Anda di halaman 1dari 37

BAB 1 PENDAHULUAN

Masalah gangguan peenggunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan zat adiktif lain) merupakan problema kompleks yang penatalaksaannya melibatkan banyak bidang

keilmuan(medik dan non-medik). Penatalaksanaan seseorang dengan ketergantungan Napza merupakan suatu proses panjang yang memakan banyak waktu dan melibatkan berbagai pendekatan dan latar belakang profesi. Gangguan penggunaan NAPZA merupakan masalah biopsiko-sosial-kultural yang sangat rumit sehingga peru ditanggulangi secara multidisipliner dan lintas sektoral dalam suatu program yang menyeluruh (komprehensif) serta kosisten. Pedoman ini hanya memfokuskan pembahasan pada penatalaksaan. Gangguan penggunaan Narkotika Psikotropika dan Zat adiktif lainnya (NAPZA) merupakan masalah yang menjadi keprihatinan dunia internasional disamping HIV/AIDS, kekerasan (violence), kemiskinan, pencemaran lingkungan, pemanasan global dan kelangkaan pangan. WHO memperkirakan jumlah penggunaan tembakau sebanyak 1.1 miliyar orang, penggunaan alcohol sebanyak 250 orang juta orang dan pengguna NAPZA lain sebanyak 1 juta orang diseluruh dunia. Global Burden od Disease (GBD) diakibatkan dan yang terkait dengan pengguanaan NAPZA adalah sebesar 8,9 %, sedangkan Global Mortality akibat penggunaan NAZA sebesar 12,4% dan Disable Adjustment Life Years (DALYs) sebesar 8,9%. Gangguan penggunaan NAPZA dalam pola tertentu berkaitan erat dengan penularah HIV AIDS dalambatas tertentu dengan kekerasan dan kemiskinan. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2007),perilaku merokok di Indonesia secara nasional pada kelompok umur 10 tahun keatas adalah sebesar 29,2%, sedangkan perilakuminum alcohol selama 12 bulan terkahir adalah 4,6% dan dalam 1 bulan terakhir adalah 3,0%. Sementara itu prevalensi penyalah gunaan NAPZA lainnya di Indonesia sulit diketahui besaranya. Namun berdasarkan hasil perhitungan estimasi yang dilakukan oleh badan Narkotuka Nasional (BNN) diperkirakan ada 3,2 juta orang (1,5% dari total populasi) diindonesia

mempunyai riwayat menggunakan NAPZA. Dari jumlah tersebut diperkirakan hanya 10% yang mendapat layanan dari tenaga kesehatan. Maka dari itu gangguan penggunaan NAPZA jarang ditemukan berdiri sendiri melaiknkan terdapat bersama dengan gangguan lain (kormobiditas) seperti anxietas, dan depresi yang dapat terjadi karena kondisi predisposisi ataupun sebagai akibat penggunaan NAPZA itu sendiri, khususnya penggunaan jarum suntik, dapat membuat seseorang menderita penyakit penyulit (komplikasi) seperti HIV/AID, Infeksi Menular Seksual (IMS), Hepatiti B atau C dan lain lain. Sehingga referat ini dibuat dengan maksud kita dapat cepat menatalaksana kasus

kegawat daruratan, intoksikasi dan kormobiditas pada pasien dengan gangguan penggunaan NAPZA.

BAB II ISI 2.1. Pengertian Berbagai istilah (terminology) yang sering digunakan dalam pembahasan gangguan berkaitan dengan NAPZA. Kementrian Kesehatan dan Kementrian Sosial menggunakan istilah NAPZA sebagai istilah drugs atau substances. Dunia penegakan hukum dan masyarakat secara umum lebih luasnya mengenal dengan istilah narkoba. Istilah Substances digunakan dalam pedoman diganostik DSM IV-TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Revised ), sementara istilah drugs digunakan dalam buku WHO (World Health Organization) 1. NAPZA adalah akronim dari narkotik, alkohol, psokotropika dan bahan adiktif lainnya 2. Narkoba adalah akronim dari narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya atau dapat pula menjadi narkotika dan bahan berbahaya lainya 3. Subtances adalah segala bentuk zat kimia yang mimiliki efek spesifik terhadap otak dan tubuh. 4. Drugs adalah setiap zat kecuali makanan, minuman dan oksigen yang apabila masuk kedlam tubuh akan mempengaruhi fungsi fisik maupun psikologis individu. 5. Penggunaan (NAPZA) (Subtancee Use) merupakan istilah yang berjalan dari sisi diagnosis sesuai dengan klasifikasi ICD-10 (internasional Clasiffication od Disseasee10, suatu klasifikasi WHO). Gangguan NAPZA (substance abuse), merujuk kepada istilah bahwa NAPZA itu tidak patut digunakan suatu pandangan sosiokultural dan illegal). 6. Pada PPDGJ II dikenal dengan istilah : gangguan Mental Organik akibat NAPZA dan gangguan NAPZA yang merupakan terjemahan dari DSM II (APA 1980) yaitu Mental Disorder due to Substance Use dan Substance Use Disorder. 7. Pada PPDGJ II dikenal dengan istilah : gangguan mental dan perilaku akibat pengguanan NAPZA psikoaktif yang merupakan terjemahan dari ICD X yaitu : mental dan behavioral disorder due to psychoactive use.

8. Ketergantungan NAPZA adalah suatu pola maladiptif dari pengguanan NAPZA menimbulkan hendaya atau kesukaran yangberari secara kllinis , seperti timbulnya toleransi , gejala, putus NAPZA sulit menghentikan penggunaan, hambatan pada dunia akademik atau perkerjaan . 9. Gangguan NAPZA adalah suatu pola penggunaan NAPZA yang menimbulkan hendaya atau penyulit atau komplikasi yangberarti secara klinis atau fungsi sosial seperti kesulitan untuk menunaikan kewajiban utama dalam pekerjaan/rumah

tangga/sekolah berada dalam keadaan intoksikasi yang dapat membahayakan fisik ketika mengoperasikan mesin atau mengendarai kendaraan, melanggar aturan atau cekcok dengan pasangan. 10. Toleransi adlah berkurangnya respons biologis atauperilaku terhadap pengguanan berulang NAPZA dengan jumlah tertentu, atau kebutuhan meningkatnya jumlah pengguanaan NAPZA untuk mencapai efek yang sama. Toleransi mencerminkan adaptasi homeostatic tubuh dalm menghadapi efek dari NAPZA yang digunakan. 11. Toleransi silang adalah suatu keadaan ketika seseorang yang toleran terhadap suatu jenis NAPZA psikoaktif, juga tolerani terhadap NAPZA psikoaktif yang bersifat farmakologinya sama. 12. Adverse tolerance (toleransi yang merugikan ) adalah keadaaan ketika utuk timbulnya efek suatu NAPZA, diperlukan jumlah atau dosis yang semakin sedikit. Hal ini disebabkan oleh NAPZA atau dosis yang semakin sedikit. 13. Gejala putus NAPZ atau Withdrawl Sindorme adalah timbulnya gangguan fisik atau psikologis akibat hentinya penggunaan NAPZA yang sebelumnya digunakan secara kontinu. 14. Intoksikasi akut adalah suatu kondisi yang timbul akibat menggunakan alcohol atau NAPZA psikoaktif lainya sehingga terjadi gangguan kesadaran fungsi kognitifm persepsi, afek/mood, perilaku atau fungsi dan respon psikologislainya. 15. Keadaan putus NAPZA adalaah sekelompok gejala dengan aneka bentuk keparahan yangterjadi pada penghentian pemberiaan NAPZA secara Absolut atau relative sesuadah penggunaan NAPZA yangetrus menerus dalam jangka atau dosis tinggi, onset dan perjalanan keadaan putus NAPZA itu biasanyawaktunya terbatas dan berkaitan dengan jenis dan dosis NAPZA yang digunakan sebelumnya.
4

2.2.

