Anda di halaman 1dari 9

Pemanfaatan Metode Geodetik Untuk Identifikasi Karakteristik Dan Tipe Longsor (Sadarviana, dkk))

PEMANFAATAN METODE GEODETIK UNTUK IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK DAN TIPE LONGSOR (Studi Kasus : Zona Longsor Di Ciloto-Puncak, Jawa Barat)
Vera Sadarviana1, Hasanuddin Z. Abidin2, Joenil Kahar2, Djoko Santoso3 Jurusan Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Winaya Mukti e-mail : naufalsh@yahoo.com 2 Kelompok Keahlian Geodesi, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, ITB e-mail : hzabidin@gd.itb.ac.id 3 Kelompok Keahlian Teknik Geofisika, Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral, ITB e-mail : dsantoso@indo.net.id Abstrak
Longsor adalah salah satu bencana kebumian yang selalu terjadi di Indonesia, khususnya pada musim hujan. Pada terain perbukitan dan area lereng terjal, longsor sering terjadi, terutama bila terjadi perubahan tutupan lahan atau tandus. Longsor tidak hanya menghancurkan lingkungan dan harta benda, tetapi juga dapat membahayakan jiwa manusia. Oleh sebab itu pemantauan dan mitigasi bencana longsor sangat penting dan perlu dilakukan dengan baik. Pemanfaatan metode geodetik berdasarkan survei ekstraterestrial dapat dilakukan untuk mempelajari fenomena tersebut. Pergerakan material, kecepatan dan percepatan, yang diperoleh dari pengukuran geodetik periodik terhadap beberapa titik pantau geodesi yang tersebar di seluruh area zona longsor, dapat diaplikasikan menggunakan metode geometrik. Pengetahuan tentang relasi antara ketiga variabel tersebut dalam domain spasial dan temporal akan berguna untuk mengidentifikasi karakteristik dan tipe longsor. Informasi ini dapat digunakan untuk menentukan strategi mitigasi bencana longsor dengan lebih baik. Makalah ini membahas proses dan hasil pemanfaatan metode geodetik menggunakan survei GPS untuk mempelajari zona longsor di Ciloto-Puncak, Jawa Barat, Indonesia. Makalah ini akan memberikan beberapa kesimpulan sebagai penutup. Kata kunci : karakteristik longsor, metode geometrik
1

PENDAHULUAN Longsor merupakan bencana alam yang sering mengancam morfologi lereng di kawasan berbukit atau pegunungan, khususnya di musim hujan. Bencana longsor menyebabkan kerugian besar dalam perekonomian, bahkan mengancam keselamatan manusia. Berdasarkan laporan tentang bencana longsor dari Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral tahunn 2005 diketahui bahwa Indonesia memiliki 918 lokasi rawan longsor yang tersebar di 11 propinsi, yaitu Jawa Tengah 327 lokasi, Jawa Barat 276 lokasi, Sumatera
Pertemuan Ilmiah Tahunan III Teknik Geomatika

Barat 100 lokasi, Sumatera Utara 53 lokasi, Yogyakarta 30 lokasi, Kalimantan Barat 23 lokasi dan sisanya tersebar di Nusa Tenggara Timur, Riau, Kalimantan Timur, Bali dan Jawa Timur dan kerugian yang ditanggung setiap tahunnya akibat tanah longsor mencapai 800 milyar rupiah serta mengancam sekitar 1 juta jiwa manusia. Dalam kurun waktu tahun 2003-2005 telah terjadi 103 kejadian bencana longsor. Tahun 2006, bencana longsor masih terjadi, diantaranya di Propinsi Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sumatera Utara. Sebagian besar diawali oleh curah hujan yang lebat dan beberapa kejadian
Surabaya, 7 Desember 2006

