Anda di halaman 1dari 16

c.

James (1980) Analisis kontrastif ialah suatu aktivitas linguistik yang bertujuan untuk menghasilkan tipologi dua bahasa yang kontrastif, yang berdasarkan asumsi-asumsi bahwa bahasa-bahasa itu dapat dibandingkan. Dari ketiga tokoh yang berpendapat tentang teminologi analisis kontrastif maka penulis ingin mengeksposisikan bahwasannya analisis kontrastif adalah suatu kegiatan seorang linguis dalam membandingkan bahasa sumber dan bahasa target baik secara makrolinguistik maupun mikrolinguistik untuk menemukan perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan kedua bahasa tersebut. Di dalam analisis kontrastif mengenal istilah interferensi dan transfer pindahan untuk mencari kesulitan dalam menenttukan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan antara bahasa sumber dan bahasa target. Istilah interferensi dipergunakan oleh kalangan psikolog untuk menunjuk pengaruh tingkah laku yang lama terhadap hal-hal baru yang sedang dipelajari. Para penganut anakon berpendapat timbulnya interferensi disebabkan ketidakfamiliaran bahasa sumber dengan bahasa target. Lain halnya dengan istilah transfer pindahan. Parapsikolog tingkah laku yang mula pertama mendefinisikan transfer merujuk kepada satu proses penggunaan pengalaman yang silam secara otomatis, tak terkendali, dan bawah sadar dalam usaha menjawab tantangan baru. Dalam hal ini dapat terjadi transfer negative dan transfer positif. Transfer negatif terjadi jika tingkah laku atau bentuk yang lama tidak terdapat dalam situasi yang baru, sedangkan transfer positif terdapat jika antara kebiasaan yang lama dan yang baru terdapat persamaan. Dalam hubungan dengan pengajaran bahasa yang kedua atau bahasa asing, seorang penutur bahasa ibu yang akan berbahasa kedua atau bahasa asing melakukan transfer negatif atau positif.(J.d Parera : 1997:106) Analisis ini merupakan sarana bagi para linguis dalam membandingkan bahasa sumber dan bahasa target sehingga terlihat persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedalam dalam kedua tersebut. Namun di dalam analisis ini, linguis harus memperhatikan prosedur-prosedur dalam membandingkan kedua bahasa. Robert Lado memberikan prosedur dan langkah analisis kontrastif sebagai berikut : Langkah pertama : tempatkan satu deksripsi stuktural yang terbaik tentang bahasa-bahasa yang bersangkutan. Deksripsi ini harus mencakup tataran fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Deksripsi ini harus mencakup bentuk, makna dan distribusi. Langkah kedua : Rangkum dalam satu ikhtisar yang terpadu semua struktur. Ini berarti seorang linguis harus merangkumkan semua kemungkinan pada setiap tataran analisis bahasa yang diteliti dan dibandingkan. Langkah ketiga : Bandingkan dua bahasa itu struktur demi struktur dan pola demi pola. Dengan perbandingan tiap struktur dan pola dalam dua sistem bahasa itu, orang dapat menemukan masalah-masalah dalam pembelajaran bahasa. (J.D parera:1997:107-108)

Whitman Brown (1980) mengemukakan empat prosedur untuk menerapkan analisis kontrastif, prosedur itu, ialah : 1. Deksripsi, ahli bahasa atau guru bahasa berusaha memerikan (mendeksripsikan) system bahasa yang diperbandingkan. 2. seleksi, ahli bahasa atau guru bahasa menentukan unsure bahasa yang berbeda, baik yang berhubungan dengan fonologi, morfologi maupun sintaksis 3. mengkontraskan unsur unsur itu 4. menentukan kesalahan yang dibuat si terdidik terhadap bahasa yang sedang dipelajari atau bahasa kedua karena pengaruh bahasa kedua. Paradigma analisis kontrastif yaitu dengan mencermati secara sistematis persamaanpersamaan dan perbedaan-perbedaan antara bahasa sumber dan bahasa tujuan. Hal ini dapat dikaji melalui dua aspek : 1. Aspek mikrolinguistik : dalam aspek ini yang dikaji komponen-komponen yang terdiri dari : Fonologi, morfologi, kosakata dan sintaksis. 2. Aspek Makrolinguistik ialah hal-hal yang menyebabkan peneliti mencapai suatu pengertian ilmiah mengenai bagaimana manusia berinteraksi dengan manusia, manusia berinteraksi dengan lingkungannya, manusia berinteraksi dengan kelompoknya, makna, kejiwaan berbahasa dan budaya (sosiolinguistik, etnolinguistik, pragmatic, semantic, psikolinguistik) Analisis kontrastif sebagai satu pendekatan dalam pengajaran bahasa termasuk dalam linguistik terapan. Artinya terapan ilmu bahasa dalam bidang praktis. Ilmu ini dapat dipandang sebagai disiplin baru yang dapat berkembang dan diakui keberadaannya. Penulis menganggap bahwa Linguistik Terapan sudah merupakan suatu disiplin ilmu yang memenuhi berbagai fungsi bahasa dan memiliki dasar ilmu yang saling berkaitan, serta terbuka, sehingga dapat dikatakan bahwa leksikografi, penerjemahan, patologi, dan terapi wicara(journal.um.ac.id/index.php/bahasa-seni/article/view/2472).Linguistic terapan tersebut masuk ke dalam subdisplin linguistic. Maka analisis kontrastif berobjekan bahasa. Tentunya dari bahasa tersebut memiliki tata bahasa sebagai aturan agar bahasa itu bisa dikatakan baik dan benar. Setiap tata bahasa dari suatu bahasa, menurut Chomsky, adalah merupakan teori dari bahasa itu sendiri ; dan tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat : (abd Chaer :2007 :364) Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut,sebagai kalimat wajar dan tidak dibuat-buat Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja, dan semua ini harus sejajar dengan teori linguistic tertentu. Dengan sendirinya, analisis kontrastif membatasi diri hanya bagianbagian tertentu mengenai bahasa-bahasa yang hendak dibandingkan. Adapun tujuan analisis ini untuk mengetahui hakikat analisis itu sendiri, tujuan analis kontrastif diantaranya(Pateda : 1989 :20)

