Anda di halaman 1dari 48

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Masa remaja adalah masa transisi yang labil dan rentan sekali terhadap pengaruh lingkungan sekitarnya. Pada masa remaja ini banyak terjadi perubahan yang cepat baik fisik, maupun psikisosial. Kata remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Pasa masa ini sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan pengertian remaja menurut Zakiah Darajat (1990: 23) adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa adolescene diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.

Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 15 tahun = masa remaja awal, 15 18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 18 21 tahun = masa remaja akhir. Tetapi Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-remaja 10 12 tahun, masa remaja awal 12 15 tahun, masa remaja pertengahan 15 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 21 tahun (Deswita, 2006: 1992). Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Pada masa ini biasanya para remaja mulai memperhatikan penampilan fisiknya, cita cita , peran dirinya, serta harga dirinya atau biasa disebut dengan konsep diri. Erikson (dikutip dari Prof. dr. Soetjiningsih, SpA(K), IBCLC, 2007) mengatakan bahwa untuk menemukan jati dirinya maka remaja harus punya peran dalam kehidupan sosialnya, berjuang dan mengisi masa remajanya dengan hal hal positif yang dapat mengembangkan dirinya. Dalam proses pengembangan dirinya para remaja mengalami proses yang sangat cepat, baik perkembangan fisik maupun psikis. (Dikutip pada jurnal kesehatan BTH, 2009) Bila seorang remaja gagal dalam melalui tugas perkembangan yang sebenarnya, maka pada tahap berikutnya akan terjadi masalah pada diri remaja tersebut. Tugas perkembangan remaja diantaranya adalah remaja harus dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkan secara efektif, namun sebagian besar remaja tidak dapat menerima keadaan fisiknya. Hal tersebut terlihat dari penampilan remaja yang cendrerung meniru penampilan atau tokoh tertentu. Dalam hal ini perubahan fisik pada remaja akan sangat mempengaruhi konsep diri terutama gambaran diri. Penampilan fisik pada remaja merupakan salah satu yang sering menimbulkan masalah dikalangan remaja. Terutama pada bagian wajah yang merupakan hal utama yang pertama kali dilihat dan dinilai sebagai hal yang paling menarik dan perlu dijaga. Hal ini yang membawa kekhawatiran dikalangan remaja, karena para remaja mulai memikirkan

cara untuk terlihat baik seperti yang ia persepsikan. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time. Dan diperkuat juga dengan pernyataan bahwa perkembangan fisik yang begitu menonjol dan tidak sama pada setiap orang menyebabkan rasa cemas akan

perkembangan fisiknya, sehingga akan berpengaruh juga pada konsep dirinya (Pitaloka, 2007) Persepsi atau penilaian seseorang mengenai penampilan fisiknya disebut gambaran diri atau citra tubuh (body image). Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu (Stuart and Sundeen , 1991). Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima stimulus dari orang lain, kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan (Keliat ,1992). Gambaran diri (Body Image) berhubungan dengan kepribadian. Cara individu

memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologinya. Pandangan yang realistis terhadap dirinya menerima dan mengukur bagian tubuhnya akan lebih rasa aman, sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri (Keliat, 1992). Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting, namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara menimbulkan rasa body image dengan puas dan self picture) dapat percaya diri.

tidak

kurang

(www.wordpress.com) Lingkungan sekitar remaja yang sangat rentan sekali untuk mempengaruhi persepsi diri pada remaja membawa dampak kurang baik. Public figure, model , pergaulan yang ada pada remaja ini menjadi sebuah

persepsi yang memrepresentasikan bahwa sosok yang cantik atau cakep yang ideal itu secara fisik terlihat putih bersih dari jauh dari jerawat. Dengan banyaknya informasi di berbagai media dan kemudahan akses para remaja untuk mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang ia inginkan dan persepsikan pada wajahnya, ini mempengaruhi pola tingkah laku pada remaja indonesia. Untuk mendapatkan wajah yang cantik atau cakep sesuai dengan persepsi mereka, banyak diantara para remaja itu melakukan berbagai macam cara, dimulai dengan menggunakan bahan alami hingga bahan bahan kimia agar segera mendapatkan hasil wajah yang putih bersih tanpa jerawat seperti yang mereka persepsikan. Insidensi acne pada remaja bervariasi antara 30-60% dengan insidensi terbanyak pada umur 14 17 pada wanita, dan 16 19 pada pria (dikutip dari Prof. dr. Soetjiningsih, SpA(K), IBCLC, 2007). Kligman melaporkan 15% remaja mempunyai acne klinis (acne major) dan 85% acne fisiologis (acne minor), yaitu acne yang terdiri dari beberapa komedo. Terungkap juga bahwa sekitar 90% dari seluruh remaja mengalami acne dengan derajat yang berbeda beda, dan 20% memerlukan pertolongan dokter. Umumnya insiden terjadi pada sekitar umur 14 17 tahun pada wanita, 16 19 tahun pada pria dan pada masa itu lesi yang predominan adalah komedo dan papul dan jarang terlihat lesi beradang penderita (Djuanda,Hamzah dan Aisyah, 1999). Insidensi diatas diperkuat juga dengan penyataan yang dikutip pada jurnal keperawatan Andy tahun 2009 bahwa, insidensi jerawat 80 100% pada usia dewasa muda, yaitu umur 14 17 tahun pada wanita, dan 16 19 tahun pada pria (Yuindarto, 2009; Harper, 2008). Berdasarkan penelitian Goodman (1999), prevalensi tertinggi yaitu 16 17 tahun, dimana pada wanita berkisar 83 85% dan pada pria berkisar 95 100%. Dari survey di kawasan Asia Tenggara, terdapat 40 80% kasus jerawat, sedangkan di Indonesia, catatan kelompok studi dermatologi kkosmetika Indonesia, menunjukan terdapat 60% penderita jerawat pada tahun 2006 dan 80% pada tahun 2007. Dari kasus di 2007, kebanyakan penderitanya adalah remaja dan dewasa yang berusia antara 11- 30 tahun. Di poli kosmetik bagian ilmu penyakit kulit dan

kelamin RS Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2008, pasien baru yang berobat karena masalah akne sebanyak 123 remaja laki-laki dan 432 remaja perempuan.(dikutip dari Micro Journal, Februari 2012) Diketahui pula bahwa ras Oriental (Jepang, Cina, Korea) lebih jarang menderita akne vulgaris dibanding dengan ras Kaukasia (Eropa, Amerika), dan lebih seringterjadi nodulo-kistik pada kulit putih daripada negro. Akne vulgaris mungkin familial, namun karena tingginya prevalensi penyakit, hal ini sukar dibuktikan. Dari sebuah penelitian diketahui bahwa mereka yang bergenotip XYY mendapat akne vulgaris yang lebih berat penderita (Djuanda, Hamzah dan Aisyah, 1999). Adanya akne dapat membuat hidup menjadi tidak menyenangkan, dan akne sering sekali terjadi pada orang-orang yang berusia belasan dan dua puluhan tahun, yang merupakan kelompok umur yang paling tidak siap menghadapi dampak psikologis akne. Bagian wajahlah yang paling sering terkena, dan bagi remaja wajah bernilai penting, yang berkaitan dengan pengembangan citra dirinya. Pada masa masa ketika akne menyerang, hubungan utama selain dengan keluarganya dan lingkunganteman-teman sesama jenis yang erat menjadi semakin penting. Hendaknya disadari pula jika dampak psikologis dari akne tidak selalu berhubungan dengan derajadkeparahan sebagaimana yang dianggap orang-orang.

Seorang anak muda bisa menghabiskan waktunya merenungi nasibnya dengan berlama-lama di depan cermin, tidak peduli apakah yang tampak di sana hanya beb erapa bintik atau ratusan. (Graham dkk, 2005). Remaja dengan masalah acne tersebut memiliki masalah body imagenya. Dengan kata lain para remaja tersebut sudah memiliki persepsi bahwa wajah yang cantik atau cakep idelanya itu bisa terlihat putih, bersih, dan tidak berjerawat. Sehingga mereka beranggapan bahwa wajah mereka tidak cantik atau cakep, jelek, kucel, tidak menarik, tidak enak dilihat, dan tidak bisa menarik lawan jenis. Akibat dari adanya persepsi seperti itu para remaja dihantui kekhawatiran akan timbulnya jerawat yang membuat penampilan mereka tidak menarik. Berdasarkan fenomena tersebut, penulis

tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Hubungan Gambaran Diri Dengan Munculnya Acne Vulgaris Pada Remaja di SMA .

