Anda di halaman 1dari 110

PENERAPAN PENYELESAIAN SOAL SECARA SISTEMATIS(PS3)

DENGAN MENGGUNAKAN METODE EKSPOSITORI PADA

POKOK BAHASAN LINGKARAN DI KELAS VIII

SMP RAKYAT PANCUR BATU

TAHUN AJARAN 2008 / 2009

SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

LENY FARIDA YANTI Nomor Pokok : 7105050202 Program Studi Pendidikan Matematika

F K I P
F K
I P

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA

MEDAN

2 0 0 9

PENERAPAN PENYELESAIAN SOAL SECARA SISTEMATIS(PS3)

DENGAN MENGGUNAKAN METODE EKSPOSITORI PADA

POKOK BAHASAN LINGKARAN DI KELAS VIII

SMP RAKYAT PANCUR BATU

TAHUN AJARAN 2008 / 2009

SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

LENY FARIDA YANTI

Nomor Pokok : 7105050202

Program Studi Pendidikan Matematika

PEMBIMBING I

Mulyono,S.Si, M.Si

PEMBIMBING II

Muliawan Firdaus,S.Pd, M.Si

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA

MEDAN

2 0 0 9

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA

DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA BERITA ACARA BIMBINGAN SKRIPSI Nama : LENY FARIDA
DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA BERITA ACARA BIMBINGAN SKRIPSI Nama : LENY FARIDA

BERITA ACARA BIMBINGAN SKRIPSI

Nama

:

LENY FARIDA YANTI

NPM

:

7105050202

Program Studi

:

Pendidikan Matematika

Dosen Pembimbing I

:

Mulyono, S.Si, M.Si

Dosen Pembimbing II

:

Muliawan Firdaus, S.Pd, M.Si

Tgl. Penunjukkan Pembimbing :

24 November 2008

Tgl. Persetujuan Judul

:

14 November 2008

Judul Skripsi : PENERAPAN PENYELESAIAN SOAL SECARA SISTEMATIS (PS3) DENGAN MENGGUNAKAN METODE EKSPOSITORI PADA POKOK BAHASAN LINGKARAN DI KELAS VIII SMP RAKYAT PANCUR BATU TAHUN AJARAN

2008/2009.

Uraian Pelaksanaan Pembimbing

No

Materi Bimbingan

Pembimbing I

Pembimbing II

Tanggal

Paraf

Tanggal

Paraf

1.

Pengajuan Judul

14-11-2008

 

14-11-2008

 

2.

ACC Judul

14-11-2008

 

14-11-2008

 

3.

Pengajuan Proposal

31-01-2009

 

31-01-2009

 

4.

ACC Proposal

18-02-2009

 

18-02-2009

 

5.

Pengajuan Skripsi

30-05-2009

 

30-05-2009

 

6.

Perbaikan I

02-06-2009

 

02-06-2009

 

7.

Perbaikan II

03-06-2009

 

03-06-2009

 

8.

Perbaikan III

08-06-2009

 

08-06-2009

 

9.

ACC Skripsi

09-06-2009

 

18-06-2009

 
 

Medan,

Juni 2009

Ketua Program Studi Pendidikan Matematika

(Drs. Syahwin, M.Si)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA

PENGESAHAN SKRIPSI

Nama

: Leny Farida Yanti

Nomor Pokok

: 7105050202

Program Studi

: Pendidikan matematika

Jenjang Program

: Strata Satu (S1)

Judul skripsi

: PENERAPAN PENYELESAIAN SOAL SECARA

SISTEMATIS (PS3) DENGAN MENGGUNAKAN

METODE EKSPOSITORI PADA POKOK BAHASAN

LINGKARAN DI KELAS VIII SMP RAKYAT PANCUR

BATU TAHUN AJARAN 2008/2009

Ketua

Pembimbing I

Mulyono, S.Si,M.Si

Panitia Ujian

Medan,

Sekretaris

2009

Pembimbing II

Muliawan Firdaus,S.pd,M.Si

PENERAPAN PENYELESAIAN SOAL SECARA SISTEMATIS ( PS 3 ) DENGAN MENGGUNAKAN METODE EKSPOSITORI PADA POKOK BAHASAN LINGKARAN DI KELAS VIII SMP RAKYAT PANCUR BATU TAHUN AJARAN 2008 / 2009

Leny Farida Yanti (NPM 7105050202) ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui keefektifan penerapan PS3 dengan menggunakan metode ekspositori, (2) mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal dengan PS3 dan (3) mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan penerapan PS3 menggunakan metode ekspositori.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas SMP-RAKYAT Pancur Batu sebanyak 36 orang. Objek dalam penelitian ini adalah penerapan PS3 pada pembelajaran matematika dengan menggunakan metode ekspositori pada pokok bahasan Lingkaran.

menggunakan metode ekspositori pada pokok bahasan Lingkaran. Indikator keefektifan penerapan PS3 dengan menggunakan

Indikator keefektifan penerapan PS3 dengan menggunakan metode ekspositori pada penelitian ini adalah (1) tingkat penguasaan siswa minimal sedang terpenuhi, (2) ketuntasan belajar secara klasikal terpenuhi, (3) ketuntasan pencapaian TPK terpenuhi, (4) kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran terpenuhi.

Berdasarkan hasil analisa data diperoleh bahwa dari 36 siswa terdapat 30 siswa (83,3%) yang memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 65% (tuntas belajar) dan 6 siswa (16,7%) tidak tuntas belajar. Ketercapaian TPK sebanyak 5 (67,44%) dari 6 TPK telah tuntas. Dari hasil observasi (3,11) disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran termasuk dalam kategori baik.

Berdasarkan indikator keefektifan pada penelitian ini, disimpulkan bahwa penerapan PS3 dengan menggunakan metode ekspositori efektif diterapkan pada pokok bahasan Lingkaran di kelas VIII SMP-RAKYAT Pancur Batu T.A 2008/2009.

Tingkat kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal dengan PS3 yaitu (1) kemampuan menganalisa soal sebesar 68,5% (kategori sedang), (2) kemampuan merencanakan penyelesaian soal sebesar 65,2% (kategori sedang), (3) kemampuan menyelesaikan soal sebesar 66,4% (kategori sedang), (4) kemampuan mengevaluasi kembali hasil penyelesaian soal sebesar 66,1% (kategori sedang). Dari keempat tingkat kemampuan tersebut, siswa SMP-RAKYAT Pancur Batu memiliki tingkat kemampuan sedang dalam menyelesaikan soal dengan PS3.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan

rahmat dan karunia-Nya kepada penulis hingga penelitian dapat diselesaikan dengan

baik sesuai dngan waktu yang direncanakan.

Skripsi dengan judul “Penerapan Penyelesaian Soal Secara Sistematis (PS3)

Dengan Menggunakan Metode kspositori Pada Pokok Bahasan Lingkaran Di Kelas

VIII

SMP-RAKYAT

Pancur

Batu

Tahun

Ajaran

2008/2009”

disusun

untuk

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan Dan Ilmu

Pendidikan Universitas Islam Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada : Bapak

Mulyono,M.Si

dan

Bapak

Muliawan

Firdaus,M.Si

sebagai

dosen

pembimbing

skripsi,Kepada Ibu Suryati Tanjung yang telah memberikan bimbingan, saran, kritikan

serta masukkan

kepada penulis sejak awal sampai selesainya penulisan skripsi ini.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ibu Sri Faizah Lisnasari (PD I), Bapak

Nulus Sembiring (PD II), Bapak Rusdi Nasution (PD III). Ucapan terima kasih

disampaikan kepada

ibu Drs.Derlina Nasution M.Si selaku dosen Pembimbing

Akademik

dan

kepada

Bapak

Drs.Syahwin,M.Si

selaku

ketua

Program

Studi

pendidikan Matematika UISU serta kepada Bapak dan Ibu

Dosen beserta staf

Pegawai jurusan matematika FKIP UISU. Ucapan terima kasih juga

kepada Bapak

Pinter Sinulingga selaku Kepala sekolah SMP-RAKYAT Pancur Batu yang telah

memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian dan Ibu Umi Kalsum

selaku guru matematika di kelas penulis mangadakan penelitian.

Teristimewa penulis sampaikan terima kasih banyak kepada Ayahanda Dan Ibunda

tercinta : Legiman / Rita.S yang telah memberikan bantuan doa, moral dan materil,

dan motivasi, yang tak dapat penulis balas, kepada : Nenek Surtinah yang

tercinta atas semua doa dan bantuan moral selama ini. Kepada Kakakku :

Risca Andriani,S.ST dan Abangku Serda Kiswanto, Kakakku Dhesy Itaman,A.Md

Adikku Rina Andriana yang selalu memberikan dukungan dan bantuan moral, materil,

mencukupkan dana dari awal kuliah sampai selesai kuliah di UISU, dan tak lupa

untuk keponakanku yang lucu dan imut : Dimas Akmal Prathama Nugraha dan

Kamila Dwi Athifah yang selalu memberikan semangat baru bagi penulis, kepada

seluruh keluarga besar penulis ucapkan terima kasih banyak. Ucapan terima kasih juga

disampaikan untuk sahabat-sahabatku : Rina, Uma, Neni, Anita, Evi, Walida, Ryan,

Candra,

Agustia,

Dian,

Kobes

Team,

temen

-temen

seperjuangan

di

kampus

khususnya Mat’05. Terima kasih juga buat sobatku Irma dan Winda serta temen-

temen PPL-T MMA-UISU yang tidak bisa

disebutkan satu persatu. Penulis tidak

dapat membalas budi baik dari semuanya. Allah yang kiranya membalas kepada

Bapak, Ibu, dan Saudara/i sekalian.

Penulis telah berupaya dengan semaksimal ungkin dalam penyelesaian skripsi

ini, namun penulis menyadari masih banyak kelemahan baik dari segi isi maupun tata

bahasa. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun

dari pembaca demi sempurnanya skripsi ini. Kiranya isi skripsi ini dapat bermanfaat

dalam memperkaya khasanah ilmu pendidikan.

Medan,

Penulis,

Juni 2009

Leny Farida Yanti NPM. 7105050202

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN

…………………….

