Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Sdr.

A DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI DI RUANG SENA RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA

DISUSUN OLEH : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Dwi Marta Rustanto Noora Chumairoh Oktaviani Cathelia Pradesta Puput Candra Kharisma Saadilah Mursyid Djiwandono Sartika Alvianita Irawan Venty Meitasari Veronika Nerisa Pradewi Yesy Fita Wahidatus Solihah

10. Yuliana Ayu Suciati 11. Yuni Rahmawati Dewi

POLITEKNIK KEMENTERIAN KESEHATAN SURAKARTA 2012

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Sdr.A DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI DI RUANG SENA RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA A. PENGKAJIAN Pengkajian dilakukan pada tanggal 21 November 2012 pukul 13.00 WIB di Ruang Sena RSJD Surakarta. Pengkajian dilakukan dengan anamnesa pasien, keluargan dan catatan status kesehatan pasien. 1. Identitas a. Identitas Pasien Nama Umur Jenis kelamin Status Pendidikan Pekerjaan Alamat Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Alamat c. Catatan Medis No. RM Diagnosa medis Tanggal masuk : 017473 : F.20.0 (Sizofrenia paranoid) : 19 November 2012 : Sdr. A : 29 tahun : Laki-laki : Belum menikah : SMK : Nunggu warung (jualan) : Wonogiri : Tn. A : 54 tahun : Laki-laki : Pedagang : Wonogiri

b. Identitas Penanggung Jawab

Hubungan dengan pasien : Ayah

2.

Alasan masuk Pasien mengatakan dibawa ke rumah sakit pada tanggal 19 November 2012 karena pasien mendapat bisikan orang laki-laki untuk membunuh orangtuanya. Selain itu, Keluarga pasien mengatakan pasien sering terlihat berbicara sendiri dan kadang tersenyum sendiri.

3.

Faktor predisposisi a. Pasien mengatakan sering keluar masuk rumah sakit jiwa 7 kali. Keluarga mengatakan pasien pernah masuk panti rembang tahun 2006 selama 3 tahun lalu minta pulang, kemudian pernah masuk pesantren tahun 2009 selama 2 tahun juga minta pulang. Saat masuk RSJ yang pertama yaitu pada tahun 2004 (8 tahun yang lalu). Yang terakhir tahun 2007 dan yang sekarang karena pasien sering mendapatkan bisikan seorang laki-laki. Pasien mengatakan rutin minum obat dan rutin kontrol, namun kadang sering bingung saat dirumah sendirian. Setiap ada tanda-tanda kekambuhan dan halusinasi yang berat dan tidak dapat dikontrol lagi, ayah pasien selalu membawa ke RSJ Surakarta untuk berobat. Ayah pasien mengatakan pasien merasa kecewa karena tidak bisa ikut ujian padahal dulu dia termasuk siswa yang pandai. b. Pasien mengatakan mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan yaitu pernah tidak lulus sekolah ketika STM pada tahun 2000, pasien merasa kehilangan dan menyesal. Pasien mengatakan pernah putus dengan pacarnya ketika umur 19 tahun karena paham mereka berbeda dan sudah tidak cocok lagi. Pasien juga pernah mencoba bunuh diri 1 tahun yang lalu karena merasa kurang berguna sebagai anak.Ayah pasien mengatakan pasien sewaktu STM tinggal bersama saudaranya di Sukabumi dan disana hubungan pasien dengan saudaranya itu kurang baik. Prestasi yang telah diraih pasien kurang dihargai. Pasien tidak pernah mempunyai pengalaman penganiayaan secara fisik maupun seksual baik menjadi pelaku, saksi, atau korban.

4.

