Anda di halaman 1dari 31

Kepala Institut Analisa Politik dan Militer Rusia, Kolonel Anatoly Tsyganok mengatakan bahwa serangan Amerika Serikat,

Inggris dan Perancis ke Libya sama dengan invasi mereka ke Irak. Ditambahkannya, serangan negara-negara Barat ke Libya bertujuan menjarah sumber-sumber energi negara itu. Tsyganok, Senin (21/3) dalam wawancara dengan IRNA di Moskow, menuturkan, Amerika dan sekutunya di Barat akan berupaya maksimal untuk memanfaatkan kesempatan yang muncul di Libya demi mencapai ambisi-ambisi politik dan ekonominya. Ditambahkannya, Barat bermaksud mengontrol sumber-sumber energi Libya dan roda perekonomian negara itu seperti yang mereka lakukan di Irak. "Rusia dan Cina serta mayoritas negara dunia menentang serangan udara Barat, yang bertujuan menggulingkan rezim Gaddafi," jelasnya. Menurut Tsyganok, rakyat Libya harus menentukan masa depan negaranya dan negara-negara lain juga tidak berhak mengintervensi urusan dalam negeri Libya. "Tindakan-tindakan sepihak Amerika akan membongkar ambisi-ambisi busuk negara itu untuk mengontrol dan menguasai kawasan strategis Timur Tengah. Masyarakat dunia perlu melawan langkah-langkah seperti ini," tegasnya. Pada bagian lain pernyataannya, Tsyganok berbicara tentang Republik Islam Iran dan memuji kebijakan negara ini di Timur Tengah. Dikatakannya, Iran berupaya menciptakan dan memperkokoh stabilitas dan keamanan Timur Tengah. Kebijakan Tehran merupakan faktor stabilitas kawasan. Seraya menyinggung langkah-langkah Iran untuk menjamin keamanan kawasan dengan melibatkan negara-negara regional, Tsyganok menandaskan, "Penentangan Iran atas kehadiran pasukan Amerika di kawasan dan penegasan negara ini terhadap penarikan mereka khususnya dari Irak dan Afghanistan, merupakan faktor utama kebijakan konfrontatif Washington terhadap Tehran. Oleh karena itu, Amerika berupaya menekan Iran termasuk melalui sanksi." (IRIB/RM) Source : http://ardi-lamadi.blogspot.com

Kantor berita Fars melaporkan bahwa intervensi politik Amerika ke Libya ternyata menggunakan bom uranium. Berita ini dikonfirmasi oleh Aliansi Anti Perang Inggris. David Wilson, orang yang menuliskan artikel tentang hal ini yang juga seorang anggota Aliansi Anti Perang Inggris menuliskan bahwa dalam 24 jam pertama sejak penyerangan koalisi ke Libya, pesawat Amerika telah menjatuhkan 45 bom ke bumi Libya, bersamaan dengan tembakan rudal berdaya ledak tinggi dan hulu ledak yang mengandung uranium oleh kapal perang cruise milik Inggris dan Perancis. Pengembangan uranium yang dilakukan oleh negara yang dipimpin oleh Mahmoud Ahmadinejad dilarang oleh Amerika. tetapi mengapa justru Amerika yang menggunakan uranium sebagai senjata penghancur? mereka beralasan bahwa uranium ditakutkan akan digunakan sebagai senjata penyelenggara kiamat, tetapi justru Amerika sendiri yang menggunakannya. Diterbitkan di: 30 Maret, 2011 Sumber: http://id.shvoong.com/law-and-politics/international-law/2141419-amerikagunakan-bom-uranium-dalam/#ixzz27OAZQeSU

INVASI AMERIKA SERIKAT KE LIBIA DI TINJAU DARI HUKUM ORGANISASI INTERNASIONAL INVASI AMERIKA SERIKAT KE LIBIA DI TINJAU DARI HUKUM ORGANISASI INTERNASIONAL

MAKALAH Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Hukum Internasional Dosen Pengampu : Ana Yuliana,

Disusun Oleh : NAMA : M. Imron Khusni NIM : 092020096

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG 2010

KATA PENGANTAR

BISMILAHIRAHMANNIROHIM
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas limpahan Rahmat, Taufiq, Hidayah serta Inayah Nya kepada kami semua, penulis khususnya, karena dengan petunjuk dan hidayah-Nya yang telah diberikan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul INVASI AMERIKA SERIKAT KE LIBIA

DITINJAU DARI HUKUM ORGANISASI INTERNASIONAL Dalam penyusunan


Makalah ini penulis telah berusaha dengan segala daya dan upaya guna menyelesaikan salah satu tugas kuliah. Penulis menyadari bahwa apa yang tersaji dalam penulisan ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak hal-hal yang perlu diperbaiki dan diperdalam lebih lanjut. Karna hanya sebatas inilah yang dapat penulis sajikan. Maka dengan segala bentuk kritik dan saran yang membangun, sangat saya harapkan demi meninjak lanjuti pada kajian-kajian yang lebih lanjut . doa dan harapan penulis semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis, pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Libya atau Libia (bahasa Arab: , yang diartikan ke dalam bahasa Libya Lby atau Al-Jamhriyyah al-Arabiyyah al-Lbiyyah a -abiyyah al-Itirkiyyah al-Um, ) terletak di Afrika Utara, berbatasan dengan Laut Tengah, Mesir di sebelah timur, Sudan di tenggara, Chad dan Niger di selatan serta Aljazair dan Tunisia di sebelah barat. Ibu kota negaranya adalah Tripoli. Terdapat tiga seksi tradisional, yaitu Tripolitania, Fezzan, dan Cyrenaica. Nama "Libya" berasal dari bahasa Mesir "Lebu", sebutan bagi orang-orang Berber yang tinggal di sebelah barat Sungai Nil, dan diadopsi oleh bahasa Yunani sebagai

"Libya". Pada zaman Yunani kuno, istilah ini memiliki arti yang lebih luas, yang mencakup seluruh Afrika Utara di sebelah barat Mesir, dan kadang ditujukan untuk seluruh benua Afrika. Semula, Libya adalah sebuah kerajaan yang didirikan pada 24 Desember 1951. Raja Idris I bertindak sebagai pemimpin pemerintahan. Italia merebut Libya dari Kekaisaran Ottoman (Turki) dan menjadikannya wilayah jajahan. Sebuah negara yang terletak di Afrika Utara dan berbatasan dengan Laut Tengah ini mendapat kemerdekaan setelah Italia menyerah kepada Sekutu dalam Perang Dunia II. Aksi Unjuk Rasa terjadi di Libya pada bulan maret 2011. Aksi Demonstrasi ini meniru aksi yang terjadi di Aljazair, Tunisia, dan Mesir. Rakyat Libya menuntut pemimpin Libya Muammar al-Gaddafi turun dari jabatannnya yang telah dipimpinnya selama 42 Tahun.Unjuk Rasa terjadi di berbagai kota di Libya, seperti Tripoli, Tajoura, Zawiyah, Zintan, Ajdabiyah, Ras Lanuf, Al Bayda, Benghazi, Bin Jawed, Ar Rajban, dan Misratah.Unjuk Rasa ini telah memakan korban jiwa sebanyak 165 orang, termasuk Anak-anak. Kebanyakan penduduk Libya lari ke 2 negara terdekat, Tunisia dan Mesir. Ada juga warga asing yang melarikan diri dari Libya, yaitu dari Indonesia, China, Filipina, dan lain-lain. Beberapa hari kemudian, NATO, dibantu oleh pasukan Tentara Amerika Serikat, Prancis, Rusia, dan lain-lain melancarkan serangan bertubi-tubi ke Tripoli.

B.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merumuskan permasalahan dalam pembahasan Makalah ini adalah apa tujuan amerika serika invasi ke libia? C. Metode Penulisan Metode pengmpulan data yaitu suatu cara pengumpulan suatu bahan untuk dijadikan suatu makalah/laporan agar data yang terkumpul mampu memberikan penegasan pada makalah tersebut. Dalam menyusun makalah ini penulis menggunakan metode study literatur yaitu dengan cara mengumpulkan, menganalisis bukti-bukti

tertentu untuk memperoleh fakta dan kesimpulan yang kuat. Dimana pengumpulan data diperoleh dari berbagai macam sumber sebagai bahan untuk dijadikan suatu makalah.

