Anda di halaman 1dari 41

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Stres 2.1.

1 Definisi Stres Stres menurut Hans Selye, merupakan respons tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan stres apabila seseorang mengalami beban atau tugas yang berat tetapi orang tersebut tidak dapat mengatasi tugas yang dibebankan itu, maka tubuh akan berespons dengan tidak mampu terhadap tugas tersebut, sehingga orang tersebut dapat mengalami stres. Stres biasanya dipersepsikan sebagai suatu sesuatu yang negatif padahal tidak. Terjadinya stres dapat disebabkan oleh sesuatu yang dinamakan stressor. Bentuk stressor ini dapat dari lingkungan, kondisi dirinya serta pikiran. Dalam pengertian stres itu sendiri juga dapat dikatakan sebagai stimulus di mana penyebab stres dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa. Stres juga dikatakan sebagai respons artinya dapat merespons apa yang terjadi, juga disebut sebagai transaksi yakni hubungan antara stressor dianggap positif karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungan (A. Aziz Alimul Hidayat, 2007 : 55). Perubahan psikososial dapat merupakan tekanan mental (stressor psikososial) sehingga bagi sebagian individu dapat menimbulkan perubahan dalam kehidupan dan berusaha beradaptasi untuk menanggulanginya. Namun, tidak semua orang dapat beradaptasi dan mengatasi stressor tersebut sehingga ada yang mengalami stres, gangguan penyesuaian diri, maupun sakit (Sunaryo, 2004 : 213-214). Stres dari beberapa pandangan, yaitu stres sebagai stimulus, respons, dan transaksional. Stres sebagai stimulus, di mana semakin tinggi besar tekanan yang dialami seseorang maka semakin besar pula stres yang dialami. Stres sebagai respons, akibat respons fisiologis dan emosional atau
Page 1

juga sebagai respons yang non spesifik tubuh terhadap tuntutan lingkungan yang ada. Stres sebagai transaksional, merupakan suatu interaksi antara orang dengan lingkungan dengan meninjau dari kemampuan individu dalam mengatasi masalah dan terbentuknya sebuah koping (A. Aziz Alimul

Hidayat, 2007 : 55-56). 2.1.2 Sumber Stressor Sumber stressor merupakan asal dari penyebab suatu stress yang dapat mempengaruhi sifat dari stressor seperti lingkungan, baik secara fisik, psikososial, maupun spiritual. Sumber stressor lingkungan fisik dapat berupa fasilitas-fasilitas seperti air minum, makan, tempat umum. Sedangkan sumber stressor lingkungan psikososial dapat berupa suara atau sikap kesehatan atau orang yang ada di sekitarnya dan sumber stressor lingkungan spiritual dapat berupa tempat pelayanan keagamaan, seperti fasilitas ibadah atau lainnya. Sumber stressor yang lain adalah diri sendiri yang dapat berupa perubahan fisiologis dalam tubuh, seperti adanya operasi, obat-obatan atau lainnya. Sedangkan sumber stressor dari pikiran adalah berhubungan dengan penilaian seseorang terhadap status kesehatan yang dialami serta pengaruh terhadap dirinya (A. Aziz Alimul Hidayat, 2007 : 5657). Menurut A. Aziz Alimul Hidayat (2007 : 57) selain sumber stressor di atas, stres yang dialami manusia dapat berasal dari berbagai sumber dari dalam diri seseorang keluarga dan lingkungan, diantaranya : 1. Sumber stres di dalam diri Sumber stres dalam diri sendiri pada umumnya dikarenakan konflik yang terjadi antara keinginan dan kenyataan berbeda, dalam hal ini adalah berbagai permasalahan yang dapat terjadi yang tidak sesuai dengan dirinya dan tidak mampu diatasi maka dapat menimbulkan suatu stres.

Page 2

2. Sumber stress di dalam keluarga Stres ini bersumber dari masalah keluarga ditandai dengan adanya perselisihan masalah keluarga, masalah keuangan, serta adanya tujuan yang berbeda diantara keluarga. Permasalahan ini akan selalu menimbulkan suatu keadaan yang dinamakan stres. 3. Sumber stres di dalam masyarakat dan lingkungan Sumber stres ini dapat terjadi di lingkungan atau masyarakat pada umumnya, seperti lingkungan pekerjaaan. Secara umum disebut sebagai stres pekerja karena lingkungan fisik, dikarenakan kurangnya hubungan interpersonal serta kurang adanya pengakuan di masyarakat sehingga tidak dapat berkembang.

2.1.3 Klasifikasi Stres Menurut A. Aziz Alimul Hidayat (2007 : 56), ditinjau dari penyebabnya maka stres dibagi menjadi tujuh macam : 1. Stres fisik Stres yang disebabkan karena keadaan fisik seperti karena temperatur yang tinggi atau yang sangat rendah, suara yang bising, sinar matahari, atau karena tegangan arus listrik. 2. Stres kimiawi Stres ini disebabkan karena zat kimia seperti adanya obat-obatan, zat beracun asam dan basa, faktor hormone atau gas dan prinsipnya karena pengaruh senyawa kimia. 3. Stres mikrobiologik Stres ini disebabkan karena kuman seperti adanya virus, bakteri, atau parasit. 4. Stres fisiologik Stres yang disebabkan karena gangguan fungsi organ tubuh diantaranya gangguan dari struktur tubuh, fungsi jaringan, organ, dan lain-lain.

Page 3

5. Stres proses pertumbuhan dan perkembangan Stres yang disebabkan karena proses pertumbuhan dan

perkembangan, seperti pada pubertas (remaja), perkawinan, dan proses lanjut usia. 6. Stres psikis atau emosional Stres yang disebabkan karena gangguan situasi psikologis atau ketidak mampuan kondisi psikologis untuk menyesuaikan diri seperti hubungan interpersonal, sosial budaya, atau faktor keagamaan. Dalam Buku Bebas Stres (2009), tipe-tipe stres sebagai berikut : 1. Stres ringan Ini adalah tipe stres uang harus dihadapi oleh setiap orang dari waktu ke waktu, seperti pertemuan, pekerjaan, atau ujian. Secara umum, tipe stres ini menguntungkan bagi kita karena menimbulkan antusiasme, semangat, dan tekanan yang membantu kita untuk berkembang dan menjadi lebih aktif. Jika menjalani rutinitas yang seimbang, anda akan memiliki kehidupan yang sehat meskipun menghadapi tipe stres ini. 2. Stres berlebihan Kita mengalami tipe ini saat menghadapi ketegangan yang terusmenerus dan berlebihan. Penting untuk membatasi tekanan eksternal agar kondisi mental dan fisik tidak terpengaruh. Obat-obatan alamiah bersifat holistic terutama membantu untuk mengurangi dan mencegah stres. Akan tetapi, obat-obatan alamiah akan bekerja apabila disertai gaya hidup sehat. 3. Stres kronis Apabila mengalami stres kronis, harus mencari pertolongan seorang ahli karena tekanan yang anda hadapi bersifat terus-menerus dan tidak sesuai dengan kehidupan yang sehat. Kadang-kadang, kita sudah menjadi sangat terbiasa hidup di bawah tekanan eksternal yang kuat sehingga tidak menyadari bahwa kita menderita efek samping stres. Konflik- koflik pribadi, masalah perkawinan, tugas-tugas berat di kantor
Page 4

yang tidak mampu ditangani, masalah dengan anak-anak anda, dan kondisi kehidupan yang sulit dapat memicu stres konis. Tipe-tipe konflik pribadi ini mengancam kesehatan fisik dan mental. Apabila mengalami stres tipe ini, perlu mendapatkan perawatan medis dan psikologis.

2.1.4 Tahapan Stres Stres yang dialami seseorang dapat melalui beberapa tahapan, menurut Van Amberg. Tahapan stres dapat terbagi menjadi enam tahap diantaranya : 1. Tahap pertama Merupakan tahap yang ringan dari stres yang ditandai dengan adanya semangat bekerja besar, penglihatannya tajam tidak seperti pada umumnya, merasa mampu menyelesaikan pekerjaan yang tidak seperti pada umumnya, merasa mampu menyelesaikan pekerjaan yang tidak seperti biasanya, kemudian merasa senang akan pekerjaan akan tetapi kemampuan yang dimilikinya semakin berkurang. 2. Tahap kedua Pada stres tahap kedua ini seseorang memiliki ciri sebagai berikut adanya perasaan letih sewaktu bangun pagi yang semestinya segar, terasa lelah sesudah makan pagi, cepat lelah menjelang sore, sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman, denyut jantung berdebar-debar lebih dari biasanya, otot-otot punggung dan tengkuk semakin tegang dan tidak bisa santai. 3. Tahap ketiga Pada tahap ketiga ini apabila seseorang mengalami gangguan seperti pada lambung dan usus seperti adanya keluhan gastritis, buang air besar tidak teratur, ketegangan otot semakin terasa, perasaan tidak tenang, gangguan pola tidur seperti sukar mulai untuk tidur, terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur, lemah, terasa seperti tidak memiliki tenaga.

Page 5

4. Tahap keempat Tahap ini seseorang akan mengalami gejala seperti segala pekerjaan yang menyenangkan terasa membosankan, semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespons secara adekuat, tidak mampu melaksanakan kegiatan sehari-hari, adanya gangguan pola tidur, sering menolak ajakan karena tidak bergairah, kemampuan mengingat dan konsentrasi menurun karena adanya perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak diketahui penyebabnya. 5. Tahap kelima Stres tahap ini ditandai dengan adanya kelelahan fisik secara mendalam, tidak mampu menyelesaikan pekerjaan yang ringan dan sederhana, gangguan pada system pencernaan semakin berat dan perasaan ketakutan dan kecemasan semakin meningkat. 6. Tahap keenam Tahap ini merupakan tahap puncak dan seseorang mengalami panic dan perasaan takut mati dengan ditemukan gejala seperti detak jantung semakin keras, susah bernapas, terasa gemetar seluruh tubuh dan berkeringat, kemungkinan terjadi kolaps atau pingsan.

