Anda di halaman 1dari 25

TUGAS MAKALAH MATA KULIAH DASAR DASAR GEOLOGI Siklus Batuan, Siklus Geologi, Klasifikasi Batuan dan Identifikasi

i Batuan

CHANDRA ELYESER SINAMBELA 26020110130103

JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Secara tidak disadari pengetahuan Geologi telah diterapkan sejak zaman prasejarah. Kata

geologi pertama kali dipergunakan pada tahun 1473 oleh Ricardh de Bury untuk hukum atau ilmu kebumian. Kata Geologi berasal dari kata Yunani, geos berarti bumi dan logos yang berarti ilmu. Jadi Geologi adalah Ilmu yang mempelajari material bumi secara menyeluruh, termasuk asal mula, struktur, penyusun kerak bumi, proses - proses yang berlangsung selama dan atau setelah pembentukannya, dan yang sedang berlangsung, hingga menjadikan keadaan bumi seperti saat ini. Geografi adalah ilmu yang mempelajari hubungan sebab akibat setiapgejala atau fenomena di permukaan bumi ,baik peristiwa maupun permasalahannya ,melalui pendekatan keruangan ,kelingkungan dankewilayahan ,untuk kepentingan pembangunan (Bintarto,1977).Geologiadalah Ilmu yang memepelajari evolusi anorganik dan evolusi organik dari bumi kita .ilmu geografi tak kan lepas dengan ilmu geologi .Jadi,ilmu geologimempelajari apa yang ada dalam litosfer ataukerak bumi termasuk batuan. Seperti halnya ilmu-ilmu lainya,geologi ini memiliki konsep dan metodologi yang komprehensifsebagai sebuah disiplin ilmu.Oleh karena itu,pengetahuan dan pengalaman dalam bidang keilmuan mahasiswa sangat diperlukan untuk memperoleh relevansi diantara ilmu-ilmu lain. B. Tujuan 1. Untuk Mengetahui Siklus Batuan 2. Untuk dapat memahami tentang siklus geologi 3. Untuk mengetahui klasifikasi batuan dan, 4. Untuk mengetahui tentang identifikasi batuan.

BAB II ISI

2.1 Siklus Batuan / Rock Cycle

Sebelumnya kita sudah tahu bahwa di bumi ada tiga jenis batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Ketiga batuan tersebut dapat berubah menjadi batuan metamorf tetapi ketiganya juga bisa berubah menjadi batuan lainnya. Semua batuan akan mengalami pelapukan dan erosi menjadi partikel-partikel atau pecahan-pecahan yang lebih kecil yang akhirnya juga bisa membentuk batuan sedimen. Batuan juga bisa melebur atau meleleh menjadi magma dan kemudian kembali menjadi batuan beku. Kesemuanya ini disebut siklus batuan atau ROCK CYCLE.

Semua batuan yang ada di permukaan bumi akan mengalami pelapukan. Penyebab pelapukan tersebut ada 3 macam:

1. Pelapukan secara fisika: perubahan suhu dari panas ke dingin akan membuat batuan mengalami perubahan. Hujan pun juga dapat membuat rekahan-rekahan yang ada di batuan menjadi berkembang sehingga proses-proses fisika tersebut dapat membuat batuan pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi. 2. Pelapukan secara kimia: beberapa jenis larutan kimia dapat bereaksi dengan batuan seperti contohnya larutan HCl akan bereaksi dengan batu gamping. Bahkan air pun dapat bereaksi melarutan beberapa jenis batuan. Salah satu contoh yang nyata adalah hujan asam yang sangat mempengaruhi terjadinya pelapukan secara kimia. 3. Pelapukan secara biologi: Selain pelapukan yang terjadi akibat proses fisikan dan kimia, salah satu pelapukan yang dapat terjadi adalah pelapukan secara biologi. Salah satu contohnya adalah pelapukan yang disebabkan oleh gangguan dari akar tanaman yang cukup besar. Akarakar tanaman yang besar ini mampu membuat rekahan-rekahan di batuan dan akhirnya dapat memecah batuan menjadi bagian yang lebih kecil lagi. Setelah batuan mengalami pelapukan, batuan-batuan tersebut akan pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi sehingga mudah untuk berpindah tempat. Berpindahnya tempat dari partikelpartikel kecil ini disebut erosi. Proses erosi ini dapat terjadi melalui beberapa cara:

