Anda di halaman 1dari 33

Skenario A Blok XX (Tutorial 2) Klarifikasi Istilah Primary Survey Secondary Survey Luka bakar Nyeri Jejas Krepitasi Deformitas

Distensi ROM Cum contractionum : penilaian awal pada penderita trauma yang jika tidak ditangani akan mengakibatkan kematian : penilaian awal pada penderita trauma yang jika tidak ditangi akan mengakibatkan kecacatan : kerusakn jaringan atau kehilangan akibat sumber panas/dingin/listrik/cahaya yang berlebih : perasaan sakit atau menderita yang diakbatkan dari rangsangan ujung-ujung saraf tertentu : kerusakan atau kehilangan jaringan akibat dari cidera : suara/perasaan berdetak, gemertak seperti bila menggesek ujung tulang : perubahan bentuk tubuh sebagian atau seluruh dari yang normal menjadi abnormal (malformasi) : peregangan pada vena jugularis : Range Of Motion / jumlah maksimal gerakan yang mungkin dilakukan oleh sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh, yaitu sagittal, transversal, frontal. : prgeseran tulang searah sumbu yang bertumpukan Soft Tissue Swelling : bengkaknya jaringan lunak

Identifikasi Masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Analisi Masalah 1. a. Apa saja kemungkinan trauma yang terjadi pada kasus? 123

b. Bagaimana tindakan awal yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran? 457
S T A R T

A sap/ A p i F ir e B r ig a d e R e spon F ir e C om m an der S a fe ty R ep .

E va kuasi S e c u r ity & F B S a fe ty R e p re s e n ta ti ve E v a lu a s i

E N D E m e rg e n c y R e s p o n s e T e a m

2. a. Bagaimana anatomi abdomen? 8910

Menentukan regio-regio abdomen:


Tarik garis vertikal melalui kedua pertengahan tulang clavicula Tarik garis horizontal di bawah batas costa (tulang rusuk) atau di garis transpyloric Tarik garis horizontal melalui kedua tuberkel crista iliaca (transtubercle line) Jadilah 9 regio abdomen

Regio-regio abdomen dan organ-organnya:

Hypochondrium dextra, yaitu regio kanan atas: o Hepar dan Vesica fellea Epigastrium, regio yang berada di ulu hati
o

Gaster, Hepar, Colon transversum

Hypochondrium sinistra, regio yang berada di kiri atas:


o

Gaster, Hepar, Colon Transversum

Lumbaris dextra, regio sebelah kanan tengah:


o

Colon ascendens

Umbilicalis, regio tengah:


o

Intestinum tenue, Colon transversum

Lumbaris sinistra, regio sebelah kiri umbilikalis:


o

Intestinum tenue, Colon descendens

Inguinalis dextra, regio kanan bawah:


o

Caecum, Appendix vermiformis

Hypogastrium / Suprapubicum, regio di tengah bawah:


o

Appendix vermiformis, Intestinum tenue, Vesica urinaria

Inguinalis sinistra, regio kiri bawah:


o

Intestinum tenue, Colon descendens, Colon sigmoideum

b. Bagaimana anatomi ekstremitas inferior? 123

1.1. Tulang-tulang Ekstremitas Bawah

Ekstremitas bawah terdiri dari tulang pelvis, femur, tibia, fibula, tarsal, metatarsal, dan tulang-tulang phalangs. 1) Pelvis Pelvis terdiri atas sepasang tulang panggul (hip bone) yang merupakan tulang pipih. Masing-masing tulang pinggul terdiri atas 3 bagian utama yaitu ilium, pubis dan ischium. Ilium terletak di bagian superior dan membentuk artikulasi dengan vertebra sakrum, ischium terletak di bagian inferior-posterior, dan pubis terletak di bagian inferior-anterior-medial. Bagian ujung ilium disebut sebagai puncak iliac (iliac crest). Pertemuan antara pubis dari pinggul kiri dan pinggul kanan disebut simfisis pubis. Terdapat suatu cekungan di bagian pertemuan ilium-ischium-pubis disebut acetabulum, fungsinya adalah untuk artikulasi dengan tulang femur. 2) Femur Femur adalah yang terkuat dari tulang panjang dalam tubuh dan merupakan tulang hanya di daerah paha. Bagian paling adalah berbentuk seperti kepala baik-bulat yang duduk di acetabulum tulang pinggul untuk membentuk sendi panggul. Sebuah leher kurus menghubungkan kepala dengan poros tulang dan sering situs fraktur pada orang tua. Bagian bawah dari femur sedikit diratakan dan menyebar keluar dan merupakan bagian dari sendi lutut. Poros tebal femur terletak pada inti dari paha, benar-benar dikelilingi oleh otot-otot yang kuat seperti paha depan dan paha belakang.

3) Patela Cap Lutut Tutup lutut, bagian yang menonjol dari depan lutut, sebenarnya dibentuk oleh tulang terpisah yang disebut patela. Ini adalah os sesamoid karena terletak di dalam tendon dari otot quadriceps femoris, otot kuat di bagian depan paha. Bila ekstremitas bawah ini diluruskan, patela bisa dirasakan dan bahkan digenggam dengan jari dan pindah dari sisi ke sisi. 4) Tibia Tibia merupakan tulang tungkai bawah yang letaknya lebih medial dibanding dengan fibula. Di bagian proksimal, tibia memiliki condyle medial dan lateral di mana keduanya merupakan facies untuk artikulasi dengan condyle femur. Terdapat juga facies untuk berartikulasi dengan kepala fibula di sisi lateral. Selain itu, tibia memiliki tuberositas untuk perlekatan ligamen. Di daerah distal tibia membentuk artikulasi dengan tulang-tulang tarsal dan malleolus medial.

5) Fibula

Fibula merupakan tulang tungkai bawah yang letaknya lebih lateral dibanding dengan tibia. Di bagian proksimal, fibula berartikulasi dengan tibia. Sedangkan di bagian distal, fibula membentuk malleolus lateral dan facies untuk artikulasi dengan tulang-tulang tarsal.

6) Tarsalia (Pangkal Kaki) Os tarsalia dihubungkan dengan tungkai bawah oleh sendi pergelangan kaki, terdiri atas : a) Talus: berhubungan dengan tibia dan fibula terdiri atas kaput talus, kolumna talus, dan korpus tali.permukaan atas korpus tali mempunyai bongkol sendi yang sesuai dengan lekuk sendi, terbentuk dari ujung sendi distal tibia dan fibula yang dinamakan trokhlea tali sebelah medial permukaan berbentuk bulan sabit (fasies molaris medialis) yang berhubungan dengan maleolus medialis. b) Kalkaneus: terletak di bawah talus, permukaan atas bagian medial terdapat tonjolan yang dinamakan suntentakulum tali, di bawahnya terdapat sulkulus muskular flexor halusis longus. Bagian belakang kalkaneus terdapat tonjolan besar tuberkalkanei yang mempunyai prosesus tuberkalkanei. c) Navikulare: pada bagian medial terdapat tonjolan yang dinamakan tuberositas ossis navikulare pedis, permukaan sendi belakang berhubungan dengan os kunaiformi I, II, dan III. d) Os kuboideum: permukaan proksimal mempunyai fasies artikularis untuk kalkaneus, permukaan distal mempunyai 2 permukaan untuk metatarsal IV dan V. Pada permukaan medial mempunyai 2 permukaan sendi untuk navikular dan kunaiformi medialis. e) Os kunaiformi, terdiri atas: Kunaiformi lateralis, Kunaiformi intermedialis, Kunaiformi medialis, semuanya berbentuk baji, sedangkan permukaan proksimal berbentuk segitiga. Puncak dari kunaiformi lateralis menghadap ke atas dan puncak kunaiformi medialis menghadap ke bawah. 7) Metatarsalia Os metatarsalia mempunyai 5 buah tulang metatarsal I, II, III, IV, dan V. Bentuk kelima tulang ini hampir sama yaitu bulat panjang. Bagian proksimal dari masing-masing tulang agak lebar disebut basis ossis matatarsale. Bagian tengah ramping memanjang dan lurus sedangkan bagian distalnya mempunyai bongkok kepala (kaput ossis matatarsale). Metatarsal I agak besar daripada yang lain, sedangkan metatarsal V bagian lateral basisnya lebih menonjol ke proksimal disebut tuberositas ossis metatarsal V.