BAB II PEMBAHASAN

A.

Kerangka Teori

1.

Tinjauan Umum tentang Invasi, Perang/Agresi Militer


a. Penegertian Invasi, Perang/ Agresi Militer Menurut kamus besar Indonesia Invasi mempunyai arti tindakan penduduk suatu Negara terhadap Negara lain dengan mengguanakan seranagn militer dengan bermaksud menguasai Negara tersebut. Perang dalam pengertian umum yaitu pertandingan antara dua Negara atau lebih terutama dengan angkatan bersenjata mereka, tujuan dari masing-masing konstentan atau kontestan adal untuk mengalahklan kontestan lain dan membebankan syarat-syarat perdamaian Menurut Prof. Dr. F. Sugeng Istanto, SH dalam buku Hukum Internasional yang dimaksud perang adalah pertikaian bersenjata yang memenuhi persyaratan tertentu bahwa pihak pihak yang bertikai adalah Negara dan bahwa pertikaian bersenjata itu disertai pernyataan perang. Dahulu perang dianggap sebagai sarana politik untuk menyelesaikan sengketa, sehingga setiap Negara berhak untuk perang. Dalam perkembangannya kemudian anggapan tersebut tidak lagi sepenuhnya di benarkan The Paris General Treaty for

Renonciation of War tahun 1928 yang juga disebut sebagai The Beian-Kellog Pact
mendapatkan persetujuan umum penolakan penggunaan perang sebagai sarana

penyelesaian sengketa Internasional ataupun sebagai sarana penyelesaian sengketa Internasional ataupun sebagai alat politik nasional suatu Negara terhadap Negara lain. Ketentuan semacam itu juga ditetapkan dalam piagam PBB pasal 2 paragraf 3 piagam tersebut menetapkan bahawa segenap anggota PBB harus menyelesaikan persengketaan Internasional dengan jalan damai dan mengguanakan cara-cara sedemikian rupa sehingga perdamaian dan keamanan internasional serta keadilan tidak terancam.

Namun penolakan umum penggunaan perang itu tidak berarti menghapus hak Negara untuk berperang. Negara masih diakui mempunyai hak berperang, karena perang adalah jalan terahir dari sebuah negosiasi.

b.

Prosedur Invasi Militer Menurut Hukum Internasional Menurut hukum internasional setiap sengketa hokum Internasional diselesaikan dengan prosedur yang telah ditentukan, yaitu :

1)

Sengketa diselesaikan dengan jalan damai melalui penyelesaian diplomatic antara Negara atau pihak yang bertikai / bersengketa, melalui perundingan, penmyelidikan, permufakatan melalui badan-badan atau persetujuan setempat dengan cara damai. Hal ini sesuai dengan pasa 33 piagam PBB.

2)

Menurut Pasal 34 Piagam 34 Piagam PBB, apa biloa jalan damai tidak berhasil maka PBB dalam hal ini Dewan Keamanan berwenang melakukan penyelidikan untuk menentukan sengketa internasional tersebut dapat membahayakan perdamaian dan keamanan Internasional.

3)

Apabila suatu Negara terbukti melakukan tindakan yang membahayakan perdamaian dan keamanan internasional maka dewan keamanan PBB berhak memberikan sanksi dengan melakukan tindakan pemutusan hubungan diplomatic, embargo, ekonomi, komunikasi dan hubungan lainnya atas nama PBB sebagai lembaga ataupaun memberikan mandate pada anggota PBB hal tersebut sesuai piagam PBB pasal 41.

4)

Apabila tindakan embargo dan pemutusan hubungan diplomatik ternyata tidak berhjasil maka dewan keamanan PBB berhak memberikan sanksi militer dan dibantu oleh kekuatan militer Negara anggota demi perdamaian dan keamanan Internasional.

2.

Tinjauan Umum Tentang Organisasi Internasional


a. Pengertian Organisasi Internasional Organisasi Internasional dapat di definisikan sebagai pengaturan bentuk kerja sama Internasional yang melembaga anatara Negara-negara, umumnya berladaskan suatau persetujuan dasar, untuk melakuakan fungsi-fungsi yang memberikan manfaat

timbale balik yang dijawantahkan melalui pertemuan-pertemuan serta kegiatan-kegiatan staf secara berkala. Jadi Organisasi Internasional menurut pengertian sederhana tersebut di atas mencakup adanya tiga unsur yaitu; 1) Keterlibatan negara dalamsuatu pola kerjasama; 2) Adanya pertemuan-pertemuan secara berkala; 3) Adanya staf yang bekerja sebagai pegawai sipil Internasional Dalam definisi yang lebih lengkap dan menyeluruh Organisasi Internasional adalah pola kerja sama yang melintasi batas-batas negara, dengan didasari struktur organisasi jelas dan lengkap serta diharapkan atau diproyeksikan untuk berlangsung serrta melaksanakan fungsinya secara berkesinambungan dan melembaga guna mengusahakan tercapainya tujuan-tujuan yang diperlukan serta disepakati bersama baik antara pemerinytah dengan pemerintah maupunanatara sesama kelompok nonpemerintah pada negara yang berbeda. Oleh karena itu suatu organissasi Internasional terdiri atas unsur-unsur 1) 2) 3) 4) Kerjasama yang ruang lingkupnya melintasi batas Negara Mencapai tujuan-tujuan yang di sepakati bersama Baik antara pemerintah dan non pemerintah Struktur organisasi yang jelas dan lengkap.

Menurut Brierly disebut sebagai hukum konstitusi Internasional karena Organisasi Internasional berfungsi sebagai fungsi legislatif, fungsi eksekutif dan fungsi administratif . Legislatif Internasional pada hakekatnya merupakan proses perkembangan Organisasi Internasional dalam menghimpun peraturan-peraturan Internasional yang menyangkut bidang yang sangat luas, misalnya kemudahan-kemudahan di bidang pengangkutan dan perhubungan, pengawasan penyakit, pengendalian harga dalam bidang komoditi pertanian, perburuhan dan lain-lain. Fungsi eksekutif dalam suatu system Organisasi Internasional menyangkut masalah pelaksanaan keputusan-keputusan yang mengikat secara hukum terhadap keputusan yang telah dikeluarkan oleh Organisasi Internasional tersebut yang dikaitkan dengan sanksi. Fungsi administratif antara lain menyangkut peraturan-peraturan bersama yang harus dilaksanakan oleh para anggotanya, seperti masalah pos dan telegraf dalam organisasi-Organisasi Internasional.

b.

Subyek Hukum Organisasi Internasional Subyek suatu system hukum hakikatnya adalah semua yang dapat menghasilkan prinsip-prinsip hukum yang diakui dan mempunyai kapasitas untuk melaksanakan prinsipprinsip hukum tersebut. Dalam Hukum Organisasi Internasional hal ini meliputi semua Organisasi Internasional , termasuk organisasi regional dan organisasi lainnya yang dapat digolongkan sebagi Organisasi Internasional. Personalitas dari suatu subyek hukum Organisasi Internasional adalah tindakan dalam kapasitasnya sebagai Organisasi Internasional , untuk melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan ketentuan yang termuat dalam instrumendasar yang dimiliki oleh Organisasi Internasional tersebut. Organisasi Internasional sebagai subyek dalam arti yang luas dimaksudkan tidak saja menyangkut semua organisasi yang dibentuk oleh negara-negara (public

Internasional organization), tetapi yang juga dibentuk oleh badan-badan non pemerintah
(private Internasional organization). Sampai dengan akhir tahun 1969 jumlah Organisasi

Internasional meliputi kurang lebih 2.400 buah, 229 di antaranya merupakan organisasi antar pemerintahan dan organisasi non pemerintahan. Organisasi Internasional kini meliputi organisasi antar pemerintahan dan organisasi non pemerintahan. Istilah Organisasi Internasional pada hakikatnya hanya mencakup organisasi-organisasi antar pemerintah saja. Karena itu penekanan utama dalam uraian nanti hanya pada organisasi antar pemerintahan, mengingat dlam hubungannya dengan brbagai urusan dunia dilakukan oleh pemerintah nasional dari negara anggotanya. Sehubungan dengan Organisasi Internasional sebagi subyek hukum Organisasi Internasional, juga masih di kenal organisasi regional atau subregional sebagai subyek. Jika Organisasi Internasional sebagai badan multilateral dengan prinsip keanggotaan yang universal dan dengan kepentingan yang luas sampai pada badan-badan subsidernya, maka organisasi regional mempunyai keanggotaan yang terbatas, tetapi mempunyai kepentingan yang relatif luas, misalnya EEC (Masyarakat Ekonomi Eropa), OAU (Organisasi Persatuan Afrika),dan OAS (Organisasi negara-negara Amerika). Adapula yang membatasi tidak saja pada keanggotaannya tetapi juga pada masalahmasalah khusus seperti Internasional River Commission atau US_Cannadian Internasional Joint

Commission.

c.