Faktor presipitasi

Pasien mengatakan melihat TV berita pembunuhan di rumah sekitar pukul 18.00 WIB (ketika magrib). Kemudian pasien pergi ke kamarnya dan saat di kamar pasien mengatakan mendengar bisikan dari seorang laki-laki untuk membunuh ibunya. 5. Pemeriksaan fisik a. Tanda-tanda vital TD : 136/91 mmHg N : 90 x/menit b. Antropometri TB : 180 cm BB : 70 kg c. Pasien mengatakan tidak pernah mempunyai riwayat penyakit berarti sebelumnya, seperti Dibetes Melitus, hipertensi, dan jantung. 6. Psikososial a. Genogram S : 36,5O C R : 20x/menit

Keterangan: = perempuan = laki - laki = pasien = anggota keluarga yang sudah meninggal = tinggal serumah Pasien anak tunggal dan belum menikah. Pasien tinggal serumah dengan kedua orang tuannya. Pasien mengatakan komunikasi dengan

kedua

orangtuanya

baik,

pengambilan

keputusan

berdasarkan

musyawarah dalam keluarga. b. Konsep diri 1) Citra Tubuh Pasien mengatakan menyukai semua bagian tubuhnya karena semua itu adalah pemberian tuhan jadi harus disyukuri. Pasien mengatakan meskipun gigi depannya patah satu dan dahinya agak menonjol pasien tetap menyukainya. 2) Peran Diri Pasien adalah anak tunggal dan belum menikah, di rumah pasien tinggal bersama ayah dan ibunya. Pasien di rumah menjalankan tanggung jawabnya sebagai anak yaitu membantu pekerjaan rumah dan membantu mencari nafkah dengan menunggu warung di rumahnya (jualan). Di masyarakat, pasien sebagai anggota masyarakat mengikuti kegiatan kerja bakti dikampungnya tetapi karena disuruh ayahnya. Dan di Rumah Sakit pasien mengatakan dirinya sebagai pasien mematuhi peraturan yang ada di Rumah Sakit dan minum obat sesuai jadwal. 3) Ideal Diri Pasien ingin cepat sembuh dan keluar dari RSJ kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali sebagai penjual untuk membahagiakan orang tuanya. Pasien mengatakan ingin segera menikah dan mempunyai anak karena umur pasien sudah 29 tahun. Pasien juga ingin tetap aktif di masyarakat kembali seperti warga lainnya. 4) Identitas Diri Sdr. A seorang laki-laki berumur 29 tahun dan belum menikah. Status pasien adalah seorang anak tunggal dan bekerja sebagai penjual (menunggu warung di rumahnya), pasien sudah merasa senang karena pekerjaan itu memberikan penghasilan yang lumayan dan cukup untuk mengisi waktu luang, tetapi pasien

belum merasa puas karena ia belum bisa memberikan yang terbaik untuk orang tuannya. Pasien mengatakan merasa belum mampu untuk menjalankan peran sebagai anak karena pasien merasa jiwannya rapuh harus bolak-balik masuk rumah sakit. 5) Harga Diri Pasien mengatakan tetap merasa percaya diri untuk menghadapi orang banyak maupun orang sekitar walaupun giginya depan ada yang patah satu dan dahinya agak menonjol. c. Hubungan Sosial 1) Orang terdekat Pasien mengatakan jika di rumah dekat dengan ayahnya dan saat di RSJ ia biasa mengobrol dengan Tn. M. Pasien sering bercerita dengan Tn. M tapi tidak bercerita tentang masalah pribadi. 2) Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat Ayah pasien mengatakan pasien jarang keluar rumah, pasien mengikuti kerja bakti di kampungnya jika disuruh oleh Ayahnya. Ketika di RSJ pasien jarang berkumpul dengan pasien lain dan lebih suka menyendiri. Pasien juga kurang aktif dalam kegiatan di ruangan. 3) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain Pasien tidak merasa asing dengan tetangga-tetangga dan lingkungannya. Pasien mengatakan saat di rumah juga sering berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Namun selama di Rumah Sakit pasien jarang berkumpul dengan pasien lain dan lebih suka menyendiri. Pasien lebih sering tiduran di tempat tidurnya. d. Spiritual 1. Nilai dan Keyakinan Pasien mengatakan dirinya beragama Islam. Menurut pasien, dalam agamanya masalah yang dihadapi pasien merupakan ujian dari Allah. Pasien yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam

hidupnya merupakan takdir dari Allah yang harus pasien jalani dengan tawakal. 2. Kegiatan Ibadah Pasien menjalankan sholat 5 waktu, serta selalu berdoa agar bisa cepat pulang. Pasien juga mampu menghafal Surat Al-Fatihah dan Surat An-Nas dan Al- Falaq. 3. Pengaruh Spiritual terhadap Koping Individu Pasien mengatakan merasa tenang dan nyaman apabila ia telah menjalankan ibadah sholat karena setelah sholat pasien berdoa untuk mengadukan masalah yang dialaminya. Pasien juga mengatakan apabila klien mempunyai masalah terkadang hanya disimpan dalam hati dan diungkapkan dalam doa. 7. Status Mental a. Penampilan 1) Cara berpakaian Cara berpakaian pasien cukup rapi, pasien berganti pakaian 1xsehari setiap selesai mandi pagi. Cara berjalan satu arah dan sikap tubuh tegak, pasien tampak lesu dan kurang bertenaga. Pasien mau mandi 2x sehari, gosok gigi, keramas 1 minggu sekali, dan kuku tampak bersih. 2) Pembicaraan Frekuensi bicara pelan, volume lembut, kadang pasien hanya terdiam. Pasien menjawab pertanyaan sesuai yang diajukan, verbal minimal. 3) Aktifitas Motorik Tingkat aktivitas lethargi, pasien tampak lesu dan tidak banyak beraktivitas lebih sering di tempat tidur, pasien tampak sering menyendiri, pasien kurang aktif dalam kegiatan ruangan. 4) Interaksi selama wawancara

Pasien kooperatif, ekspresi wajah terlihat murung, kontak mata ada tapi tidak tahan lama, pasien tampak gelisah, sedikit bingung. Jika tidak diajak berbicara pasien tidak mau bicara terlebih dahulu. Pasien kadang tampak berbicara sendiri dan ketakutan. b. Status Emosi 1) Alam Perasaan Pasien mengatakan merasa sedih dan merasa bersalah kepada orangtua saat berada di RSJ, Pasien mengatakan ingin menghilangkan halusinasinnya. Pasien ingin cepat pulang dan bekerja kembali membantu orangtuanya di rumah. 2) Afek Pasien mampu menjawab pertanyaan yang diajukan, kadang afek tumpul (hanya berinteraksi bila ada stimulus yang kuat), namun pasien mampu berinteraksi dengan orang lain. c. Persepsi Pasien mengatakan mendengar suara orang laki-laki yang mengatakan menyuruhnya untuk membunuh orangtuanya. Suara itu terdengar lirih biasanya muncul 3-4x sehari terutama pada saat sendirian selama 5 menit. Pada saat tidur suara tersebut tidak datang. Pasien mengatakan mengalami. Pasien juga mengatakan sering melihat bayangan dirinya beraksi dalam sebuah pembunuhan. Dirinya berpakaian hitam-hitam lalu memakai penutup wajah seperti penjahat yang sangat kejam. Bayangan itu muncul sehari 3 kali selama 2-3 menit saat pasien sedang sendirian dan di tempat yang sepi. Pasien mengatakan saat melihat bayangan itu merasa takut dan kadang merasa ingin marah. Saat ini pasien masih mengalami. d. Proses Pikir saat mendengar halusinasinya yaitu merasa takut dan kadang merasa ingin marah. Saat ini pasien masih

