Anda di halaman 1dari 11

SEJARAH DAN FILOSOFI TAKBIR KELILING TIGA MENJADI SATU

DESA LORAM WETAN KECAMATAN JATI KABUPATEN KUDUS

PENDAHULUAN Brand atau lebih dikenal dengan merek, identitas, cirri khas menjadi sangat penting dalam membuat sebuah produk atau suatu tempat agar terus berada di ingatan masyarakat. Kita akan sering mendengar kata tersebut dalam dunia pemasaran suatu produk misalnya kita bisa mengetahui bahwa bolpoint pilot adalah merek sebuah bolpoint anti macet, karena sejak dulu kita diberi pengertian bahwa bolpoint anti macet adalah pilot sehingga sampai sekarang mungkin bila ada orang yang menyebut bahwa pilot itu adalah merek sepatu kita pasti akan protes tentang hal itu, meskipun itu ada kemungkinan benarnya. Masyarakat Kudus pada umumnya jika mendengar nama desa Loram (wetan dan kulon) maka akan muncul jawaban bahwa desa ini dikenal sebagai desa yang banyak home industry, bisa buat apa saja, kreatif dan seterusnya. Padahal dibelahan dunia yang lain Loram dikenal sebagai pabrik pembuat dan perawatan kereta api di Amerika utara. Sebagai bukti bahwa Loram sebagai Jepangnya Kudus tentu tidak hanya sekedar cerita turun temurun tapi harus

dibenarkan dengan bukti nyata, maka perlu dibuatkan merek yang bisa melekat dimasyarakat, belajar dari desa Loram kulon Tradisi Ampyang yang sekarang menjadi event tahunan di Kudus, Loram wetan mencoba membuat jatidiri desa

dengan

menyelenggarakan event serupa tetapi tidak sama dan pilihan event tersebut adalah Takbir keliling.

SEJARAH Ketika masa kecil saya dulu (sekitar tahun 1993/1994), malam takbir sangat dinantikan oleh anak anak diwaktu itu karena akan ada yang namanya takbir keliling, masih terpatri dalam catatan kehidupan saya bagaimana kepuasan berjalan kaki melewati setiap sudut desa Loram dengan membawa obor dari bambu, meskipun jauh rasanya masih kurang jauh dan malam yang makin larut pun dilewati tanpa terasa. Seiring perkembangan zaman ketika masa remaja takbir keliling tidaklah seperti masa kecil dulu, waktu itu malam takbir berkeliling desa menggunakan mobil, apalagi kalau mau jalan sebentar ikut mobil dari Masjid Al Falah dijamin setelah mubeng desa diajak mubeng ke alun-alun kota Kudus dan berhenti di halaman parkir GOR Kudus untuk menghidupkan petasan berukuran besar, sebuah pengalaman yang luar biasa waktu itu.

Tahun 1428 H / 2007 M menjadi kebangkitan awal kegiatan takbir keliling di Loram wetan setelah beberapa tahun sebelumnya tidak ada yang mengkoordinir kegiatan tersebut, berawal dari desakan dari beberapa masyarakat yang dahulunya sebagai pelaku sejarah penyelenggaraan takbir keliling se desa Loram wetan ini meminta Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mengkoordinir kegiatan tersebut. Pada periode rekan Noor Khoiri dan Rekanita Faristina ini akhirnya dibentuk panitia dengan mengundang perwakilan dari Masjid/Musholla se desa Loram wetan sepakat menunjuk rekan Moh. Taufiqurrohman (ketua IPNU sebelum rekan Khori) sebagai ketua panitia. Bekal pernah menjadi sekretaris dan kemudian ketua IPNU Loram wetan, maka panitia pun dibentuk dengan merangkul perwakilan dari Masjid/Musholla se desa Loram wetan, dalam catatan saya dibutuhkan beberapa kali rapat untuk bisa menentukan konsep pelaksanaan takbir keliling tersebut, banyak muncul kekhawatiran ketika takbir keliling dilaksanakan dengan memakai mobil, karena pernah ada kejadian ada anak yang jatuh dari truk dan mengalami cedera tangan menjadi masukan yang menjadi gambaran awal kegiatan takbir keliling waktu itu. Dan pasca rapat di Musholla yang baru diresmikan (Musholla Fatimatuzzahro) akhirnya gambaran umum pelaksanaan takbir keliling akhirnya bisa terpecahkan.