1.2 Permasalah 1.2.1 Identifikasi Masalah Remaja merupakan masa transisi yang labil dan rentan sekali terhadap pengaruh lingkungan sekitar. Berbagai permasalah pun mulai muncul di masa remaja, dari mulai masalah yang muncul di lingkungan keluarga, sosial, maupun masalah pribadi. Masalah remaja umumnya identik dengan kepuasan yang belum diperoleh sesuai keinginan dan rasa penasaran yang begitu besar. Dalam hal ini para remaja umumnya lebih memandang penampilan fisik sebagai salah satu faktor yang sering sekali memunculkan masalah, karena penampilan fisik merupakan penilaian utama di lingkungan sosialnya. Dari mulai bentuk badan, kecantikan, tinggi badan, dll. Dalam hal ini salah satu masalah dalam penampilan fisik pada remaja adalah dengan munculnya jerawat. Salah satu penyakit kulit yang selalu mendapat perhatian bagi para remaja dan dewasa muda adalah jerawat atau dalam bahasa medis bisa disebut dengan acne vulgaris (Yuindartono, 2009). Penyakit ini tidak fatal, tetapi cukup mengganggu bagi para penderitanya, karena dapat menurunkan rasa kurang percaya diri akibat berkurangnya keindahan wajah penderita. Persepsi remaja yang menganggap jerawat adalah sebuah masalah besar karena dapat mengganggu keindahan dan kecantikan penderitanya, menimbulkan adanya masalah gangguan konsep diri yang dalam hal ini berkaitan mengenai gambaran diri pada remaja atau penderita acne vulgaris. Dengan bermodalkan hasil observasi dan

hasil penelitian yang telah dilakukan pada masalah yang serupa, maka dapat teridentifikasi masalah yang muncul. Dalam hal ini dari penelitian yang ada, ada tiga hal yang menjadi pokok pembahasan masalah. Pokok pembahasan masalah yang pertama yaitu objek penelitian akan akan di berikan penjelasan mengenai konsep gambaran diri dan objek penelitian akan mempersepsikan gambaran dirinya sendiri kepada peneliti. Setelah objek penelitian mengerti dan faham mengenai konsep gambaran diri, pada pokok permasalah kedua peneliti akan menjelaskan tentang salah satu hal yang mengganggu konsep diri pada remaja yaitu dengan adanya acne vugaris (jerawat). Dalam penjelasannya peneliti akan mencari tahu bagaimana perilaku objek penelitian dalam hal menangani jerawat. segala respon yang ada pada objek penelitian akan menjadi bahan pertimbangan penelitian dan solusi. Kemudian pokok pembahasan masalah yang ketiga yaitu menghubungkan konsep gambaran diri yang ada pada remaja dengan adanya permasalah pada citra tubuh yaitu dengan munculnya acne vulgaris yang dikemukanan oleh remaja. Semua pokok permasalah yang diuji kembali kepada objek penalitian tersebut akan menghasilkan satu persepsi tentang kasus yang diangkat. Berdasarkan hal tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimana Hubungan Gambaran Diri Dengan Munculnya Acne Vulgaris Pada Remaja di SMA? 1.2.2 Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang yang diangkat, maka penulis membatasi dalam hal: 1. Konsep gambaran diri pada remaja 2. Konsep perilaku dengan adanya acne vulgaris pada remaja

3. Hubungan gambaran diri dengan adanya acne vulgaris pada remaja. 1.2.3 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk mengetahui Bagaimana Hubungan Gambaran Diri Dengan Munculnya Acne Vulgaris Pada Remaja di SMA? .

1.3 MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 Maksud Penelitian Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Gambaran Diri dengan Munculnya Acne Vulgaris Pada Remaja SMA. 1.3.2 Tujuan Penelitian 1. Mengidentifikasi gambaran diri remaja di SMA. 2. Mengidentifikasi perilaku remaja dalam penanganan acne. 3. Mengidentifikasi hubungan gambaran diri dengan munculnya acne vulgaris pada remaja SMA. 1.4 KEGUNAAN PENELITIAN 1.4.1 Kegunaan Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan teori dan pencarian solusi dalam masalah acne vulgaris pada Remaja. 1.4.2 Kegunaan Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1. Peneliti Untuk mengetahui adanya hubungan gambaran diri dengan munculnya acne vulgaris pada remaja SMA. 2. Pendidikan Dapat menjadi pembuatan acuan atau referensi tambahan dalam Keperawatan untuk masalah yang

Asuhan

berhubungan dengan acne vulgaris pada remaja.

3. Lahan praktek Dapat dijadikan pedoman atau pengetahuan bagi para remaja dalam menghadapi perubahan fisik pada wajah dengan timbulnya acne vulgaris, sehingga tahu untuk penanganan yang baik

1.5 RUANG LINGKUP PENELITIAN Berdasarkan hasil observasi, ruang lingkup penelitian terkait dengan judul yang diangkat Hubungan Gambaran Diri Dengan Munculnya Acne Vulgaris Pada Remaja di SMA, hanya berlaku di lingkungan SMA tempat penulis meneliti masalah yang ada tidak berlaku di sekolah lain.

BAB II KAJIAN TEORITIS

2.1 Landasan Empiris Berdasarkan dari hasil penelitian penelitian sebelumnya yang telah dilakukan mengenai acne vulgaris pada remaja, didapatkan beberapa hasil antara lain; dalam jurnal penelitian Gambaran Konsep Diri Remaja Putri Yang Mempunyai Jerawat di MAN 1 Semarang oleh Faridatul Khoeriyah dengan jumlah responden 157 siswi dengan metode proporsionale stratified random sampling, berdasarkan hasil analisis diperoleh sebagian besar memiliki konsep diri baik dengan persentase 54,3%, sedangkan 45,7% mempunyai konsep diri yang kurang baik. Dengan hasil cirta diri 54,3% baik, harga diri baik sebanyak 62,9%, responden dengan ideal diri baik 50,3%, dengan peran diri baik 63,6%. Dari hasil penelitian Nurul Qomariyah dengan Study tentang Body Image Pada Remaja dengan Acne Vulgaris di SMA MUHAMMADIYAH 7 Surabaya, dengan menggunakan desain deskriptif type survey. Populasi peneliti yaitu semua remaja dengan acne vulgaris dengan karakteristik responden jenis kelamin, usia, dan body image. Diperoleh hasil bahwa remaja yang mengalami acne vulgaris sebagian besar body imagenya negatif dengan persentase 56,1%, dan sebagian kecil body image positif sebesar 43,9%. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa acne vulgaris pada remaja menyebabkan perubahan body image. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Eli Kurniasih pada tahun 2007 mengenai Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Gangguan Citra Tubuh pada Remaja di SMA Negeri 7 Tasikmalaya. Dengan populasi pada penelitian sebanyak 648 siswa periode 2007 sampel yang didapat sebanyak 100 responden, dan tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified sampling. Dari hasil analisis gambaran gangguan citra tubuh pada remaja didapat hasil bahwa sebagian besar remaja mengalami gangguan citra tubuh yaitu 57%, sedangkan remaja yang tidak menglami gangguan citra

tubuh sebanyak 43%. Dari hasil gambaran jerawat pada remaja diperoleh sebagian besar remaja berjerawat yaitu 60% dan yang tidak berjerawat sebanyak 40%. Dan hasil analisis dari hubungan antara jerawat dengan gangguan citra tubuh adalah dari 60 remaja yang berjerawat ada 43 orang (71,7%) yang mengalami gangguan citra tubuh, sedangkan dari 40 remaja yang tidak berjerawat ada 14 orang (35%) yang menglami gangguan citra tubuh. Apat disimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara timbulnya jerawat dengan gangguan citra tubuh, dalam hal ini remaja yang berjerawat mempunyai resiko 4,6 kali mengalami gangguan citra tubuh dibandingkan dengan remaja yang tidak berjerawat. Dari hasil penelitian Andy pada tahun 2009 mengenai Pengetahuan dan Sikap Remaja SMA Santo Thomas 1 Medan terhadap jerawat dengan menggunakan penelitian deskriptif dan jumlah sampel 93 orang. Tehnik pengambilan sampel menggunakan teknik stratified random sampling diperoleh hasil sikap remaja SMA Santo Thomas 1 Medan terhadap jerawat sebanyak 2,2% dikatakan baik, 69,9% dikatakan cukup, 19,3% dikategorikan kurang, dan sebanyak 8,6% dikatakan buruk. Adapun hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2012 oleh Deri Anggraini tentang Hubungan Gambaran Diri dengan Interaksi Sosial Pada Remaja Yang Berjerawat (Acne Vulgaris) di SMAN 3 Padang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan total sampel 158 orang, diperoleh kesimpulan lebih dari separuh remaja yang berjerawat memiliki gambaran diri negatif, paling banyak remaja yang berjerawat memiliki interaksi sosial yang buruk, dan terdapat hubungan antara gambaran diri interaksi sosial pada remaja yang berjerawat. Dari beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan, dan berkaitan dengan hal tersebut maka peneliti akan melakukan penelitian dengan tema Hubungan Gambaran Diri Dengan Munculnya Acne Vulgaris Pada Remaja di SMA.