8) Falang Pedis Os falang pedis merupakan tulang-tulang pendek. Falang I terdiri atas 2 ruas yang lebih besar daripada yang lainnya. Fallang II, III, IV, dan V mempunyai 3 ruas lebih kecil dan lebih pendek dibandingkan falang I. Pada ibu jari terdapat dua buah tulang kecil berbentuk bundar yang disebut tulang baji (os sesamoid). Pada kaki terdapat 4 buah lengkungan. 1. Lengkungan medial: dari belakang ke depan kalkaneus. 2. Lengkuna lateralis: dibentuk oleh kalkaneus kuboidea dengan dua tulang metatarsalia. 3. Lengkungan longitudinal: lengkung melintang metatarsal dibentuk oleh tulang tarsal. 4. Lengkungan tranversal anterior: dibentuk oleh kepala tulang metatarsal pertama dan kelima.

1.2.Otot-otot Ekstremitas Bawah beserta fungsinya A. Otot koksa dorsal 1. M. Gluteus maksimus Insersi: tuberositas glutealis traktus iliotibialis Origo : bagian dorsal os ilium, fasia torako lumbalis os sacrum, dan fasia dorsalisli gamentum sakrotuberale Persyarafan : nervus glutae inferior Fungsi : ekstensi femur artikulasi koksae, abduksi, adduksi, dan eksorotasi femur serta menahan rangka pada saat duduk 2. M. Gluteus medius Insersia : bagian lateral trokhanter mayor Origo : fasies glutealis Krista iliaka dan linea glutealis posterior dan inferior Persyarafan : abduksi, endorotasi, dan eksorotasi femur, serta fiksasi pelvis pada tulang kaki 3. Gluteus minimus Insersi: ujungnya trokhanter mayor bertendon Origo : fasies glutealis anterior dan inferior Persyarafan : nervus gluteus superior Fungsi : abduksi dan endorotasi kedua otot saat menarik pelvis pada tulang kaki 4. M. Tensor fasia latae Insersia : traktus iliotibialis Origo : spina iliaka anterior superior Persyarafan : nervus gluteus superior Fungsi : ekstensi fasia lata membantu fleksi dan abduksi femur juga membantu ekstensi kruris 5. M. Piriformis Insersi : bertendon panjag pada ujung trokhanter mayor

Origo : os sacrum fasia pelvis daerah foramina sakralia Persyarafan : nervus iskiadikus dan nervus muskuli filiformis Fungsi : abduksi paha dan eksorotasi artikulasio koksa 6. M. Abduktor internus Insersi : bertendon panjang dalam fossa trokhanter Origo : bagian dalam foramen obturatum dan membrane obturatoria Persyarafan : nervus muskuli obturatorium interna pleksus sakralis Fungsi : eksorotasi pada artikulasio koksa 7. M. Gemelus superior dan inferior Insersi : tendon M. abductor internus fossa trokhanterika Origo : spina iskiadika dan tuber iskiadikum Persyarafan : nervus muskuli obtoratorius internus ramus muskularis pleksus seklaris 8. M. Quadratus femoris Insersia : Krista intra trokhanterika Origo : lateral sisi tuber iskiadikum Pesyarafan : nervus muskuli quadrates femoris pleksus sakralis Fungsi : eksorotasi artikulasio koksae juga membantu abduksi femur B. Otot permukaan ventral pangkal femur 1. M. Ilio psoas Persyarafan : ramus muskularis pleksus lumbalis a. M. Iliakus Origo : fossa iliaka, spina iliaka anterior inferior bagian depan artikulasio koksae; Insersi : trokhanter minor, batas medial linea aspera; Fungsi : fleksi, endorotasi artikulasio koksae; dan fleksi kolumna vertebralis lumbalis b. M. Psoas mayor Insersi : trokhanter minor; Origo : permukaan lateral korpus vertebra torakalis XII, korpus vertebralis lumbalis 1-IV; Fungsi : eksorotasi pada waktu M. Gluteus berkontraksi c. M. Psoas minor Insersi : trokhanter minor, insersi tendon yang lebih panjang; Origo : pemukaa lateral vertebra torasika XII dan vertebra lumbalis I d. M. Sartorius Insersi : sisi medial tuberositas tibia Origo : spina iliaka anterior superior Fungsi : membantu fleksi abduksi dan endorotasi femur, menekuk dan memutar artikulasio genu. 2. Otot permukaan venter femur (M. Quadrisep Femoris) Persyarafan : nervus femoris

a.

M. Rektur femoris Insesi : seluruh fasia fasies proksimal ligamentum patela dan tuberositas tibia Origo : spina iliaka anterior inferior dan sisi kranial asetabulum Fungsi : meregangkan M. rektus femoris pada artikulasio koksae

b. M. ventus (medialis, lateralis, dan intermedialis) Insersi : ligamentum patella, retinakula petela pada tuberositas tibia Origo : labium media, lateral, dan ventral linea aspera sampai ke trokhanter mayor Fungsi : menopang fleksi pada artikularis koksae c. M. Artikularis genu Origo : serabut-serabut distal kapsula sendi lutut C. Adductor femur 1. M. pectineus Insersi : linea pektini femur Origo : ossis pubis Persyarafan : nervus femoralis dan nervus obturatoris Fungsi : adduksi femur, memabntu fleksi, dan eksorotasi artikulasio koksae 2. M. adductor longus Insersi : bagian tengah linea aspera labium medial Origo : ramus superior dan ramus inferior ossis pubis Persyarafan : nervus obturatorius Fungsi : adduksi femur dan fleksi artikulasio koksae 3. M. adductor brevis Insersi : linea aspera labium medial Origo : ramus inferior ossis pubis foramen obturatum Persyarafan : nervus obturatorius Fungsi : adduksi, ekstensi femur, dan eksorotasi pada artikulasio koksae 4. M. adductor magnus Insersi : tuberositas gluteus epikondilum medialis femoalis Origo : ramus ossis iskii dan tuberositas iskiadikum Persyarafan : nervus obturatorius dan nervus iskiadikus Fungsi : adduksi femur membantu meregangkan paha dan eksorotasi femur 5. M. adductor minus Insersi : bagian atas linea aspera labium medial Origo : ramus inferior ossis pubis Persyarafan : nervus obturatorius Fungsi: adduksi paha membantu fleksi dan eksorotasi paha

6. M. grasilis Insersi : bertendon panjang pada sisi medial tuberositas tibia Origo : ramus inferior ossis pubis sepanjang simpisis pubis Persyarafan : nervus obturatorius Fungsi : adduksi femur, fleksi artikulasio genu, dan endorotasi femur 7. M. obtorator eksternus Insersi : bertendon kedalam fosa trokhanter femur Origo : bagian luar foramen obturatum Persyarafan : nervus obturatorius Fungsi : eksorotasi femur, fleksi pada artikulasio koksae D. Otot-otot fleksor femur 1. M. biseps femoris Insersi : kaput fibula bertendon kuat Origo : tuber iskiadikum bersatu dengan M. Semitendinosus Persyarafan : nervus tibialis bersendi dua dan nervus fibularis kumunis Fungsi : fleksi kruris pada artikulasio genu eksorotasi dan ekstensi antikulasio genu 2. M. semi tendinosus Insersi : bertendon panjang medial tuberositas tibia Origo : tuber iskiadikum kaput langus musculi bisep femoris Persyarafan : nervus tibialis bersendi dua Fungsi : fleksi kruris artikulasio genu, endorotasi dan ekstensi artikulasio koksae 3. M. ssemi membranosus Insersi : kondilum medialis tibia dan ligamentum popliteum obligues Origo : tuber iskiadikum bertendon lebar Persyarafan : nervus tibialis bersendi dua Fungsi : fleksi dan endorotasi artikulasio genu, ekstensi artikulasio koksae E. Otot-otot ventral kruris Persyarafan : nervus fibularis profundus 1. M. tibialis anterior Insersi : basis metatarsalis I (sisi medial) dan os. Kunaiforme mediale (sisi plantar) Origo : epikondilus lateralis dan fasies lateralis tibia Fungsi : fleksi dorsal dan spinasi kaki 2. M. ekstensor halusis longus Insersi : permukaan dorsal jari kaki yang besar bertendon Origo : fasies medialis fibula membrane interosea kruris dan fasia kruris Fungsi : ekstensi jari kaki dan ekstensi dorsal pada artikulasio talus sebelah atas

