Anda di halaman 1dari 42

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

FAKTOR FISIK MEMPENGARUHI KESEHATAN DI AGRIKULTUR

Anders Thelin dan Kelley J. Donham

KEBISINGAN DAN KEHILANGAN PENDENGARAN Pendahuluan Untuk waktu yang lama program keselamatan berfokus pada proteksi jari, kaki, lengan, dan paru, tetapi hanya akhir-akhir ini telinga disadari sebagai organ penting. Pendengaran disebut indra yang dilupakan. Program untuk perlindungan pendengaran secara menyeluruh tidak diterapkan sebelum tahun 1960 atau 1970.

Tuli okupasi dapat disebabkan tidak hanya oleh paparan terus menerus terhadap bunyi tetapi juga oleh cedera kepala, ledakan, cedera termal seperti bakaran ampas bijih atau paparan terhadap zat yang bersifat ototoksik. Paparan yang lama terhadap kebisingan lebih dari 85 dB sejauh ini adalah penyebab tersering dari ketulian.

Pekerjaan berhubungan dengan ketulian, pada petani muncul seiring dengan implemetasi dari teknologi baru. Kerusakan pendengaran disebabkan oleh intensitas yang tinggi dan atau kebisingan terus menerus terkadang disebut resiko kedua dari teknologi. Petani dan penebang, untuk beberapa waktu bekerja menggunakan traktor, pemanen, gergaji, dan mesin lain tanpa adanya perlindungan. Mereka terlibat dalam pekerjaan perawatan dalam lokakarya pribadi dan terpapar impuls suara dengan intensitas tinggi tanpa adanya peralatan pencegahan atau pengetahuan tentang resiko. Jenis berbeda dari kipas angin, alat pengering, dan pabrik juga menghasilkan bahaya kebisingan. Bekerja dengan ternak dapat berhubungan dengan paparan kebisingan. Perlu diperhatikan adalah makanan manual babi.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Bersama dengan manusia lainnya pada lingkungan masyarakat industri barat, petani terpapar kebisingan dari sumber nonokupasional. Seperti menyetir mobil, pengendara motor, mesin pemotong rumput. Mereka dapat dipengaruhi oleh suara dari radio atau perangkat mendengar kebisingan lebih dari mesin traktor. Kebisingan dapat melalui hari bekerja yang panjang. Petani berburu dan menembak lebih dari orang pada umumnya impuls suara dari senapan adalah faktor resiko signifikan untuk meningkatkan ketulian.

Baru sedikit penelitian tentang paparan individu dalam pertanian atau kehutanan yang dapat dilaporkan. Itu juga merupakan kesulitan untuk memberi peta kebisingan dari pertanian. Para petani bekerja pada lingkungan kebisingan yang difersifikasi dan berubah secara konstan. Metode terbaik, bagaimanapun, yaitu mendeskripsikan tipe pekerjaan dan berhubungan dengan beban kebisingan.

Pada penelitian dari 1977 telah memperlihatkan hanya 10% dari petani yang memiiki pendengaran normal. 14% memiliki ketulian ringan. Penelitian dari waktu ini juga mengidentifikasi bahwa kebanyakan petani mengalami ketulian. Kemudian penelitian McBridadan lain mengidentifikasikan bahwa situasi dapat meningkat karena peningkatan desain mesin, meski demikian, pada kebanyakan negara tidak terdapat program konservasi untuk petani.

Kebisingan, definisi, dan Pengukuran

Suara adalah gelombang atau pergantian periode kompresi dan penjernihan dalam sebuah media elastis, seperti udara. Bising adalah suara yang tidak diinginkan. Level suara dapat diukur sebagai level tekanan suara dalam desibel (dB) unit.Nol (0) dB ialah suara samar dengan suara normal rata-rata yang dapat di dengar oleh orang dewasa muda.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Gambar 9.1. pekerjaan dengan traktor tua tanpa pelindung pendengaran

Skala dB adalah skala logaritma, yang berarti akan semakin bertambah saat terjadi peningkatan suara absolute. Formulasi dasar dari skala desibel yaitu : 1 ptot = 10 lg 10Lpn 10 1 ptot = 10 lg [10 80 10 10 80 10] 1 ptot = 83 dB

Jika satu jenis suara akan lebih daripada yang lain (lebih dari 10 dB), sehingga formula di atas akan menunjukkan suara yang lebih lemah dibandingkan dengan yang lain.

Tingkat suara atau tingkat kebisingan selalu diukur dengan menggunakan pengukur tingkat suara (sound level meter). Alat tersebut mampu untuk mengetahui jangkauan suara (2000 5000 Hz). Penyaring suara dapat digunakan saat berada di luar ruangan. Tingkat suara diberi tanda dB (A).

Manusia mampu untuk mendengar suara yang memiliki interval frekuensi 20 Hz 20000 Hz. Frekuensi yang kurang dari interval tersebut adalah suara infrasonic, sedangkan yang di atasnya adalah suara ultra sonic. Suara ultra dan infrasonic mampu untuk berefek pada manusia yang akan mengganggu telinga. Suara berbicara berada di antara 125 Hz dan 8000 Hz (dalam praktiknya, 500-3000Hz)

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

dengan tingkat suara 20 sampai 60 db (A). Tingkat kebisingan pada level 120 dB akan tidak nyaman, dan 140 dB akan timbul nyeri hebat. Bunyi gergaji mesin berada di level 110 dB dan tractor berada 80-100 dB.

Untuk memperhitungkan risiko gangguan pendengaran sangatlah penting untuk mengukur tingkat suara, waktu paparan, dan frekuensi suara. Bising dengan frekuensi tinggi dapat berbahaya lebih tinggi daripada bising dengan frekuensi rendah. Generasi pertama sound meter tidak memiliki kemampuan untuk menggambarkan rangsangan suara. Sound meter yang lebih modern memiliki kapasitas untuk menangkap impuls suara pendek. Dosimeter adalah alat sound meter yang mampu untuk mengukur tingkat suaara berkelanjutan dan dihubungkan dengaan waktu paparan total.

Bagaimana kebisingan berpengaruh terhadap sistem pendengaran Paparan bising kronik yang terus menerus diduga dapat berpengaruh terhadap pendengaran. Bising yang menyebabkan hilangnya pendengaran (noise - induced hearing loss/ NIHL) dapat terjadi ketika ambang pendengaran 25 dB atau lebih. Kejadian NIHL meningkat secara insidental. Seseorang tidak mengetahui bahwa dirinya menderita NIHL sampai terdapat gangguan pada bicara.

Paparan pada suara yang bising untuk periode singkat dapat mengakibatkan hilangnya pendengaran secara temporer/ pergeseran ambang dengar temporer (A temporary threshold shift/TTS). TTS dalam beberapar jam atau hari dapat menyebabkan suara berdenging (tinnitus) dan kesulitan mendengar. Paparan kebisingan kronik (bulan sampai tahun) dapat menimbulkan pergeseran ambang dengar secara permanen (Permanent threshold shift/PTS) yang tidak dapat disembuhkan. TTS memiliki tampilan yang sama dengan PTS, tes audiometri tidak dapat dilaksanakan 24 jam setelah paparan kebisingan.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

NIHL, kelainan anatomis terjadi karena trauma pada sel sensoris di koklea. Epitel sensoris koklea terdiri dari satu lapis dalam sel stereosilia berambut dan tiga lapis luar sel stereosilia berambut. Sel rambut ini dapat terganggu karena vaskular, kimia, dan perubahan metabolik. Struktur lain dari organon corti dapat juga terkena akibatnya. Terakhir akan terjadi degenerasi retrograde pada serabut nervus cochlearis, yang menuju pusat.

Penerimaan seseorang terhadap kebisingan berbeda karena adanya perbedaan genetik. Beberapa orang dapat bertoleransi terhadap bising kuat untuk jangka waktu lama. Sementara yang lainnya dengan cepat terjadi gangguan pendengaran pada lingkungan yang sama.

Paparan yang terlalu lama terhadap suara yang lebih dari 85 dB dapat membahayakan. Tingkat 85 dB terkadang tidak dapat melindunginya. Sehingga tujuannya untuk mengurangi kebisingan di bawah 85dB.

Paparan terhadap bising yang berbahaya dapat menimbulkan efek berfrekuensi tinggi di dalam koklea. Gangguan pendengaran dari bising terjadi saat lebih berat antara 4000-6000 Hz. Sebagai cedera yang sama, beberapa frekuensi dapat menyebaban kondisi yang demikian. Beberapa kualitas bising memiliki kesamaan frekuensi.

Telinga bagian dalam sebagian terlindungi oleh aktivitas otot telinga tengah (stapedius dan tensor timpani). Rambatan suara seperti tembakan peluru saat masuk ke koklea sebelum reflex pelindungan akustik normal timbul dalam waktu reaksi.Rangsang suara lebih dari 140 dB dapat menyebabkan gangguaan pendengaran irreversible.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Gejala dan hendaya Gajala awal dari NIHL adalah kesulitan dalam memproduki bicara di berbagai pertemuan yang banyak orang berbicara atau di sana dalam kondisi bising. Pasien dengan NIHL mendengar suara vocal (huruf hidup) lebih baik daripada suara konsonan. NIHL berakibat hilangnya frekuensi tinggi, mereka memiliki banyak kesulitan untuk memahami orang dengan suara tinggi (wanita, anak-anak)

Pertama kalinya hilang kapasitas pendengaran berkembang dari frekuensi 40006000 Hz dan terkadang tidak disadari oleh beberapa orang. Namun dapat juga hilangnya pendengaran pada jangkauan frekuensi yang lebih lebar lagi. Sebagian besar orang berbicara antara rentang 500-3000 Hz. Kehilangan kapasitas ini akan berdampak pada gangguan komunikasi. Dalam perjalanan selanjutnya diikuti dengan presbycusis (perubahan normal menuju tua) memicu gangguan yang semakin besar pada persepsi.

