Anda di halaman 1dari 152

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Upaya peningkatan hasil-hasil pembangunan daerah harus terus menerus dilakukan melalui perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan yang lebih terpadu dan terarah, agar seluruh sumberdaya yang terbatas dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Salah satu hal pokok yang dibutuhkan untuk mencapai hal tersebut adalah melalui keterpaduan dan keserasian pembangunan di segala bidang dalam matra ruang yang tertata secara baik. Untuk memberikan arahan pemanfaatan ruang dalam pembangunan wilayah Daerah Propinsi Sumatera Utara, telah ditetapkan Peraturan Daerah Tingkat I Sumatera Utara nomor 4 tahun 1993 tentang Rencana Struktur Tata Ruang Propinsi (RSTRP) Daerah Tingkat I Sumatera Utara. Selama kurun waktu sepuluh tahun sejak disusunnya RSTRP Daerah Tingkat I Sumatera Utara, telah berlangsung perkembangan pembangunan yang digerakkan oleh instansi sektoral, Pemerintah Daerah, investor swasta, dan masyarakat. Sebagian dari pembangunan tersebut dilangsungkan berdasarkan paket deregulasi dan debirokratisasi yang merupakan upaya terobosan terhadap tatanan yang sudah ditetapkan sebelumnya untuk mempercepat tercapainya pertumbuhan dan pemerataan pembangunan serta persiapan menghadapi era globalisasi. Beberapa perubahan kebijaksanaan dan implementasi pembangunan tersebut antara lain adalah pengembangan Kawasan Perkotaan Medan-Binjai-Deli Serdang (MEBIDANG), rencana pengembangan Bandar Udara Kuala Namu, dan rencana pengembangan Kawasan Industri serta rencana pengembangan Kawasan Pantai Barat Sumatera Utara. Perubahan lain adalah diformulasikannya kebijaksanaan pembangunan daerah yang berbasis pada wilayah perdesaan dan sektor pertanian melalui pendekatan ekonomi kerakyatan dalam rangka memperkuat basis perekonomian wilayah dan pengentasan kemiskinan. Persoalan lingkungan hidup juga merupakan agenda penting bagi Propinsi Sumatera Utara yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan wilayah. Kerusakan dan okupansi hutan oleh permukiman dan kegiatan budidaya menimbulkan permasalahan terhadap penurunan fungsi lindung, antara lain terancamnya daerah bawahan oleh gangguan tata air sehingga menurunkan debit sumberdaya air, meningkatnya erosi dan sedimentasi, serta timbulnya bahaya banjir. Pada tahun 1997 telah dilakukan pemaduserasian TGHK dengan RSTRP Sumatera Utara, namun hal tersebut masih perlu ditindaklanjuti dengan perencanaan lebih rinci serta implementasinya. Hasil paduserasi tersebut perlu dituangkan ke dalam peta rencana pemanfaatan ruang, sehingga dapat secara efektif dijadikan dasar kebijaksanaan pembangunan daerah yang memiliki kekuatan hukum.

Secara eksternal, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dan penyempurnaan Rencana Umum Tata Ruang Pulau Sumatera (RUTRPS) pada tahun 1997/1998 juga memberikan pengaruh terhadap rencana pemanfaatan ruang Propinsi Sumatera Utara, dimana ditetapkan kawasan andalan, kawasan tertentu dan beberapa Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) di Propinsi ini. Selain itu pada tahun 1998 dilakukan pemekaran daerah kabupaten/kota yaitu berdasarkan UU nomor 12 Tahun 1998 dibentuknya Kabupaten Toba Samosir sebagai pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Utara, dan Kabupaten Mandailing Natal dari Kabupaten Tapanuli Selatan; berdasarkan Undang-undang nomor 4 Tahun 2001 dibentuknya Kota Padangsidimpuan sebagai pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Selatan; serta UU nomor 9 tahun 2003 dibentuknya Kabupaten Humbang Hasundutan sebagai pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Pakpak Bharat sebagai pemekaran dari Kabupaten Dairi dan Nias Selatan sebagai pemekaran dari Kabupaten Nias. Diundangkannya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah serta UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah memberikan implikasi terhadap fungsi dan lingkup RTRWP dalam pembangunan Propinsi Sumatera Utara, terutama dalam penyusunan tata ruang yang memerlukan kesepakatan dengan kabupaten/kota. RTRWP Sumatera Utara 2003-2018 dimaksudkan untuk mengakomodasikan seluruh kecenderungan perubahan dan perkembangan yang berlangsung selama ini serta kebutuhan pembangunan bagi Daerah Propinsi Sumatera Utara pada masa 15 tahun yang akan datang.

1.2
1.2.1

Kondisi Fisik
Letak Geografis

Secara geografis Propinsi Sumatera Utara terletak di bagian Utara Pulau Sumatera pada 1 0 - 40 Lintang Utara dan 980 - 1000 Bujur Timur yang merupakan bagian dari wilayah pada posisi silang di kawasan palung Barat Pasifik. Posisinya memanjang dari arah Barat Laut ke arah Tenggara. Secara administrasi Propinsi Sumatera Utara terdiri dari 16 (enam belas) kabupaten, yaitu Nias, Nias Selatan, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, Labuhan Batu, Asahan, Simalungun, Dairi, Pak-pak Bharat, Karo, Deli Serdang, dan Langkat, serta 7 (tujuh) kota, yaitu Sibolga, Padangsidimpuan, Tanjungbalai, Pematangsiantar, Tebing Tinggi, Medan, dan Binjai. Propinsi Sumatera Utara berbatasan di : 1 Sebelah Utara, berbatasan dengan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2 Sebelah Timur, berbatasan dengan Selat Malaka, 3 Sebelah Selatan, berbatasan dengan Propinsi Riau dan Propinsi Sumatera Barat, 4 Sebelah Barat, berbatasan dengan Samudera Indonesia Propinsi Sumatera Utara memiliki luas sekitar 71.680 km 2 atau 3,73% dari luas Indonesia yang meliputi kawasan darat di pantai Timur, dataran tinggi yang melintang di bagian Tengah, dan kawasan pantai Barat. Di samping kawasan darat, Propinsi Sumatera Utara juga mencakup kawasan perairan laut yang berbatasan sejauh 12 mil laut dari garis pantai. Gambar 1.1 memperlihatkan peta administrasi kabupaten/kota di Propinsi Sumatera Utara Letak geografis Sumatera Utara sangat strategis dan merupakan modal dasar bagi pengembangan kegiatan yang bersifat regional dan internasional karena berada pada jalur perdagangan internasional Selat Malaka yang dekat dengan Singapura dan Malaysia sebagai negara yang pertumbuhan ekonominya lebih pesat.

Gambar 1.1 Peta Administrasi Propinsi Sumatera Utara

1.2.2

Kondisi Topografi

Secara topografis wilayah pantai Timur Sumatera Utara relatif datar, bagian Tengah bergelombang dan berbukit yang merupakan bagian dari pegunungan Bukit Barisan, dan bagian Barat merupakan dataran bergelombang. Wilayah pantai Barat potensial untuk pengembangan sektor perikanan laut, perkebunan dan hortikultura; wilayah pantai Timur potensial untuk pengembangan pertanian tanaman pangan dan perkebunan; serta wilayah dataran tinggi potensial untuk pengembangan tanaman hortikultura. Gambar 1.2 memperlihatkan karakteristik fisik Propinsi Sumatera Utara.

1.2.3

Iklim

Suhu udara di wilayah Sumatera Utara berkisar antara 18-32 0C, yang bervariasi sesuai dengan ketinggian tempat. Musim penghujan berlangsung antara bulan September hingga Februari dan musim kemarau berlangsung antara bulan Maret hingga Agustus. Curah hujan tahunan rata-rata tercatat sebesar 2.100 mm. Pada wilayah kering, curah hujan tahunan rata-rata kurang dari 1.500 mm yang tercatat di beberapa bagian wilayah Simalungun, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara, sedang curah hujan tinggi berkisar antara 2.000 sampai 4.500 mm berlangsung sepanjang tahun di daerah Asahan, Dairi, Deli Serdang, Karo, Labuhan Batu, Langkat, Nias, Tapanuli Tengah, dan sebagian besar Tapanuli Selatan.

1.2.4

Kondisi Geologi

Propinsi Sumatera Utara didominasi oleh formasi Bahorok, formasi tuffa Toba, bentangan alluvial, serta formasi Klue dan Kuantan. Formasi Bahorok didominasi oleh batuan breksi dan konglomeratan yang pada tahap awal akan membentuk tanah litosol.

Gambar 1.2 Karakteristik Fisik Propinsi Sumatera Utara

Setelah mengalami perkembangan lebih lanjut, maka terbentuk tanah podsolik. Pada bahan konglomeratan yang kandungan luasannya di atas 60% akan terbentuk tanah regosol yang umumnya bersifat masam dan bertekstur sedang sampai kasar. Formasi tuffa Toba didominasi oleh abu vulkan. Pada awalnya tanah ini berkembang dari podsolik coklat, podsolik coklat kelabu kekuningan dan regosol, dan di beberapa wilayah akan membentuk tanah andosol coklat. Tanah ini umumnya bersifat agak masam sampai masam dan bertekstur bervariasi mulai dari halus sampai kasar. Formasi bentangan alluvial umumnya terbentuk di sepanjang pantai Timur Sumatera Utara. Dari bentangan alluvial akan terbentuk tanah-tanah alluvial, regosol, dan organosol. Tekstur tanah alluvial tergantung dari bahan asalnya, pada umumnya sedang sampai kasar, sedangkan tanah regosol bertekstur kasar. Tanah organosol teksturnya tergantung tingkat kematangan gambut dan umumnya bersifat masam. Formasi Klue dan Kelantan umumnya didominasi oleh batu sasak, turbidite, batu pasir, batu gamping, dan lain-lain. Dari bahan ini umumnya terbentuk tanah litosol, podsolik, dan regosol dengan tekstur kasar dan bersifat kimia masam dan miskin unsur hara. Formasi Nias umumnya dibentuk dari batuan kapur yang akan berkembang menjadi tanah-tanah renzina yang mempunyai tekstur kasar dan sifat kimia agak basis. Sumatera Utara didominasi oleh tanah litosol, podsolik, dan regosol, yaitu seluas 1.601.601 ha atau sekitar 22,34 % dari luas total Sumatera Utara yang tersebar di Kabupaten Asahan, Dairi, Pakpak Bharat, Deli Serdang, Karo, Labuhan Batu, Langkat, Nias, Nias Selatan dan Tapanuli Selatan. Tanah ini sesuai untuk dikembangkan bagi komoditi perkebunan seperti karet, kelapa sawit, dan tanaman keras lainnya. Jenis tanah lainnya yang banyak dijumpai adalah podsolik merah kuning (16,35%), hidromorfik kelabu, glei humus, dan regosol (11,54 %). Jenis tanah podsolik merah kuning terdapat di Kabupaten Labuhan Batu, Langkat, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah. Tanah hidromorfik kelabu terdapat di Kabupaten Asahan, Deli Serdang, Labuhan Batu, Langkat, Tebing Tinggi, Simalungun, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara dan Toba Samosir.

1.2.5

Kondisi Hidrologi

Sesuai dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum nomor 39/PRT/1989 tentang pembagian wilayah sungai, maka sungai-sungai di Propinsi Sumatera Utara dapat dikelompokkan ke dalam 6 (enam) Satuan Wilayah Sungai (SWS), yaitu SWS Wampu-Besitang, SWS Belawan-Belumai- Ular, SWS Bah Bolon, SWS Asahan, SWS Barumun Kualuh, dan SWS Batang Gadis-Batang Toru. Selain itu terdapat 2 (dua) satuan wilayah sungai lintas propinsi sebagian wilayah Sumatera Utara yang merupakan daerah tangkapan sungai, masuk dalam SWS Singkil pada wilayah Propinsi Aceh dan sebagian wilayah Sumatera Utara yang merupakan daerah tangkapan sungai dalam SWS Rokan pada wilayah Propinsi Riau dan Sumatera Barat. Tabel 1.1 menyajikan satuan wilayah sungai di Propinsi Sumatera Utara.

Gambar 1.3 Peta SWS Propinsi Sumatera Utara

Di samping itu terdapat badan air berupa danau yang besar yaitu Danau Toba yang terletak di dataran tinggi di wilayah Tengah dengan luas 110.260 ha. Danau Toba berfungsi sebagai sarana pengairan sawah, pembangkit listrik pada PLTA Lau Renun, peleburan biji nikel PT. Inalum, pelestarian alam, dan daerah tujuan wisata bagi Sumatera Utara. Pada waktu ini kondisi daerah tangkapan air Danau Toba dan DAS Lau Renun sangat memprihatinkan, dimana ketersediaan air di Danau Toba dan Sungai Lau Renun berkurang secara drastis. Hal ini disebabkan oleh penggundulan kawasan hutan dan lahan masyarakat di sekitar Danau Toba. Selanjutnya, dapat dilihat pada Gambar 1.3 tentang peta satuan wilayah sungai dan permukaan air Danau Toba.

Tabel 1.1
Satuan Wilayah Sungai (SWS) di Propinsi Sumatera Utara No I. 1. 2. 3. 4. II. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. III. 1. 2. 3. 4. IV. 1. 2. V. 1. 2. 3. 4. Nama Wilayah Sungai Wampu Besitang S. Besitang S. Lepan S. Btg.Serangan S. Wampu Belawan Belumai- Ular S.Karang Gading S. Belawan S. Deli S. Percut S. Serdang S. Kenang S. Ular S. Perbaungan S. Hulu S. Sialang Buah S. Belutu S. Padang Bah Bolon S. Kiri S. Kuala Tanjung S. Bah Bolon S. Suka Asahan S. Asahan S. Silau Barumun Kualuh S. Barumun S. Bilah S. Kualuh S. Aek Ledong DAS (km2) 1.703,00 422,80 5.658,25 160,00 310,75 353,20 278,00 703,20 1.235,00 184,90 942,60 1.415,00 326,90 21,00 5.921,00 15,88 9.329,00 3.949,00 3.492,90 Panjang Sungai (km) 85,00 80,40 95,00 135,00 27,00 53,00 74,00 60,00 40,00 75,00 14,20 61,00 23,00 12,80 110,00 291,40 115,20 114,80 55,00 170,00 315,00 60,00 Min. 2,82 1,39 57,31 Debit (m3/det) Rata2 10,89 4,66 110,51 15,93 6,34 9,22 15,56 38,30 5,75 15,20 10,74 14,60 Banjir 241,31 53,45 1.499,75 241,87 92,09 103,04 337,00 227,00 113,49 213,86 165,94 206,00

9,79 3,79 5,67 3,10 29,80 2,17 8,68 7,50 4,42

19,84

31,15

430,68

18,22 13,02

42,20 22,47

592,32 333,62

VI. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30

Bt. Gadis Bt. Toru Bt. Gadis S. Aek Batu Mundan S. Aek Bt. Toru S. Batang Angkola S. Bt. Kunkun B.Bintuas B. Natal B. Batahan S. Pinang Sori Aek Badiri Aek Pandan Aek Sibuluhan Aek Sihopo - hopo Aek Doras Aek Muara Mete Aek Hajoran S. Aek Kolang S. Aek Sibundong Aek Sibaru Aek Sirahar Aek Batu Garsi Aek Silang S. Aek Siburuh S. Taping S. Aek.Simangga Lae Ordi Lae Kombih Lae Batu batu Lae Sembillin Lae Renun

1.250,00 5.069,00 3.320,207 2,50 676,30 1.308,40

60,00 168,00 142,00 17,50 25,20 57,50 120,10

12,13 17,08

26,10 37,03

361,76 384,16

17,24 15,53

28,05 25,57

389,20 464,31

213,00

10,20

19,90

36,25

533,05

610,00 1.292,50

53,00 80,00

17,14 17,80

30,30 23,71

496,48 358,25

100,00

30,00

324,45 322,00 420,00 927,00

46,35 46,00 60,00 103,00

Sumber : Dinas Pengairan Propsu Tahun 2003

1.3

Kedudukan RTRWP Sumatera Utara

Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara 2003-2018 disusun berlandaskan UU Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Pemerintah No. 47 tahun 1997 serta Peraturan Daerah dan ketentuan lain yang berkaitan dengan tata ruang. RTRWP Sumatera Utara merupakan perwujudan rencana spasial pengembangan Daerah Propinsi Sumatera Utara 15 tahun ke depan pada tingkat ketelitian skala 1 : 250.000. Gambar 1.4 memperlihatkan kedudukan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara dalam konstelasi perencanaan tata ruang wilayah nasional dan kabupaten/kota. RTRWP Sumatera Utara merupakan penjabaran strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah nasional ke dalam strategi dan struktur wilayah Daerah Propinsi Sumatera Utara, yang meliputi : a) tujuan pemanfaatan ruang wilayah Daerah Propinsi Sumatera Utara untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan dan keamanan; b) struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Daerah Propinsi Sumatera Utara; c) pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Daerah Propinsi Sumatera Utara.

Secara fungsional RTRWP Sumatera Utara merupakan suatu kebijaksanaan pokok pembangunan Daerah Propinsi Sumatera Utara yang diwujudkan ke dalam bentuk rencana struktur yang menunjukkan : a perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Propinsi Sumatera Utara; b perwujudan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan wilayah Propinsi Sumatera Utara dengan sekitarnya, khususnya wilayah Sumatera bagian Selatan, serta keserasian antar sektor; c pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan/atau masyarakat; d pengarahan (guidance) bagi pengembangan yang bersifat lintas kabupaten/kota. Jangka waktu perencanaan pada RTRWP Sumatera Utara adalah 15 tahun. Selanjutnya untuk menjaga kesinambungan pelaksanaan pembangunan berdasarkan RTRWP Sumatera Utara, maka RTRWP Sumatera Utara akan dievaluasi pelaksanaannya setiap 5 tahun. RTRWP Sumatera Utara merupakan suatu dokumen terintegrasi yang ditetapkan dan disahkan dalam satu Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Utara Nomor 7 tahun 2003. Dalam pemanfaatan ruang, RTRWP Sumatera Utara dijabarkan dalam Rencana Program Pembangunan Daerah dalam jangka waktu lima tahunan. Selanjutnya Propeda dimaksud dijabarkan ke dalam program tahunan pemanfaatan ruang. Dengan demikian, Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara merupakan bagian integral dari sistem perencanaan pembangunan Daerah Propinsi Sumatera Utara. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) Sumatera Utara menunjukkan suatu rencana struktur dari kebijaksanaan umum pengembangan Propinsi Sumatera Utara, mencakup pemanfaatan ruang pada skala propinsi, terutama yang menyangkut dua atau lebih daerah kabupaten dan daerah kota. Substansi yang direncanakan dalam RTRWP Sumatera Utara dipertimbangkan atas dasar kepentingan bersama pada skala Daerah Propinsi Sumatera Utara.

Gambar 1.4
RTRW Propinsi Sumatera Utara Dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kabupaten/Kota

Keterangan : UMATERA = = = Wewenang Pemerintah Pusat Wewenang Pemerintah Propinsi Wewenang Pemerintah Kabupaten/Kota

Produk yang saat ini belum tersedia, tetapi dimungkinkan tersedia

1.4

Tujuan dan Sasaran Penyempurnaan RTRWP Sumatera Utara

Tujuan dilakukannya penyempurnaan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara adalah untuk pemutakhiran arahan pemanfaatan ruang sesuai dengan tuntutan perkembangan dan permasalahan yang berlangsung di Daerah Propinsi Sumatera Utara. Selain itu juga ditujukan untuk mengakomodasi perubahan-perubahan yang terjadi akibat penyesuaian terhadap kebijaksanaan pembangunan nasional dan kebijaksanaan pembangunan daerah. Sedang sasaran yang hendak dicapai adalah : a) Mengidentifikasi permasalahan pengembangan wilayah di Propinsi Sumatera Utara untuk masa 15 tahun mendatang. b) Menetapkan visi dan misi pengembangan wilayah yang ingin dicapai di Propinsi Sumatera Utara. c) Menetapkan tujuan dan sasaran pembangunan wilayah Propinsi Sumatera Utara. d) Mempersiapkan kebijaksanaan dan strategi pengembangan dan pemanfaatan ruang bagi Propinsi Sumatera Utara. e) Mempersiapkan dukungan ruang bagi pertambahan penduduk dan aktivitasnya melalui penetapan struktur dan pola pemanfaatan ruang serta alokasi melalui penetapan ruang bagi kebutuhan setiap kawasan di Propinsi Sumatera Utara. f) Mempersiapkan rencana pengendalian pemanfaatan ruang Propinsi Sumatera Utara.

PERANAN, POTENSI, DAN PERMASALAHAN POKOK PROPINSI SUMATERA UTARA

2.1
2.1.1

Peranan Propinsi Sumatera Utara


Peranan dalam Lingkup Internasional

Peranan Propinsi Sumatera Utara secara internasional dipengaruhi oleh keterkaitan fungsi perdagangan dengan wilayah lain di luar Indonesia, terutama melalui aktifitas ekspor impor barang dan jasa. Kondisi perdagangan luar negeri sebagian besar dapat dilihat dari kegiatan ekspor impor melalui Pelabuhan Belawan. Selama kurun waktu 1993-1998 nilai ekspor dan impor menunjukkan kecenderungan peningkatan yang cukup signifikan, terutama periode tahun 1993-1997. Sedangkan tahun 1998 nilai ekspor maupun impor mengalami penurunan yang tajam, terutama untuk kegiatan impor. Tabel 2.1 memperlihatkan perkembangan kegiatan ekspor dan impor tahun 1997-2001. Tabel 2.2 memperlihatkan perkembangan penanaman modal di Sumatera Utara. Dalam hal penanaman modal, baik PMA maupun PMDN juga memperlihatkan kecenderungan peningkatan mulai tahun 1994 sampai 1997. Sedangkan tahun 1998 akibat terjadinya krisis perekonomian, realisasi nilai investasi mengalami penurunan yang tajam sampai dengan tahun 2002. Penanaman modal terbesar terjadi pada tahun 1995 dimana nilai PMA meningkat tajam, bahkan melebihi nilai PMDN pada tahun yang sama. Dibandingkan propinsi lainnya di Sumatera, intensitas penanaman modal di Sumatera Utara termasuk tinggi, walaupun bukan yang tertinggi.
Tabel 2.1

Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor Melalui Pelabuhan Belawan Ekspor Tahun 1997 1998 1999 2000 2001 Berat (ton) 4,886,759 4,401,819 5,150,993 5,166,654 5,492,341 Nilai ( 000.US$) 3,443,555 2,713,611 2,606,216 2,437,764 2,294,796 Berat (ton) Impor Nilai ( 000.US$) 1,024,559 415,830 699,577 775,287 860,758

2,139,307 959,311 2,601,042 2,620,166 2,830,242

Sumber : Indikator Ekonomi Sumatera Utara 2001

Tabel 2.2
Perkembangan Realisasi Nilai PMA dan PMDN di Propinsi Sumatera Utara Tahun 1993 2002 PMA Jumlah T. Kerja 1) 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2) 2002 2) 1.741 1.872 2.297 1.821 3.745 1.826 2.005 3.703 481 230 Investasi (000 US$) 55,661.97 57,954.26 89,699.40 57,099.80 47,448.05 58,191.52 49,393.95 43,361.58 7,717.00 5,453.68 Jumlah T. Kerja 1) 4.366 3.067 2.410 3.190 1.879 683 470 2.370 618 PMDN Investasi (Juta.Rp) 441.531,49 309.781,99 443.599,24 490.249,16 440.692,55 29.118,55 39.979,80 56.057,02 226.383,47 -

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2001 1) Termasuk tenaga kerja asing - 2) LPJ Gubsu Tahun 1998-2003

Dilihat dari nilai ekspor -impor dan nilai penanaman modal, keterlibatan Sumatera Utara dalam lingkup internasional relatif memiliki arti, sesuai dengan besarnya nilai ekspor serta tingginya tingkat investasi, terutama oleh PMA. Pengembangan peran Propinsi Sumatera Utara di masa datang ditingkatkan dalam rangka kerjasama ekonomi regional IMT-GT dan kerjasama perdagangan lainnya, di mana secara geografis Sumatera Utara merupakan propinsi yang terdekat dan berada pada jalur pelayaran internasional, sehingga memiliki keuntungan komparatif dibandingkan propinsi lainnya. Selain itu, Sumatera Utara juga memiliki sumberdaya yang berorientasi dan potensial bagi pasar internasional serta berbagai infrastruktur yang mendukung.
2.1.2 Peranan dalam Lingkup Nasional

Propinsi Sumatera Utara dengan dukungan prasarana yang memadai mampu menempatkan diri sebagai pusat koleksi dan distribusi barang untuk lingkup yang lebih luas, terutama Sumatera bagian Utara. Pelabuhan Belawan sebagai pelabuhan ekspor impor dan interinsuler di Sumatera Utara melayani pergerakan barang antara Sumatera Utara dengan wilayah lain di Indonesia maupun di luar negeri. Dengan indikasi pergerakan arus penumpang dan barang, peranan Pelabuhan Belawan menunjukkan perkembangan seiring dengan meningkatnya jumlah penumpang dan volume barang, walaupun perkembangannya cenderung fluktuatif.

Gambar 2.1

Arus Penumpang Melalui Pelabuhan Belawan Tahun 1998- 2000


900.000 800.000 Jumlah Penumpang 700.000 600.000 500.000 400.000 300.000 200.000 100.000 1998 Turun Naik 1999 2000
Tahun

2001

Sumber : Kanwil Perhubungan Sumut, 2001 Sumatera Dalam Angka Tahun 2001

Tabel 2.3
Arus Penumpang Menurut Pelabuhan diusahakan Tahun 1998 - 2001 (orang) Tahun 1998 1999 2000 2001 Antar Negara/Internasional Turun Naik 113.699 96.616 118.585 152.195 130.491 140.974 154.793 143.900 Antar Negara/Antar Pulau Turun Naik 359.120 379.309 565.392 698.335 550.861 646.293 500.712 566.756

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka 2001

Dukungan prasarana dan sarana transportasi yang terpadu antara prasarana transportasi darat baik jalan raya maupun kereta api, dengan transportasi laut dan udara memberi nilai tambah bagi Sumatera Utara untuk melakukan hubungan dengan propinsi lain, termasuk keberadaan pelabuhan Belawan dan Bandar Udara Polonia.

Gambar 2.2

Arus Barang Melalui Pelabuhan Belawan Tahun 1998 - 2001

12.000.000 Arus Barang (Ton) 10.000.000 8.000.000 6.000.000 4.000.000 2.000.000 1998 Turun Naik 1999 Tahun 2000 2001

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2001 Tabel 2.4

Arus Barang Menurut Pelabuhan diusahakan Tahun 1998 - 2001 (orang) Antar Negara/Internasional Tahun 1998 1999 2000 2001 Bongkar 1.308.816 2.679.282 2.724.998 2.897.839 Muat 4.809.520 5.425.720 6.072.391 2.887.717 Antar Negara/ antar Pulau Bongkar 2.859.130 5.263.186 7.046 091 7.507.917 Muat 1.801.242 2.156.673 1.783.183 1.694.885

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka 2001

Untuk indikator PDRB dengan migas atas harga berlaku, pada tahun 2000 berdasarkan Statistik Indonesia 2001, secara nasional Sumatera Utara merupakan propinsi dengan PDRB (dengan migas) terbesar ke enam setelah DKI, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Timur. Untuk lingkup Pulau Sumatera merupakan terbesar diikuti Riau, Sumatera Selatan, NAD dan Lampung. Dengan demikian Propinsi Sumatera Utara merupakan propinsi termaju di Pulau Sumatera. Kota Medan sebagai ibukota Propinsi Sumatera Utara juga merupakan kota ke tiga terbesar setelah Jakarta dan Surabaya dalam lingkup nasional. Sebelum terjadinya krisis perekonomian, sektor industri di Medan berkembang dengan pesat, terutama untuk kegiatan industri menengah besar. Dilihat dari pendapatan perkapita pada tahun 1999-2001, Sumatera Utara merupakan daerah yang relatif kaya dalam lingkup nasional, yaitu berada pada urutan ke delapan dengan sektor migas dan urutan ke lima tanpa sektor migas. Dalam lingkup pulau Sumatera, Propinsi Sumatera Utara berada pada posisi ke tiga setelah Riau dan Nanggroe Aceh Darussalam dengan sektor migas dan pada posisi pertama jika tanpa

sektor migas. Perkembangan perekonomian Sumatera Utara terutama didukung oleh subsektor perkebunan dengan komoditi kelapa sawit dan sektor industri.

Gambar 2.3
PDRB Harga Berlaku Menurut Propinsi di Pulau Sumatera Tahun 1998 2001
PDRB Propinsi (Juta Rp)

80.000.000 60.000.000 40.000.000 20.000.000 D ba r ut se l lu en gk u B u bi u um Ja m um pu ng La m ul La m pu n g N A um R ia

Dengan Migas

Tanpa Migas

Sumber : Statistik Indonesia Tahun 2001

Gambar 2.4

PDRB Perkapita Menurut Propinsi di Pulau Sumatera Tahun 1998 2001


PDRB Perkapita (Juta Rp)

14.000.000 12.000.000 10.000.000 8.000.000 6.000.000 4.000.000 2.000.000 D ba r ut R ia u bi Ja m N A um se l S um en gk B um

Dengan Migas

Tanpa Migas

Propinsi

Sumber : Statistik Indonesia Tahun 2001

Tabel 2.5
PDRB dengan Harga Berlaku menurut Propinsi di Pulau Sumatera Tahun 2000 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Dengan Migas (Rp) 28.625.759 68.212.374 22.367.811 55.429.837 9.061.211 45.688.901 4.539.983 23.252.521 Tanpa Migas (Rp) 28.625.759 68.212.374 22.367.811 55.429.837 9.061.211 45.688.901 4.539.983 23.252.521 -

Sumber : Statistik Indonesia Tahun 2001

Tabel 2.6
PDRB per Kapita menurut harga berlaku Menurut Propinsi di Pulau Sumatera Tahun 2000 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Dengan Migas (Rp) 7.137.054 5.943.775 5.290.271 11.709.008 3.774.026 5.887.819 3.231.167 3.494.332 Tanpa Migas (Rp) 3.711.877 5.876.684 5.290.271 4.922.962 3.373.222 4.076.368 3.231.176 3.494.332 -

Sumber : Statistik Indonesia Tahun 2001

2.2
2.2.1

Permasalahan Pokok Propinsi Sumatera Utara


Kependudukan

A.

Pertambahan dan Distribusi Penduduk

Jumlah penduduk di Propinsi Sumatera Utara dalam kurun waktu 15 tahun terakhir meningkat dengan cukup pesat. Pada tahun 1980 jumlah penduduk Propinsi Sumatera Utara tercatat berjumlah 8,3 juta jiwa dan meningkat menjadi 11,1 juta jiwa pada tahun 1995. Sensus Penduduk tahun 2000 mencatat jumlah penduduk Sumatera Utara sebesar 11,5 juta jiwa dan pada tahun 2001 jumlah penduduk menjadi 11.722.548 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk pada kurun waktu 1980-1990 adalah sekitar 2,06 % pertahun dan mengalami penurunan pada kurun waktu 1990-1995 yaitu sebesar 2,03 % per tahun. Laju pertumbuhan penduduk Propinsi Sumatera Utara tahun 2000 yaitu sebesar 1,02 % relatif lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan penduduk nasional di tahun yang sama yaitu 1,49 %.
Gambar 2.5

Jumlah Penduduk Propinsi Sumatera Utara Tahun 1995 - 2001

14.000.000 Jumlah Penduduk (Jiwa) 12.000.000 10.000.000 8.000.000 6.000.000 4.000.000 2.000.000 0 1995 1996 1997 1998 Tahun 1999 2000 2001

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2001

Dengan memperhitungkan laju pertumbuhan penduduk rata-rata pada masing-masing daerah kabupaten/kota, jumlah penduduk Propinsi Sumatera Utara pada tahun 2018 diperkirakan akan mencapai lebih dari 14,073 juta jiwa. Dengan peningkatan jumlah penduduk tersebut berarti dalam 15 tahun mendatang Propinsi Sumatera Utara akan menampung tambahan penduduk sekitar 2.26 juta jiwa. Pertambahan penduduk tersebut akan menimbulkan masalah yang serius apabila tidak terdistribusi secara memadai terhadap kemampuan ruang untuk menampungnya. Distribusi penduduk Propinsi Sumatera Utara menurut daerah kabupaten/kota pada tahun 2001 didasarkan pada pemekaran kabupaten/kota menjadi 23 daerah kabupaten/kota, serta laju pertambahan penduduk untuk setiap daerah kabupaten/kota. Kabupaten Deli Serdang dan Tanjungbalai mencatat laju pertumbuhan penduduk paling tinggi yaitu di atas 2 % per tahun diatas rata rata laju pertumbuhan penduduk propinsi. Sementara laju pertumbuhan penduduk terendah tercatat di Tapanuli Utara dan Toba Samosir yaitu sekitar 0,5 % per tahun.

Gambar 2.6
Prakiraan Jumlah Penduduk Propinsi Sumatera Utara Hingga Tahun 2018

16.000.000 14.000.000 Jumlah Penduduk (Jiwa) 12.000.000 10.000.000 8.000.000 6.000.000 4.000.000 2.000.000 0 2001 2003 2008 Tahun 2013 2018

Sumber : Hasil Analisis Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2001

Tabel 2.7
Jumlah Penduduk Propinsi Sumatera Utara Menurut Kabupaten/Kota Tahun 1995-2001 (jiwa)
Kabupaten/Kota N i a s* Tapanuli Selatan* Tapanuli Tengah Tapanuli Utara* Labuhan Batu Asahan Simalungun D a i r i* Karo Deli Serdang Langkat Sibolga Tanjungbalai Pematangsiantar Tebing Tinggi Medan BinjaI Toba Samosir Mandailing Natal Padangsidimpuan Sumatera Utara 1995 628.469 1.030.865 231.920 724.960 770.827 903.072 842.343 293.115 261.451 1.791.198 858.400 77.095 111.968 232.667 116.746 1.909.700 199.526 10.984.322 1996 624.345 1.034.819 243.973 714.045 795.232 914.937 850.312 294.848 264.968 1.826.200 865.800 78.105 115.679 239.280 116.746 1.942.000 203.217 11.124.506 1997 631.588 1.048.008 245.603 714.285 801.710 923.015 858.519 294.186 276.763 1.877.001 872.400 78.900 116.357 241.410 116.933 1.974.300 206.150 11.277.128 1998 639.675 721.895 249.856 421.233 812.033 926.884 866.762 298.313 280.486 1.921.958 878.700 81.000 118.638 245.946 117.027 2.005.000 209.475 299.651 347.903 11.442.434 1999 701.800 1.148.800 262.300 731.300 930.600 966.900 877.200 305.200 290.000 1.963.100 899.600 82.300 118.600 240.300 141.300 2.068.400 227.700 304.600 380.100 11.955.400 2000 678.347 728.799 244.091 405.323 840.382 935.233 855.591 307.766 279.470 1.957.226 892.533 81.718 132.032 240.831 125.081 1.899.327 213.222 304.015 359.849 11.513.973 2001 699.157 749.012 249.672 407.837 863.449 943.834 863.690 295.327 287.857 2.021.047 921.923 84.035 136.623 245.102 126.304 1.933.771 219.125 306.377 368.405 11.722.548

Sumber : * termasuk kabupaten yang dimekarkan Sumatera Utara Dalam Angka 2001, Sensus Penduduk 2000.

BPS Propinsi Sumatera Utara, Kantor Statistik Kabupaten/Kota

Tabel 2.8 Prakiraan Jumlah Penduduk Propinsi Sumatera Utara Menurut Daerah Kabupaten/Kota Tahun 2000 - 2018 (jiwa) Kabupaten/Kota
N i a s* Tapanuli Selatan* Tapanuli Tengah Tapanuli Utara* Labuhan Batu Asahan Simalungun D a i r i* Karo Deli Serdang Langkat Sibolga Tanjungbalai Pematangsiantar Tebing Tinggi Medan Binjai Toba Samosir Mandailing Natal Padangsidempuan

2000
678.347 728.799 244.091 405.323 840.382 935.233 855.591 307.766 279.470 1.957.226 892.533 81.718 132.032 240.831 125.081 1.899.327 213.222 304.015 355.285 -

2001
699.157 749.012 249.672 407.837 863.449 943.834 863.690 295.327 287.857 2.021.047 921.923 84.035 136.623 245.102 126.304 1.933.771 219.125 306.377 368.405 -

2008
758.287 812.358 270.788 442.329 936.474 1.023.657 936.735 320.304 312.202 2.191.974 998.893 91.142 148.178 265.831 136.986 2.097.316 237.657 332.288 399.562 -

2013
797.757 854.643 284.882 465.353 985.218 1.076.940 985.493 336.976 328.452 2.306.068 1.051.939 95.886 155.890 279.668 144.116 2.206.484 250.027 349.584 420.360 -

2018
839.281 899.128 299.711 489.575 1.036.500 1.132.995 1.036.789 354.526 345.549 2.426.102 1.106.693 100.877 164.005 294.225 151.618 2.321.334 263.042 367.781 442.240 -

Sumatera Utara

11.476.272

11.722.548

12.715.970

13.377.750

14.073.976

Sumber : * termasuk kabupaten yang dimekarkan Hasil analisis dan Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2001

Tabel 2.9
Kepadatan Penduduk Sumatera Utara Menurut Kabupaten/Kota Tahun 1990 - 2001 (jiwa/km2) Kabupaten/Kota
N i a s* Tapanuli Selatan* Tapanuli Tengah Tapanuli Utara* Labuhan Batu Asahan Simalungun D a i r i* Karo Deli Serdang Langkat Sibolga Tanjungbalai Pematangsiantar

Luas
5.318 18.897 2.188 7.165 9.323 4.581 4.369 3.146 2.127 4.339 6.262 11 58 70

1990
111 51 98 66 79 193 184 88 121 369 130 6.536 1.898 3.133

1995
122 56 109 68 90 202 192 93 129 411 137 6.994 1.986 3.284

1998
120 58 114 69 87 202 198 94 131 442 140 7.363 2.081 3.513

2001
131 61,0 114 56,9 92,6 206 197 94 135,3 465 147 7.639 2.355,6 3.501

Tebing Tinggi Medan Binjai Toba Samosir Mandailing Natal

31 265 90 -

3.767 6.531 2.021 -

4.169 7.177 2.280 -

3.775 7.566 2.327 66 54

4.074 7.297 2.434 89,1 55,7

Sumatera Utara

71.680

144

156

159.6

163,5

Sumber : * termasuk kabupaten yang dimekarkan Hasil analisis dan Sumatera Utara Dalam Angka 2001 Tabel 2.10

Prakiraan Kepadatan Penduduk Propinsi Sumatera Utara Menurut Kabupaten Kota Tahun 2000 - 2018 (jiwa/km2) Kabupaten/Kota Luas (km2)
5.318 12.277 2.188 7.165 9.323 4.581 4.369 3.146 2.127 4.339 6.262 11 58 70 31 265 90 3.440 6.620 -

2000

2001

2003

2008

2013

2018

Nias Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Labuhan Batu Asahan Simalungun Dairi Karo Deli Serdang Langkat Sibolga Tanjungbalai Pematangsiantar Tebing Tinggi Medan Binjai Toba Samosir Mandailing Natal Padangsidimpuan

127,56 62,41 111,56 70 90,14 204,15 195,83 97,83 131,35 451,08 142,53 7.428,91 2.270,41 3.440,44 4.034,87 7.167,27 2.369,13 88,38 55 57,92

131,5 61,0 114,1 56,9 92,6 206,0 197,7 93,9 135,3 465,8 147,2 7.639,6 2.355,6 3.501,5 4.074,3 7.297,2 2.434,7 89,1 55,7 -

134,2 62,3 116,4 58,1 94,5 210,3 201,7 95,8 138,1 475,3 150,2 7.796,2 2.403,9 3.573,3 4.157,9 7.446,9 2.484,6 90,9 56,8 -

142,6 66,2 123,8 61,7 100,4 223,5 214,4 101,8 146,8 505,2 159,7 8.285,6 2.554,8 3.797,6 4.418,9 7.914,4 2.640,6 96,6 60,4 -

150,0 69,6 130,2 64,9 105,7 235,1 225,6 107,1 154,4 531,5 168,0 8.716,9 2.687,8 3.995,3 4.648,9 8.326,4 2.778,1 101,6 63,5 -

157,8 73,2 137,0 68,3 111,2 247,3 237,3 112,7 162,5 559,1 176,7 9.170,6 2.827,7 4.203,3 4.890,9 8.759,8 2.922,7 106,9 66,6 -

Sumatera Utara

71.680

164

163,5

167

177,4

186,6

196,3

Sumber : * termasuk kabupaten yang dimekarkan Hasil Analisis dan Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2001

Berdasarkan tabel 2.8 di atas dan gambar 2.6 diatas dapat dilihat hasil proyeksi jumlah penduduk di propinsi Sumatera Utara tahun 2003-2018. Proyeksi dilakukan dengan menggunakan angka pertumbuhan sebesar 1,02% yaitu sama dengan angka pertumbuhan selama tahun 1990-2000. Angka pertumbuhan penduduk ini digunakan dengan asumsi tidak terdapat faktor yang akan mempengaruhi pertumbuhan penduduk Sumatera Utara secara signifikan di masa yang akan datang. Metode yang digunakan dalam memproyeksi pertumbuhan penduduk ini adalah metode pertumbuhan penduduk geometrik/bunga berganda dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

Pn = n r = =

Jumlah penduduk pertengan tahun ke-n Selang tahun proyeksi Angka laju pertumbuhan penduduk

Po = Jumlah penduduk pertengahan tahun dasar

Berdasarkan tabel 2.9 dapat dilihat bahwa kabupaten/kota dengan kepadatan penduduk tertinggi adalah Kota Medan dan Kota Sibolga. Sedangkan kabupaten/kota dengan kepadatan terendah adalah Kabupaten Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan. Hasil proyeksi kepadatan penduduk hingga akhir tahun rencana 2018 dapat dilihat pada tabel 2.10. Jika dilihat dari struktur umur penduduk pada tahun 2001, jumlah penduduk di Propinsi Sumatera Utara sebagian besar (> 50 %) seperti terlihat pada gambar 2.7 terdiri dari penduduk dengan usia di bawah 20 tahun. Dengan adanya penurunan laju pertumbuhan penduduk, diharapkan komposisi penduduk menurut usia menjadi lebih proporsional, sehingga piramida penduduk tidak lagi bersifat ekspansif, melainkan konstruktif. Dengan demikian, dalam kurun waktu perencanaan kebutuhan lapangan kerja dapat terdistribusi menurut waktu, sehingga kemampuan untuk menampung angkatan kerja yang ada menjadi lebih proporsional. Distribusi penduduk di Sumatera Utara cenderung terkonsentrasi di pantai Timur, yakni lebih dari 60 % menghuni pantai Timur propinsi ini. Secara umum jumlah penduduk yang tinggal di pedesaan sebesar 56,9 % yaitu sekitar 6.67 juta jiwa dan yang tinggal di perkotaan sebesar 5,05 juta jiwa yaitu mencapai 43,10 % yang lebih banyak terdistribusi di wilayah pantai Barat. Kota Medan merupakan konsentrasi utama penduduk perkotaan di Sumatera Utara dengan proporsi lebih dari 40 % yang mengindikasikan Kota Medan merupakan Primate City di Sumatera Utara. Hal ini juga merupakan pencerminan konsentrasi kegiatan industri dan jasa di kota tersebut.

