Anda di halaman 1dari 20

STUDI KASUS FARMAKOTERAPI KONSTIPASI PADA KUCING

Disusun oleh : Adi Setia Budi Rinda Wulandari Putri Lifiandari Prisca Adhiesa Narieswari Amin Tan Tara Izzatul Maidah Titin Sugiarti Irina Natalena O :115130100111037 :115130100111043 :115130101111028 :115130101111034 : 115130101111037 :115130101111033 :115130101111040 :115130107111015

Asmiranti Niva Anda Rizki :115130101111027

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

I. -

Masalah dan Diagnosis Masalah Seekor kucing (5 kg) saat pemeriksaan dokter hewan dikeluhkan oleh

pemiliknya mengalami perut tegang sejak 3 hari yang lalu. Setelah masa tegang perut, kucing mengeluarkan sejumlah kotoran yang kecil dan keras. Seringkali kucing tersebut terlihat berusaha buang air besar dalam waktu yang lama tanpa disertai keluarnya feses. Pada pemeriksaan perut, teraba colon yang keras dan penuh. Dokter mendiagnosis konstipasi pada hewan ini. Konstipasi adalah defekasi yang infrekuen, inkomplet atau mengalami kesulitan. Penyakit ini dikenal juga sebagai fecal impaction. Faktor risiko hewan mengalami melena adalah terapi obat-obatan, penyakit metabolik yang mengakibatkan dehidrasi, hernia perineal pada anjing jantan, pica, grooming yang berlebihan, fraktur pelvis. Penyebab konstipasi pada kucing adalah : Diet, tulang, rambut, benda asing, serat lingkungan. Kurang exercise, perubahan lingkungan. Defekasi yang menyakitkan, penyakit anorektal (anal sacculitis, anal sac abcess, anal striktura, anal spasmus, prolapsus rektal, pseudocoprostasis), trauma (fraktur pelvis, fraktur kaki belakang, dislokasi , luka gigitan, abses perineal). Patofisiologi Konstipasi dapat terjadi dengan penyakit yang menyebabkan gangguan aliran feses melalui kolon. Transit fekal yang tertunda, menyebabkan hilangnya garam dan air lebih banyak. Kontraksi peristaltik meningkat saat konstipasi, namun motilitasnya terbatas karena degenerasi otot polos secara sekunder akibat overdistensi kronis. Gejala yang di timbulkan Anamnesis menunjukkan hewan mengalami tenesmus dengan volume feses sedikit, feses keras, kering. Defekasi tidak frekuen. Setelah merejan lama baru keluar feses yang sedikit, kadang setelah itu masih merejam lama. Beberapa penderita mengalami vomit dan depresi.Pemeriksaan fisik menunjukkan feses masih di dalam kolon, hasil pemeriksaan yang lain bergantung penyebab. Pemeriksaan rektal teraba adanya massa, striktura, hernia perianal, penyakit anal sac, benda asing, pembesaran prostat, kanal pelvis yang sempit.

- Diagnosis a) Pasien tidak defekasi selama 4 hari b) dilakukan pemeriksaan fisik seperti : 1. Pemeriksaan dimulai pada rongga mulut meliputi gigi geligi, adanya luka pada selaput lendir mulut dan tumor yang dapat mengganggu rasa pengecap dan proses menelan. 2. Daerah perut diperiksa apakah ada pembesaran perut, peregangan atau tonjolan. Perabaan permukaan perut untuk menilai kekuatan otot perut. Perabaan lebih dalam dapat mengetahui massa tinja di usus besar, adanya tumor atau pelebaran nadi. 3. Pada pemeriksaan ketuk dicari pengumpulan gas berlebih, pembesaran organ, cairan dalam rongga perut atau adanya massa tinja. Pemeriksaan dengan stetoskop digunakan untuk mendengarkan suara gerakan usus besar serta mengetahui adanya sumbatan usus. 4. Pemeriksaaan untuk mengetahui ada tidaknya timbunan masa feses, darah dan benda asing lainnya. 5. Pemeriksaan dubur untuk mengetahui adanya wasir, hernia, fissure (retakan) atau fistula (hubungan abnormal pada saluran cerna), juga kemungkinan tumor di dubur yang bisa mengganggu proses buang air besar. Colok dubur memberi informasi tentang tegangan otot, dubur, adanya timbunan tinja, atau adanya darah. II. Tujuan Terapi a. Melunakkan faces b. Mempercepat paristaltik b) Menghilangkan causa

a) Mengeluarkan sumbatan :

III.

