Anda di halaman 1dari 12

Oleh : Putri Andini PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

Di Indonesia, sekitar 8 juta balita terancam tumbuh kembangnya akibat kekurangan gizi (Survei Sosial Ekonomi Nasional, 2009). Di Jabar dengan jumlah penduduk 42,3 juta jiwa dengan jumlah anak balita mencapai 5,1 jiwa dianalogikan sebagai penyuplai kasus gizi buruk dibanding daerah lain di Indonesia. Di beberapa DT II seperti di Kodya Bogor kasus gizi buruk dilaporkan sebanyak 16 kasus, lima di antara meninggal dunia dan 9 penderita lagi dirawat intensif. Sedangkan di Kab. Sukabumi ada 4 balita menderita kekurangan gizi yang parah. Secara keseluruhan Kekurangan Energi Protein (KEP) murni sebanyak 940 balita, marasmus 66, kwashiorkor 15, marasmus dan kwashiorkor 12 orang balita. Bahkan di Kab. Cirebon balita yang menderita KEP mencatat angka yang fantastis hingga mencapai 46.637 balita. Dari jumlah itu, 13.725 balita menderita gizi buruk dan berada di bawah garis merah di dalam kartu menuju sehat (KMS). Namun ada sekitar 50 bayi yang kondisinya sudah parah dan perlu dirawat di rumah sakit. Seperti inilah potret kesehatan di Indonesia. Kurangnya sosialisasi mengenai pentingnya kesehatan menyebabkan balita-balita tersebut mengalami penyakit kekurangan gizi yang sangat serius. Sosialisasi mengenai pentingnya gizi seharusnya dilakukan oleh para praktisi kesehatan, salah satunya adalah seorang farmasis. Seorang farmasis adalah seseorang yang belajar mengenai tatacara penyembuhan. Masalah kekurangan gizi adalah suatu penyakit yang seharusnya dapat disembuhkan oleh seseorang yang ahli di bidang kesehatan. Dari beberapa penyakit kekurangan gizi yang diderita oleh para balita adalah kwashiorkor. Kwashiorkor Kwashiorkor ialah gangguan yang disebabkan oleh kekurangan protein (Ratna Indrawati, 1994). Kwashiorkor ialah defisiensi protein yang disertai defisiensi nutrien lainnya yang biasa dijumpai pada bayi masa disapih dan anak prasekolah (balita). (Ngastiyah, 1995). Selain oleh pengaruh negatif faktor sosio-ekonomi-budaya yang berperan terhadap kejadian malnutrisi umumnya, keseimbangan nitrogen yang negatif dapat pula disebabkan oleh diare kronik, malabsorpsi protein, hilangnya protein melalui air kemih (sindrom nefrotik), infeksi menahun, luka bakar, dan penyakit hati. Pada defisiensi protein murni tidak terjadi katabolisme jaringan yang sangat berlebihan karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori dalam dietnya. Kelainan yang mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang disebabkan edema dan perlemakan hati. Karena kekurangan protein dalam diet akan terjadi kekurangan berbagai asam amino dalam serum yang jumlahnya yang sudah kurang tersebut akan disalurkan ke jaringan otot, makin kurangnya asam amino dalam serum ini akan menyebabkan kurangnya produksi albumin oleh hepar yang kemudian berakibat timbulnya odema. Perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan beta liprotein, sehingga transport lemak dari hati ke depot terganggu dengan akibat terjadinya penimbunan lemak dalam hati.

