Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari sekitar 17 ribu pulau. Terdiri dari bagian-bagian yang terpisah membuat keberjalanan kehidupan rumah tangga di pusat menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, muncul solusi berupa kebijakan otonomi daerah dengan harapan dapat mempermudah pengaturan di tiap daerah. Otonomi daerah adalah kebijakan dari pemerintah yang menyatakan bahwa setiap daerah memiliki kewengan untuk mengatur daerahnya sendiri. Dengan kebijakan ini, setiap daera memiliki kepala daerahnya masing-masing untuk mengatur daerhnya. Dalam pelaksanaannya, kebijakan otonomi daerah sering kali dianggap bermasalah. Seiring kebijakan otonomi daerah yang dimulai 1 januari 2001, semakin banyak bermunculan fenomena kasus korupsi ditemukan di daerahdaerah. Otonomi pusat daerah untuk yang lebih mulanya diasumsikan sebagai upaya dengan pemerintah memberdayakan masyarakat

mengurangi sentralisasi hasil sumber daya alam daerah (SDA), ternyata juga menjadi lahan dimana praktik tindak pidana korupsi berlangsung. Jika dulu sebelum otonomi daerah praktik korupsi begitu terpusat, tapi sekarang sudah terjadi perpindahan penyakit korupsi ke daerah-daerah. Menurut Transparency International Indonesia, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2012 menunjukkan penurunan peringkat dibandingkan tahun 2011 yaitu dari 110 menjadi 118. Hasil audit BPK juga memperlihatkan keadaan yang sama, dari tahun ketahun penyimpangan keuangan dan administrasi cenderung meningkat.yang menunjukan rendahnya kemauan pemerintah memperbaiki diri.

Hasil laporan Indonesian Corruption Watch (ICW), korupsi pada tahun 2004 (tiga tahun setelah otonomi daerah) di Indonesia menunjukkan penyebaran penyakit korupsi yang meliputi hampir sebagian besar wilayah Indonesia. catatan ICW sejak Januari hingga Desember 2004, terdapat 432 kasus korupsi yang terjadi di seluruh Indonesia dengan berbagai macam aktor, modus, dan tingkat kerugian yang dialami negara. Dari sekian kasus itu, kata dia, 124 kasus korupsi melibatkan anggota DPRD dan 83 kasus melibatkan kepala daerah. Koordinator ICW, Teten Masduki menjelaskan, suburnya praktek korupsi di daerah disinyalir banyak dilakukan melalui penyimpangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dari hasil penelitian ICW dan Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), daerah yang diindikasikan melakukan praktek tersebut mencapai delapan puluh persen. Dengan berbagai kasus ini, patut diteliti apakah bentuk otonomi daerah yang sekarang ini kita terapkan diIndonesia telah benar. Karena kalau melihat kenyataan, banyak hal yang justru kontra-produktif dengan tujuan semula menerapkan otonomi daerah. Otonomi daerah, tragisnya bukan terutama terbukti sebagai alat yang semakin efektif dalam mendukung dan menyediakan pelayanan yang semakin bagus bagi masyarakat terutama yang miskin dan perlu dukungan tetapi menjadi ajang korupsi. 1.2 Tujuan Tujuan dari makalah ini ialah untuk menganalisis keterkaitan antara tindak korupsi di daerah dengan pelaksanaan otonomi daerah 1.3 Rumusan Masalah

Otonomi daerah sangat mempengaruhi keberjalanan kehidupan rumah tangga di tiap daerah sehingga beresiko besar menimbulkan masalah baru. Masalah tersebut diuraikan dalam pertanyaan berikut. Adakah hubungan antara kebijakan otonomi daerah dengan maraknya kasus korupsi di daerah?

BAB II OTONOMI DAERAH DAN KORUPSI


2.1 Pengertian Otonomi Daerah Istilah otonomi berasal dari bahasa Yunani autos yang berarti sendiri dan namos yang berarti Undang-undang atau aturan. Dengan demikian otonomi dapat diartikan sebagai kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri ( Bayu Suryaningrat; 1985) Beberapa pendapat ahli yang dikutip Abdulrahman (1997) mengemukakan bahwa : 1. F. Sugeng Istianti, mengartikan otonomi daerah sebagai hak dan wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah 2. Ateng syarifuddin, mengemukakan bahwa otonomi mempunyai makna kebebasan atau kemandirian tetapi bukan kemerdekaan. Kebebasan berupa pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan 3. Syarif Saleh, berpendapat bahwa otonomi daerah adalah hak mengatur dan memerintah daerah sendiri. Dengan otonomi daerah, menurut Martin (1979) bahwa dengan kebebasan yang dimiliki pemerintah daerah memungkinkan untuk membuat inisiatif sendiri, mengelola, dan mengoptimalkan sumber daya daerah. Adanya kebebasan untuk berinisiatif merupakan suatu dasar pemberian otonomi daerah, karena dasar pemberian otonomi daerah adalah dapat berbuat sesuai dengan kebutuhan setempat.