1. Akibat grafitasi: akibat adanya grafitasi bumi maka pecahan batuan yang ada bisa langsung jatuh ke permukaan tanah atau menggelinding melalui tebing sampai akhirnya terkumpul di permukaan tanah. 2. Akibat air: air yang melewati pecahan-pecahan kecil batuan yang ada dapat mengangkut pecahan tersebut dari satu tempat ke tempat yang lain. Salah satu contoh yang dapat diamati dengan jelas adalah peranan sungai dalam mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil ini. 3. Akibat angin: selain air, angin pun dapat mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil ukurannya seperti halnya yang saat ini terjadi di daerah gurun. 4. Akibat glasier: sungai es atau yang sering disebut glasier seperti yang ada di Alaska sekarang juga mampu memindahkan pecahan-pecahan batuan yang ada.

Pecahan-pecahan batuan yang terbawa akibat erosi tidak dapat terbawa selamanya. Seperti halnya sungai akan bertemu laut, angin akan berkurang tiupannya, dan juga glasier akan meleleh. Akibat semua ini, maka pecahan batuan yang terbawa akan terendapkan. Proses ini yang sering disebut proses pengendapan. Selama proses pengendapan, pecahan batuan akan diendapkan secara berlapis dimana pecahan yang berat akan diendapkan terlebih dahulu baru kemudian

diikuti pecahan yang lebih ringan dan seterusnya. Proses pengendapan ini akan membentuk perlapisan pada batuan yang sering kita lihat di batuan sedimen saat ini.

Pada saat perlapisan di batuan sedimen ini terbentuk, tekanan yang ada di perlapisan yang paling bawah akan bertambah akibat pertambahan beban di atasnya. Akibat pertambahan tekanan ini, air yang ada dalam lapisan-lapisan batuan akan tertekan sehingga keluar dari lapisan batuan yang ada. Proses ini sering disebut kompaksi. Pada saat yang bersamaan pula, partikel-partikel yang ada dalam lapisan mulai bersatu. Adanya semen seperti lempung, silika, atau kalsit diantara partikel-partikel yang ada membuat partikel tersebut menyatu membentuk batuan yang lebih keras. Proses ini sering disebut sementasi. Setelah proses kompaksi dan sementasi terjadi pada pecahan batuan yang ada, perlapisan sedimen yang ada sebelumnya berganti menjadi batuan sedimen yang berlapis-lapis. Batuan sedimen seperti batu pasir, batu lempung, dan batu gamping dapat dibedakan dari batuan lainnya melalui adanya perlapisan, butiran-butiran sedimen yang menjadi satu akibat adanya semen, dan juga adanya fosil yang ikut terendapkan saat pecahan batuan dan fosil mengalami proses erosi, kompaksi dan akhirnya tersementasikan bersama-sama.

Pada kerak bumi yang cukup dalam, tekanan dan suhu yang ada sangatlah tinggi. Kondisi tekanan dan suhu yang sangat tinggi seperti ini dapat mengubah mineral yang dalam batuan. Proses ini sering disebut proses metamorfisme. Semua batuan yang ada dapat mengalami proses metamorfisme. Tingkat proses metamorfisme yang terjadi tergantung dari: o Apakah batuan yang ada terkena efek tekanan dan atau suhu yang tinggi.

o Apakah batuan tersebut mengalami perubahan bentuk. o Berapa lama batuan yang ada terkena tekanan dan suhu yang tinggi.

