Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Bp. A DENGAN DIABETES MILITUS DI RUANG F RS.

BETHESDA YOGYAKARTA 14-19 Juli 2008

Disusun Oleh : ETI KURNIASIH NIM : 06.1222

AKADEMI KEPERAWATAN BETHESDA YOGYAKARTA 2008

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Bp. A DENGAN DIABETES MILITUS DI RUANG F RS. BETHESDA YOGYAKARTA

Tanggal Praktik Nama Mahasiswa Nim Tingkat/Semester

: 14-19 Juli 2008 : Eti kurniasih : 06 - 1222 : II / IV

Pembimbing Klinik

Pembimbing Akademik

(Rita Puji, Amk)

(Boedhiatmodjo, APP, SPd S.Kep)

Saran Pembimbing : Baik Cukup ( ( ) ) )

Dilenkapi (

AKADEMI KEPERAWATAN BETHESDA YOGYAKARTA 2008

BAB I TINJAUAN TEORI DIABETES MILITUS

A. Aspek Medis I. Pengertian Diabetes Melitus ( DM ) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter, dengan tanda-tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan protein. ( Askandar, 2000) Diabetes Melitus adalah penyakit metabolisme dengan kriteria kadar gula darah yang tinggi. Gula darah sewaktu > 200mg%, atau gula darah puasa >140mg%, atau gula darah 2 jam setelah makan 75g glukosa >200mg%. www.hpa-indonesia.net Gangren adalah proses atau keadaan yang ditandai dengan adanya jaringan mati atau nekrosis, namun secara mikrobiologis adalah proses nekrosis yang disebabkan oleh infeksi. ( Askandar, 2001 ) Gangren Kaki Diabetik adalah luka pada kaki yang merah kehitam-hitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh darah sedang atau besar ditungkai. ( Askandar, 2001) Klasifikasi Diabetes Militus 1. Diabetes militus primer 1) DM tipe1/auto imun DM (ada dua jenis : DM tergantung insulin dan DM tak tergantung insulin)

2) DM tipe 2/non auto imun DM (ada tiga jenis : yang tergantung insulin, yang tak tergantung insulin dan yang menyerang anak muda. 2. Diabetes militus sekunder Disebabkan oleh berbagai gangguan, seperti : penyakit pankreas, abnormalitas hormon, obat-obatan, abnormalitas reseptor insulin, genetis. II. Anatomi dan Fisiologi Pankreas merupakan sekumpulan kelenjar yang panjangnya kira - kira 15 cm, lebar 5 cm, mulai dari duodenum sampai ke limpa dan beratnya rata - rata 60 90 gram. Terbentang pada vertebrata lumbalis 1 dan 2 di belakang lambung. Pankreas merupakan kelenjar endokrin terbesar yang terdapat di dalam tubuh baik hewan maupun manusia. Bagian depan (kepala) kelenjar pankreas terletak pada lekukan yang dibentuk oleh duodenum dan bagian pilorus dari lambung. Bagian badan yang merupakan bagian utama dari organ ini merentang ke arah limpa dengan bagian ekornya menyentuh atau terletak pada alat ini. Dari segi perkembangan embriologis, kelenjar pankreas terbentuk dari epitel yang berasal dari lapisan epitel yang membentuk usus. Pankreas terdiri dari dua jaringan utama, yaitu : 1) Asini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum.

2) Pulau Langerhans yang tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukagon langsung ke darah. Pulau langerhans berbentuk ovoid dengan besar masing-masing pulau berbeda. Jumlah semua pulau langerhans di pancreas diperkirakan antara 1 2 juta. Pulau langerhans manusia, mengandung tiga jenis sel utama, yaitu : 1) Sel-sel A ( alpha ), jumlahnya sekitar 20-40 % ; memproduksi glikagon yang manjadi faktor hiperglikemik, suatu hormon yang mempunyai anti insulin like activity . 2) Sel-sel B ( betha ), jumlahnya sekitar 60 80 % , membuat insulin.

3) Gambar Pankreas

Sel- sel D ( delta ), jumlahnya sekitar 5 15 %, membuat somatostatin.

III. Etiologi 1. Ketidakseimbangan suhu 2. Ketidakseimbangan angin (misal faktor genetik, trauma, infeksi, tumor, kurang olah raga, stres psikis) 3. Toksid (misal pola hidup dan pola makan yang salah). Toksid, menjadi penyebab mayoritas penderita DM di dunia. Ketiganya menyebabkan penurunan fungsi pankreas yang berakibat rendahnya kualitas dan kuantitas insulin yang dihasilkan. www.hpa-indonesia.net etiologi DM yaitu : 1. Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel beta melepas insulin. 2. Faktor-faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan, obesitas dan kehamilan. 3. Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang disertai pembentukan sel sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel - sel penyekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus.

4. Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin. ( Askandar, 2000) IV. Patofisiologi Insufiensi insulin Pengurangan penggunaan glukosa oleh sel Peningkatan mobilitas lemak kelainan, metabolism lemak aterosklerofis

Pengurangan protein dalam tubuh

hiperosmolaritas

glukoneogenesis asetooksalat dan asam keton yang lain meningkat asidofis

glokusauria diuresis

dehidrasi ekstro sel dan intra sel konsentrasi natrium menurun

timbul gejala poliuri, polidipsi, polipagi, penurunan berat badan, anferia ( kurang energy )

diabetes mellitus denngan komplikasi ganggren

kematian

V. Tanda dan Gejala Gejala yang lazim terjadi pada penderita diabetes militus sebagai berikut : 1. Poliuri ( banyak kencing ) Disebabkan oleh kadar glukosa meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic dieresis dimana gula banyak menarik cairan dan elektrilit sehingga klien mengeluh banyak minum. 2. Polidipsi ( banyak minum ) Disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbanginya klien lebih banyak minum. 3. Polipagi ( banyak makan ) Disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami lapar ( staruasi ) sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pembuluh darah. 4. Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga berkurang. Disebabkan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusaha mendapat peleburan zat dari bagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein, karena tubuh terus menerus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada didalam tubuh termasuk yang ada dijaringan otot dan lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetep kurus. 5. Mata kabur Disebabkan oleh lintas pobili ( glukosa-serbitol fruktasi ) yang disebabkan oleh insufiensi insulin. Akibat dari penimbunan serbitol dari lensa menyebabkan pembentukan katarak.

Gejela yang lain : 1. Penurunan berat badan dalam waktu yang singkat akibat dari hilangnya jaringan lemak dan otot sehingga sering dikatakan diabetesi makan tubuhnya sendiri, 2. Astenia (rasa lemah), terjadi karena badan kehilangan air dan elektrolit lewat urin, 3. Rasa nyeri,laki-laki pada zakarnya, perempuan pada duburnya, 4. Kejang-kejang kaki, terjadi akibat hilangnya elektrolit serta dehidrasi, 5. Pembesaran hati, 6. Gangguan Penglihatan, katarak, 7. Adanya Glukosa di dalam urin, 8. Gatal-gatal, 9. Kesemutan di ujung-ujung jari, 10. Disfungsi ereksi VI. Komplikasi 1. Nefropati Diabetik, yakni penurunan fungsi ginjal dengan tanda awal ditemukannya protein di urin, bisa mencapai 200mg/menit (normal 15mg/menit). Tekanan darah naik secara bertahap. Muncul gejala gagal ginjal kronis seperti mual, muntah, nafsu makan turun, gangguan konsentrasi hingga gangguan kesadaran hingga koma, anemia, kejang dan perdarahan selaput lendir mulut. 2. Neuropati Diabetik, kondisi rusaknya saraf dengan gejala kesemutan di kaki dan tangan, berkurangnya sensasi terhadap getaran dan nyeri hingga tidak sadar kalau kakinya tertusuk paku atau terluka, rasa panas seperti terbakar di ujung tubuh misal di kantong zakar, rasa nyeri seperti disayat di ujung jari kaki, sulit membedakan temperatur panas dan dingin, otot lengan atas dan tungkai atas lemah, mata jereng, disfungsi ereksi sementara atau menetap. 3. Kematian Otot Jantung dan Pembuluh Darah Otak. Resiko serangan jantung dan stroke pada diabetesi bisa mencapai 30 hingga 400% lebih tinggi dibanding non DM. Kadar gula darah tinggi menyebabkan pengerasan dan penebalan pembuluh darah apalagi dengan tingginya kadar lemak jahat. 4. Retinopati Diabetik. Kadar gula darah yang tinggi menyebabkan mata menjadi sembab. Penglihatan berangsur berkurang. Lensa mata menjadi keruh atau katarak, pandangan berkabut, retina mata rusak.

5. Hipoglikemi. Kondisi sangat rendahnya kadar gula darah di bawah 50md/dL dengan gejala keringat dingin di wajah, gemetar, lemas, lapar, mual, tekanan darah turun, gelisah, jantung berdebar, sakit kepala, kesemutan di jari tangan dan bibir yang bila tak segera diatasi bisa menyebabkan kejang dan koma. Penyebab hipoglikemi adalah pemakaian obat diabet dengan dosis tinggi, puasa terlalu lama, setelah minum obat tidak atau terlambat makan, penggunaan obat diabet jangka lama pada manula tau sedang sakit berat, gangguan fungsi ginjal, hepatitis berat, kadar insulin tinggi pada tumor. 6. Kelainan Kulit. Indra perasa menjadi tumpul, tidak bisa merasakan sesuatu, pasokan darah dan oksigen menurun sehingga luka mudah meluas dan sulit sembuh. Muncul bentol kecil di mata kaki, kaki, lengan atas (dermopati). Timbul gelembung (bullae) di punggung atau telapak kaki. Muncul jaringan granulasi merah di dada dan lengan atas. VII. Pemeriksaan Diagnostik Glukosa darah : meningkat 200-100 Mg/dL, atau lebih

Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok Asam lemak bebas Osmolalitas serum Elektrolit : a. Natrium b. : mungkin normal, meningkat atau menurun Kalium: normal atau peningkatan semu (perpindahan seluler), selanjutnya akan menurun : lebih sering menurun : kadar lipid dan kolesterol meningkat : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mOsm/l

c. Fosfor -

Hemoglobin glekosilat: kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang mencerminkan control DM yang kurang selama 4 bulan terakhir ( lama hidup SDM ) dan karenanya sangat bermanfaat dalam membedakan DKA dengan control tidak adekuat versus DKA yang berhubungan dengan insiden ( mis.,ISK baru ). Gas darah arteri : biasanya menunjukan pH rendah dan penurunan pada HCO3 (asidosis metabolic) dengan kompensasi alkalosis respiratorik. Trombosit darrah : Ht mungkin meningkat (dehidrasi); hemokonsentrasi, merupakan respons terhadap stress atau infeksi. Ureum/kreatinin leukositusis,

: mungkin meningkat atau normal (dehidrasi/penurunan fungsi ginjal)

Amylase darah

: mungkin meningkat yang mengindikasikan adanya pancreatitis akut sebagai penyebab dari DKA. Insulin darah : mungkin menurun/bahkan sampai tidak ada (pada tipe I) atau normal sampai tinggi (tipe II) yang mengindikasikan insufisiensi insulin/gangguan dalam pengunaannya (endogen/eksogen). Resisten insulin dapat berkembang sekunder terhadap pembentukan antibody.

Pemeriksaan fungsi tiroid: peningkatan aktivitas hormone meningkatkan glikosa darah dan kebutuhan akan insulin. Urine meningkat.

tiroid

dapat

: gula dan aseton positif : berat jenis dan osmolalitas mungkin

VIII. Penatalaksanaan Medik Tujuan utama penatalaksanaan klien dengan diabetes mellitus adalah untuk mengatur glukosa darah dan mencegah timbulnya komplikasi acut dan kronik. Tiga hal penting yang harus diperhatikan pada penderita diabetes mellitus adalah tiga J : J1 ( jumlah ) J2 (jadwal) J3 (jenis) : jumlah kalori sesai resep dokter harus dihabiskan : jadwal makanan harus diikuti sesuai dengan jam makan terdaftar : jenis makanan harus diperhatikan (pantangan gula dan makanan manis

Diet pada penderita diabetes mellitus dapat dibagi atas beberapa bagian antara lain : a. Diet A : terdiri dari makanan yang mengandung karbohidrat 50 %, lemak 20%.

30 %, protein b. c. d. Diet B Diet B1

: terdiri dari karbohidrat 68%, lemak 20%, protein 12%. : terdiri dari karbohidrat 60 %, lemak 20 %, protein 20 %.

Diet B1 dan B2 diberikan untuk nefropati diabetik dengan gangguan faal ginjal. Indikasi

Indikasi diet B

:Diberikan pada penderita diabetes terutama yang :

a. Kurang tahan lapan dengan dietnya b. Mempunyai hyperkolestonemia

c. Mempunyai penyulit mikroangiopati misalnya pernah mengalami cerebrovaskuler accident (cva) penyakit jantung koroner d. Mempunyai penyulit mikroangiopati misalnya terdapat retinopati diabetic tetapi belum ada nefropati yang nyata e. Telah menderita diabetes dari 15 tahun

Indikasi diet B1 Diberikan pada penderita diabetes yang memerlukan diet protein tinggi, yaitu penderita diabetes terutama yang : a.Mampu atau kebiasaan makan tinggi protein tetapi normalip idemia. b.Kurus (underweight) dengan relatif body weight kurang dari 90 %. c.Masih muda perlu pertumbuhan. d.Mengalami patah tulang. e.Hamil dan menyusui. f.Menderita hepatitis kronis atau sirosis hepatitis. g.Menderita tuberkulosis paru. h.Menderita penyakit graves (morbus basedou). i.Menderita selulitis. j.Dalam keadaan pasca bedah. Indikasi tersebut di atas selama tidak ada kontra indikasi penggunaan protein kadar tinggi.