Obyek Hukum Organisasi Internasional Obyek hukum Organisasi Internasional meliputi negara baik sebagai anggota Organisasi Internasional maupun bukan, Organisasi Internasional maupun regional lainnya. Bahkan menurut perkembangan Organisasi Internasional seperti PBB, sesuatu organisasi gerakan kemerdekaan dapat dialui sebagai subyek hokum Organisasi Internasional , seperti halnya SWAPO (South West African Peoples Organization) dan PLO (Palestine Liberation Organization) Negara sebagai obyek hukum Organisasi Internasional menyangkut hak kedaulatan, kualifikasi sebagai negara anggota serta hak-hak dan kewajiban negara itu, tidak saja menurut ketentuanketentuan yang telah ditetapkan dalam instrumen pokok dari organisasi inerenational itu tetapi juga sesuai dengan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan oleh Organisasi Internasional tersebut.

Dalam kaitannya negara sebagai obyek hukum Hukum Organisasi Internasional telah pula dikembangkan oleh PBB, dan Majelis Umum PBB pada tanggal 24 Oktober 1970 telah menyetujui suatu resolusi, Res.2625 (XXV) yang menetapkan Deklarasi mengenai prinsipprinsip Hukum Internasional mengenai hubungan bersahabat dan kerjasama antar semua negara. Dengan demikian negara-negara yang berdaulat merupakan obyek dari Hukum Organisasi Internasional , khususnya negara yang menjadi bagian atau anggota dari Organisasi Internasional.

d.

Sumber Hukum Organisasi Internasional Menurut Sumaryo Suryokusumo dalam buku Organisasi Internasional , Istilah sumber hukum Internasional telah digunakan dalam empat pengertian

Pertama, sebagai kenyataan histories tertentu, kebiasaan yang sudah lama


dilakukan, persetujuan atau perjanjian resmi yang dapat membentuk sumber Hukum Organisasi Internasional. Sebagai contoh dari kenyataan sejarah pembentukan PBB adalah Konferensi Dumbarton Oaks 1944 yang mengusulkan perumusan 50 pasal rancangan Piagam PBB, Konfernsi Organisasi Internasional yang berlangsung di San Fransisco tahun 1945 sebagai kelanjutan dalam merampungkan rancangan piagam, dan Konferensi Yalta 1945 yang khususnya mengusulkan adanya badan di dalam PBB yang bertanggung jawab mengenai keamanan nasional para anggota.

Kedua, instrumen pokok yang dimiliki oleh Organisasi Internasional dan


memerlukan ratifikasi dari semua anggotanya. Instrumen pokok ini dapat berupa piagam (PBB,OAS, OAU, dan OKI), Covenant (Liga Bangsa-Bangsa), Final Act (Konferensi keamanan dan kerjasama Eropa) atau lazim disebut Helsinki Acord, Pact (Liga Arab, Warsawa), Treaty (NATO, SEATO), statute (IAEA, OPEC), deklarasi (ASEAN),

contitution (UNIDO, ILO, WHO, UNESCO dan lain-lain ) Ketiga, ketentuan-ketentuan lainnya mengenai peratuarn tata cara Organisasi
Internasional besrta bdan-badan yang ada di bawah naungannya, termasuk cara kerja mekanisme yang ada pada organisasi tersebut. Peraturan-peraturan seperti itu

merupakan elaborasi dan pelengkap instrumen pokok yang ada, yang semuanya itu memerlukan persetujuan bersama dari para anggota.

Keempat,

hasil-hasil

yang

ditetapkan

atau

diputuskan

oleh

Organisasi

Internasional yang wajib atau harus dilaksanakan baik oleh para anggotanya maupun badan-badan yang ada di bawah naungannya. Hasil-hasil itu bisa berbentuk resolusi, keputusan, deklarasi, atau rekomendasi. Dalam system PBB badan-badan utama seperti Majelis Umum, Dewan Keamanan, dan Dewan Ekonomi Sosial dapat mengeluarkan resolusi sendiri-sendiri. Namun demikian resolusi Majelis bersifat hanya rekomendatif dibandingkan resolusi Dewan Keamanan yang mempunyai kekuatan mengikat (legally binding).

B.

Invasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyiarkan pesan yang simpang siur mengenai tujuan mereka di Libya. Presiden Barack Obama mengatakan Khadafi harus pergi, sementara pasukan AS berjanji akan tetap berpegangan pada mandat PBB. Tindakan militer yang kami lakukan adalah mandat dari Dewan Keamanan (DK) PBB yang secara khusus memfokuskan pada ancaman kemanusiaan yang dilakukan oleh Kolonel Khadafi terhadap rakyatnya, ujar Obama dalam konferensi pers di Chili. Serangan misil dan udara yang diluncurkan akhir pekan lalu merupakan apa yang dimandatkan pada Resolusi DK PBB 1973. Resolusi tersebut secara khusus menekankan pada upaya kemanusiaan dan Pemerintah AS memastikan mereka akan tetap berpegang pada mandat tersebut. Demikian dikutip dari AFP, Selasa (22/3/2011). Namun, Obama menekankan Khadafi harus pergi merupakan kebijakan Pemerintah AS. Dia menuduh pemimpin Libya yang berkuasa selama 40 tahun tersebut telah membunuh warga sipil saat mencoba menghentikan aksi protes oposisi. Pemerintah AS berada dibawah tekanan dengan tidak mengatakan tujuan perang yang dilakukannya di Libya, meskipun Obama bersikeras tidak akan ada pasukan militer AS di daratan Libya. Pemerintahan Amerika serikat seakan geram dengan pemimpin Negara Libya Muammar Gaddaf, karena ia adalah sosok tokoh yang controversial dan menjadi salah satu tokoh yang kerap memicu kesalahan dunia barat karena sepak terjangnya, terutama keterbukaan Gaddafi dalam memberikan dukungan dan pendanaan kepada kelompok-kelompok yang oleh barat di anggap sebagai islam militan dan teroris, ia disebut-sebut memberikan sokongan kepada Tentara Republik Irlandia (IRA) dan organisasi-organisasi pembebasan palestina. Gaddafi juga terlibat ikut serta dalam perencanaan pengeboman pesawat Pan Am ketika ketika sedang terbang melintasi kota Lockerbie, Skotlandia pada tahun 2003. Sikap itulah yang membuat dunia barat kerap mengecam Gaddafi yang berujung pada pengisolasian Libya dari pergaulan dunia Internasional. Mantan Presiden AS Ronald Reagan bahkan sampai menjuluki Gaddafi dengan julukan Anjing Gila. Didalam Negerinya Gaddafi tak ubahnya sebagai pemimpin yang memiliki kekuasaan Absolut dan cendrung Otoriter, ia memberikan control yang ketat terhadap

