Anda di halaman 1dari 31

Perang Chechnya Pertama

26 September 2011 Disimpan dalam Uncategorized Tagged Chechnya, Rusia, Uni Soviet

Republik Chechnya merupakan salah satu negara bagian yang ada di Rusia. Sejak pertama kali bergabung dengan Rusia pada tahun 1870-an, kawasan ini memang tidak pernah sepi dari berbagai konflik. Kondisi ini disebabkan karena sejak awal rakyat Chechnya memang sudah tidak setuju untuk bergabung dengan Rusia. Proses masuknya Chechnya ke dalam Rusia pun diwarnai dengan pertempuran yang panjang dan berdarah.

Pertempuran ini bermula dari keinginan Rusia (saat itu berbentuk kerajaan) untuk memperluas wilayahnya. Kerajaan Rusia melakukan ekspansi ke berbagai wilayah, khususnya ke wilayah yang kini biasa dikenal dengan nama Kaukasia. Hampir semua wilayah yang ada di kawasan Kaukasia dimasukkan kedalam Rusia. Prosesnya pun beragam, ada yang masuk dengan sukarela karena membutuhkan perlindungan seperti Georgia, namun tak sedikit pula yang masuk melalui jalur kekerasan seperti Chechnya.

Proses masuknya Chechnya kedalam bagian kerajaan Rusia diwarnai dengan pertempuran yang sangat panjang dan memakan waktu hampir 50 tahun dari tahun 1817 hingga 1864. Rusia baru berhasil merebut Chechnya pada tahun 1870-an. Pertempuran yang sangat lama ini membuat masyarakat Chechnya memiliki cara pandang yang negatif terhadap Rusia.

Chechnya selalu berusaha untuk melepaskan diri dari Rusia melalui berbagai cara. Salah satunya ketika pada tahun 1922 Kerajaan Rusia mengalami kejatuhan akibat revolusi, Chechnya langsung mengumumkan kemerdekaannya dari Rusia. Sayangnya upaya kemerdekaan tersebut masih gagal karena Chechnya direbut kembali oleh pasukan Bolshevik dari Rusia.

Chechnya pun dimasukkann kedalam bagian Uni Soviet (USSR). Rakyat Chechnya selalu melakukan perlawanan dan ingin melepaskan dari Uni Soviet. Pemerintah Uni Soviet pun berusaha untuk selalu meredam dan menjaga Chechnya agar tidak lepas dari Uni Soviet. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan memberinya status sebagai Republik yang otonom.

Pada tahun 1936, pemimpin Uni Soviet, Joseph Stalin menggabungkan Chechnya dengan wilayah yang ada disebelahnya Inguhestia menjadi satu wilayah administratif dengan nama Chechen-Ingush Autonomus Soviet Socialist Republic. Namun mereka tetap merasa tidak puas dan menginginkan kemerdekaan. Mereka berkali-kali mengadakan konflik dengan pemerintah Uni Soviet yang ada di Rusia, konflik yang cukup bersejarah terjadi pada tahun 1944, ketika itu rakyat Chechnya diduga terlibat dalam konspirasi dengan Jerman. Chechnya diduga bekerjasama dengan Nazi Jerman untuk melakukan penyerangan di Uni Soviet.

Upaya tersebut membuat pemerintah Uni Soviet marah, Kepala NKVD Lavrenti Beria saat itu mengeluarkan kebijakan pengusiran terhadap warga Chechnya. Lebih dari 1 juta orang Chechnya dideportasi ke Siberia sebagai hukuman karena telah membantu Nazi Jerman menyerang Uni Soviet.

Nama Republik Chechnya-Ingushetia pun dihapus dan diganti menjadi Republik Vainakh, merujuk pada kerajaan masa lalu yang pernah ada di kawasan Chechnya. Pengusiran warga itu berlangsung selama bertahun-tahun, warga tinggal di tempat pembuangan Siberia. Barulah pada tahun 1957, warga yang dideportasi diijinkan untuk kembali ke tanah airnya. Konflik antara Chechnya memang menjadi reda tapi dendam warga masih membara.

Pembubaran Uni Soviet

Pada bulan Desember 1991, Uni Soviet ternyata mengalami perpecahan. Banyak negara yang akhirnya melepaskan diri. Saat itu Rusia ditunjuk sebagai pengganti dan pewaris Uni Soviet. Namun kekuasaan yang dimiliki oleh Rusia sudah tidak terlalu besar karena kekuatan militer dan ekonomi yang dimiliki pada masa Uni Soviet sudah tersedot ke berbagai negara yang mengalami disintegrasi.

Pada saat itu Chechnya juga menuntut kemerdekaan, upaya tersebut berusaha diredam oleh pemimpin Rusia, Boris Yeltsin dengan cara mengadakan Perjanjian Bilateral Federasi dengan pemimpin Chechnya, Ruslan Khasbulatov. Perjanjian itu ditandatangai pada tanggal 31 Maret 1992 dan berisi tentang pembentukan Republik Chechnya sebagai negara bagian, dengan pemberian otonomi dari Rusia. Republik Chechnya menjadi negara bagian yang ke 86 dari total 88 negara bagian di Rusia.

Akan tetapi Otonomi yang diberikan oleh Rusia dirasakan kurang besar terutama menyangkut keuangan dan fasilitas perpajakan. Republik Chechnya pun menuntut kemerdekaan dari Rusia dan enggan menandatangani kembali perjanjian bilateral dengan Rusia. Sikap Chechnya ini diikuti oleh Tatarstan,

negara bagian lainnya yang juga menuntut otonomi yang lebih luas. Rusia berusaha meredam keduanya dengan memberikan perjajian politik khusus.

Tatarstan menyetujui usulan Rusia tersebut, pada musim semi tahun 1994 Presiden Tatarstan, Mintimer Shaeymiev menandatangai perjanjian politik khusus dengan pemberian wewenang otonomi yang lebih luas. Sedangkan Chechnya masih kesulitan melakukan kesepakatan dengan Rusia. Pemerintah Chechnya dan Rusia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bernegosiasi namun tidak juga menemukan titik temu, masalah justru semakin bertambah runyam.

Deklarasi Kemerdekaan Chechnya

Sementara itu, di Chechnya sudah mulai tumbuh militan yang menuntut kemerdekaan dari Rusia. Militan ini terbentuk sejak pertama kali Uni Soviet pecah, mereka tidak peduli dengan hasil perjanjian antara Chechnya dengan Rusia. Tujuan utama mereka adalah lepas dari Rusia. Kelompok militan ini dipimpin oleh Jenderal Dzhokhar Dudayev, seorang mantan Angkatan Udara Uni Soviet. Kelompok ini pernah melakukan penyerangan terhadap Partai Komunis setempat dan menewaskan Kepala Partai, Vitaly Kutsenko.

Serangan tersebut membuat Rusia marah dan mengerahkan pasukannya ke Chechnya tepatnya di kawasan Grozny untuk melakukan pembasmian para militan. Sayang upaya tersebut gagal karena pasukan yang dikirim justru dikepung oleh militan milik Dudayev.

Pada tahun 1993, militan ini sudah tidak sabar melihat hasil perundingan dengan Rusia yang selalu mengalami jalan buntu. Mereka memutuskan untuk mendeklarasikan kemerdekaan Chechnya dengan nama Republik Chechnya Ichkeria (Chri). Dalam kemerdekaan ini, Dudayev diangkat menjadi Presiden.