Gejala-gejala yang dapat kita lihat baik sacara fisik maupun fisiologis yang dapat kita indikasikan bahwa balita tersebut menderita kwashiorkor atau tidak adalah dengan melihat terjadinya Edema gerenal (muka sembab, punggung kaki, perut yang membuncit), tidak terjadi penambahan berat badan, pertumbuhan yang terhenti, diare yang tidak membaik, mengalami dermatitis yaitu perubahan pigmen kulit, perubahan warna rambut menjadi kemerahan dan mudah dicabut, penurunan masa otot, perubahan mental, terjadi gangguan fungsi ginjal dan mengalami anemia. Penderita kwashiorkor akut dapat mengalami kematian. Telah disinggung sebelumnya, kalau penyakit kwashiorkor disebabkan oleh kekurangan protein. Oleh karena itu kita harus mengetahui fungsi protein dalam tubuh manusia, sehingga tidak terjadi lagi balita-balita yang mengalami penyakit kwashiorkor. Protein Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti yang paling utama) adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus. Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof). Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh Jns Jakob Berzelius pada tahun 1838. Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang dibawa DNA ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi yang dilakukan ribosom. Sampai tahap ini, protein masih mentah, hanya tersusun dari asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah protein yang memiliki fungsi penuh secara biologi. Sumber protein terbagi menjadi dua yaitu protein hewani dan protein nabati. Tetapi protein lebih dominan terdapat dalam hewan. Biasanya terkandung dalam daging hewan dan susu. Tetapi tidak semuanya dapat dikonsumsi. Karena ada sebagian hewan dilarang untuk dikonsumsi, salah satunya adalah babi. Oleh karena itu, diperlukan seseorang yang mempunyai dasar agama islam dan pengetahuan kesehatan untuk memecahkan masalah mengenai penyakit kwashiorkor ini agar jumlah penderita berkurang tetapi tidak melanggar aturan Allah SWT.

Memperhatikan makanan berarti memastikan kehalalannya serta memilih makanan yang mempunyai manfaat bagi tubuh. Bermanfaat bagi tubuh artinya bergizi atau memiliki unsurunsur yang baik bagi tubuh untuk beraktifitas. Sebagaimana hadits Rasulullah : Sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas dirimu. Yang disebut makanan bergizi dijelaskan dalam al-Quran antara lain pada surah al-Nahl ayat 5 (tentang tujuan konsumsi daging hewan untuk menghindari penyakit hati, menguatkan otot-otot, menguatkan otak dan menghindari anemia), surah al-Nahl ayat 14 (tentang tujuan konsumsi daging ikan untuk mempertinggi protein, menghasilkan minyak ikan sebagai sumber kalsium dan yodium), dan surah al-Nahl ayat 66 (tentang tujuan konsumsi susu yang tujuannya memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D. Kemudian Allah juga menjelaskan dalam al-Quran tentang pentingnya madu dan buah-buahan (surah al-Nahl 67 dan 68) dan sayur-sayuran serta buah-buahan (surah al-Baqarah 61 dan ar-Rum 23). Setelah memperhatikan beberapa arti dari ayat-ayat tersebut mengenai masalah gizi dan makanan tentu kita dapat menyimpulkan bahwa kita membutuhkan suatu ilmu dari seseorang yang berlandaskan islam. Ternyata ilmu yang membahas protein secara keseluruhan adalah ilmu biokimia. Dan menyangkut dengan masalah kwashiorkor adalah ilmu biokimia kesehatan. Seseorang yang dapat memecahkan masalah ini adalah seorang farmasis islam. Biokimia merupakan ilmu yang mempelajari struktur dan fungsi komponen selular, seperti protein, karbohidrat, lipid, asam nukleat, dan biomolekul lainnya. Saat ini biokimia lebih terfokus secara khusus pada kimia reaksi termediasi enzim dan sifat-sifat protein. Oleh karena itu dengan biokimia kita bisa memecahkan masalah penyakit kwashiorkor, terutama dengan bantuan seorang farmasis islam. Cara mengatasi penyakit kwashiorkor ini adalah dengan cara memberikan sosialisasi mengenai fungsi protein bagi tubuh dan dampaknya terhadap perkembangan balita. Masyarakat kecil biasanya kurang memahami pentingnya pola dalam mengkonsumsi makanan. Dengan diadakan sosialisasi ini masyarakat kecil tentu dapat sedikit memahami pentingya konsumsi protein dan dampaknya jika tidak mengkonsumsi protein. Karena ternyata fungsi protein itu sangat kompleks. Jika tidak dipenuhi maka akan timbul penyakit yang lain. Seperti yang dialami balita penderita kwashiorkor. Selain menderita busung lapar atau kekurangan gizi, mereka juga bisa mengalami penyakit anemia, edema dan dermatitis. Fungsi protein antaralain untuk katalitik, struktural, mekanik, penyimpanan, pengangkut, pengatur, perlindungan dan toksik. Jika kebutuhan protein tubuh terpenuhi, kesemua fungsi protein akan maksimal, dan tentunya tidak ada penyakit protein yang kita alami. Dari semua pembahasan yang telah dipaparkan, ternyata seorang farmasis berperan dalam sosialisasi ilmu yang mereka miliki. Terutama ilmu biokimia kesehatan. Ilmu biokimia kesehatan ini salahsatunya membahas tentang fungsi protein bagi tubuh manusia agar manusia terutama balita tidak mengalami masalah kekurangan protein seperti penyakit kwashiorkor yang ternyata banyak diderita oleh balita-balita di indonesia. Balita-balita tersebut kebanyakan adalah balitabalita yang berasal dari masyarakat kecil yang kekurangan dalam masalah ekonomi dan pengetahuan. Dan dengan adanya seseorang farmasis islam tentunya lebih lengkap lagi, karena dengan hadirnya mereka pemecahan masalah gizi teratasi dan juga tidak melanggar larangan islam yang dimana kita sebagian besar masyarakat indonesia beragama islam yang wajib mengkonsumsi makanan yang halal.