kebebasan Pers dan membuat undang-undang yang melarang aktivitas kelompokkelompok yang secara ideologis yang menantang Gaddafi. Kebijakan itulah yang justru mendorong banyak orang yang melanggarnya. Akibatnya, ratusan orang di penjara dan ada beberapa diantara mereka yang dihukum mati. Dengan kebijakan-kebijakan yang di berikan Gadafi kepada rakyatnya seakan telah merampas hak-hak mereka, maka pada awal bulan Maret 2011 yang lalu, banyak aktivis-aktivis yang pro Demokrasi melakukan demo masal menuntut terjadinya demokrasi di libiaya. Namun pemimpin Libya yang berkuasa selama 40 tahun tersebut telah membunuh warga sipil saat mencoba menghentikan aksi protes oposisi. Kantor berita Fars melaporkan, David Wilson, anggota Aliansi Anti-Perang Inggris dalam artikelnya yang dimuat di situs aliansi tersebut menulis, Hanya dalam 24 jam pertama setelah serangan koalisi pasukan Barat ke Libya, pesawat pembom Amerika Serikat menjatuhkan 45 bom raksasa ke Libya. Bom-bom itu dijatuhkan berbarengan dengan penembakan rudal cruise oleh kapal tempur Inggris dan Perancis. Seluruh bom dan rudal itu dilengkapi dengan hulu ledak yang mengandung uranium yang telah diperlemah. Uranium yang telah diperlemah merupakan sisa-sisa dari proses pengayaan uranium. Jenis uranium yang telah diperlemah ini digunakan untuk memproduksi senjata nuklir. Menyusul zat ini memiliki kemampuan destruktif yang besar jika digunakan dalam bom, maka dari sisi militer uranium yang telah diperlemah menjadi bahan yang cukup bernilai tinggi. Selain mampu menembus lapisan baja pada badan tank, bom yang menggunakan uranium juga sangat berbahaya karena beracun dan mengandung zat radioaktif. Dilaporkan serangan tersebut menewaskan dan menciderai ratusan warga sipil. Negara-negara Barat yang berlindung di balik resolusi DK PBB mengklaim bahwa serangan tersebut bertujuan untuk menekan rezim Gaddafi yang terus-menerus membantai revolusioner Libya. Kenyataan di lapangan, lanjut dia, dalam invasi telah terjadi pergeseran tujuan dalam melaksanakan resolusi tersebut, sehingga banyak kecaman dari dunia internasional, karena invasi militer Barat tersebut punya motif lain untuk mengeruk emas hitam negara itu. Amerika dan sekutunya di Barat akan berupaya maksimal untuk memanfaatkan kesempatan yang muncul di Libya demi mencapai ambisi-

ambisi politik dan ekonominya. Ditambahkannya, Barat bermaksud mengontrol sumbersumber energi Libya dan roda perekonomian negara itu seperti yang mereka lakukan di Irak. Kini negara-negara Barat berselisih pandangan mengenai penerapan resolusi Dewan Keamanan PBB no.1973. Bahkan, sebagian menyatakan tidak berniat

menumbangkan rezim Gaddafi. Michael Mullen, Kepala Staf Angkatan Bersenjata AS sehari pasca dimulainya agresi militer di Libya menyatakan bahwa tujuan serangan ini bukan untuk menggulingkan Gaddafi. Tindakan-tindakan sepihak Amerika akan membongkar ambisi-ambisi busuk negara itu untuk mengontrol dan menguasai kawasan strategis Timur Tengah. Masyarakat dunia perlu melawan langkah-langkah seperti ini ujarnya pula.

BAB III KESIMPULAN

Libya atau Libia terletak di Afrika Utara. Ibu kota negaranya adalah Tripoli. Terdapat tiga seksi tradisional, yaitu Tripolitania, Fezzan, dan Cyrenaica. Semula, Libya adalah sebuah kerajaan yang didirikan pada 24 Desember 1951. Raja Idris I bertindak sebagai pemimpin pemerintahan. Italia merebut Libya dari Kekaisaran Ottoman (Turki) dan menjadikannya wilayah jajahan. Libia mendapat kemerdekaan setelah Italia

menyerah kepada Sekutu dalam Perang Dunia II. Latar belakang invasi AS ke Libia mengenai alasan pembenaran tentang kemanusiaan yang di gunakan. Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyiarkan pesan yang simpang siur mengenai tujuan mereka di Libya. Presiden Barack Obama mengatakan Khadafi harus pergi. Menurut Obama, tindakan militer yang dilakukan adalah mandat dari Dewan Keamanan (DK) PBB yang secara khusus memfokuskan pada ancaman kemanusiaan yang dilakukan oleh Kolonel Khadafi terhadap rakyatnya. Obama menekankan Khadafi harus pergi merupakan kebijakan Pemerintah AS. Dia menuduh pemimpin Libya yang berkuasa selama 40 tahun tersebut telah membunuh warga sipil saat mencoba menghentikan aksi protes oposisi. Pemerintahan Amerika serikat seakan geram dengan pemimpin Negara Libya Muammar Gaddaf, karena ia adalah sosok tokoh yang controversial dan menjadi salah satu tokoh yang kerap memicu kesalahan dunia barat karena sepak terjangnya. Gaddafi memberikan dukungan dan pendanaan kepada kelompok-kelompok islam militan dan teroris. Gaddafi juga terlibat ikut serta dalam perencanaan pengeboman pesawat Pan Am ketika ketika sedang terbang melintasi kota Lockerbie, Skotlandia pada tahun 2003. Didalam Negerinya Gaddafi tak ubahnya sebagai pemimpin yang memiliki kekuasaan Absolut dan cendrung Otoriter. Dengan kebijakan-kebijakan yang di berikan Gadafi kepada rakyatnya seakan telah merampas hak-hak mereka, maka pada awal bulan Maret 2011 yang lalu, banyak aktivis-aktivis yang pro Demokrasi melakukan demo masal menuntut terjadinya demokrasi di libiaya. Namun pemimpin Libya yang berkuasa selama

40 tahun tersebut telah membunuh warga sipil saat mencoba menghentikan aksi protes oposisi. Jadi kesimpulannya, tujuan invasi Amerika Serikat ke Libia adalah Amerika akan membongkar ambisi-ambisi busuk negara itu untuk mengontrol dan menguasai kawasan strategis Timur Tengah. bisa dikatakan amerika besar kemungkinan dengan berdalih intervensi ke libya tentang kemanusiaan dibalik semua itu pula ada unsur-unsur tertentu yaitu menguasai ladang minyak di tripoli libya.

DAFTAR PUSTAKA

Suhendi, Hendi, Fiqih Muamalah, RAJ, 2002. Syafei, Rachmat, Fiqih Muamalah, Bandung : Pustaka Setia, 2006. www.wikipedia.com

http://ahonkunyuunyu.blogspot.com/2011/10/invasi-amerika-serikat-ke-libia-di.html

VIVAnews - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Robert Gates, mengingatkan bahwa serangan ke Libya sejak akhir pekan lalu hanya untuk menerapkan zona larangan terbang, bukan untuk membunuh pemimpin yang bermasalah, Muammar Khadafi. Namun, dalam serangan terbaru di Ibukota Tripoli, muncul laporan bahwa ada bom dari pasukan Koalisi meledak tak jauh dari kompleks kediaman Khadafi. Gates, seperti dikutip harian The Telegraph, menyatakan bahwa Koalisi harus tetap patuh pada resolusi Dewan Keamanan PBB, yang ditetapkan Kamis pekan lalu, yaitu hanya untuk memastikan bahwa tidak ada pesawat atau helikopter rezim Khadafi bisa terbang untuk menembaki pasukan pemberontak atau massa anti Khadafi. Misi di luar itu tidak dibenarkan. "Menurut saya penting bagi kita beroperasi di bawah mandat resolusi Dewan Keamanan PBB," kata Gates dalam penerbangan ke Rusia, Minggu malam 20 Maret 2011. "Bila kita mulai menambah target misi, maka kita bakal menciptakan masalah baru," lanjut Gates. Saat itu Gates ditanya wartawan mengenai komentar Menteri Pertahanan Inggris, Liam Fox, bahwa Khadafi bisa menjadi sasaran. Namun, Gates tidak setuju dengan komentar itu. "Misi satu-satunya adalah menerapkan zona larangan terbang, yaitu mencegah dia [Khadafi] menggunakan kekuatan udara untuk membantai rakyat sendiri," kata Gates. Sementara itu, serangan udara dan roket pasukan Koalisi kembali terdengar di ibukota Libya, Tripoli, pada Minggu malam waktu setempat. "Penembakan utama terjadi sekitar pukul sembilan malam waktu setempat dan saat itu kami yakin bahwa ada serangan di wilayah kompleks Khadafi," ujar laporan koresponden stasiun berita Al Jazeera di Tripoli, Anita McNaught. Para jurnalis dilarang pihak berwenang di Libya meninjau sumber ledakan setelah serangan udara Koalisi itu. Pejabat militer AS, Laksamana Madya William Gortney, menyatakan selain memastikan tidak ada pesawat militer Libya yang terbang, pasukan Koalisi juga akan menggempur kekuatan rezim Khadafi yang terlihat menyerang posisi pasukan pemberontakan, yang AS sebut sebagai pasukan pro-demokrasi. "Bila mereka bergerak ke arah pasukan oposisi, kami akan menyerang mereka," kata Gortney. Dia mengungkapkan bahwa kekuatan Koalisi pada awalnya beranggotakan AS, Inggris, Prancis, Italia, dan Kanada. Namun ada dua negara yang baru bergabung, yaitu Belgia dan Qatar. (umi)

