Anda di halaman 1dari 58

STRIKTUR URETHRA

SABTU, 29 DESEMBER 2012

ANATOMI URETRA
Urethra dimulai dari leher buli-buli sampai meatus uretra eksterna Panjang : sekitar 20 cm pada pria sekitar 4 cm pada wanita

A. B. C. D.

Melalui uretra pars bulbosa Melalui uretra pars pendulosa Melalui uretra pada bagian koronal penis Melalui fossa navicularis

ANATOMI URETRA PRIA


Dibagi 2 : A. Anterior : pars bulbosa pars pendulosa 15 cm fossa naviculare : 2.5 cm B. Posterior : pars prostatica : 3 cm pars membranacea : 2 cm Epitel pelapis uretra anterior : epitel skuamous uretra posterior : epitel transisional

Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra karena fibrosis pada dindingnya Penyempitan atau penyumbatan dari lumen uretra sebagai akibat dari pembentukan jaringan fibrotik (jaringan parut) pada uretra dan / atau pada daerah peri uretra

PENYEBAB
Infeksi : uretritis GO infeksi ikutan akibat kateter indwelling Trauma : iatrogenik : kateterisasi kaliberasi reseksi transuretra tindakan-tindakan endourogi lain eksterna : patah tulang panggul straddle injury Kongenital/keganasan

STRADDLE INJURY

PATAH TULANG PANGGUL

PATOGENESA
Infeksi
Trauma

Lesi epitel uretra putusnya kontinuitas uretra

Proses keradangan Reaksi Fibrosis / kolagen Jaringan fibrotik Penyempitan lumen uretra

Penyumbatan lumen uretra

JENIS STRIKTUR URETRA

A. B. C. D. E. F.

Lipatan mukosa / mucosal fold Kontriksi iris / iris constriktion Fibrosis minimal Spongiofibrosis Inflamasi dan fibrosis sampai jaringan corpus spongiosum Striktur dengan komplikasi fistel. Dapat terbentuk abses, fistel kearah kulit dan rektum

GEJALA KLINIS
Kesukaran kencing (hesitansi) Harus mengejan Nyeri saat miksi (disuria) Pancaran melemah (weak flow) Pancaran bercabang Menetes sampai retensi urine Pembengkakan / nanah di perineum Kadang bercak darah di celana dalam (hematuria) Bila sistemik : febris, warna urine keruh

GEJALA KLINIS
Waktu miksi lama Double voiding Terminal dribling Kencing tidak puas karena masih ada sisa kencing

PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS


Anamnesa : uretritis, trauma dg kerusakan pada panggul, straddle injury, instrumentasi uretra, pemakaian kateter, kelainan sejak lahir Inspeksi : meatus eksternus yang sempit, pembengkakan serta fistel di daerah penis, skrotum, perineum, suprapubik Palpasi : teraba jaringan parut sepanjang perjalanan uretra anterior pada ventral penis; muara fistel mengeluarkan nanah bila dipijat

PEMERIKSAAN FISIK
Colok dubur Palpasi uretra : indurasi (+) Distensi pada Vesica Urinaria Kalibrasi dengan kateter lunak akan ditemukan hambatan Kepastian diagnosa : uretrografi uretroskopi Bila sudah sistostomi bipolar uretro-sistografi Kadang terdapat fistula uretrokutan

PEMERIKSAAN FISIK
1. 2. 3. Kalibrasi dengan kateter no 16 tak dapat masuk ke buli, tertahan di tempat striktur Ukur panjang kateter yang dapat masuk X foto : - uretrogram retrograd - Bipoler uretro sistogram Endourologi : Uretroskopi

5.

PEMERIKSAAN FISIK
Dapat ditunjang uroflowmetri Pada kasus-kasus individual tertentu : dapat dilakukan FPA-IVP, USG (pada striktur yang lama, dapat terjadi perubahan sekunder pada kelenjar prostat; batu, perkapuran, abses prostat, epididimitis, fibrosis epididimis

SYMPTOMS
Urethral stricture Hesitancy in starting urination Lessened force and size of the stream, Terminal dribbling Hematuria Cloudy urine (infection) Occasionally acute urinary retention.

SIGNS
Normal urine flow rate : 2025 mL/s (male) 2530 mL/s (female) Flow rate < 15 mL/s suspicion Flow rate < 10 mL/s obstruction or weak detrusor function Flow rate 35 mL/s atonic neurogenic (neuropathic) bladder urethral stricture or prostatic obstruction

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium Anemia : - chronic infection - uremia advanced bilateral hydronephrosis Leukocytosis : acute infection Microscopic hematuria : infection or stone Pus cells and bacteria

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Radiologi A plain film of the abdomen Retrograde urethrocystography Sonography INSTRUMENTAL EXAMINATION Catheter Cystoscopy and panendoscopy

URETROGRAFI

DIAGNOSIS BANDING
Disfungsi leher buli Hipersensitif dari buli Overaktif buli Striktur uretra Kontraktilitas yang rendah dari destrusor.

