Anda di halaman 1dari 8

PALEONTOLOGI

ICHNOFOSSIL / TRACE FOSSIL

OLEH: NISA FACHRIANY 270110120152 GEOLOGI A

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2013


PENGERTIAN DAN JENIS JENIS FOSIL

Fosil adalah bukti-bukti yang didapatkan dari kehidupan pra- sejarah. Batasan masa pra-sejarah lebih dari enam juta tahun yang lalu. Menurut definisi tersebut, maka yangdimaksud dengan fosil adalah meliputi segala macam bukti, baik yang bersifat langsung maupun tak langsung. Contoh bukti langsung dari kehidupan prasejarah adalah tulang dinosaurus, sedangkan bukti tak langsung adalah jejak tapak kaki bewail yang terawetkandalam lumpur, dan koprolit (material faeces). Jenis Fosil: 1. Organisme itu sendiri Tipe pertama ini adalah binatangnya itu sendiri yang terawetkan/tersimpan. Dapat beruba tulangnya, daun-nya, cangkangnya, dan hampir semua yang tersimpan ini adalah bagian dari tubuhnya yang keras. Dapat juga berupa binatangnya yang secara lengkap(utuh) tersipan. Misalnya fosil Mammoth yang terawetkan karena es, ataupun serangga yangterjebak dalam amber (getah tumbuhan).Petrified wood atau fosil kayu dan juga mammoths yang terbekukan, and jugamungkin anda pernah lihat dalam filem berupa binatang serangga yang tersimpan dalamamber atau getah tumbuhan. Semua ini biasa saja berupa asli binatang yang tersimpan. 2. Sisa-sisa aktifitasnya Secara mudah pembentukan fosil ini dapat melalui beberapa jalan, antara lain seperti yang terlihat dibawah ini. Fosil sisa aktifitasnya sering juga disebut dengan Trace Fossil (fosil jejak), karena yang terlihat hanyalah sisa-sisa aktifitasnya. Jadi ada kemungkinan fosilitu bukan bagian dari tubuh binatang atau tumbuhan itu sendiri.Penyimpanan atau pengawetan fosil cangkang ini dapat berupa cetakan. Namuncetakan tersebut dapat pula berupa cetakan bagian dalam (Internal mold) dicirikan bentuk permukaan yang halus, atau External mold dengan ciri permukaan yang kasar. Keduanya bukan binatangnya yang tersiman, tetapi hanyalah cetakan dari binatang atau organisme itu.

ICHNOFOSSIL / TRACE FOSSIL

Ichnofossil atau trace fossil didefinisikan sebagai : Suatu struktur sedimen berupa track, trail, burrow, tube, boring atau tunnel yang terawetkan (terfosilisasi) sebagai hasil dari aktifitas kehidupan (selain tumbuh) hewan. Ichnofosil dapat digunakan sebagai indikator paleontologi dalam sedimentologi dan stratigrafi untuk membantu indentifikasi dan interpretasi suatu permukaan diskontinuitas proses pengendapan, karena dapat mengindikasikan lingkungan asal saat jejak tersebut terbentuk serta tidak mungkin hadir dalam kondisi reworked. Sedangkan ilmu yang mempelajari ichnofossil disebut ichnology. Struktur sedimen ini seringkali terawetkan sehingga membentuk tinggian atau rendahan (a raised or depressed form) pada batuan sedimen. Tanda/jejak hasil aktifitas atau kebiasaan organisma sebagai trace fossil atau ichofossil dikenali berupa : tracks, trail, burrow, tube, boring atau tunnel. a) Track = struktur fosil jejak berupa bekas atau jejak yang tercetak pada adalah footprint. b) Trail = struktur fosil jejak berupa jejak atau tanda lintasan satu atau beberapa hewan yang berbentuk tanda seretan menerus yang ditinggalkan organisma pada saat bergerak di atas permukaan. c) Burrow = struktur fosil jejak berupa liang di dalam tanah, biasanya untuk bersembunyi d) Tube = struktur fosil jejak berupa pipa e) Borring = struktur fosil jejak berupa (lubang) pemboran, umumnya berarah vertikal. f) Tunnel = struktur fosil jejak berupa terowongan sebagai hasil galian material lunak,

terbentuk oleh kaki burung, reptil, mamalia atau hewan lainnya. Istilah lain untuk track

PRINSIP PRINSIP ICHNOLOGI

SAME SPECIES DIFFERENT STRUCTURES Spesies yg sama dapat menghasilkan struktur yang berbeda tergantung dari pola-pola tingkah laku (behaviour) yang berbeda.