Terapi a) Pasien dianjurkan untuk diberi pakan berkonsistensi lembek b) Pasien dianjurkan diberi minum dengan dosis lebih selama masih konstipasi

a. Advice

b. Non-drug a) Menambah asupan serat sebanyak 10-12 gram per hari b) Menambah volume air minum c) Meningkatkan aktifitas fisik/olahraga dengan sering diajak jalan-jalan c. Terapi Drugs Penentuan P-Drug: Jenis Obat No Jenis 1 obat Dulcolax Efficacy FK: Pemberian peroral/ perektal. Dihidrolisis di usus halus menjadi difenol yang kemudian di konjugasi di hepar dan dinding usus. Diekskresi melaui empedu. Direhidrolisis menjadi difenol kembali yang akan merangsang dulcolax, Sewaktu menggunakan dapat terjadi rasa tidak enak pada perut termasuk diare. alergi, kram, Reaksi termasuk sakit perut, dan Safety Efek samping : Suitability Cost

Kontra Indikasi: Rp. Pada ileus, pasien 4.300 abstruksi

usus, yang baru mengalami pembedahan dibagian seperti perut usus

buntu, penyakit radang usus akut dan hehidrasi parah, dan juga pada pasien yang diketahui hipersensitif terhadap

kasus-kasus angiooedema dan reaksi anafilaktoid sehubungan juga dilaporkan terjadi

motilitas usus besar. -Mengindikasi defekasi dengan merangsang aktifitas perilstatik usus yang bersifat mendorong (propulsive) melalui iritasi local mukosa / kerja yang lebih selektif pada plexus saraf intra mural dari otot halus usus sehinga meningkatkan motilitas. Efek pencahar terlhat setelah 612 jam . FD: Merangsang mukosa intramural otot saraf atau polos dengan pemberian dulcolax

bisacodyl komponen

atau lain

dalam produk. Tablet 5 mg x 200 biji. Tablet salut biji. Sirup 10 mg x 5

enterik 5 mg Dus, 20 strip @ 10 tablet.

sehingga meningkatakan perilstatik sekresi usus dan lendir melalui

penghambat Na2 Bicolax K ATP-ase. FK Terapi Efek samping : kontipasi dan perut radiologi abdomen, endoskopi, sebelum Pengosongan sebelum untuk atau dan atau Gatal kulit kemerahan Sulit bernapas Pembengkakan pada bibir, atau tenggorokan wajah, lidah dengan pemeriksaan akut kronik. Rasa nyaman perut. reaksi alergi: tidak pada Kontra indikasi: Kondisi operasi abdomen akut, obstruksi ileus, apendistis. Tablet 5 mg x 18. Rp. 12.000

sesudah operasi.

FD : Merangsang mukosa saraf intra mural atau otot polos sehingga laksatif yang merangsang 3 Laxacod pergerakan usus. FK: meningkatkan frekuensi dan mengurangi BAB untuk

Efek samping: Jarang : rasa tidak nyaman pada perut.

Kontra indikasi: Rp. Kondisi perut bedah 87.000 akut

seperti obstruksi ileus, apendisitis

konsistensi feses Bisa menyebabkan (radang yang kering dan ketergantungan keras. umum, obat meliputi pengurangan elektrolit, meningkatkan osmolalitas dalam lumen, dan meningkatkan tekanan hidrostatik dalam usus FD saraf mukosa yang mengakibatkan kontraksi sehingga pergerakan (peristaltik) dalam waktu 612 jam setelah kolon terjadi usus merangsang pada kolon Secara laksatif penggunaan panjang. obat : pencahar Interaksi antasida, obat-obat mempertinggi tingkat lambung. pH cacing pada buntu).

