Anda di halaman 1dari 17

MANAJEMEN TREASURY Case: Student Educational Loan Fund, Inc (Abridged)Cooper Industries, Inc.

Anggota Kelompok: Aji Saputra 11061470 16 Aprillia Mustika 11061471 Sari 80 David Adiprawiro 11061474 32 Dewi Safitri 11061474 Maulida 96 Hansel 11061479 Tanuwijaya 81

KS 112 MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS INDONESIA JAKARTA 2013

I.

Sinopsis

Biaya kuliah selama dua tahun untuk program MBA di Harvard Business School adalah US$ 42,000 pada tahun 1996 dengan biaya tambahan sebesar $ 4,700 untuk materi kuliah. Asusransi kesehatan dan pengeluaran pribadi diluar biaya-biaya di atas. Dengan biaya-biaya di atas dan hilangnya pendapatan selama kuliah mengakibatkan 52% dari para siswa mengajukan permohonan pinjaman, dan rata-rata saldo pinjama sekitar US$ 45,372 hingga akhir program. Ada beberapa badan yang menyediakan sumber pendanaan untuk para pelajar seperti Departement Pendidikan AS melalui program SELF, Stafford, dan Perkins. Umumnya, mereka memberikan bantuan kepada warga negara AS dan pelajar yang menjadi penduduk AS (permanent residents) yang tidak memiliki rekam jejak keuangan yang buruk. Adapun tingkat pinjaman yang diberikan beraneka ragam sesuai ketentuan yang diberlakukan oleh masing-masing penyedia dana pinjaman, antara lain: Stafford o Maksimum pinjaman adalah US$ 18,500 o Suku bunga berdasarkan 13-week T-bill, maksimum suka bunga pada 8.25% o Biaya awal adalah 4% o Pembayaran cicilan bulanan adalah 6 bulan setelah kelulusan hingga 10 tahun Perkins o Ditujukan hanya kepada warga negara AS dan penduduk tetap AS o Hingga US$ 5,000 boleh dipinjam tiap tahun o Suku bunga tetap 5% dan tidak ada biaya awal o Pembayaran cicilan bulanan adalah 10 bulan setelah kelulusan hingga 10 tahun Bank komersial o Maksimum pinjaman adalah biaya pendidikan dikurangi dengan pinjaman lain yang sudah didapat dari sumber lain o Suku bunga sekitar 1.5% - 2% diatas suku bunga pasar o Biaya awal 5- 10% Pembayaran cicilan bulanan bisa 10 hingga 25 tahun Selain dari sumber pinjaman di luar kampus, HBS juga menyediakan jasa serupa. Mahasiswa diijinkan untuk meminjam pinjaman hingga US$ 25,000 asalkan jumlah keseluruhan dari pinjaman yang dimiliki mahasiswa tidak melebihi US$ 62,000 hingga kelulusan, dengan tujuan agar mencegah gagal bayar oleh mahasiswa. Kelebihan dari pinjaman ini adalah pinjaman ini ditawarkan juga kepada mahasiswa yang berasal dari luar negeri. Beberapa ketentuan dari pinjaman ini adalah: Bunga pinjaman dibayarkan pada saat kelulusan Pembayaran dilakukan tiap semester sejak 6 bulan setelah lulus hingga 5 tahun kedepan Pinjaman bisa dibayarkan lebih awal dari masa pinjaman tanpa denda/penalti

Pinjaman HBS dibuat sebagai bentuk sumber pendaan untuk mahasiswa dari para donor. Sejak 1960, nilai pinjaman HBS meningkat secara tajam. Awal berdiri SELF dimaksudkan untuk mengakomodasi pertumbuhan yang cepat ini. Dengan membeli pinjaman HBS, SELF membebaskan dana pinjaman dari donor untuk mahasiswa baru. SELF membeli banyak, namun tidak semua, dari sisa-sisa pinjaman dibawah program HBS. Dari setiap pinjaman yang dibeli oleh SELF, dibayarkan kepada HBS sisa pinjaman (principal + bunga) dan menerima hak untuk semua aliran kas dari pinjaman dan semua ini transparan bagi pihak-pihak terkait termasuk mahasiswa. Proses-proses ini dikelola oleh Harvard University sebagai induk dari HBS dan kemudian didistribusikan ke SELF, HBS dan mahasiswa. Suku bunga ditetapkan dua kali dalam setahun, Mei dan November, berdasarkan biaya pendanaan dari SELF biaya hutang, credit line, biaya ekuitas. Namun, SELF berusaha untuk menetapkan suku bunga yang normal yang dikenakan ke mahasiswa. Karena adanya fasilitas pembayaran dimuka dan kemungkinan gagal bayar, menyebabkan SELF sulit untuk memprediksi aliran kas. Tidak ditemukan pola aliran kas yang bisa diprediksi oleh SELF. Terkadang, gagal bayar atau keterlambatan bayar memperparah prediksi aliran kas. [Cerita tentang HBS Loas dan SELF] SELF saat ini membayar prime rate untuk kredit dari bank. Exhibit 6 menunjukkan, prime lending rate bervariasi dan perubahan sepanjang waktu. SELF bertujuan untuk memberikan pinjaman fixed rate loan kepada mahasiswanya sebagai bagian dari struktur pinjaman baru. Struktur pinjaman yang baru dapat mengakibatkan masalah karena rate yang harus SELF bayarkan kepada bank adalah floating rate sementara rate pembayaran yang diterima dari mahasiswa adalah fixed rate. Situasi akan menjadi sangat berisiko bila floating rate meningkat, yang berarti SELF harus membayar rate yang lebih tinggi sementara menerima fixed rate untuk pembayran dari mahasiswa. Maka itu, penting bagi SELF untuk mengkonversi pembayaran floating rate menjadi fixed rate. Dengan menggunakan transaksi derivatif, perusahaan secara efektif dapat mengubah pembayaran dengan floating rate menjadi fixed rate. Fixed rate tidak akan terpengaruh oleh perubahan suku bunga dan akan dapat disesuaikan dengan suku bunga yang dibayarkan oleh mahasiswa kepada SELF. Skema proses Student Educational Loan Fund, Inc. (SELF)

