Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN CAIR DAN SEMI SOLID

CREAM
D I S U S U N OLEH :

1. KHAIRUL AMAN 2. VONA AULIANSYAH 3. SYAHRURROZI 4. IHSANUL HAFIZ 5. PARHAN 6. AHMAD ANGGARA

(101524019) (101524020) (101524021) (101524022) (101524023) (101524024)

LABORATORIUM TEKNOLOGI SEDIAAN CAIR DAN SEMI SOLID FAKULTAS FARMASI MEDAN 2010

BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Menurut Farmakope Indonesia Edisi III , krim adalah bentuk sediaan setengah padat, berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV , krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair diformulasikan sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air, sekarang ini batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam -asam lemak atau alkohol berantai panjang dalaam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk penggunaan kosmetika dan estetika. Krim dapatt digunakan untuk pemberian obat melalui vaginal. Menurut Formularium Nasional, krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi kental mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. (Ansel,1985). Sediaan setengah padat merupakan sediaan yang berbentuk massa yang lunak, ditujukan untuk pemakaian topikal, dimana sediaan ini mampu melekat pada permukaan tempat pemakaian dalam waktu yang cukup lama sebelum sediaan itu tercuci atau di hilangkan. Hal ini di sebabkan karena sifat rheology plastis yang dimiliknya sehingga memungkinkan sediaan ini bentuknya akan tetap melekat sebagai lapisan tipis. Macammacam dari sediaan setengah padat ini dapat dibedakan berdasarkan konsistensinya yaitu : Salep ( unguenta), Krim (cream), Pasta, Cerata, Jelly (Gelones). Krim didefenisikan sebagai cairan kental atau emulsi setengah padat baik bertipe air dalam minyak atau minyak dalam air. Krim biasanya digunakan sebagai emollient atau pemakaian obat pada kulit. Istilah krim secara luas digunakan dalam farmasi dan industri kosmetik, serta banyak produk dalam perdagangan disebut sebagai krim tetapi tidak sesuai

dengan bunyi definisi diatas. Banyak hasil produksi yang nampaknya seperti krim tetapi tidak mempunyai dasar dengan jenis emulsi, biasanya disebut krim.(Ansel, 1985).

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu: 1.2.1 Tujuan Instruksional Umum : Mengenal betuk sediaan krim

1.2.2 Tujuan Instruktusional Khusus : Mengetahui bentuk seddiaan krim Mengetahui jenis bahan dasar krim Mengetahui dan memahami cara pengolahan dasar krim Mengetahui dan mengerti cara pengolahan bahan obat dalam krim Mengetahui dan memahami tipe krim

BAB II Pembahasan
2.1 Kajian Teori Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksud untuk pemakaian luar. Tipe krim ada yaitu: krim tipe air minyak (A/M) dank rim minyak air (M/A). untuk membuat krim digunakan zat pengemulsi, umumnya berupa surfaktan- surfaktan anionic, kationik, dan nonionik. Untuk krim tipe A/M digunakan : Sabun polivalen, span, adeps lanae, Cholesterol, Cera. Untuk krim tipe M/A digunakan : sabun monovalen seperti Triethanolaminum stearat, Natrium stearat, kalium stearat, ammonium stearat.

Untuk penstabilan krim ditambah zat anti oksidan dan zat pengawet. Zat pengawet yang sering digunakan adalah Nipagin 0,12 -0,18%, Nipasol 0,02- 0,05%.(Anief, 2004) Krim merupakan cairan kental atau emulsi setengah padat bak bertipe air dalam minyak atau mingyak dalam air.Krim biasanya banyak digunakan sebagai emolien atau