Gambar 2.7

Piramida Penduduk Propinsi Sumatera Utara menurut Kelompok Umur Tahun 2001

60 - 64

Kelompok Umur

50 - 54 40 - 44 30 - 34 20 - 24 10 - 14 0- 4 0 200.000 400.000 600.000 800.000 1.000.000 1.200.000 1.400.000 1.600.000

Jumlah Penduduk

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2001

Tabel 2.11

Jumlah Penduduk Perkotaan dan Perdesaan di Propinsi Sumatera Utara Tahun 2001 (jiwa) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Kabupaten/ Kota N i a s* Tapanuli Selatan* Tapanuli Tengah Tapanuli Utara* Labuhan Batu Asahan Simalungun D a i r i* Karo Deli Serdang Langkat Sibolga Tanjungbalai Pematangsiantar Tebing Tinggi Medan Binjai Toba Samosir Mandailing Natal Padangsidimpuan Sumatera Utara Penduduk Perkotaan Jiwa Persentase 21.708 109.890 29.923 41.645 169.944 252.434 196.554 35.686 66.969 1.118.749 194.779 84.035 133.396 245.102 126.304 1.933.771 204.506 41.166 46.496 5.053.057 0,4 2,2 0,6 0,8 3,4 4,9 3,9 0,7 1,3 22,1 3,9 1,7 2,6 4,9 2,5 38,3 4,0 0,8 0,9 100,00 Penduduk Perdesaan Jiwa Persentase 677.449 639.122 219.749 366.192 693.505 691.400 667.136 259.641 220.888 902.298 727.144 3.227 14.619 265.213 321.909 6.669.491 10,2 9,6 3,3 5,5 10,4 10,4 10,0 3,9 3,3 13,5 10,9 0,1 0,2 3,9 4,8 100,00

Sumber : * termasuk kabupaten yang dimekarkan Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2001

Gambar 2.8 Peta Prakiraan Kepadatan Penduduk Propinsi Sumatra Utara Tahun 2018

B.

Kesejahteraan Penduduk

Dalam tabel 2.12 dapat dilihat perkembangan jumlah dan proporsi tenaga kerja di Sumatera Utara menurut lapangan usahanya. Pada tahun 1995, jumlah tenaga kerja di Propinsi Sumatera Utara berjumlah 4,43 juta jiwa yang merupakan 38 % dari jumlah penduduk Sumatera Utara. Lapangan kerja utama adalah sektor pertanian, yang menyerap lebih dari setengah jumlah tenaga kerja yang terdapat di Sumatera Utara. Sektor utama penampung tenaga kerja lainnya adalah perdagangan dan jasa, sedangkan sektor industri baru menampung sekitar 7 % dari jumlah tenaga kerja.
Tabel 2.12

Jumlah Tenaga Kerja di Propinsi Sumatera Utara di Propinsi Sumatera Utara Tahun 1997 - 2001 (jiwa) 1997 Jumlah % Orang Pertanian Pertambangan Industri Listrik, Gas dan Air Konstruksi Perdagangan Transportasi Keuangan Jasa Lain-lain Total 2.425.562 18.137 390.695 19.599 1998 Jumlah Orang % 1999 Jumlah Orang % 2000 Jumlah Orang % 2001 Jumlah % Orang 55,2 0,2 8.4 0,2 3.6 16,5 5,2 0,3 10,4 0.0 100

52,2 2.579.351 0,4 25.653 8,4 309.824 0,4 29.471

53,3 2.679.078 0,5 24.996 6,4 366.563 0,6 12.045 3,7 153.453 17,5 823.756 4,7 241.733 0,5 14.773 12,7 700.948 0,1 20.185 100 5.037.500

53,1 2.650.396 0,5 20.285 7,3 382.999 0,2 12.369 3,1 156.552 16,4 873.240 4,8 248.366 0,3 17.812 13,9 696.118 0,4 9.400 100 5.037.500

52,6 2.749.212 0,4 8.009 7,1 416.145 0,2 10.877 3,1 17,3 4,9 0,4 13,8 0,2 100 181.265 817.418 256.933 16.379 520.574 511 4.977.323

159.939 3,5 178.370 716.879 15,5 844.374 201.217 4,3 229.644 23.078 0,5 24.083 676.342 14,6 616.940 11.318 0,2 4.517 4.642.766 100 4.837.710

Sumber : Badan Pusat Statistik, Susenas 1997 dan 1998 Sumatera Utara dalam Angka Tahun 2001

Jumlah tenaga kerja tersebut meningkat menjadi sekitar 4,84 juta jiwa pada tahun 1998. Untuk sektor pertanian, pada kurun waktu 1995-1997 tidak terjadi peningkatan yang cukup berarti, namun pada tahun 1998 mengalami peningkatan yang cukup tinggi yaitu sekitar 150.000 jiwa. Namun pada sektor industri, yang pada kurun waktu 1995-1997 mengalami peningkatan sekitar 90.000 jiwa, justru mengalami penurunan sekitar 80.000 jiwa pada tahun 1998. Dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja di sektor ini pada tahun 1995 mengalami peningkatan yang terbatas. Kondisi tersebut terjadi sebagai dampak krisis ekonomi yang mengakibatkan sebagian tenaga kerja di sektor industri kehilangan pekerjaan. Akibatnya tenaga kerja sektor industri sebagian kembali bekerja di sektor pertanian atau beralih ke sektor perdagangan, termasuk sektor informal. Tenaga kerja pada sektor perdagangan mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu meningkat sekitar 200.000 jiwa pada tahun 1998. Peningkatan jumlah tenaga terjadi sampai tahun 1999 dan mengalami penurunan sebesar 1,7 % pada tahun 2001. Proporsi tenaga kerja terbesar terus berada pada sektor pertanian. Walaupun secara keseluruhan, jumlah tenaga kerja menurun dari pada tahun 2001, tetapi ada empat sektor dimana tenaga kerjanya malah mengalami peningkatan secara signifikan pada tahun 2001, yaitu tenaga kerja di sektor pertanian meningkat sebesar 98.800 jiwa, sektor industri bertambah sekitar 133.000 jiwa, sektor konstruksi bertambah sekitar 44.700 jiwa dan sektor pengangkutan bertambah sebesar 8.567 jiwa.

Tingkat kesejahteraan dapat dilihat dari berbagai macam sudut pandang. Salah satu indikator yang dianggap cukup valid untuk mengetahui tingkat kesejahteraan adalah jumlah keluarga sejahtera dan prasejahtera yang terdapat di suatu daerah. Adapun klasifikasi kelas keluarga sejahtera dan prasejahtera adalah sebagai berikut :

Tabel 2.13
Klasifikasi Pentahapan Keluarga Sejahtera Belum mampu memenuhi kebutuhan dasar minimal keluarganya, seperti sandang, pangan, dan papan Mampu memenuhi kebutuhan dasar minimal keluarganya tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologis keluarga seperti pendidikan, KB, transportasi, dll. Mampu memenuhi kebutuhan dasar minimal keluarganya, kebutuhan sosial psikologis tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan untuk pengembangan keluarganya seperti menabung dan memperoleh informasi. Mampu memenuhi kebutuhan dasar minimal, kebutuhan sosial psikologis, kebutuhan pengembangan keluarganya, tetapi belum dapat memberikan sumbangan kepada masyarakat seperti sumbangan sosial, keagamaan, pendidikan dll. Mampu memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya, baik yang bersifat mendasar dan sosial psikologis, dan juga memenuhi kebutuhan untuk pengembangan keluarganya serta mampu memberikan sumbangan bagi masyarakat

Keluarga Pra Sejahtera Keluarga Sejahtera Tahap I Keluarga Sejahtera Tahap II

Keluarga Sejahtera Tahap III

Keluarga Sejahtera Tahap III+

Dalam melakukan perencanaan wilayah Propinsi Sumatera Utara, jumlah dan proporsi keluarga miskin yang terdapat di tiap kabupaten/kota penting mendapat perhatian. Berikut ini proporsi keluarga miskin di tiap kabupaten/kota di Sumatera Utara tahun 2001. Tabel 2.14 Jumlah Keluarga Pra - Sejahtera di Sumatera Utara Tahun 2001 Kabupaten/Kota Nias* Tapanuli Selatan* Tapanuli Tengah Tapanuli Utara* Labuhan Batu Asahan Simalungun Dairi* Karo Deli Serdang Langkat Sibolga Tanjungbalai Pematangsiantar Persentase Keluarga Pra Persentase Keluarga Sejahtera dan Sejahtera I Sejahtera II, III dan III+ 88,4 51,0 48,5 48,4 37,8 28,6 36,5 53,6 22,7 31,8 44,1 51,7 57,1 30,0 11,6 49,0 51,5 51,6 62,2 71,4 63,5 46,4 77,3 68,2 55,9 48,3 42,9 70,0

Tebing Tinggi Medan Binjai Toba Samosir Mandailing Natal

26,9 31,5 28,5 48,8 60,4

73,1 68,5 71,5 51,2 39,6

Sumber : Kantor BKKBN Prop. Sumatera Utara, 2002

Berdasarkan tabel 2.14 dapat disimpulkan bahwa mayoritas masyarakat di Propinsi Sumatera Utara telah berada pada tahap keluarga sejahtera II, III dan III+ yaitu sebesar 59,3 %. Kabupaten yang masyarakatnya dapat dikatakan paling sederhana adalah Kabupaten Karo dimana sebesar 77,3 % jumlah keluarga yang terdapat di kabupaten tersebut berada pada tahap sejahtera II, III dan III+. Sedangkan proporsi keluarga pra sejahtera dan sejahtera I terbesar terdapat di Kabupaten Nias yaitu sebesar 88,4 %.
2.2.2 Ketersediaan Ruang Wilayah

A. 1.

Pelestarian Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Kawasan lindung di Propinsi Sumatera Utara mencakup : Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya terutama berkaitan dengan fungsi hidrorologis untuk pencegahan banjir, menahan erosi dan sedimentasi, serta mempertahankan fungsi peresapan bagi air tanah. Kawasan ini berada pada ketinggian 1.000 meter d.p.l. dengan kelerengan lebih dari 40 %, bercurah hujan tinggi, dan mampu meresapkan air ke dalam tanah; termasuk di dalamnya kawasan yang ditetapkan sebagai hutan lindung. Kawasan yang berfungsi sebagai suaka alam dan margasatwa untuk melindungi keanekaragaman hayati, ekosistem, dan keunikan alam. Termasuk di dalamnya adalah cagar alam Sibolangit (Deli Serdang); Liang Balik dan Batu Ginurit (Labuhan Batu); Dolok Di samping itu juga suaka margasatwa Karang Gading (Deli Serdang dan Langkat); Siranggas (Dairi); Dolok Surungan (Toba Samosir); Dolok Saut (Tapanuli Utara), Barumun (Tapanuli Selatan) dan Nias serta huran mangrove di pantai timur. Untuk kawasan pelestarian alam termasuk juga di dalamnya adalah Taman Nasional Gunung Leuser di Langkat; Taman Hutan Raya Bukit Barisan (Deli Serdang, Simalungun, Karo, dan Langkat) Taman Wisata Alam di Sibolangit (Deli Serdang), Holiday Resort (Labuhan Batu), Lau Debuk-debuk (Karo), Deleng Lancuk (Karo), Si Cikeh-cikeh (Dairi), Sijaba Hutan Ginjang (Tapanuli Utara), dan Muara (Tapanuli Utara). Kawasan ini mencakup juga lahan gambut di Kabupaten Asahan, Labuhan Batu, Tapanuli Tengah serta hutan mangrove di Pantai Timur seluas 435 km2 dengan ketebalan rata rata 325 meter. Kawasan rawan bencana, yaitu yang mengalami bencana alam seperti gerakan tanah, longsoran, runtuhan, banjir bandang, dan rayapan. Termasuk dalam kawasan ini sekeliling Danau Toba, Tapanuli Selatan bagian Selatan, Utara Sibolga, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Tapanuli Tengah, bagian selatan Mandailing Natal, Asahan, Labuhan Batu, Langkat, Pulau Nias bagian Selatan dan bagian Tengah. Sebagian besar wilayah Sumatera Utara di sekitar Bukit Barisan membujur arah Utara - Selatan pada dasarnya potensial terhadap gerakan tanah, rayapan, longsoran, gelombang pasang dan banjir bandang. Kawasan perlindungan setempat yang berfungsi melestarikan fungsi badan perairan dan kerusakan oleh kegiatan budidaya. Termasuk sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau/waduk, kawasan sekitar mata air, kawasan terbuka hijau kota termasuk di dalamnya hutan kota. Kawasan cagar budaya yaitu kawasan yang merupakan lokasi bangunan hasil budaya manusia yang bernilai tinggi maupun yang memiliki bentuk geologi alami yang khas. Pulau-pulau kecil dengan luasan maksimal 10 km2.

2.

3.

4.

5. 6.

7. Beberapa lokasi yang berdasarkan proses pemaduserasian pemanfaatan ruang di arahkan sebagai kawasan lindung. Pada waktu ini sedang dilakukan proses verifikasi luasan kawasan lindung dan budidaya untuk lingkup kabupaten/kota. Kondisi terakhir menunjukkan bahwa kawasan budidaya menjadi lebih luas dari yang direncanakan, dimana penggunaan sektor budidaya kehutanan menjadi sedikit lebih rendah dibandingkan dengan hasil paduserasi (1997) dan penggunaan lainnya meningkat. Peningkatan ini terjadi adanya perubahan beberapa kawasan budidaya hutan dan atau areal penggunaan lain menjadi budidaya lain yang digunakan untuk pengembangan pantai Barat Propinsi Sumatera Utara (industri dan perkebunan) yang juga merupakan kawasan menurut paduserasi tahun 1980 sebagian areal penggunaan lain dan eks HPH (untuk pelepasannya masih memerlukan penetapan Menteri Kehutanan). Selanjutnya perkembangan luas kawasan lindung dan kawasan budidaya Propinsi Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel 2.15. Sedangkan berdasarkan peta RTRWP 2003-2018 telah ditetapkan kawasan lindung seluas 2.076.287,00 Ha dan kawasan budidaya seluas 5.091.513 Ha. Penetapan tersebut belum menjamin dapat dipertahankannya fungsi lindung dari kawasan hutan, oleh karena kondisi di lapangan menunjukkan terjadinya perambahan hutan yang meningkat, sehingga pengurangan luas hutan menjadi lebih luas dari yang tercatat. Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara mencatat sekitar 125.000 Ha hutan telah dimutasikan selama periode 1982-1997. Diperkirakan kondisi di lapangan menunjukkan angka yang lebih besar, yaitu sekitar 400.000 Ha. Proses pemaduserasian tata guna hutan dengan kegiatan budidaya skala besar maupun perambahan yang dilakukan masyarakat menjadi kepentingan yang signifikan untuk memprakirakan daya dukung lahan Propinsi Sumatera Utara secara lebih realistis. Permasalahan utama dari penurunan fungsi lindung adalah terancamnya daerah bawahan dan terganggunya spesies yang dilindungi beserta habitatnya. Keadaan seperti itu dapat menggangu keseimbangan lingkungan yang selanjutnya menimbulkan bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan sebagainya. Gambaran pada peta berikut memberikan perhatian, bahwa pemantapan dan pengawasan terhadap okupasi kawasan lindung perlu diperketat. Alokasi kawasan lindung di setiap kabupaten yang telah disepakati antar-sektor akan menjadi acuan bersama dalam mengalokasikan pemanfaatan ruang kawasan budidaya. Selanjutnya Peta RTRWPSU Tahun 2003 2018 dapat dilihat pada gambar 2.9.

Tabel 2.15
Luas Kawasan Lindung dan Budidaya Propinsi Sumatera Utara No 1. 2. Fungsi Kawasan Kawasan Lindung a. Hutan Lindung b. Lain - lain (HSA, HK) Kawasan Budidaya Berdasarkan Peta RTRWPSU Tahun 2003 2018 (Ha)1) 2.076.287,00 1.481.737,69 594.549,31 2) 5.091.713,00 1.835.267,43 3.256.445,57 7.168.000,00

a. Hutan (HPT, HP, HPK) b. Lain-lain


Total Luas
Sumber : Kanwil Kehutanan dan Perkebunan Sumatera Utara, 1998 1) Hasil planimetri dari Dinas Kehutanan Propsu & BPKH Wil. I, 2003

2)

Termasuk kawasan perlindungan setempat yang tidak tergambar dala peta skala 1:250.000 (diperhitungkan)

Keterangan : HSA : Hutan Suaka Alam HK : Hutan Konservasi HPT : Hutan Produks i Terbatas HP : Hutan Produksi Tetap HPK : Hutan Produksi Konversi

Gambar 2.9 Peta RTRWP SU 2003 2018

Tabel 2.16
Potensi Kawasan Lindung dan Budidaya Hutan di Propinsi Sumatera Utara Kawasan Lindung HK HL/KL
Langkat Deli Serdang Karo Dairi Pakpak Bharat Simalungun Asahan Labuhan Batu Toba Samosir Tapanuli Utara Hbg Hasundutan Tapanuli Tengah Tapanuli Selatan Mandailing Natal Nias Utara Nias Selatan Medan Total 223.505,00 23.395,00 20.240,00 575,00 5.657,00 2.007,80 1.964,56 23.800,00 39,00 500,00 52.300,00 8.350,00 362.333,36 3.120,90 10.596,07 70.786,29 61.855,65 43.936,61 88.544,25 73.826,54 106.048,69 226.260,37 45.623,60 81.788,27 57.034,00 262.354,48 195.511,06 83.696,98 70.438,85 315,08 1.481.737,69

Kawasan Hutan Budi Daya HPT HP HPK


54.017,43 17.547,56 4.878,08 71.892,90 48.894,00 10.382,15 21.216,15 60.085,87 14.764,36 98.989,01 25.015,66 51.252,70 154.759,68 171.525.17 24.524,41 21.409,94 851.155,07 41.327,12 63.091,82 13.494,63 11.213,73 7.916,71 89.021,57 11.214,16 96.711,17 31.916,43 103.097,07 70.564,87 5.761,90 279.924,74 36.358,84 4.478,97 70.767,39 936.861,12 1.041,89 16.840,54 1.875,88 1.421,78 7.282,20 18.788,95 47.251,24 321.970,45 115.792,34 109.399,00 145.137,28 106.404,32 189.955,77 123.097,39 266.686,17 296.741,16 247.748,68 177.868,80 114.048,60 750.760,68 403.395,07 119.982,56 189.755,13 315,08 3.679.338,48

Sumber : Hasil Analisis & Perhitungan secara Planimetris Peta RTRWP SU 2003-2018 skala 1:250.000 Dinas Kehutanan Propsu BPKH Wil - I, 2003 1) Belum termasuk kawasan perlindungan setempat yang tidak tergambar dalam peta (diperhitungkan)

Potensi kawasan hutan di Popinsi Sumatera Utara mencapai 3.679.338,48 ha yang terdiri dari kawasan lindung

seluas 1.844.071,05 ha dan kawasan budidaya hutan seluas 1.835.267,43 Ha. Selanjutnya peta tentang kawasan lindung dan budidaya hutan dapat dilihat pada gambar 2.9a.
B. Pemanfaatan Ruang

Propinsi Sumatera Utara memiliki kawasan darat seluas 71.680 km2 serta kawasan laut sepanjang 12 mil laut dari garis pantai ke arah laut lepas. Menurut catatan Kanwil BPN Propinsi Sumatera Utara, pemanfaatan lahan di Propinsi Sumatera Utara tahun 1998 didominasi oleh kegiatan pertanian seluas 31.926,76 km2 atau sekitar 44,54 % dan oleh kegiatan hutan seluas 24.416,10 km 2 atau sekitar 34,06 %. Tabel 2.17 menggambarkan penggunaan lahan di Propinsi Sumatera Utara tahun 2003. Penggunaan lahan untuk kegiatan pertanian terbesar berada di wilayah Pantai Timur, yaitu meliputi areal seluas lebih kurang 57% dari luas areal pertanian Sumatera Utara. Sebagian besar lahan hutan berada di wilayah Pantai Barat, yaitu seluas lebih kurang 69 % dari luas hutan Sumatera Utara. Kegiatan pertanian mendominasi wilayah Pantai Timur, sedangkan wilayah Pantai Barat didominasi oleh kegiatan pertanian dan hutan secara relatif berimbang.

Dalam distribusi ruang, wilayah yang pada saat ini masih memiliki kawasan hutan yang juga berfungsi untuk perlindungan daerah bawahannya ataupun fungsi ekologis lainnya, perlu menyiapkan pengendalian terhadap alih fungsi hutan, baik oleh perambahan maupun pemanfaatan untuk usaha ekonomi formal terutama dalam rangka perolehan PAD. Konflik kepentingan dalam kondisi keterbatasan lahan budidaya perlu diatasi melalui kesepakatan yang mengikat dalam pelestarian kawasan hutan yang berfungsi lindung. Untuk itu, salah satu dasar pengendalian adalah menyesuaikan pengembangan kegiatan pada lahan dengan kemampuan yang memadai.

Gambar 2.9A Peta Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Hutan

Wilayah Pantai Timur yang merupakan dataran rendah seluas 26.360 km2 atau 36,8 % dari luas wilayah Sumatera Utara merupakan wilayah yang subur, suhu udara tinggi, kelembaban udara tinggi, dan curah hujan juga relatif tinggi, meliputi Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Asahan, Labuhan Batu, Kota Binjai, Medan, dan Tebing Tinggi. Wilayah Pantai Barat meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Tapanuli Tengah, Nias, Nias Selatan dan Kota Sibolga. Kegiatan di wilayah Pantai Timur umumnya heterogen, dengan kawasan perkotaan yang relatif besar dan prasarana wilayah yang memadai. Wilayah ini sesuai untuk pengembangan berbagai jenis kegiatan budidaya, terutama perkebunan dan tanaman pangan. Kegiatan perkotaan juga cenderung berkembang dengan pesat, terutama di daerah Medan dan sekitarnya. Meskipun wilayah Pantai Barat Propinsi Sumatera Utara saat ini belum dikembangkan secara optimal, namun memiliki potensi yang besar bagi pengembangan berbagai kegiatan budidaya, seperti perikanan laut, perkebunan, dan hortikultura. Sedang wilayah Tengah yang merupakan dataran tinggi dengan tingkat kesuburan yang bervariasi potensial untuk dikembangkan bagi tanaman hortikultura. Selain memiliki enam SWS dan dua SWS lintas propinsi dimana danau dengan debit air yang cukup besar yang potensial bagi sistem pengairan, Propinsi Sumatera Utara juga memiliki air terjun yang potensial sebagai sumber energi. Jenis tanah di Propinsi Sumatera Utara didominasi oleh tanah litosol, podsolik, dan regosol (22,34 % luas Propinsi) yang tersebar di Kabupaten Asahan, Dairi, Pakpak Bharat, Deli Serdang, Karo, Labuhan Batu, Langkat, Nias, dan Tapanuli Selatan, Mandailing Natal. Tanah jenis ini sesuai bagi pengembangan budidaya perkebunan.

Tabel 2.17
Penggunaan Lahan di Propinsi Sumatera Utara Tahun 2002 (dalam Ha)

Permukiman
26.725 12.086 30.283 29.894 4.258 39.906 11.811 14.976 35.525 17.327 10.591 23.164 18.952 2.221 16.550 2.174 888 1.778 2.015

Industri
1.062 1.145 2.001 2.789 601 1.171 621 1.098 1.542 752 624 971 795 144 360 202 12 184 128

Pertam bangan
207 250 112 81 67 -

Persawahan
52.406 14.166 92.737 89.334 15.196 57.361 22.335 53.464 49.160 23.978 17.947 36.164 29.589 2.364 3.100 2.252 670 424

Pert. Tanah Kering


20.537 42.209 48.686 46.964 52.977 15.705 44.708 50.791 45.661 22.270 8.772 43.199 35.344 413 1.765 664 186 574

Kebun
14.108 19.400 17.045 21.085 20.640 20.635 29.885 28.978 46.581 22.720 15.469 15.020 12.289 1.770 832 824 8 2.270 107

Perkebunan
226.951 43.192 187.185 385.783 22.584 204.411 124.835 165.101 239.761 116.941 55.769 46.295 37.877 1.343 33 877 -

Semak
4.262 45.658 1.021 33.382 16.055 6.908 28.401 34.641 137.851 67.235 14.245 111.100 90.900 288 74 20

Hutan
73.134 119.360 46.647 218.274 58.119 256.492 214.586 68.912 664.429 324.068 75.695 176.621 144.508 669 96 -

Perairan Darat
12250 104 4540 37557 966 11409 12186 721 5016 2446 10600 66.290 54.237 4 728 95 42 112

Tanah Lain Terbuka


9.008 13.193 27.270 13.811 998 29.562 496 23.684 11.552 1.813 3.991 3.266 46 -

17 4 9 29 7 11 13 19 20 10 7 60 49

301.124

16.202

717

562.647

481.425

289.666

1.858.938

592.041

2.441.610

219.303

138.690

265

Sumber : Kanwil BPN Propinsi Sumatera Utara, 2003 * Termasuk Kabupaten yang dimekarkan Gambar 2.10 Peta Penggunaan Lahan Propinsi Sumatera Utara

C.

Kendala Fisik Terhadap Pemanfaatan Ruang

Kawasan bagian Tengah dan Pantai Barat Sumatera Utara seluas 45.320 km 2 atau 63,2% dari luas Sumatera Utara sebagian besar merupakan pegunungan. Kawasan dengan variasi tingkat kesuburan tanah, iklim, topografi, dan kontur; tercatat sebagai daerah gempa tektonik, vulkanik, dan daerah yang struktur tanahnya labil; memiliki danau, sejumlah sungai dan air terjun yang meliputi kawasan sepanjang Bukit Barisan, yaitu Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, Simalungun, Karo, Dairi, Pakpak Bharat dan Kota Pematangsiantar. Dataran tinggi di kawasan Tengah relatif terbatas bagi pengembangan, oleh karena sebagian merupakan hutan berfungsi lindung. Aktifitas ekonomi juga cenderung homogen. Sedang kawasan Pantai Barat merupakan wilayah yang relatif belum berkembang dengan prasarana yang terbatas. Walaupun demikian memiliki berbagai potensi sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan bagi perkembangan wilayah. Di Sumatera Utara terdapat kawasan yang rentan terhadap gerakan tanah (gambar 2.11). Lokasi spesifik yang potensial mengalami longsoran, runtuhan, banjir bandang, dan rayapan adalah di sekeliling Danau Toba, Tapanuli Selatan bagian Selatan, Utara Sibolga, dan di Selatan Pulau Nias. Sedang kawasan yang rentan terhadap rayapan adalah di bagian Tengah Pulau Nias. Sebagian besar wilayah Sumatera Utara di sekitar Bukit Barisan membujur arah Utara-Selatan pada dasarnya potensial terhadap gerakan tanah, rayapan, longsoran, maupun banjir bandang. Lokasi-lokasi spesifik yang rentan gerakan tanah tersebar di dataran tinggi di bagian Tengah Sumatera Utara. Kawasan pesisir di Pantai Timur dan Barat merupakan dataran banjir. Sedangkan kawasan yang secara geologis relatif mantap berada di Pantai Timur berbatasan dengan pesisir, di sekitar Danau Toba, serta sekeliling Pulau Nias. Kondisi daerah tangkapan air di Danau Toba dan DAS Lau Renun pada saat ini dalam kondisi memprihatinkan yang berpotensi mengurangi ketersediaan air. Oleh karena itu diperlukan upaya peningkatan fungsi lindung bagi kawasan tersebut.

Gambar 2.11
Peta Penafsiran Gerakan Tanah di Propinsi Sumatera Utara

D.

Kesesuaian Lahan

Penilaian kesesuaian lahan dilakukan untuk keperluan alternatif pemanfaatan lahan. Secara umum kesesuaian lahan di Propinsi Sumatera Utara dibagi dalam 6 (enam) kategori, yaitu : a. Kesesuaian lahan untuk pertanian tanaman pangan lahan basah Sebagian besar lahan yang sesuai untuk budidaya pertanian tanaman pangan lahan basah berada di kawasan Pantai Timur dan sekitar DAS di pantai Timur Kabupaten Langkat, Asahan, Labuhan Batu, dan Tapanuli Selatan, Karo, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Mandailing Natal, Dairi, Tapanuli Tengah. Untuk kawasan bagian Tengah, hanya terdapat di sebelah Selatan Danau Toba, dan sebagian kecil lainnya terdapat di wilayah pesisir pantai Barat, wilayah pesisir Pulau Nias, pantai Barat Pulau Pini dan pantai Barat Pulau Tanahmasa (gambar 2.12). b. Kesesuaian lahan untuk pertanian tanaman pangan lahan kering Lahan yang sesuai untuk pertanian tanaman pangan lahan kering sebagian besar berada di wilayah bagian Timur, yaitu di Langkat, Toba Samosir, Simalungun, Labuhan Batu, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan bagian Selatan, dan wilayah sekitar Danau Toba terutama di Dairi. Sebagian kecil lainnya terdapat di sekitar Kabanjahe, Langkat, pesisir pantai Barat, pesisir Pulau Nias, pantai Barat Pulau Pini dan pantai Barat Pulau Tanahmasa (gambar 2.13). c. Kesesuaian lahan untuk tanaman tahunan (perkebunan) Lahan yang sesuai untuk budidaya tanaman tahunan atau perkebunan meliputi hampir dua per tiga wilayah Sumatera Utara, terutama di wilayah bagian Timur, kawasan sekitar Danau Toba, wilayah bagian Selatan, pantai Barat, serta di pulau-pulau kecil. Sedangkan kawasan yang tidak sesuai untuk perkebunan berada di bagian Tengah di sebelah Utara Danau Toba, sepanjang pantai Barat, Mandailing Natal bagian Selatan, Tapanuli Selatan bagian Utara, dan beberapa tempat di Labuhan Batu yang tidak dilalui DAS (gambar 2.14). d. Kesesuaian lahan untuk kawasan hutan Lahan yang sesuai untuk kawasan hutan meliputi kawasan yang sesuai untuk perkebunan, tanaman pangan lahan kering, dan kawasan tanaman pangan lahan basah yang tidak berada di sekitar aliran sungai atau di sekitar pantai. Kawasan tersebut meliputi sebagian besar kawasan di bagian Timur, jalur Tengah, wilayah bagian Selatan, pantai Barat, di Pulau Nias secara terbatas dan pulau-pulau kecil lainnya. Kawasan ini tidak termasuk kawasan pinggir pantai yang sesuai untuk lahan basah. Peta kesesuaian hutan produksi tertera pada gambar 2.15. e. Kesesuaian lahan untuk peternakan Lahan yang sesuai untuk budidaya peternakan mengikuti kawasan perkebunan, kawasan tanaman pangan lahan kering, dan kawasan tanaman pangan lahan basah yang tidak berada di sekitar pantai. f. Kesesuaian lahan untuk perikanan Lahan yang sesuai untuk perikanan, khususnya perikanan laut berada di kawasan pantai Barat Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Medan, serta sepanjang pantai Asahan dan Labuhan Batu, Tanjungbalai, Madina. Selain itu juga terdapat di wilayah pantai di Teluk Tapanuli di Sibolga dan Tapanuli Tengah, beberapa lokasi di wilayah pantai Mandailing Natal, pantai Pulau Nias, pantai Pulau Pini, dan pantai Pulau Tanahmasa (gambar 2.12), perikanan danau di kabupaten yang memiliki kawasan Danau Toba (Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Simalungun, Karo) dan Tapanuli Selatan (Danau Siais).

Gambar 2.12 Peta Kesesuaian Lahan Tanaman Pangan Lahan Basah dan Perikanan

Gambar 2.13 Peta Kesesuaian Lahan Tanaman Pangan Lahan Kering

Gambar 2.14 Peta Kesesuaian Lahan Perkebunan

Gambar 2.15 Peta Kesesuaian Lahan Hutan Produksi

2.2.3

Perekonomian Wilayah

A. Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Utara merupakan kawasan yang secara ekonomi berkembang paling pesat di Pulau Sumatera. Berdasarkan Statistik Indonesia Tahun 2001 PDRB dengan harga konstan Propinsi Sumatera Utara pada tahun 2000 mencapai Rp 24.016,652 milyar. Dalam lingkup Pulau Sumatera total PDRB Sumatera Utara dengan harga berlaku adalah tertinggi yaitu Rp 68.212,374 milyar dan dalam lingkup nasional PDRB dengan migas berada pada urutan ke enam setelah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Kalimantan Timur. Laju pertumbuhan PDRB Sumatera Utara sebelum terjadinya krisis perekonomian berkisar pada angka 9% per tahun, yaitu di atas laju pertumbuhan ekonomi nasional. Pada tahun 1996-1997 laju pertumbuhan mengalami penurunan menjadi 4,76%, walaupun jumlah absolut PDRB masih tetap mengalami peningkatan. Sedangkan pada tahun 1997-1998 penurunan laju pertumbuhan PDRB mencapai 10.98% dengan nilai total PDRB yang juga mengalami penurunan menjadi Rp. 21.862,89 milyar.
Gambar 2.16

Perkembangan Laju Pertumbuhan PDRB Sumatera Utara Tahun 1994 2002

15,00 10,00 Laju Pertumbuhan 5,00 1994 (5,00) (10,00) (15,00) Dengan Migas Harga konstan Tanpa Migas harga Konstan 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002

Tahun

Sumber : Kantor BPS Sumatera Utara, 2003

Dengan menurunnya laju pertumbuhan PDRB hingga posisi negatif pada tahun 1998, pertumbuhan sektor-sektor juga mengalami pertumbuhan negatif kecuali sektor pertanian. Pada awal terjadinya krisis perekonomian pada tahun 1997 sektor yang mengalami penurunan pertumbuhan terbesar adalah sektor pertambangan dan penggalian. Sedangkan sektor lainnya menurun secara terbatas, bahkan sektor listrik, gas, dan air minum masih mengalami peningkatan laju pertumbuhan. Namun pada tahun 1998 dampak krisis ekonomi dan moneter mengena pada seluruh sektor, terutama sektor bangunan dan keuangan, kecuali sektor pertanian yang bertahan dengan pertumbuhan positif, yaitu sebesar 1,26%. Sektor industri yang selama ini berkembang pesat mengalami penurunan pertumbuhan hingga 11,47%. Perkembangan laju pertumbuhan sektoral di Sumatera Utara dapat dilihat pada gambar 2.16.

Laju pertumbuhan sektor pertanian yang positif terutama disebabkan oleh perkembangan subsektor perkebunan, di mana industri pengolahan hasil perkebunan sebagai konsumen hasil perkebunan ternyata mampu bertahan terhadap krisis dengan orientasi produksi yang lebih ditekankan kepada ekspor. Sektor pertanian yang selama ini mulai ditinggalkan nyatanya lebih mampu bertahan terhadap goncangan perekonomian dan sejak itu mulai memperoleh perhatian, terutama kegiatan pertanian rakyat.
Gambar 2.17

Perkembangan Laju Pertumbuhan PDRB atas Dasar HargaKonstan Menurut Lapangan Usaha di Sumatera Utara Tahun 2000 2002
Pertambangan Industri Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persew aan dan Jasa Perbankan Jasa lainnya

12 10 Pertumbuhan 8 6 4 2 0 2000 2001 Tahun Sumber : Kantor BPS sumatera Utara, Tahun 2003 2002

Secara sektoral perekonomian Sumatera Utara terutama ditunjang oleh kegiatan di sektor pertanian, industri, serta perdagangan, hotel, dan restoran. Hal ini terlihat dari besarnya kontribusi sektorsektor tersebut terhadap PDRB Sumatera Utara. Krisis perekonomian yang terjadi pada dua tahun terakhir tidak mempengaruhi struktur kontribusi PDRB menurut lapangan usaha. Dalam kurun waktu tersebut sektor pertanian tetap memberikan kontribusi tertinggi terhadap PDRB Sumatera Utara, walaupun mengalami penurunan sejak sebelum masa krisis ekonomi dan moneter. Sedangkan sektor industri berada pada urutan kedua terbesar setelah sektor pertanian dengan angka yang tidak jauh berbeda dan kemudian diikuti oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Gambaran kontribusi lapangan usaha terhadap PDRB Sumatera Utara dapat dilihat pada gambar 2.18. Setelah melewati masa krisis ekonomi, di tahun 2001 sektor pertanian tetap memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB yaitu sebesar 26,68% diikuti sektor industri sebesar 26,89% dan sektor perdagangan menyumbang sebesar 19,41%. Sektor lainnya yang mengalami peningkatan adalah sektor jasa dan komunikasi masing masing sebesar 7,39% dan 5,60%. Perkembangan di atas mengindikasikan bahwa perkembangan sektor industri di masa datang adalah prospektif jika ditunjang oleh kondisi perekonomian yang stabil. Sehingga dengan kondisi perekonomian yang kurang menguntungkan akhir-akhir ini, sektor industri mengalami tantangan yang berat untuk tetap bertahan. Dalam kondisi seperti di atas, kegiatan usaha pada sektor primer atau yang berbasis pada sektor primer nyatanya lebih mampu bertahan terhadap gejolak perekonomian. Kegiatan ini lebih mengarah pada pemanfaatan dan pengolahan di sektor hulu, diantaranya adalah kegiatan usaha yang berbasis pada pertanian dan pertambangan. Sedangkan kegiatan pada sektor lainnya seperti perdagangan, pengangkutan, dan jasa yang umumnya merupakan derivat kegiatan primer sangat tergantung pada kondisi sektor primer.