Beberapa penyakit lainnya dan juga kondisi yang mengakibatkan proses pendengaran harus disingkirkan selama evaluasi gangguan pendengaran. Presbycusis adalah penurunan secaara progresif , yang secara normal akan terjadi seiring berjalannya usia. Presbycusis mengakibatkan frekuensi yang lebih tinggi, kemudian akan diikuti dengan hendaya yang signifikan pada area yang lebih tinggi. Gangguan pendengaran herediter adalah kondisi dengan tampilan yang berbeda. Otoskelerosis adalah contoh kehilangan pendengaran herediter. Tiba-tiba terjadi ketulian atau mendadak akan timbul sensoryneural hearing loss merupakan satu sisi kejadian yang belum diketahui penyebabnya. Karakter masing-masing berbeda, tergantung dari prognosis yang ditimbulkan. Meniere disease, tumor, dan beberapa kelainan metabolic seperti diabetes mellitus dapat berakibat pada kapasitas pendengaran, seperti juga berkaitan dengan infeksi.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Orang yang sebelumnya telah aktif berburu, menembak, dan bertani terkadang memiliki hendaya dalam sisi sebelah kiri di sisi lateralnya. Walaupun, kehilangan pendengaran dalam NIHL kebanyakan bersifat bilateral dan simetris.

Tidak ada pengobatan dan tindakan operasi yang memungkinkan untuk menyembuhkan NIHL. Perhatian utama harus ditujukan untuk pencegahan dan tindakan yang akan mengurangi terhadap paparan. Amplifikasi pendengaran mungkin dapat membantu tapi digunakan dengan hati-hati. Beberapa pelindung pendengaran harus digunakan secara selektif, sebagai contoh yang digunakan untuk kondisi diskusi dalam grup tapi akan berbeda dengan yang digunakan pada situassi kerja (menggunakan tractor atau bekerja mengunakan gergaji). Suara peringatan di tractor atau perlengakapan teknik lainnya akan telihat pada lampu peringaan yang menyala.

Di banyak Negara kehilangan pendengaran karena pekerjaan dapat dikompensasi. Perbedaan antara NIHL dan prebyscusis adalah pada masalah dan regulasi yang terjadi. Telah dilakukan usaha untuk melakukan persamaan standarisaisi gangguan pendengaran normal beberapa waktu dan dihitung berdasarkan paparan kebisingan saat kerja.

Tinnitus Tinnitus adalah komplikasi dari NIHL. Tinnitus merupakan pnerimaan rasa berdenging suara berisik yang diterima pasien, tetapi semua itu tidak dapa di ukur (Axelsson dan Ringdahl 1989, Anderson et all 1999). Hanya pada sedikit orang dari semuanya yang memiliki masalah besar sehari-harinya. Banyak dari pasienpasien tersebut juga memiliki masalah psikologis dan psikiatrik (Holgers dkk, 2000; Zoger dkk, 2001).

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Kerusakan pada stereosilia sel rambut mungkin tidak hanya akan memicu hilangnya sinyal pendengaran tapi juga menyebabkan dengungan yang mengganggu. Bagaimanapun, nampaknya penyebab lain dari tinitus (noncochlearelated) telah dilaporkan (trauma, sklerosis multipel, beberapa jenis obat) dan mekanismenya belum sepenuhnya dimengerti (Anderson dkk, 1999). Tinitus pada hilangnya pendengaran mungkin tidak terkait dengan pajanan bising. Pasien dengan tinitus mungkin membutuhkan bantuan. Mereka yang disertai depresi dan/atau bentuk lainnya dari masalah psikologis membutuhkan pengobatan penyakit yang mendasari. Konseling psikologis dan perubahan gaya hidup dalam satu kombinasi dengan terapi kognitif dapat membantu pasien mengendalikan atau meminimalisir kesulitannya.

Tuli akibat trauma atau toksin Cedera kepala tumpul dapat menyebabkan tuli akibat fraktur tulang temporal dan cedera koklea. Ledakan, luka bakar, percikan las dapat menimbulkan rudapaksa atau penetrasi kanal telinga dan merusak struktur anatomi. Mudah untuk memisahkan antara tuli konduktif dari tuli sensoris dengan menggunakan garpu tala (512 Hz). Perforasi membran timpani akibat trauma biasanya sembuh spontan. Jika tidak, mengokulasi membran timpani juga memungkinkan. Rekonstruksi rantai osikuler juga dapat dilakukan. Beberapa substansi kimia bersifat ototoksik dn dapat menderai kokles. Sebagian besar substansi ini adalah komponen obat-obatan (aminoglikosida, antibiotik, loop diuretik, agen antineoplasma). Kombinasi obet-obat ini disertai dengan pajanan bising dapat menjadi hazard yang potensial. Pasien yang sedang dalam masa terapi harus diperingatkan tentang akibat pajanan bising. Tuli juga dapat merupakan akibat substansi ototoksik di tempat kerja. Beberapa logam berat merupakan substansi ototoksik yang dapat menjadi hazard potensial. Insektisida organofosfat di lingkungan pertanian juga memiliki efek ototoksik (Ernest dkk, 1995; Teixeria dkk, 2003). Kombinasi pestisida dan bising dapat menjadi hazard potensial. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan di area ini.

Audiometri

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Audiometri nada murni merupakan metode standar untuk screening dan menganalisis hilangnya pendegaran pada pelayanan kesehatan okupasi.

Sensitivitas nada murni yang dinilai pada frekuensi 250, 500, 1000, 2000, 3000, 4000, 6000, dan 8000 Hz untuk konduksi udara. Skala normal adalah 0-20 dB pada setiap frekuensi. Audiometri nada murni juga dapat dilakukan seperti anudiometri Bekesy. Alat ini adalah audiometri yang dikerjakan sendiri oleh pasien dimana pasien merespon sinyal dengan menekan atau melepas tombol.

dB 70

60 50 40 30 20 telinga kiri telinga kanan

10
0 125 250 500 1k 2k 3k 4k 6k 8k 10k
Hz

Gambar 9.2.

kehilangan pendengaran terinduksi kebisingan (Noise-induced

hearing loss-NIHL) ringan ; Audiogram nada murni

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

dB

80 70 60 50 40 30 20 10 0 125 250 500 1k 2k 3k 4k 6k 8k 10k


Hz

telinga kiri telinga kanan

Gambar 9.3. NIHL sedang ; Audiogram nada murni

dB100
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 125 250 500 1k 2k 3k 4k 6k 8k 10k telinga kiri telinga kanan

Hz

Gambar 9.4. NIHL berat ; Audiogram nada murni

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

dB 70
60 50 40 telinga kiri 30 20 10 0 125 250 500 1k 2k 3k 4k 6k 8k 10k telinga kanan

Hz

Gambar 9.5. kehilangan pendengaran nonorganik ; Audiogram nada murni

dB100
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 125 250 500 1k 2k 3k 4k 6k 8k 10k telinga kiri telinga kanan

Hz

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Gambar 9.6. Presbikusis ; Audiogram nada murni

Metode ini sering digunakan di OHS tetapi tidak lebih diyakini sebagai audiometri standard yang dilakukan audiolog. Audiometri Bekesy mungkin digabungkan dengan analisis computer audiogram. Program computer yang khusus untuk mengklasifikasikan kehilangan pendengaran telah dikembangkan (Klockhoff dkk, 1974)

Tes audiometri yang lebih jauh lagi, contohnya audionetri bahasa dan tes diskriminasi bahasa yang pada umumnya tidak diadakan di OHS. Pasien membutuhkan tes lebih jauh yang sebaiknya dirujuk ke tempat dengan fasilitas yang lebih baik seperti departemen audiologi.

Semua tes audiometri sebaiknya dilakukan dengan pasien yang ditempatkan di kamar yang mengisolir suara standar. Jika tidak, hasilnya tidak dapat dipercaya untuk program percakapana pendengaran atau tujuan penelitian.

Efek lain dari kebisingan Pajanan kebisingan juga mungkin menyebabkan efek nonaudiotori lainnya (deJoy 1984:Rehm 1985: Abel 1990: Sloan 1991). Kebisingan dihubungkan dengan peningkatan tekanan diastolic (Sloan 1991). Kebisingan bisa menjadi stressor, mempengaruhi kinerja pekerjaan dan meningkatkan risiko kerusakan karena gangguan persepsi bahasa dan sinyal audiotori (Choi 2005: Smith 1989: Jones 1990)

Pencegahan NIHL dapat dicegah. Kebanyakan industry-industri di negara barat telah mengatur dan merekomendasikan cara mencegah NIHL. Paparan terbanyak di atas 85 dB lebih dari 8 jam bekerja tidak diperbolehkan/dianjurkan. Sebuah hearing

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

conservation program (HCP) mungkin focus pada pengukuran untuk mengurangi paparan rata-rata sampai rendah. Sejumlah langkah dan kegiatan berkelanjutan diperlukan untuk melanjutkan visi.