3. M. ekstensor digitorum longus Insersi : bersama keempat tendon kedalam aponeurosis dorsal keempat jari lateral kaki Origo : kondilus lateralis tibia, margo anterior fibula, dan membran interosea kruris Fungsi : supinasi pada artikulasio talus sebelah bawah M. Ekstensor halusis longus. 4. M. Peroneus fibularis tertius Insersi : permukaan dorsal kelima tonjolan tulang pada tengah kaki bertendon datar Origo : keluar dari bagian distal fibula Fungsi : pronasi kruris F. Otot-otot kruris lateralis Persarafan : nervus fibularis superfisialis 1. M. Peroneus fibularis longus Origo : kaput fibula, fasia kruris, fasies lateralis, dan margo posterior Insersi : plantar pedis dan sulkus tendinius muskuli fibularis dan tuberositas ossis metatarsal I-II os kunaiformi medial Fungsi : kedua M. Fibularis mengangkat sisi lateral kaki dan menopang fleksi plantar kaki 2. M. Peroneus fibularis brevis Insersi : tuberositas ossis metatarsalis V, jalur tendon sampai kelingking kaki Origo : fasies lateralis dan margo anterior fibula, septa intermuskularis kruris anterior dan posterior G. Otot-otot superficial kruris dorsal Persarafan : nervus tibialis 1. M. Triseps surae a. M. Gastroknemius (kaput medial dan lateral) Insersi : tuber kalkanei dan tendon kalkanus (tendon alkhiles) Origo : epikondilus medial dan lateral femur Fungsi : plantar fleksi kaki pada artikulasio talus sebelah atas, supinasi kaki pada artikulasio talus. b. M. soleus Origo: fasies posterior dan margo posterior fibula, fasterior fibula, fasies posterior tibia dan arkus tendinius muskuli solei. 2. M.plantaris Insersi :lapisan dalam fasia kruris dan tendon kalkaneus yang tipis dan panjang. Origo : epikondilus lateralis femur. 3. M. Popliteus Insersi: fasies posterior tibia diatas linea muskuli solei. Origo : bertendon pada epikondilus lateralis femur dan kaput fibula. Fungsi : fleksi kruris dan endorotasi pada artikulasio genu. H. Otot-otot kruris profunda lateraliserfus tibialis

Persyarafan : nervus tibialis 1. M. tibialis posterior Insersi :Tuberositas ossis navikulare, permukaan plantar os kunaiformi medial, ossa kunaiformi intermedium lateral dan basis metatarsal II IV Origo: fasies posterior, bagian prosimal tibia dan fasies medialis fibula. Fungsi: plantar fleksi dan supinasi kaki. 2. M. fLeksor digitorum longus Insersi: falang akhir jari kaki keII V Origo: fasies posterior, margo interosius tobia dan arkus tendimius dista fibula. Fungsi: fleksi bagian terakhir 4 jari lateral kaki, fleksi dan supianasi kea rah plantar 3. M.fleksor lalusis longus Origo: fasies posterior dan margo posterior fibula Insersi: falang terakhir dari ibu jari Fungsi: fleksi ibu jari kaki, fleksi dan supinasi seluruh kaki kea rah plantar. I. Otot otot dorsalis pedis Insersi: apponeurosis dorsal jari kaki bagian tengah. Origo: permukaan dorsal dan permukaan permukaan samping kalkaneus. Fungsi : Dorso fleksi jari kaki 2. M.ekstensor halusis brevis Insersi: falang ibu jari kaki Origo: permukaan dorsal kalkaneus Fungsi: dorsofleksi jari kaki 3. M.interosei dorsalis I-IV Origo: permukaan tengah tulang kaki Insersi: sisi medial dasar palang distal III-V sampai apponeurosa ekstensi jari kaki bersangkutan Fungsi: fleksi dan abduks jari kaki III-V ke lateral, jari kaki II ke medial dan ekstensi jari kaki yang lain 4. M.interosei plantaris I-III Origo: sisi bagian tengah tulang kaki III-V Insersi:sisi medial falang distal III-V sampai apponeurosa ekstensi jari kaki Fungsi: fleksi dasar sendi dan adduksi jari kaki III-V, ekstensi jari kaki yang lain. J. a. Otot-otot ibu jari kaki. Persyarafan nerfus plantari, medialis dan lateralis M. abductor halusis Insersi: falang proksimal ibu jari kaki Origo: prosesus medialis tuberosis kalkanei dan appoeurosis plantaris Fungsi: Abduksi flekskki ibu jari kaki terutama ekstensi aktif bagian penutup kaki. 1. Ekstensor digitorum brevis

b. M. fleksor halusis brevis Insersi: 2 kaput tulang cecamoid dan falang proksimal ibu jari kaki Origo: permukaan plantar ossa unaiformi mediale, intermedium, dan lateral ligamentum plantar longus. c. M adductor halusis go: permukan plantar os kunaiformi lateral dan ligamentum plantar longus. Insersi: bagian lateral tulang sesamoid dan falang proksimal ibu jari kaki. Fungsi: abduksi, fleksi ibu jari kaki. K. Otot kelingking kaki Fungsi :abduksi, fleksinkelingking dan ekstensi aktif penutup kaki. a. M.Abduktor digiti minimi Insersi: sisi lateral falang proksimal kelingking (tuberositas ossis metatarsalis V) Origo: Prosesus lateralis tuberis kalkanei dan apponeorosis plaeusntaris; Persyarafan: N. pLantaris lateralis. b. M. fleksor digiti minimi brevis Insersi : bagian falang proksimal kelingking. Origo: bagian depan ligament plantar logum basis ossis metatarsalis . Persyaratan: Nervus plantaris medialis. c. M.Opponeus digiti minimi Insersi: sisi lateral os metatarsal V. Origo: vagina tendini M. fibularis peroneus longus. L. Otot-otot plantar pledis a. Fleksor digitorum brevis Insert : empat tendon M. fleksor digitorum longus sampai pada falang tengah jari kaki II-IV. Origo: prosesus medialis tuberosis kalkanei dan apponerosis plantaris; Fungsi: fleksi bagian tengah dan dasar jari kaki II-IV. b. M. Quadratus plantaris Origo: dua kaput permukaan plantar kalkuemnneus dan ligamentum plantar logum; Insersi: sisi lateral tendon M.fleksor digitorum longus dan memperkuat otot yang melintang.

c. Bagaimana anatomi ekstremitas superior? 457

d. Bagaimana gambaran mikroskopis dan anatomi dari kulit manusia? 8910

ANATOMI DAN HISTOLOGI KULIT Kulit adalah organ terbesar dan menempati 16%dari total berat tubuh. Kulit berfungsi pada termoregulasi, proteksi, fungsi metabolis dan sensasi.