Bank Student s Holyoke Center

HBS
Loan Paymen t Transaction

SELF

Mahasiswa mendapatkan pinjaman dari HBS. Pinjaman ini kemudian dibeli oleh SELF sehingga, SELF berhak mendapatkan pembayaran cicilan pinjaman (bunga beserta pokok) untuk kemudian hari. SELF mendapatkan pendanaan dari Bank. Proses pemberian pinjaman dan penagihan dilakukan oleh Harvard Universitys central student billing office di Holyoke Center. Masuknya dana ini kemudian dipakai oleh SELF untuk melakukan pembayaran ke bank. Ada beberapa mahasiswa yang tidak puas dengan terms of loan yang diberikan. Penyebabnya adalah pembayaran yang bersifat semi annual (setiap 6 bulan) yang menghasilkan pembayaran lebih besar daripada pembayaran bulanan. Melnick memiliki set of terms yang baru untuk HBS loan ini, dengan pembayaran yang dapat dilakukan setiap bulan dengan fixed interest rate di depan. Mahasiswa masih diizinkan untuk melakukan pembayaran lebih cepat kapan saja tanpa penalty. Dengan skema HBS loan yang baru, tentunya skema financing yang didapatkan dari bank juga harus diperbaharui. Dengan bergantinya system pembayaran HBS loan ke fixed rate monthly, maka Melnick perlu menggunakan beberapa produk derivative interest rate yang dapat digabungkan dengan existing prime-rate based loan. SELF perlu menggunakan salah satu atau penggabungan dari instrument berikut: 1. Fixed-for-floating swap 2. Cap 3. Floor 4. Basis Swap Untuk mengubah pinjamannya sekarang yang berdasarkan prime-based

ke model pinjaman yang lain. Selama ini SELF dapat melakukan prepayment untuk pinjaman berdasarkan prime-based nya tetapi dengan menggunakan instrument derivative ini maka membatalkan kontraknya menjadi lebih rumit.Pada bulan Mei 1972, Robert Cizik, Executive Vice President dari Cooper Industries, Inc., sedang mereview kandidat kandidat akuisisi untuk program diversifikasi perusahaannya. Salah satu kandidat, Nicholson File Company, sudah didekati oleh Cooper Industries pada 3 tahun terakhir tetapi selalu menolak semua penawaran yang diajukan. Sekarang Nicholson sedang berada di tengah krisis pengambilalihan yang mungkin bisa memberikan kesempatan kepada Cooper untuk memperoleh kontrol terhadap Nicholson. Cooper Industries Cooper Industries berdiri pada tahun 1919 sebagai produsen mesin dan alat berat. Pada pertengahan 1950-an, Cooper Industries merupakan produsen unggulan dari mesin dan kompressor yang digunakan di dalam industri oil & gas. Namun bagaimanapun juga manajemen Cooper mengkhawatirkan ketergantungan pada penjualan ke industri oil & gas dan ketidakpastian fluktuasi pendapatan yang disebabkan oleh siklus penjualan mesin dan alat berat. Walaupun pertumbuhan penjualan dan pendapatan jangka panjang perusahaan selalu di atas rata-rata, siklus penjualan sangat dipengaruhi oleh kinerja saham di Wall Street (historis laporan operasi dan kondisi keuangan Cooper dapat dilihat pada Exhibit 1 dan 2). Usaha-usaha untuk mengurangi fluktuasi pendapatan tidak sukses. Di antara tahun 1959-1966, Cooper mengakuisisi : 1. Perusahaan yang menyuplai portable industrial power tool, 2. Perusahaan yang memproduksi small industrial air & process compressor, 3. Perusahaan yang memproduksi small pump & compressor untuk aplikasi lapangan perminyakan, dan 4. Perusahaan yang memproduksi tier changing tools untuk pasar otomotif. 5. Akuisisi-akuisisi tersebut memperluas pasar Cooper, tetapi pendapatannya masih sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi pada umumnya. 3 kriteria strategi akuisisi baru diinisiasikan pada tahun 1966, yaitu: 1. Industri perusahaan calon akuisisi harus memiliki area bisnis dimana Cooper bisa menjadi pemain utama. 2. Industri perusahaan calon akuisisi harus stabil dan mempunyai pasar yang luas untuk produk-produknya. 3. Cooper hanya boleh mengkuisisi perusahaan-perusahaan unggulan dalam segmen pasarnya masing-masing. Strategi-strategi tersebut diimplementasikan dengan akuisisi Lufkin Rule Company, produsen terbesar di dunia untuk measuring rules & tapes, pada 1967. Cooper mendapatkan jasa dari William Rector, Presiden dan Hal Stevens, Wakil Presiden Penjualan dari Lufkin. Tujuan mereka menyetujui akuisisi tersebut adalah untuk membentuk suatu perusahaan dengan product line yang lengkap dan mengintegrasikan sistem penjualan