Indikasi B2 dan B3 Diet B2 Diberikan pada penderita nefropati dengan gagal ginjal kronik yang klirens kreatininnya masih lebar dari 25 ml/mt. Sifat-sifat diet B2 a.Tinggi kalori (lebih dari 2000 kalori/hari tetapi mengandung protein kurang. b.Komposisi sama dengan diet B, (68 % hidrat arang, 12 % protein dan 20 % lemak) hanya saja diet B2 kaya asam amino esensial. c.Dalam praktek hanya terdapat diet B2 dengan diet 2100 2300 kalori / hari. Karena bila tidak maka jumlah perhari akan berubah.

Diet B3 Diberikan pada penderita nefropati diabetik dengan gagal ginjal kronik yang klibers kreatininnya kurang dari 25 MI/mt

Sifat diet B3 a.Tinggi kalori (lebih dari 2000 kalori/hari). b.Rendah protein tinggi asam amino esensial, jumlah protein 40 gram/hari. c.Karena alasan No 2 maka hanya dapat disusun diet B3 2100 kalori dan 2300 / hari. (bila tidak akan merubah jumlah protein). d.Tinggi karbohidrat dan rendah lemak. e.Dipilih lemak yang tidak jenuh. Semua penderita diabetes mellitus dianjurkan untuk latihan ringan yang dilaksanakan secara teratur tiap hari pada saat setengah jam sesudah makan. Juga dianjurkan untuk melakukan latihan ringan setiap hari, pagi dan sore hari dengan maksud untuk menurunkan BB.Penyuluhan kesehatan.Untuk meningkatkan pemahaman maka dilakukan penyuluhan melalui perorangan antara dokter dengan penderita yang datang. Selain itu juga dilakukan melalui media-media cetak dan elektronik. B. Aspek Keperawatan IX. Pengkajian Keperawatan Data bergantung pada berat dan lamanya ketidakseimbangan metabolic dan pengaruh pada fungsi organ.

Aktivitas/istirahat Gejala : lemah, letih, sulit bergerak/berjalan Kram otot, tonus otot menurun,gangguan tidur/istirahat Tanda : takikardia dan takipnea pada keadaan istirahat atau dengan aktivitas Letargi/disorientasi, koma Penurunan kekuatan otot

Sirkulasi Gejala : adanya riwayat hipertensi; IM akut Klaudikasi, kebas dan kesemutan pada ekstremitas Ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama

Tanda

: takikardia Perubahan tekanan darah postural; hipertensi Nadi yang menurun/tak ada Ditritmia Krekels; DVJ (GJK) Kulit panas, kering dan kemerahan; bola mata cekung

Integritas ego Gejala : stress; tergantung pada orang lain Masalah financial yang berhubungan dengan kondisi Tanda Eliminasi Gejala : perubahan pola berkemih (poliuria),nokturia Rasa nyeri/terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru/berulang Nyeri tekan abdomen,Diare Tanda : urine encer, pucat, kuning; poliuri (dapat berkembang menjadi oliguria/anuria jika terjadi hipovolimia berat) Urine berkabut, bau busuk (infeksi) Abdomen keras, adanya asites Bising usus lemah dan menurun; hiperaktif (diare) : ansietas, peka rangsang

Makanan/cairan Gejala : hilang nafsu makan Mual/muntah Tidak mengikuti diet;peningkatan masukan glukosa/karbohidrat Penurunan berat badan labih dari periode beberapa hari/ minggu Haus Tanda : kulit kering/bersisik, turgor jelek Kakakuan/distensi abdomen, muntah Pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolic dengan peningkatan gula darah ) Bau halitosis/manis, bau buah (napas aseton) Neurosensori Gejala : pusing/pening Sakit kepala Kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia Gangguan penglihatan Tanda : disorientasi; mengantuk, letargi, stupor/koma (tahap lanjut). Gangguan memori (baru, masa lalu); kacau mental Reflex tendon dalam (RTD) menurun (koma) Aktivitas kejang (tahap lanjut dari DKA) Nyeri/kenyamanan Gejala Tanda : zbdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat) : wajah meringis dengan palpitasi; tampak sangat berhati-hati

Pernapasan Gejala : merasa kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi/ ttidak)

Tanda

: lapar udara Batuk, dengan/tanpa sputum purulen (ifeksi) Frekuensi pernapasan

Keamanan Gejala Tanda : kulit kering, gatal; ulkus kulit : demam, diaphoresis Kulit rusak, lesi/ulserasi Menurunnya kekuatan umum/rentang gerak Parestesia/paralisis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam) Seksualitas Gejala : rabas vagina (cenderuung onfeksi) Masalah impoten pada pria;kesulitan orgasme pada wanita ( doenges, 2000 )

X.

Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul 1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan dieresis osmotic. 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin. 3. Resiko terhadan infeksi berhubungan dengan kadar glukosa tinggi. 4. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energy metabolic. 5. Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit jangka panjang. 6. Kurang pengetahuan mengenai kebutuhan pengabatan berhubungan dengan kesalahan interpretasi informasi. ( doenges, 2000 )

XI.

Prioritas Masalah 1. Memperbaiki cairan/elektrolit dan keseimbangan asam basa 2. Memperbaiki metabolisme abnormal 3. Mengidetifikasi penanganan penyebab penyakit. 4. Mencegah komplikasi. 5. Memberikan informasi tentang proses penyakit, perawatan diri, dan kebutuhan pengobatan.

XII.

Tujuan Pemulangan 1. Homeostatis dapat dipertahankan 2. Faktor penyebab dapat dikontrol 3. Komplikasi dapat dicegah / dapat diminalkan 4. Proses penyakit, kebutuhan keperawatan diri, dan pengobatannya dapt dipahami ( doenges, 2000 )

BAB II TINJAUAN KASUS


Tanggal Pengkajian : 25 Juli 2008 I. IDENTITAS A. Pasien Nama Umur Jenis Kelamin Agama Alamat Status Perkawinan Pendidikan Pekerjaan Suku/bangsa Tgl masuk Rs No.RM Ruang Diagnosa B. Keluarga Nama Hubungan Alamat : Ny. M : Isteri : Demangan, Yogyakarta : Bp. A : 47 tahun : laki-laki : Islam : Demangan, Yogyakarta : Kawin : SLTP : Buruh : Jawa/Indonesia : 24 Juli 2008 : 0807xxx : F RS Bethesda : Abdominal Discomfort, DM jam : 08.15 wib oleh : Ety

II. RIWAYAT KESEHATAN A. Kesehatan pasien 1. Keluhan utama Pasien mengatakan sakit dan sulit digerakkan pada persendian jari-jari kaki, sakit cekot-cekot, terus menerus kira-kira lamanya 5 menit. Ketika ditanya pemeriksa pasien mengatakan sakit pada skala 6. 2. Riwayat penyakit sekarang Pasien mengatakan bahwa kemarin malam sekitar pukul 22.00 perut terasa sakit, terutama pada ulu hati, sedangkan dari satu minggu yang lalu mbeseseg, sudah mencoba minum obat tetapi tidak sembuh. Kemudian pukul 03.30 24 juli dibawa ke RS Bethesda untuk mendapat pengobatan, di UGD mendapat injeksi Primperan 1 ampul IV, Rantin 1 amp IV, HP Pro 1 amp, Divens 1 amp, O2 Asering 20 tpm 3. Riwayat penyakit yang lalu Pasien mengatakan belum pernah sakit yang seperti ini atau yang lain dan belum pernah opname sebelumnya. B. Kesehatan keluarga Pasien mengatakan dalam keluarga da yang menderita diabetes militus yaitu ibunya. Gambar Genogram Ket: : perempuan : laki laki : penderita DM
3

lt/mnt, infuse

III. POLA FUNGSI KESEHATAN 1. Pola Nutrisi- Metabolik a. Sebelum sakit Frekuensi Jenis makanan Makanan yang disukai Kebiasaan makan Nafsu makan Banyaknya minum Jenis minuman Minuman yang disukai b. Selama Sakit Frekuensi Jenis makanan Porsi makan yang dihabiskan Nafsu makan Banyaknya minum Jenis minuman Jenis diit Keluhan : 3X sehari : nasi, lauk, sayur. : 6-7 sendok makan porsi yang disediakan : kurang baik (mual, malas makan) : 3-4 gelas per hari (@ 200cc) : air putih, air teh : nasi biasa : pasien mengatakan kurang nafsu makan (mual, malas makan) : 2X sehari : Nasi, sayur, tempe, tahu, ikan laut, daging. : daging : dirumah : baik : 6 7 gelas sehari : air putih, air teh : air teh

2. Pola eliminasi

a. Sebelum sakit BAB - Frekuensi - Waktu - Warna - Konsistensi - Posisi waktu BAB BAK - Frekuensi - Warna - Bau b. Selama sakit Saat dikaji, pasien mengatakan sejak kemarin belum BAB. 3. Pola Aktivitas Istirahat Tidur a. Sebelum sakit 1. Keadaan aktivitas sehari-hari klien mampu melakukan aktivitas sehari-hari sendiri. 2. Kebiasaan Tidur - Tidur siang - Tidur malam - Keluhan : klien mengatakan kebutuhan tidur cukup. : klien mengatakan mulai tidur malam rata-rata mulai pukul 23.00 05.00 WIB :: 5X sehari : kuning bening : khas urine : 1 x sehari : tidak menentu : kuning kecoklatan : padat : jongkok

b. Selama sakit 1. Keadaan aktivitas

Makan, minum, BAB, BAK, mobilisasi ditempat tidur, mandi, dan aktivitas lain dibantu oleh perawat dan keluarga. Pasien mengatakan badan terasa lemas, lelah, mudah capai, tidak bertenaga dan cuma pengen tidur terus. 2. Kebutuhan tidur - Tidur siang - Tidur malam - Keluhan : 4-5 jam : 6-8 jam : pasien mengtakan selama sakit bawaanya pengen tidur terus.