2.2 Landasan Teoritis 2.2.1 Pengertian 2.2.1.1 Konsep diri konsep diri adalah semua perasaan, kepercayaaan, dan nilai yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengarui individu daam berhubungan dengan orang lain (Tarwoto & Wartonah, 2006). Konsep diri menurut Potter dan Perry (2005) adalah citra mental seseorang terhdap dirinya sendiri, mencangkup bagaimana mereka melihat kekuatan dan kelemahan pada seluruh aspek kepribadiannya. Menurut Beck, Willian dan Rawlin (1993) menyatakan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal, emosional intelektual, sosial dan spiritual. Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu daam berhubungan dengan orang lain (Struat & Sundeen, 1998). Individu dengan konsep diri positif dapat berfungsi lebih efektif yang terlihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan

lingkungan. Konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hunbungan sosial yang maladaptif (Keliat, 1992). Menurut Hurlock (1991) konsep diri adalah gabungan antara pikiran dan perasaan yang dimiliki seseorang yang

menyebabkan timbulnya kesadaran akan eksistensi diri tentang apa dan siapa dirinya. Sedangkan menurut R.B. Burn (1998) Konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan mengenai pendapat oramg lain terhadap diri kita dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Komponen komponen konsep diri menurut Struat dan Sundeen (1998) adalah : 1. Gambaran diri

Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar, yang mencangkup persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masalalu yang secara

berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu. 2. Ideal diri Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berprilaku berdasarkan standar, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu. Sering kali disebut juga bahwa ideal diri adalah cita cita, keinginan, harapan tentang dirinya sendiri. 3. Harga diri Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri. Harga diri dapat berasal dari dua sumber, yaitu diri sendiri dan orang lain. Harga diri mencangkup penerimaan diri sendiri karena nilai dasar, mesi lemah dan terbatas. Pencapaian ideal diri/ cita cita/ harapan langsung menghasilkan perasaan berharga. 4. Peran diri Peran diri adalah seperangkat perilaku yang diharapkan secara sosial yang berhubungan dengan fungsi individu pada berbagai kelompok sosial. Sebagian besar individu mempunyai lebih dari satu peran, yang setiap peran mencangkup pemenuhan harapan tertentu dari orang lain dan pemenuhan harapan ini mengarah pada penghargaan. 5. Identitas diri Identitas diri adalah kesadaran akan keunikan diri sendiri yang bersumber dari penilaian dan observasi diri sendiri. Menurut R.B. Burn (1998) konsep diri pada mulanya adalah citra tubuh, sebuah gambaran yang dievaluasikan mengenai diri fisik.

Sedangkan menurut Struat dan Sundeen (1998) ketika setiap orang menilai tubuhnya dan bertindak menerima dan melindunginya, gambaran diri menjadi dimana ia merasa memiliki tubuhnya sebagai bagian yang terpisah dari orang lain. Gambaran diri, penampilan, dan konsep diri yang positif adalah hal yang saling terkait. Rentang individu terdapat konsep diri berfluktuasi sepanjang rentang respon konsep diri yaitu adaftif sampai maladaftif.

G a mbar 2.2.1.1 Rentang respon konsep diri a. Aktualisasi diri adalah pernyataan tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang pengalaman sukses. b. Konsep diri yang positif apabila individu mempunyai pengalaman yang positif dalam mewujudkan dirinya. c. Harga diri yang rendah adalah transisi antara respon konsep diri adaptif dan maladaptif. d. Kerancuan identitas adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek aspek identitas masa kanak kanak kedalam kematangan kepribadian pada masa dewasa yang harmonis. e. Depersonalisasi adalah kepercayaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri sendiri yang berhubungan dnegan

kecemasan, kepanikan dan tidak dapat membedakan diri dengan orang lain.

2.2.1.2 Gambaran Diri

1) Definisi Gambaran Diri Struat (2007) mendefinisikan gambaran diri/ citra tubuh sebagai kumpulan sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Sikap ini mencangkup persepsi dan perasaan tentang ukuran dan bentuk tubuh, fungsi, penampilan dan potensi tubuh saat dan masa lalu yang berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu. Citra diri dipengaruhi oleh pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik. Perubahan perkembangan yang normal seperti pubertas dan penuan terlihat jelas terhadap citra diri dibandingkan dengan aspek aspek konsep diri yang lain. Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima stimulus dari orang lain, kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan. Dan ini sangat memperlihatkan bahwa citra diri juga dipengaruhi oleh sosial budaya. Budaya dan masyarakat menentukan norma norma yang diterima luas mengenai citra diri dan mempengaruhi sikap seseorang, misalnya berat tubuh ideal, warna kulit, tindik tubuh serta tato dan sebagainya (Alimul, 2008). Menurut R.B. Burn (1998) istilah istilah citra tubuh dan skema tubuh dipergunakan untuk menyampaikan konsep tentang tubuh fisik yang dimiliki oleh masing masing orang. Citra tubuh melibatkan suatu perkiraan dan evaluasi tentang alat alat fisik didalam hubungannya dengan norma sosial dan umpan balik dari orang lain. Skema tubuh merupakan hal yang fundamental terhadap citra yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri sebagai makhluk yang berfisik.

Menurut Hogman dan Castle (dalam jacinta, 2004), body image adalah gambaran mental seseorang terhadap bentuk ukuran tubuhnya; persepsi dan penilaian seseorang terhadap bentuk atas pikiran dan perasaannya terhadap ukuran dan bentuk tubuhnya, dan atas penilaian orang lain terhadap dirinya. Yang dalam hal ini, sebenarnya apa yang dia pikirkan dan rasakan, belum tentu merepresentasikan keadaan yang aktual, namun lebih merupakan penilaian diri yang subjektif. Gambaran diri seseorang adalah bagaimana mereka merasa penampilan fisik mereka untuk dilihat, dan menunjukan bahwa dirinya berbeda dengan orang lain

(www.wikipedia.com). 2) Sumber dan Perkembangan Gambaran Diri Gambaran diri seseorang bukanlah pembawaan sejak lahir. Bayi menerima rangsangan dari tubuhnya dengan suatu cara yang global dan tidak terdiferensiasi. Dalam perkembangannya eksplorasi menjelajah bagian dari tubuhnya sehingga dapat menerima rangsangan dari orang lain dan mulai untuk mengelola lingkungan, dengan menyadari bahwa penampilan fisik adalah tubuh yang dapat dilihat dan dirasakan dan lebih mudah dipelajari serta ditemukan dibandingkan organ dalam. Untuk anak pra-sekolah, eksplorasi alat kelamin dan penemuan mengenai perbedaan perbedaan anatomis antar lawan menjadi sesuatu hal yang penting. Tubuh dapat lebih dipandang dibandingkan secara eksternal dan secara abstrak objektif seperti

dengan

yang bersifat

pemikiran dan perasaan. Dengan meningkatnya usia ada suatu pembeda lebih lanjut diri sendiri sebgai sutu tubuh dan sebagai suatu pikiran.

Selama masa remaja penampilan fisik merupakan fokus utama. Perubahan fisik yang signifikan mendorong perubahan pemikiran pada remaja. Bertambahnya tinggi badan, berat badan, peningkatan kekuatan secara fisik, serta pertumbuhan dari karakteristik seks sekunder yang dapat mempengaruhi kepercayaan diri remaja. perubahan fisik pada remaja menandakan bahwa berakhirnya masa kanak kanak dan merupakan proses awal kedewasaan, meskipun dalam hal ini secara fisik mulai menyerupai tubuh orang dewasa tetapi secara pemikiran masih seperti anak anak. Awal kedewasaan membawa stabilitas kedalam diri untuk berubah. Untuk orang dewasa yang sehat, penampilan fisik menjadi hal yang fleksibel tentang pola hidupnya sehari hari. Pada tahap selanjutnya terjadi percepatan kemunduran didalam kemampuan kemampuan secara fisik dan dapat mempengaruhi gaya hidup dan konsep dirinya. Seperti gambaran diri berkembang, perubahan fungsi tubuh terus menerus terjadi. Banyak studi menunjukan bahwa semakin banyak orang menerima dan membandingkan tubuhnya, maka semakin ia merasa aman dan membebaskan diri dari ketertarikan yang ia rasakan. Demikian pula ditunjukan bahwa orang orang yang menerima tubuh mereka lebih mungkin untuk memiliki harga diri yang tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak menyukai tubuhnya. Dengan demikian konsep dari gambaran diri adalah pusat untuk memahami diri sendiri, dan hubungan antara kedua akan memiliki keterlibatan untuk mengembangkan dan menerapkan kepedulian ilmu keperawatan. (Struat dan Sundeen, 1995)