Dengan bertambahnya dalam suatu batuan dalam bumi, kemungkinan batuan yang ada melebur kembali menjadi magma sangatlah besar. Ini karena tekanan dan suhu yang sangat tinggi pada kedalaman yang sangat dalam. Akibat densitas dari magma yang terbentuk lebih kecil dari batuan sekitarnya, maka magma tersebut akan mencoba kembali ke permukaan menembus kerak bumi yang ada. Magma juga terbentuk di bawah kerak bumi yaitu di mantle bumi. Magma ini juga akan berusaha menerobos kerak bumi untuk kemudian berkumpul dengan magma yang sudah terbentuk sebelumnya dan selanjutnya berusaha menerobos kerak bumi untuk membentuk batuan beku baik itu plutonik ataupun vulkanik.

Kadang-kadang magma mampu menerobos sampai ke permukaan bumi melalui rekahan atau patahan yang ada di bumi. Pada saat magma mampu menembus permukaan bumi, maka kadang terbentuk ledakan atau sering disebut volcanic eruption. Proses ini sering disebut proses ekstrusif. Batuan yang terbentuk dari magma yang keluar ke permukaan disebut batuan beku ekstrusif. Basalt dan pumice (batu apung) adalah salah satu contoh batuan ekstrusif. Jenis batuan yang terbentuk akibat proses ini tergantung dari komposisi magma yang ada. Umumnya batuan beku ekstrusif memperlihatkan cirri-ciri berikut:

1. Butirannya sangatlah kecil. Ini disebabkan magma yang keluar ke permukaan bumi mengalami proses pendinginan yang sangat cepat sehingga mineral-mineral yang ada sebagai penyusun batuan tidak mempunyai banyak waktu untuk dapat berkembang. 2. Umumnya memperlihatkan adanya rongga-rongga yang terbentuk akibat gas yang terkandung dalam batuan atau yang sering disebut gas bubble.

Batuan yang meleleh akibat tekanan dan suhu yang sangat tinggi sering membentuk magma chamber dalam kerak bumi. Magma ini bercampur dengan magma yang terbentuk dari mantle. Karena letak magma chamber yang relatif dalam dan tidak mengalami proses ekstrusif, maka magma yang ada mengalami proses pendinginan yang relatif lambat dan membentuk kristalkristal mineral yang akhirnya membentuk batuan beku intrusif. Batuan beku intrusif dapat tersingkap di permukaan membentuk pluton. Salah satu jenis pluton terbesar yang tersingkap dengan jelas adalah batholit seperti yang ada di Sierra Nevada USA yang merupakan batholit granit yang sangat besar. Gabbro juga salah satu contoh batuan intrusif. Jenis batuan yang terbentuk akibat proses ini tergantung dari komposisi magma yang ada. Umumnya batuan beku intrusif memperlihatkan cirri-ciri berikut: 1. Butirannya cukup besar. Ini disebabkan magma yang keluar ke permukaan bumi mengalami proses pendinginan yang sangat lambat sehingga mineral-mineral yang ada sebagai penyusun batuan mempunyai banyak waktu untuk dapat berkembang. 2. Biasanya mineral-mineral pembentuk batuan beku intrusif memperlihatkan angular interlocking. Proses-proses inilah semua yang terjadi dimasa lampau, sekarang, dan yang akan datang. Terjadinya proses-proses ini menjaga keseimbangan batuan yang ada di bumi.

2.2 Klasifikasi Batuan Berdasarkan proses terjadinya batuan dibedakan menjadi tiga bentuk yakni : I. Batuan Beku

Terjadi dari magma (batuan cair) yang mengalami proses pendinginan,kemudian membeku. Berdasarkan tempat pembekuan batuan beku dibagi menjadi 3 macam yaitu : A. Batuan beku dalam, pembekuannya terjadi di dalam,jauh dibawah permukaan bumi.Proses pendinginannya sa ngat lambat.Hal ini mengakibatkan terbentuknya hablurhablur mineral besar-besar dan sempurna serta kompak. struktur mineral seperti itu disebut Struktur plutonik atau granites(holokristalin)Batuan beku dalam disebut batuan Abisis.

Contoh: batuan granit,diorit,sienit ,dan gabbro dan lain-lain.

