Anda di halaman 1dari 5

Etika Budaya

Budaya pastinya memiliki nilai, dalam hal ini etika. Etika pada umumnya membahas pandangan atau nilai yang bersifat tata-krama. Kesopanan, gotong-royong, cara, dan lainnya yang masih berhubungan dengan fisik, juga bersifat realistis, dan secara kasat mata terlihat. Kesopanan adalah hal yang paling sering coba diajarkan orangtua kita secara turun- temurun. Lewat petuah-petuah yang sering didendangkan saat malam maupun saat dimana dirasa butuh untuk disampaikan. Inilah contoh pelestarian budaya yang sangat efektif. Walaupun kadang petuah yang disampaikan mengandung mitos -yang secara logika tidak masuk di akal- namun nilai-nilai etika yang dipahami secara turun-temurun inilah yang dimaksudkan untuk diajarkan. Bagaimana tata-krama kita saat berhadapan atau berbicara kepada orang yang lebih tua, bagaimana kita meminta izin saat lewat dihadapan antara orang yang lebih tua saat sedang mengobrol. Itulah bentuk kesopanan umum yang sering kita, dan harusnya, lakukan. Sekolah maupun tempat ibadah dimanapun di seantero negeri ini pastinya telah mengajarkan halhal tersebut. Bagaimana menghormati guru, kawan, dan juga bagaimana menyikapi perbedaan agama yang ada. Contoh sederhananya seperti saat berlangsungnya ibadah atau ritual keagamaan. Pastinya, semua pihak menginginkan sebuah kedamaian dalam hidup. Inilah yang mendasari secara umum mengapa sebuah etika perlu diajarkan. Budaya yang mengandung nilai etika ini memang sengaja dilestarikan sebab, mungkin telah diprediksikan sebelumnya, nilai kemanusiaan yang wajar akan lumpuh dimasa mendatang, seperti halnya pergeseran nilai yang telah terjadi saat ini.

Budaya dan Estetika


Estetika, atau pandangan nilai indah yang berasal dari objek (manusia) kepada subjek (budaya) yang ada. Estetika tidak berbeda jauh dari etika. Namun dalam hal estetika, nilai berasal dari pemberi nilai baik melalui mata, hati maupun pikirannya, bukan nilai yang berasal dari paksaan orang lain. Pandangan nilai yang tidak bisa dipaksakan inilah yang ingin dijadikan sebuah pandangan atas berbagai macam bentuk budaya yang ada di dunia. Yang mana yang cocok dengan dirinya, yang

mana baik dipandang dalam lingkungannya, yang mana berguna agar dapat dijadikan contoh dengan tetap menjaga keberlangsungan budaya selama dunia ini masih tercipta.

Agama dalam hal ini berperan besar karena dalam beberapa kasus kebudayaan yang telah lama bertahan, dihilangkan. Contohnya, animisme. Agama wahyu, yang berasal dari Tuhan, pastinya memiliki pandangan bahwa menyembah berhala, misalnya, adalah sebuah penghinaan terhadap Yang Kuasa. Sedangkan dari pandangan anemisme sendiri, penyembahan yang mereka lakukan tidak salah karena selama ini kehidupan mereka dipercayai telah terbantu kekuatan gaib. Inilah yang sering menjadi kontroversi dalam mengembangkan budaya. Sesuatu yang dianggap benar secara turun-temurun, harus melawan sesuatu yang dianggap baik dan benar. Dan dari sinilah muncul istilah SARA. Unsur memang dilarang keras terjadi di Indonesia, karena dipercaya dapat menimbulkan konflik. Baik etika maupun estetika adalah unsur yang harus ada dalam pelestariannya. Terwujudnya budaya yang tanpa dasar etika dan estetika patutlah dipertanyakan seperti mengapa budaya tersebut harus muncul dan apa manfaat budaya tersebut. Dunia maya menghasilkan pemikiran manusia bahwa sesuatu yang berjarak jauh bisa didekatkan memang mempunyai bukti yang nyata. Bagaimana seseorang bisa berinteraksi langsung lewat suara maupun gambar. Namun, kelemahannya terletak pada kemalasan penggunanya untuk bertatap muka secara langsung tanpa perantara. Seperti hal yang kadang terjadi, tak ada lagi kunjungan anak kepada orangtua. Tinggal tekan ini-itu semuanya bisa dikendalikan. Manusia Indonesia, sebagai nahkoda bangsa ini kedepan, nampaknya akan terjebak dalam arus zaman yang semakin canggih. Pemanfaatan teknologi yang tidak sesuai budaya bisa menyebabkan kepunahan nilai-nilai etika dan estetika.Bukan hanya masyarakat kita. Pemerintah yang dalam hal ini sebagai wakil dari suara-suara masyarakat kita pun mengajarkan hal yang demikian. Korupsi dijadikan budaya. Padahal, korupsi hanyalah sebuah tren, yang masih kita tunggu saatnya kapan korupsi itu sudah tidak zaman. Demikian, pelestarian budaya sangat penting bahkan tak perlu lagi dipertanyakan manfaat dan

kegunaannya. Pemuda-pemudi kita sebagai penerus bangsa inilah yang nantinya harus mengajarkan, membina dan mengembangkan kebudayaan yang harus terus lestari ini.

