Anda di halaman 1dari 13

BAB I KASUS

Nama Penderita Jenis Kelamin Umur : Maharani Dewi Lestari : Perempuan : 3 tahun

Dokter Muda Pembina : Swastu Nurul Azizah, S.Ked

A. Anamnesis (Alloanamnesis dengan ibu pasien dan autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 17 Oktober 2013) Keluhan Utama : telinga kanan berdarah sejak 1 hari yang lalu.

Riwayat Perjalanan Peyakit: Sejak 1 minggu yang lalu ibu pasien mengeluhkan telinga kanan pasien mengeluarkan cairan berwarna putih, tidak ada darah. Pasien mengeluhkan telinga kanan terasa nyeri. Ibu pasien juga mengeluhkan pasien mengalami batuk dan pilek. Ibu pasien memberi pasien obat batuk dan pilek yang dibelinya sendiri di apotek, keluhan pasien berkurang. Sejak 1 hari yang lalu, ibu pasien mengeluhkan telinga kanan pasien berdarah saat dibersihkan dengan kain lap bersih. Pasien mengelukan telinga kanan terasa nyeri. Pasien lalu dibawa berobat ke Puskesmas Kenten Palembang.

Riwayat Penyakit Terdahulu: Pasien mengalami batuk dan pilek sejak 2 minggu yang lalu, diberi obat batuk dan pilek oleh ibu pasien, keluhan pasien berkurang

Riwayat Imunisasi Riwayat imunisasi lengkap (BCG, DPT/HB (1,2,3), Polio (1,2,3,4), Campak)

B. Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan Umum Keadaan Umum : Tampak Sakit Ringan Kesadaran Nadi Pernafasan Suhu Berat badan Tinggi badan : Kompos Mentis : 104 x/m : 24 x/m : 36,4 0C : 14 kg : 91 cm

2. Pemeriksaan Khusus Mata Telinga : konjungtiva palpebra pucat (-), sklera ikterik (-) : kanan: liang telinga lapang, sekret (-), membran timpani perforasi (+), refleks cahaya (-), nyeri belakang telinga (-); kiri: liang telinga lapang, sekret (-), membran timpani intak, refleks cahaya (+), nyeri belakang telinga (-). Tenggorok Hidung Leher Thoraks : arcus faring tenang, tonsil T1-T1 : kavum nasi lapang, KI tidak hiperemis, sekret (-). : pembesaran KGB (-) : Bentuk thoraks normal simetris kanan dan kiri, sela iga tidak melebar, retraksi dinding thoraks tidak ada. Cor pulmo: Abdomen (+) normal. Ekstremitas : edema (-) : HR: 104 x/m, BJ I-II normal, vesikuler (+) normal, wheezing (-), ronki (-). : datar, lemas, hepar dan lien tidak membesar, bising usus

C. Diagnosis Banding Otitis Media Akut Stadium Perforasi Aurikula Dekstra Otitis Media Supuratif Kronik Aurikula Dekstra Mastoiditis Aurikular Dekstra

D. Diagnosis Kerja Otitis Media Akut Stadium Perforasi Aurikula Dekstra

E. Terapi Nonmedikamentosa o Menunjukkan kepada ibu cara mengeringkan cairan yang keluar dari telinga dengan menggunakan tissue atau kain yang dipelintir sehingga membentuk sumbu, dan membersihkan telinga 3 kali sehari hingga tidak ada lagi cairan yang keluar dari telinga o Nasihati ibu untuk tidak memasukkan apa pun ke dalam telinga anak, kecuali jika terjadi penggumpalan cairan di liang telinga, yang dapat dilunakkan dengan meneteskan larutan garam normal. o Larang anak untuk berenang atau memasukkan air ke dalam telinga. o Jika anak mengalami nyeri telinga atau demam tinggi ( 38,5C) yang menyebabkan anak gelisah, berikan parasetamol. Medikamentosa o Amoxicilin syr 3x125 mg o Paracetamol syr 3x120 mg

F.

