Anda di halaman 1dari 7

PEMERIKSAAN KESEHATAN HAJI

PEMERIKSAAN TAHAP PERTAMA Merupakan upaya penilaian status kesehatan tahap pertama terhadap CJH sebagai persyaratan untuk mengikuti perjalanan ibadah haji. Pemeriksaan di lakukan oleh dokter yang diberi kewenangan sebagai dokter pemeriksa kesehatan, dibantu dengan perawat dan analis laboratorium. Pemeriksaan tahap pertama berfungsi sebagai alat penilaian status kesehatan dan alat pembinaan CJH. Prosedur Pemeriksaan

CJH membawa surat pengantar dari kantor Departemen Agama, untuk pemeriksaan kesehatan sesuai dengan tempat domisili CJH. Biaya pemeriksaaan ditanggung oleh CJH sesuai dengan Peraturan Daerah nomor 13 tahun 2003.

Pemeriksaan Kesehatan dilakukan oleh Pemeriksa Kesehatan Tahap Pertama yang memenuhi kualifikasi/standar pemeriksa.

Pemeriksaan Jemaah Calon Haji Wanita dilakukan oleh Dokter wanita, atau Dokter Pria dengan didampingi perawat wanita.

Pemeriksaan Jemaah Calon Haji Pria dilakukan oleh Dokter Pria, atau Dokter Wanita dengan didampingi perawat Pria.

Pemeriksaan kesehatan bagi Jemaah Calon Haji (JCH) dapat dikelompokkan menjadi pemeriksaan pokok, pemeriksaan lanjut dan pemeriksaan khusus.

Pemeriksaan Anamnesis

kesehatan

CJH

menggunakan

protokol

standar

profesi

kedokteran meliputi :

Riwayat kesehatan sekarang meliputi penyakit menular tertentu dan penyakit/disability (kecacatan) Riwayat kesehatan terdahulu meliputi penyakit yang pernah diderita (termasuk operasi yang pernah dijalani)

Riwayat penyakit keluarga

Pemeriksaan Pokok adalah pemeriksaan yang harus dilakukan pada semua JCH. Data yang diperoleh meliputi identitas, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik (tanda vital, postur, syaraf kranial, toraks, abdomen), kesehatan jiwa dan laboratorium klinik. Pemeriksaan Pokok meliputi: a) Identitas, terdiri dari: i. Nama (Bin/Binti) ii. Tempat dan Tanggal Lahir iii. Alamat Tempat Tinggal Korespondensi iv. Pekerjaan v. Pendidikan Terakhir vi. Status Perkawinan b) Riwayat Kesehatan i. Riwayat Kesehatan Sekarang, meliputi: Penyakit menular tertentu. Penyakit/disabilitas. ii. Riwayat Penyakit Dahulu, meliputi penyakit yang pernah diderita (termasuk operasi yang pernah dijalani), ditulis secara kronologis. iii. Riwayat Penyakit Keluarga, meliputi jenis penyakit yang diderita anggota keluarga yang berhubungan secara genetik. c) Pemeriksaan Fisik, meliputi: i. Tanda vital: Tekanan Darah Nadi meliputi: frekuensi, volume, tegangan,ritme. Pernapasan meliputi: frekuensi, ritme. Suhu, diukur dengan termometer air raksa, diaksila. ii. Postur tubuh Tinggi badan (TB), Berat badan (BB) dan (IMT/BMI). Lingkar Pinggang, Lingkar Pinggul dan Rasio Lingkar Pinggang-Pinggul (bila perlu).

Kekuatan otot dan refleks iii. Kepala: Pemeriksaan saraf kranial (bila perlu) iv. Toraks/ Paru-paru Kelainan bentuk dada Retraksi otot pernapasan Fremitus Paru Pekak paru Bunyi napas normal/abnormal Pengembangan paru v. Kardiovaskuler Tekanan vena jugularis (Jugular Venous Pressure) Pergeseran impuls apikal Kuat angkat impuls apikal Bunyi jantung murni Bunyi jantung tambahan Murmur (bising) jantung Pembesaran jantung Konfigurasi jantung vi. Abdomen Venektasi Nyeri tekan epigastrium Hepatomegali Splenomegali Asites Massa intra abdominal abnormal Hernia Perabaan ginjal Nyeri ketok sudut kostovertebral vii. Kesehatan Jiwa (menggunakan instrumen pemeriksaan barthel indeks bagian 3: Fungsi Perilaku) d) Laboratorium i. Darah, meliputi: Hemoglobin (Hb), Golongan Darah (A-B-0 dan Rhesus [bila perlu]), Laju Endap Darah (LED), Hitung jenis leukosit, Jumlah lekosit.

ii. Urin Makro: warna, kejernihan, bau. Mikro: Sedimen (leukosit, eritrosit, sel epitel,kristal) Glukosa urin Protein urin Pemeriksaan Lanjutan Pemeriksaan Lanjut adalah pemeriksaan tambahan yang perlu dilakukan pada JCH Wanita Usia Subur-Pasangan Usia Subur (WUSPUS), JCH berusia 40 tahun, JCH Lansia (usia 60 tahun) dan JCH yang bertugas sebagai pendamping. Pemeriksaan Lanjut meliputi: a) Calon haji Wanita Usia Subur (WUS) dilakukan pemeriksaan tes kehamilan, dengan reagen beta-HCG. i. Bagi yang tidak hamil: Diinformasikan ketentuan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Kesehatan kepada setiap Jemaah Calon Haji Wanita Usia Subur (WUS). Dianjurkan mengikuti program Keluarga Berencana (KB) untuk mencegah kehamilan Bagi Jemaah Calon Haji Wanita WUS yang khawatir terjadi kehamilan pada masa pemeriksaan tahap kedua, dapat menghendaki imunisasi Meningitis meningokokus secara dini. Imunisasi tersebut dapat diperoleh di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) tertentu. KKP menerbitkan International Certificate of Vaccination (ICV) yang resmi dikeluarkan sesuai ketentuan International Health Regulation (IHR). Biaya yang dibutuhkan untuk keperluan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh Jemaah Calon Haji yang bersangkutan. ii. Bagi yang hamil, diberikan KIE (konsultasi,informasi dan edukasi) tentang ketentuan penyelenggaraan kesehatan haji, khususnya ketentuan tentang Surat Keputusan Bersama (SKB)