2.1.5 Reaksi Tubuh Terhadap Stres Menurut A. Aziz Alimul Hidayat (2007 : 60-61), stres yang dialami seseorang dapat menimbulkan rekasi yang ada pada tubuh baik secara fisiologis maupun psikologi. Pada fisiologis diantaranya : 1. Terjadi perubahan warna rambut yang semula hitam lambat laun dapat mengalami perubahan warna menjadi kecoklatan dan kusam. 2. Terjadi perubahan ketajaman mata seringkali menurun karena

kekenduran pada otot-otot mata sehingga mempengaruhi fokus lensa mata. 3. Terjadi gangguan pada telinga seperti suara berdenging. 4. Pada daya pikir, seringkali ditemukan adanya penurunan konsentrasi dan keluhan sering sakit kepala dan pusing, ekspresi wajah tampak tegang, mulut dan bibir terasa kering.
Page 6

5. Pada kulit, dapat dijumpai sering berkeringat dan kadang-kadang panas, dingin, dan juga akan menjadi kering atau gejala lainnya seperti urtikaria. 6. Pada sistem pernapasan, terjadi sesak napas karena penyempitan pada saluran pernapasan. 7. Pada sistem kardiovaskuler, terjadi berdebar-debar, pembuluh darah melebar atau menyempit kadang-kadang terjadi kepucatan atau kemerahan pada muka dan terasa kedinginan dan kesemutan pada daerah pembuluh darah perifer seperti pada jari tangan atau kaki. 8. Pada sistem pencernaan, mengalami gangguan seperti lambung terasa kembung, mual, pedih karena peningkatan asam lambung. 9. Pada sistem perkemihan, terjadi gangguan seperti adanya frekuensi buang air kecil yang sering. 10. Pada sistem muskuloskeletal, pada otot dan tulang terjadi

ketegangan dan terasa ditusuk-tusuk, khususnya pada persendian dan terasa kaku. 11. Pada sistem endokrin atau hormonal, dijumpai adanya peningkatan

kadar gula darah dan terjadi penurunan libido dan penurunan kegairahan pada seksual. Saat menghadapi stres, otak akan merangsang sekresi adrenalin. Bahan kimia ini akan menuju ginjal dan memicu proses perubahan glikogen menjadi glukosa sehingga mempercepat aliran daraj. Tekanan darah akan meningkat, pernapasan semakin cepat (untuk meningkatkan asupan oksigen), dan pencernaan pun terkena dampaknya. Saat tubuh mengulangi proses kimiawi ini secara regular seiring berjalannya waktu, hal ini akan menjadi kronis. Dalam keadaan tersebut, berbagai jenis rangsangan, bahkan sedikit kegembiraan dapat menyebabkan efek-efek yang tidak proporsional sehingga tubuh kehabisan tenaga. Stres bukanlah suatu penyakit, melainkan mekanisme pertahanan tubuh. Namun, jika mekanisme pertahanan ini menjadi kronis maka menjadi lebih rentan terhadap penyakit (Dalam Buku Bebas Stres, 2009).

Page 7

2.1.6 Manajemen Stres Menurut A. Aziz Alimul Hidayat (2007 : 63-65), stres merupakan sumber dari berbagai penyakit pada manusia. Apabila stres tidak cepat ditanggulangi atau dikelola dengan baik, maka akan berdampak lebih lanjut seperti mudah terjadi gangguan atau terkena penyakit. Untuk mencegah dan mengatasi stres agar tidak sampai ke tahap yang paling berat, maka dapat dilakukan dengan cara : 1. Pengaturan diet dan nutrisi Pengaturan diet dan nutrisi merupakan cara yang efektif dalam mengurangi atau mengatasi stres melalui makan dan minum yang halal dan tidak berlebihan, dengan mengatur jadwal makan secara teratur, menu bervariasi, hindari makanan dingin dan monoton karena dapat menurunkan kekebalan tubuh. 2. Istirahat dan tidur Istirahat dan tidur merupakan obat yang baik dalam mengatasi stres karena dengan istirahat dan tidur yang cukup akan memulihkan keletihan fisik dan akan memulihkan keadaan tubuh. Tidur yang cukup akan memberikan kegairahan dalm hidup dan memperbaiki selsel yang rusak. 3. Olahraga atau latihan teratur Olahraga dan latihan teratur adalah salah satu cara untuk meningkatkan daya tahan dan kekebalan fisik maupun mental. Olahraga dapat dilakukan dengan cara jalan pagi, lari pagi minimal dua kali seminggu, dan tidak perlu lama-lama yang penting menghasilkan keringat setelah itu mandi dengan air hangat untuk memulihkan kebugaran. 4. Berhenti merokok Berhenti merokok adalah bagian dari cara menanggulangi stress karena dapat meningkatkan status kesehatan dan mempertahankan ketahanan dan kekebalan tubuh.
Page 8

5. Tidak mengkonsumsi minuman keras Minuman keras merupakan faktor pencetus yang dapat

mengakibatkan terjadinya stres. Dengan tidak mengkonsusmsi minuman keras, kekebalan dan ketahanan tubuh akan semakin baik, segala penyakit dapat dihindari karena minuman keras banyak mengandung alkohol. 6. Pengaturan berat badan Peningkatan berat badan merupakan faktor yang dapat

menyebabkan timbulnya stres karena mudah menurunkan daya tahan tubuh terhadap stres. Keadaan tubuh yang seimbang akan

meningkatkan ketahanan dan kekebalan tubuh terhadap stres. 7. Pengaturan waktu Pengaturan waktu merupakan cara yang tepat dalam mengurangi dan menanggulangi stres. Dengan pengaturan waktu segala pekerjaan yang dapat menimbulkan kelelahan fisik dapat dihindari. Pengaturan waktu dapat dilakukan dengan cara menggunakan waktu secara efektif dan efisien serta melihat aspek produktifitas waktu. Seperti menggunakan waktu untuk menghasilkan sesuatu dan jangan biarkan waktu berlalu tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. 8. Terapi psikofarmaka Terapi ini dengan menggunakan obat-obatan dalam mengatasi stres yang dialami dengan cara memutuskan jaringan antara psiko, neuro dan imunologi sehingga stressor psikososial yang dialami tidak mempengaruhi fungsi kognitif, afektif, dan psikomotor yang dapat menggangu organ tubuh yang lain. Obat-obatan yang biasanya digunakan adalah anti cemas dan anti depresi. 9. Terapi somatik Terapi ini hanya dilakukan pada gejala yang ditimbulkan akibat stres yang dialami sehingga diharapkan tidak dapat menggangu sistem tubuh yang lain.

Page 9

10. Psikoterapi Terapi ini dengan menggunakan teknik psikologis yang

disesuaikan dengan kebutuhan seseorang. Terapi ini dapat meliputi psikoterapi suportif dan psikoterapi reedukatif di mana psikoterapi suportif ini memberikan motivasi atas dukungan agar pasien mengalami percaya diri, sedangkan psikoterapi reedukatif dilakukan dengan memberikan pendidikan secara berulang. Selain itu psikoterapi rekonstruktif, psikoterapi kognitif, dan lain-lain. 11. Terapi psikoreligius Terapi ini menggunakan pendekatan agama dalam mengatasi permasalahan psikologis mengingat dalam mengatasi atau

mempertahankan kehidupan seseorang harus sehat secara fisik, psikis, social, dan sehat spiritual sehingga stres yang dialami dapat diatasi. 12. Pendekatan perilaku ; Mengubah perilaku yang menimbulkan stres, toleransi atau adaptabilitas terhadap stres, menyeimbangkan antara aktivitas fisik dan nutrisi,serta manajemen perencanaan, organisasi dan waktu (Yulianti;2004, Chomaria;2009). 13. Pendekatan kognitif ; mengubah pola pikir individu, berpikir positif dan sikap yang positif, membekali diri dengan pengetahuan tentang stres, menyeimbangkan antara aktivitas otak kiri dan kanan, serta hipnoterapi (Yulianti;2004, Chomaria;2009). 14. Relaksasi ; upaya untuk melepas ketegangan. Ada tiga macam relaksasi yaitu relaksasi otot, relaksasi kesadaran indera dan relaksasi melalui yoga, meditasi maupun transendensi/keagamaan

