Anda di halaman 1dari 7

Keperawatan Komunitas II

Jurnal : Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja Di Jawa Tengah : Implikasinya Terhadap Kebijakan Dan Layanan Kesehatan Seksual Dan Reproduksi

Oleh: Budi Setiawan I1B108203

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru 2011
A. Judul Hubungan Antara Usia Menikah dan Paritas Dengan Kejadian Kanker Serviks di RSUD Dr. Soeroto Ngawi. B. Latar Belakang Kanker mulut rahim (serviks) masih menjadi problem kesehatan bagi wanita, sebab penyakit akibat human papilloma virus (HPV) tersebut menjadi mesin pembunuh di kalangan kaum wanita. Kasus kanker tersebut sangat mengkhawatirkan, karena angka kejadiannya menunjukkan trend meningkat. Berdasar data di RSU dr Soetomo,

tiap hari tak kurang dari delapan pasien baru kanker leher rahim berobat, dalam setahun diperkirakan terdapat 700-800 pasien baru. Kebanyakan pasien yang berobat berusia 40 50 tahun (Askandar, 2008). Kanker serviks mempunyai insiden tertinggi di negara berkembang dan khususnya Indonesia. Frekuensi relatif di Indonesia adalah 27% berdasarkan data patologik atau 16% berdasarkan data rumah sakit. Lebih dari tiga perempat kanker ginekologi di RSCM adalah kanker serviks dan 62% di antaranya dengan stadium lanjut (stadium II III), dan ia merupakan penyebab kematian terbanyak di antara kematian kanker ginekologik yaitu 66% (Azis, 2003). Di RSUD dr.Soeroto Ngawi pada tahun 2007 jumlah penderita kanker serviks sebanyak 54 orang, pada tahun 2008 mengalami peningkatan yaitu 65 penderita (40%), dan menduduki urutan pertama dari 5 penyakit ginaekologi, lebih banyak menyerang ibu multipara. Penyebab langsung dari kanker serviks belum diketahui, namun kejadiannya mempunyai hubungan erat

dengan sejumlah faktor ekstrensik, yang penting meliputi: 1) insidensi lebih tinggi pada mereka yang kawin, terutama pada gadis yang koitus pertama pada usia muda (<16 tahun), 2) tingginya paritas, apalagi jarak persalinan terlampau dekat, 3) sosial ekonomi rendah, 4) berganti ganti pasangan, 5) wanita yang mengalami infeksi virus

HPV

(Human Papilloma Virus) tipe 16 atau 18, dan 6) kebiasaan merokok

(Wiknjosastro,1999). Apabila kanker serviks tidak ditangani, pada stadium lanjut ketika tumor keluar serviks dan melibatkan jaringan di rongga pelvis dapat dijumpai tanda lain seperti, nyeri yang menjalar ke pinggul atau kaki, hal ini menandakan keterlibatan ureter, dinding panggul atau nervus skiatik. Beberapa penderita

mengeluhkan nyeri berkemih, hematuri, perdarahan rektum, sampai sulit berkemih dan buang air besar. Penyebaran ke kelenjar getah bening, tungkai bawah dapat menimbulkan oedema tungkai bawah, atau terjadi uremia bila terjadi penyumbatan kedua ureter (Wiknjosastro, 2006). Untuk mengendalikan kejadian kanker serviks perlu dimasyarakatkan upaya pengenalan kasus secara dini melalui program skrining.

Tingkat keberhasilan pengobatan sangat baik pada stadium dini dan hampir tidak terobati bila tumor telah menyebar sampai dinding panggul atau organ disekitarnya. Salah satu upaya untuk mendeteksi secara dini kanker serviks dapat di lakukan dengan pap smear. Pap smear bertujuan untuk mengenali adanya perubahan awal sel epitel serviks hingga dapat dilakukan tindakan pencegahan terjadinya kanker invasif. Pap smear

