Anda di halaman 1dari 4

C. Proses Keperawatan Keluarga Dengan Balita 1. Pengkajian a.

Pengkajian pada keluarga : Identitas : nama KK, alamat, pekerjaan Riwayat dan tahap perkembangan Lingkungan : rumah, lingkungan, sistem sosial Struktur keluarga : komunikasi, peran anggota Fungsi Keluarga Penyebab masalah keluarga dan koping Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga b. Pengkajian pada balita : Identitas anak Riwayat kehamilan, persalinan Riwayat kesehatan bayi

Pertumbuhan dan perkembangan Pemeriksaan fisik Berapa lama waktu bersama orangtua Siapa pengasuh anak

Untuk mengetahui seorang anak menderita gizi buruk perlu dihitung status gizinya. Penilaian status gizi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Penilaian status gizi secara langsung antara lain dengan antropometri, biokimia, klinik, biofisik. Penilaian status gizi secara tidak langsung dilakukan dengan survei konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi. Pengukuran yang sering digunakan adalah pengukuran dengan antropometri. Secara umum antropo-metri berarti ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, makaantropometri gizi berhubungan dengan berbagai pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa, dkk, 2001). Berat badan merupakan antropo-metri yang paling banyak digunakan karena parameter ini mudah dimengerti sekalipun oleh mereka yang buta huruf (Arisman, 2004). Standar baku yang dianjurkan untuk menilai status gizi anak di bawah lima tahun di Indonesia adalah baku World Health Organization-National Centre for Health Statistic (WHO-NCHS). Indeks antropometri yang sering digunakan untuk mendeteksi gizi buruk adalah berat badan menurut umur (BB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dengan ambang batas memakai standar deviasi unit (SD) yang disebut ZSkor dan dibandingkan dengan Klasifikasi Status Gizi Anak (tabel 2). Untuk menghitung status gizi diperlukan tabel baku rujukan WHO-NCHS. Cara perhitungan status gizi berdasarkan Z-Skor sebagai berikut : Z-Skor = Nilai individu subyek - Nilai median Baku Rujukan Nilai Simpang Baku Rujukan Tabel 2. Klasifikasi Status Gizi Anak (Balita) Indeks Status Gizi Ambang Batas >+ 2 SD - 2 SD Sampai + 2 SD < -2 SD Sampai -3 SD < -3 SD -2 SD < -2 SD > + 2 SD + 2 SD Sampai - 2 SD Berat badan menurut umur Gizi lebih (BB/U) Gizi baik Gizi kurang Gizi buruk Tinggi badan umur (TB/U) menurut Normal Pendek (Stunted)

Berat badan menurut Gemuk tinggi badan (BB/TB) Normal

Kurus (Wasted) < -2 SD Sampai -3 SD Kurus sekali < -3 SD Sumber : Keputusan Menkes RI No. 920/Menkes/SK/VII/2002 Contoh: Anak berjenis kelamin laki-laki, umur 35 bulan dengan Berat Badan 15,2 kg. Untuk menghitung status gizi anak perlu tabel berat badan (kg) anak laki-laki usia 35 bulan berdasarkan baku rujukan WHO-NCHS Tabel 3. Berat Badan(kg) anak laki-laki usia 35 bulan Berdasarkan Baku rujukan WHO-NCHS Usia bln 35 -3SD 9,9 -2SD 11,4 Standar Deviasi -1SD Median 13,0 14,5 1SD 16,0 +2SD 17,4 +3SD 18,9

Sumber: Supariasa, dkk (2002)

Menurut klasifikasi status gizi anak berdasar indeks BB/U (Tabel 2), status gizi anak masuk dalam kategori baik karena masih dalam rentang 2 SD s/d + 2SD.
mur BB standar 80% standar TB standar 80 % standar Lahir 3.4 2.7 50.5 40.5 0 - 1 Bulan 4.3 3.4 55 43.5 2 Bulan 5 4 58 46 3 Bulan 5.7 4.5 60 48 4 Bulan 6.3 5 62.5 49.5 5 Bulan 6.9 5.5 64.5 51 6 Bulan 7.4 5.9 66 52.5 7 Bulan 8 6.3 67.5 54 8 Bulan 8.4 6 69 55.5 9 Bulan 8.9 7.1 70.5 56.5 10 Bulan 9.3 7.4 72 57.5 11 Bulan 9.6 7.7 73.5 58.5 12 Bulan 9.9 7.9 74.5 60 1 tahun 3 Bulan 10.6 8.5 78 62.5 6 Bulan 11.3 9 81.5 65 9 Bulan 11.9 9.6 84.5 67.5 2 tahun 0 Bulan 12.4 9.9 87 69.5 3 Bulan 12.9 10.5 89.5 71.5 6 Bulan 13.5 10.8 92 73.5 9 Bulan 14 11.2 94 75 3 tahun 0 Bulan 14.5 11.6 96 77 3 Bulan 15 12 98 78.5 6 Bulan 13.5 12.4 99.5 79.5 9 Bulan 16 12.9 101.5 81.5 4 tahun 0 Bulan 16.5 13.2 103.5 82.5 3 Bulan 17 13.6 105 6 Bulan 17.4 14 107 85.5 9 Bulan 17.9 14.4 108 86.5 5 tahun 0 Bulan 18.4 14.7 109 87

. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL a. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. Resiko Cidera c. Resiko Trauma d. Resiko Keracunan e. Resiko Infeksi f. Gangguan Penanganan Pemeliharaan Rumah / Penatalaksanaan Rumah g. Gangguan Pemenuhan Nutrisi h. Perubahan Menjadi Orang Tua i. Perubahan / Gangguan Tumbuh Kembang j. Gangguan Komunikasi Verbal k. Gangguan Proses Keluarga l. Isolasi Sosial