umbai usus

Dehidrasi berat. Tablet 5 mg x 20 x 4 butir

mekanisme kerja jangka

susu, lain bisa

absorpsi air dan yang

sekresi cairan dan

diminum, 15-60

atau menit

setelah diberikan 4 Emolien melalui rectal F.K= Oral, bekerja di usus halus secara langsung F.D= memfasilitasi pencampuran bahan berair dan halus. Produk ini meningkatkan sekresi air dan elektrolit dalam 5 Lubrikan usus. F.K= Oral, bekerja langsung pada usus F.D= membungkus feses sehingga memudahkannya meluncur ke anus dan dengan menghambat penyerapan air Dosis= 5 ml/ 20 pund. 2x/ hari selama 1-2 hari E.S= Naiknya respon imun, hipovitaminosis vitamin larut lemak. K.I= hipersensitif, hipovitaminnosis I.O= multi vitamin vitamin larut larut lemak lemak. I= mengobati sembelit E.S= relatif aman, tapi jika berkepanjangan & terlalu banyak menyebabkan peningkatan penyerapan racun, nausea, vomit. K.I= inflammatory bowel, obstruksi Dosis= 50 mg sehari sekali I= pencegahan sembelit 2.67$ for 100mg x 100 capsule

lemak dalam usus I.O=-

diusus sehingga meningkatkan bobot feses dan mengurangi waktu transitnya 6 Laktulosa dalam usus. F.K= oral/ rektal, bekerja langsung pada usus F.D= Laktulosa dimetabolisme oleh bakteri kolon menjadi molekul asam dengan bobot rendah, sehingga mempertahankan cairan dalam kolon, menurunkan PH dan meningkatkan gerak peristaltik 7 Sorbitol usus. F.K= oral, bekerja langsung pada usus F.D= hyperosmotic Dosis= 2ml/kg E.S= nausea, kembung, diare, iritasi anal I.O=K.I= alergi, renal failure, hepatic failure I= sembelit 5$ bentuk tablet E.S= dehidrasi, diare, sakit abdomen, kembung I.O= given an antacid as this may decrease the effects of lactulose Dosis= 1ml/kg K.I= diabetes, bunting, menyusui I= anti konstipasi 25.75$ bentuk cair

laxative used to treat occasional 8 Bisakodil constipation F.K= Ora/ rektal & langsung bekerja pada usus. E.S= nausea, diare, sakit abdomen I.O= ranitidin, mengakibatkan peningkatan sekresi asam lambung E.S= deplesi cairan I.O=

per hari

I= sembelit K.I= alergi, obstruksi saluran cerna Dosis= 5 mg per oral

10.42$ bentuk tablet

F.D= merangsang omeprazole pleksus syaraf mukosa usus besar. 9 Katartik Saline F.K= oral F.D= menghasilkan efek osmotik dalam mempertahankan cairan dalam saluran cerna. Magnesium merangsang sekresi kolesistokinin yang merangsang motilitas usus dan sekresi 10 cairan. PEG-ELS F.K= oral, diserap langsung E.S= I= anti konstipasi, Dosis= 2ml/kg

I= sembelit, membersihkan racun dan parasit dari saluran cerna. K.I= dehidrasi, hipokalsemia.

dari usus F.D= osmotic effect of polyethylene glycol which causes water to be retained in the colon and produces a watery stool.

I.O=

pembersihan usus utk diagnosa, & pembedahan kolon rektal K.I= obstruksi usus, alergi

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Jenis obat Dulcolax Bicolax Laxacod Emolien Lubrikan Laktulosa Sorbitol Bisakodil Katartik Saline PEG-ELS

Efficasy ++ ++ + ++ ++ + ++ ++ + +

Safety ++ + ++ + ++ + + ++ ++ +

Suitability +++ + + + + + + ++ ++ +

Cost +++ ++ + + + + + + + +

Kesimpulan: Dipilih obat dulcolax karena kerja farmakokinetik dan farmakodinamik yang sesuai dengan kondisi pasien, serta harganya yang sangat murah. Namun, dalam pemberiannya harus sangat diperhatikan karena obat ini dapat memberikan beberapa efek samping yang tentunya akan merugikan pasien. Dipilih sediaan obat bentuk tablet yang kemudian digerus (pulv) dan dimasukkan ke dalam kapsul untuk memudahkan pemberiannya pada hewan serta agar mempermudah klien menentukan takaran pemberian obat sesuai dosis yang diberikan oleh dokter hewan. Dosis obat ini pada kucing yaitu 20 mg sekali pemberian.