34

Pemanfaatan Metode Geodetik Untuk Identifikasi Karakteristik Dan Tipe Longsor (Sadarviana, dkk))

bencana longsor disertai banjir. Keadaan hutan yang gundul sehingga berubah menjadi tegalan menjadi sorotan utama sebagai penyebab turunnya ketahanan material lereng terhadap meningkatnya tekanan air yang timbul dari infiltrasi air hujan. Selain itu terdapat bencana longsor di lokasi tempat pembuangan akhir sampah di Leuwi Gajah Cimahi Bandung yang menghancurkan rumah dan hilangnya harta benda serta jiwa manusia. Dengan demikian pemantauan terhadap perilaku material penyusun lereng penting dilakukan sebagai upaya meminimalis bencana longsor. Metode-metode yang ada untuk memantau perilaku material penyusun lereng dengan menghitung faktor keamanan (factor of safety) sebagai nilai yang menyatakan kestabilan lereng. Perhitungan tersebut menggunakan besaran-besaran fisik, seperti geometrik lereng, ketahanan material penyusun lereng, hidrogeologi, cuaca, stratigrafi dan struktur batuan geologi. Penggunaan besaran fisik dapat menghasilkan suatu keluaran yang realistik dalam mewakili fenomena longsor. Tetapi pengukuran besaran fisik di lapangan berkaitan dengan keberagaman material dan kondisi alam sehingga memerlukan perangkat yang relatif mahal dan tidak mudah pengadaannya. Dalam memantau longsor, pengukuran geodetik dapat lebih murah, praktis dan mampu mencakup area yang lebih luas. Tetapi pemanfaatan metode geodetik belum dikembangkan hingga mampu berperan untuk mengetahui perilaku material penyusun lereng atau karakteristik dari suatu fenomena longsor sehingga dapat memberikan kontribusi dalam rangka mitigasi bencana longsor. Perilaku material penyusun lereng dapat diketahui melalui status vektor perpindahan posisi titik pantau geodesi, kecepatan dan percepatan. Arah dan besar perpindahan titik pantau geodesi, kecepatan dan percepatan dapat dijadikan masukan bagi penentuan strategi mitigasi bencana longsor. Karakteristik longsor, yang dinyatakan melalui perilaku
Pertemuan Ilmiah Tahunan III Teknik Geomatika

material penyusun lereng, dapat memberikan petunjuk tentang tipe longsor yang dimiliki sebuah lereng. Bila ditinjau dari tipe gerak luncurnya, longsor dapat dibedakan menjadi longsor rotasional/rotational slides dengan bentuk bidang gelincir sirkular dan longsor translasional/translational slides dengan bentuk bidang gelincir planar. Berdasarkan jumlah bidang gelincir yang dimiliki oleh zona longsor sebuah lereng maka tipe longsor dibedakan menjadi longsor dengan bidang gelincir tunggal/single slide dan longsor dengan bidang gelincir lebih dari satu. Longsor dengan bidang gelincir lebih dari satu terbagi menjadi dua, yaitu longsor dengan bidang gelincir berurut/successive slide dan longsor dengan bidang gelincir bersusun/multiple slide (Dikau R. dkk, 1996). Skempton dan Hutchinson (1969) mendefinisikan tipe lain yang disebut sebagai longsor retrogresif/retrogressive slide. (Abramson dkk, 1996). AREA STUDI Area studi yang dipilih adalah zona longsor pada lereng seluas 40 hektar yang berada pada posisi geografis 1070000 1070020 BT dan 064240 - 064300 LS, yang berada pada kilometer 88.1 jalur jalan Cianjur-Puncak di Kampung BaruPuncak Desa Ciloto Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Secara umum, kawasan puncak Ciloto dibagi menjadi lima unit morfologi, yaitu unit I yang meliputi area kompleks Gunung Lemo, unit II meliputi area kompleks Pondok Cikoneng, Gunung Mas, Gunung Gedogan, dan Gunung Joglok, unit III meliputi area Puncak, Jember dan sekitarnya, unit IV meliputi area kompleks Sindanglaya, dan unit V merupakan lereng perbukitan area Cempaka, Tugu dan sekitarnya. Dengan adanya pembagian morfologi ini maka arah aliran air tanah dapat diketahui, termasuk area akumulasi air. Unit I dan II berperan sebagai
Surabaya, 7 Desember 2006