 

i

ABSTRAK

………………………

ii

KATA PENGANTAR

………………………….

iii

DAFTAR ISI

……………………………

v

DAFTAR TABEL

……………………………

ix

DAFTAR LAMPIRAN

………………………………

x

BAB I

PENDAHULUAN

1

1.1. Latar Belakang

……………………………….

1

1.2. Identifikasi Masalah

……………………………….

3

1.3. Pembatasan Masalah ……………………………….

4

1.4. Rumusan Masalah

……………………………….

4

1.5. Tujuan Penelitian

……………………………….

5

1.6. Manfaat Penelitian

……………………………….

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

6

2.1.

Kerangka Teoritis

……………………………….

6

2.1.1. Pengertian Belajar

……………………….

6

2.1.2. Pengertian Mengajar

……………….

7

2.1.3. Kesulitan Belajar

………………………

8

2.1.4. Pengertian Hasil Belajar dan Faktor yang

Mempengaruhi ……………………………

9

2.1.5. Kemampuan Memecahkan Masalah………

11

2.1.7.

Penyelesaian soal secara Sistematis…………

14

 

2.1.8. Kelebihan dan Kelemahan PS3……………

16

2.1.9. Metode Ekspositori………………………….

17

2.1.10.Kelebihan dan Kelemahan Metode Ekspositori

20

2.1.11.Tinjauan Tentang Lingkaran………………….

21

2.2. Kerangka Konseptual

……………………

……….

25

2.3. Hipotesis……………………………………………

26

BAB III

METODE PENELITIAN

27

3.1. Lokasi Penelitian

………………………

27

3.2. Subjek dan Objek Penelitian

…………………

27

3.3. Jenis Penelitian

………………………….

27

3.4. Prosedur Penelitian

…………………………………

27

3.5. Alat Pengumpul Data …………………………………

28

3.5.1. Validitas Tes……………………………………

29

3.5.2. Reliabilitas Tes……………………………………

29

3.5.3. Daya Pembeda Soal………………………………

30

3.5.4. Tingkat Kesukaran Soal………………………….

31

3.6. Teknik Analisa Data

……

…………………

31

3.6.1. Menghitung Tingkat Penguasaan Siswa………….

31

3.6.2. Menghitung Ketuntasan Belajar Siswa…………….

32

3.6.3. Mencari Tingkat Ketercapaian TPK ……………

33

3.6.4. Menganalisa Hasil Observasi

…………………

33

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………………

35

 

4.1. Hasil Penelitian………………………………………

35

4.1.1. Deskripsi Tingkat Penguasaan siswa…………….

35

4.1.2. Deskripsi Ketuntasan Siswa…………………….

36

4.1.3. Deskripsi Ketuntasan Ketercapaian Tujuan

Pembelajaran khusus atau Indikator…………….

36

4.1.4. Hasil Observasi…………………………………

37

4.1.5. Deskripsi Kemampuan PS3………………………

41

4.2. Pembahasan……………………………………………

44

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN………………………………

46

5.1. Kesimpulan……………………………………………

46

5.2. Saran…………………………………………………….

46

DAFTAR PUSTAKA

47

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1

Tingkat Penguasaan Siswa Pada Tes Akhir

35

Tabel 4.2

Data Ketuntasan Belajar Siswa

36

Tabel 4.3

Data hasil Observasi

37

Tabel 4.4

Pencapaian Efektifitas Penerapan PS3 menggunakan

41

metode ekspositori

Tabel 4.5

Kemampuan Menganalisa Soal

41

Tabel 4.6

Kemampuan Merencanakan Penyelesaian Soal

42

Tabel 4.7

Kemampuan Menyelesaikan Soal

43

Tabel 4.8

Kemampuan mengevaluasi Kembali Hasil

Penyelesaian Soal

44

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1

Skenario Pembelajaran – 1 dan Lembar Obsrvasi -1

48

Lampiran 2

Skenario Pembelajaran – 2 dan Lembar Obsevasi -2

55

Lampiran 3

Skenario Pembelajaran -3 dan Lembar Observasi -3

63

Lampiran 4

Instrument Soal

71

Lampiran 5

Instrument jawaban

74

Lampiran 6

Tabel Penentuan Validitas Soal

83

Lampiran 7

Perhitungan Validitas Soal

85

Lampiran 8

Perhitungan Reliabilias Soal

87

Lampiran 9

Perhitungan Daya pembeda Soal

90

Lampiran 10

PerhitunganTingkat Kesukaran Tiap Butir Soal

91

Lampiran 11

Perhitungan Tingkat Persentase Penguasaan Siswa

92

Lampiran 12

PerhitunganTingkat Persentase Ketuntasan Belajar Siswa

94

Lampiran 13 Perhitungan Tingkat Ketercapaian TPK / Indikator

96

Lampiran 14

Sebaran Skor Kemampuan PS3

99

Lampiran 15 Daftar Harga Kritik dari r Product Moment

101

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan serta mengembangkan

potensi yang dimiliki anak didik sebagaimana yang diungkapkan oleh A.B Hasibuan

(1994 : 1) bahwa “Pendidikan sebagai upaya atau kegiatan yang meningkatkan

kemampuan seseorang dalam segala bidang meliputi pengetahuan, keterampilan , dan

sikap”. Dengan demikian pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang

sangat

penting

peranannya

berkualitas tinggi.

dalam

upaya

membina

dan

membentuk

manusia

Pendidikan

matematika merupakan bagian dari pendidikan. Jadi pendidikan

matematika merupakan salah satu aspek kehidupan yang sangat penting peranannya

dalam upaya membina dan membentuk manusia berkualitas tinggi. Sebagaimana yang

diungkapkan Hudojo (1988 : 20) bahwa “ Dalam perkembangan modern, matematika

memegang

peranan

penting

karena

pengetahuan sempurna”.

dengan

bantuan

matematika

semua

ilmu

Pembelajaran matematika di sekolah merupakan sarana berpikir yang jelas,

kritis, kreatif, sistematis, dan logis. Arena untuk memecahkan masalah kehidupan

sehari-hari,

mengenal

pola-pola

hubungan

dan

generalisasi

pengalaman

dan

pengembangan kreatifitas. Hal ini menyebabkan matematika dipelajari disekolah oleh

semua siswa dari SD hingga SMS/SMK/STM dan bahkan juga di perguruan Tinggi.

Namun kenyataan yang terjadi disekolah menunjukkan bahwa banyak siswa

yang tidak menyukai matematika karena dianggap sebagai bidang studi yang paling

sulit, sehingga mengakibatkan rendahnya nilai matematika disekolah. Hal ini

juga

tercermin dari hasil studi yang dilaksanakan oleh Organisasi International Educational

Achievement (IEA) (WWW.depdiknas.go.id.2006) yang menunjukkan bahwa : Studi

kemampuan siswa SMP di Indonesia hanya berada pada urutan ke - 39 dari 42 negara

peserta.

Saat ini keadaan yang terjadi di sekolah SMP RAKYAT Pancur Batu adalah

siswa

kurang

menguasai

perhitungan

dan

penalaran

matematis.

Karena

siswa

mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal yang ditandai dengan banyaknya

kesalahan – kesalahan yang dilakukan siswa dalam menjawab atau mengerjakan soal

– soal. Di sekolah guru tidak melibatkan siswa secara aktif untuk menemukan sendiri

konsep dan prinsip – prinsip dalam menyelesaikan soal secara sistematis. Dominasi

guru terhadap siswa, membuat siswa tidak terlatih memecahkan soal secara sistematis

(PS3).

Dengan demikian sasaran pembelajaran tidak tercapai dan hal inilah yang

menyebabkan hasil ujian kurang memuaskan. Hal ini diakibatkan oleh beberapa hal

(Tjipto Utomo dan Kees Ruijhter , 1994:86) yaitu :

1. Siswa kurang menganalisa soal yang dihadapinya

* Mereka tidak mengetahui apa yang diketahui

* Mereka tidak membaca soal secara seksama

* Mereka terlalu cepat memulai perhitungan

* Mereka tidak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi

2. Siswa tiak merencanakan jalan penyelesaian

* Mereka tidak mulai dengan yang ditanyakan

* Mereka tidak mengetahui persamaan-persamaan yang terpenting

* Mereka tidak menghubungkan teori umum dengan soal yang khusus yang dihadapinya

3. Siswa tidak menyelesaikan soal – soal secara terperinci

* Mereka mengabaikan satuan – satuan yang dihadapinya

* Perhitungan mereka dimulai terlalu dini

4. Siswa tidak menilai lagi kebenaran perhitungannya * Mereka tidak memeriksa lagi apakah jawaban yang diperoleh itu betul, realistis sesuai dengan yang ditanya

Padahal melalui kegiatan pemecahan soal secara sistematis, aspek – aspek

kemampuan siswa dalam matematika seperti penyelesaian soal, penemuan pola

penggeneralisasian, komunikasi matematika dan lain-lain, dapat dikembangkan secara

lebih baik disekolah. Metode ekspositori sendiri juga membantu guru dan siswa dalam

proses kegiatan belajar mengajar. Karena metode ini

merupakan metode dengan

penyampaian materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi yang

disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik dan siswa dapat mengungkapkan

kembali materi yang telah diuraikan oleh guru.

Dalam

hal

ini

untuk

memecahkan

masalah

yang

dihadapi

siswa

SMP

RAKYAT Pancur Batu adalah peranan Penyelesaian Soal Secara Sistematis. Dengan

PS3, siswa disekolah SMP RAKYAT Pancur Batu diharapkan mampu dan terampil

dalam penyelesaian soal dengan cepat dan tepat. Dalam hal ini siswa terpancing

berpikir, menganalisa, bertanya dan mengevaluasinya kembali, sehingga dengan

demikian siswa tersebut aktif berpartisipasi di dalam pembelajaran.

Lingkaran merupakan salah satu pokok bahasan matematika yang diprlajari

siswa dikelas VIII SMP RAKYAT Pancur Batu. Menurut keterangan guru disekolah

tersebut hasil belajar siswa pada penyelesaian soal secara sistematis sangat rendah.