Gambaran diri dipersepsikan tidaklah selalu tetap. Faktor psikologis, lingkungan dan suasana hati seseorang kadang menjadi sebuah persepsi dari gambaran diri sendiri. Kematangan fisik seseorang kadang berbanding terbalik dengan kematangan sosial didalam masyarakat yang menyebabkan gangguan gangguan pada remaja dalam pengambilan suatu keputusan sehingga menimbulkan kebingungan pada definisi diri. Masa remaja yang labil dengan perubahan perubahan emosinya yang berdampak pada perubahan fisiologis akan mempengaruhi konsep diri. Remaja akan menunjukan tingkah laku yang terkesan gugup, ketidakmatangan, dan ketololan. Disaat seperti ini, reaksi reaksi dari masyarakat yang tidak menyenangkan akan menimbulkan perasaan yang rendah diri. 3) Komponen Gambaran Diri Struat (2007) mendefinisikan gambaran diri/citra tubuh sebagai kumpulan sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi dan perasaan masalalu dan sekarang tentang ukuran, fungsi, penampilan, dan potensi. Menurut Honigman dan Castle (dalam jacinta, 2004), body image adalah gambaran mental seseorang terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya; bagaimana seseorang

mempersepsikan dan memberikan penilaian pikiran dan perasaan terhadap penampilan fisik dan penilaian orang terhadap dirinya. Sebenarnya, apa yang dia pikirkan dan rasakan, belum tentu benar benar mempresentasikan keadaan yang aktual, namun lebih merupakan hasil penilaian diri yang subjektif (e-psikologi).

Dari definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa komponen gambaran diri adalah: ukuran, bentuk, fungsi, penampilan, dan potensi. 4) Faktor faktor yang mempengaruhi Gambaran Diri Banyak faktor yang dapat mempengaruhi gambaran diri seseorang, sperti munculnya stressor yang dapat

menggangu integrasi gambaran diri. Stressor tersebut antara lain adalah : 1. Operasi Seperti: masektomi, amputasi, luka operasi yang dapat merubah gambaran diri. Demikian pula tindakan operasi dan lain lain. 2. Kegagalan fungsi tubuh Seperti hemiplegi, buta, tuli dapat mengakibatkan depersonalisasi yaitu tidak mengakui atau asing terhadap bagian tubuh, sering berkaitan dengan fungsi saraf. 3. Waham yang berkaitan dengan bentuk dan fungsi tubuh Seperti pada pasien gangguan jiwa, klien

mempersiapkan penampilan dan pergerakan dirinya berbeda dengan kenyataan. 4. Tergantung pada mesin Seperti klien yang dalam penanganan intensif care yang memandang imobilisasi sebgai tantangan, akibatnya sukar mendapatkan informasi umpan balik dengan penggunaan gangguan. 5. Perubahan tubuh berkaitan Hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang dimana seseorang akan merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya usia. Tidak jarang intensive care dipandang sebagai

seseorang menanggapinya sebagai hal positif atau negatif. Ketidakpuasan akan muncul pada diri

seseorang ketika didapati keadaannya tidak sesuai dengan yang diharapkan atau tidak ideal. 6. Umpan balik interpersonal yang negatif Umpan balik ini merupakan tanggapan yang tidak baik yang dapat menyebabkan seseorang menarik diri. 7. Standar sosial budaya Hal ini berkaitan dengan kultur budaya pada setiap orang dengan ketebatasannya serta keterbelakangan dari budaya tersebut menyebabkan pengaruh gambaran diri individu, seperti adanya perasaan minder (Struat dan Sundeen, 1995). 5) Rentang Respon Gambaran Diri (1) Gambaran Diri Positif Gambaran diri (body image) berhubungan dengan kepribadian. Cara individu memandang dirinya

mempunyai dampak pada aspek psikologis. Pandangan yang realistis pada dirinya menunjukan individu akan sesuai dengan hidupnya dan pandangan tersebut akan cukup berpengaruh terhadap prilaku individu, yaitu individu akan bertingkah laku sesuai dengan gambaran diri yang dimiliki. Individu yang memiliki gambraran diri yang positif akan mengembangkan perilaku perilaku yang positif sesuai dengan caranya memandang diri dan

lingkungan. Penyataan tersebut didukung oleh Burn (2000) yang menyatakan bahwa gambaran diri akan mempengaruhi cara individu dalam bertingkah laku di tengah masyarakat.

Gambaran diri positif adalah suatu kesadaran akan badan yang sehat didasarkan pada pengamatan diri dan perkiraan yang berhubungan dengan kesejaheraan fisik seseorang (Struat dan Sundeen, 1995) Individu yang stabil, ralistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadapa realisasi yang akan memacu sukses dalam kehidupan ( Keliat, 1992). Dari pengertian mengenai gambaran diri dan gambaran diri positif maka dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki gambaran diri positif adalah individu yang memiliki kesadaran akan keadaannya yang sehat, stabil, realistis, dan konsisten dalam sikap yang disadari atau tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi serta perasaan masalalu serta sekarang tentang ukuran, penampilan, fungsi dan potensi. (2) Gambaran Diri Negatif Individu akan dapat dikategorikan memiliki gambaran diri negatif jika tidak mapu memandang dirinya secara realistis dan tidak mampu menerima tubuhnya sebagai suatu kesatuan yang utuh yang terpisah dengan orang lain. Seseorang yang memiliki gambaran diri negatif akan mengembangkan perilaku perilaku yang cendrung kearah negatif sesuai dengan caranya memandang diri dan lingkungannya (Rahmat, 2003). Beberapa gangguan pada gambaran diri dapat

menunjukan tanda dan gejala seperti: 1) Syok psikologis

Syok psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat terjadi pada saat pertama tindakan. 2) Menarik diri Individu menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari kenyataan tetapi karena tidak mungkin maka individu emosional. 3) Penerimaan atau pengakuan secara bertahap Setelah individu sadar akan kenyataan, maka respon kehilangan atau berduka muncul setelah fase ini individu mulai melakukan realisasi dengan gambaran diri yang baru ( Struat dan Sundeen, 1998). Tanda dan gejala dari gangguan gambaran diri diatas adalah proses yang adaptif, jika tampak tanda dan gejala berikut secara menetap maka respon individu dianggap maladaptif sehingga terjadi gangguan diri yaitu: a. Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah. b. Tidak dapat menerima perubahan perubahan struktur dan fungsi tubuh. c. Mengurangi kontak sosial sehingga individu menarik diri. d. Perasaan atau pandangan negatif terhadap tubuh. e. Preokupasi dengan bagian tubuh atau fungsi tubuh yang hilang. f. Mengungkapkan keputusan. g. Mengungkapkan ketakutan ditolak. akan lari atau menghindar secara

h. Dipersonalsasi dan menolak penjelasan tentang perubahan tubuh (Struat dan Sundeen, 1995). 2.2.1.3 Acne Vulgaris 1) Definisi Acne vulgaris (jerawat) merupakan kelainan folikuler umum yang mengenai folikuler pilosebasae (folikel rambut) yang rentang dan paling sering ditemukan di daerah muka (Smeltzer, 2001). Menurut Price dan Wilson (1995), jerawat merupakan suatu proses peradangan kronik kelenjar kelenjar polisebasae. Acne vulgaris adalah merupakan penyakit peradangan menahun folikel

polisebasae yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri (Djuanda, 2002). Acne vulgaris adalah peradangan folikel sebasae yang ditandai oleh komedo, papula, pustula, kista, dan nodulus di tempat predileksinya, yaitu wajah, leher, badan atas, dan lengan atas (Wasitaatmadja, 2002). Penyakit ini terutama terjadi pada remja dan biasanya berinvolusi sebelum usia 25 tahun namn bisa berlanjut sampai usia dewasa. Acne vulgaris terutama timbul pada kulit yang berminyak berlebihan akibat produksi sebum berlebihan di tempat dengan glandula sebasae yang banyak (Yuindartanto, 2009). 2) Insidensi Insidensi acne pada remaja bervariasi antara 30-60% dengan insidensi terbanyak pada umur 14 17 pada wanita, dan 16 19 pada pria (dikutip dari Prof. dr. Soetjiningsih, SpA(K), IBCLC, 2007). Kligman

melaporkan 15% remaja mempunyai acne klinis (acne major) dan 85% acne fisiologis (acne minor), yaitu acne yang terdiri dari beberapa komedo. Terungkap juga bahwa

