Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Permasalahan gizi terjadi disetiap siklus k ehidupan, dimulai sejak dalam kandungan (janin), bayi, anak. Dewasa dan usia lan jut. Periode 2 tahun pertama kehidupan merupakan masa kritis dan pada masa ini t erjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat (Istiono, 2009). Usia bali ta merupakan usia yang sangat penting dalam pertumbuhan fisik dan psikologi seor ang anak. Masa balita merupakan masa kritis dalam upaya menciptakan sumber daya yang berkualitas. Masa tersebut disebut masa emas (golden ages) dimana sel-sel o tak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal (Nurhayati, 2009) . Masalah gizi anak secara garis besar merupakan dampak dari ketidakseimbangan a ntara asupan dari keluaran zat gizi (nutritional imbalance), yaitu asupan yang m elebihi keluaran ayau sebaliknya, disamping kesalahan dalam memilih bahan makana n untuk disantap. Akibat dari permasalahan tersebut dapat berupa penyakit kronis , barat badan berlebih atau kurang, pica, karies dentis, serta alergi (Arisman, 2008). Di Indonesia sampai sekarang masih terdapat empat masalah gizi utama yang harus ditanggulangi dengan program perbaikan gizi, yaitu : 1. Masalah kurang en ergy protein (KEP), 2. Masalah kurang vitamin A, 3. Masalah anemia, 4. Masalah g angguan akibat kekurangan iodium. Kurang energy protein (KEP) sampai saat ini ma sih menjadi salah satu masalah gizi utama di Indonesia. Kurang energy protein (K EP) dikelompokkan menjadi dua, yaitu gizi kurang (bila berat badan munurut umur dibawah 2 SD), dan gizi buruk (bila berat badan menurut umur dibawah 3 SD). Pada tahun 2003, diperkirakan 27,5 % balita mengalami gizi kurang, 8,5 % diantaranya mengalami gizi buruk (Istiono, 2009). 1.2 Tujuan 1.2.1 mengetahui kebutuhan giz i pada balita 1.2.2 mengetahui masalah gizi buruk pada balita 1.2.3 mengetahui f aktor yang menyebabkan gangguan gizi 1

BAB II ISI 2.1 Pentingnya Gizi pada Balita Masa balita ( bawah 5 tahun ) merupak an periode / usia penting dalam tumbuh kembang fisik anak. Akan tetapi pada masa ini anak balita merupakan kelompok yang rawan gizi. Hal ini disebabkan pada mas a ini anak cenderung susah untuk makan dan hanya suka padajajanan yang kandungan zatgizinya tidak baik. Pada masa balita juga terjadi pertumbuhan dan perkembang an sehingga anak mudah sakit danterjadi kekurangan gizi. Karena pada masa ini pe rtumbuhan dasar yanga kan mempengaruhi danmenentukan perkembangan anak selanjutn ya. Pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadara n sosial, emosional danintelegensia berjalan sangat cepat dan merupakanlandasan perkembangan berikutnya.Perkembangan modal serta dasar-dasar kepribadian juga di bentuk pada masa ini.Sehingga setiap penyimpangan sekecil apapun apabila tidak d itangani dengan baik akanmengurangi kualitas sumber daya manusia kelak kemudian hari (Alfinda, dkk, 2011). 2.2 Kebutuhan Gizi pada Balita 2.2.1 Karbohidrat Meru pakan sumber energi yang tersedia dengan mudah di setiap makanan danharus tersed ia dalam jumlah yang cukup sebab kekurangan sekitar 15% dari kaloriyang ada dapa t menyebabkan terjadi kelaparan dan berat badan menurun, apabila jumlah kalori y ang tersedia atau berasal dari karbohidrat dengan jumlah yang tinggidapat menyeb abkan terjadi peningkatan BB(obesitas). Jumlah karbohidrat yang cukup dapat dipe roleh dari susu, padi-padian, buah-buahan,sukrosa, sirup, tepung, dan sayur-sayu ran.Porsi terbesar dari energi tubuh ( 40- 50 %) kebutuhan kalori berasal dari k arbohidrat( sumber energi utama). Karbohidrat merupakan makanan utama yang terja ngkauoleh masyarakat. Karbohidrat disimpan terutama dalam bentuk glikogen dalam jaringan hati dan otot. Bila energi tidak terdapat dari karbohidrat, maka diambi l dariprotein dan lemak. Karbohidrat didapat dalam bentuk : a. Monosakarida ( gl ukosa, fruktosa, galaktosa) b. Disakarida ( laktosa, sukrosa, maltosa, isomaltos a) 2