1. Lapisan Kulit Kulit terdiri atas tiga lapisan : A. Lapisan Epidermis Epidermis terdiri dari epitel gepeng berlapis yang bertanduk. Epidermis mengandung 4 macam sel : a. keratinosit Keratinosit adalah materi yang membentuk lapisan terluar kulit dan memproduksi keratin,protein keras yang menjadi bahan utama rambut, kulit, dan kuku. Mereka dihasilkan pada lapisandasar epidermis, yang secara bertahap naik melalui berbagai lapisan epidermis yang berbeda danakhirnya tanggal. b. melanosit Sel melanosit adalah sel penghasil pigmen (melanin) yang paling banyak terdapat di daerahanogenital, ketiak, dan puting susu. Terbanyak kedua adalah daerah wajah. Sedangkan yangpaling sedikit ada di lengan atas bagian dalam. Kulit yang gelap menandakan kandungan melanindalam jumlah banyak, begitu juga sebaliknya. c. sel Langerhans Sel Langerhans berbentuk bintang terutama ditemukan dalam stratum spinosum dari epidermis.Sel langerhans merupakan makrofag turunan sumsum tulang yang mampu mengikat, mengolah,dam menyajikan antigen kepada limfosit T, yang berperan dalam perangsangan sel limfosit T. d. sel Merkel Sel Merkel bentuknya mirip dengan keratinosit yang juga memiliki desmosom biasanya terdapatdalam kulit tebal telapak tangan dan kaki.juga terdapat di daerah dekat anyaman pembuluh darahdan serabut syaraf. Berfungsi sebagai penerima rangsang sensoris. A. Epidermis terdiri dari 5 lapisan : 1. Stratum Basal (stratum germinativum) Merupakan lapisan terdalam, terdiri dari lapisantunggal dari sel berbentuk silindris atau kuboid.Stratum basal berisi sel induk, ditandai denganadanya aktivitas mitosis yang intens. Sel-sel baruyang dibentuk melalui mitosis ini akan mengisilapisan di atasnya. Semua sel pada stratum basalbersisi filamen keratin intermediat yangberdiameter 10nm. Seiring peningkatan sel ke atas, jumlah filamen meningkat sampai mewakiliseparuh dari jumlah protein total pada stratumkorneum. 2. Stratum Spinosum Di atas stratum basal terdapat beberapa lapisan selpoligonal yang membentuk stratum spinosum. Sel-sel lapisan ini terikat satu sama lain oleh desmosom. Sel-sel sering mengkerut, akibatnya tampak seolah-olah berduri. Inilah sebabnya selselnya disebut prickle (berduri). Pada stratum spinosumdimulai proses keratinisasi. Sitoplasma sel lapisan ini banyak fibrilnya yang melekat padadinding sel pada desmosom. Lapisan sel basal dan stratum spinosum bersama-sama disebutsebagai zona germinatif epidermis. 3. Stratum Granulosum Terdapat 3-5 lapisan sel gepeng yang ditandai granula gelap di dalam sitoplasmanya. Granulanyaterdiri atas protein yang disebut keratohialin. Inti pada sel ini tampak gelap dan padat (piknotik). 4. Stratum Lusidum Lucid berarti terang atau jernih. Stratum lusidum tampak homogen, batas sel tidak jelas samasekali. Sisa-sisa inti sel gepeng terlihat pada beberapa sel. Sitoplasma mengandung turunankeratohialin yang disebut eleidin. 5. Stratum Korneum Lapisan ini merupakan lapisan yang paling superfisial. Sel-sel lapisan ini sudah mati, tanpa intidan organel. Mereka sangat gepeng dan mirip sisik. Terdapat protein keratin yang berasal darieleidin. Sel-sel stratum korneum disatukan oleh lapisan lipid, yang membuat lapisan ini kedapair.

B. Lapisan Dermis Dermis terdiri dari jaringan ikat yang menyokong epidermis dan mengikatnya pada jaringansubkutan (hipodermis) Permukaan dermis sangat tidak teratur dan memiliki banyak tonjolan(papila dermal) yang menyambung pada tonjolan epidermis. Dermis mengandung 4 macam sel : a. fibroblas b. makrofag c. melanosit d. lemak Dermis terdiri dari 2 lapisan : a. Stratum Papilare Terdiri dari jaringan ikat longgar, fibroblas, dan sel jaringan ikat lain , seperti sel mast danmakrofag. Disebut stratum papilare karena menyumbang bagian besar dari papila dermal. b. Stratum Retikular Lebih tebal, dan terdiri dari jaringan ikat padat tidak teratur, misalnya serabut kolagen, elastin,dan retikulin. Kolagen muda bersifat lentur dengan bertambah umur menjadi kurang larutsehingga makin stabil. Memiliki lebih banyak serat dan lebih sedikit sel daripada stratumpapilare. Bagian bawahnya menonjol ke arah subkutan. C. Lapisan Subkutan

Merupakan kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak. Lapisan sel-sel lemak disebut panikulus adiposa, berfungsi sebagai cadangan makanan. Di lapisan initerdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening. Tebal tipisnya jaringanlemak tidak sama. Di abdomen dapat mencapai ketebalan 3 cm, di daerah kelopak mata danpenis sangat sedikit. Lapisan lemak ini juga merupakan bantalan. Kulit memiliki 2 jenis kelenjar keringat: a. kelenjar keringat apokrin b. kelenjar keringat merokrin Di samping itu, kelenjar serumen, yang memproduksi kotoran telinga, dan kelenjar susu, seringdianggap sebagai modifikasi kelenjar keringat. 2. Turunan Kulit A. Kelenjar Kulit a. Kelenjar Sebasea Kelenjar sebasea terdapat pada dermis. Paling banyak terdapat pada wajah, dahi, dan kulitkepala. Kelenjar ini bermuara pada leher folikel rambut dan sekret yang dihasilkan berlemak (sebum). Berguna untuk meminyaki rambut dan permukaan kulit. Kelenjar ini bersifat holokrin,karena produk sekresinya dilepaskan dengan sisa sel mati. Kelenjar sebasea biasanya disertaidengan folikel rambut kecuali pada palpebra, papila mammae, labia minora. b. Kelenjar Keringat Manusia memiliki 3 juta kelenjar keringat. Kelenjar keringat dapat ditemukan di dermis.Tersebar pada hampir seluruh kulit, kecuali pada bagian tertentu seperti glans penis. Palingbanyak terdapat di permukaan tangan dan kaki. Ada 2 macam kelenjar keringat yaitu kelenjarekrin yang kecil-kecil, terletak dalam dangkal dermis dengan sekret yang encer dan kelenjarapokrin yang lebih besar, terletak lebih dalam dan sekretnya lebih kental. B. KukuKuku adalah bagian terminal lapisan tanduk yang menebal. Kuku antara lain terbentuk darikeratin protein yang kaya akan sulfur. Pada kulit di bawah kuku terdapat banyak pembuluhkapiler yang memiliki suplai darah kuat sehingga menimbulkan warna kemerah-merahan. Sepertitulang dan gigi, kuku merupakan bagian terkeras dari tubuh karena kandungan airnya sangatsedikit. Pertumbuhan kuku jari tangan dalam satu minggu rata-rata 0,5 - 1,5 mm, empat kalilebih cepat dari pertumbuhan kuku jari kaki C. Rambut Merupakan struktur berkeratin panjang yang berasal dari invaginasi epitel epidermis. Rambutditemukan diseluruh tubuh kecuali pada telapak tangan, telapak kaki, bibir, glans penis, klitorisdan labia minora. Pertumbuhan rambut pada daerahdaerah tubuh seperti kulit kepala, muka, danpubis sangat dipengaruhi tidak saja oleh hormon kelamin-terutama androgen-tetapi juga olehhormon adrenal dan hormon tiroid. Setiap rambut berkembang dari sebuah invaginasi epidermal,yaitu folikel rambut yang selama masa pertumbuhannya mempunyai pelebaran pada ujungdisebut bulbus rambut. Pada dasar bulbus rambut dapat dilihat papila dermis. Papila dermismengandung jalinan kapiler yang vital bagi kelangsungan hidup folikel rambut. Ada dua macamtipe rambut, yaitu rambut lanugo dan rambut terminal. Komposisi rambut terdiri atas karbon50,60%, hidrogen 6,36%, nitrogen 17,14%, sulfur 5,0%, dan oksigen 20,80%. Rambt dapatdibentuk dengan mempengaruhi gugus disulfida misalnya dengan panas atau bahan kimia. Pengaturan Suhu Tubuh Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh 1. Kecepatan metabolisme basal Kecepatan metabolisme basal tiap individu berbeda-beda. Hal ini memberi dampak jumlah panas yang diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya, sangat terkait dengan laju metabolisme. 2. Rangsangan saraf simpatis Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam jaringan untuk dimetabolisme. Hamper seluruh metabolisme lemak coklat adalah produksi panas. Umumnya, rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan peningkatan produksi epineprin dan norepineprin yang meningkatkan metabolisme. 3. Hormone pertumbuhan Hormone pertumbuhan ( growth hormone ) dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga meningkat.