Gambar 2.18

Kontribusi Lapangan Usaha Terhadap PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Sumatera Utara Tahun 2000 - 2002
35 30 Persentase Kontribusi 25 20 15 10 5 0 2000 2001 Tahun 2002

Sektor Pertanian Sektor Pertambangan Sektor Industri Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih Sektor Bangunan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perbankan Sektor Jasa lainnya

Sumber : Sumatera Utara dalam Angka Tahun 2001

Sektor Pertanian Sektor pertanian di Sumatera Utara terutama di dukung oleh subsektor perkebunan dengan kontribusi mencapai 12,07 % pada tahun 2001 dan pertanian tanaman pangan dengan kontribusi 10,56 %. Dalam rentang tahun 1998-2002, rata-rata laju pertumbuhan sektor perkebunan dan pertanian tanaman pangan secara berurutan mencapai 11,57 % dan 10,52 %. Hal ini disebabkan karena terjadinya peralihan penggunaan lahan dari tanaman pangan ke perkebunan. Dengan adanya krisis perekonomian, pertanian tanaman pangan kembali diperhatikan sebagai alternatif kegiatan ekonomi bagi tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan. Hal ini terbukti dengan peningkatan kontribusi pertanian tanaman pangan yang cukup tinggi pada tahun terakhir. Kemampuan sektor pertanian untuk bertahan dengan laju pertumbuhan positif juga didukung oleh subsektor peternakan, kehutanan, dan perikanan. Rata-rata laju pertumbuhannnya tahun 2001 secara berurutan adalah 2,83 %, 1,44 %, dan 3,15 %. Terjadinya El Nino dan la Nina berpengaruh positif terhadap hasil perikanan Indonesia khususnya dan wilayah Pasifik pada umumnya. Secara rinci pertumbuhan dan kontribusi subsektor pertanian terhadap PDRB dapat dilihat dalam tabel 2.18. Tabel 2.18 Kontrabusi Sektor dan Subsektor Pertanian dalam PDRB Tahun 1995-2002 (dalam %) Sektor/Subsektor Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan 1995 24,85 9,00 9,72 2,35 1,38 2,39 1996 25,00 8,86 10,22 2,39 1,28 2,25 1997 24,79 8,60 9,61 2,88 1,19 2,51 1998 25,44 9,76 9,76 2,75 1,12 2,06 1999 30,62 11,13 12,72 2,93 1,27 2,56 2000 29,68 10,68 11,68 2,90 1,37 3,05 2001 30,05 10,56 12,07 2,83 1,44 3,15 2002 29,10 10,30 11,58 2,75 1,32 3,15

Sumber : Program Pembangunan Daerah Propinsi Sumatera Utara, 2001-2005

Kantor BPS Sumatera Utara Tahun 2003

Tabel 2.19
Laju Pertumbuhan Sektor dan Subsektor Pertanian dalam PDRB Tahun 1995-2002 (dalam %) Sektor/Subsektor Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan 1995 8,61 13,22 7,95 -5,80 18,12 6,38 1996 8,71 9,77 8,07 12,39 6,79 5,09 1997 8,98 -0,41 12,01 8,51 8,71 31,93 1998 2,10 3,67 4,04 -14,36 0,32 5,32 1999 5,54 2,26 6,84 14,00 5,36 4,43 2000 4,78 6,44 4,49 4,51 0,28 3,60 2001 3,6 1,24 5,68 3,75 6,58 2,28 2002 0,05 6,20 2,53 1,73 1,52 6,60

Sumber : Program Pembangunan Daerah Propinsi Sumatera Utara, 2001-2005 Kantor BPS Sumatera Utara Tahun 2003

Subsektor perkebunan sebagai penyumbang terbesar PDRB Sumatera Utara memiliki sejarah perkembangan sejak lama. Luas areal perkebunan sampai tahun 1997 mencapai lebih dari 1,5 juta ha dengan produksi mencapai 3.085.692,41 ton. Lebih dari 75 % produksi perkebunan tersebut merupakan produksi kelapa sawit. Kabupaten yang memiliki luas areal perkebunan yang besar diantaranya adalah Kabupaten Labuhan Batu, Asahan, Tapanuli Selatan, Deli Serdang, Simalungun, dan Langkat, yang pada umumnya berada di Pantai Timur Sumatera Utara. Secara keseluruhan kegiatan perkebunan rakyat dan perkebunan besar negara/swasta di Sumatera Utara memiliki luas yang hampir sama. Namun produksi perkebunan besar jauh lebih besar karena diutamakan pada pengembangan perkebunan kelapa sawit. Luas lahan untuk kelapa sawit pada perkebunan besar dua kali lebih besar dibandingkan luas kelapa sawit pada perkebunan rakyat. Pada perkebunan rakyat luas lahan perkebunan terbesar adalah untuk komoditi karet yang memiliki hasil produksi lebih kecil dibandingkan kelapa sawit. Komoditi perkebunan lainnya yang dikembangkan dengan produksi yang cukup besar adalah kelapa, coklat, dan kopi. Berdasarkan hasil analisis I-O, kegiatan perkebunan selama ini telah memiliki kaitan yang kuat dengan sektor sekunder dan tersier, sehingga dapat menciptakan tata-kaitan yang cukup baik antara sektor-sektor tersebut. Komoditi yang memiliki pasar internasional adalah minyak sawit, kopi, dan tembakau Deli. Subsektor lain yang memiliki kontribusi besar pada sektor pertanian adalah subsektor tanaman pangan, dengan produksi terbesar berasal dari tanaman padi, baik padi sawah maupun padi ladang. Luas baku sawah sampai tahun 1997 adalah sebesar 525.143 Ha dan 55 % diantaranya merupakan sawah irigasi. Produksi padi tahun 2001 mencapai 3.248.291 ton dengan produksi tertinggi berasal dari Deli Serdang. Daerah lainnya yang memiliki produksi besar adalah Tapanuli Selatan/Mandailing Natal, Simalungun, Asahan, Langkat, Labuhan Batu, dan Tapanuli Utara/Toba Samosir. Gambaran ini menunjukkan bahwa tanaman padi pada umumnya juga berkembang di wilayah pantai Timur. Produktifitas padi yang telah mencapai 4 ton/Ha atau lebih hanya terdapat di Pematangsiantar, Simalungun, Tapanuli Selatan/Mandailing Natal, Tebing Tinggi, Medan, Deli Serdang, Asahan, Tanjung Balai, dan Karo. Sedangkan di daerah lain produktifitasnya masih di bawah 4 ton/ha. Peningkatan produktifitas tanaman padi dapat dilakukan melalui intensifikasi pengolahan lahan, oleh karena tidak memungkinkan lagi untuk melakukan ekstensifikasi. Propinsi Sumatera Utara secara keseluruhan telah mencapai swasembada beras, namun belum mencakup seluruh kabupaten/kota. Dengan perhitungan standar kebutuhan beras 150 kg/jiwa/tahun, maka

beberapa kabupaten/kota di Sumatera Utara dapat memproduksi padi melebihi kebutuhan daerahnya, yaitu Tapanuli Selatan/Mandailing Natal, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara/Toba Samosir, Labuhan Batu, Asahan, Simalungun, Dairi, Karo, Deli Serdang, dan Langkat. Subsektor perikanan walaupun memiliki kontribusi yang kecil terhadap pembentukan PDRB, namun memiliki laju pertumbuhan yang cukup tinggi, dan dalam masa krisis menunjukkan laju tertinggi. Kontribusi sub sektor ini dalam PDRB tahun 2001 sebesar 3,15 % dan laju pertumbuhan pada tahun 19982002 mencapai 2,80 %. Dari gambaran tersebut terlihat, bahwa subsektor perikanan memiliki ketahanan terhadap goncangan perekonomian, sehingga berpotensi untuk pengembangan lebih lanjut. Potensi kelautan Sumatera Utara yang meliputi kawasan laut yang berbatasan sejauh 12 mil laut dari garis pantai dengan sumber daya yang dimilikinya hingga kini belum digarap secara optimal sebagaimana wilayah lain di Indonesia. Pencurian ikan yang dilakukan oleh kapal asing memerlukan tindakan pengamanan yang lebih serius. Subsektor perikanan di Sumatera Utara lebih didominasi oleh perikanan laut yang meliputi hampir 90 % dari produksi ikan keseluruhan, di mana Asahan dan Medan merupakan penghasil ikan laut yang utama, yaitu sekitar 40 % dari hasil laut. Namun, hasil dari daerah lain juga tidak dapat diabaikan, seperti Sibolga, Deli Serdang, Tanjung Balai, Labuhan Batu, dan Tapanuli Selatan/Mandailing Natal. Sedangkan perikanan darat terdiri atas perikanan budidaya di mana Deli Serdang merupakan penghasil utama dan perikanan di perairan umum dengan Asahan dan Tapanuli Selatan/Mandailing Natal merupakan penghasil terbesar. Subsektor peternakan juga merupakan kegiatan usaha lain yang dapat dikembangkan, walaupun kontribusinya terhadap perekonomian Sumatera Utara selama ini masih terbatas. Kegiatan ini membutuhkan investasi yang lebih besar dengan risiko yang lebih tinggi, terutama serangan hama penyakit, namun tidak memerlukan lahan yang luas, kecuali untuk jenis peternakan besar yang membutuhkan padang penggembalaan. Kontribusi sub sektor ini di dalam PDRB pada tahun 2002 sebesar 2,75 % dengan laju pertumbuhan 1998-2002 sebesar 8,58 %. Subsektor kehutanan di Sumatera Utara lebih banyak dikembangkan di wilayah dengan kemiringan yang lebih tinggi, yaitu wilayah Tengah yang merupakan kawasan pegunungan bukit barisan. Di samping hutan lindung, terdapat beberapa jenis hutan produksi yang menghasilkan beberapa produk ekspor, seperti kayu olahan dan kayu lapis. Pengembangan pada subsektor kehutanan dilakukan secara lebih terbatas, sehingga kawasan hutan dapat dimanfaatkan tanpa merusak kelestariannya. Kontribusi subsektor kehutanan di dalam PDRB pada tahun 2001 yaitu sebesar 1,44 dengan laju pertumbuhan 19982001 sebesar 2,76 %. Sektor Pertambangan Walaupun sektor pertambangan bukan merupakan sektor utama di Sumatera Utara dengan kontribusi terhadap PDRB yang terbatas, namun memiliki peluang usaha yang dapat dikembangkan. Sebagai sektor primer, kegiatan pertambangan merupakan kegiatan ekonomi alternatif yang dapat dilakukan disamping pertanian. Selama ini kegiatan usaha pertambangan lebih didominasi oleh kegiatan pertambangan bahan galian golongan C, dimana yang terbesar terdapat di Kabupaten Langkat. Di kabupaten ini juga terdapat pengembangan kegiatan pertambangan migas. Selain itu untuk bahan galian golongan A terdapat di Kabupaten Labuhan Batu berupa batu bara, gambut, timah putih dan bahan galian B berupa bauksit, dan arsen. Dalam keterbatasannya, produksi kegiatan pertambangan Sumatera Utara telah memasuki pasar internasional dengan komoditi pasir silika dan pasir alam lainnya, serta hasil migas dari Langkat. Kontribusi sub sektor Pertambangan dalam PDRB pada tahun 2002 yaitu sebesar 1,67 % dengan laju pertumbuhan antara 1998-2002 sebesar 9,16 %. Sektor Industri

Sektor industri di Sumatera Utara merupakan sektor kedua terbesar setelah pertanian. Dengan jenis industri yang sangat beragam, Sumatera Utara berkembang menjadi wilayah industri terbesar di Pulau Sumatera dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 5 % pertahun dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Pada tahun 1997, jenis industri terbesar yang berkembang di Sumatera Utara adalah industri kecil (lebih dari 95 %) diikuti oleh aneka industri.

Dengan jenis industri yang sangat beragam, Sumatera Utara berkembang menjadi wilayah industri terbesar di Pulau Sumatera dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 6,376% pertahun dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Pada tahun 2002, jenis industri terbesar yang berkembang di Sumatera Utara adalah industri kecil (lebih dari 90 %) diikuti oleh aneka industri. Investasi di sektor industri meningkat seiring dengan peningkatan jumlah industri dengan laju pertumbuhan 1999-2000 sebesar rata-rata 3,5 % per tahun. Investasi terbesar selama ini adalah pada jenis industri mesin dan logam dasar yang mencapai sekitar 45 % dari investasi di sektor industri secara keseluruhan. Pada posisi kedua diikuti oleh jenis aneka industri yang menyerap sekitar 35 % dari investasi keseluruhan. Penyerapan tenaga kerja di sektor industri juga berkembang dengan laju pertumbuhan rata-rata 4,15% per tahun. Jumlah tenaga kerja terbesar diserap oleh jenis industri kecil (sekitar 65%) dan aneka industri (sekitar 25%). Sedangkan nilai produksi dari sektor industri meningkat dengan laju pertumbuhan rata-rata 4,80 % per tahun. Nilai produksi terbesar dihasilkan oleh jenis aneka industri yang mencapai Rp 3.504.120 juta pada tahun 1997, yakni hampir 50 % dari nilai produksi industri keseluruhan. Kedua terbesar adalah industri mesin dan logam dasar yang mencapai Rp 2.325.390 juta atau sekitar 33 %. Dari gambaran di atas, dapat diindikasikan terjadinya kesenjangan, di mana penyerapan tenaga kerja terbesar berada pada jenis industri kecil yang memiliki nilai tambah terbatas. Sedangkan nilai produksi tinggi terdapat pada jenis industri yang menyerap investasi besar, seperti industri mesin dan logam dasar serta aneka industri yang melibatkan lebih sedikit tenaga kerja. Hal ini memperlihatkan bahwa kegiatan industri belum mendistribusikan nilai tambah secara berarti bagi masyarakat luas. Dilihat menurut kabupaten/kota, jumlah kegiatan usaha terbesar pada tahun 1997 berada di Tapanuli Utara/Toba Samosir, Medan, Tapanuli Selatan/Mandailing Natal, dan Deli Serdang. Sedangkan industri yang menyerap tenaga kerja terbesar berlokasi di Kota Medan dan Kab. Deli Serdang. Industri dengan nilai investasi dan produksi besar cenderung terkonsentrasi di Medan, Asahan, Deli Serdang, serta di Tapanuli Utara/Toba Samosir. Jika dilihat rasio antara nilai produksi terhadap nilai investasi, Asahan, Deli Serdang, dan Tapanuli Utara/Toba Samosir memiliki rasio lebih tinggi, sedangkan Medan memiliki rasio yang lebih rendah. Hal ini memperlihatkan bahwa jenis industri yang berlokasi di Medan merupakan industri biaya tinggi dengan peningkatan nilai produksi yang membutuhkan waktu yang lebih panjang. Krisis perekonomian memberikan dampak lebih besar terhadap industri besar dan sedang, dimana pada tahun 1997 jumlah unit usaha dan tenaga kerja mengalami penurunan yang berarti. Jenis industri besar dan sedang sebagian besar berlokasi di Kab. Deli Serdang, Medan, dan Asahan. Sektor Pariwisata Sebagai salah satu sektor andalan di Sumatera Utara, sektor pariwisata merupakan sektor yang rawan terhadap masalah keamanan. Dengan obyek wisata yang memiliki pasar internasional, seperti

kawasan Danau Toba dan sekitarnya, kawasan Brastagi dan Tanah Karo, serta Pulau Nias dan sekitarnya, Sumatera Utara memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata. Dukungan infrastruktur yang memadai, keberadaan akomodasi dan fasilitas lainnya sangat menunjang dalam percepatan perkembangan pariwisata. Namun masalah keamanan nasional dan kawasan sekitar Sumatera Utara dapat menjadi kendala bagi peningkatan kunjungan wisatawan, terutama wisatawan mancanegara.

Perdagangan Sektor perdagangan merupakan sektor yang cukup potensial dengan sumbangan ketiga terbesar terhadap PDRB propinsi setelah sektor pertanian dan industri. Kegiatan perdagangan, terutama perdagangan luar negeri atau ekspor dan impor dari tahun ke tahun selalu surplus. Hingga tahun 2001, volume ekspor mengalami peningkatan volume mencapai 5.492.341 ton tetapi nilainya menurun, yaitu mencapai 2,294 juta US$. Sedangkan volume impor pada tahun 2001 mengalami penurunan. Kondisi ini berlanjut hingga tahun 2002, di mana kegiatan ekspor maupun impor mengalami penurunan yang tajam, di mana nilai ekspor tetap surplus terhadap nilai impor. Komoditi utama yang menjadi andalan ekspor Sumatera Utara adalah hasil industri hasil perkebunan (minyak kelapa sawit) dan hasil perikanan (ikan dan udang), serta aluminium, hasil hutan, dan hasil perkebunan lain (kopi dan coklat). Sedangkan barang impor yang utama adalah barang modal dan bahan baku penolong, seperti mesin dan alat pengangkutan, dan barang-barang produk industri. Investasi Investasi di Sumatera Utara pada tahun 1995 terutama berasal dari PMDN dengan nilai terbesar pada sektor industri dan perhotelan. Sedangkan PMA lebih diinvestasikan pada sektor jasa, di mana pada tahun sebelumnya lebih diutamakan pada sektor pertanian dan industri. Jika dilihat kecenderungan hingga tahun 1995, nilai investasi yang ditanamkan senantiasa mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Krisis perekonomian mengakibatkan investasi di Sumatera Utara mengalami penurunan. B. Kesenjangan Wilayah Dilihat berdasarkan kabupaten/kota, penyumbang terbesar terhadap PDRB Sumatera Utara adalah Kota Medan dengan sumbangan mencapai 23,63 % dari nilai PDRB propinsi pada tahun 2001. Penyumbang terbesar lainnya untuk tahun yang sama adalah Kabupaten Deli Serdang yang mencapai 11,65 % dan Kabupaten Asahan sebesar 13,14 %. Pada tahun 1997 sampai 2001, kontribusi setiap kabupaten/kota terhadap PDRB propinsi menunjukkan besaran yang hampir sama setiap tahun. Hal ini menunjukkan tidak terjadi perubahan kegiatan perekonomian yang signifikan di setiap daerah. Berdasarkan kontribusi kabupaten/kota dapat dilihat bahwa wilayah di pantai Timur memiliki kontribusi yang lebih tinggi terhadap PDRB propinsi dibandingkan dengan wilayah di pantai Barat. Kabupaten/kota yang memiliki kontribusi tinggi dan sedang di antaranya adalah Medan, Deli Serdang, Asahan, Labuhan Batu, Tapanuli Selatan, Simalungun, dan Langkat. Sedangkan kabupaten/kota lainnya memiliki kontribusi lebih rendah (gambar 2.19). Kesenjangan kontribusi PDRB tersebut mencerminkan jenis kegiatan perekonomian yang berkembang di setiap daerah. Di kawasan pantai Timur lebih berorientasi pada kegiatan perekonomian utama, seperti kegiatan perkebunan, pertanian tanaman pangan, dan industri, di mana kondisi fisik lahan dan dukungan infrastruktur sangat menunjang untuk perkembangan permukiman dan kegiatan usaha. Sedangkan di kawasan Tengah yang secara fisik memiliki keterbatasan cenderung dikembangkan kegiatan

pertanian lahan kering, tanaman keras, serta kehutanan (hutan produksi), di samping terdapat kawasan hutan lindung. Dan di kawasan pantai Barat dengan kondisi fisik yang juga memiliki keterbatasan, kegiatan perekonomian utama yang berkembang adalah perikanan laut dan kehutanan. Kawasan perkotaan pada umumnya memiliki PDRB per kapita tinggi, seperti Tanjung Balai, Pematangsiantar, Medan dengan nilai di atas Rp 7 juta, di mana PDRB per kapita rata-rata tercatat sebesar Rp 8.801.232. Kawasan dengan PDRB per Kapita kurang dari Rp 7 juta adalah Kota Sibolga, Tebing Tinggi dan Binjai. Sedangkan Kota Binjai dan Kabupaten Deli Serdang yang termasuk Kawasan Mebidang, sampai tahun 2001 memiliki PDRB per kapita di bawah rata-rata, yaitu Rp 4,606 juta dan Rp. 4,175 juta. C. Tenaga Kerja dan Lapangan Kerja Secara umum penyerapan tenaga kerja terbesar di Sumatera Utara adalah oleh kegiatan pertanian yang mencapai 55,23 % dari total penyerapan tenaga kerja pada tahun 2001, diikuti oleh bidang usaha jasa perdagangan, hotel dan restoran yang mencapai 16,42%. Sektor industri menyerap sekitar 8,4 % dari total penyerapan tenaga kerja. Sedangkan menurut kabupaten/kota penyerapan tenaga kerja terbesar adalah di Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan. Untuk Kota Medan penyerapan tenaga kerja terbesar adalah di sektor jasa, yaitu lebih dari 70 %. Di Kabupaten Deli Serdang penyerapan tenaga kerja terbesar adalah di sektor jasa dan kemudian pertanian dengan jumlah yang hampir seimbang, sedangkan industri mencatat sebesar 25 %. Besarnya penyerapan tenaga kerja di Medan dan Deli Serdang berkaitan dengan perkembangan industri dan jasa yang pesat di kawasan MEBIDANG, terutama industri yang memanfaatkan hasil pertanian di sekitarnya. Dari gambaran di atas terlihat bahwa sektor pertanian masih merupakan kegiatan utama di Sumatera Utara dan dapat menyerap tenaga kerja yang besar. Namun jika dilihat rasio pekerja terhadap jumlah unit usaha, maka rasio di sektor jasa (terutama keuangan) dan industri lebih tinggi dibandingkan dengan pertanian. Krisis perekonomian yang menyebabkan unit usaha tertentu tidak dapat bertahan diperkirakan akan meningkatkan jumlah pengangguran di Sumatera Utara. Peningkatan jumlah pengangguran juga berarti peningkatan bagian penduduk yang miskin. Dengan demikian penciptaan lapangan pekerjaan yang dapat menanggulangi masalah kemiskinan dan pengangguran dalam jangka pendek sangat diprioritaskan. Diversifikasi kegiatan di sektor primer khususnya pertanian diperlukan untuk mengatasi permasalahan tersebut, oleh karena sektor pertanian relatif kenyal terhadap pengaruh eksternal. Sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian dan pelaksanaan berbagai perogram pemulihan krisis ekonomi maka sektor, sektor perekonomian mulai tumbuh dan berkembang lagi sehingga makin banyak pula menyerap tenaga kerja.

Gambar 2.19 Kontribusi PDRB Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2001

D. Kecenderungan Perkembangan Perekonomian Dengan struktur ekonomi yang didukung oleh kegiatan primer dan sekunder yang berimbang serta ditunjang kegiatan tersier yang berkembang cepat, maka pertumbuhan perekonomian di Sumatera Utara memiliki prospek yang lebih baik di masa datang. Kawasan yang berkembang cepat dengan ciri perekonomian perkotaan terutama berkembang di kawasan MEBIDANG dengan sumbangan terhadap PDRB lebih dari 30% terutama dari sektor industri. Hal ini menunjukkan bahwa Kawasan MEBIDANG secara ekonomi berfungsi sebagai pusat pelayanan jasa perkotaan bagi daerah belakang di Propinsi Sumatera Utara dan juga di luar Sumatera Utara, bahkan juga antar negara. Namun dengan terjadinya krisis perekonomian berkepanjangan yang melanda Indonesia, sektor kegiatan sekunder dan tersier terkena dampak yang lebih besar dibandingkan dengan sektor primer. Pada tahun terakhir laju perkembangan perekonomian sektor sekunder dan tersier di Sumatera Utara menunjukkan penurunan drastis hingga mencapai 12 %. Sektor yang dapat bertahan dengan pertumbuhan positif hanya sektor pertanian. Perkembangan Kawasan MEBIDANG yang semula diharapkan sebagai pusat pelayanan jasa kemungkinan akan mengalami kendala. Walaupun kondisi perekonomian sedang mengalami goncangan, beberapa sektor dapat bertahan dan berkembang dalam situasi tersebut. Dengan digalakkannya kembali kegiatan di sektor primer, maka kawasan yang selama ini perkembangannya tertinggal diharapkan dapat digerakkan, sehingga akan mengurangi ketidakseimbangan perkembangan antara pantai Timur dengan pantai Barat Sumatera Utara. Pelabuhan Belawan memegang peranan utama untuk kegiatan ekspor-impor, dengan sekitar 90 % dari total kegiatan ekspor-impor Sumatera Utara. Pelabuhan lain yang potensial adalah Tanjung Balai dan Sibolga. Berdasarkan perkembangan yang terjadi hingga tahun 2001, wilayah potensial untuk kegiatan pertanian dan industri adalah sebagai berikut :
Tabel 2.20

Wilayah Potensial Untuk Pertanian dan Industri di Sumatera Utara Subsektor Pertanian tanaman pangan Jenis Kegiatan Padi sawah dan padi ladang Hortikultura/Palawija Wilayah Deli Serdang, Tapanuli Selatan/Mandailing Natal, Simalungun, Asahan, Langkat, Labuhan Batu, Tapanuli Utara Jagung : Karo dan Simalungun Ubi Kayu : Deli Serdang, Simalungun Ubi Jalar : Deli Serdang, Tapanuli Utara Kacang-kacangan : Simalungun, Tapanuli Utara/Toba Samosir, Deli Serdang, Langkat, Tapanuli Selatan/Mandailing Natal Karet : Labuhan Batu, Tapanuli Selatan/Mandailing Natal, Langkat, Deli Serdang, Simalungun, Asahan, Tapanuli Tengah. Kelapa Sawit : Labuhan Batu, Langkat, Deli Serdang, Simalungun, Asahan, Tapanuli Selatan/Mandailing

Perkebunan

Perkebunan besar, perkebunan swasta, dan perkebunan rakyat

Natal. Kopi : Dairi, Tapanuli Selatan/Mandailing Natal, Tapanuli Utara/Toba Samosir Kelapa : Asahan, Nias, Langkat, Deli Serdang, Labuhan Batu, Tapanuli Selatan/Mandailing Natal, Tapanuli Tengah. Coklat : Asahan, Tapanuli Selatan/Mandailing Natal, Simalungun, Langkat, Deli Serdang Peternakan Ternak besar/kecil Semua wilayah kabupaten, terutama Tapanuli Selatan/Mandailing Natal, Tapanuli Utara/Toba Samosir. Semua wilayah Kabupaten, terutama Deli Serdang Asahan, Medan, Sibolga, Deli Serdang, Tanjung Balai, Labuhan Batu, Tapanuli Selatan/Mandailing Natal, Tapanuli Tengah, Nias, Langkat Deli Serdang Medan, Deli Serdang, Asahan, Binjai, Tapanuli Selatan/Mandailing Natal/Padangsidimpuan, Labuhan Batu, Simalungun, Tapanuli Utara/Toba Samosir, Langkat, Tebing Tinggi, Pematangsiantar.

Unggas Perikanan Perikanan laut

Industri

Perikanan darat Industri besar, menengah, dan kecil

Sumber : Hasil Analisis

Berdasarkan pertumbuhan PDRB dan kontribusi lapangan usaha terhadap PDRB Sumatera Utara, maka sektor yang dapat diandalkan adalah sektor pertanian, industri, serta perdagangan, hotel, dan restoran dengan kontribusi tinggi terhadap PDRB (secara keseluruhan hampir mencapai 70 %). Sedangkan sektor dengan laju pertumbuhan tinggi adalah listrik, gas, dan air minum dengan peningkatan laju pertumbuhan relatif stabil hingga tahun 2001 yaitu dengan rata-rata pertumbuhan 24,89% pertahun. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor keuangan juga memiliki pertumbuhan tinggi, namun mengalami penurunan dari tahun ke tahun dan menurun secara drastis pada akhir tahun 1997 dan 1998. Sektor pertanian pertumbuhannya juga mengalami penurunan drastis pada tahun 1997 dan 1998 hingga 2002 untuk sektor industri mengalami stabil pada tahun 2000-2001. Sektor lain yang kurang berperan adalah sektor pengangkutan dan komunikasi dengan angka pertumbuhan yang cukup stabil, namun di bawah rata-rata laju pertumbuhan ekonomi. Di sektor pertanian, subsektor perkebunan baik rakyat maupun besar menjadi sektor andalan di Sumatera Utara terutama bagi wilayah potensial seperti Kabupaten Deli Serdang, Tapanuli Selatan/Mandailing Natal, Asahan, Labuhan Batu, dan lain-lain. Subsektor ini akan mempengaruhi pembentukan basis ekonomi di Sumatera Utara, baik dari segi ekspor maupun arah pengembangan industri, serta orientasi penyediaan jasa perdagangan, maupun perbankan. Subsektor perikanan yang memiliki prospek di Sumatera Utara perlu dikelola secara optimal, baik dari segi penangkapan maupun pemasaran. Dengan adanya kebijakan pemerintah untuk memberdayakan subsektor perikanan sebagai bagian dari pemanfaatan sumberdaya kelautan, maka dukungan terhadap pengembangan subsektor perikanan akan lebih besar. Sektor industri berkembang di Kawasan Perkotaan MEBIDANG khususnya di Kota Medan, dan disusul dua kawasan perkotaan lainnya serta di daerah lain seperti Tapanuli Selatan/Mandailing Natal, Tapanuli Utara/Toba Samosir, dan Asahan. Sektor industri yang semula didominasi oleh industri sedang dan menengah, akan segera disusul dengan perkembangan industri kecil di perdesaan. Pengembangan

industri di masa datang lebih difokuskan pada agroindustri yang dapat memanfaatkan hasil produksi pertanian. Namun dalam jangka panjang, pengembangan industri besar dipacu untuk peningkatan pendapatan daerah dengan nilai tambah yang lebih besar. Sektor perdagangan, hotel dan restoran tercatat tumbuh di bawah laju pertumbuhan rata-rata, namun kontribusinya terhadap PDRB hanya menduduki posisi nomor ketujuh setelah sektor bangunan dan industri. Dengan kedudukan Sumatera Utara baik secara internal maupun regional, terutama sebagai pusat pelayanan untuk kawasan Sumatera bagian Utara, sektor ini diharapkan berkembang cukup pesat. Sektor transportasi dan komunikasi selama ini belum memberikan sumbangan yang berarti bagi pembentukan PDRB. Kontribusi terbesar berasal dari subsektor transportasi darat, diikuti transportasi laut. Basis perekonomian yang semakin kuat akan berpengaruh terhadap perkembangan kegiatan sektor transportasi dan komunikasi dalam menunjang kegiatan perekonomian.
2.2.4 Prasarana Wilayah

Dalam konteks rencana struktur tata ruang Propinsi Sumatera Utara, infrastruktur memainkan peran penting dari dua sisi. Pertama, infrastruktur merupakan elemen social service yang penyelenggaraannya harus diusahakan oleh Pemerintah di wilayah-wilayah yang membutuhkannya. Kedua, infrastruktur juga merupakan stimulan yang keberadaannya dapat menjadi pembangkit tumbuhnya berbagai aktifitas sosial-ekonomi. Pada sisi pertama, pengembangan infrastruktur merupakan bagian dari upaya pemenuhan atas permintaan yang sudah ada di suatu wilayah, berdasarkan prinsip kewajiban Pemerintah untuk menyediakan prasarana dan sarana sosial. Sedangkan pada sisi kedua, pengembangan infrastruktur merupakan bagian dari strategi penataan ruang melalui arahan lokasi berbagai aktifitas sosial-ekonomi yang dibangkitkan melalui penyediaan infrastruktur. A. Sistem Transportasi Dalam konteks tata ruang internal Sumatera Utara, kajian sektor transportasi dititikberatkan pada sistem prasarana transportasi darat, oleh karena jaringan jalan raya dan jaringan kereta api berpengaruh langsung terhadap pembentukan struktur dan pola sebaran ruang aktifitas di wilayah daratan Sumatera Utara. Meskipun demikian, pola lokasional prasarana angkutan udara dan laut juga memberikan kerangka pembentukan struktur dan pola ruang melalui penguatan pada pembentukan struktur dan pola sebaran ruang aktifitas di wilayah yang terbatas, yakni penguatan pada fungsi sentralistik dari kota dimana bandara dibangun dan penguatan struktur wilayah sepanjang garis pantai dimana pelabuhan-pelabuhan dibangun. Kedua jenis angkutan yang disebut terakhir ini lebih menentukan perkembangan wilayah dalam kaitan fungsinya sebagai outlet dan inlet bagi pergerakan penumpang dan barang antara Sumatera Utara dengan wilayah eksternalnya. A.1. Transportasi Darat

Perkembangan Jaringan Jalan

Di Propinsi Sumatera Utara terjadi perkembangan kuantitas jaringan jalan untuk semua jenis jalan, yaitu selama kurun 1999- 2001 jalan nasional, jalan propinsi, jalan kabupaten, dan jalan kota bertambah dari 26.536,00 km menjadi 31.280,430 km atau sekitar 4.744,43 km atau (15,16 %). Dari segi kualitas, secara umum telah terjadi penurunan kualitas jalan. Pada tahun 1999, jaringan jalan di Sumatera Utara yang mempunyai kondisi rusak dan rusak berat mencapai sekitar 55,99% dari panjang jalan keseluruhan. Bila dilihat dari lokasinya, sebagian besar terdapat di wilayah kabupaten (rural area). Keadaan ini menyebabkan ketimpangan akses desa-kota yang merupakan sebagian dari penyebab terjadinya ketimpangan perkembangan ekonomi antara wilayah perdesaan dengan perkotaan. Secara rinci panjang jalan di Sumatera Utara menurut kondisi dan status jalan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.21

Persentase Kondisi Jalan di Sumatera Utara Tahun 1997 - 2001 (%) Kondisi Mantap Negara Propinsi 1997/1998 1998/1999 1999/2000 2000 2001 2002 90,55 77,46 64,48 34,57 52,79 50,92 86,50 51,18 37,85 42,19 47,40 20,93 Kondisi Sedang Negara Propinsi 9,45 18,13 28,70 47,25 35,89 17,30 6,74 28,58 39,85 29,03 25,62 24,86 Kondisi Rusak Negara Propinsi 4,41 6,82 18,80 11,32 26,68 6,76 20,24 22,30 28,78 26,98 24,22

Sumber : Dinas Jalan Jembatan Propsu 2001

Tabel 2.22
Panjang Jalan di Wilayah Pantai Barat dan Pantai Timur Sumatera Utara Tahun 2001 (km) Jalan Negara Nias* Tapanuli Selatan Mandailing Natal Tapanuli Tengah Tapanuli Utara* Toba Samosir Dairi* Karo Simalungun Labuhan Batu Asahan Deli Serdang Langkat Tanjungbalai Sibolga Pematangsiantar Tebing Tinggi Medan 91,30 100,94 22,22 165,82 81,98 108,67 56,14 68,96 153,88 131,77 139,87 87,59 6.920 3,20 8,15 14,50 56,86 Status Jalan Jalan Propinsi 425,99 687,06 232,30 195,52 227,40 239,70 93,76 141,13 239,67 221,10 163,36 205,64 144,56 2,3 5,44 4,10 5,00 91,66 Kabupaten/Kota 1.899,62 2.551,40 1.257,30 724,46 1.743,24 1.655,30 1.584 996,20 4.646,22 1.666,92 1.799,80 1.944,50 1.345,45 205,15 47,91 3,17 186,54 1.739,25

Binjai

7,18

19,48

316,59

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2001

Tabel 2.23
Rasio Panjang Jalan Nasional dan Propinsi di Sumatera Utara Terhadap Luas Wilayah Tahun 2001 Wilayah Pantai Timur Pantai Barat & Dataran tinggi Luas (km2) 26.360 45.320 Jalan Nasional Panjang (km) Rasio 678,520 0,026 627,440 0,014 Jalan Propinsi Panjang (km) Rasio 943,340 0,036 2.166,670 0,048

Sumber : Dinas PU Bina Marga Propsu, 2001

Dilihat dari kepadatannya yaitu rasio panjang jalan terhadap luas wilayah, jaringan jalan nasional yang dibangun di pantai Timur Propinsi Sumatera Utara lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah pantai Barat dan wilayah dataran tinggi di bagian tengah. Sementara itu, untuk kategori jalan propinsi, rasio di wilayah pantai Timur lebih rendah dibandingkan dengan wilayah pantai Barat Propinsi Sumatera Utara. Rasio tersebut menunjukkan bahwa dari segi perimbangan pembangunan jalan nasional, wilayah pantai Timur dapat dikatakan mengalami perkembangan yang lebih pesat dibandingkan dengan wilayah pantai Barat dan dataran tinggi. Namun, hal tersebut dikompensasi oleh tingkat perkembangan pembangunan jalan propinsi yang lebih tinggi di wilayah pantai Barat dan dataran tinggi. Dikaitkan dengan fungsi masing-masing jenis jalan, wilayah pantai Timur memiliki akses antar propinsi yang baik. Di pihak lain, wilayah pantai Barat pada dasarnya telah memiliki akses antar pusat kabupaten yang baik. Ketimpangan perkembangan antara wilayah pantai Timur dengan pantai Barat dan dataran tinggi, merupakan akibat dari rendahnya aksesibilitas bagi pergerakan lokal di wilayah pantai Barat dan dataran tinggi. (gambar 2.21). Informasi kualitatif mengindikasikan masih minimnya pembangunan jaringan jalan yang mampu memberikan akses hingga sentra-sentra aktifitas pada skala lokal. Di pihak lain, sentra-sentra tersebut sangat potensial sebagai penguat perkembangan ekonomi Sumatera Utara yang berbasis sumberdaya lokal. Pola Pergerakan Penumpang dan Barang Pergerakan penumpang mobil bus umum di Sumatera Utara pada tahun 1997 dilakukan melalui empat ruas jalan utama yang merupakan jalur terpadat dengan Medan sebagai pusat. Ruas jalan tersebut adalah Medan - Pematangsiantar (Deli Serdang - Simalungun) dengan jumlah penumpang 12.084 orang dan frekuensi perjalanan 636, Medan - Binjai (Deli Serdang - Langkat) dengan jumlah penumpang 11.380 orang dan frekuensi perjalanan 579, Medan - Kisaran (Deli Serdang - Asahan) dengan jumlah penumpang 10.228 orang dan frekuensi perjalanan 507, serta Medan - Kabanjahe (Deli Serdang - Karo) dengan jumlah penumpang 10.530 orang dan frekuensi perjalanan 405.

Gambar 2.20 Jaringan Jalan Propinsi Sumatera Utara

Tabel 2.24

Jumlah Bangkitan dan Tarikan Perjalanan Penumpang Tahun 1997 Kabupaten/ Kota Medan Tebing Tinggi Pematangsiantar Binjai Tanjungbalai Sibolga Langkat Deli Serdang Asahan Simalungun Labuhan Batu Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Karo Dairi Jumlah
Sumber : DLLAJ Sumatera Utara

Bangkitan (Perjalanan/hari) 63.030 3.260 7.220 2.960 100 9.700 2.160 7.060 1.460 3.340 1.380 3.660 3.680 800 14.740 2.100 126.650

Tarikan (Perjalanan/hari) 13.240 2.820 5.960 12.400 4.060 1.960 8.260 21.060 9.760 8.680 4.860 13.500 7.540 5.820 4.080 2.700 126.700

Sedangkan pergerakan penumpang mobil umum cenderung dilakukan melalui ruas jalan utama, yaitu Medan - Binjai (Deli Serdang - Langkat), Medan - Pematangsiantar (Deli Serdang - Simalungun), Medan - Kabanjahe (Deli Serdang - Karo), Kabanjahe - Sidikalang (Karo - Dairi), Pematangsiantar Tarutung (Simalungun - Tapanuli Utara), serta Medan - Kisaran (Deli Serdang - Asahan). Dilihat secara spesifik, pola pergerakan penduduk yang berasal dari dan menuju ke Medan merupakan jumlah yang terbesar. Memperhatikan tabel 2.24, pada tahun 1997 terlihat bahwa bangkitan lalu lintas terbesar adalah di Kota Medan dengan jumlah 63.030 perjalanan per hari, sedangkan tarikan terbesar berada di Kabupaten Deli Serdang dengan jumlah 21.060 perjalanan per hari. Untuk pergerakan barang melalui jalan darat pada tahun 1996, bangkitan perjalanan terbesar dihasilkan oleh Kota Medan sebesar 29.418 ton/hari, kemudian diikuti oleh Belawan, Pematangsiantar, dan Deli Serdang. Sedangkan untuk pergerakan barang antar propinsi, Kota Medan juga merupakan titik simpul dengan daya tarik paling besar, yaitu mencapai 30.194 ton/hari, di mana 22.884 ton/hari dari dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara dan 7.310 ton/hari dari luar wilayah Propinsi Sumatera Utara. Selanjutnya diikuti oleh Belawan, Pematangsiantar dan Deli Serdang.

Tabel 2.25

Jumlah Bangkitan dan Tarikan Perjalanan Barang di Sumatera Utara Tahun 1997 Tarikan Ekstern (ton/hari) 7.310 1.728 248 1.012 336 2.688 920 544 240 4 248 336 500 368 0 236 16.718

Intern (ton/hari) Medan Tebing Tinggi Pematangsiantar Binjai Tanjung Balai Belawan Langkat Deli Serdang Asahan Simalungun Labuhan Batu Tapanuli Selatan Tpanuli Tengah Tapanuli Utara Karo Dairi Jumlah
Sumber : DLLAJ Sumatera Utara

Jumlah (ton/hari) 30.194 4.164 6.312 1.820 2.220 9.396 2.548 6.080 3.780 4.008 3.454 2.568 3.188 2.348 2.104 256 84.440

29.418 100 6.300 1.816 2.228 9.388 2.884 6.076 3.580 4.016 4.048 2.268 3.192 2.360 2.100 252 80.026

22.884 2.436 6.064 808 1.884 6.708 1.628 5.536 3.540 4.004 3.206 2.232 2.688 1.980 2.104 20 67.722

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa keempat wilayah tersebut merupakan titik simpul pergerakan yang padat, yang juga dipengaruhi oleh keberadaan bandar udara, pelabuhan laut, dan sentra kegiatan perekonomian lainnya seperti industri dan pertanian. Bangkitan dan tarikan perjalanan barang di Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel 2.25 berikut. Pergerakan penumpang dan barang di atas menunjukkan terjadinya pola penguatan aktifitas di wilayah pantai Timur Propinsi Sumatera Utara yang secara signifikan berpusat di Kota Medan. Sementara itu, wilayah pantai Barat dan dataran tinggi di bagian Tengah merupakan wilayah yang relatif kurang berkembang. Gambaran tersebut mengindikasikan terbentuknya struktur ruang yang sentralistis dengan wilayah pantai Timur sebagai kutub pertumbuhan.

Gambar 2.21 Pola Aliran Pergerakan Propinsi Sumatera Utara

Perkembangan Angkutan Kereta Api Prasarana dan sarana transportasi kereta api di Sumatera Utara selama kurun 1992-1997 tidak mengalami perubahan yang berarti. Saat ini, panjang jalan kereta api mencapai 599.205 km, yang beroperasi sepanjang 499.388 km, sedangkan 99.622 km lainnya tidak dioperasikan. Jumlah stasiun KA 48 buah dengan pintu perlintasan 382 buah. Secara keseluruhan jumlah penumpang kereta api pada periode 1992-1996 mengalami peningkatan dari 1.217.820 orang menjadi 1.660.828 orang. Peningkatan terbesar terjadi pada tahun 19941995 dengan laju kenaikan sebesar 24 %. Jika dilihat dalam kurun waktu 1992-1996, jumlah penumpang kereta api mengalami peningkatan dengan laju pertumbuhan rata-rata 8 % per tahun. Jumlah penumpang kereta api menurut trayek dapat dilihat pada tabel 2.26.

Tabel 2.26
Realisasi Jumlah Penumpang Kereta Api Eksploitasi Sumatera Utara Tahun 1992-1996 (orang) Trayek Medan - Rantau Prapat Rantau Prapat - Medan Medan - TNB TNB - Medan Medan - P. Siantar P. Siantar - Medan Jumlah 1992 243.067 202.868 292.488 286.346 92.307 100.204 1.217.280 1993 205.234 167.478 316.016 300.841 100.612 106.576 1.196.757 1994 243.175 204.789 367.828 337.990 104.680 115.831 1.374.293 1995 320.932 284.041 456.454 412.975 110.333 129.248 1.713.983 1996 294.450 254.776 414.675 404.153 153.561 139.213 1.660.828

Sumber : Perumka Eksploitasi Sumatera Utara

Pergerakan barang melalui sarana kereta api mengalami penurunan dengan laju rata-rata -7,9 % per tahun selama kurun waktu 1992-1995. Penurunan terbesar terjadi pada jenis komoditi perkebunan, sedangkan jenis komoditi pupuk mengalami peningkatan. Volume barang yang diangkut berdasarkan jenis barang dapat dilihat lebih rinci pada tabel 2.27. Jaringan jalan kereta api secara nyata terkonsentrasi di wilayah pantai Timur Sumatera Utara. Dikaitkan dengan karakteristik pelayanan, moda kereta api relatif ekonomis dioperasikan untuk melayani angkutan penumpang dan barang jarak jauh. Berarti wilayah pantai Timur telah memiliki sistem aktifitas sosial-ekonomi yang memenuhi skala ekonomi bagi dioperasikannya moda transportasi kereta api. Wilayah pantai Barat dan dataran tinggi di bagian Tengah tidak memiliki infrastruktur jaringan kereta api oleh karena kondisi fisik wilayah yang tidak memungkinkan.

