Anda di halaman 1dari 9

Seratus Enam Puluh Kebiasaaan Nabi Muhammad SAW

Sumber: Akaha, Abduh Zulfidar, 160 Kebiasaan Nabi saw, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, cetakan I, 2002

KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW SEKITAR SHALAT 1. Selalu shalat sunnah fajar 2. Meringankan shalat sunnah fajar 3. Membaca surat Al-Ikhlas dan Al-Kafirun dalam shalat fajar (ayat lain yang dibaca Nabi dalam shalat sunnah fajar) 4. Berbaring sejenak setelah shalat sunnah fajar 5. Mengerjakan shalat sunnah di rumah 6. Selalu shalat sunnah empat rakaat sebelum dhuhur 7. Mengganti dengan empat rakaat setelah duhur jika tidak sempat shalat sebelumnya 8. Shalat sunnah dua atau empat rakaat sebelum ashar 9. Shalat sunnah dua rakaat sesudah maghrib 10. Shalat sunnah setelah Isya 11. Mengakhirkan shalat Isya 12. Memanjangkan rakaat pertama dan memendekkan rakaat kedua 13. Selalu shalat malam (waktu shalat malam Rasulullah saw) 14. Menggosok gigi apabila bangun malam 15. Membuka shalat malam dengan 2 rakat ringan 16. Shalat malam sebelas rakaat (format shalat malam Nabi sebelas rakaat) 17. Memanjangkan shalat malamnya 18. Membaca surat Al-Ala, Al-Kafirun dan Al-Ikhlas dalam shalat witir 19. Mengganti shalat malam di siang hari jika berhalangan 20. Shalat dhuha empat rakaat 21. Tetap duduk hingga matahari bersinar setelah shalat subuh

Meluruskan shaf sebelum mulai shlaat jamaah 23. Mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram, akan ruku dan bangun dari ruku 24. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri 25. Mengarahkan pandangan ke tempat sujud 26. Merenggangkan kedua tangan ketika sujud hingga tampak ketiaknya yang putih 27. Memberi isyarat dengan jari telunjuk ketika tasyahhud dan mengarahkan pandangan ke arah jari telunjuk 28. Meringankan tasyahhud pertama 29. Meringankan shalat jika berjamaah 30. Menghadap ke arah kanan makmum selesai shalat jamaah 31. Bersegera ke masjid begitu masuk waktu shalat 32. Selalu memperbarui wudhu setiap kali akan shalat 33. Tidak menshalatkan jenazah yang masih berhutang 34. Menancapkan tombak sebagai pembatas jika shlaat di tanah lapang 35. Mengajari shalat kepada orang yang baru masuk Islam KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DI HARI JUMAT DAN DUA HARI RAYA 1. Membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan dalam shalat subuh di hari Jumat 2. Memotong kuku dan kumis setiap hari Jumat 3. Mandi pada hari Jumat 4. Memakai pakaian terbaik untuk shalat jumat 5. Memendekkan khutbah Jumat dan memanjangkan shalat 6. Serius dalam khutbahnya dan tidak bergurau 7. Duduk di antara dua khutbah Jumat 8. Membaca surat Al-Ala dan Al-Ghasyiyah dalam shalat Jumat 9. Shalat sunnah setelah jumat 10. Tidak langsung shalat sunnah setelah Jumat 11. Mandi sebelum berangkat shalat Id 12. Memakai pakaian teraik ketika shalat Id 13. Makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat Idul Fitri 14. Baru makan sepulang dari melaksanakan shalat Idul Adha 15. Shalat Id di tanah lapang 16. Mengajak semua keluarganya ke tempat shalat Id 17. Memperlambat pelaksanaan shalat Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan shalat Idul Adha 18. Langsung shalat Id tanpa Adzan dan Iqomah 19. Dua kali khutbah dengan diselingi duduk 20. Pergi dan pulang melalui jalan yang berbeda
22.