B. Batuan beku gang atau korok atau hipabisis, Sisa magma yang masih cair meresap ke lapisan yang lebih atas dan menyusup ke sela-sela pipa-pipa gunung api,kemudian menjadi dingin dan membeku.Proses pemekuannya relatif lebih cepat,sehingga hablur-

hablur (kristal-kristal) yang terjadi tidak sekompak bayuan beku dalam.Struktur batuan beku gang disebut Struktur porfiris. Contoh : Granit, porfiris diorit,porfiris sienit, dan porfiri. C. Batuan beku luar atau batuan beku effusive , Batuan beku macam ini terjadi dari magma yang mencapai permukaan bumi, kemudian membeku. Proses pembekuannya cepat sekali,sehingga dapat terbentuk Kristal (hablur) Misalnya pada tekstur porfiritik.

II.

Batuan Sedimen

Batuan beku yang tersingkap di permukaan bumi akan mengalami penghancuran oleh pengaruh cuaca,kemudian diangkat oleh tenaga alam seperti air,angin,gletser,dan diendapkan di tempat lain,sehingga terbentuk batuan sedimen.

Berdasarkan proses terjadinya batuan sedimen dibedakan atas : A. Batuan Klastik atau Mekanik yang terbentuk dari gumpalan batu besar yang diangkut dari lereng gunung melalui air hujan lalu diangkut oleh arusd sungai dan kemudian diendapkan di daereah hilir dalam bentuk pasai yang susunan kimiawinya masih sama dengan batuan asal.Ini berarti pengendapan itu melalui proses mekanik Contoh batuan klatik yaitu : 1.breksi 2.klonglomerat 3.pasir 4,tanah liat.

B. Batuan sedimen kimiawi. terbentuk melalui proses kimiawi,seperti yang terjadi pada batu kapur di bagian atap gua kapur.Batu kapur yang diresapi air hujan yang mengandung

karbondioksida akan larut dalam bentuk larutan kapur.Sebagian larutan itu menetes dari atap gua dan jatuh kr dasar gua yang kering,sebagian lagi menempel pada bagian atas gua sehingga terbentuklah endapan kapur sebagai sisa penguapanair kapur pada saat larutan itu menetes.Terbentuklah stalaktit dan stalakmit yang merupakan contoh batuan kimiawi.

C. Batuan organis, dibentuk dari penumpukan sisa-sisa tumbuhan dan hewan.

Contoh: batu karang

Berdasarkan tenaga pengangkutnya(medianya) batuan sedimen terbagi atas : a.sedimen akuatis,diendapkan oleh air.contoh batu pasir,tanah liat. b.sedimen aeolis (aeris)diendapkan oleh angin(udara).contoh tnah loss,tanah pasir. c.sediemn glasial diendapkan oleh gletser.contoh batuan morena.

Berdasarkan tempat diendapkannya dibedakan menjadi : a.sedimen terestris diendapkan didarat.contoh:batu tuf,batu pasir,tanah loss b.sedimen marine diendapkan di laut,contoh:batu karang,batu garam c.sedimen fluvial diendapkan disungai,contoh:pasir,tanah liat. d.sedimen limnis diendapkan di dnau/rawa,contoh tanah rawa dan tanah gambut. e.sediemn glasial diendapkan di daerah ber es ,contoh batu morena.

III.

Batuan Metamorf

Batuan metamorf adalah batuan hasil ubahan dari batuan asal akibat proses metamorfosis yaitu suatu proses yang dialami batuan asal akibat tekan dan suhu yang sama-sama meningkat. Proses metamorfisme : Batuan mengalami penambahan tekanan (P) atau temperature (T) atau kenaikan P dan T secara bersamaaan sehingga mengalami perubahan susunan mineraloginya (susunan kimianya tetap) yang berlangsung dari fase padat ke fase padat tanpa mengalami fase cair.