Beranjak dari pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa otonomi daerah memiliki tiga aspek, yaitu : 1. Aspek hak dan kewajiba nuntuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri 2. Aspek kewajiban untuk tetap mengikuti peraturan dan ketentuan dari pemerintahan di atasnya, serta tetap berada dalam satu kerangka pemerintahan nasional 3. Aspek kemandirian dalam pengelolaan keuangan baik dari biaya sebagai pelimpahan kewenangan dan pelaksanaan kewajiban, juga terutama kemampuan untuk menggali sumber pembiayaan sendiri. 2.2 Pengertian Korupsi dan Dasar Hukum Korupsi Dalam arti luas, korupsi berarti menggunakan jabatan untuk keuntungan pribadi. Definisi korupsi secara tegas telah dijelaskan dalam 13 buah Pasal dalam UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun. Merujuk pada pasal 2, terjadi apabila seseorang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Berdasarkan pasalpasal dalam UU No. 31 Tahun 1999 tersebut, korupsi dirumuskan ke dalam tiga puluh bentuk/jenis tindak pidana korupsi. Dalam pasal-pasal tersebut diterangkan secara terperinci mengenai perbuatan yang bisa dikenakan pidana penjara karena korupsi. Ketigapuluh bentuk/jenis tindak pidana korupsi tersebut pada dasarnya dapat dikelompokkan sebagai berikut : 1. Kerugian keuangan negara. 2. Suap-menyuap 3. Penggelapan dalam jabatan 4. Pemerasan 5. Perbuatan curang 6. Benturan kepentingan dalam pengadaaan 7. Gratifikasi 8. Kelangkaan lingkungan yang subur untuk perilaku anti korupsi. Menurut Robert Klitgaard korupsi terjadi karena adanya kekuasaan monopoli atas sumber daya yang sifatnya ekonomis disertai kewenangan untuk mengelolanya tanpa disertai pertanggungjawaban.

Menurut tipologinya Alatas membagi konsep korupsi dalam tujuh jenis yakni, 1. Korupsi transaktif, menunjuk kepada adanya kesempatan timbal balik antara pihak pemberi dan penerima demi keuntungan kedua belah pihak dan dengan aktif diusahakan tercapainya keuntungan ini oleh keduanya. Biasanya melibatkan dunia usaha dan pemerintah, atau masyarakat dan pemerintah. 2. Jenis yang memeras adalah jenis korupsi dimana pihak pemberi dipaksa untuk menyuap guna mencegah kerugian yang sedang mengancam dirinya, kepentingannya atau orang-orang dan hal-hal yang dihargainya. 3. Korupsi defensif, adalah perilaku korban korupsi dengan pemerasan. Korupsinya adalah dalam rangka mempertahankan diri. 4. Korupsi invensif adalah pemberian barang atau jasa tanpa ada pertalian langsung dengan keuntungan tertentu, selain keuntungan yang dibayangkan akan diperoleh dimana yang akan datang. 5. Korupsi perkerabatan (nepotisme) adalah penunjukan yang tidak sah terhadap teman atau saudara untuk memegang jabatan dalam pemerintahan, atau tindakan yang memberikan perlakuan yang mengutamakan, dlam bentuk uang atau bentuk-bentuk lain, kepada mereka, secara bertentangan dengan norma dan peraturan yang berlaku. 6. Korupsi otogenik merupakan bentuk korupsi yang tidak melibatkan orang lain dan pelakunya hanya seorang saja. 7. Korupsi dukungan, dimana korupsi pada jenis ini tidak secara langsung menyangkut uang atau imbalan langsung dalam bentuk lain. Tindakan yang dilakukan adalah untuk melindungi dan memperkuat korupsi yang sudah ada.