Berjalan kaki menuju tempat shalat Id 22. Membaca surat Qaaf dan Al-Qamar dalam shalat Id 23. Menyembelih hewan kurban di tempat pelaksanaan shalat Id KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM MASALAH PUASA 1. Puasa dan berbuka secara seimbang 2. Berbuka puasa sebelum shalat maghrib 3. Berbuka dengan korma 4. Tetap puasa meskipun bangun dalam keadaan junub 5. Berpuasa jika tidak mendapatkan makanan di pagi hari 6. Membatalkan puasa sunnah jika memang ingin makan 7. Banyak puasa di bulan syaban 8. Puasa enam hari syawal 9. Puasa hari Arafah 10. Puasa Asyura atau sepuluh muharam 11. Puasa hari senin dan kami 12. Puasa tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan 13. Mencium istri di siang hari KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DI BULAN RAMADHAN 1. Memperbanyak sedekah 2. Memperbanyak membaca Al-Quran 3. Mengakhirkan waktu sahur 4. Puasa wishal 5. Memperbanyak shalat malam (menghidupkan malam ramadhan) 6. Itikaf 7. Menghidupkan sepuluh malam terakhir dan membangunkan keluarganyaMenyuruh para sahabat agar bersungguh-sungguh mencari lailatul qadar KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM MAKAN DAN MINUM 1. Tidak pernah mencela makanan 2. Tidak makan sambil bersandar 3. Makan dan minum dengan tangan kanan 4. Makan dengan tiga jari 5. Menjilati jari-jemari dan tempat makan selesai makan 6. Mengambil nafas tiga kali ketika minum 7. Minum dengan duduk dan berdiri 8. Mulai makan dari pinggir tempat makan 9. Berdoa sebelum dan sesudah makan 10. Tidak pernah kenyang dua hari berturut-turut 11. Tidak pernah makan di depan meja makan KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM TIDURNYA
21.

Tidur dalam keadaan suci 2. Tidur di atas bahu sebelah kanan 3. Meletakkan tangan di bawah pipi 4. Meniup kedua tangan dan membaca doa lalu mengusapkannya ke badan 5. Tidak suka tidur sebelum Isya 6. Tidur pada awal malam dan bangun di sepertiga akhir 7. Berwudlu dulu jika akan tidur dalam keadaan junub 8. Berdoa sebelum dan setelah bangun tidur 9. Membaca doa jika terjaga dari tidur 10. Tidur matanya namun tidak tidur hatinya 11. Menyilangkan kaki jika tidur di masjid 12. Tidur hanya beralaskan tikar 13. Tidak menyukai tidur tengkurap KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM BEPERGIAN 1. Berlindung kepada Allah dari beban perjalanan jika hendak bepergian 2. Sengang bepergian pada hari kamis 3. Senang pergi pada pagi hari 4. Menyempatkan tidur dalam perjalanan di malam hari 5. Melindungi diri atau menjauh jika buang haajt 6. Berada di barisan belakang saat bepergian 7. Bertakbir tiga kali ketika telah berada di atas kendaraan 8. Bertakbir saat jalanan naik dan bertasbih saat jalanan menurun 9. Berdoa jika tiba waktu malam 10. Berdoa jika melihat fajar dalam perjalanan 11. Berdoa ketika kembali dari bepergian 12. Mendatangi masjid terlebih dahulu saat baru tiba dan shalat dua rakaat 13. Mengundi istri-istrinya jika bepergian 14. Shalat di atas kendaraan 15. Menghadap ke arah kiblat terlebih dahulu jika shalat di atas kendaraan 16. Mendoakan orang yang ditinggal pergi 17. Mendoakan orang yang akan bepergian 18. Memberi bagian tersendiri kepada orang yang diutus pergi KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM DZIKIR DAN DOANYA 1. Senang berdoa dengan doa yang ringkas 2. Membaca istighfar tiga kali dan berdzikir selepas shalat 3. Membaca istighfar tujuh puluh kali hingga seratus kali setiap hari 4. Membaca shalat dan salam atas dirinya jika masuk dan keluar dai masjid 5. Membaca doa di pagi dan sore hari 6. Membaca doa di akhir majlis
1.

Membaca doa saat keluar rumah 8. Berdoa jika masuk dan keluar kamar kecil 9. Berdoa jika memakai pakaian baru 10. Berdoa jika merasa sakit 11. Berdoa jika melihat bulna 12. Memanjatkan doa di saat sulit 13. Berdoa jiika takut pada suatu kaum adan saat bertemu musuh 14. Berdoa jika bertiup angin kencang PERNIK-PERNIK KEBIASAAN NABI SAW 1. Selalu mengingat Allah di setiap waktu 2. Mengulangi perkataan hingga tiga kali dan bicara dengan suara yang jelas 3. Selalu mendahulukan yang kanan 4. Menutup mulut dan merendahkan suara apabial bersin 5. Tidak menolak jika diberi minyak wangi 6. Tidak pernah menolak hadiah 7. Selalu memilih yang lebih mudah 8. Bersujud syukur jika mendapat kabar gembira 9. Bersujud tilawah jika membaca ayat sajdah 10. Tidak datang ke rumah pada wkatu malam melainkan pada pagi dan sore hari 11. Tidak suka berbincang-bincang setelah Isya 12. Tidak senang menyimpan harta dan selalu memberi jika ada yang meminta 13. Mengulang salam hingga tiga kali 14. Turut mengerjakan pekerjaan rumah 15. Pergi ke masjid Quba setiap sabtu 16. Sangat marah jika hukum Allah dilanggar namun tidak marah jika dirinya disakiti 17. Berubah warna mukanya jika tidak menyukai sesuatu 18. Memilih waktu yang tepat dalam menasehati 19. Tidak bohong dalam bergurau 20. Berdiri apabila melihat iringan jenazah 21. Baru mengangkat pakaian jika telah dekat dengan tanah saat buang hajat 22. Buang air kecil dengan jongkok 23. Bermusyawarah jika membicarakan suatu masalah yang penting
7.

