Anda di halaman 1dari 25

A.

Latar Belakang Masalah Dalam perpolitikan global, permasalahan tenaga nuklir telah

menjadi perhatian serius, khususnya pasca perang dunia kedua. Yaitu, semenjak Amerika Serikat menjadi pemenang setelah membombardir Jepang pada 6 dan 9 Agustus 1945. Peristiwa berikutnya menjadi pengembangan isu tentang permasalahan senjata bertenaga nuklir dari konflik perlombaan senjata antara dua kubu yaitu barat (West) yang dikepalai oleh Amerika Serikat (AS) dan Timur (East) yang dikepalai oleh Uni Soviet, dan berakhir ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara terkuat di internasional (Holloway 1981). Di era kontemporer, isu pengembangan nuklir masih menjadi perbincangan yang serius, khususnya pengembangan nuklir yang dilakukan oleh Iran karena menyangkut masalah perdamaian dunia dan khususnya timur tengah. Masyarakat internasional khususnya Amerika Serikat dan sekutunya mengkhawatirkan adanya penyelewengan yang dilakukan oleh Iran atas pengembangan program nuklirnya. Karena Iran dianggap telah memproduksi senjata berbahan dasar nuklir yang memaksa negara-negara dunia khususnya AS dan DK PBB menjadikan isu nuklir Iran sebagai agenda penting saat ini (Izadi & Saghaye 2007). Dengan mengacu pada fenomena diatas, maka timbul pertanyaan, mengapa Iran mengambangkan program nuklir?. Sejak terpilih menjadi presiden Iran pada tahun 2005, Mahmoud Ahmadinejad berencana untuk mengembangkan program nuklir Iran. Ada beberapa alasan mengapa Ahmadinejad melakukan pengembangan nuklir Iran. Pertama, tekhnologi nuklir adalah hak legal bangsa Iran yang sudah menjadi tuntutan hampir seluruh rakyat Iran dari berbagai haluan yang berbeda. Kedua, tekhnologi nuklir adalah tekhnologi yang rumit dan maju. Pengembangan tekhnologi ini jelas merupakan tamparan bagi hegemoni barat yang, menurut Ahmadinejat, selalu mengekang kemajuan apapun dan dunia

yang ingin dicapai negara-negara Islam. Ketiga, pencapaian sebesar dan sekolosal ini akan menjadi dorongan semangat yang besar bagi rakyat Iran yang telah dilanda berbagai tekanan, embargo, dan kekangan dunia barat setelah revolusi Iran 1979. Keempat, tekhnologi nuklir dengan mudah akan menempatkan Iran dalam kategori negara maju secara cepat. Bila Iran secara cepat memanfaatkan kebutuhan nuklir untuk kebutuhan listriknya, maka Iran akan mendapatkan beberapa keuntungan jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, seiring meroketnya harga minyak dunia, Iran akan mendapatkan devisa lebih besar dengan mengekspor minyak dan gas. Dalam jangka panjang, Iran akan menjadi negara yang mandiri dalam segala bidang (Izadi & Saghaye 2007). Alasan ini menjadikan Iran sampai saat ini tetap konsisten untuk mengembangkan program nuklirnya. Akan tetapi pengambangan program nuklir Iran ini tidak disambut positif oleh AS, ini terbukti ketika Dalam sidang Dewan Gubernur IAEA 13 September 2004, AS menekan IAEA agar salah satu putusan sidang IAEA tersebut adalah membawa masalah nuklir Iran ke Dewan Keamanan PBB (DK PBB). AS telah berulang kali dalam berbagai kesempatan menuduh Iran telah menggunakan program nuklir sipil sebagai "topeng" bagi pengembangan program senjata nuklirnya. Sebagaimana diungkapkan Menlu Colin Powell 1 September 2004 lalu selepas menghadiri pelantikan Presiden Panama, AS tengah mempelajari dan menjajaki beragam kemungkinan untuk mendapatkan sanksi DK PBB atas program nuklir Iran, baik sanksi yang bersifat politik, ekonomi, dan diplomatik maupun bentuk sanksi lainnya. Powell sendiri kini telah menugaskan para diplomat AS untuk melobi anggota IAEA untuk tujuan dimaksud yaitu membawa program nuklir Iran ke sidang DK PBB (Powell 2004). Pada tahun 2006, DK PBB menetapkan resolusi DK PBB no.1737 atas Iran dengan tujuan untuk menghentikan program nuklir Iran yang dianggap sudah mengkhawatirkan perdamaian dunia. Akan tetapi Iran

menolak resolusi ini dan tetap melanjutkan program nuklirnya (Subject Index 2008). DK PBB kemudian memberikan sanksi tambahan berupa resolusi DK PBB no.1747 pada tahun 2007 yang berisi larangan secara menyeluruh ekspor senjata Iran maupun pembatasan penjualan senjata ke Iran (United Nation 2007). Resolusi ini sebagai perluasan sanksi untuk menghentikan program nuklir Iran. Dan Iran tetap bersikukuh untuk menolak resolusi DK PBB No.1747 tersebut. Dengan alasan selain setiap negara berdaulat dibolehkan untuk mengembangkan tenaga nuklir untuk tujuan damai, ada beberapa negara yang termasuk dalam anggota tetap DK PBB memiliki senjata-senjata nuklir. Akan tetapi DK PBB tidak mempermasalahkannya dalam tingkat internasional. Iran tetap melakukan pengembangan program nuklir walaupun DK PBB telah memberikan beberapa sanksi atas pengembangan nuklirnya. Oleh karenanya, Iran diberikan sanksi berupa Resolusi DK PBB no.1803 yang ditetapkan pada tahun 2008. Resolusi ini menambahkan sanksi terhadap Iran antara lain berupa larangan berpergian dan pembekuan aset-aset para pejabat Iran yang terkait dengan program pengembangan nuklir serta menerapkan larangan bepergian terhadap mereka yang terlibat banyak dalam aktivitas sanksi pengembangan atas Iran tidak nuklir. Dengan Iran diberikannya tambahan membuat