Komplikasi Otitis media supuratif kronik Mastoiditis akut

G. Prognosis Quo ad vitam Quo ad functionam Quo ad sananctionam : dubia : dubia : dubia

FOLLOW UP Tanggal S O : Kadaan umum Kesadaran Nadi Pernafasan Temperatur Keadaan fisik Mata Telinga konjungtiva palpebra pucat (-), sklera ikterik (-) kanan: liang telinga lapang, sekret (-), membran timpani perforasi (+), nyeri belakang telinga (-); kiri: liang telinga lapang, sekret (-), membran timpani intak, nyeri belakang telinga (-). Tenggorok Hidung Leher Thoraks arcus faring tenang, tonsil T1-T1 kavum nasi lapang, KI tidak hiperemis, sekret (-). pembesaran KGB (-) bentuk thoraks normal simetris kanan dan kiri, sela iga tidak melebar, retraksi dinding thoraks tidak ada. Jantung Paru Abdomen HR: 104 x/m, BJ I-II normal, vesikuler (+) normal, wheezing (-), ronki (-). datar, lemas, hepar dan lien tidak membesar, bising usus (+) normal. Ekstremitas A P Edema (-/-) Otitis media akut stadium perforasi aurikula dekstra o Amoxicilin syr 3x125 mg o Paracetamol syr 3x120 mg o Vitamin C 1x30 mg 22 Oktober 2013 Telinga kanan masih mengeluarkan cairan Tampak sakit ringan Compos Mentis 102 x/menit 24 x/menit 36.7 C

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pendahuluan Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif. Otitis media supuratif terbagi menjadi dua yaitu otitis media supuratif akut (OMA) dan otitis media supuratif kronis (OMSK). 1 Diagnosa OMA ditegakkan apabila infeksi berlangsung kurang dari 3 minggu. Apabila proses penyakit sudah lebih dari 3 minggu maka disebut dengan otitis media supuratif subakut dan apabila perforasi dan sekret tetap keluar lebih dari satu setengah-dua bulan maka disebut OMSK.1

B. Etiologi Penyebab utama terdapatnya bakteri piogenik pada telinga tengah adalah disfungsi dari tuba eustachius. Banyak terjadi pada bayi dan anak-anak karena berbagai sebab antara lain bentuk tuba yang abnormal sehingga tuba menjadi tertutup dan terganggunya kerja m. tensor palatini yang berfungsi untuk membuka tuba eustachius.2 Bakteri yang paling sering menyebabkan OMA adalah streptokokus pneumoniae (35%), Haemofilus influenza (23%) dan Moraxella kataralis (14%).2 Organisme anaerob seperti virus RSV, parainfluenza, enterovirus dan adenovirus dari saluran pernafasan dapat juga menyebabkan infeksi.3 Selain infeksi saluran nafas atas, terdapat beberapa faktor resiko lain yang dapat menyebabkan peningkatan insidensi OMA antara lain perubahan cuaca (dingin), kurangnya kebersihan, kelainan anatomi seperti palatoskizis, defisiensi imunologi, barotrauma, hipertropi adenoid, dan anak-anak dengan orangtua yang perokok.2

C. Epidemiologi Di Amerika OMA lebih banyak diderita oleh bayi dan anak-anak, lebih dari separuh kejadian telah didiagnosa pada anak-anak kurang dari 4 tahun. Pada penelitian lain OMA dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok anak dengan usia 0-5 tahun lebih sering terkena OMA disbanding kelompok anak dengan usia lebih tua (5-11 tahun).4 Pada usia 6 bulan, sekitar 25% dari semua anak pernah mengalami OMA satu kali atau lebih. Pada usia 1 tahun jumlah anak yang menderita OMA meningkat menjadi 62%, pada usia 3 tahun menjadi 81% dan usia 5 tahun menjadi 81%. Insiden menurun pada anak berusia lebih dari 7 tahun.4,5 Komplikasi otitis media lebih banyak ditemukan pada anak-anak namun insiden terjadinya komplikasi dari otitis media menurun sejak adanya antibiotik. Pada era preantibiotik, angka mortalitas akibat terjadinya komplikasi dari otitis media adalah sebesar 76,4% sedangkan pada tahun 1995, Kangsaranak et al meneliti pada 24.321 pasien dengan otitis media hanya terdapat angka kejadian komplikasi intrakranial sebesar 0,36%.5

