Anda di halaman 1dari 19

MO NU Anak 6 tahun dengan rasa perih saat kencing

KELOMPOK 11

030.08.096 030.08.114 030.10.249 030.10.250 030.10.251

Faishal Lathifi Hani Amalia Septi Rahadian Seruni Mentari Putri Shabrina Wista A

030.10.252 030.10.253 030.10.254 030.10.256 030.10.259

Shafa Sherhaniz Melissa A Shinta Arumadina Sindy Januarta Soraya Verina

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI 19 Oktober 2011

BAB I PENDAHULUAN
Vesica urinaria adalah organ berongga yang terdiri atas 3 lapis otot detrusor yang saling beranyaman yakni terletak paling dalam adalah otot longitudinal, di tengah merupakan otot sirkuler, dan paling luar merupakan otot longitudinal. Mukosa buli buli terdiri atas sel transisional yang sama seperti pada mukosa pelvis renalis, ureter, dan uretra posterior. Pada dasar vesica urinaria, kedua muara ureter dan meatus uretra internum membentuk suatu segitiga yang disebut trigonum buli buli. Sistitis merupakan infeksi yang terjadi pada vesica urinaria. Etiologi terseringnya ialah bakteri E. Coli. Gejala yang biasanya dialami pasien yang mengalami sistitis ialah sering terasa nyeri saat berkemih. Hal ini disebabkan karena adanya peradangan yang terjadi diakibatkan karena adanya infeksi. Infeksi saluran kemih biasanya sering terjadi pada wanita, namun tidakmenutup kemungkinan bisa terjadi juga pada pria.

BAB II LAPORAN KASUS

SESI 1 Lembar 1 Laki-laki 6 tahun, keluhan kencing terasa perih sejak 2 hari, nyeri perut bagian bawah. Gejala dirasakan ketiga kalinya. Pasien sering kencing dan sukar ditahan Lembar 2 Dari pemeriksaan fisik didapatkan : Tanda vital normal Berat badan 16 kg Nyeri tekan di suprapubik Tampak bayangan smegma di bawah preputium

SESI 2 Lembar 3 Darah perifer : Hb : 12,8 g/L Ht : 37 vol% Hitung Jenis : 0/2/0/65/30/4

Leukosit : 7.000/uL Eritrosir : 4,5juta/uL Trombosit : 290.000/uL LED : 20 mm/jam

Urin lengkap 1. Makroskopik : Protein (-) BJ : 1025 pH : 6,5 Warna : jernih Bilirubin (-) Urobilin (+) Glukosa (-) Keton (-) Nitrit (-)

2. Mikroskopik Eritrosit (10-15) Leukosit (60-70)

Kristal (+) Ca Silinder (-)

BAB III PEMBAHASAN


ANAMNESIS 1. Identitas Pasien Nama Umur Jenis kelamin Alamat Pendidikan 2. Keluhan utama : Kencing terasa perih Nyeri perut bagian bawah :X : 6 tahun : Laki-laki ::-

3. Keluhan tambahan : Sering kencing Kencing sukar ditahan

4. Riwayat penyakit terdahulu : Merupakan kekambuhan yang ke 3 kalinya

5. Riwayat Penyakit Sekarang :

6. Anamnesis Tambahan : Rasa perih timbul pada awal atau akhir berkemih? Rasa Nyeri menjalar atau tidak? Nyeri perut di sebelah bawah bagian apa? Jumlah urin banyak atau sediki? Apakah urin disertai nanah/darah? Bagaimana warnanya? Bagaimana pancaran air kencing saat berkemih? Apakah ada rasa tidak puas/tidak tuntas setelah berkemih? Apakah disertai mual, muntah atau diare? Adakah riwayat trauma? Apakah keluarga ada yang mengalami hal yang sama?

PEMERIKSAAN FISIK DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

A. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan Umum Tanda vital Antropometri TB BB :: 16 kg : dbn

2. Status Generalisata

Mata Mulut Thorax Abdomen Genitalia

: : : : Nyeri tekan di suprapubik : Tampak bayangan smegma di bawah preputium

Dari pemeriksaan fisik diketahui berat badan pasien yang di bawah normal. Jika dihitung berdasarkan BMI, paien seharusnya memiliki berat badan 20kg, ini menunjukan pasien mengalami gangguan gizi..Pada genitalia tampak bayangan smegma yang menandakan pasien belum di sirkumsisi. Kedua hal tersebut mempermudah terjadinya infeksi. Nyeri tekan suprapubik menunjukan adanya gangguan pada vesica urinaria.