Masalah Klinis gangguan penggunaan NAPZA a. Tembakau Tembakau digunakan dalam bentuk rokok, cerutu, tembakau, pipa , tembakau kunyah, dan susu. Paling umum adlaah penggunaan rokok baik putih, kretek maupub cerutu. Zat yag berbahaya bagu kesehatan yang dikandung rokok adalah carbon monoksida dan hydrogen sianida yang diserap tubuh melalui paru. Nikotin merupakan zat adiktif dalam tembakau karena efek toksisknya digunakan sebagai insektisida Tembakau bersifat stimulant dan depresa. Perokok pemula akan mengalami euphoria,kepala terasa melayang, pusing pening jantung berdebar debar dan pernafasan meningkat meningkat dan sensai tingling pada tangan dan kaki Masalah medik terkait pengguna tembakau dirokok adalah Gangguan pada sistem pernafasan Jantung Pembuluh daarah Kanker Sistem digestif Gangguan makan Rekasi alergi

b.

Alkohol Penggunaan alcohol dengan ketergatungan disebut juga alkoholisme. Alkohol adalah efek ganda pada tubuh pertama adlah efek gitasi pada susunan saraf pusat yang berlangsung enam kali lebih lama dari efek depresannya. Kesadaran atas kedua efek ini sangat tergantung pad akondisi susunan saraf pada saat penggunaan alcohol berlangsung dengan dmeikina efek penggunaan alcohol juga tergantungpada settingan lingkungan pengguanaan dan kepribadianorang bersangkutan.

Menurut peraturan pemerintah (Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan), minuman keras ada 3 golongan, berdasarkan kadar alkohol yang dikandungnya : 1. Golongan A 2. Golongan B 3. Golongan C : kadar alkohol 1 5 %, misalnya bir. : kadar alkohol 5 20 %, misalnya anggur. : kadar alkohol 20 45%, misalnya wiskey dan vodka.

Massa membuat berita beberapa orang meninggal dalam acara pesta alcohol akibta penggunaan alcohol lokal atau iapatkan dalam populasi tertentu penggunaan alcohol yang sulit dihentikan. Alkoholisme merupakan dengan 4 gambaran utama Craving-keinginan kuat untuk minum Kehilangan kendli diri tak mampu menghentikan kebiasaan minum Ketergantungan fisik- simtom putus alcohol seperti nausea, berkeringat atau gemetar setelah berhenti minum Toleran kebutuhan untuk meningktakan jumlah minum untk medapatkan efek high Beberapa manifestasi klinis : Intoksikasi alcohol akut : Ataksia dan bicara cadel Emosi labil dna diinhibisi Napas berbau alcohol Mood yang bervariasi :

Komplikasi akut pada intosikasi overdosis : Paralisis pernafasan, biasanya bila muntahan masuk ke saluran nafas Obstruksitve sleep apnoe Aritmia jantung fatal ketika alcohol darah lebih dari 0,4 mg/ml

Gejala klinis sehubungan dengan overdosis alkool dapat melalui : Penurunan kesadaran, koma, stupor Perubahan status mental
6

Kulit dingin dan lembab dan suhuh tubuh rendah

Gejala putus zat alcohol Biasa terjai 6-24 jam sesudah konsumsi alcohol yangterakhir Putus zat ringan : tremor, khawatir, berkeringat, mual muntah, sakit kepala, takikardia hipertensi gangguan tidur dan suhu tubuh meningkat. Gejala putus berat Muntah, agitasi berat, disorientasi, kebingungan, paranoia, hipersalivasi, delirium. Indikator kecurigaan putus zat alcohol : >80 gr perhari untuk pria >60 gr perhari untuk wanita Riwayat peminumberat untuk jangka lama Penggunaan depresan CNS lainya Epidose putus zat sbeelumnya Adakah gambaran yang berkaitan dengan alcohol Riwayat sebelumnya yang berkaitan dengan alkoohol Indikasi patologis daripengguan alcohol berat Gejala anxietas, berkeringat, tremor,nausea) Kelainan fisik atau psikologis, cedera, kehamilan, pembedahan dll)

Fetal Alkohol Syndrome (FAS) Perempuan hamil yang meminum akohol akan membuat janinnya juga mengkonsumsi alkohol. Dengan dmeikian alcohol akan membuat perkembangan terhambat, sehingga mengakibatkan gangguan fisik dan perilaku sepanjang hidupny. Gangguan utama berat akibta pengguanaan alkohol pada janin yaitu

fetal alcohol syndrome (FAS) FAS merupakan kelompok masalah dengan gangguan : Retardasi mental Cacat bawan Bentuk wajah abnormal Gangguan sistem syaraf Gangguan memori belajar Gangguan penglihatan Gangguan perilaku FAs menetap selama kehidupan,tidak dapat diperbaiki. Penderita FAS memerlukan sekolah khusus untuk mengatasi hendayanya Gambaran Umum peminum Berat Fisik Pemeriksaan Fisik Nafas berbau Psikososial Sosial alkohol Problem perkawinan/pasangan

Hepatomegali/hepatisis akut tanda lain kekerasan dalam keluarga (fisik/emosi) dari penyakit hati kronik , kekuningan absen kerja/sekolah, prestasi sekolah palmar, erytema, paratiroid swelling /keja memburuk/ mengemudi sambil jaundice sclera, talengietaksis wajah mabuk (pelebaran kapiler wajah) kesulitankeuangan,

depresi/problem perilaku apda suami, anak/anggota keluarga.

Neurological Tremor Ataxia Musculoskeletal dan alat gerak Psikologis

Trauma keselodan tegang cedera/luka Insomnia yang diakibtakan tindak kekerasanfisik Fatigue (termasuk tangga) kekerasan jaringan dlaam rumah Depresi

parut

yangtidak Anxietas

berkaitan dengan pembedahan.

Blackouts Pikiran paranoid Pikiran bunuh diri

Reprodukisi : impotensi, mentruasi tidak teratur, infertilitas pada polyuria Gastrointestinal Gastritis mual muntah pagi Perilaku /kebijaksaaan hari Ingkar janji

dyspepesi non spesifik diare berulang Tidak menepati kesepakatan rencana pancreatitis nafsu makan berkurang Perawatan Penyalahgunaan resep obat Kardiocvascular Hipertensi, stroke hemoragik, takikardia, palpitasi, berkeringat malam

c.