Menganalisis perbedaan antara bahasa ibu dengan bahasa yang sedang dipelajari agar pengajaran berbahasa berhasil baik Menganalisis perbedaan antara bahasa ibu dengan bahasa yang sedang dipelajari agar kesalahan berbahasa si terdidik dapat diramalkan yang pada giliran nya kesalahan yang diakibatkan oleh pengaruh bahasa ibu itu dapat diperbaiki. Hasil analisis digunakan untuk menuntaskan keterampilan berbahasa si terdidik. Membantu si terdidik untuk meyadari kesalahan berbahasa sehingga dengan demikian si terdidik diharapkan dapat menguasai bahasa yang sedang dipelajari dalam waktu tidak lama
A. Hakikat Teori Konstrastif

Dalam belajar bahasa, sering kali seseorang melakukan kesalahan dalam mengungkapkan sebuah kalimat akibat pengaruh konstruksi kalimat bahasa pertamanya, dan kebalikannya pada keadaan tertentu ia dimudahkan cara belajarnya oleh bahasa pertamanya.

Menurut hipotesis kontrastif, yang dikemukaan oleh Charles Fries (1945) dan Robert Lado (1957), kesalahan yang dibuat tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua, sedangkan kemudahan dalam belajarnya disebabkan oleh adanya kesamaan-kesamaan antara unsur B1 dan B2.

Dengan kata lain, perbedaan B1dengan B2 menyebabkan kesulitan, sedangkan persamaan menyebabkan kemudahan. Dari teori ini, kita mendapat keterangan bahwa pemerolehan bahasa, apakah itu pemerolehan bahasa kedua, ataupun bahasa ketiga, sedikit banyak keberhasilannya ditentukan oleh keadaan linguistik bahasa yang telah dikuasai oleh pembelajar sebelumnya. Teori ini berhipotesis bahwa keadaan linguistik bahasa yang telah dikuasai oleh pembelajar berpengaruh terhadap proses pemerolehan bahasa yang dipelajari atau yang berusaha dikuasainya (Klein, 1986:5).

Hipotesis analisis kontrastif lebih lanjut menyatakan bahwa seorang pembelajar bahasa sering kali melakukan transfer antara B1 dengan B2 dalam bentuk penggunaan struktur B1 untuk mengungkapkan gagasan dalam B2. Atas dasar pemikiran tersebut maka para ahli bahasa berusaha mendeskripsikan bahasa-bahasa di dunia, dengan harapan para pengajar atau praktisi akan dapat memprediksi letak kesulitan dan kemudahaan anak dalam belajar nanti, sesuai dengan latar belakang B1-nya. Namun, analisis kontrastif tidak menjelaskan proses belajar bahasa dan kemungkinan untuk menghapuskan kesalahan yang mungkin dibuat oleh anak.

Hasil penelitian membuktikan bahwa transfer dapat diamati pada tingkat-tingkat kebahasaan, baik fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon. Sedangkan pada aspek morfologi jarang ditemui. Untuk mengetahui kekhilafan yang terjadi dalam transfer, pembelajar harus tahu banyak tentang bahasa kedua. Berdasarkan sifatnya, maka transfer dapat dibagi menjadi dua bagian. Transfer yang bersifat membantu karena kesamaan atau kesejajaran disebut transfer positif. Sebaliknya apabila transfer itu bersifat mengacaukan karena perbedaan sistem bahasa maka transfer itu disebut transfer negatif.

B. Prinsip-prinsip Teori Konstrastif

Dari teori kontrastif ini, kita mendapat keterangan bahwa pemerolehan bahasa, apakah itu pemerolehan bahasa kedua, ataupun bahasa ketiga sedikit banyak keberhasilannya ditentukan oleh keadaan linguistik bahasa yang telah dikuasai oleh pembelajar sebelumnya. Teori ini berhipotesis bahwa keadaan linguistis bahasa yang telah dikuasai oleh pembelajar berpengaruh terhadap proses pemerolehan bahsa yang dipelajari atau yang berusahaa dikuasainya (Klein, 1986:5).

Berbahasa kedua atau berbahasa ketiga adalah proses transferisasi. Jika struktur bahasa yang dikuasai oleh pembelajar sebelumnya, misalnya, banyak memiliki persamaan dengan struktur bahasa yang berusaha diperolehnya, terjadilah semacam pemudahan dalam proses transferisasinya. Namun demikian, jika struktur antarkeduanya memiliki persamaan dengan struktur antarkeduanya memiliki perbaedaan, pembelajar akan mengalami kesulitan di dalam memeroleh bahasa yang sedang dipelajarinya. Semakin terdapat perbedaan struktur antara yang ada dalam bahasa pertama dengan yang ada dalam bahsa kedua, usaha yang harus dilakukan pembelajar di dalam memeroleh dan menguasai bahasa kedua haruslah lebih sungguh-sungguh.

Menurut analisis kontrastif, semakin besar perbedaan keadaan linguistik bahasa yang dikuasai oleh pembelajar sebelumnya dengan keadaan linguistik bahasa yang akan dipelajarinya, semakin besar pula kesulitaan yang akan dialami oleh pembelajar dalam memeroleh bahasa sasaran (Banathy, 1969:79).

