Anda di halaman 1dari 29

BAB 1 PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Hal yang paling penting dalam kehidupan manusia adalah meningkatkan perhatian terhadap kesehatan guna mencegah terjadinya malnutrisi (Gizi salah) dan resiko untuk menjadi gizi kurang. Status gizi menjadi penting karena merupakan salah satu faktor resiko untuk terjadi kesakitan atau kematian. Status gizi adalah suatu keadaan keseimbangan antara konsumsi makanan, penyerapan gizi, dan penggunaan zat-zat gizi tersebut atau keadaan fisiologis akibat adanya ketersediaan zat gizi dalam tubuh. Status gizi yang baik pada seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses pemulihan (Supariasa, 2002). Salah satu cara untuk menentukan status gizi dapat menggunakan dua metode, metode secara langsung dan tidak langsung. Metode langsung antara lain melalui pengukuran anthropometri, biokimia, klinis, dan biofisik. Sedangkan metode tidak langsung antara lain survey konsumsi makan, statistic vital, dan keadaan ekologi. Metode yang paling sering digunakan untuk menentukan status gizi adalah pengukuran anthropometri. Antropometri berasal dari kata anthropos yang berarti tubuh dan metros bermakna ukuran. Jadi, antropometri adalah ukuran dari tubuh. Pengertian antropometri dari sudut pandang gizi telah banyak diungkapkan oleh para ahli, salah satunya adalah Jelliffe (1996) mengungkapkan bahwa: Nutritional anthtropometry is measurement of the variations of the physical dimensions and the gross composition of the human body at different age levels and degree of nutrition. Dari definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri sangat umum

digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Untuk menjelaskan Body composition atau komposisi tubuh dapat digunakan dua metode. Metode yang pertama yaitu metode 2 compartement yang dilihat dari keberadaan lemak dalam tubuh, yakni melihat massa lemak dan non lemak . Sedangkan pada metode kedua yaitu metode 4 compartement, masa non lemak dibagi lagi menjadi 3 bagian yaitu protein, total air tubuh, dan tulang. Namun diantara dua metode tersebut yang paling sering digunakan adalah metode 2 compartment karena lebih mudah dilakukan dan biayanya cukup terjangkau. Metode 4 compartement dinilai lebih rumit dan biaya yang dikeluarkan cukup mahal karena mencakup beberapa tes laboratorium. Seperti yang kita ketahui, tahapan nutritional assessment ada 3 tahapan yaitu pengumpulan data, evaluasi, dan mengintrepetasikan data. Pada makalah ini akan dibahas mengenai cara untuk mengevaluasi body composition dan cara

menginterpretasikan hasil dari pengukuran body composition dalam menilai status gizi seseorang.

B. Rumusan masalah 1. Metode apa sajakah yang dapat digunakan untuk mengukur body composition? 2. Bagaimana cara mengevaluasi data yang diperoleh dari pengukuran body composition ? 3. Bagaimana menginterpretasikan data-data yang telah diperoleh dari hasil pengukuran body composition? 4. Bagaimana hubungan data yang diperoleh dari pengukuran dengan risiko terkena penyakit?

C. Tujuan Pembuatan makalah ini diharapkan dapat memenuhi tujuan untuk : 1. 2. Mengetahui metode yang digunakan untuk mengukur body composition Mengetahui cara mengevaluasi data yang diperoleh dari pengukuran body composition 3. Mengetahui cara menginterpretasikan data-data yang telah diperoleh dari hasil pengukuran body composition. 4. Mengetahui hubungan data yang diperoleh dari pengukuran body composition dengan risiko terkena penyakit