Metamfetamin (ectasy = psikotropika) Disebut juga : Chalk, Crystal, glass, ice, Met, Speed, tina, SS, Crank. Metamfetamin memiliki ama kerja lebih panjang disbanding MDMA (Methylene-dioxy

methamphetamine), yaitu dapat mencapai 12 jam dan efek halusisnasi lebih kuat. Cara penggunaan : Dalam bentuk pil diminum peroral Dalam bentuk Krista, dibakar denganmenggunakan kertas alumunium foil dan asapnya dihisap ( intra nasal) atau di bakar dengan menggunakan botol kaxa yang diranccang khusus (bong). Metaphetamine hydrochloride, berbetuk Kristal dinhalasi dengan dibakar akrena disebut ice, crystal, glass dan tina. Dalam bentuk Kristal yang dilarutkan dapat juga melalui intravena

Metamfetamine memperngaruhi otak dan membuat nikmat meingkatkan energi dan mengikatkan mood, kecanduan nya begitu cepat sehingga penginkatan dosis terjadi dalam jangka pendek.gangguan kesehatan meliputi : irregularitas detak jantung, kenaikan tekana darah, dan berbagai psikososial. Penggunaan jangka panjang akanmembuat seseorang terganggu mentalnya secara seorius mengalami gangguan memori dan maslah kesehatanmulut yang berat. Penggunaan metamfetamin
9

dilaporkan

menunjakkan

gejala

ansietas,

agresifm

paranoia

dan

psikosis

dibandingkan pengguna amfetamin, efek psikologis yang ditimbulkan mirip seprti penggunaan kokain tapi berlangusng lama. Amfetamin dan metafetamin termasuk dalm jenis NAPZA yangdigolongkan sebagai club drug : 1. Club drug tediri dari berbagai macam zat. Biasanya digunakananak muda untuk pesta semalam sntuk pada club dansa dan bar yangtermasuk dalam golongan ini adalah : a. Methyilenedioxymethamphnamine (MDMA)m juga dikenal dengan ecstasy, XTC, X, Adam, Clarity dan Lovers Speed b. Gamma-hydroxybutyrate (GHB) juga disebut Grievous Bodily Harm, G, Liquid ectasy, dan Georgio home Boy. c. Ketamine, nama lainya special vitamin K, K vitamin, cat Valium d. Metamfetamin, disebut juga speed, ice, chalk, meth, crystal crank, fire, glass e. Lysergic Acid Diethylamide (LSD) atau add, boomers, Yellow sunshines 2. Club drugs menjadi popular dan sering menjadi pemicu terjadinya tindak perkosaan.zat ini dikatakan lebih membawa dampak serius disbanding dengan alkohol.

d.

Amfetamin Merupakan golongan stimulasia.Nama Generik amfetamin adalah D-

pseudoepinefrine yang disintesa pada tahun 1887 dan dipasarkan tahun 1932 sebagai dekongestan. Nama jalanannya adalah speed, meth crystal, uppers, whizz dan sulphate. Bentuknya berupa bubuk warna putih dan keabuabuan. Ada dua jenis amfetamin : MDMA ( Methylee-dioxy-methaphetamine) mulai di kenal pada tahun 1980 dengan nama ectacy atau ektasi yang dalam bentuk pil Nama lain : XTC, fantasy Pils, inex, cece, cein.
10

Metafetamin yang telah dibahas detil di bab C.

Efek Amfetamin

Dosis rendah Susunan saragf pusat, Peningkatan stimulasi, insomnia, dizziness,

Dosis tinggi Stereotipi atau perilaku yangsukar ditebak Perilaku kasar atau

neorologi perilaku

tremor ringan Euphoria/disforia, biara berlebihan Meningkatkan percaya diri rasa dan

irasional, mood ayng berubah-ubah, termasuk kejam dan agresif Bicara tak jelas Paranoid,kebingungan dan gangguan persepsi Sakit kepala,pandangan kabur, dizziness

kewaspadaan diri Cemas, panic Supresi nafsu makan Dilatasi pupil Peningkatan energy,

Psikosis Gangguan cerebrovaskular Gemerutuk gigi Distorsi bentuk tubuh secara berlebihan

stamina danpenurunan rasa lelah Dengan penambahan dosis Kardiovaskula r Pernafasan dapt

menigkatkan libido Sakit kepala Gemerutuk gigi Takikardia(mungkin juga hipertensi) Palpitasi, aritmia Peningkatan frekuensi napas dan kedalamam
11

Stimulasi

kaardiak

brakikardi,

(takikardia, angina. MI) Kolaps kardiovaskular

pernafasan Gastrointestin al otot Mual muntah Konstipasi, diare atau kram abdominal Kulit Klit berkeringat, pucat Hipereksia Peningkatan tendon reflex Mulut kering Mual , muntah Kram abdominal Kemerahan flushing Hipereksia, disforesis

i.

Efek fisik psikosis jangka panjang : o o Berat badan menurun, malnutrisi, penurunan kekebalan Gangguan makanan, anoreksia dan defiisensi gizi Kemungkinan atrofi otak dan cacat funsgsi neuropsikologis Daerah injeksi : bengkak, skar, abses Kerusakan pembuluh darah dan organ akibat sumbatan partikel amfetamin pada pembulh darah yang kecil Delirium Depresi,gangguan mood yang lain (misal distima) atau adanya

gangguan makan kondisi gejala putus zat yang berkepanjangan (protracted) o Penurun fungsi kognitif, terutama daya ingat dan konsentrasi.

ii.

Gejala intoksikasi : Agitasi Kehilangan berat badan Takikardia Dehidrasi Hipertermi Imunitas rendah Paranoia

12

Delusi Kehilangan rasa lelah Tidak dapat tidur Kejang Gigi gemerutuk, rahang atas bawah beradu Stroke Maslaah kardiovaskular Kematian

iii.

Perilaku sehubungan dengan kondisi intoksikasi : Agresif/perkelahian Penggunaan alkohol Berani mengambil risiko Kecelakaan Sex tidak aman Menghindar dari hubungan sosial sekitarnya Penggunaan obat obatan lain Problem hubungan dengan orang lain

iv.