dan distribusi serta joint advertising. Untuk melakukan ini semua, Lufkin memerlukan kekuatan finansial dari Cooper. Lufkin menyediakan basis kuat dalam melakukan akuisisi dimana selanjutnya Cooper melakukan akuisisi terhadap 2 perusahaan berikutnya. Pada 1969, Crescent Niagara Corporation diakuisisi oleh Cooper. Perusahaan tersebut sangat profitable pada awal 1960-an, tetapi di beberapa tahun belakangan menghadapi masalah mismanagement dari beberapa investor yang memiliki kontrol pada tahun 1963. Jelas bahwa beberapa produk Crescent harus dihentikan dan pabrik yang tidak efisien harus ditutup, tetapi product line unggulan seperti wrenches, pliers, dan screwdrivers merupakan bagian penting dari product policy Cooper. Pada 1970, Cooper melakukan ekspansi terhadap industri hand tools dengan mengakuisisi Weller Electric Corporation. Weller merupakan penyuplai alat solder unggulan di dunia kepada industri, elektronik, dan pasar retail. Weller mendukung Cooper dengan product line dan kapasitas produksi yang baru dan berkualitas tinggi di Inggris, Jerman Barat, dan Meksiko (informasi dari ketiga akuisisi tersebut dapat dilihat pada Exhibit 3). Cooper kurang berhasil dalam pendekatannya untuk melakukan akuisisi terhadap Nicholson File Company. Keluarga Nicholson selama ini mengontrol dan mengatur perusahaan tersebut sejak pendiriannya pada 1864. Dan Paul Nicholson, CEO dari Nicholson tidak tertarik untuk bekerja sama dengan siapapun. Nicholson File Company Penjualan dan performa profit yang rendah pada beberapa tahun terakhir, kebijakan akuntansi dan keuangan yang konservatif, dan persentase kepemilikan saham oleh keluarga Nicholson yang rendah berkontribusi terdahap lemahnya posisi perusahaan (Exhibit 4 & 5 menunjukkan laporan operasi dan keuangan Nicholson). Yang membuat Nicholson sangat menarik adalah kekuatan kompetitif dasarnya yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam pendapatan, yaitu antara lain: 1. Nicholson merupakan salah satu produsen hand tools domesti k terbesar dan unggul pada 2 area produk utama. Nicholson memiliki 50% dari pasar files dan rasps yang bernilai 50 juta dollar. Nicholson juga memiliki reputasi yang baik untuk kualitas gergaji tangan dan pisau gergaji. Nicholson memiliki 9% share dari pasar yang bernilai 200 juta dollar. 2. Kekuatan Nicholson berikutnya adalah sistem distribusinya. 48 direct salesman dan 28 engineer file and saw menjual produk-produk Nicholson seperti file, rasp, dan saw ke 2.100 hardware wholesaler di Amerika Serikat dan Kanada. Dimana wholesaler-wholesaler tersebut menjual ke 53.000 outlet retailer. Di luar negeri produk-produk Nicholson dijual di 137 negara melalui 140 local sales representative. Nicholson memiliki semua kelebihan yang dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan penjualan tahuhan industri tersebut sebesar 6-7%. The Raid by H.K. Porter Company