Tata Cara Shalat Sunnah Rawatib Dan Bacaannya

Dalam ibadah shalat, Nabi shallallahu alaihi wasallam senantiasa mengerjakan shalat sunnah rawatib dan tidak pernah sekalipun meninggalkannya dalam keadaan mukim (tidak bepergian jauh). Berikut beberapa tuntunan shalat sunnah rawatib dan bacaannya :

Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib


Ummu Habibah radiyallahu anha telah meriwayatkan sebuah hadits tentangkeutamaan shalat sunnah rawatib, dia berkata: saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang shalat dua belas rakaat pada siang dan malam, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga. Ummu Habibah berkata: saya tidak pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib semenjak mendengar hadits tersebut. Anbasah berkata: Maka saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dariUmmu Habibah. Amru bin Aus berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari Ansabah. An-Nuam bin Salim berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari Amru bin Aus. (HR. Muslim no. 728) Aisyah radhiyallahu anha telah meriwayatkan sebuah hadits tentang shalat sunnah rawatib sebelum (qobliyah) shubuh, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam , beliau bersabda, Dua rakaat sebelum shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya. Dalam riwayat yang lain, Dua rakaat sebelum shubuh lebih aku cintai daripada dunia seisinya (HR. Muslim no. 725) Adapun shalat sunnah sebelum shubuh ini merupakan yang paling utama di antara shalat sunnah rawatib dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamtidak pernah meninggalkannya baik ketika mukim (tidak berpegian) maupun dalam keadaan safar. Ummu Habibah radhiyallahu anha telah meriwayatkan tentang keutamaan shalat sunnah rawatib dzuhur, dia berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang menjaga (shalat) empat rakaat sebelum dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, Allah SWT haramkan baginya api neraka. (HR. Ahmad 6/325, Abu Dawud no. 1269, At-Tarmidzi no. 428, An-Nasai no. 1814, Ibnu Majah no. 1160)

Jumlah Shalat Sunnah Rawatib

Hadits Ummu Habibah di atas menjelaskan bahwa jumlah shalat sunnah rawatib ada 12 rakaat dan penjelasan hadits 12 rakaat ini diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan An-Nasai, dari Aisyah radiyallahu anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada shalat sunnah rawatib, maka Allah SWT akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah isya, dan dua rakaat sebelum subuh. ( HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasai no. 1794)

Surat yang Dibaca pada Shalat Sunnah Rawatib


Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu , Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada shalat sunnah sebelum subuh membaca surah Al Kaafirun ( ) dan surah Al Ikhlas ( ). (HR. Muslim no. 726) Dan dari Said bin Yasar, bahwasannya Ibnu Abbas mengkhabarkan kepadanya: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam padashalat sunnah sebelum shubuh dirakaat pertamanya membaca: (( ) QS. Al-Baqarah: 136), dan dirakaat keduanya membaca: (( ) QS. Ali Imron: 52). (HR. Muslim no. 727) Dari Ibnu Masud radiyallahu anha, dia berkata: Saya sering mendengar Rasulullah shallalllahu alaihi wa sallam ketika beliau membaca surah padashalat sunnah sesudah maghrib: surah Al Kafirun ( ) dan surah Al Ikhlas () . (HR. At-Tarmidzi no. 431, berkata Al-Albani: derajat hadits ini hasan shohih, Ibnu Majah no. 1166)

Apakah Shalat Sunnah Rawatib 4 Rakaat Qobliyah Dzuhur Dikerjakan dengan Sekali Salam atau 2 Kali Salam?
As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: Shalat Sunnah Rawatib terdapat di dalamnya salam, seseorang yang shalat sunnah rawatibempat rakaat maka dengan dua salam bukan satu salam, karena sesungguhnya Rasulullah shallalllahu alaihi wa sallam bersabda: Shalat (sunnah) di waktu malam dan siang dikerjakan dua rakaat salam dua rakaat salam. (Majmu Fatawa As-Syaikh AlUtsaimin 14/288)

