Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri ritel adalah industri yang sangat strategis di Indonesia.

Industri ritel ini merupakan industri kedua terbesar yang mampu menyerap tenaga kerja setelah industri pertaniandengan kemampuan menyerap sebesar 18,9 juta orang, dibawah sektor pertanian yang mencapai 41,8 juta orang (Aprindo, 2008). Perkembangan industri ritel Indonesia kini semakinsemarak. Kehadiran para pelaku usaha ritel dari berbagai jenis telah memberi warna tersendiri bagi perkembangan industri ritel Indonesia. Pelaku berbagai jenis ritel tersebut mewujudkannyadalam berbagai bentuk dan jenis seperti; minimarket, supermarket bahkan hypermarket yang kini bertebaran di setiap kota besar Indonesia. (Aprilani, 2011) Bisnis ritel adalah penjualan barang secara eceran pada berbagai tipe gerai seperti kios, pasar, department store, butik dan lain-lain (termasuk juga penjualan dengan system delivery service), yang umumnya untuk dipergunakan langsung oleh pembeli yang bersangkutan. Bisnis retail meliputi semua kegiatan yang melibatkan penjualan barang dan jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan bisnis (Kotler, 2000). Bisnis ritel diIndonesia dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yakni ritel pasar tradisional dan ritel pasar modern. Ritel pasar modern pada dasarnya merupakan pengembangan dari ritel pasar tradisional. Format ritel ini muncul dan berkembang seiring perkembangan perekonomian, teknologi, dan gaya hidup masyarakat yang membuat masyarakat menuntu tkenyamanan yang lebih dalam berbelanja (Aprilani, 2011). Perkembangan suatu daerah dapat dilihat dari berbagai segi bidang ekonomi. Salah satu hal yang mempengaruhi kemajuan daerah itu adalah pasar. Umumnya pasar dianggap sebagai suatu sentra ekonomi yang menunjang indikator kemajuan suatu daerah. Tingkat kemajuan ekonomi ini dapat diketahui melalui pusat pelayanan ekonomi yang ada di daerah bersangkutan, khususnya pusat pelayanan ekonomi berupa ritelpasar modern, dalam hal ini yaitu mini market.(Dewi, 2005). Minimarket adalah salah satu bentuk dari ritel pasar modern, yang merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli, terjadi pertukaran barang dan jasa yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan ekonomi. Minimarket sebagai pasar dapat membantu distribusi barang dari produsen ke konsumen. Tumbuhnya minimarket beriringan dengan meningkatnya kebutuhan akan barang kebutuhan sehari-hari.Tren mini market muncul karena orientasi berbelanja masyarakat berubah (Hartono, 2007). Dulu konsumen dapat dikatakan selalu mengejar harga murah. Saat ini, faktor kenyamanan dalam berbelanja menjadi daya tarik tersendiri. Hal ini yang membuat pilihan konsumen tertuju untuk berbelanja ke mini market daripada ke warung atau toko tradisional lainnya. Selain nyaman, mini market memiliki citra harga yang lebih murah, pelayanan yang baik, keanekaragaman barang yang lengkap, serta mudah memilih dan menentukan barang yang diinginkan.

Menurut Hadi, (2004) ketertarikan pelanggan yang paling utama terhadap mini market adalah pada lokasinya, misalkan kemudahan untuk dijangkau dan yang terpenting adalah posisinya yang harus strategis. Menurut Utami, 2005 penentuan lokasi mini market dimulai dengan memilih komunitas, setelah menempatkan mini market pada sebuah komunitas pilihan, baik secara demografis maupun geografis, selanjutnya menentukan sebuah lokasi yang spesifik, dan sebagai karakteristik spesifik adalah kondisi sosio-ekonomi lingkungan sekitarnya. Penempatan mini market secara demografis dapat membentuk karakteristik konsumen. Kabupaten Cianjur menjadi daerah perhubungan sosial dan interaksi antar daerah lain. Berbatasan dengan kota Bogor, kota Bandung, dan Sukabumi menjadikan Kabupaten Cianjur mengalami perkembangan di bidang ekonomi. dan Sukabumi. Hal ini disebabkan letak daerah ini yang berada pada jalur arus mudik dan mempunyai beberapa tempat wisata. Sehingga daerah ini menjadi tujuan utama wisatawan. Perkembangan ekonomi Kabupaten Cianjur kini kian menanjak naik. Terlihat dari banyaknya mini market yang tersebar di Kabupaten Cianjur. Dari data distribusi mini market Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Cianjur terdapat 54 minimarket yang terdapat di Kabupaten Cianjur, khususnya pada Kecamatan Cipanas, Kecamatan Cugenang, dan Kecamatan Cianjur yang menjadi daerah perlintasan yang menghubungkan Kabupaten Cianjur dengan Kota Bogor dan Jakarta (ILPPD, 2012)

1.2 Masalah Penelitian 1. Bagaimana pola keruangan minimarket di Kabupaten Cianjur? 2. Bagaimana karakteristik konsumen minimarket di Kabupaten Cianjur? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui pola keruangan lokasi minimarket di Kabupaten Cianjur, 2. Untuk mengetahui karakteristik konsumen minimarket di Kabupaten Cianjur. 1.4 Batasan Masalah 1. Pola Keruangan adalah gambaran persebaran suatu gejala di atas permukaan bumi yang disajikan dalam bentuk peta atau gambar (Yunus, 2010) 2. Minimarket adalah pasar modern yang memiliki karakteristik sebagai berikut : a. Barang yang diperdagangkan adalah berbagai macam kebutuhan rumah tangga termasuk kebutuhan sehari-hari. b. Jumlah barang yang diperjual belikan adalah < 5000 item c. Jenis produk berupa makanan Kemasan dan barang-barang hygienis

pokok d. Model Penjualan dilakukan secara eceran, langsung pada konsumen akhir dengan cara swalayan (pembeli mengambil sendiri barang dari rak-rak dagangan dan membayar dikasir) e. Luas Lantai Usaha (Berdasarkan Perpres terbaru, yakni no. 112 th 2007) adalah maksimal 400 m2. f. Luas lahan parkir minim. g. Besar modal (dliuar tanah dan bangunan) s/d Rp200 juta. (Permen nomor 53) 3. Minimarket dalam penelitian ini adalah Alfamart dan Indomaret yang berada di Kabupaten Cianjur 4. Karakteristik konsumen minimarket adalah karakter konsumen yang terkait dengan jenis kelamin, usia, jenis pekerjaan, frekuensi kedatangan, asal konsumen, moda transportasi, jarak dan waktu tempuh, motivasi konsumen, serta alasan pemilihan lokasi. 5. Asal konsumen adalah tempat di mana konsumen itu berasal baik itu dari tempat tinggal, kantor atau tempat lainnya. 6. Jarak dibagi menjadi jarak absolut dan jarak relatif. Jarak absolut merupakan jarak yang ditarik garis lurus antara dua titik, sedangkan jarak relatif adalah jarak atas pertimbangan tertentu, misalnya rute, waktu, biaya dan kenyamanan (Hermawan, 2009). Pada karakteristik konsumen, jarak tempuh konsumen diukur berdasarkan jarak relatif. Jarak relatif dalam penelitian ini, yaitu jarak yang harus ditempuh oleh seorang konsumen untuk sampai di minimarket dari lokasi asal konsumen dengan menggunakan moda transportasi tertentu (diukur dalam satuan kilometer).