Hal ini disebabkan karena siswa tidak mengikuti langkah – langkah yang berurutan

dan sesuai.

Dari uraian di atas timbul ketertarikan untuk melakukan penelitian tentang : “

penerapan penyelesaian soal secara sistematis (PS3) dengan menggunakan metode

ekspositori pada pokok bahasan lingkaran di kelas VIII SMP RAKYAT Pancur Batu

Tahun Ajaran 2008/2009”.

1.2.

Identifikasi Masalah

Dalam uraian pada latar belakang, masalah dapat diidentifikasikan sebagai

berikut:

2.

Siswa melakukan kesalahan-kesalahan dalam menyelesaikan soal.

3. Kurangnya keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal secara sistematis.

4. Kemampuan siswa dalam pemecahan masalah masih rendah, karena dominasi

guru terhadap siswa.

1.3. Pembatasan Masalah

Melihat luasnya ruang lingkup masalah yang teridentifikasi di bandingkan

waktu dan kemampuan peneliti , maka masalah yang akan dikaji dalam penelitian itu

terbatas

pada

penentuan

tingkat

hasil

belajar

dan

kemampuan

siswa

dalam

menyelesaikan soal secara sistematis . Tingkat hasil belajar siswa yaitu seberapa besar

persentase secara klasikal penguasaan siswa terhadap materi ditinjau dari hasil belajar

dengan menggunakan metode Ekspositori

dan ketercapaian tujuan pembelajaran.

Sedangkan kemampuan siswa dalam PS3 ditinjau dari 4 kemampuan, yaitu:

1. Kemampuan siswa memahami masalah.

2. Kemampuan siswa merencanakan pemecahan masalah.

3. Kemampuan siswa menyelesaikan/melaksanakan pemecahan masalah.

4. Kemampuan siswa mengevaluasi kembali hasil pemecahan masalah

Materi yang diajarkan terbatas pada pokok bahasan Luas dan Keliling Lingkaran.

1.4. Rumusan Masalah

Berdasarkan

masalah

diatas

penelitian ini adalah :

,

maka

yang

menjadi

pokok

permasalahan

1). Apakah pembelajaran dengan metode ekspositori efektif diterapkan dalam

pembelajaran matematika pada pokok bahasan Lingkaran di

Kelas VIII SMP RAKYAT Pancur Batu Tahun Ajaran 2008/2009?

2). Bagaimana kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal dengan menerap

kan PS3 pada pokok bahasan Lingkaran di kelas VIII SMP – RAKYAT

Pancur Batu Tahun Ajaran 2008/2009?

1.5 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan pokok di

atas yaitu :

1). Untuk mengetahui keefektifan pembelajaran matematika dengan metode

Ekspositori

pada

pokok

bahasan

Lingkaran

di

kelas

VIII

SMP RAKYAT Pancur Batu TA.2008/2009.

2). Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal dengan

PS3 pada pokok bahasan Lingkaran di kelas VIII SMP-RAKYAT Pancur

Batu Tahun Ajaran 2008/2009.

1.6 Manfaat Penelitian

1). Sebagai bahan sumbangan pemikiran dalam rangka memperbaiki proses

Pembelajaran matematika di SMP, khususnya mengenai penyelesaian soal

Pada pokok bahasan Lingkaran.

2). Sebagai bahan perbandingan bagi guru/calon guru untuk meninjau

Kemampuan siswa SMP dalam memecahkan masalah dengan penerapan

Metode PS3.

3). Sebagai pertimbangan bagi guru untuk menerapkan metode PS3 pada

pokok bahasan yang lain.

4). Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain yang ingin meneliti

penelitian sejenis

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Kerangka Teoritis

2.1.1.

Pengertian Belajar

Banyak pendapat ahli psikologi yang memberi berbagai defenisi tentang

belajar diantaranya Herman Hudojo (1998:1) menyatakan bahwa: “Belajar adalah

usaha

seseorang

dalam

memperoleh

pengalaman/pengetahuan

baru

sehingga

menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku”.

Perubahan tingkah laku

yang dimaksud adalah perubahan kemampuan siswa

dari tidak tahu menjadi tahu dan dari yang tidak dapat memecahkan masalah menjadi

dapat memecahkan masalah. Dalam perubahan tingkah laku tersebut terjadilah suatu

proses. Jadi belajar itu harus melalui proses, sehingga siswa bukan hanya sekedar

menerima konsep dan prinsip-prinsip. Oemar Hamalik (2001:36) menyatakan bahwa:

“Belajar adalah suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan, jadi

belajar adalah proses aktif mengenai informasi dan kemudian disusun dan dibentuk

dengan cara yang unik oleh setiap individu”.

Senada dengan hal itu, Gagne (dalam Ratna Willis Dahar) menyatakan bahwa :

“Belajar adalah suatu proses dimana suatu organisma berubah perilakunya sebagai

akibat pengalaman”.

Hal ini didukung juga oleh Ngalim Purwanto (1990:9) yang mengatakan

bahwa

:

“Belajar

adalah

suatu

perubahan

yang

terjadi

melalui

latihan

dan

pengalaman”.

Demikian

juga

menurut

Syaiful

Bahri

Djamarah

(2002:11)

yang

mengatakan bahwa: ” Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman

dan

latihan

artinya

tujuan

kegiatan

adalah

perubahan

tingkah

laku,

baik

yang

menyangkut pengetahuan , kemampuan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek

organisme atau pribadi.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dikatakan belajar merupakan aktivitas

seseorang untuk mengumpulkan sejumlah pengetahuan melalui latihan yang teratur

dan tekun sehingga menghasilkan perubahan-perubahan pengetahuan

dan perilaku

pada diri seseorang melalui materi yang dipelajari.

2.1.2. Pengertian Mengajar

Mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan mengajar

yang mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan usaha mengorganisasikan

lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran, sehingga

terjadi proses belajar mengajar. Menurut Sardiman (2003:45):

Mengajar diartikan sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya da menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar. Atau dikatakan , mengajar sebagai upaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa.

Mengajar

adalah

segala

upaya

yang

disengaja

dalam

rangka

memberi

kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang

telah dirumuskan. Karenanya belajar merupakan suatu proses yang kompleks. Tidak

hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa. Banyak kegiatan

maupun

tindakan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar lebih

baik pada seluruh peserta didiknya.

Ilmu

pengetahuan

yang

diajarkan

bersumber

dari

buku-buku

sehingga

pelajaran bersifat intelektualistis tanpa dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

Menurut Raka Joni (dalam Sardiman , 2003:54) :

Mengajar adalah menyediakan kondisi optimal yang merangsang serta mengerahkan kegiatan belajar anak didik untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau sikap yang dapat membawa perubahan tingkah laku maupun pertumbuhan sebagai pribadi.

Dalam proses pengajaran ada 4 hal yang harus dijadikan muatan aktifis

sekaligus , dimana pengajar harus mempunyai peran sebagai berikut :

1. sebagai fasilisator , ialah menyediakan situasi kondisi yang dibutuhkan oleh

individu yang lain.

2. Sebagai pembimbing , ialah memberikan bimbingan kepada siswa dalam interaksi

edukatif , agar siswa mampu belajar dengan lancar dan berhasil secara efektif dan

efisien.

3. Sebagai motivator, ialah memberi dorongan semangat agar siswa mau dan giat

belajar.

4. Sebagai Organisator

Tujuan

mengajar

adalah

agar

pengetahuan

yang

disampaikan

itu

dapat

dipahami peserta didik. Guru yang berhasil mengajar di suatu sekolah belum tentu

berhasil di sekolah lain. Itulah sebabnya ada pendapat bahwa mengajar itu adalah

suatu “seni” tersendiri.

2.1.3.

Kesulitan Belajar

 

Kegiatan belajar tidak terlepas dari berbagai kesulitan yakni suatu keadaan

yang

terdapat

dalam

proses

belajar

mengajar

yang

ditandai

dengan

hambatan-

hambatan untuk mencapai hasil belajar. Siswa yang mengalami kesulitan belajar akan

mengalami

hambatan

belajar

dalam

cenderung menunjukkan prestasi hasil

proses

mencapai

hasil

belajar.

Sehingga

belajar yang rendah. Untuk itulah perlu

dilakukan suatu cara yang dapat menolong siswa untuk mencapai hasil belajar yang

baik.

Dalam proses belajar mengajar gurulah sebagai penanggung jawab sehingga

dalam hal ini guru harus dapat memahami gejala-gejala kesulitan belajar tersebut yang

dapat dilihat dari berbagai tingkah laku siswa sehingga akan dapat ditentukan situasi

yang dihadapi oleh siswanya, misalnya memperoleh nilai matematika yang rendah.

Seperti dikemukakan H.K.Partowisastro dan Hadisuparto (1986:46) bahwa :”Suatu

masalah dalam belajar itu jika seorang siswa tidak memenuhi harapan-harapan yang

diisyaratkan

kepadanya

oleh

sekolah

seperti

yang

tercantum

pada

tujuan

dari

kurikulum dan kurikuler”.

Namun

harapan-harapan

ini

tidak

dapat

tercapai

bila

siswa

mengalami

kesulitan

belajar

seperti

yang

diutarakan

H.K.Partowisastro

dan

Hadisuparto

(1986:47) bahwa : ”Suatu masalah timbul, kalau seorang siswa itu berada di bawah

taraf perilaku dari sebagian besar teman sekelasnya pada mata pelajaran maupun

perilaku sosial yang dianggap penting oleh guru”.

Hal ini menuntut supaya guru mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi

belajar

siswa.

Menurut

Ngalim

Purwanto

mempengaruhi belajar siswa yaitu:

(1990:19)

ada

dua

faktor

yang

1. Faktor Internal, berupa faktor belajar yang bersumber dari dalam diri siswa

tersebut di antaranya kematangan, kecerdasan, latihan dan motivasi.

2. Faktor Eksternal, berupa faktor belajar yang bersumber dari luar diri siswa

di antaranya lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Untuk itulah, guru harus lebih jeli mengenali situasi dan kondisi siswa sesuai

dengan faktor internal dan eksternal seperti yang dikemukakan diatas, sehingga guru

dapat melakukan pendekatan yang efektif dalam mengatasi kesulitan-kesulitan belajar

siswa.