menghentikan program pengembangan nuklirnya, karena menurut Iran, melanjutkan program pengembangan nuklir dan menolak resolusi DK PBB adalah suatu upaya untuk mempertahankan haknya, dimana setiap negara memiliki hak yang sama dalam mengembangkan nuklir untuk tujuan damai (United Nation 2008). Dalam kaitannya dengan permasalahan tentang pengembangan nuklir Iran, hal ini telah membawa Indonesia untuk berperan sebagai salah satu aktor dalam menentukan suatu keputusan di DK PBB, yaitu sebagai anggota tidak tetap DK PBB. Posisi dan sikap Indonesia sangat dilematis

menyangkut masalah nuklir Iran. Ini terbukti dari kebijakan luar negeri Indonesia yang berubah-ubah dalam menyikapi permasalahan nuklir Iran. Perubahan-perubahan sikap tersebut disebabkan oleh beberapa faktor sehingga yang pada awalnya Indonesia mendukung pengembangan nuklir Iran pada tahun 2006, kemudian mendukung resolusi DK PBB no.1747 tahun 2007 dan menolak pengembangan nuklir Iran, dan yang terakhir memilih untuk abstain terhadap resolusi DK PBB no.1803 tahun 2008. Dukungan Indonesia terhadap pengambangan nuklir yang

dilakukan oleh Iran pada tahun 2006, karena Indonesia akan melakukan kerjasama dalam hal pengambangan nuklir dengan Iran. seperti yang dikatakan Alaeddin Boroujerdi, utusan khusus presiden Iran ketika berkunjung ke Jakarta, bahwa Iran siap bekerja sama dengan Indonesia dalam hal teknologi nuklir berdasarkan ketentuan internasional dan di bawah NPT (Non Proliferation Treaty). Boroujerdi juga bertemu dengan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, untuk menyerahkan pesan tertulis khusus dari presiden Ahmadinejad. surat tersebut berisikan tentang harapan Republik Islam Iran agar Indonesia dapat memainkan peran konstruktif untuk membantu penyelesaian masalah nuklirnya (Boroujerdi 2006). Oleh karena itu, pemerintah Indonesia mendukung pengambangan program nuklir yang dilakukan Iran. Sikap Indonesia berubah ketika Indonesia telah menjadi anggota tidak tetap DK PBB pada Januari tahun 2007. Ketika Iran dijatuhi sanksi berupa resolusi DK PBB no.1747, Indonesia mendukung resolusi tersebut. hal ini didasarkan pada landasan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, yaitu meskipun Indonesia dan Iran adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, akan tetapi Indonesia tetap bersikap objektif dalam menyikapi permasalahan terkait nuklir Iran ini. Dukungan Indonesia terhadap resolusi DK PBB no.1747 juga dikarenakan laporan dari Badan Urusan Atom Internasional (IAEA) yang menyatakan bahwa Iran belum menunjukkan sikap yang koperatif dengan IAEA mengenai transparansi pengembangan program nuklirnya (Yanto, n.d.).

Sikap

abstain

Indonesia

pada

resolusi

DK

PBB

no.1803

mendasarkan keputusan pada laporan Badan Urusan Atom Internasional (IAEA). Laporan pada 22 Februari 2008 itu menunjukkan, dalam derajat kerja sama yang dibangun antara Iran dan IAEA sudah terdapat kemajuan-kemajuan. Transparansi juga sudah diperlihatkan oleh Iran. Dengan demikian laporan IAEA sekarang berbeda dari laporan IAEA tahun 2006 dan 2007. semua ini menunujukkan adanya kemajuan. Namun, di sisi lain, ada keputusan-keputusan dalam resolusi sebelumnya yang belum dilakukan oleh Iran, seperti penghentian pengayaan uranium. Itulah yang membuat Indonesia memutuskan abstain. Perubahan sikap Indonesia ini juga datang dari beberapa kalangan di internal Indonesia sendiri, yaitu beberapa organisasi masyarakat Islam dan Komisi I DPR-RI yang menentang dukungan Indonesia terhadap resolusi DK PBB no.1747 (Wuryandari 1999). Oleh karena itu, penelitian ini akan mencoba mencari jawaban dan mencoba menerangkan bagaimana perubahan kebijakan luar negri RI tersebut dapat terjadi. Konsep utama yang tepat di gunakan dalam penelitian ini adalah konsep Kebijakan Luar Negeri yang akan berkaitan langsung dengan Kepentingan Nasional (national interest) -turunan dari teori realisme yang dicetuskan oleh Hans Morgenthau dalam bukunya yang berjudul Politic Among Nations-. Konsep ini peneliti anggap tepat karena dalam menganalisis kebijakan luar negeri suatu negara tidak akan lepas dari kepentingan nasionalnya, seperti yang diungkapkan oleh Hans J. Morgenthau, bahwa esensi dari politik luar negeri adalah kepentingan nasional. Maksudnya adalah bahwa politik luar negeri suatu negara didasarkan kepada kepentingan politik domestik, atau bahwa politik luar negeri merupakan kepanjangan tangan dari politik dalam negeri yang diformulasikan dalam kepentingan nasional Negara tersebut. 1

Jack C. Plano dan Roy Olton, Kamus Hubungan Internasional, (Jakarta: Putra A. Bardin, 1999), hlm. 5.

