Anda di halaman 1dari 2

Penelitian Pembibitan Tanaman Nilam Di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. I. PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Minyak nilam merupakan salah satu komoditi non migas yang belum dikenal secara meluas di Indonesia, tapi cukup popular di pasaran Internasional. Khusus minyak nilam Indonesia sangat disukai dan dicari baik di pasar Amerika maupun di Eropa. Nilam yang sering juga disebut Pogostemon patchouli Pellet atau dilem wangi (jawa), merupakan tanaman yang belum begitu dikenal secara luas oleh masyarakat. Nilam banyak ditanam orang untuk diambil minyaknya. Minyak nilam merupakan salah satu dari beberapa jenis minyak atsiri. Minyak ini banyak digunakan dalam industri kosmetika dan banyak dicari konsumen di luar negeri. Minyak atsiri atau dikenal orang dengan nama minyak ateris atau minyak terbang (essential oil, volatile) dihasilkan oleh tanaman tertentu. Minyak tersebut mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir, berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya. Miyak tersebut pada umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Pada tanaman, minyak atsiri mempunyai 3 fungsi yaitu : membantu proses penyerbukan dengan menarik beberapa jenis serangga atau hewan, mencegah kerusakan tanaman oleh serangga, dan sebagai makanan cadangan bagi tanaman. Minyak atsiri pada industri banyak digunakan sebagai bahan pembuat kosmetik, parfum, antiseptik, dan lain-lain. Minyak atsiri sendiri merupakan salah satu hasil proses metabolisme dalam tanaman, yang terbentuk karena reaksi berbagai persenyawaan kimia dengan adanya air. Tanaman yang menghasilkan minyak atsiri diperkirakan berjumlah 150-200 spesies tanaman, antara lain yang termasuk dalam famili Pinaceae, Labrate, Compositae, Lauraceae, Myrtaceae, dan Umbelliferaceae. Minyak atsiri ini dapat bersumber dari setiap bagian tanaman yaitu daun, bunga, buah, biji, batang, kulit, dan akar. Untuk tanaman nilam, minyak atsirinya banyak diambil dari daunnya. Sampai Perang Dunia II, daerah yang dikenal sebagai penghasil utama nilam utama di Indonesia adalah Aceh. Di daerah ini, telah banyak dibudidayakan sejak awal abad XX. Walaupun daun-daunnya saat itu belum dapat diolah sendiri, tapi tanaman ini telah menjadi barang dagangan yang menarik. Barulah pada 1920 penyulingan minyak nilam dapat dilakukan sendiri. Namun kualitas nilam yang dihasilkan masih rendah, karena sering didapati tercampur minyak nabati dari tanaman lainnya. Di samping itu penanamannya yang masih dalam bentuk berpindah-pindah (nomaden) dan