Bukan hanya Cooper yang memiliki ketertarikan pada Nicholson. H.K. Porter Company, konglomerasi yang memiliki market share yang luas untuk produk peralatan elektrik, tools, nonferrous metals, dan rubber products, telah memiliki 44.000 saham Nicholson pada 1967 dan menjadi pemegang saham yang aktif selama masa kepemilikannya. Pada 3 Maret 1972, Porter mengabarkan rencananya kepada manajemen Nicholson untuk membeli 437.000 dari 584.000 outstanding shares Nicholson pada harga $42/share secara tunai. Penawaran tersebut bersifat terbatas pada 4 April kecuali diperpanjang oleh Porter dan Porter tidak ingin membeli saham Nicholson dalam jumlah yang tidak menjadikan Porter sebagai pemilik mayoritas. Manajemen Nicholson sadar bahwa perusahaannya akan memberikan kontribusi kurang dari 1/6 penjualan gabungan Porter dan jelas hanya akan menjadi divisi lainnya di Porter. Ditakutkan bahwa keinginan Porter untuk mendapatkan profit yang lebih tinggi akan berujung pada pemotongan biaya yang agresif dan eliminasi dari marginal product line Nicholson. Kehilangan kontrol sepertinya akan terjadi dan menjadi hal yang tidak menyenangkan bagi manajemen Nicholson. Penawaran tunai sebesar $42 dollar dipresentasikan sebagai $12 dollar premium dari harga saham Nicholson di pasar dan dipastikan akan mengambil perhatian dari pemilik saham lainnya. Performa yang buruk dari saham Nicholson beberapa tahun terakhir dipastikan akan menjadikan penawaran senilai $42/saham dari Porter menjadi lebih menarik untuk 4.000 pemegang saham Nicholson. Dan kepemilikan 20% saham oleh keluarga dan manajemen Nicholson menjadi terlalu sedikit bagi mereka untuk melanjutkan kontrol terhadap perusahaan. Segera setelah mempelajari penawaran tender Porter, Mr. Cizik dan Mr. Rector mendekati manajemen Nicholson dengan menawarkan bantuan. Jelas bahwa Nicholson harus bergerak dengan cepat dikarenakan kritisnya 10 hari pertama dari penawaran tender. Cizik dan Rector menekankan bahwa Nicholson harus menemukan tawaran yang lebih baik dengan segera. Cooper akan melakukan penawaran jika manajemen dan direkturdirektur Nicholson mau berkomitmen dengan penawaran tersebut sekarang. Nicholson tidak siap untuk memutuskan dan 3 hari berlalu tanpa keputusan apapun. Pada akhirnya, manajemen Cooper mengambil risiko dengan melakukan penawaran kepada Nicholson sekaligus memberikan kesempatan kepada Porter untuk mempelajari penawaran yang diajukan oleh Cooper. Di saat bersamaan saham Cooper di pasar sedang turun dan hal tersebut membuka kemungkinan bagi Manajemen Porter, yang marah karena rencana akuisisinya terhadap Nicholson diganggu oleh Cooper, untuk berbalik dan justru mengakuisisi Cooper. Tetapi selanjutnya penawaran Cooper ditolak oleh Nicholson. Pada akhir Maret, situasi semakin serius dimana manejemen Nicholson menolak tawaran dari Porter. Manejemen Porter berbicara secara personal kepada sebagian besar pemegang saham dan membuat pernyataan rekomendasi kepada publik yang berlawanan dengan penawaran tersebut.

Tetapi pengumuman oleh Porter mengindikasikan bahwa saham Nicholson dalam jumlah yang substansial akan dijual. Pada saat itu, isu akuisisi menjadi tidak penting dibandingkan dengan isu siapa yang akan mengakuisisi saham Nicholson tersebut. Manajemen Nicholson berusaha untuk mencari alternatif merger yang bisa memastikan keberlangsungan manajemen Nicholson dan independensi operasi. Beberapa perusahaan telah berkomunikasi dengan Nicholson setelah pengumuman yang dilakukan oleh Porter tetapi tidak ada yang melakukan penawaran yang lebih spesifik daripada Cooper. Hal ini terutama dikarenakan oleh keengganan mereka untuk bersaing pada harga yang sedang didiskusikan ataupun terlibat pertengkaran dengan Porter. Akhirnya, pada 3 April kesepakatan merger telah dicapai dengan VLN Corporation. VLN merupakan perusahaan yang mempunyai diversifikasi luas pada sebagian besar bidang di peralatan otomotif dan penerbitan. Di bawah persyaratan merger VLN, 1 saham dari VLN cumulative convertible preferred stock akan ditukarkan dengan setiap saham Nicholson. VLN preferred stock akan membayar dividen tahunan sebesar $1.60 dan bisa dikonversikan menjadi lima saham dari VLN common stock selama tahun pertama merger, dan akan menurun menjadi empat saham setelah tahun keempat. Preferred stock dapat dijual pada harga $50 per saham setelah tahun kelima dan memiliki hak likuidasi sebesar $50 per saham (lihat Exhibit 6 untuk financial summary dari VLN). Manajemen Nicholson, yang menginginkan kelanjutan dari jndependensi operasi, mendukung tawaran dari VLN ini. Dalam suratnya kepada pemegang saham, Paul Nicholson menyampaikan hal-hal sebagai berikut: 1. Penukaran new VLN cumulative convertible stock terhadap Nicholson common stock bersifat tax-free transaction. 2. Preferred dividend sebesar $1.60 bernilai sama dengan current rate Nicholson common stock. 3. Preferred share bernilai minimum $53.10 (VLN common stock ditutup pada $10.62 pada hari sebelum dilakukannya penawaran). Paul Nicholson percaya bahwa mayoritas dari pemegang common stock akan menyetujui proposal merger yang diajukan oleh VLN apabila nantinya harus diputuskan dengan skema voting (dalam hukum Rhode Island, merger bisa dilakukan apabila disetujui oleh mayoritas pemegang saham). Porter secara cepat melakukan counter-attack dengan mengabarkan kepada pemegang saham Nicholson bahwa saham VLN sekarang dijual pada harga yang rendah yaitu sebesar $4.625 dimana akan memberikan nilai tahun pertama hanya sebesar $23.12 pada VLN preferred stock. Oleh karena itu, siapapun yang menukarkan saham Nicholson-nya menjadi VLN common stock akan mengalami kerugian yang besar. Ditambah lagi VLN tidak pernah membayarkan common dividends sejak tahun 1970. Para pemegang saham Nicholson dihadapkan pada dua penilaian yang sangat kontradiktif mengenai penawaran VLN. Masing-masing perusahaan bertahan pada argumennya mengenai mana yang lebih menguntungkan

diantara converted preferred stock yang ditawarkan penawaran $42 per saham secara tunai oleh Porter. Opportunity for Cooper? xxx II. Identifikasi Masalah