Tempat Mengerjakan Shalat Sunnah Rawatib


Dari Ibnu Umar radiyallahu anhuma berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Lakukanlah di rumah-rumah kalian dari shalat-shalat dan jangan jadikan rumah kalian bagai kuburan. (HR. Bukhari no. 1187, Muslim no. 777) As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: Sudah seyogyanya bagi seseorang untuk mengerjakan shalat sunnah rawatib di rumahnya, meskipun di Makkah dan Madinah sekalipun maka lebih utama dikerjakan di rumah dari pada di masjid Al-Haram maupun masjid An-Nabawi; karena saat Nabi shallallahu aalihi wasallam bersabda sementara beliau berada di Madinah. Ironisnya manusia sekarang lebih mengutamakan melakukan shalat sunnah rawatib di Masjidil Haram, dan ini termasuk bagian dari kebodohan. (Syarh Riyadhus Sholihin 3/295)

Waktu Mengerjakan Shalat Sunnah Rawatib

Ibnu Qudamah berkata: Setiap shalat sunnah rawatib qobliyah maka waktunya dimulai dari masuknya waktu shalat fardhu hingga shalat fardhudikerjakan, dan shalat sunnah rawatib badiyah maka waktunya dimulai dari selesainya shalat fardhu hingga berakhirnya waktu shalat fardhu tersebut . (AlMughni 2/544)

Pengurutan Ketika Mengqodho


As-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: Apabila didalam shalat itu terdapat shalat sunnah rawatib qobliyah dan badiyah, dan shalat sunnah rawatib qobliyahnya terlewatkan, maka yang dikerjakan lebih dahulu adalah shalat sunnah rawatib badiyah kemudian shalat sunnah rawatib qobliyah, contoh: Seseorang masuk masjid yang belum mengerjakan shalat sunnah rawatib qobliyah, mendapati imam sedang mengerjakan shalat dzuhur, maka apabila shalat dzuhur telah selesai, yang pertamakali dikerjakan adalah shalat sunnah rawatib badiyah dua rakaat, kemudian empat rakaat shalat sunnah rawatib qobliyah. (Syarh Riyadhus Sholihin, 3/283)

Memutus Shalat Sunnah Rawatib Ketika Shalat Fardhu ditegakkan


As-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: Apabila shalat telah ditegakkan dan ada sebagian jamaah sedang melaksanakan shalat sunnah tahiyatul masjid atau shalat sunnah rawatib, maka disyariatkan baginya untuk memutus shalatnya dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan shalat fardhu, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: Apabila iqomah shalat telah ditegakkan maka tidak ada shalat kecuali shalat fardhu., akan tetapi seandainya shalat telah ditegakkan dan seseorang sedang berada pada posisi rukuk di rakaat yang kedua, maka tidak ada halangan bagi dia untuk menyelesaikan shalatnya. Karena shalatnya segera berakhir pada saat shalat fardhu baru terlaksana kurang dari satu rakaat. (Majmu Fatawa 11/392 dan 393)

Apakah Mengerjakan Shalat Sunnah Rawatib Atau Mendengarkan Nasihat?


Dewan Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Saudi: Disyariatkan bagi kaum muslimin jika mendapatkan nasihat (kultum) setelah shalat fardhuhendaknya mendengarkannya, kemudian setelahnya ia mengerjakan shalat sunnah rawatib seperti badiyah dzuhur, maghbrib dan isya (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah LilBuhuts Al-Alamiyah Wal-Ifta, 7/234)

Tersibukkan Dengan Memuliakan Tamu Dari Meninggalkan Shalat Sunnah Rawatib


As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: Pada dasarnya seseorang terkadang mengerjakan amal yang kurang afdhol (utama) kemudian melakukan yang lebih afdhol (yang semestinya didahulukan) dengan adanya sebab. Maka seandainya seseorang tersibukkan dengan memuliakan tamu di saat adanya shalat sunnah rawatib, maka memuliakan tamu didahulukan daripada mengerjakan shalat sunnah rawatib . (Majmu Fatawa As-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin 16/176)

Faedah

Ibmu Qoyyim rahimahullah berkata: Terdapat kumpulan shalat-shalat dari tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam sehari semalam sebanyak 40 rakaat, yaitu dengan menjaga 17 rakaat dari shalat fardhu, 10 rakaat atau 12 rakaat dari shalat sunnah rawatib, 11 rakaat atau 13 rakaat shalat malam, maka keseluruhannya adalah 40 rakaat. Adapun tambahanshalat selain yang tersebutkan bukanlah shalat sunnah rawatib, maka sudah seharusnyalah bagi seorang hamba untuk senantiasa menegakkan terusmenerus tuntunan ini selamanya hingga menjumpai ajal (maut). Sehingga adakah yang lebih cepat terkabulkannya doa dan tersegeranya dibukakan pintu bagi orang yang menge tuk sehari semalam sebanyak 40 kali?Allah SWT lah tempat meminta pertolongan. (Zadul Maad 1/327)

http://mdaattaqwa.blogspot.com/search/label/AGAMA?updated-max=2013-0506T14:06:00%2B07:00&max-results=20&start=20&by-date=false