Contoh kasus-kasus budaya


Kasus I:

SOSIAL & BUDAYA


Bahasa daerah mulai tergerus zaman
Ratih Keswara
Jum'at, 26 April 2013 02:47 WIB

Ilustrasi, (SINDOphoto).

Sindonews.com - Staf pengajar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, B Rahmanto mengatakan, transformasi budaya merupakan salah satu proses yang turut menarik budaya etnik ke tatanan budaya negara kebangsaan. Menurutnya, negara kebangsaan memiliki naluri untuk menyisihkan dan mengesampingkan nilai lama yang dianggap menghambat efisiensi mesin negara kebangsaan. "Dalam persoalan jati diri budaya etnik, naluri negara kebangsaan yang menekankan nilai efisiensi dan efektivitas menimbulkan pergeseran budaya yang jauh," kata Rahmanto, saat memaparkan hasil pemikiran kebudayaan Prof Umar Kayam, dalam diskusi Jelajah Pemikiran Budaya Umar Kayam dan Kuntowijoyo, di Yogyakarta, Kamis 25 April 2013. Dia menjelaskan, salah satu dampak pemaksaan budaya barat dalam negara kebangsaan, terlihat pada bahasa nasional yang mulai mendesak bahasa daerah. Bahasa Indonesia dikembangkan menjadi bahasa politik, ilmu pengetahuan, teknologi, kesusateraan, dan pergaulan kehidupan kontemporer. "Sosok bahasa-bahasa daerah saat ini sedang dalam kondisi 'rusak', bercampur dengan bahasa nasional menjadi semacam bahasa 'indo'," tuturnya.

Kasus II:

KAMIS, 21 JUNI 2012 | 05:49 WIB

Malaysia Sudah Tujuh Kali Mengklaim Budaya RI

Puluhan mahasiswa dari Universitas Mpu Tantular menggelar unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Malaysia di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (20/06). Aksi dilakukan sebagai bentuk kecaman terhadap Pemerintah Malaysia terkait klaim mereka atas tari Tortor dan menuntut pemerintah untuk lebih serius melindungi budaya Nusantara. TEMPO/Dasril Roszandi

TEMPO.CO, Jakarta-- Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti menyatakan pemerintah Malaysia sudah tujuh kali mengklaim budaya Indonesia sejak 2007. Bahkan, tari zapin, rendang, gamelan, dan cendol pun tercatat dalam akta budaya Malaysia. "Pertama, klaim terhadap kesenian reog Ponorogo pada November 2007," kata Wiendu dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat di kompleks parlemen, Senayan, Rabu 20 Juni 2012. Setelah reog, berikutnya Malaysia mengklaim lagu daerah asal Maluku, Rasa Sayange, pada

Desember 2008. Tari pendet dari Bali juga sempat diklaim pada Agustus 2009 lewat iklan pariwisata Malaysia Truly Asia. "Klaim ini selesai setelah ada protes dari Indonesia," ujar Wiendu. Selanjutnya, pada 2009 kerajinan batik diklaim, tapi masalah ini selesai karena UNESCO mengakui batik Indonesia. Pada Maret 2010, Malaysia mengklaim alat musik angklung. "Dan yang terakhir adalah klaim tari tortor dan alat musik Gordang Sambilan dari Mandailing," kata Wiendu. Rencana pemerintah Malaysia mengakui tari tortor dan alat musik Gordang Sambilan mencuat setelah kantor berita Bernama di Malaysia melansir pernyataan Menteri Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia Datuk Seri Rais Yatim tentang rencananya mendaftarkan kedua budaya masyarakat Sumatera Utara itu dalam Seksyen 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005. "Tarian ini akan diresmikan sebagai salah satu cabang warisan negara," kata Datuk Seri Dr Rais Yatim, seperti dikutip dari Bernama, setelah meresmikan Perhimpunan Anak-anak Mandailing pada 14 Juni lalu. Mendadak sontak, masyarakat Indonesia, terutama suku Mandailing di Sumatera Utara, melancarkan protes keras. Tari tortor dikenal sebagai bagian dari upacara adat untuk menghormati leluhur. Pemerintah pun secara resmi telah meminta klarifikasi tertulis kepada pemerintah Malaysia. "(Tapi) sampai hari ini kami belum mendapat nota penjelasan tersebut," kata Wiendu. Menurut dia, nota penjelasan tertulis itu semestinya dikirim pemerintah Malaysia pada Rabu siang 20 Juni 2012. Saat pemerintah melakukan rapat koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar RI di negeri jiran itu pada Senin lalu, Kementerian diyakinkan akan ada penjelasan tertulis dari Malaysia pada Rabu. "Di akhir rapat, Kementerian Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia diminta memberikan penjelasan tertulis atas persoalan ini. Itu kami minta supaya menghindari berbagai interpretasi dan berkembangnya masalah di luar konteks," katanya. Anggota Komisi Kebudayaan DPR, Raihan Iskandar, meminta pemerintah membuat program yang jelas dalam melindungi kebudayaan bangsa yang ada. Sebab, kejadian seperti itu bukanlah yang pertama. "Yang terpenting adalah bagaimana penyelesaian masalah kali ini tidak berimbas pada hubungan antara Indonesia dan Malaysia," ujarnya.