Invasi Libya, Obama Dikecam Besar Kecil Normal TEMPO Interaktif, washington - Presiden Barack Obama menuai kecaman akibat kebijakannya menginvasi Libya. Anggota Kongres dari Partai Republik menuding Obama yang berasal dari partai Demokrat telah bertindak inkonstitusional. "Langkah sepihak Presiden Obama menggunakan kekuatan militer Amerika di Libya adalah penghinaan terhadap konstitusi kita," ujar anggota Kongres dari Partai Republik di Komisi Militer, Roscoe Bartlett. Soalnya, invasi Amerika itu tak disetujui Kongres, padahal konstitusi Amerika mengharuskan persetujuan kongres ketika presiden mendeklarasikan perang. Serangan ke Libya juga tak mendapat banyak simpati warga Amerika. Jajak pendapat CNN kemarin mencatat hanya 50 persen peserta survei yang menyetujui langkah Obama di Libya dan 41 persen menentang. Obama, yang tengah berada di Santiago, Cile, menyatakan keinginan agar Qadhadi mundur merupakan kebijakan Amerika. Namun Amerika akan menyerahkan kontrol operasi di Libya dalam beberapa hari ini kepada Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Di zona perang Benghazi, Libya Timur, Amerika kemarin kehilangan sebuah F-15E Strike Eagle. Juru bicara Komando Afrika, Angkatan Udara Amerika Kenneth Fidler menyatakan pesawat itu jatuh karena kerusakan mesin, bukan karena tertembak. Ini pesawat tempur sekutu pertama yang jatuh selama misi tersebut. Fidler menyatakan kedua awak F-15E diselamatkan milisi anti-Qadhafi.

Fatwa Al Qaradhawi dan Invasi ke Libya Hari Sabtu, 19 Maret 2011 dini hari, pasukan koalisi Amerika, Inggris, Perancis melancarkan serangan rudal ke Tripoli, Libya. Ini adalah serangan SUPER CEPAT yang dilakukan negara-negara agressor tersebut; hanya 4 hari setelah DK PBB memutuskan resolusi tentang zona larangan terbang di Libya. Libya tidak boleh memakai pesawat terbangnya, sementara pasukan syaitan dari Perancis, boleh menyerang Libya dengan pesawat tempur. Kalau melihat resolusi-resolusi PBB yang akhirnya menghalalkan serangan atas target negara-negara Muslim, biasanya membutuhkan waktu lama. Tarik-ulurnya lama. Tetapi ini sangat lain. Amerika, Inggris, dan Perancis tiga negara syaitan sangat terburu-buru ingin melenyapkan Qaddafi. Begitu nafsunya, mereka sudah tak sabar untuk menghajar Libya.

Dengan Kapal Semacam Ini, Amerika Bebas Mengobrak-abrik Kedaulatan Bangsa-bangsa Apakah Amerika, Inggris, dan Perancis tiga negara syaitan sudah sangat kehausan dengan minyak, sehingga begitu nafsu ingin melumat rambut Muamar Qaddafi yang mulai rontok itu? Atau mereka sudah gemas ingin segera bagi-bagi jatah jarahan minyak dari bumi Libya? Atau apakah kondisi ekonomi mereka masing-masing sudah nyaris hancur, sehingga membutuhkan darah segar berupa kucuran minyak Libya yang dioplos dengan darah Qaddafi? Amerika, Inggris, dan Perancis saat ini bisa dikatakan sebagai sebrengsek-brengseknya negara, semunafik-munafiknya otak, sedegil-degilnya ambisi syahwat. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ketiga negara itu hari ini serupa dengan IMPERIUM FIRAUN di masa lalu. Bahkan lebih biadab dari Firaun. Tidak berlebihan jika ketiga negara itu layak disebut sebagai negara syaitan (minus orang-orang waras yang ada di dalamnya). Di mata negara syaitan, yaitu Amerika, Inggris, dan Perancis; demokrasi dianggap lebih utama daripada kedaulatan sebuah negara. Demi alasan demokrasi, mereka bebas

menyerang, menjarah, merampok negara mana saja. Bahkan yang disebut demokrasi di mata mereka bukanlah KEJUJURAN & SPORTIFITAS. Melainkan, sikap regim pemerintahan yang tunduk kepada kepentingan mereka. Demokrasi dimanapun, kalau merugikan nasfsu kolonialis mereka, pasti akan dibubarkan. Begitulah otak, selera, dan perbuatan negara-negara syaitan; yang tidak tahan untuk mewarnai bumi ini dengan segala dosa, kezhaliman, dan kedurhakaan; semata-mata demi memuaskan birahi mereka. Sangat menyedihkan. Hidup semata mengabdi urusan BIRAHI. Huuh Dalam kondisi demikian, sangat disesalkan keluarnya Fatwa Syaikh Al Qaradhawi yang memfatwakan Muamar Qaddafi halal darahnya, dan boleh dibunuh oleh siapa yang bisa membunuhnya. Fatwa ini seperti anti klimaks dari kiprah Al Qaradhawi lebih dari 50 tahunan di dunia ilmiah Islam. Saya meyakini, fatwa itu ada hubungannya dengan serangan tiga negara syaitan (Amerika, Inggris, Perancis) ke Libya saat ini. Sisi hubungannya adalah sebagai berikut: [o] Melalui fatwa itu nama baik Qaddafi dihancurkan di mata bangsa Arab. Hal ini membuat Qaddafi semakin marah dan bersikap keras kepada para demonstran yang menentang dirinya. (Di sisi lain, meskipun sama-sama kejam, Al Qaradhawi tidak pernah mengeluarkan fatwa bunuh kepada pemimpin Israel, Amerika, Serbia, dan lainnya. Padahal mereka juga berlumuran darah kaum Muslimin). [o] Fatwa itu membuka jalan lebar kepada Amerika, Inggris, dan Perancis tiga negara syaitan untuk menyerang Libya. Seakan, fatwa itu semakin memudahkan langkah ketiga negara syaitan itu untuk menyerang Libya. Mereka menyimpulkan, bahwa Muamar Qaddafi sudah habis, karena difatwakan boleh dibunuh. Nah, negara-negara syaitan itu pun ingin partisipasi mengamalkan fatwa itu, dengan upaya membunuh Qaddafi. Seperti sudah kita katakan sebelumnya. Muamar Qaddafi punya track record yang tidak sedap kepada gerakan-gerakan Islam di Libya. Banyak orang mengklaim kezhaliman dan kekejamannya. Tidak masalah Qaddafi diganti oleh pemimpin lain, jika benar-benar lebih baik (dan lebih Islami). Tetapi jangan karena upaya mengganti Qaddafi itu, lalu kita mempersilakan negaranegara penjarah seperti Amerika, Inggris, Perancis, dan kawan-kawan merajalela di bumi Libya. Tidak bisa. Itu haram. Tidak bisa sama sekali. Yang kita inginkan bagi rakyat Libya, rakyat Mesir, Tunisia, dan rakyat Timur Tengah lainnya, adalah KEBAIKAN untuk mereka. Jika demokrasi bisa menjamin kebaikan hidup mereka, OK. Silakan tempuh demokrasi! Jika pergantian kepemimpinan menjamin kebaikan hidup mereka, silakan diganti pemimpin-pemimpin diktator itu!

