Anda di halaman 1dari 5

Bima Yovione Valentino 110910101035 Hubungan Internasional Studi Perdamaian

UTS - Critical Review

Gender, War and Militarism: Making and Questioning The Links *Lynne Segal

Militerisme identik hubungannya dengan maskulinitas kaum pria, hal tersebut ditunjukkan dengan kapasitas pria dalam melakukan kekerasan dan peran wanita sering dianggap sepele dalam angkatan bersenjata. Namun di era modern ini, peran wanita dalam perang atau perdamaian sangatlah kompleks hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah perempuan yang mengabdi pada badan militer bahkan para penganut feminis pun juga bergabung dalam militer tetapi dengan prinsip yang berbeda- beda. Bagi para feminis dan sebagian perempuan, keikutsertaan mereka dalam perang bukan berarti mengkonfrontasi praktek peperangan itu sendiri, tapi lebih kepada peningkatan kondisi wanita seperti masalah finansial. Dalam artikel yang dituliskan oleh Lynne Segal, kompleksitas antara hubungan isu gender dengan militerisme serta usaha- usaha perdamaian dianalisis dari sebuah kelompok feminist dari Israel yaitu New Profile yang misi utamanya mereduksi pengaruh militerisasi dalam masyarakat Israel dan mengedepankan politik perdamaian dalam mencari resolusi sebuah konflik yang dalam konteks ini

adalah konflik antara Israel dengan Palestina. Berdasarkan artikel yang berjudul gender, war and militarism: making and questioning the links, saya juga mendapati bahwa penulis artikel ini yang merupakan seorang feminis juga peduli dengan bagaimana para pria yang mengalami siksaan psikologis dan cedera fisik diremehkan atau tidak dianggap penting dibandingkan pelanggaran kepada wanita. Komitmen perempuan dalam penanganan konflik melalui jalan damai sudah tidak perlu dipertanyakan. Pada saat terjadi invasi di Iraq (2003), terjadi demonstrasi internasional yang melibatkan jutaan orang di enam puluh negara yang menolak penurunan pasukan Amerika Serikat di Iraq dan membagi suara dukungan berdasarkan gender dengan 52 persen wanita dibawah usia 25 tahun di AS (perempuan muda di AS lebih kritis pada kebijakan pemerintahan) mendukung terjadinya invasi di Iraq, bandingkan dengan 82 persen pria di AS yang mendukung terjadinya invasi (Pew Research Center for the People and the Press, 2003). Hal ini mengisyaratkan bahwa melalui riset tersebut dapat dijadikan tuntunan atau pedoman analisis tentang bagaimana wanita berperan dalam kebijakan pro- perdamaian. Di sisi lain secara langsung maupun tidak langsung, wanita telah memainkan peran krusial dalam masa perang: melalui pengabdiannya & kesetiannya pada pria berseragam dan dengan tidak memberikan rasa hormat kepada mereka yang tidak mau ikut dalam peperangan. Namun penulis dari artikel yang saya baca percaya bahwa lebih mudah mengarahkan wanita untuk melawan militerisme daripada para pria. Hal ini didasarkan pula oleh masalah utama dari para prajurit wanita yang melaporkan bahwa keikutsertaan mereka dalam militer seringkali diiringi oleh ketakutan mereka pada pelecehan, perkosaan dan kekerasan oleh tentara pria dari pihak mereka sendiri daripada pihak musuh. Penulis dari artikel ini mencoba untuk berhati hati dalam menganalisis karena terdapat beberapa cara dalam melihat perspektif permasalahan ini dan bagaimana membuat gambaran mengenai hubungan antara gender dengan militerisme. Hal ini sesuai dengan apa yang saya pikirkan mengenai bagaimana peran wanita dalam dunia militer dianggap tidak berperan penuh baik itu ketika di lapangan