Gejala putus zat : Depresi Tidak beristirahat Craving Ide bunuh diri Penggunaan obat obatan Masalah pekerjaan Pikiran pikiran yang bizarre Mood yang datar Ketergantungan Fungsi sosial yang buruk

13

e. Heroin (putau) Merupakan golongan opioda semi sintetik, disebut juga putau , ptw,etep, H, junk, skag,smack. Heroin dibuat dari getah buah poppy . dijual dalam bentuk bubuk putih atau cokelat. Digunakan dengan cara disuntik, dirokok atau pun dihidu penggunaan heroin di Indonesia menjadi ancaman besar penyebaran HIV/AIDS. Hepatitis C dan Hepatitis B. Penggunaan heroin secara terus menerus berkesinambungan mendorong terjadinya toleransi dan ketergantungan. Dosis yang terus menerus membuat penggunanya masuk dalam overdosis dan juga membuat pemakai untukmencoba bubuh diri. Jika pengguna mengalami putus zat yakni : gelisah, rasa nyeri otot dan tulang, diare,muntah dan merinding . Efek opiod Sistim organ Sistim saraf efek gastrointestinal Endokrin analgesi euphoria sedasi, mengantuk, depresi pernafasan penekanan refluk batuk pupil konstriksi mual dan muntah konstipasi spasme biller (peningkatan tonus sfingter) perubahan hormone sex pada wanita( kadar FSH dan LH rendah, peningkatan kadar prolaktin) berdampak pada gangguan siklus mentruasi, penurunan libido, galaktorhea)
14

peningkatan kadar testoteron pada laki-laki ,penurunan kadar libido. Meningkatya hormone anti diuretic

(ADH),penurunan kadar ACTH. Lainya Gatal gatal, berkeringat, kulit kemerahan

(rekasi histamine ) Kekeringan pada daaerah mulut,mata dan kulit Tekanan darah rendah

Simtom putus zat opioid dengan kerangka waktu Jarak waktu dari Gejala umum 12-24 jam Lebih dari 24 jam Minggu ke 2
15

suntikan terakhir 6-12 jam Mata dan hidung berair dan menguap Berkeringat Agitasi dan irirtabel Goosebumps Berkeringat Kehilangan nafsu makan Keinginan kuat untuk menggunakan heroin (craving) Kram perut, diare Kehilangan nafsu makan, mual,muntah Nyeri punggung, nyeri persendian, tangan kaki sakit kepala Sulit tidur Letargi Tidak dapat istirahat Iritabel, agitasi Sulit konsentrasi Perasaan meningkat Hari ke 2 -4 Hari ke 5-7 Semua gejala mencapai puncaknya Kebanyakan gejala fisik mulai berkurang Nafsu makanmulai kembali Gangguan fisik mulai menghilang.dapat panas dan dingin,keringat

muncul keluhan lain seperti tidak dapat tidur, rasa lelah, irritable, craving Bebrapa minggu Kembali ke pola tidu, level dan aktivitas danmood normal. Menignkatnyakesehatan secara umum dan penurunan craving Gangguan kesehatan yang disebabkan oleh penggunaan heroin overdosis yang dapat berakibat fatal, absorsi spontan, kolaps vena, gangguan akibat penyuntikan heroin sesam pengguna yakni infeksivirus yang disebarkan lewat darah seperti HIV/AIDS dan Hepatitis. f. Ganja Ganja merupakan kumpulan daun, tangkai, buah kanabis sativa yang dikeringkan dan dirajang. Ganja dapat pula diolah dalam bentuk minyak hasbish yang merupakan cairan peekat berwarna cokelat. Penggunaanya adalah dengan cara dirokok atau di linting, dengan pipa atau digunakan dengan campuran zat lainnya. Zat aktif dalam ganja adalah THC ( delta-9-tetrahydrocanabinol). Memnbran sel syaraf tertentu dalam otak yang mengandung reseptor protein akan mengikat erat THC. Baunya menyengat asam-manis. Penggunaan dalam waktu yang lama akan mengakibatkan : Gangguan memori Gangguan proses belajar Perilaku sosial Sehingga penggunanya meninggalkan berbagai aktivitas sekolah kerja dan interaksi sosial. Karena reaksi rangsangan melambat maka pengguna sering mengalami kecelakaan , juga terlibat dalam masalah hukum. . i. Efek ganja Sulit mengingat sesuatu Waktu reaksilambat Sulit tkonsentrasi Mangantuk tidur Anxietas
16

sampai beberapa bulan

Paranoia Mempengaruhi persepsi seseorang atas waktu Mata merah ii. Dampak bagi fisik : Tremor Nausea Sakit kepala Menurunnya koordinasi Gangguan pernafasan Nafsu makan meningkat Menurunkan aliran darah ke otak Menurunkan aktivitas organ reproduksi iii. Komplikasi fisik dan psikososial Efek akut Seperti umum nya dengan zat psikoaktif, efek dari kanabis tergantung dengan dosis yang digunakan, karakteristik individu dan kondisi situasi saat penggunaan napza tersebut. Bebrapa hal dibawah ini dianggap sebagai efek positif bagi pengguna : Efek positif Perasaan (relaksai) Euforia Disinhibisi Persepsi penglihtan dan pendengaran Nafsu makan menigkat
17

Efek negatif tenang Anxietas dan panic Paranoia Halusianasi pendengaran dan penglihatan Gangguan koordinasi Kehilangan memori jangk panjang Takikardia Persepsi salah Gangguan konsentrasi waktu yang

g. Inhalan Inhalan merupakan zat kimiawi yang mudah menguap dan berefek psikoaktif. Inhalan terkandung dalam barang yanglazim digunakan dalm rumah tangga sehari hari seperti lem, hair sprays, cat, gas, pematik. Meski dihirup dalm waktu yang pendek penggunaan inhalan dapat mengganggu irama jantung menyebabkan kematian. Penggunaan regular akan mengakibatkan gangguan pada otak, jantung , ginjal dan hepar. 1. Inhalan digolongkan menjadi 4 katagori : a. Volatile Solvents : zat kimia menguap dalam barang industry dan rumah tangga atau produk mengandung solven, masukdalm golongan ini minyak ct kuku (thinners),larutan pembersih cat kuku degreasewrs, cairan dry cleaning, gas, lem b. Aerosol Aerosol rumah tangga dan cairan penyemprot lainya seperti semprotan tata rambut, deodorant, pembersih computer, penyemprot minnyak sayur. c. Gas d. Nitrit 3. Efek bagi kesehatan a. Jika terhirup dalam konsentrasi yang cukup, inhalan akan membuat intoksikasi dalam beberapa emnit saja dan tidak lama. Menghirup dengan sengaja untuk beberapa jam, akan mnyebabkan perasaan terstimulasijika digunakan dalam jangka panjang akan membuat penggunanya kehilangan kesadaran. Pengguna solven kronis akan mengalami kerusakan otak, hati, dan ginjal yang berat menghirup semprotan aerosol dalm komsentrasi yang tinggi akan langsung menyebabkan kegagalan jantung dalam menit sampai kematian . selain itu juga konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan sufokasi dan kematian karena menurutnya muatan oksigen dalam paru dan

18

udara pernafasan. Pengguna biasanya sengaja menutup pintu ruangan dan ventilasi dalm upaya meningkatkan konsentrasi zat volatile. 4. Tanda untuk mendeteksi penggunaan terkahir : a. Mata merah dan berair b. Bersin dan batuk c. Nafas bau zat kimia d. Intoksiaksi terlihat jelas/perilaku menyimpang/berani mengambil resiko e. Kebingungan f. Koodinasi lemah g. Mengeluarkan keringat berlebihan h. Iritasi kulit 5. Efek yang diharapkan : a. Euphoria b. Rasa girang rasa melambung c. Rasa tidak disakiti d. Disinhibisi 6. Efek jangka pendek a. Mengantuk b. Flu like :symptoms c. Mual d. Muntah e. Sakit kepala f. Diare, nyeri abdominal g. Pernafasan tidak nyaman h. Perdarahan hidung dan tenggorokan i. Perilaku beresiko h. Kokain Disebut juga : Blow, coke, crake, flake , snow Kokain merupakan stimulan yang kuat dan mengakibatkan ketergantungan kuat penggunanya. Dalam upaya mendapatkan efek high, mereka menggunakan dosis
19

yang makin lama,makin meningkat. Dalam peredarannya kokain merupakan bubuk bewarna putih sebagai garam kokain hidroklorida atau freebase. Kokain hidroklorida larut dalam air digunakan dengan suntikan atau dihidu dibakar seperti rokok. Efek fisik pada tubuh : Masalah jantun, termasuk serang anjantung Gangguan respirasi sampai kegagalan pernafasan Gangguan sistem syaraf termasuk stroke Gangguan pencernaan , penurunan nafsu makan