BAB III PERMASALAHAN KORUPSI DALAM KEBIJAKAN OTONOMI 3.1 Kebijakan Otonomi Daerah di Indonesia Pasal 18 ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa, kepada Pemerintah Daerah (Pemda) provinsi, kabupaten dan kota, diberi wewenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan, menurut azas otonomi dan tugas pembantuan. Kemudian lahirnya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah telah menjadi momentum penting dari era otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Diikuti dengan mekanisme hubungan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah yang dirumuskan dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Sebagai realisasinya dalam menyelenggarakan pemerintahan, Pemerintah menggunakan asas desentralisasi, tugas pembantuan, dan dekosentrasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. daerah, Sedangkan dalam daerah menyelenggarakan pemerintahan pemerintahan

menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. Menurut Undang-Undang No. 32 tahun 2004 Otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus

sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan daerah otonom disebut juga daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batasbatas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Otonomi daerah di Indonesia dilaksanakan melalui tiga asas, yaitu

Desentralisasi, Dekonsentrasi dan Tugas pembantuan. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. Sedangkan Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. Dalam menyelenggarakan otonomi, daerah mempunyai hak dan kewajiban. Dimana haknya adalah : 1. Mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahnnya 2. Memilih pimpinan daerah 3. Mengelola kekayaan daerah 4. Memungut pajak daerah dan retribusi daerah. 5. Mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah. 6. Mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah 7. Mendapatkan hak lainnya yang diatur dalam peraturan perundangundangan. 3.2 Dampak Positif Kebijakan Otonomi Daerah Dengan adanya kebijakan otonomi daerah, pemerintah pusat akan terbantu dalam menjalankan negara. Adanya otonomi daerah memberikan beberapa dampak positif. Dampak positif tersebut misalnya, pemerintah daerah akan mendapatkan kesempatan untuk menampilkan identitas lokal yang ada di masyarakat. Berkurangnya wewenang dan kendali pemerintah pusat

mendapatkan respon tinggi dari pemerintah daerah dalam menghadapi masalah yang berada di daerahnya sendiri. Bahkan dana yang diperoleh lebih banyak daripada yang didapatkan melalui jalur birokrasi dari pemerintah pusat. Dana tersebut memungkinkan pemerintah lokal mendorong pembangunan daerah serta membangun program promosi kebudayaan dan juga pariwisata. Dengan melakukan otonomi daerah maka kebijakan-kebijakan pemerintah akan lebih tepat sasaran, hal tersebut dikarenakan pemerintah daerah cenderung lebih mengerti keadaan dan situasi daerahnya, serta potensipotensi yang ada di daerahnya daripada pemerintah pusat. Contoh di Maluku dan Papua program beras miskin yang dicanangkan pemerintah pusat tidak begitu efektif, hal tersebut karena sebagian penduduk disana tidak bisa menkonsumsi beras, mereka biasa menkonsumsi sagu, maka pemeritah disana hanya mempergunakan dana beras miskin tersebut untuk membagikan sayur, umbi, dan makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat. Selain itu, dengan sistem otonomi daerah pemerintah akan lebih cepat mengambil kebijakan-kebijakan yang dianggap perlu saat itu, tanpa harus melewati prosedur di tingkat pusat. 3.3 Dampak Negatif Kebijakan Otonomi Daerah Selain memiliki dampak positif, otonomi daerah juga menimbulkan masalah. Dari bab sebelumnya telah diketahui bahwa salah satu dampak dari pemberlakuan sistem otonomi daerah adalah memberi wewenang pemerintah daerah untuk mengurusi urusan rumah tangganya sendiri, termasuk di dalamnya menentukan sendiri APBD. APBD sendiri disusun dan dirumuskan oleh DPRD bersama kepala daerah. Tanpa disadari, hal seperti inilah yang diindikasikan menjadi sasaran empuk untuk memperkaya diri sendiri, APBD merupakan pundi-pundi kekayaan negara yang enak untuk dinikmati sendiri dan dinikmati beramai-ramai. Penyusunan APBD oleh DPRD dan kepala daerah seringkali melahirkan proyek dengan pembengkakan dana, tanpa melihat kebutuhan masyarakat luas, nilai kegunaan dari proyek dinilai kurang bahkan terkesan menghamburkan uang rakyat.