(Yulianti;2004, Chomaria;2009). Strategi menghadapi stres antara lain dengan mempersiapkan diri menghadapi stresor dengan cara melakukan perbaikan diri secara psikis atau mental, fisik dan sosial. Perbaikan diri secara psikis atau mental yaitu dengan pengenalan diri lebih lanjut, penetapan tujuan hidup yang lebih jelas, pengaturan waktu yang baik. Perbaikan diri secara fisik dengan
Page 10

menjaga tubuh tetap sehat yaitu dengan memenuhi asupan gizi yang baik, olahraga teratur, istirahat yang cukup. Perbaikan diri secara sosial dengan melibatkan diri dalam suatu kegiatan, acara, organisasi dan kelompok sosial. Mengelola stres merupakan usaha untuk mengurangi atau meniadakan dampak negatif stresor (Sunaryo,2004). 2.1.7 Adaptasi Terhadap Stres Adaptasi merupakan suatu proses perubahan yang menyertai individu dalam berespons terhadap perubahan yang ada di lingkungan dan dapat mempengaruhi keutuhan tubuh baik secara fisiologis maupun psikologis yang akan menghasilkan perilaku adaptif. Hasil dari perilaku adaptif ini dapat berupa semua respons dengan berusaha mempertahankan keseimbangan dari suatu keadaan (A. Aziz Alimul Hidayat, 2007 : 66). 1. Adaptasi secara fisiologis Menurut A. Aziz Alimul Hidayat (2007 : 66), adaptasi ini merupakan proses penyesuaian tubuh secara alamiah atau secara fisiologis untuk mempertahankan keseimbangan dari berbagai faktor yang menimbulkan atau mempengaruhi keadaan menjadi tidak seimbang contohnya masuknya kuman penyakit, maka secara fisiologis tubuh berusaha untuk mempertahankan baik dari pintu masuknya kuman atau sudah masuk dalam tubuh. Adaptasi secara fisiologis dibagi menjadi dua yaitu apabila kejadiannya atau proses adaptif bersifat lokal, maka disebut LAS (Local Adaptation Syndroma) seperti ketika daerah tubuh atau kulit terkena infeksi, maka akan terjadi daerah sekitar kulit tersebut kemerahan, bengkak, nyeri, panas dan lain-lainnya yang sifatnya lokal atau pada daerah sekitar yang terkena. Akan tetapi apabila reaksi lokal tidak dapat diatasi dengan menyebabkan gangguan secara sistemik tubuh akan melakukan proses penyesuaian seperti panas seluruh tubuh, berkeringat, dan lain-lain, keadaan ini disebut GAS (General Adaptation Syndroma). Pada adaptasi fisiologi, melalui tiga tahap yaitu :
Page 11

a. Tahap alarm reaction Tahap ini merupakan tahap awal dari proses adaptasi di mana individu siap untuk mengahdapi stressor yang akan masuk ke dalam tubuh. Tahap ini dapat diawali dengan kesiagaan (flight or flight), di mana terjadi perubahan fisiologis yaitu pengeluaran hormone oleh hipotalamus yang dapat menyebabkan kelenjar adrenal mengeluarkan adrenalis yang dapat meningkatkan denyut jantung dan menyebabkan pernapasan menjadi cepat dan dangkal, kemudian hipotalamus juga dapat melepaskan hormone ACTH (adrenokortikotropik) yang dapat merangsang adrenal untuk mengeluarkan kortikoid yang akan mempengaruhi berbagai fungsi tubuh, apabila respons tubuh terhadap stressor mengalami kegagalan, tubuh akan melakukan countershock untuk mengatasinya (A. Aziz Alimul Hidayat, 2007 : 67). b. Tahap resistensi (stage of resistance) Merupakan tahap kedua dari fase adaptasi secara umum di mana tubuh akan melakukan proses penyesuaian dengan mengadakan berbagai perubahan dalam tubuh yang berusaha untuk mengatasi stressor yang ada, seperti jantung bekerja lebih keras untuk mendorong darah yang pekat untuk melewati arteri dan vena yang menyempit (A. Aziz Alimul Hidayat, 2007 : 67). c. Tahap terakhir (stage of exhaustion) Tahap ini dapat ditandai dengan adanya kelelahan, apabila selama proses adaptasi tidak mampu mengatasi stressor yang ada, maka dapat menyebar ke seluruh tubuh. Efeknya dapat menyebabkan kematian tergantung dari stressor yang ada (A. Aziz Alimul Hidayat, 2007 : 67). 2. Adaptasi psikologis Merupakan proses penyesuaian secara psikologis akibat stressor yang ada, dengan cara memberikan mekanisme pertahanan diri dengan harapan dapat melindungi atau bertahan dari serangan-serangan atau halhal yang tidak menyenangkan. Dalam proses adaptasi secara psikologis terdapat dua cara untuk mempertahankan diri dari berbagai stressor yaitu dengan cara melakukan koping atau penanganan diantaranya berorientasi
Page 12

pada tugas (task oriented) yang dikenal dengan problem solving strategi dan ego oriented atau mekanisme pertahanan diri (A. Aziz Alimul Hidayat, 2007 : 67). a. Task oriented reaction (reaksi berorientasi pada tugas) Reaksi ini merupakan koping yang digunakan dalam mengatasi masalah dengan berorientasi pada proses penyelesaian masalah, meliputi afektif (perasaan), kognitif, dan psikomotor. Reaksi ini dapat dilakukan seperti berbicara dengan orang lain tentang masalah yang dihadapi untuk dicari jalan keluarnya, mencari tahu lebih banyak tentang keadaan yang dihadapi melalui buku bacaan, ataupun orang ahli, atau juga dapat berhubungan dengan kekuatan supra natural, melakukan latihan yang dapat mengurangi stres serta membuat alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan strategi prioritas masalah (A. Aziz Alimul Hidayat, 2007 : 68). b. Ego oriented reaction (reaksi berorientasi pada ego) Reaksi ini dikenal dengan mekanisme pertahanan diri secara psikologis agar tidak menganggu gangguan psikologis yang lebih dalam. Di antar mekanisme pertahanan diri yang dapat digunakan untuk melakukan proses adaptasi psikologis antara lain : 1) Rasionalisasi merupakan suatu usaha untuk menghindari dari masalah psikologis dengan selalu memberikan alasan secara rasional, sehingga masalah yang dihadapi dapat teratasi. 2) Displacement merupakan upaya untuk mengatasi masalah

psikologis dengan melakukan pemindahan tingkah laku kepada objek lain, sebagai contoh apabila seseorang terganggu akibat situasi yang ramai, maka temannyayang disalahkan. 3) Kompensasi merupakan upaya untuk mengatasi masalah dengan cara mencari kepuasan pada situasi yang lain seperti seseorang memiliki masalah karena menurunnya daya ingat maka akan menonjolkan kemampuan yang dimilikinya. 4) Proyeksi merupakan mekanisme pertahanan diri dengan

menempatkan sifat batin sendiri ke dalam sifat batin orang lain,


Page 13

seperti dirinya membenci pada orang lain kemudian mengatakan pada orang bahwa orang lain yang membencinya. 5) Represi merupakan upaya untuk mengatasi masalah dengan cara menghilangkan pikiran masa lalu yang buruk dengan

melupakannya atau menahan kepada alam tidak sadar dan sengaja dilupakan. 6) Supresi merupakan upaya untuk mengatasi masalah dengan menekan masalah yang tidak diterima dengan sadar dan individu tidak mau memikirkan hal-hal yang kurang menyenangkan. 7) Denial merupakan upaya pertahanan diri dengan cara penolakan terhadap masalah yang dihadapi atau tidak mau menerima kenyataan yang dihadapinya. 3. Adaptasi sosial budaya Merupakan cara untuk mengadakan perubahan dengan melakukan proses penyesuaian perilaku yang sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat, berkumpul dengan masyarakat dalam kegiatan

kemasyarakatan. 4. Adaptasi spiritual Proses penyesuaian diri dengan melakukan perubahan perilaku yang didasarkan pada keyakinan atau kepercayaan yang dimiliki sesuai dengan agama yang dianutnya. Apabila mengalami stres, maka seseorang akan giat melakukan ibadah, seperti rajin melakukan ibadah.

Page 14

2.2 Menstruasi 2.2.1 Definisi Menstruasi Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron. Periode ini penting dalam hal reproduksi. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause. Selain manusia, periode ini hanya terjadi pada primata-primata besar, sementara binatang-binatang menyusui lainnya mengalami siklus estrus (Wikipedia Indonesia).
Menstruasi adalah bagian dari proses kematangan. Namun, variasi dari siklus menstruasi dan gangguan menstruasi sering terjadi (LK Lee dkk, 2006). Siklus menstruasi bervariasi pada tiap-tiap wanita (Guyton, 2006).

2.2.2 Siklus Menstruasi Pada wanita siklus menstruasi rata-rata terjadi sekitar 28 hari, walaupun hal ini berlaku umum, tetapi tidak semua wanita memiliki siklus menstruasi yang sama, kadang-kadang siklus terjadi setiap 21 hari hingga 30 hari. Biasanya, menstruasi rata-rata terjadi 5 hari, kadang-kadang menstruasi juga dapat terjadi sekitar 2 hari sampai 7 hari paling lama 15 hari. Jika darah keluar lebih dari 15 hari maka itu termasuk darah penyakit. Umumnya darah yang hilang akibat menstruasi adalah 10mL hingga 80mL per hari tetapi biasanya dengan rata-rata 35mL per harinya (Wikipedia Indonesia). Siklus menstruasi merupakan siklus terlepasnya dinding rahim (endometrium) yang dibarengi dengan pendarahan dimana proses ini terjadi satu kali tiap bulan kecuali jika si wanita sedang hamil. Menstruasi umumnya terjadi pada anak yang berumur 11 tahun hingga mengalami menopause (sekitar usia 45 55 tahun). Pada umumnya menstruasi berlangsung selama 3 7 hari. Setiap wanita mempunyai siklus menstruasi yang berbeda-beda. Cara menghitung berapa lama siklus menstruasi
Page 15

seorang wanita adalah dihitung mulai dari hari pertama siklus menstruasi sampai hari terakhir. Hari pertama adalah hari dimana perdarahan mulai terjadi, sementara yang dimaksud dengan hari terakhir menstruasi adalah 1 hari sebelum terjadinya perdarahan menstruasi pada bulan berikutnya (Artikel Tentang Kesehatan Wanita). Wanita pasca pubertas memperlihatkan perubahan siklus yang berulang-ulang di dalam aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium yang