B. Pemeriksaan Laboratorium Darah perifer : Hb : 12,8 g/L . nilai ini termasuk normal , normal Hb pada laki laki adalah 1214 g/L Hematokrit : 37 vol % . nilai normal hematrokrit adalah 33-38% Hitung jenis : basofil = 0 , Nilai normal basofil 0-1% Eosinofil = 2, Nilai normal eosinofil adalah 1-3% Neutrofil batang = 0 ,nilai normal neutrofil batang 2-6% Neutrofil segmen = 65 . nilai normal neutrofil segmen adalah 5070% Limfosit =30, nilai normal limfosit 20-40% Monosit = 4 , nilai normal monosit 2-8%

Leukosit : 7.000/L . Pada anak lalki-laki nilai leukosit sedikit diatas dewasa normal yaitu 9.000-12.000/L Eritrosit : 4,5 juta/L . nilai ini sedikit rendah, karena normal eritrosit adalah 4,6-6,2 juta/ L Trombosit : 290.000/ L. nilai normal trombosit adalah 200.000-400.000/ L LED : 20 mm/jam. Nilai ini termasuk tinggi karena nilai normal LED untuk metode wintrobe dan westergen adalah 0-10 mm/jam Pada hasil pemeriksaan darah perifer didapatkan jumlah leukosit yang rendah (leukopeni). Hal ini bisa disebabkan karena infeksi virus dan bakteri. Selain itu , nilai LED mengalami kenaikan dari nilai normal. LED yang lebih tinggi dar normal pada umumnya disebabkan oleh penyakit infeksi. Urin lengkap Makroskopik : protein (-) BJ = 1025 , nilai normal BJ adalah 1003-1030 PH urin = 6,5 , nilai normal urin adalah 4,7-8,0 Warna jernih Bilirubin (-) Urobilin (+) Glukosa (-) Keton (-) Nitrit (-) Mikroskopis : adanya eritrosit. eritrosit (10-15). Pada urin normal, tidak didapatkan Leukosit (60-70). Pada urin normal, tidak terdapat leukosit Kristal (+) Ca Silinder (-) Pada hasilpemeriksaan urin lengkap secara makroskopis, urin dalam keadaan normal. Sedangkan secara mikroskopis, dapat diindikasikan pada

anak ini terjadi hematuria. Hal ini dikarenakan adanya eritrosit dan leukosit dalam urin.

Pemeriksaan penunjang Adapun pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan yaitu: 1. kultur urin dilakukan dengan pengambilan midstream. Pada infeksi saluran kemih akan ditemukan >100000/mm3 patogen tunggal. Kultur urin juga bermanfaat untuk mengetahui jenis kuman yang menginfeksi sehingga dapat ditentukan jenis antibiotic yang perlu diberikan. 2. Rontgen abdomen untuk memastikan ada tidaknya batu pada saluran kemih.

DIAGNOSIS Diagnosis kerja : Cystitis Penegakan diagnosis cystitis pada pasien ini cukup jelas, dimana didapatkan gejala khas cystitis yaitu : 1. Dysuria 2. Polakisuria 3. Inkontinensia uri 4. Nyeri suprapubik Dengan factor predisposisi sebagai berikut : 1. Belum disunat dan terdapat smegma 2. Gizi buruk DIAGNOSIS BANDING 1. Urolithiasis 2. Uretritis PATOFISIOLOGI

Iritasi leher vesica urinaria Reaksi inflamasi mukosa kemerahan & edema hypersensitive jika vesica urinaria terisi urin terangsang mengeluarkan isi