Dapat kita simpulkan bahwa seorang farmasis islam berperan dalam penyembuhan penyakit kwashiorkor secara islam, yaitu mereka mensosialisasikan makanan berkadar protein tinggi kepada masyarakat kecil tetapi memenuhi standar halal yang memang harus dipatuhi oleh kaum muslim di Indonesia.

Laporkan Tanggapi

Siapa yang menilai tulisan ini? 1

Putri Andi...
Bermanfaat KOMENTAR BERDASARKAN :

27 November 2011 12:16:00


Tulisan yang sangat bermanfaat dan perlu kita ketahui Salam silaturrahim

Laporkan Komentar

Balas

Novian Nover

27 November 2011 12:19:03


terimakasih pak atas tanggapannya salam balik dari putri

Laporkan Komentar

Balas

Putri Andini

27 November 2011 14:47:32


kenapa menyalahkan farmasis, coba perhatikan tugas dan fungsi farmasis kemudian lihat posisi mereka berada pada level mana, siapa yang terdekat dari anak dalam hal penyiapan bahan makanan, siapa yang paling bertanggung jawab jika ada masalah dalam intake. Dalam hal kemiskinan maka tentu ada masalah dalam pengadaan makanan yang cukup u kasus ini pihak pemberi suply makananlah yg terlibat.

Laporkan Komentar

Balas

Asrim

27 November 2011 14:49:07


Maaf saya juga seorang farmasis silahkan anda baca artikel saya dengan baik karena kesimpulan kalimatnya seperti ini Dapat kita simpulkan bahwa seorang farmasis islam berperan dalam penyembuhan penyakit kwashiorkor secara islam, yaitu mereka mensosialisasikan makanan berkadar

protein tinggi kepada masyarakat kecil tetapi memenuhi standar halal yang memang harus dipatuhi oleh kaum muslim di Indonesia.

Laporkan Komentar

Balas

Putri Andini Tulis Tanggapan Anda

REGISTRASI | MASUK <a href='http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a37da309&amp;cb=INSERT_R ANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=345&amp;cb=INSERT_R ANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a37da309' border='0' alt='' /></a> FEATURED ARTICLE

Kelemahan Timnas Indonesia Piala AFF 2010 Hazmi Srondol

TRENDING ARTICLES
Gaya Blusukannya Kang AHER (Gubernur Jabar)

Mas Yusro
Efek Negatif Jejaring Sosial

Arzaq Farandi Purna...