sekitar 90% dari seluruh remaja mengalami acne dengan derajat yang berbeda beda, dan 20% memerlukan pertolongan dokter. Umumnya insiden terjadi pada sekitar umur 14 17 tahun pada wanita, 16 19 tahun pada pria dan pada masa itu lesi yang predominan adalah komedo dan papul dan jarang terlihat lesi beradang penderita (Djuanda,Hamzah dan Aisyah, 1999). Insidensi diatas diperkuat juga dengan penyataan yang dikutip pada jurnal keperawatan Andy tahun 2009 bahwa, insidensi jerawat 80 100% pada usia dewasa muda, yaitu umur 14 17 tahun pada wanita, dan 16 19 tahun pada pria (Yuindarto, 2009; Harper, 2008). Berdasarkan penelitian Goodman (1999), prevalensi tertinggi yaitu 16 17 tahun, dimana pada wanita berkisar 83 85% dan pada pria berkisar 95 100%. Dari survey di kawasan Asia Tenggara, terdapat 40 80% kasus jerawat, sedangkan di Indonesia, catatan kelompok studi dermatologi kkosmetika Indonesia, menunjukan terdapat 60% penderita jerawat pada tahun 2006 dan 80% pada tahun 2007. Dari kasus di 2007, kebanyakan penderitanya adalah remaja dan dewasa yang berusia antara 11- 30 tahun. Di poli kosmetik bagian ilmu penyakit kulit dan kelamin RS Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2008, pasien baru yang berobat karena masalah akne sebanyak 123 remaja laki-laki dan 432 remaja perempuan.(dikutip dari Micro Journal, Februari 2012) Diketahui pula bahwa ras Oriental (Jepang, Cina, Korea) lebih jarang menderita akne vulgaris dibanding dengan ras Kaukasia (Eropa, Amerika), dan lebih sering terjadi nodulo-kistik pada kulit putih daripada negro. Akne vulgaris mungkin familial, namun karena tingginya prevalensi penyakit, hal ini sukar dibuktikan. Dari sebuah penelitian diketahui bahwa mereka yang bergenotip XYY

mendapat akne vulgaris yang lebih berat penderita (Djuanda, Hamzah dan Aisyah, 1999).

3) Etiologi Faktor penyebab akne sangat banyak (multifaktoral), antara lain genetik, endokrin, faktor makanan, keaktifan dari kelenjar sebasae sendiri, faktor psikis, misi, infeksi bakteri (Propionibacterium acnes), kosmetika, dan bahan kimia lainnya. Meskipun penyebab yang pasti belum diketahui, namun menurut Harahap (2000) ada berbagai fajtor yang berkaitan dengan patogenesis penyakit akne vulgaris antara lain: a. Kenaikan ekskresi sebum Akne biasanya mulai timbul pada masa pubertas pada waktu kelenjar sebasae membesar dan mengeluarkan sebum lebih banyak. Aktifitas kelenjar seasae diatur oleh androgen yang berperan dalam proses ini. Pada penderita akne terdapat peningkatan konversi hormon androgen yang normal beredar dalam darah

(testosteron) kebentuk metabolit yang lebih aktif (5-alfa dihidrotestosteron). Hormon ini mengikat reseptor endrogen di sitoplasma dan akhirnya menyebabkan proliferasi sel penghasil sebum. Meningkatnya produksi sebum disebabkan oleh organ akhir yang berlebihan (end-organ hyperresponse) pada kelenjar sebasae terhadap kadar normal androgen dalam darah. Terbukti bahwa pada kebanyakan penderita lesi akne hanya ditemukan di beberapa tempat yang kaya akan kelenjar sebasae. b. Adanya keratinisasi folikel

Keratinisasi pada saluran polisebasae disebabkan oleh adanya penumpukan Hal ini komeosit dapat dalam disebabkan pada saluran oleh saluran

polisebasae. bertambahnya

produksi

komeosit

polisebasae, pelepasan komeosit yang tidak adekuat. Pada penderita akne terjadi hiperkeratosis duktus pilosebasae yang secara klinis tampak sebagai komedo. Penyebab terjadinya hiperkeratosis dalah androgen selainmenstimulasi kelnjar sebasae juga berpengaruh pada hiperkeratosi saluran kelenjar, dan pada penderita akne komposisi sebum menujukan penurunan

konsentrasi asam linoleat yang signifikan dan terdapat hubungan yang terbalik antara produksi sebum dan konsentrasi asam linoleat. Hal ini secara teori dikatakan dapat menginduksi hiperkeratosis folikel serta

penurunan fungsi barier epitel (Soetjiningsih, 2004). c. Bakteri Tiga mcam mikrobia yang terlibat dalam patogenesis akne adalah Corynebacterium Acne

(Propionibacterium Acne), Staphylococcus epidermidis dan Pityrosporum ovale (Malassezia furfur). Tampak ketiga macam bakteri bukanlah penyebab primer pada proses patologi akne. Beberapa lesi disebabkan ileh mikroorganisme yang memegang peranan penting, sedangkan pada lesi yang timbul tanpa ada

mikroorganisme. Bakteri yang berdiam di dalam folikel (resident bacteria) mengadakan eksaserbasi tergantung pada lingkungan mikro dalam folikel tersebut. Menurut hipotesis Saint-Leger skualen yang dihasilkan oleh

kelenjar palit dioksidasi didalam folikel dan hasil oksidasi ini menjadi penyebab terjadinya komedo. d. Proses inflamasi (peradangan) Pencetus kemotaksis adalah dinding sel dan produk yang dihasilkan oleh Corynebacterium Acne, seperti lipase, hialuronidase, protease, lesitinase, dan

neuramidase, memegang peranan penting dalam proses peradangan. Faktor kemotaktik yang berberat molekul rendah (tidak memerlukan komplemen untu bekerja aktif), bila keluar dari folikel dapat menarik lekosit nukleus polimorfin (PMN) dan limfosit. Bila masuk kedalam folikel, PMN dapat mencerna Corynebcaterium Acne dan

mengeluarkan enzim hidrolitik yang bisa menyebabkan kerusakan dari folikel pilosebasae. Limfosit merupakan pencetus terbentuknya sitokin. Bahan keratin yang sukar larut, yang terdapat didalam sel tanduk, serta lemak dari kelenjar palit dapa menyebabkan reaksi nonspesifik, yang disertai oleh makrofag dan sel sel raksasa. Pada fase permulaan peradangan yang ditimbulkan oleh Corynebacterium Acne, juga terjadi aktivasi jalur komplemen klasik dan alternatif (classical and alternative complement pathways). Respon pejamu terhadap mediator juga amat penting. Selain itu antibodi terhadap Corynebacterium Acne juga

meningkat pada penderita akne hebat. 4) Klasifikasi Akne Vulgaris Klasifikasi akne sampai saat ini belum ada yang memuaskan, karena belum ada dasar pengukuran yang obyektif. Tujuan penentuan klasifikasi akne antara lain

adalah untuk penilaian hasil pengobatan. Klasifikasi yang sering digunakan, yaitu : 1) Menurut Kligman dan Plewig (1975) yang berdasarkan bentuk lesi:
a. Akne komedonal

Lesi terutama terdiri dari komedo, baik yang terbuka, maupun yang tertutup. Dibagi menjadi 4 tingkat berdasarkan derajat beratnya akne yaitu Tingkat I : kurang dari 10 komedo pada satu sisi wajah. Tingkat II : 10 25 komedo pada satu sisi wajah. Tingkat III : 25 50 komedo pada satu sisi wajah. Tingkat IV : lebih dari 50 komedo pada satu sisi wajah.
b. Akne papulopustuler

Lesi terdiri dari komedo dan campuran lesi yang meradang yang dapat berbentuk papel dan pustul. Dibagi menjadi 4 tingkat sebagai berikut: Tingkat I : Kurang dari 10 lesi meradang pada satu sisi wajah. Tingkat II : 10 - 20 lesi meradang pada satu sisi wajah. Tingkat III : 20 30 lesi meradang pada satu sisi wajah. Tingkat IV : Lebih dari 30 lesi meradang pada satu sisi wajah.

c. Akne konglobata

Merupakan bentuk akne yang berat, sehingga tidak ada pembagian tingkat beratnya penyakit. Biasanya lebih banyak diderita oleh laki laki. Lesi yang

khas terdiri dari nodulus yang bersambung, yaitu suatu masa yang besar berbentuk kubah berwarna merah dan nyeri. Odul ini mula mula padat, tetapi kemudian melunak mengalami fluktuasi dan

regresi, dan sering meninggalkan jaringan parut. 2) Grupper (1997) membagi akne dalam 2 bagian: a. True Akne (akne sejati) Kriteria morfologis yang termasuk gangguan kulit berupa akne ialah gangguan terbatas pada folikel sebaceus, yang biasanya terdapat di muka dan badan, disertai adanya hiperkeratosis infrafolikuler, kemudian terbentuklah komedo yang disusul oleh peradangan berupa pembentukan papel dan pustula. Akne sejati terdiri dari 3 jenis, yaitu: Akne Penyakit yang biasanya terdapat pada orang semasa akil balig dan dewas. Prevalensinya lebih tinggi dari jenis lain. Akne venerata Penyakit ini biasanya dicetuskan oelh kontak dari luar. Akne fisikal Disebabkan oleh sinar ultraviolet dan radiasi ionisasi seperti sinar X dan lain lain. b. Erupsi akneformis Suatu keadaan menyerupai akne; merupakan suatu reaksi folikuler yang dimulai dengan adanya inflamasi berupa papel dan pustula, pada umumnya tidak disertai komedo dan selalu disebabkan oleh pengaruh pemakaian obat obatan. Erupsi ini biasanya timbul tiba tiba dan mengenai daerah

yang luas. Lokalisasinya tidak pada tempat akne yang umum dan tidak terbatas pada masa dewasa. 3) Menurut American academy of Dermatology klasifikasi Akne adalah sebagai berikut:

5) Faktor yang mempengaruhi terjadinya acne (jerawat) a. Faktor genetik Faktor genetik memegang peranan penting terhadap kemungkinan seseorang menderita akne. Penelitian di Jerman menunjukan bahwa akne terdapat pada 45% remaja yang salah satu atau ke dua orang tuanya menderita akne, dan hanya 80% bila ke dua orang tuanya tidak , menderita akne. Ada hubungan antara sindrom XYY dengan akne berat (Soetjiningsih, 2004). b. Faktor ras

Warga Amerika berkulit putih lebih banyak menderita akne dibandingkan dengan yang berkulit hitam dan akne yang diderita lebih berat dibandingkan dengan orang Jepang (Soetjiningsih, 2004). c. Hormonal Beberapa faktor fisiologis seperti menstruasi dapat mempengaruhi akne. Pada wanita, 60-70% akne yang diderita mnjadi lebih parah beberapa hri sebelum menstruasi dan menetap sampai seminggu setelah menstrusi (Soetjiningsih, 2004). Menurut harahap (2000), hormon androgen memegang peranan penting karena kelenjar palit sangat sensitif terhadap hormon ini. Pada wnaita, kadar testosteron plasma sangat meningkat pada penderita akne. Berbeda dengan konsentrasi testosteron pada penderita pria tidak berbeda dengan yang tidak menderita akne. Progesteron dalam jumlah fisiologik, tak mempunyai efek terhadap aktifitas kelenjar lemak. Produksi sebum tetap selama siklus menstruasi, akan tetapi kadang kadang progesteron dapat menyebabkan akne

premenstrual. d. Diet Beberapa pengarang terlalu membesar-besarkan

pengaruj makanan terhadap akne kaan tetapi dari penyeidikan terakhir ternyata diat sedikit atau tidak, berpengaruh terhadap akne (Harahap, 2000). Tidak ditemukan adanya hubungan antara akne dengan asupan total kalori dan jenis makanan, walaupun beberapa penderita menyatakan akne bertambah parah setelah mengkonsumsi makanan tertentu, seperti coklat dan makanan berlemak (Soetjiningsih, 2004).

e. Iklim Cuaca yang panas dan lembab memperburuk akne. Hidrasi pada stratum korneum epidermis dapat merangsang terjadinya akne, misalnya pada akne topikal atau akne kerja, sebagai contoh, pekerjaan ditempat yang lembab dan panas seperti didapur atau di tempat cuci pakaian. Pajanan sinar matahari yang berlebihan dapat memperburuk akne (Soetjiningsih, 2004). Menurut Cunliffe, 1989 (dalam Harahap, 2000), pada musim panas didapatkan 60% perbaikan akne, 20% tidak ada perubahan, dan 20% bertambah hebat. Bertambah hebatnya akne pada musim panas bkan disebabkan oleh sinar U. V., melainkan oleh banyaknya keringat pada keadaan yang sangat lembab dan panas tersebut. f. Lingkungan Akne lebih sering ditemukan dan gejalanya lebih berat di daerah industri dan pertambangan dibandingkan dengan pedesaan. Berbagai faktor mungkin berparan antara lain: genetik, iklim, polusi dan lain lain (Soetjiningsih, 2004). g. Stress Akne dapat kambuh dan bertambah buruk pada penderita dengan stress emosional (Soetjiningsih, 2004). Pada beberapa penderita, stress dan gangguan emosi dapat menyebabkan eksaserbasi akne. Kecemasan menyebabkan penderita memanipulasi aknenya secara mekanis, sehingga terjadi kerusakan pada dinding folikel dan timbul lesi beradang yang baru. Teori lain

mengatakan bahwa eksaserbasi ini disebabkan oleh meningkatnya produksi hormon androgen dari kelenjar anak ginjal dan sebum, bahkan asam lemak dalam sebum pun meningkat (Harahap, 2000) 6) Manifestasi klinis Lesi jerawat terutama terdapat di wajah, punggung, dada dan lengan atas. Akne vulgaris ditandai oleh lesi yang polienorfi, walaupun dapat terjadi salah satu bentuk lesi yang dominan pada suatu saat atau sepanjang perjalanan penyakit. Manifestasi klinik jerawat dapat berupa lesi non inflamasi (komedo terbuka dan komedo tertutup), lesi inflamasi superficial (papul, pustula dan lesi inflamasi dalam (nodul). a. Komedo Komedo adalah suatu tanda awal dari jerawat, sering muncul 1 2 tahun sebelum pubertas. Lesi dapat berupa komedo terbuka atau komedo tertutup. Komedo terbuka tampak sebagai lesi yang dasar atau sedikit meninggi dengan sumbu folikel yang berwarna gelap, berisi keratin dan lipid. Ukuran bervariasi antara 2-3mm, biasanya bahan keratin terlepas dan tdak terjadi inflamasi kecuali bila terjadi trauma. Komedo tertutup berupa papul kecil, biasanya kurang dari 1 mm, berwarna pucat, mempunyai potensi yang lebih besar untuk mengalami inflamasi sehingga dianggap lebih penting secara klinis. b. Papul Papul merupakan reaksi radang dengan diameter < 5 mm, papul superficial sembuh dalam 5 10 hari dengan sedikit jaringan parut, tetapi dapat terjadi iperpigmentasi pasca inflamasi, terutama pada remaja

dengan kulit yang berwarna gelap. Papul yang lebih dalalm, penyembuhannya memerlukan wakru lebih lama dan dapat meninggalkan jaringan parut. c. Pustula Pustula jerawat merupakan papul dengan puncak berupa pus atau nanah. Biasanya usia pustula lebih pendek dari papul. d. Nodul Merupakan lesi radang dengan diameter 1cm atau lebih, disertai nyeri dan lesi dapat bertahan sampai beberapa minggu atau bulan. Lesi bentuk inilah biasanya yang menyebabkan jaringan parut

(Soetjiningsih, 2004). 7) Patofisiologi Jerawat berasal dari folikel sebasae dan lesi awal berupa komedo. Pemberitahuan komedo dimulai dari bagian tengah folikel akibat masuknya bahan keratin sehingga dinding folikel menjadi tipis dan menggembung. Secara bertahap akan terjadi penumpukan keratin sehingga folikel menjadi bertambah tipis dan dilatasi (Soetjiningsih, 2004). Pada waktu yang bersamaan kelenjar sebasae menjadi atropi dan diganti dengan sel epitel yang tidak

berdiferensiasi. Komedo yang telah terbentuk sempurna mempunyai dinding tipis. Komedo terbuka mempunyai lubang patulous dan bahan keratin tersusun dalam bentuk lamelar yang konsentrasi dengan rambut sebgian pusatnya. Komedo tertutp mempunyai keratin yang tidak padat dan lubang folikelnya sempit. Komedo terbuka jarang

menglami inflamasi, kecuali bila sering terkena trauma. Mikrokomedo dan komedo tertutp merupakan sumber timbulnya lesi yang inflamasi.

Pada awalnya lemak keluar melalui dinding omedo yang udem dan kemudian timbul reaksi seluler pada dermis. Ketika pecah, seluruh isi komedo masuk ke dermis, reaksi yang timbul lebih hebat dan terdapat sel raksasa sebagai akibat keluarnya bahan keratin. Pada infiltrate ditemukan bakteri difteriod gram positif dengan bentuk khas P. Acnes di luar dan didalam sel lekosit. Lesi yang pecah nampak sebagai pustula, nodul atau nodul dengan pustula diatasnya, tergantung letak dan luasnya inflamasi. Selanjutnya kontraksi jaringan fibrus yang terbentuk dapat menimbulkan jaringan parut (Soetjiningsih, 2004). 8) Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan dengan anamnesis,

pemeriksaan fisik dan laboratorium, dan dilihat gambaran klinis yang berupa : a. Akne ringan, yang terdiri dari komedo dan papul. b. Akne sedang, yang terdiri dari komedo, papul, pustul dan nodul. c. Akne berat, yang terdiri dari komedo, papul, pustul, nodul, kosta dan skar. 9) Diagnosis banding 1. Erupsi akneiformis Dibedakan dengan akne dari gambaran klinis dan etiologinya. Pada erupsi akneiformis gambaran klinis berupa papul dan pustula yang timbul mendadak tanpa adanya komedo dihampir seluruh tubuh, dapat disertai demam. Erupsi akneiformis disebabkan oleh obat obatan seperti kortikosteroid, INH, fenobarbotal dan lain sebagainya.