(medan tempur) atau dalam bidang administrasi militer. Sulit sekali bagi anggota wanita untuk mencapai puncak kepemimpinan atau ranking tertinggi dalam organisasi yang didominasi oleh pria. Penulis artikel ini, Lynne Segal yang merupakan seorang feminis sayap kiri dan berlatarbelakang Yahudi ini meganggap organisasi feminis New Profile memiliki taktik paling baik sebagai aktivis perdamaian di Israel. Misi dari New Profile adalah membudayakan masyarakat Israel untuk meninggalkan budaya militerisasi yang melekat kuat secara alami dalam budaya mereka. New Profile mencoba mencari resolusi konflik terbaik tanpa mengandalkan kekerasan. Israel yang merupakan salah satu dari dua negara di dunia yang bersikeras agar wanita masuk dalam wajib militer menganggap wajib militer merupakan salah satu cara mengekspresikan kesetaraan gender di negara tersebut, namun New Profile bersikeras menolak anggapan tersebut dengan asumsi bahwa kebudayaan militerisme masyarakat Israel mempertahankan rasisme dan sexisme karena masyarakat Israel yang dibentuk dengan berbagai aturan, kebudayaan, dan hukum militer sebagian besar dijalankan atau diatur oleh mantan anggota militer pria. New Profile juga terpengaruh untuk menyelesaikan masalah pendudukan perbatasan di Palestina dan blokade yang mereka pandang sebagai penyalahgunaan kekuatan kekuatan militer negara. New Profile juga mencoba untuk mendesak kebijakan mereka yaitu refusal atau penolakan untuk ikut berpartisipasi secara langsung, atau mendukung secara tidak langsung pendudukan dan penindasan populasi rakyat Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat oleh tentara Israel. Agenda dari New Profile sendiri adalah memberikan edukasi, pengetahuan umum, saran, dan dukungan kepada orang- orang berusia muda beserta keluarga mereka yang memiliki keraguan dalam bergabung atau tidak bergabung militer serta mengasosiasikan dengan Gerakan Refusenik. Gerakan Refusenik adalah sebuah gerakan dari para tentara IDF ( Israeli Defence Force) yang mendeklarasikan untuk tidak ikut ambil bagian dalam serangan udara pada daerah padat populasi di perbatasan Palestina. Grup Refusenik sendiri di lain pihak tidak memberikan dukungannya pada pendirian New Profile yang anti militer. Salah satu anggota

kelompok New Profile mengungkapkan bahwa militer hanya mempromosikan pelecehan seksual, struktur yang dikuasai oleh para pria, dan kepatuhan pada peran yang sangat maskulin untuk anggota militer wanita. Sebuah studi juga mengungkap bahwa 80 persen tentara wanita Israel mengalami beberapa bentuk pelecehan seksual dan peningkatan persentase terjadinya pembunuhan atau pemukulan tentara wanita oleh rekan tentara pria mereka sendiri yang mengabdi pada IDF. Pendapat yang tidak cukup kontras saya dapatkan dari Noah Berlatsky yang juga seorang feminis, menganggap bahwa wanita seharusnya memiliki akses yang setara dengan laki- laki tentang pekerjaan dan kenaikan pangkat baik itu didalam maupun diluar dunia kemiliteran. Permasalahannya adalah, feminisme bukan hanya tentang kesetaraan mengenai kesempatan yang setara untuk didapat seperti para pria tetapi juga para feminis mengkritisi nilai dan ide- ide maskulinitas. Salah satu nilai dan ide mengenai maskulinitas yang secara konsisten dikritisi oleh para feminis adalah perang.

Perbedaan Gender dan Persamaan Kelemahannya


Walaupun sering terjadi perbedaan pandangan mengenai perdamaian, feminis dan maskulinis juga tidak terlalu dapat didiferensiasikan lebih jauh karena kadang kampanye untuk mempromosikan perdamaian dipimpin oleh pria. Selain itu, pria sebagai pemegang kekuasaan tradisional yang memonopoli institusi bersenjata, baik itu militer atau kepolisian telah mendominasi dan dapat mengganti cara membedakan kelas sosial atau kelompok- kelompok etnis. Masyarakat yang dimiliterisasikan secara sosial dapat menjelaskan fakta tentang alasan mengapa kekerasan yang dilakukan oleh pria kepada wanita masih terus terjadi dan junlahnya meningkat di seluruh dunia. Berdasarkan data beberapa NGOs, tempat- tempat dimana terdapat tentara yang menginvasi dan konflik etnis atau konflik nasional (perang saudara) terjadi, kekerasan domestik meningkat dengan cepat sebagai implikasi langsung dari budaya militer bersamaan dengan trauma dan ketegangan pasca perang.

Perlu diingat pula bahwa untuk memahami peningkatan penyiksaan atau pelecehan seksual pada wanita di masa perang juga harus mengingat bahwa hal ini juga terjadi pada pria, hal yang setara ini didorong oleh penaklukan dari invasi militer. Di masa depan, unit- unit tempur bisa saja tidak hanya terdiri dari pria yang tepat berada di medan pertempuran tapi juga wanita yang ikut diturunkan dalam pertempuran dan sama- sama mengoperasikan persenjataan paling mutakhir. Dalam pandangan Lynne Segal sebagai penulis, yang perlu ditekankan adalah dalam pertempuran militer, pria sebenarnya juga mengalami rasa takut, trauma seperti wanita tetapi seringkali hal ini disangkal. Pria juga mengalami kesetaraan dalam hal ini pada masa perang namun dengan bingkai maskulinitasnya, seringkali disangkal bahwa pria juga mengalami post-traumatic juga pasca perang.

Sumber Referensi

http://www.theatlantic.com/sexes/archive/2013/01/the-feminist-objection-towomen-in-combat/272505/ Noah Berlatsky, The Feminist Objection to Women. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2013.

Segal, Lynne. 2008. Gender, War and Militarism: Making and Questioning the Links. Palgrave Macmillan Journals. http://www.newprofile.org/english/taxonomy/term/195 diakses pada tanggal 21 Oktober 2013.