4. Hormone tiroid Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hamper semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas normal. 5. Hormone kelamin Hormone kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi dari pada laki-laki karena pengeluaran hormone progesterone pada masa ovulasi meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 0,6C di atas suhu basal. 6. Demam ( peradangan ) Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10C. 7. Status gizi Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20 30%. Hal ini terjadi karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk mengadakan metabolisme. Dengan demikian, orang yang mengalami mal nutrisi mudah mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain itu, individu dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan sepertiga kecepatan jaringan yang lain. 8. Aktivitas Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan antar komponen otot / organ yang menghasilkan energi termal. Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3 40,0 C. 9. Gangguan organ Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saai terjadi infeksi dapat merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar keringat yang sedikit juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu. 10.Lingkungan Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit. Proses kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas diedarkan melalui pembuluh darah dan juga disuplai langsung ke fleksus arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam fleksus arteriovenosa yang cukup tinggi (kadang mencapai 30% total curah jantung) akan menyebabkan konduksi panas dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat efisien. Dengan demikian, kulit merupakan radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu tubuh. Mekanisme Kehilangan Panas Melalui Kulit 1. Radiasi Radiasi adalah mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk gelombang panas inframerah. Gelombang inframerah yang dipancarkan dari tubuh memiliki panjang gelombang 5 20 mikrometer. Tubuh manusia memancarkan gelombang panas ke segala penjuru tubuh. Radiasi merupakan mekanisme kehilangan panas paling besar pada kulit (60%) atau 15% seluruh mekanisme kehilangan panas. Panas adalah energi kinetic pada gerakan molekul. Sebagian besar energi pada gerakan ini dapat di pindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari kulit. Sekali suhu udara bersentuhan dengan kulit, suhu udara menjadi sama dan tidak terjadi lagi pertukaran panas, yang terjadi hanya proses pergerakan udara sehingga udara baru yang suhunya lebih dingin dari suhu tubuh. 2. Konduksi Konduksi adalah perpindahan panas akibat paparan langsung kulit dengan benda-benda yang ada di sekitar tubuh. Biasanya proses kehilangan panas dengan mekanisme konduksi sangat kecil. Sentuhan dengan benda umumnya memberi dampak kehilangan suhu yang kecil karena dua mekanisme, yaitu kecenderungan tubuh untuk terpapar langsung dengan benda relative jauh lebih kecil dari pada paparan dengan udara, dan sifat isolator benda menyebabkan proses perpindahan panas tidak dapat terjadi secara efektif terus menerus. 3. Evaporasi

Evaporasi ( penguapan air dari kulit ) dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh. Setiap satu gram air yang mengalami evaporasi akan menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58 kilokalori. Pada kondisi individu tidak berkeringat, mekanisme evaporasi berlangsung sekitar 450 600 ml/hari. Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan 12 16 kalori per jam. Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul air secara terus menerus melalui kulit dan system pernafasan. Gambar Keseimbangan antara produksi panas dan pengeluaran panas (Tamsuri Anas, 2007) Selama suhu kulit lebih tinggi dari pada suhu lingkungan, panas hilang melalui radiasi dan konduksi. Namun ketika suuhu lingkungan lebih tinggi dari suhu tubuh, tubuh memperoleh suhu dari lingkungan melalui radiasi dan konduksi. Pada keadaan ini, satu-satunya cara tubuh melepaskan panas adalah melalui evaporasi. Memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap suhu tubuh, sebenarnya suhu tubuh actual ( yang dapat diukur ) merupakan suhu yang dihasilkan dari keseimbangan antara produksi panas oleh tubuh dan proses kehilangan panas tubuh dari lingkungan. Usia Usia sangat mempengaruhi metabolisme tubuh akibat mekanisme hormonal sehingga memberi efek tidak langsung terhadap suhu tubuh. Pada neonatus dan bayi, terdapat mekanisme pembentukan panas melalui pemecahan (metabolisme) lemak coklat sehingga terjadi proses termogenesis tanpa menggigil (nonshivering thermogenesis). Secara umum, proses ini mampu meningkatkan metabolisme hingga lebih dari 100%. Pembentukan panas melalui mekanisme ini dapat terjadi karena pada neonatus banyak terdapat lemak coklat. Mekanisme ini sangat penting untuk mencegah hipotermi pada bayi. Menurut Tamsuri Anas (2007), suhu tubuh dibagi menjadi :

4.

Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36C Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36 - 37,5C Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5 - 40C Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40C

e. Organ apa saja yang terkena trauma pada kasus? 123

f. Bagaimana mekanisme trauma pada kasus? (luka bakar, nyeri, bengkak, trauma ekstremitas, abdomen) 457

Mekanisme luka bakar: Kulit terbakar (terpajan suhu tinggi) pembuluh kapiler dan area di sekitarnya akan rusak permeabilitasnya meningkat kebocoran cairan intrakapiler ke interstisial bula yang mengandung banyak elektrolit hilangnya fungsi kulit sebagai barier dan penahan penguapan berkurangnya cairan intravaskuler

Efek Patofisioogi Luka Bakar

1. Kulit Perubahan patofisiologik yang terjadi pada kulit segera setelah luka bakar tergantung pada luas dan ukuran luka bakar. Untuk luka bakar yang kecil (smaller burns), reson tubuh bersifat lokal yaitu terbatas pada area yang mengalami injury. Sedangkan pada luka bakar yang lebih luas misalnya dari total prmukaan tubuh (TBSA: total body surface area) atau lebih besar, maka respon tubuh terhadap injury dapat bersifat sistemik dan sesuai dengan luasnya injury. 2. Sistem kardiovaskuler Segera setelah injury luka bakar, dilepaskan substansi vasoaktif (cathecholamine, histamin, serotonin, leukotrienes dan prostaglandin) dari jaringan yang mengalami injury. Substansisubstansi ini menyebabkan meningkatnya permeablilitas kapiler sehingga plasma merembes ke dalam sekitar jaringan. Injury panas yang secara langsung mengenai pembuluh darah akan lebih meningkatakan permeabilitas kapiler. Injury yang langsung mengenai membran sel menyebabkan sodium masuk dan potassium keluar dari sel. Secara keseluruhan akan menimbulkan tingginya tekanan osmotik yang menyebabkan meningkatnya cairan intraselular dan interstisial dan yang dalam keadaan lebih lanjut menyebabkan kekurangan volume cairan intervaskuler. Luka bakar yang luas menyebabkan edema tubuh general baik pada area yang mengalami luka maupun jaringan yang tidak mengalami luka bakar dan terjadi penurunan sirkulasi volume darah intravaskuler. Denyut jantung meningkat sebagai respon terhadap pelepasan cathecolamin dan terjadinya hipovolemia relatif, yang mengawali turunnya cardiac output. Kadar hematorit meningkat yang menunjukkan hemokonsentrasi dari pengeluaran cairan intravaskuler. Disamping itu pengeluaran cairan secara evaporasi melalui luka terjadi 4-20 kali lebih besar dari normal. Sedangkan pengeluaran cairan tubuh yang normal pada orang dewasa dengan suhu tubuh normal perhari adalah 350 ml. Keadaan ini dapat mengakibatkan penurunan pada perfusi organ. Jika ruang intravaskuler tidak diisi kembali dengan cairan intravena maka syock hipovolemik dan ancaman kematian bagi penderita luka bakar yang luas dapat terjadi kurang lebih 18- 36 jam setelah luka bakar, permeabilitas kapiler menurun, tetapi tidak mencapai keadaan normal sampai 2 atau 3 minggu setelah injury. Kardiac output kembali normal dan kemudian meningkat untuk memenuhi kebutuhan hipermetabolik tubuh kira-kira 24 jam setelah luka bakar. Perubahan pada kardiac output ini terjadi sebelum kadar volume sirkulasi intravena kembali normal. Pada awalnya terjadi kenaikan hematokrit yang kemudian menurun sampai di bawah normal dalam 3-4 hari setelah luka bakar karena kehilangan sel darah merah kerusakan yang terjadi pada waktu injury. Tubuh kemudian mereabsorsi cairan edema dan diuresis cairan dalam 2-3 minggu berikutnya. 3. Sistem renal dan gastrointestinal Respon tubuh pada mulanya adalah berkurangnya darah ke ginjal dan menurunnya GFR (glomelular Filtration Rate) yang menyebabkan oliguri. Aliran darah menuju usus juga