c. Polisakarida ( tepung, dektrin, glikogen, selulosa)2. 2.2.2 Lemak Pada dasarn ya lemak tidak banyak dibutuhkan dalam jumlah besar kecuali lemak esensial, yait u asam linoleat dan asam dan asam arakidonat.Lemak berfungsi untuk mempermudah a bsorbsi vitamin yang larut dalam lemak yaitu vitamin A, D, E dan K. Jumlah dan j enis lemak yang dikonsumsi sehari-hari berpengaruh bagi perkembangandan pertumbu han anak. Pengaruh tersebut terjadi melalui kandungan kalori atau energi yang di miliki dan peranan asam-asam lemak tertentu yang terdapat didalamnya. Bagi bayi, sumber lemak yang ideal dalam air susu ibu (ASI). Sekitar 50 60 Persen energi y ang yang terkandung dalam ASI berasal dari lemak susu, Selama masa penyapihan , konsumsi lemak harus dijaga jangn sampai terlalu rendah dari jumlah yang dibutuh kan. Penggunaan lemak, terutama minyak nabati dalam makanansapihan atau makanan tambahan bagi bayi dn balita adalah cara efektif untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Lemak merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan aktifitas fis ik bagianak dan balita. Kebutuhan energi ini akan terpenuhi jika konsumsi lemak/ minyak hanya menyumbang 15 persen atau kurang dari total energi yang dibutuhkan perhari. Sampai umur dua tahun, lemak yang dikonsumsi oleh anak disamping sebaga i sumberenergi, harus dilihat juga dari segi fungsi strukturalnya. Lemak akan me nghasilkan asam-asam lemak dan kolestrol yang ternyata dibutuhkan untuk membentu k sel-sel membram pada semua organ. Organ-organ penting sepertiretina dan sisiti m saraf pusat terutama disusun oleh lemak. Asam lemak yang dangat dibutuhkan ole h jaringan tubuh tersebut terutama adalah asam lemak yang esensial.Asam lemah ya ng esensial adalah asam lemak yang tidak dapat dibuatdidalam tubuh sehingga haru s diperolaeh dari makanan, terdiri dari asam Linoleat,linulenat dan arakhidonat. ASI mempunyai komposisi asam lemak yang sangat tepat untuk keperluan bayi danan ak-anak sampai dua tahun tersebut. Juga mengandung faktor-faktor yangmenyebabkan lemaknya mudah dicerna, juga komposisi kimianya membuat ASI mudah dicerna dan j uga memberikan suplai yang seimbang antara asam 3

lemak omega-6 dan omega-3. Bagi bayi dan balita, rekomendasi yang diberikan adal ah sebagai berikut : sedapat mungkin bayi diberikan ASI, komposisi asam lemak da lam formula makanan bayi harus disesuaikandengan jumlah dan proporsi asam lemak yang terkandung dalam ASI, dan selama masa sapihan atau paling sampai bayi umur 2 tahun, kebutuhan energiyang berasal dari lemak harus sebanyak 30-40 persen dar i total energi yangdibutukan per hari, dengan komposisi asam lemak yang semirip mungkindengan ASI. 2.2.3 Protein Protein merupakan zat gizi dasar yang berguna d alam pembentukan protoplasmasel. Selain itu, tersedianya protein dalam jumlah ya ng cukup penting untuk pertumbuhan dan perbaikan sel jaringan dan sebagai laruta n untuk menjagakeseimbangan osmoyik plasma. Protein terdiri dari dua puluh empat asam amino, diantaranya sembilan asam amino esensial (treonin, valin, leusin, i soleusin, lisin,triptofan, fenilalanin, metionin, dan histidin) dan selebihnya a sam amino nonesensial.Jika jumlah protein dalam tubuh tinggi dapat memperburuk i nsufisiensi ginjal. Jika jumlahnya kurang, dapat menyebabkan kelemahan, edema, b ahkan dal am kondisi lebih buruk dapat menyebabkan kwashiorkor (kurang protein) dan marasmus (kurangprotein dan kalori). Komponen zat gizi protein dapat diperol eh dari susu, telur,daging, ikan, unggas, keju, kedelai, kacang, buncis, dan pad ipadian. 2.2.4 Cairan a. Air Air merupakan kebutuhan nutrisi yang sangat penting ,mengingat kebutuhan airpada bayi mencapai 75-80% dari berat badan.air bagi tubuh berfungsi sebagaipelarut untuk pertukaran selluler, medium untuk pengganti ASI. b. Minera l Mineral merupakan komponen zat gizi yang tersedia dalam kelompok mikro,yaitu : 4