35

Pemanfaatan Metode Geodetik Untuk Identifikasi Karakteristik Dan Tipe Longsor (Sadarviana, dkk))

area infiltrasi air dan unit III, IV dan V merupakan area aliran air, yang bersifat lokal. Zona longsor berada pada unit morfologi III, dilihat bahwa unit I dan II mempunyai curah hujan yang tinggi. Pada unit III, air tanah akan terakumulasi. Air tanah tersebut akan merembes melalui lapisan batuan permeabel (lapisan pasir) dan mencapai unit IV. Sebelum mencapai unit IV, air tanah akan melewati unit III. Hal ini akan meningkatkan tekanan air pori, sebagai ilustrasi dapat dilihat pada gambar 1. Oleh sebab itu yang paling

seperti pada gambar 1. Apabila melihat morfologi Ciloto dan sekitarnya maka dapat mungkin mengalami longsor adalah unit III. Kondisi ini sebagai salah satu penyebab terjadinya longsor (Sugalang, 1989). Pemantauan terhadap zona longsor Ciloto dilakukan dengan metode geodetik dengan pengukuran terestris (1986-2001) dan survei GPS (2002-2005). Data yang digunakan dalam makalah ini hanya data dari survei GPS.
U

II

III

II

IV

Area yang mengalami peningkatan tekanan air tanah Zona longsor Arah aliran air Unit morfologi Gambar 1. Aliran Air di Sekitar Zona Longsor (Sugalang, 1989)

I, II,

SURVEI GPS Penentuan lokasi pemasangan titik-titik pantau GPS ini mengacu pada informasi geologi mengenai peta daerah longsor, hasil analisis obstruksi pengamatan satelit GPS, dan faktor kestabilan titik pantau yang sudah ada, berupa pengukuran terestris terdahulu.
Pertemuan Ilmiah Tahunan III Teknik Geomatika

Pemasangan titik referensi harus pada area stabil dan lokasi titik pantau GPS pada area yang bergerak (longsor), dapat dilihat pada gambar 2. Berdasarkan jarak terhadap gawir utama, posisi titik GPS1, GPS2, GPS3, GPS4 dan GP13 berada pada bagian atas zona
Surabaya, 7 Desember 2006

36

Pemanfaatan Metode Geodetik Untuk Identifikasi Karakteristik Dan Tipe Longsor (Sadarviana, dkk))

longsor, titik GPS5, GPS6, GPS7, GPS9, GP10, GP14, M010 berada pada bagian tengah zona longsor dan titik GPS8, GP11, GP12 berada pada bagian bawah zona longsor, dekat di sungai Cijember.

Tabel 1. Strategi Survei GPS


Metode Pengamatan Jenis Alat Statik diferensial Receiver tipe Geodetik dual frekuensi yang Kode P dan Kode C/A Gelombang Pembawa L1 dan L2 4 - 6 jam 30 detik 15 0

Data digunakan

Lama Pengukuran Interval Epok Sudut Elevasi

Gambar 2. Sebaran Titik-Titik Pantau GPS Survei GPS yang dilakukan menggunakan metode statik differensial dengan alat receiver geodetik frekuensi ganda (dual frequency), lama survei berkisar antara 4-6 jam dengan interval perekaman data per 30 detik dan sudut elevasi 15 sehingga terhindar dari multipath/sinyal pantulan (lihat tabel 1). Survei GPS terhadap titik-titik pantau dilakukan secara periodik sebanyak 5 (lima) kala. Kala 1 dilakukan tanggal 21-22 Januari 2002, yang merupakan musim penghujan pengukuran dilakukan terhadap 15 titik pantau dengan 2 titik referensi, kala 2 dilakukan tanggal 4-5 April 2002