Dengan analisis kontranstif, pengajar maupun pembelajar bahasa kedua dapat mengetahui tingkat persamaan dan perbedaan linguistik bahasa pertama dengan bahasa kedua atau bahasa target dengan bahasa yang dipelajarinya (Ellis, 1986:20). Melalui analisis kontrastif, tingkat persamaan dan perbedaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua dapat diketahui. Dengan diketahuinya tingkat persamaan serta perbedaan itu dapat ditentukan strategi pembelajaran yang paling efektif untuk digunakan (Dulay, 1982:96).

C. Kedudukan Anaisis Kontrasif dalam Pemerolehan Bahasa Kedua

1.Perkembangan Analsis Kontrastif

Analisis kontrastif merupakan suau kajian kebahasaan yang menganalisis unsur-unsur bahasa kedua sebagai bahasa sasaran. Hasil analsisis itu diperbandingkan dengan unsur-unsur yang ada pada bahasa pertama pembelajar bahasa. Berdasarkan hasil perbandingan akan ditemukan unsur-unsur bahasa kedua yang sama maupun yang amat berbeda dengan unsr-unsur bahasa pertama pembelajar. Mampu atau tidaknya seorang pembelajar menjadi seorang bilingual, apaila ia sebelumnya adalah seorang moolingual (James, 1980:8-9).

Analisis Kontrastif amat memperhitungkan pembelajar bahasa dan bahasa sasaranyang harus dikuasai oleh pebelajar bahasa itu. Dengan ddemikian analsis kontrastif sudah tentu dilandaskan oleh teori belajar tertentu . Teori belajar yang mendasari analsis konrastif ialah aliran psikologi behavioris. Aliran ini mengkaji unsur kejiwaan manusia berdasarkan fakta yang dapat diamati, bukan unsur kejiwaan manusia yang tidak dapat diamati secara langsung.

2. Konsep Dasar Analisis Kontrastif

Sampai dengan tahun 60-an aliran psikologi behavioris dan linguistik struktural benar-benar memegang peranan yang amat penting, apalagi stelah analisis kontrastif dianfaatkan secara luas dalam pembelajaran bahasa, terutama dalam pembelajaran bahasa kedua atau bahasa asing. Menurut Lado ananalisis kontrastif dapat dipergunakan untuk memprediksi atau meramalkan kesulitan atau keberhasilan pembelajar bahasa dalam belajar bahasa kedua atau bahasa asing. Analisis Kontrasif dalam Pemerlehan Bahasa Kedua

Seperti yang telah disebutkan bahwa analisiskontrasif dapat memperidiksi kemungkinan terjadinya kesulitan ataupun kemudahan pada diri pembelajar bahasa dalam memperoleh bahasa kedua (Brown,1980;1949-151). Langkah yang dilakukan teori analisis kontrasif agar dapat menentukan pola kesulitan dan pola kemudahan pada diri pembelajar bahasa, ialah sebagai berikut : (1) deskripsi sistem bahasa pertama maupun sistem bahsa kedua (2) seleksi butir-butir, kadah dan bentuk-betuk yang dapat diperbandingkaan antara bahasa perama dan bahasa kedua; (3) kontras dalam arti membuat petas iste kebahasaan dari yang umum sampai ke hal yang amat khusus, yang tentu saja akan menunjukkan perbedaan dan persamaan masing-masing unsur yang dikontraskan , dan yang terakhir; (4) memprediksi kesalahan atau kesulitan berdarkan tiga langkah yang pertama (Brown, 1980 : 150; Ellis, 196: 25-26).

Kajian menurut analsis kontrasif amat penting peranannya dalam pembelajaran bahasa kedua. Kajian kebahasaan dalam analsis kontrsif leih banyak digarap oleh pakar kebasaan, sedangkan penerapannya dalam pembelajaran bahasa diserahkan pada pakar pembelajar bahasa.

Pemilahan tugas itu wajar, dan dengan demikian akan memperkuat teori bahwa analisis kontrasti memang termasuk dalam bidang linguistik terapan (James, 1980 : 7-8). Di samping itu, kedua tugas yang harus ditangani masing-masing pakar memang agak berbeda. Pakar kebahasaan pada waktu menganalisis dengan langkah-langkah yang telah ditentukan di atas memperhitungkan baik bahasa pertama pembelajar maupun bahasa kedua yang menjadi sasaran pembelajaran.

Pakar pembelajaran bahasa menurut teori analisis kontrastif, pada waktu dalam proses pembelajaran, tidak memperhitungkan sama sekali bahasa pertama pembelajar bahasa . Unsur-unsur yang menetukan pembelajaran sudah ditunjukkan oleh kajian kebahasaan yang dikerjakan oleh pakar analisis kontrasif. Hal itu juga sejalan dengan prinsip dasar analsis kontrastif, bahwa dapat terjadi inerferensi di saming proses transfer dalam pembelajara bahasa kedua atau bahasa asing( Lado, 1957 : 2 ). Oleh kaena itu dalam pembelajaran bahasa kedua, proses pemerolehan bahasa pertama bagi pembelajar bahasa sama sekali tidak diprhitungkan.

Selajutnya kajian kebahasaan hasil analsis kotrastif, terutama pada temuannya tentang adanya perbedaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua akan dipergunakan untuk menentukan prioritas pembelajaran bahasa kedua. Analisis kontrastif biasanya menunjukkan tingkat kesukaran yang akan dihadapi oleh pembelajar bahasa, sehingga mempermudah pakar pembelajaran bahasa dalam menentukan urutan proses pembelajaran (Brown, 1980 : 150-151).

Seperti telah disebutkan, bahwa proses pembelajaran bahasa kedua yang dikembangkan berdasarkan analisis kontrastif tidak memperhitungkan bahasa pertama pembelajar, maka hal ini amat berpengaruh terhadap metode dan teknik pembelajaran maupun teknik pemerolehan bahasa kedua.