Tabel 2.27
Realisasi Volume Barang Menggunakan Angkutan KA Menurut Jenis Barang Eksploitasi Sumatera Utara 1992-1995 (ton) Jenis Barang Perkebunan Tambang dan Minyak Bumi Pupuk Semen Dan Lain-Lain Jumlah 1992 606.683 156.951 30.654 2.969 249.770 1.047.027 1993 576.998 156.159 30.900 3.691 220.292 988.040 1994 500.054 139.560 35.031 3.319 219.667 897.631 1995 371.690 142.105 41.975 2.874 169.775 728.419

Sumber : Perumka Eksploitasi Sumatera Utara

A.2

Transportasi Udara

Propinsi Sumatera Utara memiliki bandar udara untuk melayani pergerakan melalui udara, meliputi Bandar Udara Polonia (Medan), Binaka (Gunung Sitoli), Dr. Ferdinand Lumbantobing (Tapanuli Tengah), Silangit (Tapanuli Utara) dan Aek Godang (Tapanuli Selatan). Selain itu juga terdapat bandar udara P. Batu di Pulau Nias dan Sibolangit, namun belum beroperasi secara layak. Bandar udara Polonia di Medan merupakan bandar udara terbesar di Sumatera Utara yang melayani penerbangan domestik dan internasional. Sebagai salah satu pintu gerbang internasional, Polonia memiliki peranan penting dan menjadi pendukung bagi kegiatan di berbagai sektor pembangunan Sumatera Utara terutama pariwisata. Jumlah penumpang yang datang, berangkat, dan transit pada tahun 1996 untuk penumpang domestik di Bandara Polonia sebanyak 1.300.054 orang, meningkat rata-rata sebesar 10,1 % per tahun. Sedangkan penumpang internasional sebanyak 629.568 orang dengan peningkatan rata-rata 12,7 % per tahun. Jumlah kargo total yang melalui Bandara Polonia pada tahun 1996 sebanyak 33.497 ton meningkat rata-rata sebesar 12,7 % per tahun. Bandara Binaka (Gunung Sitoli) merupakan bandar udara kedua terbesar yang melayani pergerakan penumpang. Pada tahun 1996 jumlah penumpang yang melalui bandara ini mencapai 17.847 orang, kemudian diikuti oleh Bandara Dr. Ferdinand Lumbantobing (Tapanuli Tengah) sebanyak 4.570 orang, dan Aek Godang 3.319 orang. Pertumbuhan negatif terjadi pada pengangkutan barang di Bandara Binaka yang mengalami penurunan sebesar 99,2%, dari 17.246 ton pada tahun 1995 menjadi 137 ton pada tahun 1996. Perkembangan penting untuk sub-sektor perhubungan udara adalah rencana dipindahkannya Bandara Polonia ke lokasi baru di Kuala Namu Kabupaten Deli Serdang. A.3. Transportasi Laut

Pelabuhan Belawan merupakan pintu gerbang transportasi laut di Sumatera Utara yang memegang peranan penting dalam pelaksanaan ekspor impor komoditi migas dan non migas dari dan ke Sumatera Utara. Selain Pelabuhan Belawan kegiatan tersebut juga didukung oleh Pelabuhan Tanjungbalai,

Kuala Tanjung, Pangkalan Susu di pantai Timur, serta Sibolga dan Gunung Sitoli di pantai Barat Sumatera Utara. Volume kargo yang dibongkar di pelabuhan di Sumatera Utara pada tahun 1996 mencapai 8.641.336 ton dengan rata-rata pertumbuhan 5,8 % per tahun (1992-1996). Sedangkan volume kargo yang keluar mencapai 4.853.437 ton pada tahun 1996 yang mengalami penurunan jumlah dengan laju -5,1 % rata-rata per tahun (1992-1996). Pada tahun 1996 volume kargo masuk terbesar berasal dari Pelabuhan Belawan, yaitu sebesar 7.320.229 ton yang merupakan 84,5 % dari jumlah kargo masuk keseluruhan, sedangkan kargo keluar dari Pelabuhan Belawan mencapai 3.737.229 ton yang merupakan 77 % dari jumlah kargo keluar keseluruhan. Volume bongkar muat kargo di Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel 2.28.
Tabel 2.28

Kegiatan Pelabuhan di Sumatera Utara Tahun 1992-1996 Kapal Call 1992 1993 1994 1995 1996 18.458 28.965 29.782 29.624 29.789 GRT 29.987.722 25.094.131 24.114.870 23.085.125 23.161.927 Barang (Ton) Bongkar 7.016.958 7.487.229 7.933.117 8.144.436 8.641.336 Muat 6.048.937 6.236.400 5.614.555 5.079.095 4.853.437 Penumpang (Orang) Turun 362.531 428.666 470.020 501.971 550.713 Naik 395.019 477.350 602.613 523.021 574.057

Sumber : Kanwil Perhubungan Sumatera Utara

Jumlah penumpang yang turun di pelabuhan laut di Sumatera Utara mengalami kenaikan setiap tahunnya dengan laju pertumbuhan rata-rata 9% per tahun, sedangkan penumpang yang naik laju pertumbuhan rata-rata mencapai 8,2% per tahun. Jumlah penumpang terbesar dilayani oleh Pelabuhan Sibolga, kemudian diikuti oleh Pelabuhan Gunung Sitoli dan Pelabuhan Belawan. Tingginya pergerakan di Pelabuhan Sibolga dan Gunung Sitoli menunjukkan besarnya arus pergerakan pelabuhan laut internal Sumatera Utara, sedangkan Pelabuhan Belawan melayani arus pergerakan interinsuler dan internasional dari dan ke Propinsi Sumatera Utara.
B. Sistem Utilitas

Pengalaman empiris menunjukkan bahwa perkembangan sistem jaringan utilitas umumnya mengikuti pola perkembangan sistem jaringan transportasi. Kecenderungan di atas terutama disebabkan oleh dua hal, pertama karena sifat prioritas pemenuhan kebutuhan pergerakan biasanya berada di atas pemenuhan kebutuhan utilitas lainnya, kedua karena secara teknis pengembangan jaringan utilitas yang lain akan jauh lebih ekonomis bila mengikuti trace jaringan transportasi yang telah dibangun sebelumnya, misalnya penempatan jaringan kabel listrik dan pipa air minum. B.1. Air Bersih

Volume air bersih yang didistribusikan di Sumatera Utara adalah sebesar 133.234.000 m 3 pada tahun 1997 dan meningkat menjadi 150.255.000 m3 pada tahun 2001. Pemakaian terbesar air bersih tersebut adalah untuk konsumsi rumah tangga, yang mencapai 127.431.000 m3 atau sekitar 84% dari jumlah air minum yang didistribusikan pada tahun 2000. Proporsi penggunaan oleh rumah tangga meningkat menjadi 53,62% pada tahun 2001, oleh karena terjadi peningkatan tingkat penggunaan oleh

sektor lain selama kurun waktu tersebut, seperti kegiatan komersial dan industri yang meningkat dari 9,7% menjadi 10,06 %. Berdasarkan kabupaten/kota, pengguna air bersih terbesar adalah Kota Medan yang mencapai 100.613.000 m3, yaitu sekitar 66% dari volume air yang disalurkan pada tahun 2000. Distribusi air bersih menurut konsumen dan kabupaten/kota untuk kedua tahun tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.29

Distribusi Air Bersih Menurut Jenis Konsumen dan Kabupaten/Kota di Propinsi Sumatera Utara Tahun 2001 (m3) Kabupaten / Kota I. Kawasan Pantai Barat Nias* Tapanuli Selatan* Tapanuli Tengah Tapanuli Utara* Dairi* Toba Samosir Karo Sibolga Jumlah I 74.000 215.000 10.000 316.000 39.000 69.000 231.000 954.000 875.000 2.511.000 345.000 885.000 887.000 510.000 1.159.000 3.918.000 11.090.000 172.000 294.000 89.000 44.000 623.000 383.000 1.605.000 3.000 6.000 1.000 2.000 91.000 10.000 10.000 7.000 8.000 7.000 11.000 52.000 665.000 1.000 854.000 864.000 9.000 10.000 1.000 1.125.000 3.026.000 355.000 1.290.000 971.000 510.000 1.493.000 4.632.000 16.602.000 1562.000 4.165.000 1.779.000 1.227.000 4.708.000 4.370.000 13.760.000 1.378.000 100.613.000 3.291.000 133.653.00 150.255.000 Jumlah air bersih yang disalurkan menurut jenis konsumen Sosial Non Niaga Niaga Industri Khusus Jumlah

II. Kawasan Pantai Timur Labuhan Batu 14.000 Asahan 143.000 Simalungun 242.000 Deli Serdang 116.000 Langkat 131.000 Tanjungbalai 116.000 P. Siantar 350.000 Tebing Tinggi 134.000 Medan 5.096.000 Binjai 264.000 Jumlah II 6.606.000 Jumlah Total 7.560.000

1.258.000 280.000 3.562.000 453.000 1.414.000 123.000 875.000 228.000 4.161.000 409.000 3.942.000 301.000 13.109.000 196.000 819.000 425.000 84.210.000 10.567.000 2.991.000 35.000 116.431.000 12.657.000 127.431.000 14.262.000

53.000 75.000 128.000 138.000

Sumber : * termasuk Kabupaten/Kota yang dimekarkan Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2001

Dalam konteks struktur tata ruang, penggunaan air bersih adalah salah satu cermin skala aktifitas dalam satuan ruang, di mana terjadi penguatan fungsi ruang yang lebih besar di wilayah pantai Timur. Hal ini ditunjukkan oleh konsumsi air bersih di wilayah pantai Timur sebesar 88 % dari total konsumsi Sumatera Utara pada tahun 1995 dan meningkat menjadi 89 % pada tahun 2001. A.2. Listrik

Tenaga listrik di Sumatera Utara diproduksi di Binjai, Sibolga, Pematangsiantar, Medan, Sistem Medan, Rantau Prapat dan Padangsidimpuan. Sebagian besar tenaga listrik diproduksi oleh Sistem Medan, yaitu mencapai 5.220,86 GWH pada tahun 2001. Tabel 2.23 memberikan gambaran pertumbuhan produksi tenaga listrik selama kurun waktu tahun 1997 2001.

Tabel 2.30
Kapasitas Tenaga Listrik yang Diproduksi dan Dibeli Di Propinsi Sumatera Utara Tahun 1997-2001 Diproduksi PLN Kit.SU PLN Wil-II/SU 1997 1998 1999 2000 2001 3.692,92 4.187,88 4.412,52 4.706,69 5.220,88 2,21 1,73 1,20 0,90 0,90 Dibeli PLN Kit.SU PLN Wil-II/SU 47,08 11,96 16,22 20,72 27,90 3.352,00 3.966,74 3.880,14 4.141,74 4.411,36

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2001

Pada tahun 1995 jumlah pembangkit tenaga listrik PLN adalah sebesar 13 unit untuk tenaga air dengan daya terpasang sebesar 7,5 GWh, 186 unit pembangkit listrik tenaga diesel dengan daya terpasang sebesar 13,14 GWh, dan untuk tenaga gas dan uap terdapat 16 unit pembangkit tenaga listrik dengan daya terpasang sebesar 1.201,01 Mw. Pembangkit tenaga listrik dengan tenaga air dan tenaga uap, gas, dan gas uap seluruhnya berasal dari cabang Sektor Glugur dan Sektor Belawan. Sedangkan untuk tenaga diesel tersebar di lima cabang, yaitu 41 unit di Sektor Glugur dan Sektor Belawan, 50 unit di Binjai, 54 unit di Pematangsiantar, 30 unit di Sibolga, dan 11 unit di Padangsidimpuan. Tabel 2.31 memberi gambaran jenis aktifitas yang merupakan pengguna terbesar dari pelayanan listrik, yaitu kegiatan industri diikuti oleh rumah tangga. Sementara itu signifikansi peran Kota Medan sebagai pusat utama dari wilayah pantai Timur Sumatera Utara didukung pula oleh tingkat penggunaan listrik yang jauh melebihi bagian wilayah yang lain, yaitu sekitar 64% dari total daya yang digunakan.

Tabel 2.31
Nilai Penjualan Energi Listrik PLN di Propinsi Sumatera Utara Tahun 1997-2001( Milyar rupiah) Uraian 1997 A. Pelanggan 1. Rumah tangga 2. Komersil 3. Industri 4. Umum B. Cabang 1. Medan 429.89 177.23 80.27 210.09 31.90 499.48 320.60 1998 499.48 226.31 106.27 341.20 37.56 711.33 392.36 Tahun 1999 711.34 239.28 203.78 295.36 53.09 791.50 443.26 2000 791.50 290.03 152.55 496.59 83.93 1023.1 631.21 2001 1285.30 378.03 198.71 569.68 111.88 1258.30 801.55

2. Pematangsiantar 3. Binjai 4. Sibolga 5. P.Sidempuan 6. R. Prapat

63.52 56.15 26.54 9.69 22.99

169.80 72.98 31.88 12.64 31.68

185.14 85.05 26.83 14.94 36.29

171.31 118.83 34.40 18.75 48.61

156.50 172.18 41.35 24.57 62.16

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2001

2.3

Potensi Pemanfaatan Ruang

Berbagai potensi Propinsi Sumatera Utara yang dapat menggerakkan perkembangan dan pertumbuhan wilayah meliputi : 1 Potensi sumberdaya alam Secara tradisional lahan pertanian merupakan sumberdaya alam terbesar di Propinsi Sumatera Utara. Berbagai produk pertanian telah memberikan sumbangan yang besar terhadap pasokan bagi pasar domestik Sumatera Utara, seperti produk pertanian tanaman pangan. Hasil analisis Input-Output Sumatera Utara juga memperlihatkan bahwa produk perkebunan dan kehutanan seperti kayu olahan, kayu lapis, kelapa sawit, disamping produk perikanan seperti udang dan ikan, telah memberikan kontribusi yang besar terhadap ekspor. Analisis tersebut juga memperlihatkan bahwa hasil sumberdaya pertambangan memasok separuh kebutuhan produk antara. Artinya, sumberdaya alam yang dimanfaatkan telah terdistribusi untuk memenuhi permintaan pasar domestik maupun ekspor. Yang perlu dipertimbangkan adalah permintaan tersebut dapat meningkatkan nilai tambah secara internal di Sumatera Utara, sehingga dapat memperluas sumber pendapatan masyarakat. Perkembangan ekspor-impor menunjukkan nilai yang menurun sejak tahun 1998, namun tetap mencetak surplus yang signifikan lebih dari 2 milyar Dollar Amerika. Surplus tersebut dibentuk oleh pemanfaatan sumberdaya alam Sumatera Utara, seperti hasil perkebunan dan kehutanan. Artinya, dalam kondisi krisis, propinsi Sumatera Utara masih mampu bertahan melalui sumberdaya alamnya. Dalam kondisi tersebut, dimana impor barang modal masih menghadapi kendala sehingga sektor sekunder dan tersier belum mampu menggerakkan aktifitas ekonomi, maka perluasan pemanfaatan sumberdaya alam untuk komoditi yang lebih beragam dapat menjadi potensi untuk membuka kesempatan kerja, seperti perikanan dan pertambangan. Potensi sumberdaya alam juga meliputi sektor pariwisata yang belum seluruhnya dikembangkan secara optimal, seperti kawasan Pulau Nias bagian Barat, agrowisata, dan ekowisata. 2 Potensi sektor ekonomi rakyat Dalam kondisi laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara menurun hingga mencapai -11,7%, sektor pertanian mencatat pertumbuhan dengan laju positif. Sektor pertanian sendiri pada kenyataannya didukung oleh pertanian rakyat. Namun aktifitas sektor pertanian rakyat belum mampu menggerakkan proses pertambahan nilai untuk memperluas sumber pendapatan masyarakat secara lokal, sehingga masalah yang dihadapi adalah kondisi tak berkaitan (mismatch) antara sektor tersebut dengan sektor sekunder yang cenderung memperoleh bahan bakunya dari luar Sumatera Utara. Kebutuhan yang utama adalah terbentuknya tata kaitan (linkage) antara sektor pertanian rakyat dengan sektor sekunder (agroindustri) dan tersier (agrobisnis) yang saling menguntungkan. Sektor ekonomi rakyat memperlihatkan kondisi bahwa komoditi perkebunan rakyat telah mengambil peran yang sangat penting, dimana untuk luas dan produksi beberapa komoditi penting bahkan melampaui perkebunan milik PTP/PNP maupun swasta. 3 Posisi geografis Propinsi Sumatera Utara terletak pada posisi geografis yang strategis, baik dalam konstelasi internasional, nasional, maupun regional. Posisi terhadap Thailand dan Malaysia merupakan potensi

pengambilan peran dalam kerjasama ekonomi regional IMT-GT. Demikian juga posisi terhadap propinsi lainnya di Sumatera bagian Utara, dimana Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, dan Riau saling berkaitan dengan Sumatera Utara baik secara ekonomi maupun fisik, dimana Sumatera Utara berperan sentral. Dalam kaitan dengan disparitas perkembangan secara internal di Sumatera Utara antara kawasan pantai Barat dengan pantai Timur, posisi geografis tersebut merupakan potensi bagi pengembangan bagian wilayah propinsi dengan memanfaatkan keterhubungan propinsi terdekat.

2.4
2.4.1

Peluang dan Tantangan Pengembangan Propinsi


Peluang

Liberalisasi perdagangan dalam kerangka World Trade Organization (WTO) dan ASEAN Free Trade Arrangement (AFTA) merupakan peluang bagi Sumatera Utara untuk mengembangkan komoditas pertanian dan industri dengan pasar internasional. Kemudahan transfer barang dan jasa juga memungkinkan propinsi ini untuk menangkap kesempatan relokasi industri, terutama dari negara tetangga. Lebih jauh, kerangka IMT-GT juga menumbuhkan peluang untuk menciptakan kegiatan ekonomi yang komplementer dengan bagian wilayah negara tetangga. Pasar internasional di luar AFTA juga belum sepenuhnya dimanfaatkan. Perhubungan laut internasional di Selat Malaka menciptakan peluang bagi Sumatera Utara untuk terlibat dalam transfer barang yang lebih luas melalui peningkatan fungsi Pelabuhan Belawan. Dari aspek politik dan perundangan, desentralisasi yang lebih besar melalui UU nomor 22 Tahun 1999 dan UU nomor 25 Tahun 1999 memberikan peluang lebih besar bagi Sumatera Utara untuk mengembangkan wilayahnya secara optimal sesuai dengan potensinya. Demokratisasi akan menjamin terakomodasikannya aspirasi masyarakat dalam pembangunan dan berlangsungnya fungsi kontrol pembangunan agar lebih efektif dan efisien.
2.4.2 Tantangan

Keterkaitan dengan pasar internasional maupun liberalisasi perdagangan menimbulkan tantangan dalam hal pemenuhan standar mutu, buruh, dan lingkungan. Berbagai standar tersebut bukan merupakan kriteria yang sederhana untuk diimplementasikan di Sumatera Utara. Selain itu, pasar internasional juga sangat kompetitif serta berfluktuasi. Gejolak pasar dapat mengganggu kontinuitas produksi yang berimplikasi pada ekonomi wilayah. Kemungkinan membanjirnya produk luar negeri ke Propinsi Sumatera Utara setelah diberlakukannya liberalisasi perdagangan akan menumbuhkan persaingan yang ketat bagi pelaku ekonomi dalam negeri. Tertekannya produksi setempat akan berimplikasi negatif bagi perekonomian wilayah Sumatera Utara. Kemungkinan dibangunnya terusan di Tanah Genting Kra akan mengurangi lalu lintas internasional yang melalui Selat Malaka, sehingga berpotensi menurunkan fungsi, kegiatan, dan prospek Pelabuhan Belawan sebagai pintu akses internasional. Secara politik dan perundangan, desentralisasi potensial menimbulkan kompetisi inter maupun intra wilayah. Kompetisi terutama akan terjadi dengan wilayah lain yang memiliki basis ekonomi sejenis. Kemungkinan munculnya kompetisi dan egoisme regional di dalam Propinsi Sumatera Utara sendiri juga potensial untuk menimbulkan ketidakefisienan dan ketidakadilan.

Dari sisi sumberdaya alam, penjarahan hutan potensial menimbulkan gangguan lingkungan dan kepastian hukum, sehingga dalam jangka panjang akan berpengaruh terhadap kinerja ekonomi Propinsi Sumatera Utara.

KONSEP PENGEMBANGAN TATA RUANG WILAYAH PROPINSI SUMATERA UTARA

3.1
3.1.1

Visi dan Misi


Visi
Visi pembangunan Propinsi Sumatera Utara dalam jangka panjang adalah : Terwujudnya masyarakat Sumatera Utara yang Beriman, Maju, Mandiri, Sejahtera dan Menjunjung Tinggi Supremasi Hukum berdasarkan Pancasila dalam Kebhinekaan

3.1.2

Misi

Untuk mewujudkan visi pembangunan Propinsi Sumatera Utara, maka RTRWP Sumatera Utara tahun 2003-2018 berorientasi untuk melaksanakan misi sebagai berikut : Misi 1 Misi 2 Misi 3 Misi 4 Misi 5 : : : : : meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada tuhan yang Maha Esa sebagai sumber moral dan akhlak mulia. meningkatkan kualitas aparatur pemerintah daerah yang menuju ke pemerintahan yang baik membangun dan mengembangkan ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada pertanian, agroindustri, pariwisata dan sektor-sektor unggulan serta mengembangkan sumber daya alam yang berwawasan lingkungan. mengembangkan kualitas masyarakat dan sumber daya manusia yang beriman, bertaqwa, cerdas, trampil, kreatif, inivatif serta memiliki etos kerja yang tinggi. meningkatkan kesetaraan, kebersamaan dan rasa persatuan dalam masyarakat.

3.2

Tujuan Pengembangan Propinsi Sumatera Utara


Dengan mempertimbangkan permasalahan dan potensi dalam penataan ruang Propinsi

Sumatera Utara, maka tujuan RTRWP adalah : (a) Mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera, berbudaya dan berkeadilan.

(b) Mempersiapkan dukungan ruang bagi pertambahan penduduk selama 15 tahun ke depan melalui alokasi ruang dengan mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan, struktur kependudukan yang terbentuk, serta kecenderungan distribusi penduduk dalam sektor ekonomi. Pertambahan penduduk akan meningkatkan tekanan penduduk di Propinsi Sumatera Utara terutama terhadap sumberdaya alam, sumberdaya binaan, dan kawasan lindung. (c) Mewujudkan pemanfaatan ruang wilayah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. Dalam memanfaatkan SDA, ruang sebagai wadah beraktivitas dimanfaatkan seoptimal mungkin dengan tetap menjaga keberdayaan fisik ruang sehingga memiliki nilai kelestarian dan keberlanjutan tanpa mengabaikan aspek lingkungan. (d) Menanggulangi masalah kemiskinan melalui perkuatan dan pemberdayaan masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam setempat dan penciptaan tata kaitan yang terpadu dalam proses penambahan nilai serta perluasan efek ganda (multiplier effect) pemanfaatan sumberdaya alam. Semakin besarnya penduduk yang tergolong miskin membutuhkan ruang, sumberdaya, dan modal untuk mengentaskan tingkat kesejahteraannya untuk lebih baik, menjadikan penduduk lokal mampu berada pada kondisi critical mass untuk menggerakkan aktifitas. (e) Mengurangi disparitas perkembangan antar bagian wilayah Sumatera Utara melalui perkuatan setiap bagian wilayah sesuai potensi dan kendala perkembangan yang dihadapi masing-masing terutama antara wilayah pantai Timur dengan wilayah pantai Barat serta dataran tinggi di wilayah tengah Sumatera Utara. Upaya ini tidak dimaksudkan untuk pencapaian tingkat kemajuan yang sama diantara seluruh bagian wilayah Propinsi Sumatera Utara, melainkan ditujukan untuk memperkuat seluruh bagian wilayah secara proporsional terhadap sumberdaya yang dimilikinya. Terkait dengan tujuan ini adalah identifikasi potensi sumberdaya lokal yang dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan proses penambahan nilai yang dapat diupayakan dalam skala ruang yang terjangkau. Dalam hal ini peran prasarana dan sarana produksi dan distribusi menjadi signifikan, dimana upaya pengadaannya diantaranya menjadi tanggungjawab Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Utara. Pengurangan disparitas pengembangan tidak dimaksudkan sebagai penetapan policy of no policy terhadap sektor modern yang telah berkembang terutama di kawasan perkotaan Mebidang seperti sektor industri dan jasa, namun prioritas perlu ditajamkan pada sumberdaya lokal yang berperan sebagai komplementaritas terhadap sektor modern tersebut. (f) Mendorong kemampuan bagian wilayah propinsi untuk memenuhi kebutuhan perkembangan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam, sumberdaya binaan, dan sumberdaya manusianya secara berkelanjutan. Keragaman potensi lokal perlu ditumbuhkan sebagai modal pembangunan yang bersifat lebih mandiri tanpa harus menunggu tarikan dari sektor atau wilayah yang lebih maju. (g) Mendorong pertumbuhan sektor primer dalam memperkuat basis perekonomian rakyat. Sektor pertanian di Propinsi Sumatera Utara memperoleh dukungan yang besar dari pertanian rakyat, namun nilai tambah yang terbentuk tidak selalu mengalir kembali kepada rakyat setempat. Tujuan ini terkait dengan perkuatan sektor-sektor primer sebagai basis sektor riil yang hingga saat ini dapat diupayakan lebih optimal melalui peningkatan daya dukung lingkungan serta inovasi teknologi. Berbasis sektor primer, maka dorongan tumbuhnya sektor primer dan tersier sebagai rangkaian proses penambahan nilai merupakan inisiatif untuk menciptakan tata kaitan ke depan (forward linkage) yang kuat dan tangguh menghadapi gejolak ekonomi dan moneter. Magnitude perkembangan sektor sekunder dan tersier ditumbuhkan sesuai dengan skala kebutuhan perkembangan sektor primer.

(h) Mempertahankan dan meningkatkan kelestarian lingkungan melalui kawasan dan fungsi lindung bagi Propinsi Sumatera Utara. Kebijaksanaan pembangunan yang berkelanjutan di Propinsi Sumatera Utara menjadi salah satu perhatian yang utama sesuai dengan kondisi fisik wilayah serta peningkatan kesadaran masyarakat akan pelestarian lingkungan. Beberapa persoalan lingkungan yang dihadapi Propinsi Sumatera Utara menjadi entry untuk mengimplementasikan rencana pengelolaan kawasan lindung secara konsisten dan lebih realistis. Oleh karena fungsi lindung merupakan determinan dalam pemanfaatan ruang wilayah, maka pengembangan dan pengelolaan kawasan budidaya akan dilakukan setelah kesepakatan para pihak mengenai delineasi kawasan berfungsi lindung tercapai.

3.3
3.3.1

Kebijakan Pengembangan Tata Ruang


Kebijakan Pengembangan Tata Ruang Wilayah Nasional

Beberapa kebijakan pengembangan tata ruang yang ditetapkan pada tingkat nasional dalam RTRW Nasional dipertimbangkan dalam RTRWP Sumatera Utara mencakup : a) Menetapkan Medan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN), yaitu sebagai pusat yang mendorong kawasan sekitarnya untuk mengembangkan sektor unggulan industri, perkebunan, pertanian tanaman pangan, pariwisata, dan perikanan; sebagai pintu gerbang nasional dan internasional; sebagai simpul transportasi nasional melalui Pelabuhan Belawan dan Bandara Polonia, sebagai simpul distribusi dan kolektor untuk barang dan jasa; dan pusat jasa pemerintahan. Menetapkan Pematangsiantar, Rantau Prapat, Kisaran, dan Sibolga sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) untuk mendorong kawasan andalan di sekitarnya. Menetapkan kawasan andalan di sekitar PKW untuk pengembangan sektor unggulan pertanian, perkebunan, pariwisata, dan industri di Kawasan Pematangsiantar, Kawasan Rantau Prapat, Kawasan Tapanuli, Kawasan Danau Toba, dan Kawasan Nias. Menetapkan kawasan perkotaan Medan - Binjai - Deli Serdang (Mebidang) sebagai kawasan tertentu yang mempunyai nilai strategis untuk diprioritaskan pengembangannya dalam konstelasi IMT-GT. Menetapkan Pelabuhan Belawan sebagai pelabuhan utama, pelabuhan Sibolga dan Kuala Tanjung sebagai pelabuhan pengumpan regional, dan pelabuhan Gunung Sitoli dan Teluk Nibung sebagai pelabuhan pengumpan lokal. Bandar Udara Polonia ditetapkan sebagai pusat penyebaran primer.

b) c)

d) e)

f)

3.3.2

Kebijakan Pengembangan Tata Ruang Propinsi Sumatera Utara

Dengan mempertimbangkan visi, misi, dan tujuan pengembangan tata ruang Propinsi Sumatera utara, serta ketetapan dalam RTRW Nasional, maka kebijakan pengembangan tata ruang Propinsi Sumatera Utara ditetapkan sebagai berikut : a) Memperkuat basis perekonomian rakyat Pengalokasian ruang diarahkan untuk pengembangan aktifitas yang bertumpu pada kemampuan lokal, baik potensi sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia. b) Menghormati hak keperdataan masyarakat.

Hak keperdataan masyarakat dimaksud adalah hak-hak sebagimana diatur dalam UU Pokok Agraria (UU No. 5 Tahun 1960); Hak Milik Adat, Hak-Hak Masyarakat Hukum Adat atau Hak Ulayat sebagaimana diatur dalam pasal 3 UU No. 5 Tahun 1960 dan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No. 5 Tahun 1999, maupun Hak-Hak Keperdataan lainnya sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang sudah ada sebelum RTRW Propinsi Sumatera Utara ini ditetapkan, baik yang tergambar dalam Peta RTRW Propinsi Sumatera Utara maupun tidak tergambar. Menghormati hak-hak keperdataan artinya apabila pengukuhan kawasan RTRW Propinsi Sumatera Utara dilaksanakan sehingga terjadi pengambil-alihan hak-hak atas tanah masyarakat, maka masyarakat harus mendapat ganti rugi yang layak sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. c) Memprioritaskan pengembangan satuan ruang pada wilayah yang tingkat perkembangannya relatif rendah. Perkembangan diarahkan untuk mendistribusikan prasarana dan sarana ekonomi dan sosial untuk membentuk tata niaga yang lebih terjangkau bagi setiap satuan ruang pengembangan.

d)

Mempertahankan kegiatan budidaya yang telah ada hak di atasnya. Mempertahankan kegiatan budidaya artinya semua kegiatan budidaya yang ada sebelum RTRW Propinsi Sumatera Utara ini ditetapkan, harus dipertahankan sepanjang kegiatan budidaya tersebut mendukung fungsi tersebut. Mengoptimalkan penataan dan pengendalian kawasan lindung sesuai dengan fungsinya. Kebijakan ini memberikan perhatian pada kawasan lindung dalam menjalankan fungsi melindungi daerah bawahannya; melindungi keanekaragaman hayati, ekosistem, dan keunikan alam; melindungi kawasan pesisir dan pantai; serta melindungi masyarakat dan kegiatannya dari kemungkinan bencana alam. Mengembangkan Medan dan Sibolga sebagai pusat pelayanan primer untuk mengakomodasikan fungsi perkembangan Sumatera Utara dalam skala kepentingan internasional, nasional, dan regional.

e)

f)

g) Mengembangkan pusat-pusat pelayanan sekunder sebagai penggerak perkembangan wilayah. h) Mengembangkan pusat-pusat pelayanan lokal yang sebagian telah ditetapkan dalam RTRW Nasional untuk mendorong tumbuhnya sektor sekunder dan tersier bagi pengolahan komoditi dan sumberdaya lokal untuk menciptakan nilai tambah. i) j) Kawasan perkotaan Mebidang ditetapkan sebagai kawasan tertentu pada lingkup nasional dan menetapkan kawasan tertentu lainnya dalam lingkup Sumatera Utara. Mengembangkan kawasan andalan RTRWP Sumatera Utara 2003-2018 merencanakan Kawasan Andalan baik kawasan darat maupun kawasan laut yang terkait. Beberapa kawasan andalan darat yaitu Kawasan Medan dan sekitarnya, Kawasan Rantau Prapat-Kisaran dan sekitarnya, Kawasan Tapanuli dan sekitarnya, Kawasan Danau Toba dan sekitarnya, dan Kawasan Nias dan sekitarnya, dan kawasan Pematangsiantar dan sekitarnya. Sedangkan Kawasan Laut yang terkait yaitu Kawasan Laut Lhokseumawe, Medan dan sekitarnya, Kawasan Laut Selat Malaka dan sekitarnya, dan Kawasan Laut Nias dan sekitarnya.

k) Bandar Udara Polonia pada tahun rencana dipersiapkan untuk dipindahkan ke Kuala Namu Kabupaten Deli Serdang dengan fungsi sebagai pusat penyebaran primer.

l)

Mengakomodasikan berbagai ketidaksesuaian kepentingan dalam pemanfaatan ruang di Propinsi Sumatera Utara, seperti belum tercapainya kinerja implementasi paduserasi atau terjadinya konflik pemanfaatan lahan pada beberapa lokasi, RTRWP Sumatera Utara menetapkan kawasan yang pemanfaatan ruangnya bermasalah. Untuk memberikan kepastian pemanfaatan ruang yang bermasalah atau terhadap kawasan hutan yang fungsi dan peruntukannya tidak sesuai dengan yang direncanakan dalam tata ruang, maka perlu dilakukan proses identifikasi dan penetapan kawasannya untuk mengakomodasikan berbagai ketidaksesuaian kepentingan dalam pemanfaatan ruang. Setelah dilakukan penetapan fungsi dan peruntukannya dalam masa rencana RTRWP ini, maka penetapannya dapat diakomodasikan dalam Peninjauan Kembali Tata Ruang propinsi ini.

3.4
3.4.1

Konsep Pengembangan
Konsep Pengembangan Tata Ruang

Konsep pengembangan tata ruang Propinsi Sumatera Utara 2003-2018 dibangun berdasarkan evaluasi kinerja RTRWP Sumatera Utara 1993 serta perkembangan dan perubahan yang berlangsung dewasa ini. Dalam jangka panjang, pendekatan yang dipilih dalam pengembangan dan pemanfaatan ruang Propinsi Sumatera Utara adalah pendekatan keseimbangan pertumbuhan proporsional (balance growth) dalam posisi yang berbeda dengan pendekatan efek penetesan ke bawah (trickling down effect). Pendekatan ini tidak mengabaikan perkembangan dan pertumbuhan yang telah terjadi pada beberapa pusat, oleh karena setiap bagian wilayah Propinsi pada hakekatnya didorong untuk tumbuh dengan memberdayakan potensi masing-masing. Pendekatan efek penetesan oleh pusat-pusat utama selama ini tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan, dimana perkembangan yang pesat di pusat-pusat pertumbuhan utama terutama kota Medan yang cenderung dibangun oleh pertumbuhan sektor sekunder dan tersier nyatanya tidak selalu memiliki tata kaitan dengan sektor primer yang dimiliki wilayah Propinsi Sumatera Utara. Dalam jangka menengah, konsep ini belum didukung oleh tata kaitan ke depan ( forward linkage) dan ke belakang (backward linkage) yang kuat antara sektor primer, sekunder, dan tersier, dimana masing-masing sektor memiliki orientasi yang berbeda. Melalui pendekatan keseimbangan pertumbuhan yang proporsional, yang dituju adalah terciptanya proses tata kaitan hulu-hilir yang kuat dalam setiap satuan ruang pengembangan, sehingga mampu mendorong tumbuhnya keterkaitan antara sektor primer di hulu dengan sektor sekunder dan tersier di hilir sebagai proses pertambahan nilai yang berlangsung secara setempat. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa sektor primer kurang memiliki akses terhadap proses pertambahan nilai melalui sektor-sektor sekunder yang ada, sedangkan sektor sekunder yang ada memperoleh dukungan bahan baku dari luar Sumatera Utara. Apabila dalam jangka panjang terjadi pertumbuhan yang signifikan pada sektor sekunder dan tersier di pusat-pusat pertumbuhan yang ada yang ternyata tidak berbasis pada sumberdaya setempat, maka sektor-sektor tersebut pada hakekatnya merupakan sektor yang berperan untuk memperkuat kontribusi Sumatera Utara dalam lingkup internasional dan nasional serta meningkatkan surplus pendapatan untuk tabungan pembangunan, sebagai komplementaritas bagi sektor-sektor yang bertumpu pada sumberdaya setempat. Sektor ini tetap perlu diupayakan menjadi lebih kuat dan tidak rentan oleh perubahan eksternal. Sedangkan orientasi yang diprioritaskan untuk 15 tahun yang akan datang adalah pengembangan ruang yang terdesentralisasi pada sumberdaya alam setempat (decentralized territorial approach). Melalui konsep pengembangan tata ruang tersebut diharapkan terselenggara kegiatan pembangunan yang berkelanjutan di Propinsi Sumatera Utara. Penetapan konsep pengembangan tata ruang dilandasi pertimbangan berikut :

(a) Kondisi geografis Sumatera Utara relatif luas dan memiliki topografi dan morfologi yang tidak homogen, sehingga faktor jarak dan aksesibilitas tidak selalu dapat mendorong terbentuknya satuan ruang yang efisien dalam tata kaitan masukan (input) dan keluaran (output) sektor produksi. (b) Kondisi ekologis wilayah Sumatera Utara mensyaratkan upaya konservasi yang ketat untuk dapat mendukung usaha-usaha produksi yang berkelanjutan di daerah-daerah bawahannya. Daur ekologis yang perlu dilestarikan dalam setiap satuan ekosistem tidak memungkinkan untuk mengembangkan dan memperluas usaha budidaya secara terus menerus. Oleh karenanya pengembangan budidaya untuk membangun tata-kaitan antar-sektor maupun antar-wilayah perlu mempertimbangkan fungsi ekologis dari lingkungan setempat. (c) Perkembangan perekonomian nasional dalam dekade terakhir sebelum terjadinya krisis ekonomi telah mendorong perkembangan wilayah nasional mengikuti kecenderungan pola pembentukan nilai tambah pada sektor produksi tanpa mempertimbangkan proses pengendalian pembangunan wilayah, daya dukung lingkungan, dan potensi setempat secara riil. Dengan demikian, konsep keseimbangan pertumbuhan yang proporsional akan mendorong : (a) Desentralisasi perkembangan pada setiap bagian wilayah Sumatera Utara dengan mempertimbangkan kondisi setempat, yakni memperkuat dan memberdayakan potensi sumberdaya alam, sumberdaya binaan, dan sumberdaya manusia setempat, serta kendala setiap bagian wilayah. (b) Menciptakan hirarki fungsional yang secara vertikal relatif lebih singkat sekaligus memperluas keterkaitan horizontal di dalam maupun antar satuan ruang pengembangan. (c) Membuka peluang yang luas terhadap kegiatan produksi hulu yang terutama diselenggarakan oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi lokal yang ada dalam skala yang terjangkau.

3.4.2

Asas Perencanaan Tata Ruang


RTRWP Sumatera Utara 2003-2018 berasaskan :

a Demokratisasi Ruang Penataan ruang diarahkan untuk menciptakan kemudahan yang proporsional untuk memanfaatkan fasilitas dan pelayanan sosial ekonomi serta pembangunan akses terhadap sumberdaya alam bagi seluruh lapisan masyarakat dan sektor pembangunan. b Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Dalam proses penataan ruang perlu diperhatikan aspek kesesuaian antara tuntutan kegiatan usaha dengan kemampuan dan daya dukung wilayah. Dengan mengacu pada asas kesesuaian, maka diharapkan dapat dicapai optimasi pemanfaatan ruang dan dapat dihindari konflik antar sektor dalam pemanfaatan ruang. Kesesuaian tersebut meliputi kesesuaian ekologis dan kesesuaian sosioekonomis. c Kesesuaian Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Pemanfaatan ruang diartikan sebagai tindakan pemberian fungsi budidaya tertentu pada suatu wilayah dengan mempertimbangkan fungsi lindung wilayah yang bersangkutan. Dalam hal ini fungsi lindung ditetapkan dengan tujuan menjaga kelestarian wilayah, yang juga berarti menjamin keberlanjutan kegiatan pembangunan. d Sinergi Wilayah Wilayah perencanaan di samping merupakan sistem permukiman dari satuan-satuan yang secara fungsional berbeda, juga dipandang sebagai suatu sistem jaringan interaksi sosial, ekonomi, dan fisik. Proses interaksi ini dibentuk oleh hubungan keterkaitan di antara satuan-satuan permukiman yang mempunyai peranan penting dalam pembangunan regional.

3.4.3

Skenario Pengembangan

Untuk menuju visi, misi, dan tujuan pengembangan ruang Propinsi Sumatera Utara, maka skenario pengembangan ke depan dibangun atas indikasi pertumbuhan ekonomi, termasuk pertumbuhan yang mampu dicapai pada masa lalu. Skenario pertumbuhan perekonomian ditujukan untuk memperkirakan kebutuhan sumberdaya, investasi, tenaga kerja, kontribusi pelaku ekonomi, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat yang diperlukan untuk mencapai target pembangunan serta implikasinya terhadap pembentukan pola ruang Sumatera Utara. Ketidakpastian di masa mendatang yang bersifat eksternal diantisipasi melalui skenario yang mempertimbangkan prinsip optimasi potensi wilayah, efisiensi, unsur pemerataan, serta pendekatan ekonomi kerakyatan. Skenario perkembangan perekonomian Sumatera Utara ditetapkan melalui simulasi untuk mendekati permasalahan ekonomi di masa yang akan datang dengan tetap berprinsip sebagai upaya perencanaan publik, yakni mengoptimalkan potensi wilayah, efisiensi, dan dalam kondisi tertentu mempertimbangkan unsur pemerataan. Pertumbuhan perekonomian Propinsi Sumatera Utara diperkirakan menurut skenario pertumbuhan ekonomi moderat. Krisis perekonomian yang terjadi sejak 1997 mengakibatkan penurunan laju pertumbuhan perekonomian yang tajam, sehingga membutuhkan upaya khusus untuk dapat menggerakkan kembali aktifitas perekonomian wilayah. Pemulihan perekonomian pada wilayah dengan dominasi kegiatan pertanian diprakirakan akan berlangsung lebih cepat dibandingkan wilayah yang berbasis sektor sekunder dan tersier. Membaiknya situasi politik dalam negeri juga akan mendorong aktifitas pelaku ekonomi,

sehingga akan berpengaruh terhadap pulihnya kondisi perekonomian yang pada gilirannya akan berpengaruh langsung terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat.

A.