D. Manfaat Penulis berharap pembuatan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Bagi mahasiswa khususnya untuk : 1. Mengetahui cara melakukan evaluasi dan interpretasi dari data- data yang diperoleh dengan antropometri komposisi tubuh. 2. Dengan mengetahui cara evaluasi yang benar, selanjutnya dapat ditentukan status gizi seseorang.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Komposisi Tubuh Menurut Gilbert B.Forber (1994) komposisi tubuh adalah jumlah seluruh dari bagian tubuh. Bagian tubuh terdiri dari adiposa dan massa jaringan bebas lemak. Adiposa adalah jaringan yang terdiri dari simpanan lemak dalam bentuk trigliserida. Walaupun kurang aktif dalam proses metabolisme, adiposa mempunyai peran yang penting dalam metabolisme hormone seperti sintesis estrogen sete;ah menoupase pada wanita. Simpanan lemak yang utama terdapat pada lemak bawah kulit dan dalam perut. Jumlah lemak dapat juga diperhitungkan pada otot dan sekitar organ tertentu, seperti hati dan ginjal. Sedangkan massa bebas lemak adalah sangat heterogen yaitu terdiri dari tulang, otot, air ekstra seluler, jaringan syaraf dan semua sel selain adiposa. Willet (1990) menjelaskan komposisi tubuh manusia seperti dalam tabel berikut ini : Adiposa ( lemak ) Muscle (otot) Lean body mass (bebas lemak) Bone (tulang) Cairan seluler, dll. Sumber: Willet W., 1990. Nutritional Epidemiology, Oxford University Press, hlm.22 Rekomendasi dari komposisi tubuh manusia menurut J. Brochek, et.al adalah air (62,4%), protein (16,4%), mineral (5,9%), lemak (15,3%), dan massa lemak bebas (84,7%) Tubuh terdiri dari dua bagian yang terpisah secara kimiawi yaitu: lemak tubuh dan massa lemak tubuh bebas. Kemudian juga dikenal sebagai massa sel tubuh yang terdiri dari otot, bukan otot, jaringan tanpa lemak, dan rangka. Teknik antropometri secara tidak langsung dapat menilai lemak tubuh ekstra

dan massa non lemak tubuh dan variasi jumlah serta proporsi yang dap at digunakan sebagai indeks dari status penilaian gizi (Supariasa 2001). Lemak tubuh berisi berbagai komponen ya n g bersifat

v a r i a b e l , ya n g berbeda untuk setiap individu dari jenis kelamin, tinggi, dan berat tubuh. Secara rata-rata, lemak tubuh wanita lebih tinggi

dibandingkan pria, yaitu mewakili 26,9% dari total berat badan dibandingkan 14,7% lemak tubuh pria. Untuk mengetahui body composition, ada dua pengukuran body composition yaitu: a. Fat free mass yang terdiri dari pengukuran : Mid-upper-arm circumference, mid-upper-arm muscle circumference, dan mid-upper-arm muscle area b. Fat mass yang terdiri dari pengukuran : skinfold thickness, waist-hip circumference ratio, waist circumference, dan limb fat area. Tiga metode evaluasi antropometri yang digunakan untuk menaksir komposisi tubuh antara lain : 1. Two Compartment Model Two compartment model merupakan metode evaluasi komposisi tubuh yang penghitungannya berdasarkan jumlah massa lemak (fat mass) dan jumlah massa non lemak (fat free mass), sehingga dapat dituliskan: BW Keterangan : = FM + FFM

BW = Body Weight atau berat badan (kg)

FM = Fat Mass atau masa lemak (kg) FFM = Fat Free Mass atau masa non lemak (kg) 2. Three Compartment Model Three compartment model merupakan metode evaluasi komposisi tubuh yang menggabungkan 2 Unsur FFM menjadi 1 komponen. Misalnya jika tulang dan protein digabung, maka: BW = FM + TBW + S

Keterangan :

BW = Body Weight atau Berat Badan (kg) FM = Fat Mass atau Massa Lemak (kg) S = Solids (nonaqueous) atau gabungan tulang dan protein (kg)

3. Four Compartment Model Four Compartment Model merupakan metode evaluasi komposisi tubuh yang berdasarkan pada jumlah air (water), tulang (bone), lemak (fat), otot (protein), dan glikogen yang jumlahnya sangat sedikit, sehingga beratnya dapat diabaian. BW = FM + TBW + Protein + Bone + Glikogen Keterangan : BW FM = Body Weight atau berat badan (kg) = Fat Mass atau masa lemak (kg)

TBW = Total Body Water atau jumlah air (kg) Protein, bone, glikogen (kg) Dari ketiga metode tersebut, Two Compartement Model merupakan metode yang paling sering digunakan karena metode tersebut tidak membutuhkan banyak variabel untuk menentukan komposisi tubuh seseorang, sehingga perhitungannya menjadi lebih cepat, mudah, dan relatif murah karena tidak memerlukan tes laboratorium.