Dengan demikan proses pembelajaran hanya dipusatkan pada bahasa kedua sebagai sasaran pembelajaran. Dengan cara itu diharapkan pembelajar bahasa dapat segera menjadi bilinual atau dwibahasawan, apabila sebelumnya ia adalah monolingual ata ekabahasawan. Dalam proses pembelajaran dilakukan juga pemilihan empat keterampilan yang harus dimiliki oleh pembelajaran dilakukan juga pemilihan empat keterampilan yang harus dimiliki oleh pembelajar bahasa, ialah menyimak,berbicara, membaca, dan menulis ( Savigon, 1987 : 17 ).

D.Penyesuaian analisis kontrastif dengan arus baru dalam pemerolehan bahasa kedua

Agar analsis kontrastif tidak begitu saja tengglam terlalu dalam para pakar yang berkecimpung dalam kajian atau analsis kontrastif berusaha mencari jalan keluar untuk menyesuaikan diri dengan arus perkembangan kajian pemerolehan bahasa kedua. Salah satu yang harus dilakuan dengan meninggalkan aliran keras dalam analsisis kontrastif .

Snock menghubungksn pendekatan stratifikasional dengan analisis kontrastif.Shck membuat pernyataan yang amat menarik , Semological is the keystone of contrastive analysis . James melakukan pembaharuan yang cukup luas terhadap analisis kontrastif.

Ia berusaha menundukkan analisis kontrastif pada tempat yang seharusnya dalam kajian kebahasaan. Ia menghubungkan analisis kontrastif dengan aliran baru dalam studi kebahasaan, seperti tata bahasa generatif transformasi, tata bahasa kasus, dan sebagainya. Ia memperdalam kajian secara mikro dalam analisis kontrastif dengan penerapannya pada proses pemerolehan bahasa yang memang memerlukan model pebandingan, seperti pembelajaran bahasa Inggris bagi pembelajar bahasa pertama bahasa Spanyol, bahasa Perancis, bahasa Jerman, dan sebagainya.

Di samping itu James memperdalam kaian analisis kontrastif dengan pendekatan linguistik makro. Kaian peemerolehan bahasa kdua dikaitkan dengan analisis bahasa dlam hubungannya dengan masyarakat pemakainya. Pembeajaran bahasa kedua harus dikenalkan tingkat-tingkat gaya yang ada pada bahasa sasaran. Bahasa sebagai alat komunikasi mempunyai tingkatan gaya, seperti : tigkat akrab;bahasa sehari-hari ; bahasa konsultasi ; bahasa formal ; dan bahasa baku ( Joos, 1968 : 188).

TEORI KESAMAAN PEMEROLEHAN DALAM BELAJAR BAHASA KEDUA

Teori ini menyatakan bahwa ada persamaan antara belajar B1 dan belajar B2. Kesamaan itu terletak pada sifat pararlelpada urutan pemerolehan struktur, seperti ; intelegensi, negasi, dan morfem-morfem gramatikal. Hipotesis ini menyatakan bahwa unsur-unsur bahasa diperoleh dengan urutan-urutan yang dapat diprediksi. Unsur kebahasaan tertentu diperoleh terlebih dahulu, sedangkan yang .ain belakanagan. Studi tentang urutan morfem gramatikal bahasa Inggris telah membuktikan hal ini.

Ciri kedua yang mendasari antara pemerolehan B1 dan B2 adalah bahwa B1 dapat dikuasai anak dengan pelafalan yang sempurna dan dengan cara yang alamiah, sedangkan B2 dikuasai dengan pelafan yang tidak sempurna dan dengan cara 'pemerolehan' dan 'belajar'. Meskipun belum juga ada bukti yang cukup bahwa soran anak belajar B2 tidak akan menguasai pelafalan bahasa targetnya dengan sempurna.

PENUTUP

Analisis kontrastif merupakan suau kajian kebahasaan yang menganalisis unsur-unsur bahasa kedua sebagai bahasa sasaran. Hasil analsisis itu diperbandingkan dengan unsur-unsur yang ada pada bahasa pertama pembelajar bahasa. Berdasarkan hasil perbandingan akan ditemukan unsur-unsur bahasa kedua yang sama maupun yang amat berbeda dengan unsr-unsur bahasa pertama pembelajar.

Teori kesamaan menyatakan bahwa ada persamaan antara belajar B1 dan belajar B2. Kesamaan itu terletak pada sifat pararlelpada urutan pemerolehan struktur, seperti ; intelegensi, negasi, dan morfem-morfem gramatikal. Hipotesis ini menyatakan bahwa unsur-unsur bahasa diperoleh dengan urutan-urutan yang dapat diprediksi. Unsur kebahasaan tertentu diperoleh terlebih dahulu, sedangkan yang .ain belakanagan. Studi tentang urutan morfem gramatikal bahasa Inggris telah membuktikan hal ini. DAFTAR PUSTAKA

Nurhadi.& Roekhan. 1990. Dimensi-Dimensi dalam Belajar Bahasa Kedua. Malang : Sinar Baru