Dengan demikian, konsep kebijakan luar negeri akan membantu peneliti dalam menganalisis keterkaitan antara politik luar negeri Indonesia di DK PBB tentang sanksi resolusi yang dijatuhkan terhadap Iran terkait pengembangan memudahkan nuklirnya peneliti dan kepentingan mengetahui nasionalnya. alasan Sehingga atas untuk Indonesia

ketimpangan sikapnya di DK PBB. B. 1. Rumusan Masalah Mengapa Sikap Indonesia Berubah-ubah dalam menanggapi resolusi DK PBB terkait isu nuklir Iran tahun? 2. Faktor apa saja yang menyebabkan sikap Indonesia berubahubah? 3. Bagaimana proses pembentukan kebijakan luar negeri RI dalam menyikapi resolusi DK PBB atas pengembangan nuklir Iran? 4. Mengapa DK PBB menjatuhkan resolusi kepada Iran atas pengembangan program nuklirnya? 5. C. Mengapa Iran mengembangkan program nuklir? Tujuan Penelitian Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan pengetahuan yang mendalam tentang topik yang peneliti ambil. Secara spesifik, penelitian ini memiliki beberapa tujuan, Pertama adalah untuk mengetahui alasan dari perubahan sikap Indonesia dalam menanggapi resolusi DK PBB terkait isu nuklir Iran. Kedua, untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi perubahan sikap Indonesia tersebut. Ketiga, untuk mengetahui proses pembentukan kebijakan luar negeri Indonesia dalam menyikapi resolusi DK PBB atas pengembangan nuklir Iran. Keempat, untuk mengetahui alasan DK PBB menjatuhkan resolusi kepada Iran atas pengembangan nuklirnya. Dan yang kelima adalah untuk mencari tahu alasan Iran untuk mengembangkan program nuklir.

D.

Signifikansi Penelitian Dalam penelitian ini, terdapat dua signifikansi yang akan dicapai;

yaitu aspek keilmuan yang bersifat teoretis dan aspek fungsional yang bersifat praktis. Dari sisi keilmuan, pengungkapan kebijakan luar negeri yang ditekankan pada formulasi kebijakan yaitu: penentuan tujuan yang hendak dicapai (selection of objectives) dan pengerahan sumberdaya dan alat-alat untuk mencapai tujuan tersebut ( mobilizations of means) serta pelaksanaannya (impelementation)2 studi kasus Indonesia. Tujuan yang bersifat praktis dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana peranan Indonesia terkait isu nuklir Iran dan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sikap yang diambil oleh indonesia terhadap nuklir Iran. Selain itu, juga untuk menganalisis bagaimana upaya Indonesia melalui kebijakan luar negerinya dalam rangka menyelesaikan atau rekonsiliasi krisis nuklir Iran. E. Literatur Review Tidak banyak kalangan, baik berupa kelompok maupun akan diuji secara empiris dengan

perseorangan yang menulis buku terkait kebijakan luar negeri RI mengenai nuklir Iran. Baik sejak Fase Pertama nomor 1696, Fase Kadua 1737, Fase ketiga : 1747 hingga Fase Keempat 1803. Meskipun ada, tulisan tersebut hanya berbentuk opini, baik yang dimuat di media cetak maupun elektronik. Namun demikian, penulis mencoba memberikan gambaran beberapa penulis yang sempat mengangkat isu tersebut menjadi buku. Teguh Santosa dalam bukunya berjudul Komisi I: Senjata, Satelit, Diplomasi sempat membahas Kebijakan Luar Negeri RI terhadap isu nuklir Iran. Terkait resolusi 1747 yang disebut-sebut sebagai sikap seorang teman yang tega melempar batu kepada teman dekatnya sendiri,
2

Lenter, Howard (1974). Foreign Policy Analysis: A Comparative and Conceptual Approach. Ohio: Charles Merril Publishing Company. hlm. 3

Teguh memberikan penjelasan yang cukup rinci mengenai resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), berikut problematika dan polemik yang kemudian mengiringinya. Ia menjelasakan bahwa alasan Hasan Wirayuda, yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, terkait adanya perbedaan sikap RI terhadap terhadap isu Nuklir Iran, setidaknya disebabkan oleh dua sudut pandang, internal dan eksternal. Internal misalnya, adanya perbedaan sikap Polugri terhadap isu nuklir Iran didasarkan pada adanya kritikan pedas dari beragam kelompok masyarakat, khususnya mereka yang memiliki basis ormas keagamaan, semisal Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan juga Front Pembela Islam untuk bersikap objektif. Disamping itu juga, alasan lainnya adalah adanya musyawarah antara Komisi I dan pihak Departemen Luar Negeri Indonesia yang kemudian dijadikan argumentasi pada resolusi berikutnya, yakni nomor 1803.3 Sementara eksternal, sikap tegas RI dalam bersikap pro terhadap resolusi nuklir Iran nomor 1747 dan 1803 lebih di dasarkan pada sikap Iran yang dari waktu ke waktu terlihat semakin introvert dan enggan melakukan transparansi program nuklir terhadap dunia Internasional. Kedua analisis ini ia dasarkan pada hasil musyawarah antara Menlu Hasan Wirayuda dan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada rapat kerja yang dibagun atas pengajuan interpelasi dari beberapa fraksi yang ada di Komisi I sebagai respon terhadap resolusi 1747, yang hasil musyawarahnya ada empat poin; Pertama, Komisi I kecewa atas sikap Indonesia yang menyetujui Resolusi 1747 DK PBB. Resolusi itu disebutkan tidak sesuai dengan
3

Santosa, Teguh, et.al,2009, komisi 1 ; senjata, satelit, dan diplomasi, jakarta: Suara Harapan

Bangsa.

aspirasi masyarakat indonesia yang mendukung perjuangan negara berkembang, termasuk Iran untuk memperoleh keadilan dan mewujudkan hak-haknya termasuk hak mengembangkan teknologi nuklir untuk kepentingan damai. Kedua, Komisi I berpendapat bahwa Resolusi 1747 DK PBB lebih mengedepankan sanksi yang tidak adil terhadap Iran, empersempit ruang dialog, meningkatkan ketegangan yangd apat menjadi konflik baru timur tengah, serta pintu masuk bagi pelanggaran kedaulatan Iran. Ketiga, Komisi I mendesak pemerintah untuk secara konsisten memperjuangkan hak-hak negara di dunia dalam mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai, menentang negara-negara yang ingin membuat senjata nuklir, serta mendesak negara-negara yang memiliki senjata nuklir mereka. Dan keempat, untuk mengndari kesalahan persepsi terhadap sikap pemerintah menyetujui Resolusi 1747, komisi I meminta pemerintah untuk menyosialisasikan isi Resolusi 1747 dan alasan pemerintah memberikan persetujuan tersebut kepada publik.4 Tidak hanya itu saja, penjelasan yang disuguhkan dalam bukunya tersebut juga memberikan beragam penjelasan mengenai sikap RI yang kembali mereda hubungan harmonis dengan Iran melalui kunjungan ketua DPR Agung Laksono dan kemudian disusul SBY. Namun demikian, dari beragam penjelasan dan pemaparan yang diungkapkan oleh Santosa, tulisan tersebut hanya memberikan gambaran mengenai konstelasi problem antara RI dan Iran, dengan reportase khas wartawan. Meskipun cukup lengkap secara kronologis, Studi yang dilakukan teguh kurang mendalam. Selain Teguh Santosa, Dana Permana juga melakukan studi yang sama. Permana boleh dibilang melakukan studi yang lebih mendalam
4