Pemecah permasalan tersebut adalah konsep dengan merangkum masukan dari beberapa perwakilan masjid/musholla yang menghendaki takbir keliling dilaksanakan jalan kaki dengan pertimbangan keamanan, Takbir keliling dengan melewati seluruh desa Loram wetan, serta mempertimbangkan kondisi anak-anak ketika takbir keliling melewati seluruh desa Loram wetan dan visi memunculkan kreatifitas warga desa Loram wetan maka konsep menjadikan Lapangan Kongsi sebagai tempat finish kegiatan takbir keliling ini pun dipakai untuk pertama kalinya. Kekompakan, Kerapian dan Kreatifitas/Keindahan hasil kolaborasi konsep takbir keliling dari desa Megawon, Jepang Pakis, dan Getas pejaten dijadikan rujukan untuk menyemarakkan kegiatan tersebut. Dengan misi menumbuhkembangkan kebersamaan antara yang dewasa dengan yang kecil serta persatuan masyarakat dalam sebuah kegiatan bersama, maka untuk mempermudah kinerja panitia serta penyesuaian dengan konsep maka

dibentuklah tiga Koordinator meliputi wilayah satu bagian utara (rekan H. Zaenal Afroni) wilayah dua bagian tengah (rekan Fatchul Umam) dan wilayah tiga bagian selatan (rekan Sumani) dan dibantu dari pengurus Antusiasme IPNU dan IPPNU sesuai dengan dalam

wilayahnya.

warga

Masjid/Musholla

menyambut kegiatan ini sangatlah tinggi apalagi dalam konsep baru nanti akan dibagikan banyak doorprize hasil karya dari para pengusaha yang ada di Loram wetan, satu musholla yang paling

semangat bertanya tentang gambaran umum takbir keliling waktu itu adalah musholla Muawanatul Muslimin (langgar kencur ) yang rajin meng update perkembangan mushollanya dalam mengikuti takbir keliling dan senantiasa menanyakan secara detail tata tertib atau ketentuan yang belum jelas kepada panitia (ini yang sepertinya jarang dilakukan peserta lainnya) Pasca kegiatan takbir keliling tepatnya hari Ahad tanggal 10 syawwal 1428 H / 21 Oktober 2007 pemerintah desa

menyelenggarakan halal bi halal sekaligus penyerahan piala bagi peserta terbaik yang pada saat hari pelaksanaan belum bisa disampaikan karena factor cuaca. Dalam sambutannya bapak Asmani selaku Kepala desa Loram wetan mengapresiasi upaya dari penyelenggara takbir keliling serta diminta untuk bisa mengadakan kegiatan tersebut setiap tahunnya sebagai agenda rutin kegiatan di desa Loram wetan dan beliaupun menjanjikan pada tahun berikutnya pemerintah desa akan membantu

menyediakan hadiah untuk kegiatan tersebut. Beberapa hari setelah kegiatan dibalai desa Loram wetan tersebut (Rabu, 24 Oktober 2013) panitia takbir beserta kelompok pemuda sedesa Loram wetan diundang untuk mendirikan kembali Karang Taruna desa Loram wetan yang sudah lama tidak aktif lagi sejak tahun 90an dan akhirnya terpilihlah ketua rekan Moh. Taufiqurrohman.

FILOSOFI KONSEP TAKBIR KELILING Konsep pemberangkatan dari tiga tempat berbeda dengan tempat finis dilapangan yang dipakai dalam takbir keliling di desa Loram wetan, sebenarnya tidak hanya hasil harmonisasi masukan dan ide seperti yang sampaikan diatas tadi, tapi setidaknya ada dua hal yang menjadi filosofi kegiatan tersebut. Pertama, konsep tiga menjadi satu ini merupakan gambaran besok ketika kita berada di padang mahsyar dimana kita datang dari berbagai penjuru arah dengan membawa bendera (baca : golongan) kita masing-masing, golongan kecil (Masjid/Musholla) bergabung dengan golongan besar (lokasi start) kemudian berjalan bersama menuju lapangan dan ketika sampai dilapangan kongsi dimana kita mendengarkan dan mendapatkan doorprize yang ditentukan dengan mengundi nomor kupon, dan

pengumuman peserta terbaik takbir keliling (rekapitulasi nilai Kekompakan, Kreatifitas/Keindahan dan Kerapian) dengan

simbolisasi diberi piala mempunyai makna sebagai penentuan sesuai amal perbuatan kita (yaumul hisab). Kedua, konsep tiga menjadi satu ini mempunyai makna Bhineka tunggal ika, sebuah kata yang tentunya tidak asing bagi kita, karena inilah semboyan yang tertulis pada lambang Negara Indonesia yakni Garuda Pancasila. Berbeda-beda tapi tetap satu tujuan, berbeda beda barisan, berbeda beda replika, dan

berbeda tempat start tetapi satu tujuan yaitu ke lapangan kongsi, yaitu kesemarakan malam takbir, yaitu kekompakan dan

kebersamaan warga desa Loram wetan.