Deklarasi kemerdekaan ini membuat hubungan Chechnya dengan Rusia menjadi menegang. Apalagi sejak deklarasi kemerdekaan Chechnya, sikap warga Chechnya terhadap non-Chechnya mulai berubah, banyak dilaporkan aksi kekerasan terhadap warga non-Chechnya (terutama yang berasal dari Rusia) sebagai bentuk protes terhadap Rusia. Kekerasan ini ternyata juga menjalar terhadap warga non-Chechnya lainnya seperti dari Ukraina dan Armenia.

Kekerasan ini membuat banyak warga non-Chechnya mengungsi dan meninggalkan Chechnya. Kondisi ini membuat perekonomian dan industri di Chechnya menjadi lumpuh karena para Ilmuwan dan pekerja dari Rusia yang meninggalkan Chechnya. Krisis ekonomi yang saat itu tengah melanda Chechnya menjadi semakin parah dengan mogoknya perindustrian.

Sebagaimana yang biasa terjadi pada negara yang baru merdeka, Chechnya juga dilanda oleh krisis politik. Banyak rakyat Chechnya yang mendukung Dudayev, namun tak sedikit pula yang menuntutnya untuk lengser. Berbagai upaya kudeta dilakukann untuk melengserkan Dudayev dari kursi kepresidenan namun selalu gagal. Di kubu pemerintahan juga banyak diwarnai oleh intrik politik, pada bulan Juni 1993 Dudayev sempat membubarkan Parlemen karena menunjukkan mosi tidak percaya terhadapnya.

Dudayev mulai menunjukkan sikap otoriternya, kondisi krisis politik dan krisis kepercayaan ini dimanfaatkan oleh Rusia untuk menyerang Chechnya. Pasukan Rusia mulai memasuki Chechnya dengan alasan untuk memobilisasi keamanan yang semakin kacau di Chechnya. Kehadiran pasukan Rusia ini ditentang oleh Dudayev karena dianggap sebagai intervensi terhadap negaranya.

Namun pemerintah oposisi Chechnya yang tidak suka dengan Dudayev justru mendukung kehadiran Rusia dan meminta bantuan Rusia dalam melengserkan Dudayev dari kursi kepemimpinan. Perang sipil di Chechnya pun semakin membara karena pasukan pemerintah dibiayai oleh Dudayev sedangkan pasukan oposisi mendapat pasokan dari pemerintah Rusia.

Rusia mulai membiayai pasukan oposisi Chechnya dengan dukungan keuangan, peralatan militer, bahkan tentara bayaran. Rusia juga menghentikan semua penerbangan yang hendak menuju ke Grozny, ibukota Chechnya. Pada bulan Oktober 1994, pasukan Rusia dibantu oleh pasukan oposisi Chechnya mulai menyerbu pasukan Dudayev, namun serangan tersebut gagal. Pada bulan berikutnya, 26-27 November 1994, Rusia dan oposisi Chechnya kembali menyerbu pasukan Dudayev tetapi upaya tersebut lagi-lagi gagal.

Bahkan pada penyerbuan tersebut, pasukan Dudayev berhasil menangkap 20 pasukan Rusia dan 50 intelijen rahasia milik Organisasi Keamanan Rusia (FSK). Kondisi ini membuat pasukan Rusia dan oposisi mundur sementara dari medan pertempuran. Presiden Rusia, Boris Yeltsin memerintahkan baik pasukan Dudayev maupun oposisi untuk melucuti senjata dan maju ke meja perundingan. Perintah ini dengan tegas ditolak oleh Dudayev, pasukan Dudayev tetap memburu pasukan oposisi yang pernah terlibat pada pertempuran bersama Rusia.

Perang Chechnya Pertama

Rusia pun marah dan pada tanggal 1 Desember 1994, meluncurkan pasukannya untuk membombardir Chechnya. Upaya Rusia ini membuat Chechnya menjadi hancur akibat serangan bom namun pemerintah Chechnya yang dipimpin oleh Dudayev belum juga bersedia menyerah.

Rusia kembali melancarkan serangan pada tanggal 11 Desember 1994. Pada penyerangan ini Rusia melakukan penyerangan lewat tiga jalur, akan tetapi penyerangan lewat jalur pertama dibatalkan oleh Wakil Komandan Angkatan Darat Rusia, Jenderal Eduard Vorobyov sebagai aksi protes terhadap pemerintahnya sendiri dan menganggap penyerangan itu sebagai sebuah kejahatan karena Rusia mengirim tentara untuk melawan rakyatnya sendiri.

Serangan ini juga ditentang oleh banyak pejabat militer lainnya seperti Penasihat Presiden, Nyeri Emil dan Wakil Menteri Pertahanan Rusia, Jenderal Boris Gromov. Jenderal Boris Goromov bahkan mengingatkan bahwa serangan ke Chechnya hanya akan berdampak buruk dan berpotensi menjadi pertumpahan darah seperti di Afghanistan dan akan menemui kegagalan.

Sementara itu, 800 perwira lainnya juga menolak untuk diberangkatkan ke Chechnya. Para perwira yang desersi itu mendapatkan berbagai hukuman dari pengadilan militer Rusia. 83 perwira dipernjara sedangkan sisanya dipindah tugas, diturunkan jabatannya, atau juga dibuang.

Serangan udara pada tanggal 11 Desember 1994 itu membuahkan hasil yang sangat baik bagi Rusia. Pasukan Chechnya babak belur dihajar oleh serangan Rusia, sekitar 500 pasukan Chechnya bahkan memilih untuk berpindah haluan menjadi pendukung Rusia. Chechnya tidak menyerah, mereka memilih taktik baru dengan cara bergerilya di kawasan hutan dan rawa. Pasukan Rusia yang belum mengenal medan pertempuran menjadi kebingungan lantaran harus bertempur di medan yang belum pernah mereka jajal.

Moral pasukan Rusia menjadi turun karena sejak awal mereka tidak pernah tahu tujuan dari misi Chechnya ini. beberapa unit pasukan memutuskan untuk mundur dan dalam beberapa kasus banyak pasukan Rusia yang menyabotase peralatan mereka sendiri agar atasan mereka tidak dapat memberi perintah. Tanpa terduga, ternyata banyak pasukan Rusia yang kalah dalam medan pertempuran di darat. Beberapa unit memutuskan untuk menyerahka diri kepada milisi lokal karena posisi mereka sangat tidak strategis.

Komando taktik militer Rusia terpaksa menerapkan strategi baru dengan melakukan pemboman secara acak ke berbagai tempat yang diduga menjadi tempat persembunyian milisi. Strategi ini justru menjadi senjata makan tuan karena bom tersebut sering menyasar ke berbagai pemukiman sipil sehingga menimbulkan korban besar dari pihak sipil. Pihak oposisi yang menjadi pendukung pasukan Rusia pun sering menjadi korban bom acak. Warga Chechnya mulai memprotes Rusia, kejadian ini membuat Chechnya dan Dudayev mendapat banyak simpati dari berbagai pihak.

Serangan Rusia dengan strategi itu berhasil membuat pasukan Chechnya terdesak. Pada tanggal 29 Desember 1994, pasukan Rusia berhasil memasuki kawasan Khankala, hanya beberapa kilometer dari Grozny, ibukota Chechnya.