B. Evaluasi Pengukuran Komposisi Tubuh 1. Lingkar Lengan Atas ( LLA ) / Mid Upper Arm Circumference Lingkar lengan atas merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi, karena mudah, murah dan cepat. Tidak memerlukan data umur yang terkadang susah diperoleh. Pengukuran LLA memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit. Perkembangan LILA menurut Jellife, 1996 adalah sebagai berikut :

a. b.

Pada tahun pertama kehidupan Pada umur 2-5 tahun

: 5,4 cm : <1,5 cm

Tabel 1: Ambang Batas Pengukuran LLA: Klasifikasi Wanita Usia Subur KEK Normal Bayi Usia 0-30 hari KEP Normal Balita KEP Normal Sumber: Sirajuddin, 2012. < 12,5 cm 12,5 cm < 9,5 cm 9,5 cm < 23,5 cm 23,5 cm Batas Ukur

Tabel 2 : Status Gizi Berdasarkan Warna pada Pita Shakir untuk Balita :

Warna pada pita shakir Merah Orange Kuning Hijau

Batas ukur 7,5 - 12,5 cm 12,6 13,5 cm 13,5 17,5 cm > 17,5 cm

Status gizi Malnutrisi tingkat tinggi Malnutrisi tingkat sedang Resiko Malnutrisi Gizi Baik

Bila umur tidak diketahui, status gizi dinilai dengan rumus sebagai berikut :

% SG = LLA yang diukur / LLA standar 100 %

Keterangan : LLA standar = LLA baku (28,5)

Tabel 3 : Status Gizi Berdasarkan Rumus Batas Ukur ( % SG ) > 85% 70,1 85% 70% Status Gizi Gizi Baik Gizi Kurang Gizi Buruk

Sumber : dalam buku Aplication of Clinical Nutrition Contoh soal : Ika mempunyai panjang LLA sebesar 26 cm. Tapi umur Ika tidak ada yang mengetahui. Bagaimanakah status gizi Ika ? Jawab : % SG = LLA yang diukur / LLA standar 100 % = 26 / 28,5 = 26 / 28,5 =91,23% Dari perhitungan tersebut dihasilkan % status gizi sebesar 91,23% sehingga data diinterpretasikan status gizi Ika adalah gizi baik. 100% 100%

Tabel 4 : Standar Baku Lingkar Lengan Atas (LLA) Menurut Umur

Sumber: Pedoman Ringkas Pengukuran Antropometri, hlm. 18 Untuk mengukur LLA digunakan rumus persentil : % median = 100 observed arm circumference Median arm circ. for age and sex

Tabel 5 : Nilai standar LLA berdasarkan persentil

Tabel 6 : Kategori Status Kegemukan Kategori I II III IV V Persentil 0.0 5.0 5.0 15.0 15.0 85.0 85.0 90.0 90.0 100.0 Status Kegemukan Kurus sekali D bawah normal Normal Di atas normal Kelebihan lemak

Contoh Soal : Nina berusia 19 tahun. Panjang LLA-nya 200 mm. Bagaimanakah status gizi Nina berdasarkan rumus persentil ? Jawab : % median = 100 observed arm circumference Median arm circ. for age and sex = 100 200 / 268

= 20000/268 = 74,62 % Dari perhitungan tersebut didapat % median Nina sebesar 74,62% sehingga dapat diinterpretasikan status gizi Nina adalah normal.

10

Grafik LLA untuk Balita berdasarkan Z-score

Interpretasi dari grafik di atas : Gizi Buruk Gizi Kurang Gizi Baik Overweight Obesitas : < - 3 SD : < -2 SD s/d -3 SD : -2 SD s/d +2SD : > +2SD s/d +3SD : > +3SD

11

Selain cara di atas, untuk menentukan LLA bisa juga menggunakan software yang bernama WHO Antro 2005. Software ini dibuat oleh WHO untuk memudahkan kita dalam menentukan status gizi seseorang. WHO Antro ini sekarang digunakan sebagai baku rujukan di Indonesia. Seperti berikut tampilannya :

