Anda di halaman 1dari 8

JASA PELAYANAN

Kelompok 4 Febry Istyanto Maulani Pradiana Fauziah Fitria Fajrin Sintia Putri Dede Nurani Risya Gadriati Veny Wahyuningtias A

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 370/Menkes/Sk/III/2007 Tentang Standar Profesi Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan
1. Mengembangkan prosedur untuk mengambil dan memproses specimen.
2. Melaksanakan uji analitik terhadap reagen dan specimen. 3. Mengoperasikan dan memelihara peralatan/instrumen laboratorium. 4. Mengevaluasi data laboratorium untuk memastikan akurasi dan prosedur pengendalian mutu dan mengembangkan pemecahan masalah yang berkaitan dengan data hasil uji. 5. Mengevaluasi teknik, instrument, dan prosedur baru untuk menentukan manfaat kepraktisannya. 6. Membantu klinisi dalam pemanfaatan data laboratorium secara efektif dan efisien untuk menginterpretasikan hasil uji laboratorium. 7. Merencanakan, mengatur, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan laboratorium. 8. Membimbing dan membina tenaga kesehatan lain dalam bidang teknik kelaboratoriuman. 9. Merancang dan melaksanakan penelitian dalam bidang laboratorium kesehatan.

Permasalahan Yang Terjadi Adanya Ketidak sesuaian dalam penanganan sample. Adanya ketidak sesuaian saat pemeriksaan sample. Permasalahan phlebotomy dan pemeriksaan rapid test.

Contoh Kasus

Dari percakapan diatas, menjadi gambaran bahwa, ternyata untuk pemeriksaan yang bersifat rapid pada beberapa tempat masih dikerjakan oleh perawat. Padahal berdasarkan perkemenkes 370/Menkes/Sk/III/2007.

Point 7 : Merencanakan, mengatur, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan laboratorium.

Kasus Phlebotomy
Siapa yang bertanggung jawab atas resiko yang terjadi. Didalam praktek, phlebotomy ?

1. Dari aspek medicolegal bahwa pelaksanaan pengambilan darah phlbotomy ) belum diatur secara explisit melalui permenkes atau UU Kesehatan sehingga analis kesehatan tidak memiliki kewenangan dalam usaha phlebotomis dan bukan bagian dari kompetensi analis kesehatan. 2. Dokter, perawat dan bidan, merupakan tenaga kesehatan yang diberikan kewenangan dan telah memiliki kompetensi phlebotomy sebagai bagian dari tindakan invasive terhadap pasiennya. Dengan demikian dokter, perawat, bidan telah diberi kewenangan melakukan phlebotomy.

3. Bahwa analis kesehatan dalam ketentuan SSKNI( Standart Kerja Kompetensi Nasional Indonesia ) Analis kesehatan oleh BNSP ( Badan Nasional Standar Profesi dan LSP Telapi (Lembaga Sertifikasi Profesi Tenaga Laboratorium Patologi Indonesia) sebagai badan standar sertifikasi analis kesehatan tidak menyertakan phlebotomy sebagai bagian dari kompetensi analis kesehatan.

Kesimpulan dan Solusi

1.Untuk permasalahan test rapid seharusnya dikembalikan kedalam tugas analis kesehatan dan diharapkan seluruh rumah sakit mematuhinya. 2.Untuk phlebotomy, dikarenaka belum ada aturan yang jelas mengatur, untuk pasien rawat inap diambil oleh perawat, sedangkan untuk pasien rawat jalan di ambil oleh analis kesehatan. Dengan aturan seperti ini tidak akan terjadi perselisihan ataupun saling melempar tugas.