Menteri Agama dan Menteri Kesehatan,serta diberikan alternatif solusi yang dapat diambil oleh calon jemaah bersangkutan. Salinan SKB terlampir. iii. Setiap Jemaah Calon Haji WUS diharuskan menanda tangani surat pernyataan di atas meterai tentang kesediaan menunda/membatalkan keberangkatannya untuk musim haji yang akan datang, bila di kemudian hari pada saat menjelang keberangkatannya ternyata hamil dengan usia kehamilan di luar ketentuan yang diperkenankan menurut SKB Menteri Agama dan Menteri Kesehatan. Formulir Surat Pernyataan. b) Untuk JCH berusia 40 tahun, dilakukan pemeriksaan radiologis toraks PA, GDS (Gula arah Sewaktu), LDL (cholesterol) dan EKG (bila perlu dengan Masters Test). c) Untuk JCH lansia (usia 60 tahun), dilakukan pemeriksaan Fungsional Barthel Indeks. Petunjuk pemeriksaan terlampir. d) Untuk JCH yang bertugas sebagai pendamping, dilakukan tes kebugaran. Pelaksanaannya mempertimbangkan kondisi kesehatan yang bersangkutan Pemeriksaan Khusus Pemeriksaan Khusus adalah jenis pemeriksaan yang dilakukan atas dasar indikasi medis ada JCH yang menderita suatu penyakit, dimana penyakit tersebut belum dapat ditegakkan diagnosisnya dengan data pemeriksaan pokok dan lanjut. Pemeriksaan Khusus, meliputi: a) Bagi Jemaah Calon Haji yang membutuhkan penegakan diagnosis dan pembinaan, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lain atas indikasi sesuai baku emas (golden standard) pemeriksaan untuk penyakit tersebut. b) Bagi Jemaah Calon Haji yang membutuhkan penegakan diagnosis dan pembinaan, dapat dilakukan rujukan ke dokter spesialis yang berkompeten. c) Dokter pemeriksa harus menuliskan diagnosis kerja sesuai dengan hasil pemeriksaan kesehatan Jemaah

Calon Haji untuk keperluan pembinaan. Kode diagnosis ditulis sesuai dengan kode ICD 10 Kesimpulan hasil pemeriksaan dibuat dalam kategori Mandiri, Observasi, Pengawasan dan Tunda. Hasil pemeriksaan kesehatan ditulis dengan lengkap dan benar dalam Buku Kesehatan jemaah Haji (sesuai petunjuk pengisian BKJH) dengan dilampirkan catatan medik.

PEMERIKSAAN TAHAP KEDUA Pemeriksaan tahap kedua adalah upaya penilaian status kesehatan lanjutan terhadapa calon jemaah haji sebagai dasar pembinaan dalam pengamanan kesehatan haji dan penentu kelayakan calon jemaah haji untuk mengikuti perjalanan ibadah haji. Tempat pemeriksaan RS tipe C Pendaftaran ulang pemeriksaan kesehatan oleh dinas kesehatan kabupaten. Dokter pemeriksa melakukan pemeriksaan kelengkapan dan kesahihan data hasil pemeriksaan tahap I dan pembinaan kesehatan melalui catatan medis calon jemaah haji yang bersangkutan. Apabila ada yang kurang maka harus dilengkapi. Setiap jemaah haji mendapatkan pemeriksaan ulang. Setiap jemaah haji memenuhi syarat diberikan imunisasi meningitis meningokokus. Tes kebugaran dengan pertimbangan kondisi yang bersangkutan. Bagi jemaah yang terdiagnosis penyakit menular pada pemeriksaan pertama diharuskan telah dinyatakan sembuh atau tidak menular pada akhir pemeriksaan kedua dengan menunjukan surat keterangan dari dokter pemberi pelayanan pengobatan. Kalau penyakit kronis yang tidak menular pengobatan yang adekuat, pembinaan intensif dan dinyatakan dapat melakukan kegiatan pribadi secara mandiri.

Pada jemaah haji wanita juga dilakukan pemeriksaan seperti pada pemeriksaan tahap pertama. Dokter pemeriksa harus menuliskan diagnosis kerja sesuai dengan hasil pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji untuk keperluan pembinaan dan kelayakan.

Untuk keperluan pembinaan dan penilaian kelayakan bisa dilakukan pemeriksaan ulang sesuai keperluan. Tim pemeriksa menetapkan kelayakan berdasarkan hasil pemeriksaan dan konsultasi ahli. Hasil penetapan kelayakan beserta dasar pertimbangan dilaporkan secara akumulatif kepada Depkes.

PEMERIKSAAN TAHAP KETIGA Pemeriksaan tahap ketiga dilakukan diembarkasi secara selektif termasuk kelengkapan dokumen haji.