BAB I PENDAHULUAN

Abad kedua puluh ini dicirikan pula dengan perkembangan ilmu yang berdasarkan pengalamanpengalamanempiris. Perkembangan ilmu ini pun dialami oleh linguistic.Perkembangan linguistic ini mempengaruhi pula perkembangan metodologi pengajaran bahasa. Hubungan makin erat ketika orang mulai melakukan hubungan antarbangsa karena hubungan antarbangsa menuntut bahasa sebagai alat komunikasinya.Hubungan antarbangsa yang berbeda bahasa menimbulkan usaha untuk saling mempelajari bahasa. Kegiatan mempelajari bahasa dapat berlangsung secara formal dan non formal. Kegiatan pengajaran bahasa secra formal memerlukan metodologi.Maka muncullah metode pengajaran bahasa. Metode pengajaran bahasa ini pun lebih diarahkan ke metodologi pengajaran bahasa kedua atau bahasa yang tidak sama dengan bahasa perolehan atau bahasa warisan atau bahasa yang diketahui lebih dahulu.[1] Analisis Kontrastif, sering disingkat menjadi anakon adalah sebuah pendekatan pembelajaran bahasa terutama kepada peserta didik yang bilingual. Anakon sering dipertentangkan dengan anakes (Analisis Kesalahan) berbahasa. Sesungguhnya

kedua aspek ini berbeda konsep dan berbeda pula sifat dari obyek materialnya. Keduanya mempunyai hubungan korelatif karena memiliki sasaran yang sama yakni peserta didik pembelajar bahasa kedua. BAB II PEMBAHASAN 1. Analisis Kontrastif Dalam Pembelajaran Bahasa A. Pengertian Aplikasi Anakon Analisis diartikan sebagai semacam pembahasan atau uraian. Yang dimaksud dengan pembahasan adalah proses ataucara membahas yang bertujuan untuk mengetahui sesuatu danmdapat menemuk an inti permasalahannya. Permasalahan yangditemukan itu kemudian dikupas, dikritik, diulas, dan akhirnyadisimpulkan untuk dipahami. Moelion o[2]menjelaskanbahwaanalisis adalah penguraian suatu pokok at as berbagaibagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hu bunganantar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat da npemahaman arti keseluruhan. Analisis kontrastif adalah suatu kajian terhadap unsur-unsur kebahasaan.Menurut Lado (1975), analisis kontrastif adalah cara untuk mendeskripsikan kesulitan atau kemudahan pembelajar bahasa dalam belajar bahasa kedua dan bahasa asing. Analisis kontrastif bukan saja untuk membandingkan unsur-unsur kebahasaan dan sistem kebahasaan dalam bahasa pertama (B1) dengan bahasa kedua (B2), tetapi sekaligus untuk membandingkan dan mendeskripsikan latarbelakang budaya dari kedua bahasa tersebut sehingga hasilnya dapat digunaka pengajaran bahasa kedua atau bahasa asing. Dalam buku Linguistic AcrossCultures, Lado (1975) mengatakan bahwa on the assumption that we can predictand describe the pattern that will cause difficulty in learning, and those that willnot cause difficulty, by comparing systematically the language and culture to belearned with the native language and culture of the student . Kajian terhadap unsur-unsur kebahasaan itu dilakukan dengan cara membandingkan dua data kebahasaan, yakni data bahasa pertama (B1) dengan data bahasa kedua (B2). Kedua data bahasa itu dideskripsikan atau dianalisis, hasilnya akan diperoleh suatu penjelasan yang menggambarkan perbedaan dan

kesamaan dari kedua bahasa itu. Pembahasan data itu harus juga mempertimbangkan faktor budaya, baik budaya bahasa maupun budaya siswa. Hasil dari pembahasan tersebut akan diperoleh gambaran kesulitan dan kemudahan siswa dalam belajar suatu bahasa. B. Asumsi Dasar Anakon Untuk menjawab usaha memperbesar keberhasilan pengajaran dan pembelajaran bahasa asing atau bahasa kedua (B2), para penganut anakon mempunyai beberapa asumsi dasar yaitu sebagai berikut: 1. Anakon dapat dipergunakan untuk meramal kesalahan siswa mempelajari bahasa asing atau bahasa kedua. Butir-butir perbedaan dalam tiap tataran bahasa pertama dan bahasa kedua akan memberikan kesulitan kepada siswa dalam mempelajari bahasa kedua itu. Sebaliknya butir-butir yang sama akan mempermudah siswa mempelajari bahasa kedua tersebut. 2. Anakon dapat memberikan suatu sumbangan yang menyeluruh dan konsisten dan sebagai alat pengendali penyusunan materi pengajaran dan pelajaran bahasa kedua secara efisien. 3. Anakon pun dapat memberikan sumbangan untuk mengurangkan proses interferensi dari bahasa pertama atau bahasa ibu ke dalam bahasa kedua atau bahasa asing.[3] C. Istilah Interferensi dan Transfer Pindahan Dalam pembahasan anakon, kedua istilah ini akan sering digunakan dalam seluruh analisis bahasa. Untuk itulah sebaiknya kita pahami dulu apa maksud dari kedua istilah tersebut. Istilah Interferensi dipergunakan oleh kalangan psikolog untuk menunjuk pengaruh tingkah laku yang lama terhadap halhal yang baru yang sedang dipelajari.Para sosiolinguis mempergunakan istilah ini untuk merujuk ke interaksi berbahasa, seperti pinjaman linguistic dan alih kode yang terjadi sewaktu dua paguyuban bahasa berkontak. Sedangkan untuk istilah transfer pindahan, para psikolog mendefiniskan transfer merujuk kepada tingkah laku satu proses penggunaan pengalaman yang silam secara otomatis, tak terkendali, dan bawah sadar dalam usaha menjawab tantangan baru. Dalam hal ini dapat terjadi transfer negatif dan transfer positif.