Saat diwawancarai, pasien kooperatif. Pasien dapat menjawab pertanyaan dengan baik, walau kadang hanya berupa jawaban pendek, tetapi tetap pada tujuan pembicaraan. e. Isi pikir Pasien mengatakan memiliki obsesi menjadi seorang pengusaha yang sukses dan mampu membahagiakan kedua orangtuanya dan kemudian dia bisa menikah dan memiliki keluarga yang bahagia. f. Tingkat kesadaran Tingkat kesadaran pasien cukup baik, pasien tidak mengalami disorientasi, baik waktu, tempat, dan orang dibuktikan dengan pasien mampu menjawab ketika ditanya sedang dimana dia sekarang pasien menjawab di ruang sena RSJD Surakarta, makan siang biasanya jam berapa yaitu jam setengah 12, namun ketika ditanya nama salah satu perawat di ruang sena pasien mengatakan tidak tahu karena pasien tidak pernah kenalan dengan perawat. g. Daya ingat (memory) Daya ingat pasien cukup baik, baik memori jangka panjang maupun jangka pendek dibuktikan dengan pasien dapat mengingat kegiatan yang dilakukan setelah bangun tidur tadi pagi yaitu mandi, tanggal kemerdekaan Indonesia yaitu 17 Agustus 1945, pekerjaan pasien seharihari yaitu penjual (menunggu warung di rumah), serta kegiatan yang dilakukan hari Selasa lalu yaitu terapi musik. h. Pengambilan keputusan dan penilaian Pasien dapat mengambil keputusan dan melakukan penilaian dengan cepat dan baik dibuktikan dengan ketika disuruh memilih antara makan dahulu atau mandi dahulu pasien memilih untuk mandi dahulu sebelum makan karena sebelum makan, badan harus sudah bersih dan segar. i. Tingkat konsentrasi dan berhitung Pasien mampu berkonsentrasi dengan baik dan selalu langsung menjawab pertanyaan yang diajukan. Kemampuan berhitung pasien

cukup baik, pasien dapat menjawab perkalian dan pembagian sederhana. j. Insight Pasien menyadari jika dirinya mengalami gangguan jiwa sehingga pasien menurut saat dibawa oleh keluarga ke RSJ. Pasien mengatakan menerima kondisinya dan ingin cepat sembuh. 8. Kebutuhan Persiapan Pulang a. Makan Pasien makan 3x sehari, pagi, siang, dan malam hari dengan porsi sesuai sajian dari RSJ. Pasien menghabiskan semua makanan yang disajikan. Pasien mampu makan secara mandiri tanpa bantuan orang lain. Setelah makan pasien mampu mencuci piring dan alat makan secara mandiri. b. BAB/BAK BAB dan BAK dapat dilakukan secara mandiri di kamar mandi/WC, setelah BAB/BAK klien mampu membersihkan kamar mandi/WC dan membersihkan diri. c. Mandi Pasien mengatakan mandi 2x sehari, pagi dan sore. Pasien mandi dengan menggunakan sabun, gosok gigi, dan keramas 1 minggu sekali. Pasien dapat mandi sendiri tanpa bantuan orang lain. d. Berpakaian/Berhias Pasien mampu berpakaian sendiri tanpa bantuan orang lain, berganti pakaian setiap selesai mandi pagi, dan menggunakan baju ruangan sesuai ketentuan RS. Penampilan pasien rapi dan bersih. e. Istirahat dan tidur Pasien mampu tidur sendiri tanpa bantuan dari perawat/orang lain. Pasien biasanya tidur siang 2 jam, malam hari pasien tidur dengan nyaman dan tenang kurang lebih 7-8 jam/hari dari jam 21.00-05.00. Sebelum tidur pasien berdoa terlebih dahulu.

10

f. Penggunaan obat Pasien dapat minum obat secara mandiri tanpa bantuan perawat dengan baik dan teratur. Pasien mendapat 2 jenis obat peroral, yaitu THP (Triheksipenidin) 3x2 mg, risperidon 3x2mg. pasien biasanya minum obat menggunakan air teh. g. Pemeliharaan kesehatan Pasien mengatakan ingin cepat pulang sehingga pasien minum obat dan makan secara teratur. Pasien dianjurkan untuk kontrol secara rutin jika obatnya sudah habis saat sudah pulang nanti. Jika kontrol biasanya pasien dengan ayahnya. h. Aktivitas di rumah dan di luar rumah Pasien mengatakan jarang mengerjakan sesuatu di luar rumah, kadang mencari kayu di lingkungan sekitar rumah dan pergi ke sawah. Pasien mampu berpergian secara mandiri, menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum. Pasien mengatakan mengerjakan pekerjaan rumah dengan rajin seperti : menyapu dan mencuci. Pasien biasanya menunggu warung (jualan) di rumahnya. 9. Mekanisme koping Bila memiliki masalah saat di rumah pasien biasanya menceritakan semua masalah kepada ayahnya. Saat di Rumah Sakit, pasien mengatakan jika mempunyai masalah hanya dipendam sendiri. Selain itu pasien juga berdoa kepada Allah agar diberi jalan dalam menyelesaikan masalah tersebut. 10. Masalah psikososial dan Lingkungan Keluarga pasien menerima keadaan pasien dan hubungan mereka baikbaik saja, keluarga pasien mengatakan pasien jarang keluar rumah. 11. Pengetahuan kurang tentang Pasien kurang mengetahui tentang penyakitnya dan obat-obatan yang diminum. Pasien mengatakan bila sudah pulang akan rajin kontrol dan minum obat secara teratur. 12. Aspek Medik a. Diagnosa Medik : F.20.0 (skizofrenia paranoid)