Ibid,.

tentang tema ini ketimbang Santosa. Permana menulis Politik Luar Negeri Indonesia dan Dewan Keamanan PBB: Studi Kasus Peranan Indonesia dalam Penanganan Krisis Nuklir Iran di DK PBB Tahun 2006 sebagai tugas akhirnya (Skripsi) di Universitas Sumatera Utara. Menurut Permana, sebagai anggota tidak tetap DK PBB, Indonesia memilki hubungan yang dekat dengan Iran. Namun sebagai Negara, sejatinya Indonesia memiliki kepentingan nasional ( national interest). Skripsi tersebut menyoroti kebijakan luar negeri RI di DK PBB menyangkut program nuklir Iran. Secara khusus Permana menganalisa arah kebijakan dan kepentingan luar negeri RI pada masa itu 5. Namun skripsi Permana tampaknya sangat kacau. Meskipun boleh dibilang Permana telah melakukan studi mendalam mengenai tema ini, terdapat banyak kesalahan elementer dalam metodologi Ilmu Hubungan Internasional. Secara kasat mata, kekacauan mendasar tersebut dapat dilihat dari judul skripsinya. Tidak jelas yang mana yang merupakan unit analisa dan unit eksplanasi dari studi ini, ditambah lagi sangat banyak dicantumkan deskripsi dan data-data yang tidak perlu dipaparkan dan dijelaskan dengan panjang lebar. Misalnya, awal Indonesia masuk PBB, keluar-masuk dan pasang-surut hubungan Indonesia dengan PBB, yang kesemuanya tidak relevan dan signifikan dengan studi yang dilakukan. Sementara Permana melupakan variabel lain yang jauh lebih penting, yakni proses formulasi kebijakakan luar negeri RI mengenai program nuklir Iran. Selain dua studi di atas, Khodijatul Fajriah melakukan studi yang kurang lebih sama, meskipun dengan rentang waktu yang berbeda. Fajriah menulis tesis Masternya di Universitas Indonesia dengan judul; Hubungan Diplomatik Iran-Indonesia: Studi tentang Kebijakan

Permana, Dana. 2009. Hubungan Diplomatik Iran-Indonesia: Studi tentang Kebijakan Pengembangan Nuklir Iran dan Pengaruhnya terhadap Hubungan Diplomatik Iran-Indonesia 20052007. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Pengembangan Nuklir Iran dan Pengaruhnya terhadap Hubungan Diplomatik Iran-Indonesia 2005-2007. Dalam tesis-nya tersebut, Fajriah mempelajari pengembangan nuklir Iran dan mendapati tujuan-tujuan pemertintah Iran mengembangkan teknologi nuklir. Diantaranya, sebagai sumberdaya alternatif yang bisa dimanfaatkan oleh rakyat Iran dan untuk kepentingan riset atau penguasaan teknologi pengolah materi dari bahan nuklir. Fajriah juga mengungkapkan argument utama pemerintah Iran, bahwa sebagai salahsatu Negara yang menandatangi Non-proliferation Treaty (NPT) mereka berhak mengembangkan energy nuklir untuk tujuan damai 6. Sementara di pihak AS, Fajriah menemukan alasan sebenarnya AS menolak pengembangan nuklir Iran. Menurut Fajriah, penolakan yang mendorong AS membawa masalah itu ke sidang Dewan Keamanan PBB dikarenakan; 1) AS menuduh Iran berada di balik gerakan-gerakan yang menentang AS di berbagai Negara. 2) Iran banyak mendapat dukungan dari China dan Rusia. 3) AS menuding Iran membentuk aliansi baru dengan Negara-negara sosialis Amerika Latin yang anti-AS. 4) AS menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik. 5) As menganggap independensi Iran akan mengganggu hegemoni AS di Timur Tengah7. Selanjutnya, Fajriah mengulas dengan lebih mendalam seputar respons dalam negeri terhadap sikap pemerintah Indonesia yang mendukung Resolusi DK PBB 1747. Fajriah pun kemudian menjelaskan dengan baik pengaruh dari pengembangan nuklir Iran dan sikap RI di DK PBB terhadap hubungan diplomatik kedua Negara. 8

Fajriah, Khodijatul. 2008. Hubungan Diplomatik Iran-Indonesia: Studi tentang Kebijakan Pengembangan Nuklir Iran dan Pengaruhnya terhadap Hubungan Diplomatik Iran-Indonesia 20052007. Jakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia.
7

ibid ibid

Namun lagi-lagi, seperti Permana, Fajriah tidak menjelaskan bagaimana proses kebijakan luar negeri RI mengenai Resolusi DK PBB diformulasikan. Fajriah gagal melihat persepsi, motivasi dan posisi RI sehingga bersikap mendukung resolusi DK PBB 1747. Senada dengan Fajriah, Zika Zakia juga mengungkap berbagai hal tentang pengembangan Nuklir Iran dalam skripsinya di Universitas Indonesia dengan judul Peran Ahmadinejad tentang Kebijakan Nuklir Iran . Namun, Zakiya lebih berfokus pada peran Ahmadinejad 9. Hosianna Rugun Anggreni Rajagukguk juga melakukan studi dengan subjek yang sama. Namun Rajagukguk, mengambil sudut pandang berbeda dalam melakukan studi ini. Dalam tesisnya yang berjudul Sikap Kritis Parlemen terhadap Kebijakan Luar Negeri Indonesia dalam Kasus Resolusi DK PBB tentang Isu Nuklir Iran, Rajagukguk juga mengungkap bagaimana pengembangan nuklir di Iran begitu pula sikap Indonesia di Dewan Keamanan PBB 10. Namun, seperti yang telah tertera pada judul tesis-nya, Rajagukguk lebih menitik-beratkan perhatiannya pada sikap kritis parlemen (Dewan Perwakilan Rakyat) RI, sementara pembahasan mengenai kebijakan luar negeri dan program nuklir itu sendiri hanya untuk menjelaskan fokus studinya.