3. Kebutuhan istirahat Kebutuhan istirahat dapat terpenuhi, klien bedrest. 4. Pola kebersihan diri a. Kebersihan kulit : klien membersihkan kulit saat mandi menggunakan sabun mandi. : klien membersihkan rambut dengan keramas 2hari sekali menggunakan shampoo. : klien membersihkan mata saat mandi dan bangun tidur menggunakan air. : klien membersihkan gigi saat mandi menggunakan sikat dan pasta gigi. : klien membersihkan dan memotong kuku saat kukunya panjang.

b. Kebersihan telinga

c. Kebersihan mata

d. Kebersihan mulut

e. Kebersihan kuku

5. Pola persepsi pemeliharaan kesehatan Intelektual : klien lulusan SLTP, klien mengetahui penyakitnya karena dokter sudah memberitahu.

6. Pola reproduksi seksualitas Klien mempunyai satu anak perempuan dan satu anak laki-laki.

7. Pola kognitif persepsi Klien tidak menggunakan alat bantu pendengaran dan penglihatan, Klien dapat berbahasa jawa dan bahasa Indonesia.

8. Pola konsep diri - Identitas diri - Harga diri - Gambaran diri - Peran diri : klien mampu mengenal diri sendiri dan orang lain Ideal diri : klien ingin cepat sembuh dan dapat bekerja lagi sebagai pekerja buruh. : klien senang ditunggui oleh istri dan keluargannya. : klien bisa menerima kondisi saat ini. : klien sebagai seorang bapak dan kepala keluarga merasa terganggu karena harus dirawat dirumah sakit.

9. Pola koping Pengambilan keputusan dengan bantuan isteri dan keluargannya. 10. Emosional Klien tenang menghadapi penyakitnya. 11. Komunikasi Pesien berkomunikasi menggunakan bahasa jawa dan Indonesia, bicara jelas, tidak ada gangguan dalam berkomunikasi seperti bicara pelo. 12. Spiritual Klien beragama islam, selama sakit dia tidak menjalankan ibadah. IV. PEMERIKSAAN FISIK Pengukuran tanda vital - Suhu - Nadi - RR - TD : 36,60C : 84 x/menit : 24 x/menit : 80/60 mmHg

Tingkat kesadaran : Compos mentis Keadaan Umum : Lemah, bedrest, Pasien terpasang infus asering 20tpm ditangan kiri, terpasang O2 2 lt/mnt. 1. Kepala

Bentuk kepala bulat Rambut hitam, tidak berketobe, tidak bau Wajah menahan nyeri, pucat, lesu, lemas, lelah. a) Mata Tidak terdapat kotoran pada mata, Sclera putih, konjungtiva pucat, TIO kanan dan kiri sama, Ada kontak mata (pasien kooperativ). b) Telinga Bentuk telinga kanan dan kiri simetris, Tidak terdapat kotoran dan cairan, Tidak menggunakan alat bantu pendengaran. c) Hidung Lubang hidung simetris, septum di tengah, Tidak terdapat kotoran dan secret, Tidak ada pembesaran polip, Terpasang oksigen 2 lt/mnt d) Mulut dan tenggorokan Lidah berwarna merah muda, ada beberapa gigi yang tanggal, tidak ada sisa makanan pada gigi, bau mulut, tonsil T1, tidak ada gangguan menelan.

e) Leher Warna kulit sawo matang, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak dijumpai pembesaran getah bening. 2. Dada

Inspeksi

: bentuk dada simetris, warna kulit sawo matang, tidak dijumpai kelainan bentuk dada, respirasi 24x/menit. : pergerakan dada kanan dan kiri saat bernafas simetris, tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa/ benjolan. : terdapat bunyi dullness pada area jantung, batas atas jantung ICS 3, batas bawah ICS 5, batas kanan jantung linea sternalis dextra, batas kiri jantung linea mid clavicularis sinistra. Terdapat suara sonor pada semua lapang paru. : terdapat suara vesikuler pada semua lapang paru.

Palpasi

Perkusi

Auskultasi 3. Abdomen Inspeksi

: warna kulit sawo matang, terdapat kotoran pada umbilicus, tidak ada bekas luka operasi, cikatrik, massa, ataupun lesi. : bising usus 28x/menit : terdapat suara timpani pada erea lambung, suara dullness pada hati dan limpa, tidak dijumpai acites, hepar teraba 2 jari.