d. Rujukan Jika dalam 3 hari kucing masih tidak dapat mengeluarkan feses akan dilakukan tidakan operatif. IV. Penentuan regimen dosis dan penulisan resep obat Pemberian obat untuk kucing yaitu dulcolax dalam bentuk tablet dengan dosis 20 mg. drh. Irina Natalena O Praktek : Jl.Koral B12 Telp 723452 Malang Kantor : Universitas Brawijaya -------------------------------------------------------------------Malang , 23 Ok 2013 R / Dulcolax 20 mg tab Pulv da in caps dtd No. VI 2 dd 1 caps p.c ------------------------------------------------------------ Paraf Pro : Ketty (kucing 5 kg) Nama Pemilik : Titin Alamat : Jl. Sumber sari No.65

V.

Komunikasi obat

Obat pencahar (Laxatives) Dosis obat pencahar (laxative) untuk kucing 0,5 sendok makan setiap 2,5 kg berat badan. Pemberiannya dilakukan dua kali sehari. Obat pencahar tersedia dalam berbagai bentuk seperti pil, bubuk, cairan, dan bahkan dalam bentuk permen rasa coklat. Tiap jenis pencahar juga bekerja dengan cara yang berbeda termasuk melunakkan, menggumpalkan, dan melumasi feses. Jenis pencahar yang menggumpalkan feses umumnya mengandung serat atau psyllium dan berfungsi menyerap air dalam usus. Pencahar jenis pelumas, seperti minyak mineral, berfungsi

melumasi feses sehingga mudah dikeluarkan. Bentuknya berupa tablet dan suspensi (cair) untuk pemakaian lewat mulut atau bentuk supositoria untuk pemakaian lewat dubur. Obat pencahar hanya boleh digunakan sesuai kebutuhan dan di bawah pengawasan dokter. Terlalu sering menggunakan obat pencahar menyebabkan ketergantungan. Usus besar menjadi tidak mampu berkontraksi normal tanpa pencahar. Penggunaan pencahar dalam jangka panjang juga memicu kerusakan saraf di usus besar, sehingga menyebabkan usus besar kehilangan kemampuannya untuk berkontraksi. Overdosis pencahar juga bisa menyebabkan dehidrasi, yang jika tidak diobati berpotensi menyebabkan kegagalan organ vital Stimulant laxatives : meningkatkan peristaltik. Stimulan laksatif bekerja 6-12 jam

Contoh yang termasuk dalam golongan ini adalah Senna dan Bisakodil Mekanisme kerja minggu. Efek samping Saran Informasi obat : dapat menyebabkan nyeri / ketidaknyamanan : dimulai dari dosis kecil, peningkatan dosis jika dibutuhkan. : tablet bisakodil salut enterik dan seharusnya ditelan utuh setelah penggunaan per oral. Obat-obat ini seharusnya digunakan maksimum 1

Intensitas efek laksatif berhubungan dengan dosis yang diberikan. karena bisakodil dapat mengiritasi perut. Bisakodil dapat diberikan dalam bentuk suppositoria. Efeknya muncul dalam waktu 1 jam dan paling cepat 15 menit setelah penggunaan. Dokusat Na selain sebagai sebagai stimulan juga sebagai pelunak feses, efeknya selama 15 hari. Penggunaan senna dan cascara, yang tidak terstandarisasi, mengakibatkan aksinya tidak dapat diprediksi. Minyak jarak adalah terapi tradisional untuk konstipasi yang tidak lagi direkomendasikan sejak sediaan yang lebih baik telah ada. Pencahar perangsang secara langsung merangsang dinding usus besar untuk berkontraksi dan mengeluarkan isinya. Obat ini mengandung substansi yang dapat mengiritasi seperti senna, kaskara, fenolftalein, bisakodil atau minyak kastor. Obat ini