SAME BURROW DIFFERENT SUBSTRATES Galian yang sama kemungkinan terawetkan secara berbeda pada substrat yang berbeda tergantung dari rata-rata ukuran butir, stabilitas sedimen, kandungan air, dan kondisi kimia dari sedimen.

DIFFERENT TRACEMAKERS IDENTICAL STRUCTURES

Terminology of trace fossil preservation depending on the relationship to sediment horizons (after Benton & Harper, 1997)

KLASIFIKASI TRACE FOSSIL

Klasifikasi dalam fosil jejak dapat didasrkan pada 4 hal yaitu, takson 1. Klasifikasi Taksonomi Klasifikasi taksonomi fosil jejak sejajar dengan klasifikasi organisme di bawah international code of zoological nomenclature. Dalam jejak fosil tata-nama binomial bahasa latin digunakan, seperti pada hewan dan tumbuhan taksonomi dengan julukan genus dan spesies. Ketika berbicara tentang fosil genus disebut ichnogenus dan spesies adalah ichnospesies. Ichno prefix yang berasal dari bahasa yunani yang berarti jejak. Nama ini juga dicetak miring dan referensi lengkap penulis ditambah tahun publikasi harus dikutip ichnogenus dan ichnospecies yang biasanya disingkat sebagai igen dan isp 2. Model pengawetan Beberpa peneliti telah memberikan berbagai usulan mengenai kategori dan pengertian dari aspek-aspek model pengawetan. Salah satunya adalah Seilacher (1964 ) membedakan bentukanbentukan fosil-fosil jejak berdasarkan posisi stratum. Dalam klasifikasi ini dihasilkan kelompokkelompok full relief, semirelief danhyporelief. 3. pola hidup / klasifikasi ethologi Sejak diketemukan hubungan antara fosil jejak dengan perilaku organism, maka salah satu tujuan mempelajari fosil jejak adalah mengenali perilaku dari organism yang sudah mati. Perilakuperilaku tersebut dapat tercermin pada struktur sedimen dandapat dibedakan dalam beberapa jenis perilaku. Seilacher mengelompokan jenis-jenis perilaku menjadi : Domichnia, merupakan jejak-jejak tempat tinggal dari suatu organism. Repichnia, merupakan jejak yang dibentuk oleh pergerakan organismtermasuk berlari, merayap, berjalan. Bentuk dapat memotong perlapisan, sejajar, berkelok atau berpola tidak beraturan. Cubichnia, merupakan jejak yang dibentuk pada saat organism istirahat selama beberapa waktu. Contok bintang laut, tetapi mungkin juga bukti tempat persembunyian mangsa atau bahkan posisi penyergapan mangsa

Fodinichnia, jejak yang terbentuk pada infaunal deposit feeders. Merupakan kombinasi tempat tinggal sementara dengan pencarian makanan.

Pascichnia, jejak yang terbentuk dari kombinasi antara mencari makan dan berpindah tempat.

Fugichnia, merupakan jejak yang terbentuk dari aktivitas melepaskan diri darikejaran organism pemangsa.