F.

Kerangka Pemikiran Dalam melakukan sebuah penelitian dibutuhkan suatu alat analisis

(teori/pendekatan/konsep)

untuk

menjadikan

penelitian

menjadi

terstruktur dan sistematis, sehingga menjadikan suatu penelitian tersebut lebih terarah. Oleh sebab itu, penulis menggunakan pendekatan
9

Zakia, Zika. 2009. Peran Ahmadinejad tentang Kebijakan Nuklir Iran. Depok: Universitas

Indonesia.
10

Rajagukguk, Hosianna Rugun Anggreni. 2009. Sikap Kritis Parlemen terhadap Kebijakan Luar Negeri Indonesia dalam Kasus Resolusi DK PBB tentang Isu Nuklir Iran. Jakarta: Universitas Indonesia.

Kebijakan Luar Negeri dalam melakukan penelitian yang berjudul Kebijakan Luar Negeri RI terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB tentang Pengembangan Nuklir Iran Tahun 2007-2008. Sehingga dibutuhkan suatu pemahaman mengenai Kebijakan Luar Negeri, kemudian arah kebijakan luar negeri Indonesia pada periode yang terkait dengan penelitian ini. Definisi kebijakan luar negeri mencakup semua bidang dalam berhubungan dengan negara lain. Terdapat perbedaan dalam mendefinisikan kebijakan luar negeri dalam studi HI dengan penekanan yang berbeda pula11. Kegley dan Wittkopf misalnya, menekankan bahwa kebijakan luar negeri adalah the decisions governing authorities make to realize international goals12, atau keputusan-keputusan yang diambil oleh otoritas yang memerintah demi mencapai tujuan-tujuan internasionalnya. Dengan kata lain, kebijakan atau politik luar negeri suatu Negara merupakan keputusan yang diambil oleh pemerintah yang memiliki otoritas atau legitimasi. Keduanya menekankan perhatian pada nilai-nilai yang mendasari perumusan tujuan suatu negara serta alat-alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam mengeluarkan kebijakan luar negeri, perlu adanya

perumusan yang dilakukan secara matang melalui suatu tahapan yang disebut sebagai decision making process. Decision making process ini diperngaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Yang termasuk internal adalah individu, grup, birokrasi, dan sistem nasional sedangkan yang termasuk eksternal adalah sistem global yang menaungi negaranegara di dunia. Salah satu model pembuatan keputusan yang digunakan oleh suatu negara adalah Rational Choice. Dalam model ini politik luar negeri dipandang sebagai akibat dari tindakan-tindakan aktor rasional, terutama
11

Jemadu, Aleksius (2008). Politik Global: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu. hlm. 64.

12

Kegley, Charles W dan Eugene R. Wittkopf (2003). World politics: Trend and transformations. Belmont: Wadsworth. hlm. 63.

suatu pemerintah yang monolit, yang dilakukan sengaja untuk mencapai suatu tujuan. Dalam rational choice, tiap aktor pasti akan memaksimalkan goals dan objective (rust benefit calculation). Aktornya merupakan aktor tunggal, yaitu pemerintah unitary decision maker. Model ini dilakukan untuk menghadapi permasalahan yang spesifik. Rational choice menganggap action as rational choice komponennya meliputi:13 a) Goals and objectives : tujuan-tujuan apa yang diinginkan b) Option : opsi-opsi yang dilakukan negara sebelum memutuskan, contohnya apakah negara akan melakukan invasi, pendekatan/penekanan diplomatic, blockade dan sebagainya. c) Concequences : konsekuensi yang didapat apabila melakukan suatu kebijakan atau tidak melakukan kebijakan tersebut. d) Choice-value maximisting Menurut K.J. Holsti, ada tiga kriteria untuk mengklasifikasi tujuan politik luar negeri suatu negara yaitu nilai, jangka waktu pencapaian (panjang, pendek dan menengah), tipe tuntutan yang diajukan suatu negara kepada negara lain, serta tingkat urgensi kepentingan tersebut (vital interest: kepentingan yang sangat tinggi nilainya sehingga suatu negara bersedia untuk berperang dalam mencapainya serta secondary interest yang bisa dilakukan dengan jalur lain seperti kerjasam dan perundingan).14 Menurut Robinson dan Richard C. Snyder, maksud utama penelaahan proses pembuatan keputusan (politik luar negeri) adalah untuk mengetahui apakah dan bagaimana proses keputusan mempengaruhi isi keputusan yang dihasilkan. Kerangka acuan yang biasa diterapkan untuk setiap negara tujuannya adalah membuat generalisasi tentang semua negara. Kerangka acuan yang mereka
13

http://kuliahnpm.freeforums.org/post1445.htmlw diakses pada tanggal 19 Juni 2011 jam 13.48wib Ibid,.