1. Definisi pengeluaran bising HCP yang berhasil memiliki informasi yang valid tentang pajanan kebisingan. Kebisingan harus dimonitor dan ditetapkan dalam istilah yang terdiri dari frekuensi, intensitas waktu dan jenisnya. Dosimeter kebisingan pribadi harus digunakan untuk menentukan pajanan ini. Seorang individu harus

menggunakan alat ini selama bekerja, dan alat ini akan mengumpulkan, menyimpan dan menyediakan pajanan berdasarkan waktu yang dihubungkan dengan standard kebisingan yang ditetapkan (e.g 85 dB. etc). Perubahan pada saat aktivitas atau peralatan bekerja membutuhkan monitor berulang. Sangat sulit untuk melakukannya di aktivitas pertanian. Tempat pekerjaan yang beragam sehingga sulit untuk dipetakan. Oleh karena itu, pekerjaan dengan pengurangan pajanan kebisingan di pertanian harus bergantung padainformasi jenis pengeluaran dari peralatan yang berbeda, system pengurungan, dan ruang yang ditetapkan di bidang pertanian, dan perkiraan total pajanan dan mengidentifikasi daerah yang diprioritaskan untuk dikurangi pajanannya.

2. Kontrol teknik Traktor, mesin penuai, penggilingan, kipas angina, kompresor, dan alat jenis lainnya yang digunakan di bidang pertanian adalah sumber kebisingan pada umumnya. Pekerjaan insyinyur adalah menginformasikan bagaimana

kebisingan dihasilkan dan mencoba mengurangi pengeluaran kebisingan. Pembuatan peralatan pertanian belum menjadikan pengurangan sebagai prioritas pertama dalam pengembangan peralatan baru. Pemeliharaan alat dengan tepat diperlukan, mesin yang sudah using dengan kerusakan pada umumnya menghasilkan kebisingan lebih banyak. Untuk mengelola pengeluaran kebisingan, sebuah program pemeliharaan peralatan tidak hanya

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

akan menghemat uang tetapi juga menurunkan pajanan kebisingan untuk para petani.

3. Mengurung sumber kebisingan Sumber kebisingan harus dipisahkan dari penggunanya atau sebaliknya. Tempat duduk traktor modern memiliki keadaan suara yang baik dibandingkan dengan traktor lama atau traktor yang tidak memiliki tempat duduk. Kipas angina, pengering, kompreosr, dan penggilingan juga harus dikurung. Jika pengurungan sumber bunyi tidak memungkinkan, teknik lain juga tersedia seperti memasang penyerap pada langit-langit dan dinding untuk mengurangi gema.

4. Kontrol administratif Pekerjaan direncanakan dan dilakukan sedemikian rupa sehinggasumber kebisingan seperti kipas angin dan pengering dimatikan saat pekerja dalam bangunan. Pemberian makanan binatang dilakukan sedemikian rupa sehingga aktivitas hewan tidak terstimulasi berlebihan. Metode pekerjaan lain mungkin diperkenalkan utntuk mengganti metode yang menghasilkan kebisingan lebih banyak.

5. Edukasi pekerja Petani, penebang dan pegawai si pertanian atau kehutanan harus mengerti efek berbahaya dari kebisingan. Ini adalah prasyarat untuk HCP yang berhasil. Program pendidikan mungkin diperlukan untuk membantu seseorang dalam mengahadapi bahaya kebisingan yang ada dan melindungi diri mereka. Program OHS dengan tes audiometri berulang menyediakan kemungkinan unik untuk taining personal berdasarkan informasi tentang kapasitas pendengaran seseorang dan bagaimana ini berlaku dalam lingkungan pekerjaan.

6. Alat pelindung pendengaran

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Seringkali kebisingan tidak bisa dicegah karena keterbatasan dana dan teknologi. Sering pekerja harus menggunakan alat pelindung pendengaran untuk mengurangi pajanan pribadi dan gangguan pendengaran. Alat-alatnya tersedia dari berbagai jenis dan kualitas. Penyumbat telinga aural mungkin bisa dicetak, dibentuk sesuai permintaan. Earmuff atau circumaural memiliki efek perlindungan yang lebih baik khususnya pada kebisingan dengan frekuensi yang tinggi. Dalam situasi khusus, kombinasi penyumbat dan muff mungkin digunakan. Masing-masing jenis alat memiliki kelebihan dan kekurangan. Pengguna mungkin membuthkan dukungan dan dorongan untuk tetap memiliki kebiasaan melindungi. Pemilihan pelindung pendengaran yang tepat, efektif, dan diterima penting untuk kesesuaian dan kegunaan.

GETARAN DAN KERUSAKAN AKIBAT GETARAN Pendahuluan Maurice Raynaud adalah yang pertama mengggambarkan fenomena jari putih dalam tesisnya (Raynaud 1862). Episode pucat yang berulang di jari dan tangan sekarang disebut sebagai Raynauds disease primer. Lima puluh tahun kemudian sejumlah laporan membuktikan bahwa jari putih atau spasme vascular pada jari memiliki hubungan dengan penggunaan alat yang bergetar pada tangan (Loriga 1911; Hamilton 1918). Informasi tentang efek local getaran telah memudahkan pengetahuan di bidang yang lebih luas seperti gejala vascular, neurologi, dan musculoskeletal yang berhubungan dengan getaran e.g hand-arm vibration syndrome (HAVS) (Stockholm Workshop 86 1986). HAVS masih menjadi area baru untuk dipelajari dan mungkin ada kofaktor yang terlibat sebagai etiologi getaran (Gemne 1997).

Energi mekanik dari sumber yang bergoyang dapat memindahkan energy getaran ke objek lain. Susunan terbanyak memiliki frekuensi getaran alami, termasuk tubuh manusia. Resonansi (menghasilkan pengerasan dari energi) menghasilkan ketika getaran dengan frekuensi yang sesuai ditransmisikan ke objek lainnya dangan frekuensi alami. Getaran mungkin mempengaruhi seluruh tubuh baik local

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

atau regional anatomi seperti tangan dan lengan. Sumber energi getaran terdiri dari alat-alat mekanikdan mesin baling-baling berbagai jenis. Getaran memicu kerusakan yang umum terjadi pada pekerjaan pertanian atau pekerjaan lainnya.

Petani yang mengendarai traktor atau penuai pada pertanian terpajan seluruh tubuh dengan getaran, seperti petani dan penebang yang mengendarai traktor di kehutanan (Seidel dan Heide 1986; Seidel 1993). Mengendarai truk dan alat beban lainnya mungkin memiliki pajanan yang sama.

Getaran dari setir pada traktor pertanian dan pegangan dari mobil salju yang digunakan dalam peternakan atau menggiring rusa kutub ditransmisikan ke tangan dan lengan (Anttonen dan Virokannas 1994). Penggiling dan gergaji mesin dikenal sebagai sumber getaran dari mesin genggam yang sudah ada. Masalah yang sering terjadi dalam HAVS sebelumnya telah dilaporkan oleh pekerja hutan (Taylor 1974 : Pyyko dkk 1986) dan juga para petani lainnya (Thelin 1981 : Peplonska dan Szeszenia-Dabrowska 2002).

Whole Body Vibration Jumlah masalah kesehatan telah dikaitkan dengan getaran seluruh tubuh, termasuk musculoskeletal, neurologik, dan masalah sistem sirkulasi. Jumlah peneitian eksperimental telah dilakukan pada efek-efek getaran seluruh tubuh pada tulang punggung. Tulang punggung manusia memiliki frekuensi resonansi 5 Hz yang merupakan frekuensi paling dominan di berbagai kendaraan (Panjabi dkk 1986 : Panjabi 1996). Desain dari tempat duduk supir atau dikenal sebagai pengaruh posisi pengemudi terhadap transmisi dari getaran kepada tulang punggung manusia (Pope dkk 1989: Magnusson dkk 1993). Penelitian sampai saat ini belum secara konsisten menunjukkan cedera akibat getaran secara signifikan terhadap tulang punggung (Bovenzi dan Hulshof 1999: Lings dan Leboeuf-Yde 2000).

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Penelitian lain mengindikasikan bahwa getaran seluruh tubuh mungkin dapat membantu dalam gangguan organ reproduksi perempuan seperti gangguan menstruasi, aborsi, dan kelahiran mati. Penelitian binatang menyarankan getaran seluruh tubuh dapat menyebabkan efek berbahaya pada janin (Siedel 1993). Semacam penyakit getaran dikategorikan berdasarakan dari penyebarannya, seperti gangguan saluran pencernaan, gangguan ketajaman mata, nyeri otot, dan gangguan keseimbangan. Telah dilaporkan oleh seseorang yang mengalami getaran seluruh tubuh. Laporan ini belum tetap. Banyak pertanyaan masih belum terjawab berkaitan dengan efek dari getaran seluruh tubuh. The International Organization for Standardization (ISO) telah menetapkan pedoman untuk pajanan getaran seluruh tubuh (ACGIH 1996). Meskipun ketidaktepatan informasi tentang efek negatif dari getaran seluruh tubuh ini hanya terlihat bijak untuk berusaha mengurangi pajanan. Paragraf sebelumnya telah menyediakan sebuah review tentang cedera getaran. Paragraf selanjutnya menyediakan banyak patofisologi dari kedaan ini.

Vibration White Fingers (VWF) Gambaran klinis dari VWF ini sederhana. Keadaan ini terdiri dari episode setengah, kulit terlihat panas tajam, terutama pada bagian jari yang telah kuat terpajan (Gemme 1992). Jari berubah menjadi putih dalam keadaan lingkungan dingin dengan penurunan keterampilan yang dimanipulasi. Kemerahan, sedikit pembengkakkan, nyeri ringan, dan paresthesias terjadi dengan sirkulasi balik darah sebagai sebuah konsekuensi dari reaktifasi hyperemia. Taylor dan Pelmear (1975) mengembangkan sebuah sistem klasifikasi untuk induksi dingin peripheral vascular dan sensorineural symptoms (Taylor 1975). ini adalah modifikasi sebelumnya (Gemme 1987) (Table 9.1). symptom yang sangat buruk adalah kejadian yang jarang terjadi. Sebuah progesifitas gangrene jari memungkinkan akan tetapi sangat jarang terjadi (Thulesius 1976).