Kalsium merupakan mineral yang berguna untuk pengaturan struktur tulangdan gigi, kontraksi otot, iritabilitas saraf, koagulasi darah, kerja jantung dan produksi susu. Kalsium akan dieksresikan 70% dalam tinja, 10% dalam urin, sedangkan 15-2 5% bertahan dan tergantung dalam keceptan pertumbuhan. Klorida sangat berguna dalam pengeluaran Klorida tekanan osmotic serta dari keseimbangan asam dan basa. dapat diperoleh garam, daging, susu dan telur. Kromium berguna untuk metabolism glukosa dan meta bolism dalam insulin. Kromium dapat diperoleh dari ragi. Tembaga berguna untuk p roduksi sel darah merah, pembentukan hemoglobin, penyerapan besi, dll. Tembaga d apat diperoleh dari hati, daging, ikan, padi, dan kacang-kacangan. Flour merupak an mineral yang berfungsi untuk pengaturan struktur gizi dantulang, sehingga jik a kekurangan dapat menyebabkan karies gigi. Sumberflour terdapat dsalam air, mak anan laut, dan tumbuh-tumbuhan. Iodium harus tersedia dalam jumlah yang cukup se bab kekurangan iodiumdapat menyebabkan penyakit gondok. Iodium dapat diperoleh d ari garam. Zat besi merupakan mineral yang menjadi bagian dari struktur hemoglob in untuk pengangkutanCO2 dan O2. Kekurangan zat besi dapat mengakibatkan anemia dan osteoporosis. Sedangkan kelebihan dapat mengakibatkan sirosis,gastritis, dan hemolisis. Zat besi dapat diperoleh dari hati, daging, kuning telur, sayuran hi jau, padi, dan tumbuhan. 5

Magnesium berguna aktifitas enzim pada metabolisme karbohidrat dan sangat pentin g dalam proses metabolisme. Kekurangan mangnesium menyebabkan hipokalsemia atau hipokalemia, maknesium dapat diperoleh daribiji-bi jian, kacang-kacangan, daging dan susu. Mangan berfungsi dalam aktifitas enzim.m angan dapat diperoleh kacangkacanagn padi , biji-bijian, dan sayur-sayuran hijau . Fosfor merupakan unsur pokok dalam pertumbuhan tulang dangigi.kekurangan fosfor dapat menyebabkan kelemahan otot.fosfor dapatdiperoleh dari susu,kuning telur, kacang-kacangan, padi-padian dan lain-lain. Kalium berf ungsi dalam kontraksi otot dan hantaran implussaraf,keseimbangan cairan,dan peng aturan irama jantung,kalium dapatdiperoleh dari semua makanan. Natrium berguna d alam pengaturan tekanan osmotic serta pengaturankeseimbangan asam dan basa,dan cairan.kekurangan cairan dapatmengakiba tkan kram otot,nausea,dehidrasi dan hipotensi.natrium dapatdiperoleh dari garam, susu,telur,tepung dan lain-lain. Sulfur merupakan unsure pokok protein seluler y ang membantu prosesmetabolism jarinagn saraf.sulfur dapat di peroleh dari makanan protein. Se ng merupakan unsure pokok dari beberapa enzim karbonik anhidrase yangpenting dal am pertukaran CO2. seng dapat diperoleh dari daging, padi-padian, kacang-kacanga n dan keju 6

