Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA

GERAK REFLEKS

DISUSUN OLEH:

1. Rizki Fauziah (3415110139) 2. Septiana Anggraini D.A (3415110311) 3. Vania Zulfa (3415111366) 4. Disa Natasia Wahyuni Putri (3415111392) 5. M. Nicova Kresnada (3415111368)

PENDIDIKAN BIOLOGI REGULER 2011 JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2013

GERAK REFLEKS A. TUJUAN 1. Mengetahui tempat-tempat pengukuran refleks tendon 2. Mengetahui cara pengukuran refleks tendon 3. Melakukan pemeriksaan refleks tendon 4. Mengetahui gerak refleks yang timbul. B. TINJAUAN TEORI Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan penghantar impuls oleh saraf. Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun ada pula gerak yang terjadi tanpa di sadari yaitu gerak refleks. Prinsip kegiatan system saraf ditampilkan dalam bentuk kegiatan gerak refleks. Dengan adanya gerak refleks dimungkinkan terjadinya kerja yang baik dan tepat antara berbagai organ dari individu dan hubungan individu dengan sekelilingnya. Refleks merupakan reaksi organisme terhadap perubahan lingkungan baik di dalam maupun di luar organisme. (Syaifuddin, 2006). Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh sel saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak, langsung dikirim tasnggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas ini disebut lengkung refleks. Lengkung refleks ini terdiri dari alat indra, serat saraf aferen satu atau lebih sinaps yang terdapat di susunan saraf pusat atau di ganglion simpatios saraf eferent dan efektor. (Kucera dkk., 2008 dalam Anonim, 2009). Unit dasar setiap kegiatan reflex terpadu adalah lengkung reflex. Lengkung refleks sendiri mempunyai satu sinaps antara neuron aferen dan eferen. Lengkung refleks semacam itu dinamakan monosinaptik dan refleks yang terjadi disebut reflex monosinaptik. Lengkung refleks mempunyai lebih dari satu interneuron antara neuron aferen dan eferen dinamakan polisinaptik dan jumlah sinapnya antara dua sampai bebeapa ratus. Pada kedua jenis lengkung refleks, terutama pada lengkung refleks polisinaptik, kegiatan refleksnya dapat dimodifikasi oleh adanya fasilitas spasial dan temporal, oklusi, efek penggiatan bawah ambang ( Subliminal fringe ) dan oleh berbagai efek lain (Sherwood, 2001) Gerak refleks merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh dan terjadi jauh lebih cepat dari gerak sadar, misalnya menutup mata pada saat terkena debu, menarik kembali tangan dari benda panas yang menyakitkan yang tersentuh tanpa sengaja. Gerak

refleks dapat dihambat oleh kemauan sadar, misalnya bukan saja tidak menarik tangan dari benda panas bahkan dengan sengaja menyentuh permukaan benda panas itu. ( Pearce, 2009). Mekanisme gerak refleks merupakan suatu gerakan yang terjadi secara tiba-tiba diluar kesadaran kita. Refleks fleksor, penarikan kembali tangan secara refleks dari rangsangan yang berbahaya, merupakan suatu reaksi perlindungan. Refleks ekstensor (polisinaps), rangsangan dari reseptor perifer yang dimuali dari fleksi pada anggota badan yang juga berkaitan dengan ekstensi anggota badan. (Syaifuddin, 2009). Menurut (Fitriani,2004) Jenis refleks dikelompokkan berdasarkan : 1. Letak reseptor 2. Refleks eksteroseptif, yaitu rangsangan yang timbul karena rangsangan pada reseptor di permukaan tubuh Refleks interoseptif/viseroseptif, yaitu rangsangan yang timbul karena rangsangan pada alat dalam atau pembuluh darah Refleks propioseptif, yaitu rangsangan yang timbul karena rangsangan pada reseptor di otot rangka, tendon dan sendi (refleks sikap badan) Bagian saraf pusat yang terlibat Refleks spinal, melibatkan neuron di medulla spinalis, contoh : withdrawal refleks Refleks bulbar, melibatkan neuron di medulla oblongata Refleks kortikal, melibatkan neuron di korteks serebri

3. Ciri jawaban Refleks motor, efektornya otot dengan jawaban berupa kontraksi atau relaksasi otot Refleks sekretorik, efektornya kelenjar dengan jawaban berupa peningkatan atau penurunan sekresi kelenjar Refleks vasomotor, efektornya pembuluh pembuluh darah berupa vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) atau vasokontriksi (penyempitan pembuluh darah) 4. Bawaan sejak lahir dan didapat Refleks tak bersyarat (unconditioned reflex), refleks yang dibawa sejak lahir, contoh : refleks menghisap pada bayi Refleks bersyarat (conditioned reflex), refleks yang didapat selama pertumbuhan dan biasanya berdasarkan pengalaman hidup, contoh : keluar air liur ketika melihat makanan yang lezat