Efek kokain dalam sistem syaraf pusat mengganggu proses reabsorsi dopamine, suatu chemical messenger terkait rasa nyaman dan gerakan. Dengan mekanisme dopaminini sistem syaraf dirangsang untuk euphoria. Peningkatan perasaan nyaman membuat rute pengguna. Makin cepat reabsorsi tubuh, makin kencang peraasaan high. i. Efek yang diharapkan : Euphoria Banyak bicara Bertambah percaya diri Energy Berkurang keinginan untuk tidur Meningkatnya nafsu makan

ii. Efek akut pada dosis rendah : Anestesi lokal Dilatasi pupil Vasokontriksi Peningkatan pernafasan Pengikatan denyut jantung Peningkatan tekanan darah Peningkatan suhu
20

iii. Efek akut pada dosis tinggi (reaksi toksik) Stereotipi Ansietas Agresif Keduttan oto /tremor/hilang koordinasi Gagal nafas Peningkatan tekanan darah yang bermakna Nyeri dada Edema paru Gagal nafas Peningkatan tekanan darah Nyeri dada Edema paru Konvulsi Penglihatan kabur Stroke akut Kebingungan Halusinasi Dizziness Kekakuan otot Lemah, nadi cepat Aritmia jantung Iskemi miokadia;l Sakit kepala Panas tubuh sangat tinggi Nyeri perut/mual/muntah

iv. Efek pada peggunaan kronis : Insomnia Depresi Agresif Kehilangan nafsu makan
21

Kedutan otot Ansietas Psikosis (delusi, paranoid, halusinasi) Hilang libido Peningkata denyut nadi

v.

Gejala putus zat kokain (terjadi setelah beberapa hari penggunaan kokain) menurut DSM IV : a. Mood Disforia (anhedonia atau kesedihan atau mirip depresi) danpaling s edikit mencakup 2 gejala dibawah ini : b. Fatigue Insomnia Agitasi Craving Peningkatan nafsu makan Mimpi buruk

Gejala putus zat mencapai puncaknya dalam 2-4 hari gejala disforia bisa

berlangsung sampai 10 minggu. Penggunaan dengan cara dihidu berulang akan membuat perdarahan hidung , kerusakan syaraf, penciuman, kesulitan menelan, suara serak dan pilek kronis. Menelan kokain akanmembuat gangrene usu karena reduksi aliran darah kek susu. Penggunaan lewat suntikan dapat membuat alergi berat dan risiko infeksi yang ditularkan melalui darah seperti HIV. i. Sedatif penenang Sedativa dan hipnotika adalah golongan zat yang dapat memberi efek menenangkan dan kantuk.Ada berbagai zat yang dimasukkan ke dalam golongan sedative dan hipnotika, diantaranya adalah :

22

a. Asam Barbiturat Merupakan suatu asam urat , yang pertama kali disintesa oleh Adolf von Bayer. Penemuan zat ini bertepatan dengan hari peringatan santa Barbara, sehingga namanya menjadi Asam Barbituran .Singkatan dari Barbara dan asam urat. Barbiturat tergolong depresan susunan saraf pusat.Dalam dosis kecil memberi efek menenagkan, sedangkan dalam dosis besar dapat menginduksi tidur.Pada dosis tinggi selain memberi efek sedasi (menenangkan) , dapat pula menghambat pernapasan, menimbulkan komplikasi jantung,tidur, koma bahkan kematian.Barbiturat banyak disalahgunakan dengan nama pil koplo.

b. Benzodiazepin Obat ini dalam kedokteran digunakan untuk mengatasi anxietas (rasa cemas), ketegangan , anti kejang atau untuk menimbulkan efek sedasi.Dosis

mematikannya tinggi sehingga relative lebih aman dari pada sedative dan hipnotika yang lain..Akan tetapi penggunaan dalam jangka panjang dapat menimbulkan toleransi , ketergantungan fisik, dan gejala putus asa.

Benzodiazepin yang sering disalah gunakan antara lain : Nitrazapam (misalnya dumolid, mogadon) Diazepam ( misalnya valium dan pil BK) Bromazepam Flunitrazepam

23

2.4.

Tujuan Terapi Rehabilitasi NAPZA Terapi dan Rehabilitasi ketergantungan NAPZA tergantung kepada teori dan filosofi yang mendasarinya. Dalam nomenklatur kedokteran ketergantungan NAPZA adalah suatu jenis penyakit atay dusease entity yang dalan International classification of diseases and health related problems-tenth revision 1992 (ICD-10) yang dikeluarkan oleh WHO digolongkan dalam Mental and behavioral disorders due to psychoactive subsstance use. Ketergantungan NAPZA secara klinis memberikan gambaran yang berbeda-beda dan tergantung banyak faktor,antara lain : Jumlah dan jenis NAPZA yang digunakan Keparahan (severrity) gangguan dan sejauh mana level fungsi keperibadian Terganggu Kondisi psiikiatri dan medis umum Konteks sosial dan lingkungan pasien dimana dia tinggal dan diharapkan Kesembuhannya

Sebelum dilakukan intervensi medis, terlebih dahulu harus dilakukan assesment terhadap pasien dan kemudian baru menentukan apa yang menjadi sasaran dari terapi yang akan dijalankan Tatalaksana Terapi dan Rehabilitasi NAPZA terdiri dari : -Outpatient (rawat jalan) - Inpatient (rawat inap) - Residency (Panti/Pusat Rehabilitasi)

1.