menjadikan kanker serviks sebagai penyakit yang dapat dicegah (Wiknjosastro, 2006). C. Manfaat Menambah wawasan serta meningkatkan pemahaman tentang hubungan antara usia menikah dan paritas dengan kejadian kanker serviks. D. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Penelitian analitik epidemiologi kasus kontrol dengan rancangan retrospektif. 2. Populasi dan sampel Populasi penelitian ini adalah semua penderita kanker serviks sebanyak 65 dan 226 ibu bersalin normal di RSUD dr.Soeroto Ngawi tahun 2008. Sampel penelitian ini adalah sebagian dari populasi penderita kanker serviks sebanyak 56 dan ibu bersalin normal sebanyak 145 di RSUD dr.Soeroto Ngawi tahun 2008 yang diambil dengan teknik simple random sampling. 3. Variabel Penelitian Variabel bebas pada penelitian ini adalah usia menikah dan paritas. Sedangkan variabel terikat adalah kejadian kanker serviks. 4. Instrumen Penelitian

Metode pengumpulan data menggunakan dokumentasi rekam medik di RSUD dr.Soeroto Ngawi. 5. Cara Analisis Data Data yang dikumpulkan adalah data sekunder dari status pasien di RSUD dr. Soeroto Ngawi tahun 2008. Analisis data menggunakan uji Chi Kuadrat dan Odd Ratio dengan tingkat kemaknaan p=0,05.

E. Kesimpulan Kesimpulan penelitian adalah: 1. Kasus kanker serviks di RSUD dr Soeroto Ngawi tahun 2008 sebanyak 65 orang, dan jumlah ibu bersalin normal 2. sebanyak 226. Kasus kanker serviks dengan usia menikah 16 tahun sebanyak 69,6%, dan usia menikah >16 tahun ada 30,4%. 3. Kasus kanker serviks karena faktor paritas >2 anak sebanyak 71,4%, dan 2 anak terdapat 28,6%. 4. 5. 6. Ada hubungan antara usia menikah dengan kejadian kanker serviks. Ada hubungan paritas dengan kejadian kanker serviks. Besar resiko paparan usia menikah 16 tahun terhadap kejadian kanker serviks 0,180 kali daripada >16 tahun. 7. Besar resiko paparan paritas >2 anak terhadap kejadian kanker serviks 0,155 kali daripada paritas >2 anak. F. Kebijakan Pemerintah Terkait Kanker Serviks di Indonesia. Kanker serviks masih menjadi penyakit pembunuh perempuan nomor dua di Indonesia, setelah kanker payudara. Setiap jam, seorang perempuan Indonesia meninggal karena penyakit yang juga disebut kanker leher rahim tersebut. Menyikapi kenyataan tersebut, pemerintah pun memberikan perhatian atas jumlah penderita kanker serviks yang terus meningkat. Namun, biaya program deteksi dini kanker serviks, belum dijamin pemerintah. Sebagian besar Puskemas di Indonesia belum punya layanan pencegahan kanker serviks sehingga prevalensi wanita pengidap kanker serviks tergolong tinggi. Jangankan