5. Jumlah neuron yang terlibat Refleks monosinaps, lengkung refleks paling sederhana, melalui satu sinaps (hanya melalui 2 neuron, satu neuron afferen dan satu neuron efferen yang langsung berhubungan dengan di saraf pusat). Contoh : stretch reflex Refleks polisinaps, melalui beberapa sinaps, terdapat beberapa interneuron yang menghubungkan afferen dan efferen. Kecuali refleks regang, semua refleks melalui lebih dari satu sinaps. Jika sebuah otot utuh diregangkan secara pasif maka serat-serat intrafusal gelendong ototnya juga teregang sehingga terjadi peningkatan frekuensi lepas muatan diserat saraf aferen yang ujung-ujung sensoriknya berakhir diserat gelendong yang teregang. Neuron aferen secara langsung bersinaps dengan neuron motorik alfa yang menyarafi serat ekstrafusal otot yang sama sehingga terjadi kontraksi otot tersebut. Reflex regang ini berfungsi sebagai mekanisme umpan balik negative local untutk menahan setiap perubahan pasif pada panjang otot sehingga panjang istirahat yang optimal dapat dipertahankan. (Sheerwood, 2001) Contoh klasik refleks regang adalah refleks tendon patella, atau knee-jerk reflex. Otot ekstensor lutut adalah kuadriseps femoris, yang membentuk bagian anterior (depan) paha dan melekat tepat di bawah lutut ke tibia (tulang kering) melalui tendon patella. Ketukan pada tendon ini dengan palu karet akan secara pasif meregangkan otot kuadriseps, mengaktifkan reseptor-reseptor gelendongnya. Refleks regang yang terpicu menimbulkan kontraksi otot ekstensor ini sehingga lutut menjadi lurus dan tungkai bawah terangkat. (Sheerwood, 2001)

Tujuan utama reflex regang adalah menahan kecenderungan peregangan pasif otototot ekstensor yang ditimbulkan oleh gaya gravitasi ketika seseorang berdiri tegak. Setiap kali sendi lutut cenderung melengkung akibat gravitasi, otot-otot kuadriseps teregang. Kontraksi yang terjadi pada otot ekstensor ini akibat reflex regang dengan cepat meluruskan lutut, menahan tungkai tetap terkstensi, sehingga orang yang bersangkutan tetap berdiri tegak. Gerak refleks dapat digunakan pada pemeriksaan neurologi untuk mengetahui kerusakan atau pemfungsian dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Keadaan sirkuit refleks dapat sangat bervariasi tergantung pada kondisi seseorang (misalnya terjaga, tidur, koma), pada apa yang dilakukan (misalnya berjalan, berlari, berpikir), pada posisinya dalam ruang dan postur, dan atas faktor lainnya. Informasi-informasi ini berguna bagi dunia farmasi dan kedokteran (Evelyn, 2006). C. METODOLOGI 1. Alat dan Bahan Palu / Hammer 2. Cara Kerja a. Refleks Biseps 1) Membuka lengan baju sampai di atas saku 2) Pemeriksa menyangga tangan OP hingga posisi fleksi 90 3) Mencari tendon bisep dengan cara meraba bagian distal otot biseps. Jika antebranchi fleksi maksimal maka tendon teraba bergerak 4) Memukul dengan palu refleks pada bagian tendon tersebut 5) Bila terdapat gerakan halus pada tendon otot sampai dengan gerakan fleksi pada antebranchi maka dikatakan refleks biseps positif (+) b. Refleks triseps (C7, C8 Radial nerve) 1) Membuka lengan baju sampai di atas siku 2) Pemeriksa menyangga tangan OP hingga posisi adduksi 3) Mencari tendon otot branchii triseps dengan cara meraba bagian distal otot branchii triseps. Jika antebranchii adduksi maksimal maka tendon teraba bergerak 4) Memukul dengan palu refleks pada bagian tendon tersebut 5) Bila terdapat gerakan halus pada tendon otot sampai dengan gerakan adduksi pada antebranchii maka refleks triseps dikatakan positif (+) c. Refleks patellar /knee-jerk refleks (L3, L4 femoral nerve) 1) OP duduk dengan posisi kaki menggantung 2) Meraba bagian distal lutut untuk untun mencari tendon patella

3) Memukul dengan palu refleks pada bagian tendon tersebut 4) Bila tedapat gerakan eksistensi cruris maka dikatakan refleks patela positif (+) d. Refleks Achilles (S1, S2 sciatic nerve) 1) OP duduk dengan posisi kaki sejajar dengan lantai 2) Melakukan dorso fleksi pada plantar pedis. Meraba tendon achilles 3) Memukul denngan palu refleks pada bagian tendon tersebut 4) Bila terdapat gerakan dorso fleksi maka dikatakan refleks achilles (+) D. HASIL PENGAMATAN No. Nama 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Rita Ria Qori Ana Azizah Nurul Amalia Indriya Lisa Respon Refleks Biseps Triseps Flexor (+3) Flexor(1) Flexor (+2) Flexor (+1) Flexor (+2) Flexor (+2) Flexor (2) Flexor (2) Flexor (+1) Flexor (+2) Flexor (+2) - (0) Flexor (+2) Flexor (+1) Flexor (+1) Flexor (+1) Patella Ekstensor (3) Ekstensor (+3) Ekstensor (+2) Ekstensor (+2) Ekstensor (+2) Ekstensor (+2) Ekstensor (+2) Ekstensor (+3) Achilles Dorso (+3) Plantar (-3) Dorso (+3) Dorso (-1) Plantar (-1) Dorso (+1) - (0) - (0)

E. PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini, kami melakukan pengamatan terhadap gerak reflex pada tendon biseps, triseps, patellar, dan achilles. Keempat tendon ini diberi perlakuan yang sama, yakni tendon dipukul dengan menggunakan palu. Pemukulan ini dilakukan untuk memberikan impuls kepada reseptor yang berada di tendon. Tendon yang merupakan jaringan yang menghubungkan otot dengan tulang dan diselubungi oleh reseptor reseptor sensorik sehingga ketika ada suatu rangsang, otot akan berkontraksi kemudian menarik tulang tempatnya melekat dan bagian tubuh dekat area tendon yang mendapat rangsang akan bergerak. Adapun gerak reflex yang dihasilkan akibat dari perlakuan tersebut diukur dengan skala kekuatan 0-4. Dimana 0 merupakan ukuran untuk tidak adanya refleks, 1 merupakan ukuran untuk reflex yang lemah (hiporefleksik), 2 merupaka ukuran untuk refleks yang normal, 3 merupakan ukuran jika terjadi refleks yang lebih cepat dari normal (hiperrefleksik), dan 4 merupakan ukurun jika terjadi klonus. Tanda positif (+) yang kami bubuhkan pada hasil pengamatan merupakan pertanda apabila pada reflex bisep terdapat gerakan halus pada tendon otot sampai dengan gerakan fleksi pada antebranchi; pada reflex triseps terdapat gerakan halus pada tendon otot sampai dengan gerakan adduksi pada antebranchii; pada

reflex patellar tedapat gerakan eksistensi cruris; dan pada refleks achilles terdapat gerakan dorso fleksi. Sedangkan tanda negative (-) menandakan hal sebaliknya. Pengamatan kali ini dilakukan terhadap 8 OP. Berdasarkan hasil pengamatan, semua OP memiliki reflex yang berkisar dari 0 sampai 3. Pada pengamatan terhadap refleks tendon biseps terdapat 2 OP hiporefleksik, 5 OP berespon normal, dan terdapat 1 OP hiperrefleksik. Refleks biseps yang timbul berupa gerakan fleksi lengan pada siku dan kontraksi otot biseps. Pada pengamatan terhadap reflex tendon trisep terdapat 1 OP tidak memiliki reflex, 4 OP hiporefleksik, dan 3 OP berespon normal. Refleks triseps yang timbul berupa berupa gerakan fleksi dan kontraksi otot triseps. Pada pengamatan terhadap reflex tendon patellar, terdapat 5 OP berespon normal, dan 3 OP hiperrefleksik. Refleks tendon patellar berupa ekstensi tungkai yang disertai dengan kontraksi otot kuadriseps. Pada pengamatan terhadap reflex tendon achilles, terdapat 2 OP tidak memiliki reflex, 3 OP hiporefleksik, dan 3 OP hiperrefleksik. Refleks tendon achilles berupa plantar dan dorso dari kaki dan kontraksi otot gastroknemius. Hasil pengamatan menunjukkan kisaran respon refleks pada semua OP sangat beragam. Adapun hal ini dapat terjadi antara lain karena perbedaan kekuatan rangsang yang diberikan, perbedaan waktu rangsang dan perbedaan kemampuan merespon dari tendon. Berdasarkan literature kekuatan rangsang yang diberikan akan berbanding lurus dengan sensasi dan terutama ditentukan oleh sifat-sifat reseptor perifer (Ganong, 2002). Selain hal tersebut, beragamnya kisaran respon reflex pada semua OP ini juga terjadi karena faktor kemauan sadar dari OP dan factor kebiasaan OP yang berbeda-beda. Menurut literature gerak refleks yang terjadi dapat dihambat oleh kemauan sadar (pearce, 2006) dan refleks itu sendiri merupakan respon apapun yang terjadi secara otomatis tanpa usaha sadar (Sherwood, 2001).

F. KESIMPULAN

Pengukuran gerak reflex dapat dilakukan pada tendon biseps, tendon triseps, tendon patellar, dan tendon Achilles.

Pengukuran gerak reflex dapat dilakukan dengan cara memukulkan palu reflex pada tendon biseps, tendon triseps, tendon patellar, dan tendon achilles.

Kekuatan refleks pada OP bernilai variatif dengan rentang 1 sampai 3. Dan tidak ada OP yang memiliki kekuatan reflex dengan nilai 4.

Gerak reflex yang timbul dapat berupa gerak fleksi pada tendon biseps, gerak fleksi pada tendon triseps, gerak ekstensi pada tendon patellar, dan gerak dorso dan plantar pada tendon Achilles.

G. DAFTAR PUSTAKA Pearce, Evelyn. 2009. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Syaifuddin. 2006. Anatomi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika. Syaifuddin. 2009. Anatomi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 3. Jakarta : Salemba Medika. Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem . Edisi 2. Jakarta : EGC.