Tujuan Terapi dan Rehabilitasi NAPZA Abstinensia atau menghentikan sama sekali penggunaan NAPZA. Tujuan ini tergolong sangat ideal,namun banyak orang tidak mampu atau mempunya motivasi untuk mencapai tujuan ini, terutama kalau ia baru menggunakan NAPZA pada fase-fase awal. Pasien tersebut dapat ditolong dengan meminimasi efek-efek yang langsung atau tidak langsung dari NAPZA. Sebagian pasien memang telah

24

abstinesia terhadap salah satu NAPZA tetapi kemudian beralih untuk menggunakan jenis NAPZA yang lain. Pengurangan frekuensi dan keparahan relaps Sasaran utamanya adalah pencegahan relaps .Bila pasien pernah menggunakan satu kali saja setelah clean maka ia disebut slip. Bila ia menyadari kekeliruannya,dan ia memang telah dobekali ketrampilan untuk mencegah pengulangan penggunaan kembali, pasien akan tetap mencoba bertahan untuk selalu abstinensia. Pelatihan relapse prevention programe, Program terapi kognitif, Opiate antagonist maintenance therapy dengan naltreson merupakan beberapa alternatif untuk mencegah relaps Memperbaiki fungsi psikologi dan fungsi adaptasi sosial. Dalam kelompok ini,abstinensia bukan merupakan sasaran utama. Terapi rumatan (maintence) metadon merupakan pilihan untuk mencapai sasaran terapi golongan ini

2.5. Terapi Gawat darurat medik akibat penggunaan NAPZA merupakan tanggung jawab profesi medis. Profesi medis memegang teguh dan patuh kepada etika medis, karena itu diperlukan keterampilan medis yang cukup ketat dan tidak dapat didelegasikan kepada kelompok profesi lain. Salah satu komponen penting dalam keterampilan medis yang erat kaitannya dengan gawat darurat medik adalah keterampilan membuat diagnosis. Dalam rehabilitasi pasien ketergantungan NAPZA, profesi medis (dokter) mempunyai peranan terbatas. Proses rehabilitasi pasien ketergantungan NAPZA melibatkan berbagai profesi dan disiplin ilmu. Namun dalam kondisi emergency, dokter merupakan pilihan yang harus diperhitungkan. Gawat Darurat yang berkaitan dengan penyalahgunaan NAPZA : Gawat Darurat yang terjadi meliputi berbagai gejala klinis berikut : a. Intoksikasi b. Overdosis c. Sindrom putus NAPZA d. Berbagai macam komplikasi medik (fisik dan psikiatrik)
25

2.5.1. Terapi Medis (Terapi Organo-Biologi) Terapi ini antara lain ditujukan untuk :

a. Terapi Terhadap Keadaan Intoksikasi Intoksikasi opioida : Beri Naloxone HC 1 0,4 mg IV, IM atau SC dapat pula diulang setelah 2-3 menit sampai 2-3 kali

Intoksikasi kanabis (ganja): Ajaklah bicara yang menenangkan pasien. Bila perlu beri : Diazepam 10-30 mg oral atau parenteral, Clobazam 3x10 mg.

Intoksikasi kokain dan amfetamin Beri Diazepam 10-30 mg oral atau pareteral,atau Klordiazepoksid 10-25 g oral atau Clobazam 3x10 mg. Dapat diulang setelah 30 menit sampai 60 menit. Untuk mengatasi palpitasi beri propanolol 3x10-40 mg oral

Intoksikasi sedatif-hipnotif (Misal : Valium,pil BK, MG,Lexo,Rohip): Melonggarkan pakaian Membarsihkan lender pada saluran napas Bila oksigen dan infus garam fisiologis

b. Terapi Pada Keadaan Overdosis Usahakan agar pernapasan berjalan lancar, yaitu : - Lurus dan (ekstenikan) leher kepada pasien (jika diperlukan dapat memberikan bantalan dibawah bahu) - Kendurkan pakaian yang terlalu ketat - Hilangkan obstruksi pada saluran napas - Bila perlu berikan oksigen

Usahakan agar peredaran darah berjalan lancar - Bila jantung berhenti, lakukan masase jantung eksternal,injeksi
26

adrenalin 0.1-0.2 cc I.M - Bila timbul asidosis (misalnya bibir dan ujung jari biru,hiperventilasi) karena sirkulasi darah yang tidak memadai, beri infus 50 ml sodium bikarbonas

Pasang infus dan berikan cairan (misalnya : RL atau NaC1 0.9 %) dengan kecepatan rendah (10-12 tetes permenit) terlebih dahulu sampai ada indikasi untuk memberikan cairan. Tambahkan kecepatan sesuai didapatkan tanda-tanda kemungkinan dehidrasi kebutuhan,jika

Lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat kemungkinan adanya perdarahan atau trauma yang membahayakan

Observasi terhadap kemungkinan kejang. Bila timbul kejang berikan diazepam 10 mg melalui IV atau perinfus dan dapat diulang sesudah 20 menit jika kejang belum teratasi.

c. Terapi Pada Sindrom Putus Zat

Terapi putus zat opioida Terapi ini sering dikenal dengan istilah detoksifikasi. Terapi detoksifikasi dapat dilakukan dengan cara berobat jalan maupun rawat inap. Lama program terapi detoksifikasi berbeda-beda : 1-2 minggu untuk detoksifikasi konvensional 24-48 jam untuk detoksifikasi opioid dalam anestesi cepat (Rapid Opiate Detoxification Treatment)

Detoksifikasi hanyalah merupakan langkah awal dalam proses penyembuhan dari penyalahgunaan/ketergantungan NAPZA Beberapa jenis cara mengatasi putus opioida : Tanpa diberi terapi apapun,putus obat seketika (abrupt withdrawal atau cold turkey). Terapi hanya simptomatik saja :
27

Untuk nyeri diberi analgetika kuat seperti : Tramadol, Analgrtik non-narkotik,asam mefenamat dan sebagainya Untuk rhinore beri dekongestan,misalnya fenilpropanolamin Untuk mual beri metoklopramid Untuk kolik beri spasmolitik Untuk gelisah beri antiansietas Untuk insomnia beri hipnotika,misalnya golongan benzodiazepin

Terapi putus opioida bertahap (gradual withdrawal) Dapat diberi morfin,petidin,metadon atau kodein dengan dosis dikurangi sedikit demi sedikit. Misalnya yang digunakan di RS Ketergantungan Obat Jakarta, diberi kodein 3 x 60 mg 80 mg selanjutnya dikurangi 10 mg setiap hari dan seterusnya. Disamping itu diberi terapi simptomatik

Terapi putus opioida dengan substitusi non opioda Dipakai Clonidine dimulai dengan 17 mikrogram/kg BB perhari dibagi dalam 3-4 kali pemberian. Dosis diturunkan bertahap dan selesai dalam 10 hari .Sebaiknya dirawat inap (bila sistole < 100 mmHg atau diastole < 70 mmHg), terapi harus dihentikan.

Terapi putus opioida dengan metode Detoksifikasi cepat dalam anestesi (Rapid Opioid Detoxification). Prinsip terapi ini hanya untuk kasus single drug opiat saja,d lakukan di RS denga fasilitas rawat intensif oleh Tim Anestesiolog dan Psikiater, dilanjutkan dengan terapi menggunakan anatagonist opiat (naltrekson) lebih kurang 1 tahun.

Terapi putus zat sedative/hipnotika dan alkohol Harus secara bertahap dan dapat diberikan Diazepam. Tentukan dahulu test toleransi dengan cara :

28

Memberikan benzodiazepin mulai dari 10 mg yang dinaikan bertahap sampai terjadi gejala intoksikasi. Selanjutnya diturunkan kembali secara bertahap 10 mg perhari sampai gejala putus zat hilang.

Terapi putus Kokain atau Amfetamin Rawat inap perlu dipertimbangkan karena kemungkinan melakukan percobaan bunuh diri. Untuk mengatasi gejala depresi berikan anti depresi.