Batuan metamorfosis diklasifikasikan sebagai berikut. A. batuan metamorfik termik (kontak) : adalah batuan yg terbentuk karena kanikan suhu. Misalnya batuan kapur berubah menjadi marmer/pualam. Contoh: tambang marmer di Ciputat ,bandung dan Tulungagung B. batuan metamorf dinamik : adalah batuan yang terbentuk akibat tekanan dari lapisan di atasnya dalam waktu yang lama. Batuan metamorf dinamik disebut juga batuan metamorf kinetis. Contoh batu tulis(sabak) yang berasal dari tanah liat. C. batuan metamorf kontak pneumatolotik adalah batuan yang terbentuk akibat adanya kenaikan suhu dan tekanan secara bersamaan disertai menyusupnya unsur-unsur lain(zat lain). Contoh: kuarsa yang dalam proses metamorfosisnya disusupi unsur boron akan menghasilkan turmalin,sedangkan jika disusupi fluorium akan menghasilkan topas.

Klasifikasi dan Penamaan jenis batuan metamorf : Secara umum batuan metamorf dibagi dalam dua kelompok yang didasarkan atas strukturnya, yaitu: 1. Foliasi/Banded : mempunyai kenampakan seperti perlapisan akibat adanya penjajaran mineral 2. Non-Foliasi : tidak mempunyai kenampakan seperti perlapisan akibat adanya penjajaran mineral

Kondisi Foliasi dan Non foliasi pada batuan metamorf : FOLIASI Komposisi mineralnya bermacam-macam,/kompleks Banyak mineral baru yang terbentuk akibat perubahan T dan/atau P. Teksturnya berlapis, foliasi, liniasi, banded. Mineral mempunyai orientasi yang relatif sama. Banyak batuan dengan komposisi yang beragam

NON FOLIASI Komposisi mineralnya sederhana, hanya terdiri dari beberapa mineral seperti calcite atau kuarsa. mineral baru yang terbentuk akibat perubahan T dan/atau P. Teksturnya granular dan equi- dimensional. Mineral tidak mempunyai orientasi.

Batuan dalam jumlah terbatas dengan mineral sederhana.

Contohnya : kuarsa - Quartzite batugamping - Marble lanau - Hornfels

2.3 Identifikasi Batuan 1. Batuan Beku

Tekstur Tekstur didefinisikan sebagai keadaan atau hubungan yang erat antar mineral-mineral sebagai bagian dari batuan dan antara mineral-mineral dengan massa gelas yang membentuk massa dasar dari batuan. Tekstur pada batuan beku umumnya ditentukan oleh tiga hal yang penting, yaitu: a) Kristalinitas Kristalinitas adalah derajat kristalisasi dari suatu batuan beku pada waktu terbentuknya batuan tersebut. Kristalinitas dalam fungsinya digunakan untuk menunjukkan berapa banyak yang berbentuk kristal dan yang tidak berbentuk kristal, selain itu juga dapat mencerminkan kecepatan pembekuan magma. Apabila magma dalam pembekuannya berlangsung lambat maka kristalnya

kasar. Sedangkan jika pembekuannya berlangsung cepat maka kristalnya akan halus, akan tetapi jika pendinginannya berlangsung dengan cepat sekali maka kristalnya berbentuk amorf. Dalam pembentukannnya dikenal tiga kelas derajat kristalisasi, yaitu: Holokristalin, yaitu batuan beku dimana semuanya tersusun oleh kristal. Tekstur holokristalin adalah karakteristik batuan plutonik, yaitu mikrokristalin yang telah membeku di dekat permukaan. Hipokristalin, yaitu apabila sebagian batuan terdiri dari massa gelas dan sebagian lagi terdiri dari massa kristal. Holohialin, yaitu batuan beku yang semuanya tersusun dari massa gelas. Tekstur holohialin banyak terbentuk sebagai lava (obsidian), dike dan sill, atau sebagai fasies yang lebih kecil dari tubuh batuan.

b) Granularitas Granularitas didefinisikan sebagai besar butir (ukuran) pada batuan beku. Pada umumnya dikenal dua kelompok tekstur ukuran butir, yaitu: c) Fanerik/fanerokristalin Besar kristal-kristal dari golongan ini dapat dibedakan satu sama lain secara megaskopis dengan mata biasa. Kristal-kristal jenis fanerik ini dapat dibedakan menjadi: Halus (fine), apabila ukuran diameter butir kurang dari 1 mm. Sedang (medium), apabila ukuran diameter butir antara 1 5 mm. Kasar (coarse), apabila ukuran diameter butir antara 5 30 mm. Sangat kasar (very coarse), apabila ukuran diameter butir lebih dari 30 mm.