berkurang, yang pada akhirnya dapat terjadi ileus intestinal dan disfungsi gastrointestinal pada klien dengan luka bakar yang lebih dari 25% 4. Sistem imun Fungsi sistem imun mengalami depresi. Depresi pada aktivitas lymphocyte, suatu penurunan dalam produksi immunoglobulin, supresi aktivitas complement dan perubahan/ gangguan pada fungsi neutropil dan macrophage dapat terjadi pada klien yang mengalami luka bakar yang luas. Perubahan-perubahan ini meningkatnya resiko terjadinya infeksi dan sepsis yang mengancam kelangsungan hidup klien. 5. Sistem respiratory Dapat mengalami hipertensi arteri pulmoner, mengakibatkan penurunan kadar oksigen arteri dan lung compliance. Smoke Inhalation, suatu keadaan menghisap asap dapat mengakibatkan injuri pulmoner yang seringkali berhubungan dengan injury akibat jilatan api. Kejadian injury inhalasi ini diperkirakan lebih dari 30% untuk injuri yang diakibatkan oleh api. Manifestasi klinik yang dapat diduga dari injury inhalasi meliputi adanya luka bakar yang mengenai wajah, kemerahan dan pembengkakan pada oropharyng atau nasopharing, rambut hidung yang gosong, agitasi atau kecemasan, tachipnoe, kemerahan pada selaput hidung, stridor, wheezing, dyspnea, suara serak, terdapat carbon dalam sputum dan batuk. Broncoscopy dan scaning paru dapat mengkonfirmasikan diagnosis. Patofisiologi pulmoner yang dapat terjadi pada injuri inhalasi berkaitan dengan berat dan tipe asap atau gas yang dihirup. Keracunan Carbon monoxida. CO merupakan produk yang sering dihasilkan bila suatu substansi organik terbakar. Ia merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, yang dapat mengikat haemoglobin 200 kali lebih besar dari oksigen. Dengan terhirupnya CO secara reversibel berikatan dengan hemoglobin sehingga membentuk carbonhemoglobin (COHb). Hipoksia jaringan dapat terjadi akibat penurunan secara menyeluruh pada kemampuan pengantaran oksigen dalam darah. Kadar COHb dapat dengan mudah dimonitor melalui kadar serum darah. Manifestasi dari keracunan CO adalah sebagai berikut :

g. Bagaimana cara menghitung luas luka bakar? 8910 Berat Luka Bakar

American college of surgeon membagi dalam: A. Parah critical: a) Tingkat II : 30% atau lebih. b) Tingkat III : 10% atau lebih. c) Tingkat III pada tangan, kaki dan wajah. d) Dengan adanya komplikasi penafasan, jantung, fractura, soft tissue yang luas. B. Sedang moderate: a) Tingkat II : 15 30% b) Tingkat III : 1 10% C. Ringan minor: a) Tingkat II : kurang 15% b) Tingkat III : kurang 1%

Derajat dan Luas Kulit yang Terkena Ringan : luka bakar derajat I atau II seluas <> 20% atau derajat III seluas > 10% mengenai wajah, tangan-kaki, alat kelamin/persendian sekitar ketiak. Akibat listrik tegangan tinggi > 1000 V atau dengan komplikasi patah tulang/kerusakan jaringan lunak/gangguan jalan nafas.

Perhitungan Luas Luka Bakar Perhitungan pada anak dan orang dewasa berbeda. Pada anak-anak dihitung menurut rumus Lund dan Browder (dalam %), sedangkan dewasa dihitung menurut rumus Rule of Nine

Perhitungan Luas Luka Bakar


Luas luka bakar dinyatakan sebagai presentase terhadap luas permukaan tubuh. Untuk menghitung secara cepat dipakai Rule of Nine dari Wallace. Perhitungan cara ini hanya dapat diterapkan pada orang dewasa, karena anak-anak mempunyai proporsi tubuh yang berbeda. Untuk keperluan pencatatan medis, digunakan kartu luka bakar dengan cara LUND & BROWDER. 1,8 1. Perhitungan luas luka bakar berdasarkan Rule Of Nine oleh Polaski dan Tennison dari WALLACE : 1. Kepala dan leher : 9% 2. Ekstremitas atas : 2 x 9% (kiri dan kanan) 3. Paha dan betis-kaki : 4 x 9% (kiri dan kanan) 4. Dada, perut, punggung, bokong : 4 x 9%

5. Perineum dan genitalia : 1%

Pada keadaan darurat dapat digunakan cara cepat yaitu dengan menggunakan luas telapak tangan penderita. Prinsipnya yaitu luas telapak tangan = 1% luas tubuh.

h. Bagaimana derajat luka bakar? 123

vDerajat Luka Bakar


Luka Bakar merupakan luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan kalor atau zat-zat yang bersifat membakar.

Derajat Luka Bakar Derajat 1 Terkena pada lapisan luar epidermis, kulit menjadi merah, tampak sedikit udem, dan terasa nyeri.

Derajat 2

Terkena pada lapisan epidermis dan sebagian dermis, terbentuk bulla (apabila pecah tampak kemerahan) , sedikit udem, dan terasa sangat nyeri.

Derajat 3 Seluruh lapisan kulit terkena, lesi tampak pucat, warna kecokelatan, dan permukaannya lebih rendah dibandingkan kulit normalnya.

3. a. Apa saja jenis nyeri pada bagian abdomen dan mekanismenya? 457

1. Nyeri visceral: terjadi jika ada rangsangan pada organ atau struktur dalam rongga perut, missal karena cedera atau radang 2. Nyeri somatic: terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi oleh saraf tepi, misalnya regangan pada peritoneum parietalis, dan luka pada dinding perut.

b. Bagaimana penanganan awal UGD pada kasus (semua trauma yang dialami)? 8910 c upaya penanganan pertama saat luka bakar adalah mematikan api pada tubuh, misalnya dengan menyelimuti dan menutupi bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen pada api yang menyala. Korban dapat mengusahakan dengan cepat menjatuhkan diri dan berguling agar bagian pakaian yang terbakar tidak meluas. Kontak dengan bahan yang panas juga harus cepat diakhiri, misalnya dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau menceburkan diri ke air dingin atau melepaskan baju yang tersiram air panas. Pertolongan pertama setelah sumber panas dihilangkan adalah merendam luka bakar dalam air atau menyiramnya dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya lima belas menit. Upaya pendinginan ini, dan upaya mempertahankan suhu dingin pada jam pertama akan menghentika proses koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi yang akan terus berlangsung walaupun api telah dipadamkan, sehingga destruksi akan tetap meluas.