Pertumbuhan Ekonomi

Berdasarkan skenario pertumbuhan moderat, laju pertumbuhan perekonomian pada 15 tahun yang akan datang diperkirakan sebesar 5 % pada awal tahun rencana dan meningkat menjadi 8,5 % pada akhir tahun rencana. Kondisi perekonomian pada tahun 2003 yang mulai membaik dengan rendahnya laju inflasi, turunnya suku bunga, dan perhatian pemerintah terhadap pengembangan sektor riil, diharapkan akan dapat menahan laju pertumbuhan negatif pada perekonomian. Pada tahap awal, tahun 2003-2005 laju pertumbuhan diperkirakan mencapai 5 6 % dengan pertimbangan pulihnya kondisi sektor pertanian yang dapat berlangsung lebih singkat dibandingkan dengan sektor lainnya. Laju pertumbuhan 5 % merupakan representasi pertumbuhan sektor pertanian pada tahun 2003, yakni awal terjadinya krisis perekonomian. Untuk mencapai laju tersebut, peran sektor primer menjadi penting, terutama sektor pertanian. Dengan mengutamakan pengembangan pertanian pada tahap awal, pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung walaupun berjalan relatif lamban. Kondisi krisis ekonomi menghendaki dilakukannya prioritas pada masalah pangan, termasuk pemerataan dalam distribusi aktifitas penghasil pendapatan. Pemulihan perekonomian melalui sektor primer tersebut didasarkan kenyataan bahwa pertanian merupakan sektor paling siap untuk bertahan dan tumbuh, bahkan dapat mengambil peluang untuk memanfaatkan kenaikan nilai tukar rupiah. Target pertumbuhan di atas mempertimbangkan pula tumbuhnya minat bisnis di bidang pertanian, tumbuhnya kegiatan pertanian masyarakat mandiri yang berorientasi ekspor, kebijaksanaan Pemerintah yang lebih mendukung bagi pengembangan sektor pertanian, tidak terjadi kemarau yang panjang, dan tidak terjadi serangan hama yang mengganggu dalam dua tahun awal perencanaan. Sektor industri yang pada waktu lampau dipacu pertumbuhannya, pada awal pemulihan perekonomian tidak berperan sebagai tumpuan utama. Perencanaan lebih mengutamakan pertumbuhan industri pengolahan hasil pertanian yang diarahkan untuk berlokasi di sekitar bahan baku untuk mengurangi biaya produksi. Pada tahap ini pengurangan faktor jarak mulai diupayakan melalui pembangunan feederroad. Sektor utama pendukung pertumbuhan perekonomian pada tahap awal berorientasi pada sektor basis seperti pertanian, pertambangan, dan sumberdaya pesisir dan kelautan, dengan memperhatikan kegiatan usaha yang diselenggarakan oleh rakyat, seperti perkebunan rakyat. Pengembangan pertanian dengan konsep back to basic dalam rangka mempertahankan pertanian tanaman pangan diupayakan untuk memenuhi swasembada dan ketahanan pangan. Pada tahap kedua, tahun 2006-2010 pertumbuhan perekonomian mulai diupayakan melalui sektor industri, terutama industri pengolahan. Pada tahap ini, pertumbuhan perekonomian direncanakan mencapai laju sekitar 7 % per tahun. Dalam periode ini, sektor sekunder diharapkan mulai berperan dalam menggerakkan laju pertumbuhan, terutama yang berbasis sektor primer dan terkait dalam proses penambahan nilai sumberdaya alam yang dimiliki oleh setiap bagian wilayah Propinsi Sumatera Utara. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa pada era industrialisasi, perekonomian nasional mampu tumbuh dengan laju sekitar 7 % pertahun. Sektor perdagangan dipacu perkembangannya melalui pembangunan prasarana perhubungan dan pemasaran untuk mendukung kegiatan sektor pertanian. Berdasarkan hasil analisis I-O Sumatera Utara pada tahun 1995 terdapat 6 (enam) sektor kunci yang memiliki nilai tambah yang tinggi serta nilai output yang juga tinggi, yaitu perdagangan, pertanian kelapa sawit, angkutan jalan raya, industri mesin dan perlengkapannya, industri minyak makan, serta pemerintahan dan pertahanan. Pada tahap selanjutnya yaitu periode 2011-2018, dengan mengandalkan perkembangan pada kemajuan sektor pertanian sebagai sektor basis dan industri yang dianggap memiliki multiplier effect yang lebih besar. Pada empat tahun pertama tahap ini, perekonomian tumbuh dengan laju 7 % per tahun, pada empat tahun selanjutnya tumbuh dengan laju 7,5 % per tahun, dan pada akhir tahun perencanaan tumbuh

dengan laju 8,5 % per tahun. Laju pertumbuhan ini ditetapkan berdasarkan tingkat pertumbuhan yang dapat dicapai Propinsi Sumatera Utara pada kurun waktu sebelum terjadinya krisis perekonomian, yaitu dalam perioda 1983 - 1996. Perkembangan laju pertumbuhan perekonomian pada masa mendatang diskenariokan sebagaimana tertera pada gambar 3.1.

Laju pertumbuhan di atas dipertimbangkan terhadap kemampuan tumbuh sektor-sektor pembentuk PDRB Propinsi Sumatera Utara sebagaimana tertera pada tabel 3.1. Perkembangan perekonomian Propinsi Sumatera Utara dibangun oleh pergeseran peran secara bertahap dari sektor primer menuju sektor sekunder dan tersier yakni sejak perioda 2003-2005, 2006-2010, dan 2011-2015. Pada akhir tahun rencana tahun 2018, nilai PDRB direncanakan sebesar Rp 75.158.585,29 milyar atau tiga kali lipat lebih tinggi dari posisi tahun 2001 yang dibentuk oleh kontribusi sektor pertanian dan industri yang lebih berimbang

Gambar 3.1 Skenario Laju Pertumbuhan PDRB Propinsi Sumatera Utara 2003-2018
Laju Pertumbuhan (%)

15 10 5 0 -5 1995 1996 1997 1998 2000 2003 2005 2010 2018 -10 -15 Laju Pertumbuhan Tahun

Sumber : Hasil Analisis

Tabel 3.1 Perkiraan Perolehan PDRB Atas Dasar Harga Konstan Propinsi Sumatera Utara Tahun 2003- 2018 (Milyar Rupiah) Lapangan Usaha 2001 7.749.604,24 309.769,6 5.391.972,63 411.761,4 2003 2006 11.338.807, 10 4.390.134, 07 7.441.777, 83 585.273, 06 2011 14.757.457, 43 6.675.198, 86 10.318.024, 96 820.845, 47 2018

Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, & Air Minum

9.934.992,64 3.274.264,67 6.171.651,87 485.260,81

21.885.309,38 11.857.155,73 16.637.815,24 1.360.387,20

Bangunan Perdagangan, Hotel, & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan Jasa Jumlah

1.067.020,26 4.257.106,33 2.155.883,37 1.687.488,09 1.880.442,00 24.911.047,92

1.011.641,91 4.760.296,30 2.415.236,14 1.625.219,78

1.328.791, 65 5.721.400, 12 2.980.401, 40 2.042.088, 65

2.008.468, 57 7.949.885, 47 4.154.679, 55 3.000.849, 28

3.505.781,90 12.680.067,32 6.876.825,58 5.153.958,63 4.260.302,16 75.158.585,29

2.122.644, 2.973.825, 1.752.948,03 77 33 28.647.705,11 34.242.601,92 47.100.698,93

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2001 Hasil Analisis

Tabel 3.2 Perkiraan Kontribusi dan Laju Pertumbuhan PDRB Menurut Lapangan Usaha Propinsi Sumatera Utara Tahun 2003-2018 (%) Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, & Air Minum Bangunan Perdagangan, Hotel, & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan Jasa Jumlah Kontribusi (%) 2003 2006 2011 2018 32,65 30,00 28,00 26,00 1,40 1,75 2,00 2,25 25,00 25,43 25,70 26,00 1,15 1,17 1,20 1,25 2,50 3,00 3,40 3,75 18,30 18,50 18,75 18,75 8,00 8,50 8,65 9,00 5,00 5,50 6,00 6,50 Laju Pertumbuhan (%) 2001 2003 2006 2011 2018 3,6 9,40 4,71 6,03 6,90 6,47 3,19 11,36 10,41 11,09 4,48 4,82 6,86 7,73 8,75 4,48 5,95 6,87 8,05 9,39 8,74 -1,73 10,45 10,23 10,65 4,01 3,94 6,73 7,79 8,50 6,71 4,01 7,80 7,88 9,36 1,92 -1,23 8,55 9,39 10,25 9,18 8,50

2001 31,11 1,24 21,64 1,65 2,48 17,09 8,65 6,77

7,55 6,00 6,15 6,30 6,50 2,26 -2,26 7,03 8,02 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 3,72 5,00 6,50 7,50

Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 2001 Hasil Analisis

B.

Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat

Pertumbuhan ekonomi akan memacu peningkatan kesempatan kerja dan tingkat kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesempatan kerja dan kesejahteraan di masa datang akan berlangsung secara bertahap. Pada tahap awal pengembangan, kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang dituju adalah pengurangan angka pengangguran, mengurangi tingkat kemiskinan, dan meningkatkan pendapatan

masyarakat. Tingkat pengangguran yang tercatat pada saat berlangsung krisis ekonomi pada tahun 1998 sebesar 8,77 % dan 17 % di tahun 2001 mengindikasikan persoalan kesempatan kerja yang serius. Pada tahap awal pengembangan perekonomian Propinsi Sumatera Utara, sektor primer akan berperan sebagai sektor andalan terutama untuk mengatasi tingkat pengangguran yang tinggi. Keterbatasan lahan yang dapat dibudidayakan untuk pertanian akan menjadi kendala dalam penyerapan tenaga kerja, oleh karenanya pengembangan sektor lainnya seperti perikanan, peternakan, dan pertambangan diharapkan dapat membantu mengurangi angka pengangguran sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat, yang pada gilirannya akan mengurangi kemiskinan di Propinsi Sumatera Utara. Pada tahap kedua 2003-2018, saat sektor sekunder dan tersier mulai tumbuh, kesempatan kerja yang tersedia menjadi semakin luas. Hal ini perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Untuk dapat menyerap tenaga kerja lokal, maka perlu disiapkan sumberdaya manusia yang memiliki kualitas daya saing yang lebih tinggi, antara lain melalui penyediaan pendidikan kejuruan yang sesuai dengan kebutuhan kegiatan setempat. Melalui skenario perkembangan tersebut, pada akhir tahun rencana diharapkan angka pengangguran menurun hingga 3 %. Berdasarkan prakiraan laju pertumbuhan di masa datang dengan skenario yang dipilih, maka perkembangan PDRB dan PDRB per kapita Propinsi Sumatera Utara diharapkan meningkat hingga sekitar 3 (tiga) kali lebih tinggi dari kondisi saat ini seperti terlihat pada tabel 3.3. Peningkatan PDRB per kapita menjadi Rp 5.340.252 hampir sama atau sedikit melampaui PDRB per kapita Kota Medan pada tahun 1998. Melalui peningkatan perekonomian tersebut, penduduk Sumatera Utara memperoleh peningkatan pendapatan yang cukup memadai. Tabel 3.3 PDRB per Kapita Propinsi Sumatera Utara Tahun 2003-2018 Tahun Jumlah PDRB (Milyar Rp.) Jumlah Penduduk (Jiwa) PDRB per Kapita (Rp.) 11.722.648 2.048.435 1.964.910 2.394.310 12.460.518 2.748.088 13.109.002 3.593.004 14.073.976 5.340.252 2001 24.911.047,92 2003 28.647.705,11 2006 34.242.601, 92 2011 47.100.698, 93 2018 75.158.585,2 9

Sumber : Sumatera Utara dalam Angka Tahun 2001 Hasil Analisis

. 3.4.4 Tahapan Pengembangan

Dalam konteks pemulihan pertumbuhan perekonomian Sumatera Utara, maka skenario pentahapan pembangunan diidentifikasi sebagai berikut : 1 Tahap Penanggulangan Krisis dan Pemulihan Ekonomi 2 Merupakan tahap pengamanan untuk jangka waktu yang relatif pendek, dalam hal ini diperkirakan selama 2 - 4 tahun pertama sejak terjadinya krisis. Laju pertumbuhan ekonomi

ditingkatkan dari laju nihil 0 % atau kondisi pertumbuhan negatif hingga mencapai 5 % pada tahun 2003. 2 3 Dalam tahap ini diutamakan penanganan masalah pengangguran melalui kegiatan ekonomi yang bersifat padat karya. Mempertahankan dan memperkuat sektor-sektor yang mampu bertahan dalam masa krisis, seperti sektor pertanian yang mampu bertahan dengan pertumbuhan positif, yaitu sebesar 1,26% dengan kontribusi semakin meningkat terhadap pembentukan PDRB Sumatera Utara, yaitu sekitar 30% pada tahun 1998 dan untuk tahun 2001 sebesar 3,6% pertumbuhan dan 30,05 % untuk kontribusi PDRB. Sektor pertanian merupakan sektor primer yang dapat dimanfaatkan dalam jangka pendek untuk menyerap tenaga kerja. Dengan ditunjang kondisi pertumbuhan sektor pertanian yang relatif stabil sebelum masa krisis dan pertumbuhan yang dapat bertahan positif selama berlangsungnya krisis ekonomi, maka penguatan sektor pertanian untuk dapat kembali meningkatkan perekonomian perlu dilakukan melalui : mempertahankan dan mengembangkan pertanian tanaman pangan yang selama ini semakin menurun akibat perubahan penggunaan lahan menjadi perkebunan, mengembangkan perkebunan rakyat untuk mengangkat perekonomian masyarakat, dimana selama ini sub-sektor perkebunan yang menjadi primadona sektor pertanian di Sumatera Utara lebih berorientasi pada perkebunan besar, pengembangan dukungan sarana pengairan sistem pengolahan lahan yang lebih intensif untuk meningkatkan produktifitas penyediaan sarana pendukung pertanian seperti pupuk dengan harga yang terjangkau penerapan teknologi tepat guna

Tingkat pertumbuhan pertanian yang pada fase ini hanya mencapai 1,26 % diperkirakan dapat ditingkatkan dengan memacu pertumbuhan kegiatan pertanian tanaman pangan, perkebunan, dan perikanan, serta peternakan pada kawasan-kawasan potensial. Sedangkan pengembangan sub-sektor kehutanan memerlukan waktu yang lebih lama dan harus dieksploitasi dengan bijaksana agar tidak merusak kelestarian lingkungan. Pemanfaatan sektor pertambangan sebagai sektor primer. Walaupun selama ini kontribusinya terhadap PDRB Sumatera Utara relatif kecil dan laju pertumbuhannya merosot tajam, namun sektor ini dapat digiatkan lebih jauh terutama untuk bahan galian golongan C yang tidak memerlukan investasi tinggi. Memperkuat dan mempertahankan industri pengolahan hasil pertanian yang selama ini telah berkembang di Sumatera Utara, seperti industri minyak makan dan industri pengolahan bahan makanan atau pengalengan hasil pertanian. Memacu perkembangan sektor angkutan dan perdagangan untuk mendukung kelancaran pemasaran hasil produksi. Selain tindakan penyelamatan juga dilakukan terobosan-terobosan kegiatan perekonomian dengan membuka peluang-peluang baru dengan memperhatikan kesinambungan suatu proses

4 5

produksi mulai dari hulu hingga ke hilir, sehingga penguatan pada sektor hulu harus dilakukan terlebih dahulu untuk memperkuat basis perekonomian di masa datang, antara lain melalui kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pertanian, industri pupuk organik, pembibitan, peralatan pertanian, jaringan pemasaran, dan sebagainya. Termasuk di dalamnya memperluas diversifikasi sumberdaya kelautan melalui penelitian untuk mengidentifikasi kekayaan dalam perairan laut yang berbatasan. (2) Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan 1 Pada tahap pemulihan yang diperkirakan berlangsung selama 5 (lima) tahun berikutnya (2006 2010), pertumbuhan perekonomian diharapkan mulai meningkat dengan laju pertumbuhan sekitar 6 % per tahun. 2 Di samping tetap memprioritaskan sektor pertanian, pada tahap ini pemulihan juga ditujukan pada perbaikan usaha produksi yang mengalami penurunan pada masa krisis, terutama sektor industri. Industri yang mengalami dampak akibat terganggunya infrastruktur perindustrian perlu dibangkitkan kembali melalui dukungan pendanaan dan diversifikasi produk dengan nilai jual yang terjangkau oleh daya beli masyarakat dan berorientasi pada produk ekspor. Sektor-sektor primer sesuai potensi sumberdaya lokal perlu ditumbuhkan sebagai sektor hulu untuk mengembangkan sistem ekonomi lokal. Kendala yang dialami oleh infrastruktur ekonomi selama masa krisis diatasi melalui bantuan pendanaan dan perluasan sumber-sumber permodalan sesuai dengan proses otonomi daerah Mempertahankan dan memperkuat dukungan prasarana dan sarana pengangkutan dan perdagangan.

3 4 5

(3) Tahap Perkembangan Lanjut 1 Tahap ini relatif berjangka lebih panjang menuju akhir masa rencana, yakni sekitar satu dekade (2011 - 2018). 2 Dalam tahap ini laju pertumbuhan diharapkan mencapai 8,5 % per tahun pada akhir tahun rencana, di mana sejak akhir periode 2011-2018 diharapkan terjadi peningkatan laju pertumbuhan sebesar 0.5 % setiap 4 tahun. Pertumbuhan sektor industri dipacu dengan mempertimbangkan potensi sumberdaya wilayah dan daya dukung lingkungan. Sektor pertanian dipertahankan sebagai hulu sektor sekunder, terutama pertanian rakyat. Sektor industri maju yang menyerap tenaga kerja relatif besar diposisikan sebagai kesempatan kerja bagi bagian masyarakat ekonomi lemah yang terdidik. Sektor kehutanan, pertambangan, dan pariwisata dikembangkan untuk memperluas aktifitas sektor riil dengan memperhatikan daya saing terhadap wilayah yang lebih luas.

3 4 5 6

3.5

Strategi Pembangunan

Strategi pengembangan tata ruang terkait dengan tujuan dan konsep pengembangan tata ruang yang ditetapkan dimana setiap bagian wilayah semakin kuat dan berdaya atas dasar potensi yang dimilikinya. Keterkaitan antara pusat produksi dan sumberdaya pemasok bahan baku perlu diupayakan berada dalam satuan ruang yang lebih efisien. Perkuatan tersebut sekaligus perlu diupayakan untuk melestarikan lingkungan dalam satuan ekosistem yang terkait. a) b) Strategi pengembangan tata ruang dilakukan melalui : Pengendalian secara konsisten kegiatan budidaya yang dapat memutus atau mengganggu fungsi ekologis suatu ekosistem. Untuk menjalankan strategi tersebut, proses kesepakatan mengenai delineasi kawasan lindung yang lebih realistis menjadi amat penting dan perlu diikuti oleh implementasi pemanfaatan ruang dan pengendaliannya secara taat asas. Proses pemadu-serasian TGHK dengan rencana tata ruang serta evaluasi hak atas tanah menjadi tahap awal proses perencanaan tata ruang untuk menyiapkan alokasi ruang budidaya di Propinsi Sumatera Utara. Seluruh kriteria kawasan lindung perlu dikaji dalam konteks Propinsi Sumatera Utara, termasuk Daerah Aliran Sungai, hutan lindung, suaka, pesisir, rawan gempa, maupun perlindungan setempat. Kesepakatan yang perlu dilakukan sekaligus berperan sebagai masukan untuk menetapkan nomenklatur yang berlaku untuk seluruh Propinsi Sumatera Utara, di mana Bappeda Propinsi Sumatera Utara akan berfungsi sebagai clearing house, dan didukung oleh Dinas Instansi yang terkait. Memperkuat basis perekonomian menurut sektor-sektor unggulan pada masing-masing wilayah, termasuk memperluas keanekaragaman sumberdaya alam yang perlu dimanfaatkan, antara lain sumberdaya mineral, perikanan dan sumberdaya laut, dan sebagainya. Dalam strategi ini identifikasi sumberdaya alam, skala, dan nilainya menjadi penting untuk perkuatan dan perluasan aktifitas andalan bagi setiap bagian wilayah Propinsi Sumatera Utara. Membentuk satuan ruang pengembangan yang lebih efisien dari segi aksesibilitas, kondisi fisik wilayah, ketersediaan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, serta prasarana pendukungnya. Satuan ruang pengembangan diharapkan menjadi lebih terbatas skalanya, namun jumlahnya menjadi lebih besar. Prinsip yang dianut adalah terciptanya skala ruang yang lebih terjangkau oleh suatu pusat dengan daerah belakang (hinterland)-nya, sehingga skala ekonomi suatu usaha dapat dicapai oleh sektor perekonomian rakyat secara lokal di perdesaan. Memperpendek hirarki fungsional dan tata-kaitan (forward and backward linkage) antara sektor primer, sekunder, dan tersier melalui pengembangan agropolitan untuk mewadahi agroindustri dan agrobisnis dari setiap satuan ruang pengembangan. Melalui perkuatan siklus produksi dalam satuan ruang yang lebih terbatas diharapkan sektor primer tidak sekedar menghasilkan bahan mentah hasil ekstraksi, namun membentuk daur pertambahan nilai untuk dinikmati secara setempat serta melibatkan pelaku ekonomi lokal secara langsung. Dengan senantiasa memperkuat basis ekonomi lokal, maka sekaligus akan terbangun keterkaitan fungsional secara horizontal antar satuan ruang pengembangan. Memperkuat industrial-belt yang telah terbentuk di sekitar kawasan perkotaan Mebidang dengan mengupayakan penguatan terhadap otonomi korporasi. Sumber-sumber pendapatan Propinsi Sumatera Utara yang potensial perlu secara terus menerus digali untuk meningkatkan sumber dana pembangunan, sekaligus mengurangi tingkat kerentanan terhadap perubahan eksternal. Aktifitas

c)

d)

e)

f) g) h)

i)

j)

sekunder dan tersier perkotaan yang telah berkembang di sekitar kawasan perkotaan Mebidang diarahkan sebagai pusat korporasi (holding) dari kegiatan yang diselenggarakan di Propinsi Sumatera Utara, bukan lagi sebagai anak atau cabang usaha dari perusahaan besar di Pulau Jawa. Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Medan-Binjai-Deli Serdang (Bappeda Propinsi Sumatera Utara, 1996) telah memberikan arahan tentang peran dan fungsi metropolitan Mebidang sebagai pusat aktifitas sekunder dan tersier bagi Propinsi Sumatera Utara.

RENCANA STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAN RUANG PROPINSI SUMATERA UTARA

4.1

Arahan Struktur Ruang

Rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Sumatera Utara merupakan pedoman bagi : a b c Perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang Perwujudan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antar bagian wilayah Propinsi Sumatera Utara, serta keterkaitan antar sektor Penataan ruang 16 (enam belas) wilayah kabupaten dan 7 (tujuh) wilayah kota yang merupakan dasar dalam pengendalian pemanfaatan ruang.

Struktur ruang wilayah Propinsi Sumatera Utara terutama dibentuk oleh jaringan prasarana transportasi, pusat pelayanan, dan fungsi primer. Pertimbangan utama bagi penetapan struktur ruang wilayah Propinsi Sumatera Utara adalah pengembangan struktur ruang yang lebih bersifat horizontal dibandingkan berhirarki, serta perkuatan struktur mikro pada satuan ruang yang lebih efisien melalui pembangunan feeder-road ke sentra-sentra penghasil sumberdaya primer. Pengembangan hirarki fungsional yang lebih bersifat horizontal dimaksudkan untuk mengupayakan pengembangan ruang yang terdesentralisasi pada sumberdaya alam setempat serta terciptanya keseimbangan pertumbuhan yang proporsional (balance growth). Konsep ini mendorong terciptanya satuan ruang wilayah yang lebih efisien. Hirarki fungsional wilayah Propinsi Sumatera Utara yang lebih bersifat horizontal tersebut diwujudkan dalam 3 (tiga) hirarki pusat pelayanan, yaitu : a Pusat Pelayanan Primer, yaitu pusat yang melayani wilayah Propinsi Sumatera Utara, wilayah Sumatera bagian Utara, dan wilayah nasional/internasional yang lebih luas. Pusat pelayanan ini terletak di kawasan perkotaan Mebidang (Medan-Binjai-Deli Serdang) dan Kota Sibolga. Pengembangan Kota Medan dan sekitarnya sebagai pusat pelayanan primer A diarahkan sebagai pusat aktifitas sekunder dan tersier bagi Propinsi Sumatera Utara. Pengembangan Kota Sibolga sebagai pusat pelayanan primer B diprioritaskan bagi pengembangan wilayah Pantai Barat Sumatera Utara.

Pusat Pelayanan Sekunder, yaitu pusat yang melayani satu atau lebih daerah Kabupaten/Kota. Pusat pelayanan sekunder ini terdiri atas pusat pelayanan sekunder A dan pusat pelayanan sekunder B. Pusat pelayanan sekunder A dikembangkan dengan intensitas yang lebih tinggi untuk memacu pertumbuhan perekonomian di wilayah sekitarnya. Pusat pelayanan sekunder A diarahkan di Kota Pematangsiantar, Tanjungbalai, dan Tebing Tinggi. Pusat pelayanan sekunder B diarahkan di Stabat, Pematang Raya, Kisaran, Kabanjahe, Sidikalang, Pandan, Balige, Tarutung, Rantau Prapat, Padangsidimpuan, Panyabungan, dan Gunung Sitoli. Pusat Pelayanan Tersier, yaitu kota-kota mandiri selain pusat primer dan sekunder yang dikembangkan untuk melayani satu atau lebih kecamatan. Pusat pelayanan tersier terutama dikembangkan untuk menciptakan satuan ruang wilayah yang lebih efisien yang diarahkan di kota Pangkalan Berandan, Tanjung Selamat, Tanjung Pura, Perbaungan, Dolok Masihul, Pematang Tanah Jawa, Indrapura, Aek Kanopan, Labuhan Bilik, Kota Pinang, Aek Nabara, Natal, Kotanopan, Gunung Tua, Sipirok, Garoga, Dolok Sanggul, Porsea, Prapat, Lumut, Barus, Salak, Siempatempu, Sumbul, Kutabuluh, Brastagi, Lahewa, Teluk Dalam, Pangururan, Perdagangan, Saribudolok, Purbasari, Siborongborong, Muara. Tabel 4.1 menunjukkan rencana pusat-pusat pelayanan yang dikembangkan di Propinsi Sumatera

Utara. Tabel 4.1 Struktur Pusat Pelayanan Propinsi Sumatera Utara HIRARKI Primer A KOTA 1. Kawasan Perkotaan Mebidang (Medan, Binjai, Deli Serdang) FUNGSI UTAMA Pusat pemerintahan Propinsi Pusat perdagangan dan jasa regional Pusat distribusi dan kolektor barang & jasa regional Pusat pelayanan jasa pariwisata Pusat transportasi darat, laut, dan udara regional Pendidikan tinggi Industri Pemerintahan Kota Pusat perdagangan dan jasa regional Pusat pelayanan jasa pariwisata Pengolahan hasil perikanan Pusat transportasi laut Pusat pendidikan Pemerintahan Kota Perdagangan dan jasa Industri Pendidikan umum dan kejuruan Pemerintahan Kota Perikanan Pelabuhan Industri

Primer B

2. Sibolga

Sekunder A

1. Pematangsiantar

2. Tanjungbalai

3. Tebing Tinggi

Sekunder B

1. Stabat

2. Pematang Raya

3. Kisaran

4. Kabanjahe

5. Sidikalang

6. Pandan

7. Balige

8. Tarutung

9. Rantau Prapat

10. Padangsidimpuan

Pendidikan umum dan kejuruan Pemerintahan Kota Perdagangan dan jasa Pendidikan umum dan kejuruan Pusat pemerintahan Kabupaten Pengolahan hasil perkebunan dan tanaman pangan Pendidikan umum dan kejuruan Pusat pemerintahan Kabupaten Pengolahan hasil perkebunan dan pertanian tanaman pangan Pendidikan umum dan kejuruan Pusat pemerintahan Kabupaten Industri pengolah hasil perkebunan dan pertanian tanaman pangan Pendidikan umum dan kejuruan Pusat pemerintahan Kabupaten Industri pengolahan hasil pertanian Pendidikan umum dan kejuruan Perdagangan Pusat pemerintahan Kabupaten Industri pengolahan hasil pertanian tanaman pangan Perdagangan Pendidikan umum dan kejuruan Pusat pemerintahan Kabupaten Pengolahan hasil perikanan Pendidikan umum dan kejuruan P4usat pemerintahan Kabupaten Perdagangan Industri pengolahan hasil pertanian tanaman pangan dan hasil perikanan Pelayanan jasa pariwisata Pendidikan umum dan kejuruan Pusat pemerintahan Kabupaten Industri pengolahan hasil pertanian tanaman pangan, perkebunan, dan hasil hutan Pendidikan umum dan kejuruan Perdagangan dan jasa Pusat pemerintahan Kabupaten Perdagangan Pengolahan hasil perkebunan Pendidikan umum dan kejuruan Pusat pemerintahan Kabupaten Pengolahan hasil pertanian tanaman pangan dan hasil hutan Pendidikan kejuruan

11. Panyabungan

12. Gunung Sitoli

Tersier

1. Pangkalan Brandan

2. Tanjung Selamat 3. Tanjung Pura

Pendidikan umum dan kejuruan Pusat pemerintahan Kabupaten Perdagangan Pendidikan umum dan kejuruan Pusat pemerintahan Kabupaten Pariwisata Pengolahan hasil perikanan Pendidikan umum dan kejuruan Pengolahan hasil pertambangan Pengolahan hasil pertanian Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil perkebunan Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil pertanian tanaman pangan Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil perkebunan Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil perkebunan Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil pertanian Perdagangan Pendidikan kejuruan Perikanan Pelabuhan Pengolahan hasil pertanian Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil perkebunan Pendidikan kejuruan Perikanan Pelabuhan Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil pertanian Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil perkebunan Pendidikan kejuruan Perikanan Pengolahan hasil pertanian tanaman pangan Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil pertanian Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil pertanian Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil perkebunan dan hutan Pendidikan kejuruan

4. Perbaungan 5. Dolok Masihul 6. Pematang Tanah Jawa

7. Indrapura

8. Aek Kanopan 9. Labuhan Bilik

10. Kota Pinang 11. Aek Nabara 12. Natal

13. Kotanopan 14. Gunung Tua 15. Sipirok

16. Garoga 17. Dolok Sanggul

18. Porsea

19. Prapat 20. Lumut 21. Barus 22. Salak 23. Siempatnempu 24. Sumbul

Pengolahan hasil perkebunan Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil pertanian tanaman pangan dan hasil hutan Pendidikan kejuruan Industri Pengolahan hasil pertanian tanaman pangan Industri Menengah Pendidikan kejuruan Pariwisata Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil perkebunan Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil perikanan dan perkebunan Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil pertanian tanaman pangan Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil pertanian tanaman pangan Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil pertanian Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil pertanian tanaman pangan Pendidikan kejuruan Pengolahan hasil pertanian tanaman pangan Pariwisata Pendidikan kejuruan Perikanan Pengolahan hasil perkebunan dan tanaman pangan Pendidikan kejuruan Perikanan Pengolahan hasil pertanian tanaman pangan Pendidikan kejuruan Pengembangan Pariwisata

25. Kutabuluh 26. Brastagi

27. Lahewa

28. Teluk Dalam

29. Pangururan

Pariwisata Industri pengolahan hasil pertanian tanaman pangan Pendidikan kejuruan Pengolahan Hasil Perkebunan Perdagangan Jasa Perdagangan Pengolahan hasil pertanian Kesehatan

30. Perdagangan 31. Saribudolok

32. Purbasari

Jasa Perdagangan Pengolahan Hasil Pertanian Pendidikan Kejuruan Pengolahan hasil pertanian

33. Siborongborong 34. Muara

Pengolahan hasil pertanian tanaman pangan, peternakan dan pendidikan Pengembangan Pariwisata

Beberapa komponen kegiatan yang berfungsi pelayanan dengan jangkauan regional atau wilayah yang lebih luas seperti kegiatan pemerintahan, perdagangan dan jasa, industri, perhubungan, pariwisata, dan sebagainya, berlokasi tersebar di seluruh Propinsi Sumatera Utara. Walaupun demikian, komponen kegiatan utama tersebut tidak selalu membentuk pusat pelayanan pada skala primer. Tabel 4.2 memperlihatkan komponen kegiatan utama di Propinsi Sumatera Utara.

Tabel 4.2 Deskripsi Kegiatan Primer di Wilayah Propinsi Sumatera Utara Kegiatan Pemerintahan Perdagangan dan Jasa Deskripsi Kegiatan Pemerintahan Propinsi Sumatera Utara terletak di Kota Medan. Kegiatan perdagangan dan jasa skala regional dipusatkan di Kawasan Perkotaan Mebidang, dengan pusat utama di Kota Medan, dan kota Sibolga Kegiatan perdagangan dan jasa skala sub-regional dikembangkan di kota-kota sekunder. Kegiatan industri terutama dikembangkan di kawasan perkotaan Mebidang (KI Belawan, KI Medan, KI Binjai, KI Amplas, KI Tanjung Morawa, Zona Industri Sunggal); Pematangsiantar, Tanjung Balai, Porsea dan Balige, industri pengolahan hasil perikanan di Sibolga serta industri hilir pengolahan hasil perkebunan di Rantauprapat. Wisata bahari dikembangkan di Kepulaun Nias. Wisata bahari dikembangkan di Sibolga dan Mandailing Natal Wisata alam di Brastagi, Prapat, dan Danau Toba. Wisata alam di Bahorok dan Pulau Samosir. Bandar Udara internasional di Polonia dan kelak di Kuala Namu

Kegiatan Industri

Kawasan Wisata

Bandar Udara

Pelabuhan Laut

Bandar Udara pendukung di Binaka (Gunung Sitoli), Dr. Ferdinand Lumbantobing (Tapanuli Tengah), Sibisa (Toba Samosir), Silangit (Tapanuli Utara) dan Aek Godang (Tapanuli Selatan) Pelabuhan Belawan sebagai pelabuhan utama internasional Pelabuhan Sibolga sebagai pelabuhan pengumpan regional Pelabuhan lokal dan regional di Kuala Tanjung, Tanjungbalai, Pangkalan Susu, Tanjung Sarang Elang, Natal, dan Gunung Sitoli

Upaya mendorong pengembangan struktur ruang yang lebih berkesinambungan sesuai dengan konsep pengembangan desentralized territorial approach diwujudkan dalam bentuk penciptaan akses yang secara proporsional merata di seluruh bagian wilayah Propinsi Sumatera Utara, khususnya wilayah yang menjadi sentra aktifitas ekonomi potensial namun belum didukung oleh prasarana transportasi yang memadai yang sebagian besar tersebar di kawasan pantai Barat. Berdasarkan pertimbangan utama tersebut, maka jaringan transportasi yang membentuk struktur ruang wilayah Propinsi Sumatera Utara dibentuk melalui : a Jaringan jalan arteri primer sebagai jalur lintas regional, meliputi 3 (dua) jalur utama, yaitu : Jalur Pantai Timur, yang merupakan konsentrasi pergerakan terbesar, terutama pergerakan antar propinsi di Sumatera bagian Utara, mulai dari Kota Pinang-Aek Nabara - Rantau Prapat Aek Kanopan - Simpang Kawat - Tanjungbalai, Kisaran - Indrapura - Tebing Tinggi - Perbaungan - Lubuk Pakam Medan Binjai Stabat - Pangkalan Brandan Besitang hingga ke Nanggroe Aceh Darussalam melalui Langkat. Jalur Tengah, mulai dari Muara Sipongi Kotanopan Penyabungan - Siabu Padangsidimpuan Sipirok Tarutung - Siborong-borong - Dolok Sanggul Sidikalang - Kuta Bulu dan Lau Pakam hingga batas daerah Propinsi Nangroe Aceh Darussalam, dan mulai dari arah Siborong-borong Balige Parapat - Pematangsiantar - Tebing Tinggi sampai Medan hingga batas Nanggroe Aceh Darussalam. Jalur Pantai Barat, mulai dari Manisak - Simpang Gambir Natal - Batang Toru, Lumut Pandan Sibolga - Barus dan Manduamas hingga batas Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Jalur yang menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan kawasan andalan mulai dari Medan Tebing Tinggi - Pematangsiantar - Perdagangan, Kisaran/Tanjungbalai - Rantau Prapat Pematangsiantar Parapat - Balige - Panyabungan dan jalur dalam pulau Nias. Jaringan jalan arteri primer dan kolektor primer yang dibawah kewenangan Pemerintah Pusat meliputi jalur-jalur sebagai berikut : Kota Pinang Rantau Prapat- Simpang Kawat- Tanjungbalai- Tebing tinggi PerbaunganMedan Binjai Stabat- Pangkalan Brandan ke arah Aceh Muara Sipongi-Kotanopan-Panyabungan-SiabuPadangsidimpuan Sipirok Tarutung Siborong-borong Balige Porsea Parapat Pematangsiantar Tebing Tinggi Natal Lumut Pandan Sibolga Tarutung Medan Brastagi Kabanjahe Sidikalang hingga ke Tapaktuan Siborong-borong - Dolok Sanggul hingga Sidikalang Sibolga - Sipirok - Sipiongot hingga Sigambal Aek Nabara - Negeri Lama hingga Tanjung Sarang Elang Tarutung - Parsoburan hingga Aek Kota Batu Parlilitan - Batu Gajah hingga Sidikalang Porsea - P. Rakyat hingga batas Kabupaten Asahan

Silimbat Parsoburan batas Labuhan Batu Pangururan Tele Ruas jalan lingkar dalam Pulau Samosir Ruas jalan lingkar luar Danau Toba

Jaringan jalan yang kewenangannya pada Pemerintah Propinsi adalah: Sibolga Sorkam Barus Pakkat - hingga Dolok Sanggul Lumut - Padangsidimpuan - Gunung Tua hingga Kota Pinang Aek Kota Batu - Parsoburan - Toba Samosir Aek Nabara - Negeri Lama - Tanjung Serang Elang Simpang Ajamu - Sei Rakyat - Labuhan Bilik - Sei Berombang Sigambal - Sipiongot - Sipirok - Sibolga Singkuang - Padangsidimpuan. c Jaringan jalan lokal primer, yang menghubungkan kota-kota tersier dengan wilayah belakangnya penghasil komoditi dan produk sumberdaya alam. Jaringan jalan lokal primer beperan sebagai feeder road yang menjalankan fungsi koleksi dan distribusi komoditi ekonomi dari dan ke wilayah perdesaan. Komoditi yang difasilitasi oleh jaringan jalan ini adalah komoditi lokal yang berperan untuk menumbuhkan perekonomian berbasis sektor primer. Melalui pembangunan feeder-road ini, maka sektor perekonomian rakyat yang berskala ekonomi terbatas dapat terjangkau untuk diolah lebih lanjut dalam sektor sekunder. Feeder-road selain diperankan oleh jalan-jalan lokal, juga jaringan kereta api dengan stasiunnya di kawasan pantai Timur. Gambar 4.1 menunjukkan struktur ruang wilayah Propinsi Sumatera Utara sampai dengan tahun 2018. Melengkapi pengembangan struktur jaringan jalan, pusat-pusat pelayanan, dan pengembangan fungsi primer, pembentukan struktur ruang wilayah Propinsi Sumatera Utara didukung pula oleh : a b Peningkatan pelayanan prasarana perkotaan untuk pusat-pusat sekunder untuk meningkatkan kemampuannya menjalankan fungsi-fungsi utama yang ditetapkan. Peningkatan pelayanan prasarana perkotaan untuk pusat-pusat lokal atau agropolitan sehingga mampu berfungsi sebagai pusat agroindustri dan agrobisnis. Pusat-pusat lokal atau agropolitan tersebut terutama dikembangkan di kota-kota tersier untuk mendukung pengembangan wilayah belakangnya sebagai penghasil sumberdaya primer. Perkuatan jaringan transportasi yang berpusat di kawasan perkotaan Mebidang untuk memberikan akses yang tinggi terhadap perkembangan pusat pertumbuhan primer tersebut dengan bagian wilayah lainnya maupun terhadap wilayah di luar Sumatera Utara. Peningkatan jaringan transportasi yang menghubungkan Sibolga dengan pusat sekunder dan tersier di sekitarnya. Pengembangan fungsi prasarana distribusi utama, seperti pelabuhan Belawan, Bandara Polonia, dan kelak Bandara Kuala Namu, terutama untuk mendukung aktifitas ekonomi yang berperan secara nasional/internasional maupun regional.

d e

Mendorong pemanfaatan dan pengembangan jalur kereta api untuk melayani pergerakan jarak sedang antar bagian wilayah di Propinsi Sumatera Utara dengan bagian wilayah lainnya di region Sumatera bagian Utara. Pengembangan jalur kereta api untuk memperkuat struktur ruang Propinsi Sumatera Utara mulai dari Propinsi Naggroe Aceh Darussalam, Pangkalan Brandan, Tanjung Pura, Stabat, Binjai, Medan, Lubuk Pakam, Perbaungan, Tebing Tinggi, Kisaran, Aek Kanopan, Rantau Prapat, dan berlanjut ke Dumai untuk menghubungkan Kota Sibolga sebagai pusat pelayanan primer B direncanakan pembangunan jalur KA Padangsidimpuan - Sibolga. Jalur lain adalah Tebing Tinggi Pematangsiantar, dan akan dikembangkan jalur kereta api Rantau Prapat - Sosa. Selain itu dilambangkan jalur Binjai, Belawan melalui Hamparan Perak dan Belawan, Kuala Namu, yang mana jalur ini ditujukan untuk mendukung pengembangan kawasan industri, Pelabuhan Belawan, dan bandar udara di Kuala Namu dan pengoperasian kembali jalur Medan, Pancur Batu dan Medan, Deli Tua untuk antisipasi rencana relokasi perguruan tinggi, pembangunan sarana olah raga, dan taman botani di sekitar Pancur Batu. Bersamaan dengan pembangunan feeder-road, pemanfaatan pelabuhan-pelabuhan kecil juga didorong untuk melayani perdagangan antar bagian wilayah dan inter-regional. Mempertahankan kinerja prasarana pengairan untuk mendukung sektor primer terutama dalam upaya swasembada dan ketahanan pangan.

g h

Gambar 4.1 Rencana Struktur Ruang Propinsi Sumatera Utara

4.2

Arahan Pola Pemanfaatan Ruang

Pemanfaatan ruang merupakan kegiatan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia pada ruang yang bersangkutan dengan sifat yang dinamis. Namun demikian, penyesuaian dengan dinamika perubahan pemanfaatan ruang tidak selalu mengarah pada optimasi pemanfaatan sumberdaya yang ada, oleh karena kebutuhan ruang sejalan dengan perkembangan kegiatan budidaya akan selalu meningkat, sedang keberadaan dan ketersediaan ruang bersifat terbatas. Dalam menyeimbangkan kebutuhan (demand) dan ketersediaan (supply) lahan agar mendekati kondisi optimal, pendekatan yang dilakukan dalam perencanaan pemanfaatan ruang adalah pendekatan komprehensif yang memadukan pendekatan sektoral dan pendekatan ruang. Dalam hal ini perencanaan ruang merupakan upaya untuk memadukan dan menyerasikan kegiatan antar sektor agar dapat saling menunjang serta untuk mengatasi konflik berbagai kepentingan dalam pemanfaatan ruang. Pola pemanfaatan dan arah pengembangan ruang Propinsi Sumatera Utara merupakan arahan bagi penggunaan ruang di wilayah Propinsi Sumatera Utara yang didasari pada prinsip pemanfaatan sumberdaya alam berasaskan kelestarian lingkungan menuju pembangunan yang berkelanjutan. Arahan ini diharapkan dapat menciptakan pertumbuhan dan perkembangan antar bagian wilayah Propinsi Sumatera Utara yang lebih berimbang secara proporsional, tanpa mengganggu kelestarian lingkungannya. Prinsip dasar perencanaan pemanfaatan ruang adalah penetapan kawasan lindung dan kawasan budidaya sebagaimana ditetapkan dalam UU Nomor 24 Tahun 1992, PP Nomor 47 Tahun 1997, dan Keppres Nomor 32 Tahun 1990, dengan batasan sebagai berikut : Kawasan lindung adalah kawasan yang berfungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam, sumberdaya binaan, nilai sejarah, dan budaya bangsa untuk kepentingan pembangunan yang berkelanjutan. Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya binaan, dan sumberdaya manusia. Pengelolaan kawasan-kawasan tersebut harus disertai dengan perencanaan, pemanfaatan ruang, dan pengendalian atas pemanfaatan ruang. Untuk menuju pembangunan Propinsi Sumatera Utara yang berkelanjutan, maka tahap pertama yang dilakukan adalah penetapan kawasan lindung. Selanjutnya pemanfaatan ruang untuk kegiatan budidaya diarahkan berdasarkan sifat-sifat kegiatan yang akan ditampung, potensi pengembangan, dan kesesuaian lahan. Secara umum kegiatan budidaya terbentuk menurut 6 (enam) bentuk satuan ruang, yakni kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, kawasan andalan, dan kawasan tertentu serta kawasan strategis Hankamnas. Kawasan perkotaan menampung kegiatankegiatan permukiman perkotaan, industri, jasa dan perdagangan, serta kegiatan pelayanan lainnya; kawasan perdesaan merupakan kawasan transisi antara kawasan berfungsi lindung dan perkotaan yang memiliki kegiatan primer yang berorientasi sumberdaya alam; kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil merupakan kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, perlindungan setempat, cagar alam, suaka marga satwa dan rawan bencana, serta kawasan tertentu yang bersifat strategis dari segi ekonomi, sosial, pertahanan-keamanan, dan lingkungan. Orientasi kegiatan di kawasan perdesaan mencakup berbagai kegiatan yang menyangga keberadaan kawasan lindung, seperti hutan produksi, pertanian lahan basah, pertanian lahan kering, perkebunan, peternakan, perikanan, dan permukiman perdesaan. Pola pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Sumatera Utara tertera pada gambar 4.2.