2.3 Masalah Gizi Buruk pada Balita 2.3.1 Pengertian Gizi buruk adalah keadaan ku rang gizi yang disebabkan karena kekuranganasupan energi dan protein juga mikron utrien dalam jangka waktu lama. Anak disebut gizi buruk apabila berat badan diba nding umur tidak sesuai (selama 3bulan berturut-turut tidak naik) dan tidak dise rtai tanda-tanda bahaya. 2.3.2 Penyebab Penyebab terjadinya gizi buruk secara la ngsung antara lain: 1. Penyapihan yang terlalu dini 2. Kurangnya sumber energi d an protein dalam makanan TBC 3. Anak yang asupan gizinya terganggu karena penyak it bawaan seperti jantung atau metabolisme lainnya. Penyebab tidak langsung: 1. Daya beli keluarga rendah/ ekonomi lemah 2. Lingkungan rumah yang kurang baik 3. Pengetahuan gizi kurang 4. Perilaku kesehatan dan gizi keluarga kurang Dampak g izi buruk pada anak terutama balita 1. Pertumbuhan badan dan perkembangan mental anak sampai dewasaterhambat. 2. Mudah terkena penyakit ispa, diare, dan yang le bih sering terjadi. 3. Bisa menyebabkan kematian bila tidak dirawat secara inten sif. 2.3.3 Tipe Gizi Buruk Ada tiga tipe gizi buruk, antara lain: 1. Marasmus: A nak sangat kurus, wajah seperti orang tua, cengeng dan rewel, rambuttipis, jaran g, kusam, berubah warna, kulit keriput karena lemak di bawahkulit berkurang, iga gambang, bokong baggy pant, perut cekung, wajahbulat sembab. 2. Kwarsiorkor: 7

rewel, apatis, rambut tipis, warna jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit,kedua punggung kaki bengkak, bercak merah kehitaman, di tungkai ataubokong. 3. Gabunga n dari marasmus dan kwarsiorkor 2.3.4 Kriteria Anak Gizi Buruk 1) Gizi Buruk Tan pa Komplikasi a. BB/TB: < -3 SD dan atau; b. Terlihat sangat kurus dan atau; c. Adanya Edema dan atau; d. LILA < 11,5 cm untuk anak 6-59 bulan 2) Gizi Buruk den gan Komplikasi Gizi buruk dengan tanda-tanda tersebut di atas disertai salah sat u atau lebih dari tanda komplikasi medis berikut: a. Anoreksia b. Pneumonia bera t c. Anemia berat d. Dehidrasi berat e. Demam sangat tinggi f. Penurunan kesadar an 2.3.5 Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Gizi Buruk Berikut ini sa lah satu prosedur investigasi dan intervensi atau tepatnya Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Gizi Buruk yang ditemukan di masyarakat untuk dapat digunakan pada pengelola dan pengambilan keputusan da lam menyingkapi terjadinya kasus gizi buruk : Ketika ada laporan gizi buruk (sat u gizi buruk saja) maka tangani gizi buruk tersebut dan selanjutnya lakukan inve stigasi dan intervensi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : 1 . Apakah telah terjadi penurunan N/D dan BGM? Bila tidak terjadi penurunan N/D ( balita yang Naik Berat Badanya) dan tidak terjadi peningkatan BGM (anak dengan p ertumbuhan Berat Badan di Bawah Garis Merah pada Kartu Menujuh Sehat (KMS-Balita ) maka lakukan 8

intervensitingkat pertama. Dan bila terjadi penurunan N/D dan peningkatan BGM maka lakukan pengecekan Pola Konsumsi. 2. Apakah terjadi Perubah an Pola Konsumsi? Bila tidak terjadi perubahan pola konsumsi maka lakukan interv ensi tingkat kedua. Bila terjadi perubahan pola konsumsi maka lakukan pengecekan jumlah keluarga miskin. 3. Apakah Telah terjadi peningkatan Keluarga Miskin? Ji ka tidak terjadi peningkatan jumlah keluarga miskin maka lakukan intervensi ting kat III. Dan jika terjadi peningkatan jumlah keluarga miskin maka lakukan intervensi tingkat IV. Penjelasan keseluruhan dari 3 (tiga) pertanyaan t ersebut adalah Jika telah terjadi kasus gizi buruk atau ada laporan gizi buruk m aka yang harus dilakukan adalah : Laporan Gizi Buruk. Pertama : Melakukan invest igasi kasus gizi buruk tersebut, setelah mendapat data individu secara lengkap b eserta sebab-musababnya kemudian kasus dirujuk serta nyatakan sebagai Kejadian L uar Biasa (KLB) sebagai bahan untuk rekomendasi tindak lanjut pengecekan anak-an ak balita dan keluarganya di sekitar wilayah (posyandu) kasus gizi buruk ditemuk an. Untuk mencegah timbulnya kasus gizi buruk baru, lakukan pengecekan pada anak -anak balita lainnya diwilayah posyandu dimana ditemukan kasus gizi buruk, apaka h anak-anak tersebut telah terjadi penurunan berat badan dan diantara mereka ada yang berat badannya turun sampai di bawah garis waspada (garis merah KMS). Cek N/D dan BGM Kedua : Selanjutnya ada dua hal yang harus dilakukan ketika hasil pe ngecekan (investigasi) penurunan berat badan dan adanya sejumlah balita yang BGM -KMS yaitu 1. Jika tidak terjadi penurunan Berat Badan Balita dan tidak adanya B GMKMS maka tidak perlu dilakukan investigasi lebih lanjutnya terhadap keluarga b alita. Yang dilakukan hanya Intervensi dengan mengaktifkan secara maksimal konse ling (KIE) pada keluarga balita yang datang di posyandu maupun keluarga balita y ang tidak datang di posyandu. 9