11

b. Terapi medik

: THP (Triheksipenidin) 3 x 2 mg Risperidol 3 x 2mg Clorphromazine 1x100 mg

Peroral

c. Riwayat Alergi Obat : Tidak ada B. Data Fokus 1. Data Subyektif Tanggal 20 November 2012 a. Pasien mengatakan merasa belum mampu untuk menjalankan peran sebagai anak karena pasien merasa jiwanya rapuh harus bolak-balik masuk rumah sakit . b. Pasien mengatakan mendengar suara orang laki-laki yang mengatakan menyuruhnya untuk membunuh orangtuanya. Suara itu terdengar lirih biasanya muncul 3-4x sehari terutama pada saat sendirian selama 5 menit. Pada saat tidur suara tersebut tidak datang. Pasien mengatakan saat mendengar halusinasinya yaitu merasa takut dan kadang merasa ingin marah. Saat ini pasien masih mengalaminya. c. Pasien mengatakan merasa sedih dan bersalah serta belum merasa puas karena ia belum bisa memberikan yang terbaik untuk orang tuannya. d. Keluarga pasien mengatakan pasien sering terlihat berbicara sendiri dan kadang tersenyum sendiri. Tanggal 22 November 2012 a. Pasien juga mengatakan sering melihat bayangan dirinya beraksi dalam sebuah pembunuhan. Dirinya berpakaian hitam-hitam lalu memakai penutup wajah seperti penjahat yang sangat kejam.. Bayangan itu muncul sehari 3 kali selama 2-3 menit saat pasien sedang sendirian dan di tempat yang sepi. Pasien mengatakan saat melihat bayangan itu merasa takut dan kadang merasa ingin marah.Saat ini pasien masih mengalami.

12

b. Selama di Rumah Sakit pasien jarang berkumpul dengan pasien lain dan lebih suka menyendiri. Pasien lebih sering tiduran di tempat tidurnya. c. Saat di Rumah Sakit, pasien mengatakan jika mempunyai masalah hanya dipendam sendiri. 2. Data Obyektif Tanggal 20 November 2012 a. Ekspresi wajah terlihat murung dan sedikit bingung. b. Pasien kadang tampak berbicara sendiri dan ketakutan. c. Kontak mata ada tapi tidak bertahan lama. d. Frekuensi bicara pelan, volume lembut, kadang pasien hanya terdiam. Pasien menjawab pertanyaan sesuai yang diajukan, verbal minimal. e. Pasien tampak gelisah. f. Pasien mampu menjawab pertanyaan yang diajukan, kadang afek tumpul (hanya berinteraksi bila ada stimulus yang kuat), namun pasien mampu berinteraksi dengan orang lain. Tanggal 21 November a. Tingkat aktivitas lethargi, pasien tampak lesu dan tidak banyak beraktivitas lebih sering di tempat tidur, kurang aktif dalam kegiatan ruangan. b. Pasien tampak sering menyendiri dan hanya tiduran di atas tempat tidur. c. Jika tidak diajak berbicara pasien tidak mau bicara terlebih dahulu. C. Analisa Data NO 1 DS : DATA FOKUS Masalah Keperawatan Persepsi : Halusinasi dan

Pasien mengatakan mendengar suara orang Gangguan laki-laki yang mengatakan menyuruhnya Sensori untuk membunuh orangtuanya. Suara itu Penglihatan terdengar lirih biasanya muncul 3-4x sehari Pendengaran