Tetapi, pertanyaannya: Adakah harapan kebaikan dengan cara membuka pintu selebar-lebarnya bagi penjarahan, penjajahan, dan perampokan oleh negara-negara agressor seperti Amerika, Inggris, dan Perancis??? Dalam kondisi seperti ini, fatwa Al Qaradhawi sangat dinantikan, untuk menggelorakan JIHAD FI SABILILLAH melawan negara-negara agressor, Amerika, Inggris, Perancis! Bisa jadi, dengan fatwa semacam itu Al Qaradhawi akan memiliki kesempatan untuk menebus kesalahan sebelumnya. Semoga saja. Amin ya Karim! Di balik Serangan amerika ke libya Di balik Serangan amerika ke libya Amerika Pemimpin Penjajahan Gaya baru Perang Dunia pertama dicirikan dengan kehancuran strukutur perekonomian, dan instabilitas keadaan politik dunia. Perang selalu menyisakan inisiator dan korban. Banyak orang meninggal dan banyak rezim jatuh. Perang adalah instrumen politik nasional, dimana keuntungan dari kemenangan tidak sebanding dengan akibat yang ditimbulkan oleh suatu peperangan. Untuk merespon Perang Dunia pertama ini, dibentuklah Liga Bangsa-Bangsa sebagai sebuah organisasi internasional yang bertujuan untuk bersamasama membentuk keamanan bersama dan menggantikan abad militer dengan konsep perimbangan kekuatan dan masih ambisius dengan konsep kedaulatan negara serta menjamin adanya perdamaian dunia. Dari sejak masa Liga Bangsa-Bangsa terbentuk, dunia internasional menghadapi dua isu yang signifikan yang dirasakan oleh masyarakat dunia yaitu terorisme dan pembatasan penggunaan kekuatan militer. Dengan dibentuknya Liga Bangsa-Bangsa, dan adanya usaha untuk mencegah kekerasan-kekerasan berikutnya, kebebasan negara-negara untukresort ke kekuatan militer menjadi semakin dibatasi, sedangkan hak untuk mempertahankan diri menjadi lebih signifikan, menggantikan ekspansif hak utuk menjaga diri (selfpreservation). Salah satu usaha paling signifikan dari Liga Bangsa- Bangsa adalah menciptakan dan mengadopsi perjanjian internasional untuk menghilangkan perang sebagai sebuah instrumen kebijakan nasional pada tahun 1928 dan mengakui hak untukself- defence sebagai hak yang legal. Jadi secara implisit, tidak memasukkans elfhelp sebagai bentuk legitimasi atas penggunaan kekuatan militer. Disamping usaha-usaha ini, ada beberapa kekurangan yang timbul dari perjanjian internasional ini, misalnya larangan terjadinya perang yang gagal dihubungkan dengan sebuah sistem sanksi. Perjanjian internasional ini diratifikasi oleh 62 negara dengan memperbolehkan adanyaself-defence, namun gagal dalam mengartikan maknanya. Dengan

hasil bahwa satu-satunya dasar legal dalam penggunaan kekuatan paksaan dalam hubungan internasional adalah diatur dalam kasus Caroline. Konsepsi i ni kemudian hanya kuat pada prinsipnya namun lemah dalam mekanisme pelaksanaannya. Hanya ada sedikit negara yang mempraktekkan perjanjian ini. Otoritas Liga Bangsa-Bangsa kemudian menghadapi bentuk serangan agresif negaranegara major powers (seperti Jepang, Italia, dan Jerman) selama masa pertengahan hingga dekade 1930an. Utilitas Liga ini kemudian berakhir karena dunia menghadapi Perang Dunia kedua pada tahun 1939. Setelah berakhirnya perang dunia kedua, dibentuklah PBB, Piagam PBB, Nuremberg dan TokyoTr ibunals . Tujuan utama dari dibentuknya organisasi internasional yang baru ini adalah untuk mempertahankan perdamaian dan keamanan internasional dan pada akhirnya untuk mengambil ukuran efektifitas bersama untuk menghindari ancaman atas perdamaian dunia dan untuk menghindari segala bentuk agresi dan penindasan. Hingga pengadopsian piagam PBB, tidak ada larangan yang lazim atas aksi unilateral jika memang keadaan menginginkannya. Sedangkan hukum internasional telah lama menerima bahwa PBB harus membatasi aksi balas dendam dalam konflik internasional sebagai respon yang legal. Di bawah piagam PBB, hak untuk self-defence adalah satu-satunya pengecualian terhadap larangan penggunaan kekerasan. Jadi, Piagam PBB memperkenalkan dunia politik terhadap sebuah catatan radikal mengenai sebuah larangan umum untuk melakukan tindakan unilateral untuk memaksa negara lain. Hal ini terkandung dalam Bab 2 ayat 4 Piagam PBB. Bab 2 ayat 4 adalah bagian dan parsel dari sebuah sistem keamanan yang kompleks. Di bawah Piagam PBB, aksi kekuatan unilateral tidak dikarakteristikkan sebagai self defence, namun sebagai motif, sehingga dianggap ilegal. Individual ataupun kolektif self defence menjadi fondasi jika dihubungkan dengan penggunaan paksaan. Pasal 2 ayat 4 Piagam PBB juga didukung oleh Deklarasi Hubungan Persahabatan pada tahun 1970 dan Deklarasi Mengenai Definisi Agresi pada tahun 1974, yang semuanya itu menekankan pada penggunaan kekerasan tidak boleh dilakukan sebagai alasan untuk menyelesaikan isu-isu internasional. Lain halnya dengan pasal 51 Piagam PBB, dalam pasal ini dituliskan mengenai dibolehkannyas elf-defence, namun walaupun diperbolehkan, tetap ada syarat yang harus dipenuhi. Syarat yang harus dipenuhi itu adalah jika ada negara A menyerang negara B maka negara B dapat menyerang balik negara A. Namun hal ini masih menjadi perdebatan tersendiri bagi semua kalangan. Setidaknya ada dua pendekatan yang mencoba melihat perdebatan ini melalui pendekatan mereka masing-masing. Pendekatan pertama yaitu pendekatanRestrictionist, dan yang kedua adalah pendekatan Counter-Restrictionist. Dalam pendekatan Res tr iction is t, self-help benar-benar dilarang kecuali jika ada arms attack. Sedangkan dalam pendekatan Counter-Restrictionist, pihak yang setuju pada

pendekatan ini menginterpretasikan Piagam PBB adalah mengakui hak-hak self defence yang berada di bawah customary internatonal law. Customary law itu sendiri mengakui adanya pembatasan terhadap pre emptive self defense sesuai dengan kriteriaCaroline. KriteriaCaroline itu sendiri adalah cepat, berlebihan, tidak memperhatikan pilihanpilihan, tidak ada deliberasi, dan pengambilan aksi tidak harusunr eas onable. Namun pada akhirnya tujuan dari pasal 51 itu sendiri adalah untuk melindungi kedaulatan dan kemerdekaan suatu negara. Jadi berdasarkan pemahaman mengenai pasal ini, maka jika suatu negara merasa kedaulatan dan kemerdekaannya diancam oleh negara lain, sangat memungkinkan bagi negara tersebut untuk menggunakan kekuatan paksaan terhadap negaraagresor, bahkan sekalipun jika serangan siagresor belum mencapai level armed attack. Selain ada self defence, self help, ada juga istilah anticipatory self defence. Anticipatory self defence juga sebenarnya tidak diizinkan oleh dunia internasional, apalagi setelah adanya kasus Israel menyerang Irak pada tahun 1981 karena merasa dirinya terancam oleh pengembangan nuklir Irak. Israel juga menyerang Lebanon karena merasa Lebanon melingdungi gerakan PLO. Selain Israel, ada juga Inggris pada tahun 1964 menyerang Yaman karena merasa Yaman mendukung anti kolonialisme di Aden. Amerika sendiri menyerang Libya pada tanggal 15 April 1986 karena merasa Libya adalah dalang dari pengeboman di sebuah diskotik di Jerman Barat, dimana ada banyak pekerja Amerika yang sedang berlibur. Amerika juga menyerang Iran pada 14 April 1988 sebagai tindakan balas dendam atas rusaknya naval ship mereka dikarenakan serangan dari kapal selam Iran. Amerika juga pernah menginvasi Irak pada tahun 2003 tanpa mendapatkan izin dari Security Council. Amerika juga menyerang Sudan dan Afganistan karena menurut Clinton, kedua negara tersebut mempunyai hubungan dengan Al-Qaeda (jaringan teroris internasional). Bagaimanapun, selama masa perang dingin, hal ini secara jelas terlihat bahwa teroris menggunakan tekhnologi untuk memanfaatkan kerawanan masyarakat modern. Masyarakat modern peka akan luasnya cakupan serangan dan senjata pemusnah massal. Fakta ini tidak menghilangkan kejahatan terorisme, seperti yang disaksikan bahwa terorisme mengembangkan kemampuannya melalui masa perang dingin. Amerika Serikat dan Israel erupakan pemimpin dalam mencari penggunaan kekuatan militer sebagai tindakan balasan atas terorisme. Pendirian Amerika Serikat yang dulu (pasif, reaktif, dan sabar) kepada para terorisme, pada tahun 1970an berubah menjadi (tidak ada kompromi, sangat proaktif) kepada para teroris. Pada tahun 1980an, terkandung dalamdoktrin Reagan dan doktrin Shultz. Retribusi yang efektif untuk membalas terorisme adalah dengan mematikan mereka melalui hak anticipatory self-defense. Terorisme selalu menjadi agenda utama bagi dunia internasional. Terutama setelah terjadi serangan di Amerika pada tanggal 11