Transfer negative terjadi jika tingkah laku atau bentuk yang lama tidak terdapat dalam situasi yang baru, sedangkan transfer positif terdapat jika antara kebiasaan yang lama dan yang baru terdapat persamaan. Nah, dalam hubungan dengan pengajaran bahasa yang kedua atau bahasa asing, seorang penutur bahasa ibu yang akan berbahasa kedua atau bahasa asing akan melakukan transfer negative dan postif.[4] D. Aspek-aspek Analisis Kontrastif Langkah pertama pada analisis kontrastif berkaitan dengan linguistik. Sedangkanlangkah kedua, ketiga, dan keempat berkaitan dengan psikologi khususnya teori belajar.Karena itu pakar pengajaran bahasa menyatakan bahwa analisis kontrastif mempunyai duaaspek, yakni, aspek Iinguistik dan aspek psikologi. Aspek linguistik analisis kontrastif berkaitan dengan perbandingan struktur dua bahasa untuk menemukan perbedaanperbedaan. Model tata bahasa yang biasa digunakaaadalah model tata bahasa struktural. Linguistik struktural menekankan pada pendekripian bahasa secara renik, kategori yang berbeda, isitilahnya ilmiah, dan disusun secara induktif. Penggunaan linguistik struktural dalam mengidentifikasi perbedaan antara dua bahasa, lebihlcbih antara dua bahasa yang tidak serumpun. sering mengundang kesangsian.Bagaimana mungkin melaksanakan perbandingan yang efektif kalau dalam bahasa tidak terdapat kategori yang bersifat umum. Untuk mengatasi hal itu Chomsky mengusulkan penggunaan tata bahasa generatif sebagai landasan bagi pelaksaksanan perbedaan dua bahasa.Teori kesemestaan bahasa yang dianut oleh linguistik generatif menyatakan bahwa semua bahasa mempunyai kesamaan paling sedikit kesamaan dalaim bidang teori. Kesamaan dalam bidang teori ini dapat digunakan sebagai dasar perbandingan antar dua bahasa. E. Metodologi Analisis Kontrastif Dalam Pembelajaran Bahasa Analisis Kontrastif adalah suatu konsep yang berfungsi sebagai sarana mengefisienkan dan mengefektifkan pembelajaran bahasa. Analisis kontrastif mempunyai langkahlangkah tertentu yang dikenal dengan istilah metode analisis

kontrastif. Langkah-langkah kerja pada metode analisis kontrastif itu sudah tersirat atau sudah terbayang dalamdefinisi kontrastif berikutnya. Analisis Kontrastif adalah satu prosedur kerja yang mempunyai empat Iangkah kerjaini membandingkan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua, memprediksi kesulilan belajar dan kesalahan berbahasa, memilih bahan pengajaran, dan menentukan cara penyajian bahan secara tepat dalam rangka mengefisienkan dan mengefektifkan bahasa kedua. Berdasarkan definisi analisis kontrastif tersebut di atas dapat diidentifikasikan empatlangkah kerja pada metode analisis kontrastif yakni: 1. Langkah pertama, membandingkan struktur bahasa ibu siswa dengan bahasa kedua, yangakan dipelajari oleh siswa. Melalui perbandingan itu dapat diidentifikasi perbedaan antarastruktur bahasa ibu dengan bahasa kedua. 2. Langkah kedua, berdasarkan perbedaan struktur antara bahasa ibu dan bahasa kedua, gurudapat memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yang mungkin dialami dandiperbuat oleh siswa dalam belajar bahasa kedua. 3. Langkah ketiga, kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yang telah diprediksi untuk dijadikan sebagai landasan dalam memilih bahan menyusun bahan dan menentukan pemahaman bahan pengajaran. 4. Langkah keempat, guru memilih cara-cara penyajian bahasa seperti:1) peniruan, 2) pengulangan, 3) latihan runtun, 4) penguatan. Metode atau langkah-langkah kerja analisis kontrastif sekaligus melukiskan daerah cakupan analisis kontrastif. Langkah pertama, berkaitan dengan perbandingan struktur dua bahasa. Ini menunjukkan bahwa analisis kontrastif berkaitan erat dengan linguistik. Langkah kedua, ketiga, dan keempat berkaitan dengan kesulitan belajar. kesaIahan berbahasa, pemiilihan dan penyusunan bahan, serta cara penyajian bahan pengajaran bahasa kedua. Ini membuktikan bahwa analisis kontrastif berkaitan erat dengan psikologi belajar. Landasan kerja analisis kontrastif ada dua yakni teori linguistik dan teori psikologi. Langkah-langkah kerja analisis kontrastif yang dijabarkan dari kedua landasan

itumenggambarkan dengan jelas daerah cakupan analisis kontrastif. Cakupan pertama dengan perbandingan dua bahasa, yakni bahasa ibu siswa dengan bahasa kedua yang akan dipelajarioleh siswa. Perbandingan ini dapat dilakukan pada setiap sistem bahasa sepeti sistem fonologi, sistem morfologi, sistem sintaksis, sistem semantik, atau sistern pemkaian bahasa. Cakupan kedua berkaitan dengan memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yangmungkin dihadapi oleh siswa dalam belajar bahasa kedua. Hal ini didasarkan pada perbedaan bahasa ibu dan bahasa kedua. Cakupan ketiga berkaitan dengan bahan pengajaran, pemilihannya, penyusunannya, dan penekanannya. Dasar penyusunan bahan pengajaran ini adalah kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yang dialami oleh siswa. Cakupan keempat berkaitan dengan cara penyajian bahan pengajaran bahasa. Ada empat cara penyajian bahan pengajaran bahasa yang dianut olehanalisis kontrastif, yakni peniruan, pengulangan, latihan runtin. dan penguatan. 2. Model Analisis Kontrastif Antarbahasa A. Bahasa Sumber dan Bahasa Sasaran (B1 dan B2) Teori anakon berhubungan dengan bahasa sumber dan bahasa sasaran. Dalam dunia pengajaran bahasa, kita mengenal beberapa istilah yang berhubungan dengan bahasa yang telah dikuasai dan bahasa yang akan dipelajari atau dianjurkan. Untuk yang pertama diberi istilah bahasa ibu, bahasa pertama, bahasa sumber, bahasa perolehan dan bahasa warisan.Untuk yang kedua diberi istilah bahasa asing, bahasa kedua, bahasa sasaran, dan bahasa ajaran. Untuk kepentingan ini akan dipergunakan kode B1 dan B2. Pernyataan tentang kontras menggambarkan transfer dan interferensi dari B1 ke B2 dalam proses pemroduksian kalimat B2. Usaha lain adalah bahwa anakon harus dapat memodifikasi B1 agar dapat dihasilkan kalimat dalam B2. Misalnya, sejumlah siswa berlatar B1 bahasa Inggris dan atau bahasa Jerman seperti dibawah ini. Kalimat bahasa Jerman: 1). Ich Habe das Buch gelesen. Tidak sama bentuknya dengan kalimat bahasa Inggris yang semakna.