Terapi untuk waham dan delirium pada putus NAPZA Pada gangguan waham karena amfetamin atau kokain berikan Inj. Haloperidol 2.5-5 mg IM dan dilanjutkan peroral 3x2,5-5 mg/hari. Pada gangguan waham karena ganja beri Diazepam 20-40 mg IM Pada delirium putus sedativa/hipnotika atau alkohol beri Diazepam seperti pada terapi intoksikasi sedative/hipnotika atau alkohol

Terapi putus opioida pada neonatus Gejala putus opioida pada bayi yang dilahirkan dari seorang ibu yang mengalami ketergantungan opioida, timbul dalam waktu sebelum 48-72 jam setelah lahir. Gejalanya antara lain : menangis terus(melengking), gelisah,sulit tidur,diare,tidak mau minum, muntah, dehidrasi, hidung tersumbat, demam, berkeringat. Berikan infus dan perawatan bayi yang memadai. Selanjutnya berikan Diazepam 1-2 mg tiap 8 jam setiap hari diturunkan bertahap,selesai dalam 10 hari.

d. Terapi Terhadap Komorbiditas Setelah keadaan intoksikasi dan sindroma putus NAPZA dapat teratasi, maka perlu dilanjutkan dengan terapi terhadap gangguan jiwa lain yang terdapat bersama-sama dengan gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif (co-morbid psychopathology), sebagai berikut : Psikofarmakologis yang sesuai dengan diagnosis Psikoterapi individual Konseling : bila dijumpai masalah dalam komonikasi interpersonal
29

Psikoterapi asertif : bila pasien mudah terpengaruh dan mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan yang bijaksana Psikoterapi kognitif : bila dijumpai depresi psikogen Psikoterapi kelompok Terapi keluarga bila dijumpai keluarga yang patologik Terapi marital bila dijumpai masalah marital Terapi relaksasi untuk mengatasi ketegangan Dirujuk atau konsultasi ke RS Umum atau RS Jiwa

e. Terapi Terhadap Komplikasi Medik Terapi disesuaikan dengan besaran masalah dan dilaksanakan secara terpadu melibatkan berbagai disiplin ilmu kedokteran Misalnya : - Komplikasi Paru dirujuk ke Bagian Penyakit Paru - Komplikasi Jantung di rujuk ke Bagian Penyakit Jantung atau Interna/Penyakit Dalam - Komplikasi Hepatitis di rujuk ke Bagian Interna/Penyakit Dalam - HIV/AIDS dirujuk ke Bagian Interna atau Pokdisus AIDS - Dan lain-lain.

f. Terapi Maintanence Terapi maintenance/rumatan ini dijalankan pasca detoksifikasi dengan tujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi medis serta tidak kriminal. Secara medis terapi ini dijalankan dengan menggunakan : Terapi psikofarmaka,menggunakan Naltrekson (Opiat antagonis), atau Metadon Terapi perilaku, diselenggarakan berdasarkan pemberian hadiah dan hukum Self-help group,didasarkan kepada beberapa fillosofi antara lain : 12steps

30

2.6. Rehabilitasi Beberapa Bentuk Program/Pendekatan Rehabilitasi yang ada,antara lain : a. Program Antagonis Opiat (Naltrexon) Setelah detoksifikasi (dilepaskan dari ketergantungan fisik) terhadap opioid (heroin/putauw/PT) penderita sering mengalami keadaan rindu yang sangat kuat (craving, kangen,sugesti) terhadap efek heroin. Antagonis opiat (Naltrexon HCI,) dapat mengurangi kuatnya dan frekuensi datangnya perasaan rindu itu. Apabila pasien menggunakan opieat lagi,ia tidak merasakan efek euforiknya sehingga dapat terjadi overdosis. Oleh karena itu perlu seleksi dan psikoterapi untuk membangun motivasi pasien yang kuat sebelum memutuskan pemberian antagonis. Antagonis opiat diberikan dalam dosis tunggal 50 mg sekali sehari secara oral, selama 3- 6 bulan. Karena hepatotoksik, perlu tes fungsi hati secara berkala

b.

Rehabilitasi Psikriatrik Dengan rehabilitasi psikriatrik ini dimaksudkan agar peserta rehabilitasi ini yang semula berperilaku maladaptive berubah menjadi adaptif atau dengan kata lain sikap dan tindakan antisocial dapat di hilangkan. Meskipun mereka menjalani terapi sebagaimana yang telah diterapkan namun maladaptive tadi belum hilang atau masih sugestii sering muncul, juga keluhan lain seperti kecemasan dan depresi serta tidak bisa tidur merupakan keluhan yang paling sering. Oleh karena itu terapi psikofarmaka masih dilanjutkan dengan catatan jenis obat psikofarma yang diberikan tidak bersifat adiktif(menimbulkan ketagihan) dan

tidakmenimbulkan depensi (ketergantungan). Termasuk rehabilitasi psikriatirk adalah psikoterapi keluarga broken home.

c.

Program Metadon Metadon adalah opiat sintetik yang bisa dipakai untuk menggantikan heroin yang dapat diberikan secara oral sehingga mengurangi komplikasi medik. Program ini masih kontroversial, di Indonesia program ini masih berupa uji coba di RSKO

31

d.

Program yang berorientasi psikososial (Rehabilitasi Psikososial) Program ini menitik beratkan berbagai kegiatannya pada terapi psikologik (kognitif, perilaku, suportif, asertif, dinamika kelompok, psikoterapi individu, desensitisasi dan lain-lain) dan keterampilan sosial yang bertujuan mengembangkan keperibadian dan sikap mental yang dewasa, serta meningkatkan mutu dan kemampuan komunikasi interpersonal Berbagai variasi psikoterapi sering digunakan dalam setting rehabilitasi. Dengan adanya rehabilitasi psikososial ini dimkasudkan agar dapat kembali adaptif berosisalisasi didalam lingkungan sosialnya seprti rumah dan ditempat kerja. Program rehabiltasi psikososial merupakan persiapan untuk kembali kemsyarakat. Oleh karena itu mereka perlu dibekali dengan pendidikan dak keterampilan misalnya khursus ataupun balai latihan kerja dapat diadakan di pusat rehabilitasi. Dengan adanya hal ini diharapka bila mereka telah selesai menjalani program rehabilitasi dapat melanjutkan kembali bekerja,sekolah atau kuliah. Tergantung pada sasaran terapi yang digunakan. - Psikoterapi yang berorientasi analitik mengambil keberhasilan mendatangkan insight sebagai parameter keberhasilan. - Psikoterapi yang menggunakan sasaran pencegahan relaps seperti : Cognitivi Behaviour Therapy dan Relaps Prevention Training - Supportive Expressive Psychotherapy - Psychodrama,art-therapy adalah psikoterapi yang dijalankan secara Individual

d.