D. Patofisiologi Umumnya OMA disebabkan oleh terjadinya sumbatan tuba eustachius yang dicetuskan oleh infeksi saluran nafas atas. Akibat adanya infeksi maka terjadi hiperemi dan edem pada mukosa tuba eustachius bagian faring yang kemudian lumennya dipersempit oleh hiperplasi limfoid pada submukosa. Karena fungsi tuba terganggu maka pencegahan invasi kuman ke telinga tengah juga terganggu sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan.2 Pada inflamasi awal terjadi inflamasi pada jaringan submukosa. Kelenjar sekresi menghasilkan cairan mukoid. Kemudian terjadi kematian dari sel-sel epitel dan bakteri bermultiplikasi. Kemudian terjadi reaksi peradangan sel

polimorfonuklear yang berasal dari sel neutrofil dari sirkulasi darah yang menyebabkan terjadinya sekret mukopurulen. Cairan ini dapat menetap pada telinga tengah dan sel-sel mastoid karena gangguan mobilitas yang disebabkan

oleh rusaknya sel-sel yang bersilia tersebut, termasuk sel-sel yang terdapat pada tuba eustachius.2 Djaafar (UI, 2003) membagi OMA menjadi 5 stadium, antara lain:1 1. Stadium oklusi tuba eustachius Tandanya adanya oklusi tuba eustachius adalah gambaran retraksi membran timpani dengan gambaran warna normal atau mungkin sedikit keruh. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi. 2. Stadium hiperemis (stadium presupurasi) Tampak pembuluh darah melebar atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edem. Sekret mungkin masih berbentuk eksudat serous sehingga sukar terlihat. 3. Stadium supurasi Edema yang hebat pada mukosa, hancurnya sel epitel superficial serta tampak sekret yang purulen sehingga mengakibatkan membran timpani menonjol (bulging) ke arah telinga luar. Pada stadium ini pasien terlihat sangat sakit, nyeri menghebat, nadi dan suhu meningkat. Jika tekanan pada kavum timpani tidak berkurang maka akan terjadi nekrosis membrana timpani sehingga pada stadium ini disarankan untuk melakukan miringotomi sebelum terjadi ruptur yang spontan. 4. Stadium perforasi Pada stadium ini telah terjadi ruptur pada membran timpani sehingga nanah dapat keluar dari telinga tengah dan penderita menjadi lebih tenang. 5. Stadium resolusi Bila membrana timpani tetap utuh maka keadaan membran timpani dapat menjadi normal lagi dan jika telah terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan kering. OMA dapat menjadi otitis media supuratif kronis (OMSK) bila perforasi menetap dan sekret keluar terus-menerus dan hilang timbul.

E. Manifestasi Klinis Umumnya pada awal penyakit, penderita dengan OMA merasakan penuh pada telinga dan penurunan pendengaran. Penderita dapat juga merasakan nyeri

pada telinga dan sepertiga sampai setengahnya mengalami demam. Pada bayi, gejala klinis yang dapat ditemukan adalah iritabilitas, muntah, diare dan demam.2,5 Pada stadium supuratif, telinga tengah menjadi penuh dengan eksudat sehingga penderita merasakan otalgia dan demam. Penurunan nafsu makan, muntah-muntah, demam dan diare dapat terjadi pada anak kecil.6 Bila infeksi berlanjut maka dapat terjadi perforasi membrana timpani sehingga dapat keluar cairan hemorargik yang kemudian dapat menjadi cairan mukopurulen. Setelah terjadi perforasi, otalgia pada penderita menjadi berkurang.5,6

F. Terapi Pada stadium oklusi, pengobatan bertujuan untuk membuka kembali tuba eustachius untuk menghilangkan tekanan negatif pada telinga tengah. Untuk stadium ini diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,5% untuk anak kurang dari 12 tahun dan 1% untuk anak lebih dari 12 tahun dan orang dewasa. Antibiotika juga diberikan apabila penyebab penyakit adalah bakteri, bukan virus atau alergi. Pada stadium presupurasi diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan analgetika. Antibiotika yang dianjurkan ialah golongan penisilin dan ampisilin. Namun terdapat semakin meningkatnya insidens resisten ampisilin maka antibiotik kini dikombinasikan dengan asam klavulanat dan terbukti efektif terhadap bakteri pembentuk beta-laktamase. Kombinasi sefalosporin atau ampisilin dengan asam klavulanat merupakan terapi pilihan terhadap organsime yang resisten. Jika penderita alergi dengan pensilin maka diberikan kombinasi sulfisoksazol dengan eritromisin. Semua pangobatan perlu diberikan paling sedikit 10-14 hari dan dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan resolusi lengkap. Terapi pada stadium supurasi, selain pemberian antibiotika maka miringotomi juga dilakukan bila membran timpani masih utuh. Tindakan ini dimaksudkan untuk mengontrol drainase melalui insisi yang akan sembuh dengan jaringan parut minimal.