Malaysia vs Laos 4-1, Laos vs Indonesia 2-2,

Arif Fitrianto
Tolong Perbaiki Cara Kita Menilai Orang!

Putri Nurfitriyana
Rhoma Irama Pendendam, Provokatif,

Kanedi

INFO & PENGUMUMAN KONTAK KOMPASIANA

INDEX

Yuk, Download Aplikasi K-Report dan Inilah Peraih Sepeda Motor dan Hadiah Jalan-Jalan ke Thailand dengan Biokos

TERAKTUAL INSPIRATIF Wahyudi Chandra, Potret TKI Sukses di Hong Kong Pesan Ibu Untukmu Kamu Itu Penting Buatku Purnama Sebelas, Sebelas Purnama Nasionalisme: Belajarlah kepada Andik! BERMANFAAT MENARIK

Subscribe and Follow Kompasiana:


About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar

2008-2011Masyarakat mengenal kurang gizi sebagai busung lapar, meskipun dalam kesehatan dibedakan dalam kwashiorkor, maramus, kwashiorkor-marasmus atau hanya kurang gizi. Namun apapun istilahnya hal yang penting adalah penanganan yang optimal. Masalah gizi terjadi karena syarat pemberian makanan tidak terpenuhi, baik kurang maupun lebih dari pada yang dibutuhkan untuk umur, jenis kelamin dan kondisi-kondisi tertentu seperti banyaknya aktifitas, suhu lingkungan, maka akan terjadi keadaan malnutrisi. Penyimpangan yang sangat dari pada diet yang adekuat dalam waktu yang lama akan menimbulkan keadaan kekurangan yang lambat laun memperlihatkan gejala-gejala klinisnya. Permasalahan gizi dapat terjadi karena masukan yang berlebihan yang terus-menerus menimbulkan keadaan gizi lebih (overnutrition). Keadaan gizi kurang (undernutrition) maupun gizi lebih (overnutrition) tidak selalu disebabkan oleh masukan makanan yang tidak cukup atau berlebihan. Keadaan demikian dapat juga terjadi oleh kelainan dalam tubuh sendiri seperti ganggguan pencernaan, absorbsi, utilisasi, ekskresi dan sebagainya (Pudjiadi, 2000).

Berikut ini beberapa tanda dan gejala gangguan gizi


Gejala klinis Kurang Energi Protein (KEP) yaitu: Pertumbuhan linier mengurang atau terhenti; Kenaikan berat badan berkurang, terhenti, dan ada kalanya beratnya bahkan menurun; Ukuran lingkar lengan atas menurun; Maturasi tulang terhambat; Rasio berat terhadap tinggi normal atau menurun; Tebal lipat kulit normal atau mengurang; Anemia ringan; Aktivitas dan perhatian berkurang; Kelainan kulit maupun rambut jarang ditemukan, tetapi adakalanya dijumpai. Gejala klinis Kwashiorkor, yaitu: Penampilannya seperti anak yang gemuk (suger baby) bilamana dietnya mengandung cukup energy disamping kekurangan protein, walaupun dibagian tubuh lainnya, terutama dipantatnya terlihat adanya atrofi; Pertumbuhan terganggu, berat badan dibawah 80% dari baku Harvard persentil 50 walaupun terdapat edema, begitu pula tinggi badannya terutama jika KEP sudah berlangsung lama; Perubahan mental sangat mencolok, banyak menangis, dan stadium lanjut mereka sangat apatis; Edema baik yang ringan maupun yang berat ditemukan pada sebagian besar penderita kwashiorkor; Atrofi otot sehingga penderita tampak selalu lemah dan berbaring terus menerus; Gejala saluran pencernaan seperti anoreksia yang berat penderita menolak segala macam makanan, hingga adakalanya makanan hanya dapat diberikan melalui sonde lambung. Diare tampak pada sebagian besar penderita, dengan feses yang cair dan banyak mengandung asam laktat karena mengurangnya produksi lactase dan enzim disaharidase lain; rambut yang mudah dicabut sedangkan pada penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat terlihat rambut kepala yang kusam, kering, halus, jarang, dan berubah warnanya.rambut alispun menunjukkan perubahan demikian, akan tetapi tidak demikian dengan rambut matanya yang justru memanjang; Perubahan kulit yang khas bagi penderita kwashiorkor. Kelainan kulit berupa titik-titik merah yang menyerupai petechia, berpadu dengan bercak yang lambat laun menghitam. Setelah bercak hitam mengelupas, maka terdapat bagian-bagian merah yang dikelilingi oleh batas-batas yang masih hitam; Hati biasanya membesar; Anemia ringan.