Konseling (KIE) dapat juga dilakukan semua stakeholder wilayah terjadinya kasus gizi buruk. Pemantapan posyandu harus juga segera dilakukan karena satu gizi bur uk yang ditemukan di posyandu tersebut telah menunjukkan bahwa pengelolaan posya ndu telah kurang dapat memaksimalkan pelayanan tumbuh kembang balitanya. Bentuk Intervensi ini disebut juga sebagai intervensi tingkat Pertama (INTERVENSI PERTA MA) 2. Jika terjadi jumlah kasusnya naik (anak balita dengan Berat Badan Turun d an ada balita BGM-KMS) maka yang dilakukan adalah pengecekan pola konsumsi kelua rga anak balita tersebut. Cek Pola Konsumsi Ketiga : Ada dua hal juga yang harus dilakukan terhadap pengecekan pola konsumsi keluarga anak balita yaitu apakah t elah terjadi perubahan pola konsumsi atau tidak terjadi Perubahan Pola Konsumsi? 1. Pola konsumsi yang dimaksud disini adalah pola makan balita atau keluarga ba lita yang normalnya adalah dalam sehari harus makan 3 kali (pagi-siang dan malam ) jika tidak terjadi perubahan pola konsumsi (makan) dalam sehari maka intervens i yang dilakukan hanya dalam bentuk konseling (KIE), pemantapan posyandu, pember ian PMT penyuluhan dan peningkatan cakupan pelayanan kesehatan. Bentuk Intervens i ini disebut juga sebagai intervensi tingkat Kedua (INTERVENSI KEDUA). 2. Jika telah terjadi perubahan pola konsumsi atau mak an sudah dibawah 2 kali se hari maka yang dilakukan adalah pengecekan Keluarga M iskin. Cek Keluarga Miskin Keempat : Pengecekan Keluarga Miskin, ada dua langkah yang dilakukan yaitu apakah telah terjadi peningkatan jumlah Keluarga miskin at au tidak terjadi peningkatan jumlah keluarga miskin? 1. Yang menjadi ukuran kelu arga miskin disini adalah yang berhubung langsung dengan terjadi kekurangan gizi yaitu ketersediaan pangan (makanan) ditingkat rumah tangga dan adanya penyakit pada keluarga 10

serta beberapa aktifitas lainnya yang terhenti akibat penurunan pendapatan keluarga. 2. Secara sederhana ketersediaan pangan (makanan) ditingkat rumah tangga yang ditandai dengan pola makan yang kurang dari 2 kali sehari. Un tuk indicator adanya penyakit pada keluarga yang tidak mempunyai kemampuan untuk mengakses pelayanan kesehatan dapat dilihat adanya penyakit yang diderita dan t idak mendapat pelayanan kesehatan. Untuk serta beberapa aktifitas lainnya yang t erhenti akibat penurunan pendapatan keluarga dapat dilihat dari kepala keluarga tidak mempunyai pekerjaan tetap. 3. Intervensi yang dilakukan jika tidak terjadi peningkatan jumlah kelua rga miskin adalah Konseling (KIE), pemantapan posyandu, PMT pemulihan terbatas d an cakupan pelayanan kesehatan kesehatan ibu dan anak. Bentuk Intervensi ini dis ebut juga sebagai intervensi tingkat Tiga (INTERVENSI TIGA) 4. Sementera itu Int ervensi yang dilakukan jika terjadi peningkatan keluarga miskin adalah Konseling (KIE), pemantapan posyandu, PMT pemulihan (total), bantuan pangan darurat dan p engobatan. Bentuk Intervensi ini disebut juga sebagai intervensi tingkat Keempat (INTERVENSI KEEMPAT) . Investigasi dan Intervensi Gizi Buruk adalah prosedur pelacakan dan a lternative intervensi setiap kasus gizi buruk yang ditemukan, disebut juga sebag ai Standar Operasional Prosedur Kejadian Luar Biasa Gizi Buruk (SOP-KLB-Gizi Bur uk) sebagai salah satu standar kompotensi yang harus difahami dengan baik dan be nar oleh para pengelola gizi dan pengambil keputusan dalam melaksanakan program perbaikan gizi masyarakat. Ketidak tahuan akan SOP-KLB-Gizi Buruk mengakibatkan kasus-kasus gizi buruk akan selalu muncul. 2.4 Faktor yang Menyebabkan Gangguan Gizi pada Balita Ada beberapa hal yang sering merupakan penyebab terjadinya gang guan gizi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai penyebab langsung gangguan gizi, khususnya gangguan gizi pada bayi dan anak usia dibawah lima 11