d) Afanitik Besar kristal-kristal dari golongan ini tidak dapat dibedakan dengan mata biasa sehingga diperlukan bantuan mikroskop. Batuan dengan tekstur afanitik dapat tersusun oleh kristal, gelas atau keduanya. Dalam analisis mikroskopis dapat dibedakan: Mikrokristalin, apabila mineral-mineral pada batuan beku bisa diamati dengan bantuan mikroskop dengan ukuran butiran sekitar 0,1 0,01 mm. Kriptokristalin, apabila mineral-mineral dalam batuan beku terlalu kecil untuk diamati meskipun dengan bantuan mikroskop. Ukuran butiran berkisar antara 0,01 0,002 mm. Amorf/glassy/hyaline, apabila batuan beku tersusun oleh gelas.

e) Bentuk Kristal Bentuk kristal adalah sifat dari suatu kristal dalam batuan, jadi bukan sifat batuan secara keseluruhan. Ditinjau dari pandangan dua dimensi dikenal tiga bentuk kristal, yaitu: Euhedral, apabila batas dari mineral adalah bentuk asli dari bidang kristal. Subhedral, apabila sebagian dari batas kristalnya sudah tidak terlihat lagi. Anhedral, apabila mineral sudah tidak mempunyai bidang kristal asli.

Ditinjau dari pandangan tiga dimensi, dikenal empat bentuk kristal, yaitu: Equidimensional, apabila bentuk kristal ketiga dimensinya sama panjang. Tabular, apabila bentuk kristal dua dimensi lebih panjang dari satu dimensi yang lain. Prismitik, apabila bentuk kristal satu dimensi lebih panjang dari dua dimensi yang lain. Irregular, apabila bentuk kristal tidak teratur.

Struktur Struktur adalah kenampakan batuan secara makro yang meliputi kedudukan lapisan yang jelas/umum dari lapisan batuan. Struktur batuan beku sebagian besar hanya dapat dilihat dilapangan saja, misalnya: Pillow lava atau lava bantal, yaitu struktur paling khas dari batuan vulkanik bawah laut, membentuk struktur seperti bantal. Joint struktur, merupakan struktur yang ditandai adanya kekar-kekar yang tersusun secara teratur tegak lurus arah aliran. Sedangkan struktur yang dapat dilihat pada contoh-contoh batuan (hand speciment sample), yaitu: Masif, yaitu apabila tidak menunjukkan adanya sifat aliran, jejak gas (tidak menunjukkan adanya lubang-lubang) dan tidak menunjukkan adanya fragmen lain yang tertanam dalam tubuh batuan beku. Vesikuler, yaitu struktur yang berlubang-lubang yang disebabkan oleh keluarnya gas pada waktu pembekuan magma. Lubang-lubang tersebut menunjukkan arah yang teratur. Skoria, yaitu struktur yang sama dengan struktur vesikuler tetapi lubang-lubangnya besar dan menunjukkan arah yang tidak teratur. Amigdaloidal, yaitu struktur dimana lubang-lubang gas telah terisi oleh mineral-mineral sekunder, biasanya mineral silikat atau karbonat. Xenolitis, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya fragmen/pecahan batuan lain yang masuk dalam batuan yang mengintrusi. Pada umumnya batuan beku tanpa struktur (masif), sedangkan struktur-struktur yang ada pada batuan beku dibentuk oleh kekar (joint) atau rekahan (fracture) dan pembekuan magma, misalnya: columnar joint (kekar tiang), dan sheeting joint (kekar berlembar).

Komposisi Mineral Untuk menentukan komposisi mineral pada batuan beku, cukup dengan mempergunakan indeks warna dari batuan kristal. Atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan beku dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

Mineral felsik, yaitu mineral yang berwarna terang, terutama terdiri dari mineral kwarsa, feldspar, feldspatoid dan muskovit.