yang merupakan musim kemarau terhadap 15 titik pantau GPS yang diamati 15 buah, kala 3 dilakukan tanggal 10 Mei 2003, yang merupakan musim kemarau terhadap 12 titik pantau (3 titik pantau tidak diamati karena mempunyai obstruksi yang kurang bagus) dan 1 titik referensi, kala 4 dilakukan tanggal 1415 Mei 2004, yang merupakan musim kemarau terhadap 12 titik pantau, dan terakhir kala 5 dilakukan tanggal 3-4 Juli 2005, yang merupakan musim kemarau terhadap 12 buah dan 1 titik referensi. METODOLOGI Perpindahan posisi titik pantau terestris diperoleh dengan menghitung selisih dua koordinat dari dua kala yang berurutan sehingga dihasilkan vektor perpindahan posisi titik pantau dalam arah easting, northing dan beda tinggi, yang disebut sebagai model statik.
d j = x (j1) x (j2) (1)

Dimana d j adalah vektor perubahan koordinat, x (j1) , x (j2 ) adalah vektor koordinat titik dari periode 1 dan 2 (E, N, h)(1) dan (E, N, h)(2), j adalah nomor titik pantau 1, 2, 3,

Pertemuan Ilmiah Tahunan III Teknik Geomatika

Surabaya, 7 Desember 2006

37

Pemanfaatan Metode Geodetik Untuk Identifikasi Karakteristik Dan Tipe Longsor (Sadarviana, dkk))

Selanjutnya dihitung perpindahan posisi horisontal kumulatif dan vertikal kumulatif agar diketahui titik pantau yang mengalami perpindahan paling besar. Nilai kumulatif diperoleh dari menghitung total perpindahan dari kala 1 sampai dengan kala tertentu. Kemudian nilai perpindahan yang terbesar dapat dikorelasikan dengan posisi titik pantau tersebut dalam zona longsor. Untuk memperoleh nilai kecepatan dan percepatan perpindahan material lereng digunakan model kinematik yang diaplikasikan terhadap data survei GPS. Model kinematik merupakan fungsi dari perpindahan posisi, kecepatan dan percepatan titik pantau. Apabila disajikan dalam bentuk persamaan, dapat dilihat pada persamaan berikut ini (Yalcinkaya dan Bayrak, 2004) : 1 E (j i ) = E (j i 1) + (t i t i 1 )V Ej + (t i t i 1 ) 2 a Ej 2 1 N (j i ) = N (j i 1) + (t i t i 1 )V Nj + (ti t i 1 ) 2 a Nj 2 1 h (j i ) = h (j i 1) + (t i t i 1 )Vhj + (t i t i 1 ) 2 a hj (2) 2

H VE VN Vh aE aN ah t i j

Dimana

: Easting ; nilai posisi titik dalam arah sumbu koordinat x (timur) dalam proyeksi UTM, satuan meter : Northing ; nilai posisi titik dalam arah sumbu koordinat y (utara) dalam proyeksi UTM, satuan meter : height ; tinggi titik di atas ellipsoid referensi GRS80, satuan meter : kecepatan dalam arah sumbu koordinat x (Easting), satuan meter/bulan : kecepatan dalam arah sumbu koordinat y (Northing) ), satuan meter/bulan : kecepatan dalam arah vertikal, satuan meter/bulan : percepatan dalam arah sumbu koordinat x (Easting), satuan 2 meter/bulan : percepatan dalam arah sumbu koordinat y (Northing), satuan meter/bulan2 : percepatan dalam arah vertikal, satuan meter/bulan2 : selang kala survei GPS : kala survei GPS; i = 1, 2, 3, 4, 5 : nomor titik pantau; j = GPS1, GPS2, , M010

Persamaan (1) disusun berdasarkan parameter yang akan dicari maka dibentuk persamaan berikut : 1 N (j i ) = N (j i 1) + (t i t i 1 )V Nj + (ti t i 1 ) 2 a Nj 2
h (j i ) = h (j i 1) + (t i t i 1 )Vhj +
1 (ti t i 1 ) 2 a Ej 2 1 i V Nj = V Nj + (t i t i 1 ) 2 a Nj 2 1 i Vhj = Vhj + (ti ti 1 ) 2 a hj 2
i V Ej = V Ej +

i a Ej = a Ej i a Nj = a Nj i ahj = ahj ..............................................(3)