VLN

dengan

Masalah yang dihadapi oleh Robert Cizik selaku Executive Vice President Cooper Industries, Inc. yaitu untuk memutuskan apakah Cooper akan meneriwa tawaran dari H.K. Porter Company untuk melakukan merger dengan Nicholson dimana selanjutnya saham Porter pada Nicholson sebanyak 177.000 saham akan djual kepada Cooper dengan harga minimal $50/saham dengan mekanisme pembayaran melalui Cooper common/convertible securities in a tax-free exchange. Dengan memiliki 177.000 saham Nicholson dari Porter ditambah dengan 29.000 saham yang sudah dimiliki sebelumnya, Cooper masih membutuhkan lebih dari 86.000 saham tambahan untuk mendapatkan majority control di Nicholson. 86.000 saham ini bisa didapatkan oleh Cooper pada saham-saham unaccounted for yang berjumlah 147.000197.000 saham. Yang menjadi pertimbangan lainnya yaitu Cizik tetap membutuhkan kontribusi dari Existing Nicholson Management untuk bekerja sama dalam membangun Nicholson kembali. Bagaimanapun juga hal terpenting adalah harga dan bentuk pembayaran harus konsisten dengan tujuan Cooper bahwa akuisisi Nicholson akan menghasilkan pendapatan jangka panjang yang memuaskan dan meningkatkan trend dari Earning per Share Cooper selama 5 tahun ke depan (proyeksi dari Earning per Share Cooper dapat dilihat pada Exhibit 8). Hal penting lainnya yaitu Cooper harus mempertahankan pola pendapatan dan harga saham yang kuat. Permasalahan Melnick adalah bagaimana system pinjaman HBS yang baru dengan adanya perubahan pola pembayaran mahasiswa dari 6 bulan sekali menjadi 1 bulan sekali dengan fixed rate di awal dapat diakomodir dengan metode financing SELF yang baru yang didapatkan dari bank. Student Educational Loan Fund (SELF) yang pendiriannya ditujukan untuk melakukan pendanaan atas fasilitas pinjaman pada mahasiswa di Harvard Business Schooll (HBS), dari hari ke hari makin mempunyai jumlah nasabah yang bertambah besar. Seiring dengan pertambahan ini mulai dirasakan beberapa kendala dari kegiatan pengembalian pinjaman tersebut, antara lain: 1. System pembayaran yang tradisional dengan menggunakan semi annually dengan tingkat bunga yang bervariasi tergantung dari kondisi pinjaman pada 6 bulan sebelumnya. 2. Kesulitan pembayaran yang dialami oleh para mahasiswa dengan periode pembayaran semi annually sehingga cash pattern nya sulit untuk diprediksi oleh SELF, dimana sering kali tingkat pembayaran meningkat seiring dengan diterimanya bonus tahunan oleh para

mahasiswa. 3. Karena mempunyai konsep yang tidak sepenuhnya profit oriented, maka penerapan tingkat bunganya pun dibawah prime rate yang ada, hal ini mengakibatkan adanya perbedaan tingkat volatility yang dialami oleh SELF antara pendapatan bunga dari mahasiswa yang rendah terhadap Cost of Capital mereka yang lebih tinggi 4. Sehingga pada akhir ini makin banyaknya tingkat kegagalan bayar dari para mahasiswa atas HBS loan yang mereka ambil, baik mulai dari meningkatnya penundaan pembayaran sampai dengan kegagalan bayar sepenuhnya. Untuk itu dirasa perlu oleh manajemen SELF untuk melakukan perubahan terhadap system pinjaman kepada mahasiswa untuk mengatasi beberapa masalah tersebut. Adapun beberapa hal yang direncakan untuk dilakukan perubahannya antara lain : 1. Membuat pembayaran dilakukan tidak semi annually tetapi menjadi monthly serta menggunakan tingkat bunga yang tetap, sehingga para mahasiswa pun dapat lebih mudah untuk melakukan perencanaan keuangan mereka dengan demikian diharapkan tingkat pembayaran pinjaman dapat lebih meningkat. 2. Sistem yang dilakukan mengambil pola yang akan mirip dengan struktur pendanaan mortgage dengan masa tenggang waktu selama 5 tahun. Dalam rencana mewujudkan perubahan ini maka manajemen SELF memandang perlunya dipikirkan pola pendanaan yang akan dilakukan melalui institusi-institusi pendanaan yang ada terutama melalui kedua bank yang menjadi partner SELF selama ini sehingga dapat mengurangi resiko yang mungkin terjadi dengan menggabungkaan terdahap system pinjaman yang ada selama ini. Dengan penggabungan ini diharapkan didapat pemecahan masalah atas mismatch yang terjadi atas pengeluaran pinjaman oleh SELF terhadap pendanaan yang didapat oleh SELF.