menyebabkan pematangan dan pelepasan gamet dari ovarium dan persiapan uterus untuk menunjang kehamilan jika terjadi fertilisasi. Pada keadaan tidak terjadi konsepsi, setiap siklus berakhir dengan perdarahan menstruasi. Gonadotropin hipofisis, yaitu LH dan FSH menghubungkan hipotalamus dan ovarium dan memperantarai perubahan siklus ini. Siklus menstruasi pada manusia paling mudah dimengerti jika proses ini dibagi menjadi empat fase berdasarkan perubahan fungsional dan morfologis di dalam ovarium dan endometrium (Linda J. Heffner & Danny J. Schust, 2008 : 38). 1. Fase folikular Secara konvensional fase ini dikenal sebagai fase pertama yang merupakan suatu fase pada siklus menstruasi sampai terjadinya ovulasi. Pada siklus menstruasi 28 hari, fase ini meliputi 14 hari pertama. Pada siklus ovulatoir yang lebih atau kurang dari 28 hari, adanya penyimpangan lamanya siklus tersebut terutama disebabkan oleh perbedaan lamanya fase folikular. Selama fase ini, sekelompok folikel ovarium akan mulai matang, walupun hanya satu yang akan menjadi folikel dominan, yang disebut sebagai folikel de Graaf. Perkembangan folikel dari bentuk primordial atau bentuk istirahatnya dalm ovarium dimulai selama beberapa hari sebelum dimulainya menstruasi pada siklus sebelumnya, walupun seleksi terhadap folikel mana yang akan matang dalam suatu siklus mungkin dapat terjadi beberapa bulan sebelum pembentukan morfologis. Setelah satu siklus berakhir, kematian dari korpus luteum yang telah deprogram
Page 16

menyebabkan penurunan sekresi hormone yang drastis. Penurunan total estradiol serum melepaskan inhibisi umpan balik negatif pusat pada sekresi FSH. Penurunan progesterone dan inhibin A terlibat dalam derajat yang lebih rendah. Peningkatan sekresi FSH selama fase luteal akhir disertai oleh peningkatan frekuensi denyut sekresi LH. Hari pertama perdarahan menstruasi ditetapkan sebagai hari pertama fase folikular. Selama 4-5 hari pertama fase ini, perkembangan folikel ovarium awal ditandai oleh proliferasi dan aktivitas aromatase sel granulosa yang diinduksi oleh FSH. Sel teka pada folikel yang berkembang menghasilkan prekursor androgen. Prekursor ini dikonversi menjadi estradiol dalam sel granulosa yang berdekatan. Proses ini disebut sebagai hipotesis dua-sel. Kadar estradiol meningkat. Folikel-folikel yang direkrut kini memiliki beberapa lapis sel granulosa yang mengelilingi oositnya dan sedikit akumulasi cairan folikular. FSH menginduksi sintesis reseptor FSH tambahan pada sel granulosa, yang memperbesar efeknya masing-masing. FSH juga menstimulasi sintesis reseptor LH yang baru pada sel granulose, yang kemudian memulai respon LH. Pada hari ke 5-7 siklus menstruasi, sebuah folikel mendominasi folikel lain, dan akan menjadi matang dan berovulasi antara hari ke 13 dan 15. Folikel predominan memiliki indeks mitosis yang paling tinggi dari semua folikel yang ada, memiliki kapasitas optimal untuk retensi FSH pada cairan folikularnya, dan memiliki kemampuan sintesis estradiol dan inhibin B yang tinggi. Folikel yang tidak dominan memiliki rasio androgen : estrogen yang meningkat pada cairan folikularnya, menunjukkan induksi suboptimal pada aktivitas aromatase dan akan mengalami atresia. Androgen tampaknya merupakan kunci terjadinya proses atresia, seperti sel granulose yang mengalami apoptosis jika diberikan androgen secara in vitro. Selama fase folikular tengah hingga akhir, kadar estradiol dan inhibin B yang terus meningkat dalam sirkulasi akan menekan sekresi FSH, sehingga mencegah pengambilan folikel yang baru. Peningkatan estradiol dalam sirkulasi yang sangat tinggi dan terus-menerus
Page 17

menimbulkan efek yang tidak diharapkan pada kelenjar hipofisis yaitu peningkatan eksponensial pada sekresi LH. Ovarium juga menunjukkan respons yang meningkat terhadap gonadotropin. Akhirnya, kadar estrogen yang tinggi menyebabkan pertumubuhan jaringan endometrium yang melapisi uterus. Perubahan pada endometrium ini dapat dibedakan secara mikroskopis dan disebut sebagai fase proliferatif .

2. Fase Ovulatoir Fase dalam siklus menstruasi ini ditandai oleh lonjakan sekresi LH hipofisis, yang memuncak saat dilepaskannya ovum yang matang melalui kapsul ovarium. Dua sampai tiga hari sebelum onset lonjakan LH, estradiol, dan inhibin B yang bersirkulasi meningkat secara cepat dan bersamaan. Sintesis estradiol berada dalam keadaan maksimal dan tidak lagi bergantung pada FSH. Progesteron mulai meningkat saat lonjakan LH menginduksi sintesis progesteron oleh sel granulosa. Kunci dari ovulasi adalah efek umpan balik positif estrogen pada sekresi LH pada pertengahan siklus. Bukti bahwa peningkatan estrogen ovarium merupakan pusat dari ovulasi didasarkan pada observasi bahwa lonjakan gonadotropin dapat terjadi ketika terdapat peningkatan yang terus-menerus pada konsentrasi estradiol yang bersirkulasi pada percobaan dengan memberikan estrogen eksogen selama 2-3 hari. Efek peningkatan estrogen yang bersirkulasi lebih jauh lagi diperkuat dengan
Page 18

adanya progesterone ovarium. Lokasi kerja umpan balik positif estrogen pada siklus pertengahan terhadap sekresi LH tampaknya terjadi di dalam sel-sel neuroendokrin hipotalamus dan gonadotropin hipofisis. LH pada pertengahan siklus belum diketahui, namun melibatkan modulasi neuronal dopaminergik dan -endorfinergikgenerator denyut GnRH. Pada kenyataannya, pada pertengahan siklus terdapat peningkatan sensitivitas gonadotropin hipofisis terhadap GnRH sebanyak 20 kali lipat. Lebih jauh lagi, generator denyut GnRH dapat dihambat oleh opioid alami maupun sintesis, yang menunjukkan bahwa opioid memiliki peran dalam kendali saraf lonjakan LH pada pertengahan siklus. Sedikit peningkatan FSH yang terjadi secara simultan akibat lonjakan LH pada pertengahan siklus ini kemungkinan merupakan respons terhadap sinyal GnRH. Ovulasi tampaknya membutuhkan LH. Mekanisme yang pasti mengenai efek ini belum diketahui, walaupun prostaglandin diperkirakan merupakan salah satu mediatornya. Untuk hal ini, LH telah diketahui menstimulasi biosintesis prostaglandin oleh sel ovarium dan inhibitor sintesis prostaglandin menghambat ovulasi pada binatang. Activator plasminogen juga terlibat. Activator plasminogen, yang merupakan suatu protease serin yang mengkonversi plasminogen menjadi enzim plasmin yang aktif secara proteolitik, diproduksi oleh sel ovarium sebagai respons terhadap FSH dan mungkin memperantarai efek lonjakan FSH pada pertengahan siklus saat ovulasi.

Page 19

3. Fase luteal Setelah ovulasi, gambaran morfologis dan fungsional yang dominan pada ovarium adalah pembentukan dan pemeliharaan korpus luteum. Pada manusia, sel luteal membuat estrogen dan inhibin dalam jumlah besar. Sebenarnya, konsentrasi estrogen yang bersirkulasi selama fase luteal berada dalam keadaan praovulatoir, dengan umpan balik positif. Akan tetapi ciri-ciri fase luteal adalah konsentrasi progesterone dan 17-hidroksiprogesterone yang tinggi yang disekresi oleh korpus luteum. Progesterone pada kadar yang meningkat ini mencegah estrogen untuk menstimulasi lonjakan LH yang lain dari hipofisis. Selain itu, pada keadaan terdapatnya kombinasi antara tingginya konsentrasi

progesterone dan estrogen, frekuensi denyut GnRH praovulatoir menurun, menyebabkan sekresi FSH dan LH hanya pada garis dasar. Lamanya fase luteal lebih konsisten daripada fase folikular, biasanya 14 2 hari. Jika tidak terjadi kehamilan, korpus luteum secara spontan mengalami regresi dan perkembangan folikel berlanjut ke siklus berikutnya. Hanya sedikit LH yang diperlukan untuk mempertahankan korpus luteum pada siklus yang normal. Namun demikian, setelah 14 hari sekresi LH basal pun tidak lagi mampu menunjang fungsi endokrin kelenjar. Jika terjadi kehamilan, pemeliharaan korpus luteum dan produksi progesteronnya sangat penting untuk keberhasilan gestasi awal.
Page 20

hCg merupakan hormone yang homolog dengan LH. hCG disekresi oleh jaringan plasenta (trofoblas) pada kehamilan. Dengan adanya kehamilan, hCG yang disekresi oleh trofoblas gestasional dapat memelihara korpus luteum sampai trofoblas mengambil alih fungsi sekresi progesterone. Kadar progesterone yang tinggi juga menciptakan fase sekretorik di dalam endometrium, yang ditandai oleh pematangan endometrium yang memungkinkan implantasi embrio. Pemicu yang pasti untuk kematian korpus luteum pada siklus yang tidak menghasilkan belum diketahui. Fragmentasi DNA menandai ciri-ciri apoptosis yang terdapat pada korpus luteum sejak fase luteal tengah sampai akhir. Peningkatan sekresi FSH menjelang akhir fase lateral bergantung pada penurunan kadar progesterone, estradiol, dan inhibin dalam sirkulasi yang masih berlangsung. Pemberian antagonis estrogen seperi klomifen sitrat pada fase luteal bermakna secara klinis menyebabkan peningkatan kadar FSH dalam sirkulasi dan mengawali penambahan folikel.