tahun (balita) adalah tidak sesuainya jumlah gizi yang mereka peroleh dari makan an dengan kebutuhan tubuh mereka. Berbagai faktor yang secara tidak langsung men dorong terjadinya gangguan gizi terutama pada anak Balita antara lain sebagai be rikut: 1. Ketidaktahuan akan hubungan makanan dan kesehatan Dalam kehidupan masy arakat sehari-hari sering terlihat keluarga yang sungguhpun berpenghasilan cukup akan tetapi makanan yang dihidangkan seadanya saja. Dengan demikian, kejadian g angguan gizi tidak hanya ditemukan pada keluarga yang berpenghasilan kurang akan tetapi juga pada keluarga yang berpenghasilan relatif baik (cukup). Keadaan ini menunjukkan bahwa ketidaktahuan akan faedah makanan bagi kesehatan tubuh mempun yai sebab buruknya mutu gizi makanan keluarga, khususnya makanan anak balita. Me nurut Dr. Soegeng Santoso, M.pd, 1999, masalah gizi Karen akurang pengetahuan da n keterampilan dibidang memasak menurunkan komsumsi anak, keragaman bahan dan ke ragaman jenis masakan yang mempengaruhi kejiwaan misalnya kebosanan. 2. Prasangk a buruk terhadap bahan makanan tertentu Banyak bahan makanan yang sesungguhnya b ernilai gizi tinggi tetapi tidak digunakan atau hanya digunakan secara terbatas akibat adanya prasangka yang tidak baik terhadap bahan makanan itu. Penggunaan b ahan makanan itu dianggap dapae menurunkan harkat keluarga. Jenis sayuran sepert i genjer, daun turi, bahkan daun ubi kayu yang kaya akan zat besi, vitamin A dan protein dibeberapa daerah masih dianggap sebagai makanan yang dapat menurunkan harkat keluarga. 3. Adanya kebiasaan atau pantangan yang merugikan Berbagai kebi asaan yang bertalian dengan pantang makan makanan tertentu masih sering kita jum pai terutama di daerah pedesaan. Larangan terhadap anak untuk makan telur, ikan, ataupun daging hanya berdasarkan kebiasaan yang tidak ada datanya dan hanya diw arisi secara dogmatis turun temurun, padahal anak itu sendiri sangat memerlukan bahan makanan seperti itu guna keperluan pertumbuhan tubuhnya. Kadang-kadang kep ercayaan orang akan sesuatu makanan anak kecil membuat anak sulit mendapat cukup protein. Beberapa orang tua beranggap ikan, 12

