Anda di halaman 1dari 3

Sinusitis

Banyak pasien sering datang pada dokter dengan mengaku menderita gangguan sinus, sebuah fakta yang tidak dapat disangkal bahwa sinus masih menimbulkan gejalagejala seperti nyeri kepala, sumbatan hidung, dispepsia dan lain sebagainya yang sangat mengganggu kegiatan sehari-hari. Apa itu Sinusitis ? Sinusitis adalah radang mukosa sinus para nasal yang dapat terjadi karena infeksi atau alergi. Sinus terbagi atas :Sinus maksila, etmoid, frontal dan sfenoid. Kejadian tersering adalah pada sinus maksila dan etmoid. sinusitis sering terbanyak adalah sinusitis maksila, mengapa sinus maksila paling sering terjangkit, ada beberapa hal yang mempengaruhi yaitu sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar, letak ositumnya lebih tinggi dari dasar, seihingga aliran sekret (drenase) hanya tergantung dari gerakan silia, dasar dari sinus ini adalah akar gigi sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis, dan ostium sinus maksila sempit sehingga mudah tersumbat Etiology Penyebab sinsusitis dapat berupa virus, bakter, atau jamur. Selain itu juga ada faktor predisposisi seseorang terkena sinusitis yaitu : faktor alergi, gangguan geligi, benda asing , deformitas rangka dan neoplasma. Bisa juga disebabkan oleh lingkungan yang berpolusi, dara dingin serta kering yang dapat mengakibatkan perubahan pada mukosa seta kerusakan silia. Patofisiologi Ganguan drainase dan ventilasi dalam sinus yang terjadi akibat edema akan menyebabkan silia menjadi kurang dan aktif serta produksi lendir yang dihasilakan lebih kental merupakan tempat yang sangat baik bagi pertumbuhan bakteri, bila berlangsung terus menerus akan terjadi hipoksia dan retensi lendir. Tahap selanjutnya adalah perubahan jaringan menjadi hipertrofi, polipoid atau terjadi pembentukan polip dan kista. Klasifikasi Secara klinis sinusitis dapat dikatergorikan sebagai berikut : 1. Sinusitis akut : gejala berlangusng beberapa hari sampai 4 minggu

2. 3.

Sinusitis subakut bila gejala berlangusng dari 4 minggu sampai 3 bulan Sinusitis kronis bila berlangusng lebih dari 3 bulan

Gejala kilinik Gejala yang timbul dapat berupa : demam, pus yang kental, postnasal drip, nyeri di pipi: nyerinya merambat ke dahi bahkan bisa kegigi , nyeri tambah hebat kalo mengeden atau membungkuk duh repotnya, hal ini biasanya terjadi pada sinus maksila, terus ditempat lain gimana nyerinya : kalau sinusitis etmoid bisayanya nyeri di pangkal hidung, kantus medius, bola mata atau dibelakangnya dan akan bertambah bila mata digerakkan, kadang nyeri juga dapat dirasakan di pelipis ini yang disebut nyeri alih. Pada sinus frontalis nyeri paling dirasakan di dahi atu diseluruh kepala, sedangkan pada sfenoid nyeri akan dirasakan di vortex, oksipital, dibelakang bola mata dan daerah mastoid. Pada pemeriksaan, pada sinusitis akut akan tampak pembengkakan di daerah muka, biasnya paa pipi dan kelopak mata bawah atas, dahi. Dengan pemeriksaan rhinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edeme. Dan bisa tampak mukopus atau nanah di meatus medius atau nanah tampak keluar dari meatus superior (pada sinus etmoid). Sedangkan pada rhinoskopi posterior akan tampak mukopus di nasofaring (postnasal dirp). Pemeriksaan Penunjang pemeriksaan transiluminasi, pemeriksaan radiologi denga posisi Waters, PA, dan Lateral. Pemeriksaan mirkobiologi juga bisa dilakukan jika mampu. Terapi Terapi medikamentosa : antibiotik, dekongestan, anlgetik. Pada sinusitis subakut dilakukan pungsi dan irigasi sinus, antrostomi, Pencucian Proetz (Proetz displacement therapy). Pembedahan radikal akan dilakukan apabila pengeobatan gagal. Untuk sinus maksila dilakukan operasi caldwell-luc sedangakan etmoid dilakukan etmoidektomi. Pembedahan non radikal merupakan tindakan menggunakan endoskop yang disebut bedah sinus endoskopik fungsional (BSEF), prinsipnya adalah membuka dan membersihkan daerah kompleks ostio-maeteal yang menjadi sumber penyumbatan dan infeksi sehingga ventilasi dan drainase dapat lancar. Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi adalah : osteomyelitis dan abses subperiostal, kelainan orbita, kelainan intrakranial, kelaianan paru.