Pada umumnya, Pengukuran LILA dilakukan pada kelompok Wanita Usia Subur (WUS). Menurut Depkes RI (1994) Pengukuran LILA pada kelompok Wanita Usia Subur (WUS) adalah salah satu cara deteksi dini yang mudah dan

12

dapat dilaksanakan oleh masyarakat awam, untuk mengetahui kelompok berisiko Kekurangan Energi Kronis (KEK). Wanita usia subur adalah wanita usia 15-45 tahun. Ambang batas LLA WUS dengan resiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila ukuran LLA kurang 23,5 cm atau dibagian pita LLA artinya wanita tersebut mempunyai resiko KEK. Pengukuran LILA tidak dapat digunakan untuk memantau perubahan status gizi dalam jangka pendek (Supariasa, 2001:48-49). Pengukuran LLA juga dilakukan pada ibu hamil untuk mengetahui apakah menderita KEK atau tidak. Bila ukuran Lingkar Lengan Atas (LLA) kurang dari 23,5 cm maka ibu hamil tersebut dikatakan KEK atau kurang gizi dan berisiko melahirkan bayi dengan BBLR. Data menunjukkan bahwa sepertiga (35,65 %) Wanita Usia Subur (WUS) menderita KEK, masalah ini mengakibatkan pada saat hamil akan menghambat pertumbuhan janin sehingga menimbulkan resiko pada bayi dengan BBLR (Depkes RI 2002). Kelebihan pengukuran LLA : a. b. Indikator yang baik untuk menilai KEP berat Alat ukur murah, sederhana, sangat ringan, dapat dibuat sendiri, kader

posyandu dapat melakukannya c. Dapat digunakan oleh orang yang tidak membaca tulis, dengan memberi kode warna untuk menentukan tingkat keadaan gizi Kekurangan: a. Hanya dapat mengidentifikasi anak dengan KEP berat b. Sulit menemukan ambang batas

c. Sulit untuk melihat pertumbuhan anak 2-5 tahun.

13

2. Lingkar Kepala Lingkar kepala adalah standar prosedur dalam ilmu kedokteran anak secara praktis, biasanya untuk memeriksa keadaan patologi dari besarnya kepala atau peningkatan ukuran kepala. Contoh: hidrosefalus dan mikrosefalus. Lingkar kepala dihubungkan dengan ukuran otak dan tulang tengkorak. Ukuran otak meningkat secara cepat selama tahun pertama, tetapi besar lingkar kepala tidak menggambarkan keadaan kesehatan dan gizi.

Bagaimanapun ukuran otak dan lapisan tulang kepala dan tengkorak dapat bervariasi sesuai dengan keadaan gizi. Dalam antropometri gizi rasio lingkar kepala dan lingkar dada cukup berarti dan menentukan KEP pada anak. Lingkar kepala juga digunakan sebagai informasi tambahan dalam pengukuran umur. Pertumbuhan lingkar kepala yang paling pesat adalah pada 6 bulan pertama kehidupan, yaitu dari 34 cm pada waktu lahir menjadi 44 cm pada umur 6 bulan. Sedangkan pada umur setahun 47 cm, 2 tahun 49 cm, dan dewasa 54 cm. Oleh karena itu, manfaat pengukuran Lingkar Kepala terbatas pada 6 bulan pertama sampai umur 2 tahun karena saat-saat itu pertumbuhan otak yang pesat.

14

Interpretasi : Di atas normal Normal Di bawah normal 3. Lingkar Perut Cara lain yang biasa dilakukan untuk memantau resiko kegemukan adalah dengan mengukur lingkar perut. Ukuran lingkar perut yang baik yaitu tidak lebih dari 90 cm untuk laki-laki dan tidak lebih dari 80 cm untuk perempuan (Hartono, 2006). Pengukuran lingkar perut lebih memberikan arti dibandingkan IMT dalam menentukan timbunan lemak di dalam rongga perut (obesitas sentral) karena peningkatan timbunan lemak di perut tercermin dari meningkatnya lingkar perut. Pengukuran lingkar perut dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obesitas abdominal atau sentral. Jenis obesitas ini sangat berpengaruh terhadap kejadian penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus. Semakin besar lingkar perut seseorang, resiko terjadinya penyakit jantung pada orang tersebut lebih besar. = +2 SD = > - 2SD s/d + 2 SD = -2 SD