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Kekakuan dari arteri digitalis ditimbulkan oleh pajanan dari pendinginan tangan atau seluruh tubuh menhasilkan penurunan dari aliran darah. Patofisiologi yang spesifik tentang VWF masih belum diketahui. Sejumlah mekanisme telah didiskusikan, seperti terpusat di mediasi peningkatan pola vasokonstriktor. Lokal hipersensitifitas terhadap dingin, penyakit oklusif vascular, cedera saraf lokal, peningkatan viskositas darah, dan tekanan darah rendah (Ekenvall 1987; Gemne 1992). Pasien dengan symptoms yang berat dari VWF memiliki peningkatan bunyi basal vascular di arteri jari tetapi tidak mengalami penyempitan lumen vascular (Ekenvall dkk 1987). Ini memungkinkan bahwa getaran menyebabkan ketidakseimbangan antara alpha-1 dengan alpha-2 reseptor adrenergic (Ekenvall dan Lindblad 1986). Factor keturunan maupun keadaan biokimia dan riwayat cedara trauma dahulu bisa memungkinkan terjadinya perkembangan dari VWF. Table 9.1 Klasifikasi dari Cold Induced Raynaunds Phenomenom in the Hand-Arm

Vibration Syndrome : The Stockholm Workshop Scale (Gemne and other 1987) Stage Grade 0 1 Mild Deskripsi Tidak ada serangan Kadang-kadang terjadi serangan hanya pada ujung salah satu atau lebih jari tangan 2 Moderate Kadang-kadang terjadi serangan pada bagian distal dan median phalanges (jarang pada proximal) dari beberapa jari tangan 3 Severe Sering terjadi serangan pada semua phalanges dari kebanyakan jari tangan 4 Very severe Stadium dengan perubahan warna kulit pada ujung jari

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Gambar 9.7. Vibration White Finger/VWF (Getaran Jari Putih) Diffusely distributed neuropathy Penyebab dari keadaan ini diteliti dalam beberapa pajanan getaran pada seseorang yang memungkinkan terjadinya kerusakan pada fiber-fiber saraf dan/atau reseptor saraf oleh pengaruh mekanik secara langsung dari getaran. Sirkulasi darah yang terganggu juga telah didiskusikan (Bovenzi dkk 1997) sebagai sebuah factor etiologi. Pain in Hand and Arm Getaran memungkinkan terjadinya peregangan berlebihan pada sendi-sendi atau struktur di sekitar sendi-sendi, yang akan menghasilkan rasa nyeri dan keterbatasan dalam gerakan. Getaran itu memungkinkan terjadinya osteoarthritis pada pergelangan tangan (Fam dan Kolin 1986; Bovenzi dkk 1987) dan pada daerah pundak juga telah didiskusikan (Stenlund dkk 1992; 1993). Meskipun yang terakhir belum dikonfirmasi oleh data epidemiological, vakuolisasi pada tulang kecil dari tangan dan lengan telah dilaporkan. Meminjamkan bukti tentang efek negatif dari cedera getaran (Kumlin 1973; Karjalainen 1975; Gemme dan Saraste 1987; Kivekas dkk 1994). Carpal Tunnel Syndrom Gejala dari CTS adalah disebabkan oleh terjadinya kompresi pada saraf median yang mana melewati lubang carpal pada pergelangan tangan. Kebanyakan orang

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

dengan CTS belum terkena pajanan getaran. Namun, alat getaran membutuhkan sebuah pegangan yang kuat pada pegangan di alat, yang mungkin memperburuk CTS. Statis kerja pada saat pergelangan tangan yang menekuk mungkin juga menjadi factor utama, bertambahnya perkembangan CTS pada perkerja dengan pegangan alat (Silverstein dkk 1987; Hagberg dkk 1992). Other effect of vibration Beberapa penelitian menunjukkan bahwa getaran mungkin mempunyai efek negatif pada kekuatan otot (Necking dkk 1992; Farkkila dkk 1986). Pendengaran yang berkurang telah dilaporkan bahwa tidak diterangkan tentang gangguan kebisingan tetapi berhubungan pada getaran local. Mekanisme dari efek ini sebagian besar tidak diketahui (Pykko dkk 1981; Iki dkk 1986). Gejala lain yang berhubungan dengan getaran tangan-lengan termasuk getaran yang diinduksi, penyebaran neurophaty. Keadaan ini dilaporkan sebagai kematian rasa dan sebuah penurunan cahaya dari rasa tactile. Nyeri pergelangan tangan mungkin dikaitkan pada peregangan sendi dan tendon yang berlebihan pada pajanan getaran atau terkait pada kemungkinan osteoarthritis.

Diagnosis Gangguan Vibrasi Terinduksi Memiliki sejarah yang akurat dan jelas serta gambaran klinis sangatlah penting dalam mendiagnosis luka dari vibrasi terinduksi. Tes provokasi dingin terkadang memperlihatkan gejela-gejalanya. Mengukur keberadaan vasopasm melalui rekaman tekanan darah sistolik jari sebagai respon dari rasa dingin merupakan tes yang lebih objektif (Pykk dan kawan-kawan 1986). Gangguan system syaraf bisa terlihat melalui paparan getaran dan suhu yang rendah (Ekenvall dan Linblad 1986: Lundbor dan kawan-kawan 1987: Lundstrm dan kawan-kawan 1992). Carpal tunnel syndrome dibuktikan melalui metode elektrodiagnosis. Sinar-X biasa mampu memperlihatkan perubahan sendi dan struktur tulang.

Jari putih vibrasi terinduksi perlu dibedakan dari yang lainnya. Biasanya fenommena Raynand adalah kondisi yang umum terutama terhadap wanita (6%

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

populasi wanita bahkan mungkin 13% yan ada di Swedia (Leppert dan kawankawan 1987)). Penyebab lainnya adalah traumanya jari-jemari atau tangan, radang dingin, penyakit pembuluh darah oklusif (yang disebabkan merokok), gangguan jaringan ikat, keracunan narkoba, paparan dari vynil chlonde monomer, dan beberapa gangguan syaraf. Untuk menilai hubungan sebab-akibat getaran, sejarah mengenai paparan harus benar-benar diperhatikan termasuk durasi, jeda, dan karakteristik getaran (Gemne 1997).

Tatalaksana terhadap HAVS Kejang arteri digital dan jari-jari putih biasanya hilang dalam beberapa menit sampai 1 jam. Hal ini dapat dilakukan dengan menghangatkan tangan atau

seluruh tubuh. Menggerak-gerakkan tangan atau merendamnya dalam air hangat dapat mengurangi intensitas gejalanya. Nifidepin, lawan dari kalsium, banyak digunakan untuk mencegah serangan tersebut namun tidak teralu efektif. Untuk kasus yang parah, thymoxamine, stanozolol, atau prostaglandin E bisa sangat berguna, tapi semua itu masih sangat jarang digunakan dan efeknya pun masih dipertanyakan. Operasi bedah simpatektomi juga pernah diuji coba dan hasilnya masih negative, justru prosedur dari operasi dapat memperparah keadaan. Begitupun biofeedback yang hasilnya masih belum dikonfirmasi hingga sekarang. Neuropati pendistribusi difus dan rasa sakit dipergelangan tangan tidak membutuhkan penanganan khusus. Dalam kasus Carpal tunnel syndrome, operasi adalah hal umum yang sering dilakukan.

Pencegahan terhadap HAVS Pengambilan langkah yang berbeda-beda bisa dilakukan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan resiko luka dari vibrasi terinduksi. Alat dan perlengkapaan harus didesain sedemikian rupa sehingga resiko luka mengecil. pendesainan ulang gergaji tradisional di tahun 1970-an adalah contoh yang baik bagai mana resiko dapat dikurangi. Di awal tahun 70-an lebih dari 30% penebang kayu mengalami VWF. Dalam sepuluh tahun resiko VWF pada penebang kayu hampir semuanya hilang (Pykk dan kawan-kawan 1978, 1986). Perawatan traktor, peralatan dan mesin-mesin harus dilakukan secara tepat dan terus-menerus untuk mengurangi

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

resiko kerusakan akibat paparan getaran. Periode paparan harus diperpendek jika metode lain untuk mengurangi atau menghilangkan paparan tidak tercapai. Sarung tangan khusus untuk menjaga agar tangan tetap hangat dan menyerap sebagian energy paparan bisa berguna dalam beberapa kasus (Griffin 1998). Lebih banyak informasi dan latihan pribadi harus dilakukan.

GANGGUAN KARENA PANAS DAN DINGIN Stres karena pekerjaan fisik para petani di cuaca panas atau dingin sayangnya sering didapatkan dan efek yang merugikan bagi kesehatan dan performa kerja tidak selalu dikenali.Meskipun ada beberapa studi umum terkait stress terhadap panas dan dingin dalam kegiatan pekerjaan, namun masih jarang yang melakukannya di bidang pertanian. Pekerjaan di lingkungan panas maupun dingin telah dilakukan di bidang militer dan industri ruang angkasa, dan ditekankan untuk mengaplikasikannya di bidang pertanian.

Keseimbangan Suhu Tubuh Manusia Tubuh manusia bekerja terus-menerus untuk menyesuaikan dengan

lingkungannya. Faktor-faktor berikut berpengaruh dalam penyeimbangan suhu tubuh manusia yang penting bagi kesehatan dan kenyamanan hidup: suhu udara sekitar, paparan energy, kelembaban, kecepatan angin, isolasi dan ketahanan uap pakaian, serta kegiatan fisik seseorang.