1 (t i t i 1 ) 2 a hj 2

Kecepatan longsor titik pantau diperoleh dari perpindahan posisi dua kala dibagi dengan selang waktu antara dua kala survei GPS, sementara percepatan longsor titik pantau diperoleh dari perpindahan posisi dua kala dibagi dengan kuadrat selang waktu antara dua kala survei GPS. Untuk memprediksi koordinat posisi titik pantau, kecepatan dan percepatan maka persamaan disusun dalam bentuk matriks :

Pertemuan Ilmiah Tahunan III Teknik Geomatika

Surabaya, 7 Desember 2006

38

Penggunaan Citra Digital Penginderaan Jauh Untuk Menghitung Volume Lumpu (Hariyanto, T)

Y i ,1

E N h I 3, 3 VE = VN = 0 3 , 3 0 3 , 3 Vh a E a N a h i ,1

E N h (ti ti 1 ) 2 I 3,3 (ti ti 1 ) I 3,3 VE 2 I 3, 3 I 3,3 (ti ti 1 ) VN .....(4) I 3, 3 0 3, 3 Vh a E a N a h

kala pengamatan. Secara detil, hasil perhitungan diuraikan berikut ini. Hasil dan Diskusi Data Survei GPS Dari hasil prediksi di atas, dihitung perpindahan posisi horisontal kumulatif untuk mengetahui titik pantau yang aktif. Titik pantau GPS yang aktif secara horisontal adalah GPS7 dan GP11. Titik pantau GP10 mengalami perpindahan posisi yang besar walaupun hanya kala 1 dan 2, dapat dilihat pada gambar 14. Ada beberapa titik yang memiliki perubahan horisontal (easting dan northing) kecil tetapi perubahan vertikal besar, seperti titik pantau GPS1, GPS2, GPS4, GPS7, GPS8, GPS9, GP10 dan GP11 (lihat gambar 3 dan gambar 4). Titik pantau GPS, yang memiliki perpindahan horisontal kecil tetapi perpindahan vertikal besar adalah GPS1, GPS2, GPS4, GPS5, GPS8 dan GPS9, dapat diasumsikan sebagai posisi scarp atau awal retakan longsor, dapat dilihat pada gambar 5. Pada perpindahan posisi secara vertikal terdapat nilai negatif dan positif dimana negatif menandakan lokasi titik pantau yang bersangkutan mengalami penurunan/ambles dan positif mengalami kenaikan/tonjolan. Dalam waktu yang lama, tonjolan-tonjolan yang terbentuk akan mengalami pelapukan dan akan dihasilkan permukaan bergelombang yang tidak beraturan atau berbukit (Dikau, 1996).

Yi ,1 = Ti ,( i 1)Y ( i 1),1 . (5) Dimana : Y ( i 1),1 : matriks status vektor (posisi, kecepatan dan percepatan) kala (i-1) Ti ,(i 1) : matriks prediksi
Yi ,1

: matriks prediksi status vektor

kala i = L +v = A Y L i ,1 i ,1 Li ,1 i ,i i ,1 L v Li ,1 = Ai ,i Y i ,1 i ,1 (6) Dimana : : matriks data survei GPS yang L i ,1 dianggap benar, yang merupakan fungsi dari prediksi status vektor kala i atau parameter Pada perhitungan awal, nilai pendekatan jarak J i dan beda waktu

t i,i 1

dianggap sama dengan nol.

Perhitungan dilakukan menggunakan metode Kalman Filtering.