Tabel 5: Standar Obesitas sentral berdasarkan Lingkar Perut. Klasifikasi WHO 2000 Eropa Asia Pasifik Laki-laki 94 cm 102 cm 90 cm Sumber: WHO 4. Lingkar Pinggang Lingkar pinggang adalah antropometri yang digunakan untuk menentukan obesitas sentral, dan kriteria untuk Asia Pasifik yaitu 90 cm untuk pria, dan 80 cm untuk wanita. Lingkar pinggang dikatakan sebagai indeks yang berguna Wanita 80 cm 88 cm 80 cm

15

untuk menentukan obesitas sentral dan komplikasi metabolic yang terkait. Lingkar pinggang berkolaborasi kuat dengan obesitas sentral dan risiko kardiovaskular. Lingkar pinggang terbukti dapat mendeteksi obesitas sentral dan sindroma metabolik dengan ketepatan yang cukup tinggi dibandingkan indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar panggul. Bila lingkar pinggang dan kadar trigliserida untuk mendeteksi sindroma metabolic, ditemukan lingkar pinggang 90 cm dikombinasikan dengan kadar trigliserida plasma puasa lebih dari 150 mg/dl dapat mendeteksi sindroma metabolik. Hal ini membuktikan bahwa pemeriksaan lingkar pinggang dapat digunakan sebagai pemeriksaan uji saring yang mudah, murah, dan berguna untuk mendeteksi sindroma metabolik. Selain itu, seorang peneliti dari Swedia menemukan bahwa lingkar pinggang dapat digunakan untuk mengukur resistensi insulin, dan dapat menjadi indikator yang baik untuk melihat apakah seseorang beresiko terkena diabetes (Karina, 2010).

Tabel 6 : Pembagian kategori lingkar pinggang mengikuti NHANES (National Health Assesment and Nutritional Examination Survey) Jenis kelamin Laki-laki dewasa Perempuan dewasa E Remaja Remaja Perempuan dewasa Laki-laki dewasa Batas persentil persentil 90 persentil 80 persentil 90 persentil 90 persentil 80 persentl 90 Status Gizi Normal Normal Normal Obesitas Obesitas Obesitas

5. WHR (Waist-Hip Ratio) / Rasio Lingkar Pinggang-Pinggul WHR adalah suatu metode sederhana untuk mengetahui obesitas sentral pada orang dewasa dengan mengukur distribusi jaringan lemak pada tubuh terutama bagian pinggang dengan membandingkan antara ukuran lingkar pinggang

16

dibanding dengan lingkar perut. Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko yang erat kaitannya dengan penyakit degenerative (Sirajuddin, 2011).

WHR digunakan untuk mengkaji distribusi lemak tubuh dan membantu mengidentifikasi dua tipe distribusi lemak tubuh yaitu upper body (android/tipe pada laki-laki) dan lower body (gynoid/ tipe pada wanita). Ambang batas (cutoff) resiko terhadap penyakit untuk laki-laki (WHR) 1 sedangkan untuk wanita (WHR) 0,85. WHR digunakan sebagai pengukuran obesitas, yang merupakan indikator kemungkinan lain kondisi kesehatan yang lebih serius. Ketika hanya menggunakan lingkar pinggang sebagai pemantau, WHO (1998) menyarankan agar ambang batas untuk perempuan di Eropa 80 cm dan untuk laki-laki 94 cm, sedangkan di Asia batas bawah 90 cm pada laki-laki harus digunakan. Dapat dikatakan kelebihan lemak perut apabila memenuhi : Jenis Kelamin Laki Laki Perempuan Ras Kaukasia 102 cm 88 cm Ras Asia > 90 cm > 80 cm

Rumus menghitung WHR : WHR = Waist or Abdominal Circumference (cm) Hip Circumference (cm) Setelah menghitung nilai dari WHR, guna mengetahui besarnya resiko seseorang terkena penyakit dapat dilihat dari tabel berikut : Tabel 7 : Resiko Penyakit Berdasarkan Waist-Hip circumference Ratio (WHR) bagi laki-laki dan wanita Jenis Kelamin Umur Rendah Sedang 0,83 0,88 Resiko Tinggi 0,89 0,94 Sangat Tinggi Laki-laki 20-29 < 0,83 > 0,94