Keseimbangan suhu tubuh manusia bisa dijelaskan dengan persamaan berikut (Gagge and Nisha 1977): M W = R + C + K + E + Hres dimana M = panas yang dihasilkan tubuh, W = efek mekanis, R = radiasi, C = Konveksi, K = Konduksi, E = evaporasi, H = pengangkutan panas melalui respirasi.

Persamaan ini menjelaskan situasi yang stabil dan kebutuhan sepanjang waktu untuk menjaga tubuh pada suhu yang tetap. Untuk jangka pendek keseimbangan suhu tubuh bisa tak bisa dipertahankan. Sebagai contoh, pekerjaan berat bisa

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

meningkatkan suhu tubuh 0.5-1.0C. Dalam kondisi yang tidak seimbang persamaan bisa ditulis seperti berikut: S - M W = R + C + K + E + Hres dimana S adalah efek panas yang hilang atau tersimpan. Jika produksi panas lebih besar dari keluarnya panas, suhu tubuh akan meningkat. Jika keluarnya panas lebih besar dari produksi panas, maka suhu tubuh akan hilang. Jalur utama dari pengeluaran panas adalah melalui kulit dan radiasi, konveksi, dan evaporasi. Hubungan timbal balik antara satu dengan yang lain tergantung pada microclimate.

Proses metabolisme dan aktifitas fisik umumnya menghasilkan panas yang cukup untuk menjaga keseimbangan suhu tubuh. Hanya dalam keadaan yang ekstrim kemampuan special diaktifkan untuk menghasilkan panas. Umumnya hanya pada pekerjaan berat dan waktu yang singkat, tubuh akan mengubah energi otot menjadi energi gerak seperti mengangkat tas berisi 50kg makanan. Komponen utama dari energy sel dirubah menjadi energi panas. Untuk membandingkan energi yang dihasilkan oleh orang yang berbeda-beda, angka produksi energi bisa dinyatakan dalam hubungan dengan bagian luar tubuh. Produksi energi rata-rata ketika beristirahat adalah adalah 58 W/m2. Konveksi, radiasi, dan evaporasi adalah 3 cara utama penyebaran panas dari atau ke tubuh manusia. Untuk transfer panas secara konveksi, suhu kering dan kecepatan angin adalah faktor yang menentukan. Semakin panas udaranya, maka semakin berkurang panas yang terpapar. Jika suhu udara melampaui suhu kulit, aliran panas akan berbalik dan udara sekitar akan memanaskan tubuh.

Benda-benda disekitar pekerja menyebabkan perpindahan panas secara radiasi. Panas dikeluarkan oleh tubuh ketika suhu di benda sekitarnya dibawah +35C. Hampir 60-70% hilangnya panas tubuh diakibatkan oleh radiasi. Sama halnya dengan radiasi, konveksi bergantung pada jumlah area permukaan tubuh yang berhubungan dengan sekitarnya.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Evaporasi adalah cara paling efisien dalam pengeluaran panas. Evaporasi dipengaruhi oleh kelembaban, kecepatan angin, dan suhu. Faktor fisik secara internal seperti sirkulasi, jumlah keringat yang dikeluarkan, dan ambang batas pengeluaran keringat juga mempengaruhi pendinginan melalui evaporasi. Orang yang tak mampu menyesuaikan diri dengan iklim lebih berada dalam tekanan panas dibanding orang yang mudah beradaptasi. Suhu basah adalah indikator yang baik bagi kelembaban, suhu udara, dan kecepatan angin nisbi untuk kondisi evaporasi. Suhu basah berkisar +24C lebih mengganggu orang yang kurang bisa beradaptasi sementara suhu +33C dianggap sebagai suhu basah maksimum untuk bekerja dengan aman bagi orang yang beradaptasi dengan baik.

Kemampuan berkeringat yang baik dan kondisi iklim yang baik untuk mengeluarkan panas melalui keringat adalah syarat bekerja di lingkungan yang panas. kemampuan unutk berkeringat berbeda-beda untuk setiap orangnya dan dapat ditingkatkan dengan penyesuaian diri terhadap iklim dan pengkondisian tubuh. Orang yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan iklim bisa berkeringat 600 gram/jam selama bekerja sementara orang dengan kondisi yang baik dan mampu menyesuaikan diri dengan iklim berkeringat 1000 gram/jam. Berpakaian longgar, kelembaban yang rendah, dan kecepatan angin yang tinggi meningkatkan efek pendinginan. Keringat terdiri dari air dan garam dan kehilangan keduanya harus cepat teratasi atau kemampuan bekerja akan berkurang dengan cepat. Kekurangan cairan 1-1,5 liter untuk orang berukuran normal akan mengurangi daya tahan dan kemampuan seseorang.

Penyesuaian diri terhadap iklim di tempat yang panas dilakukan dengan bekerja di lingkungan yang panas setiap harinya selama 7-9 hari. Penyesuaian terhadap iklim akan hilang dalam beberapa minggu jika tidak dipertahankan,

Adaptasi untuk bekerja di tempat dingin tidak sesulit di tempat yang panas. Orang yang terlatih menyesuaikan diri dengan iklim untuk bekerja di lingkungan dingin lebih tahan terhadap perubahan suhu sebelum merasa tak nyaman. Tidak ada bukti

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

teori umum yang menyatakan bahwa tubuh meningkatkan metabolism untuk menyesuaikan diri dengan keadaan suhu yang rendah (Burton 1969).

Mendinginkan beberapa anggota tubuh membuat produksi keringat menurun begitupun sebaliknya dan dahi adalah salah satu contoh area yang strategis untuk efek tersebut. Pekerjaan fisik menghasilkan adaptasi yang alami untuk bekerja di lingkungan yang dingin. Namun pekerjaan fisik yang berat tidak akan menghilangkan resiko cedera karena dingin di wajah dan juga lengan-kaki ketika bekerja di tempat yang bercuaca sangat dingin dan berangin.

Penyakit karena Panas Paparan yang terus-menerus terhadap suhu yang tinggi dan kelembaban yang ekstrim tidak secara sistematis berhubungan dengan penyakit jantung yang terdefinisi, pernapasan, atau system pengeluaran. Namun tekanan dari panas bisa mengakibatkan beberapa penyakit spesifik karena panas. Heatstroke adalah reaksi panas yang paling berbahaya, tetapi heat exhaustion, heat cramps, dan heat syncope adalah yang paling sering dan tidak terlalu serius dibanding heatstroke. Penyakit kulit dan kemandulan adalah reaksi lain yang berhubungan dengan paparan panas. Sekumpulan pekerja dengan pekerjaan yang berbeda dalam satu tempat dapat terkena panas dalam ruangan ekstrem (buruh pabrik baja) atau di luar ruangan di iklim panas (petani, peternak, dan pekerja konstruksi).

Ada beberapa kondisi kesehatan di mana kemampuan memproduksi keringat atau kemampuan penguapan berkurang yang menghalangi kemampuan untuk bekerja atau berada di iklim yang sangat panas. Beberapa diantaranya ialah obesitas, penyakit yang berkaitan dengan jantung, penggunaan alkohol atau obat yang menghalangi keluarnya keringat (seperti astropine yang dipakai oleh pengguna insektisida untuk mencegah penyakit), kurang lancarnya aliran darah dalam saraf, dehidrasi, penggunaan narkoba yang mempercepat penurunan suhu tubuh, kanker, dan infeksi. Orang yang lebih tua tidak bisa menyesuaikan diri dengan iklim sebaik orang yang lebih muda, dan wanita menghasilkan panas yang lebih dibandingkan pria.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

HEATSTROKE Heatstroke adalah bahaya yang mengancaman jiwa yang ditandai dengan tingginya suhu tubuh dan hilangnya atau berkurangnya kemampuan berkeringat secara drastis. Masalah klasik yang muncul pada orang yang mengalaminya adalah untuk menyesuaikan diri dengan suhu yang tinggi. Heatstroke terjadi akibat pekerjaan yang terlalu berat di lingkungan yang panas terutama untuk orang-orang yang sulit menyesuaikan diri dengan iklim.

Heatstroke ditandai dengan terganggunya mental, koma, dan atau kejang (Shiholet dan yang lain 1967). Tekanan darah menurun serta kulit menjadi panas dan kering, suhu tubuh melampaui 41C, keseimbangan antara air dan elektrolit terganggu (rendahnya tingkat serum, potassium, kalsium, dan fosfor). Trombocytophenia, fibrinolysis, dan consumptive coagulopathy (O Donnell 1975) dapat terjadi, begitu juga kerusakan permanen pada hati dan ginjal yang dapat mengakibatkan kematian.

Menurunkan suhu tubuh secepatnya adalah tindakan awal yang harus diambil. Menyemprot atau merendam tubuh dengan air dingin harus segera dilakukan sebelum dibawa ke rumah sakit. Tindakan ini harus dilakukan terus-menerus sampai suhu tubuh turun menjadi 39oC. Pasien harus terus diamati dan dipantau untuk shock hipovolemik dan kardiogenik. Kapasitas untuk mengobati komplikasi harus dikuasai.

HEAT EXHAUSTION Paparan terhadap panas yang berkepanjangan ditambah dengan asupan air dan garam yang tidak mencukupi dapat menyebabkan heat exhaustion (kelelahan akibat panas) yang ditandai dengan perubahan kardiovaskular, letih, dan perasaan lelah. Rasa haus, sakit kepala, lemah, dan bahkan kebingungan adalah gejala yang umum. Suhu tubuh melampaui 38C, kulit menjadi basah dan denyut nadi meningkat. Kehilangan air dan garam menyebabkan ketidakseimbangan.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Peningkatan ke heatstroke adalah resikonya yang ditandai dengan meningkatnya suhu tubuh dan berkurangnya keringat.