HASIL dan DISKUSI Dari perhitungan menggunakan data survei GPS menggunakan model kinematik diperoleh arah dan besar perpindahan posisi titik pantau antara

Pertemuan Ilmiah Tahunan III T. Geomatika ITS

Surabaya, 7 Desember 2006

42

Penggunaan Citra Digital Penginderaan Jauh Untuk Menghitung Volume Lumpu (Hariyanto, T)

Kala 4-5 : Mei04-

Juli05

Gambar 3. Perpindahan Posisi Horisontal Kumulatif

Gambar 5. Posisi Scarp pada Titik Pantau GPS Gejala umum yang terdapat pada suatu zona longsor dengan satu bidang gelincir adalah pada bagian atas perpindahan vertikal negatif lebih dominan dibandingkan perpindahan horisontal, pada bagian tengah perpindahan vertikal besarnya hampir sama dengan perpindahan horisontal dan pada bagian bawah perpindahan vertikal positif lebih dominan dibandingkan perpindahan horisontal. Keadaan ini dapat dijadikan sebagai acuan perkiraan awal bahwa secara umum, zona longsor Ciloto memiliki tipe longsor rotasional dan memiliki beberapa unit longsor minor. Apabila profil vertikal lereng zona longsor dengan posisi scarp pada titik pantau GPS1, GPS2, GPS4, GPS5, GPS8 dan GPS9 maka dapat diestimasi bahwa lereng zona longsor Ciloto memiliki satu bidang gelincir major dan empat bidang gelincir minor, lihat gambar 6.

Gambar 4. Perpindahan Vertikal Kumulatif Titik Pantau GPS

Pertemuan Ilmiah Tahunan III T. Geomatika ITS

Surabaya, 7 Desember 2006

43

Penggunaan Citra Digital Penginderaan Jauh Untuk Menghitung Volume Lumpu (Hariyanto, T)

Gambar 6. Posisi Scarp pada Penampang Vertikal Titik Pantai Zona longsor Ciloto terjadi pada lereng, yang memiliki jenis material batuan sedimen (breksi, lempung, lanau, pasir) di bagian bawah dan batuan volkanik di bagian atas akan mempunyai potensi besar untuk mengalami longsor. Adanya infiltrasi air dari permukaan atau rembesan air ke dalam tanah membuat susunan material tersebut mudah menjadi bidang gelincir (Dikau, 1996). Jenis material longsor di Ciloto dikategorikan sebagai kerakal campuran atau debris. KESIMPULAN Perpindahan horisontal titik pantau yang diperoleh dari perhitungan data terestris dan survei GPS dipengaruhi oleh tekanan akibat aliran air dari unit morfologi I, II, dan V serta terlihat adanya tekanan dari unit morfologi IV, sebagai rembesan. Tekanan air yang terbesar berasal dari unit morfologi II dan V. Pengaturan aliran air dari unit morfologi tersebut dapat menjadi suatu upaya pencegahan berlanjutnya tanah longsor di Ciloto. Tekanan air yang disebabkan oleh morfologi sekitar zona longsor itupun

mempengaruhi perpindahan vertikal material lereng. Ada gejala bahwa suatu titik pantau dapat mengalami perpindahan vertikal negatif (amblesan) dan juga positif (tonjolan). Hal tersebut menunjukkan karakteristik perpindahan titik pantau di zona longsor Ciloto menunjukkan bahwa satu titik pantau dapat berperan sebagai titik pada bagian atas zona longsor dan berperan pula sebagai titik pada bagian tengah zona longsor. Dengan demikian zona longsor Ciloto diperkirakan memiliki bidang gelincir yang bertumpuk dan bentuk bidang gelincir campuran/ compound (sirkular dan planar). Dominasi arah perpindahan material dapat diperkirakan, yaitu dari arah Barat Laut ke Tenggara. Kecepatan perpindahan material lereng Ciloto termasuk dalam kelompok lambat, yaitu 50 x 10-6 0.5 x 10-6 mm/detik dan tipe longsor multiple compound debris slide. Akibat yang akan ditimbulkan pada lingkungan sekitar adalah melengkungnya retakan tanah dan bangunan serta batang pepohonan yang melengkung. Kecepatan bergerak yang terbesar adalah pada bagian tengah zona longsor sehingga penggunaan lahan yang berada di bagian tersebut harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak merugikan perekonomian dan jiwa manusia. DAFTAR PUSTAKA Abidin H.Z., Andreas H., Gamal M., Kusuma M.A, Darmawan D., Surono, Hendrasto M., Suganda O.K., (2005), Studying Landslide Displacements in Ciloto Area (Indonesia) Using GPS Survey Method, Jurnal, Spatial Science Abidin H.Z., Andreas H., Gamal H., Surono, Hendrasto M., (2004),