pemakaian obat pada kulit. Tipe krim : 1. Krim tipe M/A (o/w) ; minyak terdispersi dalam air 2. Krim tipe A/M (w/o) ; air terdispersi dalam minyak Preparat tipe emulsi O/W merupakan yang paling cocok untuk krim pelembab. Krim O/W kaya akan minyak dan selalu berisi humektan (gliserol, sorbitol dan lainnya). Tetapi, krim dengan tipe W/O juga ada, contohnya krim malam yang terasa lebih hangat, lebih lengket dan lebih kental. Karena kandungan minyak tumbuhannya tinggi preparat ini mudah menjadi tengik, maka perlu penambahan antioksidan. Kosmetik ini juga perlu dilindungi dari mikroorganisme dengan penambahan bahan pengawet. Parfum juga tidak lupa ditambahkan untuk memperbaiki bau sehingga enak dicium. Formula dasar krim : 1. Fasa minyak bahan obat yang larut dalam minyak, bersifat asam, Contoh : asam stearat, adepslanae, paraffin liquidum, paraffin solidum, minyak lemak, cera, cetaceum, vaselin, setil alkohol, stearil alkohol, dsb.

2. Fasa air bahan obat yang larut dalam air, bersifat basa, Contoh : Na tetraborat (borax, Na biboras), Trietanolamin/ TEA, NaOH, KOH, Na2CO3, Gliserin, Polietilenglikol/ PEG, Propilenglikol, Surfaktan (Na lauril sulfat, Na setostearil alkohol, polisorbatum/ Tween, Span dsb) Pada pembuatan krim dibutuhkan emulgator yang berfungsi untuk mengstabilkan emulsi. Emulgator membantu terbentuknya emulsi dengan 3 jalan, yaitu : Penurunan tegangan antar muka ( stabilisasi termodinamika ) Terbentuknya film antar muka yang kaku ( pelindung mekanik terhadap Koalesen. Terbentuknya lapisan ganda listrik, merupakan pelindung listrik dari pertikel. Emulgator/ bahan pengemulsi :

Disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang dikehendaki. a. Untuk tipe A/M Sabun Polivalen, Span, Adepslanae, Cholesterol, Cera. b. Untuk tipe M/A Sabun monovalen (TEA, Na stearat, K stearat, Amonium stearat), Tween, Na lauril sulfat, kuning telur, Gelatin, Caseinum, CMC, Pektin, Emulgid. Stabilitas Krim : krim dapat rusak jika terjadi : a. Perubahan suhu yang ekstream b. Perubahan komposisi; perubahan salah satu fasa secara berlebihan, emulgator tidak tercampur Selain bahan dasar dan emulgator juga diperlukan bahan tambahan, yaitu : a. Bahan pengawet, contohnya : gliserin > 20%, b. Bahan tambahan lain (bila perlu), contoh : pewarna, pewangi (Ol. Rosae) Kriteria sediaan cream yang baik Cream yang baik, harus memiliki kriteria : 1. Mudah dioleskan merata pada kulit. 2. Mudah dicuci besih dari daerah lekatan. 3. Tidak berbau tengik. 4. Bebas partikulat keras dan tajam. 5. Tidak mengiritasi kulit. 6. Dalam penyimpanan, harus memiliki sifat sebagai berikut : Harus tetap homogen dan stabil. Tidak berbau tengik. Bebas partikulat keras dan tajam. Tidak mengiritasi kulit. (Ansel, 1985)

Metode Pembuatan Krim


Pembuatan sediaan krim meliputi proses peleburan dan proses emulsifikasi. Biasanya komponen yang tidak bercampur dengan air seperti minyak dan lilin dicairkan bersama-sama

di penangas air pada suhu 70-75 C, sementara itu semua larutan berair yang tahan panas, komponen yang larut dalam air dipanaskan pada suhu yang sama dengan komponen lemak. Kemudian larutan berair secara perlahan-lahan ditambahkan ke dalam campuran lemak yang cair dan diaduk secara konstan, temperatur dipertahankan selama 5-10 menit untuk mencegah kristalisasi dari lilin/lemak. Selanjutnya campuran perlahan-lahan didinginkan dengan pengadukan yang terus-menerus sampai campuran mengental. Bila larutan berair tidak sama temperaturnya dengan leburan lemak, maka beberapa lilin akan menjadi padat, sehingga terjadi pemisahan antara fase lemak dengan fase cair.(Ansel, 1985)