Puskesmas di daerah, Puskesmas di DKI Jakarta saja masih banyak yang belum punya. Setiap hari ditemukan 40-45 kasus baru dengan jumlah kematian mencapai 20-25 orang. Sementara jumlah wanita yang berisiko mengidap-nya mencapai 48 juta orang. Hal tersebut dikarenakan masih belum ada kebijakan yang terarah dan terpadu dari pemerintah untuk menangani kanker serviks. Hal itu dikatakan Dewan Komite Inisiatif Pencegahan Kanker Serviks Indonesia (IPKASI). Ibu Negara Hj. Ani Bambang Yudhoyono mencanangkan Gerakan Perempuan Melawan Kanker Serviks di Gedung Utama Pertamina, Lantai M, Jl. Medan Merdeka Timur 1A, Jakarta Pusat, Kamis (6/10) pagi. Gerakan ini bertujuan memberikan dukungan kepada pencegahan kanker serviks melalui upaya-upaya gerakan masyarakat yang melibatkan banyak organisasi dan komponen masyarakat dengan tujuan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI). Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dalam sambutannya menjelaskan bahwa Sejak tahun 2007, Kemenkes telah mengembangkan program deteksi dini kanker serviks dan payudara di 14 provinsi yang mencakup 63 kabupaten/kota. Tahun 2010, kita sudah mencakup 68 kabupaten/kota pada 14 provinsi di 152 puskesmas. Kementrian Kesehatan bersama stakeholders terkait telah menyusun rencana lima tahun 2010-2014 pengendalian kanker nasional yang berisi kebijakan nasional, strategi dan rencana kerja stakeholders terkait. Salah satu sasaran strategis adalah seluruh provinsi melaksanakan program pengendalian penyakit tidak menular termasuk penyakit kanker. Strategi pengendalian kanker tahun 2010-2014 yang pertama adalah memperkuat kebijakan dan mendorong kepemilikan program dari pemerintah daerah dalam pengendalian kanker. Kedua, mengintegrasikan pencegahan primer, sekunder, tersier. Ketiga, mendorong upaya pencegahan dan memfokuskan pada pengendalian faktor resiko serta deteksi dini. Keempat, menangani kanker serviks, kanker payudara, dan kanker lainnya. Kelima, melibatkan seluruh petugas kesehatan. Keenam, memberdayakan stakeholders dan masyarakat. Ketujuh, memperkuat manajemen, dan kedelapan mengembangkan penelitian kanker. G. Implikasi keperawatan yang dapat diterapkan di Kalimantan Selatan 1. Sosialisasi menggulirkan tentang kanker servik, bekerjasama dengan media masa. Dengan adanya informasi dan motivasi yang rutin di sampaikan, hasil kerjasama dengan berbagai media masa, serta leaflet yang di tujukan kepada masyarakat,

berbagai lembaga, pamong desa, dll. Maka dengan cepat membuat masyarakat mengerti akan penyakit kanker servik baik itu pengertian, penyebab, faktor resiko serta cara pencegahan yang dapat dilakukan. 2. Puskesmas di Kalimantan Selatan harus sudah mempunyai layanan pencegahan kanker serviks. 3. Mengintegrasikan pencegahan primer, sekunder, tersier mengenai kanker servik kepada seluruh masyarakat Kalimantan Selatan khususnya para wanita. 4. Mendorong upaya pencegahan dan memfokuskan pada pengendalian faktor resiko serta deteksi dini. a. Pencegahan kanker serviks adalah hal yang sangat dianjurkan dalam hal kesehatan wanita. b. Membatasi jumlah pasangan seksual yang dimiliki bahkan kalau bisa cobalah untuk setia dengan satu pasangan. Studi menunjukkan wanita yang memiliki banyak pasangan seksual meningkatkan resiko mereka untuk terserang kanker serviks. c. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam rangka pencegahan kanker servik dalam hal gaya hidup adalah berhenti merokok atau menghindari asap rokok. Merokok meningkatkan resiko terkena kanker, termasuk kanker serviks. Merokok dikombinasikan dengan infeksi HPV sebenarnya dapat mempercepat displasia serviks. Cara yang paling baik adalah dengan benar-benar tidak berhubungan dengan asap rokok. d. Pada orang yang aktif secara seksual, penggunaan kondom akan menempatkan pada risiko lebih kecil untuk HIV dan penyakit menular seksual lain yang dapat meningkatkan faktor risiko untuk mengembangkan kanker serviks. e. Jika penderita menunjukkan Pap smear abnormal, penting untuk

menindaklanjuti dengan pap smear biasa atau colposcopies, apa pun yang dokter telah putuskan. Jika penderita telah dirawat untuk displasia serviks, masih perlu menindaklanjuti dengan pap smear atau colposcopies. Displasia dapat kembali dan ketika terdeteksi, bisa berubah menjadi kanker serviks. f. Pada wanita yang berada di bawah 27 tahun, mungkin sebaiknya untuk mendapatkan vaksin HPV, untuk mencegah strain HPV berisiko tinggi pada wanita. Vaksin HPV telah disetujui oleh badan kesehatan dunia untuk diberikan kepada gadis-gadis muda yang masih belia sekalipun (umur 9 tahun

keatas). Vaksin ini paling efektif jika diberikan kepada perempuan muda sebelum mereka aktif secara seksual sehingga pencegahan kanker servik dapat di monitoring sejak masih normal. 5. Melakukan penanganan kanker servik di Kalimantan Selatan dengan melibatkan seluruh tenaga kesehatan terkait.