EVALUASI DAN REKOMENDASI Dengan konsep tersebut diharapkan bisa menjadi brand (merek) bagi desa Loram wetan sehingga mengundang daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas untuk mengunjungi desa Loram wetan setiap malam takbir, dan Alhamdulillah tahun 2013 ini sudah memasuki generasi ke tujuh, adapun ketua panitia dari generasi ke generasi adalah 1. 1428 H / 2007 M Moh Taufiqurrohman (Musholla Tanwirul Afkar) 2. 1429 H / 2008 M Muttaqin (Musholla Tanwirul Afkar) 3. 1430 H / 2009 M Noor Khoiri (Musholla Fatimatuzzahro) 4. 1431 H / 2010 M Khoirul Anam (Musholla Al Ikhlas) 5. 1432 H / 2011 M Edi Purwanto (Musholla Tanwirrul Afkar) 6. 1433 H / 2012 M M. Amrun Najib (Musholla Al Ikhlas) 7. 1434 H / 2013 M M. Yazid Al Busthomi (Masjid Jami Darussalam)

Dalam tujuh tahun pelaksanaan tersebut tentu ada kekurangan dalam penyelenggaraan yang perlu dievaluasi ada tiga hal yang perlu dilakukan pada penyelenggaraan tahun tahun yang akan datang Pertama, kegiatan takbir keliling yang dilaksanakan di desa Loram wetan selama ini perlu diketahui sejarah dan filosofi penyelenggaraannya, tahunnya pihak belajar tidak dari penyelenggaraan nomor setiap

yang

mendapat

senantiasa

memunculkan bermacam alasan yang justru akan mengurangi semangat para generasi penerus kita untuk melanjutkan kiprah para pendahulunya. Banyak yang protes tapi tidak menjelaskan secara jelas bentuk protesnya, hanya menjadi pelopor bagi kemunduran bukan pelopor kemajuan (tidak member solusi). Kedua, dalam kepanitiaan perlu ada perpaduan antara pengurus IPNU dan IPPNU dengan utusan Masjid/Musholla se desa Loram wetan, sehingga tumbuh rasa memiliki serta kebersamaan dalam proses belajar utusan Masjid/Musholla di IPNU dan IPPNU. Ketiga, Setiap tahun pemerintah desa Loram wetan mengalokasikan anggaran untuk takbir keliling yang merupakan dukungan kongkrit yang bisa kita balas dengan mensukseskan setiap penyelenggaraannya semeriah mungkin dengan

bekerjasama dengan Pengurus Masjid/Musholla, PR GP Ansor, Karang Taruna, Kelompok Pemuda lainnya.

Jangan anda semua terjebak dengan kata meriah dan mengartikan meriah itu harus mewah tentu jelas pendapat itu salah, upaya panitia memanfaatkan barang bekas seharusnya bisa kita maksimalkan seefektif mungkin sehingga akan tercipta Keindahan/Kreatifitas yang orisinil (asli buatan sendiri)

sederhana tetapi terlihat luar biasa, berlatih Kekompakan tim dan Kerapian peserta takbir dan yang sepertinya kurang diperhatikan adalah perlunya membaca tata tertib yang dikeluarkan panitia, bertanya jika kurang jelas ketika ada yang dirasa janggal komunikasikan dengan panitia. Beberapa hal tersebut diatas perlu adanya saling

pengertian antara kedua belah pihak, mengingat panitia tentu mempunyai banyak kekurangan. Jika kita tidak terlibat dalam perencanaan sukses kita maka, ketika hasilnya tidak sesuai harapan hanya akan menimbulkan keputus asaan. Sebagai orang yang pernah menjadi ketua panitia pada awal penyelenggaraan takbir keliling ini saya berterima kasih kepada : 1. Sahabat - sahabat saya yang bersedia berbagi konsep penyelenggaraan takbir keliling di desanya almarhum M. Julianto (Ketua IPNU Megawon) Allahummaghfirlahu warhamhu wafuanhu, rekan Irwan Setya Budi (Ketua IPNU Jepang Pakis) dan Aziz Muslim (Ketua IPNU Getas Pejaten)

2. Sahabat sahabat dari perwakilan Masjid/Musholla se Loram wetan rekan M. SyafiI (Musholla Mubarok) rekan H. Zaenal Afroni (Masjid Jami Al Falah) rekan Fatchul Umam (Musholla Al Ikhlas) rekan Riyan dan kawan-kawan (Musholla Nurul Islam) rekan Sumani (Musholla Al Hikmah) Mama Etik (Musholla Muawanatul Muslimin) bapak Barkah (Masjid Jami Darussalam) Pimpinan Ranting IPNU dan IPPNU Loram wetan periode rekan Noor Khoiri (Rt.1 Rw.6) rekanita Faristina (Rt.1 Rw.4) beserta rekan-rekanita yang lainnya. Selamat Hari raya Idul Fitri 1434 H minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin, semoga kesuksesan senantiasa menyertai kita semua. Amin. Penulis Ibnu Abdul Wahid Ketua Panitia Takbir Keliling tahun 1428 H/2007 M