Pengemasan
Sediaan krim dikemas sama seperti sediaan salep yaitu dalam botol atau tube.(rozie,2010)

Stabilitas Sediaan Krim


Sediaan krim dapat menjadi rusak bila terganggu sistem campurannya terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi karena penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran dua tipe krim jika zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain. Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika diketahui pengencer yang cocok. Krim yang sudah diencerkan harus digunakan dalam waktu satu bulan.(r0zie, 2010)

RESEP 1. Formula I
R/ Parafin liq Cetaceum Acid stearic Cera alba TEA Natr. Biborat 12,75 1,625 1,6 0,625 0,2 0,2

Gliserin Parfum Aqua ad m.f. cold cream s.u.e. # Pro : Diana

0,25 q.s. 25

2. Penimbangan
Parafin liq Cetaceum Acid stearic Cera alba TEA Natr. Biborat Gliserin Aqua = = = = = = = = = Parfum = 12,75 g 1,6 g 1,6 g 625 mg 600 mg 200 mg 200 mg 250 mg 25 (12,75+ 1,625+ 1,6+ 0,62 + 0,2+ 0,2+ 0,85) 7,75ml 2 tetes (penimbangan dapat diabaikan)

3. Pembuatan
Persyaratan yang harus diingat:

Komponen yang tidak dapat bercampur dengan air atau dengan kata lain komponen minyak serta tahan pemanasan dicairkan bersama-sama di penangas air pada suhu 70-750C. Dalam hal ini : parafin liq, cetaceum, acid stearic dan cera alba.

Komponen yang larut air dan tahan panas dilarutkan dalam air panas dengan suhu yang sama dengan komponen lemak. Dalam hal ini : TEA

Prosedur Kerja
Tara cawan, timbang parafin liquid di dalamnya Kemudian timbang cetaceum, acid stearic dan cera alba di kertas perkamen Lebur parafin liq bersama dengan cetaceum, acid stearic, dan cera alba di atas water bath (penangas aiar) Sambil menunggu leburan, panaskan lumpang (70-75)0C. Selanjutnya tara kaca arloji, timbang TEA didalamnya Timbang Natrium Biborat di atas perkamen Kalibrasi beaker glass sebanyak aqua yang diperlukan dengan gelas ukur, beri tanda. Setelah leburan mencair, gerus searah didalam lumpang panas Isi beaker glass dengan air panas sampai batas tanda dan larutkan TEA ke dalamnya Setelah larut, masukkan larutan tersebut sedikit demi sedikit kedalam lumpang panas yang berisi hasil leburan. Tambahkan Natrium Biborat. Gerus kencang searah hingga terbentuk massa cream yang baik

Ttambahkan gliserin, homogenkan Kemudian masukkan parfum setelah suhu turun (330C) dan homogenkan. Masukkan Cream ke dalam wadah.

4. Formula II
R/ Acid Stearinic Gliserin Natr. Biborat TEA Aquadest ad m.f. cream s.u.e. # Pro : Juli 4,73 3.33 0.083 0.33 25

5. Penimbangan
Acid Stearinic Natr. Biborat Gliserin TEA Aqua = = = = = 4.73 g 4,7 g 83 mg 50 mg 3.33 g 3.3 g 330 mg 300 mg 25 - (4,7+ 0,005+ 3,3+ 0,3)

16,695 ml

6. PEMBUATAN Prosedur Kerja Timbang acid stearinic, kemudian lebur diatas waterbath sampai mencair Panaskan lumpang (70-750C) Timbang TEA di kaca arloji yang telah ditara Kalibrasi beaker glass sebanyak aqua yang diperlukan dengan gelas ukur dan beri tanda Setelah Acid stearinic mencair, pindahkan kedalam lumpang panas, gerus Isi air panas dalam beaker glass sampai batas tanda, larutkan TEA di dalamnya Tambahkan Larutan tersebut sedikit demi sedikit ke dalam lumpang, dan gerus searah sampai terebntuk dasar krim Masukkan Natr. Biborat kedalam dasar krim. Gerus Homogen Tambahkan gliserin, gerus homogen Masukkukn krim ke dalam wadah.