14

tawarkan ini dikembangkan pertama kali oleh Snyder berdasarkan gagasan sederhana, yaitu : pertama, semua tindakan politik dilakukan oleh umat manusia yang konkrit. Kedua, Apabila kita ingin memahami dinamika dari tindakan ini seharusnya bukan dipandang dari sudut pandang kita melainkan perspektif orang yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan. Synder juga berpendapat bahwa dalam usaha memahami tindakan negara dengan tepat, sangat penting untuk mengetahui siapa yang membuat keputusan penting yang menyebabkan timbulnya suatu tindakan tertentu dan menilai proses-proses intelektual dan interaktif yang ditempuh para pembuat keputusan dalam usaha mencapai suatu keputusan.15 Sebagai usaha untuk menjelaskan mengapa terjadi perubahan kebijakan luar negeri Indonesia terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1747 dan 1803, Penelitian ini tentu saja menjadikan Kebijakan Luar Negeri Indonesia sebagai unit analisa atau variabel dependen. Penentuan variabel independen atau unit eksplanasi dalam sebuah penelitian HI biasanya dapat didekati dengan tingkat analisa yang akan digunakan. Dalam hal ini, terdapat tiga tingkat analisa yang akan digunakan, yaitu internasional. Sebagai keputusan yang diambil, kebijakan luar negeri suatu Negara, dalam hal ini Indonesia, harus dapat didekati, dipahami, dideskripsikan dan dijelaskan dengan baik serta secara ilmiah. Graham T. Allison mengajukan tiga model dalam menjelaskan proses pembuatan keputusan politik luar negeri, Yaitu: model aktor rasional, model proses organisasi dan model politik-birokratik. 16 Model yang paling pas untuk menjelaskan kedua perubahan sikap Indonesia mengenai program nuklir Iran adalah model politik-birokratik.
15

individu, Negara bangsa

dan

sistem regional-

Ibid,. Allison, Graham T. 1971. Essence of Decision. Boston: Little, Brown.hlm 97

16

Karena, model aktor rasional dan model proses organisasi lebih cocok digunakan untuk Negara-negara yang mempunyai konsistensi dalam kebijakan luar negeri.17 Selain itu, dengan melihat politik luar negeri Indonesia yang merupakan hasil interaksi, penyesuaian dan perpolitikan di antara berbagai aktor dan organisasi dalam negeri, maka model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model politik-birokratik. Lebih lanjut, pemilihan model ini dikarenakan dalam proses pembuatan keputusan kebijakan luar negeri di Indonesia, terdapat berbagai macam persepsi, motivasi, kekuasaan dan manuver aktor-aktor yang terlibat di dalamnya. 18 Oleh karenanya, penelitian ini menggunakan analisa korelasionis untuk menjelaskan perubahan-perubahan kebijakan luar negeri Indonesia, sebagai akibat dari karakteristik pembuatan keputusan. Sehingga unit eksplanasi-nya sama dengan unit analisanya yaitu, Negara-bangsa. Penelitian ini juga akan menggunakan variabel ekstra, sebagai pelengkap untuk menjelaskan hubungan variabel dependen dan variabel independen. Variabel ekstra tersebut adalah kondisi objektif internasional untuk melengkapi penjelasan tentang akibat dari proses pengambilan keputusan terhadap kebijakan luar negeri. Sebagai variabel ektsra dalam penelitian ini, kondisi objektif internasional tidak berpengaruh langsung terhadap variabel dependen atau kebijakan luar negeri Indonesia. Melainkan, kondisi objektif internasional tersebut melengkapi persepsi, motivasi, kemampuan para aktor yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Sehingga dapat dipastikan, bahwa kita bisa mengetahui hubungan dua variabel asli dengan lebih baik dengan kelengkapan dari variabel ekstra.
17

ibid Rajagukguk, Hosianna Rugun Anggreni. 2009. Sikap Kritis Parlemen terhadap Kebijakan Luar Negeri

18

Indonesia dalam Kasus Resolusi DK PBB tentang Isu Nuklir Iran. Jakarta: Universitas Indonesia. Hlm 22

Dalam konteks Indonesia, tidak lengkap apabila politik luar negerinya terbentuk hanya dikaitkan dengan faktor eksternal (dinamika politik luar negeri) saja. Faktor domestik juga berpengaruh dalam pembentukkan suatu kebijakan luar negeri Indonesia. Sebagian pengamat berpendapat bahwa formulasi dan implementasi politik luar negeri Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor internal (domestik) dibandingkan dengan eksternalnya (internasional). Weinstein, misalnya, dengan tegas menyatakan bahwa fungsi utama politik luar negeri Indonesia, yaitu mempertahankan kemerdekaan nasional terhadap setiap kemungkinan ancaman dari luar, memobilisasi sumber daya dari luar untuk kepentingan pembangunan ekonomi, dan untuk mencapai berbagai tujuan yang berkaitan dengan kompetisi politik domestik. (Franklin B. Weinstein, hlm 356-381) Hasan Wirajuda memperkenalkan model teoretik dari diplomasi yaitu sebuah model yang mengedepankan pluralisme politik melalui perkawinan antara praktisi, teoretisi dan publik. Konsep Hasan ini mengandung pesan bahwa keterlibatan warga negara secara langsung dalam policy network dianggap sebagai suatu yang sentral bagi pemerintah dalam pembuatan kebijakan luar negeri. Dengan demikian kebijakan luar negeri bukan menjadi domain Departemen Luar Negeri semata, sebab isu-isu internasional bukan hanya menuntut pluralisasi dalam pembuatan keputusan luar negeri, tetapi juga pengakuan akan pentingnya kesetaraan antara apa yang dianggap sebagai kebijakan luar negeri dan kebijakan luar negeri. 19 Prinsip politik luar negeri Indonesia adalah bebas aktif yang telah jelas dimuat dalam UUD 1945 yang mana menuntut Indonesia untuk menentang segala bentuk penjajahan dan ikut memajukan perdamaian dunia. Jika hal ini dipahami secara universal, maka dapat dikatakan bahwa
19