September 2001. Dunia seakan berada pada realitas baru, dan serangan terorisme menjadi momentum bagi sistem legal internasional untuk secara formal setuju terhadap penggunaan kekuatan militer yang diformalkan dalam lawful force yang terdapat di piagam PBB. Pemerintahan Bush menyiapkan alasan untuk seranganpr e- em ptive. Alasannya adalah dengan berusaha membuat negara lain menerima hak untuk mempertahankan diri sebagai justifikasi untuk aksi militer melawan negara-negara pemberontak. Mereka juga mengungkapkan bahwa karena adanya ancaman-ancaman baru, maka Amerika harus memliki pemahaman yang baru mengenai hak untuk mempertahankan diri yaitu dengan memperluas makna seranganpre- emptive. Bentuk serangan preemptive disini adalah dengan menyerang potensial agresor dan mematikan mereka sebelum mereka dapat membalas dengan tindakan yang skalanya lebih besar lagi. Pemahaman baru inilah yang kemudian dikenal sebagaiDoktrin Bush. Dalam kenyataan dimana grup teroris muncul untuk mendapatkanglobal sophistication, ada sedikit keraguan apakah ada suatu kesepakatan bahwa terorisme internasional menciptakan ancaman dan penggunaan kekuatan militer untuk menghentikannya adalah tidak tepat. Masyarakat internasional tidak memiliki pilihan lain selain mengembangkan strategi baru dengan tetap memasukkan unsur hukum internasional untuk menghentikan tindakan terorisme dan realita bahwa hukum internasional terlihat membatasi penggunaan kekuatan militer dalam aksis elf-defence. ANALISIS Menurut penulis, dalam artikel ini anticipatory self defense menjadi perdebatan dari dua pihak, pihak pertama pihak yang setuju atas adanya konsep anticipatory self defense dan pihak kedua adalah pihak yang tidak setuju atas adanya konsep ini. Tentu saja masing-masing pihak memiliki alasan tersendiri mengapa mereka setuju dan tidak setuju. Bagi pihak yang setuju, anticipatory self defense mutlak ada untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan negara. Negara-negara pada dasarnya akan selalu berjuang untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaannya, tidak peduli negara itu termasuk major power atau less power, konsepsi kedaulatan akan selalu dipegang oleh masing-masing negara. Konsepsi kedaulatan dan keberlangsungan hidup negara adalah konsepsi pemikiran kaum realis, dimana menurut Thucydides, Machiavelli, Hobbes, dan tentunya semua kaum realis klasik sedikit banyak memiliki pandangan bahwa politik kekuasaan merupakan suatu arena persaingan, konflik, dan perang antara negaranegara dimana masalah-masalah dasar yang sama dalam mempertahankan kepentingan nasional dan dalam menjamin keberlangsungan hidup negara berulang sendiri terusmenerus.1 Apalagi dengan keadaan dunia seperti sekarang ini, dimana terorisme menjadi ancaman utama dan telah menjadi isu bersama bagi semua negara, maka masing-masing negara merasa anticipatory self defense mutlak ada dan legal. Namun, jika kita kembali ke konsep realis tadi dimana masing-masing negara akan selalu

berusaha untuk mencapai kepentingan nasionalnya, disinilah kemudian terdapat dilema. Apakah benar konsep anticipatory self defense ini akan benar-bena murni dijalankan demi kepentingan bersama negara-negara? Apakah benar jika pada akhirnya konsep anticipatory self defense ini dilegalkan maka akan tercipta dunia yang damai tanpa konflik? Disinilah kemudian dilema itu muncul, dari pengalaman yang ada, konsepsi anticipatory self defense ini kemudian hanya menjadi topeng bagi negaranegara besar untuk mendapatkan kepentingan nasionalnya. Kita ambil contoh yang paling nyata adalah invasi Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003. Amerika selalu membawa konsep anticipatory self-defense demi menghindari kecaman masyarakt dunia. Amerika berdalih bahwa invasi Amerika ke Irak merupakan langkah yang tepat untuk mematikan segala jenis tindak tanduk teroris karena menurut Amerika, Saddam Hussen (Presiden Irak pada masa itu) memiliki hubungan dengan pemimpin jaringan teroris Al- Qaeda (Osama bin Laden), selain itu menurut Amerika Serikat, Irak pada waktu itu sedang mengembangkan senjata pemusnah massal yang dapat mengancam dunia internasional. Namun kemudian, sejumlahscholars menemukan alasan lain dibalik invasi Amerika ke Irak. Disinyalir ada kepentingan Bush dibalik serangan Amerika ke Irak. Pemerintah Amerika Serikat (dalam hal ini masih di bawah pemerintahan Bush Junior) memiliki sentimen negatif terhadap Irak dan Saddam Hussein. Amerika Saerikat meyakini Irak sebagai axis of evil.2 Saddam dilihat sebagai tokoh yang berbahaya bagi Amerika Serikat. Bahkan pada tanggal 12 September Bush memerintahkan Richard Clarke (Bushs Chief counterterrorism adviser) untuk melihat segala kemungkinan dari keterlibatan Saddam.3 Invasi juga dilakukan Amerika Serikat ke Irak atas adanya kepentingan nasional mereka, dalam hal ini adalah kepentingan untuk menguasai ladang minyak di Irak. Ketergantungan AS terhadap minyak sangat tinggi. Ini membuat pergerakan balance of power ke arah oil producer. Kondisi ini membuat AS dan negara kapitalis lainnya dalam posisi rentan terhadapoil- s hock yang dapat berakibat fatal. Irak merupakan solusi dari masalah ini, karena Irak memiliki minyak terbesar kedua di dunia dan biaya produksi yang murah. Namun, selama dalam masa pemerintahan Saddam, minyak Irak ini tidak dapat digunakan bagi keuntungan AS. Serangan AS ini juga diharapkan dapat memperlihatkan kepada negara timur tengah yang membangkang terhadap AS, bahwa mereka memiliki kekuatan militer yang kuat dan dapat dengan mudah menghancurkan negara seperti Irak. Ini juga diharapkan dapat mengakibatkan efek domino pada negar timur tengah. Inilah alasan kenapa Amerika Serikat begitu menggebu-gebu untuk menggulingkan pemerintahan Saddam dengan menginvasi Irak, hingga Amerika Serikat pun berani melangkahi keputusan PBB yang dalam hal ini merupakan badan yang memiliki legalitas tinggi untuk menyelesaikan segala bentuk aksi yang dapat mengancam perdamaian dunia. Dalam salah satu dinner bersama Kofi Annan (Sekretaris Jendral PBB

pada masa itu), Bush berkata: Kofi, youve got to do what youve got to do, and Ive got to do what Ive got to do. Hal ini semakin membuktikan bahwa Amerika Serikat sudah tidak menghiraukan adanya asas-asas perdamaian seperti yang telah mereka (negaranegara anggota PBB) telah sepakti bersama. Melihat dari kasus diatas, wajar saja jika banyak pihak menganggap konsep anticipatory self-defense lebih baik jangan dilegalkan. Ada satu kemungkinan terjadinya tindakan sewenang-wenang yang akan dilakukan Amerika Serikat dan negara-negara major power lainnya kepada negara-negara less power yang tidak mau tunduk dibawah hegemoni mereka. Kita bisa menyaksikan bersama, bahkan sebelum konsepanticipator y self-defense ini dilegalkan negara-negara major power ini bisa melakukan tindakantindakan sewenang-wenang, apalagi jika konsep anticipatorty self defense dilegalkan, mereka akan semakin mendapat perlindungan legal atas apa yang mereka lakukan dengan menggunakan tameng anticipatory self-defense. Apalagi jika kita tinjau dalam Piagam PBB pasal 2 ayat 4 yang berbunyi All members shall refrain in their international relations from the threat or use of force against the territorial integrity or political independence of any state, or in any other manner inconsistent with the Purpose of the United Nations. Maka semakin jelas terlihat bahwa negara-negara dilarang menggunakan ancaman atau kekerasan terhadap negara lain.4 Amerika (dalam invasi Irak) jelas-jelas telah melanggar piagam PBB khususnya pasal 2 ayat4. Konsep anticipatory self defense yang masih menjadi perdebatan apakah harus dilegalkan atau tidak merupakan kasus yang serupa dengan perdebatan mengenai apakah intervensi humaniter legal atau tidak. Sering kali, konsep anticipatory self defense dihubungkan dengan konsep intervensi humaniter. Ada beberapa kasus dimana Anticipatory self defense dilakukan oleh suatu negara dengan alasan intervensi humaniter, walaupun pada akhirnya sering kali intervensi yang dilakukan suatu negara ke negara lain tidak murni mengenaihumanity, melainkan ada kepentingan politik dan ekonomi dibaliknya. Amerika bisa menjadi satu contoh yang sangat ahli dalam hal ini. Banyak intervensi yang dilakukan Amerika kepada negara lain karena Amerika punya kepentingan di negara tersebut. Misa;nya saja intervensi Amerika Serikat ke Grenada bulan oktober 1983 dan ke Panama bulan desember 1989 dengan dalih konsiderasi humaniter kurang begitu diyakini masyarakat internasional. Di Panama, Amerika Serikat bukan hanya menginvasi negara tersebuttetapi juga sekaligus menangkap Presiden Noreigia dan membawanya ke Amerika Serikat dan memasukkannya ke penjara. Intervensi yang dilakukan Amerika serikat ke Panama ini sebenarnya bertujuan untuk menggulingkan para pemimpin totaliter dan memungkinkan kehidupan yang demokratis di negara-negara tersebut dan bukan intervensi humaniter.5

Untuk alasan ini, Amerika bisa mendapatkan restu dari PBB dan sekaligus melegalkan apa yang Amerika sebut intervensi humaniter disana, walaupun pada kenyataannya ada kepentingan politik dibalik semua itu. Hal yang sama pernah dilakukan Amerika dalam hal invasinya ke Irak pada Maret 2003. Pada awalnya, Amerika mencoba tetap memakai tameng intervensi humaniter dibalik keinginannya menginvasi Irak. Namun sayangnya, jaln yang Amerika tempuh tidak selalu mulus. Ternyata ada beberapa negara anggota PBB yang tidak memberikan restunya kepada Amerika. Namun sepertinya Amerika sudah sangat menggebu-gebu ingin menginvasi Irak, sekalipun invasinya ilegal karena tidak mendapat restu dari PBB dan sama sekali tidak menghormati hukum internasional, namun Amerika tetap melakukan apa yang telah Presiden Bush cita-citakan dari sejak kejadian Pemboman dua gedung kembar WTC pada 11 September 2001. Selain Amerika Serikat, ada juga NATO yang pernah menginvasi Kosovo tanpa restu dari PBB khususnya Dewan Keamanan. Seperti yang kita ketahui, semenjak tanggal 24 Maret 1999, selama 70 hari pasukan udara NATO melakuakn serangan udara ke negara bekas Yugoslavia itu untuk mencegah malapetaka humaniter terhadap penduduk Kosovo asal Albania yang beragama Islam. Intervensi ini jelas tidak sah karena tidak mendapat otorisasi dari Dewan Keamanan.6 Berkaca dari praktek langsung yang dilakukan Amerika ini, masyarakat internasional sangat mempermasalahkan legalitas intervensi humaniter yang dilakukan suatu negara ke negara lain ataupun intervensi humaniter suatu fakta militer ke suatu negara tanpa mendapatkan otorisasi dari Dewan Keamanan. Dapatlah dikatakan bahwa ditinjau dari berbagai aspek, intervensi humaniter tanpa otorisasi Dewan Keamanan tidak didukung oleh banyak pakar karena dianggap bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Piagam PBB. Hanya intervensi humaniter yang direstui Dewan Keamananlah yang dibenarkan hukum internasional, sedangkan intervensi yang dilakukan secara unilateral atau kolektif oleh sejumlah negara tanpa otorisasi Dewan Keamanan dianggap tidak sah dan bertentangan dengan hukum internasional dan ketentuan-ketentuan PBB.7 KESIMPULAN Anticipatory self defense maupun intervensi humaniter mungkin akan selalu menjadi perdebatan tanpa kita ketahui akhir dari perdebatan itu sendiri. Akan selalu ada pihak yang setuju dengan kedua konsep ini dan juga akan selalu ada pihak yang tidak setuju akan konsep ini. Terlepas dari siapa yang menjadi ancamannya, baik itu terorisme ataupun yang lainnya. Penulis sendiri menilai kedua konsep ini jika ingin dilegalkan harus melihat ke beberapa aspek diantaranya, apakah kedua konsep ini benar-benar perlu untuk dijalankan? Apakah jika kedua konsep ini dilegalkan dapat menjamin tidak adanya eksploitasi negara-negara major power ke negara-negara less power? Bagaimana praktik dari kedua konsep ini dilapangan, apakah sesuai dengan hukum internasional atau tidak? Menurut penulis, aspek-aspek ini harus benar-benar dipertimbangkan sebelum melegalkan kedua konsep ini karena kedua konsep ini sangat riskan untuk dimanipulasi

dengan kepentingan politik dan ekonomi seperti halnya yang sering Amerika Serikat dan NATO lakukan. Seandainya dua konsep ini dilegalkan kemudian ternyata dimanipulasi oleh kepentingankepentingan semacam kepentingan politik dan kepentingan ekonomi maka dunia ini tidak akan pernah mencapai perdamaian yang dicita-citakan oleh semua negara, yang ada hanyalah eksploitasi negara-negara major power kepada negara-negara less power. Negara-negara major power ini akan menggunakan kedua konsep tersebut untuk melegalkan setiap aksi mereka. Dan pada akhirnya hukum internasional yang memang tidak memiliki kekuatan mengikat tidak dapat menghentikan tindakan mereka karena mereka seolah-olah mendapat restu dari PBB yang menaungi semua negara. Oleh karena itu, penulis termasuk pihak yang tidak setuju terhadap pelegalan kedua konsep ini, berkaca dari semua pengalaman yang ada, penulis khawatir kedua konsep ini akan disalahgunakan dan dimanipulasi oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan. Selama sistem dunia ini masih anarki dan kekuatan hukum internasional tidak mengikat, akan selalu ada pengingkaran-pengingakaran dari negara-negara dalam hal manipulasi kedua konsep ini. Bayangkan saja, dengan masih dalam tahap perdebatan saja, kedua konsep ini tetap dijalankan oleh negara-negara semacam Amerika Serikat, Israel, dll, tanpa menghormati adanya hukum internasional, apalagi jika dilegalkan, mereka akan semakin dilindungi dan hukum internasional akan semakin sulit untuk mengendalikan mereka. Jika hal ini terjadi, maka perdamaian yang dicita-citakan hanya akan menjadi utopia tanpa pernah terealisasi.