telur, ayam, dan jenis makanan protein lainnya memberi pengaruh buruk untuk anak kecil. Anak yang terkena diare malah dipuasakan (tidak diberi makanan). Cara pe ngobatan seperti ini akan memperburuk gizi anak. ( Dr. Harsono, 1999). 4. Kesuka an yang berlebihan terhadap jenis makanan tertentu Kesukaan yang berlebihan terh adap suatu jenis makanan tertentu atau disebut sebagai faddisme makanan akan men gakibatkan tubuh tidak memperoleh semua zat gizi yang diperlukan. 5. Jarak kelah iran yang terlalu rapat Banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa banyak an ak yang menderita gangguan gizi oleh karena ibunya sedang hamil lagi atau adikny a yang baru telah lahir, sehingga ibunya tidak dapat merawatnya secara baik. Ana k yang dibawah usia 2 tahun masih sangat memerlukan perawatan ibunya, baik peraw atan makanan maupun perawatan kesehatan dan kasih sayang, jika dalam masa 2 tahu n itu ibu sudah hamil lagi, maka bukan saja perhatian ibu terhadap anak akan men jadi berkurang.akan tetapi air susu ibu ( ASI ) yang masih sangat dibutuhkan ana k akan berhenti keluar. Anak yang belum dipersiapkan secara baik untuk menerima makanan pengganti ASI, yang kadang-kadang mutu gizi makanan tersebut juga sangat rendah, dengan penghentian pemberian ASI karena produksi ASI berhenti, akan leb ih cepat mendorong anak ke jurang malapetaka yang menderita gizi buruk, yang apa bila tidak segera diperbaiki maka akan menyebabkan kematian. Karena alasan inila h dalam usaha meningkatkan kesejahteraan keluarga, disamping memperbaiki gizi ju ga perlu dilakukan usaha untuk mengatur jarak kelahiran dan kehamilan. 6. Sosial Ekonomi Keterbatasan penghasilan keluarga turut menentukan mutu makanan yang di sajikan Tidak dapat disangkal bahwa penghasilan keluarga akan turut menentukan h idangan yang disajikan untuk keluarga sehari-hari, baik kualitas maupun jumlah m akanan. 13

7. Penyakit infeksi Infeksi dapat menyebabkan anak tidak merasa lapar dan tidak mau makan. Penyakit ini juga menghabiskan sejumlah protein dan kalori yang sehar usnya dipakai untuk pertumbuhan. Diare dan muntah dapat menghalangi penyerapan m akanan. Penyakit-penyakit umum yang memperburuk keadaan gizi adalah: diare, infe ksi saluran pernapasan atas, tuberculosis, campak, batuk rejan, malaria kronis, cacingan. ( Dr. Harsono, 1999). 8. Akibat Gizi yang Tidak Seimbang Kekurangan En ergi dan Protein (KEP) Berikut ini sebab-sebab kurangnya asupan energi dan prote in. Makanan yang tersedia kurang mengandung energy Nafsu makan anak terganggu se hingga tidak mau makan Gangguan dalam saluran pencernaan sehingga penyerapan sar i makanan dalam usus terganggu Kebutuhan yang meningkat, misalnya karena penyaki t infeksi yang tidak diimbangi dengan asupan yang memadai. Kekurangan energi dan protein mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan balita terganggu.Gangguan as upan gizi yang bersifat akut menyebabkan anak kurus kering yang disebut dengan w asting. Wasting, yaitu berat badan anak tidak sebanding dengan tinggi badannya. Jika kekurangna ini bersifat menahun ( kronik), artinya sedikit demi sedikit, te tapi dalam jangka waktu yang lama maka akan terjadi kedaan stunting. Stunting , yaitu anak menjadi pendek dan tinggi badan tidak sesuai dengan usianya walaupun secara sekilas anak tidak kurus. ( penjelasan lihat daftar tabel IV ) Berdasarka n penampilan yang ditunjukkan, KEP akut derajat berat dapat dibedakan menjadi ti ga bentuk. Marasmus Pada kasus marasmus, anak terlihat kurus kering sehingga wajahnya seperti orang tua.Bentuk ini dikarenakan kekurangan energi yang dominan. Kwashiorkor 14

Anak terlihat gemuk semu akibat edema, yaitu penumpukan cairan di selasela sel d alam jaringan. Walaupun terlihat gemuk, tetapi otot-otot tubuhnya mengalami peng urusan ( wasting ). Edema dikarenakan kekurangan asupan protein secara akut ( me ndadak ), misalnya karena penyakit infeksi padahal cadangan protein dalam tubuh sudah habis. Marasmik-kwashiorkor Bentuk ini merupakan kombinasi antara marasmus dan kwashiorkor. Kejadian ini dik arenakan kebutuhan energi dan protein yang meningkat tidak dapat terpenuhi dari asupannya. Obesitas Timbulnya Obesitas dipengaruhi berbagai faktor, diantaranya faktor keturunan dan lingkungan. Tentu saja, faktor utama adalah asupan energi yang tidak sesuai den gan penggunaan. Menurut Aven-Hen (1992), obesitas sering ditemui pada anak-anak sebagai berikut: Anak yang setiap menangis sejak bayi diberi susu botol. Bayi ya ng terlalu dini diperkenalkan dengan makanan padat. Anak dari ibu yang terlalu t akut anaknya kekurangan gizi. Anak yang selalu mendapat hadiah cookie atau gulagula jika ia berbuat sesuai keinginan orangtua. Anak yang malas untuk beraktivit as fisik. 9. Penyebab Balita Kurang Nafsu makan: a. Faktor penyakit organis b. Faktor gang guan psikologi Anak akan kehilangan nafsu makan karena hal-hal sebagai berikut: Air Susu Ibu yang diberikan terlalu sedikit sehingga bayi menjadi frustasi dan m enangis Anak terlalu dipaksa untuk menghabiskan makanan dalam jumlah/ takaran te rtentu sehingga anak menjadi tertekan Makanan yang disajikan tidak sesuai dengan yang diinginkan / membosankan 15

