Anda di halaman 1dari 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI TRAUMA THORAX Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. (Hudak, 1999). Trauma thorax adalah trauma yang terjadi pada toraks yang menimbulkan kelainan pada organ-organ didalam toraks. Hematotorax adalah terdapatnya darah dalam rongga pleura, sehingga paru terdesak dan terjadinya perdarahan. Pneumotorax adalah terdapatnya udara dalam rongga pleura, sehingga paru-paru dapat terjadi kolaps.

2.2 ETIOLOGI 2.2.1 Trauma Tembus a. Luka Tembak b. Luka Tusuk 2.2.2 Trauma Tumpul a. Kecelakaan kendaraan bermotor b. Jatuh c. Pukulan pada dada

2.3 KLASIFIKASI 2.3.1 Trauma Tembus a. Pneumothoraks terbuka b. Hemothoraks c. Trauma tracheobrokial d. Contusi paru e. Ruptur diafragma f. Trauma madiastinal

2.3.2 Trauma Tumpul a. Tension pneumothoraks b. Trauma tracheobronkhial

2.3.3 Flail Chest a. Ruptur diafragma b. Trauma mediastinal c. Fraktur kosta

2.4 INSIDENSI Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang

dewasakurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktorimplikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atautidak disengaja (Smeltzer, 2001).

2.5 PROGNOSIS PENYAKIT 2.5.1 Open Pneumothorak Timbul p l e u r a sehingga karena paru trauma menjadi tajam, kuncup. ada hubungan dengan rongga luka

Seringkali

terlihat

sebagai

padad i n d i n g d a d a y a n g m e n g h i s a p p a d a s e t i a p i n s p i r a s i ( s u c k i n g c h e s t wound trachea,m a k a ). Apabila pada luban ini lebih udara besar dari pada 2/3 diameter

inspirasi

lebih

mudah

melewati

l u b a n g d a d a dibandingkan melewati mulut sehingga terjadi sesak nafas yang hebat

2.5.2 Tension Pneumothorak Adanya mengakibatkan udara didalam cavum pleura

t e n s i o n pneumothorak. Apabila ada mekanisme ventilasi

karena lubang pada parm u k a a n u d a r a a k a n s e m a k i n b a n ya k p a d a s i s i r o n g g a p l e u r a , s e h i n g g a mengakibatkan : a. Paru sebelahnya akan terekan dengan akibat sesak yang berat b. Mediastinum akan terdorong dengan akibat timbul syok pada auskultasi bunyi vesikuler menurun

2.5.3 Hematothorak masif Pada keadaan ini terjadi perdarahan hebat dalam rongga dada. A d a perkusi terdengar redup, sedang vesikuler menurun pada auskultasi

2.5.4 F l a i l C h e s t Tulang iga patah pada 2 tempat pada lebih dari 2 iga sehingga ada satu segmen dinding dada yang tidak ikut pada pernafasan. Pada ekspirasi segmen akan menonjol keluar, pada inspirasi justru masuk kedalam yang dikenal dengan pernafasan paradoksal

2.6 PATOFISIOLOGI Dada merupakan organ besar yang membuka bagian dari tubuh yang sangat mudah terkena tumbukan luka. Karena dada merupakan tempat jantung, p a r u d a n p e m b u l u h d a r a h b e s a r . T r a u m a d a d a s e r i n g m e n y e b a b k a n gangguan ancaman kehidupan. Luka pada rongga thorak dan isinya dapatmembatasi kemampuan jantung untuk memompa darah atau kemampuanparu untuk pertukaran udara dan osigen darah. Bahaya utama berhubungan dengan luka dada biasanya berupa perdarahan dalam dan tusukan terhadap organ. Luka dada dapat meluas dari benjolan yang relatif kecil dan goresan yangdapat mengancurkan atau terjadi trauma penetrasi. Luka dada dapat berupa p e n e t r a s i a t a u n o n p e n e t r a s i ( t u m p u l ) . L u k a d a d a p e n e t r a s i m u n g k i n disebabkan oleh luka dada yang terbuka, memberi keempatan bagi udara atmosfir masuk ke dalam permukaan pleura dan mengganggu mekanisme ventilasi normal. Luka dada penetrasi dapat menjadi kerusakan serius bagi paru, kantung dan struktur thorak lain.