4. Fase menstruasi Hari pertama menstruasi menandai permulaan siklus berikutnya. Sekelompok folikel yang baru telah direkrut dan akan berlanjut menjadi folikel yang matang, dan salah satunya akan berovulasi. Fenomena yang disebut menstruasi sebagian besar merupakan peristiwa endometrial yang

Page 21

dipicu oleh hilangnya dukungan progesterone terhadap korpus luteum pada siklus nonkonsepsi. Perubahan struktur yang mencolok terjadi di dalam endometrium selama menstruasi, yang dikendalikan oleh mekanisme yang kompleks dan hanya sebagian telah dimengerti. Protease pemecah matriks dan lisosom yang dikendalikan secara hormonal tampaknya terlibat. Protease pemecah matriks merupakan bagian dari golongan enzim

metaloproteinase (MMP) yang substratnya mengandung kolagen dan matriks protein lainnya. Di antara golongan MMP, terdapat tujuh anggota yang diekspresikan dengan pola spesifik sel dan pola spesifik siklus mentruasi. Selain itu, endotelin yang merupakan vasokonstriktor poten, tampaknya memiliki aktivitas maksimal pada fase akhir luteal. Pada akhirnya, penurunan progesterone pramenstruasi berhubungan dengan penurunan aktivitas 15-hidroksiprostaglandin dehidrogenase. Hal ini mengahsilkan peningkatan availabilitas prospoten. Homeostasis

prostaglandin dan tromboksan menyebabkan kontraksi miometrium dan vaskular di dalam uterus. Pengendalian kontraktilitas tersebut berpusat pada terjadinya iskemia endometrium, yang merupakan awal dari peluruhan endometrium dan penghentian perdarahan menstruasi. Pada fase menstruasi terdapat 4 fase :

Page 22

a. Fase menstruasi (deskuaminasi) Menurunnya progesterone dan estrogen menyebabkan pembuluh darah pada endometrium menegang, sehingga menyebabkan suplai oksigen menurun. Karena tidak terjadi kehamilan maka endometrium mengalami degenerasi yang ditandai dengan luruhnya sel-sel pada dinding uterus, pecahnya pembuluh darah dalam endometrium, menyebabkan darah dan sel-sel tersebut keluar melalui vagina. Peristiwa ini disebut menstruasi. Menstruasi berlangsung antar 5-7 hari. b. Fase folikuler (fase reperasi) Terjadi 6-10 hari. Terjadi proses penyembuhan akibat pecahnya pembuluh darah. Fase ini dipengaruhi oleh hormone estrogen yang dihasilkan oleh folikel. Hormone ini merangsang pertumbuhan endometrium yaitu dengan mempertebal lapisan endometrium dan membentuk pembuluh darah serta kelenjar. c. Fase fertil Terjadi 11-18 hari. Meningkatnya hormone estrogen dapat memacu dihasilkannya LH. Apabila LH meningkat, maka folikel memproduksi progesterone. Hormone-hormon ini berperan mematangkan folikel dan merangsang terjadinya ovulasi yaitu lepasnya ovum dari ovarium. Ovum ini bergerak sepanjang tuba fallopii. Pada saat seperti ini, wanita tersebut dalam masa fertil atau subur sehingga ovum siap dibuahi. d. Fase luteal Terjadi 19-28 hari. Pada saat ovulasi, folikel Graaf pecah berubah menjadi korpus rubrum yang mengandung banyak darah. Adanya LH menyebabkan korpus rubrum berubah menjadi korpus luteum (badan kuning) untuk menghasilkan hormone progesterone yang berfungsi mempersiapkan endometrium menerima embrio. Pada saat ini endometrium menjadi tebal dan lembut, serta dilengkapi banyak pembuluh darah. Jika tidak ada kehamilan, korpus luteum

Page 23

berdegenerasi menjadi korpus albikans sehingga progesterone dan estrogen menurun bahkan hilang.

2.2.3 Gangguan pada Siklus Menstruasi Macam-macam siklus menstruasi yang tidak normal : 1. Polymoenorrhea Pada kasus ini wanita lebih sering mengalami menstruasi yaitu berkisar pada 2-3 minggu sekali. 2. Mettorrhagia Siklus ini ditandai dengan datangnya menstruasi yang tidak teratur. Menstruasi ini terjadi sekitar 3-6 minggu sekali. 3. Oligomenorrhea Siklus ini terjadi secara tidak teratur hingga mengakibatkan harus diketahui terlebih dahulu penyebab dan kondisinya agar mendapatkan perawatan yang sesuai. Ditemukan pada banyak kasus, siklus ini dipicu karena adanya ketidakseimbangan hormone yang dialami wanita. 4. Menorrhagia Adanya perdarahan hebat yang terjadi saat menstruasi. Dipicu karena adanya ketidakseimbangan hormone sehingga menyebabkan siklus menstruasi tanpa adanya ovulasi. Pada keadaan normal, sel telur dari ovarium menhasilkan progesterone. Apabila kadarnya tidak cukup maka akan mengakibatkan pendarahan saat menstruasi.

Page 24

2.3 Masa remaja (adolescents) 2.3.1 Definisi Remaja Masa remaja (adolescents) merupakan masa di mana terjadi transisi masa kanak-kanak menuju dewasa, biasanya antara usia 13 sampai 20 tahun. Istilah adolescents merujuk kepada kematangan psikologis individu, sedangkan pubertas merujuk pada saat di mana telah ada kemampuan reproduksi (Potter Perry, 2009 : 278-279). Para ahli perkembangan membedakan masa remaja menjadi perioe awal dan periode akhir. Masa remaja awal (early adolescence), kurang lebih berlangsung di masa sekolah menengah pertama atau sekolah menengah akhir dan perubahan pubertal terbesar terjadi di masa ini. Masa remaja akhir (late adolescence), kurang lebih terjadi pada pertengahan dasawarsa yang kedua dari kehidupan (John W. Santrock, 2007 : 20-21). Perubahan hormonal saat pubertas mengakibatkan perubahan tampilan pada anak, sedangkan perkembangan koknitif mengakibatkan kemampuan untuk menyusun hipotesis dan berhubungan dengan hal abstrak. Penyesuaian dan adaptasi dibutuhkan untuk menghadapi perubahan ini dan mencoba untuk memperoleh identitas diri yang matang. Pada masa sebelumnya, masa adolescence dianggap masa yang penuh masalah, namun saat ini diketahui bahwa sebagian besar remaja mampu menghadapi tantangan masa adolescence ddengan baik. Pada masa remaja ini terdapat tiga subfase : masa remaja awal (11 sampai 14 tahun), masa remaja pertengahan (15 sampai 17 tahun), dan masa remaja akhir (18 sampai 20 tahun). Terdapat banyak variasi antar subfase dalam perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial. Demikian juga dengan kesempatan, tantangan, perubahan, keterampilan, dan tekanan (Potter Perry, 2009 : 279). Pemahaman perawat mengenai perkembangan individu dapat membantu orang tua dan remaja mengantisipasi masa remaja. Aktivitas keperawatan, terutama pendidikan, mendorong perkembangan individu yang
Page 25

sehat. Kegiatan ini terjadi pada berbagai latar dan anda dapat melakukanya terhadap remaja, orang tua, atau keduanya. Sebagai contoh, perawat mengadakan seminar di sekolah untuk memecahkan masalah bagi sekelompok pelajar, seperti menangani jerawat atau mengambil keputusan yang bertanggung jawab tentang penggunaan alcohol atau obat-obatan. Perawat dapat melakukan program pendidikan bagi orang tua tentang cara menghadapi remaja sehingga pengertian mereka tentang perkembangan remaja akan bertambah. Program tersebut dapat diadakan di sekolah, klinik, kantor, ataupun sentra masayarakat. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai suatu masalah spesifik, keneli kebutuhan dan keinginan remaja. Keterlibatan akan menghasilkan pelajar yang lebih aktif dan memiliki minat besar (Potter Perry, 2009 : 279). 2.3.2 Perubahan Pada Remaja 1. Perubahan Fisik Menurut Potter Perry (2007 : 279), perubahan fisik terjadi dengan cepat pada masa remaja. Kematangan seksual terjadi seiring

perkembangan karateristik seksual primer dan sekunder. Berikut ini merupakan empat fokus utama perubahan fisik : a. Peningkatan pertumbuhan tulang rangka, otot, dan organ dalam. b. Perubahan yang spesifik untuk tiap jenis kelamin, seperti perubahan lebar bahu dan pinggul. c. Perubahan distribusi otot dan lemak. d. Perkembangan sistem reproduktif dan karakteristik seks sekunder. Terdapat banyak variasi pada masa perubahan fisik yang dihubungkan dengan pubertas antara lawan jenis dan sesama jenis. Anak perempuan umumnya lebih dulu mengalami perubahan fisik disbanding anak laki-laki, yaitu sekitar dua tahun lebih awal (John W. Santrock, 2007). Tingkat pertambahan tinggi dan berat badan biasanya