2.1.4.

Pengertian Hasil Belajar dan Faktor yang Mempengaruhi

Belajar bertujuan menciptakan perubahan perilaku dari individu yang belajar .

Menurut

Roestiyah

(dalam

Djamarah,

2002:48)

menyatakan

bahwa

:

“Tujuan

pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan perilaku murid-murid yang kita

harapkan setelah mereka mempelajari bahan pelajaran yang kita ajarkan”.

Tercapai atau tidaknya tujuan belajar tersebut dapat dilihat dari hasil belajar

yang diperoleh siswa. Hudojo (1990) menyatakan bahwa : “Hasil belajar adalah

penguasaan hubungan yang telah diperoleh sehingga orang itu dapat menampilkan

pengalaman dan penguasaan bahan pelajaran yang telah dipelajari”.

Penguasan hubungan yang telah diperoleh ini mencakup ruang lingkup yang

luas sehingga Gagne (dalam Djiwandono, 2002:217) mengelompokkan hasil belajar

dalam lima kategori, yaitu :

1. Informasi Verbal Informasi Verbal adalah tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang yang dapat diungkapkan melalaui bahasa lisan maupun tertulis kepada orang lain. Siswa harus mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan, baik yang bersifat praktis maupun teoritis.

2. Kemahiran Intelektual Kemahiran Intelektual (Intellectual Skill) menununjuk pada”Knowing How”, yaitu bagaimana kemampuan seseorang berhubungan dengan lingkungan hidup dan dirinya sendiri. Kemahiran intelektual dibagi menjadi empat kategori, yaitu :

Diskriminasi jamak (Multiple Discrimination), yaitu kemampuan seseorang dalam membedakan antara objek yang satu dengan objek yang lain. Dalam pemersepsi ,seseorang akan menanggapi suatu benda ciri-ciri yang khas , misalnya warna, bentuk, panjang- lebar, kasar-halus, bau dan sebagainya. Berdasarkan persepsi itu seseorang dapat membedakan objek yang satu dengan yang lain.

Konsep (consept),yaitu arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Konsep dapat dilambangkan dalam bentuk kata yang mewakili konsep itu.Konsep dibedakan atas konsep konkret dan konsep yang harus didefinisikan.konsep konkret adalah suatu pengertian yang menunjuk pada objek-objek dalam lingkungan. Konsep yang didefinisikan, yaitu konsep yang mewakili realitas hidup tetapi bukan lingkungan hidup fisik, misalnya lingkaran adalah yang garis yang berbentuk bundar yang mempunyai jari-jari sama panjang.

Kaidah (Rule), yaitu dua konsep atau lebih yang jika dihubungkan satu sama lain, maka terbentuk suatu ketentuan yang mewakili suatu keteraturan, misalnya besi jika dipanaskan akan memuai.

Prinsip (Higher-Order rule) yaitu kombinasi dari beberapa kaidah, sehingga terbentuk suatu kaidah yang lebih tinggi dan kompleks.

Kaidah tersebut disebut “prinsip”. Berdasarkan prinsip, orang mampu menyelesaikan soal.

3. Pengaturan Kegiatan Kognitif Pengaturan kegiatan kognitif (Cognitive Strategy), yaitu kemampuan yang dapat menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Khususnya bila sedang belajar dan berpikir. Orang yang mampu mengatur dan mengarahkan aktifitas mentalnya sendiri dalam bidang kognitif akan dapat menggunakan semua konsep dan kaidah yang pernah dipelajari jauh lebih efisien dan efektif, daripada orang yang tidak berkemampuan demikian.

4. Sikap Sikap yaitu sikap tertentu seseorang terhadap suatu objek . Misalnya, siswa bersikap positif terhadap sekolah, karena sekolah berguna baginya. Sebaliknya dia bersikap negatif terhadap pesta-pesta karena merasa tidak ada gunanya, hanya membuang waktu dan uang saja.

5. Keteampilan Motorik Keterampilan motorik yaitu seseorang yang mampu melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam uraian tertentu dengan mengadakan koordinasi antara gerak –gerik berbagai anggota badan secara terpadu. Misalnya, Supir mobil dengan terampil mengendarai kendaraannya, sehingga konsentrasinya tidak hanya pada kendaraannya, tetapa juga pada arus lalu lintas di jalan.

Kategori hasil belajar siswa tersebut terkhusus pada pengerjaan soal dapat

dilihat pada kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal dengan PS3. Karena siswa

dituntut

dapat

menganalisa,

berpikir

logis,

menggunakan

prinsip-prinsip

dalam

menyelesaikan soal bahkan mengevaluasi kembali hasil soal yang telah dikerjakan.

2.1.5. Kemampuan Memecahkan Masalah

Setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda, baik dalam mengingat

maupun menggunakan sesuatu yang diterimanya. Hal ini dapat disebabkan karena

tidak semua siswa sama pola pikirnya atau taraf kecerdasannya. Setiap siswa memiliki

cara yang berbeda dalam hal menyusun segala sesuatu yang diamatinya, dilihat,

diingat, ataupun dipikirkannya. Selain berbeda dalam tingkat kemampuan seseorang

juga

berbeda

kemampuan

dalam

memperoleh,

menyimpan,

pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari.

serta

menerapkan

Kemampuan

merupakan

kesanggupan

dalam

melakukan

suatu

aktivitas.Kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi tergantung

pada diri siswa itu sendiri. Ini disebabkan karena kemampuan dari tiap siswa

berbeda.Sehingga “Kemampuan adalah

daya untuk melakukan tindakan sebagai

tindakan sebagai hasil dari pembawaan dalam latihan”.

Jadi yang dimaksud dengan kemampuan dalam menyelesaikan soal secara

sistematis adalah daya siswa dalam mengerjakan soal dengan menerapkan langkah-

langkah dalam PS3.

2.1.6. Keefektifan Dalam Pembelajaran

Suatu pembelajaran dikatakan efektif apabila pembelajaran tersebut dapat

mencapai

tujuan

yang

ditetapkan.

Seperti

yang

diungkapkan

Usman

(dalam

Suryosubroto 1997 : 9) bahwa : “Proses belajar mengajar yang efektif adalah suatu

proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan

timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu”.

Menurut

Simanjuntak

(dalam

Suryosubroto

1997:9)

menyatakan

bahwa

keefektifan pendidikan ditinjau dari dua segi yaitu :

1. Mengajar guru, yang menyangkut sejauh mana kegiatan belajar mengajar yang diajarkan terlaksana.

2. Belajar siswa, yang menyangkut sejauh mana tujuan pelajaran yang diinginkan tercapai melalui kegiatan belajar mengajar.

Hal yang sama dikatakan oleh Nasution (dalam Suryo Subroto 1997 : 11)

bahwa : “Efektifitas guru mengajar nyata dari keberhasilan siswa dalam

menguasai

apa yang diajarkan guru itu”. Sehubungan dengan itu Popham (1992 : 7) mengatakan

bahwa : “Lebih tepat, efektifitas pengajaran itu seharusnya ditinjau dari hubunganya

dengan guru tertentu, di dalam situasi tertentu dan dalam usahanya mencapai tujuan-

tujuan tertentu”.

Menurut tim Pembina mata kuliah didaktik (dalam Suryosubroto 1997 : 10)

mengemukakan bahwa :

Untuk mengetahui efektifitas mengajar adalah dengan memberikan tes dan hasil tersebut dapat dipakai untuk mengevaluasi berbagai aspek proses pengajaran. Hasil tes mengungkapkan kelemahan belajar siswa dan kelemahan mengajar secara keseluruhan.

Dari hasil tes yang diberikan kita dapat mebgetahui apakah siswa telah

menguasai materi pelajaran atau belum.Jika siswa telah menguasai materi tersebut,

maka

siswa

dikatakan

telah

tuntas

dalam

belajar.

Suryosubroto

(1997

:77)

mengemukakan tentang ketuntasan belajar siswa secara individual dan klasikal yaitu :

1. Seorang siswa dikatakan telah tuntas belajar jika siswa tersebut telah mencapai skor minimal 65% dari total skor atau nilai 65. 2. Suatu kelas dikatakan telah tuntas belajar jika dalam kelas tersebut telah terdapat minimal 65% dari jumlah seluruh siswa yang telah mencapai daya serap lebih besar atau sama dengan 65%.

Selain melihat ketuntasan belajar secara individual dan klasikal, yang dapat

dilihat lagi dari hasil tes yang diperoleh adalah pencapaian tujuan pembelajaran

khusus (TPK).

Keefektifan pembelajaran juga tampak dari kondisi kelas selama proses belajar

mengajar. Apabila proses belajar telah mengajar berlangsung dengan baik maka

pembelajaran dapat dikatakan efektif. Menurut Roestiyah (dalam Suryosubroto 1997

:14) menyatakan agar dapat mengajar secara efektif maka guru harus memenuhi

syarat-syarat sebagai berikut :

a. Mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar

b. Menggunakan waktu yang tersedia untuk KBM secara efektif

c. Memberi motivasi belajar siswa

d. Menguasai bahan pelajaran yang akan disajikan

e. Membuat perencanaan sebelum mengajar (RPP)

f. Melakukan komunikasi atau interaksi belajar mengajar

g. Melaksanakan penilaian hasil belajar (PHB) siswa

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, yang menjadi indicator keefektifan

pembelajaran dalam penelitian ini didasarkan kepada :

1. Ketuntasan belajar siswa baik secara individual maupun klasikal

2. Ketuntasan pencapaian tujuan pembelajaran khusus (TPK)

3. Pembelajaran yang dilaksanakan berjalan dengan baik

Jika ketiga aspek ini telah dipenuhi, maka pembelajaran tersebut dikatakan efektif.