2.7 TANDA DAN GEJALA Tanda-tanda dan gejala pada trauma thorak : 1. Ada jejas pada thorak 2 . Nyeri pada tempat trauma, bertambah saat inspirasi 3 . Pembengkakan lokal dan krepitasi pada saat palpasi 4 . Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek 5 . Dispnea, hemoptisis, batuk dan emfisema subkutan 6. Penurunan tekanan darah 7. Peningkatan tekanan vena sentral ya n g ditunjukkan oleh

d i s t e n s i v e n a leher 8 . B u n yi m u f f l e p a d a j a n t u n g 9 . Perfusi jaringan tidak adekuat 1 0 . Pulsus paradoksus ( tekanan darah sistolik turun dan berfluktuasi dengan pernapasan ) dapat terjadi dini pada tamponade jantung

2.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Radiologi : X-foto thoraks 2 arah (PA/AP dan lateral) b. Gas darah arteri (GDA), mungkin normal atau menurun. c. Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa. d. H e m o g l o b i n : m u n g k i n m e n u r u n . e. Pa Co2 kadang-kadang menurun. f. P a O 2 n o r m a l / m e n u r u n . g. Saturasi O2 menurun (biasanya). h. Toraksentesis : menyatakan darah/cairan. i. B i l a pneumotoraks < 30% atau hematothorax ringan

( 3 0 0 c c ) t e r a p simtomatik, observasi. j. Bila pneumotoraks > 30% atau hematothorax sedang (300cc) drainase cavum pleura dengan WSD, dainjurkan untuk melakukan drainase dengan continues suction unit. k. P a d a k e a d a a n p n e u m o t h o r a k s ya n g r e s i d i f l e b i h d a r i d u a k a l i h a r u s dipertimbangkan thorakotomi l. Pada hematotoraks yang massif (terdapat perdarahan melalui drain lebihdari 800 cc segera thorakotomi

2.9 KOMPLIKASI a. Iga : fraktur multiple dapat menyebabkan kelumpuhan rongga dada. b. P l e u r a , paru-paru, bronkhi :hemopneumothoraks-

e m f i s e m a pembedahan. c. Jantung : tamponade jantung ; ruptur jantung ; ruptur otot papilar ; ruptur klep jantung. d. Pembuluh darah besar : hematothoraks. e. E s o f a g u s : m e d i a s t i n i t i s . f. D i a f r a g m a : h e r n i a s i v i s e r a d a n p e r l u k a a n h a t i , l i m p a d a n g i n j a l (Mowschenson, 1990).

2.10 PENATALAKSANAAN 1. B u l l o w D r a i n a g e / W S D Pada trauma toraks, WSD dapat berarti : a. Diagnostik :M e n e n t u k a n p e r d a r a h a n d a r i p e m b u l u h d a r a h b e s a r atau kecil,sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi a t a u t i d a k , sebelum penderita jatuh dalam shock.

b. Terapi:Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga

" m e c h a n i s o f breathing" dapat kembali seperti yang seharusnya. c. Preventive :M e n g e l u a r k a n u d a r a n a t a u d a r a h ya n g m a s u k k e r o n g g a p l e u r a sehingga "mechanis of breathing" tetap baik. 2. Perawatan WSD dan pedoman latihanya : a. Mencegah infeksi di bagian masuknya slang. M e n d e t e k s i d i b a g i a n d i m a n a m a s u k n y a s l a n g , d a n p e n g g a n t i verband 2 hari sekali, dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang m e n u t u p b a g i a n m a s u k n ya s l a n g d a n t u b e t i d a k b o l e h d i k o t o r i waktu menyeka tubuh pasien. b. M e n g u r a n g i r a s a s a k i t d i b a g i a n m a s u k n ya s l a n g . U n t u k r a s a s a k i t yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter. c. Dalam perawatan yang harus diperhatikan : Penetapan slang. S l a n g diatur senyaman mungkin,

s e h i n g g a s l a n g y a n g dimasukkan tidak terganggu d e n g a n b e r g e r a k n y a p a s i e n , sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi. Pergantian posisi badan. Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang b a n t a l k e c i l d i b e l a k a n g , a t a u m e m b e r i tahanan pada slang, melakukan pernapasan perut,

m e r u b a h p o s i s i t u b u h s a m b i l mengangkat badan, atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera. d. Mendorong berkembangnya paru-paru. Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang. Latihan napas dalam. Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk, janganbatuk waktu slang diklem. Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi

e. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction. Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 - 800 cc. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam, harus dilakukan torakotomi. Jika banyaknya hisapan

b e r t a m b a h / b e r k u r a n g , perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan f. S u c t i o n h a r u s b e r j a l a n e f e k t i f Perhatikan setiap 15 - 20 menit selama 1 - 2 jam setelah operasi dansetiap 1 - 2 jam selama 24 jam setelah operasi. Perhatikan banyaknya cairan, keadaan cairan, keluhan pasien, warna muka, keadaan pernapasan, denyut nadi, tekanan darah. Perlu sering dicek, apakah tekanan negative tetap s e s u a i petunjuk jika suction kurang baik, coba merubah posisi pasiendari terlentang, ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miringbagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan darah, slang bengkok atau alat rusak,atau lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru - paru. g. Perawatan "slang" dan botol WSD/ Bullow drainage. Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari , diukur b e r a p a cairan yang keluar kalau ada dicatat. Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage. Penggantian botol harus "tertutup" untuk mencegah