Dengan meninjau fenomena ini, secara umum, korupsi terjadi mengikuti kekuasaan yang terdesentralisasi ke tingkat lokal. Peluang korupsi semakin besar ketika posisi legislatif menjadi sangat besar. Peran legislatif sebagai pengawas eksekutif ternyata tidak diimbangi dengan adanya pengawas terhadap legislatif itu sendiri. Menurut peneliti The Habibie Center, Andrinof A.Chaniago maraknya kasus korupsi setelah otonomi daerah merupakan salah satu akibat meningkatnya kekuasaan legislatif maupun eksekutif di daerah. Berdasarkan data Pusat Studi Anti (PuKAt) Korupsi Fakultas Hukum UGM, aktor terbanyak tahun 2008 adalah Anggota/Mantan DPRD. Menurut data PuKAt Pelaku Korupsi tahun 2008 terdiri dari, 1. Anggota/Mantan DPRD 2. Pejabat/mantan Pemda 3. Swasta/rekanan 4. Bupati/walikota/mantan 5. Pejabat BUMN 6. Mantan Duta Besar/Konsulat Jenderal 7. Mantan Anggota DPR 8. Gubernur/mantan 9. Mantan Pejabat BI 10. Pejabat/mantan pejabat desa 11. Pejabat departemen 12. Lain-lain Sekda, Pimpro, Mantan GM, Komisioner lembaga independen, bendahara, jaksa, kepala sekolah, dosen. Hal ini menunjukan pengaruh kuat desentralisasi terhadap peningkatan potensi dan kesempatan korupsi. Hal itu dimungkinkan karena dalam UU No.22/1999 tentang pemerintah daerah, dewan memiliki hak besar untuk mengatur anggaran. Tapi, undang -undang tersebut tidak mengatur mekanisme pertanggungjawaban yang transparan kepada publik. : 89 orang : 65 orang : 40 orang : 16 orang : 13 orang : 13 orang : 9 orang : 7 orang : 7 orang : 6 orang : 5 orang : Mantan kepala Rumah sakit, Mantan

The Habibie center mencatat beberapa modus korupsi di daerah seperti berikut ini, 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Korupsi Pengadaan Barang Penghapusan barang inventaris dan aset negara (tanah) Pungli penerimaan pegawai, pembayaran gaji, keniakan pangkat, pengurusan pensiun dan sebagainya. Pemotongan uang bantuan sosial dan subsidi (sekolah, rumah ibadah, panti asuhan dan jompo) Bantuan fiktif Penyelewengan dana proyek Proyek fiktif fisik Manipulasi hasil penerimaan penjualan, penerimaan pajak, retribusi dan iuran. Manipulasi proyek-proyek fisik (jalan, jembatan, bangunan, kantor, sekolah, asrama) Daftar gaji atau honor fiktif Manipulasi dana pemelihar aan dan renovasi fisik. Pemotongan dana bantuan (inpres, banpres) Proyek pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) secara fiktif (tidak ada proyek atau intensitas) Manipulasi ganti rugi tanah dan bangunan Manipulasi biaya sewa fasilitas dan transportasi Pembayaran fiktif uang lauk pauk Pegawai Negeri sipil, prajurit, tahanan dan lain lain Pungli Perizinan; IMB, sertifikat SIUPP, besuk tahanan, ijin tinggal, ijin TKI, ijin frekuensi, impor ekspor, pendirian apotik, RS, klinik, Delivery Order pembelian sembilan bahan pokok agen dan distributor. 18. 19. 20. Pungli kependudukan dan Imigrasi Manipulasi Proyek Pengembangan Ekonomi Rakyat Korupsi waktu kerja Untuk modus korupsi yang melibatkan DPRD. Secara umum terdapat empat modus korupsi DPRD yang dapat kita temui di hampir semua kasus, seperti berikut,

1. Modus

pertama

adalah

dengan

menggelembungkan

batas

alokasi

penerimaan anggota dewan atau yang lebih akrab disebut mark-up. 2. Modus kedua adalah menggandakan (redundant) item penerimaan anggota dewan melalui berbagai strategi. 3. Modus ketiga dengan cara mengada-adakan pos penerimaan anggaran yang sebenarnya tidak diatur dalam PP 110/2000. 4. Modus keempat adalah korupsi dalam pelaksanaan program kegiatan dewan. Selain itu, baru-baru ini juga terdapat contoh kasus nyata yang terjadi, seperti :
a. Ditangkapnya Iyus Djuher, Ketua DPRD Kabupaten Bogor dan