2.1.7. Penyelesaian Soal Secara Sistematis (PS3)

Sesuai dengan teori Galperin (Utomo Tjipto dan Kees Ruijhter, 1985 : 88)

yang mengemukakan tiga unsur yang merupakan dasar terpenting dalam kegiatan

pembelajaran yaitu :

1. Orientasi Memberikan dasar orientasi yang lengkap yang mencakup isi maupun metode yang dipakai.

2. Latihan Melatih keaktifan secara bertahap langkah demi langkah dengan empat parameter proses belajar yaitu :

( Konkret -Verbal – Mental )

Kelengkapan ( Lengkap – Singkat )

Penguasan ( Kurang – Baik )

Sifat Persoalan ( Khas – Umum )

Dengan mempelajari parameter-parameter secara terperinci apabila belum diperoleh pemecahan dengan baik maka siswa dapat kembali lagi ke tingkat yang lebih rendah sehingga memungkinkan untuk dapat menyelesaikan dengan baik.

3. Umpan Balik Melakukan suatu diagnosa tentang hasil dari proses belajar mengajar yaitu dengan PS3.

Untuk mendiagnosa hasil belajar yang dimaksud, PS3 merupakan suatu cara

yang efektif , PS3 bukan hanya sekedar cara pemecahan masalah tetapi merupakan

suatu cara berpikir. Seorang guru matematika dituntut melatih siswa agar mampu

memecahkan masalah, guru matematika harus dapat menyesuaikan kegiatan belajar

siswa dengan indikator pada pengajarannya, dalam pemecahan soal matematika serta

memilih cara yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satu di antaranya PS3.

Di dalam penyelesaian soal matematika, PS3 menerapkan 4 langkah yaitu : analisis,

perencanaan, penyelesaian, dan penilaian kembali (Utomo dan Kees Ruijhter, 1985:

90). Keempat tahapan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

A. Analisa Soal Tujuan : untuk memperoleh suatu gambaran lengkap dari apa yang diketahui dan dari apa yang ditanyakan. Dengan demikian seorang siswa terhindar dari memecahkan suatu soal sebelum ia mengerti betul apa yang ditanyakan. Cara analisa itu terdiri dari :

A.1. Soal yang diberikan itu dibaca dengan seksama, kalau perlu digaris bawahi apa yang diketahui. A.2. Yang diketahui itu diyulis dan disusun dalam suatu skema.Biasanya apa yang diketahui dalam istilah dan tanda yang sesuai misalnya satuan, dsb. A.3. Yang ditanyakan ditulis secara lengkap. A.4. Jawaban diperkirakan

B. Rencana Tujuan : mengubah soal yang diberikan menjadi soal baku, artinya soal yang menyelesaikannya secara prinsip telah diketahui. Tahap ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :

B.1. Menentukan apakah soal tersebut merupakan soal baku B.2. Seleksi hubungan yang relevan, persamaan, rumus, diagram, dsb. B.3. Mengerjakan hubungan itu berdasarkan yang ditanyakan

C. Penyelesaian Tujuan : mengerjakan penyelesaian menurut rencana pemecahan , yang terbagi atas bagian :

C.1. Pengerjaan dan hasil dituliskan dengan jelas C.2. Perhitungan baru dilakukan pada akhir. Penyelesaian dibiarkan dalam bentuk rumus dan baru pada tahap akhir diisi dan dihitung.

D. Penilaian Tujuan : memeriksa apakah soal yang diberikan telah dipecahkan dengan baik dan tuntas. Dengan memeriksa kembali soal dan menelaah jalan yang dikerjakan, dapat ditemukan kesalahan-kesalahan yang mungkin telah dibuat dan dengan demikian dapat diperbaiki. Tahap ini dapat dibagi dalam 4 bagian yaitu :

D.1. Nilai hasil dengan membandingkannya dengan hasil kasar yang diperkirakan pada tahap analisa D.2. Jawaban yang diperoleh itu diperiksa apakah sesuai dengan apa yang ditanyakan D.3. Semua tahap diperiksa apakah masing-masing telah selesai D.4. Jalan penyelesaian itu diperiksa apakah dapat dipakai untuk soal-soal lain.

Pembelajaran yang merupakan upaya sadar dan sengaja oleh guru dan siswa,

yang membuat siswa belajar melalui pengaktifan berbagai unsure dalam proses belajar

siswa. Dalam pembelajaran ada 2 hal usaha yang menimbulkan aktifitas siswa dalam

berpikir dan mampu berbuat. Dalam hal ini siswa dihadapkan dengan situasi yang

mengandung

masalah.

Kemudian

mengupayakan

pemecahan

dan

mengatasi

permasalahan. PS3 merupakan cara mengatasi permasalahan dengan keteraturan dan

dilatih mengevaluasi kembali hasil yang didapat.

2.1.8.

Kelebihan dan Kelemahan PS3

 

a.

Kelebihan PS3

 

PS3 menurut Galperin mempunyai perbedaan dengan teori lain yaitu :

1.

Teori ini baik memperhatikan proses belajar maupun dalam memberikan

pengaruh kepada pengajar, sedangkan teori lain biasanya diarahkankepada

hasil belajar saja.

 

2.

Teori ini berlaku untuk pencapaian kemampuan pada tingkat yang tinggi.

3.

Memiliki tiga dasar terpenting yaitu orientasi, latihan, dan umpan balik.

4.

Kegiatan belajar mengajar melalui PS3 dapat membiasakan siswa menghadapi

masalah dalam matematika secara terampil

 

5.

Metode ini merangsang siswa berpikir secara kreatif dan menyeluruh.

b.

Kelemahan PS3

 

1.

Menentukan masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tes pengetahuan

dan

pengalaman

belajar

yang

telah

dimiliki

siswa

sangat

memerlukan

kemampuan dan keterampilan.

 

2.

Memerlukan waktu yang banyak untuk pengerjaannya.

 

3.

Masalah kebiasaan siswa belajar siswa yang banyak mendengar dan menerima

informasi dari guru menjadi banyak berpikir merupakan kesulitan tersendiri

bagi siswa.

2.1.9.

Metode Ekspositori

Metode ini adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses

penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada siswa dengan maksud

agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Roy Killen (dalam Wina

Sanjaya)

menamakan

metode

ekspositori

dengan

istilah

strategi

pembelajaran

langsung (Direct Instruction). Karena dalam hal ini siswa tidak dituntut untuk

menemukan materi itu. Materi pelajaran seakan-akan sudah jadi. Oleh karena metode

ekspositori lebih menekankan kepada proses bertutur, maka sering juga dinamakan

istilah metode “chalk and talk”.

Terdapat

beberapa

karakteristik

metode

ekspositori

.

Pertama,

dilakukan

dengan cara penyampaian materi pelajaran secara verbal. Kedua, biasanya materi

pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi, seperti data atau

fakta, konsep-konsep tertentu. Ketiga, tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan

materi pelajaran itu sendiri. Artinya setelah proses pembelajaran berakhir siswa

diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan

kembali materi yang telah diuraikan.

Wina Sanjaya (2008:179) menyatakan bahwa: “Metode ekspositori merupakan

bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered

approach)”. Dikatakan demikian, sebab guru memegang peran yang sangat dominan.

Melalui metode ini guru menyampaikan materi

pembelajaran secara terstruktur

dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan

baik.

Fokus

utama

metode

ini

achievement student).

adalah

kemampuan

akademik

siswa

(academic

Menurut Wina Sanjaya (2008:181) dalam penggunaan metode ekspositori

terdapat prinsip-prinsip pembelajaran yang harus diperhatikan oleh setiap guru antara

lain :

a. Berorientasi pada Tujuan Walaupun penyampaian materi pelajaran merupakan ciri utama dalam metode ini, namun tidak berarti proses penyampaian materi tanpa tujuan pembelajaran, justru tujuan itulah yang harus menjadi pertimbangan utama dalam penggunaan metode ini.

b. Prinsip Komunikasi Proses pembelajaran dapat dikatakan sebagai proses komunikasi, yang menunjuk pada proses penyampaian pesan dari seseorang (sumber pesan) kepada seseorang atau sekelompok orang (penerima pesan). Pesan yang ingin disampaikan dalam hal ini adalah materi pelajaran yang telah diorganisir dan disusun dengan tujuan tertentu yang ingin dicapai. Dalam proses komunikasi guru berfungsi sebagai sumber pesan dan siswa berfungsi sebagai penerima pesan.

c. Prinsip Kesiapan Dalam teori belajar koneksionisme, “kesiapan” merupakan salah satu hubelajar.Inti dari hukum ini adalah guru harus terlebih dahulu memosisikan siswa dalam keadaan siap baik secara fisik maupun psikis untuk menerima pelajaran. Jangan memulai pelajaran, manakala siswa belum siap untuk menerimanya.

d. Prinsip Berkelanjutan Proses pembelajaran ekspositori harus dapat mendorong siswa untuk mau mempelajari materi pelajaran lebih lanjut. Pembelajaran bukan hanya berlangsung pada saat itu, akan tetapi juga untuk waktu selanjutnya.

Pada

Pelaksanaannya

metode

ekspositori

memiliki

prosedur-prosedur

pelaksanaan, secara garis besar digambarkan oleh Wina Sanjaya (2008) sebagai

berikut :

1. Persiapan (Preparation)

Tahap

persiapan

berkaitan

dengan

mempersiapkan

siswa

untuk

menerima

pelajaran. Dalam metode ekspositori, keberhasilan pelaksanaan pembelajaran sangat

bergantung pada langkah persiapan. Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan

persiapan yaitu :

Mengajak siswa keluar dari kondisi mental yang pasif.

Membangkitkan motivasi dan minat siswa untuk belajar.

Merangsang dan mengubah rasa ingin tahu siswa.

Menciptakan suasana dan iklim pembelajaran yang terbuka.

2. Penyajian (Presentation)

Tahap penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan

persiapan

yang

telah

dilakukan.Hal

yang

harus

diperhatikan

oleh

guru

adalah

bagaimana materi pelajaran dapat dengan mudah ditangkap dan dipahami oleh siswa.

Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah

ini diantaranya : Penggunaan bahasa, intonasi suara, Menjaga kontak mata dengan

siswa, serta menggunakan kemampuan guru untuk menjaga agar suasana

hidup dan menyenangkan.

3. Korelasi (Correlation)

kelas

tetap

Tahap korelasi adalah langkah yang dilakukan untuk memberikan makna terhadap

materi pelajaran, baik makna untuk memperbaiki struktur pengetahuan yang telah

dimiliki siswa maupun makna untuk meningkatkan kualitas kemampuan berpikir dan

kemampuan motorik siswa.