13

terutama pada saat sendirian selama 5 menit. Pada saat tidur suara tersebut tidak datang. Pasien mengatakan saat mendengar halusinasinya yaitu merasa takut dan kadang merasa ingin marah. Saat ini pasien masih mengalaminya. Pasien juga mengatakan sering melihat bayangan dirinya beraksi dalam sebuah pembunuhan. Dirinya berpakaian hitamhitam lalu memakai penutup wajah seperti penjahat yang sangat kejam. Bayangan itu muncul sehari 3 kali selama 2-3 menit saat pasien sedang sendirian dan di tempat yang sepi. Pasien mengatakan saat melihat bayangan itu merasa takut dan kadang merasa ingin marah. Saat ini pasien masih mengalami. Keluarga pasien mengatakan pasien sering terlihat berbicara sendiri dan kadang senyumsenyum sendiri. DO : Pasien kadang tampak berbicara sendiri dan ketakutan Ekspresi wajah terlihat murung dan sedikit bingung. 2 Pasien tampak gelisah DS : Gangguan Konsep Diri :

Pasien mengatakan belum merasa puas karena Harga Diri Rendah ia belum bisa memberikan yang terbaik untuk orang tuannya. Pasien mengatakan merasa belum mampu 14

untuk menjalankan peran sebagai anak karena pasien merasa jiwanya rapuh harus bolak-balik masuk rumah sakit . DO : Tingkat aktivitas lethargi dan lesu dan tidak banyak beraktivitas lebih sering di tempat tidur, kurang aktif dlam kegiatan ruangan. Pasien tampak sering menyendiri dan hanya tiduran di atas tempat tidur. Ekspresi wajah terlihat murung dan sedikit bingung Frekuensi bicara pelan, volume lembut, kadang pasien hanya terdiam. yang Pasien menjawab verbal pertanyaan minimal. Selama wawancara kontak mata ada tetapi tidak bertahan lama, Klien tidak begitu aktif dalam kegiatan ruangan Jika tidak diajak berbicara pasien tidak mau bicara terlebih dahulu. Pasien mampu menjawab pertanyaan yang diajukan, kadang afek tumpul (hanya berinteraksi bila ada stimulus yang kuat), namun pasien mampu berinteraksi dengan 3 orang lain. DS : Selama di Rumah Sakit pasien Isolasi Sosial : Menarik jarang Diri sesuai diajukan,

berkumpul dengan pasien lain dan lebih suka menyendiri. Pasien lebih sering tiduran di tempat tidurnya. Saat di Rumah Sakit, pasien mengatakan jika 15

mempunyai masalah hanya dipendam sendiri. DO : Ekspresi pasien sedih dan murung Selama wawancara kontak mata ada tetapi tidak bertahan lama, Klien tidak begitu aktif dalam kegiatan ruangan Pasien tampak sering menyendiri dan hanya 4 tiduran di atas tempat tidur. DS: Pasien mengatakan saat Resiko mendengar kekerasan perilaku

halusinasinya yaitu merasa takut dan kadang merasa ingin marah. Pasien mengatakan saat melihat bayangan itu merasa takut dan kadang merasa ingin marah. DO: Ekspresi wajah terlihat murung dan sedikit bingung. Pasien kadang tampak berbicara sendiri dan ketakutan.

D. Pohon Masalah Resiko perilaku kekerasan Gangguan persepsi sensori : halusinasi Isolasi Sosial : menarik Diri Gangguan konsep diri : harga diri rendah E. Diagnosa Keperawatan (akibat) (core problem) (penyebab) (penyebab)

16

1. Ganggunan persepsi sensori : halusinasi pendengaran 2. Isolasi Sosial : menarik diri 3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah 4. Resiko Perilaku Kekerasan F. Intervensi Keperawatan No 1. Diagnosa Keperawatan Gangguan persepsi sensori halusinasi penglihatan dan pendengaran TUK 1 : Pasien dapat membina hubungan saling percaya TUK 2 : Pasien waktu, dapat mengenali (isi, jenis, situasi halusinasinya Tujuan TUM : Pasien dapat mengontrol : halusinasi yang dialami SP 1 a. Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi terapeutik b. Identifikasi isi, jenis, waktu, frekuensi, situasi kondisi yang menimbulkan suara, serta perasaan dan Pasien mengatakan terhadap halusinasi c. Ajarkan pada pasien cara mengontrol halusinasi dengan menghardik d. Anjurkan e. Anjurkan pasien pasien untuk menghardik cara secara mandiri memasukkan menghardik ke dalam jadwal harian Perencanaan Intervensi