Indonesia

menganut

prinsip

anti-kolonialisme

dan

anti-

Wuryandari, Ganewati dkk. 2008. Politik Luar Negeri Indonesia di Tengah Pusaran Politik Domestik. Jakarta: Putaka Pelajar.hlm 202

imperialisme. Prinsip bebas aktif yang dianut Indonesia mengindikasikan keengganan Indonesia untuk mengikat diri pada salah satu blok. Aspek ini secara universal kemudian dikenal dengan non-aligment policy.20 Politik luar negeri Indonesia juga mempunyai landasan-landasan yang tetap sifatnya yang lahir dari cita-cita hidup dan falsafah bangsa Indonesia. UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar dan prinsip-prinsip pokok politik luar negeri Indonesia yang akan relatif tetap tidak berubah di masa-masa mendatang. Sementara itu, cara pencapaiannya dapat bervariasi dan berubah disesuaikan dengan strategi yang akan diterapkan. Strategi yang dipilih pada umumnya akan disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi pada kehidupan politik dalam negeri Indonesia dan internasional.21 Indonesia telah mengalami enam periode pemerintahan, yaitu pada masa Pemerintahan Soekarno (orde lama), Soeharto (orde baru), dan pada masa reformasi yaitu masa pemerintahan B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Setiap periode memiliki karakteristik dalam menformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan luar negeri Indonesia sesuai dengan strategi yang digunakan dan dinamika politik internasional maupun domestik yang terjadi. Dalam membahas kebijakan luar negeri Indonesia terhadap resolusi DK PBB no.1747 dan 1803 tahun 2007-2008, periode yang tepat adalah periode pasca orde baru yaitu pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono dalam Kabinet Indonesia Bersatu tahun 20042009. Kabinet ini meletakkan landasan operasional politik luar negerinya dalam tiga program utama nasional kebijakan luar negeri, yang termuat

20

Ibid,. hlm 45 Ibid,. hlm 21.

21

dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) tahun 2004-2009, yaitu:22 1. Pemantapan politik luar negeri dan optimalisasi diplomasi Indonesia dalam penyelenggaraan hubungan luar negeri dan pelaksanaan politik luar negeri. Tujuan pokok dari upaya tersebut adalah meningkatkan kapasitas dan kinerja politik luar negeri dan diplomasi dalam memberikan kontribusi bagi proses demokratisasi, stabilitas politik dan persatuan nasional. 2. Peningkatan kerjasama internasional yang bertujuan

memanfaatkan secara optimal berbagai peluang dalam diplomasi dan kerjasama internasional, terutama kerja sama ASEAN (Association of South East Asia Nations) di samping negaranegara yang memiliki kepentingan yang sejalan dengan Indonesia. 3. Penegasan komitmen perdamaian dunia yang dilakukan dalam rangka membangun dalam dan mengembangkan berbagai semangat persoalan multilateralisme memecahkan

keamanan internasional. Dalam perubahan politik luar negeri Indonesia dalam pengambilan keputusan dalam sidang DK PBB no.1747 dan 1803 terkait isu nuklir Iran juga tidak lepas dari prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Prinsip ini telah jelas dimuat dalam Pembukaan UUD 1945 yang memuat bagian-bagian antara lain: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan
22

Ibid,.hlm 39

seluruh

tumpah

darah

Indonesia

dan

untuk

memajukan

kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksakan ketertiban dunia yang berdasar pada kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia... 23 Selain itu dalam pidatonya Mohammad Hatta yang berjudul Mendayung antara Dua Karang yang merupakan penjelasan pertama tentang politik bebas aktif dan dinyatakan di depan Badan Pekerja KNIP pada 2 September 1948, yaitu: Apakah bangsa Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan harus memilih saja antara pro-Rusia dan pro-Amerika? Apakah tidak ada pendirian lain yang harus diambil dalam mengejar citacita bangsa? Pemerintah berpendapat bahwa pendirian yang harus diambil ialah supaya Indonesia jangan menjadi objek dalam pertarungan politik internasional, melainkan ia harus tetap menjadi subjek yang berhak menentukan sikap sendiri...Politik Republik Indonesia harus ditentukan oleh kepentingannya sendiri dan dijalankan menurut keadaan dan kenyataan yang kita hadapi...Garis politik Indonesia tidak dapat ditentukan oleh haluan politik negara lain yang berdasarkan kepentingan negara itu sendiri.24 G. Operasionalisasi Konsep Menurut sebagian pengamat bahwa Kebijakan luar negeri Indonesia adalah implementasi politik luar negeri yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor internal (domestik) dibandingkan dengan eksternalnya (internasional). Weinstein, misalnya, dengan tegas menyatakan bahwa fungsi utama politik luar negeri Indonesia, yaitu mempertahankan kemerdekaan nasional terhadap setiap kemungkinan
23

Ibid,. hlm 44 Ibid,.hlm 42-43

24

ancaman dari luar, memobilisasi sumber daya dari luar untuk kepentingan pembangunan ekonomi, dan untuk mencapai berbagai tujuan yang berkaitan dengan kompetisi politik domestik. (Franklin B. Weinstein, hlm 356-381) Dari definisi ini, maka yang akan diteliti melalui kebijakan luar negeri Indonesia adalah kepentingan nasional Indonesia dan faktor domestik kemudian diikuti faktor internasionalnya yang mampu menentukan arah dari kebijakan luar negeri Indonesia di DK PBB. H. Metode Penelitian a. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan induktif, maka metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, Analisis data kualitatif adalah mencari pola data perilaku, obyek, atau pengetahuan- yang kemudian ditafsirkan dalam teori sosial. Peneliti kualitatif bergerak dari deskripsi kejadian historis atau setting sosial ke penafsiran dan artinya. Sebagaimana diketahui bahwa penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau dengan cara-cara pengukuran. b. Unit analisa Unit analisa adalah obyek yang perilakunya akan dianalisa atau disebut juga dengan variabel dependen. Maka dalam penelitian ini yang akan menjadi unit analisa adalah Kebijakan Luar Negeri Indonesia. c. Instrument Penelitian Wawancara yang mendalam (dept interview). Peneliti akan menggunakan metode wawancara tak berstruktur ( Unstructured or focused interview), yaitu wawancara yang sifatnya lebih terbuka dan bersifat informal. peneliti akan melakukan wawancara dengan beberapa orang (random) yang ada di beberapa perguruan tinggi dan beberapa orang di pemerintahan yang berkompetensi dengan topik yang akan diteliti.