bekerja setelah 6-12 jam dan menghasilkan tinja setengah padat, tapi sering menyebabkan kram perut. Dalam bentuk supositoria (obat yang dimasukkan melalui lubang dubur), akan bekerja setelah 15-60 menit. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan pada usus besar, juga seseorang bisa menjadi tergantung pada obat ini sehingga usus menjadi malas berkontraksi ( Lazy Bowel Syndromes). Obat-obat ini seharusnya digunakan maksimum 1 minggu. Penggunaan per oral seperti tablet bisakodil salut enterik dan seharusnya ditelan utuh karena bisakodil dapat mengiritasi perut. Bisakodil dapat diberikan dalam bentuk suppositoria. Efeknya muncul dalam waktu 1 jam dan paling cepat 15 menit setelah penggunaan. Dokusat Na selain sebagai sebagai stimulan juga sebagai pelunak feses, efeknya selama 15 hari. Contoh obat jadi : Bicolax, Codylax, Dulcolax, Laxacod, dan Laxamex.

Common Stimulant Laxatives Cascara (casanthranol) Buckthorn Senna extract (senokot) Aloe vera (aloin) Phenolphthalein Dulcolax (bisacodyl) (PO) Dulcolax (suppository) Microlax Castor Oil Komposisi Dulcolax: 1 tablet salut enterik mengandung 5 g: 4,4'-diacetoxy-diphenyl-(pyridyl-2)-methane (=bisacodil) (bisacodyl) Anthraquinone Anthraquinone Anthraquinone Anthraquinone Triphenylmethane Triphenylmethane Triphenylmethane colon colon colon colon colon colon colon rectum and colon small intestine 68 hours 68 hours 68 hours 810 hours 8 hours 612 hours 60 minutes 1560 minutes 26 hours

enema ricinoleic acid

Zat tambahan: laktosa, pti jagung, gliserol, magnesium stearat, sukrosa, talk, akasia, titanium dioksida, eudragit L100 dan S100, dibutilftalat, polietilen glikol, Fe-oksida kuning, beeswax white, carnauba wax, shellac. Cara Kerja Obat: Bisacodyl adalah laksatif yang bekerja lokal dari kelompok turunan difenil metan. Sebagai laksatif perangsang (hidragogue antiresorptive laxative), DULCOLAX merangsang gerakan peristaltis usus besar setelah hidrolisis dalam usus besar, dan meningkatkan akumulasi air dan alektrolit dalam lumen usus besar. Indikasi : Penggunaan bersamaan dengan diuretik atau adreno-kortikoid dapat meningkatkan risiko ketidakseimbangan elektrolit jika DULCOLAX diberikan dalam dosis berlebihan. Ketidaseimbangan elektrolit dapat mengakibatkan peningkatan sensitivitas glikosida jantung. Bulk laxatives Pencahar jenis ini umum beredar di pasaran, baik yang berasal dari serat alamiah seperti psyllium ataupun serat buatan sepertu metil selullosa. Keduanya sama efektif dalam meningkatkan volume tinja. Obat ini cukup aman digunakan dalam waktu yang lama tetapi memerlukan asupan cairan yang cukup. Butuh 2 hingga 3 hari agar obat bekerja dengan baik. Contoh yang termasuk dalam golongan ini adalah ispaghula, methylcellulose, sterculia. Mekanisme kerja : mendekati fungsi fisiologi normal evakuasi bowel yaitu mengembang di dalam usus dan meningkatkan massa feses yang dapat menstimulasi peristaltik dan berefek laksatif. Kelebihan Informasi obat : berguna dengan dan tanpa konsumsi serat : Bulk laxatives yang mengandung Na membutuhkan

pembatasan intake Na, ketika merekomendasikan bulk laxatives, farmasis seharusnya menyarankan meningkatkan intake cairan. Dalam bentuk granul atau serbuk, sediaan harus dicampur dengam satu gelas cairan ( jus buah/ air) sebelumnya. Jus buah dapat menyamarkan rasa dari sediaan.