Grozny dalam kondisi mencekam karena berpotensi menjadi ajang pertempuran dahsyat antara pasukan Rusia dengan Chechnya.

Pertempuran Grozny (1994-1995)

Kehadiran pasukan Rusia langsung disambut dengan pertempuran dari pasukan Chechnya. Rusia mengalami kerugian besar karena harus kehilangan 1.000 hingga 2.000 pasukan. Pasukan wajib militer dari Rusia yang kurang terlatih sering membuat kondisi semakin tidak terkendali dan mengakibatkan Rusia justru menderita kekalahan sendiri.

Kekalahan tersebut langsung dibalas oleh Rusia dengan mendatangkan pasukan udara dan artileri. Tahun baru 1995 di Chechnya diwarnai dengan peperangan dahsyat antara pasukan Chechnya melawan pasukan Rusia. Korban sipil yang berjatuhan sudah tidak dapat dihitung lagi. Pihak Chechnya mengatakan bahwa Rusia sengaja menyasar ke pihak sipil untuk menjatuhkan moral pasukan Chechnya sedangkan Rusia mengatakan bahwa pasukan Chechnya selalu berlindung di belakang warga sipil untuk menghindari serangan Rusia sehingga banyak warga sipil yang menjadi korban.

Setelah melalui pertempuran yang panjang, pada tanggal 17 Januari 1995, pasukan Rusia berhasil menguasai Chechnya. Istana Kepresidenan Chechnya yang ada di Grozny berhasil direbut Rusia. Pertempuran terus berlanjut dan baru berakhir secara resmi pada 6 Maret 1995.

Perang Chechnya ini telah menimbulkan jumlah korban jiwa yang tidakterhingga. Penasihat Yeltsin, Sergey Kovalev mengatakan bahwa selama lima hari pertama pertempuran di Chechnya, jumlah korban dari pihak sipil mencapai 27.000 jiwa. Angka itu terus bertambah seiring dengan meningkatnya pertempuran antara Rusia dan Chechnya.

Sejarawan Rusia, Jenderal Dmitri Volokogonov memiliki data yang agak sedikit berbeda. Menurutnya, jumlah warga sipil yang menjadi korban dalam perang Chechnya mencapai 35.000 jiwa, itu termasuk 5.000 anak. Sementara korban dari pihak Rusia tidak pernah diketahui, diperkirakan ada 2.000 tentara lebih yang tewas ataupun hilang dalam pertempuran itu. Menurut perkiraan dalam sebuah laporan analisis Angkatan Darat Amerika Serikat disebutkan bahwa selama peperangan itu, korban dari pihak Rusia mencapai 2.800 pasukan, sedangkan 10.000 tentara mengalami luka dan 500 hilang.

Pertempuran yang terjadi Grozny ini membuat dunia terkejut. Masyarakat internasional ramai-ramai mengritik kebiadaban Rusia. Pemantau internasional dari OSCE menyebut perang ini sebagai Bencana yang tidak dapat dibayangkan. Sementara Kaselir Jerman Helmut Kohl menyebutnya sebagai Aksi Gila dari Rusia. Mantan pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev juga turut mengkritik kebijakan negaranya itu sebagai Perang yang memalukan.

Kritikan itu tidak dipedulikan oleh Rusia, penyerangan ke berbagai tempat juga terus dilakukann. Pasca jatuhnya Grozny, pasukan Rusia mulai melakukan operasi pengendalian ke berbagai desa-desa yang ada di sekitar Grozny. Mereka melakukan penyisiran ke semua kawasan. Dalam penyisiran ini juga sempat terjadi pembantaian kembali yang dilakukann oleh pasukan Rusia, pembantaia ini terjadi di desa Samashki dimana warga enggan untuk bergabung dengan

Rusia dan memilih untuk bertempur. Sikap warga ini dibalas dengan pembantaian terhadap 103 warga desa disertai dengan penahanan ratusan warga lainnya. Perlawanan ini juga banyak terjadi di daerah lainnya.

Tindakan Chechnya

Sikap Rusia menimbulkan dendam baru bagi warga Chechnya, mereka mulai membentuk kembali organisasi separatis dan melakukan perlawanan dengan berbagai cara seperti penyanderaan hingga teror terhadap warga Rusia. Pada bulan Juni 1995, sebuah kelompok pimpinan Shamil Basayev melakukan penyaderaan terhadap 1.500 orang di sebuah Rumah Sakit Budyonnovsk yang terletak di Rusia Selatan. Dalam penyanderaan itu, Basayev menuntut agar operasi di Chechnya segera dihentikan. Untuk menegaskan tuntutannya, satu per satu tawanan dibunuh hingga mencapai 120 orang. Tuntutan itu kemudian dituruti oleh pemerintah Rusia, Basayev dan Perdana Menteri Rusia Viktor Chernomyrdin menandatangani sebuah perjanjian gencatan senjata antara Rusia dan Chechnya.

Rusia untuk sementara waktu menghentikan segala kegiatan militernya di Chechnya. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh militan Chechnya untuk membentuk pasukan milisi guna menghadapi kekuatan Rusia, selain itu banyak diantara warga Chechnya yang mulai membentuk milisi lokal sebagai antisipasi jika terjadi penyerangan kembali dari Rusia.

Data resmi dari pemerintah Chechnya menyebutkan bahwa ada sekitar 5.000 hingga 6.000 milisi yang bersenjata di Chechnya. Secara keseluruhan pasukan Chechnya memiliki 10.000 hingga 12.000 pasukan cadangan yang sewaktu-

waktu dapat diterjunkan dalam menghadapi berbagai pertempuran. Menurut laporan PBB, sebagian pasukan cadangan itu terdiri dari pasukan anak berusia 11 tahun dan juga perempuan sipil. Chechnya juga mulai membangun kembali berbagai jebakan perang konvensional yang sempat hancur dalam perang yang lalu. Bom rakitan juga semakin dikembangkan.

Pada musim gugur 1995, terjadi sebuah insiden yang kembali menimbulkan konflik antara Chechnya dengan Rusia. Jenderal Anatoliy Romanov, Komandan Rusia yang ditugaskan di Chechnya terkena serangan bom di Grozny hingga membuatnya terluka dan lumpuh. Banyak pihak yang meyakini bahwa bom tersebut berasal dari oknum Rusia bukan dari pejuang Chechnya. Jenderal Anatoliy Romanov sengaja dikorbankan oleh Rusia agar dapat dijadikan sebagai alasan pembenaran Rusia dalam menyerang Chechnya.

Rusia menuduh bahwa pasukan Chechnya adalah pelakuknya. Bom itu menjadi pertanda pecahnya perjanjia gencatan senjata antara keduanya. Pasukan Rusia melakukan penyerangan kembali ke Chechnya. Tragedi yang paling menyedihkan terjadi pada bulan Februari 1996, ketika itu warga Chechnya sedang menggelar aksi demonstrasi damai yang menuntut kemerdekaan dan perdamaian. Demonstrasi damai itu berubah menjadi tempat pembantaian massal karena pasukan Rusia melakukan penembakan secara membabi buta kepada demonstran.