2. Akne rosasea Adalah peradangan kronis kulit, terutama wajah dengan predileksi di hidung dan pipi. Gambaran klinis berupa eritema, papul, puatula, nodul, kista, talengiektasi dan tanpa komedo.

Gambar. Akne rosasea 3. Dermatitis perioral Dermatitis yang terjadi pada daerah sekitar mulut dengan gambaran klinis yang lebih monomorf. Gejala klinis berupa papul eritema atau papulo pustula dengan ukuran 1-3mm disertai dengan skuama dan gatal. Kortikosteroid topikal dapat memperberat keadaan ini.

Gambar. Dermatitis perioral

4. Moluskulum kontagiosum Penyebabnya adalah pox virus. Gambaran linisnya mirip komedo tertutup, khasnya adalah papul dengan dele. Prognosis baik dan dapat sembuh spontan.

Gambar. Moluskulum kontagiosum 5. Folikulitis Peradangan folikel rambut yang disebabkan oleh staphylococcus sp. Gejala klinisnya rasa gatal dan rasa gatal di daerah rambut berupa makula eritema disertai papul atau pustula yang ditrmbus oleh rambut.

Gambar. Folikulitis 10) Penatalaksanaan Tujuan utama dalam penatalaksanaan ini adalah untuk mengurangi koloni bakteri, menurunkan aktivitas kelenjar sebasae, mencegah agar folikel tidak infeksi tersumbat, sekunder, dan

mengurangi

inflamasi,

memerangi

meminimalkan

pembentukan

jaringan

parut

mengeliminasi faktor faktor perdisposisi terjadinya akne (Smelter, 2001). Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam pengobatan akne, yaitu:

a. Perhatikan terhadap keadaan emosional remaja tidak boleh diabaikan b. Pengobatan perlu waktu beberapa bulan dan

pengobatan topikal sering menyebabkan akne lebih parah dalam 3-4minggu c. Diet makanan tidak meningkatkan keparahan akne sehingga pembatasan diet tidak diperlukan, kecuali pada penderita yang mengeluhkan penyakitnya

memburuk setelah mengkonsumsi makanan tertentu. d. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik Penderita wanita perlu diperiksa adanya histurisme, alopsia dan obesitas. Perlu ditanyakan tentang siklus menstruasi dan penggunaan pil kontrasepsi oral (Soetjiningsih, 2004). Secara umum terdapat 4 prinsip utama dalam pengobatan akne, yaitu: 1. Penurunan aktivitas kelenjar sebasae 2. Memperbaiki keratinisasi folikel 3. Penurunan jumlah bakteri di dalam folikel,

terutama P.Acnes, sehingga dapat mengurangi pembentukan produk inflamasi ekstraseluler. 4. Menghambat inflamasi Pengobatan untuk memperbaiki keratinisasi folikel merupakan terapi utama akne non inflamasi, sedangkan ketiga prinsip lainnya digunakan pada akne dengan inflamasi. Walaupun demikian karena perubahan keratinisasi folikel merupakan titik awal bagi timbulnya akne dengan inflamasi, pengobatan langsung terhadap perubahan keratinisasi ini juga efektif untuk akne dengan inflamasi (soetjiningsih, 2007)

Menurut Marwali Harahap, tujuan pengobatan akne adalah tidak timbul bekas jerawat, mengurangi frekuensi munculnya jerawat dan menurunkan kerasnya aksaserbasi akne (akne yang muncul lagi lebih ringan derajatnya. Pemberian pengobatan pada akne didasarkan atas berat dan luasnya lesi: 1. Akne komedonal yang ringan diberikan obat akne yang mengandung asam salisilat, sulfur, resorsinol, atau benzoil peroksid. 2. Akne komedonal yang sedang sampai berat diberikan obat tambahan tretinoin, adapalen, atau tazaroten topikal pada malam hari. 3. Akne dengan inflamasi ringan diberikan tambahan antibiotik topikal. 4. Akne dengan inflamasi sedang sampai berat dan akne inflamasi ringan yang tidak memberikan respon terhadap antibiotik topikal memerlukan antibiotik sistemik. 5. Akne nodular yang tidak memberikan respon terhadap antibiotik sistemik diberikan isotretinoin oral dengan pengawasan ketat. 6. Pada wanita, pil kontrasepsi oral dapat diberikan untuk semua jenis akne. Pengobatan akne dibagi menjadi medikamentosa dan non medikamentosa 1. Medikamentosa a. Pengobatan topikal. Zat kimia iritan Sulfur 1-10% bersifat antibakteri,

keratolitik dan antiseboroik.

Asam alfa hidroksi (AHA) ; asam glikolat 3-8%

Vitamin A asam (Tretinoin 0,05-0,1% krim atau 0,025% peredaran gel) sebagai dan

perangsang epidermolisis. Antibiotik topikal

darah

Klindamisin 1% Eritromisin 2%

Tindakan khusus Ekstraksi komedo Eksisi Injeksi kolagen Laser Insisi Krioterapi Injeksi kortikosteroid intralesi Dermab

b. Pengobatan sistemik Antibiotik sistemik Tetrasiklin HCl 4x250 mg/hari selama 3-6 minggu Doksisiklin 1x100 mg/ hari selama 2-4 minggu Eritromisin 4x250 mg/ hari selama 2-6 minggu Hormon Antiandrogen : spironolakton 20-50%, 50-100 mg 2x sehari,

siproteron asetat 2-100 mg dalam dosis tunggal kontrasepsi oral (estrogen dan

progesteron) selama 6 bulan vitamin A: 50.000-100.000 UI/hari

selama 6 bulan seng: 3x200 mg/ hari selama 4 minggu

2. Non medikamentosa Nasehat untuk memberitahu penderita mengenai seluk beluk akne vulgaris. Perawatan wajah, perawatan kulit kepala dan rambut, kosmetika, diet, emosi dan faktor psikosomatik.

2.2.1.4 Remaja Adolesens (remaja) adalah periode perkembangan selama dimana individu mengalami perubahan dari masa kanak kanak menuju masa dewasa, biasanya antara usia 13 20 tahun (Potter dan Perry, 2005) Data demografi menunjukan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia. WHO menetapkan batasan usia 10 20 tahun sebagai batasan usia remaja dan membagi kurun usia tersebut dalam dua bagian yaitu awal 10 14 tahun dan remaja akhir 15 20 tahun. Menurut Sarwono (2001), pedoman umum remaja Indonesia menurut Biro Pusat Statistik (1999) kelompok umur 10 19 tahun adalah sekitar 22% yang terdiri dari 50,9% remaja laki laki dan 49,1% remaja perempuan (Nancy P., 2002 dalam Soetjiningsih, 2004). Masa remaja ditandai dengan perubahan jasmani dan perubahan kejiwaan, sehingga berpengaruh terhadap perilaku, cara berfikir, perasaan, hubungan dalam bergaul dan minat,

berbagai perubahan tersebut membuat remaja menjadi mudah bergejolak, sehingga masa ini sering disebut sebagai masa strom dan stress, artinya masa yang penuh badai dan tekanan (BKKBN, 2000). Awal masa remaja disebut sebagai masa puber atau pubertas, atau awal masa akil baligh (Sarwono, 2001). Hurlock (1999) menyatakan bahwa pada masa ini ada beberapa perubahan yang bersifat universal, yaitu meningkatnya emosi, perubahan fisik, perubahan terhadap minat dan peran, perubahan pola perilaku, nilai nilai dan sikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Berikut ini dijelaskan satu persatu dari ciri ciri perubahan yang terjadi pada masa remaja. 1. Perubahan Fisik Perubahan fisik berhubungan dengan aspek anatomi dan aspek fisiologi, dimasa remaja kelenjar hipofesa menjadi masak dan mengeluarkan beberapa hormon. Dalam usia puber, hormon androgen menstimulasi kelenjar sebasae dan menyebabkan kelenjar tersebut membesar serta mengsekresi suatu minyak alami, yaitu sebum yang merembas naik hingga puncak folikel rambut dan mengalir pada permukaan kulit. Pada remaja yang berjerawat stimulasi androgenik akan meningkatkan daya responsif kelenjar sebasae sehingga akne terjadi ketika duktus pilosebasae tersumbat oleh tumpukan sebum (Smeltzer, 2001). 2. Perubahan emosional Pola emosi pada masa remaja sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Pola-pola emosi itu berupa marah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih dan kasih sayang. Perbedaan terletak pada

ransangan yang membangkitkan emosi dan pengendalian dalam mengekspresikan emosi. Remaja umumnya