Gejala klinis Marasmus yaitu: Muka seorang penderita marasmus menunjukkan wajah seorang tua. Anak terlihat sangat kurus (vel over been) karena hilangnya sebagian besar lemak dan ototototnya; Perubahan mental yaitu anak mudah menangis, juga setelah mendapat makan oleh sebab masih merasa lapar. Kesadaran yang menurun (apatis) terdapat pada penderita marasmus yang berat; Kulit biasanya kering, dingin, dan mengendor disebabkan kehilangan banyak lemak dibawah kulit dan otot-ototnya; Walaupun tidak kering seperti penderita kwashiorkor,adakalanya tampak rambut yang kering, tipis dan mudah rontok; Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit mengurang; Otot-otot atrofis, hingga tulang-tulang terlihat lebih jelas; Penderita marasmus lebih sering menderita diare atau konstipasi; seringkali terdapat bradikardi; tekanan darah lebih rendah dibandingkan dengan anak sehat seumur; frekuensi pernafasan yang mengurang; ditemukan kadar hemoglobin yang agak rendah. Kwashiorkor Marasmik Penyakit kwashiorkor marasmik memperlihatkan gejala campuran antara penyakit marasmus dan kwashiorkor. Makanan sehari-harinya tidak cukup mengandung protein dan juga energy untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita demikian disamping menurunnya berat badan dibawah 60% dari normal memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit, sedangkan kelainan biokimiawi terlihat pula (http://www.rajawana.com) Admin-Faza

Tinggalkan Sebuah Komentar

Konsep Dasar Timbulnya Penyakit Kwashiorkor Menurut Teori Segitiga Epidemiologi


Sep24 Segitiga epidemiologi merupakan konsep dasar epidemiologi yang memberi gambaran tentang hubungan antara tiga faktor yg berperan dalam terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya. Segitiga epidemiologi menggambarkan interaksi antara Host (penjamu), Agent (penyebab) dan Environment (lingkungan). Suatu penyakit dapat timbul di masyarakat apabila terjadi ketidakseimbangan antara Host, Agent dan Environment. Hal ini dikarenakan perubahan pada salah satu faktor atau komponen akan mengubah keseimbangan secara keseluruhan. Hubungan ketiga komponen digambarkan dengan tuas dalam timbangan, dimana environment sebagai penumpunya.

Konsep Dasar Timbulnya Penyakit Kwashiorkor Menurut Teori Segitiga Epidemiologi

Konsep penyebab dan proses terjadinya penyakit dalam epidemiologi berkembang dari rantai sebab akibat ke suatu proses kejadian penyakit yakni proses interaksi antara manusia (pejamu) dengan berbagai sifatnya (biologis, Fisiologis, Psikologis, Sosiologis dan antropologis) dengan penyebab (agent) serta dengan lingkungan (Enviroment) (Nur nasry noor,2000). Pada kasus balita yang mengalami kwashiorkor, penyakit dapat timbul dikarenakan tidak seimbangnya host, agent, dan environmentnya.

