Anda di halaman 1dari 2

Fungsi Larutan anestesi berfungsi untuk menghambat hantaran saraf bila dikenakan secara lokal pada jaringan saraf

dengan kadar cukup. Obat ini bekerja pada tiap bagian susunan saraf. Sebagai contoh, bila anestetik lokal dikenakan pada korteks motoris, impuls yang dialirkan dari daerah tersebut terhenti, dan bila disuntikkan ke dalam kulit maka transmisi impuls sensorik dihambat. Pemberian anestetik lokal pada batang saraf menyebabkan paralisis sensorik dan motorik di daerah yang dipersarafinya. Banyak macam zat yang dapat mempengaruhi hantaran saraf, tetapi umumnya tidak dapat dipakai karena menyebabkan kerusakan permanen pada sel saraf. Paralisis saraf oleh anestetik lokal bersifat reversible, tanpa merusak serabut atau sel saraf. Anestetik lokal sebaiknya tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen. Kebanyakan anetetik lokal memenuhi syarat ini. Batas keamanan harus lebar, sebab anestetik lokal akan diserap dari tempat suntikan. Mula kerja harus sesingkat mungkin, sedangkan masa kerja harus cukup lama sehingga cukup waktu untuk melakukan tindakan operasi, Tetapi tidak demikian lama sampai memperpanjang masa pemulihan. Zat anestetik lokal juga harus larut dalam air, stabil dalam larutan, dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan.

Efek Samping Seharusnya obat anestesi lokal diserap dari tempat pemberian obat. Jika kadar obat dalam darah meningkat terlalu tinggi, maka akan timbul efek pada berbagai sistem organ. a. Sistem Saraf Pusat Efek terhadap SSP antara lain rasa mengantuk, kepala terasa ringan, gangguan visual dan pendengaran, serta kecemasan. Pada kadar yang lebih tinggi, akan timbul pula nistagmus dan menggigil. Akhirnya, akan terjadi kejang tonik klonik yang terus menerus diikuti oleh depresi SSP dan kematian yang terjadi untuk semua anestesi lokal, termasuk kokain. Reaksi toksik yang paling serius dari obat anestesi lokal adalah timbulnya kejang karena kadar obat dalam darah yang berlebihan. Keadaan

ini dapat dicegah dengan hanya memberikan anestesi lokal dalam dosis kecil sesuai dengan kebutuhan untuk anestesi yang adekuat saja. Bila harus diberikan dalam dosis besar, maka perlu ditambahkan premedikasi dengan benzodiapedin; seperti diazepam, 0,1-0,2 mg/kg parenteral untuk mencegah bangkitan kejang.

b. Sistem Saraf Perifer (Neurotoksisitas) Bila diberikan dalam dosis yang berlebihan, semua anestesi lokal akan menjadi toksik terhadap jaringan saraf.

c. Sistem Kardiovaskular Efek kardiovaskular akibat anestesi lokal sebagian muncul dari efek langsung terhadap jantung dan membran otot polos, serta dari efek secara tidak langsung melalui saraf otonom. Anestesi lokal menghambat saluran natrium jantung sehingga menekan aktivitas pacu jantung, eksitabilitas, dan konduksi jantung menjadi abnormal. Walaupun kolaps kardiovaskular dan kematian biasanya timbul setelah pemberian dosis yang sangat tinggi, kadang-kadang dapat pula terjadi dalam dosis kecil yang diberikan secara infiltrasi.

d. Darah Pemberian prilokain dosis besar selama anestesi regional akan menimbulkan penumpukan metabolit o-toluidin, suatu zat pengoksidasi yang mampu mengubah hemoglobin menjadi methemeglobin. Bila kadarnya cukup besar maka warna darah menjadi coklat.

e. Reaksi alergi Reaksi ini sangat jarang terjadi dan hanya terjadi pada sebagian kecil populasi.