Miringotomi dilakukan dengan menggunakan pisau miringotomi, diinsisi pada kuadran antero inferior membran timpani. Insisi juga dapat dilakukan pada kuadran postero inferior tetapi tidak pernah pada kuadran postero superior karena dapat mengenai sendi inkudostapedial. Kepala harus dijaga agar tidak bergerak dan sering dilakukan narkose umum pada anak kecil. Pada stadium perforasi sering terlihat sekret banyak keluar dan kadang keluarnya sekret secara berdenyut (pulsasi). Pengobatan yang diberikan adalah obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotika yang adekuat. Biasanya sekret akan menghilang dan perforasi akan menutup dalam waktu 7-10 hari. Pada stadium resolusi membran timpani berlangsung normal kembali, sekret tidak ada lagi dan perforasi membran timpani menutup. Bila tidak terjadi resolusi biasanya cairan akan tetap mengalir melalui perforasi membran timpani. Pada keadaan demikian antibiotika dapat dilanjutkan selama 3 minggu.

G. Komplikasi Otitis media merupakan infeksi bakteri terbanyak pada anak-anak. Kirakira 70% anak-anak terinfeksi pada usia 3 tahun. Dengan penggunaan antibiotik terjadi penurunan frekuensi komplikasi otitis media dibandingkan pada era pra antibiotik. Bagaimanapun, komplikasi berat masih terjadi dan kemungkinan berkaitan dengan mortalitas yang tinggi.2,3 Komplikasi otitis media akut disebabkan karena penyebaran infeksi. Komplikasi otitis media dapat berupa komplikasi ekstra kranial dan intra kranial. Penyebaran infeksi dari telinga dan tulang temporal menyebabkan komplikasi intra kranial dari otitis media. Penyebaran infeksi terjadi melalui 3 rute, penyebaran langsung, limfogen, dan secara hematogen. Komplikasi ekstra kranial biasanya sekuele langsung dari peradangan akut atau kronis yang terlokalisasi.3 Komplikasi ekstrakranial dapat berupa otitis eksterna kronis dan stenosis meatal, adhesi telinga tengah, timpanosklerosis, otosklerosis, karsinoma sel skuamosa, paralisis nervus fasialis, labirintitis purulenta atau serosa, petrositis,

sindrom gradenigo, dan fistula labirin. Paralisis nervus fasialis dan gangguan pendengaran adalah resiko morbiditas yang signifikan tampak pada pasien.3 Komplikasi intrakranial seperti trombosis sinus lateral (transverse dan sigmoid), meningitis ekstradural, subdural atau abses intra serebral (serebelum dan lobus temporal), dan hidrosefalus otitis.2,3 Gejala-gejala yang menyertai komplikasi intrakranial antara lain demam, letargi, gejala neurologis fokal, edema papil, meningismus, perubahan mental dan sakit kepala hebat.3

H. Pencegahan Walaupun otitis media kadang-kadang tidak dapat dihindarkan pada masa anak-anak, beberapa tindakan dapat dilakukan untuk menurunkan kemungkinan berulangnya infeksi dan akumulasi cairan. Pemberian ASI akan memberikan perlindungan terhadap infeksi saluran nafas atas, yang juga melindungi dari perkembangan otitis media. Jika bayi menyusu dengan botol, orang tua dinasihatkan agar posisi bayi tegak, daripada membiarkan bayi berbaring. Kegiatan higiene yang sehat (khususnya mencuci tangan) membantu menurunkan infeksi saluran nafas atas di rumah dan pusat kesehatan.6