2). I have read the book. Dalam bahasa Inggris bentuk partisip read tidak dipisahkan dari kata kerja bantu to have. Secara horizontal kalimat bahasa Jerman dan bahasa Inggris terbanding seperti dibawah ini. Bahasa Jerman Bahasa Inggris kk.bantu + GN + partisip kk.bantu + partisip + GN B. Model Otonom dan Model Umum Pemilihan model deskripsi diatas dan analisis bahasa dalam anakon bergantung pada orientasi dan aliran yang dianut oleh linguis pembanding.Walaupun demikian, kita dapat membedakan dua macam model, yaitu model otonom dan model umum.Model otonom tidak memperhatikan korelasi analisis dengan kesemestaan bahasa yang lebih tinggi.Model ini hanya terbatas hanya terbatas membandingkan dua bahasa atau lebih secara khusus.Model umum lebih mengarahkan pembandingan untuk menemukan kesemestaan bahasa sebagai sarana komunikasi manusiawi berdasarkan pembandingan B1 dan B2 secara khusus.Dikatakan model otonom kurang erat berhubungan dengan interpretasi psikologis dan pedagogis dalam pengajaran bahasa.Berdasarkan pengalaman, penerapan dari model umum mempunyai implikasi yang luas dalam pengembangan anakon.[5] C. Taksonomi dan Operasional/Keterlaksanaan Untuk menyusun satu analisis kontrastif antarbahasa secara operasional, perlu dilakukan satu seri perangkat konversi dari B1 dan B2.Dalam hubungan dengan model otonom dan model umum, dapat dikatakan model umum dapat dilukiskan secara taksonomis dan operasional.Walaupun pilihan kita jatuh pada model umum, namun semua ini harus dikerjakan dengan hati-hati karena 1). Tidak/belum ada satu cara untuk mengetahui apakah siswa akan mengikuti secara tepat semua peringkat konversi dan 2). Setiap kaidah konversi harus dirumuskan hatihati agar ia tidak menyalahi kaidah B1 dan B2.[6] D. Tata Bahasa Semesta dan Khusus Tata bahasa semesta melingkupi keseluruhan ciri semesta bahasa yang alami dan manusiawi, misalnya 1) disain umu bahasa, 2) ciri-ciri tertentu yang disebut cirri substansial semesta bahasa, dan 3) beberapa tata runtun yang bersifat

E.

F.

1.

2.

formal. Beberapa cirri bahasa yang manusiawi semesta, misalnya 1) membuat pernyataan, 2) bertanya, 3) memerintah dan meminta, 4) pernyataan dan pengidentifikasian diri/ego, 5) menolak dan menerima, 6) menyatakan hubungan kausal dan akibat.[7] Struktur-Dalam dan Struktur-Luar (S-D dan S-L) Dengan rujukan kepada ciri-ciri semesta bahasa, Noan Chomsky dan Filmore berpendapat bahwa semua kalimat mempunyai struktur-dalam dan struktur-luar.Struktur-dalam memuat seluruh kemungkinan yang diperlukan oleh struktur-luar. Kalimat Pria itu menulis surat dengan Surat itu ditulis oleh pria itu dan Penulisan surat itu dilakukan oleh pria itu merupakan contoh struktur luar yang berbeda dari struktur dalam yang sama bagi mereka yang menguasai bahasa Indonesia. Kalimat Hujan dengan It is raining dan Es regnet bagi yang menguasai bahasa Indonesia, Inggris, dan Jerman merupakan strukur-luar yang berbeda dari struktur-dalam yang sama. Prosedur Analisis Kontrastif Cara membandingkan dua bahasa yang didasarkan pada beberapa keyakinan teoritis diatas.Pertama, model yang digunakan harus bersifat umum atau general. Ini berarti pembanding harus membandingkan bahasa-bahasa berdasarkan criteria bentuk dan fungsi karena dua criteria ini dianggap bersifat sama. Kedua, bandingan itu harus bersifat taksonomi dan operasional. Ini berarti konversi (operasional) akan dikenalkan pada setiap tataran (taksonomi). Dengan prinsip diatas, maka langkah bandingan dilakukan sebagai berikut : Langkah pertama ialah mengamati perbedaan-perbedaan struktur luar dari B1 dan B2. Perbedan-perbedaan itu dapat direntangkan mulai dari ketiadaan total dari beberapa ciri salah satu bahasa terbanding sampai perbedaan sebagian/parsial. Misalnya, mulai dengan ketiadaan total kategori waktu secara infleksional pada verbum bahasa Indonesia dibandingkan dengan bahasa Inggris dan Jerman sampai kepada persamaan/perbedaan parsial pada pernyataan kategori jumlah nomen. Bagaimana pun perbedaan-perbedaan itu dapat dijelaskan dalam beberapa pengertian kesemestaan bahasa yang melandasinya. Langkah kedua ialah pembanding membuat beberapa postulat tentang cirri kesemestaan. Jika kita membandingkan bahasa