Setelah kehilangan kurang lebih 1,5 % berat tubuh (~1 liter) toleransi pada panas menurun, denyut nadi meningkat, dan resiko naiknya suhu tubuh dengan cepat pun semakin tinggi. Gagal jantung menjadi taruhan jika kehilangan air dan garam tidak tertangani dan kapasitas mental pun berkurang mengarah pada kecacatan dan meningkatkan resiko cedera traumatis.

Resiko dari heat exhaustion bisa diatasi dengan cara penggantian cairan secara terus-menerus. Sayangnya rasa haus bukanlah indikator yang cukup untuk mengukur kehilangan cairan karena rasa haus berkurang hanya dengan sedikit air. Butuh lebih banyak air dan garam untuk dikonsumsi dari pada rasa haus itu sendiri.

HEAT CRAMPS Banyak mengonsumsi air tanpa tergantinya garam di tempat bercuaca panas dapat menyebabkan heat cramps (kram karena panas). Rendahnya kadar natrium mengubah reaksi otot, membuatnya lemah, memperlambat kontraksi, atau bahkan mengakibatkan kejang otot yang parah. Pusing, tidak enak badan, dan muntah adalah gejala yang sering muncul.

Biasanya penggantian garam oleh tubuh sudah cukup saat bekerja di lingkungan yang panas. Namun, penipisan natrium bisa terjadi dalam kondisi ekstrim ketika bekerja terlalu lama di tempat dengan cuaca panas dan kering. Dalam kondisi tersebut, mengganti natrium menggunakan garam sangat dianjurkan. Tablet garam atau larutan garam ringan dapat diberikan, atau mungkin lebih baik lagi larutan garam seimbang yang dipasarkan sebagai minuman olah raga. Pasien dengan heat cramps harus dipindahkan ke tempat yang dingin dan diberi larutan garam sebagai tambahan air dan dianjurkan untuk istirahat beberapa hari sebelum kembali bekerja.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

HEAT SYNCOPE Heat syncope disebabkan oleh terganggunya aliran darah. Bagian yang lebih besar dari volume darah yang normal beredar bergabungkan di bagian bawah tubuh akibat vasodilatasi kulit. Hasilnya adalah penurunan tekanan darah sistolik dan hipotensi otak dengan ketidaksadaran mendadak. Berdiri dalan jangka waktu yang lama dan dikombinasikan dengan pekerjaan berat di lingkungan yang panas merupakan predisposisi untuk terjadi Heat syncope.

Pasien harus ditidurkan terlentang dan dipindahkan ke tempat yang lebih dingin. Penyembuhan biasanya berlangsung cepat tanpa disertai gejala apapun. Orang yang tidak mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan dengan kondisi kesehatan yang sebelumnya bermasalah mempunyai resiko yang lebih tinggi.

GANGGUAN KULIT KARENA PANAS Intertrigo adalah hal yang umum untuk orang dengan obesitas. Kulit di lipatan tubuh, pangkal paha, dan axilla mendapatkan crythemata dan macera. Orang dengan obesitas memiliki lebih banyak masalah terhadap lingkungan yang panas. Kebersihan sangatlah dibutuhkan seperti mandi setiap hari mengguanakan sabun. Untuk menghindar dari masalah lain, penurunan berat badan sangat dianjurkan. Ruam panas (miliaria) disebabkan oleh peradangan dan gangguan pada kelenjar keringat penyimpangan dalam berkeringat. Gejalanya bermacam-macam namun yang paling sering terlihat adalah banyaknya radang papula berwarna merah disertai erithema di bagian pakaian yang ketat atau area-area yang sulit mengering seperti di bawah lengan dan di balik ikat pinggang.

Heat urticaria adalah kondisi dengan munculnya pembengkakan akibat panas. Hal ini bisa dikategorikan umum atau khusus. Antihistamin dapat membantu. Kondisinya terbatas pada pribadi dan akan menyebar dalam 24-48 jam dan menyebabkan pasien gatal-gatal sementara waktu di area luka.

NEPHROLITHIAsIS DAN LINGKUNGAN YANG PANAS

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Beberapa studi menunjukkan bahwa dehidrasi kronis dapat meningkatkan resiko penyakit batu ginjal (Embon dan kawan-kawan 1990). dehidrasi kronis dapat terjadi pada pekerja di lingkungan yang panas dengan sedikit asupan air. Sebuah penelitian menunjukkan ada empat kali lipat resiko penyakit batu ginjal menyerang sekumpulan pekerja pembuat kaca dibandingkan pekerjaan di tempat yang lebih terkontrol (Borghi dan kawan-kawan 1993). Asam urat paling sering terjadi, dan asupan cairan yang sesuai sangat dianjurkan untuk menghindari masalah.

KEMANDULAN Bekerja di lingkungan panas untuk waktu yang lama sudah banyak diketahui sebagai penyebab penting kemandulan pria (Lahdetie 1995). Bekerja di lingkungan panas berperan jelas dalam hilangnya kualitas semen mengikuti waktu. (Auger dan kawan-kawan 1995, Bonde dan kawan-kawan 1996) Lingkungan yang panas juga diperkirakan beresiko terhadap kanker testis (Haughey dan kawan-kawan 1989).

Gangguan karena Dingin HYPOTHERMIA Jika suhu inti tubuh menurun sampai di bawah 35C, hypothermia sistemik akan terjadi dengan sekelompok gejala yang berkesinambungan. Dimulai dengan badan yang menggigil, kemampuan bekerja menurun akibat memburuknya kemampuan otot dikarenakan menurunnya daya serap terhadap oksigen. Kelelahan fisik secara perlahan meningkat, dan saat suhu tubuh menurun kebingungan dan kelesuan muncul diikuti kemungkinan halusinasi. Keadaan menggigil kemudian berhenti karena hypoglycemia. Reaksi kedinginan yang berlawanan bisa muncul, dimana ada perasaan panas yang ditandai dengan membuka pakaian yang tentunya menambah buruk keadaan.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Di bawah 33C fungsi otot akan semakin berkurang dan aktifitas jantung dikarenakan melambatnya repolarization. Kesadaran menurun dan ketika suhu di bawah 30C maka seseorang umumnya sulit diajak berkomunikasi. Pupil melebar dan nafas melemah. Aktifitas jantung menjadi sulit dideteksi dan berhentinya jantung atau ventricular fibrillation terjadi yang bisa menyebabkan kematian.

Dalam semua kasus hypothermia, langkah awal seharusnya adalah menghilangkan rasa dingin. Jika penderita masih sadar dan siap, aktifitas fisik dapat dirangsang untuk membantu produksi panas tubuh. Jika penderita kebasahan, maka dia harus segera dipindahkan ke tempat yang kering dan baju yang basah harus segera diganti. Jika penderita pingsan, harus segera dibawa ke rumah sakit. Sangatlah berbahaya untuk menghangatkan penderita yang pingsan karena bisa

menimbulkan cardiac fibrillation. Penderita yang pingsan dengan suhu mencapai 28C umumnya pulih sepenuhnya tanpa permanen cacat apapun jika komplikasi bisa diatasi.

Keadaan dimana ditemukannya orang dengan hypothermia harus diawasi. Masalah kesehatan yang ada, konsumsi alkohol dan narkoba, depresi, dan kemungkinan aksi bunuh diri dan dementia harus dipertimbangkan. Dalam kasus yang lain, secara umum keadaannya lebih pasti dan berhubungan dengan kecelakaan atau kondisi cuaca yang tidak biasa dan tidak diinginkan.

Localized Hypothermia Hypothermia lokal (kerusakan jaringan lokal) bisa terjadi pada beberapa bagian luar tubuh seperti hidung, telinga, jari-jari, dan kaki jika suhu turun hingga di bawah 15C karena kedinginan, kelembaban, dan kurang bergerak. Hal ini berkaitan dengan ischemia lokal dan perkembangan trombosis kecil.Pembekuan jaringan bisa terjadi dan mengakibatkan bahaya yang nyata.

Tingkat cedera dingin yang terbatas berkaitan dengan kecepatan pendinginan serta seberapa dalam dan luas area yang terkena. Dalam kasus kerusakan yang kecil, hanya epidermis dan dermis yang terpengaruh. Kulit menjadi putih dan tanpa

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

sirkulasi tetapi tidak melekat pada struktur dasar. Penghangatan akan cepat mengembalikannya ke kondisi semula.

Kulit yang melekat pada struktur dasar menunjukkan kerusakan yang parah. Penghangatan harus dilakukan dengan segera yang dapat dilakukan dengan menggunakan air bersuhu 40-42C. Suhu air yang lebih tinggi beresiko membuat kerusakan kecil akibat panas karena kulit telah kehilangan sensitifitasnya sementara waktu.

Paparan dingin pada sebagian tubuh yang berkepanjangan yang cukup untuk merusak pembuluh darah dan mengacaukan suplai darah secara permanen di beberapa bagian tubuh disebut radang dingin. Ada beragam jenis jaringan necrosis dalam radang dingin yang dapat meluas dengan kehilangan secara signifikan pada kulit, jari-jemari, bahkan anggota tubuh. Dalam kasus radang dingin yang parah, perawatan di rumah sakit sangat disarankan. Kerusakan jaringan yang terlalu dalam dapat terjadi dan periode penyembuhan menjadi lama disertai pemborokan dan gangren.

Chilblains atau pernio adalah luka kulit dangkal karena peradangan terkena paparan dingin singkat. Paparan yang terlalu lama bisa menyebabkan pernio kronis atau blue toes. Bagian arcal dari jemari terkena erythema dan edema dengan luka borok yang kecil.