PENATALAKSANAAN
Terapi 1. Antibiotic. Antibiotic yang digunakan untuk mengatasi sistitis adalah sebagai berikut: Trimethoprim-sulfametoxazol 6 mg/kg selama 3 sampai 5 hari. Nitrofurantoin dengan dosis 5-7 mg/kg. Amoxicillin dengan dosis 50 mg/kg. 2. Sirkumsisi (menghilangkan faktor predisposisi) Ditemukan smegma di bawah preputium si anak yang menunjukkan bahwa si anak belum disirkumsisi. Anak laki-laki yang belum disirkumsisi merupakan salah satu faktor predisposisi dari infeksi saluran kemih. Maka dianjurkan agar dilakukan sirkumsisi setelah infeksinya telah hilang. 3. Menghilangkan faktor penyulit Si anak memiliki berat badan di bawah rata-rata yang menunjukkan bahwa anak tersebut mangalami gangguan gizi. Maka dapat diberikan vitamin atau suplemen untuk memperbaiki gizinya dan juga diberikan edukasi kepada orang tua mengenai makanan-makanan bergizi. 4. Edukasi orang tua Orang tua diharapkan dapat memandu si anak agar banyak minum air putih, menjaga kebersihan si anak terutama saat buang air, dan mencegah konstipasi.

PROGNOSIS Ad Vitam : Bonam

Ad Sanationam : Dubia ad Malam Ad Fungsionam : Bonam

Komplikasi 1. Pyelonefritis Kuman dalam vesika urinaria dapat bergerak ke atas dan akhirnya menginfeksi bagian ginjal. 2. Hipertensi Gangguan pada ginjal dapat mengakibatkan hipertensi. 3. Renal insufficiency 4. Nefropati Gagal ginjal (Jika terjadi infeksi dalam waktu yang lama)

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA


Anatomi Sistem urinaria

Sistem urinaria adalah suatu system kerjasama tubuh yang memiliki tujuan utama mempertahankan keseimbangan internal atau Homeostatis. Fungsi lainnya adalah untuk membuang produk-produk yang tidak dibutuhkan oleh tubuh. System urinaria ini melibatkan beberapa organ, diantaranya adalah Ginjal, ureter, vesica urinaria dan uretra.

Ginjal Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga retroperitoneal bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi cekungnya menghadap medial. Cekungan ini disebut hilus renalis, yang di dalamnya terdapat apeks pelvis renalis dan struktur lain yang merawat ginjal, yakni pembulu darah, system limfatik, dan system saraf.

Secara anatomis ginjal terbagi menjadi 2 bagian yaitu korteks dan medula. Korteks ginjal terletak lebih superfisialis dan didalamnya terdapat berjuta juta nefron. Nefron merupakan unit fungsional terkecil ginjal. Medula ginjal yang terletak lebih profundus banyak terdapat duktuli atau saluran kecil yang mengalirkan hasil filtrasi berupa urin. Nefron terdiri dari glomerulus, tubulus kontroktus proksimal, loop of henle, tubulus kontroktus distalis dan duktus kolegentes. Darah yang membawa sisa hasil metabolisme tubuh difiltrasi di dalam glomerulus dan setelah sampai di tubulus ginjal beberapa zat yang masih diperlukan tubuh mengalami reabsorbsi dan zat sisa metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh mengalami sekresi membentuk urin. Urin yang terbentuk di dalam nefron disalurkan melalui piramida ke system pelvikalises ginjal untuk kemudian disalurkan ke dalam ureter. Sistem pelvikalises ginjal terdiri atas kaliks minor, infundibulum, kaliks major, dan pielum/pelvis renalis. Mukosa system pelvikalises terdiri atas epitel transisional dan dindingnya terdiri atas otot polos yang mampu berkontraksi untuk mengalirkan urine sampai ke ureter. Ureter Ureter adalah organ berbentuk tabung kecil yang berfungsi mengalirkan urine dari pelvis ginjal ke dalam vesica urinaria. Pada orang dewasa panjangnya lebih kurang 25-30 cm dan diameternya 3-4 mm. Dindingnya terdiri atas mukosa yang dilapisi oleh sel transisional, otot polos sirkuler, dan otot polos longitudinal. Kontraksi dan relaksasi kedua otot polos itulah yang memungkinkan terjadinya gerakan peristaltic ureter guna mengalirkan urin ke dalam buli buli. Vesica urinaria

Vesica urinaria adalah organ berongga yang terdiri atas 3 lapis otot detrusor yang saling beranyaman yakni terletak paling dalam adalah otot longitudinal, di tengah merupakan otot sirkuler, dan paling luar merupakan otot longitudinal. Mukosa buli buli terdiri atas sel transisional yang sama seperti pada mukosa pelvis renalis, ureter, dan uretra posterior. Pada dasar vesica urinaria, kedua muara ureter dan meatus uretra internum membentuk suatu segitiga yang disebut trigonum buli buli. Secara anatomis, buli buli terdiri atas 3 permukaan, yakni permukaan superior yang berbatasan dengan rongga peritoneum, dua permukaan inferiolateral, dan permukaan posterior. Permukaan superior merupakan daerah terlemah vesica urinaria. Vesica urinaria berfungsi menampung urine dari ureter dan kemudian mengeluarkannya melalui uretra dalam mekanisme miksi (berkemih). Uretra