17

30-39 40-49 50-59 60-69 Perempuan 20-29 30-39 40-49 50-59 60-69

< 0,84 < 0,88 < 0,90 < 0,91 < 0,71 < 0,72 < 0,73 < 0,74 < 0,76

0,84 0,91 0,88 0,95 0,90 0,96 0,91 0,98 0,71 0,77 0,72 0,78 0,73 0,79 0,74 0,81 0,76 0,83

0,92 0,96 0,96 0,10 0,97 1,02 0,98 1,03 0,78 0,82 0,79 0,84 0,80 0,87 0,82 0,88 0,84 0,90

> 0,96 > 0,10 > 1,02 > 1,03 > 0,82 > 0,84 > 0,87 > 0,88 > 0,90

Sumber : Sarajuddin 2012

Contoh Soal : Fania wanita berumur 29 tahun memiliki lingkar pinggang 66 cm, dan lingkar pinggulnya 77 cm. Bagaimana status gizi wanita tersebut? Jawab : WHR = = = 0.857

Maka Fania memiliki resiko yang sangat tinggi untuk menderita penyakit degeneratif. 6. Tebal Lemak Bawah Kulit a. Menafsirkan Lemak Tubuh pada Area Tunggal 1) Pengukuran Triseps Triceps merupakan otot besar yang berada di lengan atas pada bagian belakang. Trisep skinfold merupakan pengukuran lemak pada titik tengah bagian belakang lengan atas tangan yang jarang digunakan. Tebal lemak pada triseps ini merupakan suatu area yang sering digunakan untuk mengestimasi secara tidak langsung ukuran dari tempat penyimpanan lemak subkutan karena pada area ini dianggap yang paling memprosentasikan lemak tubuh. Anggapan ini sebenarnya tidaklah benar, karena distribusi

18

lemak subkutan tidak seragam pada seluruh tubuh dan bervariasi pada setiap jenis kelamin, ras, dan usia. Namun, pengukuran triseps sering digunakan karena mudah, sopan, dan sesuai dengan etika yang ada di Indonesia. Berikut persamaan yang digunakan untuk mencari median lemak tubuh seseorang:
%median =

Tabel 8 : Nilai Standar Ketebalan Lipatan Kulit Trisep

Apabila persentil telah diketahui dari tabel di atas, hasilnya dapat dievaluasi dari tabel klasifikasi antropometri dan evaluasi dari status kegemukan. Berikut tabelnya : Tabel 9 : Kategori Status Kegemukan Category I II III Percentile 0.0 5.0 5.0 15.0 15.0 85.0 Fat Status Kurus sekali Di bawah normal Normal

19

IV V

85.0 90.0 90.0 100.0

Di atas normal Obesitas

Contoh soal : Danang adalah seorang laki-laki berumur 32 tahun, memiliki tebal trisep 7 mm . Bagaimana status gizi Danu berdasarkan perhitungan trisep tersebut ? Jawab : %median = % median =

= 58,33 % Dari perhitungan tersebut, % median trisep Danang adalah 58,33 %. Maka apabila diinterpretasikan pada tabel status kegemukan, status gizi Danang termasuk dalam golongan normal. 2) Pengukuran Subskapular Scapula merupakan otot di depan tulang belikat menuju taju kecil tulang pangkal lengan. Pengukuran skinfold subskapular dilakukan di atas sudut bawah (inferior) scapula kanan. Untuk menghitung perbedaan distribusi dari lemak subkutan, lemak pada subskapular sering pula digunakan untuk meningkatkan hasil penaksiran total lemak tubuh dan menyediakan informasi atas penyebaran lemak tubuh yang nantinya dapat diketahui hubungan dalam resiko penyakit yang terpapar. Pengukuran subskapular juga menggunakan rumus yang didasarkan pada persentase median, yaitu:
%median =

20

Berikut adalah persentil untuk pengukuran subskapular berdasarkan usia pada orang Amerika :

Setelah mengetahui persentil dari tabel di atas, hasilnya dapat dievaluasi dari tabel klasifikasi antropometri dan evaluasi dari status kegemukan (Tabel 6). Contoh Soal : Ibu Anis berumur 30 tahun memiliki tebal supkapular 15 mm. Bagaimana kita dapat mengetahui status gizi dari Ibu Anis ? Jawab : % median =

= = 93,75 % Dari hasil perhitungan diketahui bahwa Ibu Anis memiliki persentasi lemak sebanyak 93,75 % sehingga dapat dinterpretasikan Ibu Anis mengalami obesitas.