Susu formula yang diberikan tidak disukai anak atau ukuran / dosis yang diberika n tidak sesuai dengan sehingga susu yang diberikan tidak dihabiskan Suasana makan tidak menyenangkan/ anak tidak pernah makan bersama kedua orang tu anya. Faktor pengaturan makanan yang kurang baik Berikut ini beberapa upaya untuk mengatasi anak sulit makan ( faktor organis, fa ktor psikologis, atau faktor pengaturan makanan ): Jika penyebabnya faktor organ is, yang harus dilakukan adalah dengan menyembuhkan penyakitnya melalui dokter. Jika penyebabnya faktor psikologis, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan. M akanan dibuat dengan resep masakan yang mudah dan praktis sehingga dapat menggug ah selera makan anak dan disajikan semenarik mungkin. Jangan memaksa anak untuk menghabiskan makanan, orangtua harus sabar saat memberi makan anak. Upayakan sua sana makan menyenangkan , sebaiknya waktu makan disesuaikan denga waktu makan ke luarga karena anak punya semangat untuk menghabiskan makanannya dengan makan ber sama keluarga (orangtua) Pembicaraan yang kurang menyenangkan terhadap suatu jen is makanan sebaiknya dihindari dan ditanamkan pada anak memilih bahan /jenis mak anan yang baik. Jika penyebabnya adalah faktor pengaturan makanan maka dapat dil akukan beberapa hal berikut ini. Diusahakan waktu makan teratur dan makanan dibe rikan pada saat anak benar-benar lapar dan haus Makanan selingan dapat diberikan asalkan makanan tersebut tidak membuat anak menjadi kenyang agar anak tetap mau makan nasi. Untuk membeli makanan jajanan sebagai makanan selingan, sebaiknya d idampingi oleh orang tuanya sehingga anak dapat 16

memilih makanan jajanan yang baik dari segi kandungan gizi maupun kebersihannya. Kuantitas dan kualitas makanan yang diberikan harus diatur disesuaikan dengan k ebutuhan/kecukupan gizinya sehingga anak tidak menderita gizi kurang atau gizi l ebih. Bentuk dan jenis makanan yang diberikan harus disesuaikan dengan tahap per tumbuhan dan perkembangan anak. 17

BAB III KESIMPULAN Gizi yang dibutuhkan oleh balita antara lain adalah karbohidr at, lemak, protein dan cairan (air dan mineral). Gizi buruk adalah keadaan kuran g gizi yang disebabkan karena kekuranganasupan energi dan protein juga mikronutrien dalam jangka waktu lama. P enyebab gizi buruk ada yang bersifat langsung, misalnya penyapihan terlalu dini, kurangnya sumber energy dan protein dan asupan gizi yang terganggu. Kemudian pe nyebab tidak langsung, yaitu ekonomi keluarga yang lemah, lingkungan rumah kuran g baik, pengetahuan gizi kurang, perilaku kesehatan dan gizi keluarga kurang. Gi zi buruk dapat dibagi dalam 3 tipe, yaitu marasmus, kwashiorkor dan marasmus-kwa siorkor. Faktor-faktor yang mnyebabkan gangguan gizi pada balita antara lain kar ena ketidaktahuan antara hubungan makan dan kesehatan, prasangka buruk terhadap bahan makanan tertentu, adanya kebiasaan atau pantangan yang merugikan, kesukaan yang berlebihan terhadap jenis makanan tertentu, jarak kelahirsan yang terlalu rapat, sosial ekonomi, penyakit infeksi, dan lain-lain. 18