Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN OPERATOR PELAKSANAAN ODONTECTOMY

Oleh: R Rizqi Ardhy 2007.07.0.0078

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA

LAPORAN OPERASI

Hari / tanggal Operator Asisten operator

: : R.Rizqi.Ardhy (2007.07.0.0078) :Maya Marisa (2007.07.0.00 Ristu Durromaulina (2007.07.0.00

Instruktur

: drg

Identitas pasien: Nama Umur Jenis kelamin : : tahun : Perempuan

Foto panoramic pasien :

Diagnosa 8 kanan bawah Perikoronitis oleh karena impaksi parsialis kelas II posisi A

Persiapan Alat dan Bahan Alat : 1. Kaca mulut, pinset, sonde 2. Nierbekken 3. Spuit 2 cc 4. Handle scalpel dan scalpel

5. Rasparatorium 6. Cheek retractor 7. Straight handpiece low speed dan round bur no. 8 8. bein 9. Tang ekstraksi 10. Kuret 11. Spuit irigasi 12. Knable tang 13. Bone file 14. Pinset chirurgis 15. Gunting 16. Needle holder 17. Jarum dan benang jahit 18. Suction

Bahan : 1. Larutan anestesi : pehacain

2. Benang jahit 3. Betadine 4. Larutan betadine untuk irigasi 5. Kapas 6. Tampon steril

Persiapan Operasi Tim Bedah Dilakukan oleh operator dan asisten operator sebelum melakukan

odontektomi 1. Baju operasi dan Topi operasi Setiap tim bedah baik operator maupun asisten operator memakai baju operasi lengkap dengan topi operasi yang menutupi seluruh rambut. 2. Asepsis Cuci tangan dengan sabun mulai telapak tangan sampai sebatas siku. Setelah cuci tangan, operator dan asisten operator dilarang memegang apapun sampai masuk ruang operasi. 3. Masker dan sarung tangan Masker dipakai sebelum memasuki ruang operasi. Sarung tangan digunakan di dalam ruang operasi segera setelah tangan dikeringkan.

Teknik Operasi Odontectomy 1. Asepsis Ulas dengan kapas yang telah diberi betadine pada daerah operasi, pada daerah retromolar sampai bukal M2. 2. Anestesi (2 ampul) Tenik anastesi mengunakan injeksi mandibular block anastesia (indirect technique/contra lateral). Caranya: raba mucco bukal fold dengan jari telunjuk kiri dan diteruskan sampai pada linea oblique externa dan batas ramus ascensdes. Dari cekungan terdalam ramus tersebut (coronoid notch) kira-kira setinggi sulkus mandibularis yang merupakam masuknya nerfus alveolaris inferior masuk ke dalam foramen mandibularis. Selanjutnya insersikan jarum dari arah kontra lateral antara premolar satu dan dua rahang bawah tepat

dipertengahan kuku telunjuk kiri dan dorong sampai menyentuh tulang. Kemudian arah jarum diubah hingga sejajar dengan dataran oklusal (occlusal plane) pada sisi yang dianastesi kemudian insersikan kembali kearah posterior melewati linea oblique interna. Setelah itu bah lagi arah jarum kembali lagi kearah kontra lateral dan dorong

masuk lagi sampai menyentuh tulang. Disini jarum ditarik +/- 1mm, kemudian lakukan aspirasi dan bila aman tidak masuk pembuluh darah deponir larutan anastetikum sebanyak 1-1,5 ml. Untuk menganastesi nervus lingualis jarum ditarik perlahan hingga jarum yang masih didalam jaringan tersisa 1cm kemudian deponir sisa larutan

anastetikum local sebanyak 0,5 ml. Infiltrasi anestesi sebanyak 1 ampul pada daerah bukal fold M3 1 cc dan bukal fold M2 1 cc untuk menganestesi jaringan lunak dan jaringan keras di regio tersebut. 3. Sondase Dilakukan pada sulkus gingiva M3 dan daerah retromolar pad untuk memastikan bahwa daerah operasi sudah teranestesi. Bila pasien sudah tidak merasa sakit maka operator dapat melakukan tahapan selanjutnya. 4. Insisi Insisi berbentuk trapesium dimulai dari distal gingiva M3 di daerah retromolar pad diteruskan mengikuti gingival margin hingga mesial daerah bukal M2 dilanjutkan secara lurus ke arah mesiobukal. Insisi flap mukoperiosteal fullhickness sehingga hanya meninggalkan tulang . Persyaratan desain insisi:

Mempertahankan suplai darah (insisi sejajar dengan pembuluh darah untuk memberikan vaskularisasi). Hindari retraksi flap terlalu lama dan hindari tegangan yang berlebih (jahitan berlebih)

Desain diusahakan menghindari saraf yang terletak didalam (terutama n. mentalis)

Ukuran sebaiknya lebih besar dan jangan terlalu kecil untuk jarak pandang daerah kerja.

5. Mucoperiosteal flap Pembuatan flap pada bagian yang telah dilakukan insisi untuk memisahkan gingival dan jaringan mucoperiosteal dari tulang dengan menggunakan rasparatorium. Pembuatan flap dimulai dari mesial M2 ke distal M3 hingga tulang alveolar terlihat. Periosteum diambil secara menyeluruh jangan sampai terkoyak dan saat pengangkatan flap jangan sampai sobek. 6. Osteotomy Flap ditahan menggunakan rasparatorium. Tulang alveolar yang meretensi gigi M3 dihilangkan dengan menggunakan bur tulang dan dibantu dengan irigasi larutan saline. Pengurangan tulang alveolaris dilakukan hingga kontur terbesar dari gigi M3 di daerah bukal dan disto aproksimal gigi M3. 7. Odontectomy

Elevator diinsersikan pada mesial M3 untuk mengungkit M3 sampai goyang, dilanjutkan dengan tang. Jika masih ada retensi, maka bur diarahkan pada daerah tulang yang menghalanginya. Kemudian gigi impaksi tersebut dapat dikeluarkan.

9. Debridement -. Kuret dilakukan pada daerah bekas operasi untuk menghilangkan sisa jaringan yang tertinggal di dalam soket. -. Irigasi dengan larutan betadine dan aquadest untuk membersihkan daerah bekas operasi dari debris, sisa pecahan tulang dan gigi, dan mengurangi resiko infeksi post-operasi dengan prinsip asepsis.

10. Pengembalian flap dan suturing Mucoperiosteal flap dikembalikan ke posisi semula dengan bantuan pinset chirurgis lalu difiksir dengan suturing. Pada operasi ini dilakukan 3 kali jahitan. Jahitan pertama dimulai pada distal M2. Jahitan kedua dilakukan pada daerah bekas M3 dan setelah itu jahitan ketiga terletak pada bagian posterior dari M3. Teknik penjahitan mengunakan teknik interupted. Setelah dilakukan proses suturing pasien diinstruksikan untuk menggigit tampon.

Resep R/ Clindamycin caps 300 mg no. XV 3 d.d.I R/ Ponstan tabs 500 mg no. XV 3 d.d.I R/ Betadine gargle fl no. I coll oris 1X/hari

Instruksi pada pasien 1. Gigit tampon selama 30 sampai 60 menit. 2. Tidak boleh kumur selama 24 jam. 3. Jangan terlalu sering meludah. 4. Jangan menghisap-hisap terutama pada daerah luka. 5. Jangan memainkan bekas luka dengan lidah. 6. Jangan makan dan minum yang panas atau hangat (makan dan minum dengan suhu ruangan). 7. Jangan minum susu sampai jahitan dilepas.

8. Jangan minum alkohol, merokok, dan mengunyah permen karet sampai jaitan dilepas 9. Istirahat yang cukup akan mempercepat proses penyembuhan 10. Minum obat secara teratur sesuai anjuran. 11. Apabila bengkak, kompres dengan kantung plastik yang diberi potongan es batu pada daerah wajah dekat gigi yang dicabut. Pengompresan dilakukan dengan selang 30 menit yaitu 30 menit kompres, 30 menit dilepas. 12. Apabila sampai rumah masih pendarahan ringan, gigit tampon lagi selama 1 jam. Namun bila lebih dari 24 jam segera datang ke dokter gigi atau Rumah sakit terdekat. 13. Kontrol 1 minggu untuk buka jahitan. 14. Bila ada keluhan pergilah ke klinik atau rumah sakit terdekat