Mineral mafik, yaitu mineral yang berwarna gelap, terutama biotit, piroksen, amphibol dan olivin.

2. Batuan Sedimen Identifikasi batuan merupakan suatu kegiatan membuat deskripsi tentang suatu batuan tertentu. Setelah identifikasi dilakukan, maka kita dapat dengan jelas memberi nama batuan tersebut. Sifat fisika dan kimia yang umum dikenal dalam mengidentifikasi batuan biasanya dibagi dalam 4 kategori sifat, yaitu : A. Warna B. Tekstur C. Struktur D. Komposisi mineral pembentuk batuan Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari batuan yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia maupun organisme, yang diendapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi dan mengalami pembatuan. A. Warna Beberapa ciri warna mineral yang penting pada batuan sedimen : - kwarsa : berwarna putih jernih, putih susu dan tidak memiliki belahan. - mika : apabila berwarna putih diberi nama muskovit, bila berwarna hitam diberi nama biotit, keduanya dicirikan adanya belahan seperti lembaranlembaran.

- feldspar : apabila berwarna merah daging diberi nama ortoklas (bidang belah tegak lurus/ 90), bila berwarna putih abu - abu diberi nama plagioklas (belahan kristal kembar). - karbonat : biasanya mineral ini diberi nama kalsit dan dolomit, ciri utama mineral karbonat ini adalah bereaksi dengan HCl. - lempung : bila berwarna putih berkilap tanah disebut kaolin yang merupakan hasil pelapukan feldspar, dan bila berwarna kelabu disebut illit yang merupakan hasil pelapukan muskovit. B. Tekstur Tekstur merupakan kenampakan batuan berkaitan dengan ukuran, bentuk, dan susunan butir mineral dalam batuan. Tekstur batuan dapat dijadikan petunjuk tentang proses (genesa) yang terjadi pada waktu lampau sehingga menghasilkan batuan tersebut. Tekstur umum yang sering dijumpai pada batuan sedimen : 1. Tekstur klastik : jenis tekstur batuan sedimen ini merupakan hasil rombakan materialmaterial yang telah ada sebelumnya. Yang perlu diperhatikan pada batuan sedimen klastik adalah ukuran dan bentuk butir. Untuk ukuran butir digunakan skala W. Wentworth sebagai berikut : Nama batuan Boulder (bongkah) Cobble (brangkal) Pebble (kerakal) Granule (kerikil) Sand (pasir) Silt (lanau) Clay (lempung) Ukuran butir (mm) > 256 64 - 256 4 64 24 1/16 2 1/256 1/16 < 1/256

Agar lebih mudah melakukan pengukuran ukuran butir, maka digunakan alat pembanding ukuran butir batuan (komparator)

Contoh Komparator Bentuk butir dibagi dua, yaitu : membulat (rounded) dan meruncing (angular). Bentuk butir akan mempengaruhi penamaan batuan apabila berukuran lebih besar dari 2 mm.

2. Tekstur non-klastik : ciri khas dari tekstur non-klastik adalah adanya kristal-kristal yang saling menjari, tidak ruang pori-pori antarbutir, dan umumnya adalah memiliki satu mineral saja (monomineralik) dan merupakan hasil aktivitas kimiawi, termasuk biokimia. Jenis butir Ukuran (mm)

kasar sedang halus

>5 15 <1

Tekstur klastik (Sumber foto: Andri SSM)

Tekstur non-klastik

C. STRUKTUR Struktur adalah kenampakan hubungan antar bagian batuan yang berbeda. Macam-macam struktur yang terdapat pada batuan sedimen lebih bergantung pada hubungan antar butir yang mengontrol dari teksturnya, antara lain dibedakan menjadi 3 macam : 1. Berlapis : bila ketebalan batuan lebih besar dari 1 cm disebut lapisan dan bila lebih kecil dari 1 cm disebut laminasi. 2. Berdegradasi : bila butiran dalam batuan semakin halus dari bagian atas sampai bawah 3. Silang-siur : bila satu seri perlapisan saling memotong dalam tubuh batuan

D. Komposisi Mineral pembentuk batuan Mineral-mineral yang terdapat pada batuan mika, karbonat,mineral lempung.

sedimen ,

antara

lain

kwarsa,

3. Batuan Metamorf Tekstur

Tekstur pada batuan metamorf diantaranya : a. Kristaloblastik Tekstur yang terjadi pada saat tumbuhnya mineral dalam suasana padat (tekstur batuan asalnya tidak tampak lagi)

1.