Sekretaris DPC Kabupaten Bogor oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Iyus diduga terlibat serah terima uang terkait kepengurusan izin pengelolaan lahan di Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor. Informasinya, lahan ini akan dibangun taman pemakaman mewah.
b. John Manoppo, mantan Wali Kota Salatiga ditahan di penjara sejak

13 November 2012 lalu karena terbukti membuat surat disposisi kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Salatiga Saryono yang berperan sebagai PT pejabat pembuat komitmen (PPKom) agar tender memenangkan Kuntjup sebagai pemenang

proyek. Padahal sesungguhnya, PT Kuntjup tidak memiliki syarat untuk menjadi pemenang tender. Kasus-kasus di atas memperlihatkan bahwa korupsi di Indonesia terjadi dengan semakin merata. Bahkan, Bank Dunia mengklaim bahwa kecenderungan korupsi di daerah semakin meningkat tajam. Terutama yang dilakukan pihak eksekutif. Kondisi tersebut tentu merupakan kabar buruk ( bad news) bagi otonomi daerah. Asumsi-asumsi bahwa otonomi daerah akan diikuti desentralisasi korupsi seolah mendapat penguatan. Konsekuensinya, pusat begitu reaktif menyikapi situasi tersebut. Karena itu, lahirlah sejumlah regulasi yang cenderung sentralistis, membatasi kemandirian berotonomi, dan mengurangi derajat kepercayaan (trust) pada daerah. 3.4 Penyebab Masalah

Secara

umum,

korupsi

terjadi

karena

ketiadaan

atau

kelemahan

kepemimpinan dalam posisi-posisi kunci yang mampu memberikan ilham dan mempengaruhi tindak laku yang menjinakkan korupsi, kelemahan pengajaranpengajaran agama dan etika, kolonialisme suatu pemerintahan asing tidaklah menggugah kesetiaan dan kepatuhan yang diperlukan untuk membendung korupsi, kurangnya pendidikan serta tidak adanya tindakan hukum yang jelas. Dalam konteks otonomi daerah sendiri, korupsi terjadi karena sesungguhnya kebijakan otonomi daerah hanya mendesentralisasikan kekuasaan hingga ke tingkat pemerintah daerah (Legowo, 2001). Dengan demikian, sesungguhnya otonomi dan desentralisasi itu bukan demokratisasi, seperti yang dipikirkan oleh banyak kalangan ketika kebijakan ini digulirkan. Demokratisasi pada dasarnya mengalihkan kekuasaan sampai ke tingkat rakyat sementara pada otonomi daerah, pengalihan kekuasaan hanya berhenti di tingkat pemerintah daerah. Karena itu, yang kemudian muncul dalam otonomi daerah bukan demokrasi melainkan dominasi. Posisi elit lokal, legislatif dan eksekutif, menjadi sangat dominan terhadap rakyat sehingga dominasi itu berujung pada korupsi. Menggunakan perspektif kekuasaan, bisa dilihat kekuasaan terbesar yang dimiliki oleh anggota DPRD dana adalah menetapkan peraturan, diberikan termasuk kepada anggaran. Sebagian publik yang seharusnya

masyarakat justru dialihkan ke kantong para anggota dewan yang terhormat itu. Berbagai tunjangan dan fasilitas dianggarkan dalam APBD meskipun itu menyalahi ketentuan. Menurut TA. Legowo (2001) hal yang menjadi penyebab terjadinya

desentralisasi korupsi pada era otonomi daerah : a. Program otonomi daerah hanya terfokus pada pelimpahan wewenang dalam pembuatan kebijakan, keuangan dan administrasi dari pemerintah pusat ke daerah, tanpa disertai pembagian kekuasaan kepada masyarakat. Otonomi Daerah dalam perspektif pemerintah adalah otonomi administrasi dan otonomi finansial yang telah mengabaikan desentralisasi dalam kerangka politik