III.

Landasan Teori Swap Swap adalah suatu produk derivatif, di mana terdapat perjanjian antara dua belah pihak untuk pertukaran di masa depan terhadap suatu aset dengan yang lainnya, suatu kewajiban dengan dengan yang lainnya, atau lebih spesifik suatu aliran arus kas dengan yang lainnya. Perjanjian swap umumnya melibatkan beberapa poin pertukaran di masa depan. Cash flow suatu swap bisa jadi fixed pada penetapan sebelumnya, atau disesuaikan untuk setiap settlement date berdasarkan referensi kepada beberapa suku bunga yang spesifik seperti London Interbank Offered rate, LIBOR, atau market yield lainnya. Swap yang paling umum adalah currency swap, di mana suatu mata uang ditukarkan dengan yang lainnya pada term yang sudah ditentukan sebelumnya seperti tanggal penukaran, interest rate swap, tipe pembayaran bunga (sebagai contoh pembayaran bungan floating dengan LIBOR).

Fixed-For Floating Swap Interest rate swap adalah perjanjian yang menguntungkan antara dua belah pihak untuk menukarkan pembayaran suku bunga di masa mendatang, di mana satu pihak memmbayar fixed rate sementara pihak yang lainnya membayar floating rate berdasarkan LIBOR. Manfaat yang didapatkan diperoleh dengan mempertimbangkan situasi di mana masing-masing pihak memiliki keunggulan komparatif untuk mengambil pinjaman pada tingkat suku bunga tertentu dan mata uang tertentu. Sebagai contoh, Perusahaan A dapat mengambil pinjaman dengan jangka waktu satu tahun di AS untuk tingkat bunga tetap sebesar 8% dan tingkat bunga mengambang sebesar LIBOR + 1% (yang relatif lebih murah), tetapi Perusahaan akan lebih memilih fixed rate. Di sisi lain, Perusahaan B dapat memperoleh pinjaman dalam jangka satu tahun untuk tingkat bunga tetap sebesar 6%, atau tingkat bunga mengambang sebesar LIBOR +3%, akibatnya, mereka lebih memilih tingkat bunga mengambang. Melalui interest rate swap, masing-masing pihak dapat menukarkan suku bunganya untuk mendapatkan suku bunga yang lebih disukai. Caps and Floor Interest rate cap adalah produk derivatif dimana pembeli menerima pembayaran pada akhir setiap periode ketika suku bunga melebihi strike price yang disepakati. Dengan membeli cap, akan membuat institusi memiliki hak untuk menerima kelebihan floating interest rate terhadap fixed cap rate. Selain itu, peminjam dana yang pembayaran suku bungannya diikatkan pada LIBOR dapat mengatur upper limit atau cap pada borrowing cost-nya. Pada setiap pembayaran suku bunga, pemegang cap memutuskan apakah akan menjalankan atau membiarkan optionnya. Interest rate cap digunakan oleh pembelinya untuk lindung nilai dari risiko floating rate. Interest rate floor adalah serangkaian European put option pada refensi suku bunga tertentu, biasanya LIBOR. Pembeli floor akan menerima uang jika saat maturity, suku bunga referensi dibawah strike price yang telah disepakati. Dengan peminjam dana menjual floor, dengan melakukan hal ini, akan memberi counter party (bank) hak untuk menerima kelebihan dari fixed floor rate terhadap floating interest rate. Dengan menjual floor, peminjam dana yang pembayaran suku bungannya diikatkan pada LIBOR dapat mengatur lower limit atau floor pada borrowing cost-nya. Pemberi pinjaman menggunakan metode ini untuk lindung nilai terhadap penurunan suku bunga. Basis Swap Sebuah jenis swap di mana kedua belah pihak bertuka suku bunga variable berdasarkan pasar uang yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk membatasi risiko suku bunga yang dihadapi oleh perusahaan dikarenakan memiliki suku bunga yang berbeda untuk lending dan borrowing.