Gambar 4.2

Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara

4.2.1

Arahan Pemanfaatan Kawasan Lindung

Pola pemanfaatan ruang pada kawasan lindung pada garis besarnya akan mencakup 6 (enam) fungsi perlindungan sebagai berikut : 8. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya terutama berkaitan dengan fungsi hidrorologis untuk pencegahan banjir, menahan erosi dan sedimentasi, serta mempertahankan fungsi peresapan bagi air tanah. Kawasan ini berada pada ketinggian 1.000 meter d.p.l. dengan kelerengan lebih dari 40 %, bercurah hujan tinggi, dan mampu meresapkan air ke dalam tanah; termasuk di dalamnya kawasan yang ditetapkan sebagai hutan lindung. 9. Kawasan yang berfungsi sebagai suaka alam dan margasatwa untuk melindungi keanekaragaman hayati, ekosistem, dan keunikan alam. Termasuk di dalamnya adalah cagar alam Sibolangit (Deli Serdang); Liang Balik dan Batu Ginurit (Labuhan Batu); Dolok Di samping itu juga suaka margasatwa Karang Gading (Deli Serdang dan Langkat); Siranggas (Dairi); Dolok Surungan (Toba Samosir); Dolok Saut (Tapanuli Utara), Barumun (Tapanuli Selatan) dan Nias serta huran mangrove di pantai timur. Untuk kawasan pelestarian alam termasuk juga di dalamnya adalah Taman Nasional Gunung Leuser di Langkat; Taman Hutan Raya Bukit Barisan (Deli Serdang, Simalungun, Karo, dan Langkat), Taman Wisata Alam di Sibolangit (Deli Serdang), Holiday Resort (Labuhan Batu), Lau Debuk-Debuk (Karo), Deleng Lancuk (Karo), Si CikehCikeh (Dairi), Sijaba Hutan Ginjang (Tapanuli Utara), dan Muara (Tapanuli Utara). Kawasan ini mencakup juga lahan gambut di Kabupaten Asahan, Labuhan Batu, Tapanuli Tengah serta hutan mangrove di Pantai Timur seluas 435 km2 dengan ketebalan rata rata 325 meter. 10. Kawasan rawan bencana, yaitu yang mengalami bencana alam seperti gerakan tanah, longsoran, runtuhan, banjir bandang, dan rayapan. Termasuk dalam kawasan ini sekeliling Danau Toba, Tapanuli Selatan bagian Selatan, Utara Sibolga, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Tapanuli Tengah, bagian selatan Mandailing Natal, Asahan, Labuhan Batu, Langkat, Pulau Nias bagian Selatan dan bagian Tengah. Sebagian besar wilayah Sumatera Utara di sekitar Bukit Barisan membujur arah Utara - Selatan pada dasarnya potensial terhadap gerakan tanah, rayapan, longsoran, gelombang pasang dan banjir bandang. 11. Kawasan perlindungan setempat yang berfungsi melestarikan fungsi badan perairan dan kerusakan oleh kegiatan budidaya. Termasuk sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau/waduk, kawasan sekitar mata air, kawasan terbuka hijau kota termasuk di dalamnya hutan kota. 12. Kawasan cagar budaya yaitu kawasan yang merupakan lokasi bangunan hasil budaya manusia yang bernilai tinggi maupun yang memiliki bentuk geologi alami yang khas. 13. Pulau-pulau kecil dengan luasan maksimal 10 km2. 14. Beberapa lokasi yang berdasarkan proses pemaduserasian pemanfaatan ruang di arahkan sebagai kawasan lindung pada kenyataannya telah dimanfaatkan sebagai kawasan perkebunan dan pertanian tanaman lahan kering

Gambar 4.3 Peta Kawasan Lindung dan Budidaya Hutan Propinsi Sumatera Utara

Kesepakatan penetapan status ruang untuk area yang pemanfaatannya tidak sesuai dengan yang direncanakan perlu disepakati pada perencanaan tata ruang yang lebih rinci, dimana pada RTRWP Sumatera Utara 2003-2018 sebagian ditetapkan sebagai kawasan hutan yang bermasalah (holding zone). Luasan kawasan lindung tertera pada tabel 4.3. Tabel 4.3 Luas Kawasan Lindung Menurut Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara Kabupaten Hutan Konservasi (Ha) 223.505,00 23.395,00 20.240,00 575,00 5.657,00 2.007,80 1.964,56 23.800,00 39,00 500,00 52.300,00 8.350,00 362.333,36 Kawasan Lindung/Hutan Lindung (Ha) 3.120,90 10.596,07 70.786,29 61.855,65 43.936,61 88.544,25 73.826,54 106.048,69 226.260,37 45.623,60 81.788,27 57.034,00 262.354,48 195.511,06 83.696,98 70.438,85 315,08 1.481.737,69

Langkat Deli Serdang Karo Dairi Pak pak Bharat Simalungun Asahan Labuhan Batu Toba Samosir Tapanuli Utara Hbng Hasundutan Tapanuli Tengah Tapanuli Selatan Mandailing Natal Nias Utara Nias Selatan Medan Jumlah

Sumber : Hasil analisis & perhitungan secara planimetris peta RTRWP SU 2003-2018 skala 1:250.000 Dinas Kehutanan Propsu BPKH Wil - I, 2003

4.2.2

Arahan Pemanfaatan Kawasan Budidaya

Arahan pola pemanfaatan ruang untuk kegiatan budidaya mencakup arahan pemanfaatan kawasan pertanian, serta kawasan non pertanian. Penentuan bagi arahan pemanfaatan ruang untuk kegiatan budidaya didasarkan pada pertimbangan berikut : 1 2 Kesesuaian lahan, yang merupakan hasil penilaian terhadap kemampuan atau daya dukung lahan terhadap kegiatan penggunaan lahan tertentu. Potensi pengembangan dan kegiatan budidaya, yang merupakan hasil penilaian ekonomi dan keruangan terhadap potensi pengembangan budidaya tertentu.

Pemanfaatan kawasan budidaya direncanakan sesuai dengan upaya desentralisasi ruang pengembangan wilayah dan potensi lokal, baik sektor primer, sekunder, maupun tersier. Berdasarkan

kecenderungan perkembangan hingga tahun 1997, sektor primer merupakan sektor ekonomi potensial di Sumatera Utara.

A. Kawasan Budidaya Pertanian 1. 2. 3. 4. 5. A.1 Kawasan budidaya pertanian terdiri atas kawasan : Kawasan pertanian tanaman pangan Kawasan pertanian tanaman perkebunan Kawasan peternakan Kawasan perikanan Kawasan kehutanan Kawasan Budidaya Pertanian Tanaman Pangan

Pertanian tanaman pangan terdiri dari tanaman pangan lahan basah dan pertanian tanaman pangan lahan kering dengan jenis tanaman padi sawah dan padi ladang, palawija, dan buah-buahan. Sesuai dengan kebijakan pemanfaatan ruang, maka kegiatan pertanian tetap diarahkan sebagai basis perekonomian sesuai dengan ketersediaan sumberdaya dan diandalkan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi pada awal tahun rencana. Dengan demikian, lahan pertanian tanaman pangan lahan basah dan lahan kering yang ada tetap dipertahankan sebagai lahan budidaya. Dalam rangka mempertahankan swasembada pangan yang telah tercapai, maka lokasi pertanian lahan basah yang tersebar di seluruh kabupaten tetap dipertahankan dan untuk beberapa lokasi dilakukan pengembangan pada lahan yang sesuai dan belum dimanfaatkan untuk kegiatan lain, yaitu di Langkat, Asahan, Labuhan Batu, Karo, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Nias. Disamping itu, untuk meningkatkan beberapa fungsi desa-kota sebagai basis pemasaran dan hasil produksi pertanian tanaman pangan dikembangkan kawasan agropolitan Merek (Kab. Karo) yang mendukung pengembangan hortikultura pada kawasan Bukit Barisan (Karo, Dairi, Simalungun, Toba Samosir dan Tapanuli Utara). Demikian pula lahan kering yang merupakan lahan pertanian tanaman pangan yang ada tetap dipertahankan dan dilakukan pengembangan pada lahan yang sesuai, yaitu di Kabupaten Tapanuli Selatan, Labuhan Batu, Tapanuli Utara, Simalungun, Dairi, Toba Samosir, dan Langkat. A.2 Kawasan Budidaya Pertanian Tanaman Perkebunan

Subsektor perkebunan selama ini menjadi primadona perekonomian Sumatera Utara, terutama untuk komoditi kelapa sawit. Kegiatan perkebunan tersebut merupakan sektor hulu kegiatan industri pengolahan, khususnya industri pengolahan minyak kelapa sawit dan berbagai kegiatan hilir lainnya. Subsektor perkebunan merupakan penyumbang pendapatan daerah ketiga terbesar, setelah industri dan perdagangan, melampaui kontribusi sub-sektor tanaman pangan. Lahan perkebunan yang ada tetap dipertahankan dan dilakukan pengembangan ke lokasi yang sesuai yang belum dimanfaatkan oleh kegiatan lain.

Kegiatan perkebunan yang berkembang tersebar di seluruh wilayah dengan berbagai jenis komoditi, dimana komoditi utama adalah kelapa sawit, kelapa, karet, kopi, coklat, teh dan tebu. Sebagian besar lahan perkebunan tersebut berada di wilayah Timur yang meliputi hampir seluruh wilayah kabupaten di pantai Timur. Pengembangan perkebunan diarahkan ke beberapa lokasi yang sesuai, meliputi Kabupaten Langkat, Karo, Dairi, Tapanuli Utara, Labuhan Batu, Tapanuli Selatan, dan Nias, sedangkan untuk perkebunan besar di Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Labuhan Batu, dan Tapanuli Selatan..

A.3

Kawasan Budidaya Peternakan

Lokasi kegiatan peternakan diarahkan sesuai dengan lokasi kegiatan pertanian, baik lahan basah, lahan kering, maupun kebun campuran, sehingga dapat dikembangkan di seluruh kabupaten/kota di Sumatera Utara. Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukan pengembangan jenis ternak besar potensial dilakukan di kabupaten Nias, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Dairi, Simalungun, Karo, Langkat, Deli Serdang, Labuhan Batu, Asahan, Toba Samosir, dan Mandailing Natal. Jenis ternak kecil dikembangkan di seluruh kabupaten/kota, kecuali kota Pematangsiantar, Medan, dan kabupaten Mandailing Natal. Sedangkan jenis unggas dikembangkan di seluruh kabupaten/kota, kecuali kota Tebing Tinggi dan kabupaten Mandailing Natal. A.4 Kawasan Budidaya Perikanan

Kegiatan perikanan di Propinsi Sumatera Utara selama ini didominasi oleh perikanan laut dibandingkan perikanan darat. Pemanfaatan lahan untuk perikanan darat tersebar di seluruh kabupaten/kota, kecuali kota Sibolga, sedangkan perikanan laut dikembangkan di seluruh daerah kabupaten/kota yang memiliki kawasan laut, terutama kabupaten Asahan, Langkat, Deli Serdang, Sibolga, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Nias, Labuhan Batu dan kota Medan. Pengembangan pemanfaatan lahan bagi perikanan laut lebih lanjut diarahkan pada kawasan pantai Barat dan pantai Timur, serta pulau Nias. Juga perikanan danau terutama di Kabupaten Toba Samosir, Simalungun, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Karo, Dairi, dan Tapanuli Selatan. A.5 Kawasan Budidaya Kehutanan

Dalam arahan tata ruang, hutan mempunyai fungsi khusus yaitu berfungsi lindung, berfungsi konservasi, serta mendukung kehidupan dan ekosistem, di samping fungsi budidaya yang menghasilkan produk kehutanan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri dan pengolahan kayu. Kawasan budidaya kehutanan meliputi kawasan hutan produksi terbatas (HPT), hutan produksi (HP), dan hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK). Berdasarkan analisis kesesuaian lahan, penggunaan lahan yang ada, serta hasil pemaduserasian, maka lokasi budidaya hutan produksi meliputi :

Hutan produksi terbatas, di Kabupaten Langkat, Karo, Dairi, Pak-pak Bharat , Tapanuli Tengah bagian Utara, Tapanuli Utara bagian Selatan, Simalungun bagian Selatan, Asahan, Labuhan Batu bagian Barat, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal (di sekitar kawasan lindung), Toba Samosir, Pulau Nias bagian Utara dan Timur, Pulau Tanahmasa bagian Selatan, dan Pulau Tanahbala bagian Tengah. Hutan produksi tetap, di Kabupaten Langkat sebelah Barat, Deli Serdang bagian Selatan, Simalungun bagian Utara dan Barat, Asahan bagian Selatan, Labuhan Batu bagian Utara dan Timur, kawasan sekitar Danau Toba (Toba Samosir), Mandailing Natal bagian Selatan dan Utara, Tapanuli Selatan bagian Timur, hutan Siosar (Karo) serta di Pulau Nias, Pulau Tanahmasa dan Tanahbala. Hutan produksi konversi, di Kabupaten Asahan, Labuhan Batu, dan Pulau Nias dan sekitarnya, Deli Serdang, Dairi dan Tapanuli Selatan.

Tabel 4.4 Kawasan Budidaya Hutan (Produksi) menurut Kabupaten (Ha) Kabupaten Langkat Deli Serdang Karo Dairi Pakpak Bharat Simalungun Asahan Labuhan Batu Toba Samosir Tapanuli Utara Humbang Hasundutan Tapanuli Tengah Tapanuli Selatan Mandailing Natal Nias Utara Nias Selatan Medan Jumlah HPT 54.017,43 17.547,56 4.878,08 71.892,90 48.894,00 10.382,15 21.216,15 60.085,87 14.764,36 98.989,01 25.015,66 51.252,70 154.759,68 171.525.17 24.524,41 21.409,94 851.155,07 HP 41.327,12 63.091,82 13.494,63 11.213,73 7.916,71 89.021,57 11.214,16 96.711,17 31.916,43 103.097,07 70.564,87 5.761,90 279.924,74 36.358,84 4.478,97 70.767,39 936.681,12 HPK 1.041,89 16.840,54 1.875,88 1.421,78 7.282,20 18.788,95 47.251,24

Sumber : Dinas Kehutanan Propsu & BPKH Wil. I di Medan, 2003

B.

Kawasan Budidaya Non-Pertanian

Kawasan budidaya non-pertanian di Propinsi Sumatera Utara meliputi : 1. Kawasan pertambangan 2. Kawasan industri 3. Kawasan pariwisata B.1 Kawasan Pertambangan

Pengembangan kegiatan pertambangan di Sumatera Utara mempunyai prospek yang positif, terutama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumatera Utara. Propinsi Sumatera Utara memiliki beberapa sumberdaya pertambangan, antara lain galian golongan C, migas, dan mineral. Sementara untuk beberapa jenis bahan tambang seperti emas dan batubara masih dalam tahap eksplorasi. Arahan pola pemanfaatan ruang bagi kawasan potensi pertambangan meliputi seluruh kabupaten/kota di Sumatera Utara, baik untuk eksplorasi maupun eksploitasi. Untuk bahan galian golongan C diarahkan di seluruh kabupaten/kota, kecuali, Sibolga, Pematangsiantar, dan Medan. Untuk galian tambang lainnya terdapat di Kabupaten Langkat, Karo, Dairi, Simalungun, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Nias, dan Kawasan Pantai Timur. B.2 Wilayah Pengembangan Industri

Pengembangan industri kecil diarahkan di seluruh kabupaten/kota, baik berupa industri pengolahan hasil pertanian maupun jenis industri rumah tangga lainnya. Sedangkan untuk industri besar

dan menengah diarahkan di Kawasan Perkotaan Mebidang sebagai pusat kegiatan industri terbesar di Sumatera Utara, sedangkan industri besar dan menengah lainnya diarahkan di Labuhan Batu termasuk Rantau Prapat, di Asahan termasuk Tanjungbalai, serta Pematangsiantar. Bagi Kabupaten Toba Samosir, kota Porsea dan Balige sebagai pusat industri dan untuk kota Sibolga serta kota lainnya di Pantai Barat, Padangsidimpuan untuk industri pengolahan hasil perikanan. B.3 Kawasan Pariwisata

Sumatera Utara memiliki potensi obyek dan daya tarik wisata yang cukup beragam, terutama wisata alam, budaya, dan minat khusus. Kawasan pariwisata diarahkan untuk dikembangkan di kawasan yang memiliki obyek wisata yang potensial. Pengembangan kawasan wisata utama diarahkan di Danau Toba dan sekitarnya untuk wisata alam dan budaya; Nias dan sekitarnya untuk wisata alam, budaya, dan minat khusus; Brastagi dan Tanah Karo untuk wisata alam dan budaya; serta Bahorok untuk wisata alam, minat khusus, dan budaya. Kawasan Pantai Timur sekitar kabupaten Deli Serdang dan kawasan pantai Barat Kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga serta Mandailing Natal untuk wisata bahari dan minat khusus.

4.2.3

Kawasan Pemanfaatan Ruang yang Bermasalah

Untuk memperoleh kepastian dalam penetapan pemanfaatan ruang di wilayah Propinsi Sumatera Utara, telah dilakukan pemaduserasian pemanfaatan ruang yang ditetapkan Gubernur Sumatera Utara melalui keputusan nomor 650/458/BPSU/1997. Dalam implementasinya, ketepatan pemanfaatan ruang di beberapa lokasi tidak dapat dicapai, sehingga menimbulkan ketidaksesuaian kepentingan antara upaya pelestarian lingkungan dengan pengembangan kegiatan budidaya. Kegiatan budidaya perkebunan, pertanian lahan kering, dan sebagainya telah memanfaatkan kawasan yang diarahkan berfungsi lindung, yang antara lain ditetapkan sebagai hutan lindung. Untuk memberikan kepastian pemanfaatan ruang sesuai dengan skala ruang, ketersediaan data dan informasi, serta penyesuaian kepentingan para pihak, maka dalam RTRWP Sumatera Utara 2003-2018 dilakukan identifikasi kawasan yang pemanfaatan ruangnya bermasalah. Penangguhan penetapan pemanfaatan ruang pada kawasan ini ditujukan untuk : 1 2 3 4 Memperoleh dukungan dan informasi yang lebih lengkap dan akurat bagi delineasi kegiatan yang menimbulkan ketidaksesuaian kepentingan. Memperoleh data dan informasi yang lebih lengkap dan akurat untuk mengkaji dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan budidaya yang sedang berlangsung. Memperoleh kesepakatan para pihak sesuai dengan kepentingan dan kewenangan masing-masing untuk keputusan pemanfaatan ruang. Memperoleh ketepatan pengambilan keputusan sesuai dengan skala ruang perencanaan, dimana pemanfaatan ruang untuk beberapa kawasan perlu ditetapkan pada rencana tata ruang yang lebih rinci.

Ruang bermasalah yang dalam kerangka waktu dan kedalaman substansinya belum diatur dalam RTRWP Sumatera Utara 2003-2018 akan memperoleh penetapan pemanfaatan ruangnya melalui mekanisme pembangunan lainnya. Namun dalam RTRWP Sumatera Utara 2003-2018 dilakukan penetapan pemanfaatan ruang sementara (temporary use) sesuai dengan kriteria tertentu. Pada hakekatnya, keputusan perencanaan ruang bermasalah ini menyangkut substansi pengaturannya, juga menyangkut kewenangan kelembagaan yang mengaturnya seperti untuk proses pelepasan kawasan hutan harus melalui Pemerintah Pusat.

Beberapa kriteria yang dipertimbangkan dalam menetapkan pemanfaatan ruang yang bermasalah untuk sementara meliputi : 1 2 3 4 5 Pemanfaatan sementara tidak menimbulkan dampak negatif terhadap ruang yang bersangkutan maupun di sekitarnya. Pemanfaatan sementara tidak ditujukan bagi investasi jangka panjang dalam jumlah besar. Pemanfaatan sementara menjamin pemulihan (reversible) kondisi lingkungan setempat dan sekitarnya. Pemanfaatan sementara dapat memberikan manfaat bagi masyarakat umum. Pemanfaatan sementara menjamin kemungkinan perubahan menuju pemanfaatan ruang yang lebih pasti.

Dalam kerangka waktu perencanaan RTRWP Sumatera Utara 2003-2018, pemanfaatan sementara yang dimungkinkan untuk suatu pemanfaatan ruang kawasan yang bermasalah adalah : 1 2 3 Kondisi status quo hingga terbit keputusan yang mengatur pemanfaatannya Pertanian lahan kering dan sejenisnya dengan pengawasan yang ketat Melalui reboisasi, jika dana untuk kegiatan tersebut memungkinkan

Untuk menuju pemanfaatan ruang dengan ketetapan yang mengikat para pihak, beberapa alternatif tindakan yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut : 1 2 3 4 5 Menyiapkan kelengkapan data dan informasi untuk memperoleh kesepakatan atau keputusan yang berwenang. Merumuskan dampak negatif, implikasi biaya, dan eksternalitas yang ditimbulkan oleh pemanfaatannya saat ini. Merumuskan kesepakatan antar pihak yang berwenang untuk memutuskan pemanfaatan ruang dan memberikan ketetapan akhir. Melakukan mediasi antar pihak untuk memperoleh solusi yang dapat diterima masing-masing pihak. Mengatur pemanfaatan ruangnya dalam rencana tata ruang yang lebih rinci sesuai dengan skala ruang.

Keputusan pemanfaatan ruang yang bermasalah melibatkan kewenangan Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi, atau Pemerintah Kabupaten/Kota dan mempedomani kriteria dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dalam rangka: 1 2 3 4 5 Penetapan keputusan yang mengikat para pihak. Perencanaan tata ruang wilayah dan kegiatan. Pemanfaatan ruang dan pengelolaan kegiatan. Pengawasan pemanfaatan ruang dan kegiatan. Pengendalian pemanfaatan ruang dan kegiatan.

4.3
4.3.1
1 2 3

Arahan Pengembangan Ruang


Kawasan Lindung

A. Tujuan Pengembangan Mengurangi dampak yang terjadi akibat peralihan fungsi lindung pada kawasan hutan oleh perambahan dan aktifitas budidaya non kehutanan, Meningkatkan siklus hidrorologis pada satuan wilayah sungai dan menghindarkan bahaya banjir, Mempertahankan ekosistem pada pesisir, laut, dan pulau, khususnya hutan mangrove dan rawa,

4 5 6

Mempertahankan fungsi ekologis kawasan gambut dan habitat spesies yang dilindungi lainnya, Menghindarkan dampak bencana alam yang mungkin terjadi pada kwasan rawan bencana, antara lain kawasan potensial gerakan tanah (potensi erosi dan longsor). Mempertahankan cagar budaya sebagai warisan budaya Arahan Pengembangan

1 2 3 4 5 6 7 C. 1 2

Mencegah perambahan dan alih fungsi hutan yang berfungsi lindung oleh kegiatan budidaya yang mengganggu fungsi lindung hutan yang bersangkutan. Meningkatkan kemampuan satuan wilayah sungai untuk melangsungkan daur hidrorologisnya agar kinerja jaringan irigasi maupun fungsi pematusan dapat dilangsungkan. Memantapkan ekosistem mangrove dan rawa. Mengendalikan kegiatan yang memanfaatkan kawasan bergambut. Mengendalikan pembangunan fisik dan perkembangan aktifitas binaan pada kawasan yang potensial mengalami gerakan tanah. Melestarikan cagar alam untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pendidikan, pariwisata dan ilmu pengetahuan. Mencegah pemanfaatan bantaran sungai sebagai badan sungaidan daerah retensi yang berfungsi sebagai pengendali bahaya banjir. Strategi Pencapaian Tujuan

Mempertahankan kawasan hutan berfungsi lindung yang belum mengalami perambahan. Memperbaiki/mengembalikan fungsi lindung dari kawasan lindung yang dirambah pada RTRW yang lebih rinci. Dalam penetapan status, kriteria yang dipergunakan adalah mempertahankan fungsi lindung dari kawasan hutan yang bersangkutan. Pada tahap tertentu, apabila tidak dimungkinkan memulihkan fungsi lindung dari kawasan hutan yang bersangkutan, dimungkinkan dilakukan konversi untuk penggunaan lainnya, namun dengan terlebih dahulu mengkaji dampak yang ditimbulkan. 3 Mempertahankan ekosistem mangrove sebagai penahan abrasi, tempat pengendapan lumpur, tempat asuhan post larva, tempat bertelur, tempat memijah, dan tempat mencari makan biota perairan melalui pengendalian terhadap perusakan mangrove serta rehabilitasi vegetasi mangrove. 4 Penataan alih fungsi lahan untuk mempertahankan fungsinya sebagai habitat biota dan vegetasi rawa serta sebagai tempat retensi aliran permukaan menuju ke laut. 5 Pencegahan alih fungsi lahan pada kawasan yang berfungsi sebagai cagar alam, suaka margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya, cagar biosfer, serta cagar budaya kawasan bergambut, kawasan resapan air, sempadan pantai, sempadan, sempadan sekitar danau/waduk kawasan sekitar mata air, kawasan pantai berhutan bakau, taman wisata, kawasan suaka alam laut, kawasan rawan bencana alam, dan pulau-pulau kecil (disesuaikan dengan Keppres Nomor 32 tahun 1990 atau Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional). 6 Mengendalikan pemanfaatan lahan bergambut oleh kegiatan budidaya, sehingga tidak menimbulkan dampak lingkungan. 7 Deliniasi kawasan berstatus rawan bencana alam menurut zoning yang lazim berlaku pada RTRW yang lebih rinci, terutama dikaitkan dengan disaster management. 8 Deliniasi kawasan perlindungan setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku pada RTRW Kabupaten, Kota, dan Kecamatan. 9 Melindungi cagar budaya melalui rehabilitasi, renovasi, dan penetapan zona cagar budaya.

4.3.2

Kawasan Perdesaan

A. Tujuan Pengembangan 1. Mempertahankan dan meningkatkan produktifitas sektor primer dan meningkatkan perkembangan sektor sekunder dan tersier, terutama sebagai proses penambahan nilai sumberdaya alam lokal. 2. Meningkatkan penyediaan lapangan pekerjaan yang memadai untuk kebutuhan masa mendatang. 3. Meningkatkan produktifitas subsektor pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, dan perikanan. 4. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia penduduk perdesaan. B. Arahan Pengembangan Mengembangkan kawasan permukiman perdesaan dengan dilengkapi oleh fasilitas permukiman perdesaan. Mengembangkan kawasan perdesaan yang terletak di sepanjang pantai menjadi desa nelayan dan untuk kawasan perdesaan lainnya menjadi desa pertanian. Mengembangkan pertanian lahan basah rakyat terutama di beberapa kabupaten yang memiliki kontribusi yang cukup besar dalam produksi padi antara lain di Kabupaten Deli Serdang, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Simalungun, Asahan, Langkat, Labuhan Batu, Tapanuli Utara, Toba Samosir, dan Tapanuli Tengah. Mengembangkan pertanian lahan kering rakyat terutama untuk komoditi yang produktifitasnya tinggi yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk sektor industri sekunder serta komoditi yang berorientasi ekspor. Mengembangkan perkebunan rakyat dan perkebunan besar (swasta dan PTPN) pada wilayah yang mempunyai tingkat produktifitas tinggi, mendukung pengembangan sektor industri sekunder, dan komoditi yang berorientasi ekspor, dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Mengembangkan peternakan baik peternakan besar, kecil, maupun unggas untuk mencukupi kebutuhan lokal dan wilayah di luar Sumatera Utara. Mengembangkan perikanan tangkap terutama perikanan laut yang merupakan penghasil produksi ikan terbesar di Sumatera Utara dan perikanan budidaya termasuk perikanan danau. mengembangkan pariwisata dengan memanfaatkan potensi alam dan budaya. Strategi Pencapaian Tujuan 1. Untuk mempertahankan sektor pertanian lahan basah sebagai sektor basis, maka lahan pertanian yang ada dipertahankan agar kondisi swasembada dapat dipertahankan. Selain itu, perlu dilakukan langkah lain untuk meningkatkan produktifitas, antara lain : Perbaikan sistem irigasi, yang sebelumnya hanya mampu mengairi sawah sekali masa tanam per tahun menjadi dua kali masa tanam per tahun. Perbaikan kawasan tangkapan air (catchment area) dari satuan wilayah sungai, sehingga air untuk kebutuhan irigasi dapat terpenuhi. Melanjutkan dan meningkatkan usaha diversifikasi dan intensifikasi secara terpadu, serasi, dan merata sesuai dengan kondisi air, iklim, dan tetap menjaga kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan. Mempertahankan lahan basah pertanian yang beririgasi untuk tidak beralh fungsi menjadi lahan non pertanian. 2. Untuk sektor pertanian lahan kering, strategi yang dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan produktifitas yang telah dicapai adalah dengan : Mempertahankan luas lahan tanaman kering yang ada serta melakukan perluasan ke daerah yang masih memungkinkan sesuai dengan arahan pada RTRW Kabupaten.

Diversifikasi tanaman, terutama komoditi buah-buahan yang bertujuan untuk mendukung pengembangan sektor sekunder seperti industri bahan pangan yang menggunakan buah-buahan sebagai bahan bakunya. Menciptakan keterkaitan antara petani rakyat dengan sektor sekunder, sehingga akan semakin meningkatkan produksi pertanian untuk mendukung sektor pengolahan yang bersangkutan. 3. Sebagai komoditi andalan di Sumatera Utara produktifitas perkebunan perlu dipertahankan dan dikembangkan, dan perlu dilakukan langkah-langkah antara lain : Mempertahankan luas dan lokasi lahan perkebunan yang ada, serta dilakukan pengembangan pada lokasi yang masih memungkinkan sesuai dengan arahan pengembangan dalam RTRW Kabupaten. Upaya peningkatan produktifitas perkebunan dangan cara agroforestry dan melakukan pemilihan komoditas yang lebih komersial Penanganan pasca panen yang lebih baik dengan melakukan kontrol kualitas produksi dan memperbaiki manajemen pemasaran sehingga akan memperluas pasar komoditas perkebunan. Kerjasama antara pemilik perkebunan kecil (rakyat) dan perkebunan besar menurut pola inti plasma sehingga dapat meningkatkan kualitas hasil produksi perkebunan. Pengelolaan kawasan perkebunan untuk tujuan kegiatan wisata-agro. Menciptakan keterkaitan antara perkebunan rakyat dengan sektor sekunder yang terkait. 4. Untuk sub-sektor peternakan yang dapat diandalkan sebagai salah satu sektor unggulan, dilakukan usaha : Pengembangan peternakan diarahkan sesuai dengan lokasi persawahan, tegalan, kebun campuran, rawa dan alang-alang, sehingga penggunaan lahannya dapat dilakukan secara terpadu. Pengembangan peternakan dapat dilakukan di seluruh kabupaten di Propinsi Sumatera Utara. Memberikan pinjaman lunak kepada peternak yang memiliki modal terbatas untuk memperluas usaha peternakannya. Pengelolaan pemasaran hasil ternak secara lebih baik, terutama untuk pemasaran lokal dan regional/nasional Mengembangkan pola kemitraan dan pendampingan antara pengusaha swasta dengan peternakan rakyat. 5. Sub Sektor perikanan dan kelautan sebagai salah satu sektor andalan dikembangkan melalui : Peningkatan areal perikanan tambak dan laut dengan memanfaatkan pasang surut di kawasan Pantai Timur Sumatera Utara. Peningkatan usaha penangkapan ikan di daerah pantai dan lepas pantai, termasuk wilayah zona ekonomi eksklusif. Perbaikan sarana penangkapan ikan, seperti kapal, sehingga dapat mengoptimalkan hasil tangkapan ikan di perairan laut Sumatera Utara hingga batas zona ekonomi eksklusif. Pengembangan kegiatan perikanan rakyat dalam rangka meningkatkan pendapatan dan taraf hidup nelayan, serta memajukan desa-desa pantai. Penaburan benih ikan di perairan Danau Toba. Perbaikan sarana dan prasarana transportasi ke daerah-daerah pelabuhan penangkapan ikan untuk memperlancar kegiatan distribusi. Melakukan pengamanan laut yang lebih teratur, sehingga kekayaan sumberdaya perikanan dapat terjaga dari pencurian ikan oleh pihak asing. 6. Melakukan perbaikan tingkat aksesibilitas ke wilayah perdesaan, untuk mendukung pemasaran produksi perdesaan baik di sektor primer maupun sekunder.

7. Perbaikan sistem pendidikan untuk meningkatkan kualitas penduduk perdesaan, yang dilakukan dengan pembangunan sekolah kejuruan untuk menampung penduduk usia sekolah serta perbaikan kualitas pengajar. 8. Penyediaan sarana dan prasarana di perdesaan untuk menampung kegiatan masyarakat di perdesaan. 9. Pembangunan industri berskala lokal yang menggunakan hasil produksi setempat sebagai bahan baku dan pasar desa sebagai pusat perdagangan hasil produksi pertanian dan industri. 10. Pelaksanaan program pengembangan kawasan dan tingkat sosial masyarakat, yang dilakukan melalui pengembangan kawasan/desa tertinggal dan atau pelaksanaan program kemiskinan dan atau program jaring pengaman sosial. 11. Pengembangan pariwisata. 12. Peningkatan pemahaman masyarakat desa tentang peranan ekosistem dan pola pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan untuk mencapai tujuan kesejahteraan antar generasi.

4.3.3

Kawasan Perkotaan

Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Kawasan perkotaan merupakan daerah permukiman yang meliputi kota induk dan wilayah pengaruh di luar batas administratifnya, yaitu kawasan pinggiran kota (suburban). Kegiatan yang ditampung di kawasan perkotaan merupakan kegiatan dengan intensitas tinggi, yaitu meliputi kegiatan-kegiatan permukiman perkotaan, industri, jasa dan perdagangan, serta kegiatan pelayanan lainnya. Pertumbuhan sektor sekunder dan tersier serta pertumbuhan jumlah penduduk di Propinsi Sumatera Utara telah mendorong berkembangnya kawasan perkotaan dan meningkatkan kebutuhan penyediaan prasarana dan sarana perkotaan. Penyediaan prasarana dan sarana perkotaan di Propinsi Sumatera Utara harus diarahkan pada pemerataan untuk mendukung pengembangan struktur ruang wilayah Propinsi Sumatera Utara yang dituju. Tujuan Pengembangan 1 2 Mempercepat terbentuknya struktur ruang sesuai arahan rencana struktur ruang Propinsi Sumatera Utara. Mengembangkan kawasan perkotaan yang serasi, selaras, dan seimbang dalam pengembangan kehidupan masyarakat, melalui penyediaan prasarana dan sarana perkotaan yang lebih berimbang di seluruh bagian wilayah Propinsi Sumatera Utara dalam rangka mendukung aktifitas penduduk perkotaan. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya kelompok masyarakat berpenghasilan rendah melalui peningkatan produksi dan pemasaran oleh koperasi dan usaha kecil menengah lainnya. Menciptakan pemerataan perkembangan antar bagian wilayah Propinsi Sumatera Utara dan memperkuat setiap satuan wilayah sesuai dengan potensi dan kendalanya. Meningkatkan efisiensi pelayanan setiap satuan ruang wilayah pengembangan. Mendorong terciptanya tata-kaitan antara sentra penghasil sumberdaya alam dengan pusat pengumpul dan pengolah sumberdaya alam Arahan Pengembangan 1 Arahan pengembangan kawasan perkotaan adalah sebagai berikut : Pengembangan sistem perkotaan diarahkan mengikuti hirarki fungsional yang ditetapkan dalam rencana struktur ruang dan pusat pelayanan wilayah Propinsi Sumatera Utara.

3 4 5 6

Kawasan perkotaan Mebidang dikembangkan sebagai pusat pelayanan primer A dengan wilayah pelayanan Propinsi Sumatera Utara, Sumatera bagian Utara, propinsi lain, dan internasional. Kawasan ini dikembangkan dengan intensitas tertinggi sebagai pusat pelayanan distribusi dan koleksi barang dan jasa regional. Aktifitas utama yang diprioritaskan untuk dikembangkan adalah aktifitas sektor tersier, dengan jenis kegiatan yang relatif fleksibel, namun tetap diupayakan mendukung pengembangan sektor primer dan sekunder yang ada. Sektor sekunder dengan intensitas tinggi yang ada tetap dikembangkan terutama untuk mendukung sektor tersier dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah. Pengembangan kawasan perkotaan Mebidang juga diarahkan untuk menampung perkembangan sektor sekunder dan tersier berskala nasional/ internasional dalam jangka panjang. Hal ini diperlukan dalam rangka mempertahankan peran dan fungsi Propinsi Sumatera Utara dalam konstelasi nasional dan regional, terutama dalam rangka pemupukan sumber dana pembangunan bagi Propinsi Sumatera Utara. 3 Kota Sibolga dikembangkan sebagai pusat pelayanan primer B dengan tujuan untuk memberikan pelayananan regional bagi wilayah Pantai Barat Sumatera Utara. Selain itu pengembangan Kota Sibolga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan wilayah Pantai Barat terhadap wilayah Pantai Timur, khususnya pusat primer di Mebidang, serta untuk mendorong pertumbuhan wilayah Pantai Barat Sumatera Utara. Dalam rangka mendorong perkembangan Kota Sibolga sebagai pusat primer B di wilayah Pantai Barat Sumatera Utara, intensitas kegiatan sekunder dan tersier perlu ditingkatkan perkembangannya, terutama untuk mendukung kegiatan primer dan sekunder wilayah Pantai Barat. Bandar udara Dr.Ferdinand Lumbantobing dan pelabuhan Sibolga dikembangkan untuk mendukung fungsi distribusi dan koleksi barang dan jasa di wilayah Pantai Barat. 4 Kota-kota sekunder dikembangkan dengan intensitas sedang. Pusat pelayanan sekunder A dikembangkan dengan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan pusat pelayanan sekunder B dalam rangka memacu pertumbuhan wilayah Propinsi Sumatera Utara. Pusat pelayanan sekunder dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan wilayah sekitarnya. Prioritas kegiatan yang dikembangkan meliputi kegiatan sekunder dan tersier seperti industri, perdagangan, dan jasa, dengan skala pelayanan sub-regional dan tidak tertutup kemungkinan untuk pengembangan aktifitas sekunder dan tersier dengan skala pelayanan regional. 5 Pusat pelayanan sekunder dan tersier diperluas fungsinya sebagai pusat yang melayani wilayah pengembangan masing-masing terutama untuk kegiatan agroindustri dan agrobisnis. Perluasan fungsi kota tersier ditunjang oleh penyediaan prasarana dan sarana pada lingkup lokal yang terintegrasi dengan pengembangan jaringan transportasi utama di wilayah Propinsi Sumatera Utara. 6 Pusat pelayanan tersier dikembangkan sebagai pusat pengumpul dan pengolah hasil pertanian rakyat di wilayah sekitarnya dengan dukungan feeder-road dari pusat pengumpul ke sentra-sentra penghasil sumberdaya alam, serta akses menuju jaringan yang menghubungkan kota-kota sekunder dan primer. Prioritas pengembangan kota-kota tersier adalah aktifitas sektor sekunder atau pengolahan berskala lokal yang mendukung pengembangan sektor primer di wilayah hinterlandnya. 7 Peningkatan sumberdaya manusia dikembangkan dengan mengembangkan sekolah-sekolah kejuruan yang disesuaikan dengan potensi ekonomi yang akan dikembangkan di wilayah setempat. Sekolah kejuruan tersebut dapat dikembangkan di kota-kota tersier. 8 Penyediaan prasarana dan sarana perkotaan ditujukan untuk mendukung berbagai kegiatan penduduk di wilayah tersebut dan disesuaikan dengan skala pelayanannya. Tabel 4.5 Sistem Perkotaan dan Fasilitas Yang Disediakan Hirarki Kota Fasilitas yang Disediakan

Pusat Pelayanan Primer

Kawasan Perkotaan Mebidang Sibolga

Permukiman perkotaan dengan intensitas tinggi dan fasilitasnya (listrik, air bersih, drainase, pembuangan air kotor, telepon) Fasilitas kesehatan : Puskesmas, rumah sakit (skala regional), pelayanan medis khusus (spesialis), rumah bersalin, apotik Fasilitas pendidikan : SD, SLTP, SMU, Perguruan Tinggi Fasilitas jasa keuangan dan perbankan : koperasi, pelayanan kredit, bank nasional, bank devisa, asuransi Fasilitas jasa pariwisata : hotel (bintang dan melati), restoran, sarana hiburan rakyat Fasilitas perdagangan : pasar induk, pasar permanen, supermarket, pusat pertokoan, pusat distribusi dan koleksi bahan makanan, pusat pelayanan jasa ekspor-impor Prasarana transportasi : jalan arteri primer, jalan kolektor primer, terminal antar kota dan antar propinsi, pelabuhan, fasilitas intermoda. Sarana transportasi : berbagai jenis angkutan umum dalam kota, antar kota, dan antar propinsi (darat, laut, udara) Fasilitas industri : fasilitas pemrosesan, distribusi dan transportasi; perdagangan regional; pusat penelitian produksi dan teknologi Permukiman perkotaan dengan intensitas sedang dan fasilitasnya (air bersih, drainase, air kotor, listrik, telepon) Fasilitas kesehatan : Puskesmas, rumah sakit (skala kabupaten), pelayanan medis khusus (spesialis), rumah bersalin, apotik Fasilitas pendidikan : SD, SLTP, SMU, Perguruan tinggi Fasilitas jasa keuangan dan perbankan : koperasi, pelayanan kredit, bank nasional, Fasilitas jasa pariwisata : hotel (bintang dan melati), restoran, sarana hiburan Fasilitas perdagangan : pasar induk, pasar permanen, gudang pemasok bahan makanan Prasarana transportasi : jalan arteri primer, jalan kolektor primer, terminal antar kota Sarana transportasi : angkutan umum antar kota dan dalam kota Fasilitas industri : fasilitas pemrosesan, distribusi, dan transportasi; pusat penelitian produksi Permukiman perkotaan dengan intensitas sedang dan fasilitasnya (air bersih, drainase, air kotor, listrik, telepon) Fasilitas kesehatan : Puskesmas, pelayanan medis khusus (spesialis), rumah bersalin, apotik Fasilitas pendidikan : SD, SLTP, SMU, sekolah menengah

Pusat Pelayanan Sekunder A

Pematangsiantar Tanjungbalai Tebing Tinggi

Pusat Pelayanan Sekunder B

Stabat Pematang Raya Kisaran Rantau Prapat Balige Tarutung

Padangsidimpuan Panyabungan Pandan Sidikalang Kabanjahe

kejuruan dan akademi Fasilitas jasa keuangan dan perbankan : koperasi, pelayanan kredit, bank nasional, Fasilitas jasa pariwisata : hotel, restoran, sarana hiburan Fasilitas perdagangan : pasar induk, pasar permanen, gudang pemasok bahan makanan Prasarana transportasi : jalan arteri primer, jalan kolektor primer, terminal antar kota dan antar propinsi Sarana transportasi : angkutan umum antar kota dan dalam kota Fasilitas industri : fasilitas pemrosesan, distribusi, dan transportasi

Pusat Pelayanan Tersier

Pangkalan Brandan Tanjung Selamat Tanjung Pura Galang Perbaungan Dolok Masihul Perdagangan Pematang Tanahjawa Indrapura Aek Kanopan Labuhan Bilik Kota Pinang Aek Nabara Natal Kotanopan Gunung Tua Sipirok Garoga Dolok Sanggul Porsea Prapat Lumut Barus Salak Siempatnempu Sumbul Kutabuluh Brastagi Lahewa Teluk Dalam Pangururan Laguboti Perdagangan Saribu Dolok Purbasari

Permukiman perkotaan intensitas rendah dan fasilitasnya Fasilitas kesehatan : Puskesmas, pelayanan medis umum Fasilitas pendidikan : SD, SLTP, SMU, sekolah menengah kejuruan Fasilitas jasa keuangan dan perbankan : koperasi, pelayanan kredit, Fasilitas perdagangan : pasar permanen, toko kelontong Fasilitas Air Minum Fasilitas Telekomunikasi Kecamatan Prasarana transportasi : jalan kabupaten, jalan kecamatan beraspal, feeder-road, terminal angkutan kecamatan, pelabuhan, dermaga sungai Sarana transportasi : angkutan umum kecamatan Fasilitas industri : fasilitas pergudangan dan pengolahan,

Strategi Pengembangan Untuk mencapai tujuan pengembangan kawasan perkotaan Propinsi Sumatera Utara, maka strategi yang dikembangkan adalah sebagai berikut : 1 Membangun prasarana dan sarana perkotaan yang memadai sesuai dengan tingkat pelayanannya. Prasarana dan sarana perkotaan yang disediakan di kota primer adalah prasarana dan sarana perkotaan berskala regional. Prasarana dan sarana perkotaan yang disediakan di kota sekunder dipersiapkan untuk pelayanan pada skala sub-regional. Sedang skala pelayanan prasarana dan sarana perkotaan untuk kota tersier adalah prasarana dan sarana perkotaan skala lokal yang melayani satu atau lebih kecamatan di sekitarnya. Tabel 4.6 menyajikan fasilitas perkotaan yang disediakan untuk tiap-tiap pusat pelayanan. Mengembangkan kegiatan perdagangan dan jasa berskala nasional dan internasional di Kawasan Perkotaan Mebidang dengan dilengkapi prasarana dan sarana perkotaan berskala nasional dan internasional dalam rangka mempertahankan peran dan fungsi Propinsi Sumatera Utara dalam konstelasi nasional/internasional. Mengembangkan kegiatan perdagangan dan jasa berskala propinsi di kota-kota sekunder, serta kegiatan perdagangan dan jasa berskala lokal di kota-kota tersier. Membangun prasarana dan sarana untuk kegiatan industri di Kawasan Perkotaan Mebidang, Sibolga, Pematangsiantar, Padangsidimpuan, Balige, Porsea dan Tanjungbalai. Membangun dan mengembangkan industri-industri pengolahan hasil pertanian pada lokasi dengan akses yang mudah dari dan menuju sentra penghasil sumberdaya alam, terutama di kota-kota tersier. Mengembangkan dan meningkatkan fungsi jaringan regional, sub-regional, dan feeder road untuk mendukung kegiatan distribusi barang dan jasa. Membangun dan mengembangkan sekolah menengah kejuruan di kota-kota sekunder dan tersier sesuai dengan potensi pengembangan di setiap bagian wilayah. Meningkatkan pemahaman masyarakat perkotaan tentang peranan ekosistem dan pola pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan untuk mencapai tujuan kesejahteraan antar generasi.