Pemerintah Indonesia membentuk Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pada 2 Mei 2005 lalu dan bertekad akan menggusur para koruptor dengan melakukan cleaning house policy harus juga diikuti oleh segenap institusi negara, seperti legislatif dan yudikatif baik yang berada di pusat dan juga daerah mengingat pasca digulirkannya Otonomi daerah kasus korupsi cenderung menyebar ke daerah daerah. 3.5 Penanggulangan Masalah Kasus korupsi yang terjadi di Indonesia tentunya membuat khawatir dan berbahaya bagi keberjalanan negara Indonesia. Dibutuhkan solusi agar masalah korupsi di daerah ini tidak berkelanjutan. Berikut ini merupakan rangkuman langkah-langkah yang bisa dilakukan guna memberantas korupsi antara lain, 1. Memperkuat birokrasi berdasarkan hukum dengan struktur gaji yang sesuai dengan prestasi dan kejujuran pegawai negeri. Memperbaiki sistem rekrutmen dan promosi berdasarkan prinsip achievement. Memperketat kontrol keuangan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan dana publik. 2. Mengurangi kekuasaan penuh para pejabat baik dalam perumusan kebijakan maupun dalam pengelolaan keuangan. Reorganisasi dan rasionalisasi organisasi pemerintahan, melalui penyederhanaan jumlah departemen. 3. Menegakkan akuntabilitas pegawai pemerintah dengan memperkuat monitoring dengan memberdayakan fungsi kontrol dan pengawasan publik. Adanya koordinasi antar departemen disertai sistem kontrol yang teratur terhadap administrasi pemerintah. 4. Membangkitkan kesadaran rakyat untuk ikut memikul tanggung jawab guna melakukan partisipasi politik dan kontrol sosial dan tidak bersikap apatis dan acuh tak acuh. 5. Sistem budget dikelola oleh pejabat-pejabat yang mempunyai tanggung jawab etis tinggi dibarengi sistem kontrol yang efisien 6. Pencatatan ulang terhadap kekayaan perorangan yang menyolok. Dengan pengenaan pajak yang tinggi. Kekayaan yang statusnya tidak jelas dan didugaan menjadi hasil korupsi di sita negara. Melalui pembuktian terbalik. bila ada pejabat yang diduga melakukan korupsi, maka masyarakat bisa

meminta pertanggungjawabannya untuk disampaikan kepada publik agar membuktikan bahwa, baik kekayaan dirinya sendiri, istrinya, anakanaknya, maupun keluarganya tidak diperoleh dari hasil korupsi. Ini merupakan salah satu sarana pembelajaran kepada masyarakat. Hal ini perlu keterlibatan beberapa elemen masyarakat agar memiliki kekuatan hukum. 7. Menanamkan kesadaran pada masyarakat untuk menjunjung tinggi kejujuran, kepentingan nasional serta pengabdian pada bangsa dan negara, melalui sistem pendidikan formal, non formal dan pendidikan agama. 8. Adanya teladan dari pemimpin dan pejabat dengan mematuhi pola hidup sederhana dan memiliki rasa tanggung jawab susila 9. Adanya sanksi dan kekuatan untuk menindak, memberantas dan menghukum tindak korupsi. Adanya komitmen kejaksaan dan peradilan secara keseluruhan untuk menegakkan hukum dalam kasus korupsi. Komitmen ini menjadi persoalan terutama karena korupsi terjadi dalam relasi kekuasaan dan dilakukan oleh mereka yang mempunyai kekuasaan.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan Kekhawatiran masyarakat bahwa otonomi daerah hanya melahirkan sejumlah raja-raja kecil tampaknya sudah tidak terbantahkan. Praktik korupsi menjadi potret buruk otonomi daerah (otda) di tengah kuatnya arus resentralisasi. Memang, kasus korupsi lebih sering terjadi di daerah. Pada era otonomi daerah, para pemimpin kabupaten dan kota seperti raja-raja kecil yang tak lagi tunduk kepada gubernur atau bahkan pemerintah pusat seperti pada masa-masa sebelumnya. Sedangkan para anggota legislatif menjadi begitu tajam mengontrol eksekutif sekaligus tajam juga menggerogoti anggarannya. Dalam era sipil otonomi tidak daerah mampu aparat pemerintah, kekuasaan jalannya kabupaten sehingga atau kota cenderung masyarakat pemerintahaan. 4.2 Saran Strategi ke depan pemerintah pusat harus memberikan panduan dan supervisi beserta reward and punishment-nya kepada pemerintah daerah yang melaksanakan reformasi birokrasi atau yang tidak melaksanakannya sebagai perwujudan praktik good and clean governance. Masyarakat harus berperan dalam setiap tahapan proses mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan daerah. kebijakan di daerah, dan membekali civil society dengan kemampuan analisis, advokasi, publikasi, dan pemantauan anggaran belanja mendominasi sumber-sumber mengontrol

penyelenggaraan