Page 26

proporsional, serta urutan perttumbuhan pada setiap individu umumnya sama. Perubahan hormone terjadi saat hipotalamus mulai menghasilkan hormone yang melepaskan gonadotropin. Hormon ini memberikan sinyal kepada hipofisis untuk menyekresikan hormone gonadotropik. Hormon gonadotropik akan merangsang sel ovarium untuk

menghasilkan esterogen dan merangsang sel testis untuk menghasilkan testisteron. Hormon ini berperan terhadap timbulnya karakteristik seks sekunder seperti pertumbuhan rambut dan perubahan suara, selain itu juga berperan dalam reproduksi. Perubahan konsentrasi hormone tersebut dihubungkan dengan terjadinya jerawat dan bau badan. Pemahaman mengenai hal ini membantu perawat mendidik remaja tentang kebutuhan perawatan tubuh (Potter Perry, 2009 : 279-280). Anak laki-laki yang matang labih cepat memiliki sifat yang lebih tenang, memiliki keterampilan dalam kegiatan atletik, dan lebuh cenderung untuk menjadi pemimpin disbanding anak laki-laki yang matang lebih lambat. Sebaliknya, anak perempuan yang matang lebih cepat biasanya kurang puas dengan bentuk tubuhnya saat mereka mencapai usia remaja akhir. Hal ini dikarenakan tubuh mereka cenderung lebih pendek dan berat dibandingkan anak perempuan yang matang lebih lambat yanag memilki tubuh lebih langsing dan tinggi (John W. Santrock, 2007). Kisaran normal dari parameter ini perlu ditekankan. Seperti pada peningkatan tinggi dan berat badan, pola perubahan seksual lebih penting dibandingkan onsetnya. Penyimpangan yang besar dari nilai normal membutuhkan penelitian lebih jauh. Para remaja menganggap keseragaman sesuai kelompoknya merupakan hal yang penting (Potter Perry, 2009 : 280). Penyimpangan dalam waktu perubahan fisik dapat menimbulkan kekhawatiran pada anak. Oleh karena itu, perawat dapat memberikan dukungan emosional bagi mereka yang mengalami keterlambatan pubertas (Potter Perry, 2009 : 280).

Page 27

Tinggi dan berat badan biasanya terjadi pada masa pre pubertas, yaitu pada usia 12 tahun untuk anak permpuan dan usia 14 tahun pada anak laki-laki. Bagi anak perempuan, tinggi badan bertahan 5,7 sampai 20,3 cm dan berat badan bertambah 6,8 sampai 25 kg. tinggi badan pada anak laki-laki meningkat sekitar 10,2 sampai 30,5 cm dam berat badan bertambah6,8 sampai 29,5 kg. individu dewasa memperoleh 20% sampai 25% tinggi badan dan 50% berat badannya pada masa ini (Hockenberry dan Wilson, 2007). Anak perempuan mencapai 90% sampai 95% tinggi dewasa pada saat menarche (munculnya menstruasi) dan mencapai tinggi badan maksimal pada usia 16 sampai 17 tahun. Anak laki-laki akan terus bertambah tinggi sampai berusia 18 atau 20 tahun. Lemak mengalami distribusi ulang karena pertambahan tinggi dan berat badan sehingga tubuh remaja akan berubah tampilan menjadi dewasa. Pertumbuhan ini memiliki pola yang sama bagi kedua jenis kelamin. Pertambahan panjang ekstremitas terjadi pada awal pertumbuhan sehingga tampak besar dan kaki tampak sangat panjang, anak dapat tampak sangat kikuk dan aneh. Pada saat yang sama, rahang bawah dan hidung menjadi lebih panjang, selain itu dahi lebih tinggi dan lebar. Selanjutnya paha akan melebar, lalu bahu melebar, diikuti pertumbuhan pada bagian badan. Pelebaran pinggul wanita dan bahu pria akan terus berlanjut selama masa remaja (Potter Perry, 2009 : 280). Kurva pertumbuhan pribadi akan membantu perawat menilai perkembangan fisik remaja. Kemajuan pertumbuhan sepanjang kurva lebih bermakna daripada perbandingan dengan nilai normal.

Pengukuran kurva pertumbuhan dilakukan pada pemeriksaan kesehatan rutuin untuk mendeteksi perubahan (Potter Perry, 2009 : 280-281). Para remaja sangat sensitive terhadap perubahan fisik yang akan membuat berbeda dari kelompoknya. Akibatnya mereka ingin mengetahui pola pertumbuhan normal dan kemajuan pertumbuhan dirinya sendiri. Oleh karena itu, perawat harus memberikan informasi

Page 28

ini untuk memastikan bahwa pola pertumbuhan mereka bersifat normal (Potter Perry, 2009 : 281). 2. Perubahan kognitif Perubahan pada pikiran dan lingkungan sosial remaja akan menghasilkan tingkat perkembangan lingkungan pendidikan yang cukup, intelektual tertinggi. Tanpa individu yang memiliki

perekmbangan saraf yang memenuhi syarat tidak akan selalu mampu mencapai tingkat intelektualitas tersebut. Mereka yang dibimbing menuju pemikiran rasional terkadang mencapai tingkat ini lebih awal (Potter Perry, 2009 : 281). Perubahan kognitif selama transisi dari masa kanakkanak hingga masa remaja adalah meningkatnya berpikir abstrak, idealistik, dan logis. Ketika mereka melalui transisi ini, remaja mulai berpikir secara egosentris (John W. Santrock, 2007 : 23). Para remaja memperoleh kemampuan memperkirakan suatu kemungkinan, mengurutkannya, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan melalui pemikiran logis. Mereka dapat berpikir secara abstrak dan dapat mengatasi masalah hipotetis. Saat menghadapi suatu masalah, remaja akan mempertimbangkan berbagai kemungkinan penyebab dan penyelesaiannya. Untuk pertama kalinya, individu muda ini akan mengalami kemajuan proses berpikir yang sebelumnya masih bersifat fisik atau konkret menjadi bersifat abstrak. Anak usia sekolah hanya berpikir mengenai hal yang sedang terjadi, sedangkan remaja telah mampu membayangkan hal yang akan terjadi. Kemampuan baru ini memberikan keterampilan dalam bermian seperti permainan video, computer, serta catur yang membutuhkan pemikiran abstrak dan deduksi tentang strategi. Seorang remaja bahkan mampu memecahkan masalah yang membutuhkan manipulasi beberapa konsep abstrak sekaligus. Kemampuan ini penting untuk memperoleh identitas diri. Sebagai contoh, keterampilan kognitif yang baru diperoleh memungkinkan

remaja menetukan tingkah laku yang sesuai, efektif, dan nyaman yang sesuai dengan gendernya dan untuk mempertimbangkan dampak tingkah

Page 29

laku tersebut terhadap kelompok, keluarga, dan masyarakat Perry, 2009 : 281).

(Potter

Kemampuan berpikir logis tentang tingkah laku tersebut dan dampaknya mendorong remaja membangun pemikiran pribadi dan cara untuk mengekspresikan identitas seksual. Selain itu, peningkatan

kemampuan kognitif membuat remaja lebih terbuka terhadap informasi beragam tentang seksualitas dan tingkah laku seksual. Sebagai contoh, pendidikan seks meliputi penjelasan tentang perubahan seksual fisologis dan tindakan keluarga berencana (Potter Perry, 2009 : 281). Pada masa remaja pertengahan, timbul kualitas intrspektif siring peningkatan kognisi. Remaja percaya bahwa diri mereka unik dan merupakan pengecualian sehingga mereka membangun tingkah laku yang beresiko. Mereka percaya bahwa mereka dapat mengebut dan tetap terhindar dari kecelakanan. Tingkah laku remaja lainnya dalah tingkat mawas diri yang terlalu tinggi dan keinginan memperoleh privasi (Potter Perry, 2009 : 281). Remaja juga memperoleh kemampuan untuk memahami bahwa suati idea tau tindakan individual dapat memengaruhi orang lain. Ini mengakibatkan remaja mempertanyakan masyarakat dan nilai-nilainya. Walupun mereka mampu berpikir seperti orang dewasa, mereka tidak memiliki pengalaman sebagai dasar berpikir. Remaja sering menggangap orang tuanya berpikiran sempit atau terlalu materialistik. Hal ini dapat menimbulkan konflik. Kemampuan kognisi dan performanya sangat bervariasi pada remaja. Fakta menunjukkan bahwa remaja memiliki performa yang berbeda pada situasi yang berbeda pula. Hal ini dikarenakan performa berdasar pada pengalaman sebelumnya,

pendidikan formal, serta motivasi dalam penggunaan logika dan deduksi efektif (Potter Perry, 2009 : 281).

Page 30

3. Perubahan psikososial Pada perkembangan psikososial, pencarian jati diri merupakan tugas utama remaja. Mereka dapat membentuk hubungan kelompok yang erat atau memilih untuk tetap terisolasi. Erikson (1963), meninjau kebingungan identitas atau peran sebagai bahaya utama pada tingkat ini. Ia juga menyatakan bahwa penolakan kelompok terhadap perbedaan pada remaja anggotanya merupakan suatu mekanisme pertahanan terhadap kebingungan identitas tersebut (Erickson, 1968). Remaja berusaha memisahkan unsur emosional dari pihak orang tua sambil tetap mempertahankan hubungan keluarga. Selain itu, mereka harus

membangun sistem etis yang berdasarkan nilai-nilai pribadi. Meraka akan membuat keputusan mengenai karir, pendidikan di masa depan, dan gaya hidup. Berbagai komponen tentang identitas total berasal dari tugastugas tersebut dan akan membentuk identitas pribadi dewasa yang unik untuk masing-masing orang. Ketidakmampuan dalam membuat

keputusan merupakan tingkah laku yang mengindikasikan cara penyelesaian negatif dari tugas perkembangan (Potter Perry, 2009 : 282). a. Identitas seksual Perubahan fisik pada masa pubertas akan membentuk idenititas seksual. Menurut Frued, perubahan ini akan merangsang timbulnya libido, yaitu sumber energi bagi dorongan seksual. Ini dapat dilihat dari terjalinnya hubungan romantis dan praktik masturbasi oleh remaja. Jika perubahan ini disertai penyimpangan, remaja akan memiliki kesulitan membentuk identitas seksualnya. Remaja bergantung pada petunjuk fisik tersebut karena mereka membutuhkan kepastian akan kewanitaan atau kejantanan. Selain itu, mereka tidak ingin dianggap berbeda dari kelompoknya (Potter Perry, 2009 : 283). Pencapaian identitas seksual tanpa karakteristik fisik di atas akan menimbulkan masalah. Pengaruh lainnya adalah sikap budaya dan harapan pihak sekitar tentang tingkah laku yang sesuai jenis kelamin
Page 31