Merger adalah penggabungan dua perusahaan menjadi satu, dimana perusahaan yang me-merger mengambil/membeli semua assets dan liabilities perusahaan yang di-merger dengan begitu perusahaan yang memerger memiliki paling tidak 50% saham dan perusahaan yang di-merger berhenti beroperasi dan pemegang sahamnya menerima sejumlah uang tunai atau saham di perusahaan yang baru (Brealey, Myers, & Marcus, 1999, p.598). Definisi merger yang lain yaitu sebagai penyerapan dari suatu perusahaan oleh perusahaan yang lain. Dalam hal ini perusahaan yang membeli akan melanjutkan nama dan identitasnya. Perusahaan pembeli juga akan mengambil baik aset maupun kewajiban perusahaan yang dibeli. Setelah merger, perusahaan yang dibeli akan kehilangan/berhenti beroperasi (Harianto dan Sudomo, 2001, p.640). Akuisisi adalah pengambil-alihan (takeover) sebuah perusahaan dengan membeli saham atau aset perusahaan tersebut, perusahaan yang dibeli tetap ada. Jenis-jenis Merger dan Akusisi Suatu perusahaan dapat diakuisisi perusahaan lain dengan beberapa cara, yaitu : a. Merger Pada merger, para direktur kedua pihak setuju untuk bergabung dengan persetujuan para pemegang saham. Pada umumnya, penggabungan ini disetujui oleh paling sedikit 50% shareholder dari target firm dan bidding firm. Pada akhirnya target firm akan menghilang (dengan atau tanpa proses likuidasi) dan menjadi bagian dari bidding firm. b. Konsolidasi Setelah proses merger selesai, sebuah perusahaan baru tercipta dan pemegang saham kedua belah pihak menerima saham baru di perusahaan ini. c. Tender offer Terjadi ketika sebuah perusahaan membeli saham yang beredar perusahaan lain tanpa persetujuan manajemen target firm, dan disebut tender offer karena merupakan hostile takeover. Target firm akan tetap bertahan selama tetap ada penolakan terhadap penawaran. Banyak tender offer yang kemudian berubah menjadi merger karena bidding firm berhasil mengambil alih kontrol target firm. d. Acquisistion of assets Sebuah perusahaan membeli aset perusahaan lain melalui persetujuan pemegang saham target firm. Pembagian akuisisi tersebut berbeda menurut Ross, Westerfield, dan Jaffe 2002. Menurut mereka hanya ada tiga cara untuk melakukan akuisisi, yaitu : a. Merger atau konsolidasi Merger adalah bergabungnya perusahaan dengan perusahaan lain. Bidding firm tetap berdiri dengan identitas dan namanya, dan memperoleh semua aset dan kewajiban milik target firm. Setelah merger target firm berhenti untuk menjadi bagian dari bidding firm. Konsolidasi

sama dengan merger kecuali terbentuknya perusahaan baru. Kedua perusahaan sama-sama menghilangkan keberadaan perusahaan secara hukum dan menjadi bagian dari perusahaan baru itu, dan antara perusahaan yang di-merger atau yang me-merger tidak dibedakan. b. Acquisition of stock Akuisisi dapat juga dilakukan dengan cara membeli voting stock perusahaan, dapat dengan cara membeli sacara tunai, saham, atau surat berharga lain. Acquisition of stock dapat dilakukan dengan mengajukan penawaran dari suatu perusahaan terhadap perusahaan lain, dan pada beberapa kasus, penawaran diberikan langsung kepada pemilik perusahaan yang menjual. Hal ini dapat disesuaikan dengan melakukan tender offer. Tender offer adalah penawaran kepada publik untuk membeli saham target firm, diajukan dari sebuah perusahaan langsung kepada pemilik perusahaan lain. c. Acquisition of assets Perusahaan dapat mengakuisisi perusahaan lain dengan membeli semua asetnya. Pada jenis ini, dibutuhkan suara pemegang saham target firm sehingga tidak terdapat halangan dari pemegang saham minoritas, seperti yang terdapat pada acquisition of stock (p.817-818). Sedangkan berdasarkan jenis perusahaan yang bergabung, merger atau akuisisi dapat dibedakan : a. Horizontal merger terjadi ketika dua atau lebih perusahaan yang bergerak di bidang industri yang sama bergabung. b. Vertical merger terjadi ketika suatu perusahaan supplier atau customernya. perusahaan mengakuisisi

c. Congeneric merger terjadi ketika perusahaan dalam industri yang sama tetapi tidak dalam garis bisnis yang sama dengan supplier atau customernya. Keuntungannya adalah perusahaan dapat menggunakan penjualan dan distribusi yang sama. d. Conglomerate merger terjadi ketika perusahaan yang tidak berhubungan bisnis melakukan merger. Keuntungannya adalah dapat mengurangi resiko. Alasan-alasan Melakukan Merger dan Akuisisi Ada beberapa alasan perusahaan melakukan penggabungan baik melalui merger maupun akuisisi, yaitu : a. Pertumbuhan atau diversifikasi Perusahaan yang menginginkan pertumbuhan yang cepat, baik ukuran, pasar saham, maupun diversifikasi usaha dapat melakukan merger maupun akuisisi. Perusahaan tidak memiliki resiko adanya produk baru. Selain itu, jika melakukan ekspansi dengan merger dan akuisisi, maka perusahaan dapat mengurangi perusahaan pesaing atau mengurangi persaingan. b. Sinergi