memiliki pengalaman emosi yang ekstrim dan selalu merasa mendapatkan tekanan (Hurlock, 1999). Bila pada akhir masa remaja mampu menahan diri untuk tidak mengekspresikan emosi secara ekstrim dan mampu mengekspresikan emosi secara tepat sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan dan dengan cara yang diterima masyarakat, dengan kata lain remaja yang mencapai kematangan emosi akan memberikan reaksi emosi yang stabil (Hurlock, 1999). Ciri-ciri kematangan emosi pada masa remaja yang ditandai dengan sikap sebagai berikut : (a) tidak bersikap kekanakkanakan, (b)bersikap rasional, (c) bersikap obyektif, (d) dapat menerima kritikan orang lain sebagai pedoman untuk bertindak lebih lanjut, (e) bertanggung jawab terhadap tindakan yang telah dilakukan, (f) mampu menghadapi masalah dan tantangan yang dihadapi. 3. Perubahan sosial Perubaan fisik dan emosi pada masa remaja juga mengakibatkan perubahan dan perkembangan remaja, Monks dkk (1999) menyebutkan dua bentuk perkembangan remaja yaitu memisahkan diri dari orang tua dan menuju kearah teman sebaya. Remaja berusaha melepaskan diri dari otoritas orang tua dengan maksud menemukan jati diri. Remaja lebih banyak berada diluar rumah dan dan berkumpul bersama teman sebayanya dengan membentuk kelompok dan mengekspresikan segala potensi yang dimiliki. Kondisi ini membuat remaja sangat rentan

terhadap pengaruh teman dalam hal

minat,

sikap

penampilan dan perilaku. Perubahan yang paling menonjol adalah hubungan heteroseksual. Remaja akan

memperlihatkan perubahan radikal dari tidak menyukai lawan jenis menjadi lebih menyukai. Remaja ingin diterima, diperhatikan, dan dicintai oleh lawan jenis dan kelompoknya. Masa remaja dikenal sebagai masa yang penuh kesukaran, karena selama periode ini individu mempunyai tugas perkembangan sebelum menjadi individu dewasa yang matang. Tugas-tugas ini bervariasi sesuai budaya individu itu sendiri dan tujuan hidup mereka. Tugas-tugas perkembangan ini terdiri dari: 1) menerima citra tubuh; 2) menerima identitas seksual; 3) mengembangkan sistem nilai personal; 4) membuat persiapan untuk hidup mandiri; 5) menjadi mandiri atau bebas dari orang tua; 6) mengembangkan ketrampilan mengambil keputusan; 7) mengembangkan identitas seseorang yang dewasa (Bobak, 2004). Salah satu tugas penting remaja ialah mengembangkan Keputusan yang kemampuan berkenaan mengambil dengan aktivitas keputusan. seksual,

kehilangan dan menjadi orang tua. Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegerasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan berada di dalam tingkatan yang sama, sekurangkurangnya dalam masalah hak (Hurlock, 1999). Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak ke periode dewasa yang berkisar antara usia 10-24 tahun dimana pada masa ini terjadi perubahan psikologis dan fisiologis. Hal ini disebabkan masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-

kanak dan masa dewasa. Masa transisi ini sering kali menghadapkan individu yang bersangkutan kepada situasi yang membingungkan, disatu pihak ia masih kanak-kanak, tetapi dilain pihak ia harus bertingkah laku seperti orang dewasa. Situasi-situasi yang menimbulkan konflik seperti ini, sering kali menyebabkan perilaku-perilaku aneh, canggung dan kalau tidak terkontrol bisa menjadikan kenakalan (Purwanto, 1998). Dalam usahanya untuk mencari identitas dirinya sendiri, seseorang remaja sering membantah orang tuanya karena ia mulai punya pendapat pendapat sendiri, cita-cita serta nilainilai sendiri yang berbeda dengan orang tuanya (Purwanto, 1998). Perkembangan konsep diri dan citra tubuh sangat berkaitan erat dengan pembentukan identitas. Pengalaman yang positif pada masa kanak-kanak memberdayakan remaja untuk merasa baik tentang diri mereka. Pengalaman negatif sebagai anak dapat mengakibatkan konsep diri yang buruk. Anak-anak yang memasuki masa remaja dengan perasaan negatif menghadapi periode yang sulit ini bahkan lebih menyulitkan lagi.

2.3 Hubungan Gambaran Diri dengan Munculnya Acne Vulgaris pada Remaja Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Masa transisi ini sering kali menghadapkan individu yang bersangkutan kepada situasi yang membingungkan, disatu pihak ia masih kanak-kanak, tetapi dilain pihak ia harus bertingkah laku seperti orang dewasa. Situasi-situasi yang menimbulkan konflik seperti ini, sering kali menyebabkan perilaku-perilaku aneh, canggung dan kalau tidak terkontrol bisa menjadikan kenakalan (Purwanto, 1998).

Masa remaja yang labil dan mudah terpengaruh dengan keadaan lingkungan sekitar, dibarengi oleh konsep diri yang kurang baik akan sangat berpengaruh pada sisi psikologinya. Masa transisi pada remaja yang membawa banyak perubahan membentuk banyak persepsi yang berbeda pada setiap individu. Hurlock (1999) pada masa remaja ini ada beberapa perubahan yang bersifat universal, yaitu meningkatnya emosi, perubahan fisik, perubahan terhadap minat dan peran, perubahan pola perilaku, nilai nilai dan sikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Dalam hal ini perubahan yang terjadi disetiap periodenya sering kali menimbulkan masalah dikalangan remaja. Penampilan fisik merupakan salah satu hal yang sering menimbulkan masalah dikalangan remaja. Pada masa remaja terjadi perubahan fisik yang cukup signifikan dibandingkan dengan masa kanak kanak. Persepsi seseorang mengenai penampilan fisiknya disebut gambaran diri atau citra tubuh (Body Image). Stuart (2007) mendefinisikan citra tubuh sebagai sekumpulan sikap indivisu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi serta perasaaan masalalu dan sekarang tentang ukuran, fungsi, penampilan, dan potensi. Citra tubuh dimodifikasi secara berkesinambungan dengan persepsi dan pengalaman baru. Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima stimulus dari orang lain, kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan. Cara individu memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologisnya. Pandangan yang realistis terhadap dirinya menerima dan mengukur bagian tubuhnya akan lebih terasa aman, sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri (keliat, 1992). Pada masa remaja penampilan merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap gambaran diri individu. Salah satu masalah yang sering muncul dikalangan remaja dan dan sangat berpengaruh terhadap persepsi dan gambaran diri seseorang adalah dengan munculnya jerawat dibagian tubuh seseorang terutama wajah. Insidensi acne pada remaja bervariasi antara 30-60% dengan insidensi terbanyak pada umur 14 17 pada wanita, dan 16 19 pada pria

(dikutip dari Prof. dr. Soetjiningsih, SpA(K), IBCLC, 2007). Kligman melaporkan 15% remaja mempunyai acne klinis (acne major) dan 85% acne fisiologis (acne minor), yaitu acne yang terdiri dari beberapa komedo. Terungkap juga bahwa sekitar 90% dari seluruh remaja mengalami acne dengan derajat yang berbeda beda, dan 20% memerlukan pertolongan dokter. Umumnya insiden terjadi pada sekitar umur 14 17 tahun pada wanita, 16 19 tahun pada pria dan pada masa itu lesi yang predominan adalah komedo dan papul dan jarang terlihat lesi beradang penderita (Djuanda,Hamzah dan Aisyah, 1999). Insidensi diatas diperkuat juga dengan penyataan yang dikutip pada jurnal keperawatan Andy tahun 2009 bahwa, insidensi jerawat 80 100% pada usia dewasa muda, yaitu umur 14 17 tahun pada wanita, dan 16 19 tahun pada pria (Yuindarto, 2009; Harper, 2008). Berdasarkan penelitian Goodman (1999), prevalensi tertinggi yaitu 16 17 tahun, dimana pada wanita berkisar 83 85% dan pada pria berkisar 95 100%. Dari survey di kawasan Asia Tenggara, terdapat 40 80% kasus jerawat, sedangkan di Indonesia, catatan kelompok studi dermatologi kosmetika Indonesia, menunjukan terdapat 60% penderita jerawat pada tahun 2006 dan 80% pada tahun 2007. Dari kasus di 2007, kebanyakan penderitanya adalah remaja dan dewasa yang berusia antara 11- 30 tahun. Di poli kosmetik bagian ilmu penyakit kulit dan kelamin RS Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2008, pasien baru yang berobat karena masalah akne sebanyak 123 remaja laki-laki dan 432 remaja perempuan.(dikutip dari Micro Journal, Februari 2012). Remaja dengan munculnya acne vulgaris seperti diatas memiliki masalah dengan body imagenya. Dengan kata lain pandangan atau persepsi seseorang dengan adanya jerawatn membuat penampilannya menjadi tidak ideal dan tidak menarik. Sehingga menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan tersendiri bagi para remaja dengan munculnya jerawat.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1