frekuensi,

kondisi yang menimbulkan suara, serta perasaan dan

Pasien mengatakan terhadap SP 2 halusinasi TUK 3 : Pasien dapat mengontrol halusinasinya TUK 4 : Pasien mendapat dukungan a. Validasi isi, waktu, frekuensi, situasi kondisi yang menimbulkan suara, serta perasaan dan Pasien mengatakan terhadap halusinasi b. Evaluasi jadwal harian pasien c. Latih pasien cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain

17

dari

keluarga

dalam

d. Anjurkan

pasien

memasukkan

cara

mengontrol halusinasinya

bercakap-cakap ke dalam jadwal harian

TUK 5 : obat dengan baik

SP 3 cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap b. Evaluasi jadwal harian pasien c. Latih pasien mengontrol halusinasi dengan cara melakukan aktivitas d. Anjurkan pasien memasukkan kegiatan melakukan aktivitas ke dalam jadwal harian SP 4 a. Validasi cara mengontrol halusinasi dengan melakukan aktivitas b. Evaluasi jadwal harian pasien c. Latih d. Beri pasien mengontrol kesehatan halusinasi tentang dengan cara minum obat secara teratur pendidikan penggunaan obat secara benar e. Anjurkan pasien memasukkan kegiatan minum obat ke dalam jadwal harian SP 1 K a. Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi terapeutik b. Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien c. Jelaskan pengertian, tanda gejala, jenis,

Pasien dapat memanfaatkan a. Validasi

18

serta proses terjadinya halusinasi d. Jelaskan cara merawat pasien dengan halusinasi SP 2 K a. Latih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan halusinasi b. Latih keluarga mempraktekkan langsung kepada pasien dengan halusinasi SP 3 K a. Bantu keluarga membuat jadwal aktivitas pasien saat di rumah b. Jelaskan tentang follow up pasien setelah 2 Isolasi sosial Menarik diri TUM : : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain TUK : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat 2. Klien mengidentifikasi penyebab menarik diri 3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berinteraksi SP 2 a. Validasi cara berkenalan b. Evaluasi jadwal harian klien dan kerugian menarik diri 4. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial dapat pulang SP 1 a. Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi terapeutik b. Identifikasi penyebab menarik diri c. Beri kesempatan klien perasaan untuk tentang mengungkapkan

manfaat berhubungan dengan orang lain dan kerugian menarik diri d. Ajari klien untuk berinteraksi dengan orang lain e. Anjurkan klien memasukkan kegiatan berkenalan dalam jadwal kegiatan harian

19

5. Klien mengungkapkan perasaannya berhubungan orang lain

dapat bila dengan

c. Ajari klien berkenalan dengan orang lain (Plain dan Klain) d. Anjurkan klien memasukkan kegiatan berkenalan dalam jadwal harian SP 3 a. Validasi cara berkenalan yang ke-2 b. Evaluasi jadwal kegiatan harian klien c. Ajari klien cara berkenalan dengan 2 orang (K-2Plain) (K-2Klain) d. Anjurkan klien memasukkan kegiatan berkenalan dalam jadwal harian SP 1 K a. Bina hubungan saling percaya dengan komunikasi terapeutik b. Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien c. Jelaskan tentang pengertian, tanda dan gejala, serta proses terjadinya menarik diri d. Jelaskan cara merawat klien dengan menarik diri SP 2 K a. Latih keluarga mempraktekkan cara merawat klien dengan menarik diri b. Latih keluarga melakukan cara merawat klien dengan menarik diri secara langsung SP 3 K

6. Klien mampu mendapat dukungan dari keluarga

20

a. Bantu keluarga membuat jadwal kegiatan harian selama di rumah termasuk jadwal minum obat (discharge planning) b. Jelaskan follow up klien setelah pulang

21