4. Menyimpulkan (Generalization)

Menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti (core) dari materi pelajaran

yang telah disajikan. Sebab melalui langkah menyimpulkan, siswa dapat mengambil

inti sari dari proses penyajian. Menyimpulkan berarti pula memberikan keyakinan

kepada siswa tentang kebenaran suatu paparan. Sehingga siswa tidak merasa ragu lagi

akan

penjelasan

kembali inti-

inti

guru.

Menyimpulkan

materi yang

menjadi

bisa

dilakukan

dengan

cara

mengulang

pokok persoalan,

memberikan

beberapa

pertanyaan yang relevan dengan materi yang diajarkan, dan membuat maping atau

pemetaan keterkaitan antar pokok-pokok materi.

5.

Mengaplikasikan (Aplication)

Tahap aplikasi adalah langkah unjuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak

penjelasan guru. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting dalam proses

pembelajaran

ekspositori.

Sebab

melalui

langkah

ini

guru

akan

dapat

mengumpulkan informasi tentang penguasaan dan pemahaman siswa terhadap materi

yang telah diajarkan. Teknik yang biasa dilakukan pada langkah ini diantaranya,

dengan membuat tugas yang relevan, serta dengan memberikan tes materi yang telah

diajarkan untuk dikerjakan oleh siswa.

2.1.10. Kelebihan dan Kelemahan Metode Ekspositori

a.

Kelebihan Metode Espositori

 

1.

Dengan

metode

ekspositori

guru

dapat

mengontrol

urutan

dan

keluasan

pembelajaran, dengan demikian ia dapat mengetahui sejauh mana siswa

menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.

 

2.

Metode

pembelajaran

ekspositori

dianggap

sangat

efektif

apabila

materi

pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang

dimiliki untuk belajar terbatas.

 

3.

Melalui

Strategi

pembelajaran

ekspositori

selain

siswa

dapat

mendengar

melalui penuturan tentang suatu materi pelajaran, juga sekaligus siswa bisa

melihat atau mengobservasi (melalui pelaksanaan Demonstrasi).

 

4.

Metode Pembelajaran ini bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas

yang besar.

 

b.

Kelemahan Metode Ekspositori

 

1.

Metode pembelajaran ini hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang

memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik.

2.

Metode ini tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik

perbedaan kemampuan, pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya

belajar siswa.

3. Metode ini sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan

sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis.

4. Keberhasilan metode pembelajaran ekspositori sangat tergantung kepada apa

yang

dimiliki

guru,

seperti

persiapan,

pengetahuan,

rasa

percaya

diri,

senmangat, antusiasme, motivasi, dan kemampuan mengelola kelas. Tanpa itu

sudah dipastikan pembelajaran tidak mungkin berhasil.

5. Pengetahuan yang dimiliki siswa akan terbatas pada apa yang diberikan

guru.mengingat gaya komunikasi metode pembelajaran ini lebih banyak terjadi

satu arah (one-way communication). Sehingga kesempatan untuk mengontrol

pemahaman siswa akan terbatas pula.

2.1.11. Tinjauan Tentang Lingkaran

1. Pengertian Lingkaran dan Unsur-Unsurnya

Syamsul Junaidi dkk (2006:166) mengatakan bahwa : “Lingkaran adalah

tempat kedudukan titik-titik yang berjarak sama terhadap suatu titik tertentu pada

bidang datar. Titik tertentu itu disebut pusat lingkaran dan jaraknya disebut jari-jari

lingkaran”.

Unsur-unsur lingkaran antara lain : jari-jari, busur, tali busur, apothema,

diameter, tembereng, dan juring.

A

E

P Q D O G F
P
Q
D
O
G
F

O = Pusat lingkaran

d

= AB = Diameter lingkaran

r

= AO = OB = jari-jari lingkaran

B BG = Busur lingkaran PQ = Tali busur PQ

OD = Apotema

Daerah EFH = Tembereng, Daerah OBG = Juring

Pusat lingkaran adalah suatu titik yang berjarak sama dari setiap titik-titik

pada lingkaran

Diameter adalah ruas garis yang menghubungkan dua titik yang berbeda

pada lingkaran dan melalui pusat lingkaran.

Jari-jari lingkaran adalah panjang ruas garis dan pusat lingkaran ke busur

lingkaran.

Tali busur adalah ruas garis yang menghubungkan dua titik pada lingkaran

yang melalui titik pusat lingkaran.

Tembereng adalah daerah lingkaran yang dibatasi oleh sebuah tali busur

dan busur pada tali busur tersebut.

Juring atau Sektor adalah daerah lingkaran yang dibatasi oleh dua jari-jari

dan sebuah busur.

Apotema adalah ruas garis yang ditarik dari pusat lingkaran dan tegak

lurus tali busur.

3. Keliling dan Luas Lingkaran

3.1.Keliling Lingkaran

Perbandingan keliling dengan diameter = π atau π =

atau jari-jari r.

Keliling Lingkaran = π x diameter

Karena

d

= π x d

= 2 x r, dapat pula ditulis

Keliling Lingkaran = π x d

= π x 2 x r

= 2 π r

. Jadi, untuk diameter d Lingkaran = π x diameter Karena d = π x d = 2 x r, dapat
. Jadi, untuk diameter d

3.2.Luas Lingkaran

Mencari luas lingkaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Membuat lingkaran yang panjang jari-jari 10 cm.

2. Membagi lingkaran menjadi dua bagian yang sama degan cara membuat

diameter dan membuat warna yang berbeda.

3. Membagi lingkaran menjadi juring-juring dengan besar sudut pusat masing-

masing 30°.

4. Membagi salah satu juring menjadi dua bagian yang sama.

5. Menggunting lingkaran tersebut sesuai dengan juring-juring yang terjadi

6. Meletakkan

berdampingan.

potongan-potongan

dari

juring-juring

tersebut

secara

7.
7.

Jika juring-juring lingkarannya memiliki sudut pusat semakin kecil misal

15°,10°,15° dan seterusnya, maka bangun yang terjadi sangat mendekati bentuk

persegi panjang dengan panjang =

lingkaran. Sehingga,

bentuk persegi panjang dengan panjang = lingkaran. Sehingga, kali panjang lingkaran dan lebar jari-jari Luas Lingkaran

kali panjang lingkaran dan lebar jari-jari

Luas Lingkaran = Luas persegi panjang yang terjadi

= Panjang x Lebar

= πr x r

= π r²

r =

r = d, maka L = π r² jika dinyatakan dalam d maka rumus lingkaran adalah

d, maka L = π r² jika dinyatakan dalam d maka rumus lingkaran adalah

r = d, maka L = π r² jika dinyatakan dalam d maka rumus lingkaran adalah

L

= π (

d)², sebab r = jika dinyatakan dalam d maka rumus lingkaran adalah L = π ( = πd² d 3.3.Hubungan
d)², sebab r =

=

d maka rumus lingkaran adalah L = π ( d)², sebab r = = πd² d

πd²

maka rumus lingkaran adalah L = π ( d)², sebab r = = πd² d 3.3.Hubungan

d

3.3.Hubungan sudut pusat, panjang busur, luas juring.

B O A Titik O disebut lingkaran
B
O
A
Titik O disebut lingkaran

OA = OB disebut jari-jari lingkaran

Jadi sudut pusat adalah sudut yang dibentuk oleh dua jari-jari lingkaran sudut

pusat, busur dan juring mempunyai hubungan perbandingan senilai

busur dan juring mempunyai hubungan perbandingan senilai = = Berarti : Panjang Busur AB = Keliling

=

=
=

Berarti :

Panjang Busur AB =

Keliling Lingkaranperbandingan senilai = = Berarti : Panjang Busur AB =   = 2. π. r Luas

 

=

2. π. r  =

Luas Juring AOB

=

Luas LingkaranLuas Juring AOB =

=

π.r²=

3.4.Sudut Pusat dan Sudut Keliling

C O A A < AOC disebut sudut pusat
C
O
A
A
< AOC disebut sudut pusat
A B P v R C Q
A
B P
v
R
C Q

Karena titik sudutnya merupakantitik pusat lingkaran. Sudut ABC disebut

sudut keliling karena titik sudutnya terletak pada keliling lingkaran.

Besar sudut pusat sebuah lingkaran adalah dua kali sudut kelilingnya. Jika

kedua sudut tersebut menghadap busur yang sama berarti :

A

< AOC = 2 x <ABC B C O
< AOC = 2 x <ABC
B
C
O

Setiap sudut keliling yang menghadap busur setengah lingkaran atau menghadap

diameter lingkaran adalah sudut siku-siku, berarti :

< ABC = 90

lingkaran adalah sudut siku-siku, berarti : < ABC = 90 2.2. Kerangka Konseptual Dalam proses belajar

2.2. Kerangka Konseptual

Dalam proses belajar mengajar siswa tidak hanya sebagai pendengar dan

penerima pengetahuan saja dari guru, dan guru juga tidak hanya menyampaikan

pengetahuan

yang

dimilikinya

kepada

siswa,

namun

guru

harus

mampu

mempengaruhi siswa untuk berpikir dan mampu menerapkan ilmu matematika yang

dipelajari untuk menyelesaikan soal secara sistematis.

Dengan menggunakan metode PS3 siswa diharapkan akan lebih mengenal dan

paham tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika yang diajarkan guru.

Hal yang lebih nyata lagi dari metode PS3 adalah dimampukan dan terampil dalam

menyelesaikan soal secara sistematis dan tepat. Dalam hal ini siswa terpancing

berpikir, menganalisa, bertanya, dan mengevaluasinya kembali, sehingga dengan

demikian siswa tersebut aktif berpartisipasi di dalam belajar.

Pada metode ini guru berperan sebagai pemberi masalah dan memikirkan

masalah yang sesuai dengan jangkauan pemikiran, jangan sampai masalah yang

diberikan terlalu sulit atau terlalu rendah tetapi tetap memenuhi syarat-syarat suatu

masalah. Di samping itu harus mampu membangkitkan kemauan siswa menyelesaikan

soal yang diberikan, sehingga memberi sejumlah dorongan dan bantuan , pada saat

sistem akan memerlukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika yang telah

dimiliki

siswa

sebelumnya.