Sinergi dapat tercapai ketika merger menghasilkan tingkat skala ekonomi (economies of scale). Tingkat skala ekonomi terjadi karena perpaduan biaya overhead meningkatkan pendapatan yang lebih besar daripada jumlah pendapatan perusahaan ketika tidak merger. Sinergi tampak jelas ketika perusahaan yang melakukan merger berada dalam bisnis yang sama karena fungsi dan tenaga kerja yang berlebihan dapat dihilangkan. c. Meningkatkan dana Banyak perusahaan tidak dapat memperoleh dana untuk melakukan ekspansi internal, tetapi dapat memperoleh dana untuk melakukan ekspansi eksternal. Perusahaan tersebut menggabungkan diri dengan perusahaan yang memiliki likuiditas tinggi sehingga menyebabkan peningkatan daya pinjam perusahaan dan penurunan kewajiban keuangan. Hal ini memungkinkan meningkatnya dana dengan biaya rendah. d. Menambah ketrampilan manajemen atau teknologi Beberapa perusahaan tidak dapat berkembang dengan baik karena tidak adanya efisiensi pada manajemennya atau kurangnya teknologi. Perusahaan yang tidak dapat mengefisiensikan manajemennya dan tidak dapat membayar untuk mengembangkan teknologinya, dapat menggabungkan diri dengan perusahaan yang memiliki manajemen atau teknologi yang ahli. e. Pertimbangan pajak Perusahaan dapat membawa kerugian pajak sampai lebih 20 tahun ke depan atau sampai kerugian pajak dapat tertutupi. Perusahaan yang memiliki kerugian pajak dapat melakukan akuisisi dengan perusahaan yang menghasilkan laba untuk memanfaatkan kerugian pajak. Pada kasus ini perusahaan yang mengakuisisi akan menaikkan kombinasi pendapatan setelah pajak dengan mengurangkan pendapatan sebelum pajak dari perusahaan yang diakuisisi. Bagaimanapun merger tidak hanya dikarenakan keuntungan dari pajak, tetapi berdasarkan dari tujuan memaksimisasi kesejahteraan pemilik. f. Meningkatkan likuiditas pemilik Merger antar perusahaan memungkinkan perusahaan memiliki likuiditas yang lebih besar. Jika perusahaan lebih besar, maka pasar saham akan lebih luas dan saham lebih mudah diperoleh sehingga lebih likuid dibandingkan dengan perusahaan yang lebih kecil. g. Melindungi diri dari pengambilalihan Hal ini terjadi ketika sebuah perusahaan menjadi incaran pengambilalihan yang tidak bersahabat. Target firm mengakuisisi perusahaan lain, dan membiayai pengambilalihannya dengan hutang, karena beban hutang ini, kewajiban perusahaan menjadi terlalu tinggi untuk ditanggung oleh bidding firm yang berminat (Gitman, 2003, p.714-716). Kelebihan Merger Pengambilalihan melalui merger lebih sederhana dan lebih murah dibanding pengambilalihan yang lain

Kekurangan Merger Dibandingkan akuisisi merger memiliki beberapa kekurangan, yaitu harus ada persetujuan dari para pemegang saham masing-masing perusahaan,sedangkan untuk mendapatkan persetujuan tersebut diperlukan waktu yang lama. (Harianto dan Sudomo, 2001, p.642) Kelebihan Akuisisi Keuntungan-keuntungan akuisisi saham dan akuisisi aset adalah sebagai berikut: a. Akuisisi Saham tidak memerlukan rapat pemegang saham dan suara pemegang saham sehingga jika pemegang saham tidak menyukai tawaran Bidding firm, mereka dapat menahan sahamnya dan tidak menjual kepada pihak Bidding firm. b. Dalam Akusisi Saham, perusahaan yang membeli dapat berurusan langsung dengan pemegang saham perusahaan yang dibeli dengan melakukan tender offer sehingga tidak diperlukan persetujuan manajemen perusahaan. c. Karena tidak memerlukan persetujuan manajemen dan komisaris perusahaan, akuisisi saham dapat digunakan untuk pengambilalihan perusahaan yang tidak bersahabat (hostile takeover). d. Akuisisi Aset memerlukan suara pemegang saham tetapi tidak memerlukan mayoritas suara pemegang saham seperti pada akuisisi saham sehingga tidak ada halangan bagi pemegang saham minoritas jika mereka tidak menyetujui akuisisi Kekurangan Akuisisi Kerugian-kerugian akuisisi saham dan akuisisi aset sebagai berikut : a. Jika cukup banyak pemegang saham minoritas yang tidak menyetujui pengambilalihan tersebut, maka akuisisi akan batal. Pada umumnya anggaran dasar perusahaan menentukan paling sedikit dua per tiga (sekitar 67%) suara setuju pada akuisisi agar akuisisi terjadi. b. Apabila perusahaan mengambil alih seluruh saham yang dibeli maka terjadi merger. c. Pada dasarnya pembelian setiap aset dalam akuisisi aset harus secara hukum dibalik nama sehingga menimbulkan biaya legal yang tinggi.

Perbedaan

Merger Perseroan yang

Akuisisi Perseroan yang diambil alih sahamnya, badan hukumnya tidak menjadi bubar atau berakhir, hanya terjadi beralihnya pengendalian Aktiva dan pasiva

Status Badan Hukum

menggabungkan diri lenyap dan berakhir statusnya sebagai badan hukum

Aktiva dan

Aktiva dan Pasiva

perseroan yang menggabungkan diri Pasiva beralih sepenuhnya kepada perseroan yang menerima penggabungan

perseroan yang diambil alih tetap ada pada perseroan yang diambil alih sahamnya

Sumber: Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas IV. Analisa Penyelesaian Masalah 1. Kesimpulan dan Rekomendasi

V.

VI.

Pelajaran Yang Dapat Diambil

Beri Nilai