3 4 5 6 7 8

4.3.4

Kawasan Tertentu

Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, kawasan tertentu adalah kawasan yang secara nasional ditetapkan mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan. Untuk mendukung terciptanya struktur ruang Propinsi Sumatera Utara yang dikehendaki serta mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang mantap, maka beberapa kawasan di Propinsi Sumatera Utara ditetapkan sebagai kawasan tertentu yang akan berperan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya bagi Propinsi Sumatera Utara. Wewenang pengelolaan kawasan tersebut berada pada Pemerintah dan Pemerintah Propinsi Sumatera Utara.

Gambar 4.4 Kawasan Tertentu Propinsi Sumatera Utara

Kawasan tertentu secara nasional di Propinsi Sumatera Utara adalah kawasan perkotaan Mebidang (Medan, Binjai, dan Deli Serdang), dan kawasan lainnya yang diarahkan dalam skala regional Sumatera. Dalam arahan pengembangan rencana tata ruang wilayah Sumatera, Kawasan Danau Toba dan sekitarnya dan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) ditetapkan sebagai kawasan tertentu. Pengembangan kawasan tertentu di Propinsi Sumatera Utara ditujukan untuk : 1 2 3 4 5 6 Mendukung terciptanya struktur ruang Propinsi Sumatera Utara yang dituju. Meningkatkan fungsi kawasan lindung dan kawasan budidaya yang terpadu dan serasi. Menciptakan kawasan unggulan yang potensial dikembangkan secara nasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumatera Utara dan wilayah Sumatera bagian Utara. Membangun pusat pertumbuhan ekonomi yang dapat mendorong perkembangan wilayah di sekitarnya. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pertumbuhan ekonomi yang mantap terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah, sesuai prinsip ekonomi kerakyatan. Mengembangkan Kawasan Danau Toba sekitarnya dan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang dilengkapi dengan penataan kawasan yang memikili fungsi utama melestarikan dan melindungi Arahan pengembangan kawasan tertentu adalah : 1. Pengembangan kawasan perkotaan MEBIDANG sebagai pelayanan primer A yang memberikan pelayanan regional meliputi wilayah Propinsi Sumatera Utara hingga wilayah Sumatera bagian Utara dengan prioritas aktivitas sektor sekunder dan tersier; 2. Pengembangan kawasan MEBIDANG tersebut diatas dilengkapi dengan penyediaan prasarana dan sarana perkotaan pendukung sesuai dengan jangkauan pelayanannya, dengan tetap memperhatikan dampak lingkungan. 3. Pengembangan kawasan Danau Toba sekitarnya dan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang dilengkapi dengan penataan kawasan dengan fungsi utama melestarikan dan melindungi. Strategi pengembangan kawasan tertentu adalah mengembangkan prasarana dan sarana kawasan pada fungsi perkotaan yang mendukung terciptanya pusat pertumbuhan ekonomi sesuai dengan sektor ekonomi yang menjadi unggulan dan jangkauan pelayanannya dan menata pengembangan kawasan pada fungsi lindung yang mendukung terciptanya kelestarian kawasan.

4.3.5
1 2

Kawasan Andalan

Kawasan andalan di Propinsi Sumatera Utara ditetapkan sebagai berikut : Kawasan andalan darat meliputi 6 (enam) kawasan, yaitu : Kawasan Medan dan sekitarnya, Kawasan Rantau Prapat-Kisaran dan sekitarnya, Kawasan Pematangsiantar dan sekitarnya, Kawasan Tapanuli dan sekitarnya, Kawasan Danau Toba dan sekitarnya, serta Kawasan Nias dan sekitarnya. Kawasan andalan laut meliputi 3 (tiga) kawasan, yaitu : Kawasan Laut Lhokseumawe-Medan dan sekitarnya, Kawasan Selat Malaka dan sekitarnya, serta Kawasan Nias dan sekitarnya. Pengembangan kawasan andalan laut terintegrasi dan terkait dengan pengembangan kawasan andalan darat. Arahan bagi pengembangan kawasan andalan di Propinsi Sumatera Utara adalah sebagai berikut :

Kota Medan dan sekitarnya dikembangkan sebagai pusat pelayan primer A bagi pengembangan kota Medan, kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang, Karo, Dairi dan Langkat. Sektor unggulan industri yang dikembangakn meliputi agroindustri, industri mesin, kimia dasar, dan aneka industri. Sektor unggulan perkebunan yang dikembangkan meliputi kelapa sawit, kopi, tembakau, coklat, rempah rempah

dankaret. Sektor unggulan pertanian tanaman pangan komoditas yang dikembangakan di kawasan ini terdiri dari padi, kacang kedele, jagung dan ubi. Untuk mendukung Kota Medan dan sekitarnya diarahkan sebagai pusat pelayanan regional dengan mengintensifkan kegiatan sekunder dan tersiter pada wilayah pelayanannya.

Gambar 4.5 Kawasan Andalan Propinsi Sumatera Utara

Kota Sibolga dan sekitarnya dikembangkan sebagai pusat pelayanan primer B bagi pengembangan kawasan andalan Tapanuli dan sekitarnya, dan kawasan andalan Nias dan sekitarnya. Sektor unggulan dikembangkan meliputi industri pengolahan, perdagangan, dan jasa. Sebagai pusat pelayanan primer, Sibolga diarahkan untuk dikembangkan menjadi pusat pelayanan bagi wilayah Pantai Barat Sumatera Utara. Untuk mendukung pengembangan kota Sibolga, kegiatan sekunder dan tersier berskala regional dikembangkan secara lebih intensif, terutama untuk memberikan pelayanan bagi wilayah Pantai Barat Sumatera Utara. Pengembangan bandar udara Dr. Ferdinand Lumbantobing dan pelabuhan Sibolga juga diarahkan untuk mendukung fungsi kota Sibolga sebagai pusat distribusi dan koleksi barang dan jasa wilayah Pantai Barat Sumatera Utara. Kota Tanjungbalai dan sekitarnya dikembangkan sebagai pusat pelayanan sekunder A dan diarahkan untuk menjadi pusat bagi pengembangan kawasan andalan Rantau Prapat-Kisaran dan sekitarnya. Penetapan ini berbeda dengan RTRW Nasional yang menetapkan Rantau Prapat sebagai pusat pengembangan kawasan. Sektor unggulan yang dikembangkan meliputi perkebunan, pertanian tanaman pangan, dan industri. Kawasan andalan Rantau Prapat - Kisaran didukung pula oleh pengembangan kawasan andalan laut Selat Malaka dan sekitarnya. Sektor unggulan kawasan laut tersebut adalah perikanan dan pertambangan. Pelabuhan Tanjungbalai dikembangkan sebagai pelabuhan regional untuk mendukung pengembangan kawasan andalan Rantau Prapat - Kisaran. Kota Pematangsiantar dan sekitarnya dikembangkan sebagai pusat pelayanan sekunder A dan menjadi pusat bagi pengembangan kawasan andalan Pematangsiantar dan sekitarnya. Sektor unggulan yang dikembangakan meliputi industri, perkebunan, pertanian tanaman pangan dan pariwisata. Kota Tebing Tinggi termasuk dalam wilayah kawasan andalan Pematangsiantar dan sekitarnya serta dikembangakan sebagai pusat pelayanan sekunder A. Kota Balige dikembangkan sebagai pusat pelayanan sekunder B dan diarahkan sebagai pusat pengembangan kawasan andalan Danau Toba dan sekitarnya. Sektor unggulan yang dikembangkan adalah pariwisata, pertanian tanaman pangan, dan industri.. Gunung Sitoli dikembangkan sebagai kota sekunder B dan diarahkan sebagai pusat pengembangan kawasan andalan Nias dan sekitarnya. Sektor unggulan yang dikembangkan adalah pariwisata dan perikanan. Kawasan andalan tersebut didukung oleh pengembangan kawasan laut Nias dan sekitarnya yang potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari dan perikanan laut. Pengembangan kawasan tersebut didukung pula oleh pengembangan beberapa pelabuhan dan bandar udara. Pengembangan kota-kota tersebut di atas dilengkapi dengan penyediaan prasarana dan sarana perkotaan pendukung sesuai dengan jangkauan pelayanannya. Pengembangan kota kota tersebut diatas dilengkapi dengan penyediaan prasarana dan sarana perkotaan pendukung sesuai dengan jangkauan pelayanannya Untuk mencapai tujuan yang diharapkan dan berdasarkan arahan pengembangan ruang, maka strategi pengembangan kawasan andalan meliputi : 1 Pengembangan prasarana dan sarana perkotaan skala propinsi dan regional di pusat pusat pengembangan kawasan andalan. 2 Mengembangkan jaringan arteri primer yang menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan kawasan andalan, serta membangun jaringan transportasi kolektor dan feeder-road untuk menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan kawasan andalan dengan wilayah penyangganya (hinterland). 3 Mengembangkan prasarana wisata alam di Danau Toba dan sekitarnya, serta mengembangkan prasarana pelayanan pendukung kegiatan wisata alam di Prapat dan Balige meliputi peningkatan Lapangan Terbang Sibisa, peningkatan ruas jalan lingkar dalam Pulau Samosir, pembangunan ruas jalan lingkar luar Danau Toba dan pengerukan Terusan Tano Ponggol. 4 Mengembangkan prasarana wisata bahari, khususnya di kepulauan Nias dan sekitarnya, serta mengembangkan prasarana pelayanan pendukung kegiatan wisata bahari di Gunung Sitoli dan Sibolga.

5 6

Mengembangkan kegiatan ekonomi khususnya sektor primer di kawasan penyangga (hinterland) sebagai penunjang dan pendukung bagi berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan tersebut. Pengembangan prasarana wisata agro/Agrotourisme di sepanjang lintasan pariwisata.

4.3.6

Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau kecil

A. Tujuan Pengembangan 1. 2. 3. 4. Menjaga kelestarian lingkungan kawasan pesisir dan ekosistem laut. Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan kelautan bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumatera Utara. Meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat nelayan. Menciptakan pengelolaan ruang yang terpadu bagi pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir dengan kegiatan pelestarian lingkungan. B. Arahan Pengembangan Propinsi Sumatera Utara memiliki perairan laut dan danau yang potensial dan luas, yang terdiri dari perairan laut pantai Timur, pantai Barat, perairan Danau Toba dan kepulauan. Berbagai kegiatan yang telah berkembang di wilayah pesisir dan kelautan Sumatera Utara meliputi kegiatan perikanan laut, permukiman nelayan, pariwisata, perhubungan, dan industri. Agar potensi kelautan tetap terjaga kelestariannya, maka perlu dikelola secara serasi antara pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir dengan lingkungannya. Untuk tujuan tersebut maka pengembangan kawasan pesisir dan kelautan diarahkan pada : 1. Mempertahankan kawasan lindung di sekitar pantai di Asahan, Langkat, Labuhan Batu, Tapanuli Tengah, Mandailing Natal dan Nias. 2. Pengembangan perikanan tangkap (laut) di pantai Timur, pantai Barat serta Pulau Nias dan pulau lainnya. 3. Pengembangan kegiatan pertambakan yang berwawasan lingkungan di pantai Barat dan di pantai Timur. 4. Pengembangan kawasan wisata bahari di Pulau Nias, Medan, Deli Serdang, Tapanuli Tengah dan Sibolga. 5. Pengembangan pelabuhan perikanan di kawasan pantai Langkat, Deli Serdang, Medan, Asahan, Tanjungbalai, Labuhan Batu, Sibolga, Tapanuli Tengah, Mandailing Natal, dan Nias. 6. Pengembangan industri pengolahan hasil perikanan di sentra-sentra perikanan. C. Strategi Pencapaian Tujuan Untuk mencapai tujuan pengembangan kawasan pesisir dan kelautan Propinsi Sumatera Utara, strategi pengembangan yang dilakukan adalah : 1. Mengembangkan sarana dan prasarana bagi peningkatan kegiatan perikanan, meliputi pelabuhan perikanan, prasarana transportasi dari lokasi sumberdaya laut ke lokasi koleksi dan distribusi, sarana transportasi laut, jaringan irigasi tambak, alat penangkapan ikan, pakan, pupuk, pengelolaan pembibitan ikan terpadu, dan tempat pelelangan ikan.

2. Meningkatkan kualitas dan produksi tangkapan ikan melalui pengembangan teknologi penangkapan ikan dan pengolahan hasil tangkapan ikan yang lebih baik tanpa mengganggu atau merusak ekosistem laut. 3. Meningkatkan prasarana dan sarana bagi permukiman nelayan. 4. Mengembangkan kegiatan perikanan laut dan pertambakan rakyat. 5. Meningkatkan produksi penangkapan ikan pada Zona Ekonomi Ekslusif di Indonesia. 6. Mengembangkan prasarana dan sarana bagi pengembangan wisata bahari, termasuk pengembangan promosi pariwisata. 7. Meningkatkan penyediaan prasarana dan sarana pelabuhan ekspor impor di Belawan. 8. Meningkatkan pengamanan kawasan laut dari pencurian ikan. 9. Meningkatkan dan pengawasan dan pengendalian pemanfaatan sumber daya pesisir laut dan pulau pulau kecil 10. Mengembangkan kawasan mangrove secara insentive untuk mendorong daya dukung perikanan laut.

4.3.7

Kawasan Strategis Hankamnas

Untuk menjaga kepentingan pertahanan dan keamanan nasional (Hankamnas) yang stabil dan mantap, maka perlu ditetapkan kawasan-kawasan yang bersifat strategis bagi kepentingan hankamnas. 1 2 Tujuan pengembangan kawasan strategis hankamnas adalah : Menjamin kondisi pertahanan dan keamanan nasional yang stabil dan mantap. Mendorong terciptanya penatan ruang yang serasi antara kepentingan strategis hankamnas dengan kegiatan sosial ekonomi masyarakat.

Pantai Timur Propinsi Sumatera Utara merupakan pantai yang relatif landai dan berada pada jalur pelayaran internasional yang padat. Oleh karenanya, kawasan tersebut rawan terhadap invasi pihak asing, terutama di kawasan Pantai Cermin, Kabupaten Deli Serdang dengan posisi memanjang antara Sei Denai dan Bedagai. Selain itu, kawasan Pantai Timur juga rawan terhadap penyelundupan barang-barang dari luar negeri. Di Pantai Barat Sumatera Utara terdapat garis pantai yang strategis bagi keperluan pendaratan yang memungkinkan penguasaan teritorial Sumatera Utara bagian Barat, Sumatera Barat, dan Aceh Selatan. Lokasi yang diperuntukkan dalam kepentingan Hankamnas di Propinsi Sumatera antara meliputi : 1. Pendaratan Pasukan - Pangkalan Susu (Kabupaten langkat) - Pantai Cermin dan Pulau Berhala (Kabupaten Deli Serdang) - Tanjung Tiram (Kabupaten Asahan ) - Pantai Barus dan Pantai Pandan (Kabupaten Tapanuli Tengah) 2. Pangkalan Perlawanan Kecamatan Raya (Kabupaten Simalungan) Kecamatan Sipiongot (Kabupaten Tapanuli Selatan) 3. Daerah Latihan Militer Naga Huta (Kota Pematangsiantar) Aek Natolu (Kabupaten Toba Samosir) Tanjung Dolok (Kabupaten Simalungan)

4.4
4.4.1

Sistem Prasarana Wilayah


Tujuan pengembangan
Tujuan rencana pengembangan sistem infrastruktur Propinsi Sumatera Utara adalah :

1. Meningkatkan aksesibilitas wilayah Sumatera Utara dengan wilayah eksternalnya. Dalam upaya meningkatkan akumulasi kegiatan ekonomi Sumatera Utara diperlukan peningkatan akses untuk mengakomodasikan mobilitas faktor produksi dan produk antara Sumatera Utara dengan wilayah eksternalnya baik dalam skala regional, nasional, maupun internasional; serta secara internal Sumatera Utara. 2. Mendukung konsep pengembangan ruang menuju struktur ruang yang lebih bersifat horizontal, namun tetap mempertahankan peran pusat pertumbuhan bagi kegiatan berskala besar. Implikasi konsep pengembangan ruang tersebut terhadap pola pengembangan sistem infrastruktur adalah peningkatan akses ke seluruh bagian wilayah Sumatera Utara, terutama yang ditetapkan sebagai kawasan budidaya, melalui pembangunan infrastruktur ekonomi dasar di kawasan tersebut. Dengan demikian, dapat diciptakan peluang pengembangan aktifitas ekonomi yang relatif lebih merata di seluruh bagian wilayah Sumatera Utara. Di pihak lain, fungsi pusat pertumbuhan yang ada tetap dipertahankan untuk kesinambungan aktifitas berskala regional, nasional, maupun internasional. 3. Melindungi kawasan tertentu yang memiliki fungsi penting secara ekologis. Tujuan ini dicapai dengan menghindari pengembangan infrastruktur ke kawasan yang memiliki fungsi lindung.

4.4.2

Arahan pengembangan

Pada dasarnya arah pengembangan infrastruktur identik dengan arah pengembangan ruang kegiatan. Konsep struktur ruang Propinsi Sumatera Utara adalah menuju decentralized territorial approach, dimana pengembangan ruang diarahkan pada terbangunnya peluang perkembangan aktifitas yang lebih merata secara proporsional bagi seluruh bagian wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan budidaya. Pengembangan kawasan budidaya di Propinsi Sumatera Utara diarahkan di wilayah pantai Timur, wilayah wilayah pantai Barat, dan sebagian wilayah Tengah. Pengembangan infrastruktur di wilayah sepanjang Pegunungan Bukit Barisan dilakukan secara terbatas sesuai karakteristik fisiknya yang merupakan wilayah bergelombang dan sebagian merupakan wilayah konservasi. Dengan memperhatikan konsep tersebut, arah pengembangan sistem infrastruktur direncanakan sebagai berikut : A. A.1 Sistem Transportasi Transportasi Darat

1. Pengembangan jaringan transportasi darat diarahkan untuk membangun akses secara berkesinambungan (continuous access) dan berjenjang dari satuan ruang lokal, pusat pelayanan tersier, pusat pelayanan sekunder, hingga pusat pelayanan primer sebagai inlet-outlet point (bandara dan pelabuhan) dengan wilayah eksternal Sumatera Utara. 2. Pengembangan jaringan jalan arteri primer terdiri atas tiga jalur regional, yaitu jalur Timur, jalur Tengah, dan jalur Barat. Jalur Timur merupakan muara pergerakan dari seluruh pusat kegiatan ekonomi di pantai Timur, termasuk Kawasan Perkotaan Mebidang yang merupakan pusat pelayanan primer. Jalur Tengah merupakan prasarana yang melayani pergerakan penumpang dan barang di wilayah Sumatera Utara bagian Tengah yang menghubungkan pantai Barat dan pantai Timur, terutama pusat pelayanan primer Mebidang dan Sibolga. Jalur Barat merupakan prasarana untuk perkuatan wilayah

3. 4. 5. 6. 7. A.2

pantai Barat, mengembangkan potensi ekonominya, terutama untuk mendukung aksesibilitas pusat primer Sibolga. Pengembangan jaringan jalan kolektor primer ditujukan untuk menciptakan akses yang berkesinambungan antara pusat pelayanan primer dengan pusat pelayanan sekunder, serta berperan sebagai muara pergerakan dari pusat-pusat tersier. Jaringan jalan lokal terdistribusi ke seluruh wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan budidaya dan berorientasi ke jaringan jalan arteri atau kolektor. Penataan pelayanan angkutan umum yang disesuaikan dengan hirarki jalan Penetapan lokasi terminal angkutan barang dengan fasilitasnya dan pangkalan truk yang diarahkan pada kawasan pelabuhan dan industri/pergudangan serta lokasi yang ditetapkan pada jaringan jalan arteri primer. Jaringan jalan lokal terdistribusi ke seluruh wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan budidaya dan berorientasi ke jaringan jalan arteri atau kolektor. Transportasi Laut

1. Pengembangan pelabuhan yang berfungsi sebagai inlet-outlet point utama bagi sistem pergerakan penumpang dan barang menuju dan dari wilayah Sumatera Utara, terutama, yakni Pelabuhan Belawan di Kawasan Mebidang dan Pelabuhan Sibolga di Kota Sibolga, Gunung Sitoli, Pelabuhan tradisional dan pelayaran rakyat di Tanjungbalai; 2. Pengembangan pelabuhan-pelabuhan pengumpan regional dan lokal sebagai penunjang pergerakan melalui laut bagi wilayah di sepanjang pantai yang memiliki potensi ekonomi tertentu. 3. Pengembangan pelabuhan pelabuhan sebagaimana dimaksud diatas secara terintegrasi dengan pengembangan jaringan angkutan kereta api dan jaringan angkutan jalan.

A.3

Transportasi Udara

1. Merencanakan dan membangun pelabuhan udara di Kuala Namu Kabupaten Deli Serdang sebagai pelabuhan udara utama pengganti pelebuhan udara Polonia di Medan, yang berfungsi melayani pergerakan penumpang dan barang berskala regional, nasional, dan internasional, terutama yang berlokasi di Kawasan Mebidang dan Sibolga sebagai pusat-pusat primer. 2. Pengembangan bandara penunjang sistem pergerakan internal Sumatera Utara guna memperlancar mobilitas menuju dan dari kawasan-kawasan yang memiliki fungsi penting tertentu melalui udara. B. B.1 Sistem Infrastruktur Listrik, Telekomunikasi dan Air Bersih, Pengendali Banjir, Drainase, Irigasi dan Persampahan Infrastruktur Energi, Telekomunikasi dan Air Bersih

Pengembangan prasarana listrik diarahkan untuk tujuan terlaksananya pemanfaatan energi gas bagi kebutuhan rumah tangga dan transportasi, perusahaan listrik dan tersedianya listrik yang menjamin keandalan dan keseimbangan penyediaannya. Arahan pengembangan prasarana listrik, telekomunikasi dan air bersih dilakukan melalui: 1. Pengembangan pelayanan gas melalui jaringan pipa untuk kawasan industri, perdagangan, jasa, perumahan, perusahaan listrik diprioritaskan di wilayah Pantai Timur dan wilayah Pantai Barat.

2. Pengembangan jarinagan distribusi listrik dianjurkan melalui saluran kabel bawah tanah untuk kawasan perkotaan, perdagangan/jasa, industri dan perumahan baru. 3. Memperluas pengadaan transmisi tegangan tinggi baik melalui saluran udara dan saluran kabel bawah tanah, gardu induk dan gardu distribusi. 4. Pengembangan sistem infrastruktur listrik dan telekomunikasi diarahkan sesuai dengan pola pengembangan ruang aktifitas. 5. Pengembangan prasarana telekomunikasi diarahkan untuk mencapai tujuan mewujudkan sistem telekomunikasi lokal, antar kota dan antar negara dan terjamin keandalannya untuk menunjang propinsi Sumatera Utara sebagai salah satu jalur telekomunikasi penting di Indonesia. Secara spasial, arah pengembangan infrastruktur berskala besar terkonsentrasi di wilayah pantai Timur dan pantai Barat Sumatera Utara dimana terdapat pusat-pusat primer. Pada kawasan ini, infrastruktur listrik dan telekomunikasi dikembangkan guna mendukung kegiatan industri pengolahan berskala menengah-besar dan jasa. Pengembangan infrastruktur ini juga bertujuan untuk mencapai skala ekonomi (economies of scale) dalam pembiayaannya. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa perkembangan wilayah pantai Timur jauh lebih berkembang dibandingkan dengan wilayah pantai Barat. Kebijaksanaan yang ditetapkan adalah pengembangan infrastruktur di wilayah pantai Barat dilakukan lebih intensif untuk mendukung perkembangan aktifitas perkotaan di pantai Barat. 6. Pada pusat-pusat sekunder dan tersier, pengembangan infrastruktur listrik dan telekomunikasi diarahkan sesuai dengan skala potensi ekonomi yang dimiliki dengan tujuan untuk memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. 7. Jaringan air bersih hanya dikembangkan di pusat-pusat primer dan sekunder. Di kota tertentu lainnya yang memiliki potensi permintaan cukup memadai dapat dikembangkan sistem penyediaan air bersih. 8. Prasarana air bersih yang dikembangkan melipiti fasilitas aitr bersih dan sumber air yang akan dimanfaatkan guna meningkatkan pelayanan air bersih yang memenuhi standart kesehatan.

B.2

Jaringan Infrastruktur Pengendali banjir, drainase, irigasi dan persampahan

1. Prasarana pengendalian banjir dan drainase dimaksudkan meliputi sistem jaringan pembuangan air hujan maupun pembuangan air limbah cair dari rumah tangga (domestik) dan arahan sistem pengendali banjir. 2. Pengembangan prasarana irigasi diarahkan untuk : a. menunjang penyediaan air dan penataan air bagi pertanian lahan basah untuk meningkatkan hasil panen; b. mengintensifkan kegiatan dan hasil pertanian pada lokasi pertanian lahan basah. 3. Prasarana persampahan yang dikembangkan meliputi sistem pembuangan sampah dari sumber sampah sampai ke pembuangan akhir sampah.

4.4.3
A. A.1

Strategi Pencapaian Tujuan


Sistem Transportasi Transportasi Darat

1. Memperkuat jaringan jalan arteri primer di wilayah pantai Timur Sumatera Utara, dan di wilayah pantai Barat, serta memperkuat jaringan jalan arteri primer di wilayah bagian Tengah secara terbatas sebagai urat nadi pergerakan yang menghubungkan wilayah bagian Tengah dengan wilayah bagian Timur dan Barat. 2. Mengendalikan derajat aksesibilitas di wilayah Tengah di kawasan Bukit Barisan untuk mengamankan fungsi kawasan lindung. 3. Pengembangan jaringan jalan arteri primer di ketiga jalur Barat, Timur, dan Tengah diarahkan untuk secara kontinyu berfungsi sebagai jaringan jalan arteri primer dengan spesifikasi sesuai ketentuan dalam UU Nomor 13/1980 tentang Jalan dan PP Nomor 26/1985 tentang Jalan, yakni : dirancang berdasarkan kecepatan rencana (design speed) minimal 60 km/jam lebar badan jalan minimal 8 meter bebas dari pergerakan ulang-alik dan pergerakan lokal jumlah jalan masuk dibatasi dengan jarak minimal antara dua jalan masuk adalah 500 meter kapasitas jalan harus lebih besar dari volume lalu-lintas harian rata-rata (LHR) pembatasan secara ketat terhadap lokasi pemberhentian kendaraan dan parkir dilengkapi dengan rambu, marka, lampu lalu-lintas, dan penerangan yang memadai memiliki jalur khusus untuk sepeda dan kendaraan lambat lainnya 4. Memperkuat interaksi internal untuk mendukung pola perkembangan ruang yang bersifat horizontal (decentralized territorial approach) melalui penguatan jaringan jalan kolektor primer dengan pola mengikuti jaringan penghubung antar pusat sekunder, yang berperan menghubungkan secara kontinu pusat pusat sekunder dengan pusat pusat sekunder. 5. Penguatan struktur jalan internal yang bertujuan memacu pertumbuhan ekonomi lokal dikembangkan sebagai jaringan jalan lokal (feeder road) yang berfungsi membangun akses yang kontinyu antara unitunit kegiatan lokal dengan jaringan kolektor dan arteri primer. Sesuai dengan UU Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah, pengembangan jaringan jalan lokal secara teknis diatur dalam RTRW Kabupaten dan RTRW Kota masing-masing. 6. Dalam konteks kewenangan pembinaannya, klasifikasi jalan yang digunakan oleh Bina Marga terdiri atas jalan Arteri Primer (AP), Kolektor Primer 1 (KP1), dan Kolektor Primer 2 (KP2). Dalam hal ini, kewenangan pembinaan jalan berkelas AP dan KP1 berada pada Pemerintah Pusat, sedangkan kewenangan pembinaan KP2 berada pada Pemerintah Propinsi. Jaringan jalan AP dan KP1 yang kewenangannya berada pada Pemerintah Pusat adalah : Kota Pinang Rantau Prapat- Simpang Kawat- Tanjugn Balai- Tebing tinggi PerbaunganMedan Binjai Stabat- Pangkalan Brandan ke arah Aceh Muara Sipongi Kotanopan Panyabungan Siabu Padang Sidempuan Sipirok Tarutung Siborong-borong Balige Porsea Parapat Pematangsiantar Tebing Tinggi. Natal - Lumut - Pandan Sibolga Tarutung. Medan - Brastagi - Kabanjahe - Sidikalang, hingga ke Tapaktuan Siborong-borong - Dolok Sanggul - hingga Sidikalang Sibolga - Sipirok - Sipiongot hingga Sigambal Aek Nabara - Negeri Lama hingga Tanjung Sarang Elang. Tarutung - Parsoburan hingga Aek Koto Batu. Parlilitan - Batu Gajah - Sidikalang

Porsea - P. Rakyat hingga Batas Kabupaten Asahan Silimbat - Parsoburan - Batas Labuhan Batu. Pangururan - Tele Ruas jalan lingkar Dalam Samosir Ruas jalan lingkar Luar Danau Toba

Jaringan jalan yang kewenangannya pada Pemerintah Propinsi adalah: Sibolga Sorkam Barus - Pakkat, hingga Dolok Sanggul. Lumut Padangsidimpuan - Gunung Tua, hingga Kota Pinang Aek Kota Batu Parsoburan - Toba Samosir Aek Nabara Negeri Lama Tanjung Serang Elang Simpang Ajamu Sei Rakyat Labuhan Bilik Sei Berombang Sigambal Sipiongot Sipirok Sibolga Singkuang Padangsidimpuan. 7. Pengembangan jaringan jalan tol dilakukan selain melalui peningkatan jalan tol yang ada, dilakukan juga pembangunan jalan tol baru yang menghubungkan Binjai - Medan - Tanjung Morawa - Lubuk Pakam - Tebing Tinggi dan Medan - Kuala Namu, untuk melayani pergerakan Barat - Timur dan Utara - Selatan di kawasan perkotaan mebidang. Jalan tol Belawan - Medan - Tanjung Morawa (Belmera) dimaksudkan untuk melayani pergerakan barang Belawan - Medan dan Belawan - Tanjung Morawa, dan pada dua simpul akan menghubungkan Belawan dengan Lubuk Pakam dan Kuala Namu. Di arah Selatan, jalan tol tersebut menghubungkan Belawan dengan Prapat. Di arah Timur, jalan tol Tanjung Morawa - Lubuk Pakam juga direncanakan sebagai jalur regional ke arah Tebing Tinggi dan wilayah Sumatera Utara bagian Timur. Sedang ke arah Barat dibangun jalan tol Medan - Binjai. 8. Pengembangan derajat aksesibilitas antara Propinsi Sumatera Utara dengan Nangroe Aceh Darussalam adalah melalui jalur Medan - Stabat - Pangkalan Brandan ke arah Langkat dan Medan Sidikalang - ke arah Tapaktuan. Akses ke Propinsi Riau dibentuk melalui peningkatan jalur Medan Perbaungan - Tebing Tinggi - Tanjungbalai - Kota Pinang ke arah Dumai dan jalur kereta api dari Medan - Tebing Tinggi - Kisaran - Rantau Prapat ke arah Dumai. Sedangkan akses dengan Propinsi Sumatera Barat dikembangkan melalui jalur Padang Sidempuan ke arah Muara Sipongi dan jalur Sibolga - Lumut - Natal ke arah Air Bangis. 9. Pengembangan jaringan jalan kereta api diarahkan untuk meningkatkan koneksitas antara bagian wilayah Pantai Timur Pulau Sumatera dan mendukung fungsi bandar udara Kuala Namu yang direncanakan menjadi Bandar udara utama di Sumatera Utara. Jaringan kereta api yang ada menghubungkan Binjai - Medan - Deli Serdang sebagai bagian dari jalur kereta api di Kabupaten Langkat, serta jalur kereta api Medan - Belawan. Ke arah Selatan juga terdapat jalur yang menghubungkan Medan dengan Pancur Batu dan Deli Tua. Untuk wilayah bagian Tengah yang merupakan dataran tinggi tidak direncanakan pembangunan jaringan kereta api karena karakteristik fisik wilayah yang tidak memungkinkan. Wilayah pantai Barat direkomendasikan sebagai wilayah pengembangan jaringan jalan kereta api untuk mendukung fungsi kota Sibolga sebagai pusat pelayanan primer, namun diarahkan sebagai sistem internal untuk melayani pergerakan penumpang dan barang di wilayah pantai Barat yang berorientasi ke kota Sibolga. Pengembangan jalur kereta api : Pemanfaatan jalur Binjai - Medan - Lubuk Pakam yang merupakan bagian dari jalur Sumatera Utara - Aceh.

Pengoperasian kembali jalur Medan - Pancur Batu dan Medan - Deli Tua untuk antisipasi rencana relokasi perguruan tinggi, pembangunan sarana olah raga, dan taman botani di sekitar Pancur Batu. Pembangunan jalur Binjai - Belawan melalui Hamparan Perak dan Belawan - Kuala Namu. Jalur ini ditujukan untuk mendukung pengembangan kawasan industri, Pelabuhan Belawan, dan Bandar Udara baru di Kuala Namu. Pengembangan jalur di wilayah bagian Tengah hingga ke Sosa untuk mengantisipasi perkembangan yang terjadi. Pengembangan jalur Rantau Prapat ke arah Dumai untuk mengantisipasi perkembangan perkebunan kelapa sawit di Riau untuk diolah di Sumatera Utara. Pengoperasian dan peningkatan manajemen pengelolaan stasiun kereta api di seluruh jalur yang ada. Pembangunan jalan layang (fly over) pada beberapa titik pertemuan rel kereta api dengan jalan raya.

10. Khusus untuk wilayah dengan aliran sungai yang potensial dibangun sebagai waterways dilakukan pengintegrasian jaringan jalan dengan jalur sungai dengan mengembangkan dermaga sungai pada simpul-simpul pertemuan antara kedua moda angkutan tersebut. Sistem terpadu antara jaringan jalan dengan jalur sungai dikembangkan untuk mengakomodasi pergerakan penumpang dan komoditi yang dihasilkan wilayah belakang, yang berorientasi ke pusat-pusat kegiatan industri dan yang menuju pelabuhan pengumpan lokal yang dikembangkan di sepanjang pantai Timur dan Barat Sumatera Utara. 11. Jalur jalan arteri primer yang dikembangkan meliputi : Jalur Pantai Timur Sumatera Utara mulai dari Kotapinang, Aek Nabara, Rantau Prapat, Aek Kanopan, Simpang Kawat, Tanjungbalai, Kisaran, Indrapura, Tebing Tinggi, Perbaungan, Lubuk Pakam, Medan, Binjai, Stabat, Pangkalan Brandan, Besitang, menuju Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam melalui Langkat.; Jalur Tengah Sumatera Utara mulai Muara Sipongi, Kotanopan, Panyabungan, Siabu, Padangsidempuan, Sipirok, Tarutung, Siborong-borong, Dolok Sanggul, Sidikalang, Kuta Bulu dan Lau Pakam hingga batas daerah Propinsi Nangroe Aceh Darussalam dan mulai dari arah Siborong borong, Balige, Prapat, Pematangsiantar, Tebing Tinggi sampai Medan hingga batas Propinsi Nanggroe Darussalam. Jalur Pantai Barat Sumatera Utara mulai dari Manisak, Simpang Gambir, Natal, Batang Toru, Lumut, Pandan, Sibolga, Barus dan Manduamas hingga batas Propinsi Aceh Nangroe Aceh Darussalam. Jalkur Jalur yang menghubungkan pusat pusat pertumbuhan kawasan andalan mulai dari Medan, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Perdagangan, Kisaran/Tanjungbalai, Rantau Prapat, Pematangsiantar, Parapat/Balige, Panyabungan dan jalur dalam Pulau Nias. 12. Selain ketiga jalur regional tersebut, terdapat juga beberapa jalur jalan kolektor primer yang menghubungkan ketiganya di beberapa bagian, yakni ruas Lumut - Padang Sidempuan - Gunung Tua hingga Kota Pinang yang menghubungkan jalur Barat, jalur Tengah, hingga jalur Timur melalui Selatan; ruas Sibolga - Sorkam - Barus - Pakkat - Dolok Sanggul yang menghubungkan jalur Tengah dan jalur Barat; serta ruas Siborong-borong - Dolok Sanggul - Sidikalang - dan Medan - Brastagi - Kabanjahe Sidikalang - Tapak Tuan yang menghubungkan jalur Tengah dengan Timur dan Nangroe Aceh Darussalam. Ruas jalan Porsea Batas Asahan ruas jalan Silimbat Parsoburan Labuhan Batu, Pangururan Tele, lingkar dalam Pulau Samosir dan lingkar luar Danau Toba. 13. Jaringan kolektor primer tersebut berperan menghubungkan secara kontinyu pusat-pusat sekunder dengan pusat-pusat tersier seperti tertera pada gambar 4.1. Ketentuan jaringan jalan kolektor primer

sesuai dengan ketetapan pada UU Nomor 13/1980 tentang Jalan dan PP Nomor 26/1985 tentang Jalan, yakni : dirancang berdasarkan kecepatan rencana minimal 40 km/jam lebar badan jalan minimal 7 meter jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien dengan jarak minimal antara dua jalan masuk sepanjang 400 meter. kapasitas jalan lebih besar dari volume lalu-lintas harian rata-rata (LHR) parkir pada badan jalan dibatasi dan tidak diijinkan pada jam sibuk. memiliki kelengkapan jalan seperti rambu, marka, lampu lalu-lintas, dan penerangan yang memadai memiliki jalur khusus untuk sepeda dan kendaraan lambat lainnya A.2 Transportasi Laut 1. Peningkatan derajat akses wilayah Sumatera Utara dengan wilayah eksternalnya dalam rangka mengembangkan perdagangan dalam skala regional, nasional, dan internasional ditempuh dengan meningkatkan kemampuan pelabuhan dan bandar udara utama di Propinsi Sumatera Utara. Pelabuhan Belawan merupakan outlet-inlet point utama yang memegang peranan penting dalam sistem perhubungan laut antara Sumatera Utara dengan wilayah lainnya. Dengan memperhatikan peran penting Pelabuhan Belawan dalam pergerakan arus barang dari dan ke wilayah Sumatera Utara yang melayani sekitar 84,5 % arus masuk dan 77 % arus keluar Sumatera Utara, maka pengembangan fasilitas pelabuhan di masa yang akan datang ditujukan untuk mendukung peran tersebut. Fungsi Pelabuhan Belawan hingga 2018 tetap sebagai pelabuhan utama Sumatera Utara. Rencana pengembangan Pelabuhan Belawan : Melakukan perluasan areal melalui reklamasi dan konversi lahan di sebelah Barat Sungai Belawan dengan total area 2.000 hektar. Pembangunan kawasan industri di areal yang dikuasai PT. Pelindo I untuk kegiatan yang berorientasi ekspor. Pembangunan terminal peti kemas generasi II (1997) dan generasi III (1998) ditingkatkan menjadi generasi IV. Pembangunan pergudangan pada lini 1 dan 2. Pengerukan sediman dari Sungai Belawan dan Sungai Deli sebesar 1,8 juga m3/tahun. Angkutan pendukung transhipment dilayani melalui jalur jalan tol Belmera dan jalan kereta api Belawan - Medan dan Belawan Batang Kuis. 2. Untuk mendukung kebijakan penetapan kota Sibolga sebagai pusat pelayanan primer B pada RTRWP Sumatera Utara 2003-2018, maka Pelabuhan Sibolga ditetapkan sebagai pelabuhan pengumpan regional dengan spesifikasi kemampuan teknis untuk melayani angkutan penumpang dan barang pada skala nasional dan regional. Dengan demikian, Pelabuhan Sibolga diharapkan mampu melayani mobilitas barang dan penumpang untuk seluruh wilayah pantai Barat. 3. Beberapa pelabuhan skala lokal dan regional di Sumatera Utara yang dikembangkan untuk menunjang perkembangan aktifitas ekonomi wilayah pelayanannya adalah: Pelabuhan Kuala Tanjung dikembangkan sebagai pelabuhan pengumpan regional dengan skala pelayanan angkutan penumpang dan barang di wilayah pantai Timur Sumatera Utara. Pelabuhan Tanjungbalai dan Pangkalan Susu dikembangkan sebagai pelabuhan pengumpan lokal untuk melayani angkutan penumpang dan barang di wilayah pantai Timur bagian Tenggara.