dan peran contoh yang tersedia. Pengaruh yang lain adalah aktivitas, minat, dan gaya tingkah laku (Santrock, 2007). Tingkah laku maskulin dan feminine yang diamati oleh remaja akan memengaruhi cara mereka mengekspresikan seksualitas (Potter Perry, 2009 : 283). b. Identitas kelompok Para remaja mencari identitas kelompok karena mereka

membutuhkan kepercayaan diri dan penerimaan. Kesamaan dalam gaya berpakaian dan berbahasa banyak ditemukan pada kelompok remaja. Popularitas merupakan pusat perhatian bagi remaja. Kelompok akan memberikan remaja rasa kebersamaan, persetujuan, dan kesempatan untuk mempelajari tingkah laku yang dapat diterima. Popularitas terhadap kelompok lawan jenis dan sesame jenis sangat penting. Kebutuhan akan identitas kelompok terkadang menimbulkan konflik dengan kebutuhan akan identitas pribadi. Tampaknya remaja membutuhkan keterikatan dengan kelompok untuk akhirnya mencapai individualitas (Potter Perry, 2009 : 282). c. Identitas keluarga Terbentuknya hubungan kelompok yang semakin kuat tampak kontras dengan hubungan remaja-orang tua yang semakin longgar. Kemandirian finansial belum menjadi hal yang umum ditemukan pada masyarakat Amerika, namun remaja sering bekerja paruh waktu untuk mendorong terjadinya kemandirian melalui pendapatan. Saat remaja disibukkan oleh kegiatan sekolah dan faktor lainnya, orang tua dapat memberikan uang untuk membeli pakaian dan kebutuhan lainnya yang akan mendorong anak untuk membentuk keterampilan pengambilan keputusan dan menyusun anggaran (Potter Perry, 2009 : 283). Beberapa remaja dan keluarga meiliki kesulitan yang lebih besar pada masa ini dibandingkan remaja lainnya. Remaja harus memilih, bertindak mandiri, dn mengalami konsekuensi dari tindakan mereka. Kesulitan ini akan ditangani dengan baik pada keluarga dengan dasar yang kuat dan suportif. Keluarga harus memberikan kebebasan sambil
Page 32

menyediakan

tempat

yang

aman

bagi

remaja

untuk

mempertimbangkan tindakannya. Keluarga yang tidak mampu memberikan dukungan ini akan menyulitkan pembentukan identitas. Dukungan bagi keluarga dan remaja sangat dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan (Potter Perry, 2009 : 283). Perawat membantu keluarga dalam mempertimbangkan cara pembentukan kemandirian pada remaja sambil memelihara struktur keluarga. Diskusi ini dapat membahas larangan, pekerjaan, dan partisipasi dalam tugas keluarga. Emansipasi yang dicapai secara bertahap akan menghasilkan keseimbangan antara kemandirian dan hubungan keluarga, serta merupakan bentuk yang paling berhasil (Potter Perry, 2009 : 283-284). d. Identitas Kesehatan Komponen penting lainnya pada identitas pribadi adalah persepsi tentang kesehatan. Komponen ini pentng bagi penyedia layanan kesehatan. Remaja yang sehat menilai kesehatannya berdasarkan perasaan nyaman, mampu berfungsi dengan normal, dan ketiadaan gejala (Hockenberry dan Wilson, 2007). Mereka juga

memperhitungkan pemeliharaan kesehatan dan promosi kesehatan sebagai masalah penting (Potter Perry, 2009 : 284). Intervensi untuk memperbaiki persepsi kesehatan dipusatkan pada masa remaja. Perubahan cepat selama masa ini menekankan pentingnya program promosi kesehatan. Remaja mencoba berbagai peran baru, mulai mencapai kestabilan identitas, dan memperoleh berbagai nilai dan tingkah laku yang akan menjadi dasar bagi kehidupan di masa dewasa. Mereka mampu mengenali tingkah laku yang mengancam kesehatan masyarakat seperti merokok dan penyalahgunaan obat-obatan, namun sering menyepelekan pengaruh negatif dari tindakan mereka sendiri (Hockenberry dan Wilson, 2007).

Page 33

4. Perubahan sosio-emosional Perubahan ini meliputi tuntutan untuk mencapai kemandirian, konflik dengan orang tua, dan keinginan lebih banyak meluangkan waktu bersama kawan-kawan sebaya (John W. Santrock, 2007 : 23).

2.3.3 Teori Psikoanalisis Menurut teori psikoanalisis (psychoanalytic theory), proses perkembangan terutama berlangsung secara tidak disadari atau unconscious (di luar kesadaran) dan sangat diwarnai oleh emosi (John W. Santrock, 2007 : 46). 1. Teori Freud (1856-1939) Freud berpendapat bahwa kehidupan remaja dipenuhi dengan ketegangan dan konflik. Menurut Freud, remaja berusaha meredakan ketegangan yang dialami dengan cara memendam konflik tersebut ke dalam pikiran yang tidak sadar (John W. Santrock, 2007 : 46).Mekanisme pertahanan yang paling kuat dan bersifat naluriah adalah represi. Represi mendorong impuls-impuls id untuk tetap berada di bawah kesadaran kita. Represi merupakan dasar dari semua mekanisme pertahanan lainnya, karena tujuan dari setiap mekanisme pertahanan adalah untuk menekan atau mendorong impuls yang mengancam agar keluar dari kesadaran (John W. Santrock, 2007 : 47). Teori psikoseksual menurut Freud pada remaja terdapat pada : Tahap genital adalah tahap perkembangan yang kelima dan terakhir, yang berlangsung sejak masa remaja hingga ke masa selanjutnya. Tahap genital adalah masa dari kebangkitan seksual. Menurut Freud, konflik-konflik dengan orang tua yang tidak terselesaikan akan muncul kembali di masa remaja. Apabila konflik ini terselesaikan, individu akan mampu mengembangkan relasi cinta yang matang dan berfungsi secara mandiri sebagai seorang dewasa. 2. Teori Erikson (1902-1994) Menurut Erikson, motivasi utama manusia bersifat social dan mencerminkan hasrat untuk bergabung dengan orang lain serta berlangsung sepanjang masa hidup. Pada teori Erikson, remaja termasuk
Page 34

dalam tahap kelima yaitu : Identitas versus kebingungan identitas, dimasa ini individu dihadapkan pada tantangan untuk menemukan siapakah mereka itu, bagaimana mereka nantinya, dan arah mana yang hendak mereka tempuh dalam hidupnya. Remaja dihadapkan pada peran-peran baru dan status orang dewasa-pekerjaan dan romantika. Contoh, orang tua sebaiknya mengizinkan mereka untuk menjajaki berbagai peran yang berbeda, maupun berbagai jalur yang terdapat dalam suatu peran tertentu. Jika mereka menjajaki peran dengan cara yang sehat dan sampai pada suatu jalur yang positif untuk diikuti dalam kehidupan, maka identitas yang positif akan dicapai. Jika suatu identitas terlalu dipaksakan oleh orang tua dan jika remaja tidak cukup berhasil dalam menjajaki berbagai peran dan mendefinisikan masa depannya secara positif, maka mereka akan mengalami kebingungan identitas (John W. Santrock, 2007 : 51). 3. Teori Kognitif Teori Piaget (1896-1980), bahwa individu secara aktif membangun pemahaman mengenai dunia dan melalui empat tahap perkembangan kognitif. Menurut teori Piaget, pada remaja masuk tahap operasional formal, yang berlangsung antara usia 11-15 tahun. Dalam tahap ini, individu melampaui pengalaman konkret dan berpikir secara abstrak dan lebih logis. Sebagai bagian dari pemikiran yang lebih abstrak, remaja mengembangkan gambaran mengenai keadaan yang ideal (John W. Santrock, 2007 : 53).

2.4 Model Konsep Keperawatan Callista Roy Merupakan model dalam keperawatan yang menguraikan bagaimana individu mampu meningkatkan kesehatannya dengan cara mempertahankan perilaku secara adaptif serta mampu merubah perilaku yang mal adaptif. Sebagai individu dan makhluk holistic memiliki sistem adaptif yang selalu beradaptasi secara keseluruhan (A. Aziz Alimul Hidayat, 2007 : 46). Dalam memahami konsep model ini, Callista Roy mengemukakan konsep keperawatan dengan model adaptasi yang memiliki beberapa pandangan atau keyakinan serta nilai yang dimilikinya di antaranya :
Page 35

1. Manusia sebagai makhluk biologi, psikologi, dan sosial yang selalu berinteraksi dengan lingkungannya. 2. Untuk mencapai homeostatis atau terintegrasi, seseorang harus beradaptasi sesuai dengan perubahan yang terjadi. 3. Terdapat tiga tingkatan adaptasi pada manusia yang dikemukakan oleh Roy, di antaranya : a. Focal stimulasi yaitu stimulus yang langsung beradptasi dengan seseorang dan akan mempunyai pengaruh kuat terhadap seseorang individu. b. Kontekstual stimulus merupakan stimulus lain yang dialami seseorang, baik stimulus internal maupun eksternal yang dapat mempengaruhi, kemudian dapat dilakukan observasi, diukur secara subjektif. c. Residual stimulus merupakan stimulus lain yang merupakan ciri tambahan yang ada atau sesuai dengan situasi dalam proses penyesuaian dengan lingkungan yang sukar dilakukan observasi. 4. Sistem adaptasi memiliki empat mode adaptasi di antaranya : a. Fungsi fisiologis, seperti oksigenasi, nutrisi, eliminasi, aktivitas dan istirahat, integritas kulit, indera, cairan dan elektrolit, fungsi neurologis, dan fungsi endokrin. b. Konsep diri, yaitu bagaimana seseorang mengenal pola-pola interaksi social dalam berhubungan dengan orang lain. c. Fungsi peran, merupakan proses penyesuaian yang berhubungan dengan bagaimana peran seseorang dalam mengenal pola-pola interaksi social dalam berhubungan dengan orang lain. d. Interdependent, merupakan kemampuan seseorang mengenal pola-pola tentang kasih sayang, cinta yang dilakukan melalui hubungan secara interpersonal pada tingkat individu maupun kelompok. 5. Dalam proses penyesuaian diri individu harus meningkatkan energi agar mampu melaksanakan tujuan untuk kelangsungan kehidupan,

perkembangan, reproduksi, dan keunggulan sehingga proses ini memiliki tujuan untuk meningkatkan respons adaptif.