Pelanggaran Hukum Perang Rusia

Organisasi Hak Asasi Manusia menuduh pasukan Rusia telah melakukan penyerangan secara sembarangan dan penggunaan kekuatan secara tidak

proporsional dalam menghadapi Chechnya. Perlawanan warga sipil juga sering dibalas dengan artileri berat dan serangan roket. Organisasi HAM mencontohkan kasus di Gudermes yang menewaskan sedikitnya 267 warga sipil karena serangan mereka dibalas dengan hantaman peluru roket Rusia.

Strategi Rusia yang paling dominan adalah dengan melakukan penyerangan ke warga sipil dengan alasan para separatis itu ada disana. Ironisnya, penyerangan warga sipilk itu dilakukann dengan menggunakan alat berat dan berbagai bom yang dilarang seperti bom cluster dan berbagai bom sejenisnya.

Pelanggaran lainnya, Pasukan Rusia terutama MVD sering melakukan berbagai tindakan zachistka (semacam operasi pembersihan) terhadap orang-orang yang dianggap sebagai simpatisan dan pendukung gerangan separatis Chechnya. Kelompok-kelompok bantuan kemanusiaan sering mencatat berbagai tindakan pelanggaran yang dilakukann oleh pasukan Rusia yang telah melakukan pembunuhan, pemerkosaan dan penjarahan secara acak terhadap semua warga sipil yang ada di Rusia tanpa peduli kewarganegaraan orang tersebut. Tindakan penyanderaan terhadap tawanan ternyata tidak hanya dilakukann oleh pasukan Chechnya. Dalam beberapa kasus, pasukan Rusia juga sering melakukan penyanderaan seperti yang terjadi ketika sekelompok pasukan Rusia menyandera 500 orang Rumah Sakit di kota Grozny. Beberapa diantaranya diculik untuk dimintai tebusan kepada keluarga yang terkait.

Pelanggaran yang dilakukann oleh pasukan Rusia biasanya tidak diberi tanggapan khusus oleh atasannya. Bahkan, berbagai kasus tersebut terkesan diendapkan dan hilang begitu saja. Publik Rusia menjadi tidak percaya dengan sikap pemerintah mereka sendiri, dukungan suara untuk Yeltsin mengalami

penurunan, popularitasnya anjlok padahal saat itu dia sedang mencalonkan kembali dirinya sebagai Presiden Rusia

Perang Chechnya sering dipertanyakan oleh para pesaing politik Yeltsin. Selain itu perang yang berlarut-larut telah membuat kebencian dan menumbuhkan sikap ekstrim di berbagai belahan Rusia lainnya. Banyak warga sipil yang khawatir sikap Rusia terhadap etnis Chechnya akan berlanjut ke etnis lainnya.

Jihad Chechnya

Kondisi penindasan yang berlangsung lama di Chechnya membuat Mufti Chechnya, Akhmad Kadyrov menyerukan Jihad melawan Rusia. Seruan ini langsung disambut oleh berbagai warga muslim di seluruh penjuru dunia. Diperkirakan ada sekitar 5.000 pasukan tambahan dari luar Chechnya yang siap bertempur dengan alasan keagamaan.

Pertempuran antara Chechnya dengan Rusia kembali terjadi, namun kali ini lokasinya hanya terbatas di kawasan pinggiran Chechnya tepatnya perbatasan antara Chechnya dengan Ingushetia, salah satu negara bagian Rusia. Pertempuran ini membuat warga Chechnya cemas dan sebanyak 200.000 warga memilih untuk mengungsi ke kawasan Ossetia Utara untuk menghindari pertempuran.

Pertempuran ini ternyata menjalar hingga masuk ke wilayah Ingushetia dan menimbulkan berbagai kerusakan serta menghancurkan perekonomian Ingushetia. Presiden Ingushetia Ruslan Aushev memprotes Rusia karena pasukan

Rusia sering menggunakan Ingushetia sebagai basis penyergapan dan banyak merusak infrastruktur. Ruslan juga mengancam akan menggugat Kementerian Pertahanan Rusia atas kerusakan yang dibuat oleh tentara mereka. Warga Ingushetia banyak yang diusir oleh tentara Rusia karena kawasan mereka akan dijadikan sebagai zona strategi pertempuran.

Tentara Rusia juga dilaporkan banyak melakukan tindakan pemerkosaan, penjarahan dan pembunuhan di kawasan Ingushetia. Tindakan tentara Rusia yang sering mabuk-mabukan juga menimbulkan masalah tersendiri, seorang tentara Rusia yang sedang mabuk dilaporkan membunuh sembilan warga sipil dan seorang tentara Ingushetia. Dalam kasus lain, tentara Rusia yang sedang mabuk juga membunuh kawannya sesama anggota tentara Rusia lalu menyerang lima warga Ingushetia dan Menteri Kesehatan Ingushetia.

Kondisi ini ternyata tidak hanya terjadi di Ingushetia tetapi juga di Dagestan, negara bagian Rusia lainnya yang menjadi kamp militer pasukan Rusia dalam menghadapi Chechnya. Cerita bermula pada Januari 1996, pasukan Chechnya melakukan penyanderaan terhadap 2.000 warga Dagestan di Kizlyar. Penyanderaan tersebut kemudian ditangani oleh pasukan Rusia, sayangnya tindakan yang dilakukann oleh pasukan Rusia sangat tidak efektif karena menyelamatkan sandera dengan cara merusak satu desa lainnya.

Tindakan tersebut membuat banyak negara bagian yang tidak puas dengan kinerja Rusia. Sebagai bentuk protes, beberapa negara bagian menghentikan pengiriman wajib militernya ke Rusia seperti yang dilakukann oleh Chuvasia. Negara bagian ini mengeluarkan dekrit yang berisi memberikan perlindungan hukum kepada setiap tentaranya yang menolak bergabung dengan Rusia untuk diikutsertakan dalam Perang Chechnya.

Beberapa negara bagian lainnya mengeluarkan peraturan yang berisi penghentian pengiriman pasukan wajib militer mereka ke Rusia jika hanya akan digunakan untuk meredam konflik di Chechnya. Berbagai sikap negara bagian ini membuat pemerintah Rusia kebingungan karena penyerangan ke Chechnya dapat menemui kegagalan jika tidak mendapat dukungan.

Dugaan ini ternyata mulai terbukti benar, pada tanggal 6 Maret 1996 pasukan Chechnya secara mengejutkan berhasil menduduki kota Grozny selama tiga hari dan merebut berbagai kota yang ada di sekitarnya. Serangan pasukan Chechnya ini mendapat dukungan dari militan dari Arab pimpinan Ibnu Al-Khatthab, para militan ini membantu serangan dengan merebut berbagai kota seperti Vedeno dan Shatoy dengan menewaskan ratusan tentara Rusia.

Kekalahan ini membuat pemerintahan Yeltsin semakin tidak populer di Rusia. Untung saja, pasukan Rusia berhasil membunuh Pemimpin Chechnya Dzhokhar Dudayev pada tanggal 21 April 1996 melalui Rudal kendali jarak jauh sehingga pamor Yeltsin di Rusia dapat kembali naik. Terbunuhnya Dudayev ini sempat membuat peperangan di Chechnya terhenti. Pada tanggal 28 Mei 1996, Yeltsin dan Presiden baru Chechnya, Zelimkhan Yandarbiyev menandatangani perjanjian gencatan senjata. Keputusan ini membuat pamor Yeltsin kembali bersinar dan membuatnya terpilih kembali dalam pemilu di Rusia.