Pada luka bakar yang ringan, perinsip penanganan utama adalah mendinginkan daerah yang terbakar dengan air, mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epiterl untuk berproliferasi, dan menutup permukaan luka. Pada luka bakar luas dan dalam, pasien harus segera bawa kerumah sakit dalam perjalanan penderita sudah dilengkapi dengan infus dengan penutup kain yang bersih serta mobil ambulans atau sejenisnya yang bisa membawa penderita dalam posisi tidur (telentang/telungkup) Walaupun terdapat trauma penyerta, luka bakarlah yang paling berpotensi menimbulkan mortalitas dan morbiditas, pasien distabilkan terlebih dahuly di trauma center sebelum ditransfer ke unit luka bakar. Sumber : Sjamsuhidajat R., de Jong Wim. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3. Jakarta : EGC

c. Apa makna datang 15 menit kemudian masih sadar? 123 d. Bagaimana cara mengukur tingkat kesadaran? 457 PENILAIAN TINGKAT KESADARAN 1. Definisi Penilaian tingkat kesadaran adalah penilaian derajat kesadaran dengan memberikan nilai pada perubahan respon pada mata, verbal, dan motorik menurut cara pemeriksaan tertentu dengan menggunakan skala koma dari Glasgow ( GCS ) CARA PENILAIAN Yang dinilai Nilai Respon membuka mata

Spontan --> 4 Atas perintah--> 3 Dengan rangsangan nyeri--> 2 Tidak ada reaksi *)--> 1

Respon verbal ( bicara ) Sadar, orientasi diri, waktu, tempat--> 5 Berbicara membingungkan--> 4

Kalimat tidak mempunyai arti--> 3 Mengerang --> 2 Tidak ada respon *)--> 1

Respon motorik Mengikuti perintah 6 Melokalisasi nyeri 5


Gerakan menghindar 4 Flexi abnormal 3

Extensi abnormal 2 Tidak ada respon *) 1

Skor maksimum 15

e. Bagaimana fase yang terjadi pada luka bakar? 8910 Fase Luka Bakar Fase fase luka bakar (Guyton & Hall, 1997) yaitu : 1. Fase akut. Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), breathing (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gangguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderita pada fase akut. Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik. 2. Fase sub akut. Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan: 1. Proses inflamasi dan infeksi. 2. Problem penutupan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ organ fungsional. 3. Keadaan hipermetabolisme. 3. Fase lanjut. Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, keloid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.

f. Bagaimana sistem Triage yang ada pada UGD RS? 123 Triase adalah cara pemilahan pasien berdasarkan kebutuhan terapi dan sumber daya yang tersedia. Terapi didasarkan pada prioritas ABC dengan control perdarahan. System triase: Multiple casualties: musibah masal dengan jumlah pasien dan beratnya cedera tidak melampaui kemampuan rumah sakit . dalam keadaan ini pasien dengan masalah yang mengancam jiwa dan multi trauma akan dilayani terlebih dahulu

Mass casualties: musibah masal dengan jumlah pasien dan beratnya luka melampaui kemampuan rumah sakit. Dalam keadaaan ini yang akan dilayani terlebih dahulu adalah pasien dengan kemungkinan survival yang terbesar, serta membutuhkan waktu, perlengkapan dan tenaga paling sedikit.

4. a. Bagaimana interpretasi primary survey? 457 Berat Badan 55kg Tekanan darah 100/70mmHg Nadi 114/mnt

b. Tindakan apa saja yang termasuk dalam primary survey? 8910 5. a. Bagaimana interpretasi secondary survey? 123 b Abdomen: Inspeksi : tampak jejas abdomen kiri atas menandakan bahwa terjadi trauma pada bagian abdomen Palpasi : nyeri tekan kuadran kiri atas abdomen adanya trauma abdomen sehingga pada saat palpasi menjadi nyeri, kemungkinan yang mengalami cedera itu pada bagian organ padat yaitu limpa Perkusi : timpani, pekak di abdomen kiri atas Auskultasi : bising usus terdengar diseluruh bagian abdomen Airway Breathing circulation

Ekstremitas superior : terdapat luka bakar pada lengan anterior atas dan bawah di bagian kiri dan kanan. Ditemukan warna kulit kemerahan dan terdapat bula. Ektremitas inferior Regio Femur sinistra : inspeksi : tampak deformitas, soft tissue swelling. Palpasi : nyeri tekan, arteri dorsalis pedis teraba, ROM : aktif terbatas di daerah sendi lutut dan panggul

ROM ( Range of Motion) adalah jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh, yaitu sagital, transversal, dan frontal. Potongan sagital adalah garis yang melewati tubuh dari depan ke belakang, membagi tubuh menjadi bagian kiri dan kanan. Potongan frontal melewati tubuh dari sisi ke sisi dan membagi tubuh menjadi bagian depan ke

belakang. Potongan transversal adalah garis horizontal yang membagi tubuh menjadi bagian atas dan bawah. Adapun prinsip latihan ROM (Range Of Motion), diantaranya : 1. 2. 3. 4. 5. 6. ROM harus diulang sekitar 8 kali dan dikerjakan minimal 2 kali sehari ROM di lakukan berlahan dan hati-hati sehingga tidak melelahkan pasien. Dalam merencanakan program latihan ROM, perhatikan umur pasien, diagnosa, tanda-tanda vital dan lamanya tirah baring. Bagian-bagian tubuh yang dapat di lakukan latihan ROM adalah leher, jari, lengan, siku, bahu, tumit, kaki, dan pergelangan kaki. ROM dapat di lakukan pada semua persendian atau hanya pada bagian-bagian yang di curigai mengalami proses penyakit. Melakukan ROM harus sesuai waktunya. Misalnya setelah mandi atau perawatan rutin telah di lakukan. Menurut Potter & Perry, (2005), ROM terdiri dari gerakan pada persendian sebagai berikut : 1. Leher, Spina, Serfikal Gerakan Penjelasan Rentang Fleksi Ekstensi Hiperektensi Fleksi lateral Rotasi Menggerakan dagu menempel ke dada, Mengembalikan kepala ke posisi tegak, Menekuk mungkin, kepala ke belakang rentang 45 rentang 45

sejauh rentang 40-45

Memiringkan kepala sejauh mungkin sejauh rentang 40-45 mungkin kearah setiap bahu, Memutar kepala sejauh mungkin dalam rentang 180 gerakan sirkuler,

2.

Bahu Gerakan

Penjelasan

Rentang

Fleksi Ekstensi Hiperektensi Abduksi

Menaikan lengan dari posisi di samping rentang 180 tubuh ke depan ke posisi di atas kepala, Mengembalikan lengan ke posisi di samping rentang 180 tubuh, Mengerkan lengan kebelakang tubuh, siku rentang 45-60 tetap lurus, Menaikan lengan ke posisi samping di atas rentang 180 kepala dengan telapak tangan jauh dari kepala, Menurunkan lengan ke samping menyilang tubuh sejauh mungkin, dan rentang 320

Adduksi

Rotasi dalam

Dengan siku pleksi, memutar bahu dengan rentang 90 menggerakan lengan sampai ibu jari menghadap ke dalam dan ke belakang, Dengan siku fleksi, menggerakan lengan rentang 90 sampai ibu jari ke atas dan samping kepala, Menggerakan penuh, lengan dengan lingkaran rentang 360

Rotasi luar Sirkumduksi

3.

Siku Gerakan

Penjelasan

Rentang

Fleksi

Menggerakkan siku sehingga lengan bahu rentang 150 bergerak ke depan sendi bahu dan tangan sejajar bahu, Meluruskan tangan, siku dengan menurunkan rentang 150

Ektensi

4.

Lengan bawah Gerakan

Penjelasan

Rentang

Supinasi Pronasi

Memutar lengan bawah dan tangan sehingga rentang 70-90 telapak tangan menghadap ke atas, Memutar lengan bawah sehingga telapak rentang 70-90 tangan menghadap ke bawah,

5.

Pergelangan tangan Gerakan

Penjelasan

Rentang

Fleksi Ekstensi

Menggerakan telapak tangan ke sisi bagian rentang 80-90 dalam lengan bawah, Mengerakan jari-jari tangan sehingga jari- rentang 80-90 jari, tangan, lengan bawah berada dalam arah yang sama, Membawa permukaan tangan dorsal ke rentang 89-90 belakang sejauh mungkin, Menekuk pergelangan tangan miring ke ibu rentang 30 jari, Menekuk pergelangan tangan miring ke arah rentang 30-50 lima jari,

Hiperekstensi Abduksi Adduksi

6.

Jari- jari tangan Gerakan

Penjelasan

Rentang

Fleksi Ekstensi Hiperekstensi Abduksi Adduksi 7. Ibu jari Gerakan

Membuat genggaman, Meluruskan jari-jari tangan,

rentang 90 rentang 90

Menggerakan jari-jari tangan ke belakang rentang 30-60 sejauh mungkin, Mereggangkan jari-jari tangan yang satu rentang 30 dengan yang lain, Merapatkan kembali jari-jari tangan, rentang 30

Penjelasan

Rentang

Fleksi Ekstensi Abduksi Adduksi Oposisi

Mengerakan ibu jari menyilang permukaan rentang 90 telapak tangan, menggerakan ibu jari lurus menjauh dari rentang 90 tangan, Menjauhkan ibu jari ke samping, Mengerakan ibu jari ke depan tangan, rentang 30 rentang 30

Menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari tangan pada tangan yang sama.