Immersion foot adalah lanjutan radang dingin yang menyerang seluruh kaki dengan cirri-ciri aliran kasar dan komplikasi kronis. Setelah paparan dingin yang berkelanjutan, kaki menjadi dingin saat disentuh, membengkak, cyanotic, atau memutih seperti lilin. Beberapa hari kemudian hyperemia terjadi, kaki menjadi merah, panas, lebih bengkak, dan sakit. Hemorhhage lokal dan lymfangitis muncul dan dalam beberapa kasus thrombophlebitis dan gangren mengikuti. Sebulan kemudian intensitas paresthesias kadang terjadi. Sensifitas kronis terhadap kedinginan lokal dan hyperhyderosis dapat hadir bertahun-tahun pada immersion foot sama halnya dengan luka dingin lokal.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

CUACA DAN KEMAMPUAN FISIK DAN MENTAL Performa fisik bisa tak terpengaruh oleh suhu bila keseimbangan suhu tubuh bisa dikembalikan. Performa maksimal bisa tercapai bahkan di lingkungan yang panas, namun ketahanan dikarenakan kehilangan dalam hal kemampuan sirkulasi. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan aliran darah yang lebih tinggi dalam otot dan kulit dikarenakan terbuangnya energi. Namun energi yang dibutuhkan untuk pekerjaan fisik tetaplah sama.

Dalam hal suhu tubuh yang rendah, performa maksimal berkurang. Secara normal pekerjaan mudah pun terasa sulit karena lelah dan letih.

Penyesuaian terhadap iklim dan perbedaan kemampuan fisik seseorang dalam menerima suhu ekstrim merupakan faktor yang penting dalam produktifitas pekerja. Kondisi pekerjaan yang lain seperti hubungan social dan masalah organisasi juga mempengaruhi kemampuan pekerja beradaptasi dengan cuaca panas atau dingin (Jokl 1982; Enander 1984).

Suhu 30C telah menunjukkan dapat mengurangi performa fisik dan mental di tempat kerja (Caplan dan Lindsay 1946). Menurunnya kemampuan terutama disebabkan oleh ketidaknyamanan dibanding tekanan fisiologis yang melampaui batas. Skala temperatur efektif (T.E) direkomendasikan untuk mengevaluasi efek cuaca di tempat kerja. Kecepatan angin memeberi efek yang besar dalam performa. Penelitian (Zenz 1975) menunjukkanna sebagai berikut: Penurunan 5% performa pada suhu 29C (T.E) Penurunan 10% performa pada suhu 30C (T.E) Penurunan 17% performa pada suhu 31C (T.E) Penurunan 30% performa pada suhu 32C (T.E)

Zona nyaman untuk bekerja dengan kecepatan udara yang rendah, pakaian yang nyaman, dan tidak ada paparan panas dengan 3 parameter: suhu basah, suhu kering, dan tekanan uap air.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Pencegahan terhadap Luka akibat Panas dan Dingin Pertanian merupakan tempat bekerja yang sangat berbeda dan beragam yang melibatkan cuaca dan kenyamanan kerja. Perbedaannya sangat jauh antara bekerja di tempat-tempat yang tropis dengan lahan pertanian yang bercuaca sangat dingin. seperti Kanada bagian tengah, dan peternakan rusa di negara-negara Skandinavia. Menurut tradisi, petani telah mengembangkan strategi dan cara berpakaian yang tepat untuk bekerja di daerah mereka. Memperkenalkan teknik baru bisa merubah keadaan. Kabin traktor contohnya, bisa memberi perlindungan terhadap paparan debu, namun tanpa pengatur suhu udara di dalam kabin bisa saja menjadi sangat panas. Jika adapatasi tidak dilakukan untuk membantu bekerja dalam lingkungan yang dingin ataupun panas, kualitas dan kuantitas bekerja pun umumnya

berkurang. Tingkat kerusakan meningkat. Namun, beberapa studi tersedia untuk mengukur efek tersebut (Jokl 1982 )

Pusat Cuaca Nasional AS telah mengembangkan pedoman (gambar 9.8) untuk memprediksi risiko pencahayaan sesuai suhu yang tinggi dan kelembaban. (Bross dan kawan-kawan 1994). Efek pendinginan dari suhu rendah tergantung pada kecepatan angin; indeks angin dingin menggabungkan dua faktor ini (Tabel 9.2).

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Bagan Indeks Panas Zona Resiko dan Gangguan berhubungan dengan Panas Indeks Panas 100 90 Kelembaban relatif % 80 70 60 50 40 30 20 10 0 22 22 22 21 21 21 20 20 19 18 18 21 27 26 26 25 24 24 23 23 22 21 21 24 33 31 30 30 28 27 26 26 25 24 23 27 42 39 36 34 32 31 30 29 28 27 26 30 50 45 41 38 36 34 32 31 30 28 32 58 51 46 42 39 36 34 30 31 35 62 56 49 44 40 37 35 33 38 65 57 51 45 41 38 35 41 66 59 51 45 41 38 44

Suhu Udara o C ___________________________________________________ Gambar 9.8 Bagan Indeks Panas - Zona Resiko dan Gangguan berhubungan dengan Panas

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Tabel 9.2. Efek pendinginan dari Angin Efek angin yang diberikan sebagai referensi suhu tanpa angin Suhu udara dalam C Angin m/s 0 2 7 11 16 20 -2 -11 -16 -18 -19 -5 -7 -17 -23 -26 -28 -10 -12 -25 -31 -34 -36 -15 -17 -32 -38 -42 -43 -20 -23 -38 -46 -49 -52 -25 -28 -45 -53 -57 -59

Dalam industri seperti pertanian dan kehutanan, sulit untuk mengendalikan paparan panas dan paparan dingin oleh kontrol teknik. Namun, dalam situasi iklim yang ekstrim, proses pengkondisian pada iklim baru pada pekerja adalah prioritas utama. Air yang memadai harus disediakan dan pekerja harus fit, sehat dan tidak terhalang oleh masalah medis secara bersamaan, atau menyediakan pengobatan yang mungkin terjadi akibat paparan suhu yang ekstrim.

DAFTAR PUSTAKA Abel S. M. (1990). The extra-auditory effect of noise and annoyance: An overview of research. J. Otolaryng suppl 1:1-13. ACGIH (1996). Threshold Limit Values for Chemical Substances and Physical Agents in the Work Environment. American Conference of Governmental Industrial Hygienists. Andersson, G., L. Lyttkens, et al. (1999). Distinguishing level of tinnitus distress. Clin Otolaryng 24(5): 404-410. Anttonen, H. and H. Virokannnas (1994). Hand-arm vibration in snowmobile drivers. Arctic Med Res 53. Suppl 3:19-23. Auger, J., J. M. Kuntsmann, et al. (1995) Decline in semen quality among fertile men in Paris during the past 20 years. N Engl J Med 332(5): 281-285