Uretra merupakan tabung yang menyalurkan uri ke luar dari vesica urinaria melalui proses miksi. Secara anatomis uretra dibagi menjadi 2 bagian, yaitu uretra posterior dan uretra anterior. Uretra dilengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada perbatasan vesica urinaria dan uretra, serta sfingter uretra eksterna yang terletak pada perbatasan uretra anterior dan posterior. Uretra posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika, yakni bagian uretra yang dilingkupi oleh kelenjar prostat, dan uretra pars membranasea. Di bagian posterior lumen uretra prostatika, terdapat tonjolan verumontanum, dan di sebelah proksimal dan distal dari verumontanum ini terdapat krista uretralis. Bagian akhir dari vas deferens, yaitu kedua duktus ejakulatorius, terdapat di pinggir kiri dan kanan verumontanum. Sekresi kelenjar prostat bermuara di dalam duktus prostatikus yang tersebar di uretra prostatika. Uretra anterior adalah bagian uretra yang dibungkus oleh korpus spongiosum penis. Uretra anterior terdiri atas pars bulbosa, pars pendularis, fossa navikularis dan meatus uretra eksterna. Di dalam lumen uretra anterior terdapat beberapa muara kelenjar yang berfungsi dalam proses reproduksi, yaitu kelenjar cowperi yang berada di dalam diafragma urogenitalis dan bermuara di uretra pars bulbosa, serta kelenjar littre, yaitu kelenjar parauretralis yang bermuara di uretra pars pendularis.

Sistitis Definisi Sistitis merupakan infeksi pada vesika urinaria. Etiologi Bakteri penyebab yang paling sering ialah golongan Enterobacteriaceae yang berasal dari daerah perineum atau traktus intestinal. E.coli merupakan kuman penyebab yang paling sering ditemukan (80%). Kuman lain yang juga ditemukan ialah Klebsiella, Proteus, Pseudomonas, Streptococcus dan Staphylococcus. Faktor predisposisi Faktor predisposisi sistitis antara lain ; jenis kelamin perempuan, lelaki yang belum disirkumsisi, reflux vesikouretral, pemakaian kateter kandung kemih, memakai celana ketat, konstipasi, dan abnormalitas anatomi (kista, tumor, dll). Patofisiologi Terjadinya sistitis pada anak dapat melalui beberapa cara. Pada bayi, terutama neonates biasanya bersifat hematogen sebagai akibat terjadinya sepsis. Pada anak besar, infeksi biasanya berasal dari daerah perineum yang kemudian menjalar secara asendens sampai ke vesika urinaria. Gejala klinis Pada sistitis, pasien umumnya akan mengalami beberapa gejala seperti disuria, polakisuria, urgency, inkontinensia, hematuria mikroskopis dan nyeri suprapubik. Sistitis umunya tidak disertai dengan demam.

BAB V KESIMPULAN
Dalam kasus ini, An. X yang berumur 6 tahun di diagnosis Sistitis. Karena dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan gejala yang menandakan adanya infeksi pada bagian vesica urinaria, seperti adanya nyeri tekan pada bagian suprapubik pasien, lalu ditemukan peningkatan leukosit pada pemeriksaan mikroskopis urin pasien, juga adanya polakisuri pada pasien.. Penatalaksaan pada kasus ini dapat dilakukan pemberian antibiotic untuk menghilangkan penyebab infeksi, juga dapat dianjurkan untuk dilakukan sirkumsisi untuk menghilangkan factor predisposisi infeksi pada saluran kemih pasien. Dan dapat juga disarankan untuk banyak minum dan memperbaiki intake makanan.

BAB VI DAFTAR PUSTAKA

1. Purnomo, Basuki B., Dasar-Dasar Urologi, edisi kedua, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, 2003 2. Widjaja AR. Kelainan Urogenital pada Laki-laki. Jakarta: EGC; 2010. 3. Sjamsuhidayat R, De Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC;2005. 4. Snell, Richard S. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. 6 THed. Jakarta: EGC;2006.