Anda di halaman 1dari 9

BAB I

A. LATAR BELAKANG Pemberian cairan intravena adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh ke dalam pembuluh vena untuk memperbaiki atau mencegah gangguan cairan dan elektrolit,darah, maupun nutrisi (Perry & Potter, 2006). Pemberian cairan intravena disesuaikandengan kondisi kehilangan cairan pada klien, seberapa besar cairan tubuh yang hilang.Pemberian cairan intravena merupakan salah satu tindakan invasif yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Pemberian cairan melalui infuse adalah pemberian cairan yang diberikan pada pasien yang mengalami pengeluran cairan atau nutrisi yang berat. Tindakan ini membutuhkan kesteril-an mengingat langsung berhubungan dengan pembuluh darah. Pemberian cairan melalui 1nfuse dengan memasukkan kedalam vena (pembuluh darah pasien) diantaranya vena lengan (vena sefalika basal ikadan median akubiti), pada tungkai (vena safena) atau vena yang ada dikepala, seperti vena temporalis frontalis (khusus untuk anak-anak). Selain pemberian infuse pada pasien yang mengalami pengeluaran cairan, juga dapat dilakukan Pada pasien yang membutuhkan pengobatan tertentu.Dalam penulisan makalah ini akan di jelaskan pengertian pemberian cairan infuse, jenis-jenis cairan intravena, indikasi dan kontraindikasi, dan prosedur pemberian cairan infuse, cara mengihitung cairan infus.

BAB II

A. DEFINISI Pemberian cairan melalui infus adalah pemberian cairan yang diberikan pada pasien yang mengalami pengeluran cairan atau nutrisi yang berat. Tindakan ini membutuhkan kesteril-an mengingat langsung berhubungan dengan pembuluh darah. Pemberian cairan melalui infus dengan memasukkan kedalam vena (pembuluh darah pasien) diantaranya vena lengan (vena sefalikabasalika dan mediana kubiti), pada tungkai (vena safena) atau vena yang ada dikepala, seperti vena temporalis frontalis (khusus untuk anak-anak). Selain pemberian infus pada pasien yang mengalami pengeluaran cairan, juga dapat dilakukan pada pasien yang membutuhkan pengobatan tertentu.

B. TUJUAN 1. Memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit 2. Infus pengobatan dan pemberian nutrisi 3. . Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung : air, elektrolit, protein, karbohidrat dan lemak. 4. Memperbaiki keseimbangan asam basa. 5. Memperbaiki volume komponen darah. 6. Jalan masuk dalam pengobatan. 7. Memonitor tekanan vena sentral.

C. ALAT dan BAHAN 1. Standart infus

2. Set infuse 3. Cairan sesuai program medic 4. Jarum infus dengan ukuran yang sesuai 5. Tuorniquet 6. Kapas alcohol 7. Plester 8. Gunting 9. Kassa 10. Bethadine 11. Sarung tangan

D.

ROSEDUR KERJA

1. Mencuci tangan

2. Menjelaskan prosedur dan tujuannya (pada klien dan keluarga) 3. Memberikan posisi semi fowler atau terlentang 4. Menggulung lengan baju klien 5. Meletakkan manset 5 cm di atas siku 6. Menghubungkan cairan infus dengan set infus dan gantungkan (periksa label infus sesuai dengan program terapi cairan yang akan diberikan) 7. Mengalirkan cairan dengan selang menghadap ke atas sehingga udara didalamnya keluar 8. Mengencangkan klem sampai infus tidak menetes dan pertahankan kesterilan sampai pemasangan pada tangan disiapkan 9. Mengencangkan manset atau jika menggunakan sfigmomanometer, tekanan ditempatkan dibawah tekanan sistolik 10. Menganjurkan klien untuk mengepal dan membukanya beberapa kali, palpasi dan pastikan vena yang akan ditusuk. (kriteria vena / pembuluh darahnya lihat tabel. 1) 11. Membersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol, lalu diulangi dengan menggunakan kasa betadine dan arahnya melingkar dari dalam keluar lokasi tusukan. 12. Menggunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm diatas tusukan. 13. Memegang jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk, lalu tusuk perlahan dan pasti. 14. Merendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan tusukan jarum ke dalam vena sampai terlihat darah mengalir keluar dari pembuluh darah. 15. Melepaskan tekanan manset 16. Sambungkan slang infus dengan kateter infus (abbocath, wing needle/butterfly) dan buka klem infus sampai cairan mengalir lancar. 17. Mengolesi dengan salep betadine di atas penusukan 18. Memfiksasi posisi jarum dengan plester, letakkan kasa steril diatasnya. Atur kasa steril pada lokasi jarum supaya berjendela agar mudah dievaluasi terhadap tanda-tanda inflamasi. Bila ada gunakan plester steril yang transparan. 19. Mengatur tetesan infus sesuai ketentuan; pasang stiker yang sudah diberi tanggal pada lokasi yang mudah terlihat.