8.

Pinggul Gerakan

Penjelasan Mengerakan tungkai ke depan dan atas, Menggerakan kembali tungkai yang lain, ke

Rentang rentang 90-120

Fleksi Ekstensi Hiperekstensi Abduksi Adduksi Rotasi dalam Rotasi luar Sirkumduksi 9. Lutut Gerakan

samping rentang 90-120 rentang 30-50

Mengerakan tungkai ke belakang tubuh, Menggerakan tungkai menjauhi tubuh, ke

samping rentang 30-50

Mengerakan tungkai kembali ke posisi rentang 30-50 media dan melebihi jika mungkin, Memutar kaki dan tungkai ke arah rentang 90 tungkai lain, Memutar kaki dan tungkai menjauhi rentang 90 tungkai lain, Menggerakan tungkai melingkar -

Penjelasan

Rentang

Fleksi Ekstensi 10. Mata kaki Gerakan Dorsifleksi Plantarfleksi

Mengerakan tumit ke arah belakang paha, Mengembalikan tungkai kelantai,

rentang 120-130 rentang 120-130

Penjelasan

Rentang

Menggerakan kaki sehingga jari-jari kaki rentang 20-30 menekuk ke atas, Menggerakan kaki sehingga jari-jari kaki rentang 45-50 menekuk ke bawah,

11. Kaki Gerakan Inversi Eversi 12. Jari-Jari Kaki Gerakan Fleksi Ekstensi Abduksi Adduksi

Penjelasan Memutar telapak kaki ke samping dalam, Memutar telapak kaki ke samping luar,

Rentang rentang 10 rentang 10

Penjelasan Menekukkan jari-jari kaki ke bawah, Meluruskan jari-jari kaki,

Rentang rentang 30-60 rentang 30-60

Menggerakan jari-jari kaki satu dengan rentang 15 yang lain, Merapatkan kembali bersama-sama, rentang 15

Sumber : Potter, Patricia A. & Perry, Anne Griffin (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Edisi 4. Jakarta: EGC

b. Tindakan apa saja yang termasuk dalam secondary survey? 457 Pemeriksaan fisik Dokumentasi Pemeriksaan penunjang untuk pasien luka bakar berat Sirkulasi perifer pada luka bakar melingkar NGT Perawatan luka antibiotika

6. Data tambahan yang diperlukan pada kasus ini? 8910 Perdarahan intra abdomen o Focused Assessment With Sonography For Trauma (Fast) Pemeriksaan Focused Assessment with Sonography for Trauma (FAST) telah diterima secara luas sebagai alat untuk evaluasi trauma abdomen. Alatnya yang portabel sehingga dapat dilakukan di area resusitasi atau emergensi tanpa menunda tindakan resusitasi, kecepatannya, sifatnya yang noninvasif, dan dapat dilakukan berulang kali menyebabkan FAST merupakan studi diagnostik yang ideal. Ambang minimun jumlah hemoperitoneum yang dapat terdeteksi masih dipertanyakan. Kawaguchi et al dapat mendeteksi sampai 70 cc, sedangkan Tilir et al mengemukakan bahwa 30 cc adalah jumlah minimum yang diperlukan untuk dapat terdeteksi dengan USG. Mereka juga menyimpulkan strip kecil anekoik di Morison pouch menggambarkan cairan sebanyak kurang lebih 250 cc, sementara strip selebar 0,5 dan 1 cm menggambarkan koleksi cairan sebesar 500 cc dan 1 liter.

Akumulasi cairan pada kuadran kanan atas (Morisons pouch) Beberapa penelitian akhir-akhir ini mempertanyakan keandalan FAST pada evaluasi trauma tumpul abdomen. Stengel et al melakukan meta-analisis dari 30 penelitian prospektif dengan kesimpulan pemeriksaan FAST memiliki sensitifitas rendah yang tidak dapat diterima (unacceptably) untuk mendeteksi cairan intra-peritoneal dan cedera organ padat. Mereka merekomendasikan penambahan studi diagnostik lain dilakukan pada penderita yang secara klinis dicurigai trauma tumpul abdomen, apapun hasil temuan pemeriksaan FAST. Literatur lain menunjukkan sensitifitas berkisar antara 78-99% dan spesifisitas berkisar antara 93-100%. Rozycki et al dari studinya yang melibatkan 1540 penderita melaporkan sensitifitas dan spesifisitas sebesar 100% pada penderita trauma tumpul abdomen. o Lavase Peritoneal Diagnostik (Diagnostic Peritoneal Lavage = DPL)

DPL sebagai tes diagnostik yang cepat, akurat, dan murah untuk deteksi perdarahan intraperitoneal pada trauma abdomen. Kerugiannya adalah bersifat invasif, risiko komplikasi dibandingkan tindakan diagnostik non-invasif, tidak dapat mendeteksi cedera yang signifikan (ruptur diafragma, hematom retroperitoneal, pankreas, renal, duodenal, dan vesica urinaria), angka laparotomi non-terapetik yang tinggi, dan spesifitas yang rendah. Dapat juga didapatkan positif palsu bila sumber perdarahan adalah imbibisi dari hematom retroperitoneal atau dinding abdomen. Beberapa penelitian menunjukan tingkat akurasi sebesar 98-100%, sensitifitas sebesar 98100%, dan spesifisitas sebesar 90-96%. Pemeriksaan CT scan abdomen-pelvis lebih lanjut dapat meningkatkan spesifitas untuk menentukan cedera yang memerlukan tindakan pembedahan. 10 cc darah gross > 100.000 sel darah merah/mm3 > 500 sel darah putih/mm3 Adanya sisa makanan, bile, atau bakteri Pewarnaan Gram positif Kadar amilase > 175 IU/Dl
Tabel 3. Kriteria DPL positif pada trauma tumpul abdomen.

Thorax o Foto thorax untuk menilai status thoraks o CT scan paru untuk menentukan organ yang cedera Ekstremitas atas o Foto ekstremitas atas untuk menilai apakah fraktur atau tidak dan untuk mementukan jenis fraktur.

7. Bagaimana diagnosis kerja pada kasus ini? 123 Multiple trauma Fraktur Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan atau tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Trauma yang menyebabkan patah tulang:
o

Trauma langsung : benturan pada lengan atas patah tulang humeri

o Trauma tidak langsung : jatuh bertumpu pada tangan tulang klavikula dan radius distal patah. Klasifikasi fraktur

o Menurut ada tidaknya hubungan patahan dengan dunia luar. Fraktur tertutup (closed fracture). Fraktur terbuka (opened fracture).

o Berdasarkan berat ringannya luka dan berat ringannya patah tulang, dibagi menjadi tiga derajat. Derajat I II III Laserasi < 2 cm Laserasi > 2 cm, kontusi otot di sekitarnya. Luka lebar, rusak berat atau hilangnya jaringan di sekitar luka Luka Fraktur Sederhana, dislokasi, fragmen minimal Dislokasi fragmen jelas Kominutuf, segmental, fragmen tulang ada yang hilang

o Menurut garis fraktur - Transverse - Oblik - Butterfly - Spiral - Comminuted - Segmental

8. Bagaimana penatalaksanaan pada kasus ini? 457 9. Bagaimana prognosis pada kasus ini? 8910 10. Bagaima komplikasi pada kasus ini? 123 11. KDU pada kasus ini? 457

Luka bakar derajat 1 dan 2 : 4a Fraktur terbuka dan tertutup: 3 b

12. Pandangan Islam yang berkaitan dengan kasus ini? 8910 Apa saja musibah yang menimpa kamu, disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan itu (QS. Asy-Syuura: 30)

Kerangka Konsep
Kecelakaan kerja: -kebakaran Melompat dari lantai 2 Fraktur femur sinistra 1/3 proximal transversal Mengalami multiple trauma Luka bakar derajat I Trauma abdomen

Hipotesis Tn. Agus, 25 tahun, mengalami multiple trauma ( luka bakar, fraktur femur 1/3 proximal transversal, trauma abdomen).