PENATALAKSANAAN
Tergantung : lokalisasi panjang / pendeknya striktur keadaan darurat : retensio urine

Clinical Outcome and Quality of Life Assessment in Patients Treated With Perineal Urethrostomy for Anterior Urethral Stricture Disease Guido Barbaglia, Michele De Angelisb, Giuseppe Romanob, Massimo Lazzeric, , http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0022534709008970#

URETHRAL DILATION
Periodic Urethral Dilation Tujuannya adalah meregangkan jaringan parut tanpa mebimbulkan jaringan parut tambahan. Dapat sebagai terapi kuratif pada pasien dengan striktur terbatas pada epitel, tidak ada keterlibatan korpus spongiosum.

INTERNAL URETHROTOMY
incising the stricture transurethrally using endoscopic equipment. The incision allows for release of scar tissue. Success depends on the epithelialization process finishing before wound contraction significantly reduces the urethral lumen caliber. The incision is made under direct vision at the 12 o'clock position, Complications
Recurrence of stricture, which is the most common complication, bleeding, or extravasation of irrigation fluid into perispongial tissues, thus increasing the fibrotic response.

PERMANENT URETHRAL STENTS


Permanent urethral stents are placed endoscopically. Most successful in short-length strictures in the bulbous urethra. Complications occur when a stent is placed distal to the bulbous urethra, causing pain while sitting or during intercourse. Other complications involve migration of the stent.

URETHROPLASTY
Pemilihan tehnik tergantung dari faktor faktor yaitu : Panjang dan lokasi dari striktur. Riwayat operasi sebelumnya dan derajat dari scarnya. kondisi dari uretranya. Partial atau total stenosis tersedianya jaringan tissue untuk melakukan graft atau pedikel flaps.

OPEN RECONSTRUCTION
Primary repair

Primary repair involves complete excision of the fibrotic urethral segment with reanastomosis. Complete excision of the area of fibrosis, tension-free anastomosis, and widely patent anastomosis. Primary repair is typically used for stricture lengths of 1-2 cm.

Morey et al (2004) reported on a series of patients who underwent excision with anastomosis for strictures up to 5 cm.[5]Younger patients have more compliant tissue, thus allowing for greater stretch and more ambitious attempts at primary repair. The repair is left stented with a small silicone catheter in the urethra. The bladder is drained with a suprapubic catheter.

TISSUE-TRANSFER TECHNIQUES
Success depends on the blood supply of local tissues at the site of placement. The urethra is exposed through a penile or perineal incision. The urethrotomy is made to open the area of the stricture. The tissue graft is harvested from the desired nonhair-bearing location. For example, bladder, buccal, or rectal mucosa are potential options.

Full-thickness skin graft: Nonhair-bearing skin should be used. It is most successful in the area of the bulbar urethra. Split-thickness skin graft: The split-thickness skin graft is not preferred with a single-stage repair because of the contraction characteristics of the graft.
It is typically reserved for use in patients for whom multiple procedures have failed and in whom local skin is insufficient for further reconstruction. It is conducted as a 2-stage procedure.

Mukosa bukal sebagai graft Dari bagian dalam pipi Bukan dari bibir bagian bawah

URETHROPLASTY, DUA TAHAP DENGAN MUKOSA BUCCAL


Semua jaringan scar diambil, graft menggunakan mukosa bukal

End-to-end urethroplasty: 1. Ruptur uretra komplit 2.Striktur yang pendek pada pars bulbosa/membranacea

Free graft sebagai patch : 1. ventral 2. dorsal

INTERNAL URETHROTOMY, BLIND (OTIS)

DIRECT VISION INTERNAL URETHROTOMY DVIU

PATIENT AND METHODE


Studi retrospektif dan video urodynamic mengidentifikasi wanita dengan striktur uretra antara 1999 dan 2004 pada satu institusi oleh seorang ahli bedah.

Striktur uretra pada wanita didefinisikan sebagai penyempitan anatomis yang tetap antara bladder neck dan uretra distal dengan gagal masuknya kateter 14 F, dan diagnosis dikonfirmasi dengan sistouretroskopi dan atau urodinamik.

Wanita dengan riwayat radioterapi eksternal pada area pelvis karena keganasan uretra dan buli (dibuktikan dengan hasil biopsi) dieksklusikan. Sistoskopi inisial dilakukan dilatasi uretra dengan sonde sampai dengan 30 F biopsi uretra.
Dipasang kateter dan dilepas setelah 7 hari

Setelah periode kateterisasi, dilakukan clean intermittent self-catheterization (CISC) setidaknya sekali sehari dan dimonitor setiap 3-6 bulan.

Pada tiap follow up uretra dikateterisasi untuk mengeksklusikan rekurensi. American Urological Association (AUA) symptom score pada bulan pertama dan 3 bulan pertama follow up.

RESULT
7 wanita ditemukan dengan dx strikture uretra, dilakukan follow up selama rata-rata 21 bulan (6-34) bulan. Dilakukan CISC setiap hari beberapa dikurangi secara bertahap menjadi tiap minggu. Tidak ada pasien yang mengalami rekurensi dan tidak ada seorang pun yang memerlukan rekonstruksi uretra. AUA symtomp score berkurang menjadi rata-rata 10,1. Tidak ditemukan komplikasi akibat kateterisasi.

CONCLUSION
Striktur uretra pada wanita sangat jarang terjadi dan efektif dilakukan CISC dan dapat mencegah rekonstruksi uretra.