Lepidoblastik

Tekstur yang didominasi mineral-mineral pipih yang memperlihatkan orientasi sejajar (biotit, muskovit). 2. Nematoblastik

Mineral-mineral berbentuk jarum yang memperlihatkan orientasi sejajar (amphibol, piroksen) 3. Granoblastik

Mineral berbentuk butiran dengan sisi kristal yang bergerigi (kuarsa, kalsit) 4. Porfiroblastik

Suatu kristal besar (fenokris) tertanam dalam massa dasar yang lebih halus. 5. Idioblastik

Bentuk mineral-mineral penyusunnya euhedral. 6. Xenoblastik

Bentuk mineral-mineral penyusunnya anhedral.

b. Palimpsest (tekstur sisa) 1. Blastoporfiritik

Suatu tekstur sisa dari batuan asal yang bertekstur porfiritik 2. Blastoopitik Suatu tekstur sisa dari batuan asal yang bertekstur opitik.

Struktur Secara :

a. Foliasi : mempunyai kenampakan seperti perlapisan akibat adanya penjajaran mineral 1. Slatycleavage Struktur batuan sabak (slate), seperti schistose tetapi tidak ada perlapisan akibat pemisahan dari macam-macam mineral (segregation bending). Contoh: Slate ---> batulempung yang mengalami metamorfosa derajat rendah. 2. Philithic

Struktur pada batuan filit, tingkatnya lebih tinggi dari slate, sudah ada segregation bending tapi tidak sebagusbatuan berstruktur schistose (foliasi diperlihatkan oleh kepingan halus mika) Contoh : Philit 3. Schistose

Foliasi nampak secara jelas pada kepingan-kepingan mika, membentuk belahan yang tidak putus-putus. Contoh : Schist

4.

Gneissic

Foliasi oleh mineral-mineral granular dan memperlihatkan belahan-belahan yang tidak rata. Contoh : gneiss

b. 1.

Non Foliasi : tidak nampak adanya penjajaran mineral Hornfelsik

Struktur khas pada batuan hornfels (metamorf thermal) dimana butirannnya tidak menunjukkan adanya pengarahan. 2. Kataklastik

Struktur yang terdiri dari pecahan-pecahan atau fragmen-fragmen batuan maupun mineral. 3. Milonitik

Sama dengan kataklastik tetapi butirannnya lebih halus dan dapat dibelah-belah seperti schistose. 4. Pilonitik

Menyerupai milonit tapi butirannya relativ lebih kasar strukturnya mendekati philit. 5. Flaser

Mirip dengan kataklastik struktur batuan asal berbentuk lensa yang tertanam pada masa dasar milonit. 6. Augen

Seperti flaser hanya saja lensa2nya terdiri dari butiran feldespar dalam masa dasar yang lebih halus. 7. Granulose

Hampir sama dengan hornfelsik hanya butirannya yang tidak mempunyai ukuran yang sama besar. 8. Liniasi

Adanya kumpulan mineral yang berbentuk seperti jarum.

Sumber : http://www.oum.ox.ac.uk/ http://www.anneahira.com/siklus-batuan.htm


http://godamaiku.blogspot.com/2013/04/batuan-metamorf.html http://id.scribd.com/doc/54576676/batuan-metamorf http://id.wikipedia.org/wiki/Batuan_beku http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/198012122005011NANANG_DWI_ARDI/Kuliah/GG%20FI364/Praktikum/Modul%203%20IDENTIFIKASI %20BATUAN%20SEDIMEN%20UPI%202009%20NDA.htm