Page 36

Secara ringkas, pandangan Roy mengemukakan bahwa individu sebagai makhluk biopsikososial dan spiritual sebagai satu kesatuan yang utuh memiliki mekanisme koping untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan sehingga individu selalu berinteraksi terhadap perubahan lingkungan. Dalam mengemukakan model konsep praktek keperawatan, asumsi dasar yang dimiliki di antaranya sebagai makhluk individu yang utuh dan sehat, individu mampu berfungsi untuk memenuhi kebutuhan biopsikososial, setiap orang selalu menggunakan koping yang bersifat positif maupun negatif. Untuk mampu beradaptasi setiap individu akan berespons terhadap kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan konsep diri yang positif, kemampuan untuk hidup mandiri serta kemampuan akan berperan dan berfungsi secara optimal untuk memelihara integritas diri dan individu selalu berada dalam rentang sehat-sakit yang berhubungan dengan koping yang efektif dalam memlihara proses adaptasi (A. Aziz Alimul Hidayat, 2007 : 47). Jadi tujuan asuhan keperawatan adalah membantu untuk beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan hubungan interdependensi selama sehat dan sakit. Kebutuhan yang dimaksud Roy antara lain : 1. Kebutuhan fisiologis dasar 2. Pengembangan konsep diri positif 3. Penampilan peran sosial 4. Pencapaian keseimbangan antara kemandirian dan ketergantungan

2.5 Hubungan Stres dengan Siklus Menstruasi


Stres mempengaruhi fungsi normal menstruasi. Pada keadaan stres terjadi pengaktifan HPA aksis, mengakibatkan hipotalamus menyekresikan CRH. CRH mempunyai pengaruh negatif terhadap pengaturan sekresi GnRH,

ketidakseimbangan CRH memiliki pengaruh terhadap penekanan fungsi reproduksi manusia sewaktu stress. Proses ovulasi bukan hanya dipengaruhi oleh suatu kerja sama yang harmonis antara korteks serebri, hipotalamus, hipofisis
Page 37

dan ovarium, melainkan juga dipengaruhi oleh kelenjar tiroid, korteks adrenal dan kelenjar-kelenjar endokrin lain (Prawiroharjo, 2007). Sekresi CRH ini akan merangsang pelepasan ACTH oleh hipofisis anterior yang selanjutnya ACTH akan merangsang kelenjar adrenal untuk menyekresikan kortisol. Kortisol menekan pulsatil LH dengan cara menghambat respon hipofisis anterior terhadap GnRH (Breen dan Karsch, 2004). Selama siklus menstruasi, peran hormon LH sangat dibutuhkan dalam menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini, estrogen dan progesteron memiliki peranan yang penting selama siklus mentruasi yang secara normal terjadi pada wanita setiap bulannya (Guyton, 2006). Pengaruh hormon kortisol ini menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan hormon yang mengakibatkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur. (Chrous, 1998; Breen and Karsch, 2004; Guyton, 2006). Gangguan pada pola menstruasi ini melibatkan mekanisme regulasi integratif yang mempengaruhi proses biokimia dan seluler tubuh termasuk otak dan psikologis. Pengaruh otak dalam reaksi hormonal terjadi melalui jalur hipotalamus hipofisis ovarium yang meliputi multiefek dan mekanisme kontrol umpan balik. Pada keadaan stres terjadi aktivasi pada amygdala pada sistem limbik.

Page 38

Sistem ini akan menstimulasi pelepasan hormon dari hipotalamus yaitu Corticotropic Releasing Hormone (CRH). Hormon ini secara langsung akan menghambat sekresi GnRH hipotalamus dari tempat produksinya di nukleus arkuata. Proses ini kemungkinan terjadi melalui penambahan sekresi opioid

endogen. Peningkatan CRH akan menstimulasi pelepasan Adenocorticotropin


Hormone (ACTH) kedalam darah. Peningkatan kadar ACTH akan menyebabkan peningkatan kadar kortisol darah. Pada wanita dengan gejala amenore hipotalamik menunjukan keadaan hiperkortisolisme yang disebabkan adanya peningkatan CRH dan ACTH. Hormon hormon tersebut secara langsung dan tidak langsung menyebabkan penurunan kadar GnRH, dimana melalui jalan ini maka stres menyebabkan gangguan siklus menstruasi. ACTH akan merangsang kelenjar adrenal untuk menyekresikan kortisol. Kortisol berperan dalam menghambat sekresi LH oleh pusat aktivasi otak. Kortisol menekan pulsatil LH dengan cara menghambat respons hipofisis anterior terhadap GnRH. Selama siklus menstruasi, peran hormon LH sangat dibutuhkan dalam menghasilkan hormon estrogen dan progesteron, yang memiliki peran penting selama siklus menstruasi yang secara normal terjadi pada wanita setiap bulannya. Pengaruh hormon kortisol ini menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan hormon yang berpengaruh terhadap siklus menstruasi, biasanya siklus menstruasi menjadi tidak teratur.

Dari hasil penelitian beberapa studi juga menjelaskan bahwa sewaktu stres terjadi aktivasi aksis hipotalamus-pituitari-adrenal bersama-sama dengan sistem saraf autonom yang menyebabkan beberapa perubahan, diantaranya pada sistem reproduksi yakni siklus menstruasi yang abnormal (Chrousos dkk, 2004; Kanjantie dan Phillips, 2006).

2.6 Aplikasi Teori Callista Roy Terhadap Stres Stres adalah apabila seseorang mengalami beban atau tugas yang berat tetapi orang tersebut tidak dapat mengatasi tugas yang dibebankan itu, maka tubuh akan berespons dengan tidak mampu terhadap tugas tersebut, sehingga orang tersebut dapat mengalami stres. Stres biasanya dipersepsikan sebagai
Page 39

suatu sesuatu yang negatif padahal tidak. Terjadinya stres dapat disebabkan oleh sesuatu yang dinamakan stressor. Bentuk stressor ini dapat dari lingkungan, kondisi dirinya serta pikiran. Untuk mengatasi stres tersebut, sebagai perawat harus bisa mengidentifikasi stressor seperti apa yang dihadapi baik itu stressor internal maupun eksternal. Stres bisa menyebabkan ketidakteraturan dalam siklus menstruasi karena saat kita stres terjadi pengeluaran kortisol. Kortisol berperan dalam menghambat sekresi LH oleh pusat aktivasi otak. Kortisol menekan pulsatil LH dengan cara menghambat respons hipofisis anterior terhadap GnRH. Selama siklus menstruasi, peran hormon LH sangat dibutuhkan dalam menghasilkan hormon estrogen dan progesteron, yang memiliki peran penting selama siklus menstruasi yang secara normal terjadi pada wanita setiap bulannya. Pengaruh hormon kortisol ini menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan hormone. Di dalam menghadapi stres, kita harus beradaptasi karena dengan beradaptasi berarti kita bisa menghadapi stres dengan cara yang positif. Di dalam model konsep keperawatan Callista Roy, ada tiga tingkatan adaptasi pada manusia dalam menghadapi stressor : 1. Focal stimulasi yaitu stimulus yang langsung beradptasi dengan seseorang dan akan mempunyai pengaruh kuat terhadap seseorang individu. 2. Kontekstual stimulus merupakan stimulus lain yang dialami seseorang, baik stimulus internal maupun eksternal yang dapat mempengaruhi, kemudian dapat dilakukan observasi, diukur secara subjektif. 3. Residual stimulus merupakan stimulus lain yang merupakan ciri tambahan yang ada atau sesuai dengan situasi dalam proses penyesuaian dengan lingkungan yang sukar dilakukan observasi. Sistem adaptasi memiliki empat mode adaptasi di antaranya : 1. Fungsi fisiologis, seperti oksigenasi, nutrisi, eliminasi, aktivitas dan istirahat, integritas kulit, indera, cairan dan elektrolit, fungsi neurologis, dan fungsi endokrin. 2. Konsep diri, yaitu bagaimana seseorang mengenal pola-pola interaksi social dalam berhubungan dengan orang lain.

Page 40

3. Fungsi peran, merupakan proses penyesuaian yang berhubungan dengan bagaimana peran seseorang dalam mengenal pola-pola interaksi social dalam berhubungan dengan orang lain. 4. Interdependent, merupakan kemampuan seseorang mengenal pola-pola tentang kasih sayang, cinta yang dilakukan melalui interpersonal pada tingkat individu maupun kelompok. hubungan secara

Page 41