Pertemuan Ilmiah Tahunan III T. Geomatika ITS

Surabaya, 7 Desember 2006

44

Penggunaan Citra Digital Penginderaan Jauh Untuk Menghitung Volume Lumpu (Hariyanto, T)

Studi Gerakan Tanah di Kawasan Rawan Longsor Ciloto (Jawa Barat) dengan Survei GPS, Jurnal, Journal JTM Vol. XI, No.1. pp. 33-40 Abramson Lee W., Thomas S. L., Sharma S., Glenn M. B., (1996), Slope Stability and Stabilization Methods, Kanada, John Wiley & Sons Inc, Edisi I, 629 Hal. Bowles.J.E., Johan K.H., (1984), SifatSifat Fisis dan Geoteknis Tanah (Mekanika Tanah), Jakarta, Penerbit Erlangga, Edisi 2, 578 Hal. Cross P.A., (1983), Advanced Least Squares Applied to PositionFixing, Working Paper No.6, North East London Polytechnic Department of Land Surveying. Dikau R., Denys B., Lothar S., MaiaLaura I., (1996), Landslide Recognition-Identification, Movement and Causes, Report No.1 of the European Comission Enviroment Programme, John Wiley and Sons, ChichesterInggris. Japan Landslide Society (JLS), (1995), Landslide in Japan, Jurnal, National conference of landslide control, http://www.tuat.ac.jp/~sabo/lj/im age/ljhome.gif Moss J.L, (2000), Using the Global Positioning System to Monitor Dynamic Ground Deformation Roberts A., (1977), Geotechnology an Introductory Text for Student and Engineers, USA, Pergamon Press, 355 Hal. Santoso Djoko, (1990), Longsoran pada Jalur Lipatan Kuat Batuan Sedimen Turbidit Jawa Barat sebagai Kasus Khusus Gerakan Tanah dengan Longsoran di Desa

Cikareo-Majalengka sebagai Model, Disertasi, Bandung, Institut Teknologi bandung, 170 Hal Schuster Robert L. dan Raymond J.K., (1978), Landslides Analysis and Control, Washington, National Academy of Sciences, 234 Hal. Selby M.J., (2000), Hillslope Materials and Processes, Oxford university press, Oxford, Edisi 2, 520 Hal Selby M.J., (1985), Earth Earths changing surface An Introduction to geomorphology, Oxford university press, Oxford, Edisi 1, 607 hal. Sugalang, (1989), Landslide in Ciloto Area West Java Indonesia, Tesis, Sweden, Department of Soil Mechanics, Lule University of Technology, 72 Hal Yalcinkaya M. dan Bayrak T., (2004).Comparison of Static, Kinematic and Dynamic Geodetic Deformation Models for Kutlugn Landslide in Northeastern Turkey, Jurnal, Natural Hazard 34 Penulis Utama Dr. Ir. Vera Sadarviana, MT. Pendidikan S-1 diselesaikan di Teknik Geodesi ITB pada tahun 1993, melanjutkan studi di Program Magister Teknik Geodesi ITB lulus tahun 2000. Menyelesaikan S-3 pada institusi yang sama pada tahun 2006. Saat ini bekerja sebagai dosen di Teknik Geodesi Universitas Winaya Mukti, Bandung.

Pertemuan Ilmiah Tahunan III T. Geomatika ITS

Surabaya, 7 Desember 2006

45

Anda mungkin juga menyukai