u d a r a masuk yaitu meng "klem" slang pada dua tempat dengan kocher. Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitasbotol dan slang harus tetap steril. Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-sendiri, dengan memakai sarung tangan. Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam ronggadada, misal : slang terlepas, botol terjatuh karena kesalahan. h. D i n ya t a k a n b e r h a s i l , b i l a : Paru sudah mengembang penuh pada pemeriksaan fisik dan radiologi. Darah cairan tidak keluar dari WSD / Bullow drainage. Tidak ada pus dari selang WSD.3 . T h e r a p y Chest tube / drainase udara (pneumothorax). WSD (hematotoraks).

Pungsi. Torakotomi. Pemberian oksigen. Antibiotika. Analgetika. Expectorant.

2.11 MANAJEMEN KEPERAWATAN Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan

secaramenyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10). Pengkajian pasien dengan trauma thoraks ( Doenges, 1999) a. Aktivitas / istirahat Gejala : dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat. b. Sirkulasi Tanda : Takikardia ; disritmia ; irama jantunng gallops, nadi apical berpindah, TD : hipotensi / hipertensi ; DVJ. c. Integritas ego Tanda : ketakutan atau gelisah. d. Makanan dan cairan Tanda : adanya pemasangan IV vena sentral/infuse tekanan. e. Nyeri / ketidaknyamanan Gejala : nyeri uni laterl, timbul tiba-tiba selama batuk atau regangan, tajam dan nyeri, menusuk-nusuk yang diperberat oleh napas dalam, kemungkinan menyebar ke leher, bahu dan abdomen. Tanda : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, mengkerutkan wajah. f. Pernapasan Gejala : kesulitan bernapas ; batuk ; riwayat bedah dada / trauma, penyakit paru kronis, inflamasi / infeksi paaru, penyakit interstitial m e n y e b a r , keganasan ; pneumothoraks spontan sebelumnya, PPOM. Tanda : Takipnea ; peningkatan kerja napas ; bunyi napas turun atau tak ada ;fremitus menurun ; perkusi dada hipersonan ; gerakkkan dada tidak sama ;k u l i t p u c a t , s i a n o s i s , b e r k e r i n g a t , k r e p i t a s i s u b k u t a n ; m e n t a l a n s i e t a s , bingung, gelisah, pingsan ; penggunaan ventilasi mekanik tekanan positif.

g. Keamanan Geajala : adanya trauma dada ; radiasi / kemoterapi untuk keganasan. h. Penyuluhan / pembelajaran Gejala : riwayat factor risiko keluarga, TBC, kanker ; a d a n y a b e d a h intratorakal / biopsy paru.

2.12 DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara / cairan 2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan. 3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder. 4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bullow drainage. 5. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal. 6. Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organismesekunder terhadap trauma.

2.13

INTERVENSI KEPERAWATAN

Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan

d i a g n o s a keperawatan (Boedihartono, 1994:20) Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi, 1995:40). Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan trauma thorax (Wilkinson, 2006) meliputi : 1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma. Tujuan : Pola pernapasan efektif. Kriteria hasil : Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive. Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru. Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.

Intervensi : Berikan posisi yang nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin. R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasipada sisi yang tidak sakit. Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital. R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat

menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan. R/ Pengetahuan apa ya n g diharapkan dapat

m e n g u r a n g i a n s i e t a s d a n mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. Jelaskan pada klien tentang etiologi / faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru. R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk

k o n t r o l d i r i d e n g a n menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam. R/ Membantu klien mengalami efek

f i s i o l o g i h i p o k s i a , y a n g d a p a t dimanifestasikan sebagai ketakutan / ansietas. Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 2 jam :1) Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar. R/ Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru optimum / drainase cairan 2) Periksa batas cairan pada botol penghisap, pertahankan pada batas yang ditentukan. R/ Air penampung / botol bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural 3) Observasi gelembung udara botol penempung.

R/ gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan l u b a n g a n g i n d a r i penumotoraks / kerja yang diharapka. Gelembung biasanya menurun seiring dengan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak adanya gelembung dapat menunjukkan ekpsnsi paru lengkap/normal atau slang buntu.

4) Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal, yakinkan slang tidak terlipat, atau menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat drainage. Alirkan akumulasi dranase bila perlu.

R/ Posisi tak tepat, terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negative yang diinginkan.

5) Catat karakter / jumlah drainage selang dada. R/ Berguna untuk mengevaluasi perbaikan upaya

kondisi/terjasinya intervensi. -

perdarahanyang

memerlukan

Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :1) Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.