Host (pejamu)

Host atau pejamu ialah keadaan manusia dimana dapat menjadi faktor risiko untuk terjadinya suatu penyakit. Faktor ini di sebabkan oleh faktor intrinsik. Faktor pejamu yang timbul pada penyakit kwashiorkor ialah : 1. Umur. Bayi dan balita merupakan golongan rawan terhadap penyakit kwashiorkor. Selain karena daya tahan tubuhnya yang masih rendah, faktor organ pencernaan yang belum berfungsi sempurna juga turut mempengaruhi. 2. Status kesehatan. Status gizi yang buruk menyebabkan mudahnya menderita kwashiorkor 3. Keadaan imunitas dan respons imunitas. Adanya alergi atau intolerant terhadap protein tertentu terutama protein susu mempengaruhi intake protein dalam tubuh. Sehingga menyebabkan kurangnya protein apabila tidak dicari penggantinya 4. Tingkat Pendidikan. Kwashiorkor juga dipengaruhi akibat rendahnya pengetahuan Ibu mengenai keseimbangan nutrisi pada anak dan kurangnya pemahaman akan makanan peralihan dari asi ke makanan pengganti asi.

Agent (penyebab)

Pada dasarnya, tidak ada satu pun penyakit yang dapat timbul hanya disebabkan oleh satu faktor tunggal semata. Umumnya kejadian penyakit disebabkan oleh berbagai unsur yang secara bersama-sama mendorong terjadinya penyakit, namun demikian, secara dasar, unsur penyebab penyakit dapat dibagi dalam dua bagian utama yakni :

Penyebab Kausal Primer, dan Penyebab Kausal Sekunder

Penyebab kausal primer pada penderita kwashiorkor ialah rendahnya asupan makanan yang mengandung protein. Padahal zat ini sangat dibutuhkan oleh anak untuk tumbuh dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup, namun tidak semua makanan mengandung protein/asam amino yang mencukupi kebutuhan dalam tubuh. Sedangkan penyebab kausal sekunder lebih kepada lingkungan pasien itu sendiri seperti ketersediaan bahan pangan di daerah tempat tinggalnya yang memadai atau tidak.

Environment (lingkungan)

Unsur lingkungan memegang peranan yang cukup penting dalam menentukan terjadinya sifat karakteristik individu sebagai pejamu dan ikut memegang peranan dalam proses kejadian penyakit kwashiorkor. - Lingkungan Fisik Daerah dimana ketersediaan dan ketahanan pangannya rendah akan menjadi daerah endemik penyebaran kwashiorkor. Lingkungan fisik ada yang terjadi secara alamiah tetapi dapat juga mucul akibat ulah manusia sendiri (Nur nasri noor,2000). - Lingkungan Sosial Semua bentuk kehidupan sosial budaya, ekonomi, politik, sistem organisasi. Serta instusi/peraturan yang berlaku bagi setiap individu yang membentuk masyarakat tersebut. Faktor hidup di tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, keadaan sosial dan politik tidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan makanan tertentu dan sudah berlansung turun temurun dapat menjadi hal yang menyebabkan terjadinya kwashiorkor. Selain itu tingkat pendapatan yang rendah sehingga mengakibatkan daya beli barang yang rendah juga turut andil mengakibatkan kwarshiorkor. Dari keseluruhan unsur di atas, dimana hubungan interaksi antara satu dengan yang lainnya akan menentukan proses dan arah dari proses kejadian penyakit, baik pada perorangan, maupun dalam masyarakat. Dengan demikian Terjadinya suatu penyakit tidak hanya di tentukan oleh unsur penyebab semata, tetapi yang utama adalah bagaimana rantai penyebab dan hubungan sebab akibat di pengaruhi oleh berbagai faktor maupun unsur lainnya.