Pertempuran Grozny (Agustus 1996)

Setelah penandatanganan perjanjian gencatan senjata, pasukan Rusia mulai ditempatkan kembali dan disebar ke seluruh kota Grozny untuk menjaga stabilitas di kota tersebut. Jumlah total tentara Rusia yang berada di kota itu hampir mencapai 1.200 orang, suatu jumlah yang cukup besar untuk menjaga sebuah kota seukuran Grozny. Akan tetapi jumlah yang sebesar itu ternyata mampu dikalahkan oleh gerilyawan Chechnya yang jumlahnya hanya 1.500 orang.

Pada bulan Agustus 1996, gerilyawan Chechnya yang tidak puas dengan hasil kesepakatan gencatan senjata melakukan penyerbuan ke kota Grozny. Penyerbuan ini dilakukann oleh gerilyawan pimpinan Maskhadov dan Basayev, keduanya menangkap orang-orang yang dianggap sebagai antek-antek Rusia dan ditahan sebagian diantara mereka dieksekusi mati.

Pada saat yang sama, pasukan Rusia yang ada di kota Gudermes dan Argun juga dikepung oleh gerilyawan Chechnya. Upaya mereka untuk menyelamatkan pasukan Rusia yang ada di Grozny ternyata gagal. Ketika baru sampai di kota Gudermes dan Argun, kendaraan lapis baja yang mereka tumpangi langsung dikepung dan diserang oleh gerilyawan Chechnya. Pasukan Rusia yang berjumlah 900 orang itu menjadi sasaran tembak gerilyawan Chechnya dan menewaskan hingga 276 tentara sedangkan sisanya mengalami luka-luka.

Pejabat militer Rusia mengklaim bahwa jumlah korban dari pihak Rusia hanya berjumlah 200 orang, sementara 800 orang lainnya terluka. Sedangkan gerilyawan Chechnya mengatakan bahwa korban dari pihak Rusia mencapai 1.000 jiwa, ribuan tentara lainnya berhasil dikepung dan senjatanya dilucuti. Senjata berat dan amunisi juga berhasil dikuasai oleh gerilyawan.

Pada tanggal 19 Agustus 1996, giliran pasukan Rusia yang kembali menyerang kota Grozny dengan kekuatan mencapai ribuan tentara. Komandan pasukan Rusia, Konstantin Pulikovsky memberikan ultimatum kepada semua gerilyawan Chechnya untuk segera meninggalkan kota Grozny dalam waktu 48 jam. Ultimatum itu dibuktikan dengan bombardir ke seluruh wilayah Grozny, Rusia meluluhlantakkan Chechnya hingga rata dengan tanah.

Bom-bom itu membuat warga sipil di kota Grozny panik dan melarikan diri. Suasana semakin kacau karena pesawat pembom itu mengarah ke tempat pengungsian. Pasukan Rusia di Grozny juga semakin tidak terkendali dalam melakukan penyerangan. Sebelum kondisi semakin memburuk, Jenderal Alexander Lebed, penasihat masalah Keamanan Nasional Yeltsin memerintahkan untuk segera menghentikan serangan bom ke kota Grozny.

Perjanjian Khasav-Yurt Accord

Jenderal Alexander Lebed mengadakan pertemuan dengan Maskhadov, pemimpin gerilyawan Chechnya untuk membahas masalah perdamaian dan gencatan senjata di bumi Chechnya. Perjanjian perdamaian dengan nama Khasav-Yurt Accord ini ditandatangani pada tanggal 31 Desember 1996 dan isinya memuat tentang penarikan bersama pasukan kedua belah pihak dari kota Grozny, menciptakan kawasan demiliterisasi untuk warga sipil, dan tidak perlu ada penandatanganan apapun terkait status Chechnya terhadap Rusia hingga 2001.

Dalam perjanjian Khasav-Yurt Accord ini juga terdapat istilah all for all dimana kedua pihak yang bersengketa berjanji untuk saling melepaskan semua tawanan. Namun pasal ini cukup sulit untuk dilaksanakan karena belum adanya rasa saling percaya antara kedua belah pihak sehingga pelepasan tawanan dilakukann secara bertahap dalam jumlah yang saat sedikit. Rusia juga menyetujui untuk memberikan amnesti kepada semua gerilyawan Chechnya yang ditahan dan pasukan Rusia yang membelot ke pihak Chechnya.

Korban Perang Chechnya Pertama

Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia merilis tentang korban pasukan Rusia dalam Perang Chechnya Pertama; 3.826 tentara tewas, 17.829 terluka, 1.906 lainnya hilang dalam pertempuran. Data lain dari NVO, majalah mingguan Rusia khusus masalah militer merilis data korban dari pihak Rusia yang terdiri dari; 5.362 tewas, 52.000 terluka dan 3.000 lebih hilang dalam pertempuran.

Untuk jumlah korban dari gerilyawan Chechnya tidak banyak diketahui. Untuk jumlah warga sipil yang tewas dalam pertempuran tersebut jumlahnya mencapai 100.000 jiwa, untuk pasukan gerilyawan yang tewas jumlahnya sekitar 300.000 hingga 400.000 jiwa. Data untuk menentukan jumlah gerilyawan yang tewas sulit untuk dilakukann karena banyak diantara para gerilyawan yang masih berusia dibawah umur sehingga sulit dideteksi.

Banyak yang berharap agar perjanjian perdamaian Khasav-Yurt Accord dapat mengakhiri segala konflik yang ada di Chechnya. Namun harapan itu semakin mengecil karena pada pertengahan November 1996, Maskhadov kembali

mengadakan perjanjian dengan pihak Rusia tentang masalah ekonomi dan perbaikan hubungan antara Rusia dan Chechnya.

Pada tanggal 12 Mei 1997, Maskhadov juga menandatangani perjanjian perdamaian dan masalah prinsip-prinsip hubungan Rusia-Chechnya.. Perjanjian itu oleh beberapa gerilyawan dinilai sangat merugikan posisi Chechnya. Protes pun tidak dapat dihindarkan, aksi ini berlanjut dengan tindakan penyerangan kepada pasukan Rusia. Pada pertengahan musim panas 1999, pasukan gerilyawan pimpinan Basayev dan Ibn al-Khatthab menyerang kawasan Dagestan dan dibalas oleh Rusia dengan menyerbu Chechnya lagi pertanda Perang telah dimulai lagi.

Sejarah Perang Chechnya

Secara ringkas, sejarah perang Chechnya bisa dibagi kepada dua fase, yakni Perang Chechnya I dan Perang Chechnya II. Perang Chechnya I adalah perang antar Rusia dengan Chechnya antara tahun 1994-1996 dan berakhir dengan kemerdekaan Chechnya secara de fakto dari Rusia. Setelah kampanye awal pada tahun 1994-1996, memuncak pada penghancuran kota Grozny. Pasukan federal Rusia berhasil menguasai wilayah-wilayah pegunungan Chechnya tapi berhasil dipukul mundur oleh pasukan mujahidin yang bergerilya dan mujahidin juga menyerang di wilayah-wilayah daratan, meskipun jumlah pasukan Rusia berlimpah, juga persenjataan dan pasukan udara. Hal itu berakibat pada merosotnya moral pasukan federal dan hampir seluruh wilayah Rusia jatuh ke dalam konflik brutal yang menuntut pemerintahan Boris Yeltsin mengumumkan gencatan senjata pada tahun 1996 dan menandatangani perjanjian damai setahun kemudian.