Auskultasi Perkusi

4. Ekstremitas Atas : anggota gerak lengkap, terpasang infuse asering 20 tpm pada tangan kiri, tidak terdapat kelainan pada jari tangan. : anggota gerak lengkap, tidak terdapat kelainan pada jari kaki.

Bawah

V. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Hematologi 17/07/08 Hemoglobin Lekosit Hasil 13,50 5,85 Satuan Gr % Ribu /m Nilai normal 13.50 17.50 4,10 10,90

Eosinofil Basofil Segmen Limfosit Monosit Hematokrit Eritrosit RDW MCV MCH MCHG Trombosit MPV PDW Glukosa sewaktu Ureum Creatinin SGOT (AST) SGPT (ALT) ALK phospatase GGT HB5Ag Anti HAV lgM

0,3 0,2 94,4 3,9 1,2 36,4 4,49 14,00 81,10 30,10 37,10 150,0 11,80 17,30 390,0 175,8 7,80 59,7 46,6 439,0 90,1 0,79 ( negative ) 0,16 (non reaktif)

% % % % % % Juta / mmk % fL Pg g/dl Ribu/mmk fL fL Mg/dl Mg/dl Mg/dl u/l u/l u/l u/l s/n Index

0,0 5,0 0,0 2,0 47,0 80,0 13,0 40,0 2,0 11,0 41,0 53,0 4,50 5,90 11,60 14,80 92,00 121,00 31,00 37,00 29,00 36,00 140,0 440,0 4,00 11,00 70,0 140,0 10,0 50,0 0,80 1,40 0,0 37,0 0,0 41,0 91,0 258,0 11,0 49,0

Kimia

Glukosa sewaktu Urine rutin Warna BJ pH Protein Glikosa Sedimen Lekosit pucat Sell gliter Lekosit gelap Eritrosit

274,0

70,0 140,0 -

Kuning 1,005 7,00 + -

Negative Negative

5 10 + -

VI. PROGAM PENGOBATAN 1. Divens plus 2x1 2. HP pro 2x1 3. Rizen 1x1 Kuopurinol 4. Dibekacin 2x1 ES : kepekaan terhadap derivate aminoglikosidum. Kemungkinan adanya ganguan terhadap pendengaran, tinnitus, vertigo relative kecil. 5. Actrapid 3x10 unit

ANALISA DATA Nama Pasien Ruang Tanggal :Bp. A : F Rs Bethesda : 18 Juni 2008

Diagnose No 1.

: Abdominal Discomfort, DM Data Masalah Nyeri Akut Penyebab infamasi

DS : Pasien mengatakan sakit dan sulit digerakkan pada persendian jarijari kaki, sakit cekot-cekot, terus menerus kira-kira lamanya 5 menit. Ketika ditanya pemeriksa pasien mengatakan sakit pada skala 6. DO : - Wajah menahan nyeri, pucat, lesu, lemas, lelah. - Pasien menunjukkan area yang sakit - Vital Sign Suhu Nadi RR TD : 36,60C : 84 x/menit : 24x/menit : 80/60 mmHg

2.

DS : Pasien mengatakan badan terasa lemas, lelah, mudah capai, tidak bertenaga dan cuma pengen tidur terus. DO : - Klien bedrest - Lemah - Nadi : 84 x/menit - RR - TD : 24 x/menit : 80/60 mmHg

Kelelahan

Penurunan produksi energi metabolik

3.

DS : pesien mengatakan mual dan malas makan DO : - makan habis 6-7 sendok dari porsi yang disediakan - Konjungtiva pucat - Hb : 13.50 gr% - Minum 3-4 gelas - Bising usus 28 x/menit

Anoregsia Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

4.

DS : pasien mengatakan bahwa Sindrom kurang Makan, minum, BAB, BAK, perawatan mobilisasi ditempat tidur, mandi, dan aktivitas lain dibantu oleh perawat dan keluarga DO : klien bedrest, CM Terpasang alat-alat selang O2 ) ( infese,

Intoleransi aktivitas

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama Pasien Tanggal

:Bp. A : 18 Juni 2008

Diagnose

: Abdominal Discomfort, DM

1. Nyeri akut berhungan dengan inflamasi ditandai dengan : DS : Pasien mengatakan sakit dan sulit digerakkan pada persendian jari-jari kaki, sakit cekot-cekot, terus menerus kira-kira lamanya 5 menit. Ketika ditanya pemeriksa pasien mengatakan sakit pada skala 6. DO : Wajah menahan nyeri, pucat, lesu, lemas, lelah. Pasien menunjukkan area yang sakit Vital Sign Suhu : 36,60C Nadi : 84 x/menit RR TD : 24x/menit : 80/60 mmHg

2. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energy metabolic ditandai dengan : DS : Pasien mengatakan badan terasa lemas, lelah, mudah capai, tidak bertenaga dan cuma pengen tidur terus. DO : Klien bedrest Lemah Nadi : 84 x/menit RR TD : 24 x/menit : 80/60 mmHg

3. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoregsia ditandai dengan : DS : pesien mengatakan mual dan malas makan DO : - makan habis 6-7 sendok dari porsi yang disediakan

- Konjungtiva pucat - Hb : 13.50 gr% - Minum 3-4 gelas - Bising usus 28 x/menit 4. Sindrom kurang perawatan berhubungan dengan intoleren aktivitas ditandai dengan : DS : pasien mengatakan bahwa Makan, minum, BAB, BAK, mobilisasi ditempat tidur, mandi, dan aktivitas lain dibantu oleh perawat dan keluarga DO : klien bedrest, CM Terpasang alat-alat ( infese, selang O2 )

CATATAN PERKEMBANGAN

NO

DX Keperawatan

Tanggal / jam

perkembangan

Tanda tangan

DX I

18/07/08 08.40

I 1. mengkaji nyeri ( durasi area dan skala) lokasi pada persendian jari-jari kaki, durasi 5 menit, skala 6.

08.45

2. Mengajarkan tehnik relaksasi pasien mengikuti intruksi.

08.50

3. mengukur tanda vital TD : 80/60 mmHg S : 37 O C N : 84x / menit R : 20x / menit

09.00

4. memberikan obat sesuai indikasi actrapid 10 unit

12.15

5. mengukur tekanan darah TD : 90/60 mmHg

13.45

E. S : Pasien mengatakan sakit masih pada skala 6. O : wajah menahan nyeri. TD : 90/60 mmHg

2.

DX II

18/07/08 08.40

I 1. Mengkaji penyebab hilangnya nafsu makan. pasien mual bila mencium bau amis dan tidak selera untuk makan. 2. Memberikan umpan balik tentang pernyataan klien. 3. Mengajarkan makan porsi sedikit tapi sering. dengan ngemil asupan nutrisi dapat terpenuhi.

11.30

4. Memberikan diit pasien 5. Menyuapi pasien DO : pasien menghabiskan 10-11 sendok makan diit yang diberikan.(BDM)

13.20

6. Mengukur balance cairan balancairan (+)

13.45

E S : Pasien mengatakan masih mual O : makan habis10-11sendok porsi diit yang diberikan.

3.

DX III

18/07/08 08.40

I 1. Mengobservasi KU pasien KU lemah, terpasang O2,DC dan infuse as 20tpm. 2. Mengganti alat tunun (sprei II, sarung bantal, selimut ) 3. Merapikan lingkungan tempat tidur

08.45

08.50

E : S :O : KU lemah, terpasang O2,DC

dan infuse as 20tpm. 4. DX I 19/07/08 07.15 I 1. Mengobservasi KU pasien, menanyakan nyeri. KU sedang,CM, Pasien mengatakan nyeri berkurang (skala 4) 2. Mengukur tanda vital 09.10 S : 37.20C N : 82 x/menit R : 18 x/menit TD : 80/60 3. memberikan obat sesuai indikasi 09.15 actrapid 10 unit 4. Mengajarkan teknik relaksasi 09.25 pasien mengikuti instruksi yang diberikan oleh perawat. 5. Melibatkan keluarga pasien untuk menjaga ketenangan lingkungan. 6. Mengukur tekanan darah TD : 100/60 mmHg E 13.45 S : pasien mengatakan nyeri berkurang skala 4 O : TD : 140/90 mmHg A : masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi

12.30

DX II

19/07/08 07.15

I 1. Menanyakan pada pasien apakah masih mual atu tidak.

pasien mengatakan masih mual 07.47 2. Membantu menyuapi pasien. diit habis porsi yang dihidangkan 3. Menganjurkan pasien makan sedikit tapi sering. pasien mengatakan bahwa dia akan mencoba. 4. Memberikan makan siang pasien makan dengan dibantu oleh keluarga. 13.40 E S: pasien mengatakan masih mual O : porsi makan habis A : masalah belum teratasi P : lanjutkan intervensi 6 DX III 19/07/08 07.15 I 1. Mengobservasi keadaan umum pasien. KU lemah, bedrest, klien mengatakan badan terasa lelah. 08.30 2. Mengganti alat tenun dan merapikan lingkungan pasien. 3. Memberikan posisi yang nyaman bagi pasien. 12.15 4. Melibatkan keluarga dalam membantu pemenuhan kebutuhan pasien. E S:O : KU lemah bedrest

08.00

11.38

13.50

A : masalah belum teratasi P : lanjutkan intervensi