Agrichnia, jejak yang berbentuk tidak teratur, belum dapat ditentukan jenis aktivitasnya

4. Lingkungan Masa Lampau atau Pengendapan Kegunaan utama dari studi fosil jejak adalah sebagai penentu lingkungan masa lampau. Seilacher (1967) memperkenalkan konsep Ichnofasies yaitu hubungan antara lingkungan pengendapan dengan kemunculan fosil-fosil atau kumpulan dari ichnofossil yang mencirikan lingkungan tertentu. penggolongan ichnofosil melalui ichnofasiesnya, suatu lingkungan pengendapan dapat ditemukan dengan secara mendetail melalui dari lapisan batuan mana fosil tersebut ditemukan. Konsep ini kemudian lebih dikembangkan lagi oleh Pemberton, dkk (1984) Berdasarkan lingkungannya, Fosil jejak dikelompokkan ke dalam lima Ichnofasies. Kelima fasies tersebut pembentukannya bukan hanya dikontrol oleh batimetri dan salinitas saja, namun juga dikontrol oleh bentuk permukaan dan jenis lapisan batuannya. Pada umumnya Ichnofasies terbentuk pada substrat yang lunak, namun ada beberapa yang terbentuk pada substrat yang keras. Kelima fasies tersebut adalah : 1. Scoyenia Ichnofasies, terbentuk pada lingkungan darat ataupun air tawar. Beberapa genus yang masuk dalam fasies ini antara lain :Scoyenia, Planolites, Isopdhichnus dan beberapa yang lainnya. 2. Skolithos Ichnofasies, terbentuk pada daerah intertidal dengan substrat berupa pasir dengan fluktuasi air tinggi. Lingkungan khas dari skolithos adalah garis pantai berpasir, tapi mungkin ke arah laut dalam dan dangkal. Didominasi oleh fosil jejak jenis vertical/liang vertical, dan berbentuk

U dengan sedikit bentuk horizontal. oraganisme dalam lingkungan ini membangun liang yang dalam untuk melindungi diri terhadap pengeringan atau suhu yang tidak menguntungkan dan perubahan salinitas pasa saat air surut, sebagai sarana untuk ,melarikan diri dari pergeseran permukaan. Beberapa genus yang masuk kelompok ini antara lain : Skolthos, Diplocraterion, Thallasinoides danOphiomorpha. 3. Cruziana Ichnofasies, terbentuk pada laut dangkal dengan permukaan air laut surut dan lebih dalam dari skolithos ichofesies. Sangat dipengaruhi oleh gelombang. Hampir semua bentuk baik vertical maupun horizontal dapat terbentuk. Beberapa genus yang termasuk kelompok ini antara lain :Rusophycus, Cruziana dan Rhizocorallium 4. Zoophycos Ichnofasies, terbentuk pada lingkungan laut bathyal, tidak dipengaruh oleh pengaruh gelombang. Terdapat di lingkungan air tenang dengan kadar oksigen cukup rendah dan dasar berlumpur tetapi dapat terjadi di substrat lain. Hal ini ditandai dari jejak yang sederhana hingga kompleks. Biasanya didominasi oleh jenis horizontal. Genus yang masuk dalam fasies ini antara lain : Zoophycos. 5. Nereites Ichnofasies, terbentuk pada lingkungan laut abyssal. Biasanya terbentuk padas ubstrat lempung daripada distal turbidity beds. Tingkat keragaman jumlah jejaknya tinggi, tapi kelimpahan jejak individunya rendah. Genus yang masuk dalam kelompok ini antara lain : Nereites dan Scalarituba. 6. Psilonichnus Ichnofasies Jenis ichnofasies yang terbentuk di daerah non marine dan di daerah yang sangat dangkal. Jejak ini sering ditandai dengan dengan jejak yang berbentuk Y atau U, berporos vertical dengan terowongan horizontal. Contohnya trek dan jejak serangga, reptile, mamalia, dan burung Daftar Pustaka

Fisher , AG. , Lalicher, CG., dkk, 1952, Invertebrate Fossils, MC, Graw Hill Book Co, London Shork, R. dkk., 1952, Principle of Invertebrata Paleontology, Tosho, Printing Company , Ltd, Tokyo Seilacher, 2007, Trace Fossils Analysis. http://www.scribd.com/doc/48680093/ichnofossil-trace-fossil#download http://paleontologigeo2010.blogspot.com/2011/10/ichno-fosil-dan-terace-fosil.html http://www.scribd.com/doc/134867238/Fosil-Jejak