Indonesia dan bahasa Inggris atau Jerman sampai kepada persamaan atau perbedaan parsial pada pernyataan kategori jumlah nomen. Bagaimana pun perbedaan-perbedaan itu dapat dijelaskan dalam beberapa pengertian kesemestaan bahasa yang melandasinya. 3. Langkah ketiga ialah merumuskan kaidah realisasi dari strukturdalam ke struktur-luar pada tiap bahasa yang berhubungan dengan anakon. Akan tetapi, pembanding tidak menghasilkan dua kaidah realisasi yang lengkap dan terpisah dari dua bahasa karena tujuan analisisnya ialah membandingkan.[8] G. Variasi dan Gaya Bahasa Kesulitan lain yang dijumpai dalam analisis kontrastif ialah konversi variasi dan gaya bahasa dari B1 dan B2. Variasi dialek, sosiolek, profesiolek, dan standarlek pun harus dikonversikan sejajar.Untuk itu, diperlukan pemahaman dan pendeskrepsian variasi bahasa B1 dan B2.Di samping itu, ada ragam bahasa yang merentang dari bahasa baku-formalkonsultatif-santai-akrab dan rahasia. H. Terjemah Sebagai Sarana Anakon Mungkin harus dikatakan bahwa terjemahan merupakan satu teknik awal anakon.Akan tetapi, terjemahan tidak menggantikan formulasi gramatikal bahasa yang dikonversikan. Ada beberapa kemungkinan proses terjemahan ini. Pertama, guru bahasa atau penerjemah mencari padanan konsep antara B1 dan B2.Dalam hal ini mungkin tidak dapat dilakukan konversi secara formal.Misalnya, kita hendak mengkonversikan kalimat bahasa Indonesia.Ia bekerja membanting tulang untuk menghidupi keluarganya.Kedua, para guru dan atau penerjemah melakukan terjemahan pinjaman untuk memudahkan konversi tanpa berusaha mencari padanan konsep makna B1 dan B2.Ketiga, guru bahasa atau penerjemah melakukan penerjemahan tafsiran.Keempat, guru bahasa menciptakan bentuk hibridis yang merupakan bentuk baru hasil rakitan B1, B2 dan Bn yang berbeda asal usulnya.Dan kelima, guru bahasa dan penerjemah melakukan pinjaman dan serapan utuh dari B1 ke B2. [9] 4. Aplikasi Analisis Kontrastif

Ada dua hipotesis analisis Kontrastif. Hipotesis pertama adalah strong from hypotesis atau hipotesis bentuk kuat. Hipotesis kedua bernama weak form hypothesis atau hipotesis berbentuk lemah. Hipotesis bentuk kuat menyatakan bahwa semua kesalahan berbahasa dalam bahasakedua dapat diramalkan dengan mengidentifikasi perbedaan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua yang dipelajari oleh siswa. Hipotesis bentuk kuat ini didasarkan kepada lima asumsi berikut: 1. Penyebab utama kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa dalam mempelajari bahasa 2. Kesulitan belajar itu disebabkan oleh perbedaan struktur bahasa ibu dan bahasa kedua yang dipelajari oleh siswa. 3. Semakin besar perbedaan antara bahasa ibu dan bahasa kedua diperlukan. untuk memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yang akan terjadi dalam belajar bahasa kedua. 4. Perbedaan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua diperlukan untuk memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yang akan terjadi dalam belajar bahasa kedua. 5. Bahan pengajaran bahasa kedua ditekankan pada perbedaan bahasa pertama dan kedua yang disusun berdasarkan analisis kontrastif. Hipotesis bentuk lemah menyatakan bahwa tidak semua kesalahan berbahasa disebabkan oleh interferensi. Dalam hipotesis bentuk lemah tersirat asumsi bahwa berikut kesalahan berbahasa disebabkan oleh berbagai faktor. Peranan bahasa pertama tidak besar dalam mempelajari bahasa kedua. Analisis kontrastif dan analisis kesalahan berbahasa saling melengkapi. Analisis kesalahan berbahasa mengidentifikasi kesalahan bahasa yang dibuat oleh siswa. Kemudian analisis kontrastif menetapkan kesalahan mana yang termasuk kesalahan dalam kategori yang disebabkan oleh perbedaan bahasa pertama dan bahasa kedua. Apa rasional hipotesis analisis kontrastif? Penguat atau rasional hipotesis analisis kontrastif adalah hal-hal berikut.Pertama, pengalaman guru, yang menggambarkan kesalahan berbahasa yang dibuat oleh siswa dengan tekanan bahasa ibu terhadap bahasa kedua yang dipelajari oleh siswa. Kedua, kontak bahasa, yang menggambarkan pengaruh

bahasa pertama terhadap bahasa kedua atau sebaliknya pengaruh bahasa kedua terhadap bahasa pertama. Ketiga, teori belajar, yang menggambarkan transfer positif dan transfer negative dalam belajar bahasa kedua. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Dalam analisis kontrastif, seorang pembelajar bahasa kedua seringkali melakukan transfer bahasa pertama ke dalam bahasa kedua dalam menyampaikan suatu gagasan. Adanya perbedaan dan persamaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua, dapat mempengaruhi dalam proses pembelajaran bahasa asing (bahasa kedua). Adanya perbedaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua akan menimbulkan kesulitan dalam belajar bahasa kedua, yang mungkin juga akan menimbulkan kesalahan,sedangkan adanya persamaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua akan menyebabkan terjadinya kemudahan dalam belajar bahasa kedua. Daftar Pustaka Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoretik, Jakarta: Rineka Cipta, 2009 Daniel Parera, Jos, Linguistik Edukasional, Jakarta: Erlangga, 1997 File.upi.edu/Direktori/DUALMODES/PEMBINAAN_BAHASA_INDONESIA_SEBAGAI_BAHASA_KED UA/9_BBM-7.pdf www.scribd.com/doc/53358525/Faktor-Faktor-Linguistik-Dan-NonLinguistik-Dalam-Pembelajaran-Bahasa-Arab http://www.scribd.com/doc/32817604/Analisis-Kontrastif