7. Evaluasi Cream

a. Uji Homogenitas Alat : objek glass Cara : jika dioleskan pada sekeping objek glass lalu di timpa dengan objek glass yang lain harus menunjukkan susunan yang homogen.

Pengamatan: kedua Krim yang dihasilkan homogen.

b. Uji Type Cream Cream dilarutkan dalam air Cara: sebagian krim di larutkan dengan air kedalam beaker glass, diaduk. Pengamatan : Krim I tidak larut dalam air Krim II larut dalam air

Cream ditambahkan metil biru Cara: sebagian krim dilarutkan dengan air dan ditetesi dengan metil biru, diaduk. Sebagian lgi diletakkan di atas objek glass dan ditetesi metil biru, homogenkan. Tutup dengan cover glass dan lihat dibawah mikroskop. Pengamatan : Krim I biru tidak homogen dan dilihat dibawah mikroskop terdapat bulatanbulatan besar yang tidak merata Krim II biru homogen dan dilihat dibawah mikroskop terdapat bulatan-bulatan kecil yang merata

Cream diletakkan sedikit diatas kertas saring Cara: teteskan sedikit krim di atas kertas saring, amati. Pengamatan : Krim I tetesan krim tidak menyebar Krim II tetesan krim tampak menyebar dikertas saring

8. Pembahasan
Pada prinsipnya metil biru larut dalam air, sehingga cara ini dapat dipakai untuk menentukan tipe krim. Jika fasa luar dari krim adalah air, maka larutan krim dalam air akan berwarna biru homogen, sedangkan jika fasa luar krim adalah minyak, maka warma metil biru tidak akan merata hanya menumpuk-menumpk sebagian saja. Pengamatan menggunakan mikroskop memperjelas penentuan tipe krim ini, dimana jika fasa luar krim adalah air, akan terlihat bahwa terdapat tetesan-tetesan metil biru yang kecil, sangat banyak dan tersebar merata. Sedangkan jika fasa luar krim adalaha minyak, akan terlihat tetesan metil biru yang besar, sedikit dan tidak merata pada mikroskop.

BAB III Kesimpulan Dan Saran


3. 1. Kesimpulan Pada saat melakukan uji tipe emulsi 1, semua pengujiaan menunjukkan hasil yang positif bahwa tipe emulsi pada resep yang dikerjakan oleh praktikan adalah tipe emulsi A/M (fase air atau fase basa yang terdispersi dalam fase minyak/asam sebagai pendisper). Hal ini ditunjukkan dengan adanya dua lapisan yang terbentuk ketika dilakukan pengenceran menggunakan air di dalam tabung reaksi, tidak adanya warna biru pada pencampuran bromtimol biru, dan tidak terdapat lingkaran (cincin) basah di sekeliling cream sedangkan pada krim II sebalaiknya.

Krim I adalah tipe a/m dimana air terdispersi dalam minyak Krim II adalah tipe m/a dimana minyak terdispersi dalam air

3.2. Saran Pada saat memasukkan bahan fase basa ke dalam fase asam, jangan ditunggu terlalu lama karena fase asam akan segera kembali padat sehingga pada saat penggerusan menjadi tidak homogen Pada saat penggerusan jangan terlalu kencang karena dapat memecahkan emulsi sehingga fase basa dan fase asam menjadi terpisah.

DAFTAR PUSTAKA Ditjen POM RI, Farmakope Indonesia Edisi Ketiga (1979), Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Ditjen POM RI, Farmakope Indonesia Edisi Keempat (1995), Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Howard C. Ansel, Introduction to Pharmaceutical Dosage Forms (1985), Lea & Febiger, Georgia.

Saodah, dkk., Penuntun Praktikum Teknologi Sediaan Cair & Semi Solid (2010), Fakultas Farmasi USU