10

BAB III PENCEGAHAN DAN PEMBINAAN

A. Genogram Keluarga Tn. Aan Sugianto

Tn. Aan Sugianto/38 tahun

Ny. Wati/28 tahun

Maharani Dewi Lestari/3 tahun

Meta Dwi Fransiska/39 tahun

B. Home visit Menilai Fungsi Keluarga Fungsi Keluarga menurut Notoatmojo, 2003, yaitu : 1. Fungsi Holistik, merupakan fungsi keluarga yang meliputi fungsi biologis, fungsi psikologis, dan fungsi sosial ekonomis. Fungsi biologis : didalam kelurga ini tidak terdapat penyakit yang menurun yaitu seperti thalasemia, hemophilia, dan lain-lain. Didalam keluarga ini juga tidak terdapat penyakit menular, maupun penyakit kronis. Fungsi psikologis : keluarga ini memiliki fungsi psikologis yang baik, tidak terdapat kesulitan dalam menghadapi setiap masalah yang ada pada keluarga, serta hubungan antara anggota keluarga yang harmonis. Fungsi sosial ekonomi; Kondisi ekonomi keluarga ini terbilang menengah. Ayah pasien bekerja sebagai wiraswasta yang dijalankan sendiri. Keluarga ini tidak terlalu berperan aktif dalam setiap kegiatan dan kehidupan sosial di masyarakat.

11

2. Fungsi fisiologis keluarga diukur dengan APGAR score. APGAR score adalah skor yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari sudut pandang setiap anggota keluarga terhadap hubungannya dengan anggota keluarga yang lain. APGAR score meliputi: Adaptation : keluarga ini sudah mampu beradaptasi antar sesama anggota keluarga, saling mendukung, saling menerima dan memberikan saran satu dengan yang lainnya. Partnership : komunikasi dalam keluarga ini sudah baik, mereka saling membagi, saling mengisi antar anggota keluarga dalam setiap masalah yang dialami oleh keluarga tersebut. Growth: Keluarga ini juga saling memberikan dukungan antar anggota keluarga akan hal-hal yang baru yang dilakukan anggota keluarga tersebut. Affection: interaksi dan hubungan kasih sayang antar anggota keluarga ini sudah terjalin dengan cukup baik. Resolve: keluarga ini belum memiliki rasa kebersamaan yang cukup tinggi. keluarga ini memiliki rasa kebersamaan yang cukup tinggi dan kadang-kadang menghabiskan waktu bersama dengan anggota keluarga lainnya. Adapun skor APGAR keluarga ini adalah 7,3, dengan interpretasi Cukup. (data terlampir).

3. Fungsi Patologis dinilai dengan SCREEM score. Social, interaksi keluarga ini dengan tetangga sekitar sudah cukup baik. Culture, keluarga ini memberikan apresiasi dan kepuasan yang cukup terhadap budaya, tata karma, dan perhatian terhadap sopan santun. Religious, keluarga ini cukup taat menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Economic, status ekonomi keluarga ini berkecukupan. Educational, tingkat pendidikan keluarga ini cukup, tinggi, dimana ayah tamatan sarjana dan ibu tamatan SMA, anaknya belum bersekolah Medical, keluarga ini sudah mampu mendapat pelayanan kesehatan yang memadai.

12

4. Fungsi hubungan antarmanusia Hubungan interaksi antar anggota keluarga sudah terjalin dengan baik.

5. Fungsi Keturunan (genogram) Fungsi genogram dalam keadaaan baik (sudah dijelaskan diatas)

6. Fungsi perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan) Pengetahuan tentang kesehatan keluarga ini sudah cukup baik, sikap sadar akan kesehatan dan beberapa tindakan yang mencerminan pola hidup sehat sudah dilakukan dengan baik.

7. Fungsi nonperilaku (Lingkungan, pelayanan kesehatan, keturunan) Lingkungan cukup sehat dan para tetangga juga menjalin kerjasama dengan baik, keluarga ini juga aktif memeriksakan diri ke tempat pelayanan kesehatan, jarak rumah dengan puskesmas/rumah sakit tidak jauh.

8. Fungsi indoor Gambaran lingkungan dalam rumah sudah memenuhi syarat-syarat kesehatan, lantai dan dinding dalam keadaan bersih, ventilasi, sirkulasi udara dan pencahayaan baik, sumber air bersih terjamin, jamban ada di dalam rumah, pengelolaan sampah dan limbah sudah cukup baik.

9. Fungsi outdoor Gambaran lingkungan luar rumah sudah cukup baik, jarak rumah dengan jalan raya cukup jauh, tidak ada kebisingan disekitar rumah, jarak rumah dengan sungai juga cukup jauh, dan tempat pembuangan umum jauh dari lokasi rumah.

13