Therapeutic Community berupa program terstruktur yang diikuti oleh mereka yang tinggal dalam sutu tempet. Dipimpin oleh bekas penyalahguna yang dinyatakan memenuhi syarat sebagai konselor,setelah melalui pendidikan dan latihan. Tenaga profesional hanya sebagai konsultan saja.Disini penderita dilatih keterampilan mengelola waktu dan perilakunya secara efektif serta kehidupannya sehari-hari, sehingga dapat mengatasi keinginan memakai NAPZA atau sugesti (craving) dan mencegah relap. Dalam komonitas ini semua ikut aktif dalam proses terapi. Ciri perbedaan anggota dihilangkan. Mereka orang bebas lain. menyatakan Tiap
32

perasaan

dan

perilaku

sejauh

tidak

membahayakan

anggota

bertanggung

jawab

terhadap

perbuatannya,ganjaran bagi yang berbuat positif dan hukuman bagi yang berperilaku negatif diatur oleh mereka sendiri.

e. Program yang berorientasi Sosial Program ini memusatkan kegiatan pada keterampilan sosial, sehingga mereka dapat kembali kedalam kehidupan masyarakat yang normal,termasuk mampu bekerja.

g.

Program dengan Pendekatan Religi atau Spiritual (Rehabilitasi psikoreligius) Pesantren dan beberapa pendekatan agama lain melakukan trial and error untuk menyelenggarakan rehabilitasi ketergantungan NAPZA. Hal ini perlu dilakukan mengingat waktu 2 minggu program pasca detoksifikasi itu tidak cukup memulihkan peserta rehabilitasi menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinan. Peserta rehabilitasi yang beragama islam diberikan pelajaran untuk memperkuat keimanan yang memyakini bahwa NAPZ haram hukmny baik dari segi agama dan UU. Yang termasuk dalam rehabilitasi psikoreligius dalah Menjalankan sholat wajib 5 waktu. Ditambah dengan sunnah Berdoa dan berzikir Mengaji (membaca Al Quran dan mempelajari kandungan Al-Quran Mempelajari konsep Islam Memerangi AIDS Mempelajari buku Alquran, Ilmu kedokteran jiwa dan kesehatan jiwa.

Pendalaman, penghayatan dan pengalaman keagamaan atau keimanan menumbuhkan kekuatan kerohanianan pada diri seseorang sehingga mampu menekan resiko seminimal mungkin. h. Program Terminal (Re-Entry Program) Pengalaman menunjukan bahwa banyak dari mereka sesudah menjalani program rehabilitasi dan kemudian mengikuti program rehabilitasi dan kemudian mengalami kebingungingan untuk program selanjutnya. Khususnya bagi pelajar dan mahasiswa yang karena keterlibatan dalam penyalah gunaaan NPAZA dimasa lampau terpaksa putus sekolah mennjadi pengangguran. Perlu menjalani program khusus dinamakan program terminal (Re Entry Program), yaitu program persiapan untuk kembali melanjjutkan sekolah/kuliah atau berkerja baik didalam maupun luar negri. Dengan
33

adanya program ini bagi narapidana penyalahgunaan NAZA tidak perlu pesimis menghadapi masa depannya karena sesungguhnyaa masih ada hari esok. Program terminal ini berisikan kurikulum yang cukup padat agar peserta program tidak banyak waktu luang guna mengejar ketinggalan dimasal lalu antara lain : Berbagaimacam khursus misalnya bahasa Inggris, bahasa arab, computer dll yang terkait minat atau jurusan. Berbagai macam keterampilan misalnya, pengerajin, perbengkelan,

0pertukangan, danlain lainnya Pendalaman keagamaan untuk memperkuat keimanan dan ketaqwuaan kepada Tuhan YME mereka tinggal mengikuti program terminal ini harus tinggal diwisma dengan sarana dan prasarana yang memenuhi persyaratan dan personil bagi professional di bidangnya masing masing. Sebagaimana mereka yang telah mengikuti terapi pasca detoksifikasi dirumah singgah . lama program terminal selama 1-2 bulan.

i.

Keluarga sakinah Seluruh tahapan program bagi penyalah gunaan ketergantungan NAZA dimulai dari Tahapan detoksifikasi dan terapi komplikasi medik selama lebih kurang 1 minggu baik di rumah maupun RSU dan dilanjtkan dengan Tahapankedua pemantapan 2 minggu di wisma dengan terapi medik,

psikiatrik/psikososial, psikoreligius, terapi fisik dan konsultasi keluarga dan dilanjutkan dengan Tahapan rehabilitasi selama 3-6 bulan diwisma rehabilitasi dengan lanjutan terapi medik terapi fisik keterampilan dan konsultasi keluarga Forum silaturahmi yang merupakan dialog interktif sesama mantan penyalah gunaan NAZA dan keluarganya dengan dipandu oleh tenaga professional sebagai fasilitator.

34

j.

Lain-lain Beberapa profesional bidang kedokteran mencoba menggabungkan berbagai modalitas terapi dan rehabilitasi. Hasil keberhasilan secara ilmiah dan dapat dopertanggungj jawabkan masih ditunggu. Beberapa bentuk terapi lainnya yang saat ini dikembangkan di Indonesia adalah penggunaan tenaga dalam prana dan meditasi. Terapi yang mengandalkan adanya kekuatan spiritual baik dalam arti kata kekuatan diri maupun Keagungan Allah telah dikembangkan hampir diseluruh dunia. Dikenal The 12 step Recovery Philosophy, Rational Recovery dan lain-lain.

35

BAB III Kesimpulan

Berbagai istilah (terminology) yang sering digunakan dalam pembahasan gangguan berkaitan dengan NAPZA. Kementrian Kesehatan dan Kementrian Sosial menggunakan istilah NAPZA sebagai istilah drugs atau substances. Dunia penegakan hukum dan masyarakat secara umum lebih luasnya mengenal dengan istilah narkoba. Istilah Substances digunakan dalam pedoman diganostik DSM IV-TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Revised ), sementara istilah drugs digunakan dalam buku WHO (World Health Organization). Yang termasuk zat adiktif adaalah rokok, alkohol, ganja, opium, shabu shabu, putau , morfin dll. Menurut UU zat digolongkan menjadi narkotika opioum, morfin, heroin, kokain (opioda), serta zat inhalan lainya Therapi mencakup komponen sebagai berikut : Terapi medik-psikiatrik (detoksifikasi, psikofarma dan psikoterapi) Terapi medik somatic (komplikasi medik) Terapi psikososial Terapi religious

Setelah pasien menjalani program terapi(detoksifikasi) dan komplikasi medik selama 1 minggu dan dilanjutkan pasca detok selama 2 minggu maka penderita dapat langsung melanjutke program yaitu Rehabilitasi medik, rehabilitasi psikriatrik, rehabilitasi psikososial, rehabilitasi psikoreligius, program terminal (Re-Entry Program) Dan Keluarga sakinah.

36

DAFTAR PUSTAKA

1. Hawari Dadang.2000. Penyalah Gunaan danketergantungan NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif). Fakutas Kedokteran Universitas Indonesia. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.hal 56-150. 2. Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa dan Direktorat Jendral Bina Pelayanan Medik Kementrian Kesehatann RI tahun 2010. 3. www. Wikipedia.com 4. Kaplan, Sadock, Grebb. 1997. KAPLAN DAN SADOCK Gangguan Berhubungan dengan zat.Terjemahan DR. i. Made Wiguna S. Bina Rupa Aksara.Jakarta.Hal 571-675.

37