d. Hipotesis Hipotesis awal yang kami dapatkan dalam menganalisa perubahan sikap Politik luar Negeri RI terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB atas isu nuklir Iran yaitu: Pada Resolusi nomor 1747, sikap Indonesia berubah menentang pengayaan nuklir Iran dengan turut serta menanda tangani resolusi yang dibuat oleh DK PBB berikut sanksi-sanksi berupa pembekuan aset-aset pengusaha Iran di luar negeri yang disinyalir memberikan pasokan finansial dalam pengayaan nuklir iran, karena Iran dinilai kurang kooperatif terhadap IAEA oleh sebagian besar actor pengambil keputusan di Indonesia. Perubahan sikap RI yang menjadi abstain pada resolusi 1803 diantaranya kritikan pedas yang datang dari berbagai kalangan, baik agamawan yang tergabung dalam beragam ormas, politisi hingga masyarakat luas yang memiliki perhatian terhadap isu nuklir Iran dan notabene beragama Islam. Dan yang jauh lebih penting adalah banyak pertimbangan tujuan yang hendak dicapai dengan sikap yang akan ditunjukkan. Perubahan sikap RI terhadap resolusi DK PBB nomor 1747 dan 1803 juga didasarkan pada perubahan taktik departemen luar negeri yang memilih melakukan musyawarah dengan DPR terlebih dahulu sebelum akhirnya keputusan bersama sampai pada kata mufakat dalam mensikapi resolusi nomor 1803. Ini berkaca pada resolusi 1747 yang banyak menuai protes. e. Metode Pengumpulan Data Dalam mengumpulkan data, peneliti akan menggunakan metode dokumentasi, yaitu mempelajari dokumen-dokumen dengan sebaik mungkin untuk memperoleh data dan informasi yang akurat dalam penelitian ini. Dokumen tersebut meliputi laporan dan berbagai artikel dari

jurnal, Koran, dan artikel-artikel dari internet yang berkaitan dengan topik penelitian. Metode ini untuk mendapatkan data sekunder. Selain itu, peneliti juga akan melakukan wawancara dengan beberapa orang (random) yang ada di beberapa perguruan tinggi dan beberapa orang di pemerintahan yang berkompetensi dengan topik yang akan diteliti. I. Teknik Analisis Data Peneliti akan memulai menganalisis data baik yang diperoleh melalui wawancara maupun yang didapat dari mempelajari dokumendokumen. Dalam menganalisis data, paling tidak penulis akan melakukan tiga fase kegiatan : 1) Reduksi, kegiatan ini pada dasarnya lebih merupakan proses seleksi data yang diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dalam catatan tertulis di lapangan. 2) Penampilan data, penataan informasi dan data yang memungkinkan penarikan kesimpulan dan tindakan yang diambil pada langkah-langkah berikutnya. 3) Penarikan kesimpulan, dalam tahap ini pada dasarnya peniliti lebih mencari; apakah data yang dikumpulkan ada keteraturan, pola, penjelasan konfigurasi yang mungkin, hubungan sebab akibat dan proposisi. (Miles dan Huberman, 1992) J. Sistematika penulisan

BAB I PENDAHULUAN Pada bab I ini, akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah, manfaat dan tujuan, teori dan juga konsep yang dipakai untuk meneliti kebijakan politik luar negeri RI terkait resolusi DK PBB isu nuklir Iran. BAB II

NUKLIR IRAN SEBAGAI ISU INTERNASIONAL HINGGA MENJADI AGENDA PBB. Pada bab II ini, persoalan yang akan peneliti bahas lebih menitik beratkan pada sejarah nuklir Iran yang beranjak naik menjadi isu internasional hingga menjadi salah satu hal utama dalam agenda DK PBB. BAB III PERIODESASI RESOLUSI DK PBB TERKAIT NUKLIR IRAN Periodesasi kami posisikan di bab III. Dalam bab ini akan peneliti terangkan mengenai tahapan-tahapan resolusi yang dikeluarkan oleh DK PBB, dari nomor 1737, 1747 hingga 1803 dari tahun 2006-2008. BAB IV SIKAP DAN TANGGAPAN INDONESIA TERHADAP ISU NUKLIR IRAN DAN RESOLUSI DK PBB TERKAIT NUKLIR IRAN Pada bab ini, peneliti akan membahas mengenai sikap yang ditunjukkan oleh indonesia dalam mensikapi isu nuklir yang diangkat oleh DK PBB menjadi agenda penting dalam hubungan internasional, berikut perubahan-perubahan sikap Indonesia dalam menanggapi isu nuklir Iran dan resolusi DK PBB. BAB V FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN LUAR NEGERI RI ATAS NUKLIR IRAN DAN RESOLUSI DK PBB TERKAIT NUKLIR IRAN Bab V ini peneliti akan lebih detail membahas mengenai faktor-faktor penting yang memiliki andil cukup besar dalam mempengaruhi perubahan sikap Indonesia terkait nuklir Iran dan resolusi yang ditetapkan DK PBB baik faktor eksternal maupun internal. BAB VI ANALISIS KEBIJAKAN LUAR NEGERI RI TERHADAP ISU NUKLIR IRAN DAN RESOLUSI DK PBB TERKAIT ISU NUKLIR IRAN

Analisis peneliti tempatkan pada bab VI. Pada bab ini peneliti akan menganalisa bagaimana peranan dan sikap Indonesia terhadap resolusi yang ditetapkan DK PBB terkait nuklir Iran serta perubahan-perubahan sikap Indonesia terkait masalah tersebut. Kemudian pada bab ini juga akan menganalisa tentang faktor-faktor yang mampu mempengaruhi perubahan sikap Indonesia terhadap resolusi DK PBB terkait nuklir Iran. BAB VII KESIMPULAN Kemudian pada bab VII berisi tentang kesimpulan dari masalah yang diangkat yaitu kebijakan luar negeri RI terhadap resolusi DK PBB tentang nuklir Iran tahun 2006-2008.