Pemberian antibiotika Pemberian analgetika. Fisioterapi dada.Konsul photo toraks. R/ Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan. Tujuan : Jalan napas lancar / normal Kriteria hasil : Menunjukkan batuk yang efektif Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. pernapasan. Klien nyaman.

Intervensi : - Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. Pernapasan R/ Pengetahuan yang diharapkan akan

membantu

mengembangkan

kepatuhan klien terhadap

rencana teraupetik. Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.

R/

Batuk

yang

tidak

terkontrol

adalah

m e l e l a h k a n d a n t i d a k e f e k t i f , menyebabkan frustasi. 1) Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin. R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas. 2) Lakukan pernapasan diafragma. R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek.

n a p a s d a n m e n i n g k a t k a n ventilasi alveolar. 3) Tahan napas selama 3 - 5 detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut. 4) Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan2 batuk pendek dan kuat. R/ Meningkatkan volume udara dalam paru

m e m p e r m u d a h p e n g e l u a r a n sekresi. .Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk. R/ Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien. Ajarkan menurunkan klien tindakan viskositas untuk sekresi

: mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi. R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk. R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegahbau mulut. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi. Pemberian expectoran. Pemberian antibiotika. Fisioterapi dada. Konsul photo toraks. R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya

3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringandan reflek spasme otot sekunder. Tujuan : Nyeri berkurang / hilang. Kriteria hasil : - Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/ menurunkan nyeri Intervensi : Pasien tidak gelisah. Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri non farmakologidan non invasif. R/ Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri. 1) Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan otot r a n g k a , y a n g d a p a t m e n u r u n k a n i n t e n s i t a s n y e r i d a n j u g a t i n g k a t k a n relaksasi masase. R/ Akan melancarkan peredaran darah, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringanakan terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya. 2) Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut. R/ Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisiyang nyaman ; misal waktu tidur, belakangnya dipasang bantal kecil. R/ Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan. Tingkatkan sebab-sebab lama nyeri akan berlangsung. R/ Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan pengetahuan nyeri, tentang :

d a n menghubungkan berapa

k e p a t u h a n k l i e n t e r h a d a p r e n c a n a teraupetik. Kolaborasi denmgan dokter, pemberian analgetik. R/ Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang. O b s e r v a s i t i n g k a t n ye r i , d a n r e s p o n m o t o r i k k l i e n , 30 menit s e t e l a h pemberian obat analgetik untuk

mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 - 2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 - 2 hari. R/ Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat. 4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bullow drainage. Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai Kriteria Hasil : Intervensi : tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus. luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka .R / mengetahui sejauh mana perkembangan luka

m e m p e r m u d a h d a l a m melakukan tindakan yang tepat. Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi. Pantau peningkatan suhu tubuh. R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan. Berikan perawatan luka dengan tehnik asept ik. Balut luka dengan kasa kering dan steril, gunakan plester kertas. R/ tehnik aseptik membantu mempercepat

p e n y e m b u h a n l u k a d a n mencegah terjadinya infeksi. Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan l a n j u t a n , m i s a l n ya debridement. R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya. Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan. R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. R/ antibiotik berguna pathogen untuk pada mematikan

mikroorganisme terjadi infeksi.

daerah yang berisiko

5. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatandan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal. Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. Kriteria hasil : penampilan yang seimbang.. melakukan pergerakkan dan perpindahan. m e m p e r t a h a n k a n m o b i l i t a s o p t i m a l ya n g d a p a t d i toleransi, dengan karakteristik :0 = mandiri penuh1 =

memerlukan alat bantu. 2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, danpengajaran. 3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat bantu. 4 = ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas. Intervensi : Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan. R/ mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi. Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas. R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karenaketidak mampuan ataukah ketidakmauan. Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu. R/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif. R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi. R/ sebagai suaatu perencanaan sumber untuk

mengembangkan

d a n mempertahankan /

meningkatkan mobilitas pasien. 6. Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma. Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol. Kriteria hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.

Intervensi :

- Pantau tanda-tanda vital. R/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan

t e r u t a m a b i l a s u h u t u b u h meningkat. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik. R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen. Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti i n f u s , k a t e t e r , drainase luka, dll. R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial. Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit. R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadiakibat terjadinya proses infeksi. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik. R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.

DAFTAR PUSTAKA

Boedihartono, 1994, Proses Keperawatan di Rumah Sakit. EGC : Jakarta. Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakarta. Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. EGC : Jakarta. Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta. FKUI. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu bedah. Binarupa Aksara : Jakarta Hudak, C.M. 1999. Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC. Mowschenson, Peter M. 1990. Segi Praktis Ilmu Bedah Unt uk

p e m u l a . Edisi 2. Binarupa Aksara : Jakarta Nasrul Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC. Jakarta. Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner

a n d Suddarth Ed.8 Vol .3. EGC : Jakarta. Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC: Jakarta.