Contoh obat jadi

: Mucofalk

Osmotic laxatives Obat pencahar osmotik bekerja dengan menarik air ke dalam usus. Air di usus

akan memperlancar gerak feses sehingga lebih mudah dikeluarkan. Bahan-bahan osmotik mendorong sejumlah besar air ke dalam usus besar, sehingga tinja menjadi lunak dan mudah dilepaskan. Cairan yang berlebihan juga meregangkan dinding usus besar dan merangsang kontraksi. Pencahar ini mengandung garam-garam (fosfat, sulfat dan magnesium) atau gula (laktulosa dan sorbitol). Beberapa bahan osmotik mengandung natrium, menyebabkan retensi (penahanan) cairan pada penderita penyakit ginjal atau gagal jantung, terutama jika diberikan dalam jumlah besar. Bahan osmotik yang mengandung magnesium dan fosfat sebagian diserap ke dalam aliran darah dan berbahaya untuk penderita gagal ginjal. Pencahar ini pada umumnya bekerja dalam waktu 0,5-3 jam dan lebih baik digunakan sebagai pengobatan daripada untuk pencegahan. Bahan ini juga digunakan untuk mengosongkan usus sebelum pemeriksaan rontgen pada saluran pencernaan dan sebelum kolonoskopi.Contoh yang termasuk dalam golongan ini adalah laktulosa, garam Epsom dan garam Glaubers salts Mekanisme Kerja : Laktulosa menjaga volume cairan dalam perut. Butuh 1-2 hari untuk kerjanya Garam Epsom menarik air ke dalam usus, meningkatkan tekanan sehingga meningkatkan motilitas usus Suppositoria Glycerin mempunyai efek osmotik dan efek iritan dan bekerja dalam 1 jam. Informasi Obat : Lactitol adalah bahan kimia yang berhubungan dengan laktulosa dan ada dalam bentuk sachet. Isi sachet ditaburkan dalam makanan atau diminum dengan cairan. 1-2 gelas cairan seharusnya diminum untuk dosis sehari. Garam Epsom (magnesium sulfat) adalah terapi tradisional yang tidak lagi direkomendasikan , Garam Epsom menghasilkan motilitas usus dalam beberapa jam. Efek samping : Laktulosa dan lactitol dapat menyebabkan flatulen, kram,

ketidaknyamanan abdomen. Penggunaan berulang garam Epsom dapat menyebabkan dehidrasi. Suppositoria glycerin dapat menyebabkan ketidaknyamanan rektal. Contoh obat jadi : Dulcolactol, Duphalac, Microlax, Opilax, dan Pralax.

Lubricant laxative Minyak mineral akan melunakkan tinja dan memudahkannya keluar dari

tubuh.Obat ini bekerja setelah 6-8 jam. Tetapi bahan ini akan menurunkan penyerapan dari vitamin yang larut dalam lemak. Dan jika seseorang yang dalam keadaan lemah menghirup minyak mineral secara tidak sengaja, bisa terjadi iritasi yang serius pada jaringan paru-paru.Selain itu, minyak mineral juga bisa merembes dari rektum. Contoh yang termasuk dalam golongan ini adalah Lakadin (Parafin cair, fenolftalin), kompolax (parafin cair) Mekanisme Kerja Efek samping : melapisi dan memperlunak feses, menjaga absorpsi air yang : Penggunaan jangka panjang dapat mengurangi absorpsi berlebihan pada kolon. vitamin yang larut lemak (A, D, E, K). Kebocoran paraffin cair dari spinchter anal dapat menyebabkan ketidaknyamanan, jika paraffin cair dihirup maka dapat menyebabkan lipid pneumoni dan mual. Contoh obat jadi Peringatan : Kompolax dan Laxadine.

