin Aceh. Memang, kita belum memfonis bahwa hal itu benar-benar terjadi, tetapi baru sekedar informasi, hal ini menjadi masukan bagi instansi yang berwenang untuk melakukan penelusuran yang lebih mendalam. Jika informasi itu benar, maka perlu dilakukan langkah-langkah kongkrit untuk menghentikan praktek seperti itu.

VI. Kondisi Yang Diharapkan Agar volume penjualan souvenir Aceh meningkat, maka para pengrajin perlu mempertimbangkan beberapa unsur pokok dalam bisnis souvenir, yaitu: Pertama, adanya keseriusan pengrajin dalam membuat barang-barang souvenir. Kedua, adanya peningkatan ketrampilan pengrajin dalam memproduksikan barang-barang souvenir sehingga kualitas, penampilan dan versifikasi produk souvenir dapat dilakukan. Ketiga, pengrajin perlu mengetahui selera pembeli sehingga barang-barang souvenir yang dibuat sesuai dengan selera mereka, Keempat, adanya outlet, yaitu tempat para pembeli menemukan barang-barang souvenir itu. Kelima, pengrajin dalam menciptakan barangbarang souvenir perlu mempertimbangkan ukuran yang kecil dan harganya yang bersaing karena salah satu pertimbangan konsumen membeli barang-barang souvenir adalah ukuran yang tidak besar, dan harganya yang murah ! Untuk terciptanya para pengrajin Aceh yang memiliki kualifikasi seperti tersebut di atas, diperlukan hal-hal sebagai berikut, yaitu: Pertama, perlu ada pelatihan dan pembinaan peningkatan mutu ketrampilan pengrajin souvenir Aceh secara terencana dan terarah; Kedua, para pengrajin perlu bantuan modal usaha dan pembinaan yang berkelanjutan. Hal ini karena, kreativitas, keinginan dan kesediaan untuk melakukan pengembangan souvenir akan muncul jika pengrajin merasa memiliki usaha souvenir itu. Jika pengrajin hanya sebagai pekerja mana mungkin rasa memiliki itu ada, bahkan sebaliknya, mereka akan merasa terpukul karena jerih payahnya dimanfaatkan oleh orang lain untuk meraup keuntungan yang besar. Oleh karena itu dalam rangka pengembangan souvenir, pengrajin perlu mendapatkan pelatihan, pembinaan, modal usaha dan out-let untuk penjualan souvenir. Ketiga, para pengrajin dalam bekerja, sebaiknya terkonsentrasi dalam satu bangunan tertentu dan dengan manajemen tersendiri. Untuk itu pemerintah perlu memikirkan pembangunan Pusat Kerajinan Aceh di setiap ibu kota Kabupaten/Kota di Aceh. Kondisi para pengrajin yang terpencar-pencar dan tidak terkontrol seperti sekarang, sulit dilakukan pembinaan, pengembangan dan bantuan modal. Keempat, instansi terkait perlu melakukan mediasi antara para pengrajin dengan badan pemberi pinjaman, seperti bank, badan-badan perkreditan, dll. Kadang-kadang

pemberian modal dalam bentuk bantuan akan membuat pengrajin manja dan kurang agresif dalam berusaha sehingga pertumbuhan usaha mereka tidak pesat seperti penerima pinjaman. Oleh karena itu, jika mungkin bantuan modal hanya diberikan sebagai modal dasar, selanjutnya jika diperlukan modal yang lebih besar untuk pengembangan usaha, pengrajin dapat melakukannya melalui pinjaman/kredit kepada bank, badan perkreditan, dll. Kelima, perlu juga dilakukan langkah-langkah memperkenalkan pengrajin dengan mitra kerja agar dapat memperluas jaringan pasar.

VI. Kesimpulan Potensi sumberdaya budaya yang dapat membuka peluang untuk pemberdayaan ekonomi rakyat di Aceh sangat besar, namun potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Memang banyak orang yang menganggap hal-hal seperti itu sebagai sesuatu yang kurang potensial, akan tetapi jika dilakukan ternyata mampu menjawab permasalahan social yang begitu besar. Sumberdaya budaya yang terdiri dari barang (goods) dan jasa (service) perlu diolah kedalam bentuk komiditi, seperti barang-barang kerajinan (crafts tangan), barangbarang home industry, obat-obatan tradisional termasuk jamu, barang-barang kosmetika, makanan dan minuman tradisional, dsb. agar dapat dijual kepada konsumen. Sedangkan dalam bentuk jasa (service) terdiri dari Pengobatan Tradisional, Mandi Uap, Spa, dsb. Kesemua itu memerlukan keseriusan dan kerja keras para pengrajin agar mencapai sukses. Yang perlu mendapat pertimbangan adalah masyarakat kita tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa bantuan pemerintah melalui instansi terkait. Mereka pada umumnya tidak memiliki modal usaha, ketrampilan yang memadai dan ilmu untuk mengembangkan usahanya. Oleh karena itu, instansi terkait perlu proaktif dalam melakukan inovasi dan temuan-temuan baru guna memperkenalkan kepada masyarakat aktivitas-aktivitas yang mampu mengangkat taraf hidup mereka. Demikian sedikit pembahasan mengenai Pengembangan Souvenir Aceh dalam rangka peningkatan perekonomian rakyat dengan harapan ada manfaatnya bagi kemajuan

pariwisata dan peningkatan perekonomian rakyat Aceh di masa mendatang, terutama bagi mereka yang terlibat dengan usaha souvenir.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Yoety, O.A. (1985), Komersialisasi Seni Budaya dalam Pariwisata, Bandung. Angkasa. Yoenis, E. (2004), Sustainable Tourism and Proverty Alleviation, Makalah Disampaikan dalam The World Basnk ABCDE Conference, Brussels, 10 Mei 2004. Mallo, Nurlaela, (2003), Stratregi Pemasaran Pariwisata, Makasar: Unhas. Mangiri, Komet (2003), Keterkaitan Pariwisata dengan Ekonomi, Sosbud dan Lingkungan, Jakarta: BPS. Suansri, P. (2003) Community Based Tourism Handbook, Bangkok, Thailand: REST Project. Rinawati, N. (2006), Prospek Pengembangan Cendera Mata dan Makanan untuk OlehOleh, Semarang: UNDIP. Rukendi, C. dan BRA Baskoro (2007), Pembangunan Pariwisata Berbasis Aset dalam Rangka Memerangi Kemiskinan di Indonesia, dalam Jurnal Kepariwisataan Indonesia 2 (1), Jakarta : Puslitbang Kepariwisataan. Pitana, I.G. (2006), Industri Budaya dalam Pariwisata Bali. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.