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Axelson, A. And A> Ringdahl (1989). Tinnitus- A study of its prevalence and characteristics. Br J Audiol 23 (1):53-62. Blatherwick. F. J. (1969). Tractor noise- A farm hazard. Alberta Medical Bulletin 34:21-28. Bonde. J. P., A. Giwercman, et. al. (1996). Identifying environmental risk to male reproductive function by occupational sperm studies: Logistics and desain options. Occup Environ Med 53(8):511-519. Borghi, L., T Meschi, et al. (1993). Hot occupation and nephrolithiasis, J Urol 150(6):1757-1760. Bovenzi, M., P. Apostoli, G. Alessandro, O. Vanoni (1997). Changes over a workshift in aesthesiometric and vibrotactile perception thresholds of workers exposed to intermittent hand transmitted vibration from impact wrenches. Occup Environ Med 54:577-587. Bovenzi, M., A. Fiorito, et al. (1987). Bone and joint disorders in the upper extremities of chipping and grinding operators. Int Arch Occup Environ Health 59(2):189-198. Bovenzi, M. And C. T. Hulshof (1999). An updated review epidemiologic studies on the relationship between exposure to whole-body vibration and low back pain (1986-1997). Int Arch Occup Environ Health 72(6):351-365. Bross, M. H., B. T. Nash. F. B. Carlton, Jr. (1994). Practical Terapeutics-Heat Emergencies. Am Fam Physician 50:389. Bruel, P. V. (1976). Do we measure damaging noise correctly? Bruel & Kjaer Tech Rev nr 1:3. Burton, A. C. E. O. G. (1969). Man in a Cold Environment. New York. Hafner. Caplan, A. And J. Lindsay. (1946). An experimental investigation of the effects of high temperature on the efficiency of workers in deep mines. Bull Inst Min Metall (London) 480-481. Choi, S. And C. Peek-asa, et al. (2005). Hearing loss as a risk factor for agricultural injuries. AJ Ind Med 48:293 301. deJoy, D. M. (1984). The nonauditory effests of noise: Review and perspectives for research. J Auditory Res 24:123-150.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Ekenvall, L. (1987). Vibration syndrome. Clinical and Pathogenic Aspects. Stockholm. Karolinska instutet (thesis). Ekenvall, L. And L. E. Lindblad (1986). Is vibration white finger a primary sympathetic nerve injury? Br J Ind Med 43:702-706. Ekenvall, L., I. E. Lindblad (1987). High vascular tone but no obliterative lesions in vibration white fingers. Am J Ind Med 12(1):47-54. Ekenvall, L., B. Y. Nilsson, et al. (1986). Temperature and vibration thresholds in vibration syndrome. Br J Ind Med 43(12):825-829. Embon. O. M., G. A. Rose, et al. (1996). Chronic dehydration stone disease. Br J Urol 66(4):357-362. Enander, A. (1984). Performance and sensory aspects of work in cold environments: A review. Ergonomics 27(4):365-378. Ernest, K., M. Thomas, et al. (1995). Delayed effects of exposure to organophosphorus compounds. Indian J Med Res 101:81-84. Fam, A. G. And A. Kolin. (1986). Unusual metacarpophalangeal osteoarthritis in a jackhammer operator. Arthritis Rheum 29(10):1284-1288. Farkkila, M., S. Aatola, J. Starck. O. Korhonen. I. Pyykko. (1986). Hand grip force in lumberjacks: Two year follow-up. Arch Occup Environ Health 58:203-208. Gagge, A. P. and Y. Nishi. (1977). Heat exchange between human skin surface and thermal environment. Handbook of Physiology. D. K. H. Lee. Bethesda. American Physiological Society. Gemne, G. (1992). Pathophysiology and uide for Occupational Health Professionals. P. T. Pelmear. W. Wasserman. D. New York. Van Nostrand Reinhold. ---- (1997). Diagnostics of hand arm system disorders in workers who use vibrating tools. Occup Environ Med 54(2):90-95. Gemne, G. And H. Saraste. (1987). Bone and joint pathology in workers using hand-held vibrating tools. Seand J Work Environ Health 13(4 special issue):290-300. Griffin, M. J. (1998). Evaluation of the effectiveness of gloves in reducing the hazards of hand transmitted vibration. Occup Environ Med 55:340-348.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Hagberg, M., H. Morgenstern, et al (1992). Impact of occupations and job tasks on the prevalence of carpal tunnel syndrome. Scand J Work Environ He alth 18(6):337-345. Hamilton, A. A. (1918). A study of spastic anemia in hands of stonecutters. Bull U.S. Burean of Labr Statistics No.236. Ind Accidents and Hygiene Series 19(53-66). Haughey, B. P., S. Graham, et al. (1989). The epidemiology of testicular cancer in upstake New York. Am J Epidemiol 130(1):25-36. Holgers, K. M., S. I. Erlandson, et al. (2000). Predictive factors for the severity of tinnitus. Audiology 39(5):284-291. Iki, M., N. Kuramatan, et al. (1986). Association between vibration-induced white finger and hearing loss in forestry workers. Scand J Work Environ Health 12(4 Spec No):365-370. Jokl, M. V. (1982). The effect of the environment on human performance. Appl Ergonomics 13(4):269-280. Jones, D. (1990). Recent advance in the study of human performance in noise. Environ Int 16:447-458. Karjalainen, P., E. M. Alhava, J. Valtola. (1975). Thenar muscle blood flow and bone mineral in the forearms of lumberjacks. Br J Ind med 32:11-15. Kivekas, J., H. Riihimaki, et al. (1994). Seven year follow up of white finger symptoms and radiographic wrist findings in lumberjacks and referents. Scand J Work Environ Health 20(2):101-106. Klockhoff, L., B. Drettner, et al. (1974). Computerized classification of the results of screening audiometry in group of persons exposed to noise. Audiology 13(4):326-334. Kumlin, T., M. Wiikeri, P. Sumari. (1973). Radiological changes in carpal and metacarpal bones and phalanges caused by chain saw vibration. Br J Ind Med 30:71-73. Lahdetie, J. (1995). Occupation and exposure-related studies ca human sperm. J Occup Environ Med 37(8):922-930.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Leppert, J., H. Aberg, et al. (1987). Raynands ohenomenon in a female population: Prevalence and association with other conditions. Angiology 38(12):871-877. Lings, S. And C. Lebocuf-Yde. (2000). Whole body vibration and low back pain: A systemic critical review of the epidemiological literature 1992-1999. Int Arch Occup Environ Health 73(5):290-297. Loriga, G. (1911). II Lavoro con i martelli pnematici. Boll Inspett Lavoro 2:3560. Lundborg, G., C. Sollerman, et al. (1987). A new principle for assessing vibrotactile sense in vibration-induced neuropathy. Scand J Work Environ Health 13(4):375-379. Lundstorm, R., T. Stromberg, et al. (1992). Vibrotactile perception threshold measurements for diagnosis of sensory neuropathy. Description of a reference population. Int Arch Occup Environ Health 64(3):201-207. Magnusson, M., M. H. Pope, M. Rostedt, T. Hansson. (1993). The effect of backrest inclination on the transmission of vertical vibrations through the lumbar spine. Clin Biomech 8:5-12. Marvel, M. E., D. S. Pratt, et al. (1991). Occupational hearing loss in New York dairy farmers. Am J Ind Med 20(4):517-531. McBride, D. I., H. M. Firth, et al. (2003). Noisse exposure and hearing loss in agriculture: A survey of farmers and farm workers in the Southland region of New Zealand. J Occup Environ Med 45(12):1281-1288. Necking, L. E., L. B. Dahlin, J. Friden, G. Lundborg, R. Lundstorm, L. E. Thornell (1992). Vibration induced muscle injury. An experimental model and preliminary findings. J Hand Surg [Br]17:270-274. ODonnell, T.F., Jr. (1975). Acute heat stroke. Epidemiologic, biochemical, renal, and coagulation studies. JAMA 234(8):824-828. Panjabi, M. (1996). What happens in the motion segment? Bull Hosp Jt Dia 53:149-153. Panjabi, M., G. B. Andersson, L. Jorneus, E. Hult, L. Mattsson. (1986). In vivo measurements of spinal column vibrations. J Bone Joint Surg Am 68(5):695702.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Peplonska, B. And N. Szeszenia-Dabrowska. (2002). Occupational disease in Poland, 2001. Int J Occup Med Environ Health 15(4):337-345. Pope, M. H., H. Broman, T, Hansson. (1989). The dynamic response of a subject seated on various cushions. Ergonomics 32(10):1155-1166. Pyykko, L., M. Farkkila, et al. (1986). Cold provocation tests in the evaluation of vibration induced white finger. Scand J Work Environ Health 12(4 Spec No):254-258. Pyykko, L., O. Korhonen, et al. (1986). Vibration syndrome among finnish forest workers, a follow-up from 1972 to 1983. Scand J Work Environ Health 12(4 Spec No):307-312. Pyykko, L., E. Sairanen, et al. (1978). Adecrease in the prevalence and severity of vibration induced white finger among lumberjacks in Finland. Scand J Work Environ Helath 4(3):246-254. Pyykko, L., J. Starck, M. Farkkila, M. Hoikkala, O. Korhonen, M. Nurminen. (1981). Hand-arm vibration in the aetiology of hearing loss in lumberjacks. Br J Ind med 38:281-289. Raynaud, M. (1862). De Pasphyxie locale et de la gangrene symetrique des extremities. Paris, L. Leclere, Libraire-Editeur. Rehm, S., E. Gros, G. Jansen. (1985). Effects of noise on health and well -being. Stress Medicine 1:183-191. Seidel, H. (1993). Selected health risks caused by long-term, whole body vibration. Am J Ind Med 23(4):589-604. Seidel, H. And R. Heide. (1986). Long term effects of whole body vibration: A critical survey of the literature. Int Arch Occup Environ Health 58:1-26. Shibolet, S., R. Coll, et al. (1967). Heatstroke: Its clinical picture and mechanism in 36 cases. Q J Med 36(144):525-548. Silverstem, B. A., L. J. Fine, et al. (1987). Occupational factors and carpal tunnel syndrome. Am J Ind Med 11 (3):343-358. Sloan, R.P (1991). Cardiovaskular effect of noise. Noise and Health. T. H. Fay. New York Academy of Medicine. Smith, A. P (1989). A review of the effect of noise on human performance. Scand J Psychology 30: 185-206.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Standardization, I. O. (1990). ISO-1000: Acustics: Determination of Occupational Noise Exposure and Estimination of Noise Induced Hearing Impairment, International Organization for Standardization. Stenlund, B., I. Goldie, et al. (1993). Shoulder tendinitis and its relation to heavy manual work and exposure to vibration. Scand J Work Emiron Health 19(1):43-49. ----- (1992). Deminished space in the acromioclavicular joint in forced arm adduction as a radiographic sign of degeneration and osteoarthrosis. Skeletal Radiol 21(8): 529-533. Stockholm Workshop 86 (1986). Symtomtology and diagnostic methods in the hand-arm vibration syndrome. Scand j Work Environ Health 13 (4). Taylor. W. P., P. L. Pelmear (1975). Vibration White Finger in Industry. London. Academy press Taylor, W. P., P. L. Pelmear, J. Pearon (1974). Raynauds Phenom enon in forestry chain saw operators. The Vibration Syndrome, W. Taylor. London and New york, Academy Press. Teixeira, C. F., L. G. Augusto, et al. (1974). [Hearing health of workers exposed to noise and insecticides]. Rev Saude Publica 37 (4):417-423. Thelin, A. (1981). Work and health among farmers. A study of 191 farmers in Kronoberg Country. Sweden. Scand J Soc Med Suppl 22:1-126. Thulesius, O. (1976). Vibration-induced white fingers. Lakartidningen 73:2269-2270. Tomlinson, R. W. (1970). A Tractor Noise Limit According to Predicted Driver Hearing Loss. Bedford National Inst of Agr Eng, West Park, Silsoe. Zens, C. (1975). Occupational Medicine. Chicago, Year Book Medical Publishers. Inc.

9 / Physical Factors Affecting Health in Agriculture

Zoger, S., J. Svedlund , et al. (2001). Psychiatric disorders in tinnitus patients without severe hearing impairment: 24 month follow-up patients at an audiological clinic. Audiology 40 (3): 133-140.