21

b. Menafsirkan Lemak Tubuh pada Dua Area Kombinasi pengukuran skinfold untuk beberapa area yang paling optimal belum diketahui jelas karena tidak ada satu pun area tubuh yang memiliki jumlah lemak subkutan yang secara konsisten dapat merepresentasikan jumlah lemak pada seluruh tubuh. Pada umumnya, dalam studi pada anakanak dan dewasa, direkomendasikan untuk mengambil satu hasil pengukuran lemak di anggota gerak (misalnya triseps) dan satu hasil pengukuran lemak tubuh (misalnya subskapula). 1) Triseps dan Subskapula Multiple measurement skinfold yang menggunakan pengukuran jumlah lemak triseps dan subskapular dengan persamaan persentase median:

22

Setelah mendapatkan hasil dari penghitungan di atas, hasilnya dapat dievaluasi ke dalam tabel berikut :

Contoh Soal : Ibu Dian berumur 35 tahun memiliki tebal lemak trisep 15 mm dan subskapular 12 mm. Bagaimana status gizi ibu Dian? Jawab :

% median

= 64.28 %

Ibu Dian tersebut memiliki persentasi lemak 64.28% sehingga dapat di interpresentasikan Ibu Siska berstatus gizi normal.

Selain itu, untuk menghitung lemak tubuh di dua area, dapat digunakan rumus sebagai berikut a. Pada Laki-laki 18-27 tahun

23

Db

= 1,0913 0,00116 (trisep + scapula) % BF = [(4,97/Db) 4,52] x 100

b. Pada Wanita 18-23 tahun Db = 1,0897 0,00133 (trisep + scapula) % BF = [(4,76/Db) 4,28] x 100

Tabel 7: Klasifikasi Standar Pengukuran Tebal Lemak Bawah Kulit: Klasifikasi Kurang Optimal Tingkat Rendah Gemuk Sangat gemuk Laki-laki <8% 8 15 % 16 20 % 21 24 % 25 % Sumber: Sirajudin 2012. Contoh Soal : Ali berumur 23 tahun memiliki tebal trisep sebesar 21 mm dan tebal supkapular sebesar 23 mm. Bagaimanakah status gizi Tuan Ali? Jawab : % BF = [(4,97/Db) 4,52] x 100 Db = 1,0913 0,00116 (trisep + scapula) = 1,0913 0,00116 (21 + 23) = 1,0913 0,00116 (44) = 1,0913 0,05104 = 1,04026 % BF = [(4,97 / 1,04026) 4,52] x 100 = [4,77 4,52] x 100 Wanita < 13 % 14 23 % 24 27 % 28 32 % 33 %

24

= 0,25 = 25 %

100

Dari perhitungan diatas diperoleh % BF = 25%. Berdasarkan klasifikasi % BF, maka Ali termasuk dalam kategori sangat gemuk.

c. Menghitung Lemak Tubuh di Empat Area Prosedur perhitungan Body Fat dari Pengukuran Skinfold menggunakan persamaan Durnin dan Womersley (Angraeni, 2012) : a. Pilih lalu ukur satu atau empat bagian skinfold. Jika mengukur lebih dari empat bagian, hasilnya harus dijumlahkan. b. Menghitung Body Density (D) dengan menggunakan pendekatan persamaan regresi berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin. Terdapat di Tabel Equation for Estimating Body Density from the Sum of Four Skinfold Measurement. c. Menghitung persentase Body Fat : % Body Fat = ( Total lemak Tubuh Total body fat (%) = e. Menghitung Massa Lemak Bebas Massa Lemak Bebas = Berat badan (kg) Body fat (kg) Tabel 8 : Equation for Estimating Body Density from the Sum of Four Skinfold Measurement. Age Range 17 19 20 29 30 39 40 49 Equalition for Men D = 1,1620 0,0630 x (log) D = 1,1631 0,0632 x (log) D = 1,1422 0,0544 x (log) D = 1,1620 0,0700 x (log) Age Range 17 19 20 29 30 39 40 49 Equalition for Women D = 1,1549 0,0678 x (log) D = 1,1599 0,0717 x (log) D = 1,1423 0,0632 x (log) D = 1,1333 0,0612 x (log) ) x 100

d. Menghitung Total Body Fat yang hasilnya dapat dilihat pada Standar

25

50 +

D = 1,1715 0,0779 x (log)