Pelabuhan Tanjung Sarang Elang dikembangkan sebagai pelabuhan pengumpan lokal untuk melayani angkutan barang di wilayah pantai Timur bagian Selatan, sehingga komoditi setempat tidak berorientasi ke Pelabuhan Dumai di Propinsi Riau. Pelabuhan Natal dikembangkan sebagai pelabuhan pengumpan lokal untuk melayani angkutan penumpang dan barang di wilayah pantai Barat bagian Selatan, sehingga komoditi setempat tidak berorientasi ke pelabuhan Teluk Bayur di Sumatera Barat. Pelabuhan Gunung Sitoli dikembangkan sebagai pelabuhan pengumpan lokal untuk melayani angkutan penumpang dan barang dari dan menuju Pulau Nias. Pelabuhan Balige, Pelabuhan Ajibata, Pelabuhan Simanindo dan Pelabuhan Pangururan dikembangkan sebagai pelabuhan pengumpan lokal untuk melayani angkutan tourist/wisatawan mengunjungi objek-objek wisata di daerah tujuan wisata Danau Toba.

A.3

Transportasi Udara

1. Bandar Udara Polonia merupakan outlet-inlet point utama yang melayani angkutan udara bagi penumpang umum di Propinsi Sumatera Utara. Pada tahun perencanaan RTRWP Sumatera Utara 2003 - 2018, Bandara Polonia direncanakan dipindahkan ke Kuala Namu sebagai pusat penyebaran primer berskala internasional untuk melengkapi fungsi Kawasan Perkotaan Mebidang sebagai pusat pelayanan primer. Pengembangan Bandara Kuala Namu disesuaikan dengan spesifikasi teknis bandara meliputi panjang runway, luas dan kualitas bangunan bandara, kapasitas pergudangan, kemampuan alat navigasi bandara, dan kelengkapan utilitas pendukung fungsi bandara yang berstandar internasional. 2. Untuk menunjang penetapan fungsi kota Sibolga sebagai pusat pelayanan primer B di Sumatera Utara, maka bandar udara Dr. Ferdinand Lumbantobing dikembangkan sebagai pusat penyebaran sekunder dengan spesifikasi teknis bertaraf nasional dan regional. 3. Beberapa bandar udara dengan skala pelayanan lokal yang dikembangkan sebagai pusat penyebaran tersier untuk melayani kawasan sekitar adalah: Bandar Udara Binaka di Gunung Sitoli dikembangkan untuk mendukung fungsi Pulau Nias sebagai kawasan perikanan dan pariwisata. Bandar Udara Sibisa di Toba Samosir dikembangkan untuk mendukung pergerakan angkutan udara wilayah Toba Samosir dan sekitarnya. Bandar Udara Aek Godang di Tapanuli Selatan dikembangkan guna mendukung pergerakan angkutan udara di wilayah Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal. Bandar udara Silangit di Tapanuli Utara dikembangkan guna mendukung pergerakan angkutan udara di wilayah Tapanuli Utara. Bandar udara Dr. Ferdinand Lumbantobing di Tapanuli Tengah dikembangkan untuk mendukung pergerakan angkutan udara tourist mancanegara dari negara asalnya menuju daerah tujuan wisata wilayah Toba Samosir dan sekitarnya. B. Jaringan Infrastruktur Listrik, Telekomunikasi, dan Air Bersih Strategi pencapaian struktur ruang yang dituju melalui pengembangan infrastruktur listrik, telekomunikasi, dan air bersih dilakukan melalui : 1. Pengembangan jaringan infrastruktur primer di sepanjang jalur regional sepanjang Pantai Timur terutama di sekitar kawasan Mebidang dan sepanjang pantai Barat di sekitar kota Sibolga yang

2. 3. 4.

5.

merupakan pusat primer. Jaringan infrastruktur primer dengan daya dan kapasitas pelayanan yang tinggi di sepanjang koridor tersebut dimaksudkan untuk mencapai economies of scale bagi industri pengolahan berskala besar serta mendukung operasional sektor jasa. Pengembangan jaringan infrastruktur di pusat-pusat sekunder di seluruh wilayah Sumatera Utara. Pengembangan jaringan infrastruktur di pusat-pusat tersier di seluruh wilayah Sumatera Utara. Pengembangan jaringan infrastruktur pelayanan lokal di kawasan-kawasan tertentu yang memiliki potensi ekonomi yang memerlukan dukungan penyediaan listrik dan telekomunikasi baik yang terhubungkan dengan sistem jaringan Sumatera Utara maupun yang sifatnya diskontinyu melalui pembangkit energi dan statiun relay komunikasi lokal. Pengembangan jaringan air bersih dilakukan di pusat primer dan sekunder, sedangkan di pusat-pusat tersier dilakukan di kota-kota yang memenuhi skala ekonomi dengan terlebih dahulu menganalisis tingkat permintaan yang ada.

Strategi pengembangan infrastruktur listrik ditujukan untuk : 1. Menjamin penyediaan daya, mutu dan keandalan tenaga listrik 2. Menjaga keselamatan lingkungan di sepanjang jalur transmisi listrik tegangan tinggi. 3. Menciptakan pengelolaan ruang yang terpadu bagi pemanfaatan air dan udara untuk pembangkit dengan pelestarian lingkungan, kegiatan sosial masyarakat, pertanian, industri, perdagangan dan pariwisata. Sementara itu lokasi pembangkit listrik sebagai sumber daya energi terdiri dari : 1. Pembangkit hydro meliputi kawasan tangkapan air pembangkit tenaga air Asahan, Sipansipahoras, Renun dan Wampu. 2. Pembangkit thermal meliputi kawasan Pulau Naga Putri Sicanang Belawan dan sekitarnya, kawasan Tapian Teluk Nauli dan sekitarnya, kawasan Sarulla dan sekitarnya, kawasan Sibayak dan sekitarnya. 3. Kawasan transmisi listrik tegangan tinggi meliputi seluruh Kabupaten/Kota di Propinsi Sumatera Utara kecuali Pulau Nias dan pulau-pulau kecil lainnya.

C. Jaringan Infrastruktur Pengendali Banjir, drainase, irigasi dan persampahan Strategi pengembangan sistem infrastruktur pengendali banjir, drainase, irigasi, dan persampahan adalah: 1. Pengembangan jaringan infrastruktur pendukung di pusat-pusat sekunder dan tersier di seluruh wilayah Sumatera Utara dalam upaya untuk mendukung perkembangan ekonomi wilayah dan di wilayahwilayah rawan bencana seperti banjir, erosi, dan sebagainya; 2. Memperluas skala pelayanan infrastruktur dalam upaya untuk mendesentralisasi perkembangan wilayah dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

INDIKASI PROGRAM PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH

5.1

Pertimbangan Prioritas

Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara merupakan dasar bagi pola pengembangan ruang Propinsi Sumatera Utara yang harus didukung oleh pola pengembangan sektorsektor serta program-program pembangunan. Untuk mencapai tujuan pengembangan ruang yang diharapkan, maka disusun indikasi program jangka menengah yang menjadi pedoman bagi Pemerintah Daerah dan instansi terkait dalam memanfaatkan ruang untuk berbagai kegiatan. Indikasi program pembangunan jangka menengah dalam pengembangan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara dimaksudkan sebagai panduan bagi perencanaan program dan proyek dalam rangka mencapai tujuan penataan ruang yang diharapkan. Program-program yang diindikasikan merupakan panduan bagi Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Utara dan instansi yang terkait dalam memanfaatkan ruang Propinsi Sumatera Utara untuk mengembangkan kawasan lindung dan budidaya, sektor-sektor ekonomi dominan, pengembangan sistem permukiman dan perkotaan, sistem transportasi dan prasarana lainnya, serta pengembangan kawasankawasan khusus secara optimal dan berkelanjutan. Penyusunan indikasi program didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan berikut: 1. 2 3 4 Tujuan dan konsep pengembangan tata ruang. Karakteristik struktur ruang. Skenario dan tahapan pengembangan Kemampuan Pemerintah Daerah dalam hal pembiayaan pembangunan

5.1.1

Tujuan dan Konsep Pengembangan Ruang

Berdasarkan tujuan dan konsep penataan ruang, dipertimbangkan bahwa struktur ruang yang dituju mampu menampung tujuan dan konsep pengembangan sektor-sektor, terutama sektor-sektor dominan, pusat-pusat pelayanan/perkotaan, pengembangan sistem transportasi, dan sistem prasarana penunjang dengan mempertimbangkan keserasian antara kawasan lindung dan budidaya. Berdasarkan pertimbangan tujuan dan konsep pengembangan tata ruang Propinsi Sumatera Utara, maka program pengembangan wilayah Propinsi Sumatera Utara diwujudkan dalam bentuk :

1. Penyediaan ruang bagi pengembangan sektor-sektor ekonomi dominan maupun sektor lain yang dapat menunjang pengembangan sektor dominan pada lahan budidaya. 2. Pengembangan ruang yang lebih terdesentralisasi. 3. Pengembangan dan pengololaan sumberdaya setempat secara optimal dan berkelanjutan dengan membangun tata kaitan yang terpadu dalam proses penambahan nilai dan perluasan multiplier effect. 4. Pengembangan sektor sekunder dan tersier yang mempunyai kaitan dengan sektor primer di wilayah setempat untuk memperkuat perekonomian setiap bagian wilayah Propinsi Sumatera Utara. 5. Pengembangan prasarana transportasi yang mendukung terciptanya struktur ruang yang diharapkan dan terbangunnya tata kaitan antara sentra-sentra penghasil sumberdaya alam dengan pusat-pusat pengumpul produksi. 6. Pemantapan kawasan lindung dalam upaya pelestarian lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan.

5.1.2

Karakteristik Struktur Ruang Indikasi program jangka menengah Propinsi Sumatera Utara

mempertimbangkan karakteristik struktur ruang yang dituju, dan perumusan program diarahkan untuk mendorong terbentuknya struktur ruang dengan karakteristik hirarki fungsional yang bersifat lebih horizontal yang didukung oleh jaringan jalan yang memberi akses secara proporsional ke setiap bagian wilayah Sumatera Utara. 5.1.3 Skenario dan Tahapan Pengembangan Ruang Untuk mewujudkan struktur ruang yang dituju diperlukan waktu selama masa perencanaan. Skenario dan tahapan pengembangan telah ditetapkan sebagai dasar bagi kerangka waktu pencapaian tujuan pengembangan tata ruang yang diharapkan.
Kerangka waktu bagi pelaksanaan program pembangunan dilakukan dengan mempertimbangkan tahapan penanganan krisis ekonomi pada jangka pendek dan pembangunan daerah dalam jangka panjang. Dengan demikian, indikasi program pembangunan jangka menengah Propinsi Sumatera Utara dilakukan dalam kerangka tahapan penanganan krisis (rescue), pemulihan aktifitas (recovery), dan pertumbuhan dan perkembangan melalui pembangunan (redevelopment).

5.1.4

Kemampuan Pemerintah Daerah dalam Pembiayaan Pembangunan

Pelaksanaan strategi pengembangan ruang menuntut dukungan pendanaan dan pembiayaan. Pembiayaan pembangunan bergantung pada kemampuan Pemerintah Daerah dalam menghimpun dana

untuk pelaksanaan program pembangunan dalam mewujudkan tata ruang yang dituju. Dengan adanya keterbatasan dana yang mampu dihimpun oleh Pemerintah Daerah, maka disusun prioritas program pengembangan.

5.2

Perumusan Indikasi Program Jangka Menengah

Indikasi program pembangunan dalam RTRW Propinsi Sumatera Utara dijabarkan secara sektoral untuk kawasan atau wilayah pengembangan. Jangka waktu perencanaan program adalah 15 (lima belas) tahun, yang dijabarkan dalam program lima tahunan. Tabel 5.1 memperlihatkan indikasi program jangka menengah Propinsi Sumatera Utara.

Tabel 5.1 Indikasi Program Jangka Menengah Propinsi Sumatera Utara Tahun 2003 - 2018 Wilayah Pengembangan Sektor/Subsektor Prioritas Kawasan Lindung a. Ekosistem Mangrove b. Kawasan rawan bencana

I Rehabilitasi hutan mangrove Delineasi zoning rawan bencana pada Rencana Tata Ruang Wilayah yang lebih rinci Penetapan status pada hutan yang terambah Pengendalian aktifitas budidaya pada hutan berfungsi lindung yang tersisa Delineasi batas area perlindungan setempat pada Rencana Tata Ruang yang lebih rinci. Mempertahankan luas lahan yang ada Perbaikan dan pengembangan prasarana irigasi Intensifikasi Peningkatan kualitas dan produktifitas lahan Mempertahankan luas lahan yang ada Diversifikasi tanaman Pengembangan teknologi pengolahan hasil pertanian Pengembangan dan alih teknologi untuk peningkatan kualitas dan produktifitas lahan Pengembangan usaha tani terpadu Mempertahankan luas lahan yang tersedia Pengembangan komoditas unggulan *

Periode II III *

* * * * * * *

c. Kawasan hutan berfungsi lindung

d. Kawasan perlindungan setempat Kawasan Pertanian a. Pertanian tanaman pangan lahan basah

* * * * * * * * * * *

* * * * * * * * * * *

* * * * * * *

b. Pertanian tanaman pangan lahan kering

c. Perkebunan

Peningkatan kualitas dan produktifitas Pengembangan teknologi penanganan pasca panen Pengembangan pola perkebunan rakyat melalui usaha tani terpadu Pengembangan agroindustri yang terkait dengan perkebunan rakyat Pengembangan pola pemasaran dan distribusi hasil pertanian rakyat Pengembangan feeder road Pemanfaatan lahan pertanian lahan kering, lahan basah, kebun rakyat sebagai lokasi peternakan. Pemberian pinjaman lunak bagi peternak rakyat Pengembangan pusat penelitian peternakan Perencanaan pengembangan peternakan Pengembangan pola kemitraan dan pendampingan antara pengusaha swasta/Pmerintah Derah dengan peternak rakyat Pengembangan pola pemasaran Perbaikan sistem pengairan untuk kolam/tambak Peningkatan kualitas dan produktifitas perikanan darat Pengembangan sistem pemasaran dan distribusi hasil perikanan Peningkatan teknologi penangkapan ikan untuk meningkatkan kualitas dan produktifitas Pengembangan sarana penangkapan ikan Pengembangan teknologi pengolahan hasil tangkapan ikan Pengembangan kegiatan pemasaran dan distribusi hasil perikanan laut Perbaikan sistem transportasi ke pelabuhan penangkapan ikan Pengembangan pelabuhan perikanan Melakukan pengamanan laut yang lebih terpadu

* * *

* * * * * * * * * * *

d. Peternakan

* * * * * *

* * * *

* * *

e. Perikanan darat

* *

* * * *

f. Perikanan laut

* * *

* * * * *

* * *

* * * *

Sektor Industri Kawasan industri di Mebidang Kawasan industri Tanjungbalai dan Kisaran Pematangsiantar dan Porsea Padangsidempuan

-1 Pengembangan infrastruktur bagi kawasan industri -2 Penyediaan fasilitas dan utilitas bagi pengembangan industri -3 Penyusunan rencana detail kawasan industri -4 Pengembangan akses dari ke sentrasentra sumberdaya -5 Pengembangan industri pengolahan -6 Pengembangan industri hilir yang terkait dengan industri hulu yang berkembang di Sumatera Utara

* * * *

* *

* *

* * *

Kawasan Pariwisata Danau Toba dan Sekitarnya Tanah Karo dan Brastagi Nias dan Sekitarnya

Pengembangan eko-wisata Pengembangan jasa pendukung pariwisata (hotel, biro perjalanan, restoran, hiburan) Pengembangan prasarana transportasi darat, laut, dan udara penunjang pariwisata secara terpadu Pengembangan kualitas obyek dan daya tarik wisata dan atraksi wisata Pengembangan kegiatan promosi pariwisata yang terpadu Pengembangan Pusat Informasi Wisata Peningkatan sadar wisata Eksplorasi kegiatan pertambangan Pengembangan fasilitas kegiatan pertambangan Pengembangan kegiatan pertambangan rakyat Penyediaan pinjaman modal bagi pertambangan rakyat Reklamasi dan rehabilitasi lahan bekas pertambangan Pengembangan fungsi kota-kota dan keterkaitan dengan wilayah sekitarnya Pembangunan permukiman perkotaan yang dilengkapi dengan fasilitasnya Pembangunan prasarana perkotaan Pengembangan jaringan transportasi Perbaikan kualitas permukiman perkotaan Pengembangan kegiatan industri, perdagangan, dan jasa Pengembangan sekolah-sekolah kejuruan di kota-kota tersier yang disesuaikan dengan potensi pengembangan ekonomi

* * * * * * * * * * *

* * * * * * * * * * * * * * * *

5.

Kawasan Pertambangan

6.

Kawasan Perkotaan

* * * * * *

* * * * * * * * * *

masing-masing wilayah 7. Kawasan Tertentu Kawasan Perkotaan Mebidang Danau Toba Kawasan Ekosistem Leuser Pengembangan prasarana dan sarana perkotaan Pengembangan jaringan transportasi arteri primer Pengembangan prasarana wisata di Danau Toba, Prapat dan Balige Pemantapan Kawasan Lindung Pengendalian aktifitas perambahan di kawasan lindung Penataan ruang kawasan Penetapan dan pemantapan kawasan lindung pesisir dan kelautan Perlindungan bagi vegetasi mangrove dan terumbu karang Pengembangan dan perbaikan permukiman nelayan dan fasilitasnya Pengembangan pola kemitraan antara pengusaha swasta/pemerintah daerah dengan nelayan dalam bidang pengusahaan perikanan laut Pengembangan pusat penelitian dan pembibitan ikan Pengembangan jaringan transportasi ke pelabuhan Pengembangan teknologi penangkapan ikan Pengembangan industri pengolahan hasil tangkapan Pengembangan dan peningkatan fungsi jalur regional (pantai Timur dan pantai Barat yang dihubung-kan oleh jalur Sibolga - Tarutung Pengembangan dan peningkatan fungsi jaringan jalan kolektor primer yang menghubungkan pusat sekunder dengan pusat tersier Pengembangan jaringan jalan lokal (feeder road) yang menghubungkan kota-kota tersier dengan sumberdaya alam Pengembangan jalan tol Binjai-MedanTanjung Morawa- Lubuk Pakam-Tebing Tinggi, Belmera, dan Tebing Tinggi -Parapat Pengembangan transportasi jalur Sumatera * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

8.

Kawasan Pesisir dan kelautan


* * *

* * * * * *

9.

Sistem Prasarana Wilayah a. Transportasi darat

* *

* *

* *

b. Transportasi laut

Utara ke Aceh, Riau, dan Sumatera Barat Pengembangan jaringan jalan kereta api di pantai Timur Pengembangan terpadu jaringan transportasi sungai dan darat Pengembangan dan peningkatan pelayanan pelabuhan Belawan sebagai pelabuhan internasional Peningkatan fasilitas pelabuhan, keselamatan pelayaran, dan armada pelayaran di Pelabuhan Belawan dan Sibolga Pengembangan dan peningkatan fungsi pelabuhan lokal Intensifikasi pelayanan bandar udara Polonia Pengembangan bandar udara Kuala Namu pengganti bandar udara Polonia Pengembangan pelayanan bandar udara lokal (Binaka, Dr.Ferdinand LbTobing, Sibisa, dan Aek Godang) Pengembangan jaringan infrastruktur primer di jalur regional pantai Timur dengan daya dan kapasitas yang dapat mendukung perkembangan industri dan jasa Pengembangan jaringan infrastruktur sekunder di jalur regional pantai Barat Pengembangan jaringan pelayanan di pusat tersier Pengembangan jaringan pelayanan lokal di kawasan tertentu

* * * *

* * * *

* *

* *

c. Transportasi Udara

* * *

* *

d. Air bersih, Listrik, dan Telekomunikasi

* * *

* * *

Keterangan

Periode I Periode II Periode III

= 2003-2008 = 2009-2013 = 2014-2018

PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PROPINSI SUMATERA UTARA

Prinsip perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang adalah untuk : Melaksanakan kebijaksanaan pokok pemanfaatan dan pengendalian ruang dan Rencana Tata Ruang yang lebih tinggi. Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antar wilayah serta keserasian pembangunan antar sektor. Menetapkan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan/atau masyarakat. Menyusun rencana tata ruang yang lebih rinci di wilayah yang bersangkutan. Melaksanakan pembangunan dan perijinan dalam memanfaatkan ruang bagi kegiatan pembangunan.

Penataan ruang dengan demikian adalah serangkaian proses dan prosedur yang diikuti secara konsisten sebagai satu kesatuan, yaitu kegiatan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Selain itu, perlu dilakukan kegiatan peninjauan kembali secara berkala dengan memanfaatkan informasi yang diperoleh dari proses pengendalian pemanfaatan ruang yang terdiri atas perijinan, pengawasan (pelaporan, pemantauan, dan evaluasi) dan penertiban. Pengendalian dilakukan secara rutin, baik oleh perangkat Pemerintah Daerah, masyarakat, atau keduanya. Keterkaitan ketentuan penyusunan rencana, pemanfaatan, dan pengendalian serta peninjauan kembali sesuai dengan yang digariskan dalam UU Nomor 24 Tahun 1992 dijelaskan pada gambar 6.1

Dalam hal proses penataan ruang, perlu dilibatkan peranserta masyarakat. Peranserta masyarakat dalam penataan ruang diatur dalam peraturan perundangan, meliputi UU Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, PP Nomor 69 Tahun 1996 tentang Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang, serta Permendagri Nomor 9 Tahun 1998. Dalam peraturan perundangan tersebut, masyarakat berhak dan wajib berperanserta dalam penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.

Gambar 6.1
Sistem Penataan Ruang Menurut UU Nomor 24 Tahun 1992

PP KAWASAN TERTENTU, PERKOTAAN DAN PERDESAAN PASAL 23 (3) PP LAIN YANG TERKAIT

PERENCANAAN TATA RUANG (PASAL 13 & 14) PROSES & PROSEDUR PENYUSUNAN & PENETAPAN RTR SESUAI DENGAN UU PASAL 13 (1) STRUKTUR DAN POLA PEMANFAAATAN RUANG TATA GUNA TANAH PERATURAN & PERUNDANGAN TATA CARA PENYUSUNAN TATA RUANG FUNGSI HANKAM PASAL 14 (3)

PP MENGENAI KRITERIA & TATA CARA PENINJAUAN KEMBALI DAN/ATAU PENYEMPURNAAN RTR PASAL 13 (4)

TATA GUNA AIR

TATA GUNA UDARA

TATA GUNA SDA LAIN

KAW. HANKAM

PEMANFAATAN RUANG (PASAL 15 DAN PASAL 16) POLA PENGELOLAAN PELAKSANAAN PROGRAM PEMANFAATAN TATA GUNA SDA LAIN

PROGRAM PEMBIAYAAN

PENTAHAPAN TATA GUNA TANAH

TATA GUNA AIR

TATA GUNA UDARA

PP MENGENAI POLA TGT, TGA, TGU, TG SDA LAIINNYA PASAL 16 (2)

PASAL 15 (1)

PASAL 16 (2)

PERANGKAT INSENTIF DAN DISINSENTIF PASAL 16 (1)

PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG PASAL 17 DAN PASAL 18 PENGAWASAN PENERTIBAN MEKANISME PERIJINAN

PELAPORAN

PEMANTAUAN

EVALUASI

ADMINISTRASI

PERDATA

PIDANA

PENJELASAN PASAL 17

PASAL 18 (1)

PENJELASAN PASAL 18 (1)

6.1

Prinsip Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Pengendalian pemanfaatan ruang didasarkan pada prinsip-prinsip pendekatan yang didasarkan pada ketentuan perundang-undangan ( legalistic approach) dengan menerapkan pendekatan yang lebih luwes dimana prinsip keberlanjutan ( sustainability) merupakan acuan utama. Untuk mewujudkan pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif diperlukan pertimbangan yang bersifat multi dan lintas sektoral. 1 2 3 4 5 Prinsip-prinsip pengendalian didasarkan pada lima komponen berikut : Kategori pemanfaatan ruang dan kebijaksanaannya Peringkat pengaruh geografis kebijaksanaan Kerangka pengendalian yang berkelanjutan Instrumen dan tata cara pengendalian Institusi pengendalian

1. Kategori pemanfaatan ruang dan kebijaksanaannya Pemanfaatan ruang dapat dibedakan menurut dua kategori, yaitu yang didorong pengembangannya serta yang dibatasi pengembangannya. Kebijaksanaan untuk mendorong pengembangan pemanfaatan ruang dalam rangka mencapai tujuan, strategi dan rencana struktur pengembangan wilayah jangka panjang adalah melalui keseimbangan antar bagian wilayah, memberikan akses yang merata dan proporsional bagi pengembangan setiap bagian wilayah, serta memberikan insentif dan dorongan bagi pengembangan perekonomian rakyat. Kebijaksanaan untuk membatasi perkembangan pemanfaatan ruang dilakukan melalui pemantapan kawasan lindung, mengurangi tekanan penduduk melalui pengendalian laju pertumbuhan penduduk, pengelolaan kawasan budidaya secara efisien dan efektif, dan pemberian disinsentif bagi pengendalian okupasi kawasan lindung. 2. Peringkat pengaruh geografis kebijaksanaan

Peringkat pertama adalah pengaruh pemanfaatan yang bersifat strategis, yaitu yang mempunyai dampak berskala regional serta berpengaruh pada strategi makro dan rencana struktur pengembangan kota dan wilayah propinsi yang berbatasan. Pada peringkat pertama ini pertimbangan pengendalian ditekankan pada kriteria pertahanan dan keamanan, ekosistem, serta ekonomi regional dan global. Peringkat kedua adalah pemanfaatan ruang yang bersifat strategis dan non-strategis namun mempunyai dampak pada skala kota/kabupaten serta berpengaruh pada strategi dan rencana struktur. Pada peringkat kedua pertimbangan pengendalian selain ditekankan pada kriteria lingkungan, juga pada keadilan sosial, lingkungan, teknik penyediaan infrastruktur (pengelolaan air, lalu lintas, limbah berbahaya), fiskal ( cost recovery), dan pengelolaan pertanahan. Peringkat ketiga adalah pemanfaatan ruang yang hanya berdampak pada skala lokal (kecamatan atau beberapa kecamatan). Pada peringkat ini pertimbangan pengendalian lebih ditekankan pada kriteria keadilan sosial, lingkungan, teknis penyediaan infrastruktur, pengelolaan

pertanahan, standar arsitektur, dan kepadatan bangunan. Pada hakekatnya masing-masing peringkat geografis kebijaksanaan tersebut menghendaki pendekatan, instrumen dan institusi pengendalian yang berbeda. 3. Kerangka Pengendalian Yang Berkelanjutan

Pengendalian pemanfaatan ruang memerlukan suatu kerangka yang berkelanjutan untuk menjamin pemanfaatan ruang yang efisien, efektif, dan responsif terhadap perkembangan kebutuhan aktifitas penduduk. Kerangka pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif perlu mencerminkan: Prinsip berkelanjutan (sustainability) Kelengkapan (comprehensiveness) Sumbangan terhadap pemecahan isyu penting di Propinsi Sumatera Utara

Setiap usulan pemanfaatan ruang perlu dievaluasi secara menyeluruh dengan kerangka pengendalian yang berkelanjutan tersebut. Walaupun demikian, aplikasi komponen dan peringkat kerincian kriteria disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peringkat, skala RTRW, dan prioritas pemecahan masalah tata ruang yang dihadapi masing-masing wilayah. Komponenkomponen utama pengendalian pemanfaatan ruang dapat dilihat pada tabel 6.1. Tabel 6.1 Komponen Utama Pengendalian Pemanfaatan Ruang Komponen Utama Pertahanan Ekonomi Kriteria Kesesuaian dengan strategi pertahanan dan keamanan negara Pertumbuhan ekonomi di tingkat nasional, regional, maupun global Peningkatan peluang investasi Pengentasan kemiskinan Penciptaan lapangan kerja yang luas untuk menampung usia produktif Pengembangan sektor sekunder dan tersier yang berbasiskan sumberdaya lokal Pemerataan keadilan Kemudahan akses bagi setiap bagian wilayah untuk berkembang sesuai potensinya masing-masing Melindungi daerah bawahannya Kesesuaian dengan RTRW

Keadilan sosial

Lingkungan

Peningkatan kualitas lingkungan hidup Efisiensi pemanfaatan lahan Pengelolaan sumberdaya alam secara bijaksana Infrastruktur Pengelolaan prasarana dan sarana transportasi Pengelolaan air Pengelolaan drainase dan irigasi Pengelolaan prasarana wilayah lainnya

4.

Instrumen dan Tata Cara Pengendalian

Pada dasarnya instrumen pengendalian disesuaikan dengan sifat strategis dan tidak strategisnya rencana pemanfaatan ruang, peringkat administrasi dan geografis rencana, serta sifat pemantapan tetap atau luwes (tabel 6.2).

Tabel 6.2
Instrumen Pengendalian Peringkat Administratif/ Geografis Kawasan pada Tingkat Propinsi atau lintas Kabupaten/Kota

Sifat Strategis

Instrumen Pengendali UU PP Keppres RTRW Propinsi SK Men/Permen SK Gubernur

Non-strategis

RTRW Kawasan Tertentu SK Gubernur AMDAL RTRW Kabupaten/Kota SK Gubernur AMDAL RTRW Kabupaten/Kota SK Gubernur Permintakan (Zoning Regulation) RTRW Kecamatan/Kawasan SK Gubernur Urban Design Guidelines

Kawasan Pada Tingkat Kabupaten/Kota

Strategis

Non-strategis

Kawasan Pada Tingkat Kecamatan

Strategis

Permintakan (Zoning Regulation) Non-strategis Urban Design Guidelines Permintakan (Zoning Regulation)

5.

Institusi Pengendalian

Kemampuan pengendalian pemanfaatan ruang sangat bergantung pada kemampuan institusi pengendalian untuk mengadakan pemantauan, evaluasi, pelaporan, dan penertiban pemanfaatan ruang secara efektif. Untuk itu perlu ditentukan peranan, kedudukan, dan tanggung jawab institusi pengendali di masing-masing peringkat wilayah perencanaan.

Adapun unsur-unsur yang harus dipenuhi oleh institusi pengendali adalah sebagai berikut : a. Berkemampuan untuk mengkoordinasikan, mengendalikan, dan melaksanakan evaluasi atas usulan dan pelaksanaan pemanfaatan ruang yang dilakukan oleh berbagai peringkat dan jurisdiksi pemerintahan yang ada di Propinsi Sumatera Utara, terutama untuk program dan proyek yang bersifat strategis dan berdampak regional. b. Memiliki kewenangan dan sumberdaya yang memadai untuk dapat mengambil keputusan yang cepat dan efektif, terutama apabila dihadapkan pada kontroversi pemanfaatan ruang yang melibatkan berbagai pihak. c. Mempunyai akses terhadap informasi atas program dan proyek strategis berskala besar dan berdampak luas, serta berkemampuan untuk mengolah informasi serta mengevaluasi implikasinya pada RTRW di masing-masing peringkat wilayah perencanaan yang berkaitan. d. Institusi pengendali berkemampuan menjalankan peran mediator dan fasilitator untuk menampung aspirasi semua stakeholders dalam pembangunan perkotaan sehingga dapat dihasilkan keputusan yang seimbang dan dapat diterima oleh semua pihak. Institusi yang berwenang dalam kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang sebagaimana tertera pada tabel 6.3. Tabel 6.3 Institusi Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Wilayah Perencanaan Propinsi Institusi Pengendali Kriteria Utama Pengendalian Ekonomi Keadilan sosial Ekologi Lingkungan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

TKPRD Bappeda Propinsi BPN Bapedalda Propinsi Dinas Tarukim Dinas Kehutanan Dinas instansi terkait lainnya

Kabupaten/Kota

1. 2. 3. 4. 5.

TKPRD Bappeda Kabupaten/Kota Dinas Tata Kota BPN Bapedalda Kabupaten/Kota

Keadilan sosial Infrastruktur Keuangan Pertanahan Lingkungan Keadilan sosial Insfrastruktur Pertanahan Lingkungan

Kecamatan

1. Camat sebagai PPAT

6.2

Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Pengendalian pemanfaatan ruang mengandung beberapa pengertian yang berbeda, bergantung pada jenis dan skala rencana tata ruang. Pada Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi, pengendalian pemanfaatan ruang mengandung pengertian dilakukannya tindakan pengawasan dan penertiban, sedangkan untuk tingkatan rencana tata ruang yang lebih rinci (RTRW Kabupaten/Kota dan seterusnya) upaya pengendalian termasuk pelaksanaan pemberian perijinan. Pengawasan terdiri atas tiga kegiatan yang saling terkait, yaitu pelaporan, pemantauan (monitoring), dan evaluasi. Sedangkan penertiban mencakup pengenaan sanksi administratif, sanksi perdata, dan sanksi pidana.

6.2.1 Pengawasan
Pengawasan dimaksudkan sebagai upaya untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara. Pengawasan pembangunan ini meliputi tiga kegiatan yang saling terkait, sebagai berikut : A. Pelaporan

Bentuk pelaporan dalam pengawasan adalah berupa pemberian informasi obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara 2003-2018. Pada dasarnya, seluruh stakeholders pembangunan dapat dilibatkan dalam kegiatan pelaporan. Jenis pelaporan apapun yang dilakukan oleh seluruh pihak yang apresiatif terhadap kualitas tata ruang, perlu ditindaklanjuti dalam kegiatan pemantauan, khususnya bagi laporan yang mengindikasikan adanya pembangunan yang tidak sesuai dengan RTRW Propinsi Sumatera Utara.

Secara kelembagaan, pelaporan ini wajib dilakukan dan/atau dikoordinasikan oleh Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Utara secara rutin dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang. B. Pemantauan

Pemantauan adalah usaha atau tindakan mengamati, mengawasi, dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara. Sebagaimana dalam usaha pelaporan, maka usaha mengamati, mengawasi, dan memeriksa perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan ini menjadi kewajiban perangkat Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Utara sebagai kelanjutan dari temuan pada proses pelaporan. Di sini juga tidak tertutup kemungkinan pelaksanaan hak dan kewajiban masyarakat untuk berperan serta dalam pemantauan tata ruang, yang kemudian bersama-sama dengan perangkat Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Utara menindaklanjuti dengan proses dan prosedur yang berlaku. Pada prinsipnya, pemantauan rutin terhadap perubahan tata ruang wilayah Propinsi Sumatera Utara dilakukan oleh Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Utara melalui laporan yang masuk, baik yang berasal dari individu/masyarakat, organisasi kemasyarakat, aparat daerah, hasil penelitian, statistik, dan lain sebagainya. C. Evaluasi

Evaluasi dimaksudkan sebagai usaha untuk menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang. Evaluasi dilakukan secara menerus dan setiap akhir tahun disimpulkan melalui gambaran kondisi tata ruang. Oleh karena itu, evaluasi merupakan fungsi dan tugas rutin perangkat Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Utara dengan masukan dan bantuan aktif dari masyarakat dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Kegiatan utama evaluasi adalah membandingkan antara temuan hasil pemantauan lapangan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara. Karena pada intinya adalah menilai kemajuan seluruh kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sumatera Utara, maka perlu keputusan mengenai penyimpangan terhadap tahapan dan skenario tata ruang yang direncanakan serta upaya mengatasinya. Tindakan penertiban dilakukan jika dan hanya jika konsep, tujuan, sasaran, dan muatan arahan pemanfaatan ruang yang dijadikan standar pembanding masih sahih. Sedang kegiatan peninjauan kembali secara menyeluruh terhadap seluruh proses penataan ruang dilakukan jika penyimpangan yang terjadi mengubah kesahihan konsep, tujuan , sasaran, dan muatan arahan pemanfaatan ruang. Peninjauan kembali adalah usaha untuk menilai kembali kesahihan rencana tata ruang dan keseluruhan kinerja penataan ruang secara berkala, termasuk mengakomodasikan pemutakhiran yang dirasakan perlu akibat adanya paradigma serta peraturan/rujukan baru dalam penataan ruang dan pembangunan. Dengan demikian, kegiatan peninjauan kembali termasuk ke

dalam kegiatan perencanaan tata ruang yang dilakukan setelah dalam kegiatan evaluasi ditemukan permasalahan-permasalahan yang mendasar dan kemungkinan tidak dapat diselesaikan dengan tindakan penertiban. Oleh karena itu peninjauan kembali dapat dilakukan setiap saat apabila gambaran kinerja tata ruang menunjukkan penyimpangan yang signifikan.

6.2.2 Penertiban
Penertiban adalah tindakan menertibkan yang dilakukan melalui pemeriksaan dan penyelidikan atas semua pelanggaran terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang melalui pengenaan sanksi. Bentuk sanksi adalah sanksi administratif, sanksi perdata, dan sanksi pidana. Pengenaan sanksi dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang sanksi pelanggaran yang diatur dalam peraturan perudang-undangan yang berlaku. Mengingat bahwa RTRW Propinsi Sumatera Utara berbentuk rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang di mana arahan yang ditetapkan tidak digunakan secara langsung dalam pemberian perijinan pembangunan, maka tindakan penertiban dengan pengenaan sanksi harus mengacu kepada rencana tata ruang yang lebih rinci dan/atau pedoman penataan ruang dan penataan bangunan sesuai dengan penggunaanya sebagai acuan operasional pelayanan perijinan pemanfaatan ruang, namun dengan tetap memperhatikan rencana struktur dan arahan yang ditetapkan di dalam RTRW Propinsi dan RTRW Kabupaten/Kota.

6.2.3 Perijinan Pemanfaatan Ruang


Perijinan dimaksudkan sebagai konfirmasi atas pemanfaatan ruang dalam proses pengendalian pemanfaatan ruang. Sesuai dengan jenjang dan skala RTRW yang ada, pada dasarnya dapat ditegaskan bahwa RTRW yang dapat dijadikan acuan untuk menerbitkan suatu jenis ijin dalam pemanfaatan ruang adalah RRTRW di tingkat Kecamatan dan/atau RRTRW Kawasan Fungsional beserta jenjang berikutnya yang lebih rinci dengan skala yang lebih besar. Perijinan harus disesuaikan dengan tingkat rencana tata ruang yang diacu, seperti Ijin Prinsip, Ijin Perencanaan, IMB, Ijin UUG/HO, AMDAL, Ijin Tetap, Ijin Usaha, dan Ijin Tempat Usaha (SITU). Perijinan yang terkait langsung dengan pemanfaatan ruang adalah Ijin Lokasi, Ijin Perencanaan, dan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). Jenis ijin dan/atau pertimbangan kelayakan lingkungan adalah Ijin Undang-undang Gangguan (IUUG/HO), dan/atau Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), sedang perijinan sektoral yang terkait dengan legalitas usaha atau investasi, yaitu Ijin Prinsip, Ijin Tetap, dan Ijin Usaha. Seringkali berbagai perijinan secara bersama-sama diterapkan dan diintegrasikan ke dalam proses perijinan pertanahan, mulai dari Ijin Lokasi hingga prosedur pengajuan/pemberian hak atas tanah (Hak Guna Bangunan, Hak Guna Usaha, dan/atau Hak Milik).

Sesuai dengan hirarki rencana tata ruang, penertiban ijin dalam pemanfaatan ruang harus mengacu pada RTRW Kabupaten/Kota dan rencana yang lebih rinci, yaitu : RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kabupaten/Kota (skala 1 : 50.000 - 1 : 20.000) digunakan sebagai acuan penerbitan perijinan lokasi peruntukan ruang untuk suatu kegiatan. RRTRW (Rencana Rinci Tata Ruang Wilayah) Kecamatan (skala 1 : 10.000 - 1 : 5.000) digunakan sebagai acuan penerbitan perijinan perencanaan pembangunan ( planning permit) bangunan dan bukan bangunan. RRTRW (Rencana Rinci Tata Ruang Wilayah) Sub Kawasan (skala 1 : 1.000 - 1 : 500) digunakan sebagai acuan penerbitan perijinan tata letak dan rancang bangunan/bukan bangunan, termasuk Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).