Berikut adalah beberapa efek samping obat pencahar. 1. Kram Menggunakan obat pencahar stimulan bisa menyebabkan kram di perut dan saluran pencernaan bawah.Obat pencahar meringankan sembelit dengan merangsang kontraksi dinding perut sehingga feses bergerak lancar ke rektum untuk kemudian dibuang.Selama bekerja, obat pencahar berpotensi menyebabkan kram akibat

perubahan keseimbangan cairan pada usus besar dan rektum. 2. Anus terasa terbakar Supositoria gliserin dimasukkan ke dalam anus untuk meredakan sembelit ringan sampai sedang.Kontak harus terjadi antara supositoria dengan anus selama penyisipan.Menggunakan supositoria untuk mengobati sembelit berpotensi menyebabkan iritasi dan rasa terbakar pada anus (rektum).Iritasi bisa dikurangi dengan menggunakan pelumas sebelum memasukkan supositoria ke dalam anus. 3. Kembung Pembengkakan perut, atau kembung umum terjadi selama penggunaan obat pencahar.Kembung terjadi ketika otot-otot saluran pencernaan berkontraksi untuk menambah massa feses. Kembung umumnya akan hilang setelah sembelit reda. 4. Gas berlebih Mengobati sembelit melalui penggunaan obat pencahar yang mengandung serat akan menyebabkan produksi gas berlebih dan menyebabkan sering buang gas (kentut).Gas diproduksi berlebih karena serat diserap ke dalam saluran pencernaan.Menambahkan terlalu banyak serat dalam waktu singkat dapat memperburuk sembelit pada orang dengan sindrom iritasi usus dan megakolon kongenital. 5. Perdarahan anus Menggunakan obat pencahar dapat memicu perdarahan anus.Perdarahan anus antara lain disebabkan oleh diare yang terkait dengan penggunaan obat pencahar.Perdarahan juga bisa terjadi akibat iritasi pada lapisan dinding rektum saat pencahar bekerja melembutkan feses yang mengeras.Konsultasikan dengan dokter jika terjadi perdarahan rektum selama lebih dari tiga hari setelah penggunaan obat pencahar.

6. Memburuknya sembelit Mengobati sembelit dengan obat pencahar sebenarnya bisa menyebabkan konstipasi menjadi lebih buruk.Hal ini disebabkan toleransi tubuh akan terus meningkat dan menagih dosis pencahar yang lebih besar.Gunakan obat pencahar hanya setelah metode lain tidak membuahkan hasil. 7. Menyebabkan ketergantungan Penggunaan obat pencahar dalam jangka panjang, misalnya untuk menurunkan berat badan, akan menimbulkan ketergantungan dan membuat seseorang tidak bisa buang air besar secara normal tanpa bantuan pencahar.Penggunaan obat pencahar untuk menurunkan berat badan akan menyebabkan otot-otot usus menjadi lemah dan tidak mampu berfungsi normal

VI.

Monitoring dan evaluasi hasil terapi (kapan kontrol, apa yang akan dievaluasi saat kontrol) Cara penggunaan obat, aktivitas buang air besar, efek samping obat. dalam 3

hari belum sembuh, pasien diharapkan periksa kembali. Apabila selama jangka waktu 3 hari pasien tidak menunjukkan gejala, dan feses sudah menunjukkan perubahan yaitu konsistensi feses sudah berubah kucing. VII. Kesimpulan Seekor kucing 3 thn yang menderita konstipasi dilakukan penangan dengan pemberian obat dulcolax berfungsi untuk melunakkan feses. Treatment non-drug juga diperlukan. Treatment ini berupa peningkatan pemberian makan berserat, peningkatan volume air minum, dan peningkatan aktivitas/olahraga dari kucing. menjadi lembek pemberian obat harus dihentikan, apabila pemberian obat tidak dihentikan akan berdampak negatif bagi

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, hal. 32-33, Sagung Seto, Jakarta Arif, A., Sjamsudin, U., 1995, Obat Lokal dalam Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, hal. 509, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey, L.M. (editors), 2005, Pharmacotherapy: A Phatophysiologic Approach, 6th Edition, p.684-689, McGraw-Hill, United States of America. Gangarosa, L.M., Seibert, D.G., 2003, E-book: Modern Pharmacology With Clinical Application, 6th Edition, p.474-476 Martindale The Complete Drug Reference 35th edition McQuaid, K.R, 2006, E-book: Current Medical Diagnosis & Treatment: Allimentary Tract, 45th Edition, p.541-544, McGraw-Hill, United States of America Micromedex MIMS-Official Drug Reference for Indonesian Medical Proffesion. 105th ed.