Di

samping

guru

menguraikan

cara-cara

khusus

penyelesaian soal secara sistematis dengan langkah-langkah yang sistematis.

Dengan memperhatikan kelebihan dan kekurangan PS3 maka diharapkan

keefektifan pembelajaran akan tercapai yaitu dengan tercapainya ketuntasan belajar

siswa, tercapainya tujuan pembelajaran, dan tercapainya tingkat kemampuan siswa

dalam PS3, minimal mencapai peringkat yang sedang.

2.3.

Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

Penerapan Penyelesaian Soal Secara Sistematis (PS3) dengan menggunakan metode

ekspositori dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi lokasi penelitian adalah SMP- RAKYAT

Pancur Batu Medan. Menurut Kepala Sekolah tersebut tidak pernah dilakukan

penelitian disekolah tersebut yang sejenis dengan penelitian ini.

3.2. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Rakyat Pancur Batu

Medan T.A 2008/2009 yang diambil satu kelas yaitu kelas VIII-3 sebanyak 36 orang.

Dan objek penelitian ini adalah penerapan penyelesaian soal secara sistematis pada

pokok bahasan lingkaran tahun ajaran 2008/2009.

3.3. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini adalah deskriptif analitis dengan pendekatan tes-tes soal

yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode

ekspositori pada penerapan PS3 pada pokok bahasan Lingkaran.

3.4. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :

1. Persiapan peneliti mencakup penyusunan skenario pembelajaran, menyusun

kisi-kisi tes, menyusun tes, memvalidasi tes, penyusunan lembar observasi.

2. Memberikan pretes untuk mengetahui kemampuan awal siswa.

3. Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode ekspositori pada

Penerapan Penyelesaian Soal Secara Sistematis.

4.

Memberikan tes setelah materi berakhir (post tes).

5. Memeriksa dan menilai hasil tes siswa di luar jam pelajaran

6. Melakukan analisis data dari hasil post tes siswa

7. Menulis kegiatan

3.5. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpul data pada penelitian ini adalah tes dan non tes (observasi).

1.

Tes

Tes yang diberikan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang ingin

dicapai. Pretes yang diberikan bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa

sebelum

diterapkan

metode

ekspositori.

Postes

yang

diberikan

bertujuan

untuk

mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkan metode ekspositori. Postes yang

diberikan berbentuk uraian dengan jumlah 10 butir soal dari materi Lingkaran. Tes

yang diberikan berbentuk essay yang berjumlah 10 soal dengan tehnik penskoran

sebagai berikut :

1. Setiap butir soal, skor minimal 0, skor maksimal 10.

2. Langkah 1 : Analisis jika Benar bernilai 2

Langkah 2 : Perencanaan jika Benar bernilai 3

Langkah 3 : Penyelesaian jika Benar bernilai 4

Langkah 4 : Penilaian jika Benar bernilai 1

Sebelum tes digunakan, terlebih dahulu diuji cobakan pada siswa yang

bukan merupakan subjek penelitian. Tes ini akan diujicobakan pada sebagian

siswa kelas VIII-3 yang berjumlah 40 orang. Uji coba ini dimaksudkan untuk

mengetahui validitas dan reliabilitas tes tersebut.

3.5.1.

Validitas Tes

Untuk menghitung validitas tes digunakan rumus product moment angka kasar

yang dikutip dari Suharsimi Arikunto (2008 : 72) yaitu :

yang dikutip dari Suharsimi Arikunto (2008 : 72) yaitu : Dimana : = Koefisisen korelasi antara

Dimana :

Dimana : = Koefisisen korelasi antara variabel x dan variabel y, dua variabel

= Koefisisen korelasi antara variabel x dan variabel y, dua variabel

yang dikorelasikan

 

x

= Skor butir

y

= Skor tabel

n

= Banyaknya siswa

Untuk

menafsir

harga

validitas

item,

maka

harga

tersebut

harus

dikonsultasikan dengan harga kritik r pada product moment dengan

dikatakan valid jika

> .
>
.
r pada product moment dengan dikatakan valid jika > . = 0,05. Tes Adapun kriteria validitas

= 0,05. Tes

Adapun kriteria validitas adalah sebagai berikut :

0

Tes Adapun kriteria validitas adalah sebagai berikut : 0 55% Validitas sangat rendah 55% 65% Validitas

55% Validitas sangat rendah

55%

65% Validitas rendah55%

65%

75%65% Validitas Sedang

Validitas Sedang

75%

85% Validitas tinggi75%

85%

100% Validitas sangat tinggi85%

3.5.2. Reliabilitas Tes

Untuk

mengetahui

reliabilitas

tes,

Suharsimi

Arikunto

(2008:

109)

mengemukakan bahwa koefisien reliabilitas tes bentuk uraian dapat dihitung dengan

menggunakan rumus alpha sebagai berikut :

Dimana :

Dimana : n = reliabilitas yang dicari = banyaknya butir soal = jumlah varians skor tiap-tiap

n

Dimana : n = reliabilitas yang dicari = banyaknya butir soal = jumlah varians skor tiap-tiap
Dimana : n = reliabilitas yang dicari = banyaknya butir soal = jumlah varians skor tiap-tiap

= reliabilitas yang dicari

= banyaknya butir soal

= jumlah varians skor tiap-tiap tes

= varians total

Untuk menafsirkan keberartian harga reliabilitas tes maka harga tersebut

dikonsultasikan ke tabel kritik product moment dengan kriteria

taraf signifikan

= 0,05 maka tes tersebut dikatakan reliable.tabel kritik product moment dengan kriteria taraf signifikan > untuk Adapun Kriteria reliabilitas suatu tes adalah

>
>

untuk

Adapun Kriteria reliabilitas suatu tes adalah sebagai berikut : Bahan

kuliah perencanaan pembelajaran (2008 :40):

0

: Bahan kuliah perencanaan pembelajaran (2008 :40): 0 55% Reliabilitas sangat rendah 55% 65% Reliabilitas

55% Reliabilitas sangat rendah

55%

55% 65% Reliabilitas rendah

65% Reliabilitas rendah

65%

65% 75% Reliabilitas sedang

75%

Reliabilitas sedang

75%

75% 85% Reliabilitas tinggi

85% Reliabilitas tinggi

85%

85% 100% Reliabilitas sangat tinggi

100% Reliabilitas sangat tinggi

3.5.3. Daya Pembeda Soal

Untuk menghitung daya pembeda soal digunakan rumus :

D =

Untuk menghitung daya pembeda soal digunakan rumus : D = Dengan klasifikasi daya pembeda soal sebagai

Dengan klasifikasi daya pembeda soal sebagai berikut :

0,0

P0,0 0,2 adalah jelek

0,2 adalah jelek0,0 P

0,2

P0,2 0,4 adalah cukup

0,4 adalah cukup0,2 P

0,4 < P

0,7 adalah baik0,4 < P

0,7

P0,7 1,0 adalah sangat baik

1,0 adalah sangat baik0,7 P

3.5.4

Tingkat Kesukaran Soal

Untuk mengetahui tingkat kesukaran setiap nomor soal digunakan rumus :

TK =

tingkat kesukaran setiap nomor soal digunakan rumus : TK = Dimana : TK = Tingkat Kesukaran

Dimana : TK

= Tingkat Kesukaran

Mean = rata-rata skor suat soal =

: TK = Tingkat Kesukaran Mean = rata-rata skor suat soal = , d e n

, dengan

Mean = rata-rata skor suat soal = , d e n g a n = jumlah

= jumlah skor

siswa pada

soal tertentu dan n= jumlah peserta tes

Dengan klasifikasi indeks kesukaran :

0,0

P0,0 0,2 adalah jelek

0,2 adalah jelek0,0 P

0,2

P0,2 0,4 adalah cukup

0,4 adalah cukup0,2 P

0,4 < P

adalah baik0,7

0,7

0,7

0,7 P adalah sangat baik 1,0

P

adalah sangat baikP 1,0

1,0

Tes yang baik adalah apabila suatu item hendaknya tidak terlalu sukar dan

tidak terlalu mudah.

2. Non Tes (Observasi)

Observasi dimaksudkan untuk mengamati aktifitas siswa dan guru selama

Pembelajaran.

3.6. Teknik Analisis Data

Untuk

melihat

efektifitas

pembelajaran

yang

sudah

berlangsung,

maka

dilakukan analisis data dari hasil post tes dengan melakukan langkah-langkah sebagai

berikut:

3.6.1. Menghitung Tingkat Penguasaan siswa

Dari hasil tes akhir yang dilakukan,dengan menghitung persentase penguasaan

siswa (PPS) dihitung dengan rumus :

PPS =

PPS = x 100% Dengan Kriteria : 0 55% Penguasaan sangat rendah 55% 65% Penguasaan rendah

x 100%

Dengan Kriteria :

0

PPS = x 100% Dengan Kriteria : 0 55% Penguasaan sangat rendah 55% 65% Penguasaan rendah

55%

Penguasaan sangat rendah

55%

65% Penguasaan rendah55%

65%

75%65% Penguasaan sedang

Penguasaan sedang

75%

85% Penguasaan tinggi75%

85%

100% Penguasaan sangat tinggi85%

3.6.2. Menghitung Ketuntasan Belajar Siswa

Berdasarkan kriteria ketuntasan belajar, terdapat kriteria ketuntasan belajar

perorangan dan klasikal, yaitu :

a. Seorang siswa dikatakan telah tuntas belajar, jika siswa telah mencapai

skor 65% ketuntasan itu dihitung dengan menggunakan rumus :

PDS

65% ketuntasan itu dihitung dengan menggunakan rumus : PDS Dimana : DS = Daya Serap Dengan

Dimana : DS = Daya Serap

Dengan kriteria :