50 +

D = 1,1339 0,0645 x (log)

Tabel 9 : Standar Total Lemak Tubuh Standar Normal Resiko Rendah Resiko Sedang Resiko Atas Rata Rata Sangat Resiko <5 % 6 14% 15% 16 24% >25% Laki - Laki <8% 9 - 22% 23% 24 - 31% >32% Perempuan

26

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan : 1. Metode yang digunakan untuk mengukur body composition antara lain single skinfold measurement, multiple skinfold measurement, WHR, total body fat, dan limb fat measurement. 2. Cara mengevaluasi data yang diperoleh dari pengukuran body composition adalah dengan cara menggunakan rumus yang telah di tetapkan. 3. Cara menginterpretasikan hasil yang telah diperoleh dari perhitungan evaluasi dengan melihat cut off maupun tabel klasifikasi yang telah ditetapkan oleh WHO ataupun para ahli yang lain, sehingga akan memudahkan kita dalam menginterpretasikan data. 4. Dari interpretasi yang telah kita peroleh, dapat kita ketahui bagaimana risiko terhadap penyakit dengan pemeriksaan lebih lanjut.

B. Saran 1. Perlu diberikan pelatihan bagi petugas tentang cara mengevaluasi dan menginterpretasikan data agar tidak terjadi bias. 2. Perlu perhatian lagi dalam pengambilan data karena jika data yang kita ambil salah, maka hasil evaluasi dan interpretasi kita juga akan salah. 3. Sebaiknya menggunakan baku rujukan terbaru dalam mengevaluasi dan menginterpretasikan data, yaitu WHO Antro 2005.

27

Daftar Pustaka Gibson R.S. 2005. Principles Nutritional Assessment . New Zealand: University Of Otago. Supariasa, I Dewa N.; Bakri, Bachyar; Fajar, Ibnu. 2012. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC. Michael J. Gibney, dkk. Gizi kesehatan Masyarakat.jakarta : EGC. Notoatmodjo, Prof. Dr. Soekidjo. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. Sirajuddin, Saifuddin. 2011. Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi Secara Biokimia dan Antropometri. Makassar: Universitas Hasanuddin. Jelliffe, D. B, 1989. Community Nutritional Asessment. New York: Oxford University Press. IK Martha, M. ZenRahfiludin, Wulansari, Ronny Aruben. Vol2No.lTh.2005. Gambaran Komposisi Tubuh pada Anak Usia 2 5 Tahun.

Http://Jurnal.unimus.ac.id Rospond, Raylene M. 2008. Penilaian Status Nutrisi. Azrul, Prof. Dr. dr. Azwar MPH. Tubuh Sehat Ideal dari Segi Kesehatan. Disampaikan pada Seminar Kesehatan Obesitas, Senat Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Sabtu, 15 Februari, 2004 di Kampus UI Depok. Budiman, Iwan. 2008. Validitas Pengukuran Lemak Tubuh yang Menggunakan Skinfold Caliper 2,3,4,7 tempat terhadap Cara Bod Pod. (Online) majour.maranatha.edu/index.php/jurnal-kedokteran/article/.../pdf. Diakses 14 Maret 2013. WHO. 2008. Waist Circumference and Waist/Hip Circumference. (Online) http://whqlibdoc.who.int/publications/2011/9789241501491_eng.pdf. Diakses 15 Maret 2013.

28

Whoindonesia.healthrepository.org/beatstream/123456789/647/1/The National Nutrition Strategy for children 0-18 Years (INO CAH 002 SE-04-227524).pdf Gizi, depkes. 2012. Tubuh ideal sehat. http://gizi.depkes.go.id/wpcontent/uploads/2012/05/Tubuh-ideal-se.hatpdf. Diakses tanggal 15 Maret 2013. dr. Soetjiningsih, SpAK. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Buku Kedokteran EGC : Jakarta

29