E. INDIKASI 1. Pada seseorang dengan penyakit berat, pemberian obat melalui intravena langsung masuk ke dalam jalur peredaran darah. Misalnya pada kasus infeksi bakteri dalam peredaran darah (sepsis). Sehingga memberikan keuntungan lebih dibandingkan memberikan obat oral. Namun sering terjadi, meskipun pemberian antibiotika intravena hanya diindikasikan pada infeksi serius, rumah sakit memberikan antibiotika jenis ini tanpa melihat derajat infeksi. Antibiotika oral (dimakan biasa melalui mulut) pada kebanyakan pasien dirawat di RS dengan infeksi bakteri, sama efektifnya dengan antibiotika intravena, dan lebih menguntungkan dari segi kemudahan administrasi RS, biaya perawatan, dan lamanya perawatan. 2. Obat tersebut memiliki bioavailabilitas oral (efektivitas dalam darah jika dimasukkan melalui mulut) yang terbatas. Atau hanya tersedia dalam sediaan intravena (sebagai obat suntik). Misalnya antibiotika golongan aminoglikosida yang susunan kimiawinya polications dan sangat polar, sehingga tidak dapat diserap melalui jalur gastrointestinal (di usus hingga sampai masuk ke dalam darah). Maka harus dimasukkan ke dalam pembuluh darah langsung. 3. Pasien tidak dapat minum obat karena muntah, atau memang tidak dapat menelan obat (ada sumbatan di saluran cerna atas). Pada keadaan seperti ini, perlu dipertimbangkan pemberian melalui jalur lain seperti rektal (anus), sublingual (di bawah lidah), subkutan (di bawah kulit), dan intramuskular (disuntikkan di otot). 4. Kesadaran menurun dan berisiko terjadi aspirasi (tersedakobat masuk ke pernapasan), sehingga pemberian melalui jalur lain dipertimbangkan.

5. Kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai, sehingga diberikan melalui injeksi bolus (suntikan langsung ke pembuluh balik/vena). Peningkatan cepat konsentrasi obat dalam darah tercapai. Misalnya pada orang yang mengalami

hipoglikemia berat dan mengancam nyawa, pada penderita diabetes mellitus. Alasan ini juga sering digunakan untuk pemberian antibiotika melalui infus/suntikan, namun perlu diingat bahwa banyak antibiotika memiliki bioavalaibilitas oral yang baik, dan mampu mencapai kadar adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri. 6. Klien yang mendapat terapi obat dalam dosis besar secara terus-menerus melalui IV.

F. KONTRAINDIKASI 1. Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus. 2. Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah). 3. Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki). LOKASI PEMASANGAN Lokasi pemasangan infus biasanya pada vena yang terdapat di lengan antara lain 1 Vena digitalis mengalir sepanjang sisi lateral jari tangan dan dihubungkan ke vena dorsalis oleh cabang-cabang penyambung. Keuntungan :kadang-kadang hanya vena yang tersedia, yang dengan mudah difiksasi dengan spatel lidah yang dibalut dengan perban. Kerugian :hanya kateter yang berukuran kecil dapat digunakan, mudah terjadi infiltrasi, tidak cocok untuk terapi jangka panjang. Vena dorsalis superfisialis (metakarpal atau tangan) berasal dari gabungan vena digitalis. Keuntungan :memungkinkan pergerakan lengan, mudah dilihat dan di palpasi, tulangtulang dengan membelat kateter. Kerugian: pasien-pasien yang aktif dapat mengeser kateter, balutan menjadi mudah basah dengan mencuci tangan, tempat penusukan IV akan macet jika penahan pergelangan tangan di pasang.

Vena sefalika terletak di lengan bagian bawah pada posisi radial lengan (ibu jari). Vena ini berjalan ke atas sepanjang bagian luar dari lengan bawah dalam region antekubiti. Vena sefalika lebih kecil dan biasanya lebih melengkung dari vena

basilika. Keuntungan : dapat menggunakan kateter ukuran bsar untuk infus yang cepat, dibelat oleh tulang-tulang lengan, pilihan yang baik untuk infus larutan yang mengiritasi. Kerugian :lebih melengkung daripada vena basilika; ini biasanya merupakan kerugian hanya bila memasang kateter yang lebih panjang. 4 Vena basilika ditemukan pada sisi ulnaris lengan bawah, berjalan ke atas pada bagian posterior atau belakang lengan dan kemudian melengkung ke arah permukaan anterior atau region antekubiti. Vena ini kemudian berjalan lurus ke atas dan memasuki jaringan yang lebih dalam. Keuntungan : sama seperti vena sefalika, biasanya lebih lurus dari vena sefalika Kerugian : cenderung berputar; posisi pasien mungkin aak kikuk selama pungsi vena. Vena mediana/antekubiti berasal dari vena lengan bawah dan umumnya terbagi dalam dua pembuluh darah, satu berhubungan dengan vena basilika dan yang lainnya berhubungan dengan vena sefalika. Vena ini biasanya digunakan untuk pengambilan sampel darah. Keuntungan : mudah dilakukan penusukan, besar, cenderung stabil. Kerugian : dapat membatasi gerakanlengan pasien, sering diperlukan untuk pengambilan sampel darah.

G. PERHITUNGAN MAKRO DAN MIKRO Tetesan mikro (mikrodrip): 1 cc= 60 tetes Slang mikrodrip juga di sebut slang pediatric ,umumnya memberikan 60 tetes/cc dan di gunakan untuk pemberian dengan volume kecil atau volume dalam jumlah yang sangat tepat. Tetesan makro ( makrodrip): 1 cc= 15 tetes 1 cc= 20 tetes Pilih salah satu rumus berikut . Militer per jam Cc/jam = jumlah total cairan infuse (cc) Lama waktu penginfusan (jam)

MAKALAH

Pemasangan Infus

Oleh : MUHAMMAD RIDZWAN HANNIEDI

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI S1 TAHUN AJARAN 2012/2013

MAKALAH

Pemasangan Infus

Oleh : HERIYANTO

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI S1 TAHUN AJARAN 2012/2013