0% ≤ PDS ≤ 65%

: Siswa belum tuntas belajar

65%< PDS ≤ 100% : Siswa telah tuntas belajar

Secara individual siswa dikatakan telah tuntas belajar apabila DS ≥ 65%

b. Suatu kelas dikatakan telah tuntas belajar jika di kelas tersebut terdapat

85% yang telah mencapai daya serap ≥ 65% , ketuntasan tersebut dihitung

dengan rumus;

P

daya serap ≥ 65% , ketuntasan tersebut dihitung dengan rumus; P Dimana : P = Persentase

Dimana : P = Persentase Ketuntasan belajar siswa

X = Jumlah siswa yang telah tuntas belajar

N = Jumlah siswa seluruhnya

3.6.3. Mencari Tingkat Ketercapaian TPK

Dalam pedoman peneliti kurikulum 1975 (dalam Suryosubroto 1997 : 117)

menetapkan bila hasil yang dicapai oleh siswa dalam tes adalah 65% dari TPK atau

lebih siswa dipandang telah menguasai bahan pelajaran yang bersangkutan dan siap

mengikuti

program selanjutnya. Ketuntasan TPK

dilakukan

dengan

menghitung

pencapaian butir soal yang dirumuskan sebagai berikut:

PBS

pencapaian butir soal yang dirumuskan sebagai berikut: PBS Dimana : PBS = pencapaian butir soal Dengan

Dimana : PBS = pencapaian butir soal

Dengan kriteria :

0% ≤ PBS ≤ 65%

65% < PBS ≤ 100%

: TPK belum tuntas

: TPK telah tuntas

Untuk menghitung ketuntasan TPK secara klasikal digunaan rumus sebagai

berikut :

TPK secara klasikal digunaan rumus sebagai berikut : Apabola 65% atau lebih dari seluruh TPK yang

Apabola 65% atau lebih dari seluruh TPK yang ditetapkan tercapai, maka

ketuntasan TPK telah tercapai.

3.6.4. Menganalisis Hasil Observasi

Dari hasil observasi, dilakukan penganalisisan dengan menggunakan rumus :

Observasi Dari hasil observasi, dilakukan penganalisisan dengan menggunakan rumus : Dimana: Pi = hasil pengamatan ke-

Selanjutnya dicari rata-rata hasil pengamatan dengan rumus:

K =

dicari rata-rata hasil pengamatan dengan rumus: K = Dimana K = rata-rata hasil pengamatan n =

Dimana K = rata-rata hasil pengamatan

n = banyak pertemuan

Dengan kriteria : 0,0 ≤ K ≤ 1,5

1,5

< K ≤ 2,5

2,5 < K ≤ 3,5

: Hasil observasi adalah “kurang”

: Hasil observasi adalah “sedang”

: Hasil observasi adalah “baik”

3,5

adalah “sedang” : Hasil observasi adalah “baik” 3,5 K ≤ 4,0 : Hasil observasi adalah “amat

K ≤ 4,0

: Hasil observasi adalah “amat baik”

Pembelajaran dikatakan efektif jika dari hasil pengamatan pembelajaran masuk

dalam kategori baik atau amat baik.

3.6.5. Menganalisis Kemampuan Siswa Sesuai PS3

Untuk menentukan tingkat kemampuan PS3 dilakukan berdasarkan kriteria

berikut:

0 %

55%

:Tingkat kemampuan “sangat rendah”PS3 dilakukan berdasarkan kriteria berikut: 0 % 55% : Tingkat kemampuan “rendah” 65% < K :

berikut: 0 % 55% :Tingkat kemampuan “sangat rendah” : Tingkat kemampuan “rendah” 65% < K :

: Tingkat kemampuan “rendah”

65%

< K

65% < K : Tingkat kemampuan “sedang”

: Tingkat kemampuan “sedang”

75%

< K

75% < K 85% : Tingkat kemampuan “tinggi”

85%

: Tingkat kemampuan “tinggi”

85% < K

85% < K 100% : Tingkat kemampuan “sangat tinggi”

100%

: Tingkat kemampuan “sangat tinggi”

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.1.

HASIL PENELITIAN

 

4.1.1.

Deskripsi tingkat penguasaan siswa

 

Setelah

Penyelesaian

Soal

Secara

Sistematis

(PS3)

diterapkan

dengan

menggunakan

metode

ekspositori

seperti

yang

telah

tergambar

pada

rencana

pelaksanaan pembelajaran (lampiran 1-3). Selanjutnya diadakan tes yang bertujuan

untuk mengetahui hasil belajar siswa pada pokok bahasan lingkaran. Berdasarkan nilai

tes hasil belajar siswa yang disajikan pada lampiran 11, diperoleh data tingkat

penguasaan siswa sebagai berikut :

Tabel 4.1. Tingkat Penguasaan Siswa Pada Tes Akhir

No

Persentase

Tingkat Penguasaan

Banyak Siswa

Persentase

Penguasaan

Jumlah Siswa

 

1 0%

  1 0% 55% S. Rendah 5 Orang 13,9%
  1 0% 55% S. Rendah 5 Orang 13,9%

55%  1 0% S. Rendah 5 Orang 13,9%

S. Rendah

5

Orang

13,9%

 

2 55%

2 55%
  2 55% 65% Rendah 1 Orang 2,8%

65%  2 55% Rendah 1 Orang 2,8%

Rendah

1

Orang

2,8%

 

3 65%

  3 65% 75% Sedang 20 Orang 55,%
  3 65% 75% Sedang 20 Orang 55,%

75%  3 65% Sedang 20 Orang 55,%

Sedang

20

Orang

55,%

 

4 75%

  4 75% 85% Tinggi 9 Orang 25%
  4 75% 85% Tinggi 9 Orang 25%

85%  4 75% Tinggi 9 Orang 25%

Tinggi

9

Orang

25%

 

5 85%

  5 85% 100% S. Tinggi 1 Orang 2,8%
  5 85% 100% S. Tinggi 1 Orang 2,8%

100%  5 85% S. Tinggi 1 Orang 2,8%

S. Tinggi

1

Orang

2,8%

 

JUMLAH

36

Orang

100%

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa siswa yang memenuhi tingkat

penguasaan paling sedikit sedang adalah sebanyak 30 orang atau 83,3%.

4.1.2. Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa

Berdasarkan nilai tes hasil belajar siswa dengan menerapkan PS3 pada pokok

bahasan Lingkaran dengan menggunakan metode ekspositori diperoleh data sebagai

berikut :

Tabel 4.2. Data Ketuntasan Belajar Siswa

No

Persentase Ketuntasan

Tingkat Ketuntasan

Banyak Siswa

% jumlah Siswa

1

< 65%

Tidak Tuntas

6 Orang

16,7%

2

2 65% Tuntas 30 Orang 83,3%

65%

Tuntas

30

Orang

83,3%

 

JUMLAH

36

Orang

100%

Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 13. Berdasarkan tabel di atas

dapat disimpulkan bahwa persentase siswa yang tuntas belajar lebih besar daripada

persentase siswa yang tidak tuntas belajar. Karena 83,3% siswa sudah tuntas secara

individual maka berdasarkan kriteria ketuntasan klasikal dapat disimpulkan bahwa

penerapan

PS3

dengan

menggunakan

metode

ekspositori

pada

pokok

bahasan

Lingkaran memenuhi kriteria ketuntasan belajar secara klasikal.

4.1.3. Deskripsi Ketuntasan Ketercapaian Tujuan Pembelajaran Khusus atau

indikator

Adapun tujuan pembelajaran khusus atau indikator dalam penelitian ini adalah:

1. Menyebutkan unsur – unsur lingkaran dan bagian – bagian lingkaran :

Pusat lingkaran, jari-jari, diameter, busur, talibusur, juring, dan tembereng.

2. Menemuan nilai Phi.

3. Menentukan rumus keliling dan luas lingkaran.

4. Menghitung keliling dan luas lingkaran.

5. Menentukan panjang busur, luas juring, dan tembereng.

Deskripsi pencapaian TPK dapat disajikan pada tabel berikut dengan data

selengkapnya lampiran 14.

Banyak TPK yang yang tuntas = 7 TPK

Persentase TPK yang tuntas

= 67,44%

Berdasarkan data pada lampiran 14 dapat dilihat bahwa TPK yang tercapai ada

5 dari 6 yang ada atau 67,44% tuntas. Berdsarkan kriteria ketuntasan pencapaian TPK

maka ketuntasan pencapaian TPK pada pokok bahasan lingkaran sudah tercapai.

4.1.4. Hasil Observasi

Dari lembar observasi maka data – data hasil observasi dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.3. Data Hasil Observasi

N

Kategori Pengamatan

 

Pertemuan

Keterangan

O

I

II

III

Rata-rata

1.

Membuka Pelajaran

         

1. Menarik

perhatian

3

3

3

3

Baik

siswa

4

3

3

3,3

Baik

2. Menjelaskan

tujuan

pembelajaran

3

3

3

3

Baik

3. Memberikan motivasi

2.

Mengelola Waktu dan Strategi

         

1. Mempersiapkan materi pelajaran dengan rapi d an sistematik

4

3

4

3,7

Amat Baik

2. Menggunakan waktu pembelajaran secara efektif dan efisien

3

4

4

3,7

Amat Baik

3. Melaksanakankegiatan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dalam urutan dan arah yang

3

3

4

3,3

Baik

 

jelas

         

3.

Menggalakan Keterlibatan siswa dalam Proses pembelajaran

         

1. Memotivasi

seluruh

siswa

untuk

berpartisipasi

dalam

3

3

3

3

Baik

memecahkan

masalah

dengan PS3

 

2. Melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran

3

3

3

3

Baik

3. Memberi kesempatan

kepada

siswa

untuk

3

3

3

3

Baik

menyelesaikan

soal

dengan

PS3

ke

papan

tulis

4. Memberi kesempatan

4

3

3

3,3

Baik

kepada

siswa

untuk

mengungkapkan

pendapatnya

4.

Berkomunikasi dengan Siswa

         

1. Pengungkapan pertanyaan dengan jelas dan singkat

3

3

3

3

Baik

2. Pemberian

waktu

berpikir

3

3

3

3

Baik

3. Merespon

jawaban

4

3

2

3

Baik

siswa

4. Memotivasi

siswa

3

3

3

3

Baik