Dalam kesaksiannya, Komander KhattabLegenda Jihad Chechnya menceritakan bagaimana dia bisa sampai berjihad di Chechnya dan kemudian bergabung dan berjuang bersama. Komander Khattab bahkan di awal jihad Chechnya menyangka bahwa yang terjadi di Chechnya adalah pemberontakan, yang dipimpin jenderal komunis bernama Jauhar Dudayev. Karena yang kami tahu penduduk Rusia adalah penganut Komunisme. Setelah kami mendengar berita yang sebenarnya kami mengatur kunjungan ke Chechnya untuk melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya kami berangkay ke Chechnya dengan 12 orang mujahid asal Dagestan. Mujahidin Chechnya sedang Berkumpul Untuk Berjihad

Komander Khattab memilih kota Vedeno untuk dijadikan markaz melatih para mujahidin dan mereka mulai melakukan serangan pertama ke konvoi tentara Rusia yang bergerak ke luar kota Vedeno. Allahu Akbar, akhirnya mujahidin berhasil memenangkan pertempuran. Pada tanggal 30-10-1995 konvoi pasukan Rusia keluar dari Vadeno setelah kalah dalam pertempuran sengit di bagian Selatan kota Vedeno. Setelah itu Jauhar Dudayev mengumunkan selesainya perang terbuka dan mulai mengumumkan perang gerilya yang dinyatakan akan berlangsung selama 48 tahun dari 50 tahun. Pengumuman itu menghancurkan semangat pasukan Rusia. Dia mengumumkan bahwa perang berlangsung 50 tahun, sudah berlalu 2 tahun dan masih ada waktu 48 tahun. Setelah itu Jauhar Dudayev mulai melancarkan banyak serangan dan berhasil masuk ke ibu kota Chechnya, Grozny. Akhirnya setelah serangan demi serangan, pasukan Rusia menyatakan mundur dari Chechnya dan mempersiapkan diri baik-baik untuk menyerang kembali Chechnya.

Dalam perkembanganya, sejumlah konflik internal terjadi di Checnya. Konflik ini terjadi antara penduduk etnik Chechen dengan non-Chechen yang hampir

semua berasal dari Rusia. Warga non-Chechen dan kaum oposisi ini kemudian mengadakan kudeta pada bulan Maret 1992, akan tetapi dapat digagalkan oleh pasukan Dudayev. Setelah kudeta berikutnya juga gagal, kaum oposisi ini membentuk pemerintahan alternatif dan meminta bantuan Moskow. Pada bulan Agustus 1994 kaum oposisi ini mengadakan kampanye militer untuk menggulingkan pemerintahan Dudayev. Moskow segera mengirimkan bantuan dana, perlengkapan militer, dan persenjataan. Rusia menunda seluruh penerbangan sipil ke Grozny ketika mereka melalukan blokade militer ke Chechnya. Mereka melakukan serangan dan membombardir ibu kota Grozny. Pasukan Jauhar Dudayev memukul mundur serangan tersebut.

Di pegunungan Selatan, Rusia melancarkan serangan pada 15 April 1994 dengan konvoi sekitar 200-300 kendaraan. mujahidin Chechen mempertahankan kota Argun, memindahkan markas militer mereka untuk mengepung kota Shali, kemudian Serzhen-Yurt, kemudian mereka menuju ke pegungungan. Akhirnya para mujahidin ini bergabung dengan pasukan yang dipimpin oleh Shamil Basayev, Rahimahullah di Vedeno. Setelah berada di Vedeno komandan mujahidin Chechnya menarik mundur pasukan ke Dargo dan kemudian membawanya ke Benoy.

Para mujahidin banyak yang membentuk unit-unit pasukan lokal untuk mempertahankan wilayah mereka dari serangan pasukan federal Rusia. Banyak remaja belasan tahun yang bergabung dengan pasukan mujahidin dan sejak saat itu semangat jihad menggelora di dada kaum muslimin Chechnya.

Komander Khattab menceritakan : Setelah itu, kami pun para mujahidin melakukan persiapan, konsolidasi, membangun kamp-kamp dan melatih para pemuda yang siap mendukung jihad Chechnya. Khattab dan seluruh mujahidin

Chechnya sibuk mempersiapkan diri untuk jihad panjang di sana. Khattab pernah menanyakan kepada penduduk setempat apakah mereka pernah mendapatkan bantuan dari lembaga-lembaga internasional ? Mereka menjawab Palang Merah Internasional pernah datang memberi kami 3 kg gula untuk waktu 2 tahun. Juga 4 kg tepung. Ini adalah bantuan dari lembaga bantuan dunia. Tentu saja akhirnya masyarakat Chechnya lebih bisa menerima kehadiran mujahidin di tengah-tengah mereka. Mereka menganggap kami sebagai keluarga mereka sendiri. Komander Khattab, Rahimahullah, Sang Pahlawan Jihad Chechnya Demikianlah pemuda yang bergabung dengan mujahidin bertambah banyak dan terjadilah peristiwa di Daghestan. Sebenarnya pasukan Rusia sudah tidak memiliki kekuatan lagi dan semangat tempurnya pun sudah jatuh. Tapi mereka tetap berbahaya dan masih banyak di perbatasan-perbatasan. Mereka akhirnya melancarkan tekanan ekonomi, mengadu domba rakyat, mendukung oposisi, dan melakukan trik-trik kotor lainnya yang intinya menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan pemerintahan mujahidin dan menghilangkan kepercayaan rakyat kepada pemerintahan mujahidin agar masyarakat menilai bahwa pemerintahan mujahidin tidak mampu memerintah.

Pada tanggal 12 Mei 1997, Presiden Ashlan Maskhadov (Pengganti Presiden Jauhar Dudayev yang tertembak mati peluru kendali Rusia) pergi ke Maskow untuk menendatangani perjanjian damai bersama Yeltsin. Perjanjian damai ini didasarkan pada perdamaian dan prinsip-prinsip hubungan Rusia-Chechen Ashlan Maskhadov terbukti salah. Dua tahun setelah perjanjian tersebut, komandan Shamil Basayev melakukan penyerbuan ke Daghestan pada musim panas 1999 sebagai balasan tindakan brutal Rusia di sana.

Mengapa sampai terjadi pertempuran di Daghestan yang akhirnya memicu Perang Chechnya II ? Komander Khattab menceritakan bagaimana kejam dan buasnya pasukan Rusia kepada kaum muslimin di sana. Pasukan Rusia menghisap darah kaum muslimin dan membumihanguskan wilayah-wilayah kaum muslimin begitu dahsyat. Hanya Allah yang tahu betapa kejamnya mereka, mulai dari Afghanistan, Tajikistan, Bosnia, Chechnya. Selama lima tahun belakangan Rusia terus melakukan persiapan untuk menebus kekalahan mereka. Agen-agen intelejen Rusia pun mulai banyak yang disusupi ke dalam aktivitas mujahidin untuk mengumpulkan informasi. Rusia juga mulai melakukan terror dan intimidasi di Chechnya sebagai langkah awal serangan mereka.

Di sisi lain, saudara-saudara muslim kami memproklamasikan penerapan syariat Islam di Daghestan. Mereka mengusir polisi, karena di setiap tempat dimana ada polisi disitu juga terjadi pencurian, maksiat, mabuk-mabukan, dan suapmenyuap. Dan setelah masyarakat mengusir polisi, mereka mulai menata kehidupan mereka dengan syariat Islam. Para petani mulai ke ladang dan kehidupan mulai normal dan tenang. Maka kami pun ikut mempertahankan wilayah Daghestan. Saat itu jika pemerintah meminta bantuan kepada Rusia, maka masyarakat meminta bantuan kepada mujahidin. Kita masuk ke wilayah Daghestan sebelum tentara Rusia sampai dan mempertahankan wilayah itu. Jika Rusia menyerang maka kita akan bertahan. Inilah rencana awal kami, kami hanya ingin menolong mereka menghadapi tentara Rusia. Dan tetap dengan langkah-langkah dan prosedur khusus. Akhirnya perang meletus dan mujahidin Daghestan meminta bantuan kepada kami. Kami wajib masuk dan membantu mereka. Kami datang membantu dan berhasil memukul pasukan Rusia di daerah Botlov. Setelah pasukan Rusia menghentikan serangan mereka maka kami pun kembali ke Chechnya.

Namun 3 hari setelahnya, pasukan Rusia mengepung tiga desa dan membumi hanguskan tiga desa tersebut dengan senjata berat dan pesawat tempur. Padahal penduduk desa tersebut kebanyakan anak-anak kecil dan orang tua serta wanita. Mereka tidak tahu apa-apa. Akhirnya setelah bermusyawarah dengan seluruh komponen masyarakat Chechnya dan Daghestan, maka kami memutuskan untuk masuk ke desa yang dikepung oleh Rusia, maka meletuslah perang.

Dengan demikian, Perang Chechnya II merupakan operasi militer yang dilakukan oleh Rusia. Perang ini dimulai pada Bulan agustus 1999 ketika pasukan Rusia melakukan penyergapan besar-besaran terhadap mujahidin Chechnya, hingga saat ini. Perang di Daghestan dan pengeboman apartemen di Rusia merupakan Bagian awal dari Perang Chechnya II. Operasi besar-besaran membatalkan hasil yang telah didapat pada Perang Chechen yang pertama dimana Chechnya telah memperoleh kemerdekaan secara defakto sebagai Chechen Republik of Ichkeria (CRI). Meskipun sebagian orang menganggap perang ini sebagai konflik internal Federasi Rusia, tetapi perang ini menarik minat Mujahidin dari luar negeri dalam jumlah besar.

Medan perang Chechnya memasuki fase baru ketika pada tanggal 1 Oktober 1999 Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mengumumkan kekuasaan Presiden Chechnya Aslan Maskhadov dan Parlemennya tidak sah dan melenggar undangundang. Pada saat itu Vladimir Putin memgumumkan bahwa invasi Rusia akan segera berlanjut. Menurut beberapa sumber Putin sedang menjalankan rencana menghancurkan Chechnya dan menguasainya kembali sesuai rencana yang telah digariskanya beberapa bulan sebelum itu.

Seiring dengan serangan-serangan yang dilakukan pasukan Federal Rusia dan pendudukan mereka di beberapa desa sekitar Grozny, semangat jihad para

mujahidin Chechnya meningkat. Peningkatan semangat jihad ini terlihat dari makin gencarnya serangan gerilya para mujahidin dengan sasaran penguasa proRusia, pasukan federal Rusia, kendaraan militer Rusia, konvoi Rusia dan helikopter serta pesawat tempur Rusia. Disamping itu para mujahidin juga melancarkan serangan atau aksi istisyhadah. Selama bulan Juni 2000 hingga September 2004 setidaknya ada 23 aksi syahid di dalam dan di luar Chechnya. Sasaran aksi syahid tersebut adalah militer dan pos-pos strategis milik pemerintah Rusia.

Pada Bulan Mei 2000 Presiden Rusia Vladimir Putin mendirikan pemerintahan boneka di Chechnya. Putin menunjuk Ahmad Kadyrov sebagai presiden boneka Rusia di Chechnya. Pada tanggal 23 Maret 2003, konstitusi Chechen mengadakan referendum yang kontroversial. Referendum ini memberikan otonomi yang lebih luas kepada Republik Chechen. Referendum yang didukung oleh pemerintah Rusia ini diboikot dan ditolak oleh mujahidin Chechen.

Seiring jalannya perang, percobaan pembunuhan atas pemimipin kedua belah pihak sering terjadi. Pada tanggal 13 Februari 2004, presiden Chechen dari kalangan mujahidin, Zelimkhan Yandarbiyev terbunuh di Qatar. Sedangkan pada tanggal 9 Mei 2004 presiden boneka Rusia, Akhmad Kadyrov terbunuh pada sebuah parade di Grozny.

Sejak Desember 2005, Ramzan Kadyrov, anak Ahmad Kadyrov, pemimpin yang juga pro-Rusia menjadi presiden boneka Rusia di Chechnya secara de fakto. Kadyrov yang terkenal dengan kekejamannya ini mendapat dukungan penuh Rusia dan pada bulan Februari 2007 menjadi Presiden boneka Rusia dengan kekuasaan penuh di Chechnya menggantikan Alu Alkhanov.

Sementara itu, pada tanggal 2 Februari 2006, Abdul Khalim Sadulayev presiden dari kalangan mujahidin membuat perubahan dalam skala besar dalam pemerintahannya. Sadulayev memerintahkan seluruh warga Chechnya yang berada di luar negeri dan di pegunungan agar segera kembali ke wilayah Chechnya. Sadulayev sendiri terbunuh pada bulan Juni 2006. Sepeninggal Sadulayev, Dokka Umarov menggantikannya menjadi memimpin pemerintahan Chechnya, sekaligus Amir Mujahidin Chechnya hingga kini dan akhirnya kemudian mendeklarasikan Daulah Islam Kaukasus.

Daulah Islam Kaukasus, Perjuangan Panjang Menuju Kejayaan Islam Hakiki

Alhamdulillah, di bawah Dokka Umarov perjuangan mujahidin Chechnya terus mendapatkan pertolongan dari Allah swt hingga akhirnya mampu menjadi Daulah Islam yang sesuai dengan syariat. Dokka Umarov, yang terlahir dengan nama Khamad Umarov, April 1964 di desa Kharsenoi di Shatoy, wilayah selatan Chechnya ini memang gigih berjihad melawan kuffar Rusia. Di bawah beliau jihad berhasil diorganisir dengan baik, meliputi wilayah-wilayah KBR (Kabardino-Balkaria), KC (Karachay-Cherkes), Daghestan, Ingushetia, Stavropol, North Ossetia, dan Chechnya sendiri yang kesemuanya telah berbaiat kepada beliau. Keberhasilan pejuangan Dokka Umarov merupakan buah kesabaran estafet jihad dari seluruh mujahidin Chechnya yang selama bertahuntahun tegar menghadapi mantan adi kuasa dunia, Uni Soviet. Semua ini karena mujahidin Chechnya telah berhasil berjuang dengan memurnikan perjuangan mereka, semata-mata lillahi taala. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh sang Amir, Doka Umarov dalam peryataan deklarasinya :

Kami para mujahidin pergi berperang melawan kuffarin bukan karena mencari dan menginginkan peperangan, tetapi karena kami mengembalikan syariat Allah di tanah kami. Allah berfirman bahwa dia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu mengubah keadaanya sendiri. Jika agama Allah bisa ditegakkan di muka bumi dengan metode yang lain, tentu Rosululloh saw., tidak pernah terlibat dalam 27 peperangan.

Tidak ada kekuatan lain dan ketetapan kecuali milik Allah, dan di waktu yang sama Allah swt. memerintahkan kita untuk mempersiapkan kekuatan untuk berperang, semampu yang kita dapat. semampu kita, bukan berarti kita harus memiliki kekuatan sebanding dengan kekuatan kuffar. Tidak mungkin dalam kondisi sekarang kita menyamai kekuatan kuffar. Jangan salah dan ingatlah, kemenangan kaum muslimin bukan karena jumlah pasukan dan kelengkapan persenjataan, tapi kemenangan akan datang karena ketakutan kita pada Allah.

Dan ketakutan kepada Allah adalah jiwa dan tingkah laku kaum muslimin,ketika dia takut melanggar batas-batas apa yang diperbolehkan dan dilarang oleh Allah swt.. Dan larangan paling penting terkandung dalam keyakinan (keimanan) itu sendiri : Laa ilaaha illa Allah. Mengulangi kalimat tersebut mudah dan gampang, tetapi menerapkannya dalam perbuatan tidak mudah dan tidak gampang, karena masuk surga bukan perkara mudah dan gampang.

Allah yang Maha Kuasa telah memperingatkan kita dalam Al-Quran bahkan Allah tidak mengampuni syirik-menyekutukan sesuatu dengan Allah dan Allah mengampuni dosa-dosa lain jika berkehandak. Kaum muslimin harus takut pada syirik, menjauhi dan menolak sepanjang hidupnya. Jadi kami, para mujahidin menolak hukum apa pun, peraturan apa pun dan ketetapan apa pun yang bukan berasal dari Allah. Jihad melawan kuffar Rusia tidak pernah

berhenti, telah berlangsung kembali sejak 16 tahun lalu di Chechnya, ketika Jauhar Dudayev (semoga Allah merahmatinya) dengan ijin Allah menjadi pemimpin masyarakat Chechen. Sejak saat itu telah bergantung dengan tujuh pemimpin. Kami memohon kepada Allah agar merahmati ghazawat (jihad) mereka dan saudara-saudara yang mendahului kami.

Apapun slogan-slogan politik yang diumumkan dan kata-kata apa pun yang digunakan untuk menjelaskan slogan-slogan tersebut, kami tetap berperang melawan kalimat-kalimat kuffar Rusia untuk berjihad dan mati dalam ridho Allah swt.. Setiap keinginan akan dibalas sesuai kesungguhannya, Insya Allah.

Dengan ijin Allah, segala puji bagi Allah, menjadi takdir saya untuk memimpin jihad, Yang Maha Tinggi tahu, saya tidak menginginkannya, tidak mencari tanggung jawab seperti ini dan tidak pernah berfikir saya akan memikul beban ini. Akan tetapi, karena telah menjadi takdir saya, saya akan memimpin jihad dan mengorganisasinya sesuai pemahaman yang diberikan Allah Yang Maha Tinggi kepada saya.

Saya mengumumkan kepada seluruh kaum muslimin bahwa saya berperang melawan kaum kuffar di bawah panji Laa ilaaha illallah. Itu berarti, sebagai Amir mujahidin di Kaukasus saya menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan thaghut. Saya menolak seluruh hukum kuffar yang ditegakkan di muka bumi. Saya menolak seluruh hukum dan sistem yang ditegakkan kaum kuffar di tanah Kaukasus. Saya menolak dan menyatakan tidak berlindung di bawah nama dan istilah yang digunakan kuffarin untuk membagi-bagi dan memecah belah kaum muslimin. Saya menyatakan tidak berlindung di bawah suku, wilayah dan daerah yang mengusung nama North Caucasian Republics, Trans Caucasian Republik. dan yang serupa dengan nama-nama tersebut. Setiap

jengkal tanah di Kaukasus, dimana para mujahidin yang membaiat saya berjihad, saya menyatakannya sebagai wilayah Daulah Kaukasus ; (yaitu) wilayah Daghestan ,wilayah Nokhchiycho (bekas Chechnya), wilayah Ghalghaycho (bekas Ingushetia), wilayah Iriston (bekas Ossetia Utara). Wilayah padang Nogay (meliputi bagian utara Checnya, Daghestan dan distrik Stavropol), wilayah Kabarda, Bulkar dan Karachay.

Saya merasa keberatan pada semua kaum munafik yang berpendidikan maupun yang tidak berpendidikan yang mengklaim bahwa kami mendirikan negara yang abstrak, negara khayalan. Saya lebih suka mengatakan, Insya Allah, Daulah Kaukasus adalah bentuk negara yang lebih nyata dari pada zona-zona buatan kolonial yang ada sekarang. Kami akan, datang teliti dan metodis, memperkenalkan tahap demi setahap dan memaksakan perintah syariat di tanah kami. Penerapan syariah meninggikan kalimat Allah dan merupakan esensi jihad.

Bagi mereka yang duduk-duduk santai dan menghindari jihad, memiliki alasan yang berbeda-beda salah satunya, dengan istilah demokratis yang kami tinggalkan dengan sempurna (istilah tersebut) dan kami anggap tidak penting karena kesalah pahaman. Kami menolak nama dan gelar (dari istilah demokrasi). Sudah waktunya untuk memberi batasan pada perhatian, perkataan dan perbuatan kami. Di Hari Pembalasan nanti, ketika kami berdiri di hadapan sang khaliq, saya tidak ingin dicela karena banyak hal yang dilihat yang bisa dicela, saya takut siksa Allah. Jadi saya sekali lagi mengingatkan di bawah panji apa seharusnya kita pergi berjihad. Kami pergi berjihad untuk menegakkan syariah Allah. Jadi kami akan berjuang untuk mencari Ridho-Nya dan balasan dari Allah yang kami inginkan.

Sekali lagi saya mencela kaum munafik dan muslim yang lemah yang memposisikan diri seperti itu, tidak seperti muslim yang teguh. Argumen ganjil seperti itu meliputi kebijakan bodoh yang membuat setting seolah-olah seluruh dunia melawan kita sendiri. Subhanallah ! Jika saja seluruh kuffarin dan murtadin itu tidak memerangi kaum muslimin. Dengan mendapat kehormatan untuk mengambil kebijakan saya lebih suka untuk mengatakan kepada seluruh lawan-lawan saya; Senyata-nyatanya dan sebijak-bijaknya sebuah kebijakan adalah yang didasarkan pada Al-Quran dan As-Sunnah, dan sebodohbodohnya kebijakan adalah yang didasarkan pada harapan kosong dan khayalan yang tidak dapat di pahami serta ketakutan pada kekuatan (lawan) yang terlihat.

Saya memperingatkan para mujahidin agar berperang untuk mencari Ridho Allah dan juga menekan (agar kaum muslimin berjihad) dan menghina (mereka yang meninggalkan jihad). Sebagai Amir Mujahidin di Kaukasus saya adalah satu-satunya kekuatan yang sah di seluruh